Badai Laut Selatan Jilid 59

Mode Malam
Biarpun dahsyat dan dilakukan dengan beringas saking penasaran dan marah, namun ilmu tata kelahi orang buntung ini merupakan ilmu yang indah dan amat kuat. Kecepatan gerakannya tak dapat disangkal lagi tentulah Bayu Tantra atau Bayu Sakti, atau setidaknya tentu bersumber dari ilmu gerak cepat keduanya itu. Makin ragu-ragulah ia untuk merobohkan Orang ini. Apakah orang buntung ini pernah belajar ilmu kepada Resi Bhargowo? Ataukah pernah menerima gemblengan Empu Barodo? Mereka berdua itu adalah pendeta-pendeta sakti yang bijaksana dan berbudi, tentu menaruh kasihan kepada seorang buntung dan tidaklah aneh kalau memberi sebuah dua buah ilmu.

"Tahan...!" Tiba-tiba Joko Wandiro berseru seraya melompat mundur dari gelanggang pertempuran.

"Paman Jatoko, aku seperti mengenal gerakan-gerakanmu...! Bukankah engkau pernah belajar ilmu kepada eyang Empu Bharodo atau eyang Resi Bhargowo...?"

Ki Jatoko terkejut. Semenjak ia menjadi buntung dan rusak mukanya dan berganti nama Ki Jatoko, ia sudah mengubur nama Jokowanengpati dan agar jangan sampai ada orang mengenalnya, ia pun memperdalam ilmunya dan sedapat mungkin merubah gerakan ilmu silatnya agar berubah dari pada aslinya dan tidak akan dikenal orang.

Namun, betapa pandainya, tentu saja tidak mungkin ia melenyapkan sama sekali gerakan dasar yang menjadi inti aji kesaktian yang telah ia pelajari. Kini setelah bertanding, pemuda ini dapat mengenal ilmu-ilmunya. Hal ini menandakan bahwa pemuda ini sudah mahir betul akan ilmu-ilmu itu. Akan tetapi karena maklum bahwa sekali orang tahu akan rahasianya maka keselamatan hidupnya akan selalu terancam, ia menghardik,

"Bocah dusun, engkau melantur tentang Apa? Kalau takut, pergilah, kalau berani, terima ini!" Ia melompat maju, menerkam dengan ganas sambil mengayun kerisnya.

"Manusia tak tahu diri!" Joko Wandiro berkata perlahan, tidak mengelak dari tempatnya, melainkan menyambut serangan itu keras sama keras Kedua tangannya bergerak merampas keris sambil mendorong.

"Desss...weerrrr...!"

Ki Jatoko berteriak kaget, kerisnya terlempar dan tubuhnya juga melayang ke belakang lalu terbanting ke atas tanah. Sejenak orang buntung ini bengong terlongong. Ia mengenal gerakan Pethit Nogo yang membuat kerisnya terlempar tadi karena tenaga yang terkandung di jari-jari tangan itu hebatnya luar biasa sekali, akan tetapi ia tidak tahu dorongan macam Apa tadi yang membuat tubuhnya terlempar seperti daun kering tertiup angin!

Joko Wandiro yang tidak mempunyai niat mencelakai. Ki Jatoko, tidak menyerang lebih lanjut. Ia membalikkan tubuhnya hendak menghampiri Ayu Candra. Alangkah kagetnya ketika melihat bahwa Ayu Candra tidak berada di tempat yang tadi pula, tidak tampak bayangannya lagi.

"Ayu! Ke mana engkau pergi...?"

Joko Wandiro berteriak memanggil lalu mencari di sekeliling tempat itu. Namun sia-sia. Ayu Candra seperti hilang ditelan bumi, tak meninggalkan bekas. Joko Wandiro menjadi gelisah. Senja telah mulai menggelapkan cuaca. Ia melompat naik ke atas pohon yang tinggi, seperti seekor kera di atas pohon ia memandang ke sekeliling. Akhirnya ia berseru girang ketika melihat sesosok tubuh seorang wanita di sebelah utara, tubuh seorang wanita muda. Siapa lagi kalau bukan adiknya? Ia melompat turun dan bagaikan seekor kijang cepatnya ia sudah lari mengejar ke arah utara.

Sebentar saja ia sudah dapat menyusul. Bocah nakal, pikirnya. Dari Sarangan pergi tanpa pamit. Susah payah ia mencari kini sudah bertemu, kembali hendak pergi tanpa pamit. Mungkinkah karena kehancuran dan kepatahan hati oleh perubahan hubungan antara mereka dari kekasih menjadi kakak beradik? Joko Wandiro hendak menggodanya, hendak menimbulkan suasana gembira di hati adiknya dan mengusir kekesalan hatinya. Maka ia menghampiri dengan pengerahan tenaga dalam, sehingga tubuhnya menjadi ringan sekali tak menerbitkan suara sama sekali Setelah dekat, ia melompat dan menubruk dari belakang, langsung ia memeluk tubuh adiknya dari belakang. Sambil menciumi rambut adiknya, ia berbisik,

"Ayu...engkau nakal sekali. Hendak lari ke mana lagi engkau sekarang? Akhirnya aku dapat juga menangkapmu, anak nakal!"

Joko Wandiro merasa heran sekali ketika tubuh yang dipeluknya itu menggigil kemudian menjadi lemas dan kepala yang rambutnya lemas halus dan harum itu rebah di atas dadanya, jari-jari tangan yang halus pula mencengkeram kedua lengannya. Akan tetapi hanya sebentar saja karena tiba-tiba gadis itu merenggutkan tubuhnya dengan kekuatan yang luar biasa sekali sehingga dapat terlepas, lalu membalikkan tubuh menghadapinya.

Hampir saja Joko Wandiro berteriak kaget ketika ia melihat bahwa dara itu sama sekali bukan Ayu Candra, melainkan Endang Patibroto! Endang Patibroto yang berdiri di hadapannya dengan muka menunduk, kemerahan, dan kemalu-maluan! Rasa kaget ini seperti terganti rasa sesal dan kecewa karena kembali ia kehilangan Ayu Candra. Akan tetapi kembali segera berubah menjadi rasa girang karena memang ia sedang mencari-cari gadis ini pula untuk memenuhi janjinya kepada Kartikosari.

"Endang Patibroto! Kebetulan sekali kita berjumpa di sini. Memang aku sedang mencari-carimu. Kau maafkan aku tadi...kau tadi kusangka orang lain..."

Seketika berubahlah wajah wanita cantik itu, Kini Endang Patibroto mengangkat mukanya memandang, tidak malu-malu lagi, tidak berseri lagi, melainkan dengan bayangan perasaan dingin, bibirnya agak tersenyum, wajahnya membayangkan kalau dia sedang kesal hati atau marah.

"Hemmmm...! Ada Apa kau mencariku? Hendak melanjutkan pertandingan?"

"Endang, aku telah bertemu dengan ibumu di Bayuwismo dan..."

"Hemm, engkau sudah mendengar tentang kematian ibumu di tanganku? Nah, kalau engkau mencariku untuk membalas dendam kematian ibumu, hayolah. Aku sudah siap!"

Joko Wandiro menarik napas panjang. Hatinya penuh penyesalan. Gadis yang berdiri gagah di depannya ini adalah seorang dara yang amat cantik jelita, hampir sama dengan bibi Kartikosari, bertubuh ramping padat dan segar bagaikan sekuntum bunga sedang mekar, seorang dara yang sukar dicari bandingnya. Akan tetapi pandang mata gadis ini amat dingin, juga sikapnya, suaranya, mengandung sesuatu yang mendirikan bulu roma.

"Tidak, Endang. Aku tidak bermaksud membalas dendam. Ayahmu karena salah sangka telah menyakiti hati ibuku. Ibu kandungku yang merasa dirusak kebahagiaan hidupnya telah menuntut balas dan sebagai seorang satria utama, ayahmu rela memberikan nyawa menebus dosa. Ayahmu mati di tangan ibuku. Kemudian engkau membalas kematian ayahmu dan membunuh ibuku. Kalau aku sekarang mengambil pembalasan kepadamu, dendam-mendendam ini tiada ada habisnya. Tidak, Endang. Aku murid ayahmu, dan sebagai murid harus mencontoh langkah-langkah nidup gurunya. Aku mencontoh ayahmu, tidak akan menumpuk permusuhan yang tiada habisnya. Yang tewas sudah sempurna, sudah dikehendaki Hyang Maha Wisesa, bukan urusan manusia."

"Kalau begitu, Apa perlunya engkau mencariku? Kalau hanya untuk berkhotbah saja, aku tiada waktu untuk mendengarkan!"

Mau tak mau Joko Wandiro tersenyum. Gadis ini tiada bedanya dengan dahulu ketika masih kecil. Nakal, galak dan jenaka. Sifat ini masih mendasari wataknya, hanya sayang kini tertutup oleh bayangan-bayangan keganasan dan keanehan yang mengerikan, seakan-akan ada hawa iblis yang hitam menyelubungi dirinya.

"Endang telah kukatakan tadi bahwa aku telah bertemu dengan ibumu. Aku telah berjanji kepada ibumu untuk membujukmu agar kau suka insyaf dan kembali kepada ibumu. Endang, ingatlah bahwa ayahmu, ibumu, dan juga eyangmu adalah patriot-patriot perkasa yang selalu membela kebenaran dan membela Pangeran Sepuh yang kini menjadi sang prabu di Panjalu. Endang, lupa lagikah engkau kepada eyang Resi Bhargowo? Beliau dahulu di Pulau Sempu begitu sayang kepadamu. Dan ibumu! Dia telah mengorbankan segalanya untukmu, kemudian selama belasan tahun menderita siksa batin karena kau lenyap. Engkau insyaflah, Endang Patibroto, bahwa kedudukanmu sekarang sebagai pengawal Kerajaan Jenggala merupakan penyelewengan besar dari pada kebenaran yang selama ini dipegang keluargamu. Kau tinggalkan Jenggala dan temani ibumu yang kini sudah pindah ke Pulau Sempu."

"Ibu ke Pulau Sempu?"

"Ya, dan engkau dinanti-nanti ke sana. Marilah kita pergi bersama menghadap ibumu di sana."

"Pergi bersama menghadap ibu? Apakah...apakah ada hubungannya dengan pesan ayahku...?"

Joko Wandiro memandang. Biarpun cuaca sudah remang-remang, masih jelas tampak olehnya betapa gadis itu menjadi merah mukanya dan sejenak menurunkan pandang mata.

"Pesan ayahmu?"

"Hemm...tentang...perjodohan...!"

"Ahh...!" Kini wajah Joko Wandiro jadi merah sekali. "Tidak, Eh...ltu...eh, tidak penting benar...eh, perlu dipikirkan masak-masak lebih dulu. Yang terpenting, engkau harus meninggalkan Jenggala dan kembali menemani ibumu."

"Harus? Siapa yang mengharuskan?"

"Aku."

"Huh! Kalau aku tidak mau, kau mau Apa?" Endang Patibroto membusungkan dadanya yang sudah busung, matanya bersinar-sinar dan sikapnya begitu menantang.

"Biarpun harus menyeretmu, aku akan membawamu kembali kepada ibumu, bocah berkepala batu!" Joko Wandiro menjadi gemas.

"Babo-babo...sumbarmu seperti dapat meloncati puncak Mahameru saja, Joko Wandiro! Kau kira aku takut kepada orang seperti engkau ini? Huh, boleh kau coba!"

Setelah berkata demikian, tanpa menanti jawaban, Endang Patibroto sudah menerjang maju dan mengirim pukulan dengan tangan kanan yang jarinya terbuka dan dimiringkan. Joko Wandiro yang sudah marah mengangkat tangan menangkis.

"Desss...!"

Hebat pertemuan tenaga yang keluar dari dua tangan itu. Akibatnya., keduanya terhuyung-huyung ke belakang seperti layang-layang putus talinya! Keduanya terkejut sekali dan cepat meloncat untuk mematahkan tenaga dorongan yang hebat. Lalu keduanya saling pandang, terheran-heran. Joko Wandiro yang sudah menduga akan kesaktian Endang Patibroto, terheran karena tenaga sehebat itu benar-benar tak pernah disangkanya.

Sebaliknya, Endang Patibroto yang masih memandang rendah lawannya, kini merasa kecelik dan diam-diam ia kagum juga. Baru pertama kali ini semenjak keluar dari perguruan, ia bertemu seorang tanding yang dapat menahan pukulan Aji Wisangnolo yang dilancarkan dari jarak dekat. Bukan saja Joko Wandiro telah dapat menahannya, bahkan tangkisannya membuat ia terhuyung sampai jauh! Hal ini menimbulkan rasa penasaran dan kemarahan di hatinya.

Tiba-tiba Endang Patibroto mengeluarkan pekik melengking dahsyat dan tubuhnya sudah mencelat ke depan, melayang dan menyerang dengan pukulan-pukulan maut bertubi-tubi. Joko Wandiro yang maklum akan kesaktian gadis ini, tidak berani berlaku lengah atau lambat. Ia segera mengerahkan Aji Bayu Sakti, mengelak sambil balas menyerang. Namun serangannya dapat pula dielakkan secara mudah oleh Endang. Serang menyerang terjadi, keduanya mengandalkan tenaga dan hawa sakti, namun ternyata tenaga mereka berimbang.

Karena kedua lengan mereka yang bertemu dengan getaran-getaran dahsyat itu membuat kulit lengan terasa pedas dan mulai menjadi matang biru tanpa ada hasilnya, Endang Patibroto kembali memekik dan tubuhnya lenyap berubah rnenjadi bayang-bayang yang amat cepat gerakannya, seakan-akan seekor burung walet menyarnbar-nyambar dan ganas seperti burung camar menyambar ikan di permukaan air laut. Inilah ilmu yang diciptakan oleh Kartikosari selama bertapa di Laut Selatan, ditambah oleh gemblengan Dibyo Mamangkoro dan dilakukan dengan pengerahan tenaga Wisangnolo yang panas beracun!

Menghadapi dahsyatnya serangan ini, Joko Wandiro segera rnengeluarkan pekik yang tidak kalah dahsyatnya. Kalau pekik Endang Patibroto adalah Aji Sardulo Bairowo (Pekik Harimau) yang suaranya menggetarkan jantung lawan seperti seekor harimau betina mengaum, adalah pekik Joko Wandiro ini Aji Diroto Meto (Gajah Mengamuk) yang lebih dahsyat lagi. Untuk dapat mengimbangi kecepatan gerak lawan, joko Wandiro juga menggunakan Aji Bramoro Seto (Lebah Putih) yang ia pelajari dan Ki Patih Narotama.

Mereka berdua sama-sama maklum bahwa akan percuma saja apabila mereka menggunakan aji-aji yang mereka dapat dari eyang Resi Bhargowo seperti Pethit Nogo atau Gelap Musti, karena keduanya mengenal ilmu ini. Maka kini Endang Patibroto mengerahkan seluruh kepandaiannya yang ia dapat dari ibunya sendiri ditambah gemblengan dari Dibyo Mamangkoro. Di lain pihak, Joko Wandiro juga rnengeluarkan aji-aji yang ia dapat dari Ki Patih Narotama.

Hebat bukan main pertandingan ini. Tubuh kedua orang muda itu sukar dilihat lagi oleh mata biasa. Sudah lenyap bentuknya, berubah sebagai dua baying-bayang yang seperti dua iblis bertanding yuda, kadang-kadang malah lenyap berubah menjadi gundukan sinar bergulung-gulung menjadi satu, sukar dibedakan mana Joko Wandiro mana Endang Patibroto.

Ratusan jurus telah lewat dengan tiada keputusan siapa kalah siapa menang. Bahkan tidak ada yang mendesak atau terdesak. Jurus ditukar jurus, pukulan dibalas tamparan, tendang-menendang, tusuk-menusuk dengan jari yang melebihi keris ampuhnya. Namun semua itu tidak mengenai sasaran, dapat dielakkan atau ditangkis lawan. Mereka setanding, seimbang, baik kegesitan maupun kekuatannya.

Joko Wandiro makin kagum. Baru pertama kali ini ia menemui tanding yang sehebat ini! Semua kepandaiannya telah ia kerahkan, namun tak pernah memperoleh hasil yang baik. Hanya saja bedanya, kalau Endang Patibroto melancarkan serangan-serangan maut yang amat ganas dan dahsyat, dia hanya melakukan serangan-serangan yang kalau mengenai sasaran tidak akan membahayakan keselamatan gadis itu. Betapa pun juga, harus ia akui bahwa baginya, tidaklah mudah mengalahkan Endang Patibroto.

Di lain pihak, Endang Patibroto menjadi penasaran sekali.Makin lama ia menjadi makin marah, lalu berseru, "Hayo keluarkan senjatamu!" Teriakan ini ia lakukan berkali-kali, namun selalu Joko Wandiro menjawab,

"Aku tidak hendak mengadu nyawa denganmu, Endang. Kalau kau masih penasaran, boleh kau gunakan senjata, aku takkan mau melayani keganasanmu!"

Endang Patibroto marah sekali. Ia maklum, kalau mereka menggunakan senjata, dia dapat memakai keris pusaka Brojol Luwuk yang ampuhnya menggiriskan itu dan dengan bantuan keris pusaka ini ia tentu akan menang. Akan tetapi Joko Wandiro tidak mau memakai senjata dan untuk menghadapi seorang lawan yang bertangan kosong, tentu saja ia pun enggan menggunakan senjata.

Hatinya makin gemas sampai-sampai kalau mungkin, ingin ia menangkap lawannya ini dan menggunakan kuku dan gigi untuk mencakar menggigit! Namun Joko Wandiro terlalu lincah, dan pertahanannya terlampau kokoh kuat, bagaikan batu karang di tengah samudra. Dan memang demikianlah. Semenjak kecil oleh Pujo, Joko Wandiro digembleng melawan gempuran ombak membadai sehingga ia memiliki daya tahan seperti batu karang di laut.

Karena ingin segera memperoleh kemenangan, Endang Patibroto lalu menempuh jalan keras. Mulutnya berkemak-kemik, kedua tangannya saling digosokkan. Kedua telapak tangan itu digosok-gosokkan sampai mengeluarkan asap! Inilah Aji Wisangnolo yang dikerahkan sampai ke puncaknya! Saking hebatnya getaran hawa panas beracun itu, kedua telapak tangan sampai mengeluarkan asap seakan-akan kedua telapak tangan itu sudah membara.

Joko Wandiro terkejut bukan main ketika gadis itu melancarkan serangan dengan mendorong kedua tangan ke arah dadanya. Hawa panas sekali keluar dari dorongan itu dan kedua tangan gadis itu berasap hitam! Ia maklum akan bahayanya serangan ini dan untuk mengelak sudah tidak ada kesempatan lagi. Untuk menangkis lengan, banyak bahayanya karena daya serang yang terpancar keluar dari dua telapak tangan itu dapat melukainya.

Terpaksa ia pun lalu mengembangkan kedua lengan ke depan dengan telapak tangan terbuka, lalu menerima pukulan itu dengan kedua telapak tangan pula sambil mengerahkan hawa saktinya. Ia tidak mau menggunakan aji pukulan yang keras karena khawatir kalau-kalau ia akan melukai lawannya, maka ia hanya mengumpulkan tenaga, menyimpannya di dada dan menyalurkan ke arah kedua lengannya sambil mempergunakan hawa itu tebagai tenaga lembek atau lunak.

"Desss,...!"

Tenaga dahsyat dari kedua telapak tangan Endang Patibroto seakan tersedot ke dalam telapak tangan Joko Wandiro dan gadis itu merasa betapa kedua telapak tangannya bertemu sesuatu yang lunak dan dingin seperti es. Ia terkejut dan menarik kembali tangannya sambil berjungkir balik ke belakang sampai lima kali. Tubuhnya menggigil kedinginan dan mukanya menjadi pucat, namun ia terbebas dari luka berat. Ia mendengar Joko Wandiro mengaduh dan cepat-cepat ia memandang. Kiranya lawannya itu terhuyung-huyung lalu roboh terlentang dalam keadaan pingsan. Dua batang jarum hitam menancap di leher sebelah kiri!

"Heh-heh-heh! Kepandaianmu hebat sekali, nona muda. Akan tetapi lawanmu ini terlalu berbahaya maka aku membantumu merobohkannya. Sekarang lebih baik kau lekas membunuhnya selagi ia pingsan. Heh-heh-heh!"

Berkerut kening Endang Patibroto. Sepasang matanya bersinar-sinar memandang orang buntung yang muncul secara aneh itu.

"Engkau siapakah? Siapa suruh engkau membantuku? Aku tidak butuh bantuanmu!"

Memang yang merobohkan Joko Warndiro adalah Ki Jatoko. Setelah tadi Ki Jatoko dikalahkan Joko Wandiro dan melihat pemuda itu berlari-lari mencari Ayu Candra yang lenyap, Ki Jatoko segera menjumput kerisnya dan ia pun menjadi bingung dan gelisah karena tidak melihat gadis yang dicintanya itu. Karena khawatir kalau gadis itu akan diajak pergi Joko Wandiro, maka ia pun lalu mengejar. Ia tidak dapat menemukan Ayu Candra, sebaliknya malah melihat Joko Wandiro bertengkar dengan Endang Patibroto.

Hatinya tertarik dan segera ia mengintai dan mendengarkan. Kagetlah ia ketika dari pertengkaran itu ia mendengar bahwa gadis itu adalah kepala pengawal Jenggala yang sudah ia dengar dalam perantauannya. Ia sudah mendengar bahwa kini Jenggala memiliki seorang jago wanita yang amat sakti, yaitu murid dari Sang Dibyo Mamangkoro yang sakti mandraguna. Sama senali tidak pernah disangkanya bahwa gadis jagoan itu ternyata adalah puteri Pujo dan Kartikosari, seperti yang dapat ia tarik kesimpulan dari pertengkaran kedua orang muda itu.

Diam-diam ia menjadi girang sekali melihat gadis itu bertengkar dengan Joko Wandiro. Sebagai seorang yang cerdik, dia dapat menduga bahwa setelah menjadi.murid Dibyo Mamangkoro, gadis itu telah menyimpang dari pada jejak hidup orang tua dan kakeknya seperti...seperti dia sendiri yang telah menyimpang dari jejak hidup gurunya, Empu Bharodo!

Ketika terjadi pertempuran, ia menonton dengan jantung berdebar-debar. Baru sekali ini ia menyaksikan pertandingan yang serba hebat. Dia sendiri sampai melongo dan harus mengakui bahwa kepandaiannya sendiri sama sekali tidak akan mampu menandingi seorang di antara dua orang muda itu. Hebat bukan main, sampai kabur pandang matanya, sampai pening kepalanya.

Namun kecerdikannya tidak membiarkan ia tinggal diam saja. Diam-diam Ki Jatoko telah menyiapkan jarum-jarumnya, jarum hitam yang telah menghisap banyak racun ular. Pada gebrakan terakhir ketika dua orang muda itu tadi mengadu tenaga sakti yang mengakibatkan tubuh Endang Patibroto berjungkir-balik ke belakang sampai jauh, pada hakekatnya kerugian ada di pihak Joko Wandiro. Karena pemuda ini tidak ingin melukai lawannya, maka ia menggunakan tenaga lunak dan karena inilah maka ia berada di fihak bertahan. Karena tenaga mereka berimbang, biarpun ia berhasil mengembalikan daya pukulan lawan, namun ia sendiri tergetar jantungnya dan seketika kepalanya pening, pandang matanya berputar-putar.

Tampaknya ia tidak bergerak dari tempat ia berpijak, akan tetapi tubuhnya bergoyang-goyang dan kedua matanya meram. Dalam keadaan setengah pingsan ini dan selagi ia mengumpulkan tenaga mengatur napas, Ki Jatoko yang cerdik dapat melihat keadaan dan tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dua batang jarum hitam ia sambitkan dan tepat mengenai leher kiri pemuda itu yang berseru "aduhh...!" dan roboh terguling, pingsan!

Menghadapi teguran Endang Patibroto yang bersikap dingin dan tak senang, Ki Jatoko yang cerdik tidak menjadi bingung. Ia segera melangkah maju menghadapi gadis itu dan dengan hormat dan ramah berkata,

"Nona, bukankah namamu Endang Patibroto dan engkau adalah pengawal sang prabu di Jenggala? Bukankah orang tuamu adalah Pujo dan Kartikosari yang dahulu tinggal di Bayuwismo? Aku mengenal orang tuamu baik-baik, Endang Patibroto. Aku orang dari Selopenangkep, dahulu kukenal baik Pujo, Kartikosari, bahkan Sang Resi Bhargowo. Namaku Ki Jatoko. Karena tadi kulihat pemuda lawanmu ini amat tangkas dan berbahaya, maka mengingat akan...eh, ibumu, maka aku turun tangan membantumu. Harap kau jangan marah."

Diam-diam Endang Patibroto terkejut. Orang ini agaknya benar-benar mengenal orang tuanya baik-baik.

"Kalau kau tidak mau membunuhnya, biarlah aku yang membunuhnya agar di hari kemudian tidak akan ada gangguan lagi dari orang muda ini."

Ki Jatoko menghunus kerisnya dan menghampiri tubuh Joko Wandiro yang masih menggeletak di atas tanah.

"Jangan bunuh!" bentak Endang Patibroto dan dengan heran Ki Jatoko menahan langkahnya. Ia tidak berani membantah, maklum betapa saktinya gadis itu.

"Tanpa bantuanmu, aku tidak akan kalah olehnya. Kelak dia akan kutewaskan sendiri dengan kedua tanganku. Eh, paman buntung. Kau bilang mengenal baik ayah bundaku ada hubungan apakah antara engkau dengan ayah bundaku?"

Ki Jatoko tersenyum, lalu menarik napas panjang. "Kuceritakan juga takkan ada yang percaya. Hubunganku amatlah erat, terutama dengan ibumu. Ada rahasia besar antara ibumu dan aku."

"Rahasia? Rahasia Apa...?" Endang Patibroto penasaran dan marah.

Ki Jatoko orangnya memang cerdik. Ia menggeleng kepala dan menghela napas panjang. "Belum tiba saatnya kututurkan kepadamu. Ada hal yang lebih penting lagi. Tahukah engkau bahwa tadi pemuda itu menyangka kau orang lain?"

Merah wajah Endang Patibroto. Bedebah, sumpahnya dalam hati. Si buntung ini agaknya melihat ketika ia dipeluk Joko Wandiro tadi. Ia tidak menjawab, hartya mendengus perlahan.

"Dia tadi sedang mencari Ayu Candra, kekasihnya, juga adik tirinya. Memang pemuda ini seorang yang tidak tahu malu, mencinta adik tiri seibu sendiri! Kekasihnya itu bernama Ayu Candra dan gadis itu adalah puteri Listyokumolo dan Adibroto...!"

"Ahh! Dia mencari aku untuk membalas dendam karena ayah bundanya telah kubunuh!," Endang Patibroto memotong marah.

Diam-diam girang hati Ki Jatoko. Dari pertengkaran antara Joko Wandiro dan gadis ini tadi ia hanya dapat menduga-duga dan sekarang ternyata ia mendapat keterangan yang jelas. Tahulah ia kini Apa yang terjadi. Jelas bahwa Pujo telah dibunuh oleh Listyokumolo, kemudian Listyokumolo bersama Ki Adibroto dibunuh oleh gadis ini! Pantas saja bekas pukulannya pada tubuh Ki Adibroto demikian keji dan mengerikan!

"Memang begitulah, akan tetapi aku telah berhasil membujuknya sehingga ia telah ikut bersamaku, tadinya hendak kuajak dia ke Jenggala. Aku mengenal baik sang prabu di Jenggala, juga para pernbantunya yang sakti banyak yang kukenal. Aku sudah berpikir untuk mengajaknya ke sana bertemu denganmu."

"Hemm, akan kubunuh dia!"

"Tidak begitu, anak yang baik. Ada hukuman yang lebih baik lagi yang tentu akan menyenangkan hatimu."

"Bagaimana?"

"Yaitu... eh... , dia akan kupaksa menjadi... isteriku!"

Terbelalak sepasang mata Endang Patibroto. Ia memandang si buntung itu biarpun cuaca sudah mulai gelap, masih dapat ia melihat bentuk tubuh yang buntung kedua kakinya itu dan ia bergidik. Menjadi isteri orang ini benar-benar lebih mengerikan dari pada mati!

"Mengapa aku harus menyerahkan dia kepadamu untuk kauperisteri?"

"Karena... karena... eh, rahasia itulah, Endang Patibroto. Kalau engkau sudah tahu akan rahasia antara ibumu dan aku, tentu kau akan dengan segala senang hati menyerahkan dia untuk menyenangkan hatiku. Kau berjanjilah, anak baik, bahwa kalau kau berhasil menangkap Ayu Candra, kau akan menyerahkannya kepadaku, tidak akan membunuhnya, untuk ditukar dengan... rahasia itu yang tentu akan kuterangkan kepadamu. Sebelum Ayu Candra diserahkan kepadaku, biar dibunuh sekali pun, aku takkan membuka rahasia besar antara ibumu dan aku yang... eh, ada hubungannya rapat dengan dirimu pula."

Endang Patibroto adalah seorang gadis yang masih muda dan hijau. Penuturan si buntung ini amat menarik hatinya. Apa lagi ia kini merasa seperti pernah melihat orang buntung ini, akan tetapi ia sudah lupa lagi kapan dan di mana. Tanpa terasa, saking tertarik, ia menganggukkan kepalanya.

"Sudahlah, kau boleh pergi sekarang."

"Aku pun hendak menghadap sang prabu di Jenggala. Lebih baik kita pergi bersama."

"Ihh, siapa sudi pergi dengan seorang buntung seperti kau?" Endang Patibroto menghardik. "Pergilah kau lebih dulu!"

Mendongkol juga hati Ki Jatoko. Gadis ini terlalu sombong, akan tetapi harus ia akui bahwa kesaktian gadis itu juga menggiriskan hati. Ia tersenyum dan pergi dari situ, ia tidak berani menyelinap untuk mengintai karena maklum bahwa perbuatan itu amat berbahaya dan kalau sampai diketahui, mungkin gadis yang keji dan ganas itu sekali serang akan merampas nyawanya! Ia sudah merasa girang sekali karena kini ia sudah tahu akan semua kejadiannya, bahkan ia tahu pula bahwa Kartikosari dan Roro Luhito, dua orang wanita musuh besarnya itu, kini bersembunyi di Pulau Sempu!

Dengan bantuan kawan-kawannya di Jenggala, Apa sukarnya menyerbu ke Sempu? Ia akan membalas dendam, ia akan membunuh mereka...ah, tidak! Tidak akan begitu mudah. Ia akan mempermainkan mereka, memperhina mereka sampai kedua orang wanita cantik itu merindukan kematian. Ia akan membalas dendam sepuasnya. Akan tetapi, ia harus mencari Ayu Candra. Kalau lebih dulu gadis yang dicintanya itu terjatuh ke tangan Endang Patibroto, biarpun Endang sudah berjanji kepadanya untuk menukar Ayu dengan rahasia besar, namun janji seorang gadis liar seperti Endang Patibroto sukar untuk dipercaya. Wataknya yang begitu liar dan ganas sungguh mengerikan. Siapa tahu kalau Ayu Candra akan dibunuhnya lebih dulu!

Sementara itu, setelah si buntung pergi jauh, Endang Patibroto menghampiri tubuh Joko Wandiro. Dipandangnya sosok tubuh yang rebah miring itu, kemudian ia membungkuk dan meraba dadanya. Gadis itu menarik napas lega ketika merasa betapa jantung pemuda itu masih berdegup normal dan pernapasannya masih biasa.

"Hemmm, engkau manusia keji...! Sudah tahu ayah menjodohkan kita, engkau masih berani menyebut-nyebut nama gadis lain di depanku! Sungguh tak menghargai orang, apakah kau merasa terlalu berharga bagiku? Huh, laki-laki sombong!"

Dengan gemas Endang Patibroto lalu meloncat dan menghilang di dalam gelap, meninggalkan Joko Wandiro yang masih menggeletak pingsan di tengah hutan.

Endang Patibroto uring-uringan. Hatinya kecut dan kesal sekali. Bertubi-tubi banyak hal yang tak menyenangkan hatinya telah terjadi, membuat kepalanya serasa pening dan dadanya panas hampir meledak. Dengan selamat ia telah mengantarkan Pangeran Panjirawit dan Puteri Mayagaluh pulang ke istana Jenggala. Hal pertama yang menggemaskan hatinya terjadilah. Ia disambut dengan teguran-teguran pahit oleh para senopati dan penjabat-penjabat tinggi, karena dianggapnya telah membawa pangeran dan puteri itu sehingga menggelisahkan semua keluarga raja.

Karena merasa bahwa memang terlalu lama ia mengajak pergi dua orang muda bangsawan itu dan memang tentu saja telah menggelisahkan mereka, apalagi kalau mereka mendengar akan pengalaman sang puteri yang amat berbahaya, maka Endang Patibroto tidak membantah dan diam saja, biarpun hatinya menjadi panas.

Hal ke dua yang lebih menjengkelkan hatinya menyusul. Ternyata sang prabu tidak menyambut kedatangannya, bahkan tidak berkenan menerimanya menghadap. Menurut desas-desus, sang prabu "sedang sibuk" dengan dua orang wanita sakti yang sejak lama membantu Jenggala, yaitu Ni Durgogini dan Ni Nogogini yang sudah beberapa hari "dikeram" di dalam istana, bahkan selama itu sang prabu tak pernah menampilkan diri.

"Ni Durgogini dan Ni Nogogini tiba-tiba muncul dan aneh sekali. Kalau tadinya mereka itu merupakan dua orang wanita cantik genit dan masih muda, sekarang, biarpun pakaian mereka masih mewah dan sikap mereka masih genit, namun mereka telah menjadi tua, menjadi nenek-nenek!"

"Agaknya sang prabu amat percaya kepada mereka. Hemm, tidak akan mengherankan kalau mereka menjadi calon pengawal-pengawal pribadi sang prabu!"

"Memang mereka itu sakti mandraguna!"

"Bukan itu saja, juga ada berita angin yang mengabarkan bahwa mereka itu... hemm... amat pandai merayu hati pria!"
*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Badai Laut Selatan Jilid 59"

Post a Comment

close