close

Sang Megatantra Jilid 38

Kho Ping Hoo
-------------------------------
----------------------------
Narotama memikul tugas yang cukup berat. Untuk menyelidiki kebenaran keterangan Nurseta, dia harus pergi ke dusun Karang Tirta di mana pemuda itu dahulu tinggal dan menemukan Sang Megatantra, juga dia akan menyelidiki tempat yang dulu dijadikan tempat pertapaan mendiang Empu Dewamurti.

Narotama tahu bahwa Empu Dewamurti adalah kakak seperguruan Empu Bharada yang amat dihormati Sang Prabu Erlangga dan dia sendiri. Kalau Nurseta merupakan murid Sang Empu Dewamurti, tentu dia telah menerima gemblengan batin dari gurunya yang arif dan bijaksana itu. Maka dia lalu berpamit kepada kedua isterinya, Listyarini dan Lasmini, bahwa kepergiannya sekali ini akan makan waktu yang agak lama, mungkin sampai sebulan baru dia akan kembali.

Setelah Narotama pergi, Lasmini merasa kesepian. Puteri Kerajaan Parang Siluman ini adalah seorang yang telah terjatuh ke dalam kekuasaan nafsu-nafsunya. Cintanya terhadap suaminya, Ki Patih Narotama, hanyalah cinta yang didasari nafsu berahi. Karena itu, baru ditinggal pergi Narotama selama beberapa hari saja. ia sudah gelisah dan kesepian sekali, haus akan belaian suaminya.

Pada saat dan keadaan seperti itu, mulailah ia mencurahkan perhatiannya kepada tukang kebunnya, yang bukan lain adalah Linggajaya pemuda tampan, ganteng dan sakti, yang juga diam-diam menjadi sekutunya karena pemuda itu adalah utusan Kerajaan Wengker.

Pada suatu senja yang tidak cerah karena langit mengandung awan hitam biang hujan, terkadang tampak sinar berkilat dalam mendung tebal disusul bunyi Guntur bergemuruh, Lasmini memasuki taman bunga kepatihan yang luas dan penuh tanaman beraneka ragam kembang itu. Dalam kesepiannya, ia teringat akan Linggajaya dan ingin melihat apa yang dilakukan pemuda yang menyamar sebagai tukang kebun itu.

Ketika ia tiba di padang rumput dekat pondok kecil di tengah taman, ia melihat pemuda itu sedang berlatih silat. Ia berhenti melangkah dan menonton dari jauh. Linggajaya bertelanjang dada sehingga tampak tubuhnya yang tegap, dadanya yang bidang dan tampak penuh dengan tenaga. Kedua tangan yang bergerak-gerak tangkas itu menimbulkan angin yang mengeluarkan bunyi bersiutan. Alangkah gagahnya, alangkah gantengnya, pikir Lasmini dan timbul kegembiraannya bercampur gairahnya. Ia lalu melompat dan berlari menghampiri.

"Mari kita latihan!" katanya dan langsung saja ia menyerang pemuda itu.

Linggajaya girang melihat munculnya wanita cantik ini dan dia cepat menangkis lalu membalas. Mereka segera saling serang dengan cepat dan kuat. Tubuh mereka berkelebatan. Setelah menjadi selir Narotama, Lasmini memperoleh kemajuan banyak sekali dalam ilmu silat, juga tenaga saktinya bertambah setelah mendapat petunjuk Narotama bagaimana untuk menghimpun tenaga sakti.

Namun, karena kedua orang itu bertanding hanya untuk latihan, seperti pasangan yang menari-nari, tentu saja mereka membatasi tenaga dan menjaga agar tidak saling melukai. Karena sering lengan mereka beradu dan melihat betapa dekatnya wanita cantik itu sehingga dia dapat mencium keharuman melati yang melekat di tubuh Lasmini, Linggajaya seperti dibakar gairah nafsunya sendiri. Demikian pula Lasmini.

Tiba-tiba Lasmini kehilangan bayangan Linggajaya yang menggunakan Aji Panglimutan, yang membuat tubuhnya sejenak tidak tampak. Lasmini tahu ilmu apa yang dipergunakan Linggajaya. Kalau ia mau, dengan pengerahan tenaga saktinya mengeluarkan teriakan melengking, ia akan mampu membuyarkan Aji Panglimutan itu.

Akan tetapi ia tidak mau melakukannya, khawatir kalau-kalau teriakan melengking itu akan menarik perhatian orang. Pula, ia ingin melihat apa yang akan dilakukan pemuda yang menarik hatinya itu. Tiba-tiba dua lengan yang kuat memeluknya dari belakang. Hidung dan bibir yang hangat menempel pada lehernya yang membuat ia menggelijang.

"Ihh, sembrono..., jangan di sini... lepaskan!" Mulutnya berkata demikian akan tetapi ia tidak meronta agar lepas dari pelukan hangat itu.

"Lalu di mana, sayang?" tanya Linggajaya berbisik di dekat telinga Lasmini.

"Di kamarku... malam ini... lewat jendela..!" kata Lasmini dengan hati menggetar karena gairah berahi.

Mendengar jawaban ini, Linggajaya girang sekali dan dia melepaskan pelukannya dari belakang. Lasmini lalu berlari-lari meninggalkannya. Linggajaya tertawa. Dia tahu bahwa sudah lima hari lamanya Narotama meninggalkan kepatihan. Saat seperti yang dijanjikan Lasmini tadilah yang dinanti-nantinya, yang membuat dia bertahan menjadi tukang kebun di kepatihan itu. Kalau tidak ada harapan itu, dia tidak akan sudi menyamar sebagai tukang kebun.

Lasmini mandi dan hatinya bergetar. Ia masih perawan ketika menjadi isteri Narotama dan sejak itu, ia tidak pernah berdekatan dengan pria lain. Sekarang inilah pertama kalinya ia hendak menyeleweng dengan laki-laki lain, maka hatinya penuh ketegangan, juga kegembiraan yang membuat jantungnya berdebar-debar.

Seperti sudah dapat diduga sejak sore, malam itu gelap dan mendung menjadi semakin tebal. Suasana di gedung kepatihan sepi sekali. Semua penghuni rumah itu merasa lebih senang tinggal di dalam kamar masing-masing. Apa lagi Ki Patih Narotama tidak berada di rumah. Bahkan para perajurit pengawal yang berjaga di pintu gerbang kepatihan merasa lebih aman tinggal di gardu penjagaan.

Lasmini sejak tadi sudah berada dalam kamarnya. Pintu kamarnya sudah ditutup dan dipalangi dari dalam, akan tetapi daun jendela kamarnya hanya dirapatkan begitu saja, tidak dipalang. Dan di luar kamar duduk seorang wanita bertubuh tinggi besar berwajah buruk berusia sekitar empat puluh dua tahun. Ia adalah Sarti, pelayan pribadi, kepercayaan Lasmini yang dulu dibawanya dari Kerajaan Parang Siluman ketika ia menjadi selir Narotama. Pelayan ini bertugas untuk menjaga agar kamar Lasmini malam itu tidak mendapat gangguan. Tentu saja Sarti tahu bahwa majikannya malam itu hendak kangen asmara (bermain cinta) dengan Linggajaya!

Lasmini duduk menanti di tepi pembaringannya. Kamar yang indah itu harum semerbak melati, kesukaannya. Ia mengenakan pakaian tipis. Di atas meja terdapat lampu kecil yang memberi penerangan remang-remang. Setelah menanti dengan hati tegang sejak senja tadi, tiba-tiba daun jendela terbuka dan bayangan tubuh Linggajaya melompat masuk melalui lubang jendela. Dengan tenang Linggajaya menutupkan kembali daun jendela dan memalangnya. Lalu dia memutar tubuh memandang ke arah Lasmini.

Wanita ini bangkit berdiri. Dua buah kakinya gemetar ketika ia melangkah perlahan menghampiri pemuda itu. Tanpa berkata-kata, keduanya saling menghampiri dan entah siapa yang memulai, keduanya sudah melekat dalam rangkulan yang ketat. Linggajaya memondong tubuh itu dalam pelukannya, melingkari tubuh itu dengan kedua lengannya yang kokoh kuat membawanya ke pembaringan yang seolah sudah menggapai dan mengajak mereka.

Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Seolah-olah iblis setan bekasakan merestui perjinaan yang dilakukan dua orang manusia yang sudah menjadi permainan nafsu mereka sendiri. Lasmini bagaikan seekor ikan yang tadinya menggelepar di darat, kini mendapatkan air sehingga ia dapat berenang-renang sepuas hatinya.

Nafsu berahi adalah satu di antara nafsu yang paling mulia karena melalui nafsu ini suami isteri mencurahkan cinta mereka yang paling mendalam, yang mendorong pasangan itu bukan hanya ingin bersatu raga akan tetapi juga bersatu jiwa. Bahkan melalui nafsu berahi ini terjadilah perkembang-biakan manusia sehingga nafsu ini merupakan anugerah Sang Hyang Widhi yang paling penting, paling indah, dan paling mulia.

Akan tetapi, seperti juga semua nafsu yang amat bermanfaat bagi kehidupan manusia didunia ini maka nafsu diikut-sertakan manusia sejak lahir, nafsu akan menjadi penyeret manusia ke lembah dosa. Kalau nafsu tetap dalam fungsinya semula, yaitu sebagai hamba yang baik dan bermanfaat, taat kepada kita selaku majikan , jinak dibawah kendali etika, kehormataan dan peradaban, maka nafsu merupakan anugerah.

Akan tetapi sebaliknya, kalau nafsu berahi menjadi majikan, liar tak terkendalikan, dan kita sebaliknya yang diiperhamba, maka nafsu akan menimbulkan malapetaka. Nafsu berahi akan menyeret kita dan menimbulkan perbuatan sesat seperti perkosaan, perjinaan, pelacuran dan sebagainya. Dua orang yang menjadi hamba nafsu itu berpesta ria di malam hujan yang dingin itu. Dan perbuatan yang dilakukan sebagai pemuasan nafsu itu selalu menuntut pengulangan dan pengulangan untuk kemudian menimbulkan kebosanan.

Pagi-pagi sekali Linggajaya meninggalkan Lasmini, keluar dari kamar melalui jendela. Dan kesempatan selagi Narotama tidak berada di rumah itu dimanfaatkan oleh dua orang yang mabuk berahi untuk mengulangi perbuatan mereka. Setiap malam Linggajaya berada di kamar Lasmini.

Beberapa hari kemudian, setelah gelombang nafsu berahi yang menguasai diri mereka agak reda, keduanya teringat akan keadaan dan tugas, lalu di sela-sela permainan asmara itu mereka mulai berunding. Lasmini menceritakan tentang peristiwa yang terjadi di istana Sang Prabu Erlangga, yaitu tentang persidangan di istana untuk memeriksa perkara antara Pangeran Hendratama melawan Senopati Sindukerta dan cucunya, Nurseta. Mereka rebah berdampingan di atas pembaringan, di antara bantal-bantal.

"Kita harus membantu Pangeran Hendratama. Dia merupakan sekutu kita yang penting karena dengan bantuannya, lebih besar kemungkinan menjatuhkan Sang Prabu Erlangga. Aku mendengar bahwa Pangeran Hendratama terancam oleh pemuda yang bernama Nurseta itu, yang kabarnya sakti mandraguna."

Linggajaya mengerutkan alisnya. Tentu saja dia mengenal Nurseta, bahkan pernah bertanding melawannya ketika Nurseta menyerbu rumah Ki Lurah Suramenggala, ayahnya dan dia harus mengakui bahwa Nurseta merupakan lawan berat. Kalau ketika itu tidak muncul Puspa Dewi yang menjadi anak tiri ayahnya dan yang membantunya melawan Nurseta, dia tentu akan kalah.

"Aku tahu siapa itu Nurseta. Sebetulnya dia sedusun dengan aku, bahkan pernah bekerja sebagai kuli pada ayahku yang menjadi lurah di dusun Karang Tirta. Dia menjadi sakti karena diambil murid mendiang Empu Dewamurti."


"Tentu saja yang menemukan adalah Nurseta. Aku sendiri mengetahui hal itu, dan yang mencurinya tentu Pangeran Hendratama." kata Linggajaya tidak begitu acuh. Ada tubuh mulus wajah cantik di dekatnya, bagaimana mungkin dia dapat bergairah memikirkan hal lain? Dia memeluk lagi, akan tetapi Lasmini menolak dengan lembut, mendorongkan tangannya.

"Ih, dengarkan dulu, kita bicara penting ini!" tegurnya. "Aku juga sudah menduga demikian. Akan tetapi karena itu kita harus membantu Pangeran Hendratama. Dengan Sang Megatantra di tangannya, dia dapat mempengaruhi para pamong praja yang tinggi kedudukannya, untuk memihak kepadanya yang mempunyai wahyu mahkota."

"Bagaimana kita dapat membantunya?" tanya Linggajaya penuh perhatian kini karena dia teringat akan tugas mereka untuk bersekutu dan menjatuhkan Kerajaan Kahuripan.

"Begini, kita harus dapat membunuh Nurseta dan Sindukerta dalam penjara. Akan tetapi sebelumnya, kita tunggu kedatangan Ki Patih Narotama. Kalau dia menemukan hal-hal yang memberatkan Pangeran Hendratama, sebelum dia dapat bertindak lebih jauh, kita bunuh saja Ki Patih Narotama!"

Linggajaya terkejut dan bangkit duduk, menatap wajah cantik yang masih ada titik-titik keringat seperti embun di dahinya. Dia mengusap dahi halus itu menghilangkan keringatnya.

"Membunuh... suamimu??" Lasmini juga bangkit duduk.

"Husssh, aku menjadi selirnya hanya untuk dapat membunuhnya. Ingat?"

"Ya-ya... akan tetapi Ki Patih Narotama itu sakti mandraguna. Bagaimana mungkin dapat mengalahkan dan membunuhnya?"

Lasmini merangkul pemuda itu. "Linggajaya, kalau kita berdua maju bersama mengeroyoknya, kukira kita akan dapat mengalahkan dan membunuhnya. Asal engkau mau membantuku dan bersungguh-sungguh. Ingat, kalau dia mati, hubungan kita akan dapat berlanjut tanpa sembunyi-sembunyi lagi, kan?"

Linggajaya balas merangkul. "Baiklah, Lasmini. Kalau engkau yang minta, pasti ku turuti. Betapa sukar dan beratnya, aku akan membantumu sekuat tenaga. Engkau benar, betapa pun saktinya dia, kalau kita maju bersama, kurasa tidak mungkin kita akan kalah."

Demikianlah, dua orang yang tidak merasa bahwa mereka telah melakukan perbuatan yang kotor dan hina itu melanjutkan hubungan gelap mereka. Tidak ada seorangpun di antara para penghuni gedung kepatihan yang menyangka, apa lagi tahu akan hubungan gelap itu, kecuali, tentu saja Sarti pelayan setia dari Lasmini itu. Mereka menanti kembalinya Ki Patih Narotama dan Lasmini juga sering mengadakan kontak rahasia dengan para sekutunya.

Karena Ki Patih Narotama tidak berada di rumah, kesempatan Ini dipergunakan Lasmini bukan saja untuk mengumbar nafsu bejatnya, akan tetapi Juga ia menjadi leluasa untuk mengadakan kunjungan ke istana raja untuk bertemu dan berunding dengan Mandari.

Pada suatu hari Lasmini berkunjung kepada adiknya, Mandari di istana keputren. Mereka berdua mempergunakan kesempatan itu untuk pergi berburu binatang hutan bersama. Tentu saja ini hanya alasan. Sebenarnya mereka berkunjung ke hutan di mana akan diadakan pertemuan rapat antara mereka yang bersekutu memusuhi Sang Prabu Erlangga…..

********************

Pada saat itu juga Narotama sudah mengambil keputusan apa yang harus dia lakukan. Dia sudah mendapat keterangan tentang Nurseta dan dapat mengambil kesimpulan bahwa Nurseta adalah seorang pemuda yang baik. Dan agaknya di Karang Tirta ini dia tidak akan bisa mendapatkan keterangan tentang Sang Megatantra. Akan tetapi yang sudah jelas, sebagai seorang pejabat tinggi kerajaan Kahuripan, sebagai patih yang mewakili raja, dia harus bertindak terhadap seorang pamong praja yang lalim dan sewenang-wenang.

"Lurah Suramenggala, sekarang aku minta andika mengeluarkan tanda memanggil semua penduduk yang berada di dusun ini untuk datang berkumpul di sini. Cepat laksanakan!"

Karena ketakutan, sang lurah memanggil para anak buahnya dengan berteriak lantang, namun tak seorangpun anak buahnya muncul. Ternyata dua belas orang yang tadi merasa telah menghina dan mengeroyok Ki Patih Narotama, sudah melarikan diri pergi dari dusun Karang Tirta karena takut menerima hukuman berat!

Karena tidak seorangpun muncul Ki lurah Suramenggala terpaksa menghampiri sebuah kentungan yang tergantung di depan pendapa lalu menabuh kentungan Itu dengan alat pemukulnya, memberi tanda untuk mengumpulkan penduduk seperti biasanya.

Mendengar bunyi kentungan, semua penduduk Karang Tirta, tua muda, laki-laki perempuan, yang tidak sedang bekerja di ladang luar dusun, berdatangan berbondong-bondong memenuhi halaman kelurahan. Memang kebanyakan dari mereka ingin sekali melihat sang lurah di marahi Gusti Patih dan tadi mereka terpaksa pergi karena disuruh oleh para jagoan anak buah Ki Lurah Suramenggala.

Ketika melihat penduduk dusun memasuki halaman dan tampaknya mereka agak takut-takut sehingga mereka berdiri bergerombol dekat pintu gerbang tidak berani terlalu mendekat pendapa. Narotama lalu bangkit dan melangkah keluar, berdiri di tepi pendopo yang lebih tinggi dari pada tanah halaman itu dan berkata sambil melambaikan tangan.

"Seluruh warga dusun Karang Tirta dipersilakan maju saja semua, jangan takut. Tidak ada yang mengancam andika sekalian. Aku, Ki Patih Narotama, yang menjamin keamanan dan keselamatan andika sekalian. Hayo, maju dan mendekatlah..!"

Mendengar ini, orang-orang itu yang sesungguhnya takut kepada Ki Lurah Suramenggala, menjadi gembira dan timbul keberanian mereka. Dipelopori oleh beberapa orang pemuda, mereka lalu melangkah maju sampai tiba di pendopo. Wajah mereka berseri dan memancarkan harapan agar terjadi perubahan yang baik bagi mereka dalam dusun mereka itu.

Sementara itu, dari ruangan dalam rumah, ketika kentungan dibunyikan bertalu-talu, para keluarga dan pelayan Ki lurah Suramenggala juga bermunculan keluar dan duduk, bergerombol di atas lantai dekat pintu tembusan. Hanya seorang saja di antara para keluarga yang tidak tampak, yaitu Nyi Lasmi, ibu kandung Puspa Dewi.

Wanita ini, yang dulu diambil sebagai selir oleh Ki Lurah Suramenggala dengan bujukan dan ancaman sehingga terpaksa ia mau menjadi selir ki lurah, sebetulnya merasa tersiksa hidupnya. Ia hanya melayani ki lurah atas dasar rasa takut dan melihat sepak terjang lurah yang menjadi suaminya itu sering kali ia merasa tidak suka dan menyesal sekali.

Berbagai tindakan kejam dilakukan suaminya itu terhadap penduduk Karang Tirta. Akan tetapi ia tidak mampu berbuat sesuatu. Juga perlakukan ki lurah terhadap dirinya kasar dan kejam. Baru setelah Puspa Dewi muncul, sikap ki lurah agak berbeda, tidak berani bersikap terlalu kasar, apa lagi kejam kepadanya. Dan di dalam hatinya, Nyi Lasmi juga mulai merasa tidak takut karena ia tahu bahwa suaminya itu takut kepada Puspa Dewi yang kini menjadi seorang gadis sakti.

Mulailah ia sering berani membantah kehendak ki lurah. Tadi ketika melihat munculnya Ki Patih Narotama yang merobohkan para tukang pukul dan memarahi ki lurah, Nyi Lasmi merasa senang, mengharap agar kedatangan ki patih itu akan mengubah watak suaminya dan akan membela kepentingan rakyat Karang Tirta yang selama ini tertindas, dalam ketakutan dan kekurangan.

Maka, ketika ki lurah memanggil semua orang lewat kentungan, diam-diam ia malah keluar dari kelurahan melalui pintu belakang dan dengan jalan memutar kini ia bergabung dengan para penduduk!

Setelah tidak ada yang datang lagi, Ki Patih Narotama mengangkat tangan ke atas dan berdiri di tepi lantai pendapa sambil mengajak ki lurah berdiri di sampingnya. Suara hiruk-pikuk orang penduduk sehingga suasananya seperti dalam pasar itu segera berhenti dan suasana penjadi sunyi. Semua orang memandang kepada ki patih.

"Warga dusun Karang Tirta sekalian! Kami, Ki Patih Narotama dalam hal ini mewakili junjungan kita Sang Prabu Erlangga ingin mengadakan perubahan di dusun Karang Tirta ini yang sesuai dengan keinginan andika sekalian. Oleh karena itu, kami akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada kalian yang hanya membutuhkan jawaban ya atau tidak, atau sekadar mengacungkan tangan, Nah, sekarang kami hendak mengajukan pertanyaan pertama dan kami minta agar yang merasa terkena suka mengacungkan tangannya ke atas. Dengarkan baik-baik. Siapa di antara andika sekalian yang merasa tidak memiliki tanah sejengkal pun?"

Banyak sekali tangan diacungkan keatas, hampir semua. Hanya ada belasan orang yang berdiri di bagian depan yang tidak mengacungkan tangan. Melihat ini, Narotama mengerutkan alisnya dan menoleh kepada ki lurah yang tampak menundukkan mukanya yang basah oleh peluh. Narotama menggapai kepada mereka yang tidak mengacungkan tangan dan berdiri di bagian depan kelompok itu.

"Apakah di antara kalian ada yang suka naik ke sini untuk memberi penjelasan kepada kami? Jangan takut kepada siapa pun, kami, Ki Patih Narotama yang menjamin keselamatanmu. Hayo, siapa yang berani menjadi wakil saudara-saudara sedusun. Maju dan naiklah!"

Mereka saling dorong dan akhirnya seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun maju dan naik anak tangga lalu memberi hormat dengan sembah kepada ki patih. Narotama melihat laki laki ini berwajah cukup terang dan tampaknya selain pemberani juga cerdas.

"Siapa nama andika?" tanya ki patih. "Jawab dengan keras agar semua orang mendengar."

"Nama hamba Pujosaputro."

"Nah, ceritakanlah keadaan penduduk di Karang Tirta ini. Bagaimana sampai hampir semua orang tidak memiliki tanah garapan?"

Pujosaputro menoleh kepada Ki Lurah Suramenggala dan berkata lirih, "Ki Lurah, maafkan kalau saya harus bercerita sejujurnya." Kemudian dia menoleh kepada Ki Patih Narotama dan berkata dengan suara lantang. "Dulu, hampir semua penduduk dusun kami ini mempunyai sebidang tanah, tidak terlalu luas namun hasilnya cukup untuk menghidupi keluarga masing-masing. Lalu beberapa tahun yang lalu datang musim kemarau yang panjang sekali. Tanah tidak menghasilkan apa-apa. Kami beberapa orang yang memiliki simpanan jagung dan gaplek berusaha menolong para saudara yang kekurangan makan, akan tetapi masih juga tidak mencukupi. Lalu Lurah Suramenggala yang mempunyai kelebihan uang, mendatangkan bahan makanan dari daerah lain. Semua penduduk mendapatkan bahan makanan, akan tetapi mereka harus menjual tanah mereka kepada Ki Lurah. Karena itulah maka sebagian besar di antara penduduk kini tidak mempunyai tanah lagi."

"Hemm, begitukah? Dan mereka semua lalu menggarap tanah siapa?"

"Tentu saja menggarap tanah ki lurah gusti patih, dan mereka mendapatkan upah kerja sekadarnya."

"Dan semua hasil panen masuk gudang ki lurah?"

Kembali Pujosaputro mengerling pada ki lurah yang hanya menundukkan muka, lalu menjawab, "Benar begitu gusti."

Narotama mengangguk-angguk. "Pujosaputro, apakah selama ini Ki Lurah Suramenggala menggunakan kekuatan para anak buahnya untuk bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat?"

Ki Pujosaputro meragu. "Ampun, gusti patih. Hamba tidak berani menjawab, tidak enak terhadap ki lurah. Mohon paduka tanyakan saja kepada semua penduduk."

Narotama lalu berseru kepada semua penduduk. "Dengar, warga sekalian. Apakah selama ini Ki Lurah Suramenggala bertindak sewenang-wenang menggunakan para tukang pukulnya, memaksakan kehendaknya terhadap andika sekalian? Kalau tidak, kalian diam saja, kalau benar, angkatlah tangan ke atas."

Serentak semua orang mengangkat tangannya ke atas! Dengan hadirnya Ki Patih Narotama dan melihat Ki Lurah Suramenggala mati kutu dan para tukang pukul juga tidak ada yang muncul, orang orang itu menjadi berani, apa lagi kini mereka berkumpul dan keselamatan mereka dijamin oleh Ki Patih Narotama.

"Baik, sekarang kami yakin bahwa Ki suramenggala memang bertindak sewenang-wenang kepada penghuni dusun Ini. Sekarang, apakah andika sekalian menghendaki lurah dusun ini diganti?"

Kembali semua tangan mengacung keatas. Orang-orang mulai hiruk-pikuk saling bicara sendiri dan rata-rata mereka gembira dan bersemangat. Dengan melambaikan kedua tangannya Narotama minta agar semua orang diam. Dia lalu berkata kepada Ki Suramenggala suaranya lantang dan penuh wibawa.

"Ki Suramenggala, sepatutnya andika ini dihukum karena telah menyalah-gunakan wewenang sehingga andika mencemarkan nama baik semua pamong praja dan kerajaan Kahuripan. Akan tetapi kami hanya menjatuhkan hukuman agar andika sekeluarga pergi dari dusun Karang Tirta dan boleh membawa barang-barang andika. Akan tetapi, semua tanah akan di kembalikan kepada para petani dan semua hutang para petani kepada andika dihapus. Dusun ini akan mendapatkan seorang lurah lain."

Ki Suramenggala mengangkat mukanya dan pandang matanya berkilat, sekilas menatap wajah Narotama penuh kebencian, kemudian dia menyapu para penduduk dengan kilatan matanya sehingga para penduduk menjadi gentar. Akan tetapi Narotama dengan lantang membesarkan hati para penduduk.

"Jangan andika sekalian merasa takut. Lurah baru akan membentuk pasukan keamanan terdiri dari para pemuda sehingga kalau ada yang hendak mengacaukan Karang Tirta, kalian dapat melawannya. Pula, kalau kami mendengar ada pengacau di sini, pasti kami akan datang atau mengirim senopati dengan pasukannya untuk menghukum si pengacau!"

Mendengar ucapan yang lantang dan tegas ini, Ki Lurah atau lebih tepat mantan lurah Suramenggala menundukkan mukanya dan semua orang tiba-tiba bersorak gembira. Sudah terlalu lama mereka merindukan perubahan nasib mereka yang tertindas dibawah tangan besi Ki Suramenggala. Kini, KI Suramenggala dicopot dari kedudukanya, bahkan tanah mereka yang dibeli secara paksa oleh Ki Suramenggala karena mereka membutuhkan makan di waktu paceklik, kini dikembalikan begitu saja kepada mereka. Juga mereka yang masih terikat hutang oleh Ki Suramenggala kini telah bebas! Muncul harapan baru bagaikan sinar matahari pagi di hati para penduduk.

"Nah, Ki Suramenggala, berkemaslah dengan keluarga mu dan hari ini juga andika harus meninggalkan Karang Tirta." kata Narotama kepada mantan lurah yang mukanya berubah pucat itu.

Ki Suramenggala mengangkat muka memandang kepada Narotama dengan sinar mata berapi, penuh kebencian. Kemudian, di bawah hiruk-pikuk suara orang-orang yang saling bicara dengan gembira, dia berkata lirih dan hanya terdengar oleh Narotama, bahkan Ki Pujosaputro yang berdiri pula di tepi pendopo itu tidak mendengarnya karena dia asyik memperhatikan kegembiraan penduduk Karang Tirta.

"Ki patih, karena paduka patih dan saya lurah, maka terpaksa saya menaati keputusan paduka. Akan tetapi, harap diingat bahwa saya tidak akan melupakan penghinaan ini. Tunggulah pembalasan anak-anakku kelak!"

Setelah berkata demikian, Ki Suramenggala dengan muka berubah merah karena marah sudah meninggalkan pendapa itu dan masuk kedalam rumah, diikuti oleh semua keluarganya yang tadi duduk di lantai pendapa. Dengan hati yang sakit dan dendam, Ki Suramenggala lalu mengajak semua keluarganya, kecuali Nyi Lasmi karena selirnya ini ikut bergembira dengan penduduk dan tidak kembali lagi ke dalam rumah, untuk pergi meninggalkan gedung kelurahan melalui pintu belakang dan boyongan keluar dari dusun Karang Tirta. Barang-barang berharga mereka bawa semua dengan gerobak, juga ternak mereka, kuda dan sapi mereka bawa serta. Mereka meninggalkan gedung kelurahan dengan prabot-prabot rumahnya.

Sementara itu, Narotama melanjutkan usahanya untuk mengatur agar dusun Karang Tirta menjadi sebuah dusun yang penghuninya hidup tenteram dan tenang, tidak ada penindasan, dipimpin oleh seorang lurah yang baik dan yang membawa penduduk ke dalam kehidupan yang lebih sejahtera dan bergotong royong sebagaimana layaknya kehidupan di dusun sejak jaman nenek moyang mereka dahulu. Dia mengangkat kedua tangan minta agar semua orang diam. Setelah keadaaan menjadi tenang, Narotama bertanya.

"Sekarang kami hendak bertanya, apakah kalian bersedia sekarang untuk memilih dan mengangkat seorang lurah baru. Kalau bersedia, harap angkat tangan tanda setuju!"

Semua orang mengacungkan tangan dan ada yang berteriak-teriak lantang "Setujuuuu..!"

"Baik, kalau andika sekalian setuju, pilihlah seorang di antara kalian untuk menjadi lurah baru di dusun ini!"

Bagaikan sekumpulan burung, terdengar mereka menyebutkan nama seseorang, "Ki Pujosaputro..!"

Narotama tersenyum. Ki patih ini memiliki batin yang selalu dekat dengan Sang Hyang Widhi sehingga dia memiliki kepekaan yang amat halus. Tadi begitu melihat Ki Pujosaputro, dia sudah merasa suka kepada orang ini.

"Dengarkan semua! Kami mendengar seruan nama Ki Pujosaputro? Benarkah andika sekalian memilih Ki Pujosaputro sebagai lurah kalian yang baru? Kalau benar, acungkan tangan!"

Semua orang bersorak sambil mengacungkan tangan mereka. Ki Pujosaputro sendiri yang berdiri di pendopo segera mendekati Ki Patih Narotama dan berkata dengan muka kemerahan.

"Aduh, Gusti Patih! Hamba... hamba seorang yang bodoh dan lemah, bagaimana mungkin dapat menjadi seorang lurah yang baik? Mohon paduka memilih lain orang saja."

Narotama tersenyum kepadanya. "Justru ucapan penolakan mu ini yang meyakinkan hati kami bahwa andika adalah orang yang tepat untuk menjadi lurah yang baik hati untuk dusun ini. Bukan orang pintar dan kuat yang kami butuhkan, melainkan orang yang rendah hati dan baik budi."

Narotama melihat Ki Wirodipo, orang pertama yang dia jumpai ketika memasuki dusun Karang Tirta, dan yang dia titipi kudanya, berdiri di bagian depan kelompok penduduk dusun itu. Narotama menggapai kepada Ki Wirodipo dan berkata, "Paman Wirodipo, naiklah ke sini, kami hendak bertanya kepada andika."

Ki Wirodipo tergopoh-gopoh naik pendapa dan begitu tiba di depan Narotama dia lalu sungkem dan menyembah "Ampunkan hamba, sama sekali hamba tidak tahu bahwa paduka adalah Gusti Patih..."

"Bangkitlah, Paman Wirodipo dan jawab pertanyaanku dengan suara nyaring agar semua orang dapat mendengarkan. Coba ceritakan tentang keadaan diri Ki Pujosaputro ini. Andika mengenalnya bukan?"

Ki Wirodipo bangkit berdiri dan dengan muka berseri dia memandang kepada Ki Pujosaputro lalu menjawab dengan suara lantang. "Tentu saja hamba mengenal Ki Pujosaputro. Sejak kecil dia tinggal di dusun ini dan dia adalah seorang yang mewarisi sawah ladang yang luas. Ki Pujosaputro inilah yang mengajak para penduduk yang mampu untuk membantu penduduk yang kekurangan. Kalau tidak ada Ki Pujosaputro dan teman-temannya, hamba semua tentu semakin payah di bawah tekanan Ki Suramenggala. Karena itulah, Gusti Patih, maka hamba sekalian memilih Ki Pujosaputro untuk menjadi lurah Karang Tirta yang baru."

Narotama lalu menghadapi Ki Pujosaputro dan berkata, "Ki Pujosaputro, kami harap andika tidak menolak lagi karena andika telah dipilih oleh semua penduduk Karang Tirta."

"Ampun, Gusti Patih, bagaimana hamba dapat melaksanakannya?"

"Itu dapat diatur nanti, kami akan memberi petunjuk."

Setelah berkata demikian dan melihat Ki Pujosaputro tidak memperlihatkan sikap menolak lagi, Narotama lalu menghadapi para penduduk dan berkata dengan lantang.

"Kami sebagai Patih Kahuripan mewakili Gusti Sinuwun mengangkat Ki Pujosaputro sebagai lurah dusun Karang Tirta, sesuai dengan keinginan semua penduduknya. Semua pengembalian tanah kepada pemiliknya dahulu akan diatur dengan tertib oleh Ki Lurah Pujosaputro yang akan dibantu oleh Ki Wirodipo dan para pembantu lain yang akan dipilih dan ditunjuk oleh Ki Lurah Pujosaputro. Sekarang, andika sekalian harap kembali ke pekerjaan masing masing."

Orang-orang itu bersorak sorai dan berlarian meninggalkan halaman kelurahan itu. Halaman itu sebentar saja kosong dan hanya tinggal seorang yang tinggal situ, seorang wanita berusia kurang lebih tiga puluh tujuh tahun dan wanita itu mendeprok di atas tanah sambil menangis.....
Bagikan cersil ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊

0 Response to "Sang Megatantra Jilid 38"

Post a Comment