Sang Megatantra Jilid 22

Mode Malam
Kho Ping Hoo
-------------------------------
----------------------------
Akan tetapi orang Cina itu telah berani mengganggunya bahkan menyeret dan menendangnya sehingga dia gagal memperkosa Listyarini. Dia bangkit dan mukanya berubah merah ketika dia memandang kepada pemuda Cina itu dengan mata melotot.

"Setan alas keparat busuk.! Siapa engkau berani mencampuri urusanku?" ia menghardik dan tangan kanannya meraba gagang keris yang terselip di pinggangnya. Dengan bahasa daerah yang cukup jelas dan lancar namun yang diucapkannya dengan pelo, orang itu menjawab

"Nama saya The Jiauw Lan..."

"Siapa?" Nismara menegaskan karena nama yang diucapkan orang itu tidak dapat ditangkap telinganya dengan baik.

"The Jiauw Lan," Orang Cina itu mengulang. Namun tetap saja Nismara tidak dapat menerima jelas.

"Sudahlah, persetan dengan namamu! Kenapa engkau berani mencampuri urusanku dengan wanita itu? Hayo cepat minggat dari sini, atau aku akan membunuhmu!" Dia mencabut Kerisnya dan mengancam.

The Jiauw Lan menggeleng-geleng kepalanya. "Aku tidak ingin berkelahi, tidak ingin mencari musuh. Akan tetapi kaujangan ganggu pelempuan itu. Itu tidak baik, salah dan jahat sekali! Kau pelgilah, jangan ganggu ia!"

"Babo-babo, keparat. Berani engkau menghalang dan menantangku? Engkau sudah bosan hidup. Mampuslah!"

Nismara lalu menubruk sambil menyerang dengan kerisnya. Gerakannya cukup cekatan dan mengandung tenaga kuat. Dia merupakan seorang perwira kepatihan yang cukup tangguh. Namun, tusukan keris itu hanya mengenai tempat kosong karena The Jiauw Lan dapat cepat mengelak dengan geseran kakinya yang lincah sekali.

Nismara menjadi semakin marah. Dia cepat menyusulkan serangan kerisnya, lagi, dilanjutkan dengan tamparan tangan kirinya. Ketika tusukan keris dan tamparan tangan itu kenbuli hanya mengenai tempat kosong, dia menambahkan dengan tendangan bertubi-tubi. Namun semua serangannya itu tidak mengenai sasaran. Lawannya ternyata memiliki gerakan yang amat lincah, tubuhnya berkelebatan ke kanan kiri dan semakin cepat dan gencar Nismara rntnyerang, semakin cepat pula dia bergerak menghindar.

”Aku tidak ingin belkelahi. Pelgilah..!" The Jiauw Lan berseru lagi.

Akan tetapi karena merasa penasaran, Nismara tetap saja menyerang secara bertubi-tubi. Ketika kerisnya meluncur ke arah perut lawan, tiba-tiba orang Cina itu menepis dengan tangan kiri dari samping. Tepisan dengan jari-jari tangan ini mengenai pergelangan tangan yang memegang ker is.

"Tukk!" Keris terlepas dari pegangan dan di lain detik, sebuah tendangan mengenai perut Nismara.

"Bukk..!" Tubuh Nismara terjengkang. Dia merasa lengan kanannya nyeri dan perutnya mendadak mulas. Terkejutlah dia dan sekarang baru dia menyadari bahwa dia berhadapan dengan orang yang pandai dan tangguh. Maka cepat dia menyambar kerisnya yang menggeletak di dekatnya, kemudian dia bangkit dan melarikan diri.

"Jahanam, kau tunggu pembalasanku!" teriaknya mengancam sambil melanjutkan larinya. Orang Cina itu hanya memandang sambil menggeleng-geleng kepala.

"Helan... di sana... di sini... dunia ini penuh olang jahat..." Dia menghela napas panjang lalu memutar tubuhnya untuk memandang wanita yang nyaris diperkosa penjahat tadi.

Listyarini berdiri di bawah pohon. Sejak tadi ia menonton perkelahian itu. Dia mengerti bahwa orang yang bicaranya pelo itu sedang membelanya, maka tentu saja diam-diam ia mendoakan kemenangan bagi orang asing itu. Mula mula ia merasa ngeri melihat Nismara menyerang bertubi-tubi dengan kerisnya dan agaknya orang asing itu terdesak. Ia sudah mengambil keputusan nekat. Ada sebuah batu besar di bawah pohon didekatnya. Kalau ia melihat pembelanya itu kalah, ia akan membunuh diri dengan menghantamkan kepala sendiri kepada batu besar itu. Akan tetapi ternyata pembelanya itu menang dan Nismara melarikan diri! Hal yang sama sekali tidak disangkanya ini membuat wajahnya yang tadinya pucat berubah kemerahan berseri, sinar mata yang tadinya layu kini bercahaya dan bibirnya yang mungil berkembang dan muncullah senyumnya yang manis penuh rasa bahagia.

Tadi ketika melihat seorang laki-laki hendak memperkosa seorang wanita, The Jiauw Lan tidak dapat tinggal diam saja dan cepat dia mencegah. Pada saat itu, dia sama sekali tidak memperhatikan wajah Listyarini. Baru sekarang dia bertatap muka dengan Listyarini, melihat wajah yang berseri, mata yang indah bercahaya serta senyuman yang manis itu. Dia terbelalak heran, terpesona, lalu tiba-tiba dia menjatuhkan diri berlutut dan menyembah-nyembah sambil berucap penuh hormat.

"Kwan Im Pouwsat..!"

Kwan Im Pouwsat atau Dewi Kwan Im adalah sebutan seorang dewi kahyangan yang juga disebut Dewi Kebajikan, Dewi Penolong atau Dewi Welas Asih yang terkenal cantik jelita dan sakti mandraguna. Dalam dongeng di Negeri Cina, sang dewi ini sering kali muncul di dunia untuk menyelamatkan manusia, dan tidak jarang pula ia menjelma manusia biasa untuk menguji budi pekerti orang. Jadi, menurut kepercayaan The Jiauw Lan, bukan mustahil kalau tadi Kwan Im Pouwsat sengaja menyamar sebagai wanita yang hendak diperkosa penjahat untuk mengujinya!

The Jiauw Lan percaya sekali sang dewi yang menjadi pujaan seluruh rakyat di Negeri Cina itu, maka melihat Listyarini yang demikian cantik jelita, anggun dan penuh wibawa serta merta dia menganggapnya Dewi Kwan Im dan memberi hormat sambil mohon ampun dan menghaturkan terima kasih.

Listyarini tertegun. Penolongnya itu tiba-tiba berlutut kepadanya, menyembah-yembah dan berkata-kata dalam bahasa yang tidak dimengertinya sarna sekali! Ia meenengok ke belakangnya, untuk melihat kalau-kalau di sana ada orang lain yang dihormati penolongnya itu. Akan tetapi tidak ada siapa-siapa sehingga jelaslah bahwa ia yang disembahsembah itu. Maka, ia lalu melangkah maju menghampiri penolongnya dan menyentuh pundak orang itu.

"Ki sanak, bangkitlah dan bicaralah dengan bahasa yang kumengerti. Jangan menyembah-nyembah seperti ini."

Sentuhan lembut di pundaknya itu terasa oleh The Jiauw Lan sebagai sentuhan yang mengandung getaran hebat,maka makin gencar dia menyembah karena hatinya makin yakin bahwa yang menyentuhnya itu benar-benar jari tangan Kwan Im Pouwsat yang sakti.

"Paduka Kwan Im Pouwsat... Kwan Im Pouwsat... saya holmati..."

"Kwan Im Pouwsat? Siapa itu..." Listyarini bertanya heran.

"Dewi pujaan kami, Dewi Solga yang bijaksana, penyelamat manusia. Paduka Dewi Kebajikan, maafkan saya..."

Kini mengertilah Listyarini. Ia merasa geli dan tertawa. Tawanya lembut tertahan dan sopan. "Heh-heh, aku sama sekali bukan dewi kahyangan, ki sanak. Aku manusia biasa. Bangkitlah dan mari kita bicara. Engkaulah yang menolongku dan aku berterima kasih sekali kepadamu."

Mendengar ini, The J iauw Lan mengangkat mukanya dan memandang heran. Kini baru dia melihat bahwa yang berdiri di depannya adalah seorang wanita Jawa yang sudah pasti seorang bangsawan tinggi, cantik jelita dan anggun. Mungkin saja Kwan Im Pouwsat yang menyamar, akan tetapi wanita itu mengaku bahwa ia seorang manusia biasa. Maka diapun bangkit berdiri.

"Engkau... seolang manusia biasa? Benalkah itu? Akan tetapi, bagaimana bisa belada di tempat ini dan siapa pula olang jahat tadi? Siapakah engkau dan dali mana?"

Pertanyaannya meluncur bagaikan hujan dan Listyarini tersenyum. Biarpun laki-laki ini asing dan bicaranya lucu dan pelo, namun ia dapat merasakan dan tahu dari pandang matanya bahwa orang ini bukan orang jahat hamba nafsu.

"Ceritanya panjang, ki sanak. Marilah duduk dan akan kuceritakan semua untuk menjawab pertanyaanmu itu."

Listyarini duduk di atas batu dan laki-laki itu duduk di atas batu lain tak jauh darinya. "Ki sanak, sebelum aku menceritakan keadaan diriku, kuharap engkau suka lebih dulu menceritakan tentang dirimu. Memang aku telah menerima pertolongan darimu dan aku percaya sepenuhnya kepadamu, namun kiranya tidaklah pantas bagi seorang wanita menceritakan keadaan dirinya kepada seorang pria yang tidak dikenalnya sama sekali. Ki sanak, maukah engkau bercerita tentang dirimu kepadaku?"

"Tentu, tentu saja, nona. Namaku adalah The Jiauw Lan." kata laki-laki itu dengan nada gembira.

"Tejo... siapa..?"

"The Jiauw Lan."

"Wah, sulit sekali namamu. Tejoranu begitukah?"

Sepasang mata itu menjadi semakin sipit ketika dia tertawa.

"Tejolanu Begitu juga baiklah."

"Baik, mulai sekarang aku akan menyebutmu Ki Tejoranu. Setujukah engkau?"

"Ki Tejolanu? Ha-ha-ha, Ki Tejolanu! Bagus sekali, aku suka nama itu. Mulai sekalang, aku adalah Ki Tejolanu!" kata laki-laki itu sambil tertawa senang. Ketika tertawa, wajahnya yang tadinya tampak asing karena matanya yang sipit itu kelihatan cerah dan menyenangkan, sehingga Listyarini juga ikut tertawa.

"Nah, sekarang ceritakan tentang dirimu, riwayatmu, Ki Tejoranu. Aku tahu bahwa engkau tentu seorang asing. Dari mana engkau datang dan bagaimana engkau dapat berada di sini?"

"Aku belasal dali Tiongkok."

"Tiongkok? Di mana itu?"

"Aku bangsa Cina, dali Negeli Cina, nona."

"Jangan sebut aku nona. Aku sudah bersuami, namaku Listyarini."

"Listyalini?"

"Ya, jangan sebut nona, sebut aku dengan mas ayu Listyarini."

"Mas ayu Lini, begitu lebih mudah dan tidak telalu panjang. Bolehkah?"

"Baiklah, Ki Tejoranu. Nah, teruskan ceritamu. Engkau berasal dari Negeri Cina? Aku pernah mendengar tentang negara dan kerajaan besar di seberang itu, akan tetapi baru sekarang aku bertemu dengan seorang Cina."

Ki Tejoranu lalu menceritakan riwayatnya. The Jiauw Lan atau yang kini kita kenal sebagai Ki Tejoranu itu tadinya tinggal di sebuah dusun dekat kota Nan-king. Lima tahun yang lalu, ketika itu dia berusia dua puluh tahun, dia seorang yang dikenal sebagai seorang pendekar yang cukup lihai dan ditakuti golongan sesat karena permainan sepasang goloknya yang hebat sehingga dia dijuluki Sha-Jiong-to (Golok Pembunuh Naga).

Karena dia selalu bersikap menentang kejahatan, pada suatu hari dia menghajar seorang pemuda dari Nan-king yang mencoba mengganggu dan menculik seorang gadis dusun, dibantu beberapa orang jagoannya. Ki Tejoranu menghajar kongcu (tuan muda) hidung belang itu bersama para jagoannya sehingga mereka kocar kacir melarikan diri pulang ke Nan-king. Ki Tejoranu sama sekali tidak tahu bahwa yang dihajarnya itu adalah putera seorang pejabat tinggi, bahkan masih keponakan dari seorang pangeran!

Ketika beberapa hari kemudian dia mengetahui akan hal ini, dia terkejut dan khawatir, akan tetapi telah terlambat. Dia mendengar dari seorang teman ketika dia keluar rumah. Karena khawatir akan akibat peristiwa itu, dia cepat pulang, akan tetapi apa yang ditemukannya di rumahnya?

Ayah dan ibunya telah tewas terbunuh, adiknya, seorang gadis kecil berusia empat belas tahun, telah hilang entah ke mana dan rumah mereka porak poranda dihancurkan sejumlah perajurit yang dipimpin oleh Bong-kongcu (tuan muda Bong) yang dihajarnya beberapa hari yang lalu.

Dari para tetangganya dia mendengar bahwa pasukan itu mencarinya lalu mengamuk dan merusak rumah, membunuh ayah ibunya. Ada pun tentang adiknya, The Kim Lan, tidak ada yang mengetahuinya. Menurut para tetangga, tidak ada yang melihat gadis cilik itu dibawa lari para perajurit. Mungkin anak itu sempat melarikan diri entah ke mana.

The Jiauw Lan atau Ki Tejoranu marah sekali. Sambil membawa sepasang goloknya, dia segera pergi ke rumah keluarga Pembesar Bong dan di situ dia mengamuk. Puluhan orang perajurit pengawal dibunuhnya dan akhirnya dia berhasil juga membunuh Bong Kongcu.

Setelah dapat membunuh tuan muda Bong itu barulah kemarahannya mereda dan karena tahu bahwa kalau dia melanjutkan, amukannya, akhirnya dia akan mati dikeroyok banyak perajurit, akhirnya dia melarikan diri.

"Begitulah, Mas ayu Lini. Aku dikejal pasukan, telpaksa melalikan dili ke sini, ikut pelahu jong bekelja menjadi kuli dan melantau, kalena takut pembesal Bong mengilim olang-olang pandai mencali, aku belpindah pindah dan akhilnya aku belsembunyi di daelah ini, dekat telaga sana." Ki Tejoranu mengakhiri ceritanya.

Sejak tadi Listyarini mendengarkan dengan penuh perhatian. Biarpun bicaranya pelo, namun ternyata Ki Tejoranu sudah fasih berbahasa daerah sehingga ia dapat menangkap semua ceritanya. Ia menghela napas panjang, membayangkan betapa besar persamaan kejahatan orang dinegeri Cina dan di sini.

Orang-orang berkuasa condong untuk memiliki watak hadigang hadigung-hadiguna, memegang aji mumpung, menggunakan kekuasaan, harta dan kekuatan untuk berbuat sewenang-wenang. Ketenangan kehidupan di Kahuripan sendiri hanya terlaksana karena kebijaksanaan Sang Prabu Erlangga dengan bantuan suaminya, Ki Patih Narotama.

Karena raja dan patihnya itu berwatak adil, berbudi BAWA LAKSANA, maka para pembesarnya takut untuk melakukan pelanggaran, tidak berani bertindak sewenang-wenang mengandalkan kedudukan dan kekuasaan mereka. Akan tetapi di daerah-daerah yang agak jauh dari kota raja, sering terdengar penindasan dan kesewenangan seperti yang menimpa diri Ki Tejoranu itu.

"Ah, kasihan sekali engkau, Ki Tejoranu. Jadi, sudah lima tahun engkau meninggalkan negerimu? Lalu bagaimana kabarnya dengan adikmu, siapa namanya tadi, Kim Lan?"

"Ya, The Kim Lan. Sebelum aku pelgi, aku sudah belusaha mencalinya, namun sia-sia. Dan aku mendengal kabal yang lebih menyedihkan lagi, yaitu...tunanganku... yang belnama Mei Hwa, telah dipaksa, diambil menjadi isteli ke tiga dali Pembesal Bong, untuk balas dendam padaku!" Setelah berkata demikian, Ki Tejoranu mengayun tangannya ke atas batu.

"Brakkk!" Tepi batu itu pecah berhamburan dan Listyarini melihat pemuda Cina itu mengusap beberapa butir air mata dengan punggung tangannya.

Listyarini merasa terharu. "Ah, Ki Tejoranu, penderitaanmu sungguh berat. Akan tetapi percayalah. Sang Hyang Widhi akhirnya akan melindungi yang benar dan akan menghukum yang jahat. Sekarang aku semakin yakin bahwa engkau adalah seorang yang baik dan aku makin percaya padamu, Ki Tejoranu." Listyarini bangkit, menghampiri laki-laki itu dan menyentuh pundaknya dengan lembut. Ki Tejoranu meletakkan tangannya diatas tangan Listyarini yang menyentuh pundaknya. Hanya sebentar saja dan dia sudah menarik kembali tangannya.

"Telima kasih, Mas ayu Lini, telima kasih. Hatiku sudah tidak sedih lagi sekalang." Dan untuk membuktikan ini, Ki Tejoranu tersenyum.

"Duduklah, Mas ayu dan sekalang celitakan tentang dilimu."

Listyarini lalu kembali ke tempat duduknya semula. Setelah ia menarik napas panjang beberapa kali, mulailah ia menceritakan tentang dirinya. "Aku berasal dari Nusa Bali bernama Ni Nogati. Setelah aku menjadi garwa padmi Ki Patih Narotama dari Kerajaan Kahuripan, namaku diganti menjadi Listyarini. Aku hidup bahagia dengan suamiku, hidup saling mencinta dan mulia di Kerajaan Kahuripan. Akan tetapi semenjak suamiku, Ki Patih Narotama mengambil seorang puteri Kerajaan Parang Siluman yang bernama Lasmini menjadi selir, datanglah gangguan dalam hidupku. Pertama aku diracuni orang sampai hampir mati. Untung suamiku seorang pandai sehingga aku dapat disembuhkan. Kami semua tidak tahu siapa pelakunya karena Tarni, dayang yang membawakan jamu yang diisi racun itu telah dibunuh oleh Lasmini. Diam-diam aku curiga kepadanya, akan tetapi tidak ada bukti, maka aku tak dapat berbuat apa-apa. Kemudian datanglah malapetaka itu..." Listyarini menghela napas panjang.

"Apa yang teljadi, Mas ayu Lini?"

"Pada suatu sore, ketika aku seorang diri dalam taman, seorang perwira pasukan pengawal kepatihan bernama Nismara, menculik aku dan melarikan aku keluar dari kepatihan. Dia membawaku lari sampai berhari-hari lamanya. Selama itu dia tidak berani menggangguku karena agaknya dia dicekam ketakutan kalau-kalau sampai dapat dikejar suamiku yang sakti mandraguna. Menurut keterangan dan pengakuannya dalam perjalanan dia menculikku karena disuruh oleh Lasmini dengan tujuan agar Lasmini dapat menggantikan kedudukanku menjadi garwa padmi Ki Patih Narotama. Setelah tiba di sini, dia merasa aman dan bebas dari pengejaran suamiku, maka dia mempunyai niat keji untuk menggangguku. Untung engkau datang dan menolongku, Ki Tejoranu."

Mendengar kisah ini, Ki Tejoranu melompat dari atas batu yang didudukinya, mencabut sepasang goloknya dan mencaci maki dalam bahasa Cina yang sama sekali tidak dimengerti oleh Listyarini sambil memainkan sepasang goloknya. Dua gulungan sinar menyambar-nyambar dahsyat dan daun-daun pohon di dekatnya rontok berhamburan seperti hujan daun! Melihat ini, Listyarini merasa kagum akan tetapi juga ngeri. Orang itu tidak tampak lagi, hanya bayangannya saja yang terbungkus dua sinar yang bergulung-gulung.

"Sudahlah, Ki Tejoranu, jangan mengamuk. Aku ngeri melihatnya." katanya halus. Ki Tejoranu menghentikan permainan silatnya dan sepasang golok itu sudah kembali ke tempatnya semula, tersilang di belakang punggungnya.

"Maaf, Mas ayu, aku membuat engkau kaget dan ngeli." katanya sambil merangkap kedua tangan di depan dada dengan sikap hormat.

"Tadi engkau bicara apa, Ki Tejoranu! Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau katakan." Listyarini bertanya sambil tersenyum.

Ki Tejoranu tersenyum malu. "Aku... ah, tidak apa-apa, Mas ayu, aku malah dan memaki-maki Nismala itu dan aku melasa menyesal membialkan dia lolos. Kalau aku tahu dia begitu jahat tentu sudah kubunuh dia!"

"Engkau tidak perlu merepotkan hal itu, Ki Tejoranu. Suamiku sendiri tentu akan mengambil tindakan tegas terhadap dua orang yang merencanakan penculikan terhadap diriku itu. Sekarang aku hendak minta bantuanmu, Ki Tejoranu. Engkau tentu mau membantu dan menolongku bukan?"

"Tentu saja, Mas ayu Lini. Bantuan apa yang dapat kubelikan untukmu?"

"Begini, K i Tejoranu. Maukah engkau mengantar aku pulang ke Kepatihan Kerajaan Kahuripan? Ketika penjahat itu melarikan aku sampai ke sini, perjalanan memakan waktu kurang lebih sepuluh hari. Itu pun sebagian dilakukan dengan jalan kaki dan dia memondongku. Kalau dilakukan dengan menunggang kuda, tentu lebih cepat lagi. Di sana dua ekor kuda itu masih ada, dapat kita pergunakan."

Mendengar permintaan ini, K i Tejoranu tampak tertegun dan sejenak dia bengong tak mampu menjawab sehingga Listyarini mendesaknya. "Bagaimana, Ki Tejoranu? Engkau tentu tidak berkeberatan untuk mengantarku, bukan? Suamiku tentu akan memberi imbalan yang memadai, bahkan aku akan minta kepadanya agar engkau diberi kedudukan tinggi dalam pasukannya."

"Hayaa..." Ki Tejoranu mengeluh, lalu berkata, "Tentu saja aku selalu mau membantumu, Mas ayu, akan tetapi aku... aku... bukan tidak mau, melainkan tidak belani."

"Tidak berani? Engkau yang memiliki kepandaian begitu tinggi?"

"Sudah kucelitakan padamu, aku selama ini melantau, belpindah-pindah, sekalang sembunyi di sini. Aku memang takut kalena aku tahu bahwa Pembesal Bong mengutus olang-olang pandai mencaliku dan akan membunuhku."

"Tapi engkau dapat melawan mereka! Apa lagi kalau engkau sudah berada di Kepatihan, suamiku tentu akan melindungimu!"

Ki Tejoranu menggeleng kepala. "Engkau tidak tahu, Mas ayu, olang-olang yang diutus itu lihai-lihai sekali, bahkan aku dengal bahwa Pembesal Bong sudah dapat membujuk guluku untuk ikut mencali aku. Aku takut pelgi jauh dali sini Mas ayu. Maafkan aku." Ki Tejoranu mengangkat kedua tangan kedepan dada dan memberi hormat berulang-ulang sehingga Listyarini merasa tidak enak untuk memaksanya, la mengerti bahwa orang ini benar-benar ketakutan, dan hal itu tidak aneh kalau diingat bahwa gurunya sendiri ikut mencari untuk membunuhnya!

"Kalau begitu, menurut pendapatmu bagaimana baiknya? Apa yang harus ku lakukan sekarang, Ki Tejoranu?" Ia berhenti sebentar. "Bagaimana kalau aku menunggang kuda dan mencoba untuk kembali sendiri ke Kahuripan?"

"Aihh! Jangan, jangan Mas Lini! Jangan lakukan itu, belbahaya sekali, sebelum sampai di sana, engkau bisa celaka. Banyak sekali olang jahat dalam peljalananmu itu!"

"Lalu bagaimana baiknya? Pulang sendiri tidak boleh dan engkau tidak berani mengantarku!"

"Begini saja, Mas ayu. Aku sudah membangun sebuah pondok yang kokoh di dekat telaga. Tempatnya indan telsembunyi dan aman. Tanahnya subul dan tidak kekulangan makanan, banyak pula ikan di ail telaga. Kau tinggal di sana pasti aman. Aku akan melindungimu."

Tiba-tiba Listyarini mendapat pikiran yang dianggapnya amat baik. "Ah, engkau benar, Ki Tejoranu! Untuk sementara aku tinggal di sana, lalu kita mengutus seseorang yang tinggal di dusun terdekat untuk memberi kabar kepada Ki Patih Narotama bahwa aku berada di sana. Tentu suamiku akan segera datang menjemputku!"

Dalam suara wanita itu terkandung harapan dan kegembiraan besar. Ki Tejoranu tersenyum sehingga matanya yang sipit hampir terpejam.

"Bagus! Bagus dan baik sekali pikilan itu, Mas ayu. Sebaiknya diatul begitu. Nanti aku yang mencali olang untuk diutus membeli kabal ke Kepatihan Kahulipan! Kalau begitu, mali, Mas ayu, mali kita pulang!" Laki-laki itu pun tampak gembira bukan main.

"Pulang..?" Listyarini bertanya, sejenak termangu kata-kata itu membuat ia terbayang kepada gedung kepatihan dan keluarganya.

"Ya, pulang... maksudku... pelgi ke pondokku..!" kata Ki Tejoranu, lalu dia menghampiri dua ekor kuda yang tadi ditambatkan pada batang pohon dan membawa dua ekor kuda itu dengan menuntunnya.

Listyarini mengikuti dari belakang dan mereka menuruni lembah menuju ke Telaga Sarangan yang tidak begitu jauh dari tempat itu. Ketika mereka tiba di pondok, Listyarini melihat sebuah pondok yang memang kokoh kuat, terbuat dari balok balok kayu besar. Namun pondok itu sederhana sekali, walau pun tampak bersih dan terawat baik-baik. Meja kursinya juga buatan sendiri, kasar namun kokoh. Akan tetapi di dapur terdapat bahan makanan yang cukup banyak. Jagung, ketela, bahkan beras, buah-buahan dan segala macam bumbu masak. Prabotan dapurnya terbuat dari tanah liat, juga serba tebal dan kuat. Ada beberapa buah guci Cina yang indah, juga tempayan besar berisi air jernih. Ada dua buah kamar di pondok itu dan begitu sampai di situ, Ki Tejoranu sibuk membersihkan sebuah kamar yang tadinya tidak terpakai, dipersiapkan untuk Listyarini.

Senang juga hati Listyarini tinggal untuk sementara di tempat itu, biarpun serba sederhana namun bersih dan udaranya sejuk, penuh dengan pohon-pohon dan terutama sekali yang menyenangkan hatinya, sikap Ki Tejoranu terhadap dirinya bahkan melebihi apa yang dia bayangkan. Ramah dan sopan, bahkan penuh pengartian dan lembut sehingga terkadang ia merasa terharu sekali.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ki Tejoranu sudah menuruni lereng menuju ke sebuah dusun kecil di kaki Gunung Lawu sebelah timur. Dengan memberikan sedikit perhiasan berupa sebuah cincin bermata mirah milik Listyarini dan seekor kuda, Ki Tejoranu berhasil membujuk seorang laki-laki dusun berusia empat puluh tahun bernama Sukardi untuk pergi ke kepatihan Kerajaan Kahuripan dan melapor kepada Patih Narotama bahwa Gusti Puteri Listyarini berada di Telaga Sarangan dan minta dijemput.

"Selahkan cincin ini kepada Ki Patih dan dia akan pelcaya ketelanganmu, dan kuda ini boleh kau miliki. Setelah selesai tugasmu, aku akan membeli hadiah lain lagi padamu." Pesan Ki Tejoranu dan Sukardi menyanggupi.

Hari itu juga dia menunggang kuda menuju ke timur, Kerajaan Kahuripan. Mendengar laporan Ki Tejoranu bahwa dia berhasil menyuruh seseorang pergi melapor ke Ki Patih Narotama, hati Listyarini merasa gembira bukan main. Saking girangnya ia lalu berjanji kepada Ki Tejoranu bahwa siang hari itu ia akan membuat masakan lezat untuk penolongnya itu. Ki Tejoranu segera pergi memancing ikan dan sebentar saja dia sudah pulang membawa empat ekor bader yang gemuk dan besar. Lalu dipotongnya leher seekor ayam gemuk dan besar.

Listyarini lalu sibuk memasak nasi dan masakan daging ayam dan ikan itu. la sibuk di dapur dan sama sekali menolak bantuan Ki Tejoranu. Laki-laki itu tersenyum dan duduk di luar, termenung dan merasa betapa indahnya hari itu, betapa bahagianya hatinya. Belum pernah sejak dia melarikan diri dari Cina dia merasa berbahagia seperti pada hari itu!

Akan tetapi, selagi sibuk memasak tiba-tiba Listyarini mendengar suara gaduh di luar pondok, disusul teriakan-teriakan orang dan beradunya senjata berdentingan. La terkejut dan cepat berlari ke depan, lalu mengintai dari balik daun pintu depan. Alangkah terkejutnya ketika ia melihat Ki Tejoranu berkelahi dikeroyok tiga orang. Seorang di antara para pengeroyok itu bukan lain adalah Nismara! Ada pun yang dua orang lagi, bertubuh tinggi besar dan pakaiannya serba hitam, sikapnya kasar, yang seorang memegang sebatang pecut yang ujungnya dipasangi potongan besi-besi kecil dan yang seorang lagi bersenjatakan sepasang ujung kolor berwarna merah yang panjang.

Mereka adalah dua orang jagoan warok yang dimintai bantuan oleh Nismara dari daerah Ponorogo. Seperti juga para jagoan di dunia persilatan lainnya, para warok dari Ponorogo pun terpisah menjadi dua bagian, sebagian terkenal sebagai warok yang hidup sesat, mengandalkan kesaktian dan kekuatan mereka untuk melakukan penindasan dan kekerasan memaksakan kehendak mereka sendiri, mengejar kesenangan dan gairah nafsu daya rendah sendiri. Sedangkan yang sebagian lagi terkenal sebagai para warok pendekar yang selalu menegakkan kebenaran dan keadilan, membela yang lemah tertindas dan menentang yang jahat.

Dua orang warok yang datang membantu Nismara ini adalah dua orang warok golongan sesat yang dimintai bantuan oleh Nismara dengan imbalan emas. Setelah perbuatannya yang tidak senonoh terhadap Listyarini digagalkan Ki Tejoranu dan dia merasa tidak mampu menandingi kesaktiannya, Nismara lalu melarikan diri.

Tentu saja dia tidak mau kehilangan Listyarini setelah bersusah payah menculiknya dari Kepatihan Kahuripan. Maka dia yang sudah mengenal beberapa orang warok sesat di daerah Ponorogo, lalu segera mengunjungi mereka dan berhasil mendapatkan bantuan dua orang bersaudara yang terkenal sebagai orang-orang digdaya dan pembunuh pembunuh bayaran. Mereka bernama Wirobento dan Wirobandrek, yang pertama terkenal sebagai ahli bersilat dengan senjata pecutnya dan yang ke dua seperti kebanyakan para warok, memiliki kolor yang merupakan senjata ampuh.

Pada keesokan harinya, mereka bertiga mendaki Gunung Lawu dan tiba di Telaga Sarangan menjelang siang. Mereka menemukan pondok tempat bersembunyi Ki Tejoranu dan kebetulan sekali pada saat itu Ki Tejoranu sedang duduk termenung seorang diri di atas lincak (bangku) bambu di depan pondoknya. Melihat musuh besarnya itu, Nismara memberi isarat kepada dua orang kawannya dan mereka bertiga, tanpa mengeluarkan kata apa pun, langsung saja menggunakan senjata mereka untuk menyerang Ki Tejoranu.

"Tarr-tarr... syuuuttt..!" Ujung cambuk atau pecut di tangan Wirobento menyambar dahsyat ke arah dada Ki Tejoranu yang sedang duduk termenung. Ki Tejoranu terkejut dan cepat sekali, dengan refleks yang peka sekali, dia melempar tubuh ke bawah dan bergulingan di atas tanah.

"Pyarrr..!" Ujung pecut menyambar lincak yang menjadi hancur berkeping-keping.

"Wuutt-wuuttt... blarrr..!"

Sepasang kolor merah dari Wirobento menyambar-nyambar ke arah kepala Ki Tejoranu yang baru saja melompat bangun. Akan tetapi pertapa muda Telaga Sarangan ini sekarang telah siap siaga dan maklum bahwa dia diserang orang-orang yang berbahaya. Cepat tubuhnya bergerak bagaikan seekor burung emprit lincah dan ringan sehingga sambaran sepasang kolor merah itu selalu mengenai tempat kosong dan ketika kolor itu mengenai sebatang pohon sebesar tubuh manusia, pohon itu pun patah dan tumbang!

Demikian hebatnya dua orang warok itu memainkan senjata sehingga Ki Tejoranu cepat meraih dengan kedua tangannya ke belakang. Tampak dua sinar berkilau ketika dia sudah mencabut sepasang goloknya.

Wirobento dan Wirobandrek merasa penasaran sekali karena serangan-serangan pertama mereka tadi tidak berhasil. Mereka sudah maju lagi mengeroyok dan Nismara juga tidak tinggal diam. Dia sudah mencabut kerisnya dan ikut mengeroyok sehingga Ki Tejoranu dikeroyok oleh tiga orang yang tangguh. Akan tetapi, kini Ki Tejoranu memegang sepasang goloknya yang merupakan senjata pamungkasnya yang ampuh. Dengan ilmu golok Sha-liong-siang-to (Sepasang Golok Pembunuh Naga) yang sangat hebat sehingga dia dahulu di Cina dijuluki Sha liong-to dia mempertahankan diri dengan gigih.....
*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Sang Megatantra Jilid 22"

Post a Comment

close