Sang Megatantra Jilid 08

Mode Malam
Kho Ping Hoo
-------------------------------
----------------------------
Tepat seperti diduganya, ketika dia memasuki ruangan tertutup itu, dia melihat Sang Prabu Erlangga sudah duduk menantinya di atas sebuah kursi berukir indah. Ki Patih Narotama cepat maju berlutut dan memberi hormat dengan sembah.

"Ah, apa andika lupa akan kebiasaan kita, Kakang Narotama? Dalam pertemuan resmi, aku memang gustimu Sang Prabu Erlangga dan engkau pembantuku, Kakang Patih Narotama. Akan tetapi, dalam pertemuan tidak resmi, engkau adalah Kakang Narotama sahabat karibku dan aku bagimu adalah Adi Erlangga. Bangkit dan duduklah. Bicara begini tidak enak dan tidak leluasa." kata Sang Prabu Erlangga yang usianya sekitar dua puluh lima tahun dan tampak tampan, berkulit kuning bersih, berwajah cerah dan matanya bersinar tajam mencorong penuh wibawa.

Narotama menyembah lagi, lalu bangkit berdiri dan duduk di atas kursi di depan junjungannya. "Terima kasih dan ampunkan kelancanganku, gusti..."

"Lha! Andika mulai lagi. Bersikaplah biasa, kakang, agar kita dapat bicara dengan santai dan enak."

"Baiklah, Yayi Prabu. Perintah apakah gerangan yang hendak paduka berikan kepada hamba. Hamba siap melaksanakan semua perintah paduka dengan taruhan nyawa hamba."

Prabu Erlangga tertawa. Suara tawanya renyah dan sedap didengar. Dalam persidangan resmi, tentu saja dia tidak akan tertawa sebebas itu. Akan tetapi, bicara dengan Narotama dia merasa seperti bicara dengan keluarga sendiri.

"Ha-ha-ha, Kakang Narotama! Tidak perlu andika berjanji lagi karena aku sudah yakin sepenuhnya akan kesetiaanmu kepadaku. Untuk itu, aku tiada hentinya berterima kasih dalam hatiku kepadamu. Kakang Narotama, pernahkah andika mendengar akan nama Ki Nagakumala yang bertapa di Bukit Junggringslaka di pantai Laut Kidul?"

Narotama mengangguk-angguk. "Ki Nagakumala yang mengundurkan diri ke Bukit Junggringslaka itu adalah kakak dari Ratu Durgamala dari Kerajaan Parang Siluman. Dia itukah yang paduka maksudkan?"

"Benar sekali, kakang. Ki Nagakumala adalah kakak Ratu Kerajaan Parang Siluman dan dia juga bekas suami Ratu Mayang Gupita dari Kerajaan Siluman yang berada di sebelah timur Kerajaan Parang Siluman, dekat perbatasan Blambangan."

"Ada apakah dengan Ki Nagakumala, Yayi Prabu? Tampaknya dia kini tidak membuat gerakan apa-apa untuk menentang kita, tidak membantu Parang Siluman, juga tidak membantu Kerajaan Siluman dekat Blambangan."

"Begini, kakang. Kalau saja kita dapat mengulurkan tangan persaudaraan dengan Ki Nagakumala, maka melalui dia kiranya akan mudah membujuk Kerajaan Siluman dan juga Kerajaan Parang Siluman untuk berdamai sehingga berkuranglah daerah yang memusuhi kita."

"Akan tetapi bagaimana caranya, Yayi Prabu? Mohon petunjuk paduka."

"Pernahkah engkau mendengar bahwa Ki Nagakumala mempunyai dua orang keponakan perempuan yang juga menjadi murid-muridnya? Menurut laporan penyelidik, dua orang gadis keponakan Ki Nagakumala itu cantik jelita bagaikan dewi kahyangan! Nah, aku dapat memetik dua keuntungan kalau tugasmu berhasil baik, kakang. Yaitu mendapatkan dua orang selir cantik jelita dan sakti mandraguna, dan di samping itu, Ki Nagakumala dapat menjadi jembatan untuk mengadakan hubungan persahabatan dengan dua orang ratu yang selama ini memusuhi kita."

Narotama mengangguk-angguk. Biarpun pada wajahnya tidak tampak sesuatu, namun dalam hatinya dia tertawa. Dia mengenal benar junjungannya ini. Seorang raja yang masih muda dan tampan, dan berjiwa romantis seperti watak Arjuna Perang dan memboyong puteri cantik, itu merupakan satu di antara kegemarannya. Walau pun demikian, tidak pernah raja ini menggunakan kekerasan untuk menundukkan wanita. Biasanya, para wanita yang saling berebutan untuk dapat menjadi kekasih atau selirnya. Hal ini tidaklah mengherankan. Perawan mana (pada jaman itu) yang tidak rindu untuk menjadi kekasih Prabu Erlangga, raja yang masih belia, elok dan tampan, gagah perkasa dan sakti mandraguna di samping arif bijaksana pula itu?

"Bagaimana, kakang. Kenapa andika diam saja?"

Narotama terkejut dan sadar dari lamunannya. "Sendika dhawuh paduka, Yayi Prabu. Akan tetapi, bagaimana selanjutnya? Apa yang harus hamba lakukan?"

"Ah, apakah andika masih belum dapat menduga apa yang harus kau lakukan, kakang?"

Narotama tersenyum. "Apakah hamba harus mendatangi Ki Nagakumala dan mengajukan pinangan atas diri dua orang keponakan atau muridnya itu?"

Prabu Erlangga tertawa. "Ha-ha, aku mengira tadi kecerdikan andika sudah mulai berkurang. Ternyata andika masih cerdik dan tanggap seperti dulu, Kakang Narotama. Memang itulah yang ku kehendaki. Kalau pinangan ku diterima, berarti aku mendapatkan dua orang gadis cantik sebagai selir dan pengawal pribadi, juga Ki Nagakumala dapat berjasa mendamaikan kita dengan dua orang ratu kerajaan kecil yang merongrong kita itu."

"Hamba mohon petunjuk, Yayi Prabu, bagaimana kalau pinangan ditolak Ki Nagakumala?"

Prabu Erlangga termenung dan mengerutkan alisnya yang bagus bentuknya dan hitam. "Ditolak? Mungkinkah itu? Hemm, ya, mungkin saja ditolak. Nah, kalau ditolak, aku menyerahkan purba wasesanya sepenuhnya kepadamu, kakang. Andika boleh melakukan apa saja atas namaku dan sebagai wakilku. Sudah jelaskah, Kakang Narotama?"

"Sudah jelas bagi hamba, Yayi Prabu."

"Nah, kalau begitu berangkatlah sekarang juga. Andika boleh membawa pasukan sesukamu dan kubekali doa restuku semoga tugasmu berhasil baik."

"Terima kasih, Yayi prabu, hamba pamit undur." Narotama lalu meninggalkan istana dan kembali ke gedung kepatihan, di mana isterinya, Listyarini, yang baru dinikahi setahun yang lalu dan belum mempunyai keturunan, menanti dengan tidak sabar. Wanita yang berasal dari kaki Gunung Mahameru ini tahu benar bahwa kalau suaminya dipanggil Sang Prabu pada waktu bukan sidang, tentu ada perkara yang gawat sekali, yang biasa dirundingkan berdua saja oleh raja dan patihnya yang masih muda-muda dan sakti mandraguna itu.

"Kakangmas, urusan apakah gerangan yang menyebabkan Gusti Sinuwun memanggil paduka?" sambut Listyarini dengan wajah manis.

Narotama merangkul isterinya dan mengajaknya duduk di atas balai-balai di ruangan depan kepatihan. "Urusan penting sekali, diajeng. Aku diminta untuk mewakili gusti sinuwun melakukan pinangan."

"Pinangan? Siapa yang dipinang gusti sinuwun?" Tanya Listyarini heran. Biasanya, kalau sang prabu menginginkan seorang selir, dia tinggal mengutus pengawal biasa saja untuk mengurusnya. Kalau sekarang suaminya, patih dan merupakan orang ke dua di Kerajaan Kahuripan setelah Sang Prabu Erlangga, maka dua orang gadis yang dipinang itu tentulah bukan orang sembarangan!

"Yang dipinang itu keponakan yang juga merupakan murid-murid Ki Nagakumala, pertapa di Bukit Junggringslaka. Karena pinangan ini ada hubungannya dengan kepentingan kerajaan, maka Gusti Sinuwun mengutus aku sendiri yang melakukan pinangan."

Setelah berpamit kepada isterinya, pada hari itu juga Ki Patih Narotama berangkat melaksanakan tugasnya. Seperti biasa kalau menerima tugas urusan pribadi dari Sang Prabu Erlangga, Narotama berangkat seorang diri, tidak mau membawa pasukan, apa lagi tugas ini hanya untuk menghadapi seorang pertapa, bukan tugas untuk menggempur atau berperang. Juga seperti sudah menjadi kebiasaannya, kalau melakukan perjalanan, Ki patih Narotama yang usianya baru dua puluh tujuh tahun ini tidak suka menggunakan kereta kebesaran dan tidak mengenakan pakaian sebagai pejabat dan bangsawan tinggi.

Dia merasa lebih leluasa berpakaian biasa saja, seperti dulu sebelum menjadi patih dan merantau dari Nusa Bali ke Nusa Jawa bersama Sang Prabu Erlangga yang ketika itu masih menjadi seorang pangeran Bali. Dia hanya menunggang seekor kuda pilihan yang tinggi besar dan kuat, menyusuri Kali Brantas menuju ke selatan…..

********************

Jajaran perbukitan yang membujur dari barat ke timur itu berada dekat pantai, seolah menjadi bendungan alam besar yang mencegah meluapnya air Laut Selatan ke darat. Ada dongeng menceritakan bahwa dahulu kala, terjadi perang antara Penguasa Laut Kidul dan Para Dewa penjaga Nusa Jawa.

Kerajaan Laut Selatan mengancam akan menenggelamkan seluruh pulau dengan air pasang yang akan menelan Pulau Jawa. Akan tetapi para dewa mempergunakan kesaktian mereka untuk menciptakan bukit-bukit di sepanjang Pulau Jawa bagian selatan, dekat pantai untuk menolak air yang akan membanjiri daratan.

Sebagian besar dari bukit-bukit ini merupakan bukit kapur yang tandus. Akan tetapi ada pula beberapa buah bukit yang bertanah subur sehingga penuh dengan tanaman menghijau. Di antara bukit-bukit subur ini terdapat sebuah bukit yang agak menjulang tinggi. Itulah Bukit Junggringslaka, menghadap ke selatan, ke arah lautan, seolah merupakan satu di antara para dewa yang berdiri dan melakukan penjagaan di situ untuk menentang kemurkaan kerajaan Laut Kidul!

Biarpun memiliki tanah subur, Bukit Junggringslaka ini merupakan tempat yang wingit. Para petani di sekitar bukit ini tidak berani mendirikan rumah di bukit itu sehingga dari kaki sampai ke puncak bukit, tidak tampak ada dusun. Dusun-dusun yang ada didirikan agak jauh di sekeliling bukit.

Orang-orang memilih daerah yang kurang subur tanahnya dari pada Bukit Junggringslaka, karena bukit itu dianggap keramat dan menjadi tempat para dewa mengadakan pertemuan. Sudah terjadi beberapa kali ada petani kedapatan tewas ketika berani mendaki bukit untuk mencari kayu atau tanaman. Apa lagi setelah para penghuni dusun di sekitarnya tahu bahwa di puncak bukit itu terdapat seorang pertapa yang aneh dan kabarnya sakti mandraguna.

Pertapa itu adalah Ki Nagakumala yang tidak menghendaki seorangpun melanggar bukit yang telah dianggap sebagai milik pribadi dan wilayahnya. Juga semua orang tahu bahwa kakek pertapa itu tinggal di puncak bukit bersama dua orang gadis yang luar biasa cantik jelitanya sehingga mereka semua sepakat untuk mengakui bahwa dua orang wanita muda itu sudah pasti bukan manusia, melainkan dewi atau peri atau siluman.

Akan tetapi tentu saja mereka tidak berani berterus terang mengatakan hal ini dan kala sewaktu-waktu seorang di antara mereka atau keduanya turun bukit mengunjungi dusun mereka, mereka menyambutnya dengan ramah dan hormat. Apa lagi karena dua orang gadis cantik jelita bernama Lasmini dan Mandari itu tak pernah mengganggu penduduk, dan bahkan setiap membutuhkan sesuatu mereka membeli dari penduduk dan royal sekali dalam memberi hadiah.

Akan tetapi, keramahan mereka itu tetap saja tidak membuat para pria di seluruh dusun sekitar situ berani bersikap kurang hormat, apa lagi kurang ajar. Hal ini merupakan akibat dari peristiwa yang terjadi dua tahun yang lalu. Karena dua orang gadis itu memang cantik jelita luar biasa, maka setiap orang laki-laki yang memandang mereka, langsung tergila-gila.

Pada waktu itu, maklum orang muda, ada dua orang pemuda yang datang dari dusun yang agak jauh dari situ, berani bersikap kurang ajar untuk menarik perhatian Lasmini dan Mandari. Dan apa akibatnya? Banyak sekali penduduk dusun melihat betapa dua orang gadis itu menghajar dua orang pemuda itu sampai tewas dengan tubuh remuk-remuk!

Semenjak itu, tahulah semua orang bahwa dua orang gadis itu sakti mandraguna dan semua orang menganggap mereka berdua itu sebangsa peri atau siluman. Sejak itu tak ada seorangpun berani bersikap kurang ajar, bahkan menatap wajah mereka secara langsung saja mereka tidak berani.

Siapakah K i Nagakumala yang hidup sebagai pertapa di puncak Bukit Junggringslaka itu? Nama kakek ini sudah terkenal sejak puluhan tahun yang lalu. Dia adalah kakak dari Ratu Durgamala yang memerintah Kerajaan kecil Parang Siluman di pantai Laut Kidul. Mestinya dia mewarisi tahta kerajaan kecil itu dari ayah mereka, akan tetapi karena Ki Nagakumala ingin menikah dengan Ratu Mayang Gupita yang memerintah Kerajaan Siluman, juga di pantai Laut Kidul sebelah timur, maka dia mengalah dan menyerahkan kerajaan kecil Parang Siluman itu kepada adiknya.

Setelah menikah dengan Ratu Mayang Gupita yang sakti, Nagakumala memperdalam ilmunya dan saling berlatih dengan isterinya yang sakti mandraguna. Akan tetapi, setelah belasan tahun menjadi suami isteri dan tidak mempunyai keturunan, Ki Nagakumala menjadi jenuh juga. Apa lagi ketika adiknya yang menjadi ratu di Kerajaan Parang Siluman menjadi janda karena suaminya telah pergi meninggalkannya dan kini ia hidup dengan dua orang puterinya, Nagakumala lalu meninggalkan Ratu Mayang Gupita dan kembali ke Parang Siluman.

Keluarga ini sejak dahulu memang memusuhi Mataram yang kini berganti nama menjadi kerajaan Kahuripan. Nagakumala senang melihat dua orang keponakan perempuan yang cantik-cantik itu. Maka, dia lalu mengambil Lasmini dan Mandari menjadi muridnya. Biarpun dua orang gadis ini sudah mendapat pelajaran aji kanuragaan dari ibu mereka yang juga sakti, namun mereka gembira sekali mendapat gemblengan dari uwa mereka yang lebih sakti dari pada ibu mereka. Mereka lalu dengan senang hati mengikuti Ki Nagakumala ke puncak Bukit Junggringslaka untuk memperdalam ilmu-ilmu yang amat dahsyat. Bukan hanya ilmu pencak silat, aji kanuragan, juga ilmu-ilmu sihir!

Pada hari itu, Ki Nagakumala duduk di luar pondoknya di puncak Bukit Junggringslaka. Sinar matahari pagi yang hangat terasa nyaman sekali di badan yang diselimuti hawa dingin puncak itu. Kabut pagi mulai terusir perlahan-lahan oleh sinar matahari pagi. Kakek Nagakumala duduk bersila di atas sebuah dipan bambu yang berada di luar pondok. Tubuhnya masih tampak gagah walau pun usianya sudah mendekati enam puluh tahun. Wajahnya juga gagah seperti Gatutkaca dengan kumis sekepal sebelah yang sudah mulai berwarna dua.

Ki Nagakumala memang tampan gagah, pantas menjadi kakak Ratu Durgamala yang terkenal cantik jelita. Sungguh mengherankan sekali mengapa pria segagah dan setampan ini mau menjadi suami seorang wanita raksasa yang bertubuh tinggi besar, berperut gendut, wajahnya mengerikan karena bertaring, seperti Ratu Mayang Gupita, ratu Kerajaan Siluman itu.

Ini pula menunjukkan betapa besar kebencian dalam hati Ki Nagakumala terhadap Mataram atau keturunan Mataram. Dia rela mengorbankan diri, memperisteri Ratu Mayang Gupita yang buruk rupa dan mengerikan itu, hanya untuk dapat menambah kesaktiannya agar kelak dia dapat menghancurkan Kahuripan atau keturunan Mataram!

Dan kini, untuk memperkuat diri, dia menurunkan semua aji kesaktiannya kepada dua orang keponakan yang telah menjadi muridnya agar kelak dua orang gadis itu dapat membantunya melawan Erlangga yang menjadi raja Kahuripan sekarang. Ki Nagakumala duduk seorang diri termenung. Kemudian seperti teringat akan sesuatu, tiba-tiba dia menoleh ke arah pondok dan berseru, suaranya nyaring seperti suara Sang Gatotkaca.

"Murid-muridku cah ayu thinik-thinik, Nini Lasmini dan Nini Mandari, di manakah kalian? Tinggalkan dulu kesibukan kalian, aku mau bicara dengan kalian..!"

Tak lama kemudian, tampak dua bayangan berkelebat dan dari pintu pondok muncullah dua orang gadis. Gerakan mereka demikian cepat dan ringan seperti melayang saja sehingga yang tampak hanya bayangan merah dan bayangan kuning. Setelah bayangan itu berhenti di depan Ki Nagakumala, tampaklah bahwa mereka adalah seorang gadis berpakaian serba merah muda dan yang seorang berpakaian serba kuning.

Pakaian mereka dari sutera halus dan begitu serasi di tubuh mereka sehingga mereka tampak seperti dewi-dewi saja. Pakaian itu bersih, membungkus tubuh yang indah menggairahkan, serba sempurna lekuk lengkungnya, dada dan pinggulnya membusung sehingga pinggang mereka yang memakai sabuk berlapis emas itu tampak ramping bukan main, pinggang yang disebut nawon kemit (pinggangnya seperti lebah kemit)! Kaki yang tampak dari betis ke bawah itu berkulit kuning putih mulus dan bentuknya memadi bunting, dan bagian atas tumitnya mencekung. Tanda-tanda kewanitaan pilihan!

Yang berpakaian merah muda adalah Lasmini, berusia dua puluh tiga tahun. Yang pertama menarik dari gadis ini adalah rambutnya. Rambut itu panjang sampai ke pinggul, hitam sekali dan bergelombang, indah menggairahkan, dengan sinom (anak rambut) halus lembut bergantungan di atas dahi dan di pelipis. Wajahnya bulat telur dengan dagu meruncing, manis sekali.

Semua bagian wajahnya amatlah cantiknya, terutama sekali mata dan bibirnya, amat menggairahkan, seperti menantang dan menjanjikan kenikmatan dan kemesraan yang memabokkan, apa lagi ditambah pemanis di pipi kiri dengan adanya sebintik tahi lalat hitam. Sungguh merupakan seorang wanita yang sudah masak, bagaikan setangkai bunga sedang mekar-mekarnya. Dan hebatnya, wanita yang masih perawan berusia dua puluh tiga tahun ini tiada ubahnya seorang dara berusia delapan belas tahun saja!

Ada pun gadis yang berpakaian serba kuning bernama Mandari, berusia dua puluh satu tahun. Ia adalah adik Lasmini. Berbeda bentuk wajahnya dengan mbakayunya (kakak perempuan), Mandari berwajah agak bulat dengan mata yang lebar bersinar-sinar, hidungnya mancung dan mulutnya juga amat indah dengan bibir yang selalu merekah dan merah basah. Seperti juga mbakayunya, kulit gadis ini kekuningan, putih mulus dan kedua pipinya yang putih halus itu agak kemerahan tanpa gincu, tanda bahwa tubuh yang muda itu sehat segar. Seperti juga Lasmini, Mandari yang berusia dua puluh satu tahun itu kelihatannya seperti baru berusia tujuh belas tahun saja.

Sukar untuk menilai siapa yang lebih menarik di antara kedua orang gadis kakak beradik ini. Keduanya memiliki kecantikan yang berbeda, namun sama sama menarik dan menggairahkan. Pakaian mereka juga indah, dengan perhiasan-perhiasan dari emas dan batu permata. Kedua orang gadis itu lalu duduk di atas bangku-bangku berhadapan dengan Ki Nagakumala.

"Uwa, ada keperluan apakah gerangan maka uwa memanggil kami dengan teriakan nyaring?" tanya Lasmini, senyumnya tak pernah meninggalkan bibirnya yang semringah.

"Kami sedang mempersiapkan sarapan untuk uwa." Kata pula Mandari.

"Eh, keponakanku yang ayu merak-ati, murid-muridku yang dhenok montrok-montrok, aku tadi duduk termenung di sini dan melihat burung-burung itu terbang berpasang-pasangan dengan gembira. Aku lalu teringat kepada kalian dan merasa berdosa mengapa dua orang keponakanku yang ayu manis kubiarkan hidup merana dan kesepian. Lasmini dan Mandari, ingatkah kalian berapa usia kalian tahun ini?"

"Usiaku dua puluh tiga tahun, uwa Nagakumala." Kata Lasmini.

"Dan usiaku dua puluh satu tahun, uwa." kata Mandari, keduanya tersenyum, seolah merasa geli mengapa uwa mereka menanyakan usia mereka.

"Nah, usia kalian sudah cukup dewasa, bahkan usia sekian itu sudah sepatutnya kalau kalian menjadi ibu! Akan tetapi sampai sekarang kalian masih saja perawan dan belum mempunyai suami. Padahal, sejak beberapa tahun yang lalu, sudah ratusan orang muda, bangsawan dan hartawan, datang meminang. Akan tetapi selalu kalian menolak pinangan mereka. Bagaimana sih kalian ini? Jangan-jangan nanti ibu kalian, Nimas Ratu Durgamala, menyalahkan aku yang disangka menghalangi kalian memilih jodoh!"

"Ah, kami masih belum suka melayani pria, uwa!" kata dua orang gadis itu dengan suara hampir berbareng.

"Mustahil! Jangan bohongi aku. Dari gerak gerik kalian, dari senyum dan kerling mata kalian, aku tahu bahwa kalian bagaikan dua tangkai bunga segar yang selalu merindukan datangnya kupu-kupu untuk menghisap sari madu mu." kata Ki Nagakumala sambil tersenyum dan mengelus sepasang kumisnya yang melintang di bawah hidungnya.

Lasmini tersenyum manja. "Kami berdua telah bersepakat uwa hanya akan suka melayani seorang suami yang sakti mandraguna dan mampu mengalahkan kedigdayaan kami."

"Juga kami tidak sudi menjadi isteri laki-laki biasa, uwa. Haruslah dia seorang raja, pangeran atau setidaknya seorang ponggawa kerajaan yang berkedudukkan tinggi!" kata pula Mandari.

Ki Nagakumala terkekeh dan mengangguk-angguk. "Ya-ya, aku mengerti dan memang sudah sepatutnya kalian mendapatkan seorang suami yang pilihan. Akan tetapi betapa akan sulitnya menemukan pria seperti yang kalian kehendaki itu."

"Masih ada lagi syarat kami, uwa."

"Hemm, masih ada lagi? apa itu?"

"Pria yang berkedudukan tinggi dan sakti mandraguna itu juga harus muda dan tampan!" kata Lasmini sambil tersenyum.

"Wah-wah-wah, agaknya kalian menghendaki para dewa sengaja menciptakan laki-laki yang kalian kehendaki! Ksatria seperti itu kiranya hanya terdapat di Mataram, keturunan keluarga istana atau setidaknya seorang priyayi agung trah ingkusuma rembesing madu. Pada hal Mataram adalah musuh besar kita!"

Tiba-tiba Ki Nagakumala memandang ke depan. Tampak beberapa ekor burung terbang dari pohon seolah terkejut dan ketakutan.

"Hemm, ada orang datang. Kalian berdua masuklah dan lanjutkan membuat persiapan sarapan. Biar aku yang menyambut tamu itu!" kata Ki Nagakumala dan dua orang gadis itu tersenyum lalu masuk ke dalam pondok.

Ki Nagakumala masih tetap duduk bersila di atas bangku. Dia adalah orang yang sakti mandraguna, seorang yang telah mempelajari dan menghayati olah raga, olah batin dan olah rasa. Dia dapat merasakan bahwa yang datang ini bukan orang biasa, walau pun dia belum dapat melihat orangnya. Karena itulah dia tadi minta kepada dua orang muridnya agar masuk. Dia ingin tahu lebih dulu siapa orang yang berani mendaki Bukit Jungringsiaka ini. Tidak sembarang orang berani mendaki bukit ini, apa lagi sampai ke puncak. Sudah pasti orang yang sakti dan jelas bukan orang daerah sini karena semua penduduk pedusunan di sekitar Bukit Junggringslaka tidak ada yang berani mendaki bukit ini.

Tak lama kemudian orang itu muncul dari balik pohon besar. Dari jauh Ki Nagakumala sudah melihat bahwa orang Itu masih muda, seorang laki-laki bertubuh tegap dan wajahnya tampan berwibawa walau pun pakaiannya sederhana saja. Langkahnya tegap dan tenang bagaikan langkah seekor harimau. Timbul niat di hati Ki Nagakumala untuk menguji kesaktian pendatang ini sebelum berkenalan. Mulutnya berkemak-kemik, tangannya dijulurkan ke bawah mengambil segenggam batu kerikil dan setelah ucapan mantranya selesai, dia melempar segenggam batu kerikil itu ke depannya.

"Blarrr..!"

Tampak asap mengepul dibarengi ledakan dan tahu-tahu sebuah dinding besi menghalangi antara dia dan pemuda pendatang itu.

Pemuda itu bukan lain adalah Ki Patih Narotama. Tadi ketika dia mulai mendaki Bukit Junggringslaka, sejak tiba di lereng bukit dekat puncak, dia sudah dihadang berbagai rintangan. Ada ular sebesar batang pohon kelapa menghadang, akan tetapi dia berhasil mengusir ular besar itu tanpa membunuhnya. Kemudian ada hutan yang menyesatkan, yang jalan setapaknya berputar-putar dan orang biasa pasti akan tersesat dan tidak dapat naik ke puncak, juga tidak dapat turun kembali. Akan tetapi Narotama dapat melalui rintangan ini karena maklum bahwa semua ini adalah pengaruh rajah ilmu sihir yang kuat.

Kini, setelah tiba di depan pondok, dia melihat seorang laki-laki tua bersila di atas dipan depan pondok. Dia sudah dapat menduga bahwa laki-laki yang tampak gagah itu tentulah Ki Nagakumala yang sudah didengar namanya namun belum pernah dilihat orangnya. Ketika laki-laki itu melontarkan batu kerikil dan menciptakan sebuah dinding besi dari hasil sihirnya, Narotama tersenyum. Dia tahu bahwa kakek itu kembali menggunakan sihir untuk menghalanginya atau mengujinya. Karena kedatangannya membawa perintah Prabu Erlangga untuk mengajukan pinangan dan menawarkan perdamaian, maka Narotama tidak ingin menggunakan kekerasan. Dia hanya mengambil segenggam kerikil dan terucap dengan- suara lembut.

"Sampurasun..!" Dilontarkan segenggam kerikil itu ke arah dinding besi dengan ucapan lembut namun berwibawa, "Berasal dari kerikil kembali menjadi kerikill"

"Blarrr..!"

Asap mengepul dan dinding besi jadi-jadian itu runtuh dan kembali menjadi segenggam kerikil yang berserakan.

"Jagad Dewa Bathara..! Teja-teja sulaksana tejanya ksatria yang baru datang. Siapakah andika, orang muda, berani lancang mendaki puncak Junggringslaka tanpa ijin?" Ki Nagakumala bertanya sambil tetap duduk bersila.

Diam diam dia terkejut melihat betapa orang yang masih muda belia ini dapat memunahkan sihirnya dengan cara lembut. Biarpun memiliki watak liar dan keras, namun karena Ki Nagakumala adalah putera mendiang Raja Parang Siluman, pernah menjadi suami Ratu Mayang Gupita dan dia kakak kandung Ratu Durgamala, maka tentu saja sikap kebangsawanannya masih nyata dan diapun memiliki wibawa yang cukup kuat.

"Maaf beribu maaf, Paman Nagakumala."

"Hemm, orang muda. Andika mengenal aku?"

"Siapa yang tidak mengenal nama paman yang besar sebagai seorang pangeran Kerajaan Parang Siluman dan sebagai suami Ratu Mayang Gupita? Harap paman sudi memaafkan kelancangan saya, menghadap tanpa ijin, karena saya menjadi utusan untuk menyampaikan sesuatu yang amat penting kepada paman."

"Hemm, orang muda, sebelum andika menceritakan apa yang menjadi keperluan andika datang ke sini, lebih dulu perkenalkan dirimu kepadaku agar dapat kupertimbangkan apakah andika seorang yang cukup berharga dan pantas untuk berwawancara dengan aku!" Ada keangkuhan seorang bangsawan tinggi terkandung dalam ucapan ini.

Patih Narotama tersenyum. Dia cukup mengenal watak para bangsawan. Seorang yang benar-benar berdarah bangsawan kilir batin, seperti misalnya Sang Prabu Erlangga, memiliki wibawa yang amat kuat namun lembut dan wajar, wibawa yang bagaikan sinar yang mencorong dari dalam, tanpa dibuat-buat, bahkan seorang bangsawan yang adiluhung biasanya bersikap rendah hati, tidak pernah menyombongkan kebangsawanannya, bagaikan emas yang sudah mencorong tanpa digosok.

Sebaliknya, orang yang hanya bangsawan secara lahiriah, karena memperoleh kedudukan, karena pangkat atau harta, maka wibawanya ditonjolkan karena sikap yang dibuat-buat, karena keangkuhan dan kesombongan. Orang seperti ini bagaikan gentong kosong yang tampaknya saja gendut dan nyaring suaranya, namun isinya tidak ada apa-apanya. Ki Nagakumala ini agaknya termasuk model bangsawan gentong kosong ini!

"Paman, nama saya adalah Narotama."

Ki Nagakumala nampak terkejut bukan main. Dia memandang Narotama dengan mata terbelalak lebar, seolah tidak percaya akan apa yang didengarnya tadi.

"Andika Rakyan. Kanuruhan Mpu Dharmamurti Narotama Danasura, patih dari Kahuripan, pembantu utama Sang Prabu Erlangga?"

Narotama tersenyum dan membungkuk dengan hormat sambil merangkap kedua tangannya di depan dada. "Saya memang pembantu Gusti Sinuwun Prabu Erlangga yang diutus untuk menghadap paman di sini. Sebelumnya perkenankan saya menyampaikan salam hormat dari Gusti Sinuwun untuk paman."

Melihat sikap dan mendengar ucapan Narotama, Ki Nagakumala sejenak termangu, akan tetapi kemudian dia teringat bahwa yang berdiri di depannya adalah seorang musuh besar, tokoh besar Kerajaan Mataram di Kahuripan. Dia bangkit berdiri dan bertolak pinggang, sepasang matanya melotot dan kumis gatot kaca-nya bergerak-gerak.

"Babo-babo, Narotama! Besar sekali nyalimu, berani mendatangi goa harimau! Tidak tahukah andika bahwa kami adalah musuh-musuh besar Mataram? Rajamu adalah musuh besar kami, maka andika sebagai utusannya berani datang, berarti sama dengan menyerahkan nyawamu!"

"Paman Nagakumala, justru karena sikap andika yang memusuhi Gusti Sinuwn itulah maka saya diutus untuk menemui andika. Bukan sekali-kali untuk menanggapi sikap permusuhan paman dengan pertentangan, melainkan saya diutus untuk mengulurkan tangan perdamaian."

Ki Nagakumala terbelalak heran. "Mengulurkan tangan perdamaian? Apa maksud andika?"

"Begini, Paman Nagakumala. Saya di utus Kanjeng Gusti Sinuwun untuk meminang dua orang keponakan andika dan murid andika untuk menjadi garwa selir Gusti Sinuwun. Dengan cara ini Gusti Sinuwun hendak mengikat pertalian keluarga dan menyudahi semua pertentangan dan permusuhan."

Ki Nagakumala hampir tak dapat mempercayai ucapan yang baru saja didengarnya itu. Sang Prabu Erlangga melamar Lasmini dan Mandari untuk menjadi garwa selirnya? Bukan main! Raja besar yang masih muda, tampan dan sakti mandraguna itu akan menjadi suami kedua orang muridnya!

Sungguh merupakan anugerah yang luar biasa besarnya bagi kedua orang gadis itu! Calon suami yang luar biasa! Merupakan seorang maha raja, masih muda, terkenal gagah perkasa dan tampan, dan dia tahu betapa sakti mandraguna Raja Kahuripan itu!

Akan tetapi sekilas berkelebat dalam benaknya bahwa raja itu adalah musuh besarnya musuh besar keluarganya yang harus dibunuh dan sama sekali tidak dapat diampuni, apa lagi dijadikan mantu keponakan.....!

0 Response to "Sang Megatantra Jilid 08"

Post a Comment