Cerita Silat Indonesia (Cersil Indonesia Online)

Cerita Silat Indonesia (Cersil Indonesia)

Pengarang dan Karyanya

Gambaran Cersil Inonesia: Cerita silat adalah suatu cerita yang dihiasi dengan kental oleh bumbu-bumbu ilmu beladiri, dari penuntutan ilmu, mencari lawan tanding, memiliki murid dan mencapai kesadaran bahwa tataran tertinggi adalah tidak berkelahi dan saling mengasihi.

Pendekar mabuk eps 24: DARI balik kerimbunan hutan berpohon rapat, terdengar suara jeritan yang panjang dan memilukan. Siapa yang menjerit, itu tak jelas. Yang pasti jeritan itu adalah jeritan kematian. Suaranya yang melengking menggema panjang itu bagaikan membangunkan setiap jasad yang sudah terkubur mati.

Sementara itu, hembusan angin cukup kencang dan menderu. Gumpalan awan hitam bergulung-gulung di langit, menyekap matahari, membuat alam terasa mati. Sesekali terdengar gelegar petir melecutkan lidahnya bagai ingin membelah langit.

Agaknya alam yang memberikan tanda-tanda bagai kiamat datang itu tak dihiraukan oleh tiga orang berusia sebaya itu. Satu di antaranya telah terkapar mati tanpa darah. Dua dari mereka masih melanjutkan pertarungannya dengan sengit.

Rupanya mereka bertarung di atas dataran berbatu rata. Dataran tersebut adalah lantai dari sebuah petilasan keraton yang telah hancur sekian puluh tahun yang lalu, bahkan mungkin sekian ratus tahun yang lalu. Sisa pilar- pilarnya masih tertinggal sebagian, namun tak ada yang utuh. Sisa dinding-dindingnya juga masih tertinggal sebagian, tak ada yang utuh sampai ke atap. Petilasan itu ibarat pohon tua yang sedang meranggas untuk menunggu tumbang.

Tak ada atap, tak ada pagar, tak ada pula ruangan. Reruntuhan itu hampir rata dengan tanahnya. Bongkahan batu bekas dinding dan pilar masih terlihat berserakan di sana-sini.

Salah satu dari dua orang yang bertarung di atas reruntuhan keraton itu tiba-tiba menghentikan serangannya. Orang itu memakai pakaian biru tua, berbadan sedikit gemuk, dan berkumis tebal, berusia sekitar lima puluh tahun. Matanya yang lebar memandang temannya yang telah tak bernyawa. Sebentar kemudian mata itu kembali menatap lawannya yang berbadan kurus, berwajah lonjong dengan dagu sedikit panjang. Orang yang berbaju biru tua itu berkata,

"Tega betul kau membunuh temanmu sendiri Tapak Getih!"

"Siapa pun yang menghalangi langkahku pasti kubunuh, Julung Boyo! Tak peduli dia teman sendiri, tak peduli orang lain. Tapak Getih pantang diganggu langkahnya!" kata orang kurus berwajah lonjong itu. Dia dikenal dengan nama Tapak Getih, karena setiap lawan yang terkena pukulan telapak tangannya, langsung mati tanpa memiliki darah setetes pun di dalam tubuhnya.

Tapak Getih yang mengenakan jubah merah dan pakaian dalam serba hitam itu berkata lagi kepada Julung Boyo.

"Sebab itu kuingatkan padamu, Julung Boyo.... Pergilah lekas dari hadapanku dan jangan memaksaku membunuhmu, seperti yang dialami oleh Cakar Macan itu!"

"Kau benar-benar manusia picik, Tapak Getih! Kau bujuk kami untuk menunjukkan tempat ini, sekarang kau mau bunuh kami di sini juga! Kau binatang dan aku binatang, tapi aku masih punya sisa jiwa manusia yang tak akan tega bertindak seperti dirimu, Tapak Getih!"

"Hem...!" Tapak Getih sunggingkan senyum tipis yang lebih berkesan sebagai hinaan. "Manusia-manusia bodoh itu adalah kau dan Cakar Macan, Julung Boyo! Sudah tahu aku berjiwa binatang yang keji, masih saja nekat mau menahan langkahku untuk mencari pintu masuk petilasan ini! Kalau aku menjadi kau, lebih baik aku pergi dan tak mau korbankan nyawa buat petilasan seperti ini!"

"Mulanya aku hanya ingin mencegahmu agar tidak diterkam maut yang ada di petilasan ini! Kau adalah sahabatku, dan juga sahabat si Cakar Macan. Sikap kami hanya semata-mata ingin melindungi seorang sahabat dari maut yang mengancam! Kami tahu, sudah dua orang hilang di sini dan tak pernah muncul lagi. Kami tak ingin kau menjadi seperti itu. Tapi rupanya mata hatimu buta, Tapak Getih! Dan sekarang sikapku bukan untuk melindungi kamu, tapi untuk membalas kematian si Cakar Macan!"

"Haii...! Saudara bukan, adik pun bukan, mengapa kau menjadi sebodoh itu, Julung Boyo! Hubungan kita bertiga hanya sebatas sahabat! Tak ada ikatan darah apa pun! Kenapa kau menuntut kematian si Cakar Macan?"

"Karena nyawaku pernah diselamatkan olehnya! Dua kali aku hampir mati terancam bahaya, dan Cakar Macan berhasil meloloskan aku dari maut itu! Wajar rasanya kalau aku pun punya rasa bela pati terhadap dia, Tapak Getihi"

"O, jadi kau ingin ikut-ikutan mati seperti Cakar Macan? Baiklah kalau kau memang ingin ikut-ikutan mati! Bersiaplah, aku akan mendekatkan arwahmu dengan arwah si Cakar Macan!"

Orang kurus berambut abu-abu panjang tak terikat kepala itu mulai mengangkat kedua tangannya. Kakinya pun bersikap untuk melakukan satu lompatan menyerang.

Julung Boyo mencabut goloknya. Srekk...! Sambil menggeram dan menggenggam kencang gagang goloknya, Julung Boyo ucapkan kata,

"Buatku kau sudah bukan lagi manusia utuh, melainkan iblis yang harus kubantai sekarang juga!"
"Mampukah kau membantai iblis, Orang Bodoh?! Hiaaah...!"
"Heeaaah....!"

Julung Boyo ternyata melompat lebih dulu, kemudian Tapak Getih pun melompat menyerang. Julung Boyo segera tebaskan goloknya membacok kepala Tapak Getih. Tapi golok itu tidak bisa mengenai sasaran karena Tapak Getih menangkisnya dengan telapak tangannya. Dess...! Golok tajam itu bagai memukul benda keras yang kenyal. Dan karena goloknya tertahan di atas, maka rusuk Julung Boyo terbuka dan saat itulah Tapak Getih menghantamkan tangan kanannya dengan cepat.

Wuttt... ! Blukk... !

"Aaahg...!" Julung Boyo memekik keras. Tubuhnya limbung dan jatuh ke tanah tak bisa menjaga keseimbangan lagi. Ia rubuh begitu saja bagaikan barang mati yang tak berguna lagi. Sedangkan Tapak Getih masih bisa kendalikan keseimbangannya, sehingga ia menapakkan kakinya tepat di atas sebongkah batu reruntuhan yang agak besar dan tinggi itu. Jlegg...!

Dari atas batu itu, ia melihat Julung Boyo menggelinjang beberapa saat dengan mulut ternganga- nganga dan mata terpejam kuat. Lalu tubuh itu kejang beberapa saat dalam keadaan terkapar, setelah itu lemas seluruh uratnya, dan Julung Boyo akhirnya menghembuskan napas terakhir dengan wajah pucat seputih kapas dan sekujur tubuhnya pun demikian. Julung Boyo mati tanpa ada darah setetes pun dalam jasadnya.

Tapak Getih menghempaskan napas lega. Ia melompat turun sambil membatin dalam hatinya,

"Tak ada lagi perintangku! Aku harus cepat mencari pintu masuk ke dalam reruntuhan ini! Pasti ada jalan menuju ruang bawah tanah! Harus cepat kucari sebelum hujan turun!"

Baru tiga langkah Tapak Getih tinggalkan tempat, tiba-tiba sebuah gerakan berkelebat dari arah kanannya. Wuttt...! Crapp...!

Sebatang tombak berujung garpu tiga mata menancap di sela-sela bebatuan yang menjadi lantai petilasan itu. Tombak tersebut datangnya dari arah atas pohon. Kalau Tapak Getih tidak cepat hentakkan kaki dan melompat mundur, ia akan dihujam tombak tersebut tanpa ampun lagi. Beruntung ia mempunyai gerakan bagus sehingga mampu menghindari maut yang hampir merenggut nyawa itu.

Cepat-cepat Tapak Getih melemparkan pandangannya ke arah pohon, tempat datangnya tombak tersebut. Dari atas pohon melayang sesosok tubuh berpakaian serba kuning. Rambutnya panjang diikat memakai tali warna coklat. Orang itu ternyata seorang pemuda yang mempunyai wajah lumayan ganteng. Usianya sekitar dua puluh delapan tahun,

"Marta Kumba...!" sapa Tapak Getih dengan suara ketus, lalu ia tersenyum sinis. Marta Kumba, pemuda yang mempunyai badan tegap itu, segera menghampiri Tapak Getih dengan senyum sinisnya pula.

"Kau mau membunuhku, Marta Kumba?!"

"Ya!" jawab Marta Kumba. "Tapi kau menghindar. Sayang sekali! Seharusnya kau jangan menghindar supaya kau mati!"

"Bocah goblok!" geram Tapak Getih.
"Memang goblok!" jawab Marta Kumba seenaknya.
"Untuk apa kau datang ke sini, hah?"

"Mengikuti pamanku, yang ternyata sudah kau bunuh itu!" Marta Kumba memandang Julung Boyo, pamannya.

"Kau mau ikut-ikutan mati seperti pamanmu?"
"Tidak! Aku mau mencari jubah keramat itu!"
"Cuih...!" Tapak Getih jengkel dan meludah.
"Cuih...!" Marta Kumba ikut meludah tanpa mengerti maknanya.
"Urungkan niatmu! Kau masih muda, Marta! Jangan mau mati gara-gara tergiur oleh jubah keramat itu!"

Marta Kumba memandangi tombak berujung tiga mata seperti garpu itu, kemudian memandang Tapak Getih dan berkata dengan nada polos,

"Maksudku kemari juga ingin mengantarkan senjatamu yang ketinggalan, Paman Tapak Getih! Kau lupa membawanya waktu makan di kedai sana, jadi aku menyusui kemari! Terimalah...!"

Wusss...! Dengan gerakan begitu cepat, Marta Kumba melemparkan tombak itu ke arah Tapak Getih. Gerakan itu datang dengan sangat tiba-tiba dan mengejutkan Tapak Getih. Karena cepatnya tombak itu melesat, Tapak Getih tak bisa menghindari, ia hanya berusaha menahan dengan kedua telapak tangan terbuka.

Tetapi hentakan tombak itu sangat kuat, sehingga telapak tangan yang bagaikan kebal tak bisa tertusuk tombak itu mendesak ke belakang, akibatnya ujung tombak yang tengah menancap di bawah leher Tapak Getih. Jrabb...!

"Agrrr...!" Tapak Getih tak bisa berteriak. Matanya mendelik dan mulutnya menyemburkan darah. Tombak itu menancap begitu kuatnya dalam keadaan telapak tangan si Tapak Getih tergencet antara ujung tombak kanan-kiri dengan dada kanan-kiri. Punggungnya sendiri beradu dengan sisi dinding petilasan yang masih tersisa agak tinggi itu.

Marta Kumba melangkah santai mendekati Tapak Getih. Rupanya orang kurus itu belum mati secara tuntas, ia masih punya usaha untuk mendorong tombak itu agar lepas dari lehernya. Tapi tenaganya begitu lemah dan tak punya daya untuk mendorong lebih keras lagi. Sedangkan Marta Kumba hanya memandanginya saja, bertolak pinggang sambil geleng-geleng kepala dan tersenyum.

"Kau ini bagaimana?" katanya dengan santai, seenaknya saja bicara, "Kukembalikan tombakmu malah dipakai buat bunuh diri?"

Tapak Getih melorot turun dari berdirinya yang rapat ke sisi dinding, lalu jatuh terduduk, dan akhirnya menggeloso mati. Marta Kumba hanya tertawa geli. Kembali ia geleng-geleng kepala.

"Payah betul kau ini, Paman Tapak Getih! Akhirnya kalau begini kau mati juga, bukan? Makanya kalau ada orang melemparkan tombak, jangan ditangkap dari depannya, tapi tangkaplah gagangnya! Wah, wah, wah... sudah tua tapi masih bodoh juga kau, Paman! Ya, sudah! Terserah maumu sajalah...!"

Pemuda berpakaian kuning dengan kumis tipis menambah ketampanannya itu segera melangkah dengan pelan, memandangi keadaan sekeliling. Ia memperhatikan petilasan yang sudah lama dicari- carinya, yaitu Petilasan Teratai Dewa. Percakapan Tapak Getih dengan si Cakar Macan dan Julung Boyo di sebuah kedai ternyata disadap oleh telinga pemuda berambut ikal sebatas punggung itu. Diam-diam ia menguntit ketiga orang tua yang menuju ke Petilasan Teratai Dewa, dan akhirnya ia menemukan tempat itu.

"Lewat mana kalau mau masuk ke ruang bawah tanah? Tak ada pintu di sini?!" gumamnya sendiri sambil memandangi lantai, mencari pintu masuk ruang bawah tanah.

Sementara itu, langit tergores kilatan cahaya biru. Petir menyambar, bunyi menggelegar bagai mengguncangkan reruntuhan itu. Marta Kumba masih tetap santai, tidak tampak tergesa-gesa dan tegang, ia masih pandangi tiap jengkal tempat yang sudah berantakan itu.

Tiba-tiba ekor matanya menangkap sekilas cahaya di balik rerimbunan semak. Sekilas cahaya itu seperti sepasang mata yang mengintainya dari sana. Marta Kumba berlagak tidak melihat ada yang mengintipnya, ia berjalan pelan sambil pandang sana-pandang sini. Begitu tiba di depan semak tempat bersembunyinya sepasang mata itu, Marta Kumba duduk di atas sebongkah batu yang menjadi bagian dari reruntuhan petilasan itu. Dari sana ia berkata dengan keras, tapi nadanya acuh tak acuh, seperti bicara pada diri sendiri,

"Sepi sekali tempat ini! Sayang tak ada manusia lain. Kalau saja ada manusia lain, bisa kuajak kerja sama untuk menemukan apa yang kucari! Atau... barangkali ada orang yang malu-malu menampakkan diri di depanku! Mungkin dia punya hidung gerumpung, sehingga tak berani menampakkan diri di depanku. Atau... mungkin bibirnya sumbing dan sulit diajak bicara?!"

Marta Kumba duduk memunggungi semak yang dipakai bersembunyi sepasang mata itu. Sengaja ia duduk begitu, memancing diri supaya diserang dari belakang. Tetapi sejak tadi ia tidak merasakan serangan atau tanda-tanda akan diserang. Ia kembali bicara sendiri.

"Sebentar lagi hujan turun! Biasanya kalau mau hujan begini, ular-ular yang ada di semak-semak akan keluar menunggu katak atau mangsa yang akan disantapnya! Tempat seperti ini tidak mungkin tidak dihuni oleh ular- ular berbisa! Biasanya semak-semak adalah tempat yang dipakai bersarang oleh ular-ular ganas. Tak lama lagi pasti akan keluar satu atau dua ekor ular dari salah satu semak di sini...!"

Marta Kumba sengaja bicara seperti itu untuk menakut-nakuti orang yang mengintai dari balik semak- semak. Paling tidak akan membuat cemas dan waswas orang tersebut, sehingga mereka menampakkan diri. Tapi karena beberapa saat ditunggu tak kunjung muncul juga si pengintai itu, maka Marta Kumba kembali bicara sendiri dengan keras,

"Biasanya, kalau ular ganas mencium bau darah manusia, ia akan datang secara tiba-tiba dan mematuk kaki, atau mungkin melilit leher dari atas sebuah pohon. Dan kalau ular... kalau ular...."

Marta Kumba berhenti bicara. Matanya terkesiap, kepalanya tegak, tak berani menengok ke bawah. Karena ia merasakan ada gerakan lembut yang menjalar mendekati kakinya. Mata yang terkesiap itu segera memandang ke bawah pelan-pelan. Marta Kumba menahan napas. Ada ular sedang merayap melingkari kakinya. Ular itu sebesar lengannya sendiri.

"Mati aku..!" keluhnya dalam hati. Ia tak berani bergerak sedikit pun. Keringat dinginnya mengucur deras dari kening dan leher. Jantungnya berdetak-detak cepat. Wajahnya menjadi pucat pasi. Ular itu berwarna merah kehitam-hitaman. Jenis ular ganas yang bisa mengejar lawan dengan satu sentakan terbang. Marta Kumba tahu, ular itu mempunyai bisa yang luar biasa mautnya. Sekali gigit orang, dalam lima hitungan orang itu pasti mati. Ular itu bernama Ular Welang Jantan.

Marta Kumba gemetar, napasnya bagai hilang ketika ular tersebut merayap sampai ke betis, iklannya terjulur- julur naik. Matanya yang merah memancarkan keganasan. Oh, Marta Kumba tak berani menatap mata ular itu. Sekujur tubuhnya telah dingin, bulu kuduknya pun merinding. Hatinya berucap kata,

"Mati aku... matilah sekarang aku.... Aduh, kenapa dia jadi benar-benar nongol di sini... mati aku... mati sudah riwayatku...!"

Tiba-tiba sebuah tangan berkelebat menyambar ular tersebut dan menghantamkan ke salah sebuah dinding batu. Plokk...! Ular sebesar lengan itu hancur kepalanya dengan sekali sabet. Kemudian bangkainya yang masih mengggerinjal-gerinjal itu dibuang begitu saja oleh tangan yang menyambarnya tadi.

Tangan itu milik seorang gadis berpakaian merah jambu sebatas dada. Pundak dan punggungnya yang terbuka memancarkan warna kulit kuning langsat itu ditutup dengan baju jubah tak berlengan. Baju jubahnya itu berwarna hijau muda, tipis, dari bahan kain sutera.

Marta Kumba memandang bengong kepada gadis cantik berhidung mancung yang punya rambut digulung naik, tapi sisanya masih meriap ke bawah. Gadis itu tersenyum, dan senyumnya sungguh elok menawan hati. Marta Kumba tak mampu bicara sepatah kata pun setelah ia sadar, ternyata si pengintai yang ditakut-takuti ular tadi adalah seorang perempuan muda yang cantik yang berani memegang ular. Perempuan yang menyelipkan pedang di pinggangnya itu berkata,

"Kalau hari mau turun hujan, memang banyak ular keluar dari sarangnya. Hati-hati, nanti kau mampus ditelan ular!"

Malu sekali Marta Kumba mendengar kata-kata itu. Ia mengusap wajahnya yang berkeringat dan memenangkan jantungnya yang masih berdebar-debar dengan kaki dan tangan masih gemetar. Marta Kumba malu pada ucapannya sendiri, menakut-nakuti tentang ular, begitu ada ular dia sendiri yang ketakutan setengah mati. Sebagai penutup rasa malunya, Marta Kumba berkata,
"Aku bukan takut sama ular, cuma merasa jijik!"

"Ya. Jijik boleh-boleh saja, tapi tak perlu sampai berkeringat dingin begitu. Tak perlu sampai sepucat mayat begitu. Dan, jijik pun tak perlu sampai gemetaran kaki dan tangannya begitu...!" gadis cantik berdada sekal itu memalingkan wajah sambil tersenyum, matanya memandang bangkai ular yang sudah tidak bergerak lagi.

Seribu kata, sejuta bahasa, bagaikan hilang lenyap dari mulut Marta Kumba menghadapi rasa malu di depan seorang gadis. Kalau yang menyambar ular tadi seorang kakek atau lelaki berbadan kurus sekalipun, Marta Kumba tidak akan malu. Tapi kenyataannya yang menyelamatkan nyawanya dari ular ganas dan berbahaya itu justru seorang gadis cantik yang usianya sebaya dengannya. Sungguh sulit melukiskan rasa malu yang ada pada diri Marta Kumba, karena sebagai pemuda berbadan tegap, kekar, ganteng, berkumis, tapi sama ular saja menjadi pucat pasi dan gemetaran.

"Siapa namamu?" tanya gadis yang tampak berjiwa tegas dan pemberani itu.
"Namaku...? Oh, namaku Marta Kumba!"
"Mau apa datang kemari dan membunuh orang tua itu?"
"Mau... mau... mau mencari sesuatu," jawab Maria Kumba dengan sisa kepanikannya.
"Maksudmu, mencari jubah keramat?"
"Ya. Benar. Jubah keramat."
"Kalau begitu, kau harus tarung dulu denganku!"
"Hah...?!"

* * *2

LIMA ekor kuda berderap lari menuju ke sebuah lereng bukit. Penunggangnya orang-orang gagah yang berpakaian me wah. Dua kuda di depan, dua lagi di belakang, satu kuda ada di tengah-tengah keempatnya. kuda yang di tengah itu berwarna bulu putih, dan ditunggangi seorang lelaki berusia sekitar lima puluh tahun dengan pakaian rapat berwarna ungu, hiasan emas pada bagian dada, berupa rantai yang melengkung pendek. Kancing pada bagian pergelangan baju juga terbuat dari emas. Celananya juga berwarna ungu dari bahan mahal yang dihiasi sulaman benang emas pada tepiannya.

Kelima kuda ini agaknya melaju dengan terburu-buru karena mendung telah menggantung. Orang yang ada di atas punggung kuda putih itu agaknya tak mau dirinya sampai kehujanan. Sebagai orang yang berpenampilan mewah, menyandang keris di depan perutnya, orang ini menampakkan dirinya sebagai orang terhormat, yang kaya akan harta dan punya suatu kedudukan. Keempat kuda di sekelilingnya itu adalah para pengawalnya yang terpilih.

Orang berpakaian ungu itu mempunyai mata sedikit besar tapi tajam, memancarkan cahaya kewibawaan , kumisnya tebal tapi teratur rapi, menambah kesan tegas dalam jiwanya, ia mengenakan ikat kepala dari kain batik gelap yang mempunyai bros pada bagian tengahnya dari emas berbatu berlian tepat di tengah bros bentuk bunga mawar kecil itu.

Derap kaki kuda itu mulai melamban setelah satu orang pengawal di depan mengangkat tangan memberi isyarat. Orang itu berpakaian hijau menyandang pedang di punggungnya, dan pengawal sebelahnya berpakaian putih, dengan pedang di punggung juga. Mereka berambut agak panjang tapi rapi. Diikat dengan logam berbentuk rantai emas dengan hiasan batu merah pada bagian tengah keningnya .

Rupanya kelima kuda itu menuju ke sebuah tanah lapang yang tidak banyak ditanami pepohonan. Di sana se seorang sudah menunggu dengan berdiri tegak, dan kedua tangan terlipat di dada. Orang itu berwajah angker, dingin, rambutnya kucai, tipis tapi panjang, bertubuh kurus. Tubuh kurusnya itu dibungkus dengan pakaian abu-abu rangkap jubah hijau tua.

Orang ini tergolong serakah, karena mempunyai dua pedang, satu pedang di pinggang bergagang cula badak, satu pedang lagi di punggung berlogam emas sampai pada bagian gagang dan sarungnya. Pedang itu berukir gambar naga. Dan pedang itulah yang dinamakan Pusaka Pedang Wukir Kencana, milik Ki Padmanaba. Pedang itulah yang dicuri orang tersebut dengan menyamar sebagai Embun Salju, guru dari Perguruan Kuil Elang Putih. Orang itulah yang bernama Rangka Cula, bekas anak buah Logayo dari Perguruan Kobra Hitam (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Rahasia Pedang Emas").

Lima kuda berhenti di depan Rangka Cula. Orang berpakaian ungu itu menghentikan kudanya sejajar dengan pengawalnya yang bersenjata pedang di punggung, sedangkan dua pengawal yang bersenjata tombak dan panah di punggung, mengenakan pakaian putih-putih itu, tetap mengambil posisi di belakang mereka bertiga. Matanya memandang ke belakang, ke samping dan sekeliling, penuh pangawasan ketat.

Orang berpakaian ungu itu segera berkata kepada Rangka Cula,

"Kaukah yang bernama Rangka Cula?"
"Benar," jawab Rangka Cula yang termasuk orang yang jarang bicara itu.
"Sudah tahu tugasmu?"
"Mencari jubah keramat!"

"Betul! Aku sangat membutuhkan jubah itu. Dan aku sudah siapkan hadiah buatmu!" Orang berpakaian ungu itu mengambil kantong uang dari dalam bajunya, kantong itu berwarna merah beludru, memakai tali khusus pada bagian penutupnya. Kantong itu segera dilemparkan.

Wuttt... !

Diterima oleh tangan kiri Rangka Cula dengan mata tetap memandang dingin ke arah orang berpakaian ungu itu. Crikk...! Rupanya di dalam kantong merah itu berisi uang kepingan dari emas.

"Separo bagianmu sudah kuberikan, Rangka Cula! Separo lagi akan kuberikan setelah kau serahkan jubah keramat itu padaku!"

Rangka Cula menganggukkan kepala.

"Sudah tahu tempatnya di mana jubah keramat itu bisa kau dapatkan?"
"Petilasan Teratai Dewa!" jawab Rangka Cula dengan suara datar.
"Bagus! Kapan bisa kudapatkan jubah itu?"
"Secepatnya!"
"Dua hari?"
"Tidak pasti," jawab Rangka Cula tetap dingin dan datar.
"Baiklah. Tapi bagaimana kau bisa menyampaikannya padaku? Apakah kau tahu di mana aku tinggal?"
"Kadipaten Lambungbumi!"

Orang berpakaian ungu itu sedikit berkerut dahi.

"Kalau begitu, kau sudah tahu siapa aku?"
"Adipati Lambungbumi!"

Maka orang yang berpakaian ungu itu pun saling pandang dengan pengawalnya yang berpakaian hijau, lalu ia berkata,
"Kalau begitu, Sirpakana tidak bisa dipercaya! Dia menyebutkan siapa diriku sebenarnya kepada Rangka Culai Padahal sudah kuwanti-wanti agar jangan menyebutkan siapa diriku!"

"Sirpakana membutuhkan jaminan kepercayaan untuk Rangka Cula. Mungkin begitulah yang terjadi, Kanjeng Adipati, sehingga ia terpaksa menyebutkan siapa orang yang membutuhkan jubah keramat itu!"

"Baiklah. Sudah telanjur, yang penting jubah itu harus benar-benar terbukti ada di tanganku!"

Kemudian Adipati Lambungbumi segera berkata kepada Rangka Cula,

"Apa jaminanmu kalau ternyata kau gagal mendapatkan jubah itu?"
"Nyawa!" jawab Rangka Cula. Singkat, tegas, tapi berkesan ganas.
"Baik. Mudah-mudahan kau berhasil dan nyawamu tidak melayang!"

Rangka Cula diam saja, memandang dengan lirikan matanya kepada dua orang pengawal Adipati Lambungbumi.

"Kami pamit!" ucap Adipati Lambungbumi sebelum pergi, dan Rangka Cula yang berwajah kaku itu hanya menganggukkan kepala tanpa senyum sedikit pun. Bahkan ia tetap diam bagaikan patung ketika rombongan Adipati Lambungbumi meninggalkan tempat, semakin jauh dan jauh sekali. Tak lama kemudian, Rangka Cula segera melesat pergi juga setelah memasukkan kantong uang emas ke dalam balik bajunya yang hijau itu. Tetapi dalam kejap berikutnya, langkahnya terhenti karena kemunculan seorang nenek yang berusia antara tujuh puluh tahunan.

Jleggg... !

Lompatan nenek itu masih mantap ketika mendaratkan kakinya ke tanah. Rambutnya sudah memutih semua, badannya sedikit bungkuk, ia membawa tongkat penyangga tubuhnya jika berdiri dan berjalan. Matanya sama cekungnya dengan Rangka Cula. Nenek itu memakai jubah hitam lusuh dan pakaian dalamnya putih kusam. Rambutnya yang putih rata itu dibiarkan meriap tanpa disanggul atau diikat. Wajahnya yang berpipi cekung kempot itu kelihatan berkulit kisut, berlipat-lipat walau tidak terlalu jelas lipatannya. Nenek itu berbadan kurus kering, bagian tangan dan kakinya bergusik putih.

"Masih kenal aku, Rangka Cula?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Nyai Cungkil Nyawa!"

"Betul! Hik hik hik hik...! Rupanya otakmu masih ada gunanya, Rangka Cula! Dan aku dengar apa yang kau bicarakan dengan orang berpakaian ungu itu! Rupanya kau menjadi orang upahan sang Adipati. Rangka Cula!"

"Benar!" jawab Rangka Cula, setelah itu diam saja.
"Kau mau mencari jubah keramat itu?"
"Ya!"
"Hi hi hi hik... ! Tak mungkin bisa kau mendapatkannya! Tak mungkin berhasil, Rangka Cula!"
"Bisa!"

"Tidak akan bisa! Selama aku masih hidup, tidak akan bisa kau mendapatkan jubah itu! Sebab akulah juru taman Keraton Teratai Dewa yang bertugas menjaga segala sesuatu yang...."

Buhgg...! Plokk...!

Belum habis Nyai Cungkil Nyawa bicara, pukulan dan tendangan Rangka Cula sudah menyerang dengan tiba-tiba. Nenek tua itu terlempar dari tempatnya berdiri, sekitar lima tombak jauhnya. Rangka Cula memandang dengan mata ganasnya, ia biarkan nenek itu bangkit dan terhuyung-huyung bersama tongkatnya.

"Bocah sapi!" makinya dari kejauhan. "Mau menyerang tidak bilang-bilang. Benar-benar bocah tak tahu sopan! Hih...!"

Wessst...! Sinar merah bagaikan kilatan cahaya petir melesat dari ujung jari yang dikibaskan. Sinar merah itu cepat sekali sampai di depan hidung Rangka Cula. Tapi ia bergerak cepat menjatuhkan diri dalam posisi melayang. Tubuhnya melengkung ke belakang dan tangannya menyanggah di atas tanah. Ketika sinar merah itu melesat lewat, tubuh Rangka Cula bangkit kembali dengan gerakan cepat.

Begitu ia bangkit tegak, tahu-tahu Nyai Cungkil Nyawa sudah ada di depannya. Tangan nenek itu menghantam dengan telapak tangan yang terbuka. Desss...! Tepat mengenai mulut Rangka Cula, sehingga Rangka Cula terpental ke belakang dan terhuyung- huyung nyaris jatuh. Ada antara lima tindak ia tersentak ke belakang, setelah itu kembali berdiri tegak walau ia merasakan ada sesuatu yang mengalir dari dalam hidungnya. Sesuatu itu tak lain adalah darah. Pukulan nenek tua itu jelas dibarengi dengan tenaga dalam. Jika tidak, tak mungkin bisa membuat hidung Rangka Cula mengucurkan darah.

Rangka Cula diam saja memandangi Nyai Cungkil Nyawa. Mata nenek itu mulanya berseri-seri karena bisa membuat hidung Rangka Cula berdarah. Tapi mata itu jadi menyipit heran begitu melihat darah yang mengalir dari hidung itu tiba-tiba meresap hilang, seperti masuk ke dalam pori-pori kulit. Dan wajah Rangka Cula menjadi bersih tanpa setitik noda merah pun. Bahkan tangannya yang tadi dipakai mengusap darah itu juga kering tanpa bekas darah setetes pun.

"Semakin sakti saja kau rupanya!" gumam Nyai Cungkil Nyawa dengan pelan, seakan bicara pada dirinya sendiri.

Dan tiba-tiba, wukkk...! Api menyala membakar tanah mengelilingi Nyai Cungkil Nyawa. Api yang membuat lingkaran besar itu berkobar-kobar dan tetap dipandangi oleh Rangka Cula dengan mata menyorot dingin. Nyai Cungkil Nyawa terkurung, sementara api makin lama semakin besar dan nyaris membakar tanaman sekelilingnya.

"Ilmu sihirmu cukup lumayan, Rangka Cula!" kata Nyai Cungkil Nyawa. "Tapi sama sekali tidak membuatku gentar!"

Setelah bicara begitu, nenek bungkuk itu menegakkan badan serta memejamkan mata. Mulutnya berkomat- kamit beberapa saat dengan gerakan bibir yang cepat. Dan tiba-tiba lingkaran api yang mengurungnya itu padam seketika. Zrubbb...! Tanah mengepulkan asap, dan angin meniup asap itu ke arah Rangka Cula.

Kejap berikutnya, Rangka Cula jatuh terlutut. Tanaman di belakang Rangka Cula layu, dan segera mengerut. Pohon besar menjadi berkeriput dan mengerti. Rumput menjadi keriting kecil-kecil, batu menjadi rapuh dan berguguran bagai gundukan abu.

Rangka Cula menundukkan kepalanya. Menahan napas dengan keringat mulai membasah di tubuhnya. Nyai Cungkil Nyawa masih berkomat-kamit dalam sikap berdiri tegak, seakan menghilangkan bungkuk badannya. Sedangkan tanah masih mengepulkan asap putih yang terbawa angin menerpa tubuh Rangka Cula.

"Tak ada yang bisa menghindari 'Asap Kematian' ini, Rangka Cula!" geram Nyai Cungkil Nyawa dengan suara tuanya.

Tiba-tiba Rangka Cula yang berlutut lemas itu menghentakkan tangannya, memukul tanah satu kali. Blukkk...! Dan seketika itu pula tubuh Nyai Cungkil Nyawa terlonjak terbang bersamaan dengan tubuh Rangka Cula yang terlonjak ke atas juga.

Tapi pada saat itu Rangka Cula segera bersalto satu kali, dan kakinya menjejak tubuh Nyai Cungkil Nyawa dengan keras. Beggh...! Tepat mengenai dadanya.

Tak heran jika tubuh kering yang tua renta itu terlempar cukup jauh dan membentur batang pohon dengan kerasnya. Buhggg...! Wrrr...! Pohon itu terguncang hebat. Daun-daunnya berguguran. Tubuh Nyai Cungkil Nyawa melorot sampai ke tanah dalam keadaan memuntahkan darah pada bagian mulut dan hidungnya. Jelas tendangan itu adalah tendangan bertenaga dalam tinggi. Masih untung dada itu tidak jebol. Jika Nyai Cungkil Nyawa tidak memiliki lapisan tenaga dalam cukup tinggi pula, maka dadanya akan jebol oleh tendangan kedua kaki Rangka Cula.

Tubuh tua yang telah terluka parah itu segera dihantam oleh pukulan jarak jauh Rangka Cula yang berwarna hijau berpendar-pendar. Pukulan sinar hijau itu keluar dari genggaman tangan Rangka Cula. Zlappp...!

Cepat sekali gerakannya, sehingga tak punya waktu lagi Nyai Cungkil Nyawa menghindarinya. Tetapi tiba- tiba sekelebat bayangan menyambar tubuhnya dari samping kanan. Wutt...!

Bagikan cersil ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊

0 Response to "Cerita Silat Indonesia (Cersil Indonesia Online)"

Post a Comment