Badai Laut Selatan Jilid 62

Mode Malam
Namun, tugasnya masih belum selesai. Ia harus mencari Ayu Candra, dan ia pun harus mencari Endang Patibroto, membujuknya dan kalau perlu menggunakan kekerasan mengalahkannya untuk membawanya ke depan ibu gadis itu di Sempu. Kemudian, setelah ia berhasil mendapatkan kembali adik kandungnya, ia harus mengatur perjodohan Ayu Candra dengan Joko Seto seperti yang dipesankan oleh ayah Ayu Candra.

Setelah itu, ia masih perlu menyelesaikan tugas yang dipesankan gurunya, yaitu menghadapi orang-orang jahat yang membikin keadaan makin keruh antara Kerajaan Panjalu dan Jenggala. Kalau orang-orang jahat yang sakti itu dapat dihalau, agaknya masih ada jalan perdamaian antara dua kerajaan yang masih bersaudara itu.

Hal itu bukan tak mungkin dilakukan, mengingat akan perhubungan dua di antara anak-anak mereka yaitu Pangeran Darmokusumo dan Puteri Mayagaluh. Yang bermusuhan adalah si orang-orang tua yang kukuh, sedangkan melihat keadaan orang-orang mudanya, amatlah baik. Ia tidak percaya bahwa orang-orang muda seperti Pangeran Panjirawit dan Pangeran Darmokusumo tidak dapat diajak saling berdamai.

"Joko Wandiro, mengapa kau bengong saja? Apakah kau sudah insyaf dan dapat berlaku bijaksana, menerima permintaan kami?" Tiba-tiba Dewi menegur dengan suara penuh harap.

Joko Wandiro terkejut. Ia menggelengkan kepala dan menjawab, "Menyesal sekali, Dewi. Tugasku masih banyak, bagaimana aku dapat tinggal di sini? Aku akan pergi!"

Setelah berkata demikian, tubuh Joko Wandiro tiba-tiba melesat ke atas dalam lompatan yang tinggi. Ia sudah menggunakan Ilmu Bayu Sakti untuk melompat dan lolos melalui atas kepala lima orang gadis yang mengurungnya. Akan tetapi, alangkah herannya ketika ia menurunkan kedua kakinya ke atas tanah, lima orang gadis itu kembali sudah berdiri mengurungnya, dan mereka berlima mengurung sambil menangis! Dewi yang tepat berada di depannya lalu berkata nyaring,

"Kalau begitu, engkau atau kami yang binasa!"

Kata-kata ini disusul terjangan yang hebat juga, dengan kedua lengan diulur ke depan, jari tangan terbuka membentuk cakar elang menyerang ke arah leher dan dada. Sambaran angin serangan ini cukup dapat ditaksir oleh Joko Wandiro sampai di mana tingkat kepandaian gadis ini. Biarpun ia tahu bahwa tingkat kepandaian Dewi dua kali lebih tinggi dari pada empat orang adiknya, namun baginya Dewi bukanlah lawan yang sukar untuk dikalahkan. Akan tetapi yang membuat ia kagum adalah cara mereka menyerang dengan teratur.

Tadipun ia sudah kaget ketika melompat melalui atas kepala mereka dan turun, tahu-tahu sudah terkurung lagi sedangkan barisan di luar juga tetap berlari-lari membentuk lingkaran. Ia dapat menduga bahwa biarpun mengenai ilmu silat, ia tidak periu khawatir terhadap pengeroyokan mereka, namun ia harus berhati-hati terhadap ilrnu mereka mengatur dan membentuk barisan. Ayah gadis itu adalah bekas senopati Wengker, seorang ahli perang yang tentu saja pandai mengatur barisan dan agaknya kepandaian ini menurun kepada Dewi.

Serangan Dewi tidak ia tangkis, melainkan dengan miringkan tubuh dan menggeser kaki, ia sudah terbebas puia dari kurungan. Akan tetapi pengurung di sebelah kiri, Mini dan Sari, juga ikut melompat mundur dan kembali ke posisi semula sedangkan tiga orang saudaranya mengejar dan daiam sekejap saja Joko Wandiro sudah terkurung kembali. Kini mereka melancarkan serangan susul-menyusul dan bertubi-tubi. Mereka masih menangis, dan Joko Wandiro melihat betapa serangan mereka itu bersungguh-sungguh, bukan serangan untuk menawan, melainkan serangan untuk membunuh!

Ia merasa serba repot. Meloloskan diri dari kepungan lima orang gadis bertangan kosong ini saja bukan hal mudah, apalagi kalau barisan bambu runcing di luar itu turut mengepung! Memang tidak akan sukar kalau ia membuka jalan darah untuk meloloskan diri, akan tetapi justeru ia tidak menghendaki hal ini terjadi. Agaknya Dewi dan kawan-kawannya memang sudah bertekad bulat untuk memenuhi kata-kata Dewi tadi, yaitu, membunuh atau terbunuh!

Sambil memutar otak untuk mencari akal, Joko Wandiro melayani lima orang gadis itu. Ia kini mulai menangkis dengan menggunakan sedikit tenaga karena ia tidak tega untuk melukai atau menyakiti mereka. Dengan gerakan yang amat ringan dan cepat, sekali bergerak ia sudah dapat menangkis dua tiga serangan, karena hawa sakti yang menyambar keluar dari kedua lengannya saja sudah cukup membuat lawan-lawan itu terdorong ke belakang.

Segera terdengar jerit-jerit susul-menyusul karena kaget. Akan tetapi begitu terdorong dan hampir roboh, gadis- gadis itu sudah meloncat lagi dan tak pernah merubah posisi pengurungan yang teratur itu. Barisan luar juga terus bergerak menyesuaikan kedudukan mereka dengan kedudukan lima orang pemimpin mereka.

"Dewi, mengapa kau dan adik-adikmu begini keras kepala?" Joko Wandiro berseru jengkel ketika melihat Dewi sendiri terhuyung dan roboh miring, kini sudah meloncat bangun lagi dan menerjangnya dengan hantaman nekad tanpa mempedulikan penjagaan diri lagi. Kembali hantaman itu mengenai ternpat kosong dan Dewi menjawab dengan suara terisak,

"Boleh jadi kami keras kepala, akan tetapi engkau sama sekali tidak mempunyai hati, Joko Wandiro!"

"Hayo bunuh kami, Joko Wandiro!" jerit pula Mini sambil menubruk dengan terkaman seperti seekor harimau kelaparan menubruk kelinci.

Serangan ini disusul oleh Lasmi, Sari, Sundari dan Dewi yang memperhebat serangan tanpa pedulikan penjagaan diri. Joko Wandiro mengeluh. Terpaksa ia mengeraskan hatinya dan kedua lengannya bergerak cepat sekali. Dengan tenaga sedikit ia telah menggunakan Pethit Nogo menampar bahu mereka. Lima orang gadis itu menjerit dan berturut-turut terbanting bergulingan di atas tanah.

Sejenak mereka tak dapat bangun seperti orang disambar petir saking hebatnya Aji Pethit Nogo yang dipergunakan Joko Wandiro. Dengan hati penuh kasihan dan penyesalan, Joko Wandiro yang berhasil merobohkan lima orang pengurungnya itu hendak lari, akan tetapi tiga puluh batang bambu runcing mengurungnya dengan gerakan cepat dan juga teratur sekali.

Bambu-bambu runcing itu tidak hanya menodongnya, akan tetapi juga menjaga jalan keluar dari atas, bahkan menerobos di antara kaki-kaki mereka pun tak mungkin karena di situ telah terjaga ujung-ujung bambu pula. Tiga puluh orang gadis itu mengurungnya dengan tiga lapis dari sepuluh orang. Begitu rapatnya penjagaan itu sehingga kalau ia mau meloloskan diri, sedikitnya ia harus membuka jalan darah merobohkan sepuluh orang!

Celakanya, selagi ia meragu, lima orang gadis yang ia robohkan tadi kini sudah bangkit kembali dan sambii terisak menangis telah menerjangnya dengan hebat, seakan-akan pukulan Pethit Nogo yang hebat tadi sama sekali tidak mereka takuti. Mereka menyebutku tidak berhati! Betulkah ini? Joko Wandiro berpikir-pikir dan mempertimbangkan keadaannya. Kemudian ia berhenti bergerak dan mengangkat tangan kanan ke atas.

"Dewi, berhenti dulu, aku mau bicara!"

Dewi mengeluarkan perintah dan semua anak buahnya berhenti bergerak. Ketika Joko memandang lima orang gadis itu, terpaksa ia meramkan matanya karena pertempuran mati-matian tadi, Apalagi pukulannya Pethit Nogo yang merobohkan mereka, membuat pakaian mereka dari daun-daun dan bunga-bunga itu rontok berhamburan dan hanya tinggal sedikit yang masih menutupi tubuh sehingga tampaklah bagian-bagian tubuh yang semestinya ditutupi. Setelah sejenak meramkan mata menekan perasaannya yang berdebar, ia membuka mata kembali lalu berkata, suaranya tenang,

"Dewi, engkau dan anak buahmu agaknya sudah bertekad bulat dan mati-matian untuk mempertahankan permintaanmu. Kenekatan kalian ini membuat aku ragu-ragu dan aku mau mempertimbangkan permintaanmu, Dewi."

Wajah lima orang gadis yang tadinya suram dan menangis itu seketika menjadi berseri. Dewi mengeluarkan aba-aba dan mereka semua serentak menjatuhkan diri berlutut di depan Joko Wandiro!

"Joko Wandiro, percayalah bahwa kami sudah bersumpah memilihmu sebagai pemimpin yang kami idam-idamkan semenjak bertahun-tahun. Tidak terhitung banyaknya pria yang hendak merebut kedudukan pimpinan dan menjajah kami, namun semua dapat kami basmi dan kami bunuh. Kami bertahun-tahun menanti saat ini, menanti datangnya seorang yang tepat menjadi pemimpin kami, yang boleh kami jadikan sandaran hidup selamanya, yang akan kami layani dengan seluruh jiwa raga kami. Engkaulah orangnya, Joko Wandiro. Kami sudah bertekad menghambakan diri kepadamu atau di antara kita harus mati."

Joko Wandiro menarik napas panjang. "Akan menjadi orang jahatlah aku kalau membalas budi pertolongan kalian kepadaku dengan permusuhan, apalagi harus membunuh seorang di antara kalian. Akan tetapi, permintaan kalian sungguh merupakan hal baru dan janggal bagiku. Dewi, aku suka menerima permintaan kalian untuk menjadi pemimpin kalian. Akan tetapi hanya dengan syarat, dan kalau kalian tidak mau memenuhi syarat ini, biarlah kalian bunuh saja aku untuk menebus budi pertolongan kalian, aku takkan melawan lagi."

Dengan teriakan girang Dewi meloncat berdiri, merangkul leher Joko Wandiro dan menciumnya! Joko Wandiro gelagapan, mendorong halus tubuh hampir telanjang itu ke belakang lalu berkata, "Nah, yang beginilah yang tak boleh kau lakukan, Dewi. Bagaimana, maukah kau mendengar syaratku?"

Dewi terdorong ke belakang, mukanya merah dan matanya berkilat-kilat, wajahnya berseri-seri. Ia berlutut kembali dan berkata, "Katakanlah Apa syaratnya? Andai kata kau minta nyawaku sekarang juga, akan kuserahkan!"

Joko Wandiro merasa lehernya tercekik. Keharuan mencekam hatinya. Biarpun tingkah gadis-gadis ini liar dan ganas, namun harus ia akui bahwa mereka itu benar-benar jujur dan setia, tidak pandai bermanis bibir seperti gadis-gadis kota.

"Tidak, Dewi. Syaratku tidaklah seganas itu. Aku mau menjadi pimpinan kalian, akan tetapi mulai sekarang, kalian tiga puluh lima orang harus tunduk dan taat kepada semua perintahku. Kalau aku merubah peraturan-peraturan yang selama ini berlaku di sini, kalian tidak boleh membantah. Misalnya, peraturan untuk membunuh setiap orang pria yang memasuki wilayah Anjasmoro, inipun akan kurubah. Bagaimana?"

"Hanya itukah?" tanya Dewi.

"Itu syarat pertama. Syarat ke dua, sebagai seorang pemimpin, aku tidak mau harus selalu tinggal di sini karena aku masih mempunyai banyak sekali tugas di luar yang harus kuselesaikan. Bahkan aku membutuhkan bantuan kalian untuk tugas-tugasku itu, di antaranya, membantu aku mencari adik kandungku yang bernama Ayu Candra dan yang lenyap di daerah Anjasmoro ini ketika aku bertanding kemarin dulu itu. Ke tiga... eh, ke tiga..."

Sampai di sini Joko Wandiro tak dapat melanjutkan kata-katanya dan mukanya menjadi merah sekali karena malu dan jengah.

"Apakah syarat ke tiga? Harap beritahukan agar dapat kami pertimbangkan."

"Syarat ke tiga... eh, aku... aku hanya menjadi pemimpin kalian... bukan... bukan suami kalian..."

Setelah menggagap Joko Wandiro dapat menentramkan perasaannya lalu berkata tegas, "Bukan sekali-kali aku tidak menghargai perasaan kalian, hanya... dalam hal ini tak boleh ada paksaan dan aku... aku masih belum ingin beristeri..."

Lima orang gadis itu saling pandang sambil tersenyum. Kemudian Dewi ber kata, "Syarat pertama kami dapat menerima dan boleh kau merubah semua peraturan di sini, semua akan kami taati. Syarat ke dua, asal kau suka bersumpah lebih dahulu bahwa kau takkan menipu dan membohongi kami, tidak akan meninggalkan kami untuk selamanya dan tidak menggunakan syarat itu untuk membebaskan diri dari kami, juga kami terima. Tentu saja kalau kau melanggar, kami semua akan mencarimu sampai jumpa ke mana pun juga kau pergi. Adapun tentang syarat ke tiga bagaimanakah kau dapat mengajukan syarat seperti itu? Joko Wandiro, kami sudah bersumpah menyerahkan jiwa raga kami kepadamu, bersetia sampai mati, hal ini berarti bahwa kami semua adalah milikmu, bagaimana engkau akan mengingkari dan menolak kami? Kepada engkau seoranglah kami menyerahkan perasaan cinta kasih kami, kesetiaan, ketaatan, sehingga engkau merupakan junjungan kami, pemimpin kami, juga suami kami!"

Empat orang gadis lain mengangguk-angguk dan lima pasang mata yang bening itu memandang wajah Joko Wandiro penuh sinar mesra dan kasih sayang. Melihat ini, serasa berputar kepala Joko Wandiro dan ia cepat-cepat menggerakkan kedua tangan yang digoyang-goyangkan ke depan. Ia sendiri merasa heran mengapa jantungnya berdebar tidak karuan. Mengapa hatinya merasa senang dan bangga, mengapa penyerahan diri gadis-gadis cantik itu mendatangkan perasaan yang luar biasa anehnya dan yang membuat ia merasa tegang sehingga pikirannya menjadi keruh.

Teringat ia akan penuturan bibinya, Roro Luhito, tentang kelakuan ayahnya di waktu muda. Ayahnya, menurut penuturan bibinya, adalah seorang yang pernah menyeleweng, mengejar-ngejar wanita, seorang pemuda bangsawan yang mata keranjang, gila perempuan, menjadi hamba dari pada nafsu berahi!

Teringat akan ini, seketika panas rasanya wajah Joko Wandiro. Cepat-cepat ia membentak, "Tidak! Aku bukan laki-laki mata keranjang!"

Bentakannya yang dilakukan dalam keadaan tak sadar itu keras sekali, mengejutkan Dewi dan adik-adiknya. Mereka meloncat berdiri dan memandang. Joko Wandiro sadar dan mukanya makin merah.

"Dewi, ketahuiah bahwa pernyataanmu itu, sungguhpun kau keluarkan dengan hati jujur, iklas, dan terbuka, namun di dalam dunia ramai merupakan sebuah penyelewengan yang tidak semestinya dilakukan orang yang hendak berjalan di atas jalan kebenaran. Aku suka menerima permintaan kalian menjadi pemimpin kalian hanya dengan tujuan menuntun kalian ke jalan benar dan mencegah terjadinya permusuhan di antara kita, sama sekali tidak ada pamrih untuk memetik buah yang berupa kenikmatan dan kesenangan. Jalan untuk bersetia dan taat kepada pimpinan bukan hanya dengan cara menyerahkan diri seperti yang kau maksudkan. Tidak, Dewi. Bukan hanya aku seorang laki-laki di dunia ini dan untuk kalian semua, masih ada jodoh masing-masing yang kelak tentu akan kalian temukan setelah aku merubah peraturan di sini. Aku menghendaki agar kalian masing-masing menemukan jodoh kalian, menemukan pria pilihan hati masing-masing untuk memasuki jenjang perjodohan dan hidup bahagia, tidak lagi menjadi orang-orang buronan dan hidup dengan liar seperti sekarang ini!"

Tiba-tiba Dewi menangis dan empat orang adiknya ikut pula menangis. Dewi memegang tangan kanan Joko Wandiro dan empat orang yang lain juga ada yang memegang tangan, ada yang berlutut merangkul kaki.

"Tapi aku... aku sudah menyerahkan hati dan cinta kasihku kepadamu..." kata Dewi.

"Aku juga..." kata Lasmi.

"Aku juga..." sambung Mini, Sari dan Sundari berturut-turut.

Joko Wandiro tersenyum dan melepaskan diri dengan halus. "Kelak akan berubah setelah kalian bertemu dengan pria-pria lain. Sudahlah, hal ini tak perlu kita perbincangkan sekarang. Pendeknya, bukan waktunya sekarang bagiku untuk bersenang dan bicara tentang perjodohan. Aku masih mempunyai banyak tugas dan perlu mendapat bantuan kalian. Mari kita bicara di dalam pondok."

Joko Wandiro dan lima orang gadis itu memasuki pondok di mana pemuda ini duduk di atas bangku bambu dikelilingi lima orang gadis cantik itu yang selalu bersikap mesra kepadanya. Mulailah Joko Wandiro mengeluarkan peraturan-peraturan baru untuk menuntun mereka ke dalam dunia sopan. Melihat betapa mereka ini menyimpan banyak sekali gumpalan emas yang amat berharga, Joko Wandiro lalu memerintahkan agar dengan emas itu Dewi dan adik-adiknya pergi menemui penduduk di kaki Gunung Anjasmoro, membeli pakaian-pakaian untuk mereka semua sehingga mereka tidak akan menjadi sekumpulan wanita liar setengah telanjang lagi.

Kemudian ia mendapat kenyataan bahwa ilmu kepandaian Dewi dan adik-adiknya cukup baik, terutama sekali ilmu mengatur barisan yang mereka warisi dari mendiang Mamangkurdo ayah Dewi. Karena tingkat kepandaian Joko Wandiro jauh melampaui mereka, maka pemuda ini lalu memberi petunjuk dan menurunkan beberapa ilmu pukulan kepada mereka berlima sehingga mereka menjadi barisan yang makin hebat dan kuat lagi setelah mereka kelak berlatih matang.

Tiga puluh lima orang wanita itu menjadi girang sekali dan merasa bahagia mendapat seorang pemimpin seperti Joko Wandiro. Setiap hari mereka sibuk bersolek dengan pakaian baru mereka, atau berlatih ilmu baru yang mereka dapat, dan waktu selebihnya mereka pergunakan untuk berusaha menyenangkan hati Joko Wandiro.

Pemuda ini mengambil keputusan untuk tinggal beberapa hari di sini, memimpin mereka membuat pondok-pondok baru dari kayu dan bambu, menuntun mereka menjadi wanita-wanita yang hidup normal tidak liar lagi. Akan tetapi sikap Dewi dan empat orang adiknya yang mesra, amat dan terlalu mesra terhadapnya, benar-benar menggelisahkan hatinya, bahkan kadang-kadang, entah terdorong oleh apa, menciumnya begitu saja! Ia sampai tergidik ngeri, bukan karena merasa jijik. Ah, mana bisa jijik kalau mereka itu merupakan dara-dara yang cantik sekali, yang setiap di antara mereka mampu menjatuhkan hati seorang pendeta alim sekali pun?

Ia bergidik karena merasa ngeri, karena merasa takut akan hatinya sendiri. Jantungnya sering kali terguncang, perasaannya terbuai dan ada kalanya ia hampir tak dapat menguasai hatinya untuk tidak membalas belaian mereka. Ia khawatir kalau-kalau pertahanan hatinya runtuh dan ia akan terseret ke dalam kesesatan dan penyelewengan seperti yang pernah dialami ayahnya di waktu muda dahulu.

Tidak! Ia tidak akan mencontoh kelemahan ayahnya. Ia tidak akan mengulang kesesatan ayahnya. Akan tetapi berkeras dan menolak penumpahan perasaan mereka itupun sukar sekali. Mereka melakukan hal itu karena wajar, karena dorongan rasa hati mereka. Jalan satu-satunya hanya harus cepat-cepat pergi dari tempat ini. Ia maklum bahwa betapa pun kuat pertahanan hatinya, sekali waktu pasti akan hancur dan bobol. Bayangkan saja.

Pada malam ke dua ia tinggal di situ, menjelang pagi ia bangun dari tidur dan alangkah kagetnya melihat betapa lima orang gadis itu sudah tidur pula di atas pembaringannya sambil bertumpang tindih memeluknya. Kepala-kepala dengan rambut halus hitam panjang dan harum semerbak karena bunga itu terletak di atas dadanva, perutnya, pahanya, bahkan Dewi memeluk lehernya dengan muka yang dekat sekali dengan mukanya sehingga napas halus Dewi meniupi telinganya!

Hal seperti inilah yang amat berbahaya. Untung ia masih tak kehilangan akalnya dan masih kuat mempertahankan hatinya. Kalau kelak sudah selesai tugas-tugasnya, dan kalau kelak ia ingin memilih seorang calon jodoh, mungkin saja ia memilih seorang di antara mereka berlima ini. Mereka ini cantik-cantik, manis-manis, dan sudah pula ia bayangkan betapa akan manis hidup ini kalau ia beristerikan Dewi dengan empat orang selir seperti Lasmi, Mini, Sari dan Sundari itu!

Ia sudah menceritakan segala keinginan hati dan tugasnya kepada Dewi. Pertama-tama ia akan mencari Ayu Candra dan hari itu, lima hari setelah ia berada di situ, Dewi dan anak buahnya mulai pergi mencari Ayu Candra disekitar daerah Anjasmoro. Joko Wandiro melihat mereka pergi berpencar dan menyusup-nyusup di antara pohon hutan dengan gerakan ringan dan cepat. Hatinya lega. Dengan pembantu-pembantu seperti itu, agaknya Ayu Candra akan dapat ditemukan.

Tentu saja kalau adiknya itu masih berada di sekitar daerah pegunungan ini. Ia menjadi sedih kalau teringat akan adiknya itu. Dan ia menjadi marah sekali kalau ingat kepada Ki Jatoko. Ia akan memberi hajaran kepada si buntung itu kalau dapat bertemu kembali. Si buntung itulah yang menjadi biang keladinya, menjadi pembujuk Ayu Candra dengan kata-kata berbisa sehingga gadis itu lupa akan pesanan ayahnya.

Joko Wandiro berdiri di puncak Anjasmoro, memandang ke sekeiiling untuk melihat kalau-kalau dari tempat itu ia dapat melihat Ayu Candra. Kesunyian. tempat itu dan kekhawatirannya akan nasib adik kandungnya itu membuat pemuda ini melamun dan untuk sejenak kehilangan kewaspadaannya. Karena melamun dan pikirannya melayang-layang, ia sampai tidak tahu bahwa ada sepasang mata memperhatikannya semenjak tadi.

Mata seorang laki-laki tinggi besar seperti raksasa. Mata yang mengenalnya sebagai murid Ki Patih Narotama, sebagai pembunuh Wirokolo, sebagai musuh besarnya. Mata Dibyo Mamangkoro yang makin lama menjadi makin merah saking marah melihat pemuda itu berdiri seorang diri di tempat sunyi.

Biarpun tubuhnya sebesar tubuh raksasa, namun Dibyo Mamangkoro yang sakti mandraguna itu dapat bergerak laksana angin cepatnya dan seringan kapas sehingga Joko Wandiro yang sedang dibuai lamunan itu sama sekali tidak tahu. Barulah Joko Wandiro sadar dan terkejut bukan main setelah terlambat. Dua buah Iengan yang besar dan selain berotot juga mengandung hawa sakti yang menggiriskan telah memeluk dan mengempitnya, lengan kiri melingkari pinggang, lengan kanan memiting leher dari belakang. Seketika Joko Wandiro merasa dadanya sesak dan lehernya tercekik, tak dapat bernapas!

"Uhhh...! Siapakah engkau yang securang ini? Lepaskan...!"

Joko Wandiro mengerahkan tenaga meronta-ronta. Namun kempitan itu amatlah kuatnya sehingga usahanya melepaskan diri sia-sia belaka. Dibyo Mamangkoro tertawa bergelak-gelak sehingga air ludahnya memercik ke atas kepala dan tengkuk Joko Wandiro.

"Huah-hah-ha-ha-hah! Murid Narotama, hayo kau kerahkan semua kedigdayaanmu. Kalau engkau dapat melepaskan diri, benar-benar engkau seorang jagoan. Kalau tidak dapat, bersiaplah untuk mampus sebagai pengganti gurumu. Huahha-ha- ha!"

"Dibyo Mamangkoro...!" Joko Wandiro berseru kaget ketika ia mengenal suara ini. Tahulah ia bahwa ia berada dalam bahaya maut karena raksasa ini adalah musuh gurunya yang pasti takkan ragu-ragu lagi untuk membunuhnya. Apalagi karena dahulu ia telah membunuh Wirokolo, adik seperguruan dan sekutu raksasa ini. Ia terkejut dan gelisah, namun dengan cepat Joko Wandiro dapat menekan perasaannya dan bersikap tenang. Dengan suara mengejek ia lalu berkata,

"Dibyo Mamangkoro terkenal sebagai bekas senopati besar, siapa tahu hari ini memperlihatkan sikap seorang pengecut yang curang. Kalau engkau memang seorang jantan, hayo lepaskan dan mari kita mengadu tebalnya kulit kerasnya tulang dan ampuhnya kesaktian!"

"Huah-ha-ha-ha! Melawan bocah macam engkau perlu Apa banyak repot? Kau lepaskan dirimu, kalau tidak becus, mampuslah!" Dibyo Mamangkoro memperkuat kempitannya sehingga pemuda itu merasa tubuhnya seakan-akan dihimpit besi-besi baja yang keras dan amat berat.

Joko Wandiro menahan napas lalu mengumpulkan hawa sakti di tubuhnya. Hawa sakti itu berputar-putar di sekitar pusarnya, makin lama makin cepat dan terasa panas, lalu ia dorong hawa itu naik, membentuk tenaga dahsyat dan panas yang mendasari usahanya meronta. Ia memekik dahsyat dan meronta. Bukan main hebatnya tenaga pemuda ini. Pekik tadi adalah pekik Dirodo Meto, dibarengi pengerahan tenaga Bojro Dahono, benar-benar luar biasa dahsyatnya. Andai kata pemuda itu dibelenggu dengan rantai baja sekali pun dengan pekik dan tenaga sakti macam itu, agaknya semua belenggu akan patah-patah dan ia akan terlepas.

Dibyo Mamangkoro terkejut bukan main. Tidak disangkanya bocah ini memiliki kesaktian sehebat itu. Untung dia yang mengempitnya, kalau orang lain tentu akan terjengkang dan roboh, mungkin tewas. Cepat ia pun mengerahkan tenaga sambil tertawa berkakakan. Bukan sembarang tertawa, melainkan tertawa berisi aji kesaktian untuk melawan pengaruh pekik Dirodo Meto tadi, kemudian ia pun menggunakan hawa sakti di tubuhnya untuk disalurkan ke arah kedua lengan yang mengempit. Keras lawan keras dam keadaan mereka seimbang. Kempitan itu tidak terlepas, hanya akibatnya, Joko Wandiro terengah-engah dan makin sukar bernapas sedangkan wajah Dibyo Mamangk卯茫卯 menjadi pucat, penuh keringat sebesar kacang tanah. Dada dan lengannya berkilat-kilat licin oleh peluh.

Kalau Dibyo Mamangkoro kagum sekali menyaksikan kesaktian pemuda ini, adalah Joko Wandiro yang terkejut bukan main. Ia telah mengerahkan tenaga, namun kempitan itu tidak terlepas, bahkan melonggarpun tidak, malah makin erat. Ia maklum bahwa kalau ia tidak lekas-lekas dapat melepaskan diri, ia akan mati tercekik, mati kehabisan napas dan dengan tulang-tulang iga remuk! Lengan kanan lawan seperti akan mematahkan batang lehernya, sedangkan tangan kiri lawan yang besar seperti hendak mencengkeram dan merobek kulit perutnya.

Joko Wandiro kembali berusaha dengan pengerahan tenaga. Kini hawa murni di tubuhnya bergerak semua, membentuk hawa sakti yang membuat tubuhnya licin bakai belut. Kini pemuda itu menggunakan tenaga lemas, tidak mau menggunakan kekerasan seperti tadi. Tubuhnya menjadi lemas dan licin, tulang-tulangnya seperti lenyap dan tubuhnya seperti berubah menjadi tubuh belut saja! Inilah hasil hawa sakti yang luar biasa. Andai kata pemuda ini dibelit-belit rantai yang kuat sekali pun, dengan aji ini ia tentu mampu meloloskan diri tanpa mematahkan rantainya. Ketika ia mengerahkar tenaga dan tubuhnya bergerak-gerak hampir berhasil melepaskan diri dari kempitan kedua lengan Dibyo Mamangkoro.

"Aiiihhhh...!"

Dibyo Mamangkoro berseru keras dan ia kagum sekali, lalu ia cepat-cepat menambah tenaga dalamnya untuk memperhebat kempitan. Ia kagum bukan main. Sebagai seorang tokoh besar yang sakti, ia maklum pula bahwa lawannya yang masih amat muda ini benar-benar memiliki kedigdayaan dan boleh disebut seorang sakti mardraguna yang jarang bandingnya. Maka ia lalu memperhebat tenaganya dan berusaha meremukkan dada mematahkan batang leher pemuda itu. Otot-otot kedua tangannya sampai timbul, mukanva menjadi beringas, mulutnya membusa.

Joko Wandiro diam-diam mengeluh dalam batinnya. Lawannya ini terlalu cerdik, juga terlalu sakti. Dikempit seperti itu, ia benar-benar tidak dapat mempergunakan aji kepandaiannya. Ia dapat mengimbangi tenaga dalam lawan, namun ia kalah kuat dalam tenaga kasar raksasa itu yang memang hebat. Andai kata ia harus menghadapi kakek itu dalam pertandingan, tentu saja ia dapat mempergunakan semua ajinya, dan belum tentu ia akan kalah. Siapa kira, kakek musuhnya ini demikian licik dan curang, menyerangnya secara menggelap dari belakang.

Betapa pun juga, Joko Wandiro tidak mau menyerah mentah-mentah begitu saja. Ia tidak mau mati konyoi tanpa perlawanan, maka kembali ia meronta-ronta. Karena pemuda ini memang amat kuat, biarpun ia tidak berhasil membebaskan diri, namun setidaknya ia membuat kedudukan kaki lawannya menjadi terhuyung dan membuat lawannya itu mandi peluh dan lelah sekali.

Joko Wandiro merasa penasaran sekali bahwa ia akan mengakhiri hidupnya secara demikian mengecewakan. Ia maklum bahwa takkan lama ia dapat bertahan. Napasnya sudah sesak sekali dan setiap kali ia terpaksa menyedot napas, pertahanan tenaga dalamnya menjadi lemah sehingga kempitan itu makin erat menyesakkan dada yang serasa seperti akan remuk tulang-tulangnya. Terlalu lama ia menahan napas dan telinganya sudah terngiang-ngiang, pandang matanya mulai berkunang kemudian hidungnya sudah mencium bau hangus, di depan matanya membentang lautan merah darah. Akan tetapi ia masih tenang.

Memang pemuda ini tidak gentar menghadapi maut. Hal itu menguntungkannya karena ketenangannya serta ketabahannya membuat ia tidak kehabisan akal. Dalam keadaan kritis dan maut sudah mengintai nyawanya itu, Joko Wandiro masih memutar otak mencari akal. Dalam saat terakhir itu bagaikan nyala sebuah obor, Joko Wandiro dapat melihat dengan jelas jalan keluar untuk menolong dirinya. Ah, mengapa ia sebodoh itu?

Mengapa waktu dan tenaganya ia habiskan untuk meronta-ronta secara sia-sia? Mengapa ia mencari jalan sukar, jalan kekerasan, sedangkan di depannya jelas terdapat jalan yang amat mudah tanpa menggunakan kekerasan untuk meloloskan diri? Ia melihat betapa Iengan kanan lawannya itu memiting lehernya, dengan siku ditekuk tepat di depan mukanya, dan betapa tangan kiri lawannya mencengkeram ke depan perutnya. Dan kedua tangannya sendiri bebas!

Teringatlah ia akan semua pelajaran yang ia terima dari Ki Tejoranu yang selain menurunkan ilmu golok, juga memberitahu akan rahasia bagian-bagian tubuh yang lemah. Siku lawan berada di depannya, mudah dicapai tangan kanannya, demikian pula tangan kiri lawan di depan perut itu mudah dicapai tangan kirinya. Karena kini pandang matanya sudah sama sekali menjadi merah dan ia merasa dirinya seperti tenggelam dalam lautan darah, ia meramkan matanya, akan tetapi kedua tangannya mulai bergerak.....!

0 Response to "Badai Laut Selatan Jilid 62"

Post a Comment