Nurseta Satria Karang Tirta Jilid 34

Mode Malam
Kho Ping Hoo
-------------------------------
----------------------------
Kini melihat Ki Patih Narotama dikeroyok dua orang yang memiliki kepandaian tinggi, Nurseta sudah maju dengan niat membantu Ki Patih. Akan tetapi tiba-tiba dari pihak musuh muncul dua orang menghadangnya. Mereka ini bukan lain adalah Ki Gandarwo dan kakak seperguruannya, Cekel Aksomolo yang bentuk tubuh dan mukanya seperti Bhagawan Durna!

"Rrrik-tik-tik-tikkk...!"

Cekel Aksomolo menggerakkan tasbehnya sehingga terdengar bunyi nyaring berkeritikan yang dapat menggetarkan jantung lawan. Ki Gandarwo juga sudah mencabut senjata andalannya, yaitu sebatang pedang. Mereka berdua, tanpa banyak cakap sudah menerjang dan menyerang Nurseta. Seperti biasa, pemuda ini hanya mengandalkan kaki tangannya saja untuk membela diri. Dengan gerak silat Baka Denta, didasari Aji Bayu Sakti, dia dapat dengan mudah menghindarkan hujan serangan dua orang itu dengan elakan atau terkadang dia menangkis dengan tangannya yang kebal dan berani menangkis senjata baja yang tajam sekalipun. Dia pun membalas dengan tamparan dan tendangan yang tidak kalah dahsyatnya dibandingkan serangan kedua orang pengeroyoknya.

Sejak tadi Puspa Dewi hanya menonton saja. Ia tidak merasa khawatir melihat Ki Patih Narotama dan Nurseta masing-masing dikeroyok dua orang lawan yang tangguh. Ia yakin akan kemampuan dua orang itu. Kini ia melihat Nyi Dewi Durgakumala, wanita yang pernah menjadi gurunya merangkap ibu angkatnya itu. Juga permaisuri Wura-wuri itu memandang kepadanya dan bibir wanita yang masih cantik itu tersenyum mengejek.

Puspa Dewi sudah mengenal bekas gurunya ini. Senyum seperti itu menandakan bahwa wanita itu marah sekali. Ia pernah melihat Nyi Durgakumala membunuh orang sambil mengembangkan senyum seperti itu! Ia melihat Nyi Dewi Durgakumala memberi isyarat kepada Adipati Bhismaprabhawa. Adipati yang bertubuh tinggi kurus itu mengangguk dan mencabut klewang (golok) bergagang emas, lalu bersama Nyi Dewi Durgakumala menghampiri Puspa Dewi.

"Anak durhaka, murid tak mengenal budi!" Nyi Dewi Durgakumala memaki. "Tidak malu engkau membawa pedangku? Kembalikan pedang Candrasa Langking itu kepadaku!"

Wajah Puspa Dewi menjadi merah mendengar ucapan bekas gurunya itu. Dia cepat mengambil pedang hitam berikut sarungnya dan menyerahkannya kepada Nyi Dewi Durgakumala.

"Dulu aku tidak minta, engkau sendiri yang memberikannya kepadaku. Sekarang engkau memintanya kembali. Mari, terimalah!"

Dengan gerakan cepat Nyi Dewi Durgakumala merenggut pedang itu dari tangan Puspa Dewi, lalu sambil mencabut pedang itu ia berseru dengan suara mengandung kemarahan.

"Puspa Dewi, bersiaplah untuk mampus, engkau bocah tak mengenal budi!" Pedang di tangannya berubah menjadi sinar hitam yang menyambar bagaikan kilat ke arah leher Puspa Dewi ketika Permaisuri Wura-wuri itu menyerang dengan ganas. Puspa Dewi yang sudah siap cepat menghindar. Pada saat itu, Adipati Bhisniaprabhawa juga menerjang dan membacokkan klewangnya ke arah pinggang dara itu.

Kembali Puspa Dewi menggunakan kelincahan tubuhnya untuk mengelak. Bagaimana pun juga, Puspa Dewi tidak lupa bahwa dua orang ini pernah memperlakukannya dengan baik sekali, terutama Nyi Dewi Durgakumala. Mereka bahkan pernah mengangkatnya menjadi Sekar kedaton, diakui sebagai puteri mereka yang dihormati dan dimuliakan rakyat Kadipaten Wura-wuri.

Maka sampai belasan jurus ia hanya menghindar saja. kemudian ia teringat bahwa ia merupakan seorang yang dipercaya oleh Ki Patih Narotama memimpin Pasukan Pelopor, maka ia pun paham bahwa kalau ia kini bertanding melawan Adipati Bhismaprabhawa dan Nyi Dewi Durgakumala, pertandingan itu bukan untuk urusan pribadi, melainkan masing-masing membela kerajaannya.

Mulailah ia membalas, menggunakan Sang Cundrik Arum, yaitu sebatang keris mungil pemberian Sang Prabu Erlangga. Biarpun hanya kecil, namun Cundrik Arum merupakan sebuah pusaka Kahuripan yang ampuh.

"Tranggg...!"

Klewang besar yang menyambar itu ditangkis Puspa Dewi dengan cundriknya. Bunga api berpijar dan Adipati Bhismaprabhawa terkejut melihat betapa ujung klewang yang beradu dengan cundrik kecil tadi telah somplak! Saking kagetnya, Sang Adipati melangkah mundur dengan mata terbelalak. Melihat ini, Nyi Dewi Durgakumala kembali menyerang dengan hebatnya. Sinar pedang hitam menyambar ke arah kepala Puspa Dewi.

"Cringggg...!"

Pedang terpental ketika bertemu dengan cundrik yang menangkis dengan tenaga yang amat kuat. Setelah rnenerima gemblengan Sang Maha Resi Satyadharma selama satu tahun, kini kekuatan dan kepandaian Puspa Dewi sudah jauh melampaui kesaktian bekas gurunya itu.

Suami isteri penguasa Kerajaan Wura-wuri itu mengeroyok Puspa Dewi. Mereka berdua amat membenci Puspa Dewi karena mereka yang telah mengangkat gadis itu menjadi Sekar Kedaton kini malah bertanding sebagai musuh dengan gadis itu. Terutama sekali Nyi Dewi Durgakumala. Ia amat benci kepada Puspa Dewi yang dulu sungguh disayangnya seperti anaknya sendiri. Wanita ini tidak pernah mempunyai anak dan ketika ia mengambil Puspa Dewi sebagai murid, ia merasa sayang sekali kepada murid yang wataknya keras seperti dirinya sendiri itu.

Saking sayangnya, ia bukan saja menurunkan semua aji kesaktiannya kepada Puspa Dewi, bahkan mengangkatnya sebagai anak sendiri. Lebih dari itu, ia seringkali mengurungkan keinginannya yang ditentang oleh Puspa Dewi. Seperti ketika ia memberi syarat kepada Adipati Bhismaprabhawa untuk membunuh Dewi Gendari, isteri Adipati Bhismaprabhawa, sebelum ia menerima lamaran Sang Adipati itu.

Akan tetapi Puspa Dewi melarangnya sehingga akhirnya Dewi Gendari tidak dibunuh, melainkan dipulangkan ke kampung halamannya dengan diberi bekal harta yang cukup banyak. Juga ketika beberapa kali Nyi Dewi Durgakumala menculik pemuda untuk dijadikan kekasihnya dan kemudian dibunuh, Puspa Dewi melarangnya dan ia pun kemudian membebaskan pemuda-pemuda itu, sungguhpun diam-diam ia melukai mereka dengan Aji Wisakenaka sehingga mereka akan tewas pula.

Biarpun merasa agak ragu harus bertanding melawan dua orang yang pernah bersikap baik kepadanya itu, namun mengingat bahwa ia kini bertanding sebagai seorang komandan pasukan Kahuripan melawan musuh Kerajaan itu, pula melihat betapa dua orang itu menyerangnya dengan sungguh-sungguh penuh kebencian dan semua serangan mereka merupakan serangan maut, akhirnya Puspa Dewi mulai membalas serangan mereka. Terjadilah pertandingan yang tidak kalah serunya dibandingkan petandingan yang dilakukan Nurseta dan Ki Patih Narotama.

Pasukan kedua pihak hanya menjadi penonton. Pasukan Wura-wuri yang memang sudah gentar, tidak berani bergerak karena semua pemimpin mereka sedang bertanding mati-matian. Sementara itu, para perwira Kahuripan yang tidak ikut bertanding juga tidak berani sembarangan menggerakkan pasukan mereka tanpa aba-aba dari para pemimpin, terutama Ki Patih Narotama. Jadi, pasukan kedua pihak hanya menonton pertandingan yang amat dahsyat itu.


Kesaktian Ki Patih Narotama untuk kesekian kalinya teruji ketika dia menghadapi pengeroyokan dua saudara kembar dari Blambangan itu. Dua orang saudara kembar ini masing-masing menguasai ilmu-ilmu tingkat tinggi dan mungkin karena mereka kembar, ketika mereka berdua mengeroyok Ki Patih Narotama, terdapat kerja sama yang amat baik. Mereka itu seolah-olah dua tubuh yang dikendalikan satu hati dan satu pikiran.

Masing-masing seolah dapat merasakan dan dapat mengetahui perkembangan gerakan yang dilakukan saudara kembarnya sehingga pengeroyokan terhadap Ki Patih Narotama dapat dilakukan secara kompak sekali. Mereka berdua seolah saling melindungi secara otomatis. Kalau serangan balasan Ki Patih Narotama membahayakan Menak Gambir Anom, maka Menak Gambir Sawit sudah siap menolong saudaranya dan demikian sebaliknya. Dengan adanya kerja sama yang amat kompak ini, kekuatan mereka seolah dipersatukan sehingga selain pertahanan mereka kokoh, juga penyerangan mereka yang saling dorong itu amat berbahaya, Ki Patih Narotama harus waspada sekali menghadapi lawan-lawan seperti ini.

Untuk mengimbangi kecepatan dan kekompakan gerakan dua orang Datuk Kembar Blambangan itu, Ki Patih Narotama bersilat dengan Ilmu Silat Kukilo Sakti. Akan tetapi dengan ilmu silat ini, dia masih terdesak sehingga dia lalu mengubah gerakannya. Kini tubuhnya berkelebatan seperti beterbangan di antara dua orang pengeroyoknya, menjadi bayangan putih yang cepat sekali. Inilah Ilmu Silat Bramoro Seto (Lebah Putih) dan dengan ilmu silat ini, baru dia dapat mengimbangi pengeroyokan Datuk Kembar Blambangan itu. Pertandingan di antara mereka terjadi dengan dahsyatnya, masing-masing mengeluarkan jurus-jurus simpanan terampuh.

Sepasang Datuk Kembar itu merasa penasaran bukan main. Baru maju sendiri saja sudah jarang ada orang yang mampu menandingi masing-masing. Kini mereka maju bersama berarti kekuatan mereka menjadi berlipat ganda. Namun sebegitu lamanya mereka masih belum mampu melukai tubuh Ki Patih Narotama, apa lagi merobohkannya! Bahkan beberapa kali mereka terkejut dan nyaris celaka terkena sambaran pukulan Ki Patih Narotama yang menggunakan Aji Bojrodahono (Api Halilintar) sehingga mereka merasa panas sekali dan terkejut sekali.

Setelah pertandingan berlangsung cukup lama dan Sepasang Datuk Kembar itu merasa bahwa dengan mengandalkan ilmu silat dan pertandingan kekuatan tubuh, tebalnya kulit dan kerasnya tulang, mereka tidak akan menang. Maka setelah saling memberi isyarat, mereka berdua berloncatan ke belakang, lalu menyimpan ruyung masing-masing digantungkan di pinggang.

Tangan kanan Menak Gambir Sawit memegang tangan kiri Menak Gambir Anom, lalu Menak Gambir Anom menghantamkan telapak tangan kanannya ke arah Narotama. Dengan cara itu, mereka berdua menggabungkan tenaga sakti mereka lewat tangan yang saling berpegangan kemudian tenaga sakti yang tergabung itu dikeluarkan melalui tangan kanan Menak Gambir Anom untuk menyerang Narotama.

"Wuuuuuttt...!"

Telapak tangan kanan Menak Gambir Anom itu mengeluarkan uap putih yang dingin sekali. Bahkan keadaan sekelilingnya terasa ada angin yang amat dingin menyambar. Itulah Aji Ampak-ampak Petak, pukulan jarak jauh yang mengandung hawa dingin seperti salju. Sambaran angin berhawa dingin itu menyambar ke arah Ki Patih Narotama yang segera dapat mengetahui bahwa dia diserang secara hebat oleh tenaga sakti gabungan dua Datuk Kembar dari Blambangan itu.

Serangan ini merupakan serangan maut yang amat berbahaya, terlalu besar resikonya kalau dihadapi dengan elakan atau tangkisan karena serangan itu mengandung daya kekuatan yang luas. Satu-satunya jalan adalah menyambutnya dengan kekerasan dan mengadu tenaga sakti. Maka Ki Patih Narotama berkemak-kemik membaca doa, mohon ampun dan bimbingan Sang Hyang Widhi, lalu dia mengerahkan tenaga Bojrodahono yang panas untuk melawan serangan hawa dingin itu. Lalu dia menekuk lutut depan, menjulurkan kaki belakang dan mendorong dengan tangan kirinya menyambut pukulan tangan kanan Menak Gambir Anom yang mengandung tenaga gabungan Sepasang Datuk Kembar itu.

"Syuuuuuttt... blaarrrr...!"

Hebat bukan main pertemuan dua tenaga sakti yang berlawanan, satu amat dingin dan yang lain amat panas itu. Tanah di sekitarnya terasa guncang oleh pertemuan dua tenaga raksasa itu. Tubuh Ki Patih Narotama terhuyung beberapa langkah ke belakang, akan tetapi tubuh dua orang datuk itu terlempar dan roboh. Dari mulut, hidung, dan telinga Menak Gambir Sawit keluar darah dan dia tewas seketika, sedangkan Menak Gambir Anom hanya merasa dadanya sesak.

Ternyata akibat benturan tenaga itu, yang paling parah menanggung akibatnya adalah Menak Gambir Sawit yang berada di belakang atau di ujung penggabungan tenaga sakti itu, sedangkan Menak Gambir Anom hanya menjadi penyambung dan dilewati getaran hebat dari tenaga sakti yang membalik. Tenaga sakti itu langsung dan sepenuhnya menghantam balik tubuh Menak Gambir Sawit sehingga dia tewas seketika. Melihat saudara kembarnya tewas, Menak Gambir Anom terkejut dan tanpa mempedulikan dadanya yang sesak dia memondong jenazah saudaranya lalu membawanya lari memasuki barisannya dan terdengar dia meraung dalam tangisnya!

Ki Patih Narotama berdiri dan menghirup napas dalam-dalam untuk menenangkan isi dadanya yang sempat terguncang. Lalu dia menghela napas beberapa kali, timbul penyesalannya bahwa orang sesakti Menak Gambir Sawit harus berkorban nyawa membela Wura-wuri yang dipimpin orang-orang yang berwatak angkara murka. Dia lalu menoleh dan memandang ke arah Nurseta dan Puspa Dewi yang masing-masing masih menghadapi pengeroyokan dua orang lawan. Ki Patih Narotama tidak membantu mereka karena dia dapat melihat bahwa dua orang muda itu tidak membutuhkan bantuan dan tidak akan kalah.

Perhitungan Ki Patih Narotama memang benar. Biarpun sampai saat itu Nurseta belum dapat merobohkan Ki Gandarwo dan Cekel Aksomolo yang mengeroyoknya, namun dia mulai mendesak kedua orang kakak beradik seperguruan itu, Yang membuat Nurseta agak repot dan belum dapat mengalahkan mereka adalah serangan-serangan yang amat hebat dan berbahaya dari Cekel Aksomolo. Orang yang tinggi kurus bongkok dan tampaknya lemah Ini ternyata amat berbahaya dengan senjatanya yang Istimewa, yaitu seuntai tasbeh hitam.

Biji-biji tasbeh hitam itu mengeluarkan bau aneh yang memuakkan dan mengandung racun jahat. Juga ketika digerakkan sebagai senjata, tasbeh itu mengeluarkan suara berkerotokan memekakkan telinga dan mengguncang jantung menimbulkan rasa nyeri dalam dada. Nurseta merasa seolah-olah dikeroyok banyak lebah dan merasa terganggu sekali sehingga tidak dapat memusatkan perhatian yang selalu tergoda dan terkecoh oleh suara berkerotoknya biji-biji tasbeh.

Maka, biarpun dia dapat menghindarkan semua serangan tasbeh yang dibantu serangan pedang Ki Gandarwo yang ganas, serangan baliknya kurang terpusat dan tidak begitu kuat. Sehingga dia belum juga mampu mengalahkan dua orang pengeroyoknya itu.

Kakak beradik seperguruan itu pun merasa penasaran bukan main. Terutama sekali Cekel Aksomolo yang wataknya tinggi hati dan memandang rendah lawan, mengagulkan diri sendiri. Ketika Nurseta membalas dengan tusukan keris pusaka Kolomisani, Cekel Aksomolo miringkan tubuhnya dan secepat kilat tasbehnya menyambar dan tasbeh itu berhasil dikalungkan pada keris di tangan Nurseta dan membelit keris itu!

Nurseta berusaha menarik lepas kerisnya, namun Cekel Aksomolo mempertahankan. Selagi kedua orang ini bersitegang, Ki Gandarwo membacokkan pedangnya ke arah kepala Nurseta! Melihat dirinya terancam bahaya maut, Nurseta mengeluarkan teriakan mengguntur dan tangan kirinya menyambut pedang itu dengan pukulan telapak tangannya.

"Wuuttt... plakk...!"

Pedang itu mental dan membalik, membacok kepala Ki Gandarwo sendiri. Senopati muda Wura wuri yang menjadi kekasih gelap Nyi Dewi Durgakumala ini hanya sempat menjerit satu kali lalu roboh dan tewas karena kepalanya terbacok pedangnya sendiri sampai dalam!

"Rrrrttt...!"

Nurseta merenggut kerisnya dan tasbeh itu putus, biji tasbehnya sebagian masih digenggam Cekel Aksomolo, sebagian lagi tercecer di atas tanah. Cekel Aksomolo terkejut sekali, terutama melihat tewasnya Ki Gandarwo. Dia menjerit seperti seorang wanita, melompat ke dalam barisannya dan tiba-tiba dia menggerakkan tangan dan beberapa buah ganatri (biji tasbeh) meluncur ke arah Nurseta, mengeluarkan bunyi berdengung seperti tawon.

Nurseta mengelak dan menampar jatuh beberapa buah ganatri, akan tetapi dua buah yang luput dan lewat di dekat tubuhnya, tiba-tiba membalik seperti makhluk hidup dan menyambar lagi ke arah kepalanya! Nurseta memukul runtuh dua buah ganatri ini dan ketika dia memandang ke depan, Cekel Aksomolo telah menghilang dalam barisan Wura-wuri.


Pada saat yang hampir bersamaan, Puspa Dewi juga berhasil menendang roboh Adipati Bhismaprabhawa. Pada kesempatan selagi Puspa Dewi melakukan tendangan, Nyi Dewi Durgakumala mengelebatkan pedang hitamnya ke arah leher Puspa Dewi. Gadis itu cepat menggunakan Cundrik Arum untuk menangkis.

"Cringgg...!"

Pedang terpental dan hampir saja terlepas dari tangan Nyi Dewi Durgakumala yang menjadi marah melihat suaminya tertendang roboh. Ia mengeluarkan pekik melengking dan tangan kirinya menyerang dengan Aji Wisakenaka dari jarak dekat. Kuku jari-jari tangan permaisuri Wura-wuri itu mencengkeram dan kalau sampai kulit Puspa Dewi tercakar dan terluka, maka racun dari kuku-kuku itu akan dapat mencelakakannya. Akan tetapi tentu saja Puspa Dewi sudah hafal akan aji ini yang juga sudah dikuasainya dengan baik, maka ia menangkis dari samping sambil mengerahkan tenaga saktinya yang sudah diperkuat oleh Sang Maha Resi Satyadharma.

"Plakk...!"

Tangkisan itu membuat tubuh Nyi Dewi Durgakumala terpelanting roboh. Puspa Dewi mengejar dan menangkap pundak bekas gurunya yang roboh miring, tangan kanan mengangkat cundrik (keris kecil atau belati) untuk ditusukkan. Nyi Dewi Durgakumala tak mampu menghindar lagi karena ketika roboh, tangannya yang memegang pedang tertindih tubuhnya. Ia hanya menanti kematian dengan mata terbelalak. Pada saat itu, Adipati Bhismaprabhawa yang tadi tertendang jatuh, kini bangkit dan dengan pedangnya dia melompat dan menyerang Puspa Dewi dari belakang!

"Singgg... cappp!"

Adipati Bhismaprabhawa mengaduh dan jatuh terpelanting, sebatang tombak menembus punggungnya. Dia tewas seketika, tanpa mengetahui bahwa yang menewaskannya adalah sebatang tombak yang dilontarkan Ki Patih Narotama yang melihat kecurangan Sang Adipati Wura wuri itu. Dia cepat mengambil sebatang tombak di atas tanah dan meluncurlah tombak itu ke arah punggung Sang Adipati Bhismaprabhawa untuk menyelamatkan Puspa Dewi dari serangan gelap itu.

Sementara itu, melihat Adipati Bhismaprabhawa telah tewas dan semua pemimpin Wura-wuri kalah, Nyi Dewi Durgakumala yang masih ditodong Puspa Dewi berkata, "Murid tak kenal budi, cepat bunuh aku agar kemurtadan mu lengkap!"

Akan tetapi Puspa Dewi melangkah mundur. "Nyi Dewi Durgakumala, biarlah sekali ini aku membalas budimu dan kalau ada yang hendak membunuhmu, aku yang akan mencegahnya dan melindungimu. Pergilah!"

Nyi Dewi Durgakumala bangkit berdiri dan tersenyum mengejek. "He-heh, ternyata engkau masih belum dapat menandingiku. Engkau masih lemah hati. Engkau melepaskan aku, tidak membunuhku, merupakan penghinaan yang tidak akan kulupakan. Lain waktu kita akan bertemu kembali dan aku akan menebus semua ini!" Setelah berkata demikian, Nyi Dewi Durgakumala melompat dan menghilang di balik barisannya.

Setelah semua pimpinan mereka kalah, ada yang tewas dan ada yang melarikan diri, hati para prajurit Wura-wuri menjadi semakin gentar. Akan tetapi Ki Patih Narotama menaati pesan Sang Prabu Erlangga. Dia mengangkat tangan memberi isyarat agar pasukan Kahuripan diam di tempat dan tidak bergerak. Kemudian dia menancapkan dua batang tombak panjang yang banyak berserakan di tanah, dan bagaikan seekor burung dia melompat lalu berdiri di atas kedua batang tombak itu. Dia berdiri tegak seperti di atas tanah saja dan hal ini menunjukkan betapa ilmu meringankan tubuh Ki Patih Narotama sudah mencapai tingkat tinggi.

Setelah berdiri tegak di atas dua batang tombak itu sehingga dia berada di tempat agak tinggi dan dapat dilihat para prajurit musuh, Ki Patih Narotama berseru dengan lantang. Suaranya mengandung getaran amat kuat sehingga terdengar sampai ke ujung kota raja.

"Haiii...! Para perwira, prajurit, dan rakyat Wura-wuri, dengarlah baik-baik! Kami, Ki Patih Narotama dan segenap Senopati Kahuripan diutus yang mulia Gusti Sinuwuh Sang Prabu Erlangga untuk memberitahu kepada Andika sekalian bahwa kami datang untuk memberi hukuman kepada para penguasa Wura-wuri yang beberapa kali telah merongrong kewibawaan Kerajaan Kahuripan, membuat kekacauan dan melakukan penyerangan sehingga mengakibatkan tewasnya ribuan orang prajurit semua pihak yang berperang. Kami tidak ingin mengganggu rakyat jelata, dan kami datang tidak akan membunuh para prajurit Wura-wuri, bahkan memberi kebebasan kepada Andika sekalian. Hanya mereka yang membuat onar dan kekacauan yang akan kami tindak dan kami hukum! Pasukan kami akan memasuki Kadipaten Wura wuri dengan damai!"

Setelah berkata demikian, Ki Patih Narotama lalu memberi isyarat kepada para pembantunya untuk menggerakkan pasukan memasuki kota raja atau kadipaten dengan tertib.

Pasukan Wura-wuri yang tadinya mengatur barisan di depan pintu gerbang benteng, begitu mendengar ucapan Ki Patih Narotama, sebagian besar lalu mundur, memasuki kadipaten dan tidak membuat perlawanan. Pasukan memasuki kota raja Wura-wuri dengan aman dan hanya terjadi sedikit perlawanan di sana sini dari mereka yang setia kepada Wura-wuri. Akan tetapi perlawanan mereka itu segera dapat ditindas dan diamankan.

Ki Patih Narotama, diikuti Puspa Dewi dan para perwira pembantu, memasuki istana Kadipaten Wura-wuri. Para dayang dan pelayan yang tidak melarikan diri berlutut dengan hormat namun tidak ketakutan karena mereka sudah mendengar dari para prajurit bahwa pasukan Kahuripan yang dipimpin Ki Patih Narotama telah menduduki Wura-wuri namun tidak akan mengganggu siapa saja di Wura-wuri asalkan mereka tidak membuat kekacauan dan tidak melawan.

Ketika memasuki ruangan istana, Ki Patih Narotama baru menyadari bahwa Nurseta tidak ikut rombongannya masuk, bahkan ketika dia menoleh dan mencari, dia tidak melihat pemuda itu bersama mereka.

"Eh, Puspa Dewi, aku tidak melihat Nurseta. Di mana dia?"

"Dia berada di luar, Gusti Patih. Baru saja saya menceritakan tentang Eyang Senopati Sindukerta yang gugur."

Ki Patih Narotama mengerutkan alisnya dan menghela napas panjang. "Ya,..perang memang kejam, merupakan titik terendah dari kejatuhan manusia ke dalam jurang dosa. Perang membuat orang menjadi buas, nyawa manusia tidak lebih dihargai daripada nyawa seekor lalat. Perang membuat manusia mampu menari-nari di atas mayat musuh-musuhnya. Perang menimbulkan kekejaman, kepuasan nafsu binatang, dendam kebencian, sorak-sorai mereka yang mabok kemenangan di antara ratap tangis mereka yang kematian keluarganya."

Ki Patih Narotama melanjutkan langkahnya memasuki istana Wura-wuri, diikuti para pembantunya. Mengadakan pemeriksaan ke seluruh istana. Ternyata Nyi Dewi Durgakumala sudah pergi meninggalkan istana, menurut keterangan para dayang, membawa harta bendanya berupa perhiasan. Juga Cekel Aksomolo yang terhindar dari kematian sudah pergi meninggalkan Wura-wuri. Ki Patih Narotama bersikap lembut terhadap semua pekerja di istana Wura-wuri.

Dia lalu menunjuk beberapa orang perwira Kahuripan untuk menjadi pejabat-pejabat sementara agar roda pemerintahan Kadipaten Wura-wuri dapat berjalan seperti biasa. Tentu saja banyak kebijaksanaan pemerintah lama yang diubah dan diganti sehingga peraturan-peraturan tidak ada lagi yang menekan rakyat, disesuaikan dengan peraturan pemerintahan Kerajaan Kahuripan. Bahkan para prajurit yang tidak melarikan diri dan dengan suka rela mengakui kedaulatan Kahuripan, masih diterima menjadi anggota pasukan baru yang dibentuk dan dipimpin oleh seorang senopati Kahuripan yang diangkat sebagai komandan sementara oleh Ki Patih Narotama.

Tadinya, Ki Patih Narotama minta kepada Puspa Dewi yang pernah menjadi Sekar Kedaton Wura-wuri dan sudah banyak dikenal oleh para perwira dan prajurit Wura wuri untuk menjabat komandan pasukan sementara, akan tetapi dengan hormat Puspa Dewi menolak.

"Gusti Patih, bukan semata-mata saya menentang dan menolak kehendak Paduka, akan tetapi saya tidak dapat menerima tugas itu karena pertama; Akan timbul anggapan para prajurit Wura-wuri bahwa saya ikut memusuhi pimpinan Wura-wuri karena ingin menjadi penguasa di sini. Kedua kalinya, memang sejak dulu saya tidak ingin terikat dengan sebuah jabatan. Saya lebih suka bebas dari ikatan, Gusti Patih, walau pun saya selalu siap apabila sewaktu-waktu tenaga saya dibutuhkan untuk membela Kahuripan, sebagai kawula Kahuripan."

Mendengar alasan yang kuat itu, Ki Patih Narotama tidak memaksanya dan menunjuk seorang senopati Kahuripan untuk jabatan itu. Semua orang yang dia angkat sebagai pejabat sementara diperingatkan agar bertugas dengan baik, menaati perintah atasan dan jujur. Juga mereka diberitahu bahwa jabatan mereka hanya sementara, sambil menanti keputusan dari Sang Prabu Erlangga sendiri yang akan menunjuk para pejabat baru untuk mengatur roda pemerintahan Kahuripan. Juga untuk menunjuk seorang adipati baru, harus menaati keputusan dari Sang Prabu Erlangga sendiri.

Karena sikap bijaksana Ki Patih Narotama ini, maka penaklukan Wura-wuri berlangsung cepat dan tenang, tanpa mengakibatkan banyak korban. Juga suasana segera menjadi tenteram kembali karena peristiwa penaklukan itu tidak mendatangkan perubahan besar kepada kehidupan rakyat jelata, bahkan kalaupun diadakan beberapa perubahan peraturan, perubahan itu membela kepentingan dan menguntungkan rakyat.

Setelah menaklukkan Wura-wuri tanpa mengorbankan banyak prajuritnya, Ki Patih Narotama mempersiapkan pasukannya untuk melanjutkan tugasnya melakukan pembersihan atau hukuman terhadap kerajaan-kerajaan kecil lainnya yang selalu memusuhi Kahuripan dan seringkali melakukan pengacauan.

Tiga kerajaan yang harus ditundukkan agar mereka tidak lagi mengganggu Kahuripan itu adalah, Kerajaan Wengker, Parang Siluman, dan Kerajaan Siluman Laut Kidul. Tanpa diketahui orang lain, bahkan dia tidak melaporkan hal itu kepada Sang Prabu Erlangga, Ki Patih Narotama sudah terikat janji dengan Kerajaan Parang Siluman bahwa dia tidak akan menyerbu Parang Siluman karena puteranya, Joko Pekik Satyabudhi yang baru berusia satu setengah tahun, ditawan dan dijadikan sandera di Parang Siluman.

Oleh karena itu, sasaran berikutnya yang akan dia tundukkan adalah Kerajaan Siluman Laut Kidul. Dibandingkan yang lain, kerajaan atau kadipaten ini yang paling kecil, pasukannya juga tidak banyak jumlahnya walau pun harus diakui bahwa Siluman Laut Kidul dipimpin oleh ratunya yang sakti mandraguna, yaitu Ratu Mayang Gupita yang rupanya saja sudah menyeramkan sebagai seorang raseksi. Juga ia dibantu oleh paman gurunya sendiri yang sakti dan ahli sihir, yaitu Bhagawan Kalamisani.

Akan tetapi Ki Patih Narotama merasa yakin bahwa dia dan Puspa Dewi berdua akan mampu menandingi dan mengalahkan dua orang sakti itu, dan pasukannya juga jauh lebih besar daripada pasukan Kadipaten Siluman Laut Kidul. Dia lalu memanggil Nurseta dan diajaknya pemuda itu untuk bicara berdua saja dengannya.

"Nurseta, aku ikut merasa prihatin atas gugurnya Kakekmu, yaitu Paman Senopati Sindukerta. Mudah-mudahaan engkau tidak terlalu berduka mendengar berita itu."

Nurseta menghela napas panjang dan menyembah dengan hormat. "Gusti Patih, bagaimana mungkin seorang manusia biasa seperti saya tidak akan merasa kehilangan dan bersedih mendengar kematian Eyang Sindukerta? Akan tetapi saya dapat menghibur hati dengan adanya kenyataan bahwa Eyang Sindukerta meninggal dunia sebagai seorang pahlawan pembela negara. Saya sudah dapat menguasai hati dan tidak lagi tertekan kedukaan, Gusti Patih."

"Syukurlah kalau begitu, Nurseta. Sekarang aku ingin minta tolong padamu, Nurseta. Aku sedang terhimpit suatu masalah dan kiranya hanya engkau yang akan dapat menolongku."

Nurseta terkejut. Bagaimana mungkin Ki Patih Narotama yang demikian sakti mandraguna dan arif bijaksana itu membutuhkan pertolongannya.....?

Minal 'Aidin wal-Faizin gan🙏🙏🤗

0 Response to "Nurseta Satria Karang Tirta Jilid 34"

Post a Comment