Badai Laut Selatan Jilid 33

Mode Malam
"Demikianlah riwayatku, anakku Joko Wandiro. Kakek itu adalah paman guruku. Dia merantau sampai di sini dan mendengar bahwa aku berada di sini pula, dia sekalian mencariku dan mencari keterangan kalau-kalau aku masih melakukan perbuatan-perbuatan yang menodai nama perguruan kami. Secara kebetulan sekali dia melihat engkau berlatih Ilmu Golok Lebah Putih, Joko. Dan ini merupakan pantangan yang paling berat bagi perguruan kami. Seorang murid tidak sekali-kali boleh menurunkan Ilmu Golok Lebah Putih tanpa seijin para ketua dan aku telah melakukan pelanggaran itu dengan mengajarkannya kepadamu! Untung peristiwa ini tidak terjadi di negaraku, karena kalau terjadi di sana, ketika ia melihat kau melatih ilmu golok itu, tentu dia sudah turun tangan dan merampas kembali ilmu itu darimu."

"Merampas ilmu golok? Bagaimana ia dapat merampas ilmu yang telah dipelajari orang?"

Ki Tejoranu tersenyum pahit dan mengangkat kedua tangannya yang sudah dibalut. "Dia telah merampas ilmu itu dariku."

Joko Wandiro tertegun, sejenak tidak mengerti. Kemudian ia teringat dan bergidik ngeri. Benar juga! Kalau dua buah ibu jari tangan dipotong, tidak mungkin lagi orang dapat bermain golok! Membuntungi kedua ibu jari tangan, sama saja artinya dengan merampas ilmu, karena ilmu golok itu tidak dapat dipergunakan lagi.

"Karena engkau orang asing, Joko, maka paman guruku tidak mau turun tangan sebelum mendengar keteranganku. Maka ia menanti di sini sampai aku pulang. Tadi ia hampir menjatuhkan hukuman itu kepadamu, akan tetapi aku mencegahnya, menceritakan keadaanmu lalu mewakilimu menerima hukuman"

"Paman...!" Joko Wandiro memegang lengan orang itu penuh keharuan.

"Memang aku yang bersalah, bukan engkau. Sudah sepatutnya aku pula yang menerima hukuman."

"Paman. Engkau sudah insyaf dari pada kesalahan, bahkan sudah melarikan diri jauh dari negaramu. Mengapa kakek yang menjadi paman gurumu itu terus mendesak dan tidak mau memberi ampun? Mengapa engkau tadi tidak melawannya saja? Kalau melawan, tentu tadi aku akan membantu, paman."

"Ah, kau tidak mengerti, Joko. Mana bisa aku melawannya? Kalau hanya ibu jariku yang dipotong, hal itu masih amat ringan, Joko. Bararti paman guruku masih menaruh hati sayang kepadaku. Dosaku bertumpuk. Aku harus berani menghadapi hukumannya. Joko Wandiro, anakku. Kau boleh menerima sepasang golok ini dan boleh menggunakan Ilmu Golok Lebah Putih untuk membela kebenaran dan keadilan, untuk memberantas kejahatan. Akan tetapi berjanjilah bahwa kau takkan mengajarkannya kepada orang lain. Berjanjilah, anakku, agar tidak bertambah-tambah berat dosaku kelak."

"Aku berjanji, paman."

"Bagus! Sekarang, kau berangkatlah menyusul dan mencari eyang gurumu. Aku tidak mungkin dapat menyertaimu, anakku."

"Mengapa, paman?"

"Karena aku harus segera menyusul rombongan paman guruku ke pantai laut utara. Aku harus kembali ke negaraku..."

"Ahhh...!" Joko Wandiro benar-benar kaget mendengar perubahan keadaan yang tak tersangka-sangka ini.

"Memang sebaiknya begitu, Joko. Sudah terlalu lama aku meninggalkan negeriku, meninggalkan keluargaku. Dan untunglah aku bertemu denganmu pada saat-saat terakhir, anakku. Kalau tidak... hemmm, tak dapat kubayangkan apa jadinya. Kalau paman guruku mendapatkan aku bersama orang-orang... macam Cekel Aksomolo belum tentu hukumanku seringan ini." Ia memandang ke arah kedua tangannya. "Sudahlah, tidak ada waktu lagi untuk banyak bicara, anakku. Kau pergilah sendiri menyusul eyang gurumu ke Jalatunda."

"Di manakah Jalatunda, paman?"

"Kau pergilah ke Gunung Bekel. Di lereng gunung itu terdapat gua-gua pertapaan yang bernama Gua Tirta dan di sanalah terdapat pertapaan Jalatunda. Andai kata eyang gurumu tidak berada di sana, tidak mengapa. Kau langsung saja menghadap Sang Resi Jatinendra atau Sang Resi Gentayu, mohon petunjuk. Beliau seorang pertapa yang sakti mandraguna, nak, karena beliau itu bukan lain adalah Sang Prabu Airlangga sendiri. Dalam keadaan perang saudara seperti sekarang, lebih baik kau tidak terburu nafsu dan lancang melibatkan diri sebelum mendapat petunjuk Sang Prabu Airlangga sendiri, karena hanya beliaulah yang akan dapat mengatasi semua keributan itu. Nah, berangkatlah, anakku, semoga Tuhan Yang Maha Tinggi selalu memayungimu."

Ki Tejoranu merangkul pundak anak itu dan mencium ubun-ubunnya dengan kedua mata basah. Ternyata Ki Tejoranu jatuh sayang kepada anak ini, anak yang menjadi penolongnya dan sekaligus menjadi muridnya, akan tetapi yang lebih dari pada itu semua, menjadi titik tolak keinsyafannya!

Setelah Joko Wandiro menyimpan sepasang golok, memberi hormat lalu pergi sampai tidak tampak lagi, barulah Ki Tejoranu meloncat dan berlari cepat meninggalkan tempat itu untuk pergi ke pantai laut utara, di mana teman-temannya senegara, termasuk paman gurunya yang keras hati, menanti saat perahu jong kembali ke negeri mereka…..

********************

Gunung Bekel (sekarang Gunung Penanggungan) adalah sebuah gunung yang tidak begitu tinggi (1653 meter), namun merupakan sebuah gunung yang subur tanahnya, indah pemandangannya, dan bersih udaranya. Gunung Bekel inilah yang dianggap sebagai bayangan atau duplikat Gunung Mahameru dan karenanya dianggap suci! Apalagi karena Gunung Bekel ini dijadikan tempat bertapa Sang Prabu Airlangga, maka keadaannya menjadi lebih agung lagi. Banyak terdapat gua-gua yang dianggap sebagai tempat pertapaan yang suci dan disebut Gua Tirta. Di antara gua-gua ini terdapat sebuah gua yang besar, mempunyai pekarangan yang bersih dan amat teduh karena terlindung pohon-pohon besar di lereng sebelah atas gua. Inilah pertapaan Jalatunda, di mana terdapat sumber air yang jernih.

Pagi hari itu, pertapaan Jalatunda tampak lebih indah dari pada biasanya. Sinar matahari pagi menerobos masuk dari celah-celah daun pohon di atas gua, menerangi sebagian tanah pekarangan yang bersih karena disapu setiap hari dua kali. Mutiara embun yang menghias ujung-ujung daun berkilauan tertimpa sinar matahari pagi. Suara burung ramai berkicau di pohon-pohon, seakan-akan makhluk-makhluk kecil ini bergembira ria menyambut datangnya matahari. Kegembiraan yang tulus dan murni, didasari kewajaran merupakan doa dan puja-puji yang paling suci dipanjatkan ke bawah kaki Tuhan Seru Sekalian Alam.

Di kanan kiri mulut gua besar tampak duduk bersila dua orang kakek. Mereka berdua, seperti juga gua pertapaan besar itu, menghadap ke timur. Jika tidak memperhatikan bagian dada mereka yang turun naik, tentu orang akan menyangka dua orang kakek itu arca-arca penjaga gua! Mereka duduk bersila tak bergerak sama sekali, kedua mata dipejamkan dan hening dalam samadhi. Yang duduk di sebelah kiri adalah seorang kakek yang rambutnya sudah putih semua, digelung di atas kepala, jenggot dan kumishya juga bercampur uban, tubuhnya tegap membayangkan tenaga. Kakek ini bukan lain adalah Bhagawan Rukmoseto atau Sang Resi Bhargowo!

Seperti telah diketahui, Bhagawan Rukmoseto terluka hebat ketika ia dikeroyok di Pulau Sempu. Akan tetapi berkat kesaktiannya, luka hebat oleh pukulan penggada Wesi Ireng yang dilakukan Jokowanengpati itu tidak merenggut nyawanya. Setelah beristirahat dan mengumpulkan kekuatannya Sang Bhagawan Rukmoseto pergi meninggalkan Pulau Sempu, kemudian menuju ke Jalatunda menghadap Sang Resi Gentayu atau Sang Resi Jatinendra.

Di depan junjungannya ini, Raja Kahuripan yang telah menjadi pertapa, Bhagawan Rukmoseto dengan terus terang menceritakan semua pengalamannya semenjak ia merampas pusaka Mataram dari tangan Jokowanengpati. Cerita ini didengarkan juga oleh kakak seperguruannya, yaitu Sang Empu Bharodo yang dengan setia mengikuti rajanya bertapa. Kemudian Bhagawan Rukmoseto menceritakan pula tekadnya untuk tidak mengembalikan pusaka karena ia kecewa melihat Ki Patih Narotama hendak menangkapnya dengan tuduhan memberontak.

Menceritakan pula betapa ia khawatir kalau-kalau pusaka itu bahkan akan menjadi sebab perpecahan yang lebih hebat lagi antara Pangeran Sepuh dan Pangeran Anom, seperti yang ia ketahui ketika ia menyelidik ke kota raja. Juga di depan kakak seperguruannya ia membuka rahasia kejahatan Jokowanengpati yang kini menjadi orang kepercayaan Pangeran Anom. Sang Resi Jatinendra menghela napas panjang mendengar semua penuturan itu, kemudian bersabda,

"Kakang Resi Bhargowo, sudah bertahun-tahun menjadi pertapa, mengapa masih belum pandai menguasai nafsu pribadi? Engkau masih diombang-ambingkan cinta dan benci, menimbulkan puji dan cela, mengakibatkan kawan dan lawan. Kasihan engkau, kakang Bhargowo. Kenapa tidak tinggal saja di sini bersama aku dan kakangmu Empu Bharodo mencari ketepangan dan keseimbangan? Yang sudah lalu biarkanlah. Aku hanya ingin mendengar apa selanjutnya yang terjadi dengan pusaka Mataram yang terjatuh ke dalam tanganmu, kakang Resi Bhargowo."

"Karena melihat perang saudara mengancam di kota raja, hamba mengambil keputusan untuk menyembunyikan pusaka itu. Hamba mempunyai dua orang cucu, gusti."

"Eh, kakang Resi Bhargowo. Jangan engkau bergusti lagi kepadaku. Sekarang ini aku bukanlah raja gustimu, melainkan seorang rekan pertapa yang sama dengan engkau belajar menemukan kembali kesempurnaan sejati, kakang resi."

"Ampun eh, baiklah, adi resi."

"Nah, begitu lebih tepat. Selanjutnya, bagaimana, kakang?"

"Pusaka itu hamba berikan kepada kedua orang cucu hamba, dan hamba jadikan dua, yaitu keris pusaka dan patung kencana yang menjadi warangkanya. Oleh kedua cucu hamba itu lalu disembunyikan."

"Jagad Dewa Batara segala puji kepada Sang Hyang Wishnu, pemelihara segenap alam dan isinya...!" Sang Resi Jatinendra mengeluh dan menyampaikan puja-puji kepada Sang Hyang Wishnu yang menjadi pusat pujaannya. "Segala kehendakMu terjadilah!"

Hening sejenak setelah pertapa bekas raja itu mencetuskan isi hati dan perasaannya. Resi Bhargowo sendiri terkejut sekali. Apakah salahnya kalau pusaka itu disembunyikan agar tidak terjatuh ke tangan orang yang tidak berhak?

"Untung sekali Dewata masih memayungi, adi resi. Hanya beberapa saat setelah hamba menyuruh kedua cucu hamba pergi menyembunyikan pusaka Mataram, muncul orang-orang yang katanya adalah utusan Gusti Pangeran Anom untuk merampas pusaka. Hamba dikeroyok dan roboh di tangan mereka, bahkan nyaris tewas kalau saja Dewata tidak melindungi hamba."

"Yang penting adalah pusaka itu sendiri, kakang Resi Bhargowo. Jika keris dan warangka terpisah, hal itu menjadi tanda akan terpisahnya kawula dan gusti, menjadi tanda bahwa persatuan akan terpecah-belah dan hal ini hanya berarti perang di antara saudara. Kakang Resi Bhargowo, dimanakah sekarang kedua cucumu yang memegang keris dan patung kencana?"

"Inilah yang menyusahkan hati hamba. Mereka itu lenyap. Lenyap tak meninggalkan jejak, seakan-akan ditelan bumi!"

"Hemmm, sudahlah. Segala hal sudah ditentukan oleh Hyang Wisesa. Kita tunggu saja perkembangannya."

Demikianlah, semenjak saat itu, Resi Bhargowo ikut bertapa di Jalatunda. Bersama kakak seperguruannya ia bertapa menemani dan melayani raja gustinya yang kini menjadi Sang Resi Jatinendra. Adapun kakek yang duduk bersila di sebelah kanan mulut Gua Tirta itu tubuhnya tidak setegap dan sekuat Resi Bhargowo, akan tetapi wajahnya membayangkan ketenangan yang mendalam.

Dia inilah Empu Bharodo, pendeta linuwih yang sakti mandraguna dan setia kepada rajanya. Di waktu mudanya, Empu Bharodo ini terkenal sekali karena kesaktiannya, terkenal sebagai ahli Ilmu Bayu Sakti sehingga gerakannya seperti kilat menyambar cepatnya, pandai lari seperti angin, melompat seperti terbang. Juga ilmu tombaknya yang disebut Jonggring Saloko menggemparkan seluruh Nusantara. Akan tetapi setelah tua, Empu Bharodo lebih tekun melakukan tapa brata, meninggalkan keramaian duniawi, lebih memperdalam ilmu kebatinan.

Dan inilah sebabnya maka muridnya yang tadinya merupakan murid terkasih, Jokowanengpati, sampai dapat menyeleweng berlarut-larut karena gurunya seperti tidak mempedulikan urusan dunia lagi, juga tidak mempedulikan sepak terjang muridnya. Ketika adik seperguruannya, Resi Bhargowo bercerita tentang kejahatan muridnya, kakek ini hanya tersenyum lemah.

Kini kakak beradik seperguruan yang telah menjadi pertapa-pertapa sakti itu duduk di kanan kiri mulut Gua Tirta, tekun bersamadhi menghadap ke timur sehingga wajah mereka tersinar matahari pagi yang kemerahan. Tak lama kemudian, seorang kakek lain melangkah keluar gua. Kakek ini langkahnya perlahan, tubuhnya tegak, sikapnya agung dan penuh wibawa. Biarpun sudah tua, namun dadanya bidang dan penuh membayangkan kekuatan lahir batin yang hebat. Jenggotnya yang panjang sudah penuh uban, sebagian menutupi dada bagian atas yang tidak seluruhnya tertutup jubah pertapaannya. Pakaiannya yang mengkilap dan indah, terbuat dari pada kain yang amat halus itu menandakan bahwa dia seorang pertapa yang bukan sembarangan. Dan memang inilah dia Sang Resi Jatinendra atau Sang Resi Gentayu, Sang Prabu Airlangga Raja Kahuripan yang telah mengundurkan diri dan bertapa.

Setelah tiba di mulut gua, Sang Resi Jatinendra menoleh ke kanan kiri, wajahnya kini tersinar matahari pagi, gilang-gemilang seperti dilapis kencana. Sinar matanya penuh damai, mulutnya terhias senyum maklum, kemudian ia melangkah terus ke depan, lalu duduk di atas batu halus berbentuk bulat yang berada tepat di depan guha di tengah pekarangan.

Memang batu itu adalah batu tempat sang pertapa duduk setiap pagi, bersamadhi menghadap ke timur di waktu matahari muncul. Begitu duduk bersila, seluruh tubuh dan wajahnya tepat tertimpa sinar keemasan Sang Bhatara Surya, ia sudah tekun bersamadhi, tangan kiri di atas pangkuan, tangan kanan di atas lutut kanan. Sudah menjadi kebiasaan sang pertapa dan dua orang pengikutnya, setiap pagi duduk bersamadhi di depan Gua Tirta menghadap ke arah matahari.

Bukan sekali-kali Sang Resi Jatinendra menjadi pemuja Sang Bhatara Surya. Tidak. Sungguhpun mereka bertiga menghormati Sang Bhatara Surya yang bertugas menyinarkan kehidupan di permukaan bumi, namun sebenarnya Sang Resi Jatinendra adalah seorang pemuja Sri Bhatara Wishnu atau Sang Hyang Wishnu. Bersamadhi di waktu pagi hari di depan gua ini hanyalah kebiasaan belaka, dan memang hal ini merupakan kebiasaan yang amat baik. Selain menerima inti sari sinar Sang Surya, juga cahaya di waktu pagi amat bermanfaat bagi kesehatan jasmani.

Bagaikan tiga buah arca kencana, tiga orang pertapa itu tekun bersamadhi dan sebentar saja mereka dalam keadaan hening, menikmati kebahagiaan dari kekosongan yang hanya dapat dirasakan oleh mereka yang biasa bersamadhi. Mereka ini sama sekali tidak tahu bahwa seorang pemuda tanggung datang berindap-indap, membungkuk-bungkuk penuh hormat sambil memandang kepada tiga orang kakek yang duduk bersila di depan gua itu.

Pemuda tanggung itu adalah Joko Wandiro yang mentaati pesan Ki Tejoranu, datang mencari eyang gurunya di pertapaan Jalatunda. Ketika melihat kakek yang duduk terdepan, datang rasa takut dan hormat di hati Joko Wandiro. Kemudian betapa girang rasa hatinya ketika ia mengenal eyang gurunya yang duduk bersila di sebelah kiri mulut gua, di belakang kakek di depan itu. Serta merta ia menjatuhkan diri berlutut dan memanggil-manggil perlahan,

"Eyang... saya datang menghadap, eyang...!"

Tidak ada jawaban. Tiga orang kakek itu tetap duduk bersila tak bergerak. Sampai tiga kali Joko Wandiro mengulang ucapannya. Tiba-tiba Joko Wandiro merasa betapa tubuhnya terangkat dan melayang ke depan. Ia terkejut dan terheran. Tahu-tahu ia sudah pindah tempat, di belakang Resi Jatinendra! Entah bagaimana, tubuhnya tadi terangkat dan terlempar ke tempat itu, di tengah-tengah antara eyang gurunya dan kakek tua yang duduk diam meramkan mata. Selagi ia kebingungan, mendadak terdengar suara eyang gurunya di sebelah kiri.

"Diamlah, Joko. Diam jangan bergerak. Lihat saja apa yang akan terjadi!"

Suara eyangnya itu perlahan, akan tetapi mengandung wibawa dan juga Joko Wandiro dapat menangkap getaran tegang dalam suara itu, seakan-akan mereka bertiga yang tampak enak-enak duduk bersamadhi itu sedang menghadapi hal yang amat gawat dan menegangkan. Sebagai seorang anak yang berperasaan halus, Joko Wandiro segera dapat mengerti atau setidaknya menduga akan keadaan itu, maka ia pun lalu duduk diam di antara Resi Bhargowo dan Empu Bharodo, di belakang Resi Jatinendra, menanti apa yang akan terjadi dan memasang mata penuh perhatian ke depan, kanan, dan kiri.

Akan tetapi keadaan di sekeliling tempat itu sunyi saja. Sunyi dan mengamankan hati. Joko Wandiro tidak melihat bahaya apa pun yang mengancam ketentraman tempat suci ini. Sinar matahari sudah mulai bening. Halimun tebal sudah mulai lari ketakutan. Burung-burung makin gencar berkicau gembira menyambut sang raja siang yang mulai memperlihatkan kekuasaannya. Pagi yang cerah dan indah mengawali hari itu. Keadaan demikian indah dan tenang tenteram, mengapa eyang gurunya kelihatan seperti seorang yang menanti datangnya sesuatu penuh kekhawatiran?

Joko Wandiro mengerling ke kanan, menyapu wajah kakek di sebelah kanannya. Namun kakek itu masih tenang bersamadhi, kedua matanya dipejamkan, kedua tangan menyilang di atas pangkuannya, muka menunduk. Juga kakek di sebelah depan itu, yang hanya dapat ia lihat punggungnya, tidak bergerak-gerak. Tiba-tiba perhatian Joko Wandiro tertarik oleh sesuatu dan jantungnya berdebar keras, belakang kepalanya terasa dingin dan bulu tengkuknya meremang. Rasa serem dan ngeri memenuhi hatinya.

Apakah yang membuat Joko Wandiro merasa serem? Telinganya menangkap sesuatu yang amat aneh, perubahan yang luar biasa. Secara mendadak, semua suara yang serba merdu dan indah tadi, suara kicau burung yang berloncatan dari cabang ke cabang, pasangan-pasangan burung yang sedang bercumbu, pasangan burung yang tengah terbang melayang sambil memekik-mekik girang, semua itu secara mendadak telah berhenti sama sekali! Tidak terdengar apa-apa lagi. Bahkan kelepak sayap burung tidak kedengaran lagi. Keadaan tiba-tiba menjadi sunyi, sesunyi kuburan!

Joko Wandiro dengan bingung menoleh ke sana kemari untuk mencari tahu apa yang menyebabkan semua burung berhenti berkicau dan apa atau siapa gerangan yang menimbulkan suasana lengang dan serem itu. Namun tidak tampak sesuatu. Beberapa detik kemudian, terdengar bunyi parau yang menusuk telinga, bunyi tidak sedap. Burung gagak!

"Gaaok... kraaaaakk... kraaaakk... gaaaaokkk...!"

Joko Wandiro tentu saja sudah sering kali mendengar bunyi burung pemakan bangkai ini. Bahkan seringkali melihat burungnya, burung besar yang hitam mulus, jelek warna dan bentuknya. Akan tetapi selama hidupnya belum pernah ia merasa begini serem dan ngeri mendengar suara burung gagak seperti yang didengarnya saat itu. Mungkinkah munculnya burung gagak membuat semua burung ketakutan, terbang pergi atau bersembunyi, tidak berani bersuara lagi? Tidak mungkin!

Burung gagak bukanlah burung elang rajawali yang suka menerkam burung lain. Burung gagak adalah burung yang bersifat pengecut, hanya menyerang lawan yang sudah menjadi bangkai. Akan tetapi mengapa keadaan menjadi begitu lengang bersamaan dengan munculnya suara burung gagak itu? Ataukah hanya kebetulan?

Ketika ia melirik ke kanan kiri, tampak perubahan pada eyang gurunya dan kakek di sebelah kanannya. Mereka masih duduk bersila dan meramkan mata, akan tetapi tubuh mereka lebih tegak dari pada tadi dan kulit tubuh yang tak tertutup baju, jelas nampak getaran-getaran penuh ketegangan sehingga kening mereka pun berkerut! Hanya kakek di depan agaknya tidak bergerak dan masih seperti tadi.

Tiba-tiba terdengar bunyi bercicit dari dalam gua dan tak lama kemudian muncullah burung-burung hitam kecil beterbangan dari dalam gua. Akan tetapi burung-burung sriti itu tidak keluar dari dalam gua, hanya beterbangan di sekitar mulut gua, seakan-akan silau melihat sinar matahari. Mendadak kakek di sebelah kanan Joko Wandiro, yaitu Empu Bharodo, mengangkat tangan kiri digerakkan ke arah dalam gua. Seketika burung-burung itu lenyap beterbangan masuk lagi ke dalam, seakan-akan gerak tangan Empu Bharodo tadi merupakan perintah kepada burung-burung itu agar jangan keluar dan kembali ke sarang mereka di bagian paling dalam di gua itu.

Tak lama kemudian terdengar suara riuh dari sebelah depan. Cahaya matahari yang tadinya menerangi pekarangan depan gua mendadak menjadi suram seakan-akan tertutup awan mendung. Dari dalam kesuraman ini terdengar kelepak sayap dan suara mencicit-cicit yang nyaring tinggi menusuk telinga.

Joko Wandiro membelalakkan matanya, memandang ke atas. Kini bukan hanya bulu tengkuknya yang meremang, bahkan setiap lembar bulu di tubuhnya berdiri semua! Tengkuknya terasa dingin, kepalanya seakan melar membesar. Matanya terbelalak memandang ke atas, mulutnya ternganga. Siapa orangnya takkan merasa heran, kaget, takut dan ngeri melihat ratusan, bahkan ribuan kelelawar hitam beterbangan menyerbu tempat itu? Melihat kelelawar di malam gelap tidaklah mengherankan, akan tetapi menyaksikan ribuan ekor kelelawar di pagi hari menyerbu ganas semacam itu benar-benar mendatangkan rasa ngeri, karena hal itu sudah pasti bukanlah hal yang sewajarnya!

Ribuan ekor kelelawar itu dengan suara mencicit yang memekakkan telinga, dari atas menyambar ke bawah dan kini tempat itu penuh dengan binatang-binatang kecil yang menjijikkan ini. Bau apak menyengat hidung dan menyesakkan pernapasan.

Joko Wandiro cepat-cepat mengatur pernapasannya dan setelah mengerahkan hawa sakti di dalam dada, barulah ia dapat bernapas lega. Akan tetapi hatinya ngeri melihat betapa kelelawar-kelelawar itu kini beterbangan rendah. Anehnya, tak seekorpun di antara mereka terus menyambar turun, seakan-akan ada sesuatu yang melindungi empat orang itu, atau ada sesuatu yang mendatangkan rasa takut pada binatang-binatang itu.

Setiap kali menyambar, serendah kira-kira semeter dari kepala empat orang itu, binatang-binatang ini terbang ke atas kembali sambil mengeluarkan pekik-pekik ketakutan. Maka makin penuh sesaklah bagian atas pekarangan itu dengan kelelawar yang beterbangan. Kini banyak di antara binatang-binatang itu yang hinggap di pohon-pohon, bergantungan dan menjerit-jerit. Penuh semua pohon di tempat itu dengan kelelawar. Bau apak makin tak tertahankan.

"Wirokolo benar-benar tak tahu diri, berani mengganggu Sang Agung Resi Jatinendra!" terdengar Empu Bharodo berkata perlahan.

Kakek ini lalu mengangkat kedua tangannya ke atas, melambai ke depan gua. Terdengar suara melengking nyaring dari dalam gua dan makin lama suara ini makin bergemuruh, mengatasi suara kelelawar-kelelawar yang menggila. Kiranya suara ini adalah suara ribuan ekor burung sriti yang menerobos keluar dari dalam gua sambil berbunyi marah. Bagaikan segulung asap hitam, rombongan burung sriti ini berserabutan keluar dari dalam guha dan terjadilah perang yang amat dahsyat dan mengherankan. Ribuan ekor burung sriti itu serta-merta menyerbu dan menyerang kelelawar-kelelawar tadi!

Joko Wandiro melongong keheranan. Bukan main! Hebat perang tanding di udara itu. Patuk-mematuk, sambar-menyambar, cakar-mencangkar dan saling memukul dengan sayap. Pihak kelelawar juga melakukan perlawanan gigih. Namun mereka kalah gesit, juga kalah awas. Pandai sekali burung-burung sriti itu mengelak, kemudian dengan kecepatan kilat menyambar dan mematuk lawan dari samping. Payah kelelawar-kelelawar itu mempertahankan diri. Banyak sudah jatuh korban. Tidak mati dipatuk burung- burung sriti yang kecil itu, akan tetapi burung-burung itu mematuk ke arah mata sehingga kelelawar-kelelawar itu kini benar-benar menjadi buta, bukan hanya silau oleh sinar matahari.

Mulailah mereka beterbangan kacau-balau dalam ketakutan dan hendak melarikan diri. Terbang sejadinya dan tanpa arah tertentu sehingga banyak di antara mereka yang menabrak pohon dan jatuh ke dalam jurang. Burung-burung sriti yang gagah dan gesit itu terbang pula mengejar dan mengusir kelelawar-kelelawar dari depan gua. Peperangan yang dahsyat dan aneh, yang berlangsung tidak begitu lama, namun cukup mendebarkan hati Joko Wandiro. Sebentar saja burung-burung itu telah mengusir semua kelelawar sehingga tidak seekorpun tinggal. Mereka terus mengejar sampai tak terdengar lagi suara kelelawar yang kebingungan.

Tak lama kemudian tempat itu menjadi sunyi senyap dan bersih kembali seperti tadi. Bahkan bau apak kelelawar sudah lenyap pula tersapu angin gunung. Tiga orang kakek itu masih duduk seperti tadi.

"Gaaaaookk kraaaaak-kraaak gaaookkk...!"

Suara burung gagak yang memecah kesunyian itu benar-benar amat menyeramkan bagi Joko Wandiro. Apalagi karena sekarang suara burung gagak ini terdengar jelas sekali. Agaknya burung itu berada di atas kepala mereka. Namun tak tampak sesuatu oleh Joko Wandiro.

"Hiyeeehhh! Keteprok-keteprok... hiyeeeeehhhhh…!"

Joko Wandiro sampai tersentak kaget. Suara kuda menegar-negar, derap kakinya yang rnenginjak-injak tanah, ringkiknya yang nyaring, benar-benar seperti kuda itu berada di depannya. Namun tidak tampak sesatu!

"Ha-ha-ha-ha-ha...!"

Suara ketawa inipun terdengar jelas, suara ketawa tanpa kelihatan orangnya. Joko Wandiro menoleh ke kanan kiri memandang eyang gurunya dan Empu Bharodo. Rasa takut membuat ia menggeser mendekati eyang gurunya. Namun ia teringat akan pesan eyang gurunya tadi, maka ia tidak berani membuka suara, hanya membuka mata lebar-lebar memandang ke depan dengan jantung berdebar dan leher serasa dicekik.

"Ha-ha-ha! Kahuripan akan menjadi karang abang (lautan api)! Sang Prabu Airlangga yang tadinya hidup mulia dan megah, kini menjadi pertapa jembel! Ha- ha-ha!"

Suara itu bergema seperti suara iblis dari dalam kuburan, mengaung dan terdengar dari jauh, namun amat jelas. Dan suara ini diiringi bau dupa yang aneh, harum sekali. Begitu wangi sehingga memabokkan, di dalam hidung sampai terasa sakit penuh dengan ganda wangi yang mendatangkan rasa manis.

Seketika Joko Wandiro merasa kepalanya pening, matanya berkunang. Alangkah kagetnya ketika ia berusaha menggerakkan kaki tangannya, ternyata seluruh tubuhnya kaku! Persis seperti keadaan orang yang tindihen (mimpi buruk), pikiran masih terang, panca indera masih sadar, namun seluruh tubuh kaku-kaku tak dapat bergerak! Dan ganda wangi itu makin menyengat, memenuhi hidung dan tenggorokan, mulai menyerang paru-paru. Joko Wandiro terengah-engah, dadanya terasa sakit!

"Joko Wandiro, tenanglah... tidak apa-apa...!"

Terdengar Bisikan dari sebelah kiri, suara eyang gurunya. Joko Wandiro sejak kecil memang digembleng oleh ayahnya, kemudian oleh eyang gurunya, bahkan akhir-akhir ini oleh Ki Tejoranu. Namun semua gemblengan itu hanya merupakan latihan ilmu-ilmu kesaktian dan dalam hal ilmu kebatinan ia hanya mendapat latihan untuk memperkuat batin dan menghimpun hawa sakti dalam tubuh. Berhadapan dengan ilmu hitam yang tidak sewajarnya seperti ini, ia sama sekali belum pernah mengalaminya. Tidak mengherankan apabila ia sudah menjadi korban.

Ucapan eyang gurunya seakan-akan menjadi akar pohon di tepi sungai di mana ia tenggelam dan hanyut Merupakan penolong dalam keadaan darurat. Cepat ia mengerahkan tenaga sakti, menahan napas, dan membuka matanya. Gelap dan kabur pandang matanya, tampak ribuan bintang menari-nari. Ganda wangi memabok kan masih keras terasa. Tiba-tiba ia merasa ada titik-titik air berjatuhan ke atas kepala dan mukanya. Terasa dingin sekali sampai menembus kulit daging dan mendinginkan pikiran dan hati. Ia dapat melihat jelas sekarang. Rasa dingin air itu mengusir kepeningannya. Kiranya kakek di sebelah kanannya, Empu Bharodo, sudah memercik-mecikkan air kepadanya, sambil berkemak-kemik membaca mantera.

"Pegang dan cium puspa (bunga) ini, Joko..."

Kembali terdengar suara eyang gurunya dan setangkai bunga berada di tangannya. Bunga cempaka putih. Joko Wandiro segera membawa bunga itu ke hidungnya. Berkuranglah ganda wangi menusuk hidung yang tadi memabokkannya. Makin terang pandang matanya dan ia kini tenang kembali.

Ketika ia memandang ke depan, jantungnya tergetar, akan tetapi dia dapat menenangkan diri kembali setelah teringat bahwa ia berada di antara orang-orang sakti. Sambil menekan kembang itu di depan hidung, Joko Wandiro memandang ke depan dengan kedua mata terbelalak.

Apa yang dilihatnya benar-benar membuat orang mati ketakutan. Amat menyeramkan dan tak masuk akal, seperti dalam mimpi buruk.....

0 Response to "Badai Laut Selatan Jilid 33"

Post a Comment