Badai Laut Selatan Jilid 69

Mode Malam
Kakek ini menjadi geram dan penasaran. Ia maklum bahwa kali ini ia menghadapi lawan tangguh dan harus mengerahkan seluruh aji dan kepandaiannya, karena pertandingan ini adalah pertandingan mengadu nyawa! Sambil memekik dahsyat, ia meloncat ke depan, mencegat tubuh gadis itu yang baru melayang turun ketika menghindar dari tendangan kakinya. Sebelum tubuh Endang Patibroto tiba kembali di atas tanah, Bhagawan Kundilomuko sudah menyambutnya dengan pukulan kedua tangannya yang dilakukan berbareng, yang kanan menghantam perut, yang kiri menampar ke arah muka.

Pukulan yang amat berbahaya ini menyambar cepat sekali, mengeluarkan hawa yang amat dingin. Endang Patibroto terkejut, tidak menyangka lawannya dapat bergerak secepat itu. Pukulan ke arah muka mudah saja dielakkan, akan tetapi pukulan tangan terbuka dan miring ke arah perutnya tak mungkin dielakkan lagi. Terpaksa ia menangkis ke bawah.

"Dukkk...!"

Tubuh Endang Patibroto yang masih di atas itu terlempar ke belakang dan gadis ini merasa pundaknya kaku dan amat dingin. Ia kaget dan marah sekali, apalagi melihat pendeta tua itu terkekeh mentertawakannya. Dengan muka beringas Endang Patibroto menggosok-gosok kedua telapak tangannya dan mengebutlah asap dari kedua tangannya itu sedang telapak tangannya menjadi makin merah. Itulah aji Wisangnolo, aji pukulan jarak jauh Api Beracun yang ia warisi dari gurunya, Dibyo Mamangkoro!

Menyaksikan kehebatan ini, seketika terhenti suara ketawa Bhagawan Kundilomuko, akan tetapi kekagetannya ini masih kalah oleh rasa kagetnya ketika pada saat itu terdengar suara mendesir dari sebelah kiri. Cepat ia mengebutkan tangan kirinya dan runtuhlah tiga batang jarum hitam. Ia memandang Ki Jatoko dengan mata mendelik, saking marahnya tak dapat mengeluarkan kata-kata, seperti hendak menelan hidup-hidup orang buntung itu.

Ki Jatoko menjadi pucat wajahnya. Tak disangkanya bahwa sang bhagawan itu benar-benar sakti dan tinggi kepandaiannya. Sementara itu, ketika Endang Patibroto melihat bantuan ini, ia bukan menjadi girang, sebaliknya ia memaki, "Iblis buntung! Siapa sudi akan bantuanmu? Berdiamlah kau di situ menanti giliran!"

Setelah berkata demikian, tanpa memperdulkan si buntung yang berdiri di dekat arca dengan muka pucat dan dahi penuh keringat, Endang Patibroto sudah menerjang maju, menggunakan tangan kanan yang penuh dengan saluran tenaga Wisangnala untuk menyerang lawan. Bhagawan Kundilomuko melangkah mundur menghindar, kemudian balas memukul dengan tangan kiri. Endang Patibroto yang sudah mengerahkan Aji Wisangnala, tidak takut bahkan sengaja menangkis dengan tangan kanannya.

"Plakkkk"

Lengan kiri Bhagawan Kundilomuko dan tangan kanan Endang Patibroto bertemu seakan-akan lengket. Mereka berdua tak bergerak seperti patung, namun kedua lengan yang bertemu itu menggigil karena di situ terjadi adu kekuatan yang dahsyat. Hawa dingin yang keluar dari tangan kiri pendeta itu bertemu dengan hawa panas yang keluar dari tangan Endang Patibroto! Beberapa menit mereka dalam keadaan seperti ini, muka Endang Patibroto menjadi kemerahan dan muka pendeta itu makin lama makin pucat.

Sebagai seorang yang memiliki ilmu tinggi, Ki Jatoko maklum apa yang sedang terjadi. Ia bukan seorang bodoh. Kalau Sang Bhagawan Kundilomuko menang, dia tentu akan diserang kakek itu dan melihat kesaktian kakek ini dalam pertandingan melawan Endang Patibroto, ia merasa tidak kuat untuk menandinginya. Sebaliknya, kalau Endang Patibroto yang menang, biarpun mungkin ia dapat membujuknya namun masih tetap ada bahayanya, mengingat akan watak gadis itu yang liar dan ganas. Mengapa kesempatan sebaiK ini tidaK ia pergunakan? Mereka sedang mengadu tenaga sakti, siapa yang mengalihkan perhatian akan kalah. Oleh karena itu, diam-diam kakinya yang buntung bergerak dan ia menyelinap pergi dari tempat itu. Ia harus melarikan diri, lebih cepat lebih baik.

Tak lama setelah bayangan Ki Jatoko menyelinap pergi, terdengar Endang Patibroto mengeluarkan pekik Sardulo Bairowo sedangkan Bhagawan Kundilomuko juga mengeluarkan lengking panjang. Keduanya terhuyung ke belakang, akan tetapi keadaan Bhagawan Kundilomuko lebih payah karena tangan kirinya menjadi lumpuh dan tergantung lemas di samping pinggangnya. Endang Patibroto hanya merasa betapa lengan kanannya kaku dan kesemutan saja.

Sang Bhagawan Kundilomuko menjadi makin marah. Sambil berteriak keras ia melolos ikat pinggangnya yang terbuat dari pada logam kuning seperti emas. Senjata itu ia pegang dengan tangan kanan, diputar di atas kepala dan menerjanglah ia dengan dahsyat.

"Trang-trang..!"

Alangkah kaget hati pendeta ini ketika melihat ikat pinggangnya patah-patah menjadi beberapa potong ketika bertemu dengan sebatang keris yang mengeluarkan cahaya menyeramkan. Kiranya Endang Patibroto yang marah sudah pula mencabut keris pusaka Brojol Luwuk dan dengan mudah keris pusaka ini membabat putus senjata lawan.

"Celaka..!" Teriakan Bhagawan Kundilomuko ini disusul dengan jerit mengerikan ketika ujung keris pusaka Brojol Luwuk menyentuh lambungnya. Kembali keris yang ganas ini telah mendapat mangsa. Seketika tubuh pendeta tua itu roboh dan kering menghitam, tewas di saat itu juga!

Endang Patlbroto menyimpan kerisnya, sepasang matanya mencari-cari dengan pandang mata liar, kemudian tubuhnya berkelebat cepat menyelinap di antara pohon-pohon. Ia tadi juga melihat betapa Ki Jatoko pergi namun karena pertandingan melawan Bhagawan Kundilomuko tadi membutuhkan pencurahan tenaga dan perhatian, terpaksa ia mendiamkannya saja. Belum lama si buntung pergi, maka ia pun cepat mengejar dan mencari. Setelah beberapa kali melayang naik ke atas pohon yang tinggi, akhirnya ia melihat betapa si buntung berlari-lari cepat menuju ke arah barat. Senyum mengejek mengembang di bibirnya ketika Endang Patibroto melayang turun kembali lalu mengerahkan aji berlari cepat melakukan pengejaran ke barat.

Agak lega rasa hati Ki Jatoko setelah ia meninggalkan hutan Gumukmas dan memasuki hutan lain di sebelah barat. Bhagawan Kundilomuko berniat pergi ke Blambangan yang letaknya di sebelah timur. Nusabarung letaknya di seberang pantai selatan dan Jenggala berada di sebelah utara. Agaknya, siapa pun yang menang di antara dua orang itu, tidak akan ada yang mengejar ke arah barat. Hatinya lega, dadanya terlalu lapang. Akan tetapi ia cukup hati-hati dan terus mempergunakan ilmu lari cepat. Ia akan berlari-lari terus sehari penuh itu dan takkan mau berhenti sebelum dunia menjadi gelap yang berarti bahwa ia sudah bebas dan aman betul dari pada ancaman dua orang sakti itu.

"Ha-ha-ha! Siapa yang kalah okol (kuat) harus mencari kemenangan mengandalkan akal" katanya dalam hati, akan tetapi saking girangnya, suara hati ini terucapkan keluar melalui mulutnya. Akan tetapi, bibirnya yang belum tertutup rapat sehabis mengeluarkan kata-kata itu, kini terbuka lebar, bersaing lebar dengan kedua matanya. Kedua kakinya yang bunting otomatis berhenti bergerak, tubuhnya menggigil dan merasa betapa rambut di tengkuknya bergerak-gerak meremang dan leher terasa kering, jantung di dada berdetak-detak seperti genderang.

Tak jauh di depannya, hanya empat meter jauhnya, berdiri Endang Patibroto dengan senyum di bibir, senyum yang dingin mengerikan! Beberapa kali Ki Jatoko berusaha mengeluarkan suara. Kecerdikannya membuat otaknya bekerja cepat dan ia hendak menyelamatkan diri menggunakan kata-kata, akan tetapi celaka, lidahnya serasa menempel dengan telak, mulutnya tak dapat digerakkan! Dan senyum itu makin melebar, makin manis makin mengerikan, sepasang mata yang bening itu bersinar-sinar seperti hendak menembus jantungnya.

"E...eh... Endang... eh, syukurlah... syukur kau menang! Pendeta kementhus (sombong) itu memang patut mampus! Aku... hemm, aku tadi berusaha membunuhnya dengan jarum, tapi... tapi ia terlampau sakti... sehingga tak berhasil... hehheh, Endang, kau sungguh hebat, sakti mandraguna. Sungguh bagaikan dewi kahyangan saja... heh-heh" Ki Jatoko yang sudah pulih kembali perasaannya makin lancar bicaranya, mulutnya menyeringai, sikapnya menjilat-jilat.

"Cukup! Kau manusia jahanam, jangan mengira aku akan terbujuk oleh omonganmu yang manis lagi! Kau sengaja menjebakku di Durgaloka, kau bersekongkol dengan Bhagawan Kundilomuko untuk menangkap aku! Manusia macam engkau ini sudah selayaknya mampus!" Endang Patibroto maju perlahan, senyumnya makin dingin, matanya seperti mata harimau marah. Serasa lolos melayang semangat Ki Jatoko dari raganya. Ia mundur-mundur dan wajahnya pucat.

"Jangan...! Endang Patibroto, jangan...aku...aku tertipu oleh Kundilomuko, aku terbujuk... apakah kau tadi tidak melihat betapa aku marah dan menyerangnya? Aku... aku... tidak berniat busuk terhadapmu, mana aku berani? Selain tidak berani, aku pun tidak sudi berlaku jahat kepadamu, Endang, karena kau sudah baik kepadaku... kau tidak membunuh Ayu Candra..."

"Tutup mulut" Endang Patibroto menerjang maju dan sebuah tamparan tangannya tak dapat dielakkan Ki Jatoko, tepat mengenai pipinya.

"Plakkk!"

Serasa kiamat dunia ini bagi Ki Jatoko. Matanya berkunang-kunang, tubuhnya terhuyung ke belakang. Untung ia seorang yang memiliki kesaktian, kalau tidak tentu sudah pecah kepalanya terkena tamparan itu.

"Endang, jangan bunuh aku... ingat... aku bukan musuhmu... aku sudah membuka rahasia..."

"Wuuuutt...dessss!"

"Aduh mati aku...!" Tubuh Ki Jatoko bergulingan. Untung pukulan pertama yang mengarah pelipisnya dapat ia elakkan dan hanya sebuah tendangan saja yang membuat ia terjungkal dan bergulingan. Kalau pukulan tadi yang mengenainya, belum tentu ia dapat menahannya.

"Memang kau akan mati di tanganku! Hayo bangkit lah. Kau bukan seorang lemah. Kau memiliki kesaktian. Bangkitlah dan mari kita bertanding, jijik aku melihat lawan yang tidak mau bertanding. Jijik aku membunuh orang yang tidak mau melawan. Hayo bangkit!"

"Endang... betul-betulkah kau berniat membunuh aku...?" Suara Ki Jatoko gemetar dan nadanya menimbulkan iba.

"Betul! Mengapa tidak" bentak Endang Patibroto, kedua tangannya sudah menegang, siap mengirim pukulan maut.

"Tidak... tidak! Jangan bunuh aku, aku tidak mau melawanmu. Jangan kau bunuh aku, anakku... jangan!"

"Wuuuuttt..!" Pukulan ini merupakan tamparan yang hebat sekali, akan tetapi untung bagi Ki Jatoko bahwa ia sudah siap dan cepat-cepat ia menggulingkan tubuh di atas tanah terus menggelinding menjauhkan diri. Endang Patibroto dengan langkah ringan mengejar.

"Hayo bangun! Pengecut menjijikkan! Hayo bangun dan pergunakan kepandaianmu. Bukankah kau laki-laki? Hayo kaulawan aku!"

"Tidak! Tidak bisa kau membunuh aku, Endang Patibroto!"

"Mengapa tidak?"

"Lupakah kau akan ceritaku, akan pembukaan rahasia besar dalam kehidupanmu? Ceritaku belum habis, kau ingatkah?"

Berubah wajah Endang Patibroto, keningnya yang bagus bentuknya itu berkerut-kerut, matanya menyinarkan kebimbangan hatinya dan mata itu menjadi basah. Cerita itu mengguncangkan hatinya. Dia bukan puteri Pujo? Ayah kandungnya Jokowanengpati yang telah dibunuh ibunya dan isteri muda Pujo?

"Andai kata benar dongengmu itu, tetap tidak ada hubungannya dengan kau. Justeru karena kau menceritakan dongeng busuk kepadaku, kemudian menjebakku bersama Bhagawan Kundilomuko, maka sekarang kau akan kubunuh?"

Kembali Endang Patibroto menerjang dengan tamparan tangannya yang ampuh. Dua kali ia menampar, sekali kena dielakkan oleh Ki Jatoko, yang kedua kali ditangkis, membuat tubuh si buntung kembali jungkir balik dan roboh. Sebelum Endang Patibroto mengirim pukulan terakhir, Ki Jatoko berteriak, "Jangan bunuh aku! Aku... aku ayahmu! Aku ayah kandungmu, karena akulah Jokowanengpati!"

Tangan yang sudah diangkat ke atas dan sudah menegang penuh tenaga sakti itu, tertahan, menggigil kemudian menjadi lemas dan turun kembali. Sepasang mata itu memandang wajah Ki Jatoko, terbelalak dan kosong, bergerak-gerak bingung, hidungnya kembang-kempis, bibir yang tersenyum dingin kini tertarik seperti orang menderita nyeri yang hebat.

"Kau bohong... kau... kau bohong... kuhancurkan kepalamu..."

"Boleh. Kau pukullah, kau bunuhlah, akan tetapi ingat, aku benar-benar ayah kandungmu. Aku Jokowanengpati dan kau ini anakku, karena dahulu akulah kekasih ibumu, Kartikosari!"

Kini suara Ki Jatoko tenang, hilang rasa takutnya karena ia sudah mempunyai pegangan. Pegangan yang menguatkan hatinya, yang menimbulkan keyakinannya bahwa hanya inilah jalan keluar dari bahaya maut di tangan gadis sakti ini.

"Bohong! Tak mungkin ibu sudi dengan manusia buruk macam engkau! Kau bukan Jokowanengpati karena orang itu sudah tewas di tangan ibuku "

"Ha-ha-ha! Memang mereka mengira aku telah tewas. Memang, ibumu bersama Roro Luhito mengeroyokku di pantai Laut Selatan. Aku terpelanting dan terjatuh ke dalam lautan. Ibumu dan Roro Luhito tak dapat mengejarku. Akan tetapi malang bagiku, seekor ikan hiu besar menyergap dan menyeretku. Biarpun aku berhasil membunuh ikan itu, akan tetapi kedua Kakiku menjadi buntung, tubuhku menjadi cacat dan mukaku rusak. Mereka tentu mengira aku mati karena melihat aku diseret ikan. Kau tanyalah ibumu. Biarpun aku sudah menjadi begini, ibumu tentu akan mengenal aku. Ha ha-ha, karena aku kekasihnya dahulu, aku ayahmu. Ha-haha!" Ki Jatoko tertawa bergelak ketika melihat betapa Endang Patibroto terhuyung ke belakang seperti disambar petir. Dialah yang kini melangkah maju dan menantang,

"Endang Patibroto, kau anakku, karena itu mana mungkin aku berniat buruk dan jahat terhadap dirimu? Tidak, anakku, sama sekali tidak. Kalau kau tidak percaya dan membunuhku, silakan. Ini kepalaku, pukullah. Ini dadaku, tusuklah, aku takkan melawan anak kandungku sendiri!"

"Diam! Cukup!" Endang Patibroto menyumbat kedua telinga dengan jari telunjuknya, matanya dipejamkan. Ki Jatoko tertawa bergelak dan baru berhenti ketika gadis itu membuka matanya.

"Dahulu aku tampan sekali, anakku. Tak usah kau malu, karena dahulu aku jadi seorang laki-laki yang dijadikan rebutan kaum wanita! Kau tanyakan saja kepada ibumu. Wajahmu mirip dengan wajahku ketika itu dan..."

"Cukup! Diam kau dan mari kau ikut bersamaku!"

"Ikut? Ke mana...?" Akan tetapi Ki Jatoko tak dapat melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba Endang Patibroto sudah menyambar tangannya dan menyeretnya dengan berlari cepat sekali. Ki Jatoko tak berdaya meronta, terpaksa ia pun mengerahkan kepandaiannya untuk berlari cepat kalau tidak mau terseret-seret oleh gadis yang hebat ini. Hatinya mulai berdebar, akan tetapi ia mengandalkan kecerdikannya. Dengan akalnya, kali inipun ia terbebas dari pada maut yang mengerikan di tangan Endang Patibroto. Karena itu, ia tidak mau bicara lagi hanya ikut lari, menyerahkan diri kepada nasib dan kecerdikannya…..

********************

Perang kecil yang terjadi di pertapaan Durgaloka berlangsung semalam suntuk dan amat serunya. Biarpun Dewi dan teman-temannya merupakan wanita-wanita terlatih dan rata-rata memiliki ketangkasan, namun karena jumlah mereka kalah banyak sehingga setiap orang harus melayani pengeroyokan dua orang, bahkan Dewi dan adik-adiknya berlima dikeroyok oleh belasan orang, maka mereka menemui tanding yang berat dan banyaklah korban yang jatuh di antara kedua pihak.

Joko Wandiro maklum akan hal ini. Akan tetapi ia hanya tega merobohkan para pengeroyok laki-laki saja karena ia merasa ragu-ragu kalau harus membunuh gadis-gadis yang mengeroyoknya. Baru setelah ia mendengar jerit Dewi menyebut namanya, la terkejut dan cepat kaki tangannya bekerja merobohkan para pengeroyoknya. Hanya dengan membuka jalan darah, merobohkan belasan orang di sebelah kiri, ia dapat lolos dari kepungan. Sambil menyerang kanan kiri dan depan, ia maju terus menuju ke arah suara panggilan Dewi.

Betapa sedih hatinya ketika melihat bahwa anak buah Dewi banyak yang roboh tewas. Pertempuran tinggal beberapa kelompok dan yang terbanyak adalah mereka yang mengeroyoknya. Kini Joko Wandiro menjadi marah. Apalagi ketika ia menemukan Dewi rebah telentang dengan tombak menancap di lambungnya, Joko Wandiro mengeluarkan pekik dahsyat dan mengamuk seperti seekor banteng terluka. Anak buah pertapaan Durgaloka terkejut dan gentar, lalu mereka yang masih belum terluka melarikan diri tersebar ke segala penjuru. Sinar matahari mulai menerangi bumi. Hati Joko Wandiro makin hancur setelah ia dapat melihat keadaan Dewi dan teman-temannya. Dewi masih merintih-rintih ketika ia pangku kepalanya.

"Dewi..! Kau.. terluka..." tanya Joko Wandiro lirih sambil memangku kepala gadis itu. Sekali pandang saja ia tahu bahwa gadis ini tak mungkin dapat ditolong lagi. Tombak yang menusuk lambung amat dalam, hampir tembus!

Dewi membuka matanya. Mulut yang tadinya menyeringai kesakitan itu kini tersenyum, bibirnya bergerak-gerak lemah,

"Joko.. kita... kita menang..."

Joko Wandiro terharu, mengangguk dan mendekap kepala yang tersenyum-senyum itu ke dadanya. Ketika ia menengok ke kanan kiri, ia melihat bahwa Lasmi, Mini, Sari, dan Sundari juga sudah roboh tak bernyawa lagi. Ia terisak dan memejamkan matanya.

"Joko..."

Ia membuka mata, memangku kepala dan memandang wajah Dewi.

"Joko... tak perlu kau bersedih. Kami berkorban dengan segala kerelaan hati...kami... kami puas... kami... telah menemukan kau... seorang yang... patut kami bela... kami mencintamu, Joko...!"

Kedua mata Joko Wandiro menjadi basah. Teringatlah ia betapa lima orang gadis ini selalu mengharapkan balasan cumbu rayu mereka. Akan tetapi ia selalu berteguh hati tidak melayani mereka. Kini ia merasa menyesal, ia selalu mengecewakan hati mereka, padahal mereka itu benar-benar mencintanya, bersetia sampai mati!

Tanpa ia sadari, ia menundukkan mukanya dan mencium mulut yang menyatakan cinta kasih di ambang maut itu. Kini ia mencium penuh perasaan, penuh cinta kasih, penuh berahi. Ia merasa dengan bibirnya betapa mulut itu terbuka, mengeluh dan keluar sedu-sedan dari dada Dewi yang terengah-engah. Ketika ia melepaskan ciumannya dan memandang, ternyata Dewi sudah tak bernafas lagi, sudah mati dalam keadaan masih tersenyum bahagia! Memang bahagialah siapa saja yang mati dengan keyakinan bahwa dirinya mencinta dan dicinta!

Tiga puluh orang anak buah Dewi kini tinggal dua belas orang saja. Yang lain sudah tewas. Joko Wandiro berulang kali menghela napas panjang penuh penyesalan dan kengerian. Mayat-mayat bergelimpangan. Mayat anak buah Dewi yang telah bertempur mati-matian, mati dengan senjata di tangan, dan mayat anak buah Bhagawan Kundilomuko, banyak yang telanjang bulat, menyeramkan. Ia juga menyesal sekali melihat mayat Sang Wiku Jaladara. Banyak sekali yang tewas dalam pertempuran semalam. Tidak kurang dari enam puluh orang anak buah Durgaloka tewas. Dua belas orang anak buah Dewi yang masih hidup semua menangisi teman-teman yang tewas, Joko Wandiro menjadi makin berduka. Tiba-tiba terdengar suara memanggil,

"Kakang...!

Joko Wandiro menoleh dan sejenak terusirlah kedukaannya, wajahnya berseri ketika ia menghampiri dan berseru, "Ayu Candra...!"

Mereka saling tubruk, dan saling peluk. Ayu Candra menangis sesenggukan di dada kakaknya. Tadi ketika ia siuman dan sadar akan keadaan dirinya, melihat pertempuran hebat, ia menyelinap mencari pakaiannya yang lalu dipakainya untuk mengganti pakaian sutera tipis yang menjijikan itu. Ia masih pening, masih belum sadar benar dan masih bingung. Maka ia menjauhkan diri lalu duduk bersila, bersamadhi untuk memulihkan tenaga dan mengusir sisa-sisa pengaruh buruk yang menguasai dirinya.

Ketika ia sadar dari samadhinya, perang sudah berhenti, keadaan sunyi, hanya terdengar suara beberapa orang wanita menangis. Ia keluar dari tempat sembunyinya, melihat bahwa malam telah berganti pagi dan alangkah bahagia hatinya ketika ia melihat Joko Wandiro.

"Terima kasih kepada Hyang Maha Agung yang telah melindungimu sehingga kita dapat bertemu dalam keadaan selamat adikku," kata Joko Wandiro sambil mengelus rambut yang harum dan halus itu, membiarkan adiknya sesenggukan melepas perasaan hati.

"Aduh, kakang, alangkah banyak derita yang kualami... semua karena aku tidak menurut nasehatmu kakang. Aku menyesal...maafkan aku...

"Husshhh, sudahlah, adikku sayang. Kau perlu mengaso dulu. Kelak kita bicara karena sekarang aku harus mengurus semua jenazah yang begini banyak ini"

Joko Wandiro melepaskan Ayu Candra yang ia suruh mengaso, kemudian ia minta bantuan dua belas orang anak buah Dewi untuk menggali lubang-lubang dan mengubur semua jenazah baik kawan maupun lawan, secara sederhana. Khusus untuk jenazah Wiku Jaladara, Dewi, Lasmi, Mini, Sari, dan Sundari mereka buatkan tempat kubur terpisah. Sehari penuh mereka bekerja dan baru selesai setelah matahari tenggelam. Joko Wandiro lalu mengumpulkan dua belas orang wanita itu dan berkata,

"Kalian semua dengarlah nasehatku baik-baik. Setelah Dewi dan adik-adiknya tewas dalam pertempuran semalam, kiranya tidak ada perlunya lagi kehidupan dalam hutan di Anjasmoro yang kalian tempuh selama ini dilarutkan. Seperti telah menjadi peraturanku, kalian masing-masing berhak untuk hidup wajar dalam masyarakat umum, mencari jodoh dan hidup berumah tangga membentuk keluarga. Kalian telah berjasa besar. Tempat ini, di dalam pondok Bhagawan Kundilomuko itu, banyak terdapat barang-barang berharga. Nah, kalian ambil dan bawa, bagi rata di antara kalian dan pergilah kalian, kembali ke masyarakat ramai. Kuanjurkan untuk kembali ke keluarga masing-masing."

Sambil menangis dua belas orang wanita itu mentaati perintah Joko Wandiro, mengumpulkan emas intan dan benda berharga yang banyak terdapat di Durgaloka, kemudian setelah berpamit mereka pergi berbondong meninggalkan tempat itu, menuju penghidupan baru. Setelah semua wanita Gunung Anjasmoro itu pergi, Ayu Candra yang sudah pulih kembali kesehatannya lalu menghampiri Joko Wandiro yang masih termenung karena belum lenyap kedukaannya oleh jatuhnya demikian banyak korban dalam pertempuran semalam.

"Kakang Joko Wandiro, kau berduka karena akibat perbuatanku, ya?" Suara gadis itu penuh haru dan penyesalan, tangannya merangkul lengan Joko Wandiro.

Joko Wandiro menoleh, lalu merangkul pundak gadis itu. "Tidak karena perbuatanmu, Ayu. Jatuhnya banyak korban ini adalah sewajarnya. Untuk memberantas kejahatan harus pula berani berkorban. Dewi dan saudara-saudaranya tewas sebagai wanita-wanita perkasa yang patut dipuji, demikian pula Wiku Jaladara sudah memenuhi kewajibannya sebagai seorang suci. Aku tidak marah kepadamu, adikku, bahkan aku bahagia sekali dapat bertemu denganmu dalam keadaan selamat. Mengapa engkau meninggalkan aku, adikku? Bencikah engkau kepadaku?"

Ayu Candra memundurkan mukanya dan dua butir air mata menetes turun. Ia menarik napas panjang berkali-kali kemudian berkata lirih, "Aku seperti menjadi buta karena bujukan dan hasutan Ki Jatoko, manusia buntung yang amat keji dan jahat itu. Kau maafkan aku, kakang. Terus terang saja semenjak berpisah denganmu di Sarangan... semenjak... semenjak kau menjadi... eh, kakak kandungku... aku kecewa dan... seperti membencimu. Kemudian ditambah oleh hasutan Ki Jatoko, aku makin curiga kepadamu... ah, aku menyesal, kakang Joko..."

Joko Wandiro memegang kedua tangan gadis itu. Sejenak mereka saling pandang dan rasa haru menyelinap ke dalam jantung masing-masing. Betapa pun, keduanya harus mengaku di dalam hati bahwa mereka tak dapat melenyapkan cinta kasih diantara mereka. Hanya oleh kenyataan bahwa mereka bersaudara sekandung, mereka memaksa diri, memaksa menyelimuti rasa cinta kasih dengan rasa persaudaraan yang dipaksakan. Hal ini menimbulkan rasa nyeri seperti ditusuk-tusuk jarum dalam hati.

"Ki Jatoko memang seorang jahat yang amat berbahaya dan curang. Engkau yang masih belum berpengalaman sampai terkena hasutan dan terbujuk, hal ini tidak dapat aku menyalahkan engkau, Ayu. Bahkan seorang gadis sakti mandraguna dan ganas seperti Endang Patibroto pun jatuh ke dalam bujukannya sehingga sampai menjadi tawanan di sini. Apalagi engkau yang jujur dan polos. Ah, tentu engkau banyak menderita kesengsaraan, adikku. Kalau saja dahulu kau lebih percaya kepadaku, takkan terjadi semua itu."

Ayu Candra memberengut. Setelah berkumpul dengan Joko Wandiro, timbul pula gaya manjanya. Entah mengapa, di dekat, pemuda ini. selalu ia mempunyai hasrat ingin bermanja, baik dahulu sebagai kekasih maupun kini sebagai adik!

"Kalau dipikir, engkau pula yang menjadi biang keladinya, kakang! Mengapa pula engkau tidak mau menuruti keinginan hatiku membalas dendam kepada mereka yang memusuhi ayahku dan ibunda kita? Mengapa engkau tidak membolehkan aku menuntut balas kepada orang yang membunuh ayah bundaku?"

"Panjang sekali ceritanya, adikku. Kalau kau sudah mendengar semua penuturanku, tentu kau akan mengerti dan akan sependapat dengan aku bahwa permusuhan itu tidak semestinya dilanjutkan sampai berlarut-larut. Terputus atau tersambungnya rantai karena tergantung dari pada kita sendiri. Kalau balas-membalas dan permusuhan dilanjutkan, takkan ada habisnya. Kita tidak boleh hanya dipengaruhi oleh akibat dan bertindak tanpa menyelidiki sebabnya terlebih dahulu. Adikku, kematian kedua orang tuamu adalah akibat dari pada sebab-sebab yang amat panjang dan nanti akan kuceritakan kepadamu. Sekarang lebih baik kita meninggalkan tempat ini."

"Ke mana, kakang?"

"Kau ikut lah saja, aku akan pergi ke Pulau Sempu."

Ayu Candra kelihatan kaget dan ia melepaskan tangannya dari pegangan Joko Wandiro, "Ke Pulau Sempu? Di sana tinggal Kartikosari dan Roro Luhito, musuh besarku!"

Joko Wandiro segera merangkul adiknya. "Ssttt, kau masih belum dapat melenyapkan pengaruh bujukan beracun dari mulut Ki Jatoko. Kau percayalah kepadaku dan sebelum kau kuajak bertemu dengan mereka, kau akan mendengarkan cerita yang menjadi sebab kematian ayah bundamu, Ayu."

Sejenak Ayu Candra diam, bingung dan ragu. Kemudian ia menubruk Joko Wandiro dan menangis di dada pemuda itu. Joko Wandiro mengerti akan perasaan adiknya, maka ia hanya mengelus-elus rambut yang halus itu sambil meramkan mata menahan hati yang seperti akan mencair oleh rasa cinta kasih. Akhirnya Ayu Candra dapat menekan perasaannya dan berkata,

"Aku menurut, kakang. Mulai sekarang aku akan mentaati segala perintahmu, kau... kau pengganti orang tuaku dan apa pun yang kau katakan, akan kutaati."

Joko Wandiro mencium rambut di ubun-ubun kepala gadis itu. "Aku tahu, kau seorang gadis yang mulia, Ayu. Mari kita pergi, tidak enak lama-lama berada di tempat yang sudah berubah menjadi kuburan ini."

Mereka bergandeng tangan meninggalkan tempat itu. Ketika hendak keluar dari hutan, mereka melihat seekor kuda yang sedang makan rumput. Kuda itu cukup baik, lengkap dengan pelananya.

"Ah, tentu ini kuda Durgaloka, yang lain-lain tentu telah melarikan diri dalam keributan tadi. Lumayan kuda ini, lebih baik kau naiki, adikku. Malam hampir tiba, mari kita cepat-cepat pergi dari sini."

"Dan kau, kakang?"

"Aku lari di sebelahmu, apa kau kira kalah oleh kuda?"

"Hi-hik, kau memang seperti kuda!" Ayu Candra sudah mulai timbul kejenakaannya.

"Hushh, masa kakakmu seperti kuda? Kalau kakaknya kuda, adiknya apa?" Joko Wandiro mengimbangi kelakar adiknya.

Ayu Candra tersenyum dan melompat ke atas pelana kuda, lalu membalapkan kuda di sebelah Joko Wandiro yang mengerahkan ilmu lari cepat menuju ke barat. Setelah gelap baru mereka berhenti di bawah pohon besar untuk melewatkan malam, Joko Wandiro menangkap seekor ayam hutan. Malam itu setelah makan bakar ubi dan daging ayam hutan, mereka bercakap-cakap dan Joko Wandiro mulai menceritakan kepada Ayu Candra akan peristiwa belasan tahun yang lalu. Ia menceritakan hal yang ia dengar dari penuturan bibinya, Roro Luhito dan dari Kartikosari.

"Terus terang saja, Ayu, bahwa pokok pangkal segala peristiwa ini adalah karena kesalahan dua orang, yaitu yang pertama ayah kandungku sendiri, mendiang Raden Wisangjiwo, dan ke dua adalah seorang bernama Jokowanengpati. Paman Pujo dan isterinya, bibi Kartikosari yang mula-mula menjadi korban kejahatan."

Mulailah ia menuturkan betapa Kartikosari dan Pujo yang sedang bertapa itu diganggu oleh kedatangan Raden Wisangjiwo hingga terjadi pertempuran dan yang membuat Pujo dan Kartikosari roboh pingsan. Ketika sadar Pujo tahu bahwa Kartikosari telah diperkosa orang yang tentu saja oleh mereka berdua dianggap bukan lain orang kecuali Raden Wisangjiwo.

Perbuatan keji ini menimbulkan dendam sehingga Pujo yang hendak membalas dendam menyerbu ke Selopenangkep, kemudian karena Pujo tidak menemukan Wisangjiwo, dalam sakit hati dan kebencian membuta ia menculik Listyakumolo bersama anaknya.....

0 Response to "Badai Laut Selatan Jilid 69"

Post a Comment