Badai Laut Selatan Jilid 06

Mode Malam
Hatinya girang mendengar pujian yang keluar dari mulut Narotama, karena ini merupakan pertanda bahwa ajiannya telah berhasil! Sama sekali ia tidak pernah mimpi bahwa Narotama yang berhati penuh welas asih itu memujinya untuk tidak mengecewakannya. Ia makin menggeliat-geliatkan tubuhnya, dan berjalan makin mendekat.

Bau yang harumnya seperti kayu cendana dan kembang keluar dari tubuhnya, dan inilah merupakan sebagian dari pada Aji Guno Asmoro. Biasanya lawan yang telah terkena Aji Guno Asmoro akan kehilangan semangatnya, akan menurut saja semua kehendaknya, bahkan andai dipukul mati pun tentu tak akan melawan karena semangat perlawanannya sudah lenyap, semua kemauannya sudah lenyap dan berada di tangan Ni Durgogini. Kini, Narotama yang diam saja itu agaknya pun sudah kehilangan semangatnya!

"Narotama...!" Suara Ni Durgogini berbeda dengan tadi, sekarang suaranya merdu merayu mengandung daya tarik yang luar biasa, "Kekasihku, berlututlah engkau... dan bersihkan kakiku yang kotor...!" Dengan mata setengah terpejam, Ni Durgogini siap menikmati hasil kemenangannya yang sudah pasti itu.

"Ni Durgogini, apakah kau sudah edan? Aku tidak punya waktu melayani kau main-main, selamat tinggal!" Narotama lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi dari situ.

Mata yang tadinya hampir terpejam itu kini terbelalak. Wajah yang tadinya merah berseri kini berubah pucat, bibir yang tadinya membasah kini menjadi kering, kemudian muka itu menjadi beringas. "Kubunuh engkau...!"

Bagai seekor singa betina, Ni Durgogini melompat dan menerkam dari belakang. Tanpa menoleh Narotama menggerakkan lengannya ke belakang.

"Plakkk..."

Tubuh Ni Durgogini tertampar dan terpelanting ke belakang, roboh bergulingan, kepalanya terasa pusing sekali.

"Narotama... kau... kau kejam...! Aku benci padamu, benci... benci... benci...!"

Ni Durgogini lalu menangis melolong-lolong sambil bergulingan di atas tanah seperti anak kecil. Menolehpun tidak Narotama. Ia berjalan terus dengan tenang dan dengan langkah lebar, senyum pahit membayang di bibirnya yang bergerak-gerak perlahan seperti bicara dengan dirinya sendiri.

Biarpun pada lahirnya Narotama seperti tidak mempedulikan Ni Durgogini, namun dalam batinnya ia menaruh hati iba kepada bekas selirnya itu yang ternyata kini telah tersesat ke dunia hitam. Ia menyesal, dan kasihan karena maklum bahwa kesesatan bekas selirnya itu akan menyeretnya ke lembah kesengsaraan batin…..

********************

Bayangan itu tak dapat diusirnya, selalu membayangi benaknya ke mana pun juga ia pergi, dan hatinya menjadi panas dan panas lagi. Di dalam telinganya selalu bergema suara kain robek disusul jerit tangis. Kain dan jerit Kartikosari. Gema suara inilah yang menimbulkan bayangan. Bayangan yang direka dan dikira-kirakan sendiri oleh hatinya yang penuh cemburu, dendam, duka dan sesal, yang makin menghebat saja apabila ia kenangkan. Suara kain terobek disusul lengking mengerikan. Suara itu selalu berkumandang di dalam telinganya, membuatnya hampir gila.

Pujo duduk di tepi batu karang, matanya menatap air laut bergulung-gulung di bawah kaki. Gelombang buas yang panjang mengerikan seperti seekor naga siluman yang hendak menelannya, namun mata Pujo seperti tidak melihat semua itu. Suara ombak memecah di batu karang menimbulkan suara menggelegar susul-menyusul, namun telinganya hanya penuh oleh suara kain robek dan lengking mengerikan.

"Cintamu hanya cinta jasmani belaka, cinta yang berdasarkan nafsu berahi semata karena cintamu dangkal dan hanya tubuhku yang kau cinta, maka kau kecewa melihat tubuhku dinodai orang lain, padahal kau maklum seyakinnya bahwa batinku sama sekali tidak ternoda..." Kata-kata isterinya ini berkumandang dibawa deru ombak dan terbayanglah wajah isterinya yang jelita, yang tercinta, dengan sepasang mata bintang yang tak pernah dapat ia lupakan itu memandangnya penuh sesal dan duka, bibir yang indah bentuknya dan tadinya menjadi sarang madu baginya itu tergetar seperti bibir seekor kijang yang ketakutan.

"Prakkk! Prakkk!"

Dua kali kedua tangan Pujo dengan jari-jari terbuka menggempur batu karang di depannya sehingga ujung batu karang itu remuk berhamburan. Mulutnya komat-kamit, mulut yang membayangkan hati sakit bukan main, matanya menatap ombak, mata penuh dendam dan duka.

"Tidak peduli! Aku memang mencinta tubuhmu Kartikosari, kau menjadi milikku tunggal, tak boleh orang lain menjamahmu, apalagi menodaimu! Aku mencintaimu dengan seluruh jiwa dan ragaku, semua bulu di kulitku, setiap tetes darah di badanku, sampai ke tulang sumsumku, aku mencintaimu. Tapi... tapi kau ternoda orang lain... mengapa hal itu bisa terjadi? Mengapa tidak kau lawan sampai mati? Setelah hal terkutuk itu terjadi, mengapa kau masih dapat hidup, masih ada muka untuk hidup dan bicara denganku? Hal itu hanya berarti bahwa kau... kau senang dengan pengalamanmu itu, kau girang bahwa selain suamimu, ada pria lain, tampan sakti bangsawan dan kaya raya, juga mencintamu!"

Kembali tangannya menghantam batu karang. Tiba-tiba Pujo bangkit berdiri, matanya melotot terbelalak, kedua kakinya terpentang lebar, kedua tangannya dikepal menempel pinggang, sikapnya seperti seorang siap bertanding dengan musuh yang dibencinya.

"Wisangjiwo! Dendam ini sedalam Laut Selatan! Takkan dapat tercuci selamanya kecuali dengan darahmu. Kau tunggulah, sekali kau terjatuh ke dalam tanganku, aku akan..."

Akan ia apakan? Dibunuh begitu saja? Terlampau enak! Hati yang begini disakiti haus akan pembalasan yang memuaskan. Tidak, ia tidak akan membunuh Wisangjiwo begitu saja. Ia akan menyiksanya sepuas hati.

Dendam adalah semacam perasaan yang memabokkan seperti racun yang menggerogoti batin sehingga menyelimuti kesadaran dan mematahkan pertimbangan. Dendam timbul dari sakit hati yang dapat muncul karena sesungguhnya terpengaruh oleh rasa sayang diri yang berlebihan. Rasa sayang diri inilah yang menimbulkan sakit hati apabila dirinya dirugikan orang lain, menimbulkan benci dan memupuk dendam untuk membalas!

Rasanya belum akan sudah dan puas hati ini kalau belum membalas dendam dengan perbuatan keji yang setaraf atau bahkan melebihi perbuatan yang dilakukan orang terdendam terhadap dirinya. Dan orang yang mabok dendam ini di luar kesadarannya telah diperhamba nafsu iblis yang haus dan baru dapat dipuaskan oleh perbuatan-perbuatan membalas yang sama kejinya. Perbuatan keji kejam untuk membalas dalam pandangan orang yang mendendam bukanlah perbuatan keji lagi, melainkan perbuatan adil! Mabok semabok-maboknya dan tidak ada yang lebih gila dari pada ini.

Dengan batin rapuh digerogoti nafsu iblis ini seperti rapuhnya bilik digerogot rayap, Pujo mereka-reka pembalasan dan siksaan bagaimana yang dianggapnya tepat dan adil bagi musuh besarnya, Raden Wisangjiwo. Akan kutangkap dia, pikirnya geram. Akan kubuat dia tidak berdaya dan kuseret dia di dalam hutan! Teringat akan kebiadabannya terhadap isterinya, ia akan merajang-rajang anggauta kelaminnya, merobek perut dan mengeluarkan usus dan jantungnya!

Ah, tidak! Kalau demikian tentu ia akan mampus, terlalu enak dan terlalu cepat baginya! Ia berpikir-pikir dan mereka-reka lagi pembalasan yang lebih menyiksa. Akan kurobek-robek kulit mukanya yang tampan dengan ujung keris, agar ia menjadi seorang manusia bermuka setan yang sedemikian buruknya sehingga setiap orang wanita yang melihatnya akan meludah dan muntah-muntah.

Tapi sebelumnya akan kuseret dia di muka umum agar semua orang senegara maklum dan mengenal bahwa Wisangjiwo adalah seorang laki-laki binatang yang suka mengganggu bini orang! Kemudian kubuntungi kedua kakinya agar selamanya tak pandai berjalan, hidup dan bergerak mengesot seperti binatang! Akan ku... akan ku... Pujo tak dapat berpikir lagi saking geram. Tiba-tiba ia terkejut dan menampar kepalanya sendiri.

"Kau telah gila!" serunya keras-keras ketika kesadarannya yang timbul dari dasar pendidikan ksatria mencelanya. "Kau telah menjadi manusia iblis! Tak mungkin Pujo murid terkasih Resi Bhargowo, bahkan menjadi mantunya, dapat memikirkan kekejaman yang dapat timbul dalam benak iblis itu!" Suaranya sendiri terdengar seperti suara gurunya dan Pujo lalu menangis. Ditumbuk-tumbuknya kepala dan dadanya, kemudian ia menjadi beringas.

"Biar! Biarlah aku menjadi iblis penasaran! Dia telah merusak kesucian Kartikosari, telah menghancurkan kebahagiaanku! Aku takkan dapat bertemu muka lagi dengan Kartikosari kekasihku sebelum dendam ini terbalas!"

Bagaikan seorang gila Pujo lalu melompat dan lari dari tepi Laut Selatan, berlari terus mendaki bukit karang dengan tujuan bulat, yaitu, mencari Wisangjiwo dan melampiaskan nafsu dendamnya yang dahsyat menggelora seperti Laut Selatan yang diserang badai.

Sesungguhnya, bukan dendam semata yang membuat Pujo seperti gila. Terutama karena rasa duka kehilangan isterinya itulah. Setelah berada seorang diri, terbayang oleh kesadarannya betapa ia telah menyiksa isterinya, telah berlaku tidak adil terhadap kekasihnya. Betapa ia telah menghina Kartikosari dan membanting hancur mahkota asmara mereka berdua. Sudah terlanjur, dan ia kini benar-benar kehilangan isterinya. Dan semua ini gara-gara Wisangjiwo. Inilah yang meracuni hatinya dan menambah rasa dendam dan sakit hatinya, seperti minyak menambah berkobarnya api.

Beberapa hari kemudian di Kadipaten Selopenangkep, sebuah kadipaten di tepi Sungai Progo. Kadipaten ini tempat tinggal Joyowiseso, ayah Raden Wisangjiwo. Di sini, tinggal adipati yang berusia lima puluh tahun ini, bersama isteri dan enam orang selirnya. Puteranya ada dua orang, yaitu Raden Wisangjiwo yang lahir dari isterinya dan Roro Luhito yang lahir dari seorang selir kinasih (terkasih). Anak ini dinamai Luhito (merah) karena ketika lahir kelihatan kulitnya kemerahan. Akan tetapi setelah kini menjadi seorang gadis remaja berusia lima belas tahun, kulitnya menjadi putih kuning kemerahan dan wajahnya cantik, tubuhnya denok, wataknya manja dan kenes (lincah).

Di samping adipati dan keluarganya, di situ tinggal pula isteri Raden Wisangjiwo yang bernama Listyokumolo dan puteranya yang baru berusia satu tahun bernama Joko Wandiro. Rumah kadipaten itu selalu terjaga oleh para pengawal yang tak pernah terpisah dari tombak dan keris, tiada hentinya bergiliran menjaga di sekitar kadipaten dan setiap saat tertentu, siang malam, jalan meronda untuk menjaga keselamatan dan keamanan sang adipati sekeluarga.

Pada hari itu di dalam kadipaten tampak kesibukan dan kemeriahan. Sang adipati sendiri bersama isteri, para selir dan puterinya, Roro Luhito yang cantik dan berwatak bebas, menyambut datangnya seorang tamu yang dihormati. Tamu ini adalah seorang pemuda tampan yang bukan lain adalah Jokowanengpati! Pemuda yang datang dari kota raja ini dikenal baik oleh Adipati Jayowiseso, karena Jokowanengpati dahulu ikut pula menjadi perwira yang tangguh dan terkenal dalam barisan Kerajaan Mataram ketika barisan ini menyerbu ke barat. Sebagai murid Empu Bharodo, tentu saja pemuda ini menjadi terkenal dan dihormat oleh para taklukan Mataram.

Jokowanengpati bersahabat pula dengan Raden Wisangjiwo dan kedatangannya menggunakan dalih mencari sahabatnya ini, padahal ia dapat menduga bahwa orang yang dicarinya tentu tidak berada di rumah setelah perisitiwa yang ia saksikan di Guna Siluman baru-baru ini. Memang maksud kedatangannya itu mengandung rahasia untuk menyelidiki keadaan Wisangjiwo setelah ia melakukan perbuatan terkutuk di dalam guha yang akan menimpa diri Wisangjiwo itu.

Ketika dalam penyambutan itu muncul Roro Luhito, jantung pemuda mata keranjang ini berdebar keras. Matanya menjadi berminyak dan secara sembunyi ia mencuri pandang menikmati wajah yang manis dan tubuh yang denok itu. Tak disangkanya sama sekali bahwa Wisangjiwo mempunyai seorang adik perempuan yang begini denok! Ia amat kagum dan tertarik oleh sikap yang wajar, bebas dan kenes. Berbeda dengan lain puteri yang biasanya hanya menyembunyikan diri di dalam taman sari atau keputren.

Memang Roro Luhito sejak kecil bukan seorang anak pemalu. Ia kenes dan pemberani, apalagi oleh ayahnya ia diberi pelajaran olah keprajuritan sehingga wataknya yang memang kenes bebas itu membuat ia merasa seakan-akan ia seorang Srikandi!

Hidangan-hidangan mewah dikeluarkan, bahkan pada malam harinya Adipati Joyowiseso memerintahkan rombongan kesenian kadipaten mengadakan klenengan dan tarian untuk menghormat dan menghibur tamu muda yang dihormati ini. Namun, setelah melihat Roro Luhito, para penari yang berbedak tebal itu dalam pandang mata Jokowanengpati tiada ubahnya seperti boneka-boneka hidup yang sama sekali tidak menarik. Padahal biasanya, dalam setiap kesempatan perayaan tayuban, pemuda yang pandai menari ini selalu menjadi tokoh untuk menari bersama penari-penari, bergaya, bergurau dan bergepit. Kini seolah-olah ia menjadi seorang yang pendiam.

Sampai jauh tengah malam baru pesta dihentikan. Tamu muda ini dipersilakan mengaso dalam kamar khusus yang bersih, lengkap dan mempunyai tempat tidur berbau harum kembang melati. Betapa pun nyamannya tidur di kamar ini, namun Jokowanengpati tak dapat tidur pulas. Gelisah ia miring ke kanan kiri memeluk guling yang dikhayalkannya sebagai Roro Luhito! Dipeluk ciumi guling itu, dibisikkan kata-kata halus merayu, kemudian ia kadang-kadang menarik papas panjang dan memanggil nama Roro Luhito dalam bisikan penuh rindu.

Pemuda mata keranjang ini, untuk entah ke berapa kalinya, tergila-gila dan diserang penyakit wuyung (rindu) kepada seorang gadis ayu. Ia tiada melihat jalan untuk mengobati penyakit rindu berahinya. Meminang gadis Puteri adipati itu tidaklah mungkin sekarang, setelah ia diusir gurunya. Masih baik bahwa Empu Bharodo seorang yang dapat menjaga nama sehingga persoalan murtadnya itu tidak diketahui orang lain sehingga ia masih dapat mengecap kenikmatan sebagai murid Empu Bharodo dengan penyambutan penuh penghormatan seperti sekarang ini.

Cuaca lewat tengah malam itu amat gelap Mendung yang tidak mau turun-turun menjadi hujan membuat hawa udara panas sekali. Keadaan di kadipaten dan sekitarnya sunyi melengang karena semua penghuninya telah tidur lejap setelah kelelahan dalam kesibukan siang dan malam hari tadi. Bahkan para penjaga merasai pula kelelahan dan hawa panas ini, membuat mereka agak malas meronda dan hanya berjaga-jaga di sekitar pintu gapura depan.

Sunyi sekali setelah suara gamelan berhenti dan penghuninya sudah tidur, lebih sunyi dari pada malam-malam biasa sebelumnya. Sesosok bayangan hitam dengan gerakan yang gesit menyelinap di antara rumpun bambu yang tumbuh di luar tembok belakang kadipaten. Sinar kilat yang kadang-kadang memecah di angkasa dalam sekejap mata menyinari bayangan ini yang ternyata adalah seorang laki-laki muda bertubuh tegap bermata liar. Orang muda ini adalah Pujo, yang dengan nafsu dendam meluap-luap menjelang fajar itu mendatangi kadipaten di Selopenangkep.

Setelah menanti sesaat dan mendapat keyakinan bahwa tidak ada penjaga meronda, dengan tangkas Pujo lari mendekati tembok, mengenjotkan kedua kakinya yang kuat ke atas tanah. Tubuhnya melayang naik, tangannya meraih dan menangkap ujung tembok di atas, kakinya diayun ke belakang terus ke atas dan berjungkir baliklah tubuhnya, langsung melompat ke sebelah dalam tembok! Tiada suara ditimbulkan kedua telapak kakinya yang menyentuh tanah Sebelah dalam dengan gerakan seperti kucing melompat, kemudian mengindap-indap ia menghampiri gedung kadipaten yang sunyi.

Sejenak ia berdiri di bawah pohon sawo yang gelap, agak bingung karena ia tidak mengenal gedung ini, tidak dapat mengira-ngirakan di mana kiranya kamar tidur Raden Wisangjiwo. Ia berpikir sejenak, giginya berkeret-keret gemas ketika ia berbisik. "Tidak peduli siapa dia, asal keluarga si bedebah Wisangjiwo, akan kubunuh!"

Dengan pikiran ini, dengan gerakan secepat kera, ia memanjat pohon sawo kemudian dari cabang yang berdekatan dengan wuwungan rumah, ia meloncat lalu berjalan di atas wuwungan rumah. Ilmu kepandaiannya yang sudah amat tinggi membuat wuwungan dan genteng itu dapat dilaluinya dengan mudah tanpa menimbulkan suara gaduh.

Setelah mencari-cari di atas wuwungan, akhirnya ia dapat meloncat ke sebelah dalam gedung, yaitu di ruangan belakang yang terbuka. Di lain saat ia telah mendekati sebuah jendela dari kamar terbesar yang berada di tengah gedung. Terdengar suara orang bercakap-cakap perlahan di dalam kamar itu. Ia menempelkan telinganya dan mendengar suara ketawa seorang laki-laki, suara ketawa yang dalam dan parau, "Ha-ha-ha, diajeng! Enak saja kau bicara. Mana mungkin kami fihak perempuan mengajukan urusan perjodohan?

Hal itu akan terlalu merendahkan diri. Aku pun setuju kalau anak kita Roro Luhito dapat menjadi isteri Jokowanengpati, karena biarpun ia bukan keturunan bangsawan, namun ia mempunyai kedudukan baik dan tentu akan mudah mendapatkan pangkat besar di kemudian hari. Biarlah nanti sepulangnya Wisangjiwo, dia yang akan bicara dengan Jokowanengpati. Kalau yang bicara itu di antara sahabat, itu bukan merendahkan diri namanya."

"Terserah, kakangmas adipati. Pokoknya saya menghendaki agar anak kita bisa mendapatkan jodoh yang baik dan saya lihat pemuda itu cukup tampan dan sopan. Banyak para waranggana dan penari cantik-cantik malam tadi, tapi melirikpun dia tidak mau. Padahal biasanya orang-orang muda kalau melihat waranggana cantik lalu menjadi liar dan tidak mau diam seperti cacing terkena abu!"

"Hah-hah-hah-hah, biasa itu, diajeng. Orang kalau sudah menyukai seseorang, segalanya kelihatan baik saja. Mudah-mudahan begitulah dan mudah-mudahan dia akan suka memperisteri anak kita si Luhito."

"Tentu suka! Pemuda mana yang tidak keedanan bertemu dengan Luhito? Perawan mana yang lebih cantik jelita, denok ayu seperti anakku Luhito?"

"Ha-ha-ha, siapa maido (tak percaya)? Ibunya begini denok, begini montok, begini ayu manis, tentu saja anaknya hebat!"

"Ah, kangmas, sudah malam begini hampir fajar, jangan keras-keras, malu terdengar orang!"

Adipati Joyowiseso dan selirnya tertawa-tawa, bersendau gurau. Kedua orang ini tidak tahu betapa di luar jendela kamar mereka, Pujo menjadi merah mukanya, merah karena marah dan kecewa. Jadi Wisangjiwo belum pulang, pikirnya geram. Akan tetapi ia sudah tiba di situ, terlalu menyesal kalau pulang dengan tangan hampa. Di dalam kamar ini terdapat ayah si bedebah Wisangjiwo dan orang tua ini ikut pula berdosa karena mempunyai putera yang telah menghancurkan kebahagiaan hidupnya. Kedua tangannya mengepal tinju, matanya beringas memandang jendela, seluruh urat di tubuhnya menegang. Pujo melangkah mundur tiga tindak, mengerahkan tenaga lalu meloncat menerjang daun jendela yang tertutup!

"Braaaakkkk!"

Pecahlah daun jendela itu dan tubuh Pujo terhuyung ke dalam kamar yang diterangi sebuah dian (lampu kecil) di sudut kamar. Selir adipati itu menjerit kaget dan Adipati Joyowiseso melompat dari atas pembaringan, tubuhnya tidak memakai baju hanya berselimut sehelai kain, matanya melotot, kumisnya yang tebal sekepal sebelah itu berdiri, lalu membentak.

"Keparat biadab! Siapa ini...?!?"

"Adipati Joyowiseso, terimalah hukuman dosa anakmu si bedebah Wisangjiwo!" Pujo berseru dan bagaikan angin badai ia menyerbu dengan sebuah keris telanjang di tangan! Tusukannya ke arah ulu hati adipati itu amat dahsyat, cepat sekali dan disertai tenaga yang kuat, kemudian disusul sebuah tendangan ke arah perut.

Joyowiseso takkan menjadi adipati kalau dia bukan seorang yang pandai beryuda. Usianya sudah lima puluh tahun namun tubuhnya yang tinggi besar itu masih tampak kuat. Dadanya yang terbuka tanpa baju itu memperlihatkan bahu yang bidang dan segumpal rambut yang hitam menghias ulu hati dan buah dada otot-ototnya sebesar tambang bambu. Melihat serangan dahsyat ini, trengginas (sigap) ia menangkis dengan tangan kanannya, sebuah lengan yang besar berbulu menyampok tangan kanan Pujo.

Namun Pujo adalah seorang pemuda gemblengan, pula ia menjadi makin kuat karena dorongan kenekatan bulat dan kemarahan. Selain ini, memang ia lebih dulu membuat persiapan, tidak seperti sang adipati yang masih belum lenyap rasa kagetnya. Maka begitu kedua lengan bertemu, tangan Pujo yang menusuk meleset ke atas dan kerisnya masih menancap pada pangkal lengan kanan Adipati Joyowiseso.

Agaknya tusukan pada pangkal lengan ini tidak akan membuat adipati itu berteriak kalau saja tendangan kaki Pujo tidak mengenai perutnya. Sebuah tendangan yang keras, tepat mengenai perut yang sudah mulai bekel (menggendut), menimbulkan suara "bleggg!" dan tubuh adipati itu terlempar ke belakang, lalu terhuyung-huyung.

"Terimalah kematianmu, Joyowiseso!" Pujo menerjang lagi dan adipati itu berteriak-teriak, "Tolong...! Toloooonggg...! Penjahat!"

Namun dalam ketakutannya, ia masih cukup tangkas untuk menggulingkan tubuh ke atas lantai dan terus menggelinding mendekati meja di sudut kamar. Sebelum Pujo sempat menyerang lawan yang bergulingan itu, Adipati Joyowiseso sudah menarik kaki meja. Pelita di atas meja terlempar ke bawah dan padam. Gelap gulita di dalam kamar itu. Yang terdengar hanya isak tangis selir adipati di atas pembaringan yang diusahakannya untuk didekap dengan mulut agar tidak bersuara.

Dendam kesumat mendidih dalam dada Pujo dan kenekatannya sudah bulat, namun dia bukanlah seorang yang sembrono atau bodoh. Melihat betapa dalam kamar yang asing baginya itu gelap sekali, Pujo maklum bahwa bahaya mengancam dirinya. Apalagi ia mendengar suara kaki berlari-lari mendatangi ke arah kamar. Cepat ia lalu mengayun tubuh melompat keluar dari jendela yang sudah berlubang besar karena daun jendelanya roboh oleh terjangannya ketika masuk tadi. Hanya lubang jendela itulah yang tampak dari dalam gelap, disinari oleh cahaya lampu di luar kamar.

Untung ia berlaku waspada dan begitu mendengar ada angin sambaran dari samping, ia mengelak. Sebuah pisau belati melayang dan menancap di jendela, belati yang disambitkan dari dalam gelap oleh Adipati Joyowiseso.

"Penjahat! Tangkap!"

Terdengar adipati itu berteriak-teriak sambil mengejar, sebatang tombak di tangannya dan kain yang tadi menyelimuti tubuhnya sudah ia lilitkan ke belakang, merupakan cawat. Begitu tubuh Pujo berada di luar kamar, sebuah tombak dan sebilah golok menyambar dari kanan kiri. Trengginas (sigap) ia melompat terus ke depan, menghindarkan diri lalu membalik cepat. Kiranya yang menyerangnya adalah dua orang penjaga yang berlari datang karena teriakan adipati. Pujo tidak menanti sampai mereka menyerang lagi atau menunggu datangnya lawan yang lebih banyak lagi. Begitu si pemegang tombak memutar senjata hendak menusuk, ia telah mendahuluinya dengan terjangan kilat ke depan.

Sukar diikuti pandang mata lawannya gerakan ini saking cepatnya dan tahu-tahu kerisnya telah menancap di perut lawan dan begitu dicabut, darah muncrat keluar dan si pemegang tombak roboh tertelungkup. Pada saat itu si pemegang golok sudah mengayun senjatanya mengancam ke arah kepala dari kiri. Pujo miringkan tubuh, tangan kirinya dengan Aji Pethit Nogo menangkis, jari-jari tangan kirinya yang sudah kemasukan aji yang ampuh ini tepat menghantam pergelangan tangan yang memegang golok, mendahului datangnya sambaran senjata tajam itu.

Terdengar bunyi "krakk!" tanda bahwa lengan itu patah dihajar Ilmu Pethit Nogo. Si pemegang golok berseru kesakitan, akan tetapi di lain saat ia pun terjungkal seperti temannya dengan lambung berlubang oleh keris!

"Penjahat busuk, rasakan tombakku!"

Adipati Joyowiseso yang sudah melompat keluar dari jendela mengayun tombaknya. Adipati ini memang terkenal sebagai pemain tombak yang jagoan, tombaknya bergerak cepat berputaran dan mata tombak seakan-akan berubah menjadi lima buah banyaknya, menyambar dengan kecepatan kilat bertubi-tubi ke arah bagian tubuh yang berbahaya.

Pujo tentu saja tidak menjadi gentar, akan tetapi melihat banyak penjaga dengan obor di tangan lari mendatang, ia merasa bahwa tempat itu kurang luas untuk bertempur menghadapi banyak lawan. Kurang leluasalah ia bergerak kalau sampai terkepung. Maka ia meloncat ke belakang menjauhi ancaman tombak, lalu lari menuju ke pekarangan belakang.

"Keparat, hendak lari ke mana kau?"

Adipati Joyowiseso mengejar, kini diikuti oleh belasan orang pengawal yang sudah memegang senjata masing-masing ditangan. Bahkan dari dalam gedung keluar pula seorang gadis yang berpakaian ringkas, memegang cundrik kecil panjang yang runcing. Dia ini adalah Roro Luhito. Dengan hati cemas gadis ini melihat pundak ayahnya yang berdarah.

"Ayah, ada apakah?" tanyanya sambil berlari di samping ayahnya.

"Ada penjahat, hendak membunuhku. Itu dia lari ke sana. Kejar!"

Roro Luhito tidaklah sehebat Wisangjiwo kepandaiannya, akan tetapi dibandingkan dengan para penjaga, agaknya gadis ini masih lebih unggul karena ia mendapat gemblengan sendiri dari ayahnya. Maka kini ia dapat berlari cepat di samping ayahnya dan para pengejar ini sejenak tertegun ketika melihat bahwa orang yang mereka kejar itu tidak terus lari, bahkan kini dengan muka beringas dan senyum mengejek menanti kedatangan mereka dengan keris yang berlumur darah di tangan!

Seorang pemuda yang amat tampan, akan tetapi yang tampak mengerikan karena pandang matanya menyinarkan kehausan akan darah, sinar mata maut! Akan tetapi yang merasa paling kaget dan heran adalah Adipati Joyowiseso sendiri. Dia merasa seperti pernah melihat pemuda ini, dan setelah ia mengingat-ingat, cambangnya yang tebal tergetar saking marahnya.

Dengan tombak ditudingkan ia membentak marah, "Babo-babo, keparat jahanam! Kiranya kau! Bukankah kau murid Resi Bhargowo dari Sungapan? Mengapa kau datang dan menyerangku?"

"Adipati Joyowiseso! Kau harus menebus dosa yang diperbuat oleh puteramu yang biadab!"

Terbelalak lebar mata adipati itu. "Jahanam, lancang mulutmu! Perbuatan apa yang dilakukan Wisangjiwo?"

"Tak usah banyak cakap, siaplah kau untuk mampus!"

Setelah berkata demikian, Pujo menubruk maju dan menyerang dengan kerisnya. Adipati itu juga menggerakkan tombak untuk menangkis karena biarpun keris merupakan senjata pendek, namun gerakan pemuda itu cepat sekali.

"Tranggg...!"

Tombak itu terpental dan kedua tangan Adipati Joyowiseso terasa kaku. Akan tetapi pada saat itu terdengar bentakan nyaring dan Roro Luhito menyerang Pujo dengan cundriknya yang ditusukkan ke arah lambung si orang muda dari samping. Tadinya Roro Luhito terpesona karena sama sekali tidak menyangka bahwa penjahat yang dikejar-kejar ayahnya adalah seorang pemuda yang demikian ganteng dan wajahnya menimbulkan rasa iba dan suka di hatinya. Akan tetapi mengingat bahwa pemuda ini sudah melukai ayahnya dan bahkan hendak membunuh ayahnya, kemarahannya timbul dan ia segera menyerang.!

Tangkisan tombak tadi menggagalkan serangan Pujo, akan tetapi melihat adipati itu terhuyung, ia hendak menambahi dengan serangan ke dua sebelum para penjaga sempat mengurung, akan tetapi mendadak ia mendengar bentakan suara wanita dan disusul sambaran angin serangan. Ia membalikkan tubuh dengan putaran tumitnya dan melihat seorang gadis remaja menyerangnya, ia terheran-heran. Ia tidak pernah tahu bahwa adipati itu mempunyai seorang anak perempuan.

Betapa pun juga, Pujo adalah seorang ksatria, maka tidaklah tega hatinya untuk membunuh wanita, biarpun ia melihat betapa gerakan wanita ini masih amat lemah dan lambat sehingga sekali saja mendahului serangan, ia pasti akan dapat memukul roboh gadis ini. Karena pikiran itulah maka ia lalu menyampok dengan tangan kirinya, menggunakan jari telunjuknya menyentil kulit lengan yang putih halus.

"Aauuhhh...!" Roro Luhito menjerit, cundriknya terlepas dan ia memegangi lengan kanan yang terasa copot sambungannya itu dengan tangan kiri sambil meloncat mundur.....

0 Response to "Badai Laut Selatan Jilid 06"

Post a Comment