close

Badai Laut Selatan Jilid 56

Kho Ping Hoo
-------------------------------
----------------------------
"Joko Wandiro, karena diajeng Mayagaluh telah sesat jalan dan berpisah dari rakandanya Sang Pangeran Panjirawit, maka lebih baik kau lekas-lekas mengantar pulang ke Jenggala agar jangan sampai menggelisahkan keluarganya."

Pangeran itu lalu memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan dua ekor kuda pllihan. Setelah dua ekor kuda yang pilihan dipersiapkan, Puteri Mayagaluh sejenak saling pandang dengan Pangeran Darmokusumo, kemudian sang puteri menangis dan mengeluh, "Kakangmas, mungkinkah kita dapat saling bertemu kembali..."

Pangeran itu tersenyum sedih dan ketika Mayagaluh menangis, ia lalu memeluknya dan mengusap-usap rambutnya yang hitam halus, berbisik-bisik memberi hiburan kepada puteri itu. Betapa hancur hati kedua orang muda yang saling mencinta ini menghadapi kenyataan betapa ramanda mereka saling bermusuhan.

Melihat dua orang itu mengadakan perpisahan yang mengharukan, Joko Wandiro mempergunakan kesempatan ini untuk mendekati Ki Darmobroto dan berkata, "Paman Darmobroto, saya gembira sekali dapat bertemu dengan paman. Memang saya mempunyai niat untuk mencari paman."

Ki Darmobroto tersenyum. Ia merasa kagum dan suka kepada orang muda ini, yang memiliki kesaktian hebat akan tetapi selalu bersikap rendah hati dan juga tidak sombong, tidak keji.

"Aku pun amat senang dapat berkenalan dengan anakmas Joko Wandiro yang sakti mandraguna. Kehormatan Apa gerangan yang hendak anakmas berikan sehingga anakmas bersusah payah mencari pamanmu yang miskin ini?"

Karena ia tahu bahwa berita yang hendak disampaikannya bukan hal yang menggembirakannya, Joko Wandiro mengerutkan keningnya dan mukanya berubah suram. Hal ini tak terlepas dari pandang mata Ki Darmobroto yang awas, maka kakek itu cepat-cepat bertanya, "Ada apakah, anakmas Joko Wandiro?"

"Paman, sungguh berat rasa hati saya untuk menyampaikan berita ini. Paman...secara tak disengaja saya telah menjadi saksi akan kematian paman Adibroto dan... isterinya, serta mendengar pula pesan terakhir mendiang paman Adibroto."

Ki Darmobroto adalah seorang sakti yang gentur tapa (tekun bertapa), batinnya sudah amat kuat, tidak mudah dipengaruhi suka-duka duniawi. Namun mendengar berita bahwa sahabat baiknya, Ki Adibroto dan isterinya telah meninggal dunia, ia terkejut bukan main sehingga sejenak ia tak dapat berkata-kata. Kemudian ia bertanya, suaranya gemetar,

"Adibroto dan isterinya...meninggal dunia...? Belum lama ini mereka berdua singgah di rumahku...!"

"Saya menyaksikan kematian paman Adibroto dengan kedua mata saya sendiri, paman. Beliau tewas karena luka-luka yang dideritanya "

"Terbunuh!" Ki Darmobroto berseru. "Siapa pembunuhnya? Mengapa orang sebaik budi Adibroto dibunuh?"

Joko Wandiro menggeleng kepalanya, hatinya terasa perih. Diam-diam ia menduga bahwa kematian Ki Adibroto dan isterinya, atau ibu kandungnya sendiri, tentu ada hubungannya dengan Pujo, guru dan ayah angkatnya. Hal inilah yang membuat hatinya sangat berduka setiap kali ia teringat.

"Saya tidak tahu, paman. Paman Adibroto tidak mengatakan apa-apa, hanya meninggalkan pesan kepada... Ayu Candra bahwa bahwa Ayu Candra telah dijodohkan dengan putera paman yang bernama Joko Seto."

"Betul sekali. Di mana kini adanya nini Ayu Candra? Kasihan sekali anak itu, kehilangan ayah bundanya!"

Kemudian kakek itu teringat sesuatu dan bertanya, memandang penuh selidik,
"Anakmas Joko Wandiro, bagaimana anakmas dapat menyaksikan itu semua? Kenalkah anda dengan keluarga itu?"

Joko Wandiro merasa berat untuk membentangkan semua keadaannya. Ia hanya menggeleng kepala dan menjawab, "Secara kebetulan saja saya lewat di Telaga Sarangan dan menyaksikan hal itu. Adapun...diajeng Ayu Candra telah pergi, saya sendiri tidak tahu ke mana, bahkan sekarangpun sebenarnya saya sedang mencarinya dengan maksud mengantarnya ke Merbabu, ke tempat tinggal paman."

"Mengapa pergi? Kemana?"

"Saya tidak tahu, paman. Mungkin pergi mencari musuh yang telah menewaskan paman Adibroto dan isterinya, padahal dia sendiripun tidak tahu siapa musuhnya itu dan paman Adibroto sudah berpesan agar jangan membalas dendam, jangan mencari musuh."

Ki Darmobroto masih ingin banyak bertanya, akan tetapi pada saat itu terdengar suara Puteri Mayagaluh, "Joko Wandiro, sudah siapkah engkau? Mari kita berangkat!"

Joko Wandiro bangkit berdiri lalu berpamit kepada Pangeran Darmokusomo, kemudian meloncat ke atas punggung kuda yang disediakan untuknya, lalu bersama Puteri Mayagaluh yang sudah naik ke atas kuda pula meninggalkan tempat itu.

Sang puteri beberapa kali menengok dan bertukar pandang mesra dengan Pangeran Darmokusumo, kemudian setelah mereka berbelok pada sebuah tikungan, sang puteri menghapus air mata dari pipinya dengan tangan.

"Gusti Pangeran Darmokusumo sungguh seorang yang berbudi luhur!" Joko Wandiro berkata perlahan.

Sang puteri terkejut dan mengangkat muka memandang kepada pemuda yang menjalankan kuda di sebelah kirinya, lalu memaksa senyum. Senyum yang amat cerah sehingga lenyaplah semua kedukaan dan kekecewaan.

"Mengapa kau berkata demikian, Joko Wandiro?"

"Mengapa? Hamba memuji gusti pangeran dari Panjalu itu, dan memang sepatutnya dipuji."

"Hemm, tiada hujan tiada angin engkau memuji-mujinya di depanku. Apa yang tersembunyi di balik kata-katamu, orang muda?"

Joko Wandiro menjadi merah mukanya. Kiranya sang puteri amat peka perasaannya, seakan-akan dapat menjenguk dan mengintai isi hatinya.

"Maaf, gusti puteri. Hamba eh, hamba kira eh, gusti pangeran amat sayang kepada paduka dan... eh, memang sepadan benar. Sayang sekali, ramanda paduka berdua tak dapat hidup berdampingan dalam suasana damai."

Mendengar ini, sang puteri menarik napas panjang. "Matamu awas benar, Joko Wandiro. Memang..." Puteri jelita itu menunduk malu, "kangmas Pangeran Darmokusumo amat sayang kepadaku, semenjak dahulu sayang "

Melihat wajah yang jelita itu kembali terselubung awan kedukaan, cepat-cepat Joko Wandiro berkata, "Sesungguhnya hamba heran sekali, bagaimanakah paduka sampai dapat melakukan perjalanan begini jauhnya? Kalau boleh hamba bertanya, paduka bersama rakanda paduka dan pengawal, hendak pergi ke manakah?"

"Ah, ini gara-gara kakanda Pangeran Panjirawit yang selalu menuruti semua kehendak Endang Patibroto!" Sang puteri menarik napas panjang lalu menyambung lirih, "Orang kalau sudah jatuh cinta...ah, aneh-aneh saja kelakuannya...!"

Akan tetapi ketika sang puteri menengok dan memandang kepada Joko Wandiro, ia melihat pemuda itu memandangnya dengan mata terbelalak dan mulut ternganga, seakan-akan melihat dia telah berubah menjadi benda yang menakjubkan. Seketika wajah sang puteri menjadi merah sekali, teringat betapa pemuda ini ketika menolongnya dari tangan perampok, telah mencium pipinya! Hal itu telah ia maafkan mengingat bahwa ia telah terbebas dari pada bahaya mengerikan, tertolong oleh pemuda ini. Akan tetapi kini melihat betapa joko Wandiro memandangnya seperti itu, ia cepat cepat berkata,

"Kakanda Pangeran Panjirawit jatuh cinta kepada pengawal kami Endang Patibroto sedangkan aku...aku...dan kakangmas Pangeran Darmokusumo juga saling...eh, mencinta. Entah siapa di antara kami yang gagal kelak!"

la menundukkan mukanya. Puteri ini dengan bijaksana memaksa diri menyatakan cinta kasihnya kepada Pangeran Darmokusumo untuk mengusir perasaan yang bukan-bukan dari dalam hati pemuda penolongnya yang amat ia kagumi ini.

Joko Wandiro seperti baru sadar dari pada mimpi buruk. Ucapan terakhir ini hanya lewat saja di telinganya dan dianggapnya tidak ada artinya. la tadi begitu kaget mendengar nama Endang Patibroto disebut-sebut. Sebagai kepala pengawal! Kepala pengawal Kerajaan Jenggala lagi! la begitu heran mendengar ini sampai tadi terlongong dan disalah artikan oleh sang puteri. Untuk memulihkan lagi ketenangannya, Joko Wandiro terbatuk-batuk.

"Maafkan hamba, gusti puteri. Hamba melamun tadi. Jadi paduka pergi bertiga bersama rakanda paduka dan kepala pengawal yang bernama Endang Patibroto? Kepala pengawal seorang wanita?"

Sang puteri tertawa. Sikap dan kata-kata pemuda ini sudah kembali biasa dan hatinya menjadi lega karenanya. Ia tadinya khawatir kalau-kalau pemuda ini tak mampu menguasai hatinya. la akan merasa berduka sekali kalau sampai pemuda ini menjadi korban asmara karena dia. Kembali Lagi kegembiraan sang puteri. Ia tertawa sehingga tampak giginya berderet putih seperti mutiara.

"Ah, engkau tidak tahu, Joko Wandiro. Memang Endang Patibroto seorang wanita, akan tetapi wah, wanita yang bagaimana! Sakti mandraguna pilih tanding. Cantik jelita dan muda belia, akan tetapi kiraku orang senegara tidak ada yang akan dapat menandinginya. Dibandingkan dengan engkau, Joko Wandiro eh betul juga kalian ini!"

Sepasang mata yang indah bening seperti burung nun itu bersinar-sinar, wajah yang kedua pipinya kemerahan berseri-seri. Joko Wandiro tersenyum dan mengeluh dalam hati. Puteri ini lincah, gembira, dan nakal! Namun ia pura-pura tidak mengerti dan bertanya, "Apa yang paduka maksudkan?"

"Kau tunggu saja sampai kau berjumpa dengan orangnya, Joko Wandiro! Ah, kalau saja kami mempunyai sepasang jagoan seperti kalian!"

Kini wajah Joko Wandiro yagg menjadi merah dan jantungnya berdebar aneh. Endang Patibroto! Hampir ia lupa Lagi bagaimana wajahnya. Sudah terlalu lama ia berpisah dengan anak itu. Anak yang nakal sekali! Puteri ayah angkatnya. terbayang di dalam ingatannya betapa dahulu seringkali ia bertengkar dengan anak perempuan itu. Dan sekarang telah menjadi kepala pengawal Kerajaan Jenggala!

Bagaimana mungkin ini? Ayah angkatnya, Pujo dan juga eyangnya, Bhagawan Rukmoseto atau Sang Resi Bhargowo, adalah pembela-pembela Kerajaan Panjalu, seperti juga gurunya, Ki Patih Narotama. Bagaimana sekarang Endang Patibroto bisa menjadi kepala pengawal Kerajaan Jenggala?

Teringat pula ia akan peristiwa di Pulau Sempu, ketika eyang mereka, Sang Resi Bhargowo, menyerahkan pusaka Mataram kepada mereka. Makin merah mukanya ketika ia teringat betapa Endang Patibroto anak nakal itu memilih keris pusaka yang luar biasa ampuhnya, sedangkan ia mendapat bagian warangkanya, yaitu patung kencana yang ia simpan dalam cabang pohon randu alas yang besar di Pulau Sempu. Semua ini terbayang dalam ingatannya dan membuatnya termenung.

"Sayang aku terpisah dari mereka," terdengar pula suara sang puteri yang menyeret kembali kesadaran Joko Wandiro.

"Paduka bertiga tadinya hendak pergi ke manakah?"

"Ah, kami berdua terbawa oleh Endang Patibroto yang katanya hendak pergi mencari ibunya di Bayuwismo."

"Bayuwismo?"

Seruan Joko Wandiro ini membuat sang puteri memandang tajam kepadanya. "Apakah engkau sudah tahu di mana letaknya Bayuwismo?"

"Hamba belum pernah ke sana, akan tetapi hamba dapat mengantar paduka ke sana. Memang seyogyanya, kalau paduka tidak keberatan, kita pergi saja ke Bayuwismo, hamba rasa paduka akan dapat bertemu dengan mereka di sana atau di tengah jalan."

"Bagus! Begitu lebih baik, karena tidak enak juga rasanya kalau aku pulang sendiri tanpa rakanda Panjirawit dan Endang Patibroto. Jauhkah Bayuwismo dari sini, Joko Wandiro?"

"Hamba rasa tidak begitu jauh lagi, gusti," kata Joko Wandiro dengan hati berdebar.

Mengapa begini kebetulan, pikirnya. ibu kandungnya, diantar oleh Ki Adibroto, pergi mencari dia dan mudah diduga bahwa ibu kandungnya tentu hendak mencari Pujo, ayah angkatnya yang dahulu telah menculiknya. Sangat boleh jadi Ki Adibroto dan isterinya itu pergi ke Bayuwismo. Dan Endang Patibroto, yang menurut penuturan Sang Puteri Mayagaluh kini merupakan seorang yang sakti mandraguna, telah pergi pula ke Bayuwismo.

Lalu terjadi ibu kandungnya dan Ki Adibroto tewas di tangan musuh! la harus segera pergi ke Bayuwismo, menemui ayah angkatnya, mencari tahu perihal kematian ibu kandungnya. Diam-diam ia menjerit kepada Dewata dengan harapan semoga ibu kandungnya tidak terbunuh oleh Pujo, karena kalau hal itu terjadi, ia tidak tahu Apa yang harus ia perbuat!

"Duh, Hyang Maha Wisesa, lindungilah hamba-Mu dari pada malapetaka itu..." keluhnya.

"Kau bicara Apa, Joko Wandiro?" Sang puteri yang melihat gerak bibirnya tanpa mendengar suara, bertanya

"Ohh hamba hendak mengatakan bahwa lebih baik kita segera berangkat sekarang agar jangan kemalaman di tengah hutan, gusti."

"Baiklah, Joko Wandiro. Mari!" Sang puteri lalu menyendal kudanya dan membalapkan kudanya menuju ke barat…..

********************

Dengan hati uring-uringan Endang Patibroto meninggalkan ibu kandungnya. Ia balapkan kudanya dengan cemberut, pandang matanya menyala-nyala dan hatinya kecewa sekali. Bertahun-tahun ia tidak bertemu lbunya dan merasa amat rindu kepada ibunya. Baru saja bertemu, ia telah ditinggal mati ayah kandungnya.

Lalu ibu kandungnya sendiri marah-marah padanya, hendak memaksanya meninggalkan Jenggala, bahkan ibunya telah menyerangnya dengan keris, hendak membunuhnya. Ibu kandungnya sendiri, Ingin sekali Endang Patibroto menangis dan menjerit-jerit, akan tetapi hatinya yang telah menerima gemblengan gurunya, Dibyo Mamangkoro, sudah membeku dan tidak ada setitikpun air mata di pelupuk matanya.

"Endang...! Endang Patibroto...! Kau tunggulah aku!"

Berkali-kali Pangeran Panjirawit berteriak sambil mengejar. Diam-diam pangeran inipun merasa prihatin sekali. Sebagai seorang pangeran, ia maklum pula akan segala peristiwa di Bayuwismo tadi. Sebagai seorang satria, ia pun tidak bisa menyalahkan ibu Endang Patibroto yang berjiwa satria. Dan sebagai seorang pria yang amat mencinta Endang Patibroto, ia pun maklum betapa hancur hati dara perkasa yang dicintanya itu. Akan tetapi Endang Patibroto yang sedang marah-marah itu tidak mempedulikan panggilan sang pangeran. Bahkan ia tidak mempedulikan kudanya yang sudah terengah-engah hampir putus napasnya dan sudah bermandi peluh karena dilarikan kencang terus-menerus tak kunjung henti.

Tiba-tiba dari depan nampak tiga orang penunggang kuda. Mereka itu bukan lain kepala rampok yang kemarin dulu telah menawan Puteri Mayagaluh. Setelah berhasil diusir oleh Joko Wandiro, kepala rampok ini melarikan diri di atas kuda tunggangan Sang Puteri Mayagaluh. Akan tetapi hatinya masih penasaran karena puteri yang cantik jelita dan yang bagaikan sepotong daging telah berada di depan mulutnya, kini terampas orang lain.

Sengoro, kepala rarnpok ini tidak pergi jauh, yaitu ke tempat persembunyian dua orang kakak seperguruannya yang bernama Kolodumung dan Kolomedo, dua orang kakak beradik yang tentu saja memiliki kesaktian lebih hebat dari pada Sengoro sendiri. Setelah menuturkan perihal puteri jelita terutama perhiasan-perhiasan indah yang dipakainya, Sengoro lalu mengajak kedua orang kakak seperguruannya ini untuk melakukan pengejaran. Tentu saja kedua orang jahat itu menjadi tertarik dan segera mereka menunggang kuda lalu bersama Sengoro pergi mencari.

"Nah itu dia agaknya!"

Seru Sengoro ketika melihat di depan seorang dara jelita berpakaian mewah membalapkan kuda yang sudah payah. Hati kedua orang temannya juga girang sekali karena gadis itu benar-benar amat cantik jelita dan perhiasan yang dipakai di kedua tangan dan di pinggangnya sudah berkilauan dan jelas dapat mereka ketahui bahwa perhiasan-perhiasan itu terbuat dari pada emas permata yang mahal harganya!

Mereka bertiga sengaja menghadang di tengah jalan sehingga jalan sempit itu penuh dengan tiga ekor kuda mereka. Endang Patibroto sedang marah. Andai kata ia tidak sedang marah sekali pun, ia tentu takkan mengampuni tiga orang yang berani menghadang perjalanannya. Apalagi pada saat itu ia sedang diamuk kemarahan maka dari jauh ia sudah membentak,

"Tiga ekor anjing busuk, minggir!

Akan tetapi tiga orang laki-laki itu sama sekali tidak mau minggir, bahkan Kolodumung segera menggerakkan tangan kanannya dan sinar hitam menyambar ke depan, tepat mengenai kepala kuda yang ditunggangi Endang Patibroto. Kuda itu meringkik keras, mengangkat kaki depan ke atas, terhuyung-huyung lalu roboh dan mati seketika! Untung Endang Patibroto sudah melompat turun sehingga ia tidak terhimpit badan kuda. Tiga orang laki-laki itu tertawa dan melompat turun dari atas kuda pula.

"Ha-ha-ha, kakang berdua! Perempuan yang kumaksudkan bukan ini. Akan tetapi, dia inipun hebat sekali, malah lebih liar dari pada yang kumaksudkan!"

"Hua-ha-hah! Bagus kalau begitu, lebih banyak lebih baik" jawab Kolodumung gembira.

Endang Patibroto yang sedang dilanda kemarahan itu kini berdiri dengan mata seakan-akan mengeluarkan api. Dapat dibayangkan betapa hebat kemarahannya, makin menyala-nyala melihat kuda tunggangannya roboh dan tewas. Menurutkan kemarahannya, ingin la sekali turun tangan membunuh tiga orang kasar ini. Akan tetapi pandang matanya tertarik oleh kuda yang ditunggangi Sengoro. Ia mengenal kuda itu sebagai kuda tunggangan Mayagaluh! Kalau kuda itu terjatuh ke dalarn tangan iblis ini, berarti Mayagaluh juga tertawan!

Berdebar keras jantung Endang Patibroto. Betapa pun juga, dialah yang bertanggung jawab kalau terjadi sesuatu yang tak baik atas diri sang puteri. Dia adalah pengawal, dan dia pula yang membawa sang puteri sampai ke tempat ini dan harus menyiksa mereka ini dan memaksa mereka mengaku di mana adanya Mayagaluh dan Apa yang terjadi atas diri puteri itu. Karena teringat akan puteri itu maka Endang Patibroto menahan kemarahannya dan tidak ingin menurunkan tangan maut. Ia menoleh dan melihat sebatang pohon waru di dekatnya.

Tangannya lalu menjangkau dan memetik beberapa helai daun waru, kemudian ia berseru keras sambil menyambitkan daun-daun itu ke depan, "Anjing busuk rasakan ini!

Tiga orang itu tertawa makin lebar melihat betapa Endang Patibroto menyerang mereka dengan sambitan daun-daun waru. Mereka menganggapnya lucu sekali dan tentu saja sebagai orang-orang yang digdaya, mereka sama sekali tidak pedulikan serangan ini. Siapa yang sudi mengelak dari sambaran daun-daun waru, apalagi yang disambitkan oleh seorang wanita ayu? Riuh-rendah mereka tertawa-tawa.

"Huah-hah-hah ha-ha-ha-ha... haa-uupp!"

"Ha-hauiiihhh!"

"Ha-haduuuhhh!"

Suara ketawa mereka segera terhenti, muka yang tadinya tertawa-tawa itu kini menyeringai dengan mata terbelalak dan mereka mengaduh-aduh kesakitan. Daun-daun waru menempel di muka dan lengan mereka dan kulit di bawah daun itu keluar darah bertetes-tetes! Saking hebatnya sambitan itu, daun-daun waru kini menempel menjadi satu dengan kulit daging, bahkan ada yang gagangnya menancap sampai dalam seperti paku. Daun yang agak berbulu ini selain menimbulkan sakit dan perih, juga gatal-gatal.

"Perempuan lblis...!"

"Kuntilanak!"

"Keparat, tunggu kau, kuengkuk-engkuk (tekuk-tekuk) engkau...!"

Rasa kaget, heran, dan kesakitan kini berubah menjadi kemarahan hebat. Tiga orang itu memang orang-orang kasar yang biasanya jarang bertemu tanding, yang selalu dapat memaksakan kehendaknya kepada orang lain mengandalkan kekerasan, sehingga kemenangan-kemenangan itu membuat mereka sombong dan merasa seakan-akan tiada tandingan mereka di dunia ini.

Kini bertemu dengan Endang Patibroto yang hanya seorang dara ayu, biarpun mereka dikejutkan oleh serangan daun waru, namun belum membuka mata mereka bahwa mereka sedang berhadapan dengan seorang yang memiliki kesaktian jauh iebih tinggi dari pada mereka. Serentak ketiganya menerjang maju dengan kedua lengan dikembangkan, jari jari tangan dibuka seperti tiga ekor harimau hendak menerkam seekor domba.

Betapa pun marah hati mereka, tiga orang laki-lakl kasar ini masih merasa sayang untuk membunuh seorang dara muda belia yang jelita tu, maka mereka menerjang maju untuk menangkap dan tidak mau menggunakan senjata. Tentu saja Endang Patibroto tidak sudi disergap laki-laki kasar macam mereka. Sekali tangan kirinya bergerak seperti orang menampar dari kanan kiri, tiga orang itu merasa seakan-akan disambar petir, pandang mata berkunang, kepala pening dan tubuh mereka terpelanting kemudian jatuh ke atas tanah!

Masih baik bahwa Endang Patibroto tidak mengerahkan seluruh tenaga dalam aji pukulan Wisang Nolo (Api Beracun) ini, kalau hal itu dilakukannya, tentu mereka bertiga sudah roboh tak bernapas lagi dan dengan tubuh hangus-hangus! Mendapat kenyataan betapa dara itu tanpa menyentuh mereka telah dapat membuat mereka terpelanting, tahulah tiga orang kasar ini bahwa lawannya, biarpun muda belia dan ayu manis, ternyata adalah seorang yang sakti mandraguna, memiliki aji kesaktian tidak lumrah manusia, seperti iblis saja.

Mereka menjadi makin marah akan tetapi kali ini juga gentar, maka sambil melompat bangun, mereka serentak mencabut senjata mereka. Kolodumung memegang senjata cambuk yang berwarna hitam. Cambuk ini terbuat dari pada kulit kerbau, ulet dan kuat sekali, dan ujung cambuk dipasangi kaitan baja seperti pancing. Celakalah lawan kalau terkena sambaran kaitan ini, sekali masuk ke dalam daging sukar ditarik keluar lagi. Sambil berteriak-teriak marah Kolodumung memutar cambuknya ke atas kepala dan terdengar suara meledak-ledak keras.

Kolomedo mengeluarkan senjatanya sebatang pedang melengkung yang amat tajam sehingga mengeluarkan sinar berkilauan ketika ia putar-putar dan tenaga yang besar membuat pedang itu mengeluarkan bunyi berdesing-desing. Juga Sengoro sendiri sudah mencabut goloknya yang besar dan berat.

"Perempuan iblis! Kau mencari mampus sendiri!"

Seru Kolodumung sambil menerjang maju dengan ayunan cambuknya, melecutkan ujung cambuk ke arah leher Endang Patibroto. Alangkah akan mengerikan kalau kaitan baja di ujung cambuk itu mengenai leher yang berkulit kuning halus itu! juga pada detik berikutnya, Kolomedo dan Sengoro sudah menerjang dengan bacokan pedang dan golok dari kanan kiri. Dalam kemarahannya yang meluap-luap, Endang Patibroto tidak sudi melayani tiga orang ini.

Diserang seperti itu, ia sama sekali tidak beranjak pergi dari tempat ia berpijak. Ia hanya mengangkat kedua lengannya ke atas, dengan lengan telanjang ia menerima kaitan baja berikut ujung cambuk itu. Kaitan baja yang menghantam kulit lengannya yang putih halus itu sama sekali tidak membuat lecet kulitnya dan kini ujung cambuk melibat lengannya. Dengan gerakan cepat sekali kedua tangan Endang Patibroto berputar-putar dan pedang serta golok dari kanan kiri telah terlibat oleh cambuk. Begitu ia menarik dengan sentakan keras, tiga orang lawannya terkejut dan terhuyung ke depan.

Endang Patibroto menggerakkan kaki kanan, tiga kali menendang maju dan kembali tiga orang itu terpental ke belakang dengan senjata sudah terampas. Tendangan tadi tepat mengenal kempungan perut mereka sehingga ketika terlempar dan terbanting jatuh, mereka tidak dapat segera bangun berdiri, melainkan merintih-rintih dan bergulingan memegangi perut yang menjadi mulas dan senep!

"Tar-tar-tar!"

Tiga kali cambuk rampasan itu meledak dan ujungnya mematuk tubuh tiga orang itu.

"Aduhh...!"

"Mati aku...!

"Aduhhhh...!"

Tiga orang itu seperti cacing kepanasan, menggeliat-geliat dan berkelojotan karena kaitan baja di ujung cambuk telah mencokel keluar otot dan daging.

"Hayo katakan, di mana adanya sang puteri?"

Kembali cambuk itu berkelebat dan terdengar suara meledak-ledak di atas kepala tiga orang itu. Dengan penuh kengerian, tiga orang laki-laki kasar yang biasanya sewenang-wenang ini menggunakan kedua lengan menutupi kepala.

"Aku tidak tahu" jawab Kolodumung.

"Kami kakak beradik tidak tahu, tanyalah kepada adi Sengoro ini," kata Kolomedo.

"Tar-tar!" Kolodumung dan Kolomedo menjerit dan menangis tak kuat menahan rasa sakit ketika ujung cambuk itu menggigiti kulit daging muka mereka.

Endang Patibroto menghampiri Sengoro yang kini tanpa malu malu Lagi sudah berlutut dan menyembah-nyernbah. Wajah yang cantik jelita itu kini berubah menjadi kedok, dingin dan kaku.

"Hayo kau katakan, di mana sang puteri dan bagaimana kudanya sampai kau rampas?"

"Ampun... ampunkan hamba... dewi!"

"Tarr!"

"Aduhhh...mati aku...!"

Sengoro bergulingan karena kaitan baja itu sudah menancap di pundaknya dan kaitannya mengait urat besar di pundak!

"Ampun...!"

"Hayo bilang, benarkah dua orang ini tidak tahu menahu tentang sang puteri?"

"Be...benar...

Endang Patibroto memandang kepada Kolodumung dan Kolomedo yang kini membayangkan kelegaan hati mendengar jawaban adik seperguruan ini. Terbayang senyum di bibir yang berbentuk indah dan kemerahan itu, kemudian Endang Patibroto memegang pedang dan golok rampasan. Sekali ia menggerakkan tangan, pedang dan golok meluncur bagaikan anak panah cepatnya dan...

"Cepp! Cepp!" Dua buah senjata itu sudah menancap di ulu hati Kolodumung dan Kolomedo sampai menembus ke dalam tanah sehingga dua orang itu tewas seketika. Menyaksikan peristiwa mengerikan menimpa dua orang kakak seperguruannya Sengoro terbelalak ketakutan, mukanya pucat dan dengan tubuh menggigil ia menyembah-nyembah minta ampun.

"Tar-tar-tar!"

Cambuk yang mengerikan itu kembali sudah meledak-ledak di atas kepala Sengoro, membuat kepala rampok makin ketakutan.

"Hayo lekas ceritakan di mana adanya sang puteri yang kudanya kaupakai itu!"

Suara Sengoro menggigil ketika ia berkata,
"hamba...hamba tidak tahu, dia...sang puteri dibawa...oleh pemimpin kami hamba... mana berani...? Hanya mendapatkan kudanya..."

"Di mana dia? Di mana sang puteri dan pimpinanmu. Dibawa ke manakah?"

Dengan telunjuk menggigil Sengoro menunjuk ke belakang. "Mungkin di...di sana...hamba tak tahu benar ke mana "

"Crattt!" Kaitan baja di ujung cambuk itu menancap ke dalam pelipis Sengoro yang menjerit keras dan roboh berkelojotan dalam sekarat.

"Endang , siapakah mereka?"

Derap kaki kuda yang datang disusul pertanyaan suara Pangeran Panjirawit yang melihat tiga orang laki-laki menggeletak tak bernyawa di depan kaki Endang Patibroto. Endang Patibroto menunjuk ke arah kuda tunggangan Puteri Mayagaluh dan berkata,

"Gusti puteri tertawan perampok, ini kudanya dan mereka ini adalah anak buah perampok."

"Aduh, Jagad Dewa Bathara! Di mana sekarang diajeng Mayagaluh?"

Kembali Endang Patibroto menunjuk ke arah mayat Sengoro dan berkata,
"Menurut pengakuan dia, gusti puteri berada di tangan kepala rampok yang kini masih berkeliaran di sekitar hutan ini. Mari kita mencarinya!"

Terhibur hati Pangeran Panjirawit ketika melihat sikap Endang Patibioto yang tenang. Timbul kepercayaannya kembali bahwa sudah pasti kepala pengawal yang cantik dan gagah perkasa itu akan dapat menolong adiknya, membebaskan dari tangan kepala rampok.

"Kenapa engkau menuntun seekor kuda lain?" Tanya pangeran itu ketika melihat Endang Patibroto meloncat ke atas punggung kuda tunggangan sang puteri sambil menuntun seekor kuda lain bekas tunggangan perampok.

"Untuk gusti puteri," jawab Endang Patibroto dan membalapkan kudanya ke depan diikuti oleh Pangeran Panjirawit.

Ketika tiba di bagian yang tinggi di tanah Pegunungan Seribu, Endang Patibroto menghentikan kudanya, kemudian ia meloncat dan memanjat sebatang pohon besar sampai di puncaknya yang paling tinggi. Dari tempat tinggi inilah ia memandang ke sekeliling dan tak lama kemudian terdengar seruannya,

"Ah, itu dia...!"

Pangeran Panjirawit ikut berdebar hatinya mendengar suara girang ini dan begitu wanita cantik dan perkasa itu melompat turun, ia bertanya,

"Kau sudah melihat diajeng Mayagaluh?"

"Mereka di sana, naik kuda. Mari kita menghadang, kita jalan kaki saja agar penjahat itu tidak mengetahui kedatangan kita dan kabur."

Mereka meloncat turun dari atas kuda, mencancang kuda di bawah pohon, kemudian pangeran itu mengikuti Endang Patibroto menyelinap di antara pohon-pohon dan menuju ke sebelah selatan. Tidak lama kemudian sang pangeran mendengar derap kaki kuda makin lama makin mendekat. Endang Patibroto mengajaknya bersembunyi di belakang pohon. Jantung pangeran itu berdegup tegang. Endang Patibroto tenang-tenang saja, namun dara perkasa ini sudah siap untuk menerjang maju.

Akhirnya, setelah menanti dengan ketegangan hati yang makin memuncak, Pangeran Panjirawit melihat munculnya dua orang penunggang kuda dari sebuah tikungan jalan setapak dalam hutan itu. Tidak salah lagi, seorang di antara mereka adalah Mayagaluh, adiknya. Akan tetapi wajah adiknya yang cantik itu sama sekali tidak tampak seperti seorang tawanan, tidak menangis atau ketakutan, melainkan tersenyum-senyum manis!

Dan penunggang kuda di sebelahnya adalah seorang laki-laki yang muda belia dan amat tampan, sungguhpun pakaiannya sederhana sekali namun sungguh jauh berbeda jika dibandingkan dengan tiga orang perampok yang terbunuh oleh Endang Patibroto tadi. Orang muda ini tidak akan lebih tua dari padanya, dan lebih pantas disebut seorang satria gunung dari pada seorang perampok.....!
Bagikan cersil ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊

0 Response to "Badai Laut Selatan Jilid 56"

Post a Comment