close

Sang Megatantra Jilid 37

Kho Ping Hoo
-------------------------------
----------------------------
Senopati Sindukerta dan Nurseta lalu digiring empat orang pengawal, dibawa ke penjara istana yang berada di belakang bangunan istana.

Dengan hati kesal Sang Prabu Erlangga lalu membubarkan persidangan. Ki Patih Narotama pulang ke kepatihan dengan hati berat. Dia hampir merasa yakin bahwa Nurseta dan Senopati Sindukerta tidak berbohong. Pantasnya Pangeran Hendratama yang berbohong. Akan tetapi menyelidiki dan mencari kesalahan pangeran itu, hatinya merasa tidak enak terhadap Permaisuri Pertama yang tentu saja berpihak kepada pangeran kakaknya itu.

Pangeran Hendratama dan tiga orang selirnya juga pulang. Hatinya risau karena ternyata kenyataan dalam persidangan itu tidak seperti yang dia harapkan. Nurseta dan Senopati Sindukerta tidak dijatuhi hukuman berat, melainkan hanya ditahan untuk sementara dan Ki Patih Narotama ditugaskan untuk menyelidiki siapa yang benar dan siapa yang salah.

Tentu saja hatinya risau. Kalau sampai dapat dibuktikan bahwa dia mencuri Sang Megatantra, pasti dia akan mendapatkan hukuman berat dari adik tirinya, Sang Permaisuri tidak akan mampu menyelamatkannya. Pula, dia tahu benar bahwa sebetulnya tidak ada hubungan dekat antara dia dan Sang Permaisuri, bahkan di antara mereka ada rasa tidak suka yang timbal balik.

Dia merasa iri dan tidak suka kepada adik tirinya itu dan tentu saja di lain pihak, Sang Permaisuri juga tidak suka kepadanya. Kalau Sang Permaisuri membelanya dalam persidangan, hal itu adalah karena bagaimana pun juga dia adalah kakaknya dan kalau kakaknya dinyatakan bersalah, tentu adiknya akan ikut merasa malu.

Sementara itu, setelah persidangan usai, Sang Prabu Erlangga lalu mengeram diri dalam sanggar pamujan (ruangan berdoa) untuk duduk bersemedhi dan mohon petunjuk kepada Sang Hyang Widhi dan mohon agar kerajaan Kahuripan terbebas dari ancaman bahaya seperti yang pernah diramalkan oleh Empu Bharada…..

********************

Kita tinggalkan dulu dua orang puteri yang tiada hentinya berusaha untuk menghancurkan kekuasaan Sang Prabu Erlangga itu dan kita ikut perjalanan Ki Patih Narotama yang hendak menyelidiki tentang keris pusaka Sang Megatantra, siapa sesungguhnya yang menemukan dan siapa pula yang mencurinya agar dapat diketahui siapa yang kini menguasainya.

Ki Patih Narotata melakukan perjalanan seorang diri menuju dusun Karang Tirta. Dalam perjalanan ini, tidak ada yang mengenalnya karena seperti biasa kalau melakukan tugas penyelidikan seorang diri, Narotama tidak mengenakan pakaian kebesaran, menunggang kereta atau kuda dan dikawal sepasukan perajurit seperti seorang patih. Dia melakukan perjalanan menunggang kuda dengan pakaian biasa sehingga orang akan mengira bahwa dia hanya seorang laki-laki gagah berusia sekitar tiga puluh dua tahun dengan pakaian biasa, sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia seorang bangsawan.

Setelah tiba di dusun Karang Tirta, Narotama segera bertanya-tanya dimana dan siapa yang menjadi lurah dusun itu. Dia mendapat keterangan bahwa lurahnya adalah Ki Suramenggala. Karena hari masih pagi dan dia ingin berkunjung kepada lurah itu dalam keadaan menyamar sebagai orang biasa, maka dia hendak menunggu sampai saat yang pantas untuk berkunjung ke rumah orang.

Ketika dia melewati sebuah rumah sederhana dan seorang laki-laki berusia sekitar enam puluh tahun tampak menyapu daun-daun kering di halaman rumah yang ditumbuhi pohon nangka, Narotama menghentikan kudanya, lalu menuntun kuda memasuki halaman rumah itu. Pemilik rumah yang sedang menyapu itu menghentikan kegiatannya dan memandang Narotama dengan heran karena dia merasa tidak mengenal tamu yang memasuki halaman rumahnya sambil menuntun kuda itu.

Sebagai seorang dusun yang sederhana dan miskin, dalam anggapannya, kalau orang sudah memiliki seekor kuda dan pakaiannya juga tidak seperti petani biasa walau pun pakaian itu tidak mewah, tentu seorang priyayi atau seorang kota yang derajatnya lebih tinggi dari pada penduduk dusun. Maka orang itu melepaskan sapunya dan menyambut kedatangan Narotama dengan sikap hormat dan membungkuk-bungkuk. Melihat sikap orang itu, Narotama cepat memberi salam dengan suara lembut dan sikap ramah.

"Permisi, paman, maafkan kalau saya mengganggu kesibukan paman."

Orang itu tersenyum polos, agaknya senang melihat sikap dan mendengar kata-kata yang lembut dan ramah itu.

"Ah, tidak denmas, sama sekali tidak mengganggu. Ada keperluan apakah, denmas, maka andika sudi berkunjung ke gubuk saya ini?"

"Nanti dulu, paman. Sebelumnya saya ingin mengetahui, apakah paman sudah lama tinggal di dusun Karang Tirta ini?"

"Wah, sudah lama sekali, denmas. Sejak muda bersama isteri saya, sampai isteri saya meninggal... hemm, berapa lama, ya? Pergantian lurah sudah tiga kali, yang terakhir sampai sekarang lurahnya Ki Suramenggala, sudah hampir dua puluh tahun jadi lurah di sini. Dan sebelum itu... hemm, paling tidak sudah tiga puluh tahun saya tinggal di dusun ini."

Girang rasa hati Narotama. "Kalau begitu, saya berhadapan dengan orang yang tepat, paman. Perkenalkan, nama saya... Tama dan saya datang dari kota raja. Saya ingin bertanya kepada paman tentang keadaan dusun ini belasan tahun yang lalu."

"Wah, dengan senang hati, denmas Tama. Mari, silakan masuk, kita bicara di dalam."

Narotama menambatkan kudanya pada batang pohon, lalu berkata, "Terima kasih, paman..."

"Wirodipo nama saya, denmas. Mari silakan."

Mereka memasuki pondok sederhana dan Narotama dipersilakan duduk di atas bangku. Mereka duduk berhadapan terhalang sebuah meja yang kasar buatannya. Narotama melihat betapa isi rumah itu pun amat sederhana, namun cukup bersih.

"Nah, denmas Tama, tanyakan apa saja yang andika ingin ketahui. Saya akan menceritakan apa yang saya tahu,."

"Sebelumnya, terima kasih banyak, paman Wirodipo Saya ingin bertanya tentang diri seorang yang dulu tinggal di dusun ini, yang bernama Nurseta. Apakah paman mengenalnya?"

Wirodipo mengerutkan alisnya, mengingat-ingat. Lalu matanya bersinar, wajahnya menjadi cerah.

"Ah..., dia? Tentu saja saya tahu, bahkan belum lama ini dia membikin geger dusun ini!"

Tentu saja Narotama menjadi tertarik sekali. "Ceritakan tentang dia, paman. Saya ingin sekali mengetahuinya."

"Saya tidak mengenal baik orang tuanya, hanya tahu bahwa ayahnya bernama Dharmaguna dan isterinya yang cantik, saya lupa lagi namanya. Mereka tinggal di sini beberapa tahun, akan tetapi pada suatu hari suami isteri itu meninggalkan Nurseta begitu saja, entah ke mana. Kalau tidak salah ketika itu Nurseta berusia kurang lebih sepuluh tahun. Anak itu rajin, bekerja di mana saja, tadinya membantu Ki Lurah Suramenggala dan selanjutnya mencari makan dengan membantu para petani di sini. Ketika berusia belasan tahun dia menghilang. Saya tidak melihat sendiri kejadian itu, akan tetapi orang-orang menceritakan Nurseta pergi bersama seorang kakek sakti. Kabarnya, kakek itu membuat Ki Lurah Suramenggala dan anak buahnya lumpuh ketika mereka hendak memukul Nurseta dan kakek itu. Kemudian mereka berdua pergi entah ke mana."

Narotama menduga bahwa kakek yang membawa pergi Nurseta itu tentu Empu Dewamurti.

"Apakah andika mengetahui siapa kakek yang membawa pergi Nurseta itu. Paman Wirodipo?"

"Saya sendiri tidak pernah bertemu dengan kakek sakti itu, denmas. Akan tetapi ada beberapa orang yang pernah bertemu dan mereka mengatakan bahwa kakek itu adalah seorang sakti yang bertapa di tepi pantai Laut Kidul dan pernah menolong orang-orang yang sakit dengan memberi jamu yang mujarab sekali."

"Apakah andika pernah mendengar bahwa Nurseta itu telah menemukan sebatang keris pusaka yang disebut Sang Megatantra?"

Ki Wirodipo mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala.

"Saya tidak tahu dan tidak pernah mendengarnya, denmas."

Dalam hatinya, Narotama merasa kecewa. justru yang terpenting baginya adalah keterangan mengenai Sang Megatantra, akan tetapi kakek ini tidak mengetahuinya.

"Hemm, lalu bagaimana selanjutnya? Tadi andika mengatakan bahwa belum lama ini Nurseta membikin geger dusun ini. Apa yang telah terjadi?"

"Saya juga hanya mendengar saja cerita orang-orang, denmas. Menurut cerita mereka, Nurseta, setelah pergi kurang lebih lima tahun dan sekarang telah dewasa, muncul di rumah Ki Lurah Suramenggala dan kabarnya dia mengamuk, merobohkan para jagoan ki lurah, bahkan mengancam Ki Lurah Suramenggala. Kemudian muncul putera ki lurah dan juga puteri tiri ki lurah. Kedua orang muda ini setelah menghilang kurang lebih lima tahun juga pulang dan telah menjadi orang-orang sakti. Nurseta dikeroyok oleh Denmas Linggajaya dan Masayu Puspa Dewi sehingga melarikan diri."

"Siapa nama anak-anak Ki Lurah Suramenggala itu?"

"Denmas Linggajaya adalah anak kandung ki lurah, sedangkan Masayu Puspa Dewi adalah anak tirinya."

Narotama termenung, diam-diam dia merasa heran. Dia pernah bertemu dengan Puspa Dewi, gadis yang mengaku sebagal murid Nyi Dewi Durgakumala dan yang menyerangnya karena perintah gurunya, akan tetapi dia dapat menyadarkan gadis itu yang dia tahu dasarnya tidak jahat. Dan Ki Patih Narotama semakin heran mendengar nama Linggajaya. Tadinya dia hanya merasa seperti pernah mendengar nama ini. Kemudian setelah teringat, dia terkejut.

Bukankah juru taman kepatihan yang baru itu, yang diusulkan oleh Lasmini dan katanya pemuda itu saudara misan Sarti pelayan Lasmini, juga bernama Linggajaya? Kalau benar demikian, mengapa putera seorang lurah, juga yang menurut Ki Wirodipo telah menjadi seorang pemuda sakti, mau menjadi tukang kebun? Tentu saja timbul kecurigaan dalam hatinya. Apakah yang tersembunyi di balik semua itu? Dia teringat Puspa Dewi.

Gadis itu memusuhinya karena terpaksa untuk mentaati pesan gurunya, Nyi Dewi Durgakumala yang memang memusuhinya dan memusuhi Kahuripan. Lalu apa yang mendorong Linggajaya menyusup ke kepatihan? Mereka berdua itu anak-anak Ki Lurah Sura menggala! Dia harus menyelidiki keadaan lurah itu. Mungkin di sana dia akan menemukan jawabannya.

"Terima kasih, paman. Keteranganmu itu amat berguna bagi saya. Sekarang saya ingin bertanya tentang keluarga Ki Lurah Suramenggala itu, yaitu tentang anak-anaknya."

"Anak kandungnya hanya seorang denmas Linggajaya itulah yang sekarang sudah dewasa, sekitar dua puluh satu tahun usianya. Selain denmas Linggajaya, ki lurah juga mempunyai seorang anak tiri, yaitu Masayu Puspa Dewi, setelah ibu gadis itu, seorang janda diambil selir oleh ki lurah. Selain mereka berdua Ki Lurah Suramenggala tidak mempunyai anak lain."

"Bagaimana watak anak-anaknya itu?"

"Hemm, denmas Linggajaya itu ketika kecilnya terkenal nakal sekali, mungkin karena mengandalkan kedudukan orang tuanya. Entah sekarang setelah dewasa karena sejak pulang dan menjadi orang sakti, dia hanya sebentar berada di sini lalu pergi lagi. Ada pun Masayu Puspa Dewi yang juga berasal dari dusun ini, sejak kecil wataknya baik sekali. Ibunya juga seorang janda yang lemah lembut dan baik. Setelah Masayu Puspa Dewi hilang, kabarnya diculik orang, ibunya diambil sebagai selir oleh ki lurah. Kini Masayu Puspa Dewi juga telah menjadi seorang gadis sakti dan saya tidak tahu bagaimana wataknya sekarang."

Narotama mengangguk-angguk. Puspa Dewi masih menjadi seorang gadis yang baik budi, walau pun ia menjadi murid seorang datuk wanita yang sesat.

"Dan bagaimana dengan Nurseta sendiri? Ketika dia masih tinggal di sini, bagaimana wataknya?"

"Wah, kalau dia anaknya rajin dan baik, denmas. Semua orang di dusun ini menyukainya. Bayangkan, dia pernah membantu saya mengerjakan ladang saya dan karena tahu bahwa saya bukan orang kaya, dia sudah puas hanya mendapatkan makan sebagai upahnya. Dia tidak mengharapkan upah lainnya lagi."

Narotama mengangguk-angguk. Seorang pemuda dengan watak sebaik itu tidak mungkin mencuri keris pusaka Sang Megatantra!

"Terima kasih, Paman Wirodipo. Sekarang saya hendak menitipkan kuda saya di sini, apakah andika tidak keberatan? Nanti kalau sudah selesai urusan saya, saya akan mengambilnya."

"Oh, tentu saja, denmas. Biar di halaman depan, nanti akan saya beri rumput dan minum."

Setelah mengucapkan terima kasih, Narotama lalu meninggalkan rumah Ki Wirodipo dengan jalan kaki. Ki Wirodipo memang tidak dapat memberi keterangan sedikitpun juga tentang Sang Megatantra, akan tetapi mungkin di rumah Ki Lurah Suramenggala dia akan bisa mendapatkan keterangan tentang keris pusaka itu. mudah saja bagi Narotama untuk menemukan rumah Ki Lurah Suramenggala.

Rumah itu tampak mencolok karena berbeda jauh dari rumah-rumah lain. Tampak besar dan megah untuk ukuran dusun Itu. Di dekat pintu gerbang pagar tembok yang mengelilingi gedung itu, terdapat lima orang penjaga keamanan yang bertubuh tegap dan berwajah bengis. Diam-diam Narotama merasa heran. Kalau rumah seorang lurah dusun dijaga orang-orang yang lagaknya seperti tukang pukul ini, hal itu hanya menunjukkan bahwa hubungan antara lurah itu dan penghuni dusun tidak akrab.

Seorang lurah diharapkan untuk menjadi bapak dari rakyatnya yang mengatur dan melayani rakyatnya, menjadi panutan dan sumber pertolongan. Bukan menjadi penguasa yang galak dan sewenang-wenang, yang ditakuti rakyat dan yang memelihara para tukang pukul untuk menakut nakuti rakyat dan untuk memaksakan kehendaknya sebagai penguasa.

Lurah yang begini pasti bukan lurah yang baik. Dari keadaan di pintu gerbang kelurahan ini saja Narotama sudah dapat menilai lurah macam apa adanya Ki Suramenggala!

Dengan langkah tenang Narotama memasuki pintu gerbang kelurahan itu. Baru saja kakinya melangkahi ambang pintu, seorang penjaga keluar dari gardu penjagaan dan membentaknya.

"Hei, berhenti! Siapa engkau yang begini lancang memasuki tempat ini tanpa melapor lebih dulu kepada kami?"

Narotama memandang penjaga yang tubuhnya besar perutnya gendut itu, melihat betapa orang yang usianya sekitar empat puluh tahun itu memandang kepadanya dengan mata melotot lebar.

"Ini rumah Ki Lurah Suramenggala lurah dusun Karang Tirta ini, bukan?" tanyanya.

"Kiranya engkau sudah tahu? Orang asing, engkau tidak tahu aturan! Untuk masuk kelurahan, harus melapor dulu kepada kami, tahu?"

"Hemm, setahuku kelurahan adalah kantor lurah yang melayani semua keperluan penduduk dan karenanya terbuka bagi umum. Aku tidak tahu bahwa di sini aturannya lain."

"Cukup, jangan banyak rewel. Hayo masuk gardu dan membuat laporan tentang dirimu, tempat tinggalmu dan apa keperluanmu masuk ke kelurahan ini! " bentak orang kedua yang kumisnya tebal.

Diam-diam Narotama marah, akan tetapi kebijaksanaan mengingatkannya bahwa ulah dan sikap para penjaga ini hanya merupakan pencerminan sikap sang lurah. Kalau atasannya brengsek, sukar mengharapkan bawahannya baik. Kebaikan harus dimulai dari atasan karena atasan merupakan tauladan bawahan. Kalau atasannya benar, tentu bawahan tidak akan berani bertindak melanggar kebenaran karena akan dihantam atasan. Jadi, para penjaga ini hanya mencontoh saja sikap atasannya, yaitu Ki Lurah Suramenggala.

Narotama memasuki gardu. Seorang yang bertubuh pendek gendut, kepalanya botak, bertanya sambil lalu dan pandang matanya merendahkan.

"Siapa namamu?"

"Nama saya Tama."

"Dari mana?"

"Dari kota raja."

Si gendut itu memandang dengan alis berkerut dan sinar mata menyelidik ketika mendengar bahwa orang itu datang dari kota raja.

"Mau apa engkau datang ke sini?"

"Aku ingin bertemu dan bicara dengan Ki Lurah Suramenggala."

"Bicara tentang apa?"

Narotama menggeleng kepalanya. "Tidak ada urusannya dengan kalian, hanya Ki Lurah Suramenggala yang berhak mendengar apa yang akan kubicarakan."

"Huh! Tidak ada orang boleh menghadap yang mulia Bapak Lurah sebelum melaporkan apa yang akan dibicarakan kepada kami!" bentak si gendut pendek kepada Narotama.

"Juga engkau harus membayar biaya laporan ini. Hayo keluarkan berapa uang yang kau miliki dan serahkan kepada kami!" kata yang berkumis tebal.

Narotama mengambil sebuah kantung dari pinggangnya dan membuka kantung yang berisi beberapa potong emas itu. Lima orang itu terbelalak.

"Serahkan itu kepada kami dan kami akan melaporkan kedatanganmu kepada Bapak Lurah!" kata si gendut sambil bangkit berdiri dan menjulurkan tangan untuk merampas kantung di tangan Narotama itu.

Narotama cepat menyimpan kembali kantungnya lalu berkata. "Kalau begitu biar aku langsung masuk saja menemui Ki Lurah Suramenggala " Dia melangkah keluar dari gardu dan menuju ke pendapa kelurahan.

"Hei, keparat! Kawan-kawan, tangkap dia!" bentak si pendek gendut kepada empat orang rekannya.

Mereka berhamburan keluar mengejar Narotama. Ki Patih Narotama yang sudah kehilangan kesabarannya, berhenti melangkah dan memutar tubuh menghadapi lima orang yang menyerbu dan menerjang hendak menangkap dan meringkusnya itu. Kedua tangan Narotama bergerak seperti kilat menyambar lima kali dan tubuh lima orang itu berpusing lalu roboh terbanting ke atas tanah. Masih untung bagi mereka karena Narotama membatasi tenaganya sehingga mereka hanya menderita pipi bengkak dan gigi rontok saja.

Akan tetapi dasar orang-orang kasar yang biasanya mengagulkan diri sendiri dengan keroyokan, lima orang itu bangkit dan mencabut senjata mereka dari pinggang, yaitu golok yang tajam mengkilap. Bagaikan lima ekor anjing mereka melompat dan menggerakkan golok mereka membacok ke arah tubuh Narotama. Narotama mendahului gerakan mereka. Kakinya mencuat dan lima kali kedua kakinya secara bergantian menendang. Kini tubuh lima orang itu terpental dan jatuh berdebuk di atas tanah. Sekali ini mereka dihantam tenaga yang lebih kuat lagi sehingga sejenak mereka tidak mampu bangkit, hanya mengaduh-aduh dengan kepala pening dan dada sesak.

Suara gaduh di luar itu memancing munculnya Ki Suramenggala dengan tujuh orang pengawal lain. Dia terkejut sekali melihat seorang pemuda berdiri di tengah halaman dan lima orang anak buahnya bergelimpangan tidak mampu bangkit. Segera dia dapat menduga apa yang terjadi. Tentu lima orang penjaga itu berkelahi melawan pemuda itu dan dirobohkan. Ki Suramenggala yang juga sudah terbiasa ditakuti dan ditaati orang, melihat bahwa pemuda itu hanya seorang biasa berusia tiga puluh tahun lebih, menjadi marah dan memandang rendah. Dia berseru kepada tujuh orang pengawalnya.

"Tangkap pengacau itu atau bunuh dia!"

Tujuh orang itu mencabut golok masing-masing. Mereka tidak perlu bertanya-tanya lagi. Perintah Ki Lurah Suramenggala sudah jelas. Pengacau harus dibunuh! Maka, mereka bertujuh segera berlompatan ke depan dan mengepung Narotama. Ternyata mereka adalah pengawal-pengawal pribadi ki lurah yang tentu saja lebih tangguh dibandingkan lima orang penjaga tadi. Mereka bergerak mengitari Narotama dengan gerak silat, kemudian dikomando yang diisyarat kan pemimpin mereka, tujuh orang itu serentak menyerang!

Untung bagi tujuh orang itu bahwa Narotama sudah memiliki tenaga batin yang amat kuat, sehingga dia mampu mengatasi kemarahannya dengan mengingat bahwa mereka itu hanya memenuhi perintah ki lurah. Menghadapi serangan yang sesungguhnya amat berbahaya bagi orang lain itu, Narotama segera mengerahkan tenaga saktinya lalu menggerakkan kedua tangan dengan tenaga mendorong sambil memutar tubuhnya. Hebat sekali dorongan kedua tangan yang mengandung tenaga sakti amat kuat itu. Tujuh orang penyerang itu terpental ke belakang dan terjengkang sehingga terbanting kuat. Mereka roboh dan tidak dapat segera bangkit kembali karena kepala terasa pening dan napas menjadi sesak!

Melihat ini, Ki Lurah Suramenggala terkejut bukan main dan dia masih hendak menggertak seperti yang sudah biasa dia lakukan kepada para penduduk dusun.

"Heh, penjahat dari mana engkau, berani membikin kacau di kelurahan? Sikapmu Ini berarti pemberontakan terhadap pamong praja!"

Narotama marah sekali. Dengan sekali lompat dia sudah tiba dekat sang lurah, lalu menangkap tubuh lurah itu dengan tangan kanan, mengangkatnya ke atas dengan ringan saja lalu membantingnya.

"Bresss..!"

Ki Lurah Suramenggala mengaduh, pinggulnya terasa nyeri sekali karena terbanting ke atas lantai dan dia mencoba untuk merangkak bangun sambil berteriak-teriak, "Tolooongg... toloongg... perampok..!"

Narotama menjadi semakin marah. Dicengkeramnya tengkuk baju Ki Lurah Suramenggala dan ditariknya sehingga berdiri. Dasar lurah yang terbiasa menindas dan merendahkan orang lain, mengandalkan kekuasaan dan kekuatan yang dimilikinya, Lurah Suramenggala masih belum mau tunduk. Dia malah membentak marah.

"Awas kau, jahanam keparat! Kalau kedua anakku, Linggajaya dan Puspa Dewi pulang dan ku beritahukan kejahatanmu ini kepada mereka, lihat saja, mereka akan mencabik-cabik tubuhmu!"

Pada saat itu, tertarik oleh teriakan Ki Lurah Suramenggala, banyak penduduk dusun datang berlarian dan memenuhi halaman kelurahan. Juga isteri dan para selir lurah, termasuk Nyi Lasmi, janda Ibu kandung Puspa Dewi yang kini menjadi selir ki lurah, berlarian keluar dan terkejut melihat ki lurah dicengkeram tengkuk bajunya oleh seorang pemuda gagah.

Para tukang pukul yang tadi telah dirobohkan Narotama, sebanyak dua belas orang, juga petantang-petenteng mengepung dengan golok di tangan, seolah mereka itu menguasai keadaan dan mengancam Narotama, padahal tak seorangpun dari mereka berani menyerang orang yang mereka ketahui sakti mandraguna itu.

"Lurah Suramenggala!" bentak Narotama dengan suara menggeledek sehingga terdengar oleh semua orang, termasuk yang berada di jalan depan halaman rumah kelurahan itu.

"Sudah butakah matamu? Lihat baik-baik, siapa orang yang engkau perhina dengan makian makian mu tadi! Lihat, tidak kenalkah engkau kepadaku?"

Lurah Suramenggala terbelalak, mengamati wajah Narotama. Tiba-tiba wajahnya menjadi pucat sekali. Kalau tadi dia tidak mengenal Narotama, hal itu tertutup kecongkakannya melihat laki-laki itu berpakaian seperti orang biasa. Dia sudah beberapa kali sowan (menghadapi Sribaginda) di kota raja dan beberapa kali melihat Ki Patih Narotama. Maka, setelah kini dia mendengar suara yang amat berwibawa itu dan mengamati wajah itu dengan seksama, baru dia mengenal siapa orang yang tadi dia maki-maki.

"A... aduhh... paduka... paduka... Gusti Patih Narotama..!"

Ketika Narotama melepaskan cengkeramannya Ki Lurah Suramenggala lalu menjatuhkan diri berlutut dan menyembah-nyembah.

"Ampun... mohon beribu ampun, Gusti Patih... hamba... hamba tidak tahu... bahwa paduka yang datang berkunjung..."

Mendengar ini, semua keluarganya, juga para tukang pukul, terkejut setengah mati. Terutama para tukang pukul yang mengeroyok Narotama. Mereka semua segera menjatuhkan diri berlutut dan dua belas orang tukang pukul itu menggumamkan permohonan ampun berulang kali.

"Semua mundur, biarkan aku bicara berdua dengan Lurah Suramenggala!" kata Narotama dengan suara berwibawa.

Mendengar ini, semua keluarga lurah itu memasuki rumah dan dua belas orang jagoan keluar dari pendapa, lalu menyuruh semua orang yang berkerumun di halaman untuk meninggalkan tempat itu. sebentar saja pendapa rumah itu menjadi sepi, hanya tinggal Narotama yang masih berdiri tegak dan Ki Lurah Suramenggala yang masih berlutut di depannya.

"Nah, ki lurah, bangkit dan duduklah. Mari kita bicara. Ada beberapa pertanyaan yang ingin kuajukan dan kuminta anda menjawabnya dengan sejujurnya." kata Narotama dengan suara keren.

Ki Luran Suramenggala yang sudah mati kutu itu menurut, bangkit dan mempersilakan Narotama duduk di atas kursi yang berada di pendapa itu. Dia hendak duduk bersila di atas lantai, di depan Narotama, akan tetapi ki patih itu melarangnya.

"Duduklah di kursi itu agar kita dapat bicara dengan leluasa."

Ki Suramenggala tidak berani membantah lalu duduk di atas kursi berhadapan dengan kt patih, terhalang sebuah meja marmer.

"Ki lurah, aku ingin engkau menceritakan tentang seorang yang bernama Nurseta yang pernah tinggal di dusun ini Apa yang kau ketahui tentang dia?"

Diam-diam Ki Lurah Suramenggala terkejut. Kenapa ki patih tiba-tiba datang bertanya tentang Nurseta?

"Nurseta..? Ah, tentu saja, gusti patih. Hamba tahu siapa bocah itu!"

"Hemm, begitukah?" Narotama menatap tajam wajah lurah yang dari suaranya jelas menunjukkan rasa bencinya terhadap Nurseta. "Ceritakan sejujurnya apa yang andika ketahui tentang dia”.

"Dia itu anak pasangan suami istri yang menjadi buronan, dan ketika Nurseta berusia lima tahun, ayah ibunya melarikan diri karena ketahuan oleh Senopati Sindukerta yang mencari mereka. Nurseta ditinggalkan di dusun ini. Kalau tidak ada hamba yang memeliharanya, tentu anak itu akan kapiran dan mungkin mati kelaparan, gusti patih."

"Hemm, kenapa mereka ketakutan dan dicari Senopati Sindukerta?"

"Karena Dharmaguna, ayah Nurseta Itu, melarikan puteri Senopati Sindukerta yang menjadi ibu kandung Nurseta, dan Senopati Sindukerta mencari mereka, tentu untuk menghukum Dharmaguna yang membawa minggat puterinya."

"Lalu bagaimana dengan Nurseta?"

"Hamba memeliharanya sampai besar. Akan tetapi dasar anak buronan yang tidak mengenal budi, ketika berusia sekitar enam belas tahun dia minggat, tak seorangpun mengetahui dia pergi kemana. Kemudian, baru beberapa bulan yang lalu ini dia muncul kembali dan... ah, dasar anak orang jahat, anak setan itu..." ,

"Cukup! Hentikan maki-makianmu yang kotor itu dan ceritakan saja apa yang terjadi!" Narotama membentak. Ki Lurah Suramenggala terkejut sekali dan menyembah.

"Ampun, gusti patih. Anak itu malam-malam datang dan hendak membunuh hamba!"

"Hemm, aneh. Kenapa dia hendak membunuhmu?"

"Hamba juga tidak tahu. Dia bertanya kepada hamba dimana adanya orang tuanya. Hamba memang tidak tahu akan tetapi agaknya dia tidak percaya lalu marah dan hendak membunuh hamba. Untung pada saat itu ada anak-anak hamba, Linggajaya dan Puspa Dewi yang juga telah menjadi orang-orang sakti. Kedua anak hamba itu melawan Nurseta dan berhasil membuat Nurseta lari ketakutan. Itulah yang hamba ketahui tentang anak se... eh, Nurseta itu, gusti patih." '

Narotama termenung. Omongan seorang seperti lurah ini tentu saja tidak dapat dipercaya sepenuhnya, akan tetapi setidaknya dari ceritanya itu dia dapat menilai bahwa lurah ini memang seorang yang tidak pantas menjadi seorang kepala dusun yang mementingkan kesejahteraan rakyatnya. Cerita Ki Wirodipo tentang Nurseta dan tentang keluarga Lurah Suramenggala tentu saja lebih dapat dipercaya kebenarannya.

"Sekarang ceritakan yang sejujurnya tentang keris pusaka Sang Megatantra. Apakah andika mengetahui sesuatu tentang keris pusaka itu?"

Ki Lurah Suramenggala memang belum pernah mendengar tentang keris pusaka itu. Sebetulnya Puspa Dewi mengetahuinya, akan tetapi anak tirinya itu pun tidak bercerita kepadanya. Maka dia menggeleng kepalanya dan berkata dengan suara yang meyakinkan.

"Tidak, gusti. Hamba sama sekali tidak tahu dan tidak pernah mendengar tentang pusaka yang paduka sebutkan tadi."

Sekali ini Narotama percaya karena kata lurah itu sudah mengetahui, tentu diapun akan memutar-balik kebutaan dan memburukkan Nurseta, mengatakan bahwa Nurseta yang mencuri. Orang seperti ini bukan saja tidak boleh dipercaya, akan tetapi yang jelas juga tidak boleh dibiarkan terus menjadi lurah di dusun Karang Tirta ini. Dia dapat membayangkan betapa lurah ini pasti hidup sebagai seorang raja kecil yang lalim di dusun ini.

Bukti nyata bahwa rakyat Karang Tirta tidak mencintanya adalah ketika lurah itu tadi berteriak teriak minta tolong, ada penduduk yang berlarian datang. Akan tetapi tak seorangpun di antara mereka yang bersikap hendak membela sang lurah, melainkan hanya ingin menonton apa yang terjadi Dan ketika dia menghajar para anak buah lurah, dia melihat betapa banyak penduduk yang berada di halaman tersenyum gembira…..!
Bagikan cersil ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊

0 Response to "Sang Megatantra Jilid 37"

Post a Comment