close

Sang Megatantra Jilid 31

Kho Ping Hoo
-------------------------------
----------------------------
Kini melihat gadis itu duduk mendeprok di atas tanah sambil menangis, dia merasa semakin kasihan. Anak ini membutuhkan bimbingan, pikirnya. Pada dasarnya, anak ini berjiwa bersih dan dengan mudah dapat melihat kebenaran.

"Nimas, sudahlah jangan menangis. Engkau sudah mampu mengalahkan nafsu daya rendah di dalam dirimu sendiri, hal itu semestinya disambut tawa gembira dan bersyukur kepada Sang Hyang Widhi, bukan dengan menangis."

"Tapi... tapi... aku tak dapat melaksanakan perintah guru, aku... aku menjadi murid yang tidak berbakti... huhu-huuu!" Puspa Dewi masih menangis.

"Nimas yang baik, dengarlah. Berbakti kepada guru atau orang tua ada dua macam. Pertama, melaksanakan segala perintah guru yang berlandaskan kebenaran dan kebaikan, dengan taat dan dengan taruhan nyawa sekalipun. Ke dua, mencegah guru melakukan perbuatan yang menyimpang dari kebenaran dan keadilan, membujuknya agar ia menyadari kesalahannya dan kembali ke jalan benar. Itulah yang dimaksudkan dengan kebaktian bukan menaati segala perintahnya dengan membuta sehingga dapat menyeret kita ke dalam kejahatan."

Puspa Dewi menghentikan tangisnya, mengusap air matanya dan timbul kagum dan hormat dalam hatinya yang keras terhadap pria itu. la sudah dapat melihat kenyataan bahwa laki-laki yang dianggap jahat oleh gurunya itu sesungguhnya merupakan seorang yang gagah perkasa, sakti mandraguna dan bijaksana. Kalau tidak bijaksana, tentu ia yang tadinya ingin membunuh orang itu, kini sudah menggeletak mati atau setidaknya terluka. Akan tetapi Ki Patih Narotama sama sekali tidak melakukan itu, dia mengalahkannya tanpa melukainya sama sekali! Dan semua ucapannya itu membuka hati dan pikirannya dan membuat ia dapat melihat dengan jelas siapa yang benar dan siapa yang salah. Akan tetapi ia menjadi bingung sekali. Apakah mungkin ia harus menentang gurunya, berarti menentang pula Adipati Wura-wuri yang menugaskannya untuk menentang Kahuripan?

"Aduh, gusti patih..." keluhnya, "lalu apa yang harus saya lakukan? Hidup ini begini membingungkan, semuanya serba berlawanan. Berilah petunjuk, gusti patih, dan saya... Puspa Dewi akan berterima kasih sekali."

Senyum di bibir Narotama semakin berseri. "Baiklah, Nimas Puspa Dewi. Betapa pun sukar pelaksanaannya, akan tetapi ada baiknya kalau pelajaran ini dapat tertanam dalam batinmu untuk mengemudikan jalan hidupmu. Segala macam kebajikan itu tidak ada gunanya kalau hanya menjadi hapalan, hanya dipikir dan diucapkan. Yang penting itu prilakunya karena prilaku merupakan bukti, merupakan persembahan, merupakan ibadah. Usahakanlah untuk melangkah dalam kehidupan melalui jalan kebenaran dengan pedoman seperti berikut :

Pertama : Dharma atau prilaku kebajikan, semua pikiran, kata dan perbuatan yang didasari kasih sayang kepada sesama manusia, bahkan sesama mahluk hidup di dunia ini.

Ke dua : Satya, yaitu kesetiaan yang didasari keadilan dan kebenaran, siap membela kebenaran dan keadilan dengan setia.

Ke tiga : Tapa, berarti dapat mengekang dan mengalahkan nafsu daya rendah yang berada dalam diri sendiri, mengembalikan kedudukan segala macam nafsu itu menjadi hamba kita, bukan sebagai majikan kita.

Ke empat: Dama, yaitu sikap menghormat, sopan santun lahir batin terhadap sesama manusia, rendah hati.

Ke lima : Wimatsari-twa atau tidak menaruh iri hati terhadap keberhasilan orang lain, ikut merasa bahagia melihat orang lain berbahagia dan ikut prihatin melihat orang lain prihatin.

Ke enam : Rih atau mengenal rasa malu, malu terhadap Yang Maha Kuasa, malu terhadap orang lain dan terhadap diri sendiri atas kesesatannya.

Ke tujuh : Titiksa, yaitu dapat menguasai nafsu amarah.

Ke delapan : Hanasuya, yaitu tidak membalas dendam kepada orang lain dengan cara menyakitinya.

Ke sembilan : Yadnya, artinya tekun memuja dan mengagungkan Yang Maha Agung.

Ke sepuluh : Dana, yaitu suka mengalah, berkorban dan beramal.

Ke sebelas : Drati, berarti selalu tenang, membersihkan isi hati dan pikiran.

Ke dua belas : Ksama, yaitu memaafkan kesalahan orang lain, teguh dan tidak berputus asa.

Demikianlah, Nimas Puspa Dewi, sifat manusia yang berbudi luhur."

"Aduh, betapa sukarnya! Apakah ada manusia yang mampu melaksanakan semua itu, gusti patih?" Puspa Dewi tertegun karena baru sekarang ia mendengarkan pelajaran seperti itu.

"Ha-ha-ha, pertanyaanmu itu tepat sekali. Memang tidak mudah menemukan seorang manusia yang dapat melaksanakan itu semua. Manusia itu tidak sempurna, bahkan dewa sekalipun tidak sempurna. Yang Maha Sempurna hanya Sang Hyang Widhi Wasa! Akan tetapi setidaknya pengertian itu dapat kita jadikan obor, andaikata kita tidak dapat melaksanakan sepenuhnya, ya sebagian kecil saja sudah cukup baik dan dapat mengurangi dosa kita."

Hati Puspa Dewi menjadi lega. "Terima kasih, gusti patih. Saya akan berusaha untuk mengikuti jalan kebenaran itu. Terima kasih dan maafkan sikap dan perbuatan saya tadi."

"Sebaiknya semua rasa terima kasih dan maaf itu kita panjatkan kehadiran sang Hyang Widhi, bukan kepada sesama manusia, Puspa Dewi."

"Selamat tinggal, gusti patih dan sekali lagi terima kasih."

Entah apa yang mendorongnya, baru pertama kali dalam hidupnya, Puspa Dewi memberi hormat dengan sembah kepada Ki Patih Narotama. Bahkan kepada dipati Wura-wuri saja ia tidak pernah memberi hormat dengan sembah.

"Selamat berpisah, Puspa Dewi, mudah-mudahan kita dapat bertemu kembali dalam keadaan yang lebih baik." kata Ki Patih Narotama.

Puspa Dewi lalu melompat dan mempergunakan kesaktiannya, berlari cepat bagaikan seekor kijang muda meninggalkan tempat itu. Ki Patih Narotama mengikuti bayangan itu sampai lenyap, lalu menghela napas panjang, tersenyum dan menggeleng kepalanya. Dia sama sekali tidak mengira bahwa Puspa Dewi adalah Sekar Kedaton atau puteri Adipati Wura-wuri satu di antara kerajaan-kerajaan yang memusuhi Kahuripan.

Puspa Dewi memasuki kota raja Kahuripan. Selama beberapa hari dalam perjalanan ini, hati dan pikirannya mengalami guncangan hebat. Peristiwa berturut-turut yang dialaminya, pertama kali bertemu dengan Nurseta dan tugas pertamanya merampas keris pusaka Sang Megatantra dari tangan Nurseta gagal lalu disusul gagalnya melaksanakan tugas kedua, yaitu membunuh Ki Patih Narotama, mengguncang hatinya dan membuatnya menjadi bingung.

Namun perlahan-lahan ia dapat mencerna nasihat Patih Narotama dan ia dapat menghibur hati sendiri. Gurunya atau ibu angkatnya Nyi Dewi Durgakumala memang bersalah. Kedua macam tugas yang diperintahkannya itu memang mengandung maksud yang tidak sehat dan tidak benar. Pertama, ia disuruh merampas keris pusaka Megatantra yang sama sekali bukan hak milik gurunya, melainkan hak milik Sang Prabu Erlangga dan ini berarti bahwa tugas itu menyuruh ia menjadi perampok atau pencuri! Kemudian tugas kedua, ia disuruh membunuh Ki Patih Narotama yang sama sekali tidak berdosa dan sifat tugas itu adalah pembalasan dendam yang angkara murka. Gurunya itu memang seorang wanita sesat, hal ini ia sendiri sudah mengetahuinya. Apakah ia harus pula menjadi seorang sesat, menjadi seorang penjahat? Tidak, ia bukan keturunan penjahat!

Akan tetapi sebagai seorang yang sudah diangkat menjadi Sekar Kedaton Wura-wuri, ia harus melaksanakan perintah Adipati Wura-wuri dan ia harus membela Kerajaan Wura-wuri. Ia ditugaskan membantu dua orang puteri Parang siluman Laut Kidul yang kini menjadi selir Sang Prabu Erlangga dan selir Ki Patih Narotama, membantu untuk menentang Kerajaan Kahuripan. Ia memilih menghubungi Puteri Mandari saja yang menjadi selir Sang Prabu Erlangga. la tidak berani menghubungi Puteri Lasmini yang menjadi selir Ki Patih Narotama karena ia tidak berani bertemu lagi dengan ki patih yang tentu akan mencurigainya. Pula, biarpun ia membantu usaha Kerajaan Wura-wuri untuk menentang Kerajaan Kahuripan, iapun tidak akan melakukannya dengan membuta. Ia tidak mau melakukan perbuatan yang sifatnya jahat.

Para perajurit penjaga di pintu gerbang kompleks istana Kahuripan mula mula memandang dengan heran, kagum dan juga penuh curiga ketika menghadapi Puspa Dewi yang mengatakan bahwa ia ingin menghadap Sang Puteri Mandari. Heran melihat seorang gadis muda begitu berani seorang diri hendak memasuki kompleks istana, kagum melihat kecantikan dara itu, dan curiga melihat Puspa Dewi membawa sebatang pedang tergantung di punggungnya. Akan tetapi ketika mendengar bahwa gadis itu hendak menghadap Sang Puteri Mandari, mereka tidak berani menolak.

Puteri Mandari memang telah mereka kenal sebagai selir terkasih sang prabu dan selir itu adalah seorang yang sakti mandraguna, juga seorang yang galak dan tentu akan menghukum berat mereka kalau mereka menghalangi gadis ini. Siapa tahu gadis ini masih ada hubungan dekat dengan sang puteri. Maka sikap mereka segera berubah setelah Puspa Dewi menyebut nama Puteri Mandari. Tadinya, di antara mereka ada yang cengar cengir seperti biasa sekumpulan orang lelaki kalau melihat gadis cantik jelita, apa lagi gadis itu datang seorang diri. Kini mereka bersikap hormat, tidak berani main-main.

"Silakan andika ikut petunjuk jalan menemui pengawal istana keputren," kata komandan jaga.

Puspa Dewi lalu diantar dua orang perajurit menuju ke istana bagian keputren yang terletak di sebelah kiri bangunan induk istana. Setelah tiba dipintu bagian keputren, dua orang penjaga dari depan itu menyerahkan Puspa Dewi kepada empat orang perajurit pengawal yang berjaga di situ. Kembali di sini Puspa Dewi harus memperkenalkan diri dan menjelaskan keperluan kunjungannya. Seperti juga para penjaga di depan tadi, ketika para perajurit pengawal mendengar bahwa Puspa Dewi ingin menghadap Puteri Mandari, merekapun bersikap hormat dan tidak berani melarang. Akan tetapi ternyata tidak terjadi seperti tadi.

Puspa Dewi tidak diantar oleh perajurit yang berjaga di pintu gapura itu ke dalam. Seorang perajurit memberi isyarat ke dalam dengan memukul perlahan kentungan kecil. Tak lama kemudian muncullah dua orang pengawal wanita, berlarian dari sebelah dalam. Mereka berdua adalah wanita wanita berusia kurang lebih tiga puluh tahun, bertubuh tegap dan berpakaian ringkas, di pinggang mereka tergantung sebatang pedang.

Keduanya mendapat laporan dari perajurit pria yang berjaga di pintu gapura keputren tentang Puspa Dewi mereka mengamati Puspa Dewi penuh perhatian. Seperti juga yang lain, disebutnya nama Puteri Mandari yang hendak dikunjungi Puspa Dewi membuat dua orang pengawal wanita ini bersikap hormat. Mereka semua takut belaka kepada sang puteri dan hal ini mulai diketahui Puspa Dewi melalui sikap mereka itu.

Ia menduga bahwa keputren itu tentu memiliki pasukan pengawal wanita, sedangkan pasukan pengawal pria hanya menjaga di luar gedung, dibagi menjadi dua, yaitu pengawal luar dan pengawal dalam. Ketika seorang di antara pengawal wanita yang berkulit hitam manis melihat pedang yang menempel di punggung Puspa Dewi, ia lalu berkata dengan nada hormat.

"Maafkan kami, mas ayu. Di sini terdapat peraturan bahwa tamu yang datang berkunjung tidak diperkenankan membawa senjata. Oleh karena itu, harap andika menitipkan dulu pedang andika itu kepada kami. Nanti kalau andika hendak meninggalkan istana, tentu akan kami serahkan kembali."

Kalau pengawal wanita itu bicaranya kasar, tentu Puspa Dewi marah mendengar pedangnya diminta. Akan tetapi karena bicaranya sopan, maka ia tidak marah, hanya mengerutkan alisnya dan berkata sambil tersenyum mengejek.

"Aku mau menitipkan pedangku kepada kalian, akan tetapi apa hendak dikata, pusakaku Candrasa Langking ini tidak mau berpisah dariku."

"Apa maksud andika, mas ayu?" tanya pengawal wanita hitam manis itu dan kawannya juga memandang heran.

Puspa Dewi tersenyum dan ia mengambil pedang hitamnya, melepaskan talinya yang tergantung di punggung lalu menyerahkan pedang bersama sarungnya itu kepada pengawal wanita hitam manis itu.

"Kalau mau tahu, nah, buktikan sendiri dan terimalah pusakaku ini."

Dengan ragu pengawal itu menerima pedang. Akan tetapi begitu pedang dipegangnya, tiba-tiba saja pedang itu meluncur lepas dari tangannya seperti ada yang merenggutkan dan pedang ini melayang ke arah Puspa Dewi yang menyambutnya dengan tangan kiri.

"Nah, andika telah membuktikan sendiri!" kata Puspa Dewi yang tadi mempergunakan kekuatan sihirnya untuk menerbangkan pedangnya kembali kepadanya. Tentu saja ia tidak akan melakukannya kalau berhadapan dengan seorang yang sakti.

Pengawal wanita hitam manis itu terkejut sekali dan menjadi bingung, juga kawannya terbelalak heran dan kaget. Empat orang perajurit pengawal pria yang berjaga di luar gapura juga menyaksikan peristiwa itu dan merekapun terheran-heran!

"Ah, bagaimana baiknya ini?" kata pengawal wanita ke dua kepada kawannya.

Si hitam manis berkata, "Cepat panggil Mbakayu Kanthi ke sini, biar ia yang menangani urusan ini." Kawannya mengangguk lalu berlari masuk dan si hitam manis berkata kepada Puspa Dewi. "Harap mas ayu suka menanti sebentar, kami panggilkan pelayan pribadi Gusti Puteri Mandari untuk mengantar andika menghadap Gusti Puteri."

Puspa Dewi mengangguk dan menanti dengan sikap santai, diam-diam merasa geli melihat pengawal wanita dan pengawal pria itu melirik kepadanya dengan pandang mata jerih. Tak lama kemudian pengawal wanita itu datang bersama seorang wanita dan Puspa Dewi segera memandang wanita itu dengan penuh perhatian. Seorang wanita berusia kurang lebih tiga puluh lima tahun, berpakaian sebagai emban pelayan, tubuhnya tinggi kurus dan mukanya burik sehingga tampak jelek.

Wanita ini adalah Kanthi dan ia bukanlah wanita lemah. Kanthi dan Sarti yang tinggi besar sengaja didatangkan oleh Mandari dan Lasmini. Sarti menjadi pengawal pribadi Lasmini dan Kanthi menjadi pengawal pribadi Mandari. Karena kedua orang wanita itu datang dari Kerajaan Parang Siluman, maka tentu saja mereka menjadi orang-orang kepercayaan kedua orang puteri itu. Dan mereka berdua juga merupakan orang-orang yang memiliki kesaktian, walau pun tidak setinggi kesaktian kedua orang puteri itu.

Setelah berhadapan dengan Puspa Dewi, mata Kanthi yang tajam dapat melihat bahwa gadis muda belia itu, memang seorang yang sakti. Hal ini dapat ia lihat pada sinar mata Puspa Dewi yang mencorong penuh kekuatan batin. Ia tadi sudah mendengar cerita pengawal wanita yang memanggilnya tentang pedang milik tamu wanita itu. Ia lalu berkata dengan hormat kepada Puspa Dewi.

"Mas ayu, saya Kanthi, pelayan Gusti Puteri Mandari. Saya mengerti bahwa seseorang memang tidak dapat berpisah dari senjata pusakanya. Akan tetapi kalau andika menghadap Gusti Puteri dengan membawa pedang, tentu menimbulkan prasangka yang tidak baik. Oleh karena itu, marilah andika saya antar menghadap Gusti Puteri dan biarlah saya membawakan pedang andika itu sampai menghadap Gusti Puteri. Kalau nanti Gusti Puteri berkenan, tentu akan saya kembalikan pedang itu kepada andika disana juga."

Mendengar ucapan itu, Puspa Dewi tersenyum dan mengangguk. Ia tidak mau menggunakan sihir lagi karena kalau wanita pelayan ini ternyata mampu menolak sihirnya, maka ia akan mendapat malu.

"Baiklah, engkau boleh membawakan pusakaku ini dan mari kita menghadap Gusti Puteri." katanya sambil menyerahkan pedang hitamnya. Kanthi menerima pedang itu sambil mengerahkan kekuatan batinnya, kalau kalau pedang itu akan "terbang", akan tetapi tidak terjadi sesuatu sehingga hatinya lega. Dua orang pengawal wanita dan empat pengawal pria itu pun memandang dengan hati tegang, akan tetapi ternyata tidak terjadi sesuatu dan mereka hanya dapat mengikuti dengan pandang mata mereka ketika Kanthi, sambil membawa pedang, mengantar Puspa Dewi masuk ke dalam.

Mandari yang dikabari bahwa ada seorang gadis bernama Puspa Dewi mohon menghadap padanya, menerima gadis itu di dalam ruangan pribadinya. Dari seorang mata-matanya yang berada di Wura-wuri Puteri Mandari telah mendengar bahwa Adipati Bhismaprabhawa dari Wura-wuri telah mengutus puterinya Sekar Kedaton yang bernama Puspa Dewi untuk membantunya di Kahuripan. Oleh karena itu, mendengar laporan bahwa Puspa Dewi kini telah dating menghadap, ia merasa girang sekali dan cepat menyambutnya sendiri di ruangan pribadinya.

Ketika Kanthi mengiringkan Puspa Dewi memasuki ruangan itu dan menutupkan kembali daun pintunya, Mandari telah duduk menanti diatas kursi, la memandang kagum, la sudah mendengar bahwa Sekar Kedaton Wura-wuri ini adalah murid dan puteri angkat Nyi Dewi Durgakumala yang sakti mandraguna, yang kini menjadi permaisuri Wura-wuri. Ternyata Puspa Dewi seorang gadis remaja yang cantik jelita.

Kanthi berlutut dan menyembah dengan hormat kepada majikannya. Puspa Dewi tetap berdiri dan memandang kepada Puteri Mandari dengan kagum. Tak disangkanya sang puteri itu sedemikian cantiknya dan tampaknya masih muda sekali. Ia mendengar bahwa puteri ini berusia sekitar dua puluh dua tahun lebih, akan tetapi tampaknya bahkan lebih muda dari pada ia yang baru berusia sembilan belas tahun! Melihat pedang di tangan pelayannya, Mandari tersenyum dan berkata, "Kanthi, serahkan pedang itu kepada Gusti Puteri Puspa Dewi."

Kanthi terkejut dan menoleh kepada Puspa Dewi yang masih berdiri.

"Gusti... Gusti Puteri..?" katanya bingung.

"Benar, Kanthi. Ia adalah Gusti Puteri Sekar Kedaton dari Kerajaan Wura-wuri." kata Mandari. "Sekarang haturkan kembali pedang itu lalu keluarlah. Jaga agar jangan ada yang mendengarkan kami bicara di dalam."

"Sendika, gusti." kata Kanthi lalu dengan hormat sekali ia menyerahkan kembali Candrasa Langking kepada Puspa Dewi, menyembah lalu keluar dari ruangan itu lalu menutupkan kembali daun pintunya.

Setelah Kanthi keluar, Mandari lalu menunjuk ke arah sebuah kursi di depannya dan berkata, "Puspa Dewi, duduklah. Di sini kita dapat bicara dengan leluasa."

Puspa Dewi memasang kembali pedangnya di punggung lalu duduk dan berkata, "Gusti Puteri..."

"Ah, Puspa Dewi, kita sama-sama puteri istana. Aku puteri Kerajaan Parang Siluman dan engkau puteri Kerajaan Wurawuri. Jangan bersikap merendah dan jangan menyebut aku Gusti Puteri!"

"Hamba mergerti. Akan tetapi karena hamba datang bukan sebagai Puteri Wura-wuri dan hendak membantu paduka dengan diam-diam dan rahasia, maka sebaiknya kalau mulai saat ini hamba membiasakan diri bersikap sebagai seorang pembantu paduka agar rahasia hamba tidak sampai bocor"

"Baiklah kalau begitu, Puspa Dewi. Tidak kusangka engkau yang semuda ini sudah dapat bersikap cerdik. Aku sudah banyak mendengar tentang dirimu dari pembantuku. Sebagai murid dan juga anak angkat Nyi Dewi Durgakumala yang kini menjadi Permaisuri Wura-wuri, aku yakin engkau memiliki kesaktian yang boleh diandalkan Aku girang sekali engkau bersedia untuk membantuku. Dengan adanya engkau di sini dan Linggajaya di kepatihan membantu Mbakayu Lasmini, kedudukan kita menjadi lebih kuat. Kukira engkau sudah tahu tentang Linggajaya."

Puspa Dewi mengangguk. "Hamba telah mengenalnya dengan baik." katanya tanpa menjelaskan bahwa Linggajaya adalah kakak tirinya. "Sekarang harap paduka jelaskan, bantuan apakah yang dapat hamba lakukan di sini dan tugas apa yang dapat hamba kerjakan?"

"Aku sedang memikirkan hal itu. Aku sudah mendengar bahwa engkau diutus oleh Adipati Wura-wuri untuk membantu kami, akan tetapi tidak kusangka bahwa engkau hari ini akan datang menemui aku. Kedatanganmu yang tiba-tiba ini membuat aku harus berpikir-pikir dulu, tugas apa yang dapat kuserahkan kepadamu. Sementara ini, sebaiknya engkau menyamar sebagai seorang dayang pelayan pribadiku membantu Kanthi yang menjadi pelayan bawaan dan kepercayaanku. Dengan menjadi pelayan pribadiku, kita dapat mudah berhubungan dan tidak seorang pun berani menentangmu. Nanti perlahan-lahan kita atur apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Akan tetapi sebagai pelayan pribadi, tidak baik dan akan mencurigakan sekali kalau engkau membawa pedangmu. Maka, sebaiknya engkau sembunyikan pedangmu itu dalam kamar yang akan disediakan untukmu."

"Baik, akan hamba laksanakan." kata Puspa Dewi.

"Puspa Dewi, engkau harus berhati-hati. Ingat bahwa didalam istana ini banyak orang yang diam-diam menentangku. Terutama sekali terhadap Sang Prabu Erlangga, engkau harus berhati-hati sekali. Beliau adalah seorang yang amat sakti mandraguna, sebaiknya kalau engkau tidak muncul di depannya, kecuali kalau terpaksa dan jangan memperlihatkan sikap mencolok agar beliau tidak menaruh curiga kepadamu."

Demikianlah, mulai hari itu Puspa Dewi tinggal di dalam istana bagian keputren dan menyamar sebagai seorang dayang pelayan pribadi Puteri Mandari. Ia memakai pakaian seperti yang dipakai para dayang istana dan menyimpan pusaka Candrasa Langking dalam kamarnya. Kehadirannya tidak mencolok, tidak mencurigakan karena di istana memang terdapat banyak dayang, gadis-gadis muda yang rata-rata memiliki wajah yang ayu dan manis. Dan seperti yang dikatakan Puteri Mandari, para dayang dan pelayan yang lain bersikap segan dan hormat kepada Puspa Dewi setelah mereka mendengar bahwa dara itu adalah pelayan pribadi Puteri Mandari…..

********************

Senopati Sindukerta adalah seorang senopati sepuh (tua) yang sudah menjadi senopati sejak muda, di bawah pimpinan mendiang Sang Prabu Teguh Dharmawangsa. Ketika Erlangga menjadi raja menggantikan kedudukan mendiang Teguh Dharmawangsa, dia mengikut-sertakan bekas punggawa ayah mertuanya itu dan di antaranya dia memberi kedudukan yang sama kepada Senopati Sindukerta.

Senopati Sindukerta tinggal dalam sebuah gedung di kota raja bersama keluarganya. Usianya sudah enam puluh tahun lebih, namun dia masih tampak sehat dan gagah. Biarpun sudah tergolong tua, namun Senopati Sindukerta masih disegani karena dia pandai mengatur barisan, pandai memimpin pasukan dalam perang dan sudah banyak jasanya menghadapi musuh-musuh Kerajaan Mataram sejak dia masih muda dulu.

Tidak mengherankan kalau Sang Prabu Erlangga menaruh kepercayaan kepadanya sungguh pun kini tugasnya lebih banyak sebagai penasihat yang memberi petunjuk dan pelajaran kepada para senopati muda.

Malam itu terang bulan. Bulan purnama amat indahnya bertahta di angkasa raya. Bintang-bintang menjadi suram bahkan banyak yang tidak tampak terhalang sinar bulan yang terang keemasan. Bulan purnama bulat penuh dan di langit yang cerah itu tampak lingkaran putih di sekeliling bulan. Bulan ndadari, bulan kalangan, begitu indahnya sehingga menciptakan suasana sejuk gembira di muka bumi.

Banyak orang betah berada di luar rumah karena sinar bulan memandikan segala sesuatu yang berada di permukaan bumi dengan sinarnya yang menenteramkan hati, membuat semua tampak gemilang dan indah, juga aneh penuh rahasia. Segala sesuatu seperti diselimuti cahaya keemasan.

Kanak-kanak memenuhi pelataran rumah dan bermain-main dengan bertembang riuh rendah. Orang-orang tua bercengkerama di luar rumah. Banyak pula yang menggelar tikar di pelataran dan bercakap-cakap membicarakan masa lalu.

Bulan purnama mendatangkan kenangan lama yang indah-indah. Para pemuda juga bergembira ria. Sinar bulan agaknya mengobarkan gairah dan semangat hidup mereka. Terutama sekali mereka yang sedang dimabuk asmara dan mengadakan pertemuan dengan kekasih mereka dibawah sinar bulan purnama. Pada saat seperti itu, kekasih mereka tampak lebih cantik, lebih tampan, lebih menarik dan menggairahkan.

Senopati Sindukerta duduk seorang diri di dalam taman bunganya yang cukup luas. Harum bunga melati yang tumbuh di sekeliling kolam ikan memperindah suasana. Akan tetapi Senopati Sindukerta yang duduk tak jauh dari kolam ikan, di atas bangku panjang, sama sekali tidak tampak gembira. Bahkan berulang kali dia menghela napas panjang dan wajahnya tampak muram, seolah dia menanggung derita kesedihan yang mendalam.

Di atas sebuah meja kecil didepannya terdapat sebuah poci dan sebuah cangkir. Tadi pelayan datang menghidangkan air teh panas manis itu dan dia suruh pelayan itu pergi meninggalkannya dan berpesan agar jangan ada yang datang mengganggunya di dalam taman karena dia ingin bersendirian di situ.

Wajahnya yang masih memperlihatkan bekas ketampanan itu berkerut. Tidak ada kumis dan jenggot di wajahnya. Rambutnya sudah banyak yang putih. Tubuhnya sedang, akan tetapi tampak kurus. Dari keadaan jasmaninya dapat diduga bahwa Senopati Sindukerta banyak mengalami penderitaan batin.

Tentu saja hal ini tidak disangka orang. Dia adalah seorang senopati tua yang berkedudukan tinggi, cukup kaya, terhormat dan tidak kekurangan sesuatu. Bagaimana mungkin seorang punggawa tinggi seperti dia hidup mengalami penderitaan batin. Senopati Sindukerta duduk di situ sejak tadi, sudah lebih dari dua jam dia duduk melamun seorang diri.

Sementara itu bulan purnama naik semakin tinggi. Keadaan di luar gedung senopati itu sudah mulai berkurang keramaiannya. Anak-anak sudah disuruh masuk dan tidur. Hanya tinggal beberapa orang tua saja yang masih tinggal di luar. Malam mulai larut. Senopati Sindukerta mulai merasa kedinginan. Makin tinggi bulan purnama naik, makin larut malam, makin dinginlah hawa udara.

Pada saat dia merasakan kedinginan dan minum air teh dari poci dituangkan ke cangkir dan air teh itu masih hangat, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan dan tahu-tahu di depannya, dalam jarak tiga meter, telah berdiri seorang pemuda.

Senopati Sindukerta terkejut dan meletakkan kembali cangkirnya di atas cawan, lalu menatap wajah pemuda itu dengan alis berkerut. Dia terkejut, akan tetapi sama sekali tidak takut, hanya merasa heran bagaimana ada seorang pemuda yang begitu berani datang mengganggunya, dan kemunculannya begitu tiba-tiba.

"Siapa engkau? Mau apa engkau menggangguku, datang tanpa diundang?" bentak Senopati Sindukerta sambil menatap tajam wajah tampan pemuda yang pakaian dan sikapnya sederhana itu.

Pemuda itu memberi hormat dengan membungkuk, lalu bertanya dengan suara lembut dan hormat.

"Maafkan saya, apakah saya berhadapan dengan Senopati Sindukerta?"

"Hemm, benar aku Senopati Sindukerta. Siapa engkau?"

"Maafkan saya. Nama saya Nurseta dan saya sengaja menghadap paduka untuk menanyakan sesuatu yang teramat penting dan hanya paduka saja yang dapat menjawab pertanyaan saya itu..!

Kerut alis Senopati Sindukerta semakin mendalam. "Sungguh engkau seorang pemuda yang tidak tahu aturan. Bagaimana engkau berani kurang ajar menemui aku malam-malam begini dan memasuki tamanku seperti seorang pencuri?"

"Sudah dua kali saya minta maaf kalau saya mengganggu. Akan tetapi, pertanyaan saya ini penting sekali dan saya harap paduka tidak menolak untuk menjawabnya."

"Sudahlah, coba katakan, apa yang ingin kau ketahui dariku?"

"Saya ingin bertanya, apa yang paduka ketahui tentang orang yang bernama Dharmaguna?"

Senopati Sindukerta terbelalak dan dia bangkit berdiri dengan cepat.

"Keparat" Telunjuknya menuding ke arah Nurseta. "Kiranya engkau ini suruhan si jahanam Dharmaguna? Mampuslah!" Tiba-tiba Senopati Sindukerta menendang meja kecil di depannya dan meja itu meluncur ke arah Nurseta. Poci dan cangkir tadi terlempar jauh.

Nurseta menggerakkan tangannya, menangkap kaki meja yang menyambar ke arahnya dan menaruh meja itu di atas tanah, di sampingnya. Akan tetapi Senopati Sindukerta sudah mencabut kerisnya dan melompat maju, menyerang Nurseta dengan tusukan kerisnya. Agaknya dia marah sekali mendengar disebutnya nama Dharmaguna tadi.

"Wuutt... tukk!"

Senopati Sindukerta terkejut setengah mati ketika keris yang dia tusukan itu mengenai dada pemuda itu, dia merasa betapa kerisnya itu bertemu dengan benda yang lunak namun kenyal dan kuat sekali sehingga kerisnya membalik dan tidak dapat menembus. Sebelum hilang rasa kagetnya tahu-tahu keris itu telah direnggut lepas dari pegangannya dan pemuda itu melangkah mundur sambil berkata ejekan lembut

"Harap paduka bersabar dan tenang. Saya sama sekali tidak datang untuk memusuhi paduka, melainkan hanya untuk minta keterangan. Terimalah kembali pusaka paduka ini."

Nurseta menjulurkan tangan dan menyerahkan keris itu kepada pemiliknya. Senopati Sindukerta terkejut bukan main. keris pusakanya itu bukan keris biasa, melainkan pusaka ampuh sekali. Akan tetapi pemuda itu memiliki kekebalan yang luar biasa, membuktikan bahwa dia seorang yang sakti mandraguna. Maka mendengar ucapan Nurseta, dia menerima keris, mundur lalu duduk kembali ke atas bangku, mengawasi pemuda itu penuh perhatian.....
Bagikan cersil ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊

0 Response to "Sang Megatantra Jilid 31"

Post a Comment