Sang Megatantra Jilid 23

Mode Malam
Kho Ping Hoo
-------------------------------
----------------------------
Sepasang golok yang dimainkannya itu seolah berubah menjadi dua gulungan sinar yang menyelimuti seluruh tubuhnya sehingga semua serangan tiga orang pengeroyok itu selalu terpental dan tertangkis oleh kekuatan dahsyat yang terkandung dalam gulungan dua sinar golok itu!

Melihat ketangguhan Ki Tejoranu, Nismara menjadi tidak sabar dan khawatir kalau-kalau bantuan dua orang warok itu akan membuat dia gagal lagi merampas kembali Listyarini. Maka, dia lalu berseru, "Adi Wirobento dan Wirobandrek, bunuh orang ini!"

Setelah berkata demikian, dia lalu melompat kearah pondok. Listyarini yang sedang mengintai, menjadi terkejut setengah mati melihat Nismara lari ke arah pondok, la lari ke dapur ketika Nismara sudah menerobos pintu depan. Nismara melihat ia lari ke dapur lalu mengejar.

"Listyarini, hendak lari ke mana engkau?" bentaknya girang. Ketika dia mengejar sampai ke dapur, Listyarini sudah berada di situ. Wanita ini dengan nekat telah mengangkat ceret terisi air mendidih dan begitu Nismara muncul di dapur, ia segera menyiramkan air dari ceret itu ke arah muka Nismara!

Nismara cepat menggunakan kedua lengannya untuk melindungi mukanya, akan tetapi masih ada air mendidih yang muncrat mengenai pipinya dan tentu saja lengan dan sebagian pundaknya terguyur air mendidih itu.

"Aduhhh..!" Dia berteriak mengaduh. Bukan main panasnya air mendidih itu sehingga bagian yang terkena air mendidih itu melepuh. Hal ini membuat dia marah bukan main dan sekali sambar dia telah menangkap lengan kanan Listyarini lalu diseretnya wanita itu keluar dari dapur dan terus keluar dari pintu depan pondok itu.

Listyarini menjerit dan minta tolong, akan tetapi Nismara tidak perduli dan menyeretnya terus. Listyarini terjatuh berlutut, akan tetapi dengan sentakan kuat ia dibuat bangun kembali dan diseret sehingga terpaksa harus berlari terhuyung-huyung. Kedua lututnya berdarah karena terluka ketika jatuh berlutut dan diseret tadi.

"Tolooonggg..!" Listyarini menjerit lagi.

Ki Tejoranu mendengar jeritan ini dan dia cepat menggerakkan sepasang goloknya sambil tiba-tiba mendekam ke atas tanah. Dua orang pengeroyoknya, Wirobento dan Wirobandrek terkejut sekali mendapat serangan golok yang membabat ke arah kaki mereka itu. Ini merupakan serangan berbahaya sekali. Mereka melompat ke belakang dan membalas dengan sambaran pecut dan kolor mereka.

"Wuuuttt... prat-pratt..!"

Dua orang warok itu terkejut sekali melihat betapa dua gulungan sinar golok itu membuat gerakan menggunting dari kanan kiri dan ujung senjata mereka, pecut dan kolor itu, putus! Mereka kembali melangkah mundur, takut menerima serangan mendadak. Kesempatan ini dipergunakan Ki Tejoranu untuk mengejar Nismara yang masih menyeret Listyarini. Dia berlompatan mengejar dan setelah berada dalam jarak kurang lebih lima meter, dia menyambitkan golok kanannya ke arah punggung Nismara.

"Wirrr..!" Golok meluncur seperti anak panah cepatnya dan tepat sekali menancap di punggung Nismara. Orang ini terkejut, mengaduh, pegangan tangannya pada lengan Listyarini terlepas dan dia roboh menelengkup, tewas seketika karena golok itu menancap dalam sekali sampai menembus ke dadanya!

Listyarini yang sudah bebas itu berdiri memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat ke arah tubuh yang berlumuran darah itu. Hatinya merasa ngeri sekali, juga baru saja ia terlepas dari rasa takut yang amat sangat, maka ketika melihat Ki Tejoranu menghampirinya, Listyarini terkulai dan tentu akan terbanting jatuh kalau saja Ki Tejoranu tidak cepat meloncat dan merangkulnya.

Ki Tejoranu cepat menoleh, memandangi ke arah dua orang lawannya tadi. Kalau dia melindungi Listyarini seperti ini lalu diserang oleh dua orang lawan yang cukup tangguh itu, tentu akan membahayakan dia dan juga Listyarini. Kalau mereka menyerang, terpaksa dia akan meninggalkan Listyarini lebih dulu.

Akan tetapi hatinya lega. Agaknya, melihat orang yang menyuruh mereka membantu itu telah menggeletak mati dengan punggung ditembus golok, dua orang itu lalu melarikan diri. Mereka merasa jerih melihat senjata mereka putus, apa lagi melihat Nismara tewas.

Ki Tejoranu lalu memondong tubuh Listyarini dan membawanya masuk ke dalam pondok. Direbahkannya tubuh itu di atas pembaringan dalam kamar Listyarini. Setelah memeriksa sejenak dan mengetahui bahwa wanita itu hanya pingsan dan sama sekali tidak terluka parah kecuali hanya lecet berdarah pada kedua lututnya, hatinya merasa lega bukan main. Ia pingsan karena takut dan ngeri melihat Nismara mati di depannya, pikirnya.

Sebaiknya aku singkirkan dulu mayat di depan pondok itu agar Listyarini tidak akan merasa ngeri kalau siuman nanti. Setelah berpikir demikian, Ki Tejoranu lalu keluar dengan cepat. Dia menghampiri mayat Nismara yang menelungkup, mencabut goloknya dari punggung orang itu, membersihkan golok dan menyarungkannya kembali di punggungnya.

Kemudian dengan hati-hati agar pakaian dan tubuhnya tidak terkena darah, dia lalu membawa mayat itu menuruni lereng agak jauh dan dia lalu melemparkan mayat itu ke dalam sebuah jurang yang amat curam. Mayat itu meluncur ke dalam jurang yang tak tampak dasarnya itu dan dia bergumam lirih dalam bahasanya sendiri, "Maafkan aku. Karena harus segera menolong Listyarini, maka aku tidak mempunyai waktu untuk menguburkan jenazahmu baik-baik. Harap engkau tenang di alam baka dan semoga Thian (Tuhan) mengampunimu."

Kemudian Ki Tejoranu cepat kembali ke dalam pondok. Khawatir kalau sudah siuman Listyarini akan merasa malu mendapat pengobatan di lututnya dan dia dianggap tidak sopan, maka Ki Tejoranu sengaja membiarkan wanita itu dalam keadaan pingsan seperti tidur itu. Dia cepat mengambil air masak, lalu dicucinya luka lecet pada kedua lutut Listyarini.

Kemudian dia mengambil daun Widoro upas dan daun Pegagan, diremasnya lalu dibalurkan pada lutut yang luka itu. Sesudah itu baru ia memijat pusat otot di antara ibu jari dan telunjuk kedua tangan sampai akhirnya Listyarini mengeluh lirih dan membuka kedua matanya.

Dengan cepat Ki Tejoranu yang tadi ketika mengobati duduk di tepi pembaringan, pindah ke atas kursi yang agak jauh dari pembaringan. Listyarini membuka matanya dan ketika pandang matanya menemukan Ki Tejoranu duduk di atas kursi kayu, ia segera bangkit duduk. Akan tetapi ia mengeluh dan sambil duduk ia memegangi kedua lututnya dan menyingkap sedikit kain yang menutupi kedua lututnya.

"Kedua lututku... agak perih... mengapa?"

"Ah, tidak apa-apa, Mas ayu Lini. Hanya lecet sedikit."

"Dan..., engkau mengobatinya?" tanya Listyarini sambil memandang wajah laki-laki itu. Wajah itu memerah. Tadi ketika mengobati, sama sekali tidak ada perhatiannya kepada lutut telanjang itu. Akan tetapi kini, seolah membayang lutut itu, bentuknya indah sekali dan kulitnya putih mulus kemerahan, halus lembut dengan betis indah memadi bunting. Begitu bayangan ini tergambar dalam benaknya, Ki Teroranu cepat mengerahkan kekuatan kemauannya untuk mengusirnya sehingga dia dapat menentang pandang mata Listyarini dengan tenang dan biasa kembali.

"Ya, aku mencuci lalu mengobatinya agal luka itu tidak menjadi palah dari kelacunan. Maafkan aku, Mas ayu."

"Kenapa aku harus memaafkanmu? Kenapa engkau minta maaf, Ki Tejoranu?"

"Aku takut... engkau akan menganggap aku... eh, kulang ajal dan tidak sopan, Mas ayu Lini."

Listyarini tersenyum dan dalam hatinya ia semakin kagum kepada penolongnya itu. "Ucapanmu itu menunjukkan bahwa engkau seorang yang sopan dan baik budi, Ki Tejoranu. Lalu..." wanita itu bergidik, "bagaimana... dengan Nismara yang jahat tadi? Dia... dia tadi sudah mati, bukan? Dan bagaimana dengan dua orang temannya yang buas tadi?"

"Jangan takut, jenazahnya sudah kukubul, jauh dali sini, dan dua olang tadi sudah melalikan dili. Engkau sekalang sudah aman, Mas ayu Lini."

"Ohhh... terima kasih, Gusti. Rupanya Sang Hyang Widhi masih melindungi kita." kata Listyarini. Tiba-tiba wanita itu mengernyitkan hidungnya, mencium-cium. Ki Tejoranu juga menyedot-nyedot dengan hidungnya melihat tingkah Listyarini itu dan penciumannya juga menangkap bau tak wajar itu.

"Eh, bau apa ini?" tanyanya.

"Aduh celaka!" Listyarini berseru lalu meloncat turun dari pembaringan.

"Masakanku... masakanku hangus..!" la lalu berlari kedapur, agaknya kedua lututnya tidak terasa perih lagi ia sudah melupakan itu. Ki Tejoranu juga berlari dan mereka berdua berlari sambil tertawa-tawa seperti dua orang anak kecil!

Kini mereka berdua duduk menghadapi makanan nasi dan dua macam lauk setengah hangus. Untung tidak hangus semua karena apinya keburu mati kekurangan kayu bakar. Listyarini kecewa sekali. Tadinya ia ingin membuatkan masakan yang lezat untuk penolongnya, tidak tahunya sekarang hanya dapat menghidangkan masakan hangus! Akan tetapi ia melihat Ki Tejoranu makan dengan lahap sekali. Nasinya banyak dan dia tampak menikmati masakan lauk daging bader dan daging ayam setengah hangus itu. Ketika Ki Tejoranu mengangkat muka dan melihat wanita itu memandangnya, dia tersenyum dan mengangguk-angguk sambil berkata,

"Wah, enak, enak, enak..!".

Listyarini menghela napas. "Akan tetapi gosong!" katanya penuh sesal.

"Agak gosong akan tetapi enak, enak. kata pula Ki Tejoranu dengan suara pasti dan untuk membuktikan kata-katanya dia makan lagi dengan lahapnya.

Setelah selesai makan dan Listyarini membersihkan meja dan mencuci tempat hidangan, dibantu dengan paksa oleh Ki Tejoranu, mereka lalu duduk di serambi depan. Matahari telah condong ke arah barat. Pemandangan alamnya indah sekali, hawa udaranya tidak sangat dingin lagi, melainkan hangat-hangat sejuk. Melihat suasana begitu indah dan pemandangan di telaga yang tak begitu jauh dari pondok itu demikian gemilang, Listyarini mengajak Ki Tejoranu untuk mendekati telaga. Mereka berdua berjalan ke arah telaga lalu duduk di tepi telaga, di atas batu-batu gunung yang berada di sekitar telaga besar itu.

Keduanya menikmati keindahan telaga, melihat baying-bayang awan di dalam telaga dan terkadang tampak ikan dengan kulitnya yang mengkilap meluncur di air. Telinga mereka menangkap gemercik air gerojokan (air terjun) yang berada agak jauh dari situ, mendengar pula ocehan burung-burung di hutan sekeliling telaga.

Suasana amat tenteram, damai, membuat mereka terpesona dan tenggelam ke dalam lamunan sehingga tidak saling bicara. Dengan berdiam diri, orang dapat menikmati keindahan dan kebesaran alam, bahkan merasa dirinya bersatu dengan keindahan itu, menjadi bagian dari alam semesta.

Kalau pikiran sudah berjalan dan dikeluarkan melalui kata-kata, orang merasa terpisah dari semua itu, dari alam menjadi sesuatu yang asing dan di luar dirinya. Sampai lama mereka tenggelam dalam kesunyian. Listyarini tidak tahu betapa pada saat itu, diam-diam Ki Tejoranu menatap wajahnya penuh perhatian, bahkan penuh pesona. Ki Tejoranu menemukan sesuatu yang amat mengejutkanya.

Dalam matanya, wajah Listyarini pada saat itu presis wajah tunangannya ketika di Negeri Cina dahulu, presis wajah Mei Hwa! Memang tidak sama benar. Mungkin mata Mei Hwa lebih sipit, kulit Mei Hwa lebih kuning. Akan tetapi kesemuanya itu dipadu menjadi satu, memiliki daya tarik yang sama, bahkan dalam keadaan termenung mulut Listyarini agak terbuka dan sepasang bibir itu serupa benar dengan bibir Mei Hwa! Timbul rasa rindunya yang amat kuat. Bangkit rasa cintanya yang mendalam.

Teringat dia saat itu, ketika dia duduk berdua menyatakan kasih sayang dengan Mei Hwa, saling berpegangan tangan, mengutarakan cinta kasih melalui pertemuan jari-jari tangan. Tanpa disadari, Ki Tejoranu menggerakkan tangannya dan dengan lembut dia menyentuh tangan Listyarini.

Merasa dipegang tangannya, Listyarini terkejut dan cepat ia menarik lepas tangannya sambil mengangkat muka memandang wajah Ki Tejoranu. Melihat betapa sepasang mata sipit itu memandangnya dengan sinar aneh, ia cepat menegur, "Eh, Ki Tejoranu, ada apakah engkau ini? Kenapa... kenapa engkau memandangku seperti itu..?" Dalam teguran itu terkandung keraguan.

Ki Tejoranu merasa seolah baru bangun dari tidurnya, atau seperti diseret turun kembali ke bumi. Dia membelalakkan matanya dan baru tampak jelas olehnya bahwa wanita di depannya itu sama sekali bukan Mei Hwa, melainkan Listyarini, isteri Ki Patih Narotama dari Kerajaan Kahuripan! Wajahnya berubah merah sekali dan sambil menundukkan kepalanya dia berkata gagap.

"Maaf... maafkan aku, Mas ayu Lini... engkau tadi... sama benal dengan ia... dan aku amat lindu kepadanya "

"Sama dengan siapa Maksudmu, sama dengan Mei Hwa tunanganmu itu?"

Hati Ki Tejoranu mengangguk, akan tetapi dia memaksa diri menggeleng kepala kuat-kuat. Hatinya bilang ya akan tetapi mulutnya cepat berkata, "Tidak, tidak! Aku tadi melihat engkau seperti... adikku, The Kim Lan. Aku... aku sudah lindu sekali padanya... maafkan aku, Mas ayu..."

Pandang mata Listyarini melembut, mulutnya tersenyum dan ia memandang penuh iba kepada laki-laki itu. "Kalau begitu, anggap saja aku ini pengganti adikmu dan jangan sebut Mas ayu lagi kepadaku. Sebut saja namaku, Listyarini dan aku akan menyebutmu, Tejo!"

Ucapan ini keluar dari hati yang tulus, hati yang penuh belas kasihan kepada laki-laki penolongnya itu.

"Betulkah itu? Benal-benal aku boleh menganggap engkau seperti adik dan menyebutmu... eh, Lini saja?"

"Tentu saja boleh, Tejo. Aku senang dan bangga mempunyai seorang saudara seperti engkau."

"Telima kasih, Lini. Telima kasih. Aku tadi... eh, memegang tanganmu... sebenalnya aku hendak memeliksa denyut nadi pelgelangan tanganmu, untuk memeliksa kesehatanmu. Bolehkah sekalang kulakukan?"

"Tentu saja, Tejo." Listyarini lalu menjulurkan lengan kirinya yang berkulit putih mulus itu kepada Ki Tejoranu.

Tanpa ragu dan bebas sama sekali dari gairah nafsu, Ki Tejoranu lalu memegang pergelangan tangan kiri itu dan menyentuh urat nadinya sambil memperhntikan denyutnya. Tak lama kemudian dia berseru lirih dengan suara menyatakan kekagetannya.

"Hayaaa..., Lini! Engkau... engkau... hamil..!"

Kini Listyarini yang merasa heran. Sambil tersenyum ia bertanya.

"Bagaimana engkau bisa tahu akan hal itu, Tejo?"

"Tentu saja aku tahu. Aku sudah biasa mengetahui keadaan kesehatan olang melalui pemeliksaan denyut nadi. Akan tetapi... engkau malah telsenyum. Engkau hamil, Lini!"

Listyarini tertawa. "Heh-heh, aku sudah tahu Tejo. Dan kenapa aku tidak boleh tersenyum? Aku merasa bahagia bahwa kini aku telah hamil dua bulan. Suamiku juga sudah mengetahuinya dan kami berbahagia sekali."

"Oohh, begitukah? Aku... aku... ikut melasa belbahagia, Lini." kata Ki Tejoranu dengan suara yang tidak terdengar begitu gembira karena sebetulnya pada saat itu hatinya merasa suatu kenyataan yang amat pahit baginya. Listyarini, wanita ini, yang dia merasa setelah menggantikan Mei Hwa dalam hati yang bukan saja sudah menjadi isteri Ki Patih Narotama, bahkan lebih lagi, la sudah menjadi seorang calon ibu!

Demikianlah, hubungan antara dua orang ini semakin akrab dan terdapat ikatan batin antara mereka seperti dua orang saudara sendiri. Listyarini benar-benar merasakan kebaikan sikap dan budi Ki Tejoranu dan menganggapnya seperti seorang kakak yang selalu melindunginya. Sebaliknya, biarpun pada lahirnya Ki Tejoranu bersikap seperti saudara, namun di dalam batinnya dia menganggap Listyarini sebagai pengganti Mei Hwa, sebagai wanita ke dua yang pernah dia cintai sepenuh jiwanya. Akan tetapi kebijaksanaannya menyadarkannya bahwa dia tidak boleh mengharap terlalu banyak karena Listyarini adalah milik orang lain dan diapun tahu betapa besar cinta kasih wanita itu terhadap pria yang menjadi suaminya dan ayah dari anak yang di kandungnya.

Betapa pun juga, keakraban antara mereka bagaikan secercah cahaya yang membahagiakan keduanya. Bagi Listyarini, Ki Tejoranu merupakan jaminan atas keselamatannya, dan merupakan hiburan besar baginya, memperbesar harapannya untuk segera dapat berkumpul kembali dengan suaminya tercinta. Dan bagi Ki Tejaranu, kehadiran Listyarini bagaikan sinar cemerlang yang menerangi hidupnya yang selama ini terasa gelap dan hampa.

Dengan adanya keakraban ini, walau pun Listyarini senantiasa mengharap-harapkan munculnya suaminya untuk menjemputnya, namun waktu tidak terasa terlalu lama dan kosong. Setiap hari mereka berdua memancing ikan dan ini merupakan kegemaran baru yang amat menghibur bagi Listyarini. Apa lagi kalau ada ikan yang menyambar umpan pada mata kailnya. Ia bersorak, menjerit dan berteriak kegirangan sehingga Ki Tejoranu ikut pula terbahak-bahak.

Belasan hari, tepatnya delapan belas hari lewat tanpa terasa. Pada pagi hari itu, kembali mereka memancing ikan di telaga. Mereka duduk di atas batu-batu dan memegang tangkai pancing dengan tenang dan sabar menunggu ikan yang akan menyambar umpan mereka. Listyarini mengenakan kain dan baju sederhana, pakaian wanita dusun biasa, yang didapatkan Ki Tejoranu di dusun-dusun kaki Gunung Lawu. Di daerah sepi sekitar pegunungan itu tentu saja sukar untuk membeli pakaian mewah seperti yang dipakai Listyarini ketika ia diculik Nismara.

Akan tetapi, dengan pakaian sederhana serba hitam, rambutnya digelung biasa tanpa perhiasan, ia tampak semakin cantik jelita, bahkan kemulusan kulitnya semakin tampak dan keayuannya tampak asli. Wajahnya, seperti biasa wajah seorang calon ibu, bercahaya segar. Ada pun Ki Tejoranu, walau pun memakai pakaian biasa seperti yang dipakai para petani sekitar pegunungan itu, namun tetap saja masih tampak jelas keasingan sebagai seorang Cina karena bentuk matanya, bentuk ikatan rambutnya dan terutama sekali ucapannya yang pelo, tidak dapat mengeluarkan suara "R" dan selalu diubah menjadi suara "L".

Demikian asyiknya mereka menunggu korban umpan mereka sehingga agaknya untuk bernapas pun mereka berhati-hati agar tangkai pancingnya tidak banyak bergerak dan dalam keasyikan itu mereka tidak melihat adanya tiga bayangan orang berkelebat dan kini mereka bertiga sudah berdiri dalam jarak sepuluh meter dari mereka!

Mereka itu adalah tiga orang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun dan dari wajah dan pakaian mereka jelas sekali dapat diketahui bahwa mereka adalah orang-orang asing, yaitu orang-orang Cina! Seorang dari mereka, yang paling tua, sekitar lima puluh lima tahun usianya, berpakaian serba putih dan rambutnya yang digelung ke atas dan memakai pita putih juga sudah penuh uban.

Tubuhnya tinggi kurus dan di punggungnya tampak sebatang pedang. Ada pun dua orang yang lain bertubuh sedang, yang seorang wajahnya penuh brewok dan yang seorang lagi wajahnya bersih bahkan agak pucat. Juga mereka berdua itu membawa pedang di punggung mereka. Usia mereka sekitar lima puluh tahun. Tiga orang itu memandang dengan sinar mata mencorong ke arah Ki Tejoranu!

Karena asyik memperhatikan tangkai pancingnya, Ki Tejoranu belum juga melihat munculnya tiga orang itu. Hal ini bukan hanya karena Ki Tejoranu sedang asyik memancing, akan tetapi terutama sekali karena gerakan tiga orang itu memang ringan dan cepat bukan main. Melihat Ki Tejoranu seperti tidak memperdulikan mereka, seorang di antara mereka lalu berteriak dengan suara lantang karena dia berseru dengan pengerahan tenaga sin-kang (tenaga sakti).

"The Jiauw Lan..!"

Ki Tejoranu dan Listyarini terkejut bukan main. Suara itu menggeledek dan bahkan membuat jantung Listyarini terguncang seolah mendengar halilintar menyambar dekat telinganya sehingga tangkai pancing yang dipegangnya terlepas. Keduanya cepat menoleh dan kini Ki Tejoranu yang terkejut sekali karena dia segera mengenal siapa adanya tiga orang itu! Kakek berpakaian serba putih itu adalah gurunya sendiri, sedangkan dua orang yang lain adalah paman guru pertama dan ke dua!

"Suhu (guru), toa-susiok (paman guru pertama) dan jisusiok (paman guru ke dua)!" katanya dan dia cepat turun dari atas batu, lalu menghampiri mereka dan menjatuhkan diri berlutut di depan mereka.

Gurunya, kakek berpakaian putih itu berjuluk Pek I Kiamsian (Dewa Pedang Baju Putih) bernama Souw Kiat. Ada pun dua orang yang lain adalah adik-adik seperguruan Pek I Kiamsian Souw Kiat. Yang pertama bernama Gan Hok berusia lima puluh dua tahun, bertubuh sedang, mukanya brewok. Ada pun yang ke dua bernama Giam Lun, berusia lima puluh tahun, bermuka bersih agak kepucatan. Biarpun ilmu mereka tidak setinggi tingkat kepandaian Pek I Kiam-sian, namun dua orang itu pun terkenal di Cina sebagai pakar-pakar ilmu pedang yang lihai bukan main.

Listyarini yang juga terkejut melihat datangnya tiga orang asing itu, menjadi terheran-heran melihat Ki Tejoranu kini berlutut di depan kaki tiga orang itu. la lalu turun dari atas batu pula dan menonton dengan hati tegang. Ki Tejoranu bercakap-cakap dengan tiga orang Itu dalam bahasa yang sama sekali tidak ia mengerti. Akan tetapi melihat sikap Ki Tejoranu yang begitu hormat dan tampak takut-takut, hati Listyarini menjadi tidak enak dan gelisah, dan ia setengah menduga dengan khawatir bahwa mereka bertiga itu adalah orang-orang dari Negeri Cina yang datang mencari Ki Tejoranu yang menjadi buronan!

"Jiauw Lan, engkau tentu tahu mengapa kami hari ini muncul di sini!" kata Pek I Kiam-sian dengan wajah dan suara dingin.

"Suhu, sudah lebih dari lima tahun teecu (murid) merantau dan tinggal di negeri ini, sama sekali tidak pernah menduga bahwa suhu dan ji-wi susiok (paman guru berdua) hari ini muncul dengan tiba-tiba mengunjungi teecu. Harap suhu memberi penjelasan kepada teecu."

"Hemm, engkau masih berpura-pura tidak tahu? Apakah engkau tidak merasa telah berbuat dosa yang amat besar di Cina sana?"

"Teecu tidak merasa berbuat dosa, tidak merasa melakukan kejahatan melainkan menegakkan kebenaran dan keadilan seperti yang suhu pernah ajarkan kepada teecu." kata Ki Tejoranu atau The Jiauw Lan dengan suara mantap dan tegas karena di dasar hatinya dia memang tidak merasa bersalah.

"Hah! Engkau telah membunuh Bhong Kongcu (Tuan muda Bhong), putera Bhong Tai-jin (Pembesar Bhong) di Nan-king, dan engkau masih berpura-pura tidak merasa berdosa?"

Dengan masih berlutut Ki Tejoranu menjawab, suaranya tetap mantap dan tegas, "Sama sekali tidak suhu..., teecu tidak merasa berdosa! Barang kali suhu belum mengetahui apa yang telah dilakukan Bhong Kongcu itu kepada keluarga teecu? Dia dengan anak buahnya telah mengamuk di rumah kami, membunuh ayah dan ibu sehingga adik teecu juga tidak ketahuan hilang ke mana. Tidakkah pantas kalau teecu lalu mencari dan membunuhnya untuk membalaskan kematian ayah ibu dan hilangnya adik teecu?"

"Akan tetapi engkau yang mencari gara-gara lebih dulu!" bentak Gan Hok yang brewok, suaranya mengandung kemarahan karena dia sudah merasa kesal dan jengkel sekali membuang waktu sampai hampir dua tahun mencari-cari The Jiauw Lan di semua pelosok pulau ini.

"Ya, engkau berani menghajar Bhong Kongcu dan anak buahnya." kata pula Giam Lun yang bermuka pucat, yang juga merasa gemas kepada murid keponakan ini.

"Akan tetapi, ji-wi susiok (paman guru berdua), teecu terpaksa menghajar mereka karena mereka mengganggu seorang gadis dan bertindak kurang ajar dan tidak sopan, bahkan agaknya mereka hendak memaksa gadis itu ikut dengan mereka untuk diganggu." Ki Tejoranu memprotes.

"Jiauw Lan, itu bukan urusanmu, kenapa engkau mencampuri urusan orang lain? Kalau engkau tidak lancang mencampuri urusan Bhong Kongcu kemudian malah menghajarnya, tentu saja tidak terjadi perkara yang berlarut-larut seperti Ini. Engkau membuat kami, guru dan paman-paman guru mu yang sudah bersahabat baik dengan Bhong Tai-jin, merasa tidak enak sekali dan terpaksa kami jauh-jauh datang dari negeri kita untuk mencarimu."

Ki Tejoranu mengerutkan alisnya. Dalam pelariannya, pernah dia mendengar dari seorang yang baru datang dari Cina bahwa gurunya telah terbujuk oleh Pembesar Bhong untuk mencarinya! Gurunya, yang terkenal sebagai seorang datuk pendekar berjuluk Kiam-sian (Dewa Pedang), kini berpihak kepada pihak yang sewenang-wenang dan jahat. Hal ini membuktikan betapa kuatnya pengaruh uang terhadap diri manusia, atau betapa lemahnya manusia kalau dihadapkan kepada kesenangan duniawi melalui harta!. Hatinya menjadi penasaran sekali, dan juga kecewa melihat guru dan kedua orang paman gurunya.

"Dan setelah sekarang suhu menemukan teecu, lalu apa yang harus teecu lakukan?"

"Bukan apa yang harus kau lakukan, melainkan apa yang akan kulakukan terhadap dirimu, Jiauw Lan! Semestinya aku menghukum mati padamu, akan tetapi mengingat bahwa engkau pernah menjadi muridku selama bertahun-tahun, biarlah aku akan membuat engkau kehilangan kekuatanmu agar kelak engkau tidak akan dapat membunuh orang lagi!"

Mendengar ini, Ki Tejoranu bangkit berdiri. "Suhu, dahulu suhu mengajarkan kepada teecu agar selama masih mampu, teecu harus membela diri sekuat tenaga. Maka, sekarang pun teecu harus membela diri semampu teecu!"

Setelah berkata demikian Ki Tejoranu mencabut goloknya dan berdiri dalam posisi siap menghadapi serangan. Kuda-kudanya tampak kokoh dan kuat karena ilmu silatnya dimatangkan oleh pengalaman selama bertahun-tahun merantau dan menghadapi kekerasan dan kesukaran.

"Hemm, Jiauw Lan! Engkau berani hendak melawan gurumu sendiri?" tanya Pek I Kiam-sian.

"Suhu pernah mengatakan, lebih baik tewas sebagai harimau dalam perlawanan dari pada mati konyol seperti babi di tangan penjagal!"

"Suheng!" Gan Hok berseru. "Jangan merendahkan diri melawan orang yang pernah menjadi murid sendiri. Biarlah aku yang memberi hajaran kepada bocah ini!"

"Aku juga ingin mewakili mu, suheng (kakak seperguruan)!" kata Giam Lun.

Kedua orang itu sudah siap dan mencabut pedang siap menyerang Ki Tejoranu. Pek I Kiam-sian mengangguk-angguk.

"Kalian boleh maju mewakili aku, akan tetapi jangan membunuhnya. Aku sudah berjanji tidak membunuhnya, hanya membuat dia kehilangan kekuatan untuk selamanya."

Dua orang itu mengangguk tanda bahwa mereka mengerti, kemudian keduanya maju menghampiri Ki Tejoranu. Ki Tejoranu tersenyum mengejek. Kini dia mulai memandang guru dan para paman gurunya dengan penilaian lain. Dia dulu bukan hanya berguru kepada Pek I Kiam sian, melainkan mempelajari ilmu-ilmu silat aliran lain. Dengan mengkombinasikan semua ilmu itu, dia akhirnya dapat merangkai ilmu sepasang golok yang selama ini menjadi senjata-senjata andalannya sehingga dia dijuluki "Sha-liong Siang-to (Sepasang Golok Pembunuh Naga) ketika masih di Cina sana.

Sambil melintangkan sepasang goloknya di depan dada, Ki Tejoranu berkata, "Hemm, dua orang pendekar hendak mengeroyok seorang keponakan murid, sungguh lucu!"

Dua orang itu merasa disindir dan mereka menjadi marah. Tanpa banyak cakap lagi mereka lalu menyerang dengan pedang mereka. Keduanya adalah ahli-ahli pedang yang mahir, maka serangan mereka itu pun dahsyat, cepat dan kuat sekali datangnya.

Ki Tejoranu menggerakkan sepasang goloknya. Segera terjadi perkelahian yang amat seru. Bayangan tubuh ketiga orang itu berkelebatan di antara dua gulungan sinar golok dan dua gulungan sinar pedang. Terdengar suara berdentang berkali-kali dan tampak bunga api berpijar menyilaukan mata.

Listyarini yang menonton perkelahian itu, terbelalak dengan hati penuh ketegangan. Karena mereka bicara dalam bahasa asing, ia tidak mengerti persoalannya akan tetapi dapat menduga bahwa ini tentu ada hubungannya dengan peristiwa yang terjadi di Negeri Cina seperti pernah diceritakan Ki Tejoranu kepadanya. Ia menjadi khawatir sekali, la tidak tahu bagaimana keadaan perkelahian itu, apakah Ki Tejoranu terdesak ataukah sebaliknya karena mengikuti bayangan mereka saja sudah amat sukar. Yang tampak hanya bayangan berkelebatan, sinar bergulung-gulung, percikan bunga api dan bentakan-bentakan mereka.

Tentu saja di dalam hatinya, Listyarini berdoa agar K i Tejoranu yang sudah diakuinya sebagai kakaknya itu, akan dapat menang dalam pertandingan itu. Ia sama sekali tidak tahu bahwa dua orang yang bertanding melawan Ki Tejoranu adalah paman guru Ki Tejoranu sendiri, sedangkan kakek berpakaian serba putih itu, yang kini berdiri menonton dengan sikap tenang dan wajah dingin, malah guru Ki Tejoranu. Kalau ia mengetahui hal ini, tentu saja hati Listyarini akan merasa gelisah sekali.....
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Sang Megatantra Jilid 23"

Post a Comment

close