Menu

Baru

Cersil Indonesia: Badai Laut Selatan (Bagian Ke-03 Serial Keris Pusaka Sang Megatantra)

Serial Berikunya: 
Gambaran Cerita:
"Sekarang ujilah Aji Bojro Dahono pada pohon itu!" terdengar kakek tua yang duduk bersila di atas batu kepada Joko Wandiro yang baru saja selesai berlatih di depan gurunya. Mendengar perintah ini, Joko Wandiro mengerahkan hawa sakti, menyalurkan hawa dari pusar ke arah kedua lengannya, lalu kedua kakinya bergerak, tubuhnya diputar dan kedua lengannya dipukulkan ke depan, ke arah pohon trembesi yang besarnya sepelukan orang dan yang letaknya kurang lebih tiga meter di depannya.

"Werrrr...!

Tidak terjadi apa-apa pada pohon itu, akan tetapi Joko Wandiro mengeluarkan keringat pada dahinya, tanda bahwa ia telah mengerahkan tenaga. Sehabis melakukan gerak pukulan ini, ia lalu meramkan mata dan menyalurkan pernapasan panjang untuk memulihkan tenaganya.

"Bagus! Cukup baik, kuat, dan tepat gerakannya. Muridku yang baik, kau dorong roboh pohon itu ke sebelah sana, agar jangan roboh oleh angin dan menimpa pondok kita."

Joko Wandiro menghampiri pohon trembesi yang dihantamnya dari jarak jauh tadi, lalu perlahan ia mendorong dan dengan amat mudahnya pohon itu tumbang. Kiranya di sebelah dalam pohon itu sudah hangus seperti dibakar atau seperti disambar geledek! Demikian hebat ilmu pukulan Bojro Dahono (Api Berkilat) yang telah dimiliki Joko Wandiro.

"Ke sinilah, angger Joko Wandiro, dan dengarlah wejanganku." Dengan suara penuh kasih sayang, kakek yang bukan lain adalah Ki Patih Narotama yang sakti mandraguna itu memanggil Joko Wandiro.

Joko Wandiro, kini sudah menjadi seorang pemuda tampan dan gagah berusia Sembilan belas tahun, cepat menghampiri gurunya, menjatuhkan diri berlutut, menyembah dan bersila di depan kaki gurunya.

"Hamba siap menanti perintah dan petuah bapa guru yang mulia," kata Joko Wandiro, sikapnya penuh hormat. Ia amat mencinta gurunya ini yang selama bertahun-tahun telah menggemblengnya, baik dengan ilmu silat yang luar biasa, aji-aji mantera yang hebat, maupun ilmu batin dan filsafat hidup yang tinggi.

"Angger, Joko Wandiro, muridku. Setelah Bojro Dahono dapat kau lakukan dengan baik, berarti tamatlah sudah pelajaranmu. Tidak ada aji lain yang belum kuberikan kepadamu, Joko. Dan aku merasa puas melihat hasilnya. Engkau sudah menjadi seperti aku ketika masih muda. Sekarang sebelum kita saling berpisah..."

"Berpisah, bapa guru? Mengapa... mesti saling berpisah...?!

Resi Narotama tersenyum dan terbayanglah ketampanannya yang sudah terselimut usia tua. "Mengapa? Ha-ha-ha, pertanyaan yang selalu akan timbul dalam hati sanubari manusia. Ya, mengapa selalu ada perpisahan sebagai akhir pertemuan? Mengapa ada kematian sebagai akhir kelahiran? Mengapa ada ketidakadaan sebagai akhir keadaan? Karena memang sudah semestinya demikian, angger! Karena ada pertemuan, maka timbul perpisahan. Karena ada kelahiran, maka timbul kematian dan seterusnya. Hal ini tidak perlu engkau herankan, lebih-lebih tidak boleh kau sesalkan, Joko. Sudah banyak kuwejangkan kepadamu tentang sebab akibat. Sekarang kulanjutkan kata-kataku tadi yang terputus oleh pertanyaanmu. Ku ulangi lagi, sebelum kita saling berpisah, kau jawablah lebih dulu pertanyaanku ini. Setelah bertahun-tahun engkau bersusah payah mempelajari segala macam ilmu dan kini telah tamat belajar dengan hasil memiliki ilmu, akan kau pergunakan untuk apakah ilmu yang kau pelajari dengan segala pengerahan jerih payah itu, angger?"

Joko Wandiro menundukkan mukanya, berpikir dalam-dalam sebelum menjawab. Pertanyaan yang gawat dan pelik ini harus ia jawab dengan hati-hati, maka ia kumpulkan kembali segala wejangan yang pernah ia terima dari gurunya untuk bahan jawaban, kemudian ia menyembah dan menjawab, suaranya lantang,

"Hamba akan pergunakan segala ilmu yang hamba dapat berkat bimbingan bapa guru yang bijaksana, untuk melakukan prikebajikan, membela kebenaran dan keadilan, memberantas, menindas, dan melenyapkan kejahatan, melindungi kaum lemah tertindas, menentang mereka yang sewenang-wenang adigang-adigung-adiguna mengandalkan kepintaran, kedudukan, kekuasaan, dan kekuatan untuk bersimaharajalela melakukan kejahatan yang menyusahkan lain orang. Semoga hamba akan selalu ingat akan hal itu seperti yang diajarkan oleh bapa guru."

Resi Narotama mengangguk-angguk. "Benar, angger. Kalau demikian, tidak percuma kau berjerih payah selama bertahun-tahun mempelajari ilmu. Baik buruknya ilmu, bersih kotornya kepandaian yang dimiliki, tergantung dari pada penggunaannya. Betapa pun baik ilmu, betapa tinggi kepandaian, kalau dipergunakan untuk kejahatan, maka ilmu itupun akan menjadi ilmu jahat. Hitam putihnya ilmu tergantung dari pada pemakaiannya. Ilmu merupakan alat, angger. Tiada bedanya dengan sebatang golok. Kalau golok dipergunakan untuk membabat alang-alang, menebang kayu membuat alat rumah tangga, golok itu merupakan alat berguna. Akan tetapi kalau dipergunakan untuk membacok leher manusia lain tanpa dosa, golok itu menjadi alat pembunuh keji! Oleh karena itu, bahagialah orang yang pandai mempergunakan ilmu untuk kebajikan dan terutama sekali, untuk mendatang kan manfaat bagi orang-orang Iain. Sebaliknya, kasihanlah mereka yang setelah dikaruniai ilmu lalu menjadi besar kepala, sombong dan merasa diri sendiri paling pintar, paling jagoan sehingga ia terperosok ke dalam jurang kegelapan, melakukan segala tindak maksiat dan kejahatan."

"Hamba perhatikan segala perintah bapa guru" jawab Joko Wandiro.

"Kulanjutkan lagi pertanyaanku sebagai ujian terakhir dan bekal bagimu, kulup Joko Wandiro. Setelah kau mengerti kegunaan ilmu yang kau pelajari itu untuk melakukan kebajikan, apakah pamrihmu dalam melakukan kebajikan? Apakah untuk membikin puas hati? Apakah dengan pamrih agar Dewata kelak memberi ganjaran kemuliaan di kahyangan? Apakah ingin agar dicinta orang, dipuja dan disebut satria budiman dan perkasa? Ataukah ingin kelak diganjar kedudukan tinggi oleh raja? Heh, kulup Joko Wandiro, katakan kepada gurumu, apakah pamrihmu hendak mempergunakan ilmu guna kebajikan?"

"Ampun kalau jawaban hamba keliru dan mohon petunjuk, bapa guru. Sesungguhnya, kalau hamba pergunakan ilmu yang ada pada hamba untuk kebajikan, hamba tiada berpamrih apa-apa di dalam hati hamba, bapa."

"Hemm...tidak berpamrih? Lalu, apa dasarnya? Mengapa engkau memilih kebajikan, mengapa tidak memilih sebaliknya? Ada dasarnya maka engkau hendak mempergunakan ilmu untuk perbuatan bajik, membela kebenaran dan keadilan dan sebagainya tadi?"
Ramaikan Situs Ini Dengan Komentarmu!!!

0 Response to "Cersil Indonesia: Badai Laut Selatan (Bagian Ke-03 Serial Keris Pusaka Sang Megatantra)"

Post a Comment