Badai Laut Selatan Jilid 26

Mode Malam
Pondok itu masih tetap sunyi. Asap tipis mengepul dari jendela kanan kiri pondok dan dari pintu yang terbuka. Asap berbau harum dupa cendana Di dalam pondok itu, di atas dipan bambu, Bhagawan Rukmoseto atau Resi Bhargowo tampak duduk bersila dengan kedua lengan di depan dada, duduk diam dalam keadaan bersamadhi. Tenang dan hening.

Enam orang utusan Pangeran Muda sudah tiba di situ dan mereka kini mengurung pondok dari enam jurusan berdiri dengan sikap siap. Melihat pondok yang sunyi dan asap tipis harum yang mengepul dari pintu dan jendela, enam orang itu bersikap hati-hati sekali. Mereka cukup maklum bahwa Bhagawan Rukmoseto atau Resi Bhargowo bukan lawan yang boleh dipandang ringan. Resi Bhargowo adalah adik seperguruan Empu Bharodo yang terkenal sakti.

Berbeda dengan Empu Bharodo yang sudah memuncak ilmu batinnya sehingga kakek ini tidak suka mencampuri urusan duniawi dan sudah memiliki kesabaran yang tiada batasnya berdasarkan kasih yang tulus ikhlas kepada segala isi dunia, Resi Bhargowo ini masih belum mampu membebaskan diri dari pada ikatan duniawi karena resi ini mempunyai puteri. Pula, sang resi masih suka olah kesaktian, biarpun sudah menjadi pendeta, namun masih berwatak satria, tidak suka membiarkan hal yang dianggapnya tidak adil.

Jokowanengpati sendiri telah memberitahukan kepada lima orang tokoh yang menjadi sekutunya bahwa ilmu kesaktian Resi Bhargowo amatlah hebat dan sekali-kali tidak boleh dipandang rendah. Inilah sebabnya mengapa kini keenam orang itu tidak berani segera menyerbu masuk ke dalam pondok sunyi, melainkan hanya mengurung dan menanti kesempatan baik.

Ni Durgogini dan Ni Nogogini yang menjaga di belakang pondok, diam-diam merasa tidak sabar menyaksikam teman-temannya yang sikapnya seperti ragu-ragu dan takut-takut ini. Akan tetapi karena mereka berduapun hanya merupakan pembantu-pembantu, mereka menahan diri. Mereka juga bukan orang sembarangan, kalau sekali bertindak terburu nafsu dan sembrono sehingga tergelincir, tentu akan memperoteh nama buruk dan rnalu. Maka mereka pun hanya bersikap diam dan siap-siap urtuk turun tangan apabila keadaan menghendaki.

Seperti biasa di dalam rombongan ini, Cekel Aksomolo lah yang dianggap sebagai pelopor atau pimpinan. Pertama karena Cekel Aksomolo merupakan tokoh yang paling tua di antara mereka. Kedua karena apabila diadakan perbandingan kiranya kakek tua renta seperti Durna inilah yang paling sakti mandraguna. Di samping itu, karena pandainya, kakek ini sudah rnemperoleh kepercayaan Sang Pangeran Muda sehingga usaha penggerebegan atas diri Resi Bhargowo inipun oleh sang pangeran ditugaskan kepada Cekel Aksomolo.

"Uuhh-huh-huh! Resi Bhargowo Kau yang sudah gentur bertapa, yang katanya sudah sidik paningal, waspada dan mengenal sebelum dan sesudah takdir, apakah kini menjadi buta atau pura-pura tidak tahu akan kedatangan kami?" Tiba-tiba Cekel Aksomolo yang berdiri di depan pintu berkata, suaranya penuh ejekan.

Jokowanengpati berdiri tak jauh di sebelah kirinya, memandang ke arah pintu penuh perhatian. Hening saja dari dalam pondok. Tiada jawaban.

"Resi Bhargowo...! Kami masih rnempergunakan sopan santun para tamu, tidak sudi menyerbu seperti perampok! Akan tetapi kalau kau tidak tahu sopan santun seorang tuan rumah, terpaksa..." kata lagi Cekel Aksomolo yang tidak melanjutkan kata-katanya karena pada saat itu dari dalam pondok terdengar suara orang. Suara itu ringan dan lemah, seakan-akan mengambang atau melayang keluar terbawa asap tipis yang harum,

"Tidak ada Resi Bhargowo di sini, yang ada Bhagawan Rukmoseto...!"

Enam orang itu saling pandang. Memang selama ini, usaha mereka mencari Resi Bhargowo sia-sia belaka. Tidak pernah terdengar berita tentang resi ini seakan-akan Resi Bhargowo sudah lenyap ditelan bumi. Dan sebagai gantinya, muncul seorang tokoh pertapa yang memakai julukan Bhagawan Rukmoseto. Akan tetapi menurut para penyelidik yang sudah memata-matai pulau ini dan sang pertapa, yang bernama Bhagawan Rukmoseto itu bukan lain adalah Resi Bhargowo juga yang kini rambutnya sudah putih semua!

"Uuuh-huh-huh! Kami yang salah panggil kalau begitu. Baiklah, Sang Bhagawan Rukmoseto! Orang yang sudah berjuluk bhagawan tentu tidak buta sehingga dapat tnelihat kedatangan tamu-tamu utusan Sang Pangeran Anom!"

Hening pula sejenak. Jantung enam orang yang mengurung pondok itu menegang dalam penantian jawaban. Apalagi ketika tiba-tiba secara aneh sekali, asap tipis yang tadinya mengepul keluar dari kedua jendela dan pintu depan, kini tidak tampak sama sekali. Mereka makin waspada dan diam-diam mereka telah meraba senjata masing-masing untuk menjaga kalau-kalau orang yang mereka kurung rnenerjang keluar.

"Hong Wilaheng Nirmala Sadya Rahayu Widodo...!"

Terdengar suara dari dalam, itulah mantera yang biasa diucapkan para pendeta untuk menjauhkan bahaya dan menenangkan batin yang hanya mengandung kebaikan, jauh dari pada nafsu buruk. Kemudian puja-puji itu jawaban yang ramah, akan tetapi mengandung tantangan,

"Cekel Aksomolo dan sahabat-sahabat, pintu pondokku tak pernah tertutup. Masuklah siapa yang mempunyai keperluan berlandaskan itikad baik. Yang datang bermaksud buruk, sebaiknya jangan menggangguku dan pergi saja dari Pulau Sempu ini karena aku Bhagawan Rukmoseto bukankah orang yang suka mencari permusuhan!"

Ucapan ini merupakan undangan dan sekaligus juga tantangan. Tentu saja keenam orang itu tidak seorangpun datang dengan maksud hati baik, karena bukankah mereka datang sebagai utusan Pangeran Anom yang menyuruh mereka merampas kembali Pusaka Mataram, baik secara halus maupun kasar? Kini mereka saling pandang, karena mereka yang menjaga di pinggir dan belakang rumah kini menempatkan diri sedemikian rupa sehingga mereka dapat saling lihat.

Nampak keraguan di dalam pandang mata masing-masing. Jokowanengpati melihat keraguan para jagoannya ini, diam-diam menjadi tak senang dan mendongkol. Orang-orang tua ini kalau di luaran bicaranya seperti guntur menyambar-nyambar, mengangkat diri sendiri sampai setinggi langit, akan tetapi sekali menghadapi urusan penting, menjadi ragu-ragu dan seperti saling dorong agar orang lain yang lebih dulu bergerak rnenempuh bahaya! Dia pun amat cerdik, maka dengan bisik-bisik ia berkata,

"Eyang Cekel, biarlah saya yang akan bicara karena dia masih paman guru saya. Saya akan memasuki pintu itu, akan tetapi saya minta bantuan Ki Warok dan paman Krendoyakso agar masuk dari kedua jendela pada saat itu sehingga keselamatanku terjaga."

Cekel Aksomolo mengangguk-angguk, lalu melambaikan tangan memaanggil Ki Warok Gendroyono dan Ki Krendoyakso. Dua orang manusia raksasa itu dating mendekat. Cekel Aksomolo bisik-bisik dan mereka berdua mengangguk-angguk, lalu keduanya melangkah lebar mendekati jendela, Ki Warok Gendroyono di jendela timur, sedangkan Ki Krendroyakso di jendela barat. Jokowanengpati lalu melangkah maju mendekati pintu yang terbuka itu sambil berseru, "Paman, parnan resi! Inilah saya, murid keponakan paman, saya Jokowanengpati murid bapa guru Empu Bharodo!"

"Murid murtad! Pencuri hina!"

Suara dari dalam ini terdengar marah dan penuh wibawa sehingga Jokowanengpati mundur dua langkah. Mukanya berubah menjadi merah sekali. Akan tetapi dia cerdik. Melihat betapa Ki Warok Gendroyono sudah memegang jimat kolor pusaka di dekat jendela timur sedangkan Ki Krendoyakso juga sudah memegang senjata pusakanya penggada Wojo Ireng, hatinya menjadi tabah dan ia melangkah maju lagi.

"Paman resi, perkenankan saya masuk bertemu dengan paman. Ada urusan penting hendak saya bicarakan dengan paman, uruan pusaka Mataram...!"

Semua orang rnenanti dengan hati tegang, hendak mendengar bagaimana jawaban orang di dalam. Mereka datang untuk pusaka itu, dan di dalam hati orang tokoh besar itu, sukar diduga bagaimana sikap mereka dan apa yang akan terjadi kalau pusaka Mataram yang dirindukan semua tokoh itu benar-benar berada di situ dan sudah berhasil mereka dapatkan! Akan tetapi tidak ada jawaban dan keadaan sunyi sekali.

Selagi Jokowanengpati hendak mengulang kata-katanya atas desakan Cekel Aksomolo yang menggerak-gerakkan mulutnya seperti mencium terasi, terdengarlah suara helaan napas panjang dari dalam disambung kata-kata, "Pusaka Mataram tidak ada di sini, harap kalian pergi jangan menggangguku"

Berubah wajah enam orang itu, berubah marah. Jokowanengpati marah dan penasaran, maka katanya keras, "Paman, harap jangan membohong! Saya tahu, pusaka Mataram berada di tangan paman!" Sambil berkata demikian ia memberi isyarat kepada dua orang kawan yang menjaga di jendela, lalu memasuki lubang pintu yang terbuka itu.

"Pergilah...!" Terdengar bentakan dari dalam.

Jokowanengpati terkejut sekali karena tidak ada orang yang menyerangnya, melainkan segumpal asap putih yang tahu-tahu mendorongnya dari depan dengan kekuatan yang luar biasa! la mengerahkan tenaga untuk melawan, namun sia-sia. Tubuhnya terlempar dan terjengkang, terbanting jatuh di luar pintu, diikuti asap putih yang mengepul keluar pintu. Ki Warok Gendroyono dan Ki Krendoyakso sudah menyerbu masuk, melompat ke dalam jendela yang terbuka. Akan tetapi mereka inipun disambut gumpalan asap putih yang amat kuat. Selagi tubuh mereka masih melompat di udara, gumpalan asap putih menyambut mereka dan mendorong mereka keluar lagi dari jendela, terbanting ke atas tanah sehingga tubuh mereka bergulingan!

Sejenak mereka semua tercengang. Ki Warok Gendroyono dan Ki Krendoyakso bukanlah orang-orang lemah. Biarpun mereka tadi terbanting oleh gumpalan asap yang rnengandung kekuatan luar biasa, namun mereka serentak sudah bangkit lagi dan menjadi marah. Tadi mereka dapat dirobohkan karena tidak menyangka-nyangka sehingga mereka menjadi korban serangan dari dalam. Itulah pukulan jarak jauh yang dilontarkan oleh Bhagawan Rukmoseto dari tempat ia duduk bersila. Karena di depannya mengepul asap kayu cendana, maka asap itu terbawa oleh pukulannya sehingga merupakan "senjata" yang aneh.

"Rukmoseto keparat!" bentak Ki Krendoyakso sambil menggosok-gosok kedua telapak tangannya dan tak lama kemudian dari telapak kedua tangannya itu mengepul asap hitam. Inilah sebuah di antara aji ilmu hitamnya yang disebut Kukus Langking (Asap Hitam)!

"Bhagawan pengecut, menyerang tanpa peringatan!" Ki Warok Gendroyono juga memaki marah sambil melolos kolor jimat Ki Bandot dan memutar-mutarnya sehingga terdengar suara angin menderu dan tampak sinar bergulung-gulung dahsyat!

"Gendroyono dan Krendoyakso, aku tidak mencari permusuhan dan aku tidak membawa pusaka Mataram yang kalian cari-cari. Sekali lagi kuperingatkan, pergilah dan jangan menggangguku, Namun kalau kalian memaksa, jangan kira aku takut melayani kalian. Majulah semua bersama, aku tidak akan mundur setapak!"

Suara Bhagawan Rukmoseto terdengar mengambang di antara asap putih harum.

"Babo-babo si keparat! Sumbarmu seperti akan meruntuhkan puncak Mahameru, Rukmoseto. Akan tetapi kenyataannya engkau bersembunyi di dalam pondok seperti seorang perempuan!"

Setelah berkata demikian, Ki Warok Gendroyono lalu menghantamkan kolor ajimat Ki Bandot ke arah jendela. Terdengar suara keras dan jendela itu berikut seluruh dinding sebelah timur ambruk ke dalam! Tampaklah kini dari dinding bambu yang runtuh itu keadaan di dalam pondok di mana seorang kakek berambut putih berkumis tebal dan bersikap tenang berwibawa tengah duduk bersila menghadapi pedupan yang mengeluarkan asap putih. Pada saat itu Ki Krendoyakso juga sudah menggerakkan Wojo Ireng, senjata penggada yang menyeramkan itu dan kembali terdengar suara keras ketika dinding sebelah barat ambruk pula!

"Huuh-huh-uh, tidak ada artinya kau melawan kami, Rukmoseto! Lebih baik serahkan pusaka Mataram kepada kami dan kau menurut saja kami belenggu dan jadikan tawanan. Kau sudah tua, apakah tidak rnencari jalan terang, Rukmoseto. Uhh-huh-huh!" Cekel Aksomolo berkata mengejek.

Bhagawan Rukmoseto masih duduk bersila dan menundukkan mukanya, menanti sampai dupa cendana itu habis dimakan api. Asap putih makin menipis dan akhirnya lenyap sehingga wajah kakek pertapa ini sekarang nampak jelas, tidak tertutup asap tipis seperti tadi. Ia mengangkat mukanya memandang ke depan, lalu bangkit berdiri dengan tenang melangkah keluar dari pondok. Sikapnya yang tenang membuat para lawannya berhati-hati dan tidak berani bertindak sembrono.

"Kalian ini orang-orang apa! Punya ilmu dan kedudukan hanya untuk mengumbar nafsu angkara, untuk bersikap adigang-adigung-adiguna, mengandalkan kepandaian untuk menindas, mempergunakan wewenang untuk mencari menang. Sudah kukatakan bahwa pusaka Mataram tiada padaku, masih banyak lagak mau apakah?"

Suara Bhagawan Rukmoseto tegas dan tandas, matanya mengeluarkan sinar berkilat. Ketika sinar matanya menusuk. Jokowanengpati, orang muda itu meremang bulu tengkuknya dan ia cepat berkata, "Paman Resi Bhargowo"

"Tidak ada lagi Resi Bhargowo, yang ada Bhagawan Rukmoseto!" bentak pertapa itu tegas.

"Baiklah...! paman Bhagawan Rukmoseto. Hendaklah paman ketahui bahwa kami berenam adalah orang-orang kepercayaan..."

"Adipati Joyowiseso di Selopenangkep yang hendak memberontak kepada Kerajaan Medang, bukan?" kembali sang bhagawan memotong sambil tersenyum rnengejek.

Jokowanengpati menggeleng kepalanya. "Paman keliru dan salah duga. Memang benar kami segolongan dengan paman Adipati Joyowiseso, karena beliaupun rnenjadi satu golongan dengan kami dalam membela yang benar. Kami semua adalah orang-orang kepercayaan dan bahkan kini bertugas sebagai utusan Gusti Pangeran Anom. Oleh karena itu, saya harap parnan jangan memperlihatkan sikap permusuhan, karena apakah paman bermaksud rnemberontak kepada kekuasaan Gusti Pangeran Anom?" Jokowanengpati berhenti sebentar lalu melanjutkan cepat-cepat ketika melihat pendeta itu tersenyum penuh arti, "Paman, saya tidak membohong. Kalau paman tidak percaya, boleh paman periksa di pantai itu. Kami datang menggunakan perahu gusti pangeran sendiri yang dapat paman lihat dari benderarrya di tiang layar. Kami diutus untuk menemui paman dan minta pusaka Mataram dari paman bhagawan."

"Sudah kukatakan bahwa pusaka Mataram tidak berada dalam tanganku. Kalau kalian tidak percaya dan melakukan penggeledahan, silakan!"

"Uuhh-huh-huh, kalau orang sudah mempunyai niat buruk, tentu ada saja akalnya, akal bulus-las-lus! Dicari juga mana bisa ditemukan kalau sebelumnya sudah disembunyikan?"Cekel Aksomolo berkata, ludahnya nyiprat-nyiprat karena marahnya.

"Paman Bhagawan Rukmoseto! Mengingat bahwa paman adalah saudara seperguruan bapa guru Empu Bharodo, maka saya masih menggunakan tata susila dan sopan santun. Akan tetapi harap paman ketahui bahwa kami adalah utusan-utusan Gusti Pangeran Anom dan diberi purbowaseso (hak mengambil keputusan dan bertindak)."

"Iyahhh, benar tuhhh! Kami sudah mendapat mandat penuh dari Gusti Pangeran Anom! Berikan saja pusaka itu baik-baik dan kau menyerah jadi tawanan kami, Bhagawan Rukmoseto. Kalau tidak, tempatmu akan rnenjadi karang abang (lautan api) dan kau akan dijadikan sate gosong (hangus), uh-huh-huh!"

Tiba-tiba berubah sikap Bhagawan Rukmoseto. Kalau tadi ia tenang sabar dan merendah, kini mukanya diangkat, dadanya dibusungkan, tubuhnya tegak dan tangan kirinya bertolak pinggang. Tampak kembali sikap seorang ksatria yang tabah dan takkan undur selangkahpun menghadapi lawan.

"Heh keparat Jokowanengpati! Sabda pendeta hanya ada satu tidak ada dua! Kalau kukatakan bahwa pusaka Matararn yang hilang tidak ada padaku, maka hal itu memang sebenarnya demikian. Jangan kira bahwa gertakanmu itu menakutkan aku, orang muda berwatak rendah! Bahkan kedatangan kalian, terutama sekali kau dan Cekel Aksornolo, amat melegakan hatiku karena memberi kesempatan kepadaku untuk minta pertanggungan jawab kalian berdua ketika kalian beberapa tahun yang lalu mengganas di Bayuwismo!"

"Pertanggungan jawab apa? Uuh-huh, seperti memarahi cucunya saja, keparat! Kau minta pertanggungan jawab apa?"

"Cekel Aksomolo! Kau mengaku menjadi seorang cekel gemblengan, seorang pertapa, seorang ahli kebatinan, seorang yang sudah sadar akan hidup, akan tetapi sepak terjangmu seperti iblis jahanam! Mengandalkan kepandaianmu yang terkutuk, engkau telah menyiksa dan menghina para cantrikku. Jelas bahwa engkau yang hendak mencari kesempurnaan batin, telah tersesat ke lembah kejahatan dan kehinaan, engkau diperalat iblis "

Teringat akan cantrik-cantriknya yang menjadi tuli oleh perbuatan kejam cekel ini, Bhagawan Rukmoseto menerjang maju dengan terkaman dahsyat, menghantam dengan gerakan Bayu Tantra dan pukulan tangan mengandung Aji Pethit Nogo yang dahsyatnya bukan kepalang itu.

"Syuuuuuutt... wuttt...!"

Kalau saja hantaman ini mengenai kepala sang Cekel, betapa pun saktinya, tentu akan mendatangkan akibat yang mengerikan. Biarpun Cekel Aksomolo seorang gemblengan yang sakti mandraguna, kebal nora tedas tapak paluning pande sisaning gurindo (tak termakan senjata gemblengan pandai besi dan bekas asahan), namun agaknya ia tidak akan kuat menerima pukulan Aji Pethit Nogo yang dilakukan oleh Sang Bhagawran Rukmoseto! Untung bahwa kakek tua renta ini masih belum kehilangan kewaspadaan mengenal pukulan ampuh dan masih berhasil menyelamatkan dirinya dengan melempar diri terjengkang ke belakang sehingga punggungnya menyentuh tanah, lalu bergulingan jauh sambil memutar tasbih di atas kepalanya. Malang baginya, ketika bergulingan itu, ia tidak melihat bahwa ia menuju ke arah tanah selokan, yaitu tempat mengalirnya air dari belakang pondok sehingga tubuhnya lenyap masuk ke dalam selokan yang kurang lebih setengah meter dalamnya.

"Adoouuh, sial dangkalan awakku...!" ia menyumpah-nyumpah sambil melompat bangun. Muka dan sebagian pakaiannya kotor terkena lumpur.

"Ki Warok dan Ki Krendoyakso! Kalian ini benggolan-benggolan besar, tadi dipukul di luar jendela sampai terguling-guling, apakah diam saja tidak berani membalas?"

Dasar Cekel Aksomolo orangnya cerdik dan licik. Persis seperti watak Bhagawan Durna dalam cerita pewayangan Mahabarata. Begitu ia melihat sambaran pukulan Pethit Nogo yang sedemikian dahsyatnya, ia maklum bahwa Bhagawan Rukmoseto merupakan lawan yang amat tangguh. Karena itu ia memancing kemarahan dua orang kawannya itu agar maju lebih dulu sehingga ia nanti dapat maju membantu sehingga keadaannya akan lebih menguntungkan, tidak langsung berhadapan dengan lawan tangguh itu!

Ki Warok Gendroyono dan Ki Krendoyakso keduanya adalah orang-orang kasar tidak pandai menggunakan pikiran dan wawasan, hanya menurutkan hati. Maka mendengar ejekan Cekel Aksomolo, seketika mereka menjadi marah sekali. Ki Krendoyakso lalu melompat dan mengayun senjata penggadanya Wojo Ireng yang besar dan amat berat sambil membentak,

"Rukmoseto, lihat senjataku! Pegah dadamu kalau lengah sedikit saja!" Ia mengayun senjatanya yang mengeluarkan angin bersiutan.

Adapun Ki Warok Gendroyono juga sangat marah, tidak mau kalah dengan kawannya ini. Ia sudah memutar-muthr kolor ajimatnya Ki Bandot sehingga tarepak sinar bergulung-gulung dan memperdengarkan suara seperti kitiran tertiup angin kencang. la maju dan sesumbar,

"Bersiaplah untuk mampus, Rukmoseto! Sedikit kurang cepat, akan remuk kepalamu!"

Memang dahsyat terjangan kedua orang raksasa ini. Penggada Wojo Ireng di tangan Ki Krendroyakso adalah sebuah senjata yang berat, terbentur sedikit saja oleh senjata seberat ini pada dada, benar-benar dapat mernbuat dada pecah dan patah-patah tulang iganya. Juga senjata di tangan Ki Warok Gendroyono, sungguhpun hanya sehelai kolor (Pengikat celana dalam), namun bukan kolor sembarang kolor! Kolor ajimat yang dinamai Ki Bandot, mempunyai daya ampuh menggiriskan hati karena sabetan kolor ini mampu membikin hancur batu karang yang keras. Apalagi seorang manusia. Tidaklah terlalu berlebihan sumbarnya tadi. Memang kurang cepat sedikit saja mengelak, kepala akan bisa remuk!

Akan tetapi Bhagawan Rukmoseto adalah seorang sakti yang memiliki Aji Bayu Tantra, yang membuat tubuhnya dapat bergerak cepat sekali, berkelebat laksana bayu (angin). Bahkan ilmunya ini memungkinkan sang bhagawan berkelebat dengan tubuh ringan seperti sehelai daun kering, dapat bergerak menyelinap di antara hantaman penggada raksasa dan kolor maut! Bahkan kecepatan gerakannya membuat Bhagawan Rukmoseto begitu berkelebat mengelak lalu balas menyerang dengan pukulan Pethit Nogo, kedua lengannya dikembangkan dan jari-jari tangannya yang ampuh itu menampar ke arah kepala Ki Warok Gendroyono dan dada Ki Krendoyakso.

Jangan dipandang remeh tamparan jari tangan kedua telapak tangan Bhagawan Rukmoseto ini. Itulah Aji Pethit Nogo (Ekor Naga) yang ampuhnya menggila, agaknya sama ampuhnya dengan aji pukulan Bajra Musti ditangan Raden Gatutkaca dalam cerita pewayangan. Untung bahwa Ki Warok dan kepala rampok Bagelen itupun bukan manusia-manusia lumrah! Betapa pun cepat dan dahsyatnya datangnya kedua tamparan tangan Bhagawan Rukmoseto, mereka masih dapat melompat ke be lakang sambil menyambut tangan kanan kiri lawan itu dengan senjata mereka.

Luar biasa hebatnya akibat pertemuan kedua tangan dengan kedua senjata itu. Daun-daun di atas pohon terdekat rontok berhamburan. Burung-burung terbang bercuitan, kaget dan takut. Tanah terasa guncang seperti terjadi gempa bumi!

Ki Warok Gendroyono terhuyung-huyung mundur dengan tangan kanan menggigil dan kolor mautnya lemas. Ki Krendoyakso terpelanting pula ke belakang dan hampir saja penggada Wojo Ireng mencium tengkoraknya sendiri. Namun Bhagawan Rukmoseto juga terkena akibat benturan dahsyat seperti benturan ombak Segoro Kidul menghantam karang itu. Kakek inipun terpental dan terhuyung ke belakang, mukanya agak pucat namun kedua lengannya tidak terluka. Betapa sakti kakek ini dapat diukur dari benturan kedua tangan melawan dua senjata yang ampuh itu.

Kesempatan selagi Bhagawan Rukmoseto terhuyung ini dipergunakan oleh Cekel Aksomolo. Kakek tua renta yang cerdik ini segera maklum bahwa keadaan lawan itu sedang amat buruk, maka secepat kilat ia mengeluarkan pekik kemenangan sambil melompat dan menerjang dengan tasbihnya diputar di atas kepala lalu ditimpakan ke atas kepala lawan.

Mendengar suara berkeretik aneh dan merasai sambaran angin pukulan dahsyat yang mengandung pengaruh mujijat seakan-akan urat syarafnya tersentuh getaran aneh, Bhagawan Rukmoseto terk毛jut. Ia maklum bahwa kakek tua renta ini benar-benar amat sakti, dan senjata tasbihnya itu ampuhnya menggila. Maka ia tidak berani menerima dengan tangannya, bahkan lalu rnengguling kan tubuh ke kiri terus mengayun, kaki berjungkir balik dengan gerakan indah sekali.

"Ho-ho-ho-ho, jangan lari. Belum busik (lecet) kulitmu sudah mau lari? Cih, tak bermalu!" Cekel Aksomolo rnengejek dan menyombong sambi mengejar.

Karena Bhagawan Rukmoseto melompat ke dekat Ki Krendroyakso yang sudah dapat menguasai dirinya lagi, tanpa berkata apa-apa kepala rampok Bagelen ini sudah mengayun penggadanya, sekuat tenaga ia menghantam kepala lawan. Dari arah lain, Ki Warok Gendroyono juga sudah rnengayun kolor mautnya menghantam ke arah lambung! Memuncak kemarahan Bhagawan Rukmoseto. Ia mengeluarkan pekik yang aneh, jari-jari tangannya bergetar-getar mengeluarkan tenaga sakti yang dahsyat sekali ketika ia gerakkan. Dibarengi benturan keras tangan kirinya menyambut penggada Wesi Ireng.

"Desss!"

Ki Krendoyakso terpekik kesakitan. Hampir saja ia melepaskan penggadanya. Ia dapat bertahan dan penggada itu tidak sampai terlepas, namun ia melompat ke belakang dan tangan kanannya sengkleh (lumpuh) sementara, penggadanya diseret karena tidak kuat lagi mengangkatnya. Tulang tangan kanannya serasa remuk-remuk karena tadi dihantam oleh hawa sakti Pethit Nogo yang menjalar dari penggada sampai tangan dan lengannya! Pada saat itu, beberapa detik kemudian, kolor di tangan Ki Warok Gendroyono tiba, mengancam lambung. Namun Bhagawan Rukmoseto yang sudah marah itu menyambut dengan tangan kanannya, juga sambil memekik keras.

"Desss!"

Ki Warok Gendroyono mendelik matanya, mukanya pucat ketika tubuhnya terpental melayang ke belakang seperti layang-layang putus talinya. Pertemuan kolor mautnya dengan tangan sakti itu membuat perutnya serasa dihimpit gunung, membuat ia sukar bernapas. Hawa sakti yang menerobos melalui kolor ke perutnya benar-benar hebat bukan main sehingga untuk melepaskan diri dari bahaya, ia cepat-cepat membuka kolornya dan hampir saja celananya terlepas kalau ia tidak cepat-cepat teringat dan memegangi celananya sambil terengah-engah!

Biarpun ia sudah berhasil mengundurkan dua orang lawan, namun harus diakui diam-diam oleh Bhagawan Rukmoseto bahwa dua kali tangkisan tadi telah membuat dadanya terasa sesak dan kedua tangannya agak nyeri. Celakanya, sebelum ia sempat bernapas, tasbih Cekel Aksomolo yang mengeluarkan suara tidak sedap itu sudah menyambar lagi, mengarah kepalanya dengan gerak melingkar-lingkar aneh dan sukar dielakkan. Sudah kepalang, pikir sang bahagawan, biar kucoba tenaga kakek menjemukan ini.

"Mundur...!" teriak Bhagawan Rukmoseto sambil menangkis tasbih itu dengan kedua tangannya, mengerahkan seluruh tenaganya sambil menahan napas.

"Plakkk!"

Tidak begitu keras pertemuan antara tasbih dan dua telapak tangan itu, namun kehebatannya melebihi adu tenaga dengan kolor dan penggada tadi. Bhagawan Rukmoseto seperti terdorong mundur yang memaksa kakinya melangkah ke belakang, dadanya makin sesak dan pusarnya panas sekali. Juga Cekel Aksomolo terpelanting ke belakang, jatuh terduduk sambil memegangi tasbih di atas kepala, napasnya ngos-ngosan seperti lokomotip mogok dan matanya merem melek seperti orang terheran-heran!

Baru saja Bhagawan Rukmometo dapat menguasai keseimbangan tubuhnya, dari depan berkelebat dua sosok tubuh yang ramping dan tercium olehnya bau harum sedap yang menusuk hidung, disusul suara tertawa terkekeh dari kiri dan suara mengejek dari kanan, suara merdu wanita, "Rukmoseto, kau mampus di tangan kami!"

Maklum bahwa bahaya maut mengancamnya dari kanan kiri, Rukmoseto lalu menggerakkan kedua lengannya, didorongkan ke depan untuk menyambut pukulan yang dilakukan oleh Ni Durgogini dan Ni Nogogini. Biarpun kedua wanita ini hanya orang-orang wanita dengan tangan yang kecil, namun daya pukulannya tidak kalah hebat dan bahayanya dibandingkan dengan teman-temannya.

Bhagawan Rukmoseto merasa betapa kedua telapak tangannya yang terbuka itu bertemu dengan dua kepalan tangan yang kecil, lunak dan halus. Akan tetapi tubuh Bhagawan Rukmoseto menggigil ketika ia merasa betapa tubuhnya terserang dua tenaga dahsyat yang berlawanan. Yang kanan mengandung hawa dingin melebih air puncak Gunung Mahameru, keluar dari kepalan tangan Ni Nogogini, adapun yang kiri keluar dari tangan Ni Durgogini mengandung hawa panas melebihi kawah Gunung Bromo!

Tergetar tubuh Bhagawan Rukmoseto dan tak tertahan lagi ia terdorong mundur sampai empat meter lalu jatuh terduduk, bersila dengan punggung tegak lurus juga kedua orang wanita sakti itu sejenak merasa seakan-akan tangan mereka lumpuh ketika bertemu dengan tangkisan tangan sang bhagawan yang tadi mengerahkan Aji Pethit Nogo. Akan tetapi segera mereka dapat menguasai dirinya dan melancarkan pukulan jarak jauh dengan kepalan tangan mereka.

Sang Bhagawan Rukmoseto atau Resi Bhargowo maklum bahwa keadaannya terdesak dan berbahaya karena kelima orang lawannya itu benar-benar merupakan lawan yang tangguh. Juga ia tahu bahwa Jokowanengpati, biarpun masih muda, namun telah mewarisi ilmu kepandaian kakaknya, Sang Empu Bharodo yang sakti mandraguna. Maka ia lalu mengerahkan seluruh ajinya, memusatkan panca indra, menyalurkan seluruh hawa sakti dari pusat ke arah kedua lengannya yang menggetar hebat, lalu ia mendorongkan kedua lengan itu dengan telapak tangan terbuka, jari-jari menegang. Hebat bukan main keadaan Bhagawan Rukmoseto pada saat itu. Aji Pethit Nogo telah ia keluarkan sepenuhnya. Jari-jari kedua tangannya seakan-akan mengeluarkan cahaya dan tenaga mujijat terpancar keluar dari sepuluh jari itu, meluncur ke depan.

Ni Nogogini dan Ni Durgogini terpekik kaget ketika mereka merasa betapa tenaga pukulan jarak jauh yang mereka lancarkan itu tertumbuk dan membalik. Hampir saja mereka celaka, terserang tenaga sendiri yang membalik kalau saja pada saat gawat itu Ki Krendoyakso dan Cekel Aksomolo tidak membantu mereka. Dua orang sakti inipun mengeluarkan aji pukulan jarak jauh, dengan tangan kiri miring di depan dada, tangan kanan diangkat ke atas kepala dan meluncurlah tenaga pukulan mereka ke depan, menyambut cahaya yang keluar dari kedua tangan Bhagawan Rukmoseto.....
*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Badai Laut Selatan Jilid 26"

Post a Comment

close