-->

Pendekar Majapahit Jilid 3 (Tamat)

Jilid 3 (TAMAT)

B A G I A N I

HARI telah malam. Sang bulan telah mulai memakai mahkotanya menggantikan sang surya yang telah berselang turun dari takhta, laksana permaisuri yang cantik sedang duduk disinggasana. Cahayanja yang memancar menembus di kegelapan-menerangi ibu pertiwi. Angin pegunungan meniup pelan, dan terasalah sejuk menjegarkan badan.

Wiku Sepuhpun minta diri untuk bersemadhi sembahyang di candi halaman belakang dengan diikuti oleh para pamong murid dan para murid-murid semua, tak ketinggalan Jaka Wulung dan Jaka Rimang mengikuti pula.

Kedua tamu priyagung bangkit dari duduknya dan ber-jalan-jalan mengelilingi halaman sambil menikmati hawa pegunungan yang sejuk itu. Tak lama kemudian, kembalilah mereka semua diruang pendapa, dan melanjutkan percakapannya.

Para murid kembali mengganggu percakapan yang sedang berlangsung, dengan mengantarkan hidangan makan malam, ialah nasi putih dengan lauk pauknya, yang berupa ayam goreng, sayur mayur, masakan ikan air tawar, dan sebagai buahnya ialah pisang raja sebesar pergelangan tangan.

— Silahkan menikmati hidangan hasil dari parlepokan, Gusti, --- Wiku Sepuh mulai mempersilahkan untuk menikmati hidangan makan malam. Dengan lahapnya Sang Senapati Muda Gusti Adityawandhana dan Tumenggung Sunata menikmati makanan yang lezat itu. Kiranya para pasukan tamtama pengiring yang berada dirumah samping kanan juga sedang berpesta dengan riangnya, bersama-sama para murid yang sedang tidak bertugas. Gelak tertawa para tamtama pengiring terdengar jelas dari ruang pendapa rumah tengah. Mereka sangat bersuka ria atas sambutan yang meriah dan akrab itu. Satu sama lain asyik menceriterakan pengalaman mmasing-masing dengan sebentar-sebentar diselingi suara tertawa nyaring. Sedang mereka asyik menikmati hidangan yang lezat itu, tiba-tiba datang seorang murid mengantarkan tamu.

Tamu yang datang itu telah setengah lanjut usianya. la berpakaian seperti petani biasa dengan kantong kulit besar dipinggangnya, bertubuh kurus tidak tinggi dengan ikat kepala hitam lebar segitiga yang telah kumal.

Kumis dan jenggotnya putih beruban, panjang tak terawat. Ia membimbing seorang anak lelaki berbadan gemuk agak pendek, berusia kurang lebih mendekati 13 tahun. Setelah tamu itu memasuki ruang pendapa tengah, Tumenggung Sunata segera bangkit berdiri dan menyambutnya dengan penuh hormat. — Tak kuduga bahwa guruku, Bapak Kyai Tunggul datang pula dipadepokan.— Kata Tumenggung Sunata dengan perasaan heran kepada tamu yang baru datang itu, yang tidak lain memang Kyai Tunggul berserta Sujud anak angkatnya adanya. Mendengar ucapan kata-kata sambutan dari Tumenggung Sunata itu, serentak semua berdiri menyambut kedatangannya, dan mempersilahkan untuk duduk bersama-sama.

— Kedatangan seorang tabib besar yang termasyur dipadepokan ini adalah suatu kehormatan besar bagi kami,— Wiku Sepuh mulai bicara. — Perkenankanlah saya menyambutnya dengan ucapan dirgahaju pada Kyai Tunggul.—

— Sangat diperbanyak terima kasih atas kesudian menerima kedatangan kami, Kyai Wiku.— Kyai Tunggul menjawab.

—. Kedatangan Kyai Tunggul sangat menggirangkan hatiku,— Senapati Muda Adityawardhana mcmotong pembicaraan. — Namanya telah mengambar harum di Kerajaan, tetapi baru kali ini aku dapat kesempatan bertemu dengan orangnya,— berkata demikian Sang Senapati Muda membungkukkan badannya, sebagai tanda menghormat.

— Terima kasih atas kata pujian Gustiku Senapati, yang berlebih-lebihan itu.— Kyai Tunggul menjawab.

— Silahkan Kyai Tunggul turut serta menikmati hidangan makan ber-sama-sama,— Wiku Sepuh mempersilahkan Kyai Tunggul dan Sujud untuk segera menyusul makan bersama.

— Tak kusangka bahwa perjalananku selalu dihadang rejeki. Mari Jud, tak usah kuatir, padepokan ini makmur sejahtera,— Kyai Tunggul bicara sambil memulai makan dengan lahapnya.

Kedatangan Kyai Tunggul menambah ramainya percakapan. Namun belum juga mereka membicarakan kepentingan mmasing-masing. Dan Kyai Wiku Sepuh memang sengaja tak mau menanyakan maksud kedatangannya.

Selesai makan, mereka masih melangsungkan percakapan dengan asYiknya hingga larut malam.

Dengan masih menyimpan persoalan mmasing-masing dalam kalbunya, mereka kemudian beristirahat merebahkan badan hingga esok pagi.

Pada esok paginya mereka kembali berkumpul diruang pendapa rumah tengah dan melanjutkan percakapan yang tak ada ujung pangkalnya itu. Tiba-tiba Gusti Adityawardhana memotong pembicaraan dengan usul acara baru.

--- Jika Kyai Wiku Sepuh mengijinkan, ingin sekali saya melihat para murid Padepokan yang sedang berlatih kanuragan--

--- Untuk menghormat Gustiku Senapati, tentu saya tidak berkeberatan, tetapi hendaknya Gusti nanti jangan mentertawakan permainan para muridku yang sangat dangkal itu.— jawab Kyai Wiku Sepuh merendah.

--- Dangkal ataupun tidak, saya ingin sekali melihatnya, agar mendapat tambahan pengetahuan, untuk mengisi ke-kurangan-kurangan. Ilmu yang ada pada para tamtama Kerajaan. Dan aku kira Kyai Tunggulpun ingin pula menyaksikannya,— Gusti Senapati Muda mendesak.

--- Saya sangat setuju akan usul Gusti Senapati Muda, karena pertunjukan itu tentu akan menyegarkan pandangan,— Kyai Tunggul menyahut. Dengan demikian maka kini Kyai Wiku Sepuh terdesak kesudut, dan sebagai tuan rumah ia harus melayaninya.

--- Baik, baik". jawab Kyai Wiku Sepuh :" Hanya saja janganlah Gusti-gusti dan Kyai Tunggul mentertawakan. Peniling!", Kyai Wiku Sepuh memalingkan kepalanya dan berkata kepada Waspadha Paniling;" Supaya semua para murid berkumpul dihalaman belakang tempat latihan, Jaka Wulung dan Jaka Rimang bantulah kakakmu itu, Paniling dan para pamong laid", katanya tertuju pada Jaka Wulung dan Jaka Rimang. Para pamong murid dengan diikuti oleh Jaka Wulung dan Jaka Rimang segera meninggalkan ruang pendapa, menuju kehalaman belakang, untuk mempersiapkan tempat latihan para murid beserta bermacam-macam senjata tajam dan tongkat-tongkat penjalin dari bermacam - macam ukuran. Tempat latihan itu luasnya kira-kira 500 langkah persegi dan merupakan padang rumput hijau yang rapih teratur, menyerupai permadani hijau yang digelar. Di-tiap-tiap sudut terdapat tempat khusus untuk menaruh senjatasenjata tajam dan tongkat-tongkat penjalin. Para murid segera pula berkumpul duduk berjajar - jajar dibatas garis tempat latihan sebelah barat dengan tak memakai baju atas. Mereka bercelana hitam panjang sampai dibawah lututnya dengan ikat pinggang pita berwarna, menurut tingkatan mmasing-masing. Yang termuda atau terendah ikat pinggangnya berwarna merah, sedangkan tingkatan diatas terendah atau tengah, memakai ikat pinggang pita kuning. Kemudian tingkat yang teratas ialah para pamong murid memakai ikat pinggang pita sutra berwarna putih. Para tamtama pengiring dari Kerajaan turut pula menyaksikan latihan yang akan diselenggarakan itu, dan mereka berjajar duduk dibatas sebelah timur. Dengan berpakaian seragam merah berseret putih, sebagai tamtama pengawal Raja. Bagi para tamtatna, kesempatan menyaksikan pertunjukan ini adalah merupakan kegemaran mereka, bahkan banyak diantara mereka yang ingin pula turut serta memamerkan ketangkasannya mmasing-masing dalam hal krida yudha, hanya saja sebelum ada ijin dari Sang Senapati Muda, mereka tak berani bergerak.

Kini Kyai Wiku Sepuh mempersilahkan kepada para tamunya menuju ke tempat latihan halaman dibelakang yang telah disiapkan itu, dan mengambil tempat dnduk disebelah diatas tikar pandan yang telah digelar. Wiku Sepuh segera memberi isyarat kepada Waspadha Paniling agar latihan segera dimulai. Semua para murid dengan dipimpin oleh para pamong murid kini mulai bersemadhi mengheningkan cipta sebentar. Jaka Wulung dati Jaka Rimang duduk meadampingi Wiku Sepuh dan berjajar dengan Tumenggung Sunata, dengan memakai ikat pinggang pita sutra putih. Empat orang murid dari tingkat terendah tampil kedepan, duduk bersila menghadap Kyai Wiku Sepuh dan bersujud serentak, untuk kemudian berdiri ditengah-tengah gelanggang dan memulai dengan mempertunjukkan ketangkasannya mmasing-masing, dengan gaya gerakan kembang-kembang yang indah, yang lebih menyerupai tarian dari pada pertempuran. Senjata-senjata yang berada disudut dipakai juga satu demi satu dalam gerakan tarian kembang-kembang itu. Inilah latihan dasar dari olah kanuragan ciptakan Wiku Sepuh.

Para tamtama memperhatikan dengan seksama, dan banyak diantara mereka memuji akan ketangkasan gerakan-gerakan itu, tetapi banyak pula yang merasa tidak puas akan pertunjukan yang baru saja dipamerkan itu dengan mengerutu. — Tarian yang demikian indah itu bagi kira tak ada artinya.


Gusti Senapati Muda segera turut pula bertepuk tangan sebagai pujian, setelah permainan kembang- kembang itu berakhir.

Kemudian dua orang pemuda dengan ikat pinggang warna kuning pada mmasing-masing pinggangnya tampil kedepan dan bersujud paka Wiku Sepuh. Wiku Sepuh memberi isyarat sebagai ijin untuk segera memulai.

Dengan tangkasnya kedua pemuda tadi meloncat dengan gaya yang indah surut kebelakang dan berdiri ditengah-tengah gelanggang, dengan saling beradu punggung. Dengan cepatnya mereka bergerak lagi ketempat senjata yang berada disudut di depan mmasing-masing. Yang satu mengambil sebuah pedang, sedangkan seorang pemuda yang lain sebagai lawannya mengambil tongkat penjalin berukuran panjang sedepa dan besarnya kira-kira satu setengah ibu jari kaki.

Kini pertarungan pedang melawan tongkat panjang, mulai mendebarkan hati para penonton. Semua perhatian para tamtama terpusat kearah pertunjukan pertarungan itu. Mmasing-masing memperlihatkan ketangkasannya yang mengagumkan.

Tumenggung Sunata kini mulai tertarik pula akan pertunjukan Itu, bahkan Sang Senapati sendiri seringkali mengeluarkan pujian — ah ,…… hebat — hingga berulang-ulang. Tongkat penjalin yang berada ditangan murid Kyai Wiku Sepuh dapat bergerak cepat berputar menjadi lingkaran, tak ubahnya seperti payung baja sebagai pemegangnya. Pedang ditangan lawan tak mampu menyerannya. Tiap kali serangan tusukan dengan ujung pedang dilancarkan, selalu pula dapat digagalkan karena rapatnya perisai yang diciptakan oleh lawan, sipemegang tongkat penjalin. Bahkan berkali-kali hampir pedang terlepas dari genggaman, karena terbabit oleh benturan gerakan tongkat penjalin yang dahsyat itu. Kini berganti pemegang rotan me ancarkan serangan-serangan sabetan dan pukulan yang tak kalah berbahayanya. Pemegang pedang sibuk menangkis dengan-gerakan yang mentakjubkan pula. Tiap kali tangkisan di iringi dengan sebuah gerakan serangan babatan ataupun tusukan kearah lawan. Namun kiranya ke-dua-duanya memiliki ketangkasan dan kemahiran yang seimbang. Tepuk tangan terdengar riuh setelah pertunjukan berakhir. Sang Senapati tersenyum girang melihat pertunjukan itu, sedangkan Kyai Tunggul selalu berseru pada anak angkatnya Sujud:

— Hebat, hebat, kau harus banyak belajar dari pertunjukan ini. —Sujud tidak menjawab, tetapi memperhatikan dengan cermatnya akan pertunjukkan yang mengasyikan dan menarik perhatiannya para penonton. Sedangkan dalam hatinya ia tidak merasa puas akan pertunjukan yang hanya merupakan permainan saja. Yang ia inginkan, ialah suatu pertempuran yang sungguh-sungguh, dan berakhir dengan ada pihak yang menang. Pikirnya: — Bagaimana bisa tahu, mana yang lebih mahir, jika hanya merupakan permainan demikian saja. —

— Jika kiranya tak keberatan, saya juga ingin turut meramaikan pertunjukan ini. Lagi pula biarlah salah seorang tamtamaku dapat menerima pelajaran-pelajaran yang berguna dari murid Kyai Wiku Sepuh,— tiba-tiba Sang Senapati Muda bicara memecah kesunyian, kepada Kyai Wiku Sepuh.

-- Bagus, bagus,— cljawab Kyai Wiku Sepuh, dan melanjutkan kata-katanya sambil bersenyum. — Saya telah menduga, bahwa Gusti Senapati sangat gemar akan pertunjukan olah kanuragan, tetapi sudilah Gustiku mcmperingatkan kepada tamtama yang akan tampil supaya pertunjukan ini berlangsung dengan rasa persahabatan. —

— O, tentu, hal itu tak usah Kyai Wiku Sepuh kuatirkan, — sahut Sang Senapati dengan tersenyum pula.

Sang Senapati segera berbisik kepada Tumenggung Sunata, supaya memanggil seorang tamtama yang telah ditunjuknya. Seorang tamtama yang dimaksudkan segera tampil kedepan menghadap Sang Senapati untuk menyembah, dan kemudian berdiri tegak ditengah gelanggang, menunggu datangnya lawan.

— Paniling, — Wiku Sepuh berseru memanggil. — Biarlah adikmu Watangan melayani tamu kita, agar ia mendapat pengalaman dan petunjuk-petunjuknya yang berguna. Watangan segera berujud menghadap Kyai Wiku Sepuh. Dengan tenang ia mendekati seorang tamtama yang berdiri ditengah gelanggang, serta menganggukkan kepalanya sambil bersenyum. Tamtam yang berdiri itu membalas dengan anggukkan kepala pula dan segera menghunus pedangnya dan langsung menyerang Watangan yang masih berdiri dengan tangan kosong itu, sambil berseru. — Awas senjata —

Serangan pedang itu merupakan serangan tebangan kearah pinggang lawan dengan suatu loncatan yang tangkas. Semua orang menahan nafas, melihat serangan yang tiba - tiba, seJagi lawannya belum siap dan bertangan kosong. Dan Serangan itu secepat kilat datangnya serta sangat berbahaya.

— Serang curang Sujud berteriak, tetapi Kyai Tunggul segera memberi isyarat agar Sujud menutup mulutnya. Tetapi pada saat pedang akan jatuh pada sasarannya, penonton dikejutkan lagi oleh gerakan Watangan yang sangat mentakjubkan. Watangan meloncat tinggi melewati kepala sipenyerang dengan suatu seruan yang nyaring, dan dilanjutkan dengan suatu susulan lompatan berangkai sewaktu ia berada diatas kepala tamtama. Dengan demikian ia dapat jatuh berdiri ditanah lagi, tepat disudut belakang penyerang, dimana senjata-senjata ditempatkan. Gerakan loncatan itu sangat indah, dan merupakan pameran ketangkasan yang menjadi perhatian para penonton terutama Sang Senapati Muda. Dengan cepat Watangan meraih sebatang tongkat penjalin, yang panjangnya kira-kira setengah depa, sebesar ibu jari kaki.

Kini mereka, kedua-duanya cepat membalikkan badannya dan kembali berhadap-hadapan dan saling serang menyerang dengan serunya. Ternyata tongkat penjalin pendek tak kalah dahsyatnya dan berbahaya, dibandingkan dengan serangan-seragan pedang yang tajam berkilat. Sebentar-sebentar adegan pertarungan menegangkan syaraf penonton. Tak selang berapa lama pertarungan yang seru itu tiba-tiba berobah menjadi berat sebelah. Gerakan pedang tamtama yang tadinya bergetar menyilaukan mata penonton, seolah-olah merupakan cahaya yang bergulung-gulung menyelubungi Watangan kini tak dapat bergerak leluasa. Kemana saja pedang berkelebat, selalu terbentur oleh serangan tongkat penjalin yang disusul dengan rentetan serangan sodokan dan sabetan tongkat itu.

— Si tamtama menjadi sibuk karenanya, dan pedangnya hanya dapat digunakan untuk menangkis saja. Dalam keadaan terdesak, si tamtama selalu meloncat kesamping atau surut kebelakang, untuk menghindari datangnya serangan tongkat yang bertubi-tubi.

— Biarlah dia sekali - kali merasakan pedihnya dipukul tongkat rotan, — Sang Senapati menggerutu.

Karena melihat lawannya terdesak tak berdaya, Watangan segera mengurangi dan memperlambat gerakan serangannya, dengan maksud akan segera menghentikan pertempuran itu. Tetapi segera ia meloncat surut kebelakang, tiba2 b r e- b e t ……. celana dipahanya robek terkena goresan pedang. Untunglah bahwa kulit dagingnya tak turut terkupas.

— Berhenti ….. berhenti ……Seru Sang Senapati Muda dengan suara teriakan yang nyaring.

Tamtama yang masih akan melanjutkan serangannia, segera menggagalkan maksudnya dan berhenti seketika dengan berdiri tegak ditempatnya. Demikian pula watangan segera meloncat kesamping dan berdiri disudut, untuk kemudian menaruh kembali tongkat penjalin ditempat penempatan senjata-senjata Si tamtama segera menghadap dan duduk bersila dihadapan Sang Senapati Muda, dengan maksud akan menyembah. Tetapi sebelum ia mengangkat kedua belah tangannya, tamparan Sang Senopati tepat mengenai pelipisnya.

Tamtama tadi jatuh terkulai ditanah, dengan tak sadarkan diri. Seorangpun tak berani mendekat untuk memberi pertolongan. Tetapi tak tahu, dengan cara bagaimana, tamtama itu segera dapat bangkit kembali dan menyembah lagi.

— Permainan pedang kanak-kanak, kau pertunjukan disini.— Sang Senopati mengguman padanya. — Tahukah, jika murid Kjai Wiku Sepuh tadi menghendaki kau telah mampus terkena pukulan rotannya.— Dengan nada marah Sang Senapati melanjutkan perintahnya — Lekas menyembah kepada Kyai Wiku Sepuh dan menghaturkan terirna kasih.—

Tamtama itu segera menggeser duduknya dan menghadap Kyai Wiku Sepuh dengan menyembah. — Terima kasih atas kemurahan Bapak Kyai.— Katanya.

— Bagus, saya juga terima kasih padamu. Permainanmu pedang cukup baik.— Kyai Wiku Sepuh menjawab dengan tersenyum. Tamtama kemudian bangkit dan dengan muka yang merah padam ia kembali duduk ditempatanya semula, berjajar dengan kawan-kawannya.

Kyai Wiku Sepuh terlalu memanjakan para tamtamaku.— Sang Senapati berkata pada Kyai Wiku Sepuh.-- Terima kasih atas kemurahan Kyai Wiku Sepuh pada orangku tadi. - kata Sang Senapati.

Ternyata pada waktu si tamtama jatuh pingsan tadi, Kyai Wiku Sepuh mengerahkan pemusatan tenaga bathinnya, yang disalurkan lewat pernafasannya, untuk kemudian ditiipkan kearah si tamtama dengan pelan. Jarak antaranya kurang lebih ada lima langkah. Karena bantuan Kyai Wiku Sepuh itulah, maka tamtama yang tak sadarkan diri, segera siuman kembali dan bangkit. Hanya Sang Senapati dan Kyai Tunggullah yang dapat mengetahui adanya pertolongan dari Wiku Sepuh kepada tamtama tadi.

Mereka menyadari, bahwa ilmu yang dimiliki oleh Wiku Sepuh adalah mendekati titik sempurna. — Sayalah yang harus mengucapkan terima kasih kepada Gustiku. — jawab Kyai Wiku Sepuh dengan merendah hati—Murid-muridku telah menerima banyak pelajaran dari Gusti yang sangat berguna. Saya masih ingin sekali lagi mengagumi permainan tongkat penjalin dari seorang murid Kyai Wiku Sepuh.

Sang Senapati berkata lagi — Dan kali ini biarlah Tumenggung Sunata yang melayaninya, agar pertunjukan dapat sedikit menyegarkan pandangan Berkata demikian Sang Senapati memalingkan kepalanya kearah Sunata dengan mengerdipkan matanya sebelah sambil bersenyum.

— Kiranya kini Sang Senapati ingin mengetahui lebih banyak dasar-dasar keseluruhan dari permainan tongkat penjalin hasil ciptaan Kyai Wiku Sepuh. Ingin pula beliau mengetahui sendi-sendi kelemahan dan sendi-sendi keampuhannya. Sebagai seorang Manggala tamtama, beliau memang selalu menaruh perhatian besar dalam pelbagai macam ilmu krida yudha. Hal inipun telah dapat dimengerti oleh Kyai Wiku Sepuh, katanya. — Atas perhatian Gusti Senapati akan permainan tongkat penjalin dari murid- muridku yang masih dangkal itu, saya merasa mendapat suatu kehotmatan besar, Gusti. — Setelah mengucapkan kata-kata itu Kyai Wiku Sepuh segera berpaling kepada Jaka Wulung yang berada disampingnya, serta berkata. — Jaka Wulung …….Kesempatan untuk mendapatkan petunjuk-petunjuk dari Gusti Tumenggung yang sangat berguna untukmu, jangan kau sia-siakan. — Jaka Wulung segera dapat menangkap pula apa yang di-maksudkan gurunya itu.

Bersamaan waktunya Sunata dan Jaka Wulung duduk bersila menghadapi Sang Senapati dan Kyai Wiku Sepuh untuk menyembah. Setelah mana mereka berdua menuju ke-tengah-tengah gelanggang dengan senjata ditangan masing-masing. Sunata bersenjatakan pedang, sedangkan Jaka Wulung bersenjatakan tongkat penjalin yang tadi dipergunakan oleh Watangan.

— Saya hanya melayani Gustiku Tumenggung. Silahkan, Gustiku memulai lebih dahulu, — kata Jaka Wulung dengan hormatnya. Berkata demikian Jaka Wulung berdiri dengan kaki kuda-kuda. Serta melintangkan tongkat penjalin didepan dadanya.

— Pemuda yang kuhadapi ini sungguh bersifat kesatrya — pikir Sunata.

— Baiklah, tapi jangan terlalu menghormat padaku, — kata Sunata singkat dengan diiringi senyuman.

Belum juga senyuman itu lenyap dari bibirnya, ia menerjang maju kearah Jaka Wulung, dengan berteriak. — Awas pedang — Yang diserang, segera menghindari datangnya sabetan pedang yang diarahkan kelambung kiri, dengan satu langkah, surut kesamping kanan. Badannya merendah serta tangan yang memegang tongkat penjalin cepat bergerak menangkis datangnya pedang.

Dua senjata beradu keras, dan mmasing-masing segera surut kebelakang satu langkah. Ternyata dengan gerakan tadi kedua-duanya ingin saling mengukur tenaga milik lawan. Kembali Sunata menyerang lagi dengan suatu bacokan pedang yang dahsyat kearah kepala, yang oleh Jaka Wulung hanya dengan memiringkan tubuhnya serangan tersebut dapat dengan mudah dihindari, dan disusul dengan sabetan tongkat penjalin kearah kaki Sunata. Sunata meloncat menghindari sambil manusukkan pedangnya, menahan serangan rangkaian. Setelah ke-dua-duanya dapat saling menyelami permainan lawannya, kini mulai ganti berganti serang menyerang dengan serunya.

Bukan hanya senjata saja yang digunakan untuk saling menyerang tetapi tinju dan tendangan tak ketinggalan juga.

— Permainan pedang Gusti Tumenggung Sunata sungguh bermutu tinggi, — Wiku Sepuh berkata kepada Sang Senapati Muda Gusti Adityawardhana.

— Tetapi muridmu pun tak kalah tangkasnya, dan permainan tongkatnya banyak berbeda dengan murid-murid yang tadi. — jawab Sang Senapati Muda.

— Dasar permainan tongkat Kyai Wiku Sepuh yang diajarkan ada dua macam — Kyai Tunggul memotong Kyai Wiku Sepuh bersenyum kepada kedua-duanya dan menjawab pelan sambil memperhatikan berlangsungnya pertarungan.

— Kiranya Gusti Senapati dan Kyai Tunggul sangat tajam penglihatannya. Sudilah Gustiku dan Kyai Tunggul sabar sebentar, nanti akan kujelaskan.

— Sang Senapati sebagai Manggala dan Kyai Tungul yang banyak pengalaman, segera mengetahui, bahwa permainan tongkat penjalin Jaka Wulung adalah terdiri dari dua macam dasar. Hal ini memang disengaja oleh Kyai Wiku Sepuh agar Jaka Wulunglah yang tampil kemuka, dengan permainan tongkatnya ciptaan Kyai Pandan Gede dan digabung dengan ciptaannya sendiri yang baru dua bulan dipelajari oleh Jaka Wulung. Dengan demikian, sukarlah untuk tepat diketahui dasar-dasar keseluruhan dari pada permainan tongkat ciptaannya sendiri.

Kiranya ke-dua-duanya yang sedang bertanding, memiliki ketangkasan dan tenaga seimbang,.

Kembali kini pedang Sunata melancarkan serangan tusukan kearah perut Jaka Wulung. tetapi dengan tangkasnya, tongkat penjalin menghadang didepan, dan menahan mengikuti segala gerakan pedang. Dua senjata seperti saling melekat ujungnya. Dan kedua-duanya saling mengerahkan tenaga untuk dapat mendahului menyerang, dengan mmasing-masing saling menahan geraknya senjata lawan, Peluh mulai keluar ber-bintik-bintik dikeningnya mmasing-masing. Mereka saling mengagumi akan kekuatan lawannya. Semua pandangan mata terpusat dalam adegan yang tegang ini, dan semua ingin tahu pula siapakah yang akan memenangkan pertandingan yang seru ini.

Tiba-tiba terdengar suara seruan Jaka Wulung yang nyaring; — Lepas. — Tongkat rotan dengan cepatnya berkelebat terlepas dari ujung pedang dan langsung menyapu kaki Sunata dua kali susul menyusul kekanan kiri. Sabetan tongkat kearah bawah lawan sangat cepatnya, sehingga sukar diikuti dengan penglihatan mata biasa. Tetapi Sunata adalah Tumenggung tamtama yang banyak pengalamannya dalam krida yudha. Secepat geraknya tongkat penjalin itu, Sunata melesat tinggi melambung melampaui kepala Jaka Wulung menghindari sabetan tongkat, dan sekaligus menyerang dengan pedangnya kearah dada Jaka Wulung dengan gaya tusukan.

Semua menahan nafas dengan penuh kecemasan, melihat serangan kedua-duanya yang sangat berbahaya bagi masing-masing. Serangan yang saling dilancarkan oleh mereka itu, harus diperhitungkan dengan cermat sekali, karena baik bagi penyerangnya maupun bagi yang diserang sama-sama berbahaya. Jaka Wulung tak kurang tangkasnya menjatuhkan diri dan bergulingan ditanah tiga kali, untuk menghindari datangnya serangan tusukan pedang. Cepat ia bangkit kembali untuk melintangkan tongkatnya diatas kepalanya, menangkis datangnya serangan bacokan pedang Sunata yang datang menyusul.

…. Hebat ! ...... hebat ! Sang Senapati berseru sambil bertepuk tangan.

Pertarungan itu masih terus berlangsung dengan serunya, dan kini mmasing-masing memamerkan simpanan ketangkasannya. Baru kali ini para tamtama melihat jelas suatu pertandingan krida yudha dengan ketangkasan yang mentakjubkan. Tebasan dan bacokan pedang tak dapat mematahkan tongkat penjalal. Dan sebaliknya pukulan sedokan dan sabetan tongkat penjalin tak pernah dapat mengenai sasarannya. Disela-sela dua senjata yang bergerak cepat, kaki dan tangan masih pula dapat menyerang dengan tendangan dan tinjunya. Gaya loncatan mmasing-masing sungguhpun berlainan dasarnya, indah dipandangnya. Demikian pula Sujud. Ia duduk terpaku dengan mulut ternganga melihat hebatnya jalan pertarungan.  

Tetapi sedang mereka bertempur dengan serunya, tiba tiba seoang bertubuh gemuk pendek dan berwajah penuh dengan cambang bauk dan telah lanjut usianya, memperlihatkan diri dari balik rumah samping dengan berkata keras.

— Tak kusangka, bahwa Sidik Pamungkas, yang katanya telah menjauhi keduniawiaan, ternyata menjadi pelatih para priyagung Kerajaan. —

Kata-kata itu demikian kerasnya sehingga semua orang berpaling kearah datangnya suara. Pun yang sedang bertanding segera berhenti dan memandang kejurusan orang gemuk pendek tadi.

Para pamong murid segera bangkit dan menyambut datangnya tamu yang belum dikenal, tetapi segera dibentaknya dengan suara yang kasar dari tamu yang disambut itu. — Tak usah kalian Menyambutku dangan sopan santun. Kedatanganku hanya ingin menagih hutang pada Pandan Gede dan Banteng Majapahit. Dan hanya Gurumu Wiku Sepuh yang pantas menyambutku, apabila kedua duanya yang kucari tetap disembunyikan oleh Wiku Sepuh.—

— Paniling! — Wiku Sepuh berseru pada ketua pamong murid yang sedang menyambut tamu tadi. — Kembaliah ke tempatmu berserta adi adimu, biarlah aku yang menyambutnya.— Berkata demikian, Kyai Wiku Sepuh bangkit berdiri dengan pelan, serta berkata. — Tambakraga, kedatanganmu akan kuterima dengan kegirangan hati. Lama nian kita tak berjumpa, rasanya aku telah rindu padarnu. Silahkan duduk, diruang pendapa, nanti akan kuperkenalkan dengan tamuku ini ---

---- Wiku Sepuh pandai juga berlaku pura-pura. Saya hanya seorang diri dan berada disarang harimau, tak mungkin aku mudah kau jebak dengan lidahmu yang berbisa. Ketahuilah bahwa yang saya perlukan adalah adimu Pandan Gede dan priyagung si Pendekar Majapahit. Jika memang mereka tak mau keluar dari persembunyiannya, dapat juga kau mewakilinya.— Jawab Tambakraga Dan melanjutkan kata- katanya.

--- Jauh-jauh dari hutan Wonogiri aku datang, hanya untuk menagih hutang pada dua orang pengecut itu. ---

Sabarlah dahulu Tambakraga. — Wiku Sepuh menyambut dengan tenang. Aku belum dapat menangkap isi maksudmu. Jika yang kau kehendaki adalah adiku Pandan Gede, dia tak ada disini, demikian pula Tumenggung Indra. Kiranya urusanmu dengan kedua-duanya aku tak mungkin mewakilinya, karena aku tak tahu duduk perkaranya. Jika kau mau sabar menunggu, mungkin mereka hari ini atau besok akan datang kemari. —

Senapati Muda Gusti Adityawardhana, setelah mendengar Indra Sambada di sebut-sebut segera bangkit berdiri pula dan memotong percakapan yang tengah berlangsung itu.— Tuan yang baru datang! Tadi tuan menyebutnya nama Pendekar Majapahit. Jika yang dimaksud adalah Tumenggung Indra Sambada, saya akan mewakilinya untuk menyelesaikan urusan dengan Tuan, karena semua perbuatan Tumenggung Indra adalah langsung menjadi tanggung jawab saya, bila ia tidak berada ditempat.-

Ha, ha, ha tak Iuput dugaartku, — Tambakraga menyahut. — hampir-hampir aku terjebak. Siapa

lagi yang akan mewakiinya? Asalkan terang orangnya dan jumlahnya saja.

— Karena Guruku tak berada disini, biarlah kami berdua mewakilinya. Jaka Wulung dan Jaka Rimang serentak berdiri disamping Gusti Adityawardhana.

--- Bagus, bagus, kini sudah ada tiga orang yang berterus terang. Apakah masih ada Iagi? — Tambakraga bertanya.

— Nanti dulu semua perkara dapat diselesaikan dengan tenang, Sayaa selaku tuan rumah, tidak menghendaki adanya keributan yang tak ada ujung pangkalnya. Sebaiknya kau terangkan terlebih dahulu, apa soalnya yang sebenarnya, agar semua dapat mengerti maksudmu itu. — kyai Wiku Sepuh berkata tertuju kepada Tambakraga. — Sekalipun sudah ada yang mewakili mmasing-masing sebaiknya aku tahu juga agar dapat menjadi penengah.

--- Baiklah, jika kau Wiku tua masih pura-pura belum tahu, — Tambakraga berkata menjelaskan. — Kira-kira seratus hari yang telah lalu, muridku Suronggolo yang masih dalam asuhanku, dikeroyok oleh adimu siluman Pandan Gede dan si Pendekar Majapahit hingga menemui ajalnya. Pertarungan itu sungguh tidak jujur. Seorang yang masih hijau dikeroyok oleh dua orang yang namanya telah termasyur. Apakah hal ini dapat dibenarkan? Suronggolo adalah sejajar dengan muridmu yang bodoh, tetapi ia adalah orang yang selalu taat dan setia pada gurunya. Jika ini dimaksudkan sebagai tantangan kepada gurunya, tentunya sebagai tokoh yang telah termasyur tak perlu membunuh mundku yang tidak berdosa itu. Dan yang kedua bagaimana kau Wiku tua dapat bertindak sebagai penengah, mengingat yang berbuat itu adalah adikmu seperguruan sendiri dan seorang priyagung yang tentunya akan mengangkat derajatmu.— Kata-kata itu dilontarkan dengan jelas sekali dengan disertai suara tawa ejekan yang sangat memuakkan.

Bagi orang lain nama Tambakraga memang cukup membuat orang menggigil ketakutan. Ia terkenal kejam tak berperikemanusiaan. Kesaktiannya hampir mendekati titik sempurna pula. Jari-jari tangannya berkuku panjang beracun, Kayu-kayu yang bagaimana kerasnya dapat ditembus dengan totokan jari-jari nya. Cengkeraman kuku-kukunya merupakan cengkeraman maut. Ia terkenal pula dengan gelarnya "Raja rampok si Iblis tangan berbisa", Gelar ini dikarenakan banyaknya para rampok dan banyak begal-begal yang tunduk dibawah perintahnya, bahkan tidak sedikit jumlahnya diantara para pejahat yang menjadi muridnya. Oleh para murid dan bawahannya ia digelari "Macan Kumbang". Para perampok dan begal yang berhasil mendapatkan rampasan harta benda dan lain-lainnya dengan taatnya menyerahkan bagian dari pada hasilnya kepada rajanya itu, la bertempat tinggal di sebuah gua ditengah hutan Wonogiri, te-tapi gua itu tak ubahnya seperti bangunan istana didalam tanah saja. Didalam gua itu ia tinggal bersama-sama dengan isterinya yang berjumlah tiga orang dan para budaknya, sedangkan diluar gua para murid-muridnya selalu siap berjaga-jaga demi keamanannya.

Rakyat didesa sekitar hutan itu, tak ada yang berani memasuki hutan Wonogiri yang lebat itu. Mereka menganggap bahwa hutan itu sangat angker. Cerita-cerita tahayul banyak tersebar luas dikalangan rakyat desa sekitarnya bahwasanya hutan Wonogiri didiami oleh raja siluman dan sebagainya. Dan siapapun yang berani memasuki tak akan dapat diharapkan kembali selamat.

Konon ceritanya dalam sejarah, hutan Wonogiri pernah digunakan sebagai tempat sembunyi oleh Raja Langga putra Udayana Raja Bali. Beliau melarikan diri dengan para pengiring, pada waktu Dharmawangsa diserang oleh Raja Wurantari pada tahun lebih kurang 1007. Dimana kemudian setelah turun takhta wafat sebagai petapa dalam gua ditengah hutan itu, Th 1049 Dulunya hutan Wonogiri dianggap sebagai tempat keramat oleh rakyat sekitarnya, tetapi kini setelah kenyataan banyak orang- orang yang hilang dihutan Wonogiri itu, mereka mengira bahwa tempat keramat itu didiami oleh raja siluman yang jahat. Sedemikian hebatnya anggapan rakyat sekitarnya, hingga menceritakan hutan Wonogiri saja bagi rakyat sekitar itu merupakan pantangan ataupun tabu.

Sejak Tambakraga si Iblis tangan berbisa itu naendapat laporan dari Demang Jlagran, bahwa muridnya Suronggolo mati terbunuh oleh seorang yang masih muda dan siluman Pandan gede,dan ternyata setelah diselidiki, sipemuda itu adalah perwira tamtama Kerajaan yang bergelar Pendekar Majapahit, maka ia timbul kekhawatirannya, kemungkinan akan diserbu tempat kediamannya oleh pasukan tamtama Kerajaan.

Menurut anggapan Tambakraga tentunya Pandan Gede, akan minta bantuan dari priyagung Pendekar Majapahit itu, untuk menyerang dengan pasukan kehutan Wonogiri. Daripada didahului, baginya lebih baik mendahului mencari dan membunuh Pandan Gede untuk selanjutnya membunuh Pendekar Majapahit. Dengan demikian ia tak perlu kuatir akan terbongkarnya rahasia tempat tinggalnya. Akan tetapi kiranya tak mudah mencari Pandan Gede si Siluman sakti itu, maka dicarilah ketempat kediaman Wiku Sepuh dilereng Gunung Sumbing, karena ia ingat bahwa Wiku Sepuh adalah kakak seperguruan Pandan Gede. Sungguhpun ia merasa ragu akan menghadapi Wiku Sepuh yang terkenal sakti tiada bandingannya. Maka tak heranlah apabila ia selalu penuh kecurigaan dalam menghadapi Wiku Sepuh itu. Sama sekali ia tidak menduga bahwa yang memukul mati Suronggolo itu adalah Kyai Tunggul yang kinipun berhadapan pula dan berada didepannya.

Adanya tamu seorang Senapati Muda Kerajaan beserta pasukannya pengiring di Padepokan Wiku Sepuh, memperkuat dugaannya yang sebenarnya salah terka itu. Ia datang dipadepokan Kaliangkrik itu, bukan hanya seorang diri, melainkan membawa anak buahnya sebanyak 20 orang, yang bersembunyi agak jauh sedikit dari Padepokan itu. Ia cukup mengenal sifat-sifat dan kesaktian Wiku Sepuh. Sewaktu Wiku Sepuh masih bergelar Sidik Pamungkas ataupun Yamadipati. Cemoohan yang dilontarkan pada Wiku Sepuh sebagai pengejar pangkat, sebenarnya mengandung maksud agar Wiku Sipuh tergugah sifat kesatryaannya untuk tidak turut campur dalam pertikaian ini, antara dia dan Pandan Gede maupun dengan tamtama Kerajaan.

— Macan Kumbang — Wiku Sepuh berkata dengan suara pelan tetapi jelas menahan kemarahan — Jika seandainya apa yang kau katakan itu benar seluruhnya, itupun bukan menjadi urusanku. Saya hanya menyarankan agar semua urusan diselesaikan dengan secara damai.

Dan ingatlah! Bunuh membunuh dihalaman ku ini, tetap menjadi larangan, — suara Wiku Sepuh itu walaupun pelan, tetapi cukup jelas dan mengandung daya perbawa: — Kau datang dari jauh, dan kusambut sebagai tamuku, tetapi tingkah lakumu meninggalkan kesopanan sebagaimana layaknya seorang tamu. Jika sekiranya memang tak mau berurusan denganku, haraplah segera meninggalkan tempatku ini. — Wiku Sepuh melanjutkan bicaranya dengan suara yang masih menahan rasa marah.

Mendengar ucapan kata dari Wiku Sepuh yang disertai ancaman dan penuh wibawa itu, membuat Tambakraga serba ragu-ragu dalam tindakannya. Hanya dalam hatinya ia merasa beruntung, bahwa Wiku sepuh tak akan turut campur tangan dalam urusan ini antara dirinya dan Pandan Gede maupun dengan Pendekar Majapahit.

— Jika kaum Wiku tua berjanji tak akan turut campur tangan dalam hal ini baiklah, aku juga tak akan mengganggumu. Tetapi aku tetap akan menunggu kedatangan adimu si Siluman Pandan Gede disekitar tempatmu ini, — sahut Tambakraga dengan suara lantang dengan diiringi tawanya yang nyaring Berkata demikian, ia membalikkan badannya, hendak meninggalkan tempat itu, tiba-tiba suara Kyai Tunggul menghentikan langkahnya: — Tambakraga!, — serunya dengan nada suara menantang. — Tak perlu kau menunggu datangnya Pandan Gede, karena akulah orangnya yang membunuhnya. Dan kiranya sudah sepantasnya muridmu Suronggolo binasa ditanganku itu. karena perbuatannya yang tak pernah mengenal perikemanusiaan terhadap rakyat kecil. Ketahuilah bahwa muridmu kubunuh pada waktu ia sedang merampok dan membunuhi orang-orang tani tak berdosa didesa Trinil. Bahkan melarikan dengan paksa seorang perempuan yang telah bersuami dan mempunyai anak. Sekarang apakah kau juga masih akan membenarkan dan membela muridmu yang durhaka itu?.

— Kata-kata Kyai Tunggul itu dirasakan sebagai halilintar yang menyambar disiang bolong, oleh Tambakraga. Ia tak akan mengira sebelumnya bahwa orang setengah tua itu berani terang-terangan menantangnya. Namun tetap ia menduga bahwa pembunuh Suronggolo adalah Pandan Gede, sedangkan orang setengah tua itu menurut dugaannya hanyalah membela Pandan Gede saya.

— Hai orang tua kurus yang telah hampir mati I Janganlah kau turut-turut dalam persoalan saya dengan Pandan Gede. Jika hanya mau mengantar jiwamu silahkan aku tak keberatan memenuhi permintaanmu. — Tambakraga cepat membalikan badannya kembali, dan siap untuk melajani tantangan yang tiba-tiba itu akan tetapi sebelum Kyai Tunggul datang mendekat, Sang Senapati Muda Adityawardhana telah mencegah niat Kyai Tunggul. Sang Senapati melangkah sambil berkata dengan nada yang penuh kemarahan. Wajahnya kelihatan merah padam, matanya memandang tajam kearah Tambakraga dengan menyala nyala, suaranya lantang mendesis agak parau: Keparat Tambakraga. Sejak tadi, aku telah muak mendengar kata-katamu yang tidak kenal sopan itu. Tak usah kau mencari Pandan Gede ataupun Tumenggung Indra. Aku yang mewakili mereka semua, dan matinya muridmupun merupakan tanggung jawabku. Jika kau takut karena pangkatku, baik akan kutanggalkan pakaian

kebesaranku ini. Demi untuk menjaga kebersihan nama Kyai Wiku Sepuh yang memang tidak tahu menahu. Soal itu, mari kita bertempur diluar halaman sana. —

Berkata demikian Sang Senapati cepat menanggalkan pakaian kebesarannya, dan kini hanya tinggal memakai celana saya, tetapi pedang tamtama masih tetap menggantung dipinggangnya. Ia memberi isyarat agar tak ada yang turut campur dalam pertandingan ini. Dengan tangkasnya Sang Senapati mendahului meloncat keluar halaman dan berdiri tegak ditegalan luas menunggu datangnya Tambakraga, yang hanya terpaut lima langkah saja.

— Aku tak bermaksud bermusuhan dengan seorang Senapati priyagung Kerajaan, tetapi kata-kata penghinaan yang telah tuan ucapkan tak mungkin kubiarkan. — Tambakraga menjawab sambil mengikuti meloncat keluar halaman.

-- Saat ini kau menghadapi aku sebagai orang biasa, tak perlu pangkatku disebut sebut. Lepas dari semua persoalan, anggaplah aku sebagai musuhmu. Tak usah khawatir, bahwa aku akan membawa- bawa pangkat dan kedudukanku untuk membasmi kau yang tak mengenal sopan itu. — Kiranya berkata demikian kemarahan Sang Senapati telah sampai dipuncaknya. Dengan pedang terhunus ia langsung menyerang menusuk kearah ulu hati Tambakraga.

Sebagai seorang yang berpengalaman luas, serta memiliki kesaktian dan mahir dalam krida yudha.

Tambakraga cepat menundukkan kepala serta merendahkan badannya. Dan dengan tangan kirinya yang memegang tombak pendek, ia berganti menyerang lawan kearah perutnya. Tambakraga memegang tombak ditangan kiri bukan karena ia kidal, tetapi senjata itu sebenarnya hanya digunakan sebagai alat penangkis senjata lawan dan serangan parcingan saja. Tangan kanannya mengembangkan tegang jari- jarinya yang berkuku panjang serta berbisa itu dalam gaya cengkeraman, dan merupakan serangan maut yang lebih berbahayaa dari pada tombaknya. Tetapi sebagai seorang Senapati tamtama yang telah berpengalaman luas dalam pertempuran dan memiliki kesaktian pula, ia telah mengetahut cara-cara bertempurnya lawan yang sedang dihadapinya itu. Ia meloncat surut kebelakang untuk menghindari serangan tombak yang mendatang kearah perutnya, dan menghindari cengkeraman kuku-kuku beracun itu. Ia tidak mau anggauta badaanya tersentuh oleh kuku-kuku lawan yang beracun itu Dalam saat ia meloncat surut kebelakang, tenaganya sebagian besar yang telah memusat disalurkan ketangan kanannya yang memegang pedang dan digunakan untuk menyabet kearah datangnya tombak sebagai tangkisan serangan lawan yang dahsyat itu. Dua senjata beradu keras, dan mmasing-masing meloncat surut kebelakang satu langkah dengan suara tertahan ….  he Ternyata kedua-duanya saling

mengagumi tenaga mmasing-masing. Senjata-senjata ditangan mmasing-masing hampir lepas dari genggaman, dan telapak tangannya sama-sama dirasakan pedih karena bergetarnya senjata mmasing- masing yang digenggamnya erat-erat. Pertempuran berlangsung seru. Semua yang menyaksikan menahan nafas, dan tak ada seorangpun yang berani turut campur tangan. Para tamtama hanya duduk mengitari gelanggang, taat akan perintah atasannya. Jaka Wulung dan Jaka Rimang menekan kermarahan yang dikandungnya dengan berdiri seperti patung mengikuti jalannya pertempuran. Ingin meraka menggantikan Sang 'Senapati utttuk melawan Tambakraga, tetapi atas perintah larangan Temenggung Sunata, terpaksa mereka hanya berdii terpaku saja. Demikian pula Kyai Tunggul Wiku Sepuh tak mau keluar halaman. Ia bahkan masuk dalam ruang pendapa tengah dan duduk bersamadi. Dan hanya para pamong muridlah yang disuruh turut me-ngamat-amati dari dekat melihat jalannya pertempuran.

Ke dua-duanya yang sedang bertempur, melancarkan serangan-serangan maut, namun ternyata kedua-duanya ketangkasan yang cukup tinggi, dan tenaga kesaktian yang sukar dicari bandingannya. Jari-jari tangan yang dipentang tegang oleh Tambakraga, tak mampu menyentuh badannya Sang Senapati. Dimana tangan kanan Tambakraga bergerak menyerang, segera dapat digagalkan karena berkelebatnya pedang Sang Senapati. Tetapi serangan-serangan pedang dengan kecepatan yang luar biasa serta sangat berbahaya, selalu jatuh ketempat kosong. Kembali kini Sang Senapati mengumpulkan daya pemusatan kekuatan bathinnya, untuk disalurkan ditangan kanannya, dengan maksud ingin sekali lagi menguji kekuatan lawan. Pedang ditangan kanan bergerak berputaran cepat, hingga merupakan bentuk lingkaran seperti dayung baja yang menyilaukan pandangan. Dengan perisai ciptaan itu ia bergerak maju mendesak lawan. Akan tetapi Tambakraga telah mengetahui maksud tujuan lawan, pun ia ingin mengukur sampai dimana tenaga keseluruhan milik lawannya.

Ia mundur selangkah, untuk kembali mengatur pernafasan nya, dan memusatkan seluruh tenaga simpanan ditangan kiri ia memegang tombak pendek. Dengan meloncat selangkah maju kedepan ia menerjang perisai pedang, dengan tusukan tombaknya yang dahsyat itu.

Kini kedua-duanya telah, mengerahkan hampir seluruh tenaga kekuatan dalam tangan mmasing- masing yang memegang senjata. Dua senjata berbentur, saling beradu dengan disertai tenaga yang dahsyat Dan mmasing-masing mengeluarkan seruan nyaring serta ter-huyung-huyung surut kebelakang dua langkah. Ternyata karena kerasnya benturan, kedua senjata itu terpental lepas dari genggaman dan melambung jauh untuk kemudian jatuh hampir sepuluh langkah dari pemilik mmasing-masing. Tangan- tangan mereka berdua dirasakan sangat pedih dan matanya ber-kunang-kunang hampir keduanya jatuh pingsan tak sadarkan diri. Semua yang menyaksikan berseru terkejut, bahkan Sunata dan Kyai Tunggul sudah berniat untuk melangkah maju untuk menolong Sang Senapati, tetapi dengan cepatnya mereka ke-dua-duanya telah menguasai dirinya mmasing-masing dan kembali mengumpulkan tenaganya yang baru saja terpukul buyar itu. Dengan ketangkasan yang luar biasa mereka kini saling mendahului menyerang dengan tak bersenjata. Sesungguhnya sekalipun dilihat sepintas lalu, pertandingan ini sama- sama tak memegang senjata, akan tetapi Tambakraga dengan kukunya yang runcing beracun adalah merupakan senjata yang lebih dahsyat daripada senjata tajam lainnya. Menghadapi demikian itu Sang Senapati harus berlaku lebih tangkas menghindari datangnya serangan jari-jari beracun yang ber-tubi- tubi itu. Jika tadi ia berani memapaki datangnya cengkeraman beracun dengan pedangnya, kini tak berani ia memapakinya dengan kekuatan tangan. Ia menggagalkan serangan Jawannya hanya dengan selalu mengelakkan diri ataupun mendahului menyerang dengan tendangan dan tinjunya kearah tempat tempat kelemahan lawan. Kecepatan gerakannya ternyata membuat Tambakraga mencengkeram angin selalu. Pertempuran bertangan kosong, kiranya lebih seru dari pada sewaktu keduanya memegang senjata. Ternyata Tambakragapun memiliki ketangkasan yang mentakjubkan. Badannya yang gemuk kiranta bukan merupakan penghalang dalam gerakan kelincahannya.

Pertempuran telah berlangsung lama, namun belum ada tanda-tanda siapa yang akan dapat menundukkan lawannya. Sebentar-sebentar terdengar seruan nyaring dengan gerakan loncatan yang berkelebat seperti bayangan menyambar - nyambar. Tetapi Adityawardhana adalah seorang Senapati tamtama sebagai Manggala tamtama Pengawal Raja.

Disamping ketangkasan dan keFaktian dalam krida yudha, iapun memiliki kecerdasan lebih dari pada Tambakraga. Sewaktu ia sedang bertempur mengadu jiwa, masih sempat pula menggunakan kecerdasan otaknya untuk memperhatikan dengan saksama seluruh gerakan lawannya hingga dapat memahami dan mengetahui segi- segi kelemahan gerakan lawan. Dengan perhitungan yang cermat, kini dengan sengaja Sang Senapati memperlambat gerakkannya.

Melihat gerakkan Sang Senapati yang kini berobah menjadi lambat, Tambakraga mengira bahwa lawannya telah letih kehabisan tenaga. Dengan satu loncatan yang diiringi seruan nyaring Tambakraga membentangkan jari-jarinya menerjang menyerang kearah kepala lawan. Semua yang menyaksikan menahan nafas dengan rasa penuh cemas, karena mengira pula bahwa Sang Senapati telah letih kehabisan tenaga, dan tak dapat mengelakkan serangan yang dahsjat dan dapat merenggut jiwanya.

Tiba-tiba sebelum cengkeraman maut menyentuh sasarannya, dan selagi Tambakraga terapung diatas tanah, tendangan Sang Senapati tepat mengenai dada Tambakraga. Tendangan itu disertai pemusatan seluruh tenaga kekuatannya dan merupakan suatu tendangan yang dahsyat.

Maka tak ayal lagi Tambakraga terpental kebelakang dan jatuh tersungkur dengan memutahkan darah segar, Sang Senapati segera melesat akan menerjang lawan yang sedang jatuh tersungkur, tetapi kini ia jatuh terduduk kembali karena kakinya yang kiri yang baru saja digunakan untuk melancarkan tendangan kiranya terasa pegal dan pedih serta tak dapat digerakkan.

la berdiri lagi dengan kakinya yang kanan, tetapi kembali kaki kirinya tak dapat bergerak untuk melangkah. Pada saat itu Tambakraga telah bangkit laga dengan terhuyung-huyung untuk kemudian lari, dengan meninggalkan kata-kata yang terdengar dengan jelas: -- Saya tak dapat melayani tuan Iebih lama, tetapi saya tetap akan berada sekitar daerah ini, menunggu kedatangan Pandan Gede dan si Pendekar Majapahit. — Berkata demikian Tambakraga sambil melarikan diri dan menyelinap dihutan yang tak jauh letaknya dari Padepokan itu. Para tamtama yang akan mengejarnya dicegah oleh Sang Senapati, karena ia ingat pada janjinya sendiri, bahwa pertarungan ini tak akan ia membawa-bawa pangkat dan kekuasaannya. Kiranya Sifat-sifat ksatryanya itu telah menjadi satu dengan darahnya. Kyai Tunggul dan Sunata serta para pamong murid segera mendekati Sang Senapati dan membimbingnya masuk ke Padepokan. Alangkah terkejutnya setelah KyaiTunggul melihat kaki kirinya Sang Senapati, kini kelihatan membengkak dan menjadi biru hitam hampir sampai dilututnya. Dibetis kaki kiri itu ternyata kelihatan goresan bekas kuku Tambakraga. Dan hal ini adalah diluar pengetahuan Tambakraga sendiri. Kiranya sewaktu kaki kirinya Sang Senapati melancarkan tendangan yang dahsyat dengan tak sadar Tambakraga menangkis dengan tangannya karena kemungkinan untuk menghindari sudah tidak mungkin. Pemusatan tenaganya disalurkan keseluruh badannya untuk menerima tendangan yang dahsyat itu, tetapi karena tenaga tendangan Sang Senapati lebih terpusat, maka tak mampulah Tambakraga mengandalkan kekebalannya.

Cepat Kyai Tunggul membaringkan Sang Senapati, dan mengambil ramuan obat penolak racun. Wiku Sepuh segera pula mengetahui akan bahayanya racun yang sedang bekerja dalam buluh-buluh darah dikaki Sang Senapati. Ia cepat mengerahkan tenaga bathinnya yang kemudian disalurkan lewat pernafasannya untuk ditiupkan pelan dalam mulut Sang Senapati, hingga demikian kedua tokoh itu beradu mulut. Warna biru hitam yang hampir mendekati lututnya, kini pelan-pelan turun kembali sampai kebetis Sang Senapati. Dengan tiupan sakti daya alir racun itu tertahan dan tak dapat mengalir ber-sama-sama darah. Ramuan obat setelah masak segera diminumkan, dan kini rasa membeku telapak kakinya mulai berkurang, namun tetap warna hitam dan bengkak kaki itu belum hilang. Goresan kecil bekas tapak kuku beracun oleh Kyai Tunggul dibelahnya dengan pisau yang tajam, dengan demikian maka luka menjadi agak lebar, dan darah hitam mengucur keluar dari luka itu. Wiku Sepuh mengulangi lagi dengan tiupan saktinya, untuk menahan mengalirnya racun keatas. Sewaktu Wiku Sepuh meniup, Sang Senepati diharuskan diam menahan napas, Jaka Wulung dan Jaka Rimang sibuk pula turut melayani Sang Senapati.

— Seandainya Indra Sambada ada — pikir mereka berdua — tentu luka beracun itu dapat segera disembuhkan. — Mereka ingat kembali pada waktu Jaka Rimang terluka oleh tusukan keris dipahanya — Akan tetapi tak berani mereka mempercakapkan mengenai Indra Sambada. Pada waktu itu para pamong murid sibuk pula mengatur penjagaan disekitar halaman Padepokan, untuk menjaga kemungkinan datangnya serangan dari anak buah Tambakraga. Ini adalah atas saran Sang Senapati. Waktu itu matahari telak terbenam dibawah Cakrawala. Hari telah mulai gelap remang-remang.

Sang Senapati masih juga terbaring dengan ditunggu oleh Kyai Tunggul dan Tumenggung Sunata berserta Sujud.

Warna hitam biru dikakinya telah banyak berkurang, namun bengkaknya masih tetap belum mau mengering. Darah hitam masih saja menetes keluar, mungkin karena desakan obat pemunah racun yang telah dibuatkan oleh Kyai Tunggul tadi. Suhu badannya panas, namun jelas Sang Senapati merasakan dingin menggigil. Hebat sekali bekerjanya racun yang merangsang. Sebentar-sebentar Kyai Tunggul mengerahkan tenaga dalamnya untuk meniup pelan kedalam mulut Sang Senapati, sebagaimana tadi telah dilakukan oleh Kyai Wiku Sepuh, untuk menekan kembali mengalirnya sisa racun keatas. Wiku Sepuh telah kembali lagi keruang pendapa dan meneruskan semadhinya, seolah-olah tak ada suatu kejadian. Para pamong murid dan para penjaga yang bertugas, sibuk menyiapkan hidangan makan malam. Tak seorang murid yang berani mendekat dan mengganggu semadhinya Kyai Wiku Sepuh.

*

**

B A G I A N II

DUA SOSOK bayangan berkelebat dalam kegeralapan malam yang samar-samar memasuki Padepokan dari pagar samping, tanpa diketahui oleh para murid yang sedang berjaga.

Namun mereka setelah sampai dibawah pohon beringin ditengah- tengah halaman depan segera mengurangi kecepatan dan berjalan lenggang biasa menuju kekolam tempat mencuci kaki, Para pamong murid dan Jaka Wulung serta Jaka Rimang yang sedang menghadap Kyai Wiku Sepuh diruang pendapa segera memalingkan kearah kolam, untuk kemudian tergopoh-gopoh menyambut kedatangan dua tamu itu. Dan tamu itu segera langsung mendekati Kyai Wiku Sepuh yang sedang duduk bersila, dan satu diantaranya segera bersujud dihadapan Kyai Wiku Sepub. Wiku Sepuh bangkit dari tempat duduknya seraya memegang bahu yang sedang duduk bersujud dan mengangkatnya sambil berkata pelan.

— Dirgahayulah, Gusti muridku yang baru datang — Berkata demikan Kyai Wiku Sepuh sambil memberi isyarat pada para pamong murid untuk tidak turut bicara.

— Berkah restumu Bapak Guru WIku Sepuh, saya telah kembali dengan selamat bersama Bapak Kyai Pandan Gede, indra Sambada menyahut pelan.

— Gusti muridku indra dan Pandan Gede, marilah kita bertiga masuk kedalam kamar semadhiku. Ada hal yang penting yang akan kubicarakan bersama kalian.— Wiku Sepuh mempersilahkan kedua orang itu masuk kedalam kamar semadhinya yang berada di dalam. Para pamong murid dan kedua Jaka bersaudara saling berbisik pelan mempercakap kan kedatangan Indra Sambada dan Kyai Pandan GEde.

Kiranya pada waktu Indra Sambada selesai mencuci nodanya dengan bersemadhi di Candi Arjuna selama empat puluh hari. Pandan Gede datang menjemputnya didataran tinggi Dieng atas perintah Kyai Wiku Sepuh. Selama dalam perjalanan pulang menuju ke Padepokan Kaliangkrik Indra Sambada banyak menerima petunjuk-petunjuk yang sangat berguna dari Kyai Pandan Gede, baik mengenai ilmu lahiriyah maupun ilmu kerohanian tentang ketangkasan permainan tongkat dan sebagainya. Dengan tak disadari olehnya sendiri, lndra Sambada kini telah memiliki kesaktian yang jauh lebih dahsyat daripada sebelum bersemadhi di Candi Arjuna. Hawa murni mengalir didalam tubuhnya, dan wajahnya memancarkan cahaya jernih serta berwibawa.

Ia dapat cepat menangkap petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh Pandan Gede, dan cepat pula mengambil kesimpulan guna memecahkan persoalan-persoalan yang sulit. Pernah Pandan Gede menguji keskaktian Indra Sambada sewaktu dalam perjalanan pulang, dan ternyata Pandan Gede sendiri kini merasa setingkat berada dibawahnya. Pandan Gede kagum bercampur girang setelah menyaksikan sendiri kesaktian Indra Sambada yang hampir mendekati titik sempurna itu.

Kesanggupan Indra Sambada untuk menerima pengabdian kedua muridnya Pandan Gede, menambah rasa girangnya Kyai Pandan Gede yang tak terhingga.

Setelah mereka bertiga duduk ber-hadap-hadapan dikamar semadhi Wiku Sepuh dengan pintu kamar tertutup dari dalam Wiku Sepuh segera memulai membuka percakapan:

— Saya tak akan menanyakan hasil yang telah dicapai oleh Gusti muridku selama bersemadhi di Candi Arjuna, karena dari pancaran sinar wajahmu, aku telah mengetahui bahwa Gusti muridku tentu mendapat kemajuan yang tak ternilai. --- Kyai Wiku Sepuh berkata tertuju kepada Indra Sambada.

— Itu semua adalah karena jasa Bapak Guruku Kyai Wiku Sepuh dan jasa Bapak Kyai Pandan Gede, dan saya merasa berhutang budi pada Bapak Guru dan Bapak Pandan Gede, — indra Sambada memotong bicaranya Kyai Wiku Sepuh yang belum selesai.

— Akh, semua itu memang telah digariskan oleh Dewata Yang Maha Agung. Jika bukan karena kehendak Nya, tak mungkin Gusti muridku dapat bertemu dengan kami berdua. — Kyai Wiku Sepuh manyahut dan melanjutkan bicaranya --- Ketahuilah adi Pandan Gede dan Gusti muridku, bahwa sekarang ini Padepokanku telah penuh dengan tamu, bahkan diluar halaman Padepokanku pula masih ada tamu serombongan.

— Adanya tamu disini telah kami ketahui dari kejauhan, kakang Wiku Sepuh, tetapi siapakah sebenarnya tamu-tamu yang berada disini ini ? — Pandan Gede bertanya mendesak dengan tak sabar. Kiranya kedatangan Pandan Gade dan Indra Sambada, lewat pagar samping tadi memang disengaja agar tidak diketahui oleh para murid penjaga dan tamu. Keadaan Padepokan dan sekitarnya, dirasa oleh mereka berdua mencurigakan.

--- Para tamu ini mempunyai kepentingan mmasing-masing yang ada hubungannya erat dengan Gusti muridku Indra. Kata Wiku Sepuh menjelaskan. Ia berhenti sesaat dan kembali melanjutkan bicaranya — Yang datang pertama adalah Gusti Sang Sanapati Adityawardhana dan Gusti Tumenggung Sunata beserta pasukan pengiring. Sedangkan menyusul kemudian Kyai Tunggul dengan anak angkatnya.

— Dimanakah Gustiku Senapati Adityawardhana dan Kangmas Tumenggung Sunata ,sekarang berada?

— Tanya Indra Sambada dengan tidak sabar.

— Tenangkanlah dahulu Gusti muridku. ---Jawab Kyai Wiku Sepuh, sambil menghela nafas panjang, Kyai Wiku Sepuh kemudian melanjutkan bicaranya. — Kini Gusti Senapati berbaring didalam rumah samping itu, berkata demikian Kyai Wiku Sepuh sambil menunjuk dengan jari telunjuknya kearah rumah samping sebelah timur.

Beliau terluka dibetisnya dan kini sedang dirawat oleh Kyai Tunggul dan Gusti Tumenggung Sunata.

Beliau terluka kena goresan kuku beracun, tetapi telah dapat ditolong dan tidak membahayakan. Hanya masih terdapat sisa racun sedikit yang mengumpul dibetisnya, dan belum mau mengucur keluar. Tetapi aku percaya penuh pada ke-akhlian Kyai Tunggul yang telah termasyhur namanya itu. Jaka Rimang pernah juga bercerita padaku, bahwa Gusti muridku juga pandai dan mahir dalam ilmu usadha, maka cobalah nanti supaya turut memeriksa luka Gusti Senapati.-

— Dalam ilmu usadha pengertian saya hanya sedikit sekali, jika dibandingkan dengan Kyai Tunggul. Karena Depp yang telah kumiliki adalah hanya sebagian dari pada ilmu usadha yang dimiliki oleh Kyai Tunggul, Bapak Guru Wiku. Jelasnya dalam ilmu usadha, saya adalah muridnya Kyai Tunggul.—

O. begitu. Saya sebenarnya telah mendapat penjelasan dari adikku Pandan Gede, akan tetapi

pengakuanmu itu kini meyakinkan apa yang masih menjadi keraguanku. — Jawab Kyai Wiku Sepuh dengan tenang.

Indra Sambada mendengarkan dengan penuh rasa heran, bahwa demikian jauhnya Kyai Wiku Sepuh mengetahui tentang dirinya.

— Nanti dulu kakang Wiku Sepuh, Kyai Pandan Gede memotong percakapan.

— Tadi kakang mengatakan bahwa Gusti Senapati terluka goresan kuku beracun. Menurut pengetahuanku, orang yang memiliki kesaktian dan kuku-kuku beracun itu hanya Tambakraga dari hutan yang mendapat julukan Si Iblis tangan berbisa. Apakah Gusti Senapati pernah bertempur dengannya? —

-- Memang benar dugaanmu itu — jawab Kyai Wiku Sepuh dengan tenang.— Tadi siang Tambakraga datang kemari, dan maksudnya mencari adi Pandan Gede dan Gusti muridku, untuk membalas dendam. Menurut katanya, muridnya yang bernama Suronggolo pada kira-kira 100 hari yang telah lalu dikeroyok oleh kalian berdua hingga menemui ajalnya didesa Trinil pinggir Bengawan. Sayapun setelah mendengar tak percaya akan omongannya. Gusti Senapati mendengar nama Gusti muridku Indra di-sebut-sebut oleh Tambakraga, marahnya meluap tak dapat ditahan. Mereka lalu bertempur diluar halaman padepokan hingga senja tadi. Tambakraga melarikan diri dengan memuntahkan darah karena kena tendangan Gusti Senapati, sedangkan Gusti Senapati ternyata terluka pula terkena goresan kuku beracun dikakinya. Menurut cerita yang menyaksikan sewaktu Tambakraga melarikan diri, ia meninggalkan pesan bahwa masih tetap akan membalas dendam pada adi Pandan Gede dan Gusti muridku Indra Sambada, serta menunggu disekitar daerah ini, maka para pamong murid mengadakan penjagaan disekitar halaman ini, sungguhpun hal ini sebenarnya aku tak menghendaki. Maka kini terserahlah bagaimana sebaiknya, kuserahkan pemecahannya kepada kalian berdua.—

— Cerita mengenai matinya Suronggolo sangat panjang Bapak Guru Wiku Sepuh. — Indra Sambada menyahut pelan dengan mengerutkan keningnya untuk meng-ingat-ingat sesuatu, dan kemudian melanjutkan bicaranya. — Dalam hal ini Bapak Pandan Gede sama sekali tidak turut campur. Waktu itu saya bertempur melawan dua orang perampok, ialah si Kerta Gembong dan Suronggolo. Pada waktu Suronggolo kutendang dan jatuh terlempar, Kyai Tunggul datang membantuku dan memukul dengan tongkatnya kekepala Suronggolo hingga menemui ajalnya. Jadi jelaslah bahwa yang membunuh Suronggolo adalah saya dengan Kyai Tunggul dalam pertempuran dua orang melawan dua orang, dan bukan Bapak Pandan Gede. Akan tetapi latar belakang perampokan itu luas sekali dan langsung ada hubungannya dengan nama Kerajaan. Yang dapat menjelaskan hal ini adalah Kyai Tunggul. Maka sebaiknya besok pagi saja kita semua merundingkan mencari pemecahan mengenai soal yang besar ini. Dan karena saya telah berpisah satu setengah tahun dengan Gusti Senapati Adityawardhana dan kakang Tumenggung Sunata, perkenankanlah sekarang akan menemuinya dan sambil melihat luka yang diderita oleh beliau, Bapak Guru, — selesai kerkata Indra Sambada kembali menundukkan kepalanya, menunggu jawaban Gurunya Kyai Wiku Sepuh.

Baiklah kalau demikian, dan marilah kita bertiga menjenguk Gusti Senapati yang sedang berbaring, — Kyai Wiku Sepuh menjawab serta bangkit mendahului keluar menuju rumah samping dengan diikuti oleh Pandan Gede dan Indra Sambada. Dalam hati Indra Sambada kagum akan keluhuran budi Gusti Adityawardliana, yang telah terluka hanya karena membela nama Indra Sambada, sebagai bawahannya, padahal belum tentu mengetahui dengan jelas tentang duduk perkaranya. Semua terkejut girang setelah melihat Indra Sambada dengan tiba-tiba berdiri diambang pintu memasuki ruangan di mana Sang Senapati sedang berbaring itu. Sunata meloncat dari tempat duduknya dan merangkul Indra yang baru datang dengan seruan yang mengejutkan: — Dimas lndra. — teriaknya.

Kyai Tunggul bersama Sujud bangkit serentak dan menyambut pula kedatangannya Indra Sambada. Sujud memegang tangan kanan Indra dan berkata— Tak kukira, bahwa kakang Indra datang kemari. —

Sang Senapati yang sedang berbaring setelah melihat bahwa yang datang itu adalah Indra Sambada, segera bangkit dan duduk dipembaringan dengan tersenyum girang — Kemarilah Tumenggung Indra, — katanya pelan.

Wiku Sepuh dan Pandan Gede berdiri terpaku melihat betapa akrabnya hubungan mereka dengan Indra Sambada itu. Indra segera datang mendekat dan berjongkok di hadapan Senapati Muda serta menyembah.— Hamba tak mengira, bahwa Gustiku Senapati berada disini. Ampunilah segala perbuatan hamba yang telah banyak menyalahi Panca Setya Tamtama Gusti? kata Indra Sambada dengan pelan.

— Aku telah mengetahui semua persoalanmu, dan kau tak bersalah. Si Sampar yang mengkhianatimu kini telah pergi menghilang tak keruan, setelah ia meninggalkan sepucuk surat pengakuan atas perbuatannya yang terkutuk itu. Saya mengucap syukur atas pertemuan kita kembali. Jasamu dalam pengembaraan tak sedikit pula. Saya telah banyak menerima laporan mengenai dirimu. Kau kiranya kini menjadi sedikit kurus dan pucat, hanya wajahmu tersinar lebih bersih daripada dahulu. Saya bangga akan hasil yang telah kau capai itu. — Sang Senapati berkata sambil memegang bahu Indra. — Bangkitlah dan silahkan duduk disampingku. — Sang Senapati melanjutkan bicaranya, lalu mengangkat kakinya untuk kemudian diletakkan dipembaringan, dan beliau sendiri kembali rebah berbaring. lndra Sambada dengan tak diperintah segera memeriksa luka dibetis Sang Senapan, yang kini masih membengkak dan kelihatan hitam. Dengan seijin Wiku Sepuh ia mengambil kantong taji yang berisi pula gelang akar bahar didalamnya, serta memanggil Jaka Rimang untuk membantu mengobati luka Sang Senaoati. Kini semua berdiri mengelilingi Indra Sambada yang sedang sibuk itu, dengan penuh perhatian.

Indra Sambada segera bersamadhi memusatkan tenaga dalamnya, untuk kemudian meniup pelan bersamaan dengan keluarnya nafas kemulut Sang Senapati. Setelah tiga kali ber-turut-turut ia meniupkan tenaga sakti kemulut Sang Senapati, paha Sang Senapati dibalutnya erat-erat, dan akar bahar dilekatkan ditempat luka. Darah merah kehitamm-hitaman menetes deras keluar, dan berangsur - angsur kaki yang masih bengkak itu menjadi merah. Setelah gelang akar bahar jatuh dengan sendirinya, Jaka Rimang diperintahkan oleh Indra Sambada agar menghisap dari tempat luka itu dengan mulutnya, untuk mengeluarkan darah yang masih bercampur dengan sisa racun. Kini darah merah segar mengucur keluar, dan warna kehitam-hitaman dikaki Sang Senapati telah hilang sama sekali. Pun bengkaknya ber- angsur-angsur mengering, tak sedemikian besarnya seperti semula.

Suhu badan Sang Senapati menjadi biasa kembali. Pembalut dipaha dilepas, sedangkan luka dibetis segera diobati oleh Kyai Tunggul dengan ramuan-ramuan yang telah tersedia dan segera dibalut kembali. Kini Sang Senapati dapat bergerak leluasa kembali, hanya luka yang dibetis itu dirasakan masih pegal sedikit. Dipilihnya Jaka Rimang untuk menghisap darah bercampur racun itu, karena Jaka Rimang telah memakan obat pil pemunah racun, pada waktu terluka dipahanya dulu. Ia telah menjadi kebal terhadap semua racun selama lima tahun.

— Takkan aku percaya, jika tidak menyaksikan sendiri, bahwa ada seorang murid yang kesaktiannya melebihi gurunya. — Kyai Tunggul berkata memecah kesunyian dengan kata-kata pujian tertuju kepada Indra Sambada disertai senyum girang.

— Apa susahnya hanya tinggal melanjutkan sesuatu yang telah hampir selesai? — sahut Indra Sambada untuk mengelakkan pujian Kyai Tunggul. Sang Senapati segera bangkit dan duduk kembali dipembaringannya, dan berkata dengan tersenyum: — Terima kasih ….. terima kasih Tumenggung Indral. Tak kusangka sama sekali bahwa kau juga memiliki ilmu usadha yang tinggi.

---- Ini semua hamba dapat belajar dari guru hamba Kyai Tunggul, Gusti. Dan hamba hanyalah tinggal menyelesaikan apa yang telah dikerjakan oleh guru hamba Kyai Tunggul, jawab Indra Sambada merendah. — Aku telah lama juga menjadi murid Kyai Tunggul, tetapi sama sekali tidak mengetahui, bahwa Dimas Indra sebenarnya saudaraku seperguruan, bahkan lebih lama dari aku sendiri.

Mengapakah dahulu Dimas tak pernah berceritera tentang ini ? — Tumenggung Sunata menyahut dan bertanya kepada Indra Sambada

— Janganlah kangmas salah faham. Saya menjadi murid Kyai Tunggul baru kira-kira satu setengah tahun berselang, — jawab Indra Sambada dengan jujur.

— Ha ….. Jika demikian, apakah saya yang memang berotak tumpul? Ataukah Guruku Kyai Tunggul yang berat sebelah? Sunata memotong dengan nada yang tak puas terhadap Kyai Tunggul Gurunya.

--- Nakmas Tumenggung Sunata, jangan tergesa-gesa menuduh gurumu ini kurang adil, — Kyai Tunggul cepat menjawab kembali dengan ketawa — Saya sendiri sekarang merasa setingkat berada dibawah nakmas Tumenggung Indra dalam hal ilmu usadha, entah dari mana lagi, nakmas melanjutkan pelajarannya, saya sendiri kurang mengetahui. Tetapi bagaimanapun, saya turut bangga, akan kesaktian nakmas lndra Sambada.

— Hal ini sebenarnya mudah dimengerti, mengapa dalam waktu singkat, semua racun dapat diusir dari peredaran darah Sang Senapati. Pertama: Sang Senapati telah merasakan daya tiupan Indra Sambada lebih dahsyat dibanding dengan tiupan Kyai Tunggul, bahkan menyamai dengan tiupan yang pertama kali dilakukan oleh Kyai Wiku Sepuh. Kedua: sisa racun yang berkumpul dikaki dan tertahan oleh daya tiupan, diisap oleh akar bahar yang memang mempunyai daya penghisap racun, dan ketiganya. Sisa-sisa racun sedikit yang bercampur darah merah masih diisap lagi oleh Jaka Rimang, hingga keluar darah merah, juga meyakinkan bahwa racun telah dapat dikeluarkan melalui luka dibetis itu.

Sebenarnya Indra Sambada telah pula siap dengan pil pemunah racun yang tinggal sebutir itu, untuk diminumkan kepada Sang Senapati, apabila hasil usaha pengobatannya kurang memuaskan, akan tetapi ia segera menggagalkan maksudnya, karena ternyata Sang Senapati telah sembuh dari serangan racun. Percakapan segera berlangsung dengan ramainya, dan sebentar-sebentar terdengar pula suara gelak tertawa. Mmasing-masing menceriterakan pengalamannya sendiri-sendiri, selama mereka tak bertemu.

Kini lima orang sakti telah saling berkenalan dan bertemu wajah. Satu sama lain saling mengagumi, dan hubungan akrab terjalin dalam hati orang-orang shakti itu.

Dikala para murid Padepokan sedang sibuk dengan tugasnya mmasing-masing pada pagi hari itu, kelima tokoh shakti meneruskan percakapannya diruang dalam yang semalam terhenti, karena mmasing-masing memerlukan waktu untuk istirahat sejenak.

— Sebagai Senapati Muda, kedatangatku adalah atas titah Gustiku Senapati Manggala Yudha dengan dua tugas utama, pertama ialah mencari Tumenggung Indra Sambada, dan yang kedua mencari tahu latar belakang dari pada kerusuhan-kerusuhan yang kini sedang berkobar di mana-mana.— terdengar suara Sang Senapati Muda Adityawardhana yang sedang menjelaskan maksud kedatangan di Padepokan.— Ketahuilah Tumenggung Indra, Sejak kau meninggalkan Senapaten, hingga kini banyak terjadi kerusuhan-kerusuhan baik berupa perampokan-perampokan, pembakaran-pembakaran desa, maupun perang kecil-kecilan antar desa, ataupun antar suku. Menurut keterangan dari Gustiku Patih Mangkubumi Gajah Mada, kerusuhan-kerusuhan itu tak mungkin dapat dipadamkan hanya dengan kekerasan saja. Sebelum diketahui dengan pasti latar belakangnya. Dan tugas itu diserahkan penuh kepadaku, karena kuatir akan merembet hingga menyuramkan kebesaran nama Gustiku Sri Baginda Maharaja Rajasanegara. Untuk tugas ini, oleh Gustiku Senapati Harya Banendra disarankan agar aku mencarimu untuk kemudian membawamu serta dalam mengemban titah itu. Maka sengaja aku mencari orang-orang sakti guna minta bantuannya baik berupa petunjuk-petunjuk yang berguna dalam mengetahui latar belakang kerusuhan itu maupun berupa tenaga kesktiannya dalam menumpas kerusuhan-kerusuhan tsb.

Menurut saran dari Tumenggung Cakrawirya aku supaya menemui Kyai Tunggul dipinggir Bengawan, dan untuk memudahkan perjalanan supaya Tumenggung Sunata menyertai aku. Ternyata setelah sampai di Ngawi Kyai Tunggul tidak berada dipadepokan hanya kudamu kulihat berada dikandang belakang pondok.

— Sampai disini Sang Senapati berhenti bicara sebentar untuk minum air teh yang berada dihadapannya, lalu melanjutkan kata-katanya lagi — Menurut keterangan Nyai Tunggul kepada Tumenggung Sunata, Kyai Tunggul sedang berpergian ke lereug Gunung Sumbing, dan berapa lamanya tak dapat ditentukan. Berdasarkan itu semua, aku langsung menuju kemari, dengan maksud mencari Tumenggung Indra Sambada, dan sekaligus minta bantuan Kyai Wiku Sepuh yang menurut kabar telah berpengalaman luas. Pun saja berkeinginan pula bertemu muka dengan Kyai Tunggul, karena ada beberapa hal yang akan aku tanyakan padanya. — Berkata demikian Sang Senapati memalingkan kepalanya kearah Kyai Tunggul yang duduk disamping kirinya, dan sambil melanjutkan bicaranya. — Menurut pendapatku tentunya Kyai Tunggul, Kyai Wiku Sepuh serta Kyai Pandan Gede tidak akan keberatan membantuku dalam menjunjung titah Gustiku Maganggala Yudha itu. — Sampai disini Sang Senapati berhenti bicara, menunggu jawaban dari ketiga orang shakti itu.

— Demi kepentingan rakyat banyak, tentulah kami berdua akan membantu sesuai dengan kemampuan kami, Gustiku Senapati — jawab Kyai Wiku Sepuh dengan sangat berhati-hati.

— Sayapun demikian — Kyai Tunggul menyahut, dan melanjutkan kata-katanya. — Sesungguhnya mengenai latar belakang kerusuhan-kerusuhan itu, telah saya bentangkan dengan jelas kepada nakmas Tumenggung Indra Sambada, dan atas saran saya itu maka Tumenggung Indra Sambada meninggalkan Ngawi dengan maksud yang sama seperti tujuan Gustiku Senapati. Kiranya tak perlu saya memakai kedok lagi, karena kini sudah waktunya saja berterus terang kehadapan Gustiku Senapati Adityawardhana, bahwa saya sesungguhnya adalah bekas Bupati Indramayu, narapraja dari Pajajaran dulu, sedangkan nama saya yang sebenarnya adalah Wirahadinata. Dan hal ini semua telah pula saya jelaskan pada nakmas Tumenggung Indra Sambada. Kiranya sudah tidak ada lagi rahasia yang kusembunyikan terhadap nakmas Tumenggung Indra itu. Maka saya persilahkan Gustiku Senapati mendengar sendiri dari nakmas Tumenggung Indra Sambada.

Dengan sinar pandangan tajam, Sang Senapati menatap mukanya Bupati Wirahadinata, sambil mendengarkan pembicaraannya dengan saksama, Kini kelima-limanya saling ber-pandang-pandangan, dengan demikian suasana menjadi hening sesaat. Diantara kelima orang sakti itu Tumenggung Sunata merasa dirinya yang terendah. Demikian bodohku pikirnya — hingga aku tak tahu bahwa guruku Kyai Tunggul adalah narapraja Bupati Pajajaran.—

— Gusti hamba Senapati ataupun kangmas Tumenggung Sunata. — Indra Sambada memecah kesunyian dan bicara dengan tenang. — Hendaknya Gusti hamba Senapati jangan salah terka terhadap Bapak Bupati Wirahadinata. Maksud Bapak Bupati Wirahadinata menyamar sebagai Kyai Tunggul adalah suatu tujuan suci yang pantas kita hormati. Demi kepentingan rakyat banyak Bapak Bupati Wirahadinata telah berani mengorbankan segala-galanya, dan hidup sebagai seorang dukun petani di pinggir Bengawan. Dilihat dari segi itu saja, kiranya Gusti hamba sudah dapat mengukur jiwa ksatrya yang ada padanya. Hanya belum ada kesempatan dapat membuktikan pengabdiannya kehadapan Gusti hamba Sri Baginda Maharaja Rajasanegara ---

Kiranya belum sampai aku sempat bertanya, kini telah mendapat jawabannya. — Sang Senapati memotong pembicaraan Indra Sambada, dan diperintahkannya Indra Sambada untuk melanjutkan membeberkan ceritanya. — Coba teruskan keteranganmu itu sejelas-jelasnya.

--- Baiklah Gusti, hamba akan melanjutkan membeberkan latar belakang kerusuhan-kerusuhan yang hamba dapat dari Bapak Bupati Wirahadinata, — Indra Sambada menyahut dengan tenang dan melanjutkan bicaranya. — Pangkal mula dari pada kerusuhan-kerusuhan itu ialah akibat kurang bijaksananya dalam hal penempatan-penempatan para narapraja yang menggantikan narapraja dari Pajajaran. Banyak diantaranya dari narapraja yang diangkat untuk menggantikan para narapraja yang memerintah daerah Pajajaran, menyalahgunakan kekuasaannya, hingga jauh menyeleweng dari pada tugas-tugas yang dibebankan. Dengan demikian membangkitkan rasa tidak puas terhadap para bekas perwira-perwira tamtama Pajajaran dan sebagian besar rakyat yang merasa tertindas. Dari para bekas perwira tamtama yang merasa tidak puas itu terpecah lagi menjadi dua golongan.

— Satu golongan menghendaki berdirinya kembali Kerajaan Pajajaran yang telah hancur itu, dengan cara menghimpun kekuatan kembali sedikit demi sedikit. Dan golongan kedua menghendaki menjadi daerah Kerajaan Agung Majapahit dibawah satu bendera gula klapa, tetapi bukan sebagai daerah jajahan, melainkan sebagai daerah bagian. Dari golongan kedua itu, mereka mempunyai usul, agar para narapraja yang menyalah gunakan kekuasaan diganti dengan para narapraja yang berasal dari pribumi daerah Pajajaran sendiri, demi kewibawaan Kerajaan Agung Majapahit dan demi membina ketentraman rakyat daerah itu. Usul itu telah lama dikandung, tetapi karena tak ada hubungan dengan para priyagung Kerajaan, maka Bapak Bupati Wirahadinata sangat berhati -hati menjaga jangan sampai salah alamat.

— Bukankah demikian Bapak Bupati Wirahadinata ? — Indra Sambada menutup ceritanya dengan pertanyaan kepada Wirahadinata.

— Benar apa yang telah dijelaskan oleh nakmas Tumenggung Indra Sambada. Gustiku Senapati, dan sedikitpun kiranya tidak menyimpang dari kenyataan. — Bupati Wi-rahadinata menjawab langsung tertuju pada Sang Senapati dan melanjutkan ceritanya. — Agar Gustiku Senapati mendapat gambaran yang lebih jelas, maka yang disebut, golongan pertama akan saya uraikan se-jelas-jelasnya dihadapan Gustiku Senapati. Golongan pertama itu terdiri dari para Perwira-perwira dan orang-orang sakti yang memiliki keberanian, tidak seperti halnya dengan golongan yang kedua, yang pada umumnya terdiri dari para Punggawa narapraja dan sebagian perwira perwira taattama serta orang-orang terkemuka yang cinta akan perdamaian. Dalam golongan pertama tadi terdapat pula dua aliran, satu sama lain saling mempertahankan pendiriannya, dan tak dapat bekerja sama. Aliran pertama didasari oleh rasa dendam kesumat terhadap para priyagung Kerajaan Majapahit, dan berkeinginan untuk mengadakan pembalasan dendam mengingat jalan terjadinya perang Bubat, hingga hancurnya Kerajaan Pajajaran. Oleh mereka dianggapnya sebagai suatu tindakan penghinaan yang penuh kelicikan. Akan tetapi karena mereka merasa tak mampu untuk melaksanakan maksudnya, maka mereka berusaha mengadakan kekacauan dimana mana, dengan maksud untuk menanam benih ketidak puasan dikalangan rakyat banyak, dan juga menyebarkan benih-benih perpecahan antar suku di Jawa ini.

Sedangkan aliran yang kedua selalu berusaha menghimpun kekuatan untuk menuntut kembalinya daerah Pajajaran menjadi daerah yang mandirengpribadi sebagai dasarnya jelasnya berusaha mendirikan kembali Kerajaan Pajajaran, dengan tidak mau mengorbankan rakyat banyak. Tindakan- tindakan para narapraja yang kini berkuasa didaerah bekas Kerajaan Pajajaran ternyata banyak menyeleweng menyalahgunakan kekuasaan demi kepentingan pribadinya. Hal ini mempercepat bernyalanya kembali semangat dari pada yang clisebut golongan pertama tadi. Sedangkan golongan kedua yang didasari cinta kepada kesatuan bangsa, pengaruhnya semakin surut karena kalah pembuktian.

Dengan selalu tidak adanya titik pertemuan antara dua golongan dan ditambah lagi dengan tindakan sebagian para punggawa narapraja yang menyeleweng menyalah gunakan kekuatannya itu, maka rakyatlah menjadi korban. Mereka diadu domba, dirampok dan masih tertindas pula. Dapatkah keadaan demikian dibiarkan berlangsung terus ? Maka sekarang saya serahkan kehadapan kebijaksanaan Gustiku Senapati, untuk menentukan langkah selanjutnya demi kepentingan rakyat banyak, kesatuan dan keharuman nama Kerajaan Agung kita Majapahit. — Sampai disini Bupati Wirahadinata berhenti bicara, dan menatap wajah Sang Senapati sesaat, uatuk kemudian menundukkan muka kembali.

Sang Senapati mengerutkan keningnya, dan mendengarkan cerita Bupati Wiradinata dengan penuh perhatian, Suasana menjadi hening kembali, setelah Bupati Wirahadinata mengakhiri ceritanya. Semua menyimpan pendapatnya mmasing-masing dengan menarik kesimpulan sendiri, namun tak seorangpun berani mengemukakan pendapatnya.

— Kenalkah Bupati Wirahadinata dengan para pemimpin dari apa yang disebut golongan pertama dan kedua ? — Sang Senapati memecah kesunyian, dan bertanya dengan tanda kepada Bupati NiVirahadinata,

— Tentu saja saya mengenalnya, Gustiku Senapati,— jawab Wirahadinata —Bahkan nakmas Tumenggung Indra Sambada pernah bertempur melawan satu diantara pimpinan bekas perwira Pajajaran yang dimaksud itu, dimana terlihat pula Suronggolo, murid Tambakraga hingga menemui ajalnya.

Tetapi yang bertempur melawan nakmas Tumenggung Indra Sambada dapat lolos dan melarikan diri.—

— Siapa orang itu ? Sang Senapati memotong dengan nada tak sabar. Ia terkenal sebagai pemimpin para rampok dengan gelarnya Kerta Gembong, tetapi nama yang sebenarnya adalah Kertanatakusumah. Ia, adalah seorang perwira tamtama yang memiliki kesaktian dan keberanian, serta pendiriannya sukar ditundukkan. Dan itulah yang saya maksudkan dengan golongan pertama tadi.

- Jika demikian adakah hubungannya antara Kertanatakusumah dengan Tambakraga ?— Sang Senapati bertanya pada Bupati Wirahadinata.

— Hal itu saya kurang mengetahui, Gustiku. - Yang terang murid-murid Tambakraga banyak yang menjadi alat Kertanatakusumah, untuk membangkitkan kerusuhan di-mana-mana, — jawab Bupati Wirahadmata singkat.

-- Adakah Kyai Wiku Sepuh ataupun Kyai Pandan Gede mengetahui banyak hal ini ? — Sang Senapati memalingkan kepala kearah Kyai Wiku Sepuh dan Kyai Pandan Gede serta bertanya dengan mengerutkan keningnya.

— Hal itu dapat diketahui lebih banyak, apabila kita dapat menangkap hidup-hidup si Tambakraga --- Pandan Gede mendahului menjawab pertanyaan Sang Senapati.

— Bupati Wirahadinata. — Sang Senapati menegor dengan pelan dan kelihatan sangat berhati-hati dalam ucapannya. Keteranganmu menjadi bahan pertimbangan bagiku untuk melangkah lebih lanjut dalam memadamkan kerusuhan-kerusuhan yang timbul sekarang, akan tetapi aku belum dapat memenuhi usul-usulmu seluruhnya.

—Aku masih minta bukti akan kesetiaanmu, kesanggupan untuk menyertai Tumenggung Manggala Muda Indra Sambada menemui para pemimpin yang berkehendak mengabdi pada Kerajaan Majapahit, demi tercapainya penatuan seluruh rakyat senuswantara dibawah naungan satu bendera gula klapa.

— Saya berjanji akan menjunjung tinggi titah Gustiku Senapati. Bupati Wirahadinata menjawab singkat sambil bersujud.

— Tugasmu selanjutnya terserah pada Tumenggung Indra Sambada, sebagai wakilku dalam menjunjung tinggi titah Gusti Senapati Manggala Yudha.

— Berkata demikian Sang Senapati sambil mengangkat bahu Bupati Wirahadinata yang kemudian duduk bersila kembali.

Sang Senapati melanjutkan bicaranya: — Kyai Wiku Sepuh serta Kyai Pandan Gede, — kata Sang Senapati: — Ingin juga aku minta pendapatnya Kyai berdua, sebagai tambahan bahan-bahan pertimbanganku. Dan aku kira Kyai berdua akan bersedia membantu demi kepentingan nusa dan bangsa kita ini, bukankah demikian Kyai Wiku Sepuh dan Kyai Pandan Gede? —

Pandan Gede menyarankan agar Sang Senapati menunggu munculnya kembali Tambakraga dalam beberapa hari lagi. Karena menurut dugaan Kyai Pandan Gede, Tambakraga terpaksa menyembuhkan luka didadanya yang akan memakan waktu kurang lebih 7 hari lamanya. Setelah Tambakraga muncul maka supaya dapat ditangkap hidup-hidup.

Dengan demikian pada persoalan kerusuhan itu akan segera dapat bertambah lebih terang, dan lagi Tambakraga dapat digunakan untuk mengumpulkan dan menundukkan semua pimpinan para penjahat yang berada dibawah pengaruhnya.

Hal ini akan banyak artinya dalam memadamkan kerusuhan-kerusuhan dan membendung merembesnya pengaruh bekas perwira tamtama Pajajaran, yang bermaksud menyurutkan nama kebesaran Kerajaan Majapahit. Saran dari Kyai Wiku Sepuh disamping menyetujui usul Kyai Pandan Gede, supaya Sang Senapati berlaku waspada dan bertindak adil serta bijaksana. Segala sesuatu tindakan hendaknya didasarkan sebagai pengabdian pada Kerajaan dan sebagai pengemban amanat penderitaan rakyat. Kedua saran itu oleh Sang Senapati diterima dengan penuh pengertian. Kini Sang Senapati bermaksud akan menanti kedatangan Tambakraga selama tiga hari di Padepokan. Apabila dalam waktu tiga hari itu Tambakraga tidak menampakkan dirinya, Kyai Pandan Gede dan Indra Sambada diperintahkan untuk mencarinya disekitar lereng Gunung Sumbing, sedangkan Tumenggung Sunata supaya menggempur sarang Tambakraga dihutan Wonogiri dengan pasukan.

Pada malam harinya, sewaktu semua sedang tidur dengan nyenyaknya, kecuali para murid yang bertugas jaga, Indra Sambada membangunkan Jaka Rimang untuk kemudian di ajaknya keluar halaman Padepokan. Dengan bersenjatakan tongkat penjalin, dan kantong kulit dipinggang, mereka berdua berjalan cepat laksana berkelebatnya bayangan yang segera menyelinap dalam kegelapan memasuki hutan, dimana kemaren Tambakraga menghilang.

Disebuah tempat didesa yang terpencil disebelah barat dari hutan itu, terlihat dari kejauhan adanya sebuah rumah dengan lampu yang bersinar terang didalamnya.Suara orang-orang bercakap-cakap pelan terdengar jelas diwaktu malam yang sangat sunyi itu.

— Bagaimana pendapat Bapak Guru jika kita semua pulang saja ke Wonogiri hingga Bapak Guru sembuh kembali, — seorang diantaranya berkata. Yang disebut dengan panggilan Bapak Guru, adalah seorang berbadan gemuk yang telah lanjut usianya dengan wajah yang penuh dengan cambang bauk dan sedang berbaring di-bale-bale yang berada ditengah rumah itu. Dibalik cambang bauknya yang telah berwarna dua itu, wajahnya kelihatan pucat pasi, serta sebentar-sebentar batuk-batuk kecil dengan memuntahkan darah.

Delapan orang yang mengelilingi sedang sibuk melayani dengan penuh hormatnya sebagaimana murid yang menunjukkan kesetiaannya terhadap Gurunya, ada yang sedang memijit mijit kakinya, adapula yang sadang mengusap dengan bobok parem.

— Tak perlu, — jawab Tambakraga pelan dengan diselingi nafas yang tersengal-sengal, ia melanjutkan bicaranya. — Lebih baik beristirahat disini tiga atau empat hari lagi. Aku akan segera sembuh kembali, dan janganlah kuatir akan kesehatanku. Tolonglah ambilkan lagi obat yang dipinggan itu, dan biarlah saya minumnya sekali lagi.

— Salah seorang yang duduk mengelilingi cepat bangkit dan mengambil mangkok yang berisikan jamu yang sebagaimana dimaksudkan untuk kemudian diminumkan pada Macan Kumbang gurunya. Dengan sekali teguk isi mangkok diminun sekali tenggak habis oleh Tambakraga, dan nafasnya yang ter-engah- engah berangsur-angsur menjadi tenang kembah. Tetapi demikian ini tak berlangsung lama, segera dirasakan kembali oleh Tambakraga dadanya sesak kembali, dan nafasnya terengah-engah lagi.

— Bagaimana jika kami menculik Wiku Sepuh dan membawanya kemari malam ini, agar penyakit dalam Bapak Guru dapat diobati ? — kata orangnya yang mengambilkan mangkok obat tadi. — Tak mungkin bisa …… tak mungkin. — jawab Tambakraga terputus-putus karena nafasnya dirasakan sesak. - ltu namanya mengantarkan jiwa …… —Kyai Wiku Sepuh..... bukan ……. anak keijil ……. Jangan berbuat yang bukan-bukan ,,,,,, — jika tidak seijinku …… Tambakraga berkata pelan — Besok pagi ambil saja …… rempah-rempah obat-obatanan yang ditegalannya, seperti tadi.

— Baik, bapak guru. — jawab dua orang serentak.

— Tiba-tiba delapan orang yang sedang mengelilingi gurunya itu bangkit serentak karena terkejut dengan terbukanya pintu depan yang terpentang lebar, dan menyusul kemudian masuknya dua orangmuda yang langsung masuk keruang tengah.

— Delapan orang itu mmasing-masing cepat menghunus senjatanya dan bermaksud hendak menyerang serentak, tetapi dua orang muda dengan tenangnya melangkah maju dan satu diantaranya berkata dengan nada penuh wibawa .— Saya datang untuk mengobati gurumu, dan janganlah mulai membuat keributan --. Kedelapan oraug segera menggagalkan niatnya dan berdiri termangu dengan penuh pertanyaan.

— Siapa berani datang kemari di tengah malam ini ….. terdengar suara Tambakraga yang parau itu. Dua orang itu tidak menjawab, tetapi malah langsung mendekati Tambakraga yang sedang berbaring, dengan tidak memperdulikan adanya delapan orang yang sedang menjaganya.

— Sayalah yang datang dengan maklud untuk mengobatimu Tambakraga—Indra Sambada berkata dcngan pelan dan tegas serta langsung duduk dibale - bale dimana Tambakraga sedang berbaring.

— Siapa kau berdua?— Tambakraga bertanya dengan suara lantang yang dipaksakan dengan mengerahkan tenaganya, dan matanya memandang tajam kearah Indra Sambada dan Jaka Rimang, serta berusaha untuk bangkit

— Sayalah Indra Sambada dan adikku Jaka Rimang yang akan menolongmu. Kuharap janganlah menaruh kecurigaan pada kami, dan tenanglah berbaring berkata demikian Indra Sambada sambil memegang bahunya Tambakraga dan membaringkannya.

Delapan orang kembali berdiri mengelilingi Indra Sambada dan Jaka Rimang yang sedang duduk dengan senjatanya mmasing-masing yang masih digenggam dengan erat-erat, menunggu perintah gurunya.

— Tak perlu murid-muridmu bersusah payah untuk menculik Kyai Sepuh, kami muridnya datang mewakilinya Ternyata Indra Sambada dengan Jaka Rimang telah lama meugintai dari celah-celah

dinding bambu, dan mendengarkan percakapan mereka dengan jelas.

Semua tertegun heran, bahwa satupun diantara mereka tiada yang mengetahui adanya dua orang

muda yang sedang mengintai dari Iuar rumah. Lebih heran lagi, karena tidak ada laporan daripada para penjaga yang memang ditugaskan berjaga disekitar pinggir desa itu. Sedangkan jumlah penjaga yang ditugaskan ada duabelas orang. Mendengar kata-kata terakhir dari Indra Sambada, delapan orang serentak mengacungkan senjata mmasing-masing kearah Indra Sambada, dan Jaka kimang, serta satu diantaranya berseru. — Keparat, akan kuperiksa terlebih dahulu apakah kalian tidak bermaksud jahat. ---

--- Jika kami bermaksud jahat, tentunya sudah sejak tadi dapat kulakukan , jawab Indra Sambada

dengan tenang. Berkata demikian Indra Sambada sambil mendorong dengan tangan kirinya kepada Tambakraga yang akan memaksakan dirinya untuk bangkit dari pembaringan, sedangkan tangan kanannya meraba punggungnya. Tambakraga jatuh berbaring kembali dengan tak berdaya.

— Siapa kamu ini, dan apa maksudmu? Tambakraga bersuara lemah dan ter-putus putus.

— Tadi aku telah berkata, bahwa kedatanganku untuk menolongmu, maka dan itu suruhlah orang- orangmu jangan mengganggu kami.- Indra Sambada menjawab dengan tegas.

Dengan lambaian tangannya Tambakraga memberikan perintah isyarat agar anak buahnya segera menyimpan senjatanya mmasing-masing. — Luka dalammu agak berat, — kata Indra Sambada dengan melepaskan tangannya yang meraba punggungnya me-mijit-mijit pelan didadanya Tambakraga, dengan mengerahkan tenaga dalamnya.

Ber angsur-angsur jalan pernafasannya dirasakan tidak sedemikian menekan seperti semula.

Kini Tambakraga terpaksa menurut apa perintahnya Indra Sambada. Jaka Rimangpun telah sibuk menyiapkan ramuan obat yang kemudian direbusnya sendiri didapur, untuk kemudian diminumkan pada Tambakraga- Delapan orang murid Tambakraga hanya diam berdiri, dengan mengamat-amati apa yang dilakukan oleh kedua orang muda itu. Tambakraga setelah minum obat yang diterimanya dari Jaka Rimang, oleh Indra Sambada segera diperintah untuk duduk bersila menghadap-kan punggungnya.

Kembali Indra Sambada mengerahkan tenaga dalamnya yang disalurkan lewat jari-jari tangan kanannya untuk mengurut jalan darah dan jalinan syaraf yang sejalan dengan ruas tulang belakang hingga ber- ulang-ulang.  

Setelah Tambakraga dapat bernafas seperti biasa, dan di rasanya tidak sedemikian sakit dadanya, maka diperintahkan untuk berdiri dengan kepala dibawah dan kaki-kakinya lurus keatas. Ampat orang muridnya disuruh membantu memegang kedua kakinya Tambakraga, agar dapat berjungkir balik dengan lurus.

Kini Indra Sambada memusatkan ienaga bathinnya, untuk kemudian dihembuskan keluar dengan tiupan kearah mulut Tambakraga, dan dalam waktu yang bersamaan itu, ia diperintahkan untuk menarik nafas dalam-dalam. Sejenak kemudian Tambakraga memuntahkan darah hitam bergumpalan, dan tak sadarkan diri. Segera badan Tambakraga dibaringkan kembali, serta mukanya dibersihkan dengan air hangat, dan secepat itu pula ia sadar kembali. Kini wajahnya kelihatan menjadi merah dan tidak sepucat tadi, sedangkan pernafasannya dirasakan tak terganggu. Jaka Rimang kembali lagi menyiapkan ramuan obat yang lain, dan segera diminumkan kepada Tambakraga yang sedang berbaring itu. Setelah minum obat ramuan untuk kedua kalinya, Tambakraga merasa hilang sakitnya yang selalu menekan didadanya. kini dapat bernafas dengan lapang dan dapat berbicara dengan bebas, hanya kekuatan tenaganya yang di rasakan sangat lemah, belum kembali seperti semula. Tiba-tiba Tambakraga menatap wajah Indra Sambada dengan pandangan mata yang bernyala-nyala, dan berseru: Pendekar Majapahit! Janganlah kau bertindak sebagai pengecut, mempermainkan seorang yang sedang terluka.

— Tenanglah, Tambakraga, janganlah kau cepat me-nganggap aku ingin mempermainkan kamu, tetapi dengan kesungguhan hati kami mengharap agar kamu lekas sembuh dan bebas dari penderitaan lukamu, — Indra Sambada men-jawab dengan tenang, dan dalam hatinya ia memuji akan sifat-sifat kejantanannya.

—Memang aku tadi semula akan bermaksud menangkapmu dengan bertanding secara jantan, tetapi setelah aku mengetahui bahwa kau terluka hebat, maksudku telah kubatalkan dan ingin rasanya aku harus menolongmu terlebih dahulu, sebagaimana kuwajiban seorang manusia biasa terhadap sesama.

Dan ketahuilah, bahwa kau masih perlu istirahat untuk waktu lebih dari dua bulan untuk mengembalikan tenagamu.—

Tambakraga memandang dengan rasa kagum. Belum pernah ia menjumpai orang shakti semuda lndra Sambada dengan iifat-sifatnya kesatrya sedemikian. Tetapi sebagai seorang yang namanya telah terkenal dan ditakuti serta memiIiki kesaktian, tak mau ia memperlihatkan kekagumannya. Dengan angkuhnya ia bicara — Priyagung yang berwatak ksatrya, — serunya. Jika kau memang memiliki jantan, tunggulah sampai saya pulih kembali tenagaku, untuk mengadu jiwa denganmu. Dan jasa jerih pauahmu sekarang ini akan kubayar menurut permintaanmu. Harta bendaku cukup banyak dan selirkupun cantik- cantik. Kau boleh memilih sebagai upah akan pertolonganmu itu. Bukankah menjadi priyagung tamtama itu mengejar harta benda dan hidup mewah —

Berkata demikian disertai suara tawa yang mengejek- Hampir-hampir Jaka Rimang tak tahan mendengar ejekan Tambakraga yang memuakkan itu, tetapi sedang ia mengangkat tongkatnya, Indra Sambada cepat menahan dengan tangan kanannya serta memberi isyarat, agar ia tetap tenang dan jangan mengumbar nafsunya.

— Aku tidak membutuhkan harta ataupun perempuan — Indra menyahut dengan tandas serta dengan ketenangannya tetap menguasai dirinya. — Jika kau tak berkeberatan, aku mempunyai usul permintaan sebagai pembayaran atas jerih payahku Indra Sambada sengaja menekankan minta ganti kerugian akan jasanya, karena mengingat sifat-sifat yang dimiliki Tambakraga, adalah orang yang tak mau berhutang budi. Semuanya dinilai dengan kebendaan. Hanya karena sifat kejantanannya. Indra Sambada tetap menghargai lawannya.

--- Cobalah kemukakan usulmu itu, jika sekiranya tidak merupakan penghinaan bagiku, tentu akan kupenuhi --- Tambakraga menjawab, dan dengan penuh curiga menunggu permintaan apa yang kiranya akan dikemukakan oleh Indra Sambada.

— Sama sakali aku tidak akan bermaksud merendahkan dirimu, Tambakraga.— Indra Sambada menjelaskan, — Aku akan memberi waktu padamu selama satu tahun, agar tenagamu dapat pulih kembali seperti semula, jika kau masih penasaran ingin membunuhku sebagai balas dendam, aku akan melayanimu dengan tidak mengecewakan. Tetapi selama kau menunggu kedatanganku satu tahun lagi aku mengharapkan supaya kerusuhan-kerusuhan yang ditimbulkan oleh anak buahmu dihen-tikan. Baru setelah kita bertanding. dan jika kemenangan berada dipihakmu kau boleh berbuat dengan anak buahmu sekehendak hatimu. Aku percaya, bahwa kau tak akan mengingkari janjimu, jika kau menerima usulku itu.—

— Bagus, bagus, Gelarmu ternyata tak mengecewakan. Tapi ingat dalam pertandingan yang akan datang, aku akan menganggapmu sebagai lawan yang harus kumusnakan, dan hutangku padamu akan kubayar dengan memenuhi permintaanmu tadi. Ketahuilah jika ada terjadi kerusuhan disepanjang kali Bengawan sampai memasuki Kota Raja, sebelum kita bertanding, adalah menjadi tanggung jawabku, dan kau boleh berbuat sekehendak hatimu atas diriku. Sampaikan juga janjiku ini pada Pandan Gede si Siluman tua itu. Aku menunggu kedatangannya bersamamu Tambakraga berkata dengan sinar mata yang menyala-nyala.

—Baiklah, selamat berpisah dan sampai jumpa kembali. Jaga baik-baik dirimu dan peganglah teguh janjimu. — berkata demikian Indra Sambada segera bangkit dan meninggalkan rumah itu yang diikuti oleh Jaka Rimang. Delapan orang murid Tambakraga menghantar sampai diambang pintu, dan sesaat kemudian kedua pemuda tersebut, melesat sebagai bayangan tak berbekas, hilang ditelan oleh kegelapan malam yang mendekati fajar.

Orang-orang murid Tambakraga yang bertugas jaga, ternyata tadi diikat kaki dan tangannya mmasing- masing oleh mereka berdua dan dikumpulkan manjadi satu, bergelimpangan dipinggir desa. Sewaktu meninggalkan desa, masih sempat Indra Sambada dan Jaka Rimang membebaskan mereka terlebih dahulu.

Setelah diberitahukan, Sang Senapati sangat menyetujui dan memuji akan tindakan Indra yang cepat serta bijaksana itu. Untuk langkah selanjutnya Sang Senapati memerintahkan kepada Indra Sambada agar segera berangkat kedaerah Pajajaran ber sama sama dengan Bupati Wirahadinata untuk menemui para bekas perwira tamtama kerajaan Parijajaran, untuk mengadakan perundingan dan bertindak sebagai wakil berkuasa penuh dari Sang Senapati, demi kejayaan dan keagungan nama Kerajaan Majapahit. Saran Sang Senapati agar Indra Sambada membawa pasukan tamtama, ditolak-nya, dengan alasan akan lebih meruncingkan serta lebih mengeruhkan suasana. Tetapi untuk menjaga segala kemungkinan yang tidak dikehendaki, Tumenggung Sunata diperintahkan untuk menyiapkan pasukan tamtama sebanyak limaratus orang didaerah Banyumas. Dengan demikian jika sewaktu waktu diperlukan, akan dapat bergerak cepat. Atas usul Indra Sambada, Jaka Wulung dan Jaka Rimang diterima pengabdiannya sebagai lurah penatus tamtama, dan diperintahkan untuk mengikuti Indra Sambada dalam perjalanannya ke Pajajaran sebagai pemban-tu pribadinya.

— Berhasilnya dalam menjunjung titah Gustiku Senapati Manggala Yudha, kubebankan seluruhnya padamu, dan bawalah dua ekor burung merpatiku, agar kau dapat secepatnya mengirim laporan padaku, Kata Sang Senapati berulang-ulang.

— Doa restu Gusti hamba, semoga menyertai hamba selalu, dan sampaikan sembah sujud hamba kehadapan Gusti hamba Senapati Manggala Yudha Gusti Harya Banendra, serta para priyagung sepuh lainnya — Indra berkata dengan merendah.

Kyai Pandan Gede pun diminta bantuannya agar mengawasi Tambakraga, jangan sampai Tambakraga mengingkari janjinya. Sedangkan Kyai Wiku Sepult dimohon doanya demi kesejahteraan rakyat semua.

— Gusti muridku Tumenggung Indra.— Kyai Wiku Sepuh berkata pelan — Aku akan selalu berdoa pada Dewata Yang Maha Agung, Agar Gusti muridku berhasil dalam menunaikan tugasnya sebagai pengemban amanat penderitaan rakyat, dan selamat tak kurang suatu apapun hingga kembali kekota Raja.

Bimbinglah adimu Jaka Wulung dan Jaka Rimang arah jalan yang benar, agar kelak menjadi tamtama tauladan. Ingatlah selalu bahwa tugas hidup manusia adalah sembahyang, bekerja dan amal. Jelasnya sembahyanglah menyembah mengagunkan pada Dewata Yang Malla Agung sebagai pencipta alam semesta serta isinya, bekerja untuk mempertahankan hidup dan kehidupan demi menjunjung tinggi karyaNya, sedangkan amal ialah pengabdian padaNya dan pengabdian pada Nusa Bangsa serta semua umat pada umumnya, — sampai disini Kyai Wiku Sepuh berhenti sejenak dan kemudian melanjutkan bicaranya.

— Berangkatlah dengan langkah yang penuh kepercayaan, bahwa Yang Maha Kuasa selalu menyertaimu

…… selamat …. selamat …..--

*

**

B A G I A N III

--Nakmas Indra.— Wirahadinata berkata sambll berjalan serta memalingkan kepalanya kearah Indra Sambada yang berjalan disampingnya. — Marilah kita mengaso dahulu di-warung yang berada dipinggir jalan sebuah desa didepan itu.–

— Baiklah, Bapak Wirahadinata.— jawab Indra dengan tersenyum. — Akan tetapi bukankah lebih baik kita beristirahat clisini saja, sambil ber-cakap-cakap merundingkan hal-hal yang perlu kita pecahkan bersama.—

-- Maksudku ialah untuk mengisi perut sambil mengaso, karena laparku telah lama kutahan nakmas.

Wirahadinata menjelaskan dengan jujur.

— O …… jika itu yang dimaksudkan, kita semua tentu setuju, akan tetapi kiraku adi Wulung dan adi Rimang dapat mancarikan makanan untuk kita berlima, sedangkan kami bertiga menunggu sambil mengaso disini. Dengan demikian kita dapat bebas bercakap-cakap sambil mengaso, dan tak perlu kuatir didengar orang lain. — Berkata demikian Indra Sambada mendahului duduk diatas rumput dibawah pohon yang rindang yang berada dipinggir jalan kecil yang sunyi itu. Wirahadinata dan Sujud segera mengikuti duduk dihadapannya, menyusul kemudian Jaka Wulung dan Jaka Rimang ikut serta duduk di sampingnya.—

— Benar juga pendapat nakmas Indra. Hampir-hampir aku lupa bahwa kita sekarang hampir sampai diperbatasan daerah Kabupaten Indramayu, — Wirahadinata berkata sambil memandang dataran luas yang terbentang disampingnya. Se-akan-akan ia meng-ingat-ingat untuk mengenal kembali daerahnya. Ternyata dataran luas yang membentang kebarat utara itu merupakan tanah kosong yang subur tetapi tak ada yang memelihara. Pohon-pohon besar tumbuh liar tak teratur, sedangkan rumput-rumput Alang-alang disana sini kelihatan lebat. Matahari telah berada di-ketinggian diatas kepala, menunjukkan bahwa kini waktu telah tengah hari siang.

---- Maka dari itu, kita sebaiknya mulai selalu berlaku waspada. Bukankah demikian Bapak Wirahadinata, — Indra Sambada berkata pelan: — Adi Wulung dan adi Rimang, tolonglah carikan apa saja yang dapat untuk meagisi perut kita ini didesa depan kita itu. Tetapi berlakulah baik-baik dan merendah terhadap rakyat desa itu, dan bayarlah apa yang kau dapat dari mereka dengan uang secukupnya.

--- Tak usah kakang Indra gelisah akan hal itu, — jawab Jaka Wulung dengan tersenyum. Berkata demikian Jaka Rimang segera turut bangkit dan mengikuti kakaknya, pergi menuju sebuah desa yang dimaksud dengan air muka yang selalu bersinar girang. Memang selama dalam perjalanan, mereka berdua kakak beradik selalu menunjukkan rasa gembiranya. Kiranya mercka belum pernah mimpi, bahwa dengan mudahnya kini telah menjadi tamtama Kerajaan dan berpangkat lurah penatus tamtama, sungguhpun hingga sekarang belum pernah mereka mengenakan pakaiannya tamtama. Seringkali mereka berdua menyebut Indra dengan Gusti Tumenggung, tetapi berulang kali pula dilarang oleh Indra Sambada sendiri. Mereka supaya tetap memanggilnya dengan kakang saja, hanya di tempat-tempat resmilah, mereka diperkenankan menyebut Gusti pada Indra Sambada. Sujud sejak ketemu dengan Indra Sambada kembali dilereng Gunung Sumbing dulu, selalu mendekatinya dan ingin dimanjakan tak ubahnya seperti adik yang masih belum dewasa menghadapi kakaknya. Pun ia selalu turut bangga, apabila nama Indra Sambada di sebut-sebut orang. Sewaktu mengaso dalam perjalanan dan ada kesempatan yang baik, Sujud selalu di suruh mengulangi pelajaran-pelajaran pembelaan diri yang telah pernah diberikan, serta ditambah pula sedikit demi sedikit. Ternyata cepat Sujud dapat menangkap dan menguasai pelajaran yang diberikan oleh Indra Sambada dengan baiknya. Tak lama kemudian Jaka Wulung dan Jaka Rimang telah kembali dengan membawa nasi serta lauk pauknya dan kelapa muda sebagai minumnya Sebentar saja nasi dengan lauk pauknya serta air kelapa muda habis ludes masuk dalam perut kelima orang itu. Kiranya setelah kenyang, Sujud merasa mengantuk dan merebahkan diri dan tidur disisih Indra dengan nyenyaknya. Kini mereka berampat mulai ber-cakap-cakap pelan kembali.

— Nanti setelah kita sampai di desa Majalengka, sebaiknya saya dengan Sujud mendahului berjalan menuju kota Indranmayu, dan nakmas bertiga menyusul kemudian. Dengan cara demikian perjalanan kita tidak menjadi perhatian orang. — Wirahadinata memberikan usul siasatnya.

— Siasat yang bagus sekali, — Indra Sambada menjawab, sambil masih berfikir mencari siasat yang lebih tepat lagi. Ia diam sejenak, dan meneruskan bicaranya: — Saya juga ada pendapat yang mungkin lebih baik. Mengingat bahwa Bapak adalah bekas kepala daerah ini, sebaiknya bapak menyamar entahlah sebagai apa, agar tidak mudah dikenal orang. Bapak berjalan lebih dahulu dengan di-bayang- bayangi dari jauh oleh adi Jaka Wulung dan Jaka Rimang, dan kemudian saya menyusul dengan Sujud. Kiraku dengan demikian akan mengurangi kemungkinan datangnya kesukaran-kesukaran dalam perjalanan ini.

--- Jika nakmas menghendaki demikian, sayapun sangat setuju, dan sebaliknya kita melanjutkan perjalanan setelab nanti matahari tenggelam, — Wirahadinata menambah.

Pada malam harinya mereka berjalan berpisah-pisah, sebagaimana yang mereka rencanakan. Jika Wirahadinata sewaktu memasuki kota Indramaju tak menarik perhatian karena ia menyamar sebagai seorang tua pengemis dengan bajunya yang compang camping, serta bertongkat sebatang dahan kering, maka lain halnya dengan Jaka Wulung dan Jaka Rimang. Dari tingkah laku dan percakapannya mudah diketahui, bahwa mereka adalah orang pendatang dari lain daerah.

Hal ini disebabkan terutama karena mereka tak mengenal akan bahasa daerah setempat. Pagi itu kebetulan hari pasaran di-kota. Orang-orang berduyun-duyun datang memasuki kota dengan membawa barang dagangannya mmasing-masing yang beraneka macam. Ada yang membawa bahan makanan berupa beras, jagung, kedelai dan lain-lain hasil tanaman seperti sayur-sayuran dan sebagainya. Dan adapula yang membawa ternak seperti ayam, itik dan lain-lain serta bahkan ada yang berjalan sambil menghalau kerbau sapi dan lain sebagainya, untuk nanti dijual dipasar kota. Ampat orang punggawa praja sibuk menghadang para pendatang untuk mengumpulkan bea masuk kota yang tidak sedikit jumlahnya. Yaitu seperempat bagian dari tafsiran harga nilai dagangannya, para pedagang itu harus menyerahkan pada empat orang punggawa praja itu, yang memang ditugaskan oleh Bupati Kepala Daerah lndramayu. Mereka diharuskan membayar tunai dengan mata uang ataupun meninggalkan barang dagangannya sebanyak seperempat bagiannya. Mungkin hal itu telah menjadi kebiasaan, sehingga semua pendatang tak ada yang berhasrat menentangnya. Walaupun sesungguhnya dirasakan berat sekali olehnya. Sebentar saja pedati dipinggir jalan yang tadinya kosong itu kini penuh dengan ber- macam-macam barang hasil pungutan dari para pedagang itu, sedangkan kantong goni yang dipentang oleh dua punggawa praja itu cepat juga penuh berisikan uang perak dan tembaga.

Ada dua tiga orang yang menggerutu, tetapi pada hakekatnya, mereka juga membayar penuh. bea masuk kota yang ditentukan oleh ampat orang punggawa praja tadi . Tak seorang dapat lolos dari keharusan membayar bea masuk kota, kecuali pengemis tua, karena memang tak ada yang harus ditinggalkan. Dengan pakaian yang compang campingr, dan dekil itu, para punggawa praja segan untuk menggeledahnya.

--- Cepat, serahkanlah kantong kulitmu mmasing-masing itu, untuk kuperiksa dulu isinya, — seorang punggawa praja berseru memerintah pada Jaka wulung dan Jaka Rimang yang kini tiba gilirannya untuk digeledah. Mendengar seruan ini muka Jaka. Rimang seketika menjadi merah padam menahan rasa marahnya, dan menjawablah dengan bentakan yang tak kalah kerasnya. — Peraturan manakah yang mengharuskan orang berlalu digeledah dan meninggalkan seperempat bagian miliknya padamu.—

— Bangsat ….. membantah ketentuan ini, sama halnya dengan memberontak terhadap Gustiku Bupati, tahu. — Salah scorang punggawa praja yang tinggi besar membentak keras.

— Tak usah di jawab. Tangkap saja dua orang itu perintah seorang punggawa yang berdiri

dibelakang, sambil memperhatikan Jaka Wulung dan Jaka Rimang dengan pandangan mata yang tajam. Dua orang punggawa yang sedang menghadapi segera merangsang maju hendak menangkap pergelangan tangan Jaka Wulung dan Jaka Rimang, untuk menyeretnya, akan tetapi kedua punggawa praja itu segera jatuh terjungkal kebelakang, dan kepalanya babak belur terbentur batu yang berserakan ditanah.

Punggawa praja yang berdiri dibelakang tadi, cepat menghunus golok panjangnya serta menerjang maju dengan serangan kilat yang berbahaya. Sedangkan seorang punggawa lainnya yang sedang memegang kantong goni yang berisi uang itu, cepat pula turut menyerang dengan kelewangnya. Orang-orang pendatang banyak pula yang tidak mempedulikan atas keributan ini, dan mengambil kesempatan untuk cepat-cepat berlalu dari tempat itu, dengan tanpa membayar bea masuk. Dari gerakan para penyerang itu, Jaka Wulung dan Jaka Rimang segera dapat mengukur ketangguhan lawan, yang ternyata jauh berada dibawah tingkatannya.

— Adi Rimang, biarlah kau melayani mereka sendiri, aku akan membagi bagi rejeki pada para penonton — berkata demikian Jaka Wulung melompat kesamping menuju tempat kantong goni yang beriskan uang. Dengan tangkasnya kantong goni disodok dengan tongkatnya, dan uang dalam goni itu berkerincingan tersebar dijalanan. Kini tanpa diperintah lagi, orang yang berlalu disitu berebut memunguti uang yang tersebar dijalanan, sewaktu Jaka Rimang sibuk dengan tongkatnya mempermainkan dua punggawa praja yang menyerangnya. Dua orang punggawa praja yang jatuh terjungkal karena tendangan Jaka Wulung dan Jaka Rimang tadi, telah pula merayap-rayap bangun dan menyerbu kearah Jaka Rimang, untuk membantu teman-temannya.

Kini pertandingan menjadi satu lawan ampat. Tetapi Jaka Wulung masih juga berdiri tenang dengan bersenyum simpul sambil melihat jalannya pertempuran. Tak lama kemudian senjata mmasing-masing yang berada ditangan ampat orang punggawa praja itu serentak terpental lepas dari pegangan dan jatuh ditanah, dengan diiringi suara jeritan dan mengaduhnya dua orang punggawa praja yang jatuh terpental kebelakang tiga langkah dari tempat pertempuran itu.

Belum juga suara tertawa hilang dari mulut Jaka Rimang, yang merasa girang karena berhasil serangannya, tiba-tiba ia sendiri jatuh terjungkal dengan pelipisnya sebelah kiri berdarah. Jaka Wulung melompat, untuk menolong adiknya, tetapi suara desis jatuhnya batu krikil datang kearahnya terpaksa ia merobah gerakannya dan dengan tongkatnya Jaka Wulung menangkis datangnya serangan gelap itu.

Batu kerikil sebesar ibu jari tangan terpental jatuh karena terbentur dengan ujung tongkat Jaka Wulung. Terkejut ia setelah merasakan betapa pedihnya telapak tangan yang memegang tongkat. Kembali suara desingan terdengar, dan tongkat ditangannya berputaran cepat untuk digunakan sebagai perisai, sambil merendahkan badannya, dan dua buah kerikil terpental melambung jauh, karena terbentur dengan tongkat penjalinnya. Kini ia tahu, bahwa penyerang gelap itu adalah orang yang duduk dalam pedati dipinggir jalan. Orang itu tenang-tenang duduk dalam pedati dipinggir jalan dengan tangan kirinya memegang cambuk, dan bandringan atau alat pelempar batu ditangan kanannya, dengan ketawa terkekeh kekeh.

— Hai bedebah, kusir pedati, — Jaka Wulung berseru dengan lantang. — Jangan kau menyerang dengan sembunyi.—

— Ha ..... haaaa ….. haaaa ….. akan kulihat sampat dimana ketangkasan permainan tongkatmu itu. — berkata demikian orang yang duduk dalam pedati segera meloncat keluar dengan cambuk pedatinya ditangan kiri.

— Sebelum kau hancur kuhajar dengan cambukku ini, siapakah kau, berani berlagak sebagai peraberontak.—

Pakaian orang itu hitam kumal sebagai kusir pedati biasa dengan topi anyaman bambu sebagai penutup kepalanya. Bentuk tubuhnya tinggi kurus agak bongkok, namun wajahnya kelihatan bersih bersinar. Melihat raut mukanya, usianya orang itu tak lebih dari 30 tahun. Matanya juling, menyimpan silat-sifat kepalsuan. Ketawanyapun di-buat-buat dengan nada penuh ejekan. Ampat orang punggawa praja tadi cepat mengundurkan diri dan berdiri agak jauh dibelakang orang itu dengan rasa ke-takutan.

---- Akulah Jaka Wulung. Jaka Wulung menyahut cepat. — Dan maksudku bukan untuk memberontak, tetapi sekedar memberi hajaran pada punggawa praja yang memeras rakyat dengan se- mena-mena. Siapakah kau berani turut campur dengan urusanku.—

Belum juga pertanyaan itu terjawab, pecutnya telah menyambar dengan mengeluarkan suara yang memekakkan telinga, langsung menyambar kearah kepala Jaka Wuiung. Sementara itu Jaka Rimang telah sadarkan diri kembali dan bangkit berdiri dengan tongkat siap ditangan. Dengan hanya menundukkan kepalanya dan badan merendah sedikit, Jaka Wulung terhindar dari cambukan. Tetapi secepat ia terhindar dari cambukan yang pertama, serangan cambuk yang kedua segera menyusul pula dari arah yang bertentangan ditujukan pada lambung kirinya. Dengan tangkas Jaka Wulung meloncat tinggi menghindari serangan cambuk sambil menyerang kearah dada lawan. Serangan Jaka Wulung dahsyat sekali hingga bagi orang yang kurang pengalaman akan merasa sukar terhindar. Tetapi kiranya lawannya adalah orang yang memiliki ketangkisan yang luar biasa. Sebelum ujung tongkat menyentuh lehernya, dengan tangkasnya ia memiringkan badannya, dan sekaligus mengirimkan tendangan dengan kaki kanannya. Serangan yang tak terduga ini sukar sekali untuk dihindarkan, karena saat itu Jaka Wulung belum berpijak ditanah. Jaka Wulung mengerahkan tenaganya untuk menerima tendangan lawan dengan tangkisan siku tangannya, dan ia terpental dua langkah kebelakang dengan berjumpalitan. Ternyata tenaga tendangan lawan tadi dahsyat sekali. Cepat Jaka Wulung bangkit dan membalikan badannya, siap untuk mengelakkan serangan tusukan dari lawan. Tiba tiba Jaka Rimang telah menerjang lawan yang sedang melancarkan serangan dengan cambuknya. memukul dengan tongkatnya kearah pergelangan tangan kiri lawan, yang memegang cambuk itu. Cepat serangan cambuk itu ditarik kembali untuk menghindari pukulan cepat tongkat Jaka Rimang, sambil menangkis dengan cambukan pada tongkat yang menerjang itu serta berseru nyaring — lepas.

Tak ayal lagi tongkat Jaka Rimang terlepas dari genggaman dan terlempar jatuh dua langkah kesamping, Jaka Rimang melompat surut kebelakang dengan wajah yang pucat serta berpeluh dingin. Dalam saat yang sama Jaka Wulung menyerang pula dengan tongkatnya menyapu kaki lawan, tapi tak kurang tangkasnya lawan meloncat tinggi sambil menggerakkan cambuknya memapak datangnya serangan tongkat. Tongkat Jaka Wulung kini terlibat oleh cambuk lawan yang kemudian ditariknya

dengan hentakan yang mengejutkan serta tendangan kearah pergelangan tangan: lepaskan tongkat …… Ternyata tongkat Jaka Wulung dengan mudahnya lepas dari genggaman dan melambung tinggi untuk kemudian jatuh ditanah sejauh kurang dari sepuluh langkah. Jaka Wulung meloncat kebelakang dengan tangannya dirasakan pedih terkena tendangan lawan, tetapi belum juga ia berpijak tanah, cambuk datang menyapu kearah kakinya dan terdengarlah suara mengaduh dari Jaka Wulung untuk kemudian jatuh terkulai ditanah. Kakinya sebelah dirasakan lumpuh tak dapat cligerakkan. Melihat keadaan kakaknya, Jaka Rimang, dengan marahnya menerjang lawan dengan serangan tendangan berangkai.

Kakinya bergerak menendang silih terganu kearah dada dan lambungnya, namun lawannya tangguh dan lebih tangkas. Pada tendangan yang ketiga kalinya lawan sengaja tak menghindari, tetapi menangkis dengan pukulan telapak tangan kanan yang tepat mengenai tulang sambungan pergelangan kaki Jaka Rimang. Jaka Rimang jatuh tersungkur dan tidak berdaya lagi. Ampat punggawa praja yang berdiri menonton itu, kini lari mendekati dan mengikat tangan dan kaki Jaka Wulung dan Jaka Rimang.

— Kuwu, lekas masukkan dua tawanan itu kedalam pedati, dan bawalah langsung ke Kepatihan, — perintah Patih Lingganata — aku menunggu jemputan kudaku. — Lingganata adalah patih Kabupaten, yang baru saja diangkatat sebagai pengganti patih Kabupaten yang namanya juga Lingganata.

Sesubgguhnya nama patih yang baru itu sebelum diangkat terkenal dengan nama Durgawangsa seorang bekas kepala rampok.

Suara cambuk terdengar sekali lagi dan pedati yang ditarik oleh sepasang sapi mulai bergerak berjalan pelan-pelan. Jaka Wulung dan Jaka Rimang berbaring berhimpitan dengan dibelenggu kaki dan tangannya mmasing-masing diatas tumpukan barang-barang yang berada didalam pedati itu dengan dijaga oleh dua orang punggawa praja, sedangkan dua orang punggawa praja lainnya duduk didepan memegang tali kemudi. Tak lama kemudian seorang punggawa praja berkuda datang dengan mengantarkan kudanya Patih Lingganata. Dengan tangkas Patih Lingganata naik kepelana kudanya dan memacunya memasuki kota Indramayu. Pedati berjalan pelan, dan makin lama makin ketinggalan jauh dari dua orang yang berkuda. Pada waktu pedati melalui tikungan, tiba-tiba dua orang berpakaian seperti saudagar kaya, berkelebat meloncat kedalana pedati dan langsung menyerang ampat orang punggawa praja yang berada dalam pedati. Dalam tempat yang sempit itu mereka bergumul saling menyerang. Kiranya dua orang penyerang memiliki ketangkasan yang jauh lebih tinggi dari pada para punggawa praja yang diserangnya.

Dalam waktu yang singkat ampat orang punggawa praja telah terpukul pingsan, bahkan dua diantaranya terlempar ke luar dari pedati dan tak sadarkan diri. Sementara itu dengan tangkas tali belenggu Jaka Wulung dan Jaka Rimang di putusnya dengan tebasan golok, dan kedua Jaka bersaudara itu dipondong oleh kedua orang diatas pundaknya, serta meloncat keluar lari memasuki lorong-lorong jalan kecil di kampung-kampung. Pedati masih terus berjalan tanpa kusir yang mengemudikan.

— Tuan, turunkanlah, kami berdua dapat berjalan sendiri dengan dibimbing, — Jaka Wulung mulai membuka mulutnya dengan bicara pelan. Jaka Wulung dan Jaka Rimang segera diturunkan oleh dua orang penolong itu, dan kini berjalan pelan dengan dipapah mmasing-masing oleh kedua orang yang menolong itu dengan tak mengeluarkan sepatah kata dari mulutnya. Dengan isyarat ini Jaka Wulung dan Jaka Rimang menundukkan mukanya dengan terdiam sambil terus berjalan pelan, dengan kaki sebelah diseret. Kini mereka berampat memasuki sebuah rumah bilik yang cukup luas, tetapi sepi tak kelihatan penghuninya.

Dengan ber – hati-hati pintu ditutupnya kembali dari dalam dengan palang pintu kayu yang cukup kuat. Jaka Wulung dan Jaka Rimang segera dipersilahkan berbaring di-bale-bale yang telah tersedia. Karena dua orang pcnolong itu belum memulai bidara, Jaka Wulung dan Jaka Rimang juga masih tetap bungkam dan saling ber-pandang-pandangan dengan penuh pertanyaan.

Seorang diantara dua penolong itu memandang tajam kearah Jaka Wulung dan Jaka Rimang ber- ganti-ganti dan mulai bicara dengan suara pelan: — Sebagai seorang lurah tamtama penatus, kau berdua cukup memiliki ketangkasan dan keberanian, tetapi dalam tugasmu sekarang ini, kau berdua kurang ber-hati-hati. Kecerobohan tindakanmu dapat menggagalkan seluruh rencana Gustimu Tumenggung Indra, tahukah lurah Wulung dan lurah Rimang? —

Jaka Wulung serta Jaka Rimang serentak bangkit dan duduk dengan mulut ternganga dengan penuh rasa heran dan takut, karena tidak menduga bahwa penolongnya itu telah tahu bahwa mcreka berdua telah diangkat oleh Sang Senapati Muda Adityawardhana sebagai lurah tamtama.

— Memang kejadian ini adalah akibat kebodohan kami berdua, mohon penjelasan …… siapakah sebenarnya tuan-tuan berdua ini, — Jaka Wulung bertanya dengan sangat merendah. Karena ia menduga bahwa penolongnya tak mungkin orang biasa. Tentulah orang yang dekat hubungannya dengan para perwira tamtama Kerajaan — demikian pikirnya.

— ya memang kita belum saling mengenal. Ketahuilah bahwa aku adalah Bupati tamtama

Cakrawirya dan sebutan pangkatku Tumenggung. Pembantuku ini ialah lurah tamtama Durpada! — Cakrawirya menjelaskan.

Jaka Wulung serta Jaka Rimang setelah jelas mendengar kata-kata itu, segera memaksakan duduk bersila dan menyembah serta berkata. — Ampunilah, Gusti Tumenggung. Kami berdua tak sengaja berlaku kurang hormat kepada Gustiku. Dan kami menghaturkan banyak terima kasih atas kemurahan Gustiku Tumenggung Cakrawirya. — Jaka Wulung berkata dengan menundukkan mukanya.

— Tak mengapalah, sebagai tamtama baru, kalian berdua cukup menunjukkan kesetiaan. Untuk selanjutnya se-waktu-waktu kita berjumpa dalam perjalanan jangan sekali kali menyebut dengan Gusti, tetapi cukup dengan Tuan atau Saudara saudagar saja. Dan sekarang berbaringlah kembali, biar lurah tamtama Durpada mengobati kakimu yang pecah itu.—

Tanpa diperintah untuk kedua kalinya Durpada segera memeriksa kaki ke-dua-duanya, ternyata hanya terkilir saja, dan kiranya Jaka Wulung dan Jaka Rimang dapat saling mengurut sendiri, dengan membobokkan ramuan obat yang dibekalnya. Cakrawirya dan Durpada segera meninggalkan mereka berdua dalam rumah itu, dengan maksud mencari jejaknya Indra Sambada yang berjalan bersama dengan Sujud. Jaka Rimang dan Jaka Wulung taat mematuhi perintah Cakrawirja, dimana mereka harus beristirahat dirumah itu selama satu hari satu malam, hingga kakinya yang terkilir sembuh kembali.

Dirumah itu selain telah disediakan makanan lebih dari cukup juga pakaian bermacam-macam bentuk dan ber-aneka warnanya telah tersedia. Kedatangan tamtama nara sandi Tumenggung Cakrawirya dan Lurah Durpada, adalah atas perintah Patih Mangkubumi Gajah Mada untuk memberikan bantuan pada Tumenggung lndra Sambada yang sedang mengemban tugas dari Sang Senapati Manggala Yudha, Perintah ini adalah memenuhi usul Sang Senapati Muda Manggala Tamtama Pengawal Raja Gusti Adityawardhana, setelah mana beliau memberikan laporan selengkapnya tentang hasil peninjauannya serta rencana selanjutnya untuk memadamkan kerusuhan-kerusuhan yang sedang berkobar itu. lndra Sambada dengan Sujud sengaja tak mau melalui jalan besar. Mereka menyusuri tebing kali Cimanuk mengikuti arusnya air kemuara. Dengan demikian mereka mengambil jalan memutar kearah utara untuk kemudian kembali ketimur melalui jalan-jalan desa yang ber-liku-liku dan kemudian masuk kekota dengan tak mendapatkan rintangan sesuatupun. Berdua mereka langsung menuju kepasar Kota Kabupaten, yang penuh sesak dengan orang-orang berdagang dan orang yang sedang berbelanja. Sujud berjalan dengan dua ekor burung merpatinya ditangan, sedangkan Indra Sambada berjalan berlenggang dengan kantong kulit tergantung dipinggangnya. Keris pusakanya tak ketinggalan diselipkan didalam baju dipinggang sebelah kiri agak kedepan. Berkali kali Sujud mengajak ber-henti untuk melihat barang- barang yang beraneka warna dan bentuknya yang sedang diperdagangkan serta yang menarik perhatiannya.

Didalam pasar itu Indra Sambada membeli pakaian yang indah untuk Sujud serta untuk dirinya sendiri, tak ubahnya seperti pakaian seorang saudagar yang kaya raya. Kini mereka keluar dari pasar yang ramai itu dan menuju ke kali Cimanuk yang tak jauh dari kota Indramayu. Memang letak kota Indramayu berada disebelah timur kali Cimanuk, yang mana kali ini bermuara dipantai utara laut Jawa dekat kota Indra-mayu. Kali Cimanuk kini tidak dapat dilalui oleh perahu-perahu layar, karena tidak dalam dan luasnyapun tidak seluas kali Bengawan.

Perahu-perahu layar hanya dapat memasuki sampai dimuara saja. Setelah sampai dipinggir kali Ciinanuk, pada tempat yang sepi, Indra Sambada serta Sujud segera mengenakan pakaian barunya, yang baru saja dibelinya dari pasar tadi. Memang benar apa kata pepatah yang menyatakan, bahwa pakaian dapat merobah wajah dan bentuk Orang. Dengan pakaian baru itu, lndra Sambada kelihatan tampan dan gagah, sedangkan Sujud mirip dengan seorang putra bangsawan. Pakaian atasnya dari sutra berwarna merah muda, dengan celana panjang berwarna biru tua, serta memakai sarang tenun benang, sutra buatan daerah Garut yang telah terkenal. Ikat kepalanya, pita sutra kuning.

Sujud memakai ikat kepala lehar segitiga dari sutra warna kuning pula, dengan baju sutra betwarna merah muda, dan memakai sarung tenun benang sutra dilipat sampai diatas lututnya. Celananya Panjang kepalang sampai dibawah lututnya, berwarna merah tua. Sebentar-sebentar Sujud meraba halusnya pakaian sutra yang dikenakan itu, dengan ketawa gembira dan wajahnya kelihatan ber-seri- seri. Kiranya seingat dia baru kali inilab ia mengenakan pakaian seindah dan samahal ini. Mereka segera kembali lagi kepasar yang masih sesak dengan pengunjung, dan langsung memasuki sebuah warung makan.

Memang warung itu hanya khusus disediakan untuk para pedagang-pedagang besar serta para hartawan yang sedang berbelanja. Masakaanya terkenal lezat dengan pelayan-pelayannya wanita yang cantik-cantik. Dengan tidak menghiraukan tamu pengunjung yang lain, Indra Samhada dan Sajud mengambil tempat duduk yang masih kosong, serta memesan makanan dan minuman yang dikehendaki, Dengan gaya sebagai seorang hartawan, Indra Sambada memerintah pelayan wanita untuk membelikan sebuah sangkar guna menempatkan merpati yang dipegang oleh Sujud itu.

Uang emas sepotong dilemparkan pada pelayan wanita yang diperintah tadi, yang olehnya segera diterimanya dengan senyum gairah yang menarik. Uang kembalinya sengaja diberikan semua kepada pelayan wanita itu, seperti gayanya seorang hartawan muda yang beloboh dan pemboros. Sikap demikian ini membikin irihatinya tamu-tamu lainnya.

Karena kini semua para pelayan berebut untuk melayaninya dengan sangat sopan dan hormatnya. Sudah menjadi kebiasaan warung makan itu, sewaktu hari pasaran, buka terus sampai jauh malam, dan waktu itu senjapun belum tiba. Kira-kira masih tiga jengkal lagi matahari mendekati garis cakrawala dibagian bumi sebelah barat. Tiba-tiba seorang saudagar yang duduk sendiri disudut ruangan, datang mendekati Indra Sambada dengan bersenyum dan menganggukkan kepalanya, serta langsung mengambil tempat duduk dihadapan Iridra Sambada, dengan tidak menunggu lagi dipersilahkan.

— Baru kali ini saya melihat Tuan dipasar Indramayu. Dagangan apakah yang Tuan bawa?— saudagar itu menegor Indra Sambada dengan sopan sekali yang di-buat-buatnya.

— Memang baru kali ini, saya berkunjung kemari—jawab Indra Sambada dengan tersenyum pula. — Dan perkenalkanlah, aku adalah Indra dari Banyumas---

--- Dan saya adalah Saputra, pedagang dari Indramayu sini saja. Dan maafkan, barang2 apakah yang tuan Indra akan dijualnya disini? — Kembali saudagar itu mendesak ingin tahu barang dagangan Indra untuk kedua kalinya. — Dagangan saya adalah barang-barang permata, yang akan saya tawarkan kepada Gusti Bupati. Karena me nurut cerita kawan-kawan saya, Gusti Bupati gemar akan barang-barang permata yang indah-indah. —

Orang yang mengaku bernama Saputra itu tubuhnya kekar gagah, tingginya sedang dengan pakaian yang indah pula sebagai lajaknya seorang pedagang besar. Wajahnya bersinar bersih dengan kumis tipis menambah tampannya. Dibalik wajahnya yang tampan itn tersembunyi sifat-sifat angkuh dan sombong. Usianya masih muda sebagai usia Indra Sambada. Usianya kurang lebih sekitar dua puluh tiga tahunan.

— Memang benar kata-kata teman-teman Tuan, — kata Saputra. — Gusti Bupati gemar sekali membeli barang-barang permata yang benar indah ataupun permata-permata kuno dari negeri luar. Jika seandainya Tuan Indra memang bermaksud menawarkan pada Gusti Bupati, saya sanggup menjadi perantaranya, karena tidak mudah sebagai saudagar yang belum dikenal untuk memasuki lstana Kabupaten ! Berkata demikian Saputra memandang dengan penuh selidik kepada Indra Sambada, seakan-akan ia kuatir bahwa barang-barang permata dagangan Indra akan tidak memenuhi syarat-syarat untuk ditawarkan pada Bupati Indramayu.

Indra Sambada sangat menyetujui tawaran Saputra itu, dan untuk tidak mengecewakan yang akan menjadi perantaranya, Indra Sambada segera menunjukkan sebuah cincin mas murni bermatakan jamrut sebesar ibu jari dengan berlian-berlian kecil, dan disamping itu Indra Sambada juga menunjukkan pula tangkai keris pusakanya yang berada didalam bajunya.

Saputra mengangguk-anggukkan kepalanya serta bersenyum girang serta puas. Dalam hati iapun kagum akan keindahan barang yang ditunjukkan padanya itu. Mereka berdua telah sepakat untuk besok pagi- pagi ketemu lagi dirumah makan ni, dan berangkat bersama sama menuju ke Kabupaten Malam nanti. Indra Sambada dimintanya bermalam dirumah Saputra, tetapi tawaran tersebut ditolak oleh Indra, dengan alasan bahwa ia masih menunggu kedatangan kawannya yang membawa barang2 berharga lainnya. Saputra mendahului meninggalkan warung makan, sedangkan Indra Sambada dan Sujud masih tetap duduk-duduk dengan tenang sambil menikmati hidangan yang dihadapinya. Sewaktu Indra Sambada dan sujud menikmati hidangan makanan kecil, terdengar suara pelayan membentak bentak pengemis yang duduk meminta belas kasihan diambang pintu.

— Pergi …. pergi .... pergi …… dan jangan menggangu Tuan-tuan yang sedang makan disini. — bentaknya.

Tetapi pengemis tua itu bandel, dan tidak mau mengindahkan bentakan para pelayan. Karena kejengkelan para pelayan, maka pengemis tua diusirnya dengan disiram air kearah kepalanya. Melihat pengemis yang basah kepalanya karena diguyur air itu, Sujud segera akan bangkit, tetapi cepat Indra Sambada menangkap maksud Sujud dan mencegah dengan memegang pergelangan tangan Sujud. Dan kiranya Sujud juga dapat memahami maksud tujuan Indra Sambada. la kembali duduk tenang sambil mengawasi pengemis tua yang pelan-pelan meninggalkan warung makan. Waktu itu hari telah mulai gelap samar-samar Sang surya baru saja menyelinap memasuki permukaan samudra. Tak berselang antara lama, sipengemis meninggalkan rumah makan itu, Indra Sambada dan Sujud, segera bangkit dan meninggalkan pula rumah makan, setelah membayar semua harga makanan yang telah dipesannya dan memberi hadiah uang perakan pada para pelayan-pelayan.

Berdua mereka berjalan melalui jalan-jalan kecil dan lorong-lorong yang berliku-liku, mengikuti pengemis tua yang berjalan didepannya. Ternyata pengemis tua itu bukan lain adalah Wirahadinata adanya. Kini mereka tiba disebuah desa,yang terpencil dibatas kota. Setelah mereka bertiga memperhatikan sekelilingnya dengan cermat, dan tak ada hala hal yang mencurigakan mereka segera memasuki sebuah rumah dinding jang dibuat dari anyaman bambu serta telah kelihatan reyot. Tidak diduganya sama sekali, bahwa Tumenggung Cakrawirya dan lurah Durpada lelah berada didalam rumah itu sejak sore tadi. Kedua priyagung tamtama setelah berjumpa segeta saling merangkul dengan amat akrabnya untuk menyatakan kerinduanaja mmasing-masing yang telah lama dikandungnya. Setelah mereka mmasing-masing menceritakan pengalaman dalam perjalanan, Indra Sambada menjelaskan pula rencana tindakan pada hari esok paginya. Setelah jelas tentang pembagian tugas mmasing-masing, Cakrawirya dan Durpada meninggalkan rumah reyot itu untuk menuju tempat yang telah disewanya, dimana tadi Jaka Wulung dan Jaka Rimang ditinggalkan.

*

* *

Dua orang saudagar muda turun dari kudanya mmasing-masing, dan memasuki pintu gerbang Kabupaten Indramayu dengan disambut oleh dua punggawa praja yang sedang bertugas sebagai pengawal, untuk kemudian diantar menuju keruang tamu dalam gedung Kabupaten yang luas itu.

Bupati Prajaraimaka dengan didampingi oleh Patih Lingganata serta dua orang punggawa praja rendahan dang duduk berhadap-hadapan diruang tamu diatas permadani yang indah. Setelah berkenalan, Indra Sambada segera menunjukkan barang, perhiasan permata, yang beraneka macam dan jenisnya untuk ditawarkan kepada Bupati Prajaratmaka. Barang-barang perhiasan itu ganti berganti dilihat dengan telitinya oleh Patih Lingganata dan kemudian pindah lagi ketangan Bupati Prajaratmaka yang memeriksanya hanya sepintas lalu saja. Kiranya semua ketentuan dalam membeli barang-barang itu terletak ditangan Patih Lingganata. Hal ini sangat menarik perhatian Indra Sambada namun ia tak mau menunjukkan rasa herannya, Bupati Prajaratmaka usianya telah setengah lanjut, sekitar limapuluhan, dan berperangai halus, namun wajahnya kelihatan pucat sayu mengandung rasa sedih, dan sedikitpun tak nampak kegembiraannya. Sikap ini jauh berbeda dengan Patih Liugganata, bahkan dapat dikatakan sebaliknya? Patih Lingganata melihat perhiasan-perhiasan dagangan itu dengan penuh nafsu, sedangkan Bupati Prajaratmaka melihatnya hanya sepintas lalu dengan tidak menunjukkan minatnya sama sekali. Nada bicaranya tak mengandung semangat sebagaimana layaknya seorang priyagung narapraja yang menjadi kepala daerah. Segala tindakan dan gerakannya se akan-akan hanya ,sekedar untuk memenuhi permintaan Patih Lingganata.

-- Hanya yang tuan ajukan itu sangat mahal! Gustiku Bupati hanya bersedia membeli ini semua dengan harga separo , dari apa yang telah tuan tawarkan tadi, — Patih Lingganata menawar barang- barang perhiasan Indra Sambada. Kata-kata itu membuat Indra Sambada sangat heran. Lingganata mengajukan penawaran yang sangat rendah, tanpa mendapatkan persetujuan Bupari Prajaratmaka, tetapi menyatakan bahwa yang akan membeli adalah Bupati sendiri.

Hal ini menambah rasa curiganya, akan tetapi ketenangan tetap dapat menguasai dirinya. — Harga yang saya tawarkan ini merupakan harga pasti, sedikitpun Gusti Patih tak dapat menguranginya, — jawab Indra Sambada. — Dan jika memang tak ada kecocokan soal harga, saya mohon diri untuk pulang- dengan membawa barang-barang saya kembali —

— Nanti dahulu. Bukankah tuan belum pula membayar bea masuk kota? — Patih Lingganata berseru dengan senyum mengejek dan melanjutkan bicaranya. — Ataukah tuan bermaksud meninggalkan seperempat bagian dari barang-barang milik tuan ini sebagai pelunasan bea masuk? —

Bupati Prajaratmaka kini kelihatan lebih pucat lagi. setelah Patih Lingganata mengakhiri kata-katanya.

Perobahan wajah itupun tak lepas dari pengamatan Indra Sambada, Kini Indra Sambada telah dapat menarik kasimpulan yang pasti bahwa Bupati Prajaratmaka adalah seorang yang lemah sekali dan menjadi boneka, alat para perampok yang mengejar kekayaan.

— Sebagai seorang pedagang saya telah merantau sampai , dikota Raja, tetapi belum pernah menjumpai peraturan yang mengharuskan meninggalkan seperempat bagian dari miliknya sendiri sebagai bea masuk kota, — Indra Sambaka menjawab dengan sinar pandangan tajam menatap wajah patih Lingganata. Dua pandangan tajam berbenturan dengan perbawa mmasing-masing, namun jelas bahwa Patih Lingganata cepat memalingkan kepalanya kearah Bupati Prajaratmaka, karena kalah Perbawa, Bupati Prjaratmaka semakin kelihatan gemetar tangannya dan ia tetap membungkam seribu bahasa, dengan menundukkan kepalanya.

— Ketahuilah tuan saudagar, bahwa ketentuan pembayaran bea masuk kota ini adalah peraturan yang dikeluarkan oleh Gusti Bupati sendiri. Siapakah yang tidak mentaati peraturan ini dapat dianggap sebagai pemberontak, bukankah demikian Gusti Bupati? — Patih Lingganata menjelaskan dengan menunggu persetujuan Prajaratmaka, olehnya hanya dijawab dengan anggukkan kepala saja.

— Pemerasan yang tidak pantas, — Indra Sambada berseru lantang. Mendengar makian Indra Sambada, Lingganata segera bangkit berdiri dan langsung menyerang dengan tinjunya kearah pelipis Indra. Dengan hanya menundukkan kepalanya Indra Sambada telah bebas dari serangan tinju. Untuk kedua kalinya Lingganata menghantam dengan tinjunya, tetapi kembali kepalan tanganya jatuh ketempat kosong. Pada saat serangan yang kedua kalinya itu, Indra Sambada telah bangkit berdiri.

— Keparat ! Berani kau menentang kekuasaanku — Lingganata berseru sambil meloncat dan melancarkan serangan tendangan kearah dada Indra Sambada tetapi tidak mengenai sasarannya. Indra Sambada, meloncat kesamping untuk menghindari tendangan sambil memilih tempat yang agak luas, Saputra turut bangait dan melesat menerjang Indra Sambada dengan golok panjang terhunus. Sejak tadi Indra Sambada, telah menduga bahwa Saputra adalah adik Lingganata, mengingat persamaan perangai mukanya. Dan ini memang merupakan kenyataan yang tak dapat dielakkan. Akan tetapi Indra Sambada adalah Manggala Muda Tamtama Pengawal Raja, yang memiliki kesaktian yang hampir mendekati titik kesempurnaan. Serangan tendangan dan tusukkan golok panjang dibiarkan hingga hampir mengenai tubuhnya. 

Tetapi sebelum menyentuh bajunya, pergelangan tangan Saputra yang sedang menjulur itu tiba-tiba ditangkapnya dengan cengkeraman remasan yang dasyat. Saputra menjerit kesakitan, beramaan dengan jeritan itu golok panjangnya telah jatuh gemerincing di lantai. Dengan satu dorongan telapak tangan kiri Saputra jatuh terguling dilantai. Dalam saat yang sama, Lingganata telah menyerang pula dengan sabetan klewangnya kearah pinggang.

Dengan tangkas Indra Sambada meloncat tinggi menghindari datangnya klewang yang berkelebat kearah pinggangnya, dengan berpusingan diatas untuk kemudian jatuh berdiri tepat dibelakang Lingganata. Pada saat itu pula telapak tangan Indra Sambada memukul jalinan syaraf penggerak tangan dipundak Lingganata, dengan berseru nyaring — Lepaskan klewangmu, Lingganata jatuh tertelungkup dan bergulingan menghindari rangkaian serangan lawan, dengan tangan kanan yang tak dapat digerakkan, sedangkan klewangrija terpental lepas dari genggaman dan jatuh dilantai lima langkah jauhnya. Bahwa dalam satu gerakan, klewangnia telah terlepas dari genggamannya, Lingganata tidak menduga sama sekali. Mukanya pucat pasi dan peluh dingin berbintik bintik keluar dari dahinya. Belum pernah ia kehilangan senjata dalam bertanding hanya satu gebrakan saja. Sebagai perampok ulung, nama Durgawangsa pernah menggetarkan daerah Sumedang sampai Indramayu. Tctapi dalam menghadapi Indra Sambada, kini ia sama sekali tidak berdaya. Ia masih harus berterima kasih, bahwa Indra Sambada tidak meneruskan dengan serangan pukulan mautnya. Namun perasaan benci dan kemarahan kiranya lebih menguasai dirinya,

Cepat Durgawangsa bangkit dan meloncat selangkah kesamping dengan berteriak nyaring. — Kurung rapat ! Dan tangkap bangsat pemberontak ini ! Berkata demikian ia melolos cambuk dari pinggangnya sambil menerjang maju. Tujuh orang berpakaian punggawa praja meloncat datang dari ruang samping dan mengurung Indra Sambada dengan bersenjatakan klewang dan tombak. Kini Indra Sambada menghadapi delapan orang bersenjata lengkap menyerang secara serentak kearahnya. Seruan melengking yang memekakkan telinga terdengar dengan disertai gerak loncatan menghindari serangan yang datang bertubi-tubi. Ia meloncat kesamping kanan dan kiri dengan membagi-bagikan pukulan pada penyerangnya dengan telapak tangan dan tendangan kakinya. Tiap kali tangan dan kakinya berkelebat, scorang penyerang jatuh dengan jeritan yang mengerikan, Tetapi belum pula ada lima orang yang jatuh tersungkur tak berdaya, telah datang lagi penyerang baru sepuluh orang, dan kesemuanya bersenjata tajam.

Melihat datangnya penyerang yang bergelombang bertambah lagi. Indra Sambada menjadi sibuk sekali. Gerakannya bertambah bersemangat laksana banteng mengamuk yang pantang menyerah. Pada saat yang bersamaan didepan balai pengawalan, terdengar pula suara gaduh, bertempurnya seorang pengemis tua melawan para pengawal. Pengemis tua yang tidak lain adalah Wirahadinata dengan bersenjatakan tongkat bertanding lawan enam orang pengawal yang bersenjatakan klewang. Akan tetapi keenam orang pengawal tersebut ternyata bukanlah tandingannya. Dalam waktu yang singkat saja tiga pengawal diantaranya telah jatuh dengan kepala mengeluarkan darah karena pukulan tongkat pengemis sakti. Sedang tiga orang pengawal lainnya terdesak tak dapat membalas menyerang, mereka hanya berlompatan kesamping dan kebelakang untuk menghindari gerakan tongkat pengemis tua yang sangat dahsyat, dan memusingkan kepala mereka.

Tongkat dahan kering ditangan Wirahadinata, sama bahayanya. dengan berkelebatnya tombak yang tajam. Sebentar-sebentar tongkat berputar membuat peningnya kepala. dan sebentar-sebentar berobah menjadi gerakan sodokkan ataupun sebentar dengan gerakan-gerakan loncatan mengejar lawan yang sukar dihindari.

Seorang pengeroyoknya jatuh terlentang terkena sodokan tongkat tepat pada ulu hatinya. Dengan jeritan ngeri tertahan pengawal tadi jatuh terkulai dan tak dapat bergerak lagi. Dengan tidak menghiraukan dua orang pengawal yang mengeroyoknya yang sedang dihadapinya, Wirahadinata menerjang langsung masuk dalam gelanggang pertempuran diruang pendapa yang berlangsung dengan sengitnya. Tetapi belum juga Wirahadinata dapat masuk di-tengah-tengah kalangan, terdengar suara yang sangat berpengaruh dari lndra Sambada memberikan perintah padanya: — Kyai Tunggul! Amankan Bupati Prajaratmaka. Dan biarlah saya sendiri yang akan menghadapi gerombolan perampok ini ! ! ! ! ! .

— Secepat kilat Wirahadinata melesat menuju tempat dimana Bupati Prajaratmaka sedang duduk gemetar dengan kedua belah tangannya menutupi mukanya.

Dengan tangkasnya Wirahadinata menyambar badan Prajaratmaka dengan tangan kiri dan membawanya pergi kesebuah kamar dibelakang. Dua orang mengejar dan menyerang Wirahadinata dari arah belakang, sebelum ia dapat memasuki kamar.

Dengan tangan kanan memegang tongkat Wirahadinata terpaksa membalikan badannya untuk melayani dua orang penyerangnya yang bersenjatakan klewang. Tiba - tiba empat orang berpakaian tamtama Kerajaan berkelebat mendatang, dengan suatu loncatan yang mengagumkan dari tembok belakang yang menjulang tinggi itu. Mereka adalah Tumenggung Cakrawirya, Lurah Durpada Lurah Jaka Wulung dan Jaka Rimang. Dengan tidak memberi kesempatan pada kedua penyerang Wirahadinata, Jaka Wulung mengajunkan tongkatnya yang tepat mengenai tengkuk para penyerang, dan tak ajal mereka jatuh tersungkur dan tak dapat bergerak lagi. Tumenggung Cakrawirya dan Durpada langsung menyerbu dengan bersenjatakan pedang tamtamanya membantu Indra Sambada yang sedang bertempur menghadapi sembilan orang.

Tanpa bantuan Cakrawirya dan Durpada sesungguhnya Indra Sambada dapat menghadapi lawan- lawannya dengan tidak terdesak, tetapi karena ia bertangan kosong, maka agak sukar untuk dalam waktu yang singkat dapat menjatuhkan sembilan lawannya.

Cakrawirya dan Durpada dengan pedang tamtamanya, tak mau membuang-buang waktu lagi. Dalam segebrakan dua orang penyerang telah berteriak ngeri, dan jatuh bergelimpangan karena tangannya mmasing-masing terbabat kutung. Melihat gelagat yang tidak menguntungkan ini, para penyerang menjadi kacau balau, dan berebut untuk melarikan diri, tetapi maksud ini selalu dapat digagalkan karena berkelebatnya pedang ataupun tendangan yang tak dapat di-duga-duga menghadang dihadapannya.

Sementara itu Jaka Wulung dan Jaka Rimang telah pula menerjang dan menutup jalan keluar. Hanya Lingganatalah yang masih tetap mengamuk dengan cambuknya yang panjang, sungguhpun, gerakan cambuknya tak pernah mengenai sasarannya. Lima orang penyerang kini telah bergelimpangan mandi darah, namun Lingganata masih terus mengamuk tidak mau menyerah. Melihat demikian ini Tumenggung Cakrawirya semakin meluap marahnya. Dari samping kanan pedang tamtamanya berkelebat tak mengenal ampun lagi, membabat leher Lingganata hingga putus seketika.

Darah menyembur dan kepalanya jatuh menggelinding dilantai. Indra Sambada yang bergerak untuk mencegahnya ternyata telah terlambat. Tiga orang lainnya cepat-cepat membuang senjatanya mmasing- masing dan mengangkat tangan dua-duanya keatas, tanda menyerah. 

— Terima kasih kangmas Cakrawirya, — Indra Sambada mulai bicara — Sayang bahwa Durgawangsa telah mati—, katanya melanjutkan.

— Maafkan dimas Indra. Saya telah kehilangan kesabaran melihat sikapnya yang kepala batu itu Cakrawirya menjawab.

Sementara dua orang priyagung itu bercakap-cakap. Jaka Wulung dan Jaka Rimang membelenggu tiga orang yang menyerah. Sedangkan Lurah Durpada membelenggu orang-orang yang masih pingsan tapi tak terluka berat.

Kini lndra Sambada, Cakrawirya clan Kiai Tunggul berkumpul memeriksa Bupati Prajaratmaka yang sedang duduk dengan muka pucat pasi dengan kepala tertunduk. Dari tanya jawab mereka mendapat penjelasan bahwa, Prajaratmaka sebagai Bupati, sebenarnya telah dikuasai oleh para perampok dibawah Durgawangsa dan kawan-kawannya selama lima tahun. Demi untuk mencari keselamatan keluarganya. Prajaratmaka menyerah dalam cengkeraman para perampok tadi. Hal ini memang beralasan, karena dua putranya yang kecil diculik dan hingga sekarang ini tak tahu bagaimana nasibnya. Setiap waktu Bupati Prajaratmaka menentang tindakan para perampok, selalu diancamnya dengan akan dibunuhnya kedua anaknya.

Maka menghadapi keadaan yang demikian ia tak dapat berdaya, dan hanya menyerah dalam cengkeraman para penjahat. Dengan paksaan dan ancaman bupati Prajaratmaka terpaksa mengangkat para rampok menjadi punggawa praja. Sedangkan Patih Kabupaten Lingganata yang aslipun tidak diketahui pula nasibnya. Mungkin juga ia telah dibunuh oleh para perampok keji yang diketahui oleh Durgawangsa sendiri.

Dengan hilangnya Patih Lingganata, Durgawangsa memaksakan dirinya untuk diangkat menjadi pengganti patih Lingganata dan untuk tidak mengeruhkan suasana, maka nama Lingganata dilintirnya oleh Durgawangsa yang kini telah menjadi mayat.

Peraturan yang bersifat menindas rakyat, dikeluarkan atas desakan Durgawangsa. Para petani diharuskan menyerahkan hasil panenannya sepertiga bagiannya, sedangkan sisanya yang akan dijualnya dipasar masih pula dikenakan bea sebanyak seperempat bagian. Hasil dari pemerasan itu, Prajaratmaka sedikitpun tidak turut mengenyamnya, dan mengalir seluruhnya kegudang-gudang Kepatihan untuk kemudian dibagi-bagi dengan kawan-kawannya. Ini semua tidak diketahui oleh rakyat, mereka hanya mengetahui bahwa Bupati Prajaratmaka yang diangkat oleh Kerajaan Majapahit adalah kejam sekali, dan dikenal sebagai pemeras keringat rakyat yang tidak mengenal belas kasihan.

Dengan menangis tersedu srdu Bupati Praharatmaka minta belas kasihan untuk diampuni kesalahannya yang hanya dkarenakan sifat-sifat kelemahan pada dirinya. Pun ia mohon dengan sangat, agar sudi mencarikan kembali anak-anaknya yang diculik dan telah lima tahun berpisah dengan dirinya.

Dengan tidak diduganya menurut keerangan dari Saputra yang kini menjadi tawanan, dapat diketahui bahwa kedua anaknya Prajaratmaka sebenarnya telah dibunuh oleh Daragawangsa kakaknya, pada ampat tahun yang telah lalu.

Mendengar keterangan itu, Bupati Prajaratmaka seketika jatuh pingsan dan tak sadarkan diri untuk beberapa saat lamanya. Cakrawirya dan Indra Sambada meng-geleng-gelengkan kepalanya, tidak akan mengira bahwa ada manusia yang sedemikian kejamnya, Wirahadinata segera turut merasa duka akan nasib Prajaratmaka yang tertimpa penuh dengan kemalangan itu. Ia sangat menyesal akan anggapannya sebelumnya, bahwa ia sampai mengira Prajaratmaka adalah Bupati penggantinya yang kejam dan menyalah gunakan kekuasaannya untuk menindas rakyat daerahnya. Sambil mengaso dan merundingkan langkah-langkah selanjutnya, mereka mengaso di gedung Kabupaten Indramayu. Pada hairi itu juga seekor burung merpati yang bawa oleh Sujud, dengan dikalungi sepucuk surat kecil dilepas oleh lndra Sambada, sebagai laporan yang tertuju pada ke-hadapan Gusti Senapati Muda Adityawardana.

Lima hari kemudian Tumenggung Sunata datang dengan dua ratus pasukan tamtama berkuda, sementara tigaratus tamtama lainnya ditinggalkan di Banyumas sebagai pasukan cadangan.

Kota Indramayu kini bertambah ramai dengan datangnya para tamtama Kerajaan itu. Di-mana- mana rakyat ber-kelompok-kelompok mempercakapkan penambahan tamtama pemerintahan daerah dengan bermacam macam tafsiran.

Para Kuwu, Demang ataupun Lurah dipanggilnya semua, untuk menerima penjelasan dari Indra Sambada, dengan pesan bahwa mereka harus tetap pada tugasnya mmasing-masing, akan tetapi tidak diperbolehkan memeras rakyat lagi. Peraturan-peraturan yang memberatkan beban kehidupan rakyat digantinya dengan peraturan yang lazim diperlakukan, dan untuk sementara menunggu ketentuan lain, bekas Bupati Wirahadinata dengan di dampingi oleh Jaka Wulung ditugaskan sebagai pejabat Kepala Daerah Kabupaten lndramayu.

Tigapuluh orang tamtama berkuda dikepalai oleh Lurah tamtama Jaka Rimang berangkat menuju ke Banyumas untuk menyerahkan tawanan, dan kemudian secara berangkaipun tawanan itu supaya dibawa ke Kota Raja untuk diadili. Bupati Prajaratmaka diperintahkan pula untuk mengikuti rombongan tamtama itu untuk menghadap langsung kehadapan Gusti Pangeran Pekik Manggala Nara Praja guna memberikan laporan yang se-jelas-jelasnya.

Dua pekan lamanya Indra Sambada dan Cakrawirya berserta semua tamtama beristirahat di Kabupaten Indramayu, sambil mengatur tamtama baru demi kesejahteraan rakyat daerah itu. Sementara itu Jaka Rimang telah kembali lagi dengan pasukan pengiringnya.

Atas saran Tumenggung Cakrawirya yang mendapat persetujuan pala dari Tumenggung Sunata dan Bupati Wirahadinata, Indra Sambada bermaksud mengadakan perundingan dengan para bekas Perwira Pajajaran di Linggarjati sebuah desa yang terletak dilereng kaki Gunung Cerme. Sebagai utusan untuk menyampaikan undangan itu ditunjuk Bupati Wirahadinata dengan didampingi Lurah tamtama Durpada dan Lurah tamtama Jaka Rimang. Mereka bertiga segera berangkat berkuda menuju ke Sumedang untuk menaiki Gunung Nyalindung tempat para bekas perwira Pajajaran bersarang. Jalannya menanjak melalui tebing-tebing yang terjal dan berliku-liku. Sementara itu Jaka Wulung diserahi memegang tapuk pemerintahan dengan kekuatan seratus tamtama pilihan.

Tumenggung Bupati Anom Tamtama Sunata dengan seratus orang tamtama lainnya mengantarkan Indra Sambada dan Sujud serta Tumenggung Cakrawirya menuju ke Linggarjati. Mereka mengambil jalan mclalui pantai utara menuju ke timur, untuk kemudian setelah tiba di Cerebon membelok kanan lurus kearah selatan. Dengan meninggalkan sepuluh orang pasukan tamtamanya. Tumenggung Sunata setelah tiba di Linggarjati meneruskan perjalanannya kembali ke Banyumas.

Linggarjati adalah merupakan dataran dilereng Gunung Cerme sebelah timur. Pemandangan alam dari Linggarjati itu sangat indahnya. Memandang kesebelah utara tampak lembah luas membentang yang sangat subur dengan sawah-sawahnya yang sedang menguning, dan lapat-lapat kelihatan pantai laut utara kesebelah timur tampaklah kali Cisenggarung yang berliku liku dan bermuara dipantai utara laut Jawa tanjung Losari, sedangkan kearah barat kelihatan tebing-tebing terjal menghijau ialah lereng- lereng Gunung Cerme yang menjulang tinggi dan disebelah selatan merupakan tanah pegunungan yang sambung menyambung membujur ke barat.

Hawanyapun sangat sejuk. Sebagai seorang perwira tamtama nara sandi, Tumenggung Cakrawirya selalu bertindak sangat hati-hati dengan penuh rasa curiga. la menyarankan agar Indra Sambacla mengundang para bekas tamtama Pajajaran di Linggarjati, dengan dua pokok pertimbangan.

Pertama adalah mendekati Banyumas, tempat dimana pasukan Sunata yang selalu dalam keadaan siap siaga. Dan kedua mengkhawatirkan Indra Sambada terjebak ditangan para bekas Perwira tamtama Pejajaran yang masih mempunyai dendam kesumat, apabila Indra Sambada langsung mendatangi di Gunung Nyalindung. Sedangkan jika terjadi demikian, maka sulit baginya untuk metnberikan bantuan dalam waktu singkat.

Setelah menantikan di Linggarjati dengan sabar, sebulan lamanya tiba-tiba dari arah kejauhan nampak duapuluh ampat orang berkuda mendatangi. Debu mengepul tinggi dan suara ringkikan kuda terdengar ber-saut-sautan. Mereka memacu kuda-nya dan berebut saling susul menyusul untuk mendahului sampai ditempat yang dituju.

Indra Sambada dan Tumenggung Cakrawirya berdiri ditempat yang agak tinggi mengawasi rombongan orang-orang berkuda yang kian mendekat itu. Tetapi alangkah terkejutnya, setelah melihat dengan saksama bahwa yang datang dalam rombongan itu tidak terdapat para utusannya.

Namun jelas, bahwa mereka adalah orang-orang bekas para perwira tamtama Pajajaran, dengan melihat dari pakaiannya yang dikenakan. Indra Sambada dan Cakrawirya diam sesaat saling berpandangan dengan mengerutkan keningnya masing-masing. — Melihat para pendatang berkuda itu hatiku merasa was-was, dimas Indra.— Cakrawirya berkata membuka isi hatinya.

— Sayapun demikian halnya, kangmas Cakrawirya,— jawab Indra Sambada dengan masih mengerutkan keningnya. — Sebaiknya kita bersikap tenang dan hati-hati kangmas.—

— Hendaknya para tamtama pengawal cepat bersembunyi disekitar tempat tni, sedangkan kita berdua menyambut kedatangannya, — Cakrawirya memberikan saran dengan rasa penuh kecemasan.

Jud.— Indra Sambada memanggil Sujud. dan segera Sujud lari mendatangi. — Lekas kau panggil salah seorang tamtama untuk menghadapku.—

Sesaat kemudian Sujud telah kembali dengan bersama salah seorang tamtama.

— Lekas perintahkan kawan-kawanmu semua untuk bersembunyi disekitar tempat ini, jangan jauh- jauh, siapkan senjata masing-masing dan menunggu perintahku, nanti jika mendengar seruan dariku atau dari Gustimu Tumenggung Cakrawirya jangan ragu ragu lagi seranglah para pendatang itu. — Indra Sambada memberikan perintah dengan tegas serta sambil menunjuk kearah orang-orang berkuda yang kian mendekat itu. — Sujud supaya disembunyikan pula.— perintahnya kemudian.

Tamtama dan Sujud cepat meninggalkan tempat itu, untuk kemudian ber-sama-sama sembilan tamtama lainnya bersembunyi di-semak-semak sekitar rumah pesanggrahan darurat. Kini orang-orang berkuda telah tiba didepan pasanggrahan.

Duapuluh orang pendatang itu segera berpencaran mengepung rumah pesanggrahan, sedangkan empat orang diantaranya turun dari kudanya, dan langsung memasuki pesanggrahan, yang segera disambutnya oleh Indra Sambada dau Cakrawirya, dengan sikap sopan dan tenang.

Tetapi dibalik ketenangan, kedua perwira itu tidak meninggalkan kewaspadaannya. Keempat orang itu memakai pakaian seragam hitam dari sutra dengan gambar lukisan kepala harimau didadanya masing- masing tersulam dari benang emas.

Tidak salah lagi bahwa orang yang tinggi besar berjalan didepan sendiri adalah Kertanatakusumah atau terkenal dengan sebutan Kerta Gembong. Menyusul kemudian dibelakangnya seorang bertubuh tinggi besar pula dengan berkumis dan berjenggot lebat, bernama Jaksa-kusuma. Kemudian seorang tua kurus tinggi dengan mukanya yang penuh coretan bekas luka, ialah Elangkusuma dan orang yang keempat bertubuh pendek kecil, dengan raut mukanya yang bersih dan sinar pandangannya yang tajam. Ia bernama Gandakusuma. Ke-empat-empatnya ber-senjatakan pedang yang tergantung dipinggang kiri dan sebuah golok pendek diselipkan dipinggang kanan agak menonjol kedepan. Melihat cara turun dari pelana kudanya, sudah dapat diketahui bahwa keempat orang itu memiliki ketangkasan yang tak dapat dipandang ringan. Tiga diantara duapuluh orang yang mengurung rumah pesanggrahan darurat itu berdiri didepan pmtu dengan memakai jubah sutra berwarna abu-abu. Melihat bentuk tubuhnya dan warna mukanya, mereka adalah tiga bersaudara, dan terkenal dengan nama gelarnya sebagai parangjingga dari Gunung Guntur. Hal ini dikarenakan adanya tanda lukisan sebuah golok merah yang tersulam didada diubahnya, dan memang mereka adalah orang-orang sakti dari Gunurig Guntur yang waktu itu diminta bantuannya oleh Kartanatakusumah untuk membalas dendam membinasakan para perwira tamtama yang berada di Linggarjati. Ketiga para berjubah abu-abu itu masing-masing bersenjata, yang tertua memegang tongkat besi, sepanjang setengah depa dengan sebuah golok panjang, yang kedua bersenjatakan dua batang golok pendek, sedangkan yang termuda bersenjatakan kampak dan golok pendek yang terselip dipinggangnya kanan kiri.

— Wahai Tumenggung Indra Pendekar Majapahit. — Kertanatakusumah mulai bicara dengan lantangnya: — Bukankah kita dahulu pernah bertemu dipinggir kali Bengawan?. — Suaranya terdengar jelas menggetar, disertai daya kekuatan bathin yang cukup menegakkan bulu roma. Cepat Indra Sambada memusatkan tenaga bathinnya dengan menjawab tenang dan sambil bersenyum.

— Daya ingatan Tumenggung Kertanatakusumah memang kuat sekali. Benar dugaanmu. saya adalah indra Sambada yang pernah bertemu denganmu didesa Trinil dahulu, — berkata demikian Indra Sambada sengaja menyalurkan daya tenaganya yang telah terpusat itu melalui suaranya, dan terkejutlah keempat orang yang berada dihadapannya, karena bajunya bergetar seperti tertiup angin kencang.-

— Tidak terduga, bahwa gelar Pendekar Majapahit bukan merupakan gelar yang kosong belaka.— sahut Kertanatakusumah kembali dengan wajah merah padam menahan kemarahan, tetapi cepat ia dapat menguasai kembali ketenangannya serta melanjutkan bicaranya : — Ketahuilah, demi untuk ber- dirinya kembali Kerajaan Pajajaran, Tuan2 supaja menyerah sebagai tawanan kami.—

— Bedebah pemberontak!!. Kamu semua yang harus menyerah menjadi tawanan kami !! — Cakrawirya dengan tak sabar membentak lantang, sambil menyerang dengan pedang tamtamanya kearah leher Kertanatakusumah.

Keempat bekas perwira Pajajaran, serentak menyambut serangan dan sebentar kemudian telah terjadi pertempuran yang sengit. Ternyata keempat lawannya memiliki pula ketangkasan yang tangguh. Tiga orang berjubah abu-abu masih tetap berdiri dengan tenang dan mengawasi jalannya pertempuran dengan acuh tak acuh. Seolah-olah mereka yakin, bahwa keempat orang kawannya segera dapat merobohkan Indra Sambada dan Cakrawirja. Tetapi dugaan itu semakin lama semakin jauh dari kenyataan. Kini pertandingan merupakan dua kalangan, Indra Sambada menghadapi Kertanatakusumah dan Elangkukuma, sedangkan Tumenggung Cakrawirya menghadapi Jaksa-kusuma dengan Gandakusuma.

Pedang ditangan lndra Sambada bergerak cepat seperti menarinya kup-kupu dan menyilaukan pandangan mata yang melihatnya. Beradunya senjata sebentar. sebentar mengeluarkan percikan api yang berpijar dengan diiringi suara gemerincingan nyaring.

Cakrawirapun menunjukkan ketangkasannya yang menakjubkan. Pedangnya dapat berputaran cepat laksana perisai baja, untuk membatalkan semua serangan senjata yang datang kearahnya. Dan kemudian dengan tidak ter-duga-duga berobah menjadi gerakan serangan tusukan dan babatan yang sangat berbahaya.

Tetapi Gandakusuma yang pendek kecil itu memiliki ketangkasan yang tak kalah mengagumkan.

Gerakkannya sangat lincah, dan serangannya disertai tenaga yang dahsyat. Se-akan-akan merupakan burung bersayap yang menyambar-nyambar mangsanya.

Sungguhpun Indra Sambada dan Tumenggung Cakrawirya mmasing-masing melawan dua orang yang tangguh, namun kelihatan masih tetap seimbang.

Kertanatakusumah yang telah mengenal kesaktian Indra Sambada, kini bertindak sangat berhati-hati sekali, Ia tidak berani menyerang dengan tendangan, dan selalu menghindari beradunya gempuran tenaga.

Tangan kanannya memegang pedang sedangkan yang tangan kiri memegang golok pendek. Sebentar sebentar berloncatan dengan seruan nyaring yang diiringi dengan gerakan serangan memakai kedua senjatanya.

Tetapi tiba-tiba Indra Sambada mengikuti berloncatan dengan serangan pedangnya yang lebih cepat dan memusingkan kepala lawan.

Dengan tidak diketahui bagaimana caranya tiba-tiba Elang-kusuma menjerit ngeri dan melompat surut kebelakang dengan sebuah lengannya terbabat kutung. Ia melesat lari meninggalkan gelanggang dan jatuh terkulai dihalaman pesanggrahan dengan mandi darah.

Melihat robohnya Elangkusuma, seorang termuda yang berjubah abu-abu segera menerjang Indra Sambada dengan ajunan kampaknya, membantu Kertanatakusumah yang telah terdesak kesudut. Dengan mengerahkan tenaga dalamnya senjata kampak dipapaknya dengan pedang Indra Sambad,

sambil berseru nyaring — Lepas senjatamu ……

Tak ayal lagi kampak terpental jatuh ditanah empat langkah jauhnya. Ternyata sewaktu pedang berkelebat memapaki datangnya kampak Indra Sambada sempat pula melancarkan tendangan yang tepat mengenai pergelangan tangan lawan yang memegang kampak.

Dua orang kakaknya yang berjubah abu-abu melihat kagum, bahwa kampak adiknya dalam satu gebrakan dapat lepas dari genggaman dan terpental jatuh. Kedua-duanya segera ikut menyerbu Indra Sambada dengan masing-masing senjatanya. Bersamaan dengan itu terdengar suara Cakrawirya memerintah para tamtama — Serbu lawan semua ! 1 ! !. Sepuluh orang tamtama yang bersembunyi berloncatan menerjang orang-orang yang mengurung pesanggrahan.

Kini pertempuran menjadi berkobar sengit seketika. Sungguhpun mereka tahu bahwa lawannya memang dalam jumlah yang besar, akan tetapi para tamtama Kerajaan dengan gigihnya menerjang lawan dengan bersembojan pantang menyerah.

Jika para tamtama rata-rata satu orang menghadapi dua orang lawan, demikian pula Tumenggung Cakrawirya, maka Indra Sambada kini menghadapi empat orang lawan yang sangat tangguh-tangguh.

Kertanatakusumah yang tadi telah terdesak kesudut, kini dapat bergerak leluasa karena bantuan dari tiga orang saudara parangjingga. Ternyata gerakan serangan keempat orang itu kini merupakan serangan dengan silih berganti serta saling membantu dalam satu ikatan rasa.

Menghadapi serangan yang rapih itu, Indra Sambada merasa terdesak dan tak ada kesempatan untuk membalas menyerang.

Dalam hatinya ia kagum akan gerakan lawannya yang ternyata merupakan gerakan persamaan seirama.

Demi melihat Tumenggung Cakrawirya dapat mendesak dua orang lawannya yang tangguh itu, Indra Sambada semangat tempurnya menjadi bertambah. Dalam saat yang sangat terdesak itu, Indra Sambada dengan ketenangannya masih sempat pula menghindari serangan-serangan sambil melancarkan serangan balasan sekedar untuk mengacau kedudukan lawan.

Diluar pesanggrahan pertempuran tak kalah sengitnya. Suara jeritan mengerikan susul menyusul terdengar dengan diiringi suara jatuhnya para korban yang bergelimpangan. Seorang tamtama Kerajaan dengan tangkasnya melesat naik kuda dengan membawa Sujud serta memacu kudanya kearah Timur dengan tujuan kembali ke Banyumas untuk melapor kepada Tumenggung Sunata.

Sambil memacu kudanya tamtama itu memutar pedangnya dibelakang punggungnya sebagai perisai untuk menangkis serangan lima batang anak panah yang melesat mendatang. Untunglah bahwa satu batang anak panahpun tidak melukainya, akan tetapi tetapi karena terkejutnya seekor burung merpati terlepas dari genggaman Sujud dan terbang tinggi menghilang kearah timur.

Dengan menangis tersedu-sedu, Sujud menyesali akan kecerobohan tindakannya itu. Ia selalu ingat akan pesan Indra Sambada. bahwa burung merpati itu jangan dilepaskan jika tanpa ijinnya. Tidak henti- hentinya si tamtama berkata menghiburnya, bahwa perbualan yang telah terlanjur tidak perlu disesali lagi. Dan atas kesalahannya itu iapun akan turut bertanggung jawab.

Waktu itu pertempuran masih berlangsung terus dengan serunya. Tiba-tiba empat orang Pajajaran dapat menerobos masuk dalam pesanggrahan dan langsung menyerang Tumenggung Cakrawirya yang sedang mendesak kedua lawannya. Serangan gencar yang akan mematikan lawannya itu, segera ditariknya kembali, untuk menangkis dan menghindari datangnya serangan empat orang yang tiba-tiba. Tumenggung Cakrawirya menjadi sibuk dan berloncatan kian kemari, untuk menghindari serangan yang dahsyat dari enam orang lawan sekaligus. Semakin lama Tumenggung Cakrawirya semakin terdesak, dan bahkan dalam keadaan yang sangat berbahaya.

Dua senjata pedang menyerang merangsang kearah lehernya, dan tiga golok pendek menyambar kearah pahanya masih pula disusul berkelebatnya pedang yang langsung menerjang dari atas kearah kepalanya.

Melihat Tumenggung Cakrawirja dalam keadaan yang sangat berbahaya itu, Indra Sambada mengerahkan seluruh tenaganya. Dengan berseru nyaring yang memekakkan telinga, ia meloncat tinggi menghindari serangan yang datang ber-tubi-tubi kearahnya, menerjang para penyerang Tumenggung Cakrawirya dengan sabetan pedang berangkai.

Serangan maut yang tiba-tiba itu tak diduga sama sekali oleh para penyerang Tumenggung Cakrawirya. Sebuah pedang dan dua buah batang golok lawan terpental dan jatuh gemerincingan di tanah, disusul dengan suara jeritan ngeri dari Jaksakusuma yang jatuh terkapar ditanah dengan pundaknya bermandikan darah, terkena sabetan pedang Indra Sambada.

Akan tetapi sebelum Indra Sambada berpijak ditanah kembali sebatang golok pendek beracun berkelebat dan menancap dipunggung lndra Sambada. Itulah lemparan dahsyat dari seorang tertua parangjingga Gunung Guntur yang terkenal memiliki kesaktian tangguh.

Tetapi dengan pengerahan tenaga yang telah terpusat itu, Indra Sambada dengan golok tertancap di pundak kirinya, masih dapat melancarkan serangan rangkaiannya dengan satu tusukan pedang yang tepat mengenai dada Gandakusuma, yang kemudian jatuh terkulai ditanah dan tidak dapat berkutik lagi.

Tetapi bersamaan dengan robohnya Gandakusuma, sebuah tongkat besi berkelebat kearah pinggangnya dengan mengeluarkan angin pukulan yang dahsyat. Indra Sambada berseru melesat tinggi surut kebelakang menghindari sabetan tongkat besi yang hampir menyentuh pinggangnya itu, sambil merogoh sebutir pel pemunah racun yang berada dalam kantongnya untuk kemudian ditelannya.

Hal ini dilakukan, karena pundaknya terasa pedih dan tangan kirinya mulai tak dapat digerakkan.

Akan tetapi perbuatan itu justru menghambat gerakannya dalam menghindari serangan yang bertubi- tubi itu. Kembali Kertanatakusumah merangsang dengan sabetan goloknya yang tepat mengenai paha kanan Indra Sambada dan susulan sabetan tongkat besi dari parangjingga tertua bersarang dibetisnya.

Dengan suara tertahan, Indra Sambada roboh terguling ditanah.

Waktu itu hari telah mulai gelap remang-remang dan senja baru saja berlalu. Sesaat kemudian menyusul robohnya Tumenggung Cakrawirya dengan lengan kanan terluka dan pedangnya terpental jatuh sejauh lima langkah. Bersamaan dengan robohnya Indra Sambada dan Tumenggung Cakrawirya, tiba-tiba empat bayangan berkelebat terjun dalam kancah pertempuran.

Dua diantaranya dengan tangkas menyambar tubuh Indra Sambada dan Tumenggung Cakrawirya untuk kemudian menyelinap dikegelapan, sedangkan dua orang lagi dengan bersenjatakan tongkat penjalin mengamuk menerjang para penyerang yang datang bergelombang silih berganti.

Itulah Watangan dan Landejan yang diperintahkan oleh Kjai Wiku Sepuh untuk menyusul perjalanan Indra Sambada. Sedangkan dua bayangan yang menyelamatkan lndra Sambada dan Tumenggung Cakrawirya adalah Waspada Paniling dan Wasangka Pandulu, sesepuh pamong murid dari padepokan lereng Gunung Sumbing. Kini dihalaman lebih dari sepuluh orang bergelimpangan menjadi mayat, belum terhitung yang merintih-rintih karena luka berat.

Sewaktu Watangan dan, Landejan bertempur mati-matian untuk menghadapi lawan yang jauh tak seimbang jumlahnya, kini datang bayangan berloncatan menyerbu membantunya. Ternyata mereka adalah Wirahadinata, Jaka Rimang Lurah Durpada dan para perwira Pajajaran serta tokoh-tokoh rakyat Pajajaran yang datang untuk memenuhi undangan Indra Sambada. Satu bentakan yang nyaring dan berpengaruh menggema memekakkan telinga, memaksa berhentinya pertempuran seketika.

— Berhenti ! ! I ! Dan tahan senjata —

Suara itu demikian dahsyat pengaruhnya, sehingga dengan tidak terasa semua melepaskan senjatanya mmasing-masing, dan bergemerincingan jatuh ditanah. Syaraf-syaraf yang tadinya tegang dirasakan lemah dan mengendur. Semua orang yang tadi bertempur dengan sengit kini tidak berdaya, dan hanya berdiri dengan mulut ternganga memandang kesatu jurusan kearah datangnya suara. Dengan tidak diketahui datangnya, seorang berjubah kuning keemasan telah berdiri diambang pintu dengan seekor harimau kumbang yang besar disampingnya.

— Hai …… Kesatrya-kesatrya Pajadiaran —. nada suaranya berat dan berpengaruh namun kata demi kata terdengar jelas dan suaranya mendatangkan rasa ketenangan.

— Demi tergalangnya persatuan se Nuswantara, aku harap para ksatrya Pajajaran segera mentaati akan perintah-perintah Tumenggung lndra Sambada Pendekar Majapahit yang bijaksana itu. Ketahuilah hahwa kita semua rakiat Pajajaran ataupun rakyat Majapahit adalith satu ketu-runan. Lenyapkan rasa permusuhan, dan bersatulah dibawah naungan satu Iambang kebesaran Sang Gula Klapa. Dalam abad- abad yang akan datang, aku percaya bahwa para ksatrya Pajajaran akan menurunkan pahlawan- pahlawan Nuswantara yang dituliskan dengan tinta emas dalam sejarah ……. Taatilah pesanku ini ……

Datangnya Pendekar Majapahit ini adalah lambang tergalangnya persatuan kembali. Sambutlah dia sebagai pahlawan pengemban amanat penderitaan rakyat. — Ber-kata demikian beliau menunjuk kearah datangnya dua orang yang membimbing Indra Sambada dan Tumenggung Cakrawirya. Semua orang berpaling kearah ,yang ditunjuk olch beliau. Dan pada saat itulah beliau dengan harimau kumbangnya melesat dikegelapan, lenyap dari pandangan tidak berbekas. Seakan - akan beliau dapat menghilang dengan kesaktiannya.

Hanya suara mengaumnya harimau terdengar dari kejauhan:

Inilah pendeta tertua dari Pajajaran yang bergelar Ajengan Cahaya Buana, dan bersemayam disebuah goa di Gunung Tangkubanprahu. Tak seorangpun mengetahui nama aslinya. Harimau kumbang peliharaannya tak pernah berpisah dengannya, dimanapun beliau berada. Orang banyak hanya mendengar nama dan mengenyam jasa-jasanya, namun jarang yang pernah melihat wajahnya. Beliau terkenal sebagai seorang pertapa sakti yang selalu mendatangkan kesejahteraan dan ketenteraman.

Banyak dongengan rakyat tentang Ajengan Cahaya Buana ini dengan tambahan tafsiran yang ber- macam-macam coraknya. Ada yang menceritakan, bahwa beliau adalah pertapa sakti yang dapat menghilang dan ada pula yang menceritakan bahwa Ajengan Cahaya Buana adalah keturunan dewa dan harimau kumbangnya adalah jelmaan dari seorang pertapa pula. Bahkan ada dongengan rakyat yang menceritakan bahwa pertapa sakti itu sebenarnya telah wafat, sedangkan sekarang yang masih ada yalah rohnya saja. Namun semua cerita itu tidak ada yang benar. Kenyataannya adalah bahwa Ajengan Cahaya Buana adalah pertapa shakti dengan piaraannya harimau kumbang yang setia, dan beliau adalah pecinta kedamaian serta pencinta kesejahteraan rakyat tanpa pamrih, dan sebagai seorang pertapa yang menyembah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, mengejar kemulyaan abadi.

Kini mereka semua merasa seperti terhisap tenaganya, dan tanpa diperintah semua membungkukkan badannya menyambut datangnya Indra Sambada.

Dikala itu malam bulan purnama. Langi t cerah dan bulan memancarkan cahayanya menerangi remang-remang seluruh alam dan malampun kemudian menjadi pagi…….

Para bekas perwira tamtama Pajajaran dan Narapraja serta tokoh-tokoh rakyat Pajajaran barsatu padu menunggu suara keputusan Indra Sambada. Mereka semua duduk berjajar dalam pertemuan yang sangat akrab.

Sementara itu orang-orang yang terluka dirawat dan di obati seperlunya, sedangkan jenazah-jenazah yang bergelimpangan telah pula dirawat dan dikubur dengan upacara selajaknya. Mereka gugur sebagai ksatrya semua, dalam mempertahan-kan pendmannyl. Lawan ataupun kawan akan tetap menghargai kepahlawanan mereka…….

— Kini saya telah banyak mengetahui tentang daerah Pajajaran dengan rakyatnya yang sebenarnya,— Indra Sambada mulai membuka pertemuan.

— Ketahuilah, Tuan2, bahwa tidak ada lagi yang saya salahkan, dan tidak ada lagi yang saya sesalkan atas kejadian-kejadian yang telah berselang. Semua itu hanya terdorong oleh nafsu mempertahankan pendirian mmasing-masing yang tak dipertimbangkan lebih jauh. Tapi saya percaya, bahwa Tuan-tuan semua adalah pencinta tanah tumpah darah. Sebagaimana dijelaskan oleh Ajengan Cahaya Buana, kita semua adalah satu keturunan dan merupakan satu bangsa. Tanah air kita bukan hanya merupakan sebidang halaman dan rumah dimana kita mmasing-masing dilahirKan, akan tetapi se Nuswantara, — sampai disini Indra Sambada berhenti sejenak dengan memandang tajam, menyapu wajah hadirin samua. Suaranya tenang, penuh dengan perbawa. Semua menundukkan kepalanya dan mendengarkan dengan khikmad. — Tuan-tuan, saya sebagai Manggala Muda Tamtama Kerajaan, menjunjung titah Gustiku Senapati Manggala Yudha, untuk memadamkan kerusuhan-kerusuhan yang timbul, demi tercapainya persatuan se Nuswantara. Apabila kita semua bersatu padu, maka ketentraman dan kesejahteraan rakyat akan terwujud.

Kita dapat bersatu padu, apabila kita semua membuang jauh-jauh sifat ke akuan, dan sifat kesukuan. Kita semua adalah satu keturunan dalam satu pimipinan Kerajaan ialah Kerajaan Majapahit dibawah naungan satu lambang keagungan, ialah bendera Gula Klapa. Ketahuilah Tuan-tuan, bahwa apabila kita terpecah-belah bercerai-berai, maka bangsa kulit kuning akan mudah mencengkeram kita, untuk kemudian menindas dan memusnahkan kita. Bahaya kulit kuning selalu mengancam, dan menunggu kelengahan kita. Hanya persatuanlah yang merupakan perisai Negara yang terkuat.

Maka marilah Tuan2 ber-sama-sama kami, mencurahkan jiwa raga kita untuk terwujudnya, persatuan se Nuswantara sebagai pengabdi Kerajaan Majapahit yang setia. Amalkan kesaktian Tuan-tuan untuk mempertahankan tanah air yang luas ini dan mempertahankan lambang kebesaran kita Sang Gula Klapa.

Semua hadirin diam tertunduk, dan tidak seorangpun membantah keterangan Indra Sambada sebagai pengemban titah Kerajaan.

Dengan persetujuan para hadlirin semua, Indra Sambada berdasarkan kekuasaan dan wewenang yang ada padanya mengangkat Wirahadinata dan para bekas narapraja serta tokoh-tokoh rakyat Pajajaran yang telah menunjukkan kesetiaannya, serta mengucapkan sumpah setia terhadap kerajaan Agung Majapahit, menjadi punggawa narapraja ditempat asing-masing. Sedangkan para bekas perwira tamtama Pajajaran yang menyatakan setianya, akan dihadapkan kehadapan Gusti Senapati Manggala Yudha Harya Banendra. Dengan demikian, maka bekas Kerajaan Pajajaran menjadi daerah bagian dari pada Kerajaan Agung Majapahit, dan sejarahnyapun selanjutnya akan mengikuti perkembangan Kerajaan Majapahit.

Semua merasa puas akan keputusan yang tegas dan bijaksana yang digariskan oleh Indra Sambada. Dengan membayangkan hidup rukun damai sejahtera di-tengah-tengah keluarga masing-masing yang segera mendatang, menggerakkan rasa gembira, penuh keharuan. Semua segera bersemadi, sembahyang dalam pimpinan Indra Sambada, untuk mengucapkan rasa terima kasih kehadapan Tuhan Yang Maha Kuasa atas kemurahanNya yang dilimpahkan. Dan hari itu dirayakan dengan pesta sederhana.

Dengan akrabnya mereka ber-cakap-cakap, menceritakan pengalaman asing-masing, sambil menikmati hidangan pesta yang dihadapi. Suasana menjadi gembira ria. Ternyata Indra Sambada dan Tumenggung Cakrawirja telah sembuh kembali, karena mujarabnya obat-obat yang diberikan oleh Waspada Partiling dan Pandulu serta pengobataan dari Wirahadinata. Pun racun yang merangsang pada tubuh Indra Sambada telah punah semua, karena mujarabnya pel pamunah racun yang dibekalnya sendiri, hasil pemberian dari Cek Sin Cu yang tinggal sebutir itu, dan kini telah ditelannya sendiri.

Selagi mereka tenggelam dalam bersukaria, dari arah kejauhan kelihatan pasukan tamtama Kerajaan berkuda mendatang.

Semakin lama semakin dekat, dan kini nampak jelas, bahwa yang berada didepan sendiri adalah Tumenggung Sunata dengan Sujud, di apit-apit oleh dua tamtama kerkuda dengan membawa panji-panji kebesaran.

Indra Sambada segera memerintahkan Jaka Rimang dan lima orang tamtama berkuda mcnyambut kedatangan Tumenggung Sunata berserta pasukannya. Indra Sambada dan Tumenggung Cakrawirya berdiri diketinggian dengan melambaikan tangannya.

Daerah yang selalu sunyi sepi, kini berubah menjadi sangat ramai, penuh dengan tamtama berserta para priyagung. Mereka semua segera turut serta berpesta pora. Setelah berjumpa kembali dengan Indra Sambada, serta diketahui bahwa ia dalam keadaan sehat wal'afiat serta gembira. Sujud menari- nari dengan penuh kegembiraan. Ia selalu duduk berdekatan dengan Indra Sambada, seakan-akan tidak mau berpisah lagi.

Tumenggung Sunata turut pula bersuka ria, dan tidak henti-hentinya ia memuji akan keberanian dan kebijaksanaan lndra Samhada dan Tumenggung Cakrawirya. Untuk merayakan hari yang bahagia itu semua akan tinggal di Linggarjati tiga hari lagi, sambil menunggu sembuhnya para tamtama yang terluka. Belum juga tiga hari berialu, pasukan besar dari Kerajaan yang dipimpin sendiri oleh Gusti Senapati Muda Manggala Tamtama Pengawal Raja Adityawardhana datang berkunjung ke Linggarjati. Semua menyambut kedatangannya dengan ter-gopoh-gopoh karena kedatangan beliau berserta pasukan adalah diluar dugaan.

Kiranya setelah burung merpati yang terlepas dari genggaman tangan Sujud itu tiba di Istana Senapaten, tanpa membawa berita sedikitpun, Gusti Adityawardhana me-raba-raba dengan penuh kecemasan akan nasib Indra Sambada ber sama-sama kawan-kawannya. Beliau segera berangkat dengan membawa pasukan besar dengan panji-panji atas perintah Gusti Senapati Harya Banendra untuk menghadapi segala kemungkinan. Amanat Gusti Senapati Manggala Yudha Harya Banendra tegas — Demi tercapainya persatuan dan ketenteraman es Nuswantara, jika di pandang perlu, ujung pedang harus turut berbicara. Berdasarkan amanat itulah, beliau membawa pasukan berkuda berkekuatan 1000 orang tamtama, dengan membawa perbekalan yang Iengkap.

Demi melihat hasil Indra Sambada yang gilang gemilang itu, beliau turut ketawa lebar. Dengan bangga Indra Sambada di sanjung sanjung dan ditepuk tepuk bahunya.

Pesta yang semula hanya dilakukan secara sederhana itu, mendadak sontak berubah menjadi pesta pora yang besar. Tenda-tenda dipasang, perbekalan-perbekalan diturunkan untuk melengkapi pesta pora yang besar itu. Panji berkibar diatas perkemahan tenda-tenda dengan megahnya. Dalam pesta pora itu beliau berdasarkan wewenang penuh, berkenan pula mcngangkat syah para bekas perwira tamtama Pajajaran menjadi perwira tamtama Kerajaan menurut tingkatan asing-masing dengan disesuaikan berdasarkan kecakapan dan pengalaman. Pesta ditutup. Tenda-tenda dilipat.

Para narapraja yang baru diangkat oleh Sambada menyembah kehadapan Gusti Adityawardhana Senapati Muda Manggala Tamtama Pengawal Raja, untuk mohon diri dan mohon doa restunya dalam menunaikan tugasnya asing-masing. Setelah mereka berpamitan dengan para priyagung semua, mereka berangkat bersimpang jalan menuju arah daerahnya asing-masing.

Kecuali Wirahadinata yang bermaksud akan ke Ngawi terlebih dahulu untuk memboyong istrinya ke Indramaju, ia diperkenankan turut serta dalam rombongan pasukan besar sampai dikali Bengawan.

Para tatama telah siap duduk dipclana kudanya masing-masing. Tumenggung Tamtama Sunata memberikan aba-aba. Genderang dipukul bertalu-talu, dan pasukan besar berkuda mulai bergerak meninggalkan Linggarjati menuju kearah timur. Panji-panji kebesaran tamtama Kerajaan Agung Majapahit berkibar-kibar dengan megahnya dibawa oleh empat orang tamtama berkuda yang berjalan didepan sendiri, mengapit-apit Sang Senapati Muda Manggala Tamtama Pengawal Raja Gusti Adityawardhana. Dibelakangnya menyusul tiga penunggang kuda berjajar, ialah Tumenggung Sunata, Tumenggung Indra Sambada dengan Sujud dan Tumenggung Cakrawirya. Kemudian menyusul lagi berjajar berkuda, para perwira tamtama yang baru diangkat. Dan terakhir pasukan besar tamtama berkuda laksana air bah. Semua mengenakan pakaian kebesaran dengan tanda dan warnanya masing menurut tingkatan dan kesatuannya.

Rakyat berduyun duyun datang menyambut dengan sorak sorai disepanjang jalan yang dilalui, dengan rasa bangga akan pasukan besar Kerajaan Agung Majapahit. Mereka melambai-lambaikan tangannya dan mengawasi dengan penuh kekaguman sampai dikejauhan. Sang Senapati berserta para perwira tamiama membalas melambaikan tangan pula kepada rakyat yang berjejal-jejal berdiri di-pinggir-pinggir jalan.

*

* *

Bertepatan dengan datangnya kembali Gusti Adityawardhana beserta Para Priyagung tamtama kerajaan Agung Majapahit dengan pasukan pengiringnya, Gusti Patih Mangkubumi Gajah Mada telah mangkat , sebagai Pahlawan Kusuma Bangsa se Nuswantara, (th. 1364 ). Nama beliau harum semerbak memenuhi angkasa se Nuswantara, ya ……. bahkan menghambar keseluruh dunia, dan dikenang sepanjang masa sebagai suri tauladan bagi semua umat manusia.

Kerajaan Agung Majapahit kehilangan seorang Putra yang Besar. Namun semua itu adalah kehendak Tuhan yang Maha Kuasa.

Manusia berhak berkabung dan menyesali, akan tetapi tidak kuasa menentang akan KehendakNya.

Tuhan adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang terhadap semua umatNya.

Kehilangan seorang Putra Nuswantara yang besar tak perlu disesalkan. Patah tumbuh hilang berganti. Pahlawan-pahlawan Bangsa menyusul akan lahir, seperti tumbuhnya cendawan dimusim hujan.

Selama seratus hari Kerajaan Agung Majapahit berserta rakyat se Nuswantara dalam suasana berkabung. Dengan mangkatnya Sang Patih Mangkubumi Gajah Mada susunan serta pemerintahan Kerajaan Majapahit, mengalami perobahan dan pergeseran. Gajah Enggon diangkat menjadi Patih sebagai pengganti Sang Patih Gajah Mada. Gusti Harya Banendra diangkat sebagai penasehat Agung Sri Baginda Maha Raja, sedangkan Gusti Adityawardhana diangkat menjadi Manggala Yudha Kerajaan Agung Majapahit menggantikan Gusti Senapati Harya Banendra. Indra Sambada diangkat menjadi Senapati Muda Manggala Tamtama Pengawal Raja, menggantikan kedudukan Gusti Adityawardhana, dengan didampingi oleh Gusti Tumenggung Manggala Muda Tamtama pengawal Raja Tumenggung Cakrawirya sebagai wakilnya.

*

* *

Sebagai seorang kesatrya yang selalu ingat akan menepati janjinya, Gusti Senapati Muda Manggala Tamtama Pengawal Raja, pada suatu hari berkenan berkunjung ke hutan Wonogiri dengan dikawal oleh Lurah tamtama Jaka Wulung dan Jaka Rimang.

Beliau turun dari kudanya, dikawal oleh kedua lurah tamtama, dengan bersenyum lebar, setelah melihat penyambutan yang meriah dari Tambakraga berserta anak buahnya yang telah sejak pagi buta menantikan kedatangannya. Kyai Pandan Gede tak ketinggalan, telah hadir pula dalam penyambutan itu. Hal itu adalah tepat satu tahun berselang, sewaktu ketiga orang shakti itu bcrtemu dilereng Gunung Sumbing.

Yang Baskara masih duduk disinggasana dengan tenangnya, ditimur sejauh mata memandang dan telah naik segalah tingginya diatas permukaan bumi, menunjukkan bahwa hari masih pagi. Langit biru membentang bersih dan angin berlalu menampar pohon-pohon rindang yang menghamburkan daun- daun kering berterbangan untuk kemudian jatuh ketanah. Sinar matahari memancar cerah, dan membuat bayangan-bayangan hitam ditanah, melukiskan benda-benda yang tertimpa oleh cahayanya.

Hutan Wonogiri adalah lembah hutan lebat, yang luas antara kali Bengawan disebelah timur dan kali Dengkeng disebelah barat, sedangkan disebelah utara adalah titik perpaduan kedua sungai itu yang merupakan kali tempuran, mengalir menjadi satu menunjukkan kali Bengawan yang besar.

Disebelah selatan adalah tanah dataran tinggi yang membujur mengikuti mengalirnya kali Oya.

Gunung Lawu nampak berdiri tegak ditimur sebelah utara, laksana Yaksa yang sedang duduk bersila, menengadah pancaran sinarnya matahari.

Tidak seorangpun akan mengira bahwa di-tengah-tengah hutan belukar itu, terdapat sebuah gua yang luas tak ubahnya seperti bangunan rumah gedung besar yang berada dibawah tanah.

Dengan diikuti oleh semua anak buahnya, Tambakraga berturut-turut berlutut menyembah sewaktu menyambut kedatangannya lndra Sambada.

— Kami merasa bahagia akan kunjungan Gustiku Senapati dihutan Wonogiri ini,— berkata demikian Tambakraga melepaskan sembahnya, sambil mengerahkan tenaga saktinya yang disalurkan ketelapak tangannya dan mengeluarkan angin dorongan kearah Indra Sambada yang sedang berdiri tegak. Indra Sambada tertegun sesaat, dan cepat mengerahkan pesatan tenaga dalamnya untuk menghadapi dan menghisap lenyap datangnya tenaga dorongan tadi, sambil berkata dengan diiringi senyuman lirih.

— Kedatanganku, bermaksud mengunjungi sahabat karibku yang bernama Tambakraga.—

Dengan lenyapnya tenaga dorongan kiranya tenaga penghisap masih bersisa, dan merupakan daya tarik, sehingga Tambakraga tertunduk sedikit karenanya. Tambakraga terkejut dan bulu tengkuknya berdiri, setelah menyaksikan sendiri akan kesaktian lndra Sambada yang ternyata lebih tinggi dari padanya.

— Gustiku Senapati adalah ksatrya sejati, dan pantas menjadi junjungan kami, tetapi Tambakraga hanya berupa tonggak-tonggak kering di-tengah-tengah hutan belukar tanpa arti,— Tambakraga menjawab dengan amat merendah.

Kyai Pandan Gede memejamkan matanya sesaat sambil bersenyum, menyaksikan pertemuan kedua orang sakti itu. Seakan-akan ia mengucap syukur kehadapan Dewata Yang Maha Agung, bahwa pertemuan kali ini tidak bersifat permusuhan.

Jaka Wulung dan Jaka Rimang, berlutut pula dihadapan Kyai Pandan Gede, sebagaimana lazimnya seorang murid yang menghormat gurunya. Tiga orang sakti kini bertemu dalam suasana yang akrab, saling hormat menghormati, didalam ruangan yang luas serta indah disebuah gua dihutan

— Sekedar memenuhi janji kita setahun yang telah lampau, tentunya Gustiku Senapati dan kakang Pandan Gede tidak berkeberatan untuk kita saling menghidangkan pertunjukan yang dapat kita nikmati bersama dalam pertemuan ini.

Tambakraga berkata tenang dengan bersenyum riang, sambil melanjutkan bicaranya. — Marilah, kita keluar sebentar, untuk pindah tempat duduk ber-cakap-cakap didepan gua sambil menghirup hawa yang sejuk, Berkata demikian Tambakraga mendahului bangkit berdiri dan melangkah keluar, ikuti oleh Indra Sambada, Kyai Pandan Gede dan Jaka Rimang serta Jaka Wulung. Pandan Gede dan Indra Sambada saling berpandangan dengan mengerutkan keningnya asing-masing karena tidak mengetahui apa yang dikehendaki oleh Tambakraga namun mereka terus berjalan inengikuti dibelakang Tambakraga.

Ternyata didepan gua telah pula digelari tikar babut permadani diatas tanah yang tak beratap itu, lengkap dengan hidangan makanan clan minuman seria buah-buahan segar. Tambakraga segera mempersilahkan para tamunya untuk mengambil tempat duduk masing-masing serta kemudian memanggil seorang muridnya. — Suta, ambilkan nampan yang telah berada dikamarku ……— Perintahnya.

Sejenak kemudian Suta datang menghadap dan menyerahkan sebuah nampan yang berisikan enam buah pisau belati yang sama bentuknya dan besarnya, asing-masing sepanjang satu jengkal. Nampan diterima oleh Tambakraga dan diletakkan ditengah-tengah para tamu.

— Adi Tambakraga, — Pandan Gede bertanya dengan tidak sabar — Apa maksudmu, adi menjamu kita dengan alat-alat yang tidak menyedapkan. pandangan ini ?—

Jangan kakang salah faham, — Tambakraga menjawab tenang — Kali Ini aku ingin menghidangkan suatu pertunjukkan untuk menghormat Gustiku Senapati dan kakang Pandan Gede sendiri, tetapi setelah itu sayapun ingin melihat pertunjukan dari Gustiku Senapati dan dari kakang Pandan  

Gede sendiri sebagai hidangan yang akan kukenang sepanjang masa hidupku —

Berkata demikian Tambakraga mengambil sebilah pisau belati untuk di timang -timang sambil duduk bersila. Kemudian pisau belati dilemparkan kearah sebuah batu sebesar padasan yang berada didepannya antara jarak duapuluh langkah. Pisau belati melesat dari tangan Tambakraga dan tertancap setengah jengkal dalamnya dibatu yang besar itu, dengan tangkainya masih bergetar. Semua yang menyaksikan tertegun kagum memuji kehebatan Tambakraga dalam mengeluarkan kesaktiannya.

Belum juga lenyap rasa herannya, Tambakraga mengulangi lagi lemparannya dengan sebatang pisau belati yang kedua. Dan pisau itu menancap tepat dibawah pisau belati yang pertama sedalam setengah jengkal pula, dan merupakan suatu garis lurus dari atas kebawah. Hanya terdapat retak sedikit karena kerasnya benda yang menjadi sasaran. Apabila sasarannya itu kayu ataupun pohon, mungkin tidak akan begitu mengagumkan.

Kyai Pandan Gede dan Indra Sambada ketawa memuji setelah menyaksikan akan pertunjukkan yang mentakjubkan itu.

— Kakang Pandan Gede jangan mentertawakan pertunjukkanku yang dangkal ini, — Tambakraga berkata merendah —Dan sekarang giliran kakang untuk memulai menyuguh kami. ---

Ach adi Tambakraga, memang benar-benar orang yang berkeras hati. —

Pandan Gede menjawab dengan ketawa nyaring.

— Bagus, bagus …… bagus …… aku tidak akan berani menggurat diatas guratanmu, — berkata demikian Kyai Pandan Gede cepat meraih sebuah pisau belati yang dihadapannya, dan dengan tangkasnya sambil duduk bersila melemparkan pisau belatinya kearah batu besar itu. Dengan cepatnya pisau belati menancap dibawah pisau belatinya Tambakraga, dan merupakan bentuk garis lurus menyambung goretan diatasnyapun tangkainya kelihatan serempak dengan kedua tangkainya yang lain. Pandan Gede melemparkan sekali lagi sebuah pisau belati yang kedua dan tertancap setengah jengkal dalamnya tepat dibawah pisau yang pertama, tetapi jelas bahwa sedikit keretakan dalam goretan tidak tampak ada.

— Aku menyerah kalah, kakang Pandan Gede Tambakraga mengeluarkan kata-kata pujian —

Benar-benar aku harus meninggalkan hutan Wonogiri, untuk bertapa di Gunung Lawu. Katanya dengan sungguh-sungguh. — Hanya sebelum aku meninggalkan gua yang penuh noda ini, ingin aku menyaksikan pertunjukkan dari Gustiku Senapati sekalipun berupa apa saja. ---

---- Saudaraku Tambakraga, memang pandai berkelakar, menghibur tamu-tamunya —

Indra menjawab. — Hanya sajang sekali aku tidak dapat melemparkan pisau ,Indra melanjutkan bicaranya dengan ketawa lirih. Dengan tidak diketahui dari mana tangan kanan Indra Sambada kini telah menggenggam sekuntum bunga kemboja.

— Hanya sekuntum bunga inilah yang akan kupersembahkan kepada saudaraku Tambakraga. — Berkata demikian Indra Sambada memegang bunga kemboja itu dengan jepitan ibu jari dengan telunjuknya, sebagaimana lazimnya seseorang yang memegang sebatang paser, untuk kemudian dengan pelan dilemparkan kearah batu yang besar itu.

Semua yang menyaksikan segera duduk dengan mulutunya ternganga penuh rasa kekaguman, setelah melihat dengan nyata, bahwa bunga kemboja itu dapat menancap sejari dalamnya pada

batu besar itu, tepat diatas pisau belati yang tertancap paling atas sendiri, dan merupakan hiasan yang indah dipandang.

Tambakraga beserta murid-muridnya melihat sekaligus dari dekat, se-akan-akan tidak percaya apa yang telah dilihatnya.

— Gustiku Senapati junjungan hamba. — Tambakraga berkata dengan suara berat. — Ijinkanlah hamba, segera meninggalkan hutan Wonogiri ini untuk bertapa Gunung Lawu. Hamba ingin menghabiskan sisa hidup hamba untuk mencuci semua noda diri hamba dan mengabdi pada Dewata Yang Maha Agung. Hamba hanya mohon doa restu dari Gusti Senapati dan kakang Pandan Gede serta para pinisepuh sekalian. Tolonglah kakang Pandan Gede menyampaikan berita ini kepada kakang Wiku Sepuh. Dan mulai saat ini namaku dengan disaksikan oleh Gusti Senapati dan kakang Pandan Gede serta semua murid-muridku yang hadir disini kuganti dengan nama Tunggakraga.

Mendengar kata-kata Tambakraga itu semua merasa terharu, tidak berdaya untuk mencegahnya. Kehendak hati Tambakraga sekeras baja yang tidak mungkin dapat ditundukkan oleh siapapun.

Pandan Gede berdiri dengan menganggukkan kepalanya, tidak mampu ia mengeluarkan kata-kata jawabannya, untuk kemudian berlalu meninggalkan hutan Wonogiri menuju lereng Gunung Sumbing.

Sedangkan Tunggakraga meninggalkan hutan Wonogiri tanpa berpaling kembali, langsung menuju ke Gunung Lawu.

Indira Sambada dengan dikawal oleh Lurah tamtama Jaka Wulung dan Jaka Rimang berkuda, kembali menuju ke Kota Raja.

Tiga orang sakti bersimpang jalan dengan arahnya masing-masing, namun jelas satu tujuan ialah: — pengabdian —

Sejarah berjalan terus dengan kisah ceritanya yang tidak mengenal ujung, serta tanpa menghiraukan mengeringnya mata pena ………..

T A M A T

Siapakah Sujud dari manakah asalnya?

dan apakah hubungannya dengan perang Bubat.

Bacalah buku " PENDEKAR darah PAJAJARAN