Sang Megatantra Jilid 39

Mode Malam
Kho Ping Hoo
-------------------------------
----------------------------
"Ki Lurah Pujosaputro, siapakah wanita itu? Kenapa ia menangis dan tinggal di sana?"

Ki Pujosaputro dan Ki Wirodipo memandang dan Ki Pujosaputro berkata, "Ia adalah Nyi Lasmi yang sudah beberapa tahun ini menjadi selir Ki Suramengga, gusti. Hamba juga tidak tahu mengapa ia menangis."

"Selir Ki Suramenggala? Kenapa ia tidak ikut pergi bersama Ki Suramenggala? Coba panggil ia ke sini..!"

Ki Wirodipo tanpa diperintah mendahului lurahnya turun dari pendopo menghampiri Nyi Lasmi. Melihat sikap Wtrodipo ini, Ki Lurah Pujosaputro merasa senang. Tidak salah pilihan Ki Patih Narotama untuk memperbantukan Ki wirodipo kepadanya!

"Nyi Lasmi, andika dipanggil oleh Gusti Patih. Mari menghadap, beliau bijaksana, tentu akan dapat membikin terang persoalan yang menggelapkan hatimu."

Nyi Lasmi menahan tangisnya, bangkit dan mengikuti naik ke pendopo kelurahan. setelah tiba di depan Narotama, ia menekuk lututnya dan menyembah.

"Nyi Lasmi, mari ikut ke dalam, kita bicara di dalam." Kata Narotama dan mereka semua memasuki ruangan depan rumah yang telah kosong itu. Di situ terdapat sebuah meja besar dengan beberapa buah kursi. Narotama mengajak tiga orang itu duduk berhadapan dengannya, terhalang meja. Di depan ki patih, Nyi Lasmi tidak berani menangis, hanya matanya masih merah dan terkadang ia harus mengusap air mata yang tergantung di bulu matanya.

"Nyi Lasmi, katakan kenapa andika tidak ikut Ki Suramenggala pergi?" tanya Narotama, suaranya lembut dan ramah sehingga hilanglah rasa takut Nyi Lasmi "Bukankah andika ini isterinya?"

Nyi Lasmi menggunakan sehelai sapu tangan yang sudah basah untuk menyusut dua butir air mata, lalu menyembah. "Ampunkan hamba, gusti patih, hamba menjadi isteri Ki Suramenggala karena terpaksa dan sekarang setelah dia terusir dari dusun ini, hamba merasa bebas dan tidak ingin ikut dengannya."

Narotama menoleh kepada Ki Pujosaputro. "Benarkah bahwa Nyi Lasmi ini terpaksa menjadi isteri Suramenggala?"

Ki Pujosaputro melaporkan sejujurnya "Dahulu, Nyi Lasmi adalah seorang janda dengan seorang anak perempuan. Kurasa lebih lima tahun yang lalu anaknya diculik orang. Dalam keadaan hidup seorang diri itu dia dibujuk dan diancam oleh Ki Suramenggala dan ia agaknya tidak dapat menolak ketika diambil sebagai selir."

Narotama mengangguk-angguk, ia bertanya lagi kepada wanita itu. "Kalau memang andika sudah mengambil keputusan untuk tidak mengikuti Ki Suramenggala, kenapa andika menangis di halaman itu?"

"Hamba merasa bingung harus pergi kemana, gusti patih. Hamba tidak mempunyai tempat tinggal, hidup sebatang kara."

"Hemm, apakah andika tidak mempunyai sanak keluarga sama sekali?"

Wanita itu kembali mengusap dua bulir air mata. "Hamba hanya mempunyai seorang anak perempuan yang ketika berusia tiga belas tahun diculik orang. Akan tetapi lima tahun kemudian, baru beberapa bulan yang lalu, ia pulang ke sini dan telah pergi lagi. Kalau saja ada Puspa Dewi anak hamba, tentu hamba tidak menjadi bingung seperti ini."

Narotama melebarkan matanya. "Puspa Dewi? Ia itu anakmu? Gadis yang memiliki kesaktian itu?"

"Kasinggihan (benar), gusti. Setelah pulang, anak hamba Puspa Dewi menjadi seorang gadis yang memiliki kesaktian, akan tetapi kini ia pergi entah ke mana hamba tidak diberitahu."

Tiba-tiba Ki Lurah Pujosaputro menyembah dan berkata, "Kalau hamba boleh mengajukan usul, gusti. Biarlah Nyi Lasmi tetap tinggal di rumah ini. Hamba hanya akan menggunakan ruangan depan dan pendopo untuk tempat para pamong desa bekerja dan untuk rapat pertemuan warga dusun."

"Bagaimana, Nyi Lasmi?" tanya Narotama.

"Terima kasih atas kebaikan hati Ki Lurah, akan tetapi rumah ini terlalu besar untuk saya tempati seorang diri saja. Saya hanya ingin mondok untuk sementara sambil menanti anak saya pulang."

"Hemm, kalau begitu, Ki Lurah Pujosaputro, sebaiknya andika sekeluarga boyongan pindah ke rumah kelurahan ini dan biarkan Nyi Lasmi mondok di sini. Setujukah andika?"

"Tentu saja hamba setuju, gusti patih!" kata Ki Lurah Pujosaputro dengan wajah cerah.

"Nah, kalau begitu urusan Nyi Lasmi sudah beres. Masuklah dan siapkan ke perluan mu, Nyi Lasmi. Kami masih mempunyai banyak persoalan untuk dibicarakan"

Nyi Lasmi menyembah dan berkata, "Gusti patih, hamba menghaturkan banyak terima kasih. Sesungguhnya, selain hamba terpaksa menjadi selir Ki Suramenggala, juga hamba tidak ingin anak hamba Puspa Dewi dibawa ke jalan sesat olehnya maka sekarang setelah mendapat kesempatan hamba memisahkan diri dari keluarga Ki Suramenggala."

Narotama mengangguk-angguk, dan berkata, "Keputusan yang andika ambil itu bijaksana."

Nyi Lasmi lalu memberi hormat lagi dan mengundurkan diri, masuk ke ruangan dalam rumah gedung itu. Narotama lalu memberi petunjuk kepada lurah baru itu. Agar segera memilih pembantu-pembantu yang jujur dan rajin bekerja, lalu membentuk penjaga keamanan dengan memilih pemuda-pemuda dusun itu yang baik budi. Menertibkan pemilikan kembali sawah ladang para penduduk yang dulu diambil Ki Suramenggala, dan agar mengajak semua warga untuk menjaga keamanan dan mengusahakan kesejahteraan penduduk dengan bergotong royong.

"Tentu saja untuk mengurus dan menertibkan semua itu andika memerlukan tenaga bantuan, karena itu, bersama Wirodipo yang telah mengenal semua penduduk di sini, harap andika pilih siapa kiranya yang tepat untuk menjadi pembantu kelurahan. Jangan mendahulukan orang pintar, akan tetapi lebih baik mencari pembantu yang jujur dan baik budi. Orang pintar sekarang ini banyak terdapat di mana-mana, akan tetapi mencari orang yang jujur, setia dan baik budi amatlah sulitnya. Soal kepintaran dapat dipelajari oleh orang yang bodoh, akan tetapi kebaikan budi tidak dapat dipelajari oleh orang yang jahat. Kalau kami sudah kembali ke kota raja, akan kami kirim pejabat yang berwenang untuk mengesahkan pengangkatan andika sebagai Lurah baru."

Setelah meninggalkan semua pesan itu Narotama lalu kembali ke kota raja. Dia ditugaskan oleh Sang Prabu Erlangga untuk menyelidiki urusan antara Nurseta dan Pangeran Hendratama, untuk menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Untuk itu, dia membutuhkan bukti yang nyata.

Dia sudah melakukan penyelidikan tentang diri Nurseta dan keterangan yang diperolehnya menyatakan bahwa Nurseta adalah seorang pemuda yang baik wataknya. Apa lagi mengingat betapa pemuda itu menjadi murid mendiang Sang Empu Dewamurti, maka dia mendapatkan kesan baik terhadap pemuda itu. Kini dia harus melakukan penyelidikan kepada Pangeran Hendratama…..

********************

Puteri Lasmini dan Mandari menunggang kuda memasuki hutan lebat. Sang Prabu Erlangga hanya mengetahui bahwa selirnya, Mandari, yang dikunjungi kakak nya, Lasmini, pergi berdua untuk berburu seperti yang biasa dilakukan dua orang puteri itu, seperti yang dikemukakan Mandari kepadanya ketika berpamit.

Tidak seperti para puteri lain, dua orang puteri kakak beradik ini melakukan perjalanan berburu binatang dalam hutan tanpa pengawal seorang pun. Hal ini tidak mengherankan, juga Sang Prabu Erlangga memperkenankan, karena dia mengetahui bahwa dua orang wanita cantik itu adalah wanita-wanita digdaya yang tidak membutuhkan pengawal dan mampu melindungi diri sendiri.

Sesungguhnya, dua orang puteri itu bukan berburu binatang biasa saja seperti yang dikatakan ketika berpamit dari Sang Prabu Erlangga. Mereka hanya menggunakan perburuan sebagai dalih saja. Sebetulnya mereka memasuki hutan atas undangan Pangeran Hendratama yang mengadakan pertemuan dengan para sekutunya. Persekutuan yang diam-diam merencanakan kehancuran Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama ini memang telah lama saling mengadakan kontak rahasia.

Mereka berdua menuju ke tengah hutan dan di tempat yang sunyi dan tak pernah dikunjungi orang luar itu terdapat sebuah pondok kayu yang sederhana namun cukup besar. Di tengah perjalanan tadi, setelah semakin dekat dengan pondok, kedua orang puteri itu melihat orang-orang yang melakukan penjagaan. Itu adalah orang-orang yang ditugaskan Pangeran Hendratama untuk menjaga agar jangan ada orang luar datang mendekati pondok dimana berkumpul para sekutunya untuk mengadakan perundingan.

Ketika Lasmini dan Mandari tiba, dua orang anak buah Pangeran Hendratama segera menyambut dan mengurus dua ekor kuda yang tadi ditunggangi Lasmini dan Mandari. Dua orang puteri melompat turun, menyerahkan kuda kepada dua orang anak buah itu, lalu menuju ke pondok. Sebelum memasuki pintu, mereka disambut Pangeran Hendratama sendiri. Dengan sikap hormat Pangeran Hendratama membungkuk dan berkata.

"Selamat datang, puteri-puteri yang Cantik dan gagah perkasa, silakan masuk kawan-kawan sudah menanti kedatangan andika berdua sejak pagi tadi."

Lasmini dan Mandari mengangguk dan mereka memasuki ruangan pondok yang luas. Semua orang yang berada dalam ruangan itu bangkit dan membungkuk dengan hormat menyambut kedatangan Lasmini dan Mandari. Dua orang puteri itu mengangguk senang sambil memperhatikan siapa yang sudah berkumpul diruangan itu.

Di situ terdapat Puspa Dewi sebagai wakil Kerajaan Wurawuri, Linggajaya mewakili Kerajaan Wengker, Lasmini dan Mandari sendiri mewakili Kerajaan Parang Siluman, dan Pangeran Hendratama merupakan sekutu yang berambisi menggulingkan adik iparnya, Sang Prabu Erlangga agar dia dapat menggantikan kedudukan sebagai Raja Kahuripan. Setelah duduk menghadapi meja besar dan melayangkan pandang matanya, Lasmini berkata.

"Hemm, aku tidak melihat wakil dari Kerajaan Siluman Laut Kidul!"

Pada saat itu, seolah menjawab pertanyaan yang dilontarkan Lasmini, terdengar derap kaki banyak kuda didepan pondok. Pangeran Hendratama yang bertindak sebagai tuan rumah bergegas keluar dan dia tersenyum gembira menyambut seorang wanita seperti raseksi (raksasa wanita), berusia lima puluh tahun, tubuhnya gembrot dan tinggi besar, mukanya berbedak tebal, pakaiannya mewah sekali, mengenakan perhiasan emas permata, wajahnya serba bulat dan dari celah-celah bibirnya tampak mengintip keluar dua buah taring! Inilah Ratu Mayang Gupita, ratu yang berkuasa di kerajaan Siluman Laut Kidul!

"Selamat datang, Kanjeng Ratu, kami berbahagia sekali menerima kedatangan andika yang sudah kami tunggu-tunggu." kata Pangeran Hendratama.

Ratu yang menyeramkan itu memandang wajah Pangeran Hendratama dan bertanya, "Apakah wakil semua kerajaan yang bersekutu datang?"

Pangeran Hendratama mengangguk, "semua lengkap, Kanjeng Ratu. Wakil dari wengker, dari Wura-wuri, dan dari Parang siluman sudah hadir."

"Bagus! Tidak sia-sia aku melakukan perjalanan jauh." katanya sambil melangkah memasuki ruangan pondok itu.

Setelah mempersilakan Ratu Mayang Gupita duduk, Pangeran Hendratama lalu memperkenalkan Linggajaya dan Puspa Dewi kepada ratu itu yang sudah mengenal Lasmini dan Mandari. Atas isyarat pangeran Hendratama, dua orang pelayan pria masuk keruangan membawa minuman dan makanan beberapa macam kue. mereka menghidangkan makanan dan minuman di atas meja lalu cepat pergi lagi meninggalkan ruangan itu dan menutupkan daun pintu ruangan. Setelah mengucapkan selamat datang dan terima kasih kepada mereka yang hadir, Pangeran Hendratama lalu menceritakan pendapat dan usulnya.

"Keadaan kini menjadi gawat dan kita harus dapat segera bertindak agar jangan sampai terlambat. Aku terancam oleh penjahat cilik Nurseta dan kakeknya senopati Sindukerta."

"Akan tetapi pangeran, bukankah mereka berdua kini telah ditahan dalam penjara istana? Mereka tidak mungkin dapat lolos dari penjara. Apa yang dikhawatirkan?" kata Mandari yang telah mendengar akan hasil persidangan istana itu.

"Benar, akan tetapi mereka hanya ditahan sementara saja. Kini Ki Patih Narotama sedang melakukan penyelidikan dan kalau sampai kemudian diketahui bahwa keris Sang Megatantra berada padaku, rencana kita semua akan gagal."

"Akan tetapi Ki patih tidak akan dapat membuktikan bahwa keris itu berada padamu, pangeran?" kata Lasmini.

"Memang tidak, akan tetapi Ki Patih Narotama itu cerdik sekali. Aku khawatir dia akan mencurigaiku." kata Pangeran Hendratama kelihatan jerih terhadap ki Patih itu.

"Lalu, apa rencanamu, pangeran?" mendengar suara parau Ratu Mayang Gupita.

"Kita harus cepat bertindak. Ada tiga hal yang harus kita lakukan kalau kita ingin berhasil dalam rencana kita. Pertama, kita harus berusaha untuk membunuh Ki Patih Narotama! Kedua, kita juga harus membunuh Nurseta dan Ki Sindukerta dalam kamar tahanan. Dan ketiga ini yang terpenting, kita harus mempersiapkan bala tentara gabungan untuk menyerbu istana dan menguasainya."

"Wah, tiga hal yang andika rencanakan itu kesemuanya amat sukar, Pangeran!" Linggajaya sebagai wakil Kerajaan Wengker dia tidak mau bersikap rendah terhadap Pangeran Hendratama. "Aku tahu betapa saktinya Ki Patih Narotama. Juga aku pernah bertanding melawan Nurseta dan dia bukan orang yang mudah dibunuh begitu saja. Bagaimana dua hal ini akan dapat dilaksanakan?"

Pangeran Hendratama mengerutkan alisnya, tidak senang mendengar pendapat Linggajaya yang menurunkan semangat itu.

"Semua orang tahu bahwa semua hal itu tidaklah mudah, akan tetapi setiap perjuangan memang tidak ada yang mudah, setiap hasil baik itu harus ditebus dengan usaha yang sekuatnya. Mari kita bahas satu demi satu tiga macam usaha kita untuk mencapai kemenangan itu. Pertama, tentang rencana pembunuhan terhadap Ki Patih Narotama Apakah andika sekalian mempunyai usul yang baik?"

"Menurut pendapatku, yang paling tepat memikul tugas membunuh Ki Patih Narotama ini haruslah orang-orang yang dekat dengan dia. Tidak ada orang lain yang lebih dekat kecuali Puteri Lasmini dari Kerajaan Parang Siluman yang telah menjadi selirnya, dibantu oleh Linggajaya sebagai wakil Kerajaan Wengker karena dia telah berhasil menyusup ke kepatihan sebagai juru taman!"

Semua orang tampaknya setuju dan Pangeran Hendratama berkata, "Usul itu memang baik sekali dan cocok dengan rencanaku. Akan tetapi tentu saja kami minta pendapat yang bersangkutan, dalam hal ini Puteri Lasmini. Bagaimana pendapat andika dengan usul itu? Dan juga Linggajaya, sanggupkah membantu Puteri Lasmini melaksanakan tugas ini?"

Lasmini tersenyum. "Terus terang saja, aku memang sudah merencanakan pembunuhan terhadap Ki Patih Narotama, dibantu oleh Linggajaya. Kami sudah merencanakan itu dan hanya tinggal menanti saat baik saja. Baik, kuterima tugas itu."

"Aku juga menerima tugas itu!" kata Linggajaya yang tidak punya pilihan lain.

"Bagus, kalau begitu masalah pertama sudah diputuskan. Sekarang persoalan kedua, yaitu pembunuhan Nurseta dan Sindukerta. Siapa yang pantas melaksanakan tugas berat ini?"

"Tugas ini memang berat sekali, terutama karena mereka itu ditahan dalam ruangan tahanan istana, jadi dekat dengan Sang Prabu Erlangga. Aku sendiri tidak dapat membantu karena aku merasa bahwa sedikit banyak Sang Prabu Erlangga sudah agak berubah sikapnya terhadap diriku, seolah sudah menaruh curiga. Aku hanya dapat membantu dengan memberi jalan keluar kepada mereka yang ditugaskan untuk membunuh kedua orang tahanan itu, kalau usaha mereka gagal." kata Dewi Mandari.

"Memang sebaiknya, seperti hal pertama tadi, hal kedua ini dilakukan pula oleh orang yang tinggal di istana." Kata Pangeran Hendratama. "Dan yang tinggal di istana adalah Puteri Mandari dan Puspa Dewi. Karena tidak mungkin bagi Puteri Mandari melaksanakan tugas itu maka tinggal Puspa Dewi yang tinggal di istana, karenanya ia yang dapat melakukan dengan tidak begitu sukar."

Puspa Dwi mengerutkan alisnya. "Pangeran, aku juga pernah bertanding melawan Nurseta, bahkan mengeroyoknya bersama Linggajaya, dan harus ku katakan bahwa dia adalah seorang yang memiliki kesaktian tinggi. Aku sendiri tidak mungkin dapat membunuhnya!" Tentu saja ucapan Puspa Dewi ini tidak sama dengan suara hatinya. Dalam hatinya, ia tidak mau membunuh Nurseta karena kini semakin jelas baginya pihak siapa yang benar dan siapa yang bersalah.

Untuk membalas budi gurunya, Nyi Dewi Durgakumala yang kini menjadi permaisuri Raja Mhismaprabhawa di Kerajaan Wura-wuri, tentu saja ia mau membela Wura-wuri. Akan tetapi bukan dengan cara curang dan bersekutu dengan orang-orang jahat seperti ini!

"Tentu saja bukan andika seorang diri, puspa Dewi. Aku sendiri juga tahu betapa tangguhnya si Nurseta itu. Sekarang marilah kita membagi-bagi tugas. Linggajaya dan Puteri Lasmini sudah mendapat tugas membunuh Ki Patih Narotama.! Selain itu, aku juga akan mempersiapkan pasukan Kerajaan Wengker untuk membantu merebut kekuasaan diKahuripan!" kata Linggajaya.

"Ratu Mayang Gupita, kalau kami boleh mengusulkan dan minta bantuanmu, dapatkah andika mempersiapkan diri untuk membantu Puspa Dewi untuk membunuh Nurseta dan Sindukerta dalam tahanan? Jangan khawatir, Puteri Mandari tentu akan dapat menyelundupkan mu kedalam istana."

Raksasa wanita itu mengangguk angguk. "Baiklah, aku akan membantu Puspa Dewi dan aku akan mengajak Dibyo Mamangkoro dan Cekel Aksomolo. Mustahil kami berempat dengan Puspa Dewi tidak akan mampu membunuh Nurseta dan Senopati Sindukerta."

"Bagus sekali! Kalau andika dan pembantu andika mau turun tangan, kami yakin tugas ini akan dapat diselesaikan dengan berhasil baik!" kata Pangeran Hendratama gembira sekali.

Selain dia akan terbebas dari musuh-musuhnya yang hendak membongkar rahasianya dan merampas Sang Megatantra, juga kalau dua pembunuhan itu dapat dilaksanakan dengan baik, berarti memperlancar rencana pemberontakannya dan merampas tahta Kerajaan Kahuripan dari tangan Sang Prabu Erlangga.

Puspa Dewi yang sejak tadi mencari jalan untuk mengetahui semua rencana pangeran pengkhianat itu, lalu berkata, "bagaimana wakil Kerajaan Wura-wuri, aku ingin sekali mengetahui rencana kita yang ketiga, yaitu tentang penyerbuan ke Istana dan menguasainya. Bagaimana hal yang amat sulit ini dapat diatur?"

"Memang hal yang ke tiga itu harus kita rundingkan baik-baik sekarang setelah dua hal pertama dan kedua sudah kuputuskan. Untuk melaksanakan ini dengan berhasil, kita harus bekerja sama. semua kekuatan harus dipersatukan, karena itu kami harap semua kerajaan mengirimkan pasukan dan bergabung di hutan ini. Bagaimana pendapat kalian?"

"Aku akan mengabarkan kepada Kanjeng Ibu Durgamala di Kerajaan Parang Siluman kami untuk mengirimkan pasukan ke hutan ini?" kata Lasmini.

"Aku juga akan mengerahkan para senopatiku untuk memimpin pasukan dan membawa pasukan kami ke sini." Kata Ratu Mayang Gupita dari Kerajaan Siluman Laut Kidul.

"Baik sekali kalau begitu, hal ke tiga yang terpenting juga sudah disepakati. Linggajaya bertugas mengirim pasukan dari Kerajaan Wengker, Puspa Dewi mengirim pasukan dari Wura wuri, Ratu Mayang Gupita mengirim pasukan dari Kerajaan Siluman Laut Kidul, dan Puteri Lasmini mengirim pasukan dari Kerajaan Parang Siluman. Jadi dari empat kadipaten atau kerajaan itu sudah sepakat mengirimkan pasukan masing-masing ke hutan ini untuk bersatu dan kami sendiri akan mengerahkan pasukan dari para senopati yang mendukung gerakan ini. Kita sekarang rundingkan untuk menetapkan hari dan saat gerakan pasukan gabungan itu untuk menyerbu istana. Semua pasukan harus sudah siap di dalam hutan ini sebelum hari yang telah ditentukan Itu dan semua harus dilakukan secara rahasia agar jangan sampai ketahuan orang dan sebaiknya kalau dilakukan di waktu malam."

"Bagus, dan aku sendiri akan membantu dari dalam istana kalau saat penyerbuan ke istana dilakukan." kata Puteri Mandari.

"Pangeran, bagaimana kita dapat yakin bahwa pasukan para senopati di Kahuripan akan benar-benar membantu kalau mereka tahu bahwa pusaka Sang Megatantra tidak berada padamu? Kalau pusaka itu berada di tangan Nurseta, terutama semua orang di Kahuripan condong membantu dia karena pusaka itu dipuja sebagai wahyu keraton oleh semua orang Kahuripan sebagai keturunan Mataram." kata Puspa Dewi untuk memancing. Memang ia seorang gadis yang cerdik. Ia memancing dan mengajukan alasan yang masuk akal sehingga Pangeran Hendratama sama sekali tidak menyangka bahwa gadis itu memancingnya untuk mengetahui di mana sebetulnya pusaka itu.

Pangeran Hendratama tersenyum. Hati pangeran itu masih amat tertarik kepada gadis jelita yang kini menjadi sekar kedaton Wura-wuri itu dan dia mengharapkan kalau dia sampai berhasil menjadi Raja Kahuripan, Puspa Dewi akan bersikap lain kepadanya, memberinya harapan untuk mempersunting gadis yang membuatnya tergila-gila itu!

"Jangan khawatir, Puspa Dewi. Para sahabat dari Empat Kadipaten, biarlah antara para sahabat aku akan berterus terang. Pusaka Sang Megatantra itu tidak pernah terlepas dari tanganku. Aku yang memiliki pusaka itu!"

Semua orang tercengang mendengar ini. Hanya Puspa Dewi yang tidak merasa heran karena diam-diam ia sudah mengetahui bahwa pusaka itu yang tadinya milik Nurseta telah dicuri pangeran ini. Betapa beraninva pangeran itu kini mengaku!

"Ah, pangeran! Jadi kalau begitu andika yang..."

"Jangan salah mengerti, Puspa Dewi Pusaka itu memang milikku. Aku membeli pusaka itu dari seorang pengemis seperti yang sudah kuceritakan dahulu..."

"Akan tetapi andika mengatakan bahwa pusaka itu telah dicuri Nurseta!" kata Puspa Dewi, penasaran walau pun ia mengatur agar suara dan sikapnya tidak membayangkan bahwa ia merasa curiga kepada pangeran itu.

"Memang benar Nurseta mencuri kerisku. Akan tetapi aku selalu berhati-hati sejak mendapatkan pusaka itu sehingga aku membuat tiruannya, dan menyembunyikan yang aseli. Jadi, ketika Nurseta mencurinya, dia hanya mendapatkan Megatantra yang palsu dan Megatantra yang aseli masih ada padaku."

"Kenapa tidak andika serahkan kepada Sang Prabu Erlangga?" Puspa Dewi terkejut sendiri mendengar pertanyaannya yang keluar begitu saja dari dalam hatinya.

"Ha-ha-ha, apakah engkau mengira aku begitu bodoh, Puspa Dewi?" Pangeran yang sudah tergila-gila kepada Puspa Dewi itu tidak menjadi curiga dengan pertanyaan itu, bahkan dia ingin memamerkan kecerdikannya..!

"Sang Prabu Erlangga adalah musuh kita bersama, bagaimana aku harus mengembalikan pusaka itu kepadanya? Keris itu hak milik Kahuripan sebagai keturunan Mataram, dan setelah Kanjeng Rama Teguh Dharmawangsa wafat, akulah puteranya, akulah satu-satunya keturunan Mataram yang berhak memiliki Sang Megatantra maka berhak pula menjadi Raja Kahuripan bukan Erlangga bocah Bali itu!"

Puspa Dewi tidak bicara lebih lanjut. Biarpun keterangan Pangeran Hendratama itu meyakinkan hati semua orang yang berada di situ, namun di dalam hatinya Puspa Dewi lebih percaya kepada keterangan Nurseta. Ia juga melihat betapa sikap Lasmini dan Linggajaya tampak mesra. Kedua orang itu saling bertukar senyum dan pandang mata mereka kalau saling pandang bicara banyak.

Mudah saja diduga bahwa antara selir Ki Patih Narotama dengan Linggajaya yang kini menyamar sebagai tukang kebun kepatihan pasti ada hubungan yang tidak wajar! diam-diam ia memperhatikan semua orang yang hadir itu satu demi satu. Makin diperhatikan, ia semakin merasa muak dan tidak suka. Orang-orang ini semua bukanlah orang baik-baik, pikirnya dan ia merasa malu kepada diri sendiri bahwa ia terlibat dalam persekongkolan jahat ini.

Andaikata Kadipaten Wura-wuri berperang melawan kerajaan mana pun juga, ia tidak akan ragu membela Wura-wuri demi membalas budi guru yang juga menjadi ibu angkatnya dan yang kini menjadi Permaisuri Wura-wuri itu. Akan tetapi kalau menjadi anggota persekutuan jahat dan curang seperti ini, ia merasa muak dan malu sendiri.

Setelah merundingkan dengan matang semua persiapan pemberontakan Pangeran Hendratama yang digabung dengan kekuatan pasukan empat kerajaan yang menjadi musuh lama Kahuripan, pertemuan itu dibubarkan dan semua orang pulang ke tempat masing-masing…..

********************

Malam itu gelap sekali. Sebetulnya, bulan setengah tua semestinya muncul dengan cahayanya yang walau pun tidak terang benar, cukup mendatangkan cuaca yang remang-remang. Akan tetapi agaknya mendung tebal menutupi bulan sehingga tidak tampak dan cuaca menjadi gelap pekat.

Ki Patih Narotama baru saja kembali dari perjalanannya menyelidiki Nurseta Kini dia harus menyelidiki keadaan Pangeran Hendratama untuk melihat siapa di antara kedua pihak itu yang benar dan siapa yang berbohong dan bersalah. Selama ini, hatinya sering merasa tidak enak karena Sang Prabu Erlangga pernah bercerita kepadanya tentang peringatan Empu Bharada akan adanya awan gelap atas Kahuripan yang berarti bahwa Kahuripan akan terancam bahaya.

Malam ini, setelah kembali dari dusun Karang Tirta, dan melihat langit begitu gelap bukan saja bulan sepotong tidak tampak juga tidak ada sebutirpun bintang tampak hatinya menjadi semakin tidak enak Seperti biasanya, kalau hatinya sedang risau tanpa sebab seperti itu, dia melarikan diri kepada Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Kuasa) untuk berserah diri dan mohon perlindungan dan bimbingan.

la pun pesan kepada para isteri dan dayang-pelayan di kepatihan bahwa malam itu dia tidak mau diganggu, kemudian dia memasuki sanggar pamujan (tempat berdoa) untuk bersemedhi dan mencurahkan seluruh hati akal pikiran, seluruh cipta, rasa, dan karsa (kemauan) kepada Yang Maha Esa.

Semedhi yang dilakukan Narotama bukan semedhi seorang pendeta pertapa, melainkan semedhi seorang satria sehingga walau pun dia tenggelam dalam semedhinya, namun perasaan jasmaninya tetap peka dan siap melindungi dirinya dari marabahaya.

Menjelang tengah malam seluruh penghuni istana kepatihan telah tidur lelap. Suasana menjadi sunyi sekali, udara amat dingin sehingga beberapa orang perajurit yang bertugas jaga, berkumpul dalam gardu penjagaan di depan gedung di mana mereka membuat api unggun untuk mengusir dingin dan nyamuk.

Di dalam taman kepatihan terdapat kesibukan. Beberapa sosok bayangan orang berkelebatan. Saking gelapnya cuaca, hanya orang yang amat dekat dengan mereka saja yang dapat mengetahui bahwa disana ada beberapa orang bergerak dalam gelap. Dari jarak sepuluh depa saja, orang tidak akan dapat melihat apa-apa.

Mereka itu adalah Lasmini dan Linggajaya bersama tujuh orang yang membawa gendewa dan di pinggang mereka tergantung tempat anak panah. Tujuh orang itu adalah pemanah-pemanah ulung, pembidik tepat yang dikirim oleh Pangeran Hendratama untuk membantu dua orang yang bertugas membunuh Ki Patih Narotama.

Mereka semua, termasuk Lasmini dan Linggajaya, mengenakan pakaian hitam, bahkan kepala dan muka mereka memakai kerudung hitam yang dilubangi di bagian mata sehingga mereka kelihatan sama semua, tidak dapat dikenal, bahkan tidak dapat diketahui pria atau wanita.

Lasmini tentu saja tidak membawa Cambuk Sarpakenaka yang menjadi senjata andalannya, juga Linggajaya tidak membawa Pecut Tatit Geni karena senjata mereka ini tentu akan membuka rahasia mereka, sungguh pun kehadiran Linggajaya di situ merupakan rahasia.

Tentu saja mereka tidak tahu bahwa Ki Patih Narotama telah mendengar bahwa putera Ki Lurah Suramenggala yang dia pecat itu bernama Linggajaya yang mungkin sekali adalah pemuda yang menjadi juru taman, yang namanya juga Linggajaya!

Lasmini bersenjatakan sebatang pedang dan Linggajaya membawa keris Candalamanik, luk tiga belas yang amat ampuh. Tujuh orang pemanah itu kemudian diperintahkan untuk bersembunyi di luar pondok sanggar pamujan yang berdiri pada sudut kiri taman. Pondok kecil ini tidak pernah dimasuki siapa pun kecuali sang patih dan hanya dipergunakan kalau Narotama hendak bersemedhi.....

0 Response to "Sang Megatantra Jilid 39"

Post a Comment