Badai Laut Selatan Jilid 64

Mode Malam
Ketika sadar dari pingsannya, yang teringat oleh Joko Wandiro adalah bahwa ia bertanding mati-matian dengan Dibyo Mamangkoro dan bahwa kerisnya patah tertinggal di dalam dada lawan yang tubuhnya menindih tubuhnya, sedangkan lehernya tercekik hampir patah dan pundak kirinya sakit sekali membuat lengan kirinya lumpuh. Ketika ia sadar, ia merasa betapa pundaknya masih sakit, lengan kirinya masih tak dapat digerakkan, lehernya juga masih kaku dan nyeri-nyeri, akan tetapi dadanya tidak tertindih lagi. Masih hidupkah ia? Ataukah sudah mati? la tidak akan merasa heran kalau mendapatkan dirinya sudah mati. Dibyo Mamangkoro luar biasa saktinya. Terlalu sakti baginya. Pertandingan tadi hebat dan belum pernah selama hidupnya ia mengalami pertandingan sebehat itu.

"Dia bergerak...!"

"Dia sadar kembali...!"

"Dia hebat sekali, dapat mengalahkan kakek sakti itu."

"Pertandingan yang mengerikan dan seru bukan main."

"Dia benar-benar perkasa, patut menjadi junjungan kita."

Suara percakapan ini merdu dan halus, suara wanita. Kemudian jari-jari tangan yang halus lunak meraba-rabanya, membelainya. Tercium harum rambut wanita ketika bibir yang hanyat menyentuh dahinya. Joko Wandiro tersenyum. Ia teringat, ini tentu Dewi, Lasmi, Mini, Sari dan Sundari! Lima orang gadis jelita yang hebat. Ia tidak marah lagi mereka belai dengan mesra. Lima orang gadis ini telah membuktikan cinta kasih dan kesetiaan mereka. Bahkan mereka telah menyelamatkan nyawanya pada saat terakhir ketika tadi ia dikempit dari belakang oleh Dibyo Mamangkoro.

Mereka menolongnya dengan taruhan nyawa, karena menolongnya berarti melawan Dibyo Mamangkoro yang masih kakek paman Dewi sendiri! Ia membuka matanya. Kiranya Dewi yang menciumnya. Tanpa disadarinya, Joko Wandiro membalas rangkulannya dan mencium pipi Dewi sambil berbisik,

"Sudahlah, Dewi, jangan menangis. Aku tidak apa-apa lagi..."

Dewi mengangkat mukanya, memandang dengan air mata berlinang, lalu tersenyum manis sekali.

"Kalau tadi kau yang kalah dan mati, kami sudah siap untuk mengadu nyawa dengan eyang Dibyo Mamangkoro!"

"Dibyo Mamangkoro? Ah, di mana dia sekarang...?"

"Dia sudah tewas, sudah kami kubur di lereng wetan."

Joko Wandiro menarik napas lega. Kiranya luka-lukanya telah dirawat dengan baik-baik oleh Dewi dan adik-adiknya, bahkan ketika ia masih pingsan, tulang pundaknya telah diberi obat penyambung tulang. Untuk menunggu pulihnya tulang pundaknya, ia harus rebah untuk beberapa hari lamanya. Setiap hari, tak pernah lima orang gadis itu membiarkan ia seorang diri. Mereka itu secara bergilir menjaganya, siang malam, dengan penuh perhatian, penuh kesetiaan dan penuh cinta kasih yang mesra.

Kini Joko Wandiro tak pernah menolak sikap mereka yang mencinta. Dia mulai mengenal keadaan hati lima orang gadis ini. Mereka itu adalah orang-orang yang haus akan cinta kasih, semenjak kecil tak pernah mengenal cinta kasih maka sekarang, begitu bertemu dengan dia yang mereka kagumi, mereka menumpahkan seluruh perasaan itu kepadanya dengan harapan untuk mendapatkan cinta kasih. Karena ia tahu betapa mereka itu amat setia kepadanya, bahkan ia telah berhutang budi, ia tidak tega mengecewakan hati mereka. Bahkan seringkali, darah muda di tubuhnya mendesak dan mendorong agar dia mengambil apa yang disodorkan kepadanya, agar dia mempergunakan kesempatan itu untuk menyenangkan diri sendiri dan menikmatinya.

Namun, Joko Wandiro sebagai murid Ki Patih Narotama selalu menekan dan menentang perasaan ini, selalu teringat bahwa sekali ia dikalahkan nafsunya sendiri, ia akan melakukan penyelewengan-penyelewengan dari pada jalan kebenaran. Oleh karena inilah, Joko Wandiro selalu kuat bertahan. Dia mengimbangi pernyataan kasih sayang Dewi dan adik-adiknya, namun dalam batas-batas tertentu dan tidak terpeleset ke dalam bujukan iblis nafsu berahi yang akan menyeretnya melalui batas-batas kesusilaan…..

********************

Endang Patibroto yang mendapat tugas dari sang prabu di Jenggala untuk memimpin pasukan menyerbu Nusabarung dan menawan Adipati Jagalmanik yang hendak memberontak, hanya menyuruh para senopati menyiapkan seribu orang perajurit pilihan. Dia sendiri lalu bergegas melakukan pengejaran setelah menerima laporan penyelidik bahwa tiga orang sakti lain yang menjadi sekutu Durgogini dan Nogogini, yang tadinya juga membantu Kerajaan Jenggala, telah melarikan diri setelah mendengar akan tewasnya Ni Durgogini dan Ni Nogogini.

Mereka bertiga ini bukan lain adalah Cekel Aksomolo, Ki Krendoyakso dan Ki Gendroyono. Menurut rencana persekutuan itu semula, setelah Ni Durgogini dan Ni Nogogini berhasil melemahkan Kerajaan Jenggala dengan menggoda rajanya, maka pada saat yang baik dan telah ditentukan, Adipati Jagalmanik akan melakukan penyerbuan dengan bala tentaranya, sedangkan tiga orang kakek sakti ini sebagai pembantu-pembantu Jenggala akan melakukan gerakan membantu dari dalam.

Siapa kira, usaha Ni Durgogini dan Ni Nogogini yang sudah hampir berhasil itu tiba-tiba hancur dan gagal, bahkan menewaskan mereka. Hal ini selain mengejutkan, juga menggiriskan hati tiga orang kakek sakti itu, maka mereka cepat-cepat melarikan diri dengan maksud menggabungkan diri dengan Adipati Jagalmanik di Nusabarung. Mereka menunggang tiga ekor kuda yang kuat dan meninggalkan Jenggala di malam hari yang gelap.

Pada keesokan harinya, di waktu pagi, mereka telah keluar dari wilayah Jenggala dan menjalankan kuda mereka yang sudah lelah itu perlahan-lahan. Ketika mereka lewat di pinggir sebuah hutan, tiba-tiba tampak sinar hijau berkelebat dan kuda mereka meringkik keras lalu roboh! Sebagai orang-orang sakti, tentu saja tiga orang kakek ini tidak ikut roboh, melainkan dapat cepat melompat turun.

Mereka kaget sekali melihat betapa tiga ekor kuda mereka berkelojotan lalu mati! Kiranya tiga batang panah tangan menancap di leher kuda. Marah sekali tiga orang ini. Mereka adalah orang-orang sakti, tokoh-tokoh besar. Siapa berani begitu kurang ajar menyerang mereka dan membunuh kuda tunggangan mereka? Serentak mereka mencabut senjata masing-masing.

"Babo-babo, si keparat pengecut dari mana berani mati menyerang kami?" Cekel Aksomolo berseru dengan suaranya yang tinggi sambil memutar-mutar tasbehnya yang ampuh.

Juga Ki Krendoyakso telah memegang penggadanya Wojo Ireng yang besar dan berat. Adapun Ki Warok Gendroyono sudah mengudar kolor jimatnya Ki Bandot! Tiga orang sakti ini sudah siap menghajar orang yang berani menewaskan kuda tunggangan mereka.

"Hemm, tiga orang tua bangka tak tahu malu! Siapakah yang pengecut? Aku atau kalian yang melarikan diri seperti tiga orang maling kesiangan?"

Suara ini halus merdu, keluar dari bibir merah Endang Patibroto. Namun amat mengejutkan tiga orang itu yang cepat-cepat membalikkan tubuh karena gadis ini muncul dari belakang mereka. Melihat betapa gadis itu hanya seorang diri, bertangan kosong pula, tiga orang tokoh itu dapat menenangkan hati. Mereka maklum bahwa gadis ini adalah murid Dibyo Mamangkoro yang sakti, dan gadis ini pula yang telah menewaskan sekutu mereka, Ni Durgogini dan Ni Nogogini. Maka di samping rasa kaget meiihat gadis ini, juga timbul kemarahan mereka. Ki Warok Gendroyono yang berdiri paling dekat, tanpa mengeluarkan kata-kata pula sudah menggerakkan senjata kolor mautnya ke atas, memutarnya beberapa kali lalu menghantamkannya ke arah kepala Endang Patibroto.

"Blarrrr...!"

Hebat bukan main sambaran senjata kolor maut ini. Namun dengan gerak tubuh amat ringan cekatan, Endang Patibroto sudah memutar tubuh mengelak. Gadis ini tersenyum-senyum mengejek lalu berkata, "Bagus, akan terbalaslah sakit hati eyang Resi Bhargowo...!"

Ucapan ini mengejutkan mereka bertiga dan serentak mereka menahan gerakan senjata masing-masing.

"Uuh-huh, bocah denok yang sombong! Apa kaukatakan tadi? Mengapa engkau memusuhi kami dan Apa hubunganmu dengan Bhargowo?" Cekel Aksomolo yang sudah ompong itu bertanya.

Endang Patibroto berdiri tegak, kedua tangan bertolak pinggang. "Masih ingatkah kalian belasan tahun yang lalu ketika kalian mengeroyok secara curang eyang Resi Bhargowo? Ketika itu aku sudah bersumpah akan membalas kalian berenam. Durgogini dan Nogogini sudah mampus di tanganku, sekarang kalian bertiga mendapat giliran. Hanya masih kurang seorang lagi. Jokowanengpati, dia sudah lebih dahulu mampus di tangan ibuku. Sayang sekali! Ketahuilah, aku adalah cucu eyang Resi Bhargowo yang dahulu kalian keroyok di Pulau Sempu."

Tiga orang itu benar-benar terkejut, juga terheran-heran. "Kalau begitu, mengapa engkau membantu Jenggala? Eyangmu selalu memusuhi Jenggala."

"Bukan urusanmu!" bentak Endang Patibroto dan tiba-tiba tubuh gadis ini sudah menyambar ke depan, mengirim pukulan Pethit Nogo ke arah leher orang terdekat, yaitu Ki Krendoyakso.

Tentu saja kepala rampok Bagelen ini maklum akan dahsyatnya serangan lawan, maka ia menghindar sambil menyabetkan Wojo Ireng ke arah kepala lawan. Pada saat itu, sambil berteriak keras Ki Warok Gendroyono juga sudah menerjang maju dengan kolor mautnya, sedangkan Cekel Aksomolo sudah pula memutar tasbehnya dan menyerbu ke depan.

Endang Patibroto adalah seorang gadis yang memiliki keberanian luar biasa dan sedikit banyak ia ketularan watak gurunya yang terlalu yakin akan kepandaian sendiri serta memandang rendah orang lain. Inilah sebabnya mengapa ia hanya bertangan kosong saja menghadapi tiga orang tokoh besar yang terkenal sakti ini. Kini ia bagaikan seekor burung pipit yang dijadikan rebutan tiga ekor kucing besar.

Ditubruk sana melejit ke sini, diterkam sini terbang ke sana. Ia hanya mengandaikan Kelincahannya yang memang amat mengagumkan itu untuk berkelebat menyelamatkan diri. Gerakannya amat cepat, tidak kalah cepatnya oleh gerakan senjata tiga orang lawannya sehingga tubuhnya lenyap berubah menjadi bayangan hitam yang berkelebat menyelinap di antara gulungan sinar senjata tiga orang lawannya.

Senjata di tangan Ki Krendoyakso amat mengerikan. Penggada Wojo Ireng yang amat besar dan berat itu bersiutan menyambar-nyambar laksana seekor burung garuda mencari korban. Rambut kepala Endang Patibroto sampai berkibaran setiap kali kena sambar hawa pukulan yang mendahului penggada raksasa itu. Namun, keganasan penggada Ki Krendoyakso ini masih kalah oleh ketangkasan kolor maut di tangan Ki Warok Gendroyono.

Biarpun kolor itu terbuat dari pada bahan lemas dan ringan, namun jangan dikira kalah ampuh oleh penggada yang besar dan berat. Kolor ini seolah-olah hidup di tangan Ki Warok Gendroyono, menyambar-nyambar seperti seekor ular terbang, meledak-ledak di udara ketika melecut dan mengandung hawa yang amat panas.

Kalau Endang masih berani menyampok penggada dengan telapak tangannya, ia sama sekali tidak berani sembrono untuk menangkis kolor maut ini. Namun, harus diakui bahwa yang paling ampuh dan berbahaya adalah tasbeh di tangan Cekel Aksomolo. Kakek ini sudah tua sekali, kalau berdiri biasa sudah "buyuten" (gemetar), akan tetapi ternyata ketika bertanding, sepak terjangnya masih hebat menggiriskan hati. Tasbehnya menyambar-nyambar dan berputar-putar, mengeluarkan suara menggelitik aneh yang amat menyakitkan telinga lawan, sedangkan hawa pukulan yang keluar dari gerakan tasbeh ini melingkar-lingkar dan berpusing membingungkan lawan.

Endang Patibroto memang seorang gadis sakti mandraguna dan sudah mewarisi sebagian besar ilmu kesaktian Dibyo Mamangkoro. Namun, menghadapi pengeroyokan tiga orang kakek sakti ini, akhirnya ia terdesak dan kewalahan juga. Ia hanya mampu mengelak ke sana ke mari mengandalkan kegesitannya, sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk balas menyerang. Ia mulai penasaran dan marah, namun kemarahannya ini malah melemahkan pertahanannya sehingga ketika ia meloncat ke atas menghindarkan diri dari serampangan penggada ke arah pinggangnya, kemudian di atas ia berjungkir balik untuk mengelak sambaran kolor maut sambil memaki-maki, ia berlaku agak lengah dan pundaknya tercium tasbeh.

"Treekkk...!"

Tasbeh itu hanya mencium pundak, tidak mengenai secara jitu. Namun tubuh gadis itu berputar-putar seperti gasing lalu roboh dan bergulingan di atas tanah. Pundaknya serasa hancur, kemudian rasa panas yang amat menyakitkan merangsang dari pundak menyerbu ke dalam dada. Endang Patibroto terkejut bukan main, cepat ia mengerahkan hawa sakti di dalam tubuhnya, disalurkan ke arah pundak untuk memulihkan tenaganya. Ia masih dalam keadaan setengah berbaring setengah duduk ketika kolor maut melecut dari atas dan menghantam ke arah kepalanya dengan bunyi ledakan dahsyat, disusul dalam detik berikutnya oleh hantaman penggada Wojo Ireng yang menggebug ke arah dadanya.

Keadaan itu amat berbahaya bagi Endang Patibroto. Betapa pun saktinya, kalau sampai kolor maut itu mengenai kepalanya, tentu akan hancur kepalanya. Juga penggada yang berat itu kalau sampai mengenai dadanya, tentu akan remuk tulang iganya. Biarpun pundaknya masih terasa sakit dan kepalanya pening, Endang Patibroto tidak kehilangan kewaspadaan dan kegesitannya. Cepat ia membanting tubuhnya ke atas tanah sehingga kolor maut itu menyambar lewat hanya sejengkal di atas kepalanya. Akan tetapi pada detik itu, penggada Wojo Ireng sudah datang menyambar hendak melumatkan tubuhnya yang denok! Angin sambaran penggada sudah mengibarkan ujung kain dan kemben. Tidak ada kesempatan lagi untuk menghindar kini dan agaknya tubuh gadis itu akan hancur ditumbuk penggada baja!

Pada detik yang amat berbahaya itu, Endang Patibroto yang masih rebah telentang, cepat sekali menggerakkan kedua kakinya ke atas dan pada detik terakhir, kedua telapak kakinya yang halus dan kemerahan itu sudah menangkis penggada, diayunkan ke bawah sedikit lalu dilanjutkan dengan tendangan ke atas sambil mengerahkan tenaganya.

"Hehhhh...!"

Ki Krendoyakso terkejut bukan main. Tadinya ia sudah menyeringai kegirangan karena sudah memperhitungkan bahwa kali ini gadis perkasa ini akan remuk oleh senjatanya. Siapa kira, ketika senjatanya sudah hampir mengenai sasaran, yaitu dada yang membusung itu, tiba-tiba diterima oleh dua telapak kaki yang terasa lunak. Tenaga pukulannya seperti tenggelam, kemudian disedot dan selanjutnya malah terdorong ke atas oleh tendangan gadis itu sehingga hampir saja penggadanya terlepas dari tangannya kalau saja ia tidak cepat-cepat meloncat mundur sambil mengeluarkan seruan kaget.

"Trekk-trekkk...!"

Tasbeh di tangan Cekel Aksomolo sudah menyambar lagi ketika kakek ini melihat betapa kedua orang kawannya tidak becus menghabiskan gadis yang sudah ia robohkan itu. Akan tetapi tubuh Endang Patibroto sudah melesat bangun sambil mengelak menjauhi tasbeh yang berbahaya itu. Keringat dingin membasahi dahi dan leher Endang Patibroto. Bermacam perasaan mengaduk hatinya. Ia merasa menyesal mengapa ia memandang rendah tiga lawan ini yang ternyata memiliki kesaktian yang melebihi kepandaian Ni Durgogini dan Ni Nogogini. Karena memandang rendah tadi hampir saja ia mengorbankan nyawanya. Di samping perasaan ini, juga kemarahannya bangkit. Kini sepasang matanya mengeluarkan cahaya berapi-api, senyum mulutnya manis sekali dan lesung pipit di kedua pipinya tampak bersama lekuk-lekuk di dagunya. Inilah tanda bahwa Endang Patibroto sudah memuncak kemarahannya!

"Tua bangka-tua bangka jahanam! Sekarang bersiaplah untuk mampus!" bentaknya dengan suara tetap halus merdu namun mengandung ancaman yang menyeramkan.

Tiga orang kakek itu yang merasa menang kuat, tertawa berkakakan melihat sikap dan mendengar omongan gadis yang mengancam mereka ini.

"Uuuh-huh-huh-huh, denok montok ayu kuning, galak dan sombongnya bukan kepalang. Uuuhhh-huh, eman-eman (sayang) kalau mati muda. Yang mau kau buat menang saja Apa, cah ayu? Lebih baik kau takluk dan ikut dengan Cekel Aksomolo, uuh-huh, kutanggung kau akan senang, kutanggung kau akan menikmati surga dunia, dan tentang memperdalam ilmu, uuh-huh, kau jadilah muridku, cah manis. Cekel Aksomolo adalah gudang segala ilmu. Menyerahlah, jangan sampai tubuhmu yang denok itu hancur luluh terkena senjataku yang ampuh!"

"Ha-ha-ha, cucu Resi Bhargowo tentu saja sombong dan angkuh! Sudah hampir mampus masih banyak lagak. Heh, bocah, Apa kau tidak tahu betapa kami tadi sudah banyak mengalah? Kalau kami kehendaki, tadipun kau sudah mampus!" Ki Warok Gendroyono juga tertawa mengejek.

"Hua-ha-ha! Kalau dia bosan hidup, biarlah dia mampus! Akan tetapi jangan lumatkan dagingnya, jangan habiskan darahnya! Daging dan darah perawan ini tentu banyak khasiatnya untukku, hua-ha-ha!" Ki Krendoyakso juga mengejek sambii menggerak-gerakkan penggadanya.

Ejekan tiga orang kakek itu bagaikan minyak disiramkan pada api yang sudah bergolak. Kemarahan Endang Patibroto hampir membuat gadis ini menangis. Tiba-tiba mulutnya mengeluarkan suara melengking tinggi menyeramkan, membuat tiga orang kakek itu terkejut sekali dan memasang kuda-kuda bersikap waspada. Itulah pekik dahsyat Sardulo Bairowo yang menggetarkan pohon-pohon di sekeliling tempat itu, lebih hebat dari pada pekik harimau betina yang sedang marah. Kemudian, menyusul pekik ini, tangan Endang Patibroto menggerayang (meraba) pinggang dan di lain saat ia sudah menerjang maju dengan keris pusaka Brojol Luwuk di tangan kanan!

Tiga orang kakek ini sama sekali tidak mengenal keris pusaka Brojol Luwuk. Melihat betapa keris itu hanya sebuah senjata kecil keris lekuk tujuh, mereka memandang rendah dan menyambut terjangan Endang Patibroto sambil tertawa mengejek. Akan tetapi mendadak suara ketawa mereka terhenti dan mereka kaget setengah mati ketika hawa yang panas luar biasa menerjang mereka dan membuat tubuh mereka gemetar dan setengah lumpuh. Barulah mereka sadar bahwa keris itu adalah sebuah senjata pusaka yang ampuhnya menggila, akan tetapi kesadaran ini sudah terlambat karena Endang Patibroto sudah menerjang dengan dahsyat!

Ki Krendoyakso yang paling hebat terpengaruh keampuhan Brojol Luwuk sudah habis tenaganya, namun ia masih berusaha menangkis dengan penggada Wojo Ireng sambil berseru, "Celaka...!"

Ki Warok Gendroyono berusaha membaca mantera dengan suara menggigil, juga kolor mautnya ia ayun untuk menangkis keris pusaka yang kelihatannya seperti halilintar menyambar itu. Adapun Cekel Aksomolo yang paling tinggi ilmunya, sudah memutar-mutar tasbehnya sehingga terdengar suara nyaring sedangkan ia mengerahkan tenaga menjejak tanah melompat ke belakang sampai lima meter, menjauhi pusaka yang panasnya menggila itu.

"Tringggg syeeetttt...aauuuggghhh...!"

Hebat bukan main akibatnya. Dalam detik-detik mengerikan itu, penggada Wojo Ireng pecah dan terlempar jauh dari tangan Ki Krendoyakso, juga kolor maut putus-putus dan hangus, kemudian disusul robohnya tubuh Ki Krendoyakso yang tinggi besar seperti raksasa ketika dadanya tersentuh ujung keris pusaka Brojol Luwuk. Ia terjengkang roboh dan tewas seketika dengan dada hangus seperti disambar petir!

Ki Warok Gendroyono yang merasa tangannya terbakar ketika kolor mautnya bertemu keris pusaka, kini mundur-mundur dengan muka pucat. Namun Endang Patibroto tidak memberi ampun lagi. Gadis ini dengan muka beringas sudah menyerbu lagi ke depan, didahului keris pusakanya yang mengerikan. Ki Warok Gendroyono bukanlah seorang penakut, juga ia terkenal sakti mandraguna. Namun selama hidupnya baru kali ini ia berhadapan dengan pusaka yang sedemikian ampuhnya. Menghadapi gadis ini saja kalau ia seorang diri, ia takkan menang. Apalagi sekarang gadis itu membawa sebuah keris pusaka yang luar biasa.

Namun ia maklum bahwa jalan keluar tidak ada iagi, maka ia lalu menggereng seperti harimau dan dengan nekat ia menubruk maju. Akan tetapi perbuatannya ini sama dengan mengantar nyawa karena sebelum ia dapat mencengkeram gadis itu, hawa yang keluar dari keris pusaka sudah membuat tubuhnya seakan-akan lumpuh dan di lain saat ia pun mengeluarkan pekik dahsyat, terjengkang dan ia roboh tewas di dekat mayat Ki Krendoyakso!.

"Cekel busuk! Kau hendak lari ke mana...?"

Cekel Aksomolo cukup cerdik. Melihat betapa dua orang kawannya roboh sedemikian mudahnya, ia maklum bahwa menghadapi gadis dengan pusakanya yang ampuhnya menggila itu, jalan paling baik adalah lari menyelamatkan diri! Maka ia sudah mengambil langkah seribu melarikan diri ke selatan. Siapa kira, gadis itu memiliki gerakan yang jauh lebih gesit dan tangkas dari pada kedua kakinya yang sudah tua dan buyuten, maka dalam belasan kali loncatan saja Endang Patibroto sudah dapat mengejarnya! Terpaksa kakek ini membalikkan tubuhnya, kedua kakinya menggigil ketakutan dan wajahnya pucat!

"Huuuh-huh-huh... tobat-tobat...Endang Patibroto, engkau mau apakah awakku yang sudah tua renta ini? Auhhh, bocah ayu, bocah denok, kau jangan terlalu kejam, ya? Aku sudah tua, umurku tak berapa lama lagi, tidak diapa-apakan juga akan mati sendiri! Masa kau tega membunuhku, anak rnanis...!"

Muak rasa perut Endang Patibroto menyaksikan sikap pengecut Cekel Aksomolo ini. Ia sudah banyak mendengar tentang sepak terjang cekel tua ini yang amat menjijikkan. Betapa si tua bangka ini banyak disuguhi wanita-wanita muda yang cantik-cantik, yang menjadi kegemarannya. Dia bagaikan seekor bandot tua yang makin tua makin gila, makin suka makan daun-daun muda, bagaikan seekor kumbang tua yang suka mengisap madu kembang-kembang yang baru mekar. Juga ia banyak mendengar betapa kakek ini dapat bersikap galak dan kejam tak mengenal ampun. Masih terbayang olehnya betapa dahulu, di Pulau Sempu, mereka yang mengeroyok eyangnya juga dipimpin oleh kakek ini.

"Cekel Aksomolo, tak perlu banyak cerewet lagi. Hadapilah kematianmu seperti seorang yang berilmu!"

Setelah berkata demikian, Endang Patibroto siap menerjang. Namun ia didahului oleh Cekel Aksomolo. Karena merasa bahwa bujuk dan minta ampun akan percuma belaka, kakek ini sudah mendahului dengan serangan jarak jauh yang hebat. Tasbehnya diputar dan dihantamkan ke arah Endang Patibroto, disusul tangan kirinya yang menggunakan gerak dorong disertai hawa sakti sehingga serangkum angin pukulan yang dahsyat menyambar ke arah Endang Patibroto.

Gadis perkasa ini terkejut. Hebat juga pukulan jarak jauh lawan ini. Ia pun cepat mengerahkan tenaga di tangan kiri dan mendorong ke depan untuk rnelawan pukulan jarak jauh kakek itu, kemudian keris pusaka Brojol Luwuk ia gerakkan dari samping yang menimbulkan serangkaian hawa panas membara "memotong” dari samping. Berkat hawa panas dan keampuhan keris sakti ini, bobollah tenaga pukulan jarak jauh Cekel Aksomolo sehingga memungkinkan gadis itu terus
menerjang maju.

"Aauuuuh, kau benar-benar kejam membunuhku...?" teriak Cekel Aksomolo, namun teriakannya ini hanya untuk membuyarkan perhatian lawan karena tasbehnya sudah berputar cepat membentuk lingkaran-lingkaran berbahaya yang mengirim serangan-serangan maut secara bertubi-tubi ke arah tubuh Endang Patibroto.

Gadis ini setelah tadi mengalami kekalahan pahit karena kurang waspada, kini tidak berani memandang rendah lagi dan cepat-cepat keris pusakanya digerakkan menangkis. Begitu keris itu bergerak, serangkum hawa panas menyambar dan tasbeh itu terpental sebelum bertemu dengan keris. Cekel Aksomolo terkejut bukan main. Tasbehnya adalah senjata yang ampuh, merupakan barang pusaka yang dua kali sepekan ia beri sesajen. Akan tetapi kini berhadapan dengan pusaka di tangan gadis itu, tasbehnya menjadi melempem seperti kerupuk bertemu air, lenyap wibawa dan dayanya.

Mendadak kakek tua renta itu membunyikan tasbehnya dengan nyaring sekali. Betapa pun perkasanya, Endang Patibroto merasa telinganya sakit dan cepat ia mengerahkan hawa murni di tubuhnya. Hal ini membuat kakek itu mendapat kesempatan untuk meloncat ke belakang dan ketika Endang menerjang maju, tangan kiri kakek itu bergerak dan meluncurlah belasan sinar hitam yang menyambar ke arah bagian-bagian berbahaya dari tubuh Endang Patibroto. Itulah senjata rahasia ganitri (biji tasbeh) yang amat hebat dan berbahaya!

"Haaaiiittt...!"

Endang Patibroto berseru keras sambii cepat-cepat memutar senjata kerisnya di depan tubuhnya. la maklum betapa hebat dan berbahayanya sinar-sinar hitam itu, maka ia mengandalkan keampuhan pusakanya. Benar saja, hawa panas pusakanya yang diputar di depan tubuh merupakan benteng yang amat kuat sehingga semua ganitri runtuh di atas tanah sebelum menyentuh kerisnya. Dengan marah Endang Patibroto mengeluarkan panah tangan dan sekaligus ia melepas tujuh batang panah tangan yang diluncurkan menjadi tiga rombongan mengarah tubuh
bawah, tengah dan atas!

"Uuhhhh...!"

Cekel Aksomolo kaget sekali. Ia meiihat betapa tiga rombongan panah tangan itu meluncur cepat dan kiranya akan sukar kalau ia mengelak serombongan demi serombongan, Apa pula menangkis, maka ia lalu berteriak keras dan tubuhnya mencelatt inggi keudara sehingga tiga rombongan panah itu meluncur cepat jauh di bawah kakinya. Akan tetapi, Endang Patibroto yang sudah menduga bahwa lawannya tentu akan menghindarkan serangan panahnya itu dengan meloncat tinggi ke atas, segera memekik nyaring dan tubuhnya juga mencelat tinggi ke depan, menerjang tubuh kakek yang masih melayang itu. Betapa kagetnya Cekel Aksomolo ketika melihat sinar abu-abu yang mengerikan meluncur ke arah dadanya. Cepat ia menggerakkan tasbehnya dengan nekat menangkis keris pusaka Brojol Luwuk.

"Cringgg...bretttt...!"

Tasbeh itu putus dan biji tasbehnya runtuh semua ke atas tanah. Kakek itu menjerit, akan tetapi jeritnya terhenti di tengah-tengah ketika ujung keris pusaka Brojol Luwuk sudah mencium ulu hatinya dan sekaligus menyedot darah serta menghanguskan dadanya. Cekel Aksomolo telah tewas sebelum tubuhnya terbanting di atas tanah! Dengan hati puas dan sikap tenang Endang Patibroto memandang mayat tiga orang bekas lawan itu sambil menyimpan keris pusaka Brojol Luwuk setelah mencium gagang keris dan menempelkan mata keris di atas kepalanya.

Pada saa itu terdengar sorak-sorai dan kiranya barisan dari Jenggala sudah tiba di situ. Sorak-sorai makin menggegap gempita ketika para pasukan Jenggala melihat betapa tiga orang sakti yang dari kawan menjadi lawan itu telah menggeletak mati di pinggir jalan, tewas di tangan senopati mereka, puteri Endang Patibroto yang sakti mandraguna. Makin besar hati mereka dengan adanya bukti kesaktian pemimpin mereka. Endang Patibroto lalu meloncat naik ke atas kuda, kemudian ia memimpin pasukan Jenggala menuju ke selatan, ke Nusabarung…..

********************

Pulau Nusabarung terletak di sebelah timur, di Laut Selatan. Endang Patibroto sengaja mengambil jalan ke selatan karena ia teringat akan Pulau Sempu dan ada keinginan di hatinya untuk singgah di pulau itu. Ia ingin melihat pulau bekas tempat tinggal eyangnya, Resi Bhargowo di mana ia bersama Joko Wandiro digembleng selama hampir dua tahun. Juga diam-diam ia mengharapkan akan dapat menemukan patung kencana yang disimpan di pulau itu oleh Joko Wandiro!

Dari pantai selatan di mana tampak Pulau Sempu yang tak berapa jauh dari pantai, ia akan memimpin pasukan ke timur sampai di Nusabarung. Karena pasukan yang banyak itu tak dapat melakukan perjalanan cepat, maka Endang Patibroto menyerahkan pimpinan pasukan kepada perwira-perwira pembantunya. Ia memberi perintah agar pasukan terus ke selatan sampai di pantai laut, di mana ia akan menanti pasukan di pantai, tepat berhadapan dengan Pulau Sempu. Kemudian ia membalapkan kudanya mendahului ke selatan. Maksud hatinya, ia hendak singgah sebentar di Sempu dan pada waktu pasukan tiba di pantai, tentu ia sudah kembali dari pulau itu. Ia akan menyeberang ke Sempu seperti yang dilakukan oleh gurunya dahulu, yaitu dengan bantuan mancung kelapa!

Ketika dia tiba di pegunungan selatan, sudah tak jauh lagi dari pantai selatan dan melalui sebuah hutan kecil, dari jauh dia meiihat seorang wanita berjalan seorang diri. Ia menjadi heran karena di pegunungan seperti itu mengapa seorang gadis berkeliaran seorang diri? Dari jauh pun sudah kelihatan bahwa gadis itu bukan seorang gadis dusun atau gunung. Pakaiannya indah, dan dari jauh sudah dapat terlihat bahwa gadis itu seorang yang cantik.

Ia menjadi tertarik kemudian mengeprak kudanya menghampiri. Sesudah dekat gadis itu membalikkan tubuh dan menghadap kepadanya, lalu dua-duanya tercengang ketika saling mengenal. Gadis itu bukan lain adalah Ayu Candra.....!
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Badai Laut Selatan Jilid 64"

Post a Comment

Pop mobile

Pop Deskop

close