Badai Laut Selatan Jilid 22

Mode Malam
Memang banyak sudah ia merusak anak isteri orang dan inilah agaknya buah dari pada semua perbuatannya, atau hukum karma dari pada semua perbuatannya itu. Ia merasa ngeri karena tahu bahwa dalam keadaan murka seperti itu bukan tak mungkin Pujo akan melaksanakan ancamannya yang menyeramkan. Ketika keris di tangan Pujo menggigil dan sudah terangkat, Wisangjiwo meramkan matanya dan...

"Kakangmas Pujo...!"

Keris itu tertahan dan Pujo mencengkeram baju Wisangjiwo makin erat saking kagetnya. Wisangjiwo juga membuka matanya dan melihat seorang wanita cantik jelita datang berlari seperti terbang cepatnya. Wisangjiwo terkejut bukan main karena wanita itu bukan lain adalah Kartikosari! Kartikosari yang lebih cantik menarik dari pada dahulu, akan tetapi Kartikosari dengan sepasang mata yang bersinar-sinar penuh dendam memandang kepadanya!

"Kakangmas Pujo, biarlah aku yang membalas jahanam terkutuk ini!" seru Kartikosari girang ketika ia sudah tiba di tempat itu.

Pujo masih tak mampu mengeluarkan kata-kata, bahkan kedua kakinya menggigil ketika ia memandang kepada isterinya, hatinya penuh keharuan, penuh penyesalan, penuh rindu. Munculnya Kartikosari di saat ia berhasil menangkap musuh besar ini sungguh-sungguh tak pernah ia sangka. Ia hanya memandang wajah isterinya itu tanpa berkedip, mukanya pucat dan ketika mendengar permintaan Kartikosari, ia tidak dapat menjawab, hanya melangkah mundur dan memandang seperti orang mimpi.

Dengan gerakan ringan dan cepat sekali sehingga amat mengherankan hati Pujo yang maklum bahwa isterinya dahulu tidaklah secepat itu gerakannya, Kartikosari meloncat ke depan Wisangjiwo yang memandangnya dengan mata terbelalak. Sinar mata Kartikosari penuh kebencian menyala-nyala dan kedua tangannya bergerak ke depan.

"Plak-plak-plak-plak!"

Empat kali tangannya menampar kedua pipi. Wisangjiwo merintih biarpun ia telah sekuat tenaga menahan sakit. Ternyata kulit pipinya hancur oleh tamparan itu dan penuh darah saking hebatnya tamparan telapak tangan Kartikosari!

"Manusia berhati binatang! Anjing busuk hina-dina!" Kartikosari memaki dengan mata berapi-api. "Aku akan merobek dadamu, akan kukeluarkan jantungmu, kuminum darahmu! Akan tetapi lebih dulu akan kucokel kedua matamu!"

Wisangjiwo merasa ngeri. Menghadapi wanita ini kiranya lebih mengerikan dari pada menghadapi kemarahan Pujo tadi. Akan tetapi ia membesarkan hatinya dan memaksa senyum biarpun kedua pipinya merasa nyeri kalau digerakkan, lalu berkata lemah, "Kalian pengecut-pengecut boleh melakukan kepadaku apa saja kepada orang yang terikat tak mampu membalas!"

"Bedebah! Kau masih berani bicara begitu? Tak ingat akan perbuatanmu sendiri dahulu? Kaukira aku takut kepadamu jika kau terlepas? Cihh, tak tahu malu! Boleh kau kulepaskan, biar lebih enak aku menghajarmu!"

Setelah berkata demikian, Kartikosari merenggut dengan kedua tangannya ke arah tambang yang mengikat tangan dan dada Wisangjiwo. Hebat sekali kepandaian wanita ini sekarang, sekali renggut saja tali-tali yang kuat itu putus semua!

Setelah kedua tangannya bebas, Wisangjiwo cepat melepaskan cambuk Sarpokenoko yang melilit lehernya. Ia merasa betapa kedua pergelangan tangannya sakit-sakit setelah terlepas dari pada belenggu, dan hampir sukar digerakkan karena darahnya tidak lancar jalannya. Karena itu, ia lalu memencet-mencet kedua pergelangan tangannya untuk memperlancar jalan darahnya.

Kartikosari berdiri menanti sambil memandang dengan senyum mengejek, sama sekali tidak takut melihat musuhnya bebas dan sudah memegang sebatang cambuk. Akan tetapi ketika ia melihat ke arah jari-jari tangan yang bergerak-gerak memencet-mencet pergelangan tangan itu, tiba-tiba ia menjadi pucat, menjerit lirih dan tubuhnya terhuyung-huyung hendak roboh!

Pujo kaget sekali dan cepat ia merangkul pundak isterinya agar tidak sampai jatuh. Mendapatkan kesempatan ini, Wisangjiwo yang tahu bahwa nyawanya di tepi jurang kematian itu lalu melarikan diri. Pujo menjadi marah dan melepaskan rangkulannya dan pundak Kartikosari sambil membentak.

"Jahanam busuk hendak lari ke mana?" Akan tetapi sebelum ia sempat meloncat dan mengejar, lengannya dipegang Kartikosari yang mencegahnya. Pujo kaget dan heran, menoleh dan memandang dengan kening berkerut.

"Jangan kejar dia...!"

"Mengapa? Aku harus bunuh dia!"

Kartikosari menggeleng kepala dan wajah yang ayu itu nampak kecewa. "Bukan dia... ahhhh, bukan dia..."

"Nimas Sari... apa maksudmu?" Pujo memegang pundak isterinya dan menatap wajah yang sudah bertahun-tahun ia rindukan ini.

"Bukan dia orangnya... ah, selama bertahun-tahun ini aku menjatuhkan dendam kepada orang yang sama sekali tidak berdosa, dan agaknya engkau juga, kakangmas Pujo. Aduh, makin payah penanggungannya kalau begini!"

Kartikosari merenggutkan tangannya yang dipegang suaminya, dan membanting-banting kakinya dengan marah. Tergetar hati Pujo menyaksikan ini. Terbayang depan matanya betapa dahulu isterinya juga membanting-banting kakinya kalau sedang marah-marah dalam kemanjaan. Akan tetapi sekarang lenyaplah sikap manja itu, dan kemarahannya benar-benar tidak dibuat-buat.

"Sari... apa maksudmu? Kau bilang bahwa bukan Wisangjiwo orangnya? Bukan dia musuh kita?" Dalam suara Pujo terkandung kegetiran dan kepahitan, bahkan terbayang keraguan dan kecurigaan. Selama sepuluh tahun bertapa ini, perasaan Kartikosari peka sekali maka cepat ia membalikkan tubuh menoleh, menatap wajah suaminya dengan pandang mata seakan-akan menembus jantung Pujo.

"Kau... kau masih tak berubah! Kau laki-laki penuh cemburu! Kau menyangka aku sengaja melindungi dia, bukan? Celaka!"

Merah wajah Pujo. Ingin ia memukul mukanya sendiri. Memang tak dapat disangkalnya, ada perasaan dan dugaan demikian itu tadi menyelinap dalam benaknya. Ia menunduk, lalu tiba-tiba ia menjatuhkan diri berlutut di depan isterinya.

"Nimas Sari, isteriku jangan kau memandangku seperti itu... ah, isteriku, kau tidak tahu betapa hebat kesengsaraanku selama sepuluh tahun ini. Kartikosari, kau kembalilah kepadaku, nimas. Jangan kau tinggalkan aku lagi. Aku percaya kepadamu, biarlah dewata menghancur leburkan diriku kalau aku tak percaya kepadamu. Aku cinta padamu, nimas, dan aku tidak sanggup hidup jauh dari padamu. Marilah, nimas, mari kita bangun kembali rumah tangga kita...

"Tidak...! Tidak... kakangmas Pujo. Belum tiba saatnya!"

"Nimas Sari... tega benarkah engkau membiarkan aku hidup merana seperti orang gila tidak kasihankah engkau kepadaku...?"

"Kakangmas Pujo, coba kau ingat-ingat, alangkah serupa keadaan kita sekarang ini dengan sepuluh tahun yang lalu di dalam gua, hanya akulah waktu itu yang memohon-mohon akan tetapi engkau yang membalas dengan penghinaan dan fitnahan keji..."

"Aduh, nimas... ampunkahlah aku. Ketika itu aku gila oleh malapetaka yang menimpa kita, aku gila dan tetap bersikap tidak adil kepadamu, nimas. Namun kegilaanku itu telah kutebus dengan penderitaan hidup bertahun-tahun. Kauampunkanlah aku, nimas... dan marilah kita hidup bersama kembali, membangun cinta kasih kita yang porak-poranda dilanda badai nimas Sari, aku selamanya tak pernah kehilangan cinta kasihku kepadamu dan aku tahu bahwa kau pun selalu mencintaiku, nimas..."

Suara Pujo memelas sekali. Melihat dia berlutut mengembangkan kedua lengan, dengan suara gemetar dan muka pucat, mata penuh permohonan, mulut seperti orang hendak menangis, hati siapa yang kuat menahan? Apalagi hati Kartikosari yang memang mencinta suaminya, serasa ditusuk-tusuk jarum rasa jantungnya. Ingin ia menjatuhkan diri berlutut, membiarkan dirinya di dalam pelukan suaminya yang aman sentosa, membiarkan dirinya dibelai dan dicumbu laki-laki yang setiap malam ia rindukan dan impikan. Akan tetapi ia mengeraskan hatinya. Ia membuang muka untuk menyembunyikan air matanya yang bercucuran membasahi pipi, tangan kirinya ia goyang-goyang perlahan, kemudian berkatalah wanita ini dengan suara bercampur isak.

"Belum tiba waktunya, kakangmas. Engkau belum berhasil menghukum orang yang mendatangkan aib dan sengsara kepada kita, bagaimana kau ada muka untuk mengajak aku kembali? Kakangmas Pujo, sebelum kulihat dia yang telah merusak kebahagiaan kita itu menggeletak tak bernyawa di depan kakiku, mana mungkin aku dapat kembali kepadamu? Tadinya kusangka Wisangjiwo orangnya ah, kiranya bukan dia... bukan dia...!" Suara Kartikosari kecewa sekali dan kini ia menangis betul-betul.

"Kalau begitu, siapakah, nimas? Kau sungguh membikin hatiku bingung. Bukan sekali-kali aku menyangka engkau melindunginya, ohhh, sama sekali tidak. Akan tetapi, ketika itu, bukankah Wisangjiwo si keparat yang bertempur dengan kita? Bukankah tidak ada orang lain terdapat di dalam gua di malam jahanam itu? Maka betapa aku takkan heran dan bingung mendengar kau memastikan bahwa bukan dia orangnya yang menjadi musuh besar kita?"

Kartikosari menghapus air matanya. Kini wajahnya menjadi beringas kembali, penuh kemarahan. "Bukan dia memang! Kakangmas Pujo, kau tidak tahu dan karena pada waktu itu engkau seperti gila karena cemburu, maka aku tidak sempat memberi tahu. Sekarang ketahuilah bahwa biarpun pada waktu itu aku tidak berdaya karena terluka, namun aku masih berhasil mendatangkan cacat kepada si laknat terkutuk. Aku telah berhasil menggigit sampai putus sebagian dari pada kelingking tangan kirinya."

Ia meraba-raba ke dalam kembennya, mengeluarkan sebuah benda kecil dan melemparkannya kepada Pujo yang masih berlutut di atas tanah. "Inilah dia kelingking itu. Musuh kita sekarang tidak mempunyai jari kelingking pada tangan kirinya! Dan kulihat Wisangjiwo tadi masih lengkap jari tangannya, oleh karena itu tanpa ragu kukatakan bahwa bukan dia si jahanam malam itu! Nah, kakangmas, aku girang melihat engkau masih hidup dan selamat serta sehat. Biarlah kita berpisah sekarang dan baru kita mungkin berkumpul lagi kalau sudah berhasil aku melihat musuh kita menggeletak tanpa nyawa di depan kakiku. Selamat tinggal, kangmas...!"

Kartikosari memandang suaminya penuh kasih sayang yang mesra untuk beberapa lamanya, kemudian ia membalikkan diri sambil terisak dan lari dengan cepat sekali meninggalkan Pujo. Pujo hanya membisikkan nama isterinya, mukanya pucat dan matanya tertuju kepada benda kecil di depannya, sepotong jari kelingking yang sudah kering. Pikirannya berputar-putar membuatnya nanar dan pening. Terang bukan Wisangjiwo kalau begitu. Akan tetapi mengapa? Bagaimana? Siapa gerangan? Dan dia sudah membalas kepada keluarga Wisangjiwo! Dia sudah menculik Joko Wandiro. Ah, dia sudah bertindak terlalu jauh. Jadi Wisangjiwo tidak berdosa? Siapakah dia yang melakukan perbuatan biadab di malam jahanam itu. Orang tanpa kelingking kiri? Tiba-tiba Pujo meloncat berdiri, serasa pernah ia melihat orang yang tak berkelingking kiri. Akan tetapi lupa lagi ia di mana, dan lupa pula bilamana dan siapa. Ia membungkuk, mengambil benda mengerikan itu lalu menyimpannya dalam saku.

Ketika ia memandang ke depan, bayangan Kartikosari telah lenyap. Betapa pun juga, agak terhibur hatinya bahwa isterinya masih hidup, isterinya masih cantik jelita dan ia tahu dari pandang mata isterinya bahwa Kartikosari masih mencintanya, bahwa isterinya itu menanti sampai musuh besar mereka itu terbalas, baru suka kembali kepadanya. Wajah Pujo mulai tampak berseri, tidak seperti biasanya muram-suram. Kini ada titik api menerangi wajahnya, titik api harapan yang membuat hidupnya berarti. Dengan girang ia lalu berlutut dan menelungkup di atas tanah di tempat Kartikosari tadi berdiri. Dibelai-belainya rumput hijau yang masih rebah terinjak kaki isterinya, diciuminya rumput itu penuh rindu sambil berbisik-bisik, "Sari... Sari"

Pujo sama sekali tidak pernah mimpi bahwa tak jauh dari situ, di tengah hutan, Kartikosari juga menangis sambil memeluk batang pohon. Kartikosari menciumi tangannya yang tadi terpegang Pujo sambil berbisik, "Kakangmas Pujo kasihan kau... begitu kurus dan pucat... tapi cinta kasihmu belum bersih dari pada cemburu, kangmas... sehingga tak berani aku bercerita tentang Endang... hu-hu-hukk... kangmas, bilakah kita dapat berkumpul kembali..?"

Sampai lama wanita ini menangis, memeluki batang pohon dan bersambat menyebut-nyebut nama suaminya, kemudian baru ia pergi dengan cepat sekali. Hatinya pepat karena kini musuh besarnya menjadi teka-teki setelah ternyata bahwa Wisangjiwo tidak buntung kelingkingnya. Ia menduga-duga akan tetapi tetap saja tidak dapat menerka siapa gerangan laki-laki yang telah melakukan perbuatan biadab atas dirinya di malam jahanam dalam gua sepuluh tahun yang lalu itu…..

********************

Kenyataan bahwa kakek tua renta yang rambut dan cambangnya sudah putih semua itu memondong mereka dengan sikap hati-hati, yang wajahnya membayangkan keramahan dan larinya secepat terbang, membuat Joko Wandiro dan Endang Patibroto akhirnya tidak meronta-ronta lagi dan mandah saja dibawa lari. Baik Endang Patibroto maupun Joko Wandiro adalah anak-anak yang cerdik dan mereka dapat menduga bahwa kakek ini tentulah bukan orang yang mempunyai niat buruk terhadap mereka.

Joko Wandiro pernah mendapat pesan ayahnya bahwa kelak kalau ayahnya meninggalkannya, dia akan disuruh tinggal bersama seorang resi yang sakti mandraguna, yaitu kakek gurunya sendiri yang kata ayahnya bernama Resi Bhargowo dan tinggal di tepi Laut Selatan sebelah barat. Kalau kakek gurunya itu seperti kakek ini saktinya, alangkah senang hatinya.

"Kek, kami akan kau bawa ke mana, kek?" Akhirnya Joko Wandiro tak dapat menahan lagi hatinya dan bertanya.

Kakek itu tertawa tanpa memperlambat larinya. "Kubawa ke tempat tinggalku."

"Tetapi ayah akan mencari-cariku, kek! Dia akan kebingungan tidak tahu ke mana aku kau bawa pergi," kata pula Joko Wandiro.

"Heh-heh-heh, biarlah, kelak juga kau akan bertemu kembali dengan ayahmu." Kakek itu lari makin cepat lagi sehingga suara angin bertiup keras di telinga kedua orang anak itu.

"Kakek, kalau ibuku tahu kau menculikku, tentu kau akan dibunuh!" tiba-tiba Endang Patibroto berkata, suaranya nyaring, penuh ancaman.

"Ha-ha-ha, ibumu takkan berani membunuh aku, angger!" Endang Patibroto mengerutkan keningnya. Ia seorang anak yang keras hati dan tidak mau kalah. Ia menganggap ibunya seorang yang paling sakti di dunia ini, masa tidak berani menghadapi kakek ini? Karena ibunya kalah tua barang kali?

"Kalau ibu tidak berani, aku juga punya kakek yang sakti, kau tentu akan dicekik!" katanya mendongkol.

Namun kakek itu malah makin keras tertawa dan tidak menjawab. Sementara itu, diam-diam Joko Wandiro memperhatikan gerak kaki kakek yang menggendongnya dan ia amatlah kagum. Kedua kaki kakek itu benar-benar seperti tidak menyentuh bumi, tidak ada suaranya namun amatlah cepat larinya, dan amat tinggi loncatannya.

"Kek, kau hebat sekali. Akan tetapi belum tentu kakek akan dapat menangkan kakekku!" kata Joko Wandiro. "Kakek guruku amat sakti."

"Kakek gurumu? Siapa dia?"

"Kakek guruku adalah guru ayahku bernama Resi Bhargowo!"

"Wah, bohong! Kau tidak tahu malu!" Tiba-tiba Endang Patibroto berteriak marah.

"Eh, eh, mengapa kau marah-marah dan memaki orang?" Joko Wandiro menegur.

"Kau tak tahu malu! Resi Bhargowo adalah kakekku! Ayah ibuku adalah murid Resi Bhargowo yang tinggal di Bayuwismo. Bagaimana kau berani mengaku-aku sebagai kakek gurumu? Cih, tak bermalu!"

"Kau yang tak tahu malu. Ayahku adalah murid terkasih Resi Bhargowo!"

"Bohong!"

"Kau yang bohong!"

"Kek, turunkan aku. Biar kuhajar mulutnya yang lancang!" Endang Patibroto marah-marah.

"Boleh kau coba!" tantang Joko Wandiro.

Kakek itu tertawa, akan tetapi keningnya berkerut dan ia menggeleng-geleng kepalanya. Ia berhenti berlari, menurunkan Endang Patibroto dan memegang muka yang ayu itu dalam kedua tangannya, memandangi penuh perhatian, kemudian berkata, "Kau memang anaknya, tak salah lagi. Cah ayu, kau adalah cucuku. Ibumu, Kartikosari, adalah puteri tunggalku."

Endang Patibroto yang sedang marah kepada Joko Wandiro itu kini terbelalak memandang kakek itu. Wajah kakek yang menyeramkan dan menimbulkan rasa takut inikah kakeknya?

"Siapakah engkau, kek?"

"Aku Bhagawan Rukmoseto, cucuku."

"Ah, kalau begitu kau tak mungkin kakekku! Kakekku bernama Resi Bhargowo!"

"Ha-ha-ha, memang sepuluh tahun yang lalu namaku Resi Bhargowo, akan tetapi sekarang julukanku Bhagawan Rukmoseto. Lihatlah, rambutku sudah putih semua. Cucuku yang manis, namamu siapakah?"

"Namaku Endang Patibroto."

Diam-diam kakek itu terkejut. Mengapa Kartikosari menamakan puterinya demikian? Rahasia apakah yang telah terjadi sehingga puterinya itu berpisah dari suaminya? Kemudian ia berpaling kepada Joko Wandiro dan memandang tajam. Bocah inipun sejak tadi mendengarkan dengan mata terbelalak. Tiada hentinya ia memperhatikan kakek ini dan menjadi ragu-ragu. Jadi kakek inikah guru ayahnya?

Melihat Joko Wandiro, Bhagawan Rukmoseto juga kagum. Anak ini bukan anak sembarangan dan sudah sepatutnya kalau menjadi cucu muridnya pula. Akan tetapi mengapa anak ini mengaku sebagai putera Pujo? Sering ia melihat dari jauh betapa seperti Endang Patibroto dilatih Kartikosari, anak laki-laki ini digembleng oleh Pujo secara hebat. "Anak baik, sekarang tiba giliranmu. Kau anak siapa?"

"Ayahku Pujo dan menurut ayah, guru ayah bernama Resi Bhargowo" Ia meragu.

Bhagawan Rukmoseto tersenyum. "Memang tidak keliru. Ayahmu itu muridku, angger. Akulah kakek gurumu."

Mendengar ini, serta merta joko Wandiro menjatuhkan diri berlutut dan menyembah. Makin girang hati kakek itu dan ia mengelus-elus kepala Joko Wandiro.

"Siapakah namamu, nak?"

"Namaku Joko Wandiro, eyang."

"Ayahmu bernama Pujo. Dan ibumu? Siapakah ibumu?"

Joko Wandiro hanya menggeleng kepala. "Tidak tahu, eyang. Ayah tidak pernah menceritakan tentang ibu,"

Si kakek mengelus-elus jenggotnya lalu berpaling kepada Endang Patibroto.

"Dan kau, angger. Siapakah nama ayahmu?"

Gadis cilik itu menggeleng kepala keras-keras.

"Tidak tahu!"

Berkerut kening yang sudah putih itu.

"Ah, cucu-cucuku, mari kita lanjutkan perjalanan. Kalian ikut bersamaku mempelajari ilmu. Dunia sedang kacau- balau, permusuhan terjadi di mana-mana, perebutan kekuasaan membuat orang saling bunuh, iblis dan setan merajalela, lebih baik kalian belajar ilmu bersama kakek di tempat sunyi. Hayo!"

Tanpa menanti jawaban kedua orang anak itu, Bhagawan Rukmoseto sudah menyambar tubuh mereka lagi dan di lain saat ia sudah berlari secepat terbang meninggalkan tempat itu, menuju ke timur. Bhagawan Rukmoseto tinggal di Pulau Sempu yang sunyi. Untuk menyeberang ke pulau kosong itu ia menggunakan sebuah perahu yang disembunyikannya di dalam semak-semak di tepi Laut Selatan.

Baik Joko Wandiro maupun Endang Patibroto tadinya merasa tidak senang karena merasa dipaksa dan diculik oleh orang tua yang mengaku menjadi kakek mereka itu, akan tetapi setelah kakek itu memastikan bahwa ayah Joko Wandiro dan ibu Endang Patibroto kelak pasti akan datang ke situ, mereka berdua merasa terhibur. Hanya anehnya, di antara kedua orang anak itu seakan-akan terdapat rasa saling iri, seakan-akan mereka bersaing dan tidak mau saling mengalah sehingga diam-diam kakek pertapa itu merasa prihatin sekali, juga terheran-heran. Apalagi ketika ia mencoba tingkat mereka, ia mendapat kenyataan bahwa tingkat mereka itu tidak banyak selisihnya dan memang tidak salah lagi, ilmu yang mereka pelajari adalah ilmu dari padanya, yaitu Bayu Tantra dan pukulan Gelap Musti. Maka mulailah ia menggembleng keduanya dengan ilmu-ilmu yang tinggi, karena kakek yang waspada ini maklum bahwa kedua orang cucunya ini akan hidup dalam jaman yang kacau dan penuh dengan perang.

Juga dalam mempelajari ilmu yang diturunkan kakek itu, kedua orang anak ini selalu berlomba dan bersaing. Namun sifat ini sesungguhnya malah membuat mereka cepat sekali maju. Sifat tidak mau kalah dan ingin mengatasi yang lain inilah justru membuat mereka tekun sekali berlatih dan kemajuan yang mereka peroleh luar biasa sekali. Kurang lebih setahun kemudian semenjak mereka tinggal bersama Bhagawan Rukmoseto, pada suatu senja kakek itu tampak datang mendayung perahu ke pulau itu dengan wajah penuh kerut-merut dan sinar mata sayu.

Begitu ia melompat ke atas pulau, ia segera memanggil kedua orang cucunya dan masuklah mereka bertiga ke dalam pondok kecil yang menjadi tempat tinggal mereka. Dua orang anak itu bersila, bersujud di depan kakek ini dengan hati berdebar. Melihat wajah yang biasanya berseri dan ramah itu kini kelihatan marah dan gelisah, dua orang anak ini dapat menduga pasti telah terjadi hal yang hebat.

"Cucu-cucuku, aku telah bertemu dengan orang tua kalian dan mereka telah kuberi tahu bahwa kalian berada bersamaku."

Endang Patibroto bersorak girang.

"Eyang, kenapa ibu tidak diajak ke sini?"

"Sstttt...!" Joko Wandiro mencela.

Gadis cilik itu menjebi kepadanya dan mengernyitkan hidung mengejek. Sejenak keduanya saling melotot. Bhagawan Rukmoseto menarik napas panjang.

"Cucu-cucuku, kalian ini biarpun bukan saudara sekandung, akan tetapi terhitung saudara seperguruan. Mengapa tidak bisa akur dan selalu bercekcok saja?"

"Dia yang selalu mulai dulu, eyang," kata Joko Wandiro.

"Ah, tidak, eyang. Dia itu anak laki-laki tidak pernah mau mengalah."

"Aaahhh!"

"Aahhhhh!"

Kembali keduanya saling pandang melotot. Bhagawan Rukmoseto tersenyum. Kakek ini memang telah menjumpai Pujo dan juga telah menjumpai puterinya. Mereka telah mengaku terus terang apa yang terjadi sepuluh tahun yang lalu, maka ia tahu bahwa Joko Wandiro sesungguhnya adalah putera Wisangjiwo, sedangkan Endang Patibroto puteri Pujo dan Kartikosari. Akan tetapi bukan hal ini yang membuat kakek itu pulang dengan wajah keruh. Melainkan apa yang ia lihat dan dengar tentang keadaan di Kerajaan Kahuripan. Permusuhan menjadi-jadi di antara Pangeran Tua dan Pangeran Muda.

Kini permusuhan dan persaingan terjadi secara terang-terangan, tidak sembunyi-sembunyi lagi seperti dulu. Bentrokan antara jagoan-jagoan mereka setiap hari terjadi. Para ponggawa terpecah dua, memihak pilihan masing-masing. Juga para adipati di luar kerajaan mulai terpecah-pecah bahkan sudah mulai saling serang sendiri. Perang saudara yang hebat sudah membayang, takkan mungkin dapat dicegah lagi. Bunuh-membunuh mulai terjadi. Kedua pihak saling menarik bala bantuan, orang-orang sakti dan para pertapa yang biasanya bersembunyi di gunung-gunung dan pekerjaannya hanya mengejar ilmu kebatinan dan bertapa memujikan selamat dan sejahtera bagi dunia dan isinya, kini mulai turun gunung, keluar dari tempat sembunyi masing-masing untuk ikut berlomba memperebutkan kedudukan Kebajikan menyuram, kekuasaan iblis dan setan menonjol.

Dan kini, di depan matanya sendiri, dua orang anak kecil yang masih bersih pikiran dan hatinya, agaknya tidak terluput pula dari pengaruh hawa jahat yang merajalela menguasai dunia. Ia lalu menggerakkan tangannya, merangkul kedua orang anak itu di kanan kiri.

"Endang Patibroto, kau adalah cucuku. Ibumu itu puteri tunggalku. Oleh karena itu engkau harus taat kepadaku. Dan kau, Joko Wandiro, biarpun bukan keluarga, namun sama saja. Kau cucu muridku dan aku pun sayang kepadamu. Kalian ini ada hubungan keluarga seperguruan, oleh karena itu sama sekali tidak boleh bermusuhan. Kelak kalian harus bantu-membantu tidak boleh berselisih dan bermusuhan. Ketahuilah, dunia sedang kacau dan tenaga kalian kelak amatlah dibutuhkan untuk membantu para dewata memulihkan ketentraman. Kini orang-orang jahat yang memiliki kesaktian luar biasa sedang merajalela, oleh karena itu kalian harus tekun belajar di sini. Marilah, cucu-cucuku, mari ikut denganku. Ada semacam rahasia yang harus sekarang juga kuberitahukan kalian sebelum terlambat. Mari kalian ikut denganku."

Keluarlah mereka bertiga dari dalam pondok. Hari telah senja dan matahari telah bersembunyi di langit barat, hanya tinggal cahaya layung (merah kekuningan) yang masih menerangi sebagian permukaan bumi bagian barat. Bhagawan Rukmoseto menggandeng tangan Endang Patibroto di kiri sedangkan Joko Wandiro berada di kanannya. Mereka berjalan perlahan menuju ke barat, menuju ke sinar layung kemerahan, mendekati pantai pulau sebelah barat yang ditumbuhi pandan. Setelah mereka tiba dekat pandan yang memenuhi tempat itu, terdengar suara keras dan burung-burung camar yang menjadikan tempat itu sebagai sarang, beterbangan sambil mengeluarkan suara hiruk-pikuk, agaknya marah karena tempat mereka terganggu. Akan tetapi Bhagawan Rukmoseto terus mengajak mereka menyelinap di antara pandan-pandan yang tebal dan akhirnya mereka tiba di depan sebuah guha kecil yang tersembunyi di antara pandan.

"Cucu-cucuku, di tempat ini tersimpan sebuah benda yang pada saat sekarang ini dijadikan perebutan semua manusia di dunia. Kalau ada yang tahu bahwa benda ini berada di sini, hemmm... agaknya nyawa kita akan terancam bahaya maut."

"Ihhh, benda apakah itu, eyang?"

"Benda apakah eyang dan mengapa eyang menyimpannya di sini?" tanya pula Joko Wandiro.

Kakek itu menarik kedua orang cucunya duduk di atas batu depan guha, lalu bercerita. "Dengarlah baik-baik, cucuku. Hanya kepada kalianlah aku mempercayakan benda ini, dan hanya kepada kalianlah aku mempertaruhkan kepercayaanku. Ketahuilah, Kerajaan Mataram yang kemudian disebut Kerajaan Medang dan kini disebut Kahuripan, memiliki sebuah pusaka yang menjadi lambang kejayaan kerajaan. Apabila pusaka itu lenyap dari kerajaan, hal itu berarti bahwa kerajaan akan menyuram, berarti akan terjadi perang dan perebutan kekuasaan. Dahulu beberapa kali pusaka itu lenyap dan akibatnya memang hebat.

Belum lama ini, pusaka itu lenyap pula tercuri oleh orang jahat, dan inilah sebabnya mengapa kini Kerajaan Kahuripan mulai menyuram dan mulailah terjadi perebutan kekuasaan antara Pangeran Tua dan Pangeran Muda. Tidak itu saja, malah orang-orang cerdik pandai mulai berlomba untuk mencari dan memperebutkan benda keramat itu, oleh karena sesungguhnya benda itu luar biasa sekali, siapa yang memilikinya menjadi seorang yang paling sakti dan mempunyai wahyu mahkota, berhak menjadi raja! Secara kebetulan sekali, pusaka itu terjatuh ke dalam tanganku, ketika dibawa lari penjahat dan kusimpan di sini."

"Aiihhhh...!"

"Hebat...!"

"Hemm, mengapa kalian ribut-ribut?" Kakek itu memandang tajam.

"Oh, tidak, eyang. Hanya... kalau begitu tentu eyang berhak menjadi raja?" kata Endang Patibroto.

Kakek itu tertawa. "Tidak, cucuku. Aku seorang yang masih setia kepada sang prabu di Kahuripan. Sang prabu sendiri mengundurkan diri tidak suka lagi menjadi raja dan kini menjadi pertapa, masa aku seorang pendeta ingin menjadi raja? Tidak. Hanya aku merasa prihatin menyaksikan keadaan perebutan kekuasaan itu. Kalau mereka itu tahu bahwa pusaka berada di sini, sudah pasti mereka akan memperebutkannya dan keadaan akan menjadi lebih geger lagi. Aku sudah tua, aku tidak ingin menduduki kemuliaan, bahkan tidak ingin aku terseret ke dalam urusan-urusan kerajaan. Akan tetapi kalian adalah orang-orang muda yang harus mengisi hidup kalian dengan darma sebagai keturunan satria dan pertapa. Oleh karena itulah, kalian akan kugembleng di pulau ini dan pusaka itu kuserahkan kepada kalian. Kelak harus kalian yang mengembalikan pusaka itu ke kerajaan, akan tetapi harus kalian kembalikan kepada seorang raja yang benar-benar bijaksana, karena sekali pusaka itu terjatuh ke dalam tangan raja lalim, rakyat tentu akan celaka."

Joko Wandiro adalah seorang yang cerdik. "Eyang, mengapa eyang mengajak aku dan Endang sekarang ke tempat ini? Kami berdua masih kecil, bagaimana mampu melindungi pusaka itu? Ataukah, eyang mengajak kami hanya agar mengetahui tempatnya saja?"

Bhagawan Rukmoseto mengelus kepala Joko Wandiro. "Kau benar. Bukan hanya untuk mengetahui tempatnya, melainkan akan kuberikan sekarang juga."

"Sekarang...?" Endang Patibroto bersorak, girang dan kaget.

Bhagawan Rukmoseto mengangguk- angguk dan mengelus jenggotnya. "Orang-orang di dunia hitam sudah mulai tahu akan tempat persembunyianku ini dan mulai curiga. Tak lama lagi tentu mereka akan mencari ke sini dan akan memaksaku mengaku. Oleh karena itu, biarlah pusaka itu kuberikan kepada kalian berdua karena mereka tentu tidak akan mengira bahwa pusaka yang sepenting itu kuberikan kepada dua orang anak kecil. Aku hanya bertindak menurutkan naluri dan agaknya Dewata yang memberi petunjuk kepadaku, cuku-cucuku."

Kakek itu lalu merangkak memasuki gua kecil itu dan tak lama kemudian ia sudah keluar lagi sambil membawa sebuah bungkusan kain kuning. Dua orang anak itu duduk bersila dan memandang dengan mata terbelalak. Apalagi ketika kakek itu membuka bungkusan kain kuning, Endang Patibroto berseru girang.

"Golek kencono (boneka emas)! Aduhhh bagusnya! Eyang, berikan aku saja!"

Bhagawan Rukmoseto tertawa, akan tetapi tiba-tiba ia memandang ke sekelilingnya seperti orang ketakutan. "Kalian mendengar sesuatu tadi?"

Dua orang anak itu menggelengkan kepala. Adapun Joko Wandiro merasa kecewa karena pusaka itu kiranya hanyalah sebuah boneka emas, mainan seorang anak perempuan.....!

0 Response to "Badai Laut Selatan Jilid 22"

Post a Comment