Nurseta Satria Karang Tirta Jilid 10

Mode Malam
Kho Ping Hoo
-------------------------------
----------------------------
Ki Suramenggala yang usianya sekitar lima puluh satu tahun itu tertawa bergelak. Tubuhnya yang tinggi besar terguncang, matanya bersinar-sinar ketika dia tertawa senang.

"Ha-ha-ha! Lasmi, akhirnya engkau datang juga untuk melayani suamimu dengan penuh kesetiaan dan kasih sayang! Lasmi, wong ayu denok, betapa aku rindu kepadamu!"

Nyi Lasmi yang tadi diturunkan ke atas lantai dalam ruangan itu oleh Ki Wirobandrek yang segera keluar dari ruangan itu, duduk bersimpuh dan menggosok-gosok pergelangan tangannya yang terasa nyeri karena terlalu lama diikat dan baru saja dilepaskan setelah ia dibawa ke depan Ki Suramenggala. Diam-diam ia merasa heran sekali. Rumah di mana ia dihadapkan bekas suaminya itu merupakan sebuah gedung mewah sekali, dan Ki Suramenggala mengenakan pakaian seperti seorang bangsawan tinggi! Tidak ada orang lain di ruangan itu karena memang Ki Suramenggala menghendaki demikian.

Biarpun di dalam hatinya Nyi Lasmi merasa penasaran dan bersedih sekali mengingat akan pembantaian yang dilakukan terhadap Ki Lurah Pujosaputro sekeluarga, dan ia maklum pula bahwa dirinya berada dalam cengkeraman laki-laki yang jahat itu, namun ia sama sekali tidak merasa takut. Ia tahu benar bahwa Ki Suramenggala amat menyayangnya dan pasti tidak akan menyakitinya. Cinta laki-laki itu kepadanya hanyalah cinta berahi yang didorong nafsu semata.

"Mari, Lasmi, ke sinilah kupeluk kupondong untuk melepaskan rinduku yang sudah menulang-sumsum!" Ki Suramenggala melangkah maju dan membungkuk hendak meraih tubuh Nyi Lasmi.


Akan tetapi Nyi Lasmi menepiskan tangannya dan bangkit berdiri, agak terhuyung karena kedua kakinya juga terasa kaku kejang karena terlalu lama diikat.

"Jangan sentuh aku!" bentaknya ketus. "Aku bukan isterimu lagi!"

"Ah, jangan begitu, manisku. Jangan bersikap jual mahal...!" laki-laki itu menggoda sambil menyeringai dan matanya bersinar-sinar penuh gairah nafsu memandang tubuh Nyi Lasmi yang masih tampak padat dan denok itu.

"Ki Suramenggala, aku bukan isterimu lagi dan tidak sudi melayanimu. Andika seorang yang berhati kejam dan jahat! Andika menyuruh anak buah Andika membunuhi Ki Lurah Pujosaputro sekeluarga, padahal mereka tidak bersalah. Mereka adalah orang-orang yang baik budi dan Andika membantai mereka. Alangkah kejamnya!"

"Wah, Lasmi, sayangku. Jangan berpendapat seperti itu. Siapa bilang dia tidak bersalah? Dia merampas kedudukanku sebagai Lurah Karang Tirta."

"Dia menjadi lurah karena pilihan penduduk Karang Tirta, dan Andika dipecat bukan olehnya, melainkan oleh Gusti Patih Narotama! Seharusnya kepada Gusti Patih itu Andika membalas dendam, bukan kepada Ki Lurah Pujosaputro sekeluarga!"

"Ha-ha-ha, akan tiba saatnya aku membunuh Narotama dengan kerisku! Sudahlah mari kita bersenang-senang, yayi (Adinda) Lasmi! Sekarang derajatmu akan meningkat tinggi sekali. Kalau dulu engkau hanya selir lurah, sekarang menjadi selir tercinta seorang tumenggung! Ketahuilah, manis, aku sekarang adalah Tumenggung Suramenggala dan anakku Linggajaya itu sekarang menjadi raja, menjadi Adipati Linggawijaya dari Kerajaan Wengker ini, ha-ha-ha!"

Diam-diam Nyi Lasml menjadi terkejut dan heran. Sukar membayangkan Linggajaya kini menjadi raja! Akan tetapi, mendengar bahwa Ki Suramenggala kini menjadi tumenggung, tidak membuat ia senang menjadi selirnya. Sebetulnya, beberapa bulan saja setelah diambil sebagal selir oleh Ki Suramenggala, ia sudah merasa tidak suka kepada orang yang berwatak kejam dan congkak ini.

Kalau dulu ia bertahan, hal itu karena terpaksa, ia kehilangan puterinya dan Ki Suramenggala amat menyayangnya dan laki-laki itu menjadi satu-satunya orang yang dapat dijadikan tempat ia berlindung dan bersandar. Akan tetapi, setelah ia terbebas dari cengkeraman orang itu, apa lagi setelah melihat betapa kejamnya Ki Suramenggala mengirim anak buahnya membantai Ki Lurah Pujosaputro sekeluarga, kini ia merasa muak dan benci kepadanya.

"Ki Suramenggala, tidak ada gunanya Andika membujuk rayu padaku. Aku tidak sudi menjadi selirmu, tidak sudi melayanimu. Andaikata Andika menjadi raja besar sekalipun aku tidak ingin nunut mukti (ikut menikmati kemuliaan) denganmu. Andika jahat dan kejam sekali, dan aku benci padamu!"

"Hemm, apa yang kau andalkan maka engkau berani bersikap seperti ini kepadaku, Lasmi? Puterimu Puspa Dewi pun tidak akan mampu berbuat sesuatu dan kalau ia berani muncul, ia pasti akan menjadi tawanan kami pula! Apa kau kira engkau akan dapat melepaskan diri dariku? Dapat melawan kehendakku?"

"Aku seorang yang lemah dan tidak akan mampu melawan manusia berwatak iblis seperti engkau, Ki Suramenggala. Akan tetapi aku tidak sudi menyerah dan kalau engkau memaksaku, aku akan bunuh diri!"

Ki Suramenggala menjadi marah sekali. Kalau saja wanita lain yang berani menolak keinginannya dan merendahkannya seperti itu, tentu sudah dihantamnya seketika dan membunuh atau menyiksanya. Akan tetapi, dia memang amat mencinta Nyi Lasmi, sungguhpun cintanya itu terdorong oleh gairah nafsunya. Dia tidak jadi menyentuh Nyi Lasmi, lalu duduk di atas kursi dan menggebrak meja di depannya.

"Brakkk...!"

Wajah Ki Suramenggala berubah merah seperti udang direbus. Dia menahan kekecewaan dan kemarahannya. Tadinya ia membayangkan bahwa melihat dia kini menjadi tumenggung, ayah dari Raja Wengker, Nyi Lasmi pasti akan senang dan bangga hatinya dan akan melayaninya dengan manis, menyerahkan diri sebulatnya kepadanya. Akan tetapi ternyata kenyataannya sungguh amat berlawanan. Wanita itu bukan hanya menolak dan tidak sudi melayaninya, bahkan membencinya dan merendahkannya.

"Keparat engkau, Lasmi! Tidak tahu disayang orang, manusia tak mengenal budi! Keras kepala kau! Baik, aku akan melunakkan kekerasan hatimu itu!" Ki Suramenggala lalu bertepuk tangan dan dua orang prajurit pengawal memasuki ruangan itu dan berdiri dengan sikap hormat.

"Bawa wanita ini dan masukkan dalam kamar tahanan di belakang! Awas, perlakukan ia baik-baik dan jangan ada yang mengganggunya! Cukupi semua kebutuhannya akan tetapi jangan sekali-kali memberi makan padanya. Aku sendiri yang akan memberi makan. Kerjakan...!"

"Sendika (siap melaksanakan perintah), Gusti Tumenggung!" jawab pengawal dan mereka segera memegang lengan Nyi Lasmi dari kanan kiri dengan halus.

Akan tetapi Nyi Lasmi menepiskan kedua tangan yang memegang lengannya itu dan dengan sikap tegak ia berjalan keluar dari ruangan dikawal dua orang prajurit yang membawanya ke dalam sebuah kamar tahanan di bagian belakang gedung katumenggungan itu.

Nyi Lasmi dikeram dalam kamar sebagai tahanan. Ia memang diperlakukan dengan hormat dan baik oleh para pengawal dan pelayan, akan tetapi sama sekali tidak diberi makan. Setelah sehari semalam ia tidak makan, pada keesokan harinya Ki Suramenggala sendiri memasuki kamar dan menyerahkan sepiring nasi bersama lauk-pauknya kepada Nyi Lasmi Tentu saja di dalam makanan ini telah diisi kekuatan sihir untuk melunakkan dan menundukkan hati wanita yang masih amat dicinta oleh Ki Suramenggala itu. Akan tetapi dengan penuh kebencian dalam sinar matanya. Nyi Lasmi memandang piring yang disodorkan oleh Ki Suramenggala itu dengan alis berkerut.

"Aku tidak sudi makan suguhanmu! Lebih baik mati kelaparan!" wanita itu membentak ketus dan tangannya menampar piring sehingga terlepas dari tangan Ki Suramenggala dan isinya berserakan di atas lantai.

Ki Suramenggala terkejut sekali, tidak menyangka Nyi Lasmi akan berbuat demikian. Dia sudah mengepal tinju, siap memukul saking marahnya. Nyi Lasmi berdiri tegak dan menanti pukulan dengan mata terbuka, penuh tantangan. Melihat wajah itu, Ki Suramenggala tidak tega memukul dan dia hanya menghela napas panjang lalu keluar dari kamar itu.

Pelayan segera datang membersihkan lantai. Ki Suramenggala menemui puteranya di istana Kerajaan Wengker. Kebetulan sekali pada waktu itu, Linggajaya yang kini menjadi Adipati Linggawijaya, raja Kerajaan Wengker, sedang bercakap-cakap dalam ruangan pribadinya dengan isterinya, Permaisuri Dewi Mayangsari, dan Sang Resi Bajrasakti.

Mereka sedang membicarakan tentang permusuhan mereka dengan Kahuripan, atau lebih tepat kebencian mereka yang membuat mereka selalu memusuhi Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama. Sejak menjadi raja di Wengker, Adipati Linggawijaya tidak pernah melupakan kebenciannya terhadap raja dan patih Kahuripan itu, bersama semua satria yang membela Kahuripan. Dia ingin sekali menundukkan Kahuripan, karena kalau dia dapat menguasai Kahuripan, dia akan menjadi raja besar yang akhirnya dapat menguasai seluruh Nusantara!

Sang Adipati Linggawijaya tampak berbeda dengan ketika dia masih menjadi Linggajaya pemuda Karang Tirta putera Ki Lurah Suramenggala. Memang, sejak dahulu dia merupakan seorang pemuda pesolek dan tampan. Akan tetapi sekarang dia mengenakan pakaian kebesaran yang serba gemerlapan dan tampak anggun berwibawa sekali, sungguhpun usianya masih amat muda, baru sekitar dua puluh satu tahun!

Di sampingnya duduk Dewi Mayangsari yang kini menjadi permaisurinya. Wanita ini pun berpakaian serba indah dan harus diakui bahwa ia cantik sekali dan sungguhpun usianya sudah sekitar dua puluh sembilan tahun, namun ia tidak tampak lebih tua daripada Adipati Linggawijaya! Kulitnya yang agak hitam namun halus bersih itu membuat ia tampak semakin manis. Tidak akan ada yang menyangka bahwa dalam tubuh yang ramping padat, wajah cantik manis dengan sinar mata dan senyum genit ini, terdapat kekuatan yang amat dahsyat karena ia yang tadinya memang sudah digdaya ini mendapat tambahan banyak ajian yang serba hebat dari gurunya yang baru, yaitu Nini Bumigarbo.

Seperti kita ketahui, Nini Bumigarbo yang sakti mandraguna itu amat membenci Sang Maha Resi Satyadarma karena Sang Resi ini telah memberi wejangan kepada Ekadenta sehingga Ekadenta mengambil keputusan untuk menjadi Brahmacari (pantang menikah). Padahal Ekadenta, kakak seperguruannya Itu adalah juga kekasihnya dan sebelumnya mereka berdua yang saling mencinta telah bersepakat untuk menjadi suami isteri.

Keputusan Ekadenta untuk tidak menikah selama hidupnya tentu saja membuat Gayatri, yaitu nama Nini Bumigarbo ketika masih gadis muda, berduka sekali dan ia membenci Sang Maha Resi Satyadharma. Akan tetapi ia tidak berani melampiaskan kebenciannya kepada pendeta yang sakti mandraguna itu. Ia tahu bahwa ia tidak akan pernah menang melawan Sang Maha Resi.

Maka, ia lalu berusaha untuk membunuh dua orang murid terkasih dari Maha Resi Satyadharma, yaitu Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama. Akan tetapi, sungguh menjengkelkan hatinya, Ekadenta selalu menentangnya dan bekas kakak seperguruan dan juga kekasihnya itu membela raja dan patih itu. Beberapa kali ia bertanding, namun selalu kalah oleh Bhagawan Ekadenta yang juga bernama Bhagawan Oitendrya.

Akhirnya Nini Bumigarbo mengambil Dewi Mayangsari, permaisuri Kerajaan Wengker sebagai murid. Ia menurunkan kepandaiannya kepada permaisuri itu dengan maksud agar melalui muridnya ini, ia akan dapat melampiaskan sakit hatinya dengan menyerang dan kalau mungkin membunuh Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama.

Berhadapan dengan suami Isteri pimpinan Kerajaan Wengker itu, duduk Sang Resi Bajrasakti, kakek yang berusia sekitar lima puluh enam tahun, bertubuh tinggi besar dengan muka penuh brewok dan berkulit hitam arang.

Seperti kita ketahui, Resi Bajrasakti ini sejak dulu menjadi tokoh Wengker dan dia adalah guru Adipati Linggawijaya. Setelah muridnya itu menjadi Adipati Wengker, Resi Bajrasakti diangkat menjadi Guru Kerajaan atau penasihat pribadi Sang Adipati. Kedudukan ini amat tinggi dan dia memiliki kekuasaan besar, hanya di bawah kekuasaan Sang Adipati dan Sang Permaisuri.

Mereka bertiga sedang berbincang-bincang membicarakan keinginan mereka untuk menggempur Kahuripan. Mereka bertiga memang sama-sama membenci Kahuripan. Resi Bajrasakti membenci Kahuripan karena sejak dulu ia memang menjadi tokoh Wengker yang selalu memusuhi Kahuripan, akan tetapi dia sering kali kalah bertanding melawan para tokoh Kahuripan.

Permaisuri Dewi Mayangsari membenci Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama karena selain sejak dulu menjadi musuh bebuyutan, ditambah lagi desakan Nini Bumigarbo agar ia menyerang dan membunuh raja dan patih Kahuripan itu. Adapun Adipati Linggawijaya sendiri, dia ingin merampas kedudukan sebagai maharaja di Kahuripan yang memiliki wilayah luas sekali.

Selagi mereka bercakap-cakap, datanglah Tumenggung Suramenggala. Sebagai ayah Sang Adipati, tentu saja para pengawal tidak berani melarangnya untuk kapan saja memasuki Istana. Melihat kedatangan ayahnya, Adipati Linggawijaya mempersilakan Tumenggung Suramenggala duduk di sebelah Resi Bajrasakti. Dia memandang wajah ayahnya yang tampak keruh.

"Kanjeng Rama, apakah yang menyusahkan hati Rama?" Adipati Linggawijaya bertanya.

Semenjak dia menjadi adipati dan ayahnya menjadi tumenggung, dia mengubah panggilannya. Kalau dulu memanggil ayahnya cukup bapak saja, sekarang menjadi kanjeng rama, tentu saja untuk disesuaikan dengan kedudukannya!

Tumenggung Suramenggala menghela napas. "Siapa lagi yang dapat menyusahkan hatiku kalau bukan Ibunda Nyi Lasmi itu? Ia berkeras tidak mau kembali sebagai keluarga kita."

Wajah bekas lurah itu menjadi merah dan alisnya berkerut. "Bukan saja ia menolak, bahkan menghina dan setelah sehari semalam tidak diberi makan, tadi ia menolak dan menampar tumpah nasi yang kubawakan untuknya. Ah, perempuan itu sungguh keras kepala!"

"Kanjeng Rama, mengapa Andika bersedih hanya karena penolakan seorang perempuan dusun seperti itu?" kata Dewi Mayangsari. "Kalau Andika menghendaki selir baru, saya dapat mencarikan seorang perawan cantik untuk Andika!"

"Benar sekali apa yang dikatakan Yayi Ratu Dewi Mayangsari, Kanjeng Rama. Untuk apa memusingkan penolakan perempuan itu? Ia bukan apa-apa bagi keluarga kita, bahkan selama menjadi selir Kanjeng Rama, ia tidak menurunkan anak. Sebaiknya dibunuh saja perempuan itu!" kata Adipati Linggawijaya.

"Baik sekali usul itu, Kanjeng Rama." kata Dewi Mayangsari. "Memang sebaiknya dibunuh saja perempuan sombong tak tahu diri itu! Seorang perempuan dusun, janda lagi, berani menolak untuk menjadi selir Kanjeng Rama Tumenggung?"

Mendengar ucapan puteranya dan mantunya itu, Tumenggung Suramenggala termenung, alisnya berkerut. "Ah, aku... aku tidak tega untuk membunuhnya..."

"Ah, itu mudah saja, Kanjeng Rama? Biar kita suruh saja seorang prajurit pengawal untuk membunuhnya. Kalau Kanjeng Rama tidak tega ia dibunuh di sini, biar ia dibawa keluar istana, ke dalam sebuah hutan lalu dibunuh."

Tumenggung Suramenggala menghela napas panjang beberapa kali lalu mengangguk-angguk. "Agaknya tidak ada jalan lain..."

"Saya tidak setuju kalau Nyi Lasmi dibunuh!"

Tiga orang itu memandang Resi Bajrasakti yang mengeluarkan kata-kata itu. Adipati Linggawijaya tertawa.

"Ha-ha-heh-heh, agaknya Bapa Resi tertarik kepada Nyi Lasmi?" tanyanya.

Resi Bajrasakti juga tertawa. "Ha-ha-ha, Ananda Adipati, lima orang selir yang masih muda-muda itu sudah cukup banyak bagi saya, untuk apa menambah lagi dengan seorang perempuan yang sudah setengah tua? Bukan itu maksud saya."

"Hemm, kalau begitu, mengapa Bapa Resi tidak setuju kalau ia dibunuh?"

"Ingat, wanita itu adalah Ibu kandung Puspa dewi!"

"Kami tidak takut!" kata Adipati Linggawijaya dan Dewi Mayangsari berbareng. Adipati Linggawijaya menyambung.

"Biar ia datang ke sini kalau ia berani, kita akan tangkap gadis liar itu!"

"Bukan begitu maksud saya! Akan tetapi kita pun tahu bahwa Puspa Dewi adalah Sekar Kedaton Wura-wuri yang sudah mengkhianati Wura-wuri. Mengapa kita tidak menggunakan Nyi Lasmi untuk berjasa terhadap Wura-wuri sehingga kita papat bekerja sama semakin erat dengan Kerajaan Wura-wuri? Adipati Bhimaprabhawa, terutama permaisurinya, Nyi Dewi Durgakumala, pasti marah sekali kepada Puspa Dewi dan ingin sekali menangkap gadis itu. Nah, lebih baik kita serahkan Nyi Lasmi kepada mereka. Wura-wuri dapat memancing datangnya Puspa Dewi dengan Ibu kandung gadis itu sebagai sandera dan akhirnya mereka dapat menangkapnya. Dengan demikian sekali tepuk kita mendapatkan dua keuntungan, karena Wura-wuri tentu akan berterima kasih kepada kita."

Adipati Linggawijaya dan permaisurinya mengangguk-angguk senang. "Gagasan yang baik sekali itu, Bapa Resi! Bagaimana, Kanjeng Rama, apakah Andika juga setuju dengan usul itu?"

Tumenggung Suramenggala menghela napas panjang. "Terserah, aku sudah pusing memikirkan kekerasan hati Nyi Lasmi. Biarlah, kalau ia tidak mau melayani aku, masih banyak wanita yang bersedia melakukannya dengan senang hati."

"Tentu saja, Kanjeng Rama. Saya akan mencarikan pengganti Nyi Lasmi, seorang gadis muda yang cantik jelita untuk menghibur hati Kanjeng Rama." kata Dewi Mayangsari.

Setelah mengakhiri percakapan itu, Adipati Longgawijaya lalu membuat sepucuk surat kepada Adipati Bhismaprabhawa dan Nyi Dewi Durgakumala, yang isinya menyerahkan Nyi Lasmi, ibu kandung Puspa Dewi, kepada Wura-wuri sebagai tanda persahabatan karena Wengker juga merasa penasaran akan pengkhianatan Puspa Dewi terhadap Wura-wuri dan persekutuan mereka bersama sehingga usaha mereka menghancurkan Kahuripan gagal.

Perjalanan dari Wengker ke Wura-wuri tidak dekat, dengan berkuda pun akan memakan waktu sedikitnya lima hari. Maka, Adipati Linggawijaya lalu mengutus dua orang jagoan Wengker yang berjasa menculik Nyi Lasmi dari Karang Tirta, yaitu Wirobento dan Wlrobandrek, memimpin selosin orang prajurit pilihan, untuk mengawal Nyi Lasmi dan mengantarkannya ke kota raja Wura-wuri.

Berangkatlah rombongan itu setelah untuk yang terakhir kalinya Tumenggung Suramenggala membujuk Nyi Lasmi untuk menyerah kepadanya daripada dibawa ke Wura-wuri akan tetapi Nyi Lasmi berkeras menolak. Empat belas orang pengawal itu menunggang kuda dan Nyi Lasmi terpaksa juga menunggang kuda karena kalau ia berkeras tidak mau, ia akan diboncengkan oleh Wirobandrek di atas seekor kuda. Wanita itu memilih menunggang kuda sendiri, dan ia memang sudah terbiasa menunggang kuda dahulu ketika menjadi selir Ki Suramenggala di Karang Tirta…..

********************

Pemuda Cina itu berusia sekitar dua puluh tujuh tahun. Pakaiannya sederhana dan dari pakaiannya yang sama dengan pakaian pemuda pribumi dapat diketahui bahwa pemuda Cina itu tentu sudah lama berada di Nusa Jawa sehingga sudah dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan penduduk pribumi.

Tubuhnya tinggi agak kurus, mukanya pucat kuning. Matanya yang sipit mengandung sinar tajam. Di punggungnya terselip siang-to (sepasang golok). Bahkan rambutnya pun digelung ke atas model rambut para pria pribumi. Yang membuat orang dapat menyangka bahwa dia seorang asing adalah kekuningan kulitnya dan kesipitan matanya. Juga kalau dia bicara, walau pun fasih bicara daerah, tetap saja masih agak cadel.

Pemuda Cina itu adalah seorang pemuda dari Negeri Cina yang melarikan diri ke Nusa Jawa karena ia dikejar-kejar beberapa orang jagoan yang hendak membunuhnya. Sekitar tujuh tahun yang lalu pemuda Cina yang bernama The Jiauw Lan ini tinggal di sebuah dusun dekat kota raja Nan-king. Sejak muda dia telah pandai bermain silat dan hidup sebagai seorang pendekar yang menentang kejahatan.

Pada suatu hari dia melihat Bong Kongcu (Tuan muda Bong), putera seorang pembesar kota raja bersama beberapa orang jagoannya mengganggu seorang gadis. The Jiauw Lan marah dan menghajar pemuda bangsawan dan jagoan-jagoannya itu dan menyelamatkan gadis yang diganggu. Akan tetapi ternyata peristiwa Itu mendatangkan mala petaka besar bagi The Jiauw Lan.

Ketika dia tidak berada di rumah, serombongan anak buah Bong Kongcu menyerbu rumahnya dan ayah ibunya dibunuh. Adiknya, seorang gadis remaja yang ketika itu berusia sekitar tiga belas tahun hilang entah ke mana. The Jiauw Lan menjadi marah sekali. Dia membalas dendam, menyerbu rumah Bangsawan Bong dan berhasil membunuh Bong Kongcu dan beberapa orang jagoannya.

Perbuatan ini tentu saja menggemparkan kota raja dan dia terpaksa melarikan diri dan menjadi orang buruan. Pembesar Bong tidak mau menerima begitu saja dan dia menyuruh para pembunuh bayaran untuk mencari dan mengejar Jiauw Lan untuk dibunuh. Belum puas dengan ini, Pembesar Bong juga memaksa kekasih Jiauw Lan yang bernama Mei Hwa yang sudah bertunangan dengannya, untuk menjadi selir Bangsawan Bong. Hal ini dilakukan pembesar Itu bukan sekedar memuaskan nafsunya, akan tetapi terutama sekali untuk membalas dendam kepada Jiauw Lan yang telah membunuh puteranya.

Demikianlah, Jiauw Lan terpaksa melarikan diri berlayar ke selatan karena daratan Cina merupakan tempat yang tidak aman baginya. Setelah tiba di Nusa Jawa, dia merantau, berpindah-pindah tempat dan akhirnya dia mengasingkan diri di Danau Sarangan, di lereng Gunung Lawu. Sungguh di luar dugaannya, Pembesar Bong yang masih mendendam kepadanya, berhasil membujuk gurunya yang berjuluk Pek I Kiam-sian (Dewa Pedang Baju Putih) bernama Souw Kiat untuk mencarinya sampai ke Nusa Jawa.

Gurunya itu masih ditemani dua orang paman gurunya yang bernama Gan Hok dan Giam Lun. Kurang lebih dua tahun yang lalu, secara kebetulan The Jiauw Lan menyelamatkan Puteri Listyarini, Isteri Ki Patih Narotama yang diculik penjahat. Ki Patih Narotama datang untuk menjemput isterinya yang diselamatkan Jiauw Lan. Akan tetapi kedatangan Ki Patih Narotama agak terlambat sehingga kedahuluan munculnya guru dan dua orang paman guru Jiauw Lan. Percuma saja Jiauw Lan melawan.

Dia terluka dan dirobohkan bahkan menerima Hwe tok-ciang (Tangan Racun Api) dari Pek I Kiamsian yang hendak membuat bekas muridnya itu cacat dan kehilangan tenaga saktinya sebagai hukuman. Akan tetapi, Ki Patih Narotama yang sakti mandraguna, mempergunakan tongkat pusakanya Tunggul Manik yang dapat memunahkan racun dari tubuh Jiauw Lan sehingga pemuda Cina itu selamat.

Jadilah dia sahabat baik Ki Patih Narotama yang berterima kasih, bahkan Listyarini menganggap dia sebagai saudara. Akan tetapi Jiauw Lan menolak ketika hendak diajak ke Kahuripan. Dia lebih suka mengasingkan diri dan merantau. Sejak pertemuan dan perkenalannya dengan Listyarini yang menganggap dia sebagai kakak angkat, Jiauw Lan menggunakan nama Tejoranu. Listyiarini tidak dapat menyebut nama The Jiauw Lan dan menyebutnya Tejoranu!

Demikianlah sedikit riwayat singkat The Jiauw Lan yang kini bernama Ki Tejoranu. Beberapa bulan yang lalu dia bertemu dengan seorang Cina lain di kaki Gunung Lawu. Kebetulan sekali dia mengenal laki-laki itu yang bernama Tan Sek. Dari Tan Sek Inilah dia memperoleh berita yang mengejutkan, mengherankan akan tetapi juga menyenangkan. Kenalannya itu bercerita banyak tentang The Kim Lan, adik perempuannya yang hilang ketika ayah Ibunya terbunuh dan ketika itu berusia tiga belas tahun.

Menurut penuturan Tan Sek, adiknya itu kini telah menjadi seorang gadis yang amat lihai setelah berguru kepada seorang hwesio (Pendeta Buddha) dari Kuil Siaw Lim. Yang menggembirakan adalah berita bahwa The Kim Lan, adiknya yang kini menjadi seorang gadis berusia sekitar dua puluh tahun, menyusulnya ke Jawa dan kini sedang mencarinya.

"Sejak dua bulan ini, Adikmu, The Kim Lan itu berada di sekitar Gunung Kawi." demikian Tan Sek, temannya itu bercerita.

Mendengar cerita temannya itu, Ki Tejoranu merasa gembira sekali dan dia segera melakukan perjalanan menuju Gunung Kawi! Setelah tiba di daerah Gunung Kawi, dia merantau di sekitar gunung itu untuk mencari adiknya yang menurut Tan Sek berada di situ. Akan tetapi sampai hari itu, dia belum juga dapat menemukan The Kim Lan.

Pagi hari itu dia berjalan dengan penuh semangat karena malam tadi, di sebuah dusun di mana dia bermalam, dia mendengar dari seorang penduduk yang melihat seorang gadis Cina berjalan menuju ke barat. Mendengar ini, pagi-pagi sekali Ki Tejoranu berangkat ke barat untuk menyusul gadis Cina itu, hampir yakin bahwa gadis itu tentu adiknya karena pada waktu itu langka menemukan seorang gadis Cina di pedalaman. Kalaupun ada wanita Cina, yang belum begitu banyak, mereka itu tentu berada di kota-kota di pesisir utara.

Selagi dia berjalan sambil dengan teliti memandang ke sekeliling untuk menemukan jejak adiknya, dia mendengar derap kaki kuda dari belakang. Ki Tejoranu cepat menyelinap di balik pohon besar untuk mengintai siapa yang datang itu. Dia melihat lima orang menunggang kuda lewat di jalan yang kasar itu. Mereka adalah dua belas orang prajurit yang dipimpin dua orang laki-laki tinggi besar berpakaian mewah.

Yang mengherankan hatinya adalah ketika dia melihat seorang wanita di antara mereka. Wanita itu pun menunggang kuda, diapit oleh dua orang pemimpin pasukan. Melihat wanita itu berwajah sedih, bahkan jelas tampak bahwa ia habis menangis, kedua matanya agak merah membengkak, hati Ki Tejoranu tertarik.

Timbul jiwa kependekarannya. Dia mencium keadaan yang tidak wajar, tentu ada yang tidak beres dalam rombongan itu. Siapa tahu, wanita itu membutuhkan pertolongan. Maka Ki Tejoranu cepat berlari mengikuti rombongan berkuda itu. Jalan itu memasuki sebuah hutan.

Matahari mulai naik tinggi dan Ki Wirobento yang memimpin pasukan bersama Ki Wirobandrek mengantar Nyi Lasmi ke Kerajaan Wura-wuri, memberi aba-aba untuk berhenti. Dia memerintahkan berhenti ketika melihat Nyi Lasmi tampak lemas dan duduknya mulai miring-miring hampir jatuh.

"Kita berhenti mengaso di sini. Nyi Lasmi, turunlah, Andika boleh beristirahat menghilangkan lelah." katanya kepada Nyi Lasmi.

Dengan tubuh lemas karena kelelahan dan kelaparan, Nyi Lasmi turun dari atas punggung kudanya dan terkulai, duduk mendeprok di atas tanah. Wirobandrek lalu menghampiri Nyi Lasmi yang masih duduk mendeprok di atas tanah, menjulurkan tangan menawarkan tempat minuman dan sebungkus makanan.

"Nih, makan dan minumlah dulu, Nyi Lasmi, agar engkau tidak lemah dan sakit."

Akan tetapi Nyi Lasmi menggeleng kepalanya. "Biarkan aku mati saja, aku tidak ingin menjadi sandera untuk memancing Anakku..."

"Kakang Bento, kalau perempuan ini tidak mau makan dan mati kelaparan di jalan, kita tentu akan dipersalahkan oleh Tumenggung Suramenggala."

"Benar, Adi Bandrek. Gusti Adipati Linggawijaya tidak akan mengampuni kita. Maka, paksa saja ia makan!"

Ki Wirobento lalu memegang kedua lengan Nyi Lasmi, ditelikung ke belakang dan Ki Wirobandrek mulai memaksa Nyi Lasmi makan dengan menjejalkan nasi ke mulut wanita itu. Nyi Lasmi mengatupkan mulutnya dan membuang muka ke kanan kiri untuk menghindarkan jejalan makanan pada mulutnya.

Ki Tejoranu marah sekali melihat hal ini. Akan tetapi sebelum dia melompat keluar untuk menolong wanita itu, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.

"Orang-orang jahat!"

Dan berkelebatlah bayangan orang dan tahu-tahu muncul seorang gadis berpakaian serba biru. Sekali pandang saja orang dapat mengetahui bahwa ia tentu seorang gadis Cina. Hal ini dapat dikenal dari bentuk pakaiannya, dan gelung rambutnya ke atas. Gadis ini berusia sekitar dua puluh tahun, bertubuh ramping padat dan wajahnya manis, berkulit putih kuning. Di punggungnya tergantung sebatang pedang.....
*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Nurseta Satria Karang Tirta Jilid 10"

Post a Comment

close