close

Nurseta Satria Karang Tirta Jilid 26

Kho Ping Hoo
-------------------------------
----------------------------
Mereka melihat seorang laki-laki berusia tiga puluhan tahun duduk di atas lantai pendapa bersandar dinding bambu dan mukanya matang biru membengkak bekas pukulan. Melihat Wiyanti datang, Garino, laki-laki itu dengan susah payah memaksa diri bangkit berdiri.

"Wiyanti... engkau... engkau pulang dengan selamat...?"

"Kakang Garino...!" Suami isteri itu berangkulan dan Wiyanti menangis.

"Mbakayu Wiyanti, kukira suamimu perlu beristirahat." Kata Puspa Dewi.

Baru wanita itu menyadari dan ia pun memapah suaminya memasuki ruangan dalam dan membantu suaminya rebah di atas sebuah amben (pembaringan sederhana dari bambu). Garino rebah telentang dan Wiyanti segera menyalakan lampu, lalu mempersilakan Puspa Dewi duduk di atas bangku kayu sederhana yang berada di ruangan itu.

Setelah cuaca mulai terang oleh sinar lampu, Puspa Dewi melihat bahwa Garino adalah seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun, tubuhnya kokoh dan tinggi kurus, wajahnya sederhana namun tidak membayangkan watak yang kasar seperti kebanyakan orang laki-laki di Kerajaan Wengker. Ia juga dapat melihat bahwa Garino hanya menderita luka-luka karena pukulan dan tendangan, hanya bengkak-bengkak dan matang biru, akan tetapi agaknya tidak terdapat luka yang membahayakan nyawanya. Sebaliknya, ketika Garino memandang dan melihat bahwa wanita yang datang bersama isterinya adalah seorang gadis muda yang cantik jelita, dia merasa heran sekali.

"Wiyanti, siapakah gadis ini?"

"Kakang Garino, gadis inilah yang telah menyelematkan aku dari Drohawisa yang jahat dan kejam. Ia amat sakti mandraguna, Kakang, Drohawisa dihajar sampai sebuah tangan dan sebuah kakinya buntung!" Wiyanti menceritakan dengan wajah gembira. "Inilah penoIongku, namanya Raden Roro Puspa Dewi!"

Nama Puspa Dewi amat tersohor bagi para senopati dan prajurit Wengker. Akan tetapi Garino adalah seorang petani yang hidup di Lembah Kali Ngebel dan nama gadis itu asing baginya. Maka dia pun tidak terkejut seperti halnya Drohawisa mendengar nama Puspa Dewi, hanya memandang kagum dan dia segera bangkit duduk, dibantu isterinya.

"Den Roro, saya menghaturkan terimakasih atas pertolongan Andika kepada isteri saya."

"Sudahlah, tidak perlu berterima kasih. Penjahat macam Drohawisa itu memang sudah sepatutnya menerima hukuman. Sebaliknya akulah yang mengharapkan bantuan Andika berdua."

Suami isteri itu memandang heran.

"Bantuan dari kami? Bantuan apakah yang dapat diberikan suami isteri miskin dan lemah seperti kami?" tanya Wiyanti.

"Benar kata isteri saya, Den Roro. Bahkan setelah terjadinya peristiwa tadi, kami tidak berani lagi tinggal di sini. Besok pagi kami harus sudah pergi dari sini, pindah ke tempat yang tersembunyi dari mereka."

"Kalau kalian merasa lebih aman pergi dari sini, tentu saja hal itu yang terbaik. Akan tetapi aku hanya ingin minta bantuan dua hal kepada kalian. Pertama, aku ingin menumpang di sini untuk melewatkan malam ini..."

"Wah, tentu saja boleh, Den Roro!" suami isteri itu berseru hampir berbareng.

"Terima kasih Dan bantuan ke dua, aku minta keterangan dari kalian, barang kali saja kalian mendengar tentang adanya seorang gadis bernama Niken Harni memasuki daerah Wengker baru-baru ini."

"Niken Harni? Saya tidak pernah mendengarnya, Den Roro." kata Wiyanti. "Kakang, apa engkau pernah mendengar nama itu?"

Suaminya menggeleng kepalanya. "Saya juga belum pernah mendengar nama itu, Den Roro. Maaf, kami, tidak dapat membantu Andika dalam hai ini."

"Tidak mengapa kalau kalian tidak mengetahuinya. Biarlah malam ini aku menumpang di sini semalam dan besok pagi-pagi aku akan melanjutkan perjalanan mencari Niken Harni."

"Kalau boleh saya mengetahui, siapakah Niken Harni itu, Den Roro?"

Puspa Dewi menghela napas panjang, "Dia Adikku."

Karena Puspa Dewi tidak bicara lebih lanjut mengenai Niken Harni, suami isteri Itu pun tidak berani banyak bertanya.

"Den Roro, setelah Drohawisa Andika beri hajaran keras, dia pasti akan mengerahkan kawan-kawannya dan saya khawatir malam ini juga mereka akan datang ke sini untuk melakukan pembalasan. Apakah tidak sebaiknya kalau kita pergi saja malam ini juga meninggalkan tempat ini?"

Mendengar ucapan suaminya yang mengandung ketakutan itu, Wiyanti malah menangis lagi. "Ahh... bagaimana baiknya, Kakang? Den Roro, tolonglah kami, Den Roro Puspa Dewi..."

"Jangan kalian khawatir. Malam ini, kalau benar ada yang berani datang mengganggumu, aku yang akan menghadapi mereka!"

"Akan tetapi, Den Roro... Drohawisa itu berbahaya sekali. Dia mempunyai kawan-kawan jagoan yang juga menjadi gurunya, yaitu Wirobento dan Wirobandrek, dua orang warok muda yang tersohor kedigdayaannya. Bahkan dua orang warok muda itu merupakan pembantu-pembantu atau anak buah dari Ki Surogeni, warok terkenal di Wengker karena dia adalah Ayah dari Sang Ratu Mayangsari. Saya tidak ingin menyusahkah Andika, Den Roro. Saya sendiri tidak takut mati, akan tetapi saya tidak dapat membayangkan isteri saya ini terjatuh ke tangan mereka..." Suara Garino penuh kegelisahan.

"Hemm, jangan khawatir. Biar Ratu Mayangsari sendiri yang datang, kalau ia membela keparat macam Drohawisa tadi, akan kuhadapi dan kulawan!" kata Puspa Dewi. Sikapnya yang gagah dan suaranya yang mantap itu melegakan hati suami isteri itu.

"Wiyanti, mengapa engkau tidak cepat menyiapkan makan malam untuk Den Roro Puspa Dewi?"

"Wah, aku sampai lupa...! Biar sekarang juga aku menyiapkan makan malam...!" kata Wiyanti sambil bangkit dari amben di mana ia duduk sambil memijiti kaki suaminya.

"Biar aku membantumu, Mbakayu. Tutup dan palangi saja pintu depan agar aku mendengar kalau ada orang datang ke rumah ini." kata Puspa Dewi.

Wiyanti lalu menutupkan daun pintu dan memasang palangnya. Sesudah itu dua orang wanita itu sibuk di dapur, Wiyanti menyembelih seekor ayam peliharaannya dan mereka lalu menanak nasi dan memasak lauk.

Ternyata tidak terjadi sesuatu seperti yang dikhawatirkan suami isteri itu pada malam itu. Pada keesokan harinya, Garino yang sudah agak pulih kesehatannya bersama Wiyanti sudah berkemas, membawa pakaian dan barang-barang yang dianggap berharga dan tidak berat, siap meninggalkan rumah mereka.

Setelah mandi Puspa Dewi melihat dua orang suami isteri itu berdiri di depan pondok mereka dengan wajah muram, bahkan tampak keduanya habis menangis. Puspa Dewi dapat memaklumi kesedihan hati mereka. Mereka harus meninggalkan segala yang mereka miliki, rumah dan sawah ladang, dan pergi dari situ untuk tidak kembali lagi. Menurut pembicaraan mereka semalam, mereka bahkan belum tahu kemana mereka akan pergi dan bagaimana nasib mereka kemudian.

"Apakah kalian hendak pergi sekarang? Sepagi Ini?" tanyanya.

"Kami harus pergi sekarang, Den Roro. Kami khawatir kalau mereka datang sebelum kami pergi." jawab Garino.

"Kalian sudah memutuskan hendak ke mana?"

"Sudah, Den Roro." jawab Wiyanti dengan suara serak karena semalam ia menangis terus, "Saya teringat mempunyai seorang paman jauh yang tinggal di pantai selatan. Kami akan pergi ke sana."

Suami isteri itu agaknya membawa barang-barang mereka yang mereka anggap berharga dan dapat mereka bawa. Wiyanti menggendong buntalan besar, agaknya terisi pakaian mereka. Garino membawa sepikul barang-barang perabot dapur dan alat pertanian. Betapa sederhana kehidupan mereka, pikir Puspa Dewi. Betapa sedikit kebutuhan mereka. Ia merasa terharu karena mereka terpaksa berpisah dengan milik mereka yang paling berharga, yaitu rumah tempat mereka tinggal dan sawah ladang yang menjadi sumber nafkah mereka. Puspa Dewi mengeluarkan bungkusan kain dari ikat pinggangnya, membuka bungkusan terisi perhiasan itu lalu menyerahkan sepasang subang emas terhias permata indah kepada Wiyanti.

"Mbakayu Wiyanti, terimalah pemberian ku ini. Kalau kalian tiba di tempat baru, juallah ini untuk membeli sawah ladang dan rumah."

Suami isteri itu terbelalak. Perhiasan itu amat Indah dan tentu mahal sekali harganya, lebih mahal dari harga rumah dan sawah ladang yang mereka tinggalkan. Sebagai orang-orang dusun yang polos dan lugu, mereka merasa bingung dan sungkan sekali.

"Akan tetapi, Den Roro..." kata Wiyanti sambil menatap sepasang subang itu dengan mata terbelalak.

"Terima sajalah, Mbakayu, tidak usah ragu. Benda ini adalah milikku sendiri. Kalian tentu memerlukannya untuk membeli tanah dan rumah baru."

"Aduh, terimakasih, Den Roro. Andika bukan hanya telah menyelamatkan nyawa kami, bahkan juga menyerahkan benda berharga kepada kami. Bagaimana kami dapat membalas kebaikan budi Den Roro?"

"Aku tidak minta dan tidak berhak menerima balasan, Mbakayu Wiyanti. Yang kalian terima merupakan berkah dari Sang Hyang Widhi, oleh karena itu kalian berkewajiban membalas berkah-Nya dengan cara melaksanakan hidup yang baik dan benar sebagai bakti kalian kepada-Nya. Nah, selamat berpisah dan selamat jalan."

Suami isteri itu memberi hormat dengan sembah kepada gadis yang telah melimpahkan kebaikan kepada mereka, lalu mereka pergi ke arah selatan. Halimun pagi segera menyelimuti dan menyembunyikan mereka dari pandangan Puspa Dewi yang masih berdiri di depan pondok, la memang sengaja menanti di situ, menjaga kalau-kalau benar terjadi apa yang dikhawatirkan suami isteri itu.

Setelah matahari pagi mengusir bersih halimun yang menyelimuti bumi sehingga cuaca menjadi terang dan sinar matahari menghidupi semua yang berada di permukaan bumi, Puspa Dewi juga bersiap-siap untuk pergi meninggalkan tempat itu. Ia sudah meringkas pakaiannya dalam buntalan kain hendak meninggalkan pondok kosong itu ketika ia mendengar derap kaki kuda makin lama semakin nyaring, menandakan bahwa ada beberapa orang penunggang kuda menuju ke pondok itu. Puspa Dewi meletakkan buntalan pakaiannya ke atas bangku bambu di depan pintu pondok, dan berdiri menanti dengan sikap tenang.

Tak lama kemudian tampaklah empat orang penunggang kuda datang memasuki pekarangan pondok itu. Puspa Dewi melihat Drohawisa berada bersama tiga orang lain. Agaknya ada yang merawat Drohawisa sehingga kini dia mampu menunggang kuda, walau pun kendali hanya dia pegang dengan tangan kiri saja. Tangan kanan dan kaki kiri yang buntung itu telah dibalut. Diam-diam Puspa Dewi merasa gemas. Ternyata hajaran yang diberikannya kepada Drohawisa tidak membuat orang itu kapok!

Sekarang dia bahkan datang bersama tiga orang yang tampaknya menyeramkan dan buas. Ia tidak mengenal siapa tiga orang itu. Ketika tiga orang itu berlompatan turun dari atas kuda mereka, ia mengamati penuh perhatian. Drohawisa sendiri tidak turun dari atas punggung kudanya. Agaknya, dalam keadaan buntung tangan kanan dan kaki kirinya itu, untuk naik turun kuda dia harus dibantu orang lain.

Orang pertama adalah seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun, bertubuh tinggi kurus dan ternyata laki-laki ini berwajah cukup tampan kalau dibandingkan dengan para pria pada umumnya di Wengker. Pakaiannya indah seperti pakaian bangsawan dan wajahnya yang tampan menunjukkan keangkuhan. Sepasang matanya membayangkan kegenitan seorang laki-laki mata keranjang ketika dia memandang kepada Puspa Dewi dengan kagum.

Laki-laki ini bukan lain adalah Ki Warok Surogeni, ayah dari Ratu Mayangsari! Warok Surogeni adalah seorang warok yang terkenal di Wengker dan ditakuti orang, apa lagi setelah puterinya, Mayangsari, menjadi permaisuri, isteri Sang Adipati Wengker, mendiang Adipati Adhamapanuda dan kemudian diperisteri Adipati Wengker yang baru, yaitu Adipati Linggawijaya.

Orang ke dua adalah seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun, bertubuh tinggi besar, wajahnya serba tebal dan kasar. Pinggangnya terbelit sebatang pecut yang ujungnya dipasangi potongan besi kecil-kecil dan runcing tajam. Inilah Ki Wirobento, seorang warok muda yang menjadi anak buah Warok Surogeni.

Orang ke tiga juga seorang warok muda berusia sekitar dua puluh delapan tahun, juga bertubuh tinggi besar dan dia menggunakan sabuk kolor merah yang besar dan kuat karena kolor itu merupakan senjata ampuhnya. Dia ini bernama Ki Wirobandrek, adik dari Wirobento.

Ketika Drohawisa yang terluka memberitahu sahabat dan juga gurunya, Ki Wirobento, warok ini menjadi marah akan tetapi juga terkejut bukan main mendengar bahwa yang melukai Drohawisa adalah Puspa Dewi! Wirobento dan Wirobandrek merasa jerih menghadapi Puspa Dewi sendiri, maka mereka lalu melapor dan minta bantuan Warok Surogeni.

Ki Warok Surogeni tentu saja sudah mendengar nama Puspa Dewi sebagai seorang yang dimusuhi Kadipaten Wengker. Akan tetapi dia belum pernah bertemu dan belum tahu akan kesaktian gadis itu. Biarpun dia mendengar bahwa Puspa Dewi seorang gadis yang sakti mandraguna, namun dia memandang remeh. Sampai di mana sih kehebatan seorang gadis muda? Juga dia mendengar bahwa Puspa Dewi cantik jelita seperti bidadari kahyangan! Maka dia lalu cepat mengajak Wirobento dan Wirobandrek untuk mengikuti Drohawisa sebagai penunjuk jalan, pergi mencari Puspa Dewi di rumah Garino.

Demikianlah, pagi itu mereka bertiga yang mengikuti Drohawisa sebagai penunjuk jalan telah memasuki pekarangan dan tiga orang itu sudah berlompatan turun dari atas kuda dan Drohawisa segera berseru.

"Itulah ia Puspa Dewi!"

Puspa Dewi menghadapi tiga orang itu dengan sikap tenang. Kalau mungkin, ia tidak ingin membuat keributan dan bertanding dengan orang-orang Wengker karena kedatangannya adalah untuk mencari Niken Harni. Ia tidak mempunyai urusan dengan tiga orang ini.

"Benar, aku adalah Puspa Dewi. Andika siapakah dan ada keperluan apa mencari aku di sini?"

Ki Surogeni memandang kagum dan tangan kirinya meraba kumisnya yang tebal.

"Heh, Puspa Dewi. Tentu Andika ini Sekar Kedaton Wura-wuri yang dikabarkan berkhianat itu! Ketahuilah, aku adalah Ki Surogeni, Ayah kandung Dewi Mayangsari, permaisuri Wengker. Dua orang ini pembantuku Wirobento dan Wirobandrek. Kami mendengar bahwa Andika telah melukai anak buah kami Drohawisa, karena itu kami datang menemuimu!"

"Ah, kiranya Andika adalah Ki Surogeni, Ayah dari Dewi Mayangsari! Aku memang memberi hajaran kepada Drohawisa karena dia mengganggu seorang wanita. Aku tidak percaya bahwa sebagai Ayah permaisuri Wengker Andika akan membela seorang penjahat yang menjadi perusak pagar ayu, Ki Surogeni!"

Ki Surogeni menggulung ujung kumisnya dengan ibu jari dan telunjuk kirinya sambil mengerling ke arah Drohawisa yang masih duduk di atas kudanya dengan wajah pucat mendengar ucapan Puspa Dewi tadi.

"Hemrn, kami akan melakukan tindakan kepada anak buah kami kalau dia bersalah, Puspa Dewi. Akan tetapi, engkau telah melanggar wilayah kami, memasuki daerah Wengker tanpa ijin."

"Ki Surogeni, aku memasuki daerah Wengker bukan dengan niat bermusuhan. Aku ke sini untuk mencari Adikku yang bernama Niken Harni. Kebetulan sekali Andika datang. Andika tentu mengetahui di mana adanya Adikku Niken Harni, maka katakanlah kepadaku, di mana ia?"

Tentu saja Ki Surogeni telah mendengar bahwa Niken Harni menjadi tamu di Istana Kadipaten Wengker, walau pun dia tidak tahu bahwa gadis itu kini telah dibawa pergi Nini Bumigarbo.

"Hemm, kiranya Andika mencari Niken Harni? Gadis itu kini menjadi tamu Istana Kadipaten. Akan tetapi karena Andika memasuki wilayah kami tanpa ijin, bahkan begitu datang membuat ribut dalam perkara orang Wengker yang sebenarnya Andika tidak mempunyai hak untuk mencampuri, maka menyerahlah Andika untuk kami tangkap dan kami hadapkan kepada Sang Adipati Wengker"

"Hemm... aku telah sejak kecil mengenal Linggajaya yang kini menjadi Adipati Wengker. Aku mau kalian antar menghadap dia, akan tetapi sebagai tamu yang hendak mencari Adikku, bukan sebagai tawanan!"

"Puspa Dewi! Andika memandang rendah kepadaku! Aku tidak ingin mempergunakan kekerasan, maka menyerahlah untuk menjadi tangkapanku dan kuhadapkan Sang Adipati."

"Ki Surogeni, sekali lagi kutegaskan. Aku tidak mencari permusuhan, akan tetapi aku juga tidak mau diperhina dan dijadikan tawanan. Baik secara halus mau pun kasar, aku tidak mau dijadikan tawanan. Aku akan menghadap Sang Adipati sebagai seorang tamu! Terserah kalau Andika hendak menggunakan cara halus mau pun kasar!"

"Andika menantang? Wirobento dan Wirobandrek, kalian tangkap gadis sombong ini!"

Andaikata mereka berdua tidak disertai Warok Surogeni, Wirobento dan Wirobandrek tidak akan berani menyerang Puspa Dewi karena mereka sudah mendengar akan kesaktian gadis itu yang kabarnya memiliki ketangguhan yang setingkat dengan Adipati Linggawijaya sendiri. Akan tetapi karena ada Warok Surogeni di situ, mereka menjadi berani dan mendengar atasan mereka mengeluarkan perintah itu, mereka berdua dengan sikap gagah lalu menerjang maju, menyerang Puspa Dewi dari kanan dan kiri.

Puspa Dewi tidak ingin memberi hati. Begitu dua orang itu menyerangnya dari kanan kiri, ia sudah mendahului gerakan mereka. Tubuhnya melesat ke depan menyambut kedua orang itu dengan tendangan beruntun ke kanan kiri dengan kedua kakinya.

"Wuut... suuuttt... desss! Desss!"

Dua orang jagoan Wengker itu terlempar dan jatuh berguling-guling terkena sambaran kedua kaki Puspa Dewi yang cepat dan mengandung kekuatan dahsyat itu. Mereka terbanting dan merasa pening, juga dada mereka sesak karena tendangan tadi mengenai dada mereka. Puspa Dewi menendang sambil melompat tinggi, kedua kakinya menendang ke kanan kiri dan gerakan ini cepat bukan main sehingga tidak dapat diikuti dengan pandang mata.

Melihat ini, Ki Surogeni menjadi terkejut juga. Dia tahu bahwa memang tingkat kepandaian dua orang anak buahnya itu belum seberapa tinggi, akan tetapi kalau dibandingkan dengan para prajurit biasa, mereka berdua itu sudah termasuk jagoan yang cukup digdaya dan tangguh. Masa, dalam segebrakan saja mereka berdua sudah dapat dirobohkan oleh gadis itu, hal ini membuktikan bahwa gadis itu memang memiliki kesaktian yang luar biasa. Bagaimana pun juga, dia masih memandang rendah. Gadis itu tampak sakti sekali karena dua orang anak buahnya itu yang lemah dan bodoh. Maka dia lalu melangkah maju menghampiri Puspa Dewi dan tersenyum, masih memandang rendah.

"Puspa Dewi, jangan mengira bahwa karena sudah mampu mengalahkan Wirobento dan Wirobandrek, engkau akan dapat merajalela di Kadipaten Wengker. Hanya karena merasa malu melawan seorang gadis muda, maka aku tadi menyuruh dua orang anak buahku itu maju melawanmu. Nah, sekarang aku sendiri maju dan ingin aku melihat sampai di mana tingginya kesaktianmu."

"Ki Surogeni, sekali lagi aku tegaskan bahwa sungguh aku tidak bermaksud mencari permusuhan di Wengker. Aku hanya ingin mencari Adikku Niken Harni. Marilah, kalau Andika hendak mengajak aku pergi menghadap Adipati Linggawijaya, karena memang aku ingin bertemu dengan dia untuk mencari Adikku. Akan tetapi aku hanya mau pergi sebagai seorang tamu, bukan sebagai seorang tawanan."

"Hemm, Puspa Dewi. Sudah lama aku mendengar bahwa Andika seorang gadis yang digdaya dan angkuh. Keangkuhanmu sudah kulihat sekarang, akan tetapi kesaktianmu belum. Sekarang mari kita bertanding mengukur keampuhan aji masing-masing. Kalau Andika mampu mengalahkan aku, barulah aku akan mengiringimu sebagai seorang tamu Kadipaten Wengker. Sebaliknya kalau Andika kalah, Andika akan menjadi tawananku."

Puspa Dewi mengerutkan alisnya. Bagaimana pun juga, seandainya Niken Harni benar-benar berada di Kadipaten Wengker, tentu ia harus siap menghadapi tantangan kekerasan dari Adipati Linggawijaya. Mereka tentu tidak akan mudah begitu saja melepaskan Niken Harni. Maka, tantangan ayah dari Permaisuri Wengker ini harus diterimanya untuk memperlihatkan mereka bahwa ia bersungguh-sungguh ingin membebaskan adik kandungnya itu, dan bahwa ia siap menentang dengan kekerasan kalau Kadipaten Wengker menolak untuk menyerahkan Niken Harni kepadanya.

Keterangan Ki Surogeni bahwa adiknya itu menjadi tamu di Wengker, membuat ia curiga dan khawatir. Niken Harni memasuki Wengker untuk menyelamatkan Nyi Lasmi yang diculik anak buah Ki Suramenggala yang kini kabarnya telah diangkat menjadi seorang Tumenggung di Wengker. Maka, kiranya tidak mungkin kalau Niken Harni diterima sebagai tamu dan diperlakukan dengan baik. Apa lagi mengingat bahwa watak Niken Harni amat berani dan galak. Besar kemungkinan adiknya itu menjadi tawanan. Maka ia harus siap melawan dan kalau memang benar kekhawatirannya bahwa Niken Harni tertawan, ia akan menggunakan kekerasan untuk membebaskannya.

Ia tahu bahwa ia berada di gua harimau, berada di Kerajaan Wengker di mana terdapat banyak orang sakti mandraguna dan terdapat banyak sekali Pasukan. Tak mungkin ia seorang diri akan mampu melawan mereka semua. Namun, demi keselamatan Niken Harni, ia siap menghadapi bahaya bagi dirinya sendiri.

"Baik, tantanganmu kuterima, Ki Surogeni..! Aku percaya bahwa ayah seorang permaisuri tidak akan bertindak curang dan melanggar janji. Kalau aku dapat mengalahkan Andika, aku akan berkunjung ke istana Kerajaan Wengker sebagai seorang tamu dan Andika mengantarku."

Diam-diam warok besar itu merasa kagum juga. Gadis ini sungguh memiliki keberanian luar biasa. Seorang diri berani memasuki daerah yang mungkin memusuhinya! Jarang ada orang, bahkan seorang senopati sekalipun mungkin tidak ada yang berani begitu nekat memasuki daerah lawan seorang diri saja, menghadapi kemungkinan dikeroyok puluhan ribu orang pasukan.

Sudah lama dia yang berusia lima puluh tahun hidup menduda. Kalau saja dia dapat memiliki gadis seperti ini menjadi isterinya, wah, alangkah senangnya! Harta dan kedudukan dia sudah tidak butuh lagi karena dia tidak kekurangan harta benda, dan dia adalah ayah mertua Sang Adipati Wengker, berarti kedudukannya sudah tinggi dan dihormati seluruh orang Wengker. Akan tetapi sisihan atau teman hidup yang akan memuaskan hatinya dia belum punya.

Dia dapat setiap saat bersenang-senang dengan wanita yang dipilihnya, namun belum pernah ada seorang wanita secantik Puspa Dewi. Isterinya dulu, ibu kandung Dewi Mayangsari, juga seorang wanita cantik, akan tetapi isterinya itu telah meninggal dunia karena sakit. Tentu saja dia tidak sungguh-sungguh ketika berjanji bahwa dia akan menghadapkan gadis ini sebagai tawanan ke Kadipaten Wengker.

Baru saja dia mendengar bahwa Niken Harni menjadi tamu kadipaten itu dan pada saat ini, baik Sang Adipati Linggawijaya mau pun Dewi Mayangsari, tidak berada di istana mereka. Adipati Linggawijaya pergi ke Parang Siluman dan Kerajaan Siluman Laut Kidul untuk mengajak kedua kadipaten itu untuk bekerjasama meruntuhkan Kahuripan. Adapun Dewi Mayangsari juga pergi ke Kerajaan Wura-wuri dengan maksud yang sama.

Empat kerajaan kecil itu hendak mengadakan persekutuan lagi untuk mengulang usaha mereka yang dulu gagal, yaitu membunuh Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama, menghancurkan Kerajaan Kahuripan yang menjadi musuh bebuyutan mereka.

"Puspa Dewi, sebaliknya Andika tentu tidak akan mengingkari janji bahwa kalau Andika kalah, Andika menjadi tawanan dan akan kubawa ke kadipaten."

"Baik, aku telah siap, Ki Surogeni!" kata Puspa Dewi dan gadis ini berdiri tenang dan santai di depan calon lawannya, dalam jarak sekitar tiga tombak.

"Puspa Dewi, sambut ini!" Warok Ki Surogeni segera mengangkat kedua tangannya yang membentuk cakar harimau, seluruh tubuhnya bergetar dan bergoyang-goyang, mulutnya meringis dan bibir atasnya bergerak-gerak, lalu terdengar gerengan yang sangat dahsyat dan menggetarkan.

Tiga ekor kuda tunggangan mereka meringkik ketakutan, mengangkat kaki depan ke atas lalu melarikan diri keluar dari pekarangan. Bahkan kuda yang ditunggangi Drohawisa juga meringkik ketakutan. Sia-sia saja tangan kiri Drohawisa berusaha menenangkan kuda dengan menarik kendali. Bahkan kuda itu ikut melompat-lompat melarikan diri sehingga tubuh Drohawisa yang masih lemah itu terlempar dari punggung kuda dan terbanting jatuh ke atas tanah!

Itulah Aji Sanghara Macan, yaitu serangan melalui suara yang amat kuat dan mengandung getaran bergelombang yang dapat melumpuhkan lawan, seperti auman harimau yang dapat melumpuhkan korban yang menjadi calon mangsanya. Akan tetapi getaran suara yang dahsyat itu seolah tidak terasa oleh Puspa Dewi, padahal la yang diserang secara langsung. Serangan Itu bagaikan gelombang samudera yang menghantam batu karang, setelah gelombang itu lewat, batu karang masih berdiri tegak. Atau seperti angin badai menerjang bukit karang. Angin lewat, bukit karang tetap tak terpengaruh.

Melihat serangannya dengan Aji Sanghara Macan itu sama sekali tidak mempengaruhi lawan, Ki Surogeni merasa penasaran. Kini dia melompat ke depan dan berseru nyaring, "Sambut seranganku!" Dia sudah menerjang dengan tamparan telapak tangan kirinya, disusul pukulan ke arah perut. Tamparan tangan kiri itu menyambar ke arah kepala Puspa Dewi.

Gadis ini dengan tenang namun lincah sekali mengelak sehingga dua pukulan lawan itu luput. Puspa Dewi membalas dengan dua kali tendangan, namun Ki Surogeni juga dapat menangkis dua tendangan ini lalu menyerang lagi semakin ganas.


Terjadilah pertandingan yang seru. Akan tetapi. Puspa Dewi yang pernah menerima gemblengan Sang Maha Resi Satyadharma, kini memiliki tingkat kepandaian yang tinggi. Kalau ia menghendaki, ia akan mampu mengalahkan Ki Surogeni dalam waktu yang tidak terlalu lama, yaitu dengan menggunakan aji yang paling ampuh.

Namun, ia tidak ingin membunuh orang, apa lagi lawannya ini adalah ayah Dewi Mayangsari permaisuri Wengker. Maka, Puspa Dewi membatasi tenaganya sehingga pertandingan itu berlangsung seru. Akan tetapi diam-diam Ki Surogeni terkejut bukan main dan mulai merasa gentar. Semua serangannya tidak mampu menyentuh ujung baju gadis itu dan setiap serangan gadis itu tak dapat dia elakkan dan terpaksa dia tangkis. Akan tetapi setiap kali lengannya beradu dengan tangan gadis itu ketika dia menangkis, dia merasa lengannya tergetar hebat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

Sebenarnya, Ki Surogeni kini maklum bahwa nama besar Puspa Dewi sebagai seorang gadis yang sakti mandraguna, bukan nama kosong belaka. Akan tetapi untuk mengaku bahwa dia kalah atau takut, dia merasa malu. Dia adalah seorang jagoan warok yang terkenal di Wengker. Masa dia harus mengaku kalah terhadap seorang gadis muda belia ini?

Karena merasa bahwa dalam adu ilmu silat dia akhirnya tentu kalah karena selain kalah kuat tenaga saktinya, juga gerakannya kalah cepat dan lincah, maka tiba-tiba Ki Surogeni melompat ke belakang dan menggunakan aji pukulan mautnya. "Aji Bala Latul!" Ketika kedua tangannya yang terbuka itu mendorong ke arah Puspa Dewi, ada uap panas sekali menyambar ke arah Puspa Dewi.

Melihat aji pukulan yang ampuh ini, Puspa Dewi menyambut dengan dorongan kedua tangannya pula, akan tetapi ia membatasi tenaganya karena maklum bahwa kalau terlalu kuat ia menyambut pukulan maut Ki Surogeni itu dapat membalik dan mungkin membunuhnya.

"Wuuuuttt... byarrr...!"

Tubuh Ki Surogeni terdorong ke belakang sampai dia terhuyung-huyung. Pukulannya membalik dan dia merasa dadanya panas dan sesak, wajahnya pucat dan setelah dapat berdiri tegak dia memejamkan mata dan menarik napas panjang-panjang untuk melindungi dadanya. Kemudian dia membuka matanya memandang kepada Puspa Dewi yang masih berdiri santai dan tersenyum kepadanya.

"Bagaimana, Ki Surogeni? Apakah Andika sekarang mau mengantar aku sebagai tamu yang berkunjung ke Kadipaten Wengker?"

Tentu saja Ki Surogeni tidak dapat menolak dan mengingkari janji. Pula, ini merupakan kesempatan baik baginya untuk membalas kekalahannya. Puterinya, Dewi Mayangsari, sedang tidak berada di istana. Demikian pula Adipati Linggawijaya, mantunya.....
Bagikan cersil ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊

0 Response to "Nurseta Satria Karang Tirta Jilid 26"

Post a Comment