Nurseta Satria Karang Tirta Jilid 11

Mode Malam
Kho Ping Hoo
-------------------------------
----------------------------
Begitu muncul gadis itu langsung melompat dekat Nyi Lasmi dan tangan kanannya cepat sekali menghantam ke arah tubuh Wirobento sedangkan kaki kirinya menendang ke arah tubuh Wirobandrek.

Dua orang jagoan Wengker ini bukan orang lemah. Melihat betapa pukulan dan tendangan itu mendatangkan angin serangan yang kuat, mereka maklum bahwa mereka diserang seorang yang digdaya, maka mereka cepat berlompatan ke belakang untuk mengelak. Gadis itu lalu berkata dengan suara nyaring namun ucapannya cadel (pelo).

"Bibi, jangan takut! Aku akan menghajar mereka!"

Setelah berkata demikian, gadis Cina itu sudah mencabut pedangnya dan tampak sinar berkelebat ketika pedangnya tercabut. Ki Tejoranu membelalakkan matanya yang sipit. Jantungnya berdebar kencang dan hatinya merasa terharu sekali. Sukar untuk mengenali gadis Cina itu, akan tetapi dia masih teringat bahwa mata dan mulut gadis itu adalah mata dan mulut The Kim Lan, adik perempuannya yang ketika mereka berpisah masih merupakan seorang gadis remaja cilik berusia tiga belas tahun. Tentu saja dia tidak berani menegur gadis itu sebagai adiknya, takut kalau kalau dugaannya salah, maka dia hanya mengintai saja dan siap siaga kalau-kalau gadis itu membutuhkan bantuan.

Dua orang kakak beradik jagoan Wengker itu marah bukan main ketika mereka melihat seorang gadis asing menyerang mereka. Melihat gadis itu sudah mencabut pedang, Ki Wirobandrek berteriak kepada anak buahnya.

"Perempuan bosan hidup berani mencampuri urusan kami! Kawan-kawan, bunuh perempuan itu!"

Dua belas orang prajurit Wengker yang rata-rata bertubuh tinggi besar dan berwajah bengis itu segera mencabut golok mereka dan mereka maju menghampiri gadis itu. Gadis Cina itu tidak ingin Nyi Lasmi ikut terkepung sehingga membahayakan keselamatannya, maka ia berlari menjauhi sehingga ketika ia terkepung, Nyi Lasmi tidak ikut dikepung, ia berdiri dengan gagahnya dalam kepungan dua belas orang itu, berdiri dengan kedua kaki agak terpentang dan kedua lutut ditekuk, tangan kiri terbuka dan lurus miring di depan dada, sedangkan pedang di tangan kanan melintang di atas kepalanya. Tubuhnya tidak bergerak, akan tetapi sepasang matanya yang tajam itu mengerling ke kanan kiri. Sikapnya tenang seolah ia sama sekali tidak gentar menghadapi pengepungan selosin prajurit Wengker itu.

Ki Tejoranu mengenal sikap itu sebagai kuda-kuda ilmu pedang Siauw-lim-pai, maka semakin yakinlah hatinya bahwa gadis itu tentu adiknya yang sedang dia cari-cari. Bukankah Tan Sek menceritakan bahwa adiknya itu telah berguru kepada seorang hwesio Siauw-lim-pai? Tiba-tiba, dua orang pengepung yang berdiri di belakang gadis itu, setelah mendapat isyarat kedipan mata dan Ki Wirobento, segera menggerakkan golok menyerang gadis itu dari belakang, tanpa memberi peringatan. Dua batang golok menyambar, yang satu membacok kepala, yang kedua menusuk punggung.

Akan tetapi gadis itu agaknya telah memiliki tingkat kepandaian tinggi. Biarpun kedua matanya tidak dapat melihat datangnya penyerangan dari belakang, namun pendengarannya yang sudah terlatih tajam, dapat menangkap gerakan serangan Itu. Tubuhnya tiba-tiba membalik, pedangnya berkelebat bagaikan kilat menyambar.

"Cring... trangg...!"

Bunga api berpijar dan dua orang penyerang itu terpelanting dan mengaduh karena setelah pedang tadi menangkis golok mereka, pedang itu mencuat dengan kecepatan kilat dan tidak terduga-duga, merobek baju dan kulit dada mereka sehingga tergores panjang, cukup dalam sehingga mereka terluka parah.

Sepuluh orang prajurit yang lain menjadi marah dan mereka segera menyerbu dan menyerang membabi-buta dan tidak teratur lagi. Dengan kacau mereka membacok dengan golok mereka. Akan tetapi tiba-tiba mereka menjadi bingung karena tubuh gadis yang mereka keroyok itu berkelebatan amat cepatnya, merupakan bayang-bayang biru yang berkelebatan terlindung gulungan sinar pedangnya yang seperti kilat. Terdengar suara berkerontangan berulang-ulang disusul golok-golok terpental dan tubuh para pengeroyok berpelantingan! Lima orang pengeroyok roboh dan sisanya, lima orang lagi menjadi gentar.

Melihat ini, Ki Wirobento dan Ki Wirobandrek berseru nyaring dan mereka berdua sudah menerjang maju membantu para anak buah yang tinggal lima orang itu. Ki Wirobento sudah menggerakkan pecutnya yang ujungnya dipasangi paku-paku atau besi-besi kecil yang runcing tajam. Hebat sekali senjata ini, yang menyambar-nyambar dahsyat. Sementara itu, Ki Wirobandrek menggunakan senjata andalannya yang merupakan senjata pusaka para warok, yaitu sepasang ujung kolor berwarna merah. Ujung kolor yang lemas ini sama sekali tidak boleh dipandang ringan karena sudah dirajah (dipasangi mantra) dan mengandung racun yang amat kuat.

Setelah dua orang jagoan Wengker ini maju mengeroyok dan senjata mereka bergulung-gulung sinarnya, menyambar dengan dahsyat dari semua jurusan, gadis itu tampak kaget dan mulailah ia terdesak dan main mundur walau pun putaran pedangnya membentuk gulungan sinar yang melindungi tubuhnya. Biarpun dua orang jagoan Wengker dan sisa anak buahnya yang tinggal lima orang itu sukar untuk dapat menembus perisai gulungan sinar pedang itu, namun gadis itu pun sama sekali tidak memperoleh kesempatan untuk balas menyerang.

Melihat ini, Ki Tejoranu sudah tidak dapat menahan hatinya lagi. Dia melompat keluar sambil mencabut siang-to (sepasang golok) dan berseru dengan nyaring. "Adikku, jangan khawatir. Aku datang membantumu!"


Ucapan itu menggunakan bahasa Cina. Gadis itu cepat melompat ke belakang dan menoleh. Matanya yang tajam terbelalak dan mulutnya berteriak girang. "Koko (Kakak) Jiauw Lan...!"

Ki Tejoranu sudah menyerbu dan kini mereka berdua menyambut pengeroyokan tujuh orang itu. Setelah Ki Tejoranu maju, walau pun tingkat kepandaiannya tidak lebih tinggi daripada tingkat gadis itu, namun tentu saja Ki Wirobento dan Ki Wirobandrek kini terkejut dan terdesak mundur. Bahkan dalam waktu singkat, dua orang anak buahnya sudah roboh lagi. Maklum bahwa mereka tidak akan mampu menandingi gadis Cina dan orang yang muncul membantunya itu, Ki Wirobento dan Ki Wirobandrek lalu melarikan diri, diikuti dua belas orang anak buah mereka yang saling bantu dan kabur dengan kuda mereka.

Gadis itu tidak mengejar dan kini ia berhadapan dengan Ki Tejoranu, saling pandang dengan penuh perhatian. Kemudian, seperti digerakkan tenaga gaib, dua orang itu saling tubruk dan saling rangkul. "Lan-ko (Kakak Lan)... ahh... Lan-ko...!"

Gadis itu menangis dalam rangkulan Ki Tejoranu. Laki-laki itu pun tidak dapat menahan tangisnya, walau pun tanpa mengeluarkan suara. Laki-laki yang sudah tergembleng bertahun-tahun dalam kepahitan dan kesengsaraan itu tidak dapat menahan keharuan dan kebahagiaan hatinya dapat bertemu dengan adik kandungnya, hal yang sama sekali tidak pernah dia impikan!

"Kim Lan, Adikku...!"

Nyi Lasmi bangkit berdiri dan memandang kepada dua orang itu dengan heran. Ia tahu bahwa dua orang itulah yang telah membebaskannya dari tangan orang-orang Wengker tadi. Gadis Cina itu demikian gagah dan tangkas, mengingatkan ia akan Puspa Dewi, puterinya. Melihat betapa dua orang itu saling rangkul sambil menangis, ia merasa terharu pula walau pun ia tidak mengerti siapa mereka dan mengapa mereka menangis karena ia tidak dapat mengerti bahasa mereka. Yang jelas baginya adalah bahwa mereka orang-orang baik yang telah menolongnya.

Biarpun Ki Tejoranu atau The Jiauw Lan dan The Kim Lan, kakak beradik itu sedang tenggelam ke dalam kebahagiaan yang mengharukan namun mereka memiliki pendengaran dan perasaan yang sudah terlatih baik. Maka keduanya segera dapat mengetahui ketika Nyi Lasmi menghampiri mereka. Mereka saling melepaskan rangkulan dan Ki Tejoranu berkata lirih kepada Kim Lan dalam bahasa Cina.

"Adikku, nanti saja kita bicara tentang kita. Sekarang kita bicara dulu dengan wanita ini." Setelah berkata demikian, keduanya menghadapi Nyi Lasmi sambil menghapus air mata mereka dan tersenyum kepada Nyi Lasmi. Senyum yang tulus karena keduanya memang sedang merasa senang sekali dapat saling bertemu.

"Maafkan kami... karena kami hampir melupakan Andika... eh, perkenalkan, saya bernama Ki Tejoranu dan ini Adik kandungku, namanya The Kim Lan..." Ki Tejoranu memperkenalkan dirinya dan adiknya.

Nyi Lasmi terharu. Dua orang penolongnya ini sungguh aneh! Mereka malah minta maaf kepadanya!

"Saya yang minta maaf kepada Andika berdua, Kisanak, karena saya telah merepotkan Andika berdua. Andika telah menolong saya terlepas dari bahaya yang bagi saya lebih mengerikan daripada maut." Suara Nyi Lasmi tergetar. "Saya bernama Lasmi..." Baru sampai sekian Nyi Lasmi bicara, ia yang sejak tadi menahan diri sekuatnya kini tidak dapat menahan lagi dan ia terkulai dan pingsan dalam rangkulan The Kim Lan. Ia tentu sudah roboh kalau tidak cepat dirangkul gadis Cina itu. Kelelahan yang luar biasa karena selama tiga hari sama sekali tidak makan, ditambah kekhawatiran dan ketegangan membuat ia pingsan setelah mendapat kebebasan.

"Koko, ia pingsan." kata Kim Lan sambil merebahkan tubuh Nyi Lasmi ke atas tanah.

Ki Tejoranu cepat memeriksa denyut nadi pergelangan tangan Nyi Lasmi. "Hemm, kasihan sekali wanita ini, Lan-moi (Adik Lan). Menurut denyut nadinya, ia lemah sekali, agaknya ia menderita kelaparan, juga batinnya tertekan dan ketakutan. Engkau mempunyai sedikit makanan dan minuman?"

Kim Lan mengambil buntalan yang tadi ia tinggalkan di bawah pohon dan mengambil beberapa ketela merah bakar dan seguci air. "Ini air bersih, Koko. Sebaiknya ia diberi minum, akan tetapi harus dibikin sadar dulu."

"Engkau dapat melakukannya?"

Gadis itu mengangguk. "Aku pernah mempelajari beberapa ilmu pengobatan dari suhu (guru)."

Setelah berkata demikian, Kim Lan lalu menekan beberapa bagian tubuh Nyi Lasmi dengan jarinya sambil mengerahkan sin-kang (tenaga sakti), yaitu di antara pangkal ibu jari dan telunjuk, lalu di bibir atas tepat di bawah hidung, dan mengurut punggung. Sebentar saja Nyi Lasmi mengeluh dan membuka kedua matanya. Ia bergerak hendak bangkit. Kim Lan membantunya sehingga ia dapat duduk. Suara gadis Cina itu lembut akan tetapi cadel sekali sungguhpun cukup dapat dimengerti Nyi Lasmi.

"Bibi, tenangkan hatimu dan minumlah air ini lebih dulu."

Setelah berkata demikian, Kim Lan mendekatkan cawan yang sudah diisi air ke mulut Nyi Lasmi yang tidak membantah dan minum air di cawan itu sampai habis. Ketika ia hendak bicara, Kim Lan mencegahnya. "Nanti saja kita bicara, Bibi. Sekarang, makanlah dulu ubi bakar ini. Maaf, kami hanya mempunyai makanan ini dan tidak memberi yang lebih baik. Bibi perlu makan agar menjadi kuat kembali."

Nyi Lasmi juga tidak membantah. Ia tahu benar bahwa gadis asing ini bermaksud baik, tadi telah menyelamatkannya. Apa lagi perutnya memang lapar sekali, maka tanpa malu-malu lagi ia menerima ketela bakar itu dan memakannya. Setelah menghabiskan tiga potong ketela bakar dan minum lagi dua cawan air, Nyi Lasmi merasa sehat dan segar kembali. Ia memandang kepada dua orang kakak beradik itu, lalu menghela napas panjang dan berkata. "Ah, orang-orang tadi sungguh kejam dan jahat..."

"Bibi yang baik, kami baru akan mengetahui apakah mereka itu benar-benar jahat kalau kami sudah mendengar bibi menceritakan siapa mereka dan mengapa mereka menawan Andika." Kata Ki Tejoranu.

Nyi Lasmi lalu menceritakan tentang penyerbuan orang-orang Wengker ke Karang Tirta, membunuh lurah dan sekeluarganya dan menculiknya. Ia tidak merasa perlu untuk menceritakan tentang bekas suaminya, Ki Suramenggala, hanya menceritakan bahwa ia tidak mau ketika hendak diselir seorang tumenggung di Wengker.

"Karena penolakanku itu, tumenggung itu menyuruh anak buahnya membawa aku ke Wura-wuri untuk diserahkan penguasa di sana."

"Akan tetapi, mengapa Bibi dibawa ke sana?" tanya Kim Lan yang sudah mengetahui pula akan adanya Kerajaan Wura-wuri.

"Karena Kerajaan Wura-wuri memusuhi anakku, maka agar aku dijadikan sandera untuk memaksa anakku menyerahkan diri. Aahhh, betapa jahatnya mereka itu, padahal mereka adalah bangsaku sendiri, sedangkan kalian yang bangsa asing begini baik kepadaku."

Mendengar ini, Kim Lan dan Tejoranu bicara dalam bahasa Cina sampai beberapa lamanya, kemudian Ki Tejoranu berkata kepada Nyi Lasmi, "Bibi, kami tadi menanggapi pendapat Bibi tadi. Begini, Bibi Lasmi yang baik. Di bagian mana di dunia ini, bangsa apa pun juga, sama saja keadaannya. Ada yang baik, tentu ada pula yang jahat. Bangsamu, bangsa negara ini, banyak yang baik budi. Sedangkan bangsa kami, bangsa Cina, juga amat banyak yang jahat, bahkan jahat sekali. Ketahuilah bahwa kami berdua sampai merantau di negara ini karena melarikan diri dari kejaran orang-orang jahat sekali di negara kami. Yang jahat itu bukan bangsanya, Bibi, melainkan orangnya, pribadinya masing-masing tanpa melihat kebangsaannya. Memang sudah demikian semestinya di dunia ini, Bibi. Ada yang baik, pasti ada yang buruk, seperti ada terang pasti ada gelap. Kalau tidak ada baik, tidak ada pula sebutan buruk, sebaliknya kalau tidak ada buruk, juga tidak ada pula sebutan baik. Kalau terang terus, tentu tidak ada gelap, dan kalau gelap terus, juga tidak ada terang. Baik buruk itu saling mengadakan, dan kita manusia berhak untuk memilih, kalau memilih menjadi alat Thian (Tuhan) tentu prilakunya baik, sebaliknya, kalau memilih menjadi alat Setan, tentu prilakunya buruk atau jahat."

Nyi Lasmi memandang kagum. "Pendapat seperti itu keluar dari pikiran Nak Kim Lan ini? Semuda ini telah memiliki kebijaksanaan seperti itu, sungguh mengagumkan sekali!"

"Aih, Bibi, aku juga hanya mendengar dari apa yang diajarkan guruku, dan guruku itu seorang pendeta Buddha." kata Kim Lan yang sudah pandai menangkap arti ucapan bahasa daerah, akan tetapi kalau harus bicara yang panjang-panjang ia masih merasa kaku. Karena itu tadi ia minta kakaknya yang bicara karena kakaknya yang sudah tujuh tahun berada di Nusa Jawa tentu saja lebih fasih bicara bahasa daerah.

"Engkau murid seorang pendeta Buddha? Ah, di sini juga banyak pendeta Buddha dan pendeta Hindu. Akan tetapi sungguh menyedihkan, aku melihat banyak pendeta Buddha atau Hindu masih saja melakukan perbuatan yang buruk dan jahat."

Sekarang Ki Tejoranu sendiri yang menjawab langsung. "Keadaan seperti itu pun sama saja, Terjadi di Cina, Negara kami, Bibi. Kalau di sini terdapat Agama Buddha dan Agama Hindu, di Cina terdapat Agama Buddha dan Agama To. Di sana juga terdapat banyak para pemeluk kedua agama itu, bahkan juga Pendeta Buddha atau Pendeta To berprilaku sesat dan jahat! Kembali di sini bukan agamanya yang salah. Agama apa pun mengajarkan manusia untuk menjadi baik, saling tolong dan membangun dunia ini menjadi tempat yang indah tenteram penuh kedamaian dan kebahagiaan. Jadi yang jahat itu manusianya, oknumnya dan hal itu dapat terjadi kepada orang itu karena dia tidak menghayati agamanya, tidak menghormati agamanya, bahkan mencemarkan agamanya."

"Guruku pernah berkata kepadaku, Bibi," Kim Lan menyambung dengan ucapan yang cadel (pelo) akan tetapi cukup jelas. "Katanya, kalau ada seorang beragama Buddha melakukan pencurian, maka sesungguhnya dia itu bukan umat Buddha, melainkan maling yang mengaku-aku sebagai umat Buddha. Kalau ada orang beragama To melakukan kejahatan maka sesungguhnya dia bukan umat Agama To, melainkan seorang penjahat yang mengaku-aku beragama To. Kalau dua orang itu benar-benar beragama Buddha, mau pun Agama To atau agama apa pun juga, sudah pasti dia tidak melakukan kejahatan karena agamanya melarangnya melakukan kejahatan."

Nyi Lasmi mendengarkan dengan kagum. "Wah, mendengar kalian bicara, aku teringat akan puteriku. Anakku Puspa Dewi selain digdaya juga seringkali bicara tentang kehidupan dan kebenaran seperti itu."

"Aih, puteri Bibi juga seorang pendekar rupanya!" seru Kim Lan.

"Aku tahu bahwa di sini. seperti juga di Cina sana, terdapat banyak wanita yang sakti mandraguna dan gagah perkasa. Kalau begitu, bagaimana Bibi dapat ditawan penjahat? Apakah puteri Bibi tidak mampu mengalahkan mereka tadi?" tanya Ki Tejoranu.

"Hemm, kalau puteriku berada di Karang Tirta ketika para penjahat itu menyerbu, tentu mereka semua sudah roboh oleh Puspa Dewi. Sayangnya, ketika itu ia sedang pergi ke kota raja Kahuripan. Akan tetapi kalau ia pulang, tentu ia akan melakukan pengejaran dan mencariku."

Melihat Nyi Lasmi masih tampak lemas, The Kim Lan lalu berkata. "Bibi Lasmi, sebaiknya Bibi mengaso dulu untuk memulihkan kekuatan tubuh Bibi. Maafkan kami, karena kami kakak beradik baru saling bertemu setelah berpisah selama tujuh tahun, sekarang ingin sekali kami membicarakan urusan pribadi kami."

Nyi Lasmi tersenyum dan mengangguk, lalu duduk bersandar pada sebatang pohon sambil memejamkan matanya. Hatinya yang kembali tenang, kelelahan, kantuk karena selama beberapa malam tidak dapat tidur, membuat ia sebentar saja tertidur.

Ki Tejoranu mengajak adiknya duduk agak menjauh dari Nyi Lasmi agar tidak mengganggu wanita yang sedang pulas itu. Ki Tejoranu lalu menceritakan semua pengalamannya sejak dia terpaksa melarikan diri menjadi buronan dari pengejaran para jagoan yang dikirim Bangsawan Bong untuk membalas dendam atas kematian puteranya, Bong Kongcu di tangannya. Dia menceritakan pula bahwa dia nyaris tewas di tangan gurunya sendiri, Pek I Kiam-sian (Dewa Pedang Baju Putih), Souw Kiat dan kedua orang paman gurunya bernama Gan Hok dan Giam Lun.

"Masih baik nasibku, karena Thian (Tuhan) masih melindungiku sehingga dalam keadaan terluka parah itu muncul Gusti Patih Narotama yang sakti sehingga aku dapat diobatinya sampai pulih kembali tenagaku." Dia menceritakan peristiwa itu dan Kim Lan mendengarkan dengan kagum. Setelah kakaknya berhenti bercerita, ia berseru kagum.

"Wah, hebat sekali Ki Patih Narotama itu, Lan-ko (Kakak Lan)! Kalau tidak ada dia, belum tentu hari ini aku dapat bertemu denganmu. Aku ingin sekali berjumpa dengan Ki Patih Narotama untuk menyampaikan sendiri terima kasihku."

"Hal itu mudah dilakukan, Adikku. Gusti Patih Narotama telah menerima aku sebagai seorang sahabat dan kalau kita pergi ke kota raja Kahuripan dan menghadapnya, tentu kita akan diterima dengan baik. Sekarang, ceritakan pengalamanmu sejak kita saling berpisah sampai hari ini kita bertemu di sini, Kim Lan."

Gadis itu lalu bercerita. Ketika rumah orang tua mereka diserbu orang-orangnya Bangsawan Bong dan ayah ibu mereka terbunuh, Kim Lan yang ketika itu berusia dua belas tahun melarikan diri dari pintu belakang dengan ketakutan. Ketika akhirnya ia dapat keluar dari dusun dan tiba di jalan dekat hutan, tiba-tiba ia melihat ada seorang laki-laki tinggi besar lari mengejarnya. Kim Lan menjadi ketakutan dan lari semakin kencang, akan tetapi sebentar saja laki-laki itu, seorang di antara para jagoan yang menyerbu rumahnya, dapat menangkapnya.

Kim Lan meronta-ronta, namun ia tidak berdaya dan laki-laki itu sambil tertawa-tawa memondongnya sambil memuji kecantikan gadis cilik itu dengan kurang ajar. Tiba-tiba muncul seorang hwesio (pendeta Buddha) yang kepalanya gundul, berjubah longgar dan memegang sebatang tongkat pendeta. Menghadang di depan jagoan itu sambil minta agar penjahat itu melepaskan Kim Lan. Penjahat itu marah dan menyerangnya dengan golok, akan tetapi dengan mudah hwesio tua itu merobohkan si jagoan yang lari terbirit-birit meninggalkan Kim Lan.

Hwesio itu adalah Ho Kong Hwesio, seorang tokoh Siauw-lim-pai yang tinggi ilmunya. Dia menolong Kim Lan dan selanjutnya Kim Lan menjadi muridnya. Setelah berusia sembilan belas tahun. Kim Lan tamat belajar. Ia segera pergi ke kota raja Nanking untuk mencari keterangan di mana adanya kakaknya, yaitu The Jiauw Lan yang kini bernama Ki Tejoranu. Ia mendengar bahwa kakaknya telah menjadi buronan karena membunuh Bong Kongcu. Juga ia mendengar akan nasib tunangan kakaknya, yaitu Mei Hwa, yang dipaksa menjadi selir Bangsawan Bong. Ia mendengar betapa tunangan kakaknya itu membunuh diri tak lama setelah dipaksa menjadi selir Bangsawan Bong.

Kim Lan menjadi marah dan pada suatu malam, ia berhasil memasuki gedung keluarga Bangsawan Bong dan membunuh pembesar itu. Kota raja menjadi gempar dan Kim Lan melarikan diri. Ketika ia mendengar bahwa kakaknya melarikan diri ke Nusa Jawa ia lalu menumpang perahu dagang yang berlayar ke selatan dan tiba di Nusa Jawa. Ia merantau dan mencari kakaknya, bertanya-tanya kepada orang-orang Cina yang dijumpainya kalau kalau ada yang bertemu dengan kakaknya. Juga ia pesan kepada mereka bahwa kalau mereka bertemu dengan kakaknya itu, agar diberitahu bahwa ia telah berada di Tanah Jawa dan untuk sementara tinggal di sekitar kaki Gunung Kawi.

"Demikianlah, Lan-ko. Tadi aku melihat Bibi Lasmi ini dibawa dengan paksa oleh gerombolan orang itu, maka aku lalu turun tangan menolongnya. Sungguh membahagiakan sekali melihat engkau muncul, Lan-ko!"

Ki Tejoranu menghela napas panjang. "Terima kasih kepada Thian (Tuhan) bahwa kita berdua dapat bertemu dalam keadaan selamat, Adikku. Siapa mengira bahwa kita berdua telah kehilangan ayah ibu dan kini berada di Tanah Jawa, jauh sekali dari tanah air kita? Kita tidak berani pulang karena pasti ada banyak orang akan membunuh kita, terutama sekali setelah engkau menewaskan Pembesar Bong. Pemerintah tentu menganggap kita berdua orang-orang jahat yang harus dihukum. Semua ini gara-gara keluarga Bong yang jahat itu!"

"Sudahlah, tidak perlu kita sesali nasib. Lan-Ko. Bagaimana pun juga, kita sudah membalas sakit hati kita, engkau sudah membunuh Bong Kongcu, dan aku sudah membunuh Pembesar Bong. Berarti kematian ayah ibu dan kematian Enci Mei Hwa telah terbalas."

Kakak dan adik ini bercakap-cakap melepaskan kerinduan hati mereka dan setelah Nyi Lasmi terbangun dari tidurnya, barulah mereka berdua menghampirinya.

"Bibi Lasmi, bagaimana sekarang keadaan badanmu?" tanya Kim Lan.

Nyi Lasmi kini dapat tersenyum dan ia berkata, "Wah, badanku terasa segar dan kuat kembali, Kim Lan. Terima kasih atas pertolongan kalian kakak beradik yang berbudi baik!"

"Bibi, mari kami antar bibi pulang ke Karang Tirta. Kita harus dapat sampai di sebuah dusun sebelum gelap." kata Ki Tejoranu.

Saat itu sudah menjelang sore dan semua kuda sudah dibawa gerombolan tadi dan ada yang melarikan diri ketika terjadi perkelahian sehingga mereka terpaksa berjalan kaki menuju dusun terdekat di mana mereka dapat melewatkan malam dengan mondok di rumah keluarga petani.

Pada suatu pagi yang cerah, Nyi Lasmi, Ki Tejoranu, dan The Kim Lan berjalan santai menuju ke selatan. Perjalanan sore itu lambat sekali karena selain mereka berjalan kaki, juga Nyi Lasmi adalah seorang wanita lemah. Andaikata Ki Tejoranu melakukan perjalanan berdua dengan Kim Lan, tentu mereka dapat menggunakan kepandaian mereka untuk berlari cepat.

Telah dua malam mereka menginap di dusun-dusun yang mereka lewati dan pagi ini, mereka berjalan dan tiba di jalan umum di luar dusun yang sepi. Di kanan kiri jalan berbatu-batu itu terdapat hamparan tanah persawahan yang kering kerontang karena waktu itu adalah musim kemarau. Tanah yang luas itu retak-retak dan tidak dapat ditanami. Para petani tidak dapat menggarap sawah, menanti datangnya hujan. Daerah itu jauh dari sungai, maka mereka hanya mengharapkan air hujan untuk mengairi tanah persawahan mereka.

Biarpun matahari masih muda, namun panasnya sudah menyengat badan dan memancing keluarnya keringat. Terutama sekali Nyi Lasmi merasa lelah setelah melakukah perjalanan selama dua hari itu, walau pun seringkali mereka terpaksa mengaso karena kelemahan dan kelelahan Nyi Lasmi.

Mereka melangkah santai, tidak bercakap-cakap. Agaknya bahan percakapan mereka telah habis dibicarakan selama dua hari itu. Mereka termenung, agaknya tenggelam ke dalam kenangan mereka masing-masing.

Tiba-tiba Ki Tejoranu dan The Kim Lan memandang jauh ke depan dengan alis berkerut. Mereka berdua dapat mendengar derap kaki banyak kuda walau pun belum dapat melihat mereka karena jalan di depan itu membelok ke kanan dan pandang mata terhalang pepohonan.

"Hati-hati!" kata Ki Tejoranu kepada adiknya dalam bahasa Cina.

"Aku siap!" jawab Kim Lan.

Mereka lalu mengajak Nyi Lasmi berhenti di bawah sebatang pohon trembesi.

"Bibi Lasmi, duduklah di sini. Kita mengaso." kata Kim Lan.

"Apa yang terjadi?" tanya Nyi Lasmi yang dapat melihat ketegangan pada wajah kakak beradik itu.

"Bibi duduk saja di sini. Ada serombongan orang berkuda lewat. Mudah-mudahan bukan orang jahat." kata Ki Tejoranu, lalu dia bersama adiknya berdiri di tepi jalan, di depan Nyi Lasmi untuk melindungi wanita itu.

Rombongan itu muncul di jalan tikungan. Mereka terdiri dari belasan orang dan kakak beradik itu segera mengetahui bahwa mereka adalah musuh ketika melihat bahwa dua orang pimpinan gerombolan yang membawa Nyi Lasmi tadi berada di antara mereka. Namun kakak beradik ini tidak menjadi gentar dan mereka siap siaga menghadapi segala kemungkinan.

Memang, dua orang warok dari Kerajaan Wengker, Ki Wirobento dan Wirobandrek, berada di antara orang-orang itu. Ketika mereka dikalahkan Ki Tejoranu dan Kim Lan, dua orang ini segera pergi ke Kerajaan Wura-wuri yang sudah tidak jauh lagi dan segera menyerahkan surat yang ditulis Adipati Linggawijaya kepada Adipati Wura-wuri, dan menceritakan bahwa Nyi Lasmi, ibu kandung Puspa Dewi, dirampas oleh seorang pemuda dan seorang gadis Cina.

Mendengar ini, Nyi Dewi Durgakumala, permaisuri Wurawuri guru Puspa Dewi itu menjadi marah. Ia ingin sekali dapat menangkap Puspa Dewi, muridnya yang berkhianat terhadap Wura-wuri, akan tetapi maklum betapa sukarnya menangkap gadis perkasa itu. Kalau ibu kandungnya dapat ditangkap, tentu gadis itu akan menyerahkan diri. Maka, Adipati Bhismaprabhawa dan permaisurinya, Nyi Dewi Durgakumala segera mengutus Tri Kala yaitu Kala Muka, Kala Manik, dan Kala Teja, diperkuat lagi dengan Ki Gandarwo yang sakti, membantu rombongan utusan Kerajaan Wengker itu untuk menangkap kembali Nyi Lasmi. Rombongan itu berhenti di depan Ki Tejoranu dan Kim Lan. Ki Wirobento yang tinggi besar itu dengan suara parau menuding ke arah kakak beradik itu.

"Mereka inilah jahanam yang merampas tawanan kami dan yang duduk di bawah pohon itulah Nyi Lasmi yang harus kami antarkan ke Wura-wuri!"

Ki Gandarwo melompat dari atas kuda, diikuti yang lain. Beberapa orang anak buah mereka lalu membawa kuda itu menjauh agar binatang-binatang itu tidak menjadi ketakutan dan kabur. Dengan lagak gagah Ki Gandarwo melangkah maju memandang Ki Tejoranu dan Kim Lan, lalu membentak dengan suara nyaring berwibawa.

"Siapakah kalian berdua yang berani mati merampas Nyi Lasmi yang menjadi tawanan kami?"

Ki Tejoranu memandang orang itu penuh perhatian. Seorang pria muda yang gagah dan tampan, berpakaian mewah, di pinggangnya tergantung sebatang pedang dan tubuhnya tegap. Usianya sekitar dua puluh delapan tahun.....

Minal 'Aidin wal-Faizin gan🙏🙏🤗

0 Response to "Nurseta Satria Karang Tirta Jilid 11"

Post a Comment