close

Badai Laut Selatan Jilid 49

Kho Ping Hoo
-------------------------------
----------------------------
Pandang mata manusia mengandung getaran-getaran yang kuat, apalagi kalau pandang mata itu didorong perasaan. Juga manusia diperlengkapi alat-alat halus untuk menerima getaran ini, menangkap dengan indera ke enam. Makin bersih batin manusia, makin kuat indera ke enam ini sehingga membuat ia mungkin menerima getaran-getaran yang paling halus, memungkinkan ia melihat yang tak terlihat mata, mendengar yang tak terdengar telinga.

Ayu Candra yang tadi sedang tenggelam dalam lamunannya sendiri, sampai-sampai tidak memperhatikan getaran-getaran halus yang semenjak tadi menyerangnya, kini mulai merasakan getaran itu dan membuatnya melakukan gerak otomatis membalikkan tubuhnya secara tiba-tiba ke belakang. Dua pasang mata bertemu pandang. Dua pasang mata yang bersinar sama tajam, penuh getaran. Sampai lama dua pasang mata itu bergelut pandang, yang satu terpesona yang ke dua kaget dan heran.

Menyaksikan tubuh dara itu dari belakang sudah hebat, kini menatapnya dari depan, benar-benar menakjubkan, membuat kerongkongan Joko Wandiro serasa kering tercekik sehingga terpaksa ia berusaha menelan ludah. Kemudian, terdorong oleh keharuan dan perasaan kagum terpikat yang sukar dilukiskan dengan kta-kata, terdorong pula oleh rasa kesadaran bahwa ia telah bersikap tidak sebagaimana mestinya dan melakukan pelanggaran susila yang semenjak ia kecil sudah digariskan oleh guru-gurunya, mendadak Joko Wandiro menunduk dan menyembah!

"Duh sang dewi, hamba mohon ampun akan kelancangan hamba, berani menjatuhkan pandang mata terhadap paduka."

Sejenak Ayu Candra tertegun. Sinar kemarahan yang mulai menyelubungi mukanya, perlahan-lahan lenyap, berganti keheranan, tidak mengerti, kemudian setelah sikap pemuda yang amat aneh itu dapat ia duga maksudnya, ia tersenyum lebar dan menutupkan tangan kiri ke depan mulut menahan ketawa geli.

"Hi-hi-hik! Kau sangka aku ini dewi penjaga telaga? Hi-hik!"

Joko Wandiro mengangkat muka memandang dan hampir saja ia terjungkal ke dalam telaga! Setelah kini tersenyum, wajah itu makin hebat! Dan dara itu tertawa dan mengeluarkan kata-kata, ia menjadi sadar akan keadaannya yang tidak sewajarnya, menyeretnya kembali kealam dunia dari alam mimpi. Seketika wajahnya menjadi kemerahan dan rasa malu membuat mukanya terasa dingin panas tidak keruan! Ia hanya bisa memandang dengan mulut melongo dan hal ini kembali mendatangkan kemarahan di hati Ayu Candra karena kembali timbul prasangka bahwa pemuda itu tentu mengintainya dengan sengaja untuk bersikap kurang ajar

"Heh! mau apa kau di situ? Kau mau mengintai orang mandi, ya? Kurang ajar...!"

Joko Wandiro yang telah sadar bahwa ia berhadapan dengan seorang manusia, seorang dara jelita, seakan-akan disiram air dingin. Ia gelagapan, bingung, malu dan gugup. Jelas tertekan dalam benaknya betapa ia telah berlaku terlalu kurang ajar, melanggar tata susila. Dengan gagap-gugup ia menyangkal, "Tidak...tidak...! Aku tidak berniat kurang ajar...!"

Diam-diam Ayu Candra memperhatikan pemuda itu dan ia pun kagum. Pemuda ini amat tampan dan muka seperti itu tak mungkin kurang ajar! Akan tetapi dengan mulut cemberut ia mendesak, "Kalau tidak mau kurang ajar, mau apa kau di sini?"

"Aku mau...mau mandi...!"

Ayu Candra membentak, "Mana ada orang mandi di darat?"

"aku...belum...sekarang juga...mandi..."

Dengan gagap dan gugup Joko Wandiro yang hendak menyembunyikan rasa malunya itu bangkit dan segera pergi ke sebelah kanan, terpisah sepuluh meter dari tempat dara itu mandi, kemudian ia melompat ke air tanpa membuka pakaian pula!

"Eeeeeeh, awas di situ amat dalam...!"

Ayu Candra menjerit kaget, akan tetapi sudah terlambat, pemuda itu sudah ambyur ke air sehingga air muncrat tinggi ketika terdengar suara menjebur. Tubuh pemuda itu tenggelam dan tak tampak lagi sampai permukaan air menjadi tenang kembali dan hanya tampak air berbunyi blekutuk-blekutuk karena ada hawa naik dari bawah.

"Celaka...!" Ayu Candra berseru kaget Melihat cara pemuda tadi terjun ke air, begitu kaku dan dengan perut lebih dulu, dapat diduga bahwa pemuda itu tidak pandai berenang, kini ternyata pemuda itu tenggelam dan tidak muncul kembali!

Gerak gerik pemuda tadi amat aneh. Kalau bukan orang yang miring otaknya tentu orang yang mempunyai penyakit ayan! Menurut ayahnya, penyakit ini hebat sekali dan kabarnya orang yang mempunyai penyakit ayan sama sekali tidak boleh dekat air yang dalam karena sekali tergelincir ke dalam air di waktu penyakitnya kumat, orang itu tentu akan mati!

Teringat akan hal ini, bangkit sikap pendekar dalam diri Ayu Candra. Bagian di mana pemuda tadi terjun amat dalam, kata ayahnya dalamnya setinggi pohon bambu tua! Ia lalu berenang ke depan, ke bagian telaga yang dalam di mana pemuda tadi terjun, kemudian mengambil napas panjang dan menyelam.

Dengan gerakan kedua kakinya disertai tenaga dalam yang amat kuat, Ayu Candra terus menyelam. Ia membuka mata di dalam air dan untung baginya bahwa sinar matahari ada yang menimpa bagian itu dan air amat jernih sehingga ia dapat melihat ke bawah. Tidak jauh di sebelah bawah ia melihat benda hitam bergerak-gerak. Tidak salah lagi, tentulah itu pemuda yang gendeng tadi, atau mungkin sedang sekarat karena penyakit ayannya kumat.

Dengan gerakan kaki dan tangan, Ayu Candra menyelam terus dan setelah dekat, benar saja ia melihat bayangan kepala orang. Menolong orang kalap (tenggelam di air) sekali-kali tidak boleh sembrono, pikirnya, teringat akan nasehat ayahnya. Kalau yang ditolong itu saking takutnya merangkul dan memeluk mencari pegangan, bisa celaka pula orang yang berusaha menolong. Harus dijambak rambutnya, atau dibikin tak berdaya, atau dipukul sekali biar pingsan!.

Ayu Candra meragu. Untuk menempiling kepala itu ia khawatir kalau-kalau pukulannya terlalu keras dan yang dipukul akan mampus sama sekali! Ketika tangannya meraih ke depan, jari-jari tangannya mencengkeram muka dan menangkap hidung. Ia merasa betapa muka itu hangat dan dari hidungnya keluar hawa yang menimbulkan gelembung-gelembung air, maka ia cepat merangkul leher orang itu dan memiting (menjepit) dengan lengan erat erat. Kalau ia meronta dan hendak mencengkeram, kuperkeras jepitanku pada lehernya, hendak kulihat apakah ia takkan tercekik pingsan, pikirnya.

Dengan lengan kiri memiting leher, Ayu Candra lalu menjejakkan kedua kaki bergantian ke bawah dan tangan kanannya membantu. Memang hebat tenaga dalam dara ini sehingga dalam waktu singkat, kepalanya sudah tersembul keluar dari permukaan air. Ia mengguncang-guncang kepala dan menghapus air dari muka dengan tangan kanan, kemudian melihat sejenak ke arah yang menempel di dadanya.

Orang yang dipiting lehernya itu matanya meram, napasnya terengah-engah akan tetapi tidak mati. Ayu Candra lalu berenang ke pinggir dan setelah tiba di pinggir, di tempat dangkal, ia melepaskan pitingannya dan menyeret orang itu dengan mencengkeram leher bajunya, menariknya ke darat. Akan tetapi, perut orang itu sama sekali tidak kembung, tidak terisi air seperti biasanya orang yang tenggelam. Bahkan begitu sampai di darat, pemuda itu membuka matanya dan bangkit duduk! Matanya terbelalak lebar, mukanya kemerahan dan pemuda itu memandangnya dengan bengong.

Ayu Candra melihat arah pandang mata pemuda itu ditujukan ke dadanya. Cepat ia menunduk dan hampir ia menjerit ketika melihat betapa kainnya telah merosot turun sampai ke pinggang membuka bagian dadanya yang hanya sebagian tertutup rambutnya. Secepat kilat tangan kirinya menarik kainnya ke atas dan tangan kanannya menampar.

"Plakk!"

Tamparan itu keras sekali dan diam-diam Joko Wandiro kaget bukan main. Tidak disangkanya dara ini memiliki tenaga yang demikian hebatnya. Untung dia memiliki kesaktian, kalau orang biasa menerima tamparan sehebat itu, tentu akan rontok giginya! Akan tetapi, karena tidak menyangka-nyangka sehingga ia tidak mengerahkan tenaga, untuk menerima tamparan, pipinya terasa panas dan perih juga.

Joko Wandiro mengangkat tangannya, mengusap-usap pipinya yang kena tampar. Ia tidak tahu bahwa dara itu lebih terkejut dan lebih heran dari padanya. Ayu Candra merasa kaget melihat betapa pemuda yang disangkanya gendeng (setengah gila) atau berpenyakit ayan itu menerima tamparannya seperti orang yang pipinya dihinggapi lalat saja agaknya! Padahal tadi karena malu dan marah ia telah melakukan penamparan yang cukup keras untuk membikin gigi rontok bibir pecah Ataukah tanpa disadarinya ia merasa kasihan dan menampar tidak sekeras yang ia kehendaki semula?

Kini Joko Wandiro sudah dapat menentramkan hatinya kembali. Agaknya tamparan tadi mengusir semua sisa kegugupan dan kecanggungan yang masih ada di hatinya. Akan tetapi kalau teringat akan penglihatan yang baru saja terbentang di depan matanya, ia merasa ubun-ubun kepalanya berdenyut-denyut dan kedua pipinya terasa panas. Kini ia bangkit berdiri dan berkata,

"Sungguh aku tidak mengerti sama sekali mengapa engkau begini marah kepadaku. Sudah kuakui kesalahanku tadi yang tidak sengaja datang ke tempat ini dan mendapatkan kau sedang berjalan seorang diri lalu mandi. Aku sudah minta maaf dan aku pun hendak mandi, sudah menjauhimu dan..."

"Cerewet! Kau orang tak kenal budi, tak tahu terima kasih dan mata keranjang!" Ayu Candra berkata marah sekali.

Joko Wandiro menekan jantungnya yang berdebar keras. Bukan main! Marah-marah malah bertambah manisnya. Heran ia mengapa hatinya berhal demikian. Mengapa ia kini sekali bertemu tergila-gila kepada seorang wanita? Apakah ini yang namanya mata keranjang?

"Benar mata keranjang!" Joko Wandiro menampar kepalanya dan ia kaget sendiri karena kata-kata dan gerakannya ini di luar kehendaknya. Saking kerasnya berpikir, ia sampai mengeluarkan suara hati melalui mulutnya tanpa disadarinya.

"Apa...kau bilang...?"

Ayu Candra bertanya dengan mata terbelalak lebar, memandang penuh perhatian. Tidak salah lagi. Orang ini otaknya miring! Sayang sekali, muda belia yang tampan sekali ini, yang memiliki sifat gagah juga karena ditampar sama sekali tidak mengeluh, ternyata tidak beres ingatannya. Tentu saja Joko Wandiro makin gagap.

"Ku...kumaksudkan...eh, biarpun mata...eh, sama sekali tidak mata keranjang, tapi aku...aku bukan tidak mengenal budi dan sama sekali tidak berniat kurang ajar, dan..." berhenti dan bingung sendiri.

Mata gadis itu yang membingungkannya. Matanya begitu lebar, begitu jernih, begitu indah. "Apa? Engkau hampir mampus di kedung itu, susah payah aku menolongmu. Akan tetapi kau...kau memandang...dengan mata melotot! Apa itu namanya tahu terima kasih, mengenal budi? Apa itu namanya tidak mata keranjang dan kurang ajar?"

"Memandang...? Melotot...?"

"Ya! Biji matamu tadi hampir terloncat keluar, melotot memandang...memandang...hemm, ini!"

Ayu Candra menuding ke arah dadanya dan tiba-tiba pipinya menjadi merah sekali. Kedua pipi Joko Wandiro lebih merah dari pada pipi dara itu. Ia menundukkan mukanya dan menjawab,

"Bu...bukan aku yang menyebabkan kain...merosot."

"Tentu saja, akan tetapi matamu memandang!"

Joko Wandiro menjadi penasaran juga. Gadis ini hebat, cantik jelita dan menarik, akan tetapi terlalu galak dan mau menang sendiri.

"Aku tidak sengaja memandang, habis...di depan mata sih. Dan lagi, untuk Apa punya mata kalau tidak untuk memandang? Kalau aku tahu bakal menjadikanmu marah, aku lebih senang meramkan mataku tadi. Kaukira aku ini begitu ceriwis untuk memandangi... anu orang?"

Diserang begini, Ayu Candra kewalahan. Bagaimana pun juga, pemuda itu tak dapat dipersalahkan karena begitu membuka mata melihat dadanya terbuka di depannya.

"Mata sih boleh dipakai memandang, tapi kau memandang sampai melotot!"

Wah benar-benar dara yang mau menang sendiri. "Kuharap engkau sekali lagi suka maafkan aku. Sesungguhnya, ketika kau berada di hutan sana tadi, aku menjadi amat heran dan kaget melihat betapa seorang dara berada di tempat sesunyi ini sendirian saja. Sungguh mati, aku menyangka kau bukan manusia, sebangsa peri atau bidadari kahyangan, maka scperti orang bermimpi aku mengikutimu sampaai di sini. Kau lalu mandi dan aku...aku menjadi gugup ketika kau tegur. Aku pun hendak mandi..."

"Gila! Mana ada orang mandi berpakaian lengkap begitu, langsung terjun tanpa melihat air itu dalam atau tidak? Nyaris engkau mampus!"

"Hemm, agaknya ada salah pengertian di sini. Aku tadi sudah minta maaf, akan tetapi mengapa engkau tidak membiarkan aku mandi dengan aman? Aku sudah menjauhimu akan tetapi engkau malah mendekat, menyusul ke bawah air dan dengan sewenang-wenang engkau memiting leherku sampai hampir patah, menyeretku ke darat. Belum juga kutegur perbuatanmu ini, baru saja mataku kubuka, kau sudah menamparku. Coba, kalau perbuatanmu terhadapku ini tidak sewenang-wenang, Apa namanya?"

Ayu Candra membelalakkan matanya lagi dan kembali Joko Wandiro merasa jantungnya jungkir balik. Celaka, pikirnya sambil mengalihkan pandang agar ia jangan menentang mata yang sedemikian indahnya. Kalau terlalu sering ia membelalakkan matanya, aku akan gila, pikirnya

"Jadi kau...kau tidak gendeng...?"

"Gendeng...?!?" Joko Wandiro berteriak kaget.

"Ya, gendeng, begini...!" Ayu Candra menaruh telunjuk di depan dahi, melintang. Aih, aih...orang ini terlalu amat, pikir Joko Wandiro dan kini ia yang melototkan matanya.

"Kukira engkau tadi gendeng atau setidaknya mempunyai penyakit ayan"

"ayan...? Aku... ayan...?!?"

Cuping hidung Joko Wandiro mulai kembang-kempis. Dara ini benar-benar lancang mulut. Terlalu amat sangat melewati ukuran! Melanggar batas Kesabarannya.

"Kau jangan main-main, memaki orang seenak perut sendiri saja!" ia balas menghardik.

"Habis engkau yang bikin orang mendongkol! Kalau tidak gendeng tidak ayan, kenapa pura-pura tenggelam?"

"Siapa yang pura-pura? Memang aku menyelam. Kau kira hanya kau seorang di dunia ini yang pandai berenang dan menyelam? Hayo kita bertaruh, kita berlumba renang atau kuat-kuatan menyelam!" Joko Wandiro menantang.

Akan tetapi Ayu Candra tidak memperhatikan tantangannya. Dara ini agaknya teringat akan sesuatu dan kembali matanya terbelalak. Aduh, jangan lagi! Joko Wandiro mengeluh dalam hati dan mengalihkan pandang.

"Kalau begitu...ketika kau kutolong tadi, ketika kurangkul..."

"Maksudmu kaupiting sampai leherku hampir patah tadi?"

"Ketika itu...engkau...tidak pingsan?"

"Siapa bilang pingsan! Baru enak-enak menyelam kau seret saja aku!"

"Kenapa kau pura-pura pingsan? Kenapa kau diam saja? Kau sengaja, ya? Kau mempergunakan kesempatan selagi aku salah menduga kau tenggelam, kau membiarkan lehermu kurangkul...mukamu...kudekap...kau, manusia kurang ajar!"

Ayu Candra kini marah sama sekali dan ia sudah menerjang dengan kedua tangan dikepal. Melihat kedudukan dara ini memasang kuda-kuda, kembali Joko Wandiro terkejut. Agaknya dara ini selain cantik jelita dan mau menang sendiri, juga memiliki kepandaian pula.

"Eh, eh...sabar dulu! Jangan mau menang sendiri dan jangan kukuh akan kebenaran sendiri. Kau memiting leherku erat-erat sampai hampir tercekik. Aku berada dalam air ketika kau tiba-tiba memitingku. Habis Apa yang harus kulakukan ketika itu? Apakah aku harus memberontak dan melawanmu? Kalau kulakukan itu, tentu kita berdua akan celaka. Apakah harus berteriak? Di dalam air mana dapat? Kau sendiri yang salah, tanpa periksa lebih dulu tahu-tahu menjatuhkan dugaan aku orang edan atau orang ayan yang akan mampus tenggelam. Maksud hatimu memang mulia akan tetapi pelaksanaannya yang keliru. Betapa pun juga, kau telah bermaksud menolong nyawaku dan untuk itu biarlah aku memaafkan maki-makianmu tadi dan aku menghaturkan banyak terima kasih."

"Kau bisa saja membela diri. Lidah memang tak bertulang!"

"Kalau lidah bertulang, tentu sukar bergerak dalam mulut," Joko Wandiro membantah karena merasa jengkel juga.

"Kau tidak meronta dan berteriak di dalam air siapa peduli? Akan tetapi ketika sudah tersembul di atas permukaan air, mengapa kau masih enak-enak saja, pura-pura memejamkan matamu? Hayo jawab, bukankah ini kau sengaja menyalahgunakan pertolongan orang untuk melakukan penghinaan?"

Joko Wandiro menarik napas panjang.

"Agaknya kau berkeras hati untuk memaksa aku mengaku kurang ajar. Apa boleh buat, engkau sudah menamparku, biarlah aku berterus terang. Ketahuilah, ketika kita tersembul di permukaan air, aku memang membuka mata. Baru kuketahui bahwa aku hemm bahwa mukaku tadi ah, bagaimana ini, terus terang saja, aku tidak berani membuka mata atau membuka suara. Aku terlalu bingung, terlalu...ngeri! Ah, sudahlah. Aku jadi bingung kau desak-desak. Apakah kau tidak mau memaafkan aku?"

Sejenak Ayu Candra membuang muka dengan mulut cemberut. Apa yang harus ia lakukan terhadap pemuda ini?

"Engkau menggigil. Berdiri di sini dengan kain basah tertiup angin dingin, bisa masuk angin. Pulanglah, kalau engkau punya rumah, dan jangan pikir lagi. Aku bersedia minta maaf dan biarlah kuakui lagi kesalahanku."

Suara Joko Wandiro kini amat halus dan penuh kesabaran, jelas ia mengalah. Ayu Candra mengangkat muka memandang. Kini wajah pemuda itu amat tampan dan ia heran melihat pandang mata yang demlkian tajam, seperti mata harimau.

"Aku sudah biasa dengan hawa dingin, tidak apa-apa. Engkau malah yang bisa sakit demam, pakaianmu basah kuyup."

Joko Wandiro tersenyum, girang hatinya. Agaknya dara ini tidak segalak yang ia sangka tadi. Mungkin tadi galak terdorong rasa malunya.

"Aku pun sudah biasa melawan hawa dingin atau panas. Engkau baik sekali, dan terima kasih atas kemurahan hatimu yang suka memaafkan aku!"

"Hemm,siapa yang bilang aku sudah memaafkanmu, habis...ada Apa?"

"Tidak apa-apa, hanya setelah kita berjumpa secara kebetulan di sini dan sudah lama juga bercakap-cakap, kalau boleh, aku ingin mengetahui siapa anda ini dan di mana tempat tinggalmu?"

"Namaku Ayu Candra, tempat tinggalku di sana, tak jauh dari tempat ini. Ayah ibuku sedang pergi, aku sendirian saja di pondok, akan tetapi ada..."

Tiba-tiba Ayu Candra menahan kata-katanya. Cuping hidungnya bergerak sediklt. Ia mencium bau wengur, bau seekor harimau berada dekat tempat itu! Ia terkejut, akan tetapi bersikap tenang kembali. Malu kalau memperlihatkan kekagetannya. Pula ia meragu apakah ia harus bercerita sebanyak itu tentang dirinya? Mengapa ia mendadak menaruh kepercayaan yang mendalam kepada pemuda ini yang tadinya ia anggap seorang laki-laki kurang ajar?

"Ada Apa? Mengapa tidak kau lanjutkan?" Joko Wandiro mendesak.

"Tidak ada apa-apa lagi, sudah cukup keteranganku. Kau sendiri, kau orang dari manakah dan di mana tempat tinggalmu?"

Joko Wandiro menarik napas panjang, memandang wajah gadis itu dan sikapnya seolah-olah ia tidak mendengar pertanyaannya. Bukannya menjawab pertanyaan orang, ia melainkan berkata lirih seperti orang melamun,

"Ayu Candra...bukan main indahnya nama ini...memang ayu seperti candra (bulan) "

"Hishh! Ditanya tidak menjawab malah ngaco...!" Ayu Candra menghardik dan mukanya menjadi merah sekali namun jantungnya berdebar girang!

"Oya , aku tidak punya tempat tinggal tertentu di dunia ini. Rumahku buana bebas, atap rumahku langit biru, dinding rumahku pohon-pohon, lantai rumahku bumi ditilami rumput hijau, batu-batu dan akar-akar pohon meja kursiku, ranting-ranting pohon pembaringanku, bintang-bintang di langit pelitaku."

Ayu Candra tertawa mendengar jawaban ini, akan tetapi jantungnya makin berdebar gelisah ketika bau yang wengur makin keras.

"Kau seperti badut saja, suka melucu. Dan namamu...?"

"Namaku Joko..." Aduh, tertelan kembali lanjutan namanya karena pada saat itu Ayu Candra sudah membelalakkan matanya lagi sehingga Joko Wandiro merasa semrepet (pusing dan gelap mata). Akan tetapi, tiba-tiba Ayu Candra menjerit,

"Joko...awas...!"

Kedua tangan gadis itu secepat kilat mendorong ke depan, ke arah dada Joko Wandiro. Pemuda ini tentu saja maklum bahwa sejak tadi di dekat situ terdapat seekor harimau, akan tetapi ia memang pura-pura tidak tahu, karena selain tidak suka membikin dara itu terkejut, juga ia tentu saja tidak takut sama sekali. lapun tahu bahwa pada saat itu sang harimau telah meloncat dan menerkam ke arahnya dari belakang. Karena ia tadi terpesona oleh sepasang mata yang melebar indah, maka ia seperti orang yang kehilangan kesadaran. Begitu dadanya didorong, ia membiarkan dirinya terlempar sampai tiga meter lebih!

Seekor harimau yang amat besar telah menerkam dan kini, karena terkamannya luput, harimau itu membalik dan menggereng. Suara geramannya itu amat keras, seakan-akan menggetarkan seluruh permukaan telaga dan menggema di dalam hutan-hutan di sekitarnya. Bibir atas binatang itu bergerak-gerak tertarik ke atas memperlihatkan taring yang runcing kuat, tubuhnya yang panjang merendah sampai perutnya menempel tanah, sepasang matanya tajam penuh kemarahan menatap Joko Wandiro.

Pemuda ini yang tadi terlempar oleh dorongan Ayu Candra, sudah bangkit kembali dan menghadapi ancaman harimau dengan sikap tenang sekali.

"Joko jangan bergerak. Biarkan aku melawannya!" terdengar Ayu Candra berkata.

Gadis itu sudah memasang kuda kuda dan kakinya berindap-indap menghampiri harimau. Melihat gerak-gerik dara itu, Joko Wandiro dapat menduga bahwa Ayu Candra memiliki kepandaian yang tinggi juga. Akan tetapi harimau itu amat besar dan buas. Menghadapi binatang sebuas ini banyak bahayanya bagi Ayu Candra. Biarpun bukan bahaya maut, setidaknya kalau terkena cakaran kaki harimau, tentu akan menimbulkan luka-luka parah.

"Jangan, Ayu. Biarkanlah, menghadapi harimau macam ini saja, biar ada lima ekor aku tidak gentar."

Jawaban ini membuat Ayu Candra tertegun. "Kau...? Kau...berani...melawannya?"

Joko Wandiro tersenyum bangga. Baru sekali ini selama hidupnya ia merasa bangga akan kepandaiannya. Dan baru sekali ini ia ingin memamerkan kepandaiannya di depan orang lain! Biasanya ia sama sekali tak mengharapkan pujian orang lain, akan tetapi sekali ini, ia bahkan ingin sekali mendengar pujian si dara jelita. Karena itu, tanpa disadarinya sendiri, ia secara sembarangan malah berjalan mendekati harimau yang sudah menggereng-gereng dan siap menerkamnya itu!

"Eh, Joko hati-hatilah harimau ini kelaparan!"

Ayu Candra menjerit kembali ketika Joko Wandiro menghampiri harimau itu sampai dekat sekali. Joko Wandiro kembali tersenyum.

"Tidak ada binatang sebuas manusia, Ayu. Harimau inipun tidak sebuas manusia. Ia hanya akan menerkam makhluk lain kalau perutnya lapar karena ia membutuhkan makan sebagai penyambung hidupnya. Manusia akan menerkam manusia lain hanya untuk memuaskan nafsu-nafsunya."

"Joko awas!"

Ayu Candra memperingatkan, gelisah juga melihat pemuda itu masih enak-enakan mengobrol dan bahkan membelakangi harimau itu yang kini jaraknya hanya tinggal dua meter di belakangnya. Harimau itu menerkam untuk kedua kalinya. Dahsyat terkamannya, dengan cakar runcing melengkung siap merobek kulit daging dan moncong terbuka lebar siap meremukkan tulang-tulang.

"Joko...!"

Kembali Ayu Candra menjerit dengan muka berubah pucat. jerit penuh kekhawatiran dan kengerian yang terdengar merdu memasuki telinga Joko Wandiro. Dara itu mengkhawatirkan dirinya! Berarti dara itu tidak ingin melihat ia dirobek-robek dan dijadikan mangsa harimau.

"Jangan khawatir, Ayu...!" katanya sambil menggerakkan tubuhnya. Dengan sebuah gerakan yang indah cekatan sekali Joko Wandiro sudah menghindar dengan amat mudahnya.

Kembali harimau itu menerkam tempat kosong. Kini Ayu Candra melongo keheranan. Gerakan pemuda itu jelas membayangkan bahwa pemuda itu bukan seorang lemah, bukan penyombong seperti gentong kosong. Ketika harimau itu kini menerkam kembali, dan dari jarak dekat dan dengan gerakan yang lebih indah mengagumkan pemuda itu kembali menghindar, mulai berkuranglah kekhawatiran hati Ayu Candra.

Mulailah ia mencurahkan perhatiannya dan menonton, tidak cemas lagi seperti tadi, melainkan menonton dengan kagum. Sudah tujuh kali harimau itu menerkam, makin lama makin dahsyat dan makin marah. Akan tetapi selalu terkamannya mengenai tempat kosong karena dielakkan secara mudah dan cepat oleh Joko Wandiro yang tersenyum-senyum dan melirik ke arah Ayu Candra, hatinya berdebar girang melihat sinar kekaguman terpancar keluar dari sepasang mata bintang itu.

"Joko, kenapa main-main dengan dia? Lekas bunuh saja!" Akhirnya Ayu Candra berteriak karena mengganggap bahwa dengan main kelit pemuda itu membahayakan diri sendiri.

"Ah, bagaimana aku tega?" balas Joko sambil mengelak lagi ketika si harimau menerkam dari samping. "Dia menyerangku untuk makan. Akan tetapi aku tidak membutuhkan kematiannya. Lihat, Ayu, akan ku akhiri permainannya ini!"

Sebelum harimau itu membalik, Joko Wandiro sudah mendahului dengan loncatan cepat sekali ke belakang tubuh harimau dan tangan kanan Joko Wandiro menyambar ekor harimau yang panjang. Harimau itu menggereng keras dan berusaha membalikkan tubuh untuk mencakar orang yang memegang ekornva, akan tetapi tiba-tiba tubuhnya terangkat dari atas tanah dan terus tubuhnya itu diputar-putar oleh Joko Wandiro di atas kepalanya, seperti seorang kanak-kanak mempermainkan seekor tikus saja.

Ayu Candra terbelalak kagum. Dia sendiri tidak takut menghadapi harimau, malah sanggup mengalahkan binatang itu. Akan tetapi untuk memegang ekornya dan memutar-mutar seperti itu, benar-benar membutuhkan tenaga dahsyat dan keberanian yang luar biasa! Kiranya pemuda ini seorang yang sakti! Dan dia tadi telah menduganya seorang gila, bahkan disangkanya pemuda itu seorang penderita penyakit ayan! Teringat akan hal ini, mendadak kedua pipi dara ini menjadi merah padam.

Dan dia tadi berusaha menolong Joko dari dalam air! Ah, benar-benar ia telah salah sangka. Pemuda yang tampan dan halus gerak-geriknya itu kiranya memiliki ilmu kesaktian yang mungkin melebihi tingkat kepandaianya sendiri. Ayu Candra menggigit bibirnya menahan rasa jengah.

"Lihat, Ayu. Biar dia mandi dan minum air banyak-banyak menghilangkan laparnya!" teriak Joko Wandiro dan sekali melempar, tubuh harimau yang besar dan berat iiu melayang ke arah telaga dan terdengarlah suara menjebur ketika binatang itu terbanting kedalam air.

Harimau itu mengaum dan menggereng penuh kemarahan dan juga ketakutan. la meronta-ronta dan akhirnya berhasil juga berenang ke pinggir lalu mendarat dengan tubuh basah kuyup. Kelika Joko Wandiro meloncat ke depannya, harimau itu kembali menggereng dan tiba-tiba ia menyelinap ke kiri dan lari sambil menekuk ekornya kebawah di antara kedua kaki belakang.

Ayu Candra dan Joko Wandiro tertawa-tawa melihat harirnau itu lari ketakutan. Akan tetapi tiba-tiba suara ketawa mereka terhenti seketika dan pandang mata mereka terbelalak ditujukan ke arah tubuh harimau yang mendadak terjungkal dan rebah berkelojotan di atas tanah. Dengan beberapa kali loncatan, Ayu Candra dan Joko Wandiro sudah tiba di dekat harimau itu.

Keduanya makin terheran ketika melihat sebatang anak panah yang kecil pendek sudah menancap di antara kedua mata binatang itu yang kini berkelojotan dalam keadaan sekarat. Yang mengerikan adalah keadaan luka di mana anak panah itu menancap karena di sekitar tempal itu, ialah seluruh muka harimau, menjadi biru kehitaman tanda bahwa anak panah itu mengandung bisa yang amat jahat!.

"Keji...!" Joko Wandiro berkata, masih tertegun.

Juga Ayu Candra marah sekali jelas bahwa harimau itu dikalahkan, bahkan ditaklukkan oleh Joko, diampuni dan dibiarkan lari. Akan tetapi ada orang lain yang mempergunakan kesempatan itu untuk membunuh binatang ini secara curang dan kejam sekali. la mencari-cari ke arah dari mana datangnya anak panah dan ketika ia menengadahkan mukanya, ia melihat seorang wanita berdiri di atas cabang pohon yang tinggi. Wanita yang berpakaian indah dan mewah, dengan hiasan terbuat dari pada emas permata pada pergelangan tangan, lengan, leher dan rambut.

Wanita itu masih muda, sebaya dengan dirinya, amat cantik dan tersenyum-senyum penuh ejekan memandang ke bawah. Sejenak Ayu Candra tertegun dan kagum, akan tetapi ketika melihat betapa kedua tangan wanita itu memegang beberapa batang anak panah kecil yang sebentuk dengan anak panah yang menancap di kepala harimau, timbul kemarahannya.....
Bagikan cersil ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊

0 Response to "Badai Laut Selatan Jilid 49"

Post a Comment