Pedang KIRI Pedang KANAN Jilid 16

Jilid 16

Pada saat pertarungan sudah hampir berlangsung itulah.

se-konyong2 seorang melompat keluar dari belakang meja dan "bluk" jatuh di lantai. Belum lagi semua orang tahu jelas apa yang terjadi "bluk", kembali seorang menerobos keluar lagi dan terbanting di lantai. Keduanya sama menggeletak tengkurap dan tak berkutik.

Walaupun muka kedua orang itu tidak kelihatan jelas, tapi keduanya sama memakai seragam putih dan bagian pantat masing2 ada cap kaki. Menyusul terdengar suara seorang anak perempuan berteriak dengan nyaring: "Itulah kepandaian andalan Tang-Wan yang disebut jatuh dengan pantat lebih dulu!”

Tentu saja Ciamtay Cu-ih sangat gusar, sekali berpaling, tanpa peduli siapa yang bicara itu, terus saja ia melompat kesana menurut arah datangnya suara tadi, dilihatnya seorang anak perempuan berbaju hijau berdiri disamping meja, tanpa pikir lengan anak perempuan itu terus dicengkeramnya.

"Aduh, mak!" teriak anak perempuan itu dan menangislah dia.

Ciamtay Cu-ih terkejut Saking gusarnya oleh ucapannya yang menghina tadi, ia sangka kedua muridnya telah dikerjai pula oleh dara cilik ini, tanpa pikir ia terus mencengkeramnya dengan keras, ketika dara cilik itu menjerit dan menangis barulah ia ingat orang hanya anak perempuan yang masih kecil, tindakannya ini tentu akan menurunkan derajatnya sebagai Hong-hoa-wancu, maka cepat ia lepas tangan.

Tak tersangka anak perempuan itu makin keras menangisnya, bahkan terus ber-teriak2: "Lenganku patah, lenganku patah! Uuhhh! Kau mematahkan lenganku. . . .”

Hong-hoa-wancu Ciamtay Cu-ih sudah pernah menghadapi pertempuran sengit dan sering mengalami pertarungan dahsyat, tapi adegan runyam begini belum pernah dialaminya. Apalagi sorot mata beratus orang sama tertuju kepadanya dengan sikap yang tidak suka, seketika mukanya merah, dengan bingung ia membujuk anak dara itu: "Diam, jangan menangis, jangan menangis, tanganmu tidak apa2, tidak patah.”

"Patah, sudah patah!" seru dara cilik itu dengan menangis. "Huk-huk, orang tua memukul anak kecil, tidak tahu malu. Uuhhh. sakit. . . . sakit. ...”

Usia anak perempuan ini kira2 baru 11 atau 12'tahun, berbaju hijau muda, kulit badannya putih bersih, mukanya bulat telur, cantik menyenangkan, setiap orang pasti bersimpati padanya. Maka beberapa orang lantas berteriak: "Terlalu si pendek itu, hajar saja dia! Ya, mampuskan tua bangka kecil yang tidak tahu malu itu!”

Ciamtay Cu-ih merasa serba susah. menghadap kemarahan orang banyak, ia tidak berani menanggapi, terpaksa ia membujuk pula si anak kecil, "Maaf adik cilik, jangan nmenangis, tidak apa2, coba kuperiksa tanganmu, bagian mana yang sakit?" Sambil berucap ia terus hendak menggulung lengan baju anak perempuan itu.

Tapi anak itu lantas berteriak: "Tidak, jangan menyentuh diriku. O, ibu, tua bangka pendek ini telah mematahkan lenganku!”

Selagi Ciamtay Cu-ih merasa bingung, tiba2 dari kerumunan orang banyak tampil kemuka seorang lelaki berjubah putih. ialah Ji Ci-ho, salah seorang murid kesayangan Ciamtay Cu-ih, "Anak kecil jangan cengeng dan pura2." kata Ci-ho kepada dara cilik itu. "Tangan guruku sama sekali tidak menyentuh dirimu, manabisa lenganmu dipatahkan olehnya?”

"Uuhhhh! ibu, ada orang jahat hendak memukul aku lagi!" teriak anak perempuan itu.

Ting-yat menjadi gusar, segera ia melangkah maju terus menampar kemuka Ci-ho sambil membentak: "Besar memukul kecil, tidak tahu malu"!”

Segera Ci-ho hendak menangkis, tak tahunya Ting-yat Suthay justeru sengaja memancingnya menangkis, mendadak tangan Ting-yat yang lain meraih dan dapat memegang tangan Ci-ho, menyusul tangan kiri terus memotong ke balik siku Ci-ho, bilamana serangan ini tepat kena sasarannya, maka tangan Ci-ho itu pasti patah.

Untung Ciamtay Cu-ih keburu bertindak, secepat kilat ia tutuk punggung Ting-yat, inilah serangan maut yang memaksa lawan harus menyelamatkan diri sendiri lebih dulu. Mestinya siku tangan Ci-ho sudah tertekan oleh tangan Ting-yat, tapi tiba2 didengarnva sambaran angin yang kuat, tutukan Ciamtay Cu-ih sudah mendekat, terpaksa Ting-yat lepas tangan dan menangkis kebelakang.

Ciamtay Cu-ih tidak ingin bertempur dengan Ting-yat, ia tersenyum dan melompat mundur.

Biasanya Ting-yat Suthay sangat suka kepada anak perempuan yang cantik, hampir semua muridnya adalah nona cantik pilihan seperti halnya Gi-lim yang jelita itu. Dia lantas pegang tangan anak perempuan tadi dan bertanya dengan suara lembut: "Anak sayang, bagian mana yang sakit, coba kulihat, akan kuobati kau!”

Tapi dilihatnya lengan anak perempuan itu tidak patah, maka legalah hatinya. Ia menyingsing lengan baju anak perempuan itu, terlihat dengan jelas lengannya yang putih mulus itu ada empat jalur hijau, bekas cengkeraman jari.

Dengan gusar Ting-yat lantas membentak Ci-ho: "Bangsat cilik yang suka membohong, coba lihat sendiri, jika gurumu tidak menyentuh tangannya, siapa lagi yang meremas lengannya sehingga meninggalkan bekas jari ini?”

"Okui (kura2) yang meremas tanganku, Okui yang meremas tanganku!" seru anak perempuan itu sembari menuding punggung Ciamtay Cu-ih.

Mendadak bergemuruhlah gelak tertawa orang banyak, ada yang sedang minum sehingga air teh tersembur keluar lagi, ada yang menungging sambil memegangi perutnya yang mulas saking gelinya.

Ciamtay Cu-ih menjadi bingung, ia tidak tahu apa yang ditertawakan orang banyak itu. Ia pikir anak perempuan memakinya sebagai Okui (kata makian atau kata kiasan bagi kaum germo), hal ini dapat dimengerti karena anak perempuan itu merasa penasaran dan mestinya tidak ada sesuatu yang menggelikan. Namun orang banyak toh tetap bergelak tertawa terhadapnya, mau-tak-mau ia menjadi heran dan serba kikuk.

Cepat Ci-ho melompat kebelakang Ciamtay Cu-ih dan menanggalkan sehelai kertas yang menempel di baju sang guru, berbareng kertas itu terus diremasnya Ciamtay Cu-ih meminta kertas itu, dibentangnya dan dilihat, ternyata kertas itu bergambar se-ekor Okui atau kura2. Terang ditempel oleh anak perempuan itu ketika dirinya lengah tadi.

Gusar dan malu Ciamtay Cu-ih, tapi segera iapun terkesiap. Pikirnya: "Okui ini jelas sudah dilukis sebelumnya, jadi diam2 memang ada orang yang mendalangi perbuatan anak perempuan ini.”

Ia berpaling dan memnndang Wi Kay-hou sekejap, pikirnya: "Anak ini tentu anggota keluarga Wi, rupanya Wi Kay-hou yang main gila padaku.”

Ditatap begitu oleh Ciamtay Cu-ih, segera Wi Kiy-hou paham apa artinya, ia mendekati anak perempuan itu dan bertanya: "Adik cilik, kau ini keluarga siapa" Di mana ayah-bundamu?”

Pertanyaan ini mempunyai dua maksud tujuan, pertama untuk membuktikan dirinya tiada sangkut-pautnya dengan anak perempuan itu. Kedua ia sendiripun merasa curiga dan ingin tahu siapa yang membawa anak ini kemari.

Terdengar anak perempuan itu menjawab, "Ayah ibuku ada urusan lain telah pergi, aku disuruh duduk menunggu disini, katanya sebentar akan ada tontonan yang menarik, katanya ada orang dapat melayang dan menggeletak tak bergerak, konon gerakan ini adalah Kungfu kebanggaan Tang-wan yang disebut belibis jatuh dengan pantat lebih dulu dan apa segala, tampaknya memang betul sangat menarik!" Sambil berkata ia terus bertepuk tangan dan tertawa gembira, padahal airmata masih meleler dipipinya.

Semua orang menjadi senang, mereka tahu itu orang tua yang sengaja mengajarkan anak perempuan ini mencemoohkan Tang-wan. Nama Tang-wan memang kurang baik, sekarang dua muridnya menggeletak di situ tanpa bisa bergerak, boleh dikatakan Tang-wan telah kehilangan pamor habis2an, maka bergemuruhlah tertawa orang banyak. Ciamtay Cu-ih menepuk tubuh salah seorang muridnya itu, ia menjadi kaget ketika tubuh muridnya dirasakan sudah kaku dan dingin. Jelas keduanya sudah mati sejak tadi. Cepat ia membalik tubuh muridnya itu, tertampak air mukanya mengunjuk senyuman aneh. Seketika jari Ciamtay Cu-ih bergetar, betapapun tenangnya, demi melihat senyuman yang aneh ini, sungguh seperti melihat hantu, takut dan ngeri.

Maklumlah, sebab senyuman aneh ini baginya sudah tidak asing lagi, justeru senyuman aneh ini adalah akibat pukulan "Cui-sim-ciang" (pukulan penghancur hati), sejenis Kungfu khas Tang-wan sendiri.

Orang yang mati terkena pukulan maut itu akan memperlihatkan tanda khas, yaitu senyuman yang aneh.

Sesungguhnya juga bukan senyuman, akan tetapi lebih tepat dikatakan meringis. karena korban yang terkena Cui-sim-ciang akan merasakan kesakitan luar biasa sehingga kulit daging bagian muka berkerut dan mengejang sehingga menimbulkan "senyuman" yang aneh ini.

Di seluruh dunia ini hanya Cui-sim-ciang saja yang dapat menimbulkan air muka yang aneh itu pada korbannya, dari sini dapat diduga bahwa kedua muridnya ini mati di tangan orang seperguruannya sendiri. Seketika muka Ciamtay Cu-ih menjadi sebentar pucat sebentar hijau dan tidak dapat bersuara.

"Hei, Cui-sim-ciang!" mendadak Soat Peng-say berteriak.

"Inilah Kungfu Tang-wan sendiri!”

Kiranya pada waktu mau turun gunung Peng-say telah diberitahu oleh gurunya agar hati2 terhadap Cui-sim-ciang dari Tang-wan dan diberi penjelasan ciri2 ilmu pukulan tersebut, maka begitu melihat segera ia tahu.

Di antara para hadirin yang berusia agak tua juga kenal ciri khas Cui-sim-ciang ini, maka banyak diantaranya ikut berseru: "Ah, kiranya orang Tang-wan saling membunuh sendiri!”

Kusut juga pikiran Ciamtay Cu-ih,dengan suara rendah ia berkata kepada Ci-ho agar menggotong pergi mayat kawannya itu. Cepat Ci-ho memanggil beberapa saudara perguruannya, be-ramai2 kedua sosok mayat itu lantas diusung pergi. Mendadak anak perempuan tadi berseru sambil berkeplok: "Wah, orang Hong-hoa-wan dari Tang-hay sungguh sangat banyak! Mati satu digotong dua, mati dua digotong empat!”

Dengan muka kelam Ciamtay Cu-ih bertanya kepada anak perempuan itu: "Siapa ayahmu" Kata2mu barusan ini apakah ajaran ayahmu?”

Hendaklah maklum bahwa ucapan anak perempuan tadi sesungguhnva sangat keji, tiada ubahnya seperti mengutuki.

Jika bukan diajar oleh orang tua, usia sebaya dia pasti tidak dapat mengeluarkan Kata2 begitu.

Anak perempuan itu tidak menjawab pertanyaan Ciamtay Cu-ih, dengan tertawa ia malah menyambung pula angka perkalian: "Satu kali dua sama dengan dua, dua kali dua sama dengan empat, dua kali tiga .... dua kali enam sama dengan duabelas. . . .”

"He, kutanya padamu!" seru Ciamtay Cu-ih, suaranya cukup bengis.

Anak perempuan itu mewek2 dan menangis lagi sambil menyembunyikan mukanya di pangkuan Ting-yat.

"Jangan takut! Anak sayang, jangan takut!" hibur Tingyat sambil tepuk2 punggungnya dengan pelahan. Lalu dia berpaling kepada Ciamtay Cu-ih dan berkata: "Kau sendiri tidak becus mengajar dan anak muridmu saling membunuh sendiri, kenapa kau lampiaskan rasa gusarmu terhadap seorang anak kecil?”

Ciamtay Cu-ih mendengus dan tidak menggubrisnya.

Mendadak anak perempuan itu menengadah dan berkata kepada Ting-yat: "Losuhu. dua kali dua sama dengan empat, dua orang mati digotong empat orang, dua kali tiga sama dengan enam, tiga orang mati harus digotong enam orang, dua kali empat sama dengan delapan ..." dia tidak melanjutkan, tapi lantas tertawa ter-kikik2.

Tercengang juga orang banyak melihat anak perempuan ini sebentar tertawa sebentar menangis, kalau anak kecil umur lima-enam tahun masih dapat dimengerti, tapi anak perempuan ini tampaknya berumur antara dua belasan, malahan perawakannya rada jangkung, apalagi setiap ucapan selalu mengutuki Ciamtay Cu-ih, jelas bukan kata2 anak kecil yang belum tahu apa2, tapi pasti ada dalangnya di belakang anak ini.

Dengan suara keras Ciamtay Cu-ih lantas berseru: "Seorang lelaki sejati harus bertindak secara terang2an, jika ada kawan yang tidak suka kepada diriku, silakan tampil ke muka untuk bicara, jika main sembunyi2 dan menyuruh seorang anak kecil untuk mengoceh iseng begitu, memangnya terhitung ksatria atau orang gagah macam apa?" Meski pendek perawakan Ciamtay Cu-ih. tapi kata2nya itu sangat keras dan lantang hingga terasa mendengung di telinga pendengarnya. Mau-tak-mau semua orang sama merasa kagum dan tidak berani lagi memandang hina padanya. Suasana menjadi hening, tiada seorangpun yang menanggapi. Selang sejenak, tiba2 anak perempuan tadi berkata; "Losuhu, dia tanya orang gagah macam apa" Apa orang dari Hong-hoa-wan mereka itu-pun orang gagah?”

Ting-yat Suthay adalah tokoh terkemuka Siong-san-pay, meski iapun tidak suka terhadap pribadi Ciamtay Cu-ih, tapi tidaklah leluasa baginya untuk menghina Hong-hoawan didepan umum, maka ia hanya menjawab secara samar2: "Hong-hoa-wan di. . . dimasa dahulu memang banyak juga menampilkan orang gagah.”

"Dan sekarang bagaimana" Apakah masih tersisa orang gagahnya?" tanya pula si anak perempuan.

Di seluruh ruangan pendopo hanya si anak perempuan saja yang bicara, suaranya bening dan jelas sehingga sangat menarik perhatian.

Dengan benci Ciamtay Cu-ih melototi anak perempuaanitu, dari ucapan anak itu ia ingin tahu sebenarnya siapa biangkeladi dibelakang layar yang sengaja mencari perkara kepada Tang-wan.

Ting-yat berdehem, jawabnya kemudian: "Hal ini kurang jelas, jaman sudah berubah, orang sekarang lain dengan orang dulu. Ksatria sejati dan orang gagah tulen memang jarang terlihat lagi.”

Di balik ucapan itu jelas dapat diketahui dia tidak mengakui bahwa di Hong hoa-wan sekarang masih ada ksatria sejati.

Si anak perempuan lantas berkata pula: "Tapi kutahu ada seorang ksatria tulen." Sambil bicara ia tertawa terhadap Gi-lim.

Sementara itu tokoh2 angkatan tua sudah keluar keruangan depan, Kiau Lo-kiat dan Gi-lim juga ikut keluar.

Kiau Lo-kiat kembali bergabung dengan para Sutenya, sedangkan Gi-lim berdiri tidak jauh di samping Ting-yat, saat itu dia sedang melamun, maka jamsa sekali tak dihiraukannya apa artinya mendadak anak perempuan itu tertawa kepadanya.

Ia sedang mengenangkan kejadian pagi tadi, ia memondong jenazah Sau Peng-lam dan meninggalkan Cuisian-lau tanpa menghiraukan pandangan orang lain yang ter-heran2. Tanpa tujaan ia melangkah ke depan, ia merasa jenazah yang dipondongnya makin lama makin dingin. ia tidak merasakan beratnya jenazah itu, juga tidak tahu berduka.

lebih2 tidak tahu kemana jenazah itu akan dibawanya”

Setiba ditepi sebuah kolam teratai, tertampak bunga teratai mekar dengan indahnya, mendadak dadanya ditumbuk sesuatu, ia tidak tahan lagi, bersama jenazah yang dipondongnya ia lantas jatuh pingsan.

Waktu ia siuman kembali, terasa cahaya matahari menyilaukan mata, cepat ia hendak memondong jenazah Sau Peng-lam lagi, tapi tangannya meraba tempat kosong.

Ia melompat bangun, dilihatnya dirinya masih berada ditepi kolam teratai itu, bunga teratai masih mekar dengan indah, namun jenazah Sau Peng-lam sudah hilang tak berbekas.

Dengan cemas ia berlari mengitari kolam teratai itu, tetap jenazah itu tidak diketemukan, ia coba memandang pakaian sendiri yang berlepotan darah, terang bukan mimpi, tapi kemana perginya jenazah Sau toako”

Selain takut dan sedih, hampir saja ia jatuh kelengar pula. Ia berusaha menenangkan diri, lalu mencari lagi, namun jenazah Sau-toako benar2 telah lenyap tanpa bekas.

Malahan iapun memeriksa kolam teratai dengan airnya yang jernih itu. tapi juga tiada terlihat sesuatu yang mencurigakan. Begitulah, dengan bingung iapun menuju ke Cu-joan dan bergabung dengan gurunya di kediamanan Wi Kay-hou.

Tapi dalam hati senantiasa ber-tanya2: "Kemana perginya jenazah Sau-toako" Apakah ditolong orang yang kebetulan lalu di Sana" Atau digondol binatang buas?”

Teringat tewasnya Sau-toako adalah akibat hendak menyelamatkan dirinya, tapi sekarang jenazah Sau-toako saja tak dapat dijaga dengan baik olehnya. Bila benar jenazah digondol dan dimakan binatang, maka dirinya sungguh tidak ingin hidup lagi.

Padahal seumpama jenazah Sau Peng-lam sekarang masih baik-baik dan tidak hilang, rasanya ia pun tidak ingin hidup lagi.

Tiba-tiba, dari libuk hatinya yang dalam timbul pikiran yang seharusnya tidak boleh terjadi pada orang beragama seperti dia. Pikiran ini sudah timbul ber-kali2 seharian ini, tapi segera ia dapat mengatasi pergolakan pikiran itu, ia membatin: "Mengapa hatiku menjadi tidak tenang dan suka berpikir hal yang bukan2 begini" Sungguh terlalu dan tidak boleh terjadi lagi.”

Akan tetapi sekarang pikiran demikian timbul kembali dan sukar lagi dihalau. dengan jelas terbayang olehnya; "Waktu kupondong jenazah Sau-toako, timbul pikiranku akan kupondong dia untuk selamanya, betapapun akan kucari jenazahnya. Sebab apakah timbul pikiran demikian”

Apakah karena tidak tega jenazahnya dimakan binatang buas" Ah, tidak, rasanya tidak. Waktu kupondong jenazahnya dan duduk termenung ditepi kolam teratai, mengapa mendadak aku jatuh pingsan" Ah, sungguh konyol aku ini. Tapi, tapi seharusnya tidak boleh kupikirkan hal ini, Suhu takkan mengizinkan, Buddha juga melarang, ini pikiran sesat, pikiran jahat, aku tidak boleh tersesat.

Akan tetapi, kemana perginya jenazah Sau-toako?”

Begitulah pikirannya menjadi kacau, tiba2 ia seperti melihat senyuman yang menghiasi ujung mulut Sau Penglam, senyuman yang acuh-tak-acuh, lalu terbayang pula cara Sau Peng-lam memakinya sebagai "Nikoh cilik sialan”

dengan sikap yang menghina itu. Mendadak dadanya kesakitan seperti disayat-sayat dan. ... tersadarlah dia dari lamunannya.

Begitulah didengarnya Ciamtay Cu-ih sedang bertanya: "Kiau Lo kiat, apakah anak perempuan ini anak murid Soh-hok-han kalian?”

Rupanya teringat olehnya anak perempuan itu menyebut "Belibis jatuh denan pantat lebih dulu" tadi, timbul dugaannya jangan2 anak perempuan ini kenal Sau Peng-lam dan mungkin pula anak murid Lam-han. Tapi Kiau Lo-kiat telah menyangkal, jawabnya: "Bukan, adik cilik ini bukan murid Lam-han, bahkan baru sekarang Tecu melihat dia.”

"Baik, tak menjadi soal jika kau tidak mengakuinya,”

kata Ciamtay Cu-ih, mendadak tangannya berayun, setitik sinar hijau terus menyambar kearah Gi-lim, berbareng ia membentak: "Siau-Suhu, apa ini?"“

Gi-lim sedang ter-mangu2 tak disangkanya Ciamtay Cuih akan menyerangnya dengan Am-gi atau senjata gelap.

Titik hijau itu adalah sebiji gurdi kecil, dari suara mendengingnya jelas tenaga sambitannya cukup keras.

Tiba-tiba timbul rasa senang dalam hati Gi-lim: "Biarkan saja dia membunuhku. Memangnya aku tidak ingin hidup lagi, bisa mati akan lebih baik.”

Karena hasrat ingin mati, maka sama sekali ia tidak menghindar atau berkelit ketika senjata rahasia itu menyambar tiba, padahal beberapa orang sama berteriak memperingatkan dia.

Cepat Ting-yat mendorong pelahan anak perempuan tadi kesamping, menyusul ia terus melayang maju dan mengadang di depan Gi-lim.

Jangan mengira Ting-yat sudah tua, gerakannya ternyata gesit dan cepat luar biasa, dia sempat mengadang didepan senjata rahasia dan masih dia sempat menangkis atau menangkap senjata rahasia itu. Tak tersangka kira2 setengah meter di depan Ting-yat, mendadak senjata rahasia itu jatuh kebawah dan "plok", jatuh ke lantai.

Sebenarnya sekali raih saja senjata rahasia itu dapat ditangkap Ting-yat dengan mudah, tapi menurut taksirannya, luncuran gurdi yang lambat itu masih sempat ditangkapnya nanti bila sudah dekat didepan dadanya.

Dengan cara demikian akan lebih menonjol gayanya sebagai seorang tokoh silat terkemuka.

Tak tersangka cara Ciamtay Cu-ih menggunakan tenaga sambitan senjata rahasia memang sangat aneh, sudah diperhitungkannya dengan baik bilamana senjata rahasia itu mendekati sasarannya, daya luncurnya akan mulai lemah dan kira2 setengah meter didepan ia akan akan jatuh ketanah, Dan Ting-yat ternyata terjebak, begitu tangannya terjulur. tahu2 meraih tempat kosong, hal ini berarti dia telah kalah satu jurus. Tanpa terasa mukanya menjadi merah, tapi tiada alasan baginya untuk marah.

Pada saat itulah dilihatnya tangan Ciamtay Cu-ih berayun lagi, segulung kertas telah dilemparkan kemuka anak perempuan tadi. Gulungan kertas ini adalah kertas yang bergambar kura2 yang diremasnya tadi.

Baru sekarang Ting-yat tahu maksud tujuan Ciamtay Cuih, rupanya Hong-hoa-wancu itu sengaja menyambitkan gurdi kecil tadi untuk memancing dia menyingkir dan tidak sengaja hendak melukai Gi-lim.

Dilihatnya sambaran pulungan kertas itu sangat keras, jauh lebih kuat daripada sambaran gurdi tadi. Bagi seorang ahli Lwekang, biarpun sehelai daun atau secuil kelopak bunga saja dapat digunakan melukai orang. Jika pulungan kertas itu tepat mengenai muka anak perempuan itu, maka sukar baginya untuk terhindar dari luka parah.

Tatkala mana Ting-yat berdiri disamping Gi-lim, apa yang terjadi ini terlalu cepat, betapapun ia tidak sempat lagi menolongnya. Baru saja ia berseru memperingatkan, tiba2 terlihat anak perempuan itu mengangkat tangan kanan, jarinya yang kecil itu menyelentik pulungan kertas. "Crit", pulungan2 kertas itu hancur menjadi kertas kecil2 dan bertebaran seperti kupu2.

Serentak belasan orang berteriak memuji. Akan tetapi air muka tokoh2 besar seperti Ting-yat, Ciamtay Cu-ih, Thian-bun Tojin, Wi Kay-hou, Bun-siansing. Ho Sam-jit seketika berubah hebat.

"Hehe, bagus sekali jurus 'Pek-niau-tiau-bong' yang kau perlihatkan ini, Nona cilik!" seru Ciam-tay Cu-ih.

Seketika pandangan semua orang sama terpusat kearah anak perempuan itu dan ingin tahu bagaimana jawabnya.

Sebab setiap tokoh besar itu tahu jurus "Pek-niau-thiau-hong" atau beratus burung menghadap Hong (rajanya burung), adalah Kungfu khas Ma-kau atau agama Ma, sekte agama yang didirikan Mani pada abad ketiga di Persia (agama ini masuk kedaratan Tiongkok pada jaman pertengahan dinasti Tong, sekitar tahun 750).

Menurut kabar, ilmu selentikan jari Pek-niau-tiau-hong, itu sekaligus mampu melukai belasan orang. serangan ganas dan sukar dihindar, Dengan sendirinya anak perempuan sekecil ini belum sempurna latihan Kungfunya, jika cukup waktu latihannya, yang diselentik juga bukan kertas melainkan Am-gi sebangsa pasir berbisa, dalam jarak sekitar beberapa meter beratus ribu biji pasir kecil berhamburan, sekaligus betapapun lihaynya seorang juga sukar meloloskan diri.

Bila membicarakan Ma-kau, orang2 dari perguruan ternama sama merasa pusing kepala terhadap Kungfu yang sukar dilawan itu, karena itu pula kebanyakan orangpun merasa benci terhadap kekejian orang Ma-kau.

Siapa sangka seorang anak perempuan cantik jelita begini juga mahir ilmu yang keji dan juga lihay ini. Di luar dugaan, anak perempuan itu lantas tertawa dan menjawab: "Siapa bilang jurus ini Pek-niau-tiau-hong" Kata ibuku, Kungfu ini bernama It-ci-sian. Cuma sayang belum sempurna latihanku, jika kulatih 20 tahun lagi mungkin cukuplah. Cuma 20 tahun rasanya terlalu lama, tatkala mana mungkin rambutku sudah ubanan dan ompong, apa gunanya lagi It-ci-sian yang hebat ini?”

Thian-bun Tojin dan Ting-yat saling pandang sekejap, keduanya sama mengunjuk rasa heran dan kejut.

"Kau bilang ilmu sakti ini It-ci-sian?" Ting-yat menegas.

"Jika demikian, apakah ibumu bertempat tinggal di Ci-tiok-to (pulau bambu ungu) di laut timur sana?”

Anak perempuan itu tertawa, jawabnya: "Betul atau tidak boleh kau menerkanya sendiri. Yang pasti ibu telah memberi pesan agar asal-usul kami tidak boleh dikatakan kepada orang luar.”

Thian-bun Tojin dan lain2 sudah lama mendengar kungfu istimewa Ma-kau yang disebut Pek-niau-tiau-hong ini, tapi sampai dimana lihaynya belum pernah melihatnya, apalagi Kungfu anak perempuan ini belum terlatih sempurna, jadi tulen atau palsunya juga sukar dibedakan.

Padahal ilmu sakti "It-ci-sian" atau tenaga sakti satu jari, konon adalah Kungfu khas Keng-goat Sin-ni, seorang Nikoh sakti yang bermukim di Ci-tiok-to dan selama ini kabarnya tidak pernah di ajarkan kepada orang luar. Jika anak perempuan ini mahir It-ci-sian, maka pasti ada hubungan erat dengan Nikon sakti itu.

Keng-goat Sin-ni adalah tokoh dongeng di didunia persilatan, siapapun merasa tidak dapat menandinginya, walaupun pengakuan anak perempuan ini entah betul atau tidak, tapi akan lebih baik percaya daripada tidak, untuk apa tanpa sebab memusuhi tokoh sakti yang sukar dijajaki itu.

Begitulah seketika Thian-bun Tojin dan lain2 sama bersuara kaget. air muka mereka dari rasa benci berubah menjadi menghormat.

Air muka Ciamtay Cu-ih juga berubah pucat setelah mendengar nama "It-ci-cian", seketika ia menjadi bimbang dan entah apa yang harus dilakukannya terhadap anak dara itu.

Ting-yat Suthay memang suka kepada anak perempuan yang cantik, apalagi anak dara ini mengaku ada hubungan erat dengan Ci-tiok-to di lautan timur, sesama penganut ajaran Buddha", betapapun anak dara ini harus dibela dan tidak boleh dianiaya Ciamtay Cu-ih.

Tapi, mengingat Ciamtay Cu-ih juga seorang pemimpin besar suatu perguruan terkenal juga sukar dilawan, jika harus bertengkar dengan dia, rasanya juga tidak berpaedah.

Maka ia lantas berkata kepada Gi-lim: "Orang tua adik cilik ini entah kemana, Gi-lim., boleh kau bawa dia pergi mencarinya agar di tengah jalan tidak diganggu orang.”

Gi-lim mengiakan, ia mendekati anak perempuan itu dan menarik tangannya. Anak dara itu tertawa kepada Gi-lim dan ikut keluar.

Ciamtay Cu-ih merasa tiada gunanya menghalangi, dia cuma mendengus saja dan tidak menghiraukannya.

Setiba diluar ruangan besar, Gi-lim bertanya kepada anak perempuan itu: "Adik cilik, siapakah she dan namamu?" "Aku she Sau dan bernama Peng-lam," jawab anak dara itu dengan mengikik tawa.

Hati Gi-lim berdebur keras, segera ia menarik muka dan berkata: "Kutanya dengan sungguh2, mengapa kau bergurau denganku?”

"Masa aku bergurau padamu?" jawab anak dara itu dengan tertawa. 'Memangnya cuma kawanmu saja boleh bernama Sau Peng-lam dan aku tidak boleh?”

Gi-lim menghela napas, hatinya menjadi pedih, hampir saja air matanya menetes pula, katanya: "Sau-toako ini telah menyelamatkan jiwaku, aku utang budi padanya, tapi dia mati bagiku, sebaliknya aku tidak. . . .tidak bisa membalas apa-apa padanya.”

Selagi mereka bicara, terlihat dua orang bungkuk, yang satu tinggi dan yang lain pendek, keduanya berlalu di serambi sana. Jelas itulah Say-pak-beng-to Soat Ko -ong dan Soat Peng-say. Anak perempuan itu tertawa dan berkata pula: "Di dunia ini mana ada kejadian secara kebetulan begini, ada seorang bungkuk tua bermuka buruk begini didampingi lagi seorang bungkuk muda dengan muka sama jeleknya.”

Gi-lim kurang senang karena anak dara itu suka mencemooh orang lain, katanya: "Adik cilik, maukah kau mencari sendiri ayah-ibumu" Kepalaku sakit, badanku kurang sehat.”

"Ah, kepala sakit dan kurang sehat apa segala, pura2 belaka?" tiba2 anak dara itu ber-olok2.

Kutahu, lantaran mendengar nama Sau Peng-lam, maka hatimu lantas kesal. Padabal gurumu mengutus kau mengawasi diriku, masa aku akan kau tinggalkan" jika aku diganggu orang nanti, tenta kau akan dimarahi gurumu.”

Kungfumu lebih tinggi dari padaku, kaupun cerdik.

sampai2 tokoh termashur seperti Hong-hoa-wancu itupun terjungkal ditanganmu," kata Gi-lim. "Jika kau tidak mengganggu orang bolehlah orang merasa bersyukur, mana ada orang lain yang berani menggangu kau lagi?”

Nona clik itu tertawa, katanya sambil menarik tangan Gi-lim: "Cici yang baik, janganlah kau ber-olok2. Padahal tadi kalau tidak dilindungi gurumu, tentu aku sudah kena dihajar oleh kakek cebol itu. Cici yang baik, yang benar aku she Kik namaku Fi-yan, kakek dan ayah bundaku sama memanggil diriku Fifi, maka kaupun boleh panggil Fifi padaku.' Karena anak dara itu mau memberitahukan namanya.

rasa kurang senang Gi-lim tadi lantas lenyap. Cuma ia masih heran darimana anak dara ini mengetahui dirinya sedang menguatirkan Sau Peng-lam sehingga sengaja menggunakan nama Sau-toako untuk menggodanya”

Ia pikir besar kemungkinan ketika dirinya melaporkan Pengalamannya kepada sang guru tadi, semua itu telah didengar oleh nona cilik yang binal ini. Maka ia lantas berkata: "Baik, Fifi, marilah kita mencari ayah-ibumu.

Menurut kau, kira2 kemanakah mereka?”

Sudah tentu kutahu mereka pergi kemana," jawab Kik Fi-yan alias Fifi. "Jika kau ingin mencari mereka, silakan kau pergi mencarinya, aku sendiri tidak mau pergi.”

Gi-lim menjadi heran, tanyanya: "Aneh. mengapa kau sendiri malah tidak mau mencari mereka?”

"Usiaku masih semuda ini, aku tidak rela menyusul ayah-ibuku," kata Fifi "Berbeda dengan kau, kulihat hatimu sangat berduka, mungkin kau ingin pergi kesana selekasnya.”

Hati Gi-lim menjadi pilu sebab ia tahu arti ucapan anak dara itu, katanya dengan tersendat: "O, jadi . . . .jadi ayah ibumu sudah. . . .”

"Ya, ayah dan ibu sudah lama meninggal, jika kau mau mencari mereka boleh silakan menuju ke akhirat," kata Fifi.

Kembali Gi-lim merasa kurang senang, katanya: "Jika ayah-bundamu sudah meninggal, mana boleh kau gunakan hal ini untuk bercanda denganku. Baiklah, jika demikian adanya, biarlah kupulang kesana.”

Tapi sekali meraih Kik Fi-yan telah mencengkeram pergelangan tangan Gi-lim, katanya dengan setengah memohon: "O, Cici yang baik, aku sebatangkara, tidak mempunyai teman bermain, sudilah engkau mengawani aku sebentar.”

Karena urat nadi pergelangan tangan terpegang, seketika Gi-lim merasa sebagian badannya kesemutan dan tak bertenaga, diam2 ia terkejut dan merasakan kepandaian nouna cilik ini memang berada di atasnya. Karena permintaannya yang kelihatan memelas, ia lantas menjawab: "Baiklah, akan kutemani kau sebentar, tapi jangan kau bicara hal2 yang iseng lagi.”

"Ada kata2 yang kau kira iseng, bagiku justeru tidak iseng, ini kan bergantung kepada pikiran masing2" ujar Fifi.

"Eh, Gi-lim Cici, kan lebih baik kau tidak menjadi Nikoh?”

Gi-lim melengak oleh ucapan anak dara itu, ia surut mundur satu langkah, Fifi lantas lepaskan pegangannya dan berkata pula: "Memang apa paedahnya menjadi nikoh”

Tidak boleh ikan, tidak boleh makan udang, daging juga dilarang. Padahal, Cici, engkau sedemikian cantiknya karena kepalamu dicukur kelimis, kecantikanmu menjadi banyak berkurang. Apabila engkau piara rambut lagi, wah, pasti sangat mempesona.”

Karena ucapan yang ke-kanak2an ini, Gi-lim tertawa dan menjawab: "Kami sudah masuk perguruan yang kosong, bagi kami segala apa di dunia serba kosong, peduli lagi cantik buruk apa segala.”

Fifi memiringkan mukanya ke samping dan memandang Gi-lim dengan cermat, waktu itu hujan sudah reda, awan buyar, cahaya bulan yang remang2 menyinari wajah Gi-lim yang cantik itu sehingga tambah mengiurkan.

"Ai, pantas orang begitu merindukan dirimu," ucap Fifi kemudian dengan menghela napas.

Muka Gi-lim menjadi merah, tanyanya: "Apa katamu, Fifi" Jangan kau ber-olok2 lagi, akan kutinggal pergi.”

"Baiklah, aku tidak omong lagi," ucap Fifi dengan tertawa. "Eh, Cici, sudilah engkau memberikan sedikit Thian-hiang-toan-siok-ciau, perlu kutolong seorang yang terluka parah.”

"Siapa yang akan kau tolong?" tanya Gi-lim.

"Orang ini sangat penting, sementara ini tak dapat kukatakan padamu." jawab Fifi.

"Permintaanmu mestinya dapat kupenuhi, tapi Suhu telah memberi pesan agar obat luka ini tidak sembarang diberikan kepada orang, sebab kalau orang jahat yarg terluka, betapapun obat ini tidak boleh diberikan padanya.”

"Cici, apabila ada orang memaki gurumu dengan kata2 kotor tanpa alasan, orang ini tergolong baik atau jahat?”

"Dia memaki guruku, dengan sendirinya orang jahat, masa dapat dikatakan baik?”

"Anehlah. kalau begitu," ujar Fifi dengan tertawa.

"Padahal ada seorang yang selalu mencaci-maki kaum Nikoh, katanya bila melihat Nikoh pasti kalah judi.

Gurumu dimaki, kaupun dicaci. tapi kau justeru menuangkan hampir seluruh obatmu kepada lukanya. ...”

Tanpa menunggu habisnya ucapan Fifi dengan air muka berubah segera Gi-lim membalik tubuh dan tinggal pergi.

Tapi sekali berkelebat Fifi telah mengadang didepan Gilim sambil merentangkan kedua tangannya dengan tertawa.

Mendadak pikiran Gi-lim tergerak: "Ah. kalau tidak salah di Cui-sian-lau kemarin anak dara ini juga berduduk bersama seorang tua dimeja sebelah, waktu Sau-toako tewas dan kupondong jenazahnya, agaknya anak dara inipun masih di restoran itu. Dengan sendirinya semua kejadian waktu itu disaksikannya. Apakah .... apakah sejak itu dia selalu menguntit di belakangku?”

Gi-lim berniat tanya sesuatu, tapi mukanya menjadi merah dan sukar diutarakan. "Cici, kutahu kau ingin tanya padaku. Kemana perginya jenazah Sau-toako" begitu bukan?" "Ya, betul," jawab Gi-lim. "Jika adik sudi memberitahu, sungguh aku. . . .aku akan sangat berterima kasih padamu.”

"Aku sendiri tidak tahu, tapi ada satu orang tahu," tutur Fifi "Orang ini terluka parah, jiwanya dalam bahaya, bila Cici mau menyelamatkan dia dengan Thian-hiang-toan-siok-ciau, tentu dia akan memberitahukan padamu dimana beradanya jenazah Sau-toako itu.”

"Kau sendiri benar2 tidak tahu?" tanya Gi-lim.

"Aku Kik Fi-yan, jika mengetahui berada dimana jenazah Sau Peng-lam, biarlah besok juga aku mati ditangan Ciamtay Cu-ih, badanku akan di-cincang olehnya.

. . ." Cepat Gi-lim mendekap mulut anak dara itu dan menyela: "Sudahlah, aku percaya, tidak perlu kau bersumpah. Marilah kita pergi menanyai orang itu, siapakah dia?”

"Orang itu jelas orang baik, mau menolongnya atau tidak terserah padamu," ujar Fifi. "Tempat yang harus kita datangi juga bukan tempat yang baik.”

Karena tekadnya irngin menemukan jenazah Sau Penglam, biarpun hutan golok atau gunung juga akan diterjangnya, peduli tempatnya baik atau tidak. Maka Gilim lantas menjawab tegas: " Marilah kita pergi ke sana.”

Sampai diluar pintu gerbang, hujan ternyata masih turun dengan lebatnya, di samping pintu sana berserakan puluhan pajung kertas minyak, segera Fifi dan Gi-lim masing2 mengambil sebatang payung terus menuju ke arah timur laut. Waktu itu sudah jauh malam, orang dijalanan sudah jarang2, di mana mereka lalu seringkali menimbulkan gonggong anjing.

Gi-lim terus ikut Fifi ke depan. jalan yang dilalui kebanyakan adalah gang2 yang sempit, tapi yang dpikir Gilim hanya jenazah Sau Peng-lam, maka tak dipedulikannya kemana dirinya akan dibawa dara itu.

Akhirnya Fifi membawa Gi-lim menyelinap kesebuah lorong sempit dan berhenti di depan rumah pada ujung gang itu, tertampak sebuah lampu merah kecil tergantung di atas pintu. Fifi mengetuk pintu tiga kali, segera ada orang buka pintu dan melongok keluar. Fifi ber-bisik2 ditelinga orang itu serta menjejalkan sesuatu pada tangannya.

Lalu terdengar orang itu berkata: "Ya, ya, baik, silakan Siocia masuk.”

Fifi menoleh dan memberi tanda kepada Gi-lim agar ikut masuk, waktu lalu disamping orang membukakan pintu itu, tertampak orang ini dandan dengan rapi, berbaju bersih, rambut tersisir kelimias melihat Gi-lim yang ternyata seorang nikoh jelita, kelihatan orang itu mengunjuk rasa heran dan bingung. Cepat juga orang itu berlari ke depan untuk menunjukkan jalan. Setelah menyusuri sebuah serambi, sampailah mereka di suatu kamar samping, ia menyingkap tirai dan berkata: "Siocia, Suhu, silakan duduk di dalam.”

Begitu tirai tersingkap, kontan terendus bau harum bedak dan yanci. Setelah masuk, Gi-lim melihat di ruangan ini ada sebuah tempat tidur besar, selimut bantal semuanya serba bersulam indah. Pada selimut itu tersulam sepasang Yan-yang, yaitu sejenis burung merpati yang sedang bermain air dengan warna yang menarik dan hidup.

Sejak kecil Gi-lim sudah menjadi Nikoh di Pek-hun-am, selimut yang dipakainya sehari2 adalah selimut kain hijau polos, selama hidupnya tidak pernah melihat bantal selimut semewah ini ia hanya memandang sekejap saja lalu melengos. Dilihatnya pula di atas meja menyala sebatang lilin merah, disamping lilin ada sebuah cermin dan sebuah kotak alat2 rias. di depan tempat tidur, dilantai, ada dua pasang kasut kain bersulam, sepasang kasut lelaki dan sepasang kasut perempuan, tertaruh berjejer.

Jantung Gi-lim berdetak keras, waktu menengadah, tertampaklah seraut wajah cantik bersemu merah jelas itulah wajah sendiri yang tercermin dikaca rias.

Tiba2 tirai pintu tersingkap dan masuklah seorang babu membawakan teh wangi. Pakaian babu ini ringkas dan cekak, potongannya genit. jalannya berlenggak-lenggok Melihat keadaan demikian, makin takutlah hati Gi-lim, dengan suara tertahan ia tanya Fifi: "Sesungguhnya tempat apakah ini?”

Fifi tidak lantas menjawab, ia mendekati babu genit tadi dan ber-bisik2 padanya, babu itu mengiakan dengan tertawa, lalu melangkah pergi dengan berlenggok.

Diam2 Gi-lim membatin: "Melihat lagak lagunya, perempuan ini pasti bukan orang baik2.”

Selagi hendak tanya Fifi, tiba2 terdengar suara orang mengakak-tawa diluar pintu. suara tertawa seorang lelaki, rasanya sudah sangat dikenalnya.

Dengan terkejut Gi-lim berbangkit dan hendak melolos pedang, tapi tangannya meraba tempat kosong, entah sejak kapan pedangnya telah hilang, Di tengah gelak tertawa orang itu lantas menyingkap tirai dan melangkah masuk. Tapi begitu melihat Gi-lim. seketika orang itu berhenti tertawa, air mukanya berubah merah, menyengir dan serba salah.

Hati Gi-lim berdebur keras. Kiranya orang yang masuk ini tak-lain-tak-bukan ialah Ban-li-tok-heng Thio Yan-coan.

Keruan Gi-lim mengeluh dalam hati: "Wah, celaka! Aku telah terjebak oleh setan cilik Kik Fi-yan ini. Pantas dia bilang orang itu sangat merindukan diriku, kiranya yang dimaksud ialah....”

Thio Yan-coan juga melenggong, tapi segera membalik tubuh dan melangkah keluar.

"Hei. tunggu dulu! Kenapa begitu melihat diriku lantas mau kabur"!" seru Fifi.

Setiba diluar pintu barulah Thio Yan-coan menjawab: "Aku . . . aku tidak dapat menemui . . .menemui Siau-suhu ini.”

Fifi tertawa terkikik, katanya: "Thio Yan-coan. kau ini memang manusia yang tidak dapat dipercaya dan tidak pegang janji. Kau pernah bertaruh dengan Sau Peng-lam dan kau kalah, kan harus kau angkat Siau-suhu ini sebagai guru. Sekarang setelah bertemu dengan sang guru, kenapa kau tidak memanggil Suhu dan juga tidak menyembah.

Memangnya kau tahu aturan dan sopan santun atau tidak?”

"Ai. omongan ini jangan di-singgung2 lagi," ujar Yan-coan. "Aku telah tertipu oleh Sau Peng-lam. mengapa kau datang ketempat begini" Hayolah cepat pergi, lekas. anak perempuan masa berkeliaran ditempat pelacuran?”

Mendengar kata2 "Tempat pelacuran" seketika jantung Gi-lim berdetak pula dan hampir saja jatuh semaput.

Waktu melihat lampu merah di depan pintu, melihat keadaan di dalam rumah ini, lamat2 ia memang sudah merasakan gelagat tidak enak, tapi sama sekali tak disangkanya bahwa Fifi bisa membawanya ke tempat pelacuran. Meski dia tidak terlalu jelas "rumah pelacuran" itu sebenarnya tempat yang bagaimana, tapi dia pernah mendengar cerita orang bahwa pelacur adalah perempuan yang paling hina dan menjijikkan di dunia ini. Setiap lelaki asalkan berduit. tentu bisa memanggil pelacur. Sekarang dirinya dibawa Kik Fi-yan ke tempat beginian memangnya dirinya hendak disuruh melacurkan diri”

Berpikir demikian, hampir saja Gi-lim menangis, Untung begitu melihat dirinya segera Thio Yan-coan angkat kaki dan tidak berani memaksakan sesuatu padanya, tampaknya keadaan tidak begitu gawat.

Didengarnya Kik Fi-yan sedang berkata dengan tertawa.

"Lelaki kan manusia, perempuan juga manusia, kalau lelaki boleh ke rumah Pelacuran ini, kenapa kami tidak boleh?”

Thio Yan-coan jadi kelabakan sendiri di luar pintu, katanya sambil menggeleng: "Fi-yan. jika kakekmu mengetahui kau berada di sini, tentu aku akan dibunuhnya Ai, Fifi yang baik, Fifi sayang, kumohon dengan sangat, janganlah kau bercanda padaku secara begini. Lekaslah pergi bersama Siau-suhu ini. asalkan segera kau pergi, apa yang kau-minta padaku pasti kuturut!”

"Aku justeru tidak mau pergi," jawab Fifi dengan tertawa "Di kota Cu-joan ini hanya tempat inilah yang paling cocok, maka malam ini aku dan Gi-lim Cici akan tidur di sini." "Ai, Fifi, sesungguhnya kau mau pergi atau tidak?" Thio Yan-coan memohon pula.

"Tidak, aku justeru tidak mau pergi, habis kau mau apa”

Seorang lelaki sejati, sekali bicara tidak nanti dijilat kembali. Sekali tidak pergi tetap tidak pergi.”

"Ai, Fifi, kau kan bukan lelaki sejati," ujar Thio Yan-coan. "Fifi sayang, lekas pergilah kau. Biarlah besok akan kubawakan beberapa macam barang mainan yang menarik bagimu." "Cis, untuk apa barang mainan?" omel Fifi "Akan kukatakan kepada Yaya (kakek) bahwa Thio Yan-coan yang membawaku ke sini.”

Karuan Thio Yan-coan melonjak kaget, cepat ia berseru; "Wah,Fifi manis, kenapa kau omong begini" Aku kan tidak bersalah apa2 kepadamu, dustamu ini bisa mendatangkan kematian bagiku. Kau punya Liangiim (hati nurani) atau tidak?" "Aneh, kau berani tanya padaku punya Liang-sim atau tidak" Padahal kau sendiri bagaimana, kau-punya Liangsim tidak" Berhadapan dengan guru sendiri, tidak menyapa dan tidak menyembah, tapi putar tubuh dan hendak angkat kaki" Inikah Liang-sim yang kau katakan?”

"Baik, baiklah, anggap aku bersalah. Ai, Fifi sayang, sesungguhuya apa kehendakmu?”

"Tujuanku adalah demi kebaikanmu agar kau menjadi lelaki sejati, apa yang sudah kau katakan supaya kau tepati.

Nah. lekas menggelinding masuk kemari dan menyembah kepada gurumu!”

Thio Yan-coan menjadi ragu2: "Ini ....ini. . . .”

Untung baginya, Gi-lim lantas berkata: "Tidak, aku tidak mau disembah oleh dia, akupun tidak mau melihat dia, dia ... .dia bukan muridku.”

"Nah, kau dengar sendiri, Fifi," cepat Thio Yan-coan menukas. "Dia tidak menghendaki murid seperti diriku, maka tidak perlu lagi aku menyembah padanya.”

"Baik, kuampuni kau," kata Fifi dengan tertawa.

"Sekarang dengarkan, tadi waktu kudatang kemari, ada dua cecunguk secara diam2 mengikuti kami, lekas kau pergi membereskan mereka. Aku dan gurumu akan tidur disini, kau harus berjaga di luar, siapapun dilarang mengganggu kami dan besok aku tidak jadi melapor kepada Yaya.”

Tampaknya Thio Yan-coan sangat takut kepada Yaya atau kakek anak dara itu, terpaksa ia menjawab: "Baiklah, cuma kau harus pegang janji, jangan lagi berdusta dan membikm celaka diriku.”

"Aku kan bukan lelaki sejati, apa yang sudah kukatakan boleh kutepati dan juga boleh kutarik kembali," kata Fifi dengan tertawa.

Mendadak Thio Yau-coan membentak keras: "Bangsat.

berani amat kalian!”

Menyusul terdengarlah suara gemerantang diatas rumah, dua macam senjata jatuh di atas genting, menyusul seorang menjerit ngeri, lalu terdengar pula suara orang berlari pergi secepat terbang.

"Sudah terbunuh satu, bangsat dari Hong-hoa-wan.

seorang lagi kabur," kata Thio Yan-coan.

"Sungguh tidak becus, kenapa sampai bisa kabur?" omel Fifi.

"Orang itu tak boleh kubunuh, dia. . . dia Nikoh dari Siong-san-pay." jawab Thio Yan-coan.

"O, kiranya paman gurumu, dengan sendirinya tidak boleh kau bunuh," goda Fifi dengan tertawa.

Sebaliknya Gi-lim menjadi terkejut, tanyanya dengan suara tertahan: "Jadi Suciku", Wah, bagaimana baiknya ini?”

"Sekarang juga kita menjenguk orang yang terluka itu,”

kata Fifi, "Jika kau kuatir dimarahi gurumu, sebentar lagi boleh kita pulang kesana.”

Diam-diam Gi-lim membatin: "Sudah telanjur datang, biarlah kulihat orang itu, entah siapa dia?”

Fifi tertawa dan mendekati tempat tidur besar itu, dia mendorong dinding, segera sebuah sayap pintu terbuka pelahan. Kiranya pada dinding itu ada pintu rahasianya.

Setelah menggapai Gi-lim, Fifi lantas mendahului masuk kesana. Gi-lim merasa rumah pelacuran ini penuh misterius, terpaksa ia tabahkan hati dan ikut musuk. Di balik pintu adalah sebuah kamar pula. tapi tanpa penerangan.

Berkat cahaya lilin kamar sebelah samar2 terlihat kamar ini sangat kecil, juga ada sebuah tempat tidur dengan kelambu terurai rapat, agaknya ada orang tidur di situ.

Hanya melangkah masuk ketepi pintu saja, lalu Gi-lim berhenti. "Cici, harap kau bubuhi lukanya dengan Thian-hiangtoan-siok-ciau yang kau bawa," pinta Fifi, Gi-lim ragu2, katanja: "Apakah. . . apakah benar dia mengetahui dimana beradanya jenazah Sau-toako?”

"Mungkin tahu, bisa jadi tidak tahu, akupun tak dapat memastikan," jawab Fifi.

"Tadi .... tadi kau bilang dia tahu?" Gi-lim menjadi cemas.

"Aku kan bukan lelaki sejati, apa yang kukatakan boleh kutepati dan boleh tidak. Jika kau mau mencobanya boleh kau obati lukanya sekarang. Kalau tidak, boleh kau angkat kaki, siapapun takkan merintangimu.”

Mau-tak-mau Gi-lim berpikir: "Apapun juga, demi menemukan jenazah Sau-toako biarpun sangat tipis harapannya juga harus kucoba.”

Setelah pikirannya mantap, segera ia berkata: "Baik, akan kuobati dirinya" Segera ia keluar kekamar sebelah dan mengambil tatakan lilin serta dibawa kedepan tempat tidur di kamar bagian dalam ini. Disingkapnya kain kelambunya, tertampaklah seorang tidur telentang, mukanya tertutup oleh sehelai sapu tangan hijau tipis, mengikuti pernapasannya, kain sapu tangan itupun ber-getar2.

Rada tenteram hati Gi-lim, karena tidak melihat wajah orang. ia menoleh dan tanya Fifi: "Dimana lukanya?”

"Di dada," jawab Fifi. "Cukup dalam lukanya hampir saja melukai jantungnya.”

Pelahan Gi-lim membuka selimut tipis yang menutup tubuh orang itu. dilihatnya orang itu bertelanjang dada, benarlah di bagian dada ada sebuah luka lebar, darah sudah berhenti mengalir, tapi luka cukup dalam, jelas sangat berbahaya. Sedapatnya Gi-lim menenangkan diri, pikirnya: "Betapapun harus kuselamatkan jiwanya.”

Ia serahkan tatakan lilin agar dipegang Fifi, dengan pelahan ia merabai sekitar luka orang itu, ia tutuk tiga Hiat-to yang beranngkutan.

"Hiat-to penghenti darah sudah tertutuk, kalau tidak manabisa hidup sampai sekarang," bisik Fifi dengan suara tertahan.

Gi-lim mengangguk. Dilihatnya Hiat-to sekitar itu memang benar sudah tertutuk dengan baik. Maka pelahan ia angkat kapas yang menyumbat luka itu. Siapa tahu, begitu kapas diambil, seketika darah segar mengucur keluar lagi.

Syukur Gi-lim sudah belajar cara memberi pertolongan pertama, cepat tangan kiri menekan bagian luka, tangan kanan lantas memoles luka dengan salep yang dibawanya, kemudian ditutup pula dengan kapas.

Salep Thian-hiang-toan-siok-ko adalah obat luka mujarab Siong-san-pay yang terkenal. Begitu dibubuhkan pada luka itu, hanya sekejap saja darah lantas berhenti.

Pernapasan orang luka ini kedengaran berkempaskempis, entah dapat diselamatkan atau tidak. padahal tujuan kedatangan Gi-lim ingin menanyakan jenazah Sau Peng-lam. Karena itu ia lantas berkata: "Enghiong yang terhormat ini, ada sesuatu ingin kutanya padamu, mohon Enghiong sudi memberi keterangan.”

Terdengar orang itu bersuara tertahan. Mendadak Fifi bergeliat, tatakan lilin yang dipegangnya menjadi miring, api lilin lantas padam, keadaan didalam kamar menjadi gelap gulita. "Ai, padam!" seru Fifi.

Gi-lim menjadi gugup, pikirnya. "Tempat kotor ini mestinya tidak boleh didatangi Cut-keh-lang seperti diriku ini. Biarlah lekas kutanya keterangan Toako, lalu kutinggal pergi dengan segera.”

Maka ia ciba bertanya pula: "Enghiong ini apakah keadaanmu agak lebih baik?”

Kembali orang itu mendengus tertahan dan tidak menjawab. "Dia lagi demam," kaia Fifi. "Boleh kau raba dahinya, panasnya luar biasa.”

Belum lagi Gi-lim menjawab, tahu2 tangan kanannya sudah dipegang Fifi dan ditaruh diatas jidat orang itu.

Sementara itu sapu tangan yang menutupi mukanya ternyata sudah disingkirkan oleh Fifi.

Gi-lim merasa tangannya seperti memegang bara, panasnya luar biasa, tanpa terasa timbul rasa kasihannya, katanya: "Aku juga bawa obat dalam dan harus kuminumkan dia. Fifi. hendaklah lilin kau pasang lagi.”

"Baiklah, kau tunggu disini, kupergi mencari api" kata Fifi.

Gi-lim menjadi gugup karena akan ditinggal pergi, cepat ia menarik lengan baju anak dara itu dan berkata: "Tidak, jangan pergi kau.”

Fifi tertawa pelahan, katanya; "Jika begitu keluarkanlah obatmu.”

Segera Gi-lim meraba keluar sebuah botol porselen kecil dan menuang tiga biji pil. katanya; "Ini obatnya, boleh kau minumkan padanya.”

"Dalam kegelapan begini, jangan sampai obatmu terjatuh hilang," ujar Fifi. "Jiwa manusia maha penting dan tidak boleh dibuat main2. Cici yang baik, biarlah aku saja yang menunggu disini, kau pergi mencari api.”

Bahwa Gi-lim disuruh keluyuran ditengah rumah pelacuran begini, sudah tentu ia tidak berani, cepat ia menjawab: "O, tidak, aku tidak mau!”

"Menolong orang hendaknya jangan kepalang tanggung," kata Fifi. "Cici yang baik, boleh kau jejalkan obat ke dalam mulutnya dan suapi dia minum beberapa cegukan teh, kan beres semuanya. Dalam kegelapan begini, dia takkan melihat siapa kau, kenapa takut" Nah, inilah cangkir teh. pegang yang betul, jangan sampai tumpah.”

Pelahan Gi-lim menjulurkan tangannya dan menerima cangkir itu, sejenak ia ragu2, pikirnya: "Suhu sering memberi petua, Cut-keh-lang harus mengutamakan welas-asih, menolong jiwa satu orang melebihi bangun budur (candi) tujuh tingkat. Seumpama orang ini tidak dapat memberitahu dimana beradanya jenazah Sau-toako, tapi jiwanya jelas terancam bahaya, kan harus kutolong dia “

Segera ia meraba pelahan muka orarg itu, setelah tahu persis mulutnya, ia jejalkan tiga biji pil "Pek-hun-wan”

(empedu beruang Pek-hun-am).

Agaknya orang itupun belum kehilangan kesadarannya, ia membuka mulut dan menelan pil itu, ketika Gi-lim mendekatkan cangkir kemulutnya, iapun minum beberapa ceguk dan bersuara samar2, seperti menyatakan terima kasih. "Enghiong ini," demikian ucap Gi-lim pula, "Engkau terluka parah, seharusnya istirahat dengan tenang. Cuma ada suatu urusan penting harus kutanyakan padamu, Ada seorang Sau-tayhiap dicelakai orang, jenazahnya . . . .”

Orang itu bersuara seperti terkesiap, jawabnya dengan suara lemah: "Kau. . .. .kau tanya Sau Peng-lam ....”

"Betul, apakah engkau mengetabui dimana beradanya jenazah Sau Peng-lam yang baik itu?" tanya Gi-lim pula.

Samar2 orang itu menjawab: "Je .... jenazah apa maksudmu?”

"Ya, jenazah. jenazah Sau-tayhiap itulah?”

Orang itu omong sesuatu dengan samar2, suaranya sangat lemah sehingga tidak terdengar.

Gi-lim mengulangi lagi pertanyaannya dan mendekatkan telinga kemuka orang itu. didengarnya napas orang itu agak memburu, seperti ingin bicara, tapi sukar bersuara.

Tiba- Gi-lim ingat bekerjanya obat Pek-hun-him-tan-wan sangat keras, orang yang sudah diberi minum obat itu seringkali harus pulas sampai setengah harian, itulah saat2 penting bekerjanya obat, dalam keadaan demikian tentu tidaklah layak dia bertanya terus menerus.

Dasar hati Gi-lim memang welas-asih, ia menghela napas pelahan dan menarik diri dari dalam kelambu, ia geser sebuah kursi dan berduduk didepan tempat tidur.

katanya lirih: "Biarlah kutanyai dia nanti kalau dia sudah agak lebih segar.”

"Cici, jiwa orang ini tak beralangan bukan?" tanya Fifi.

"Semoga dia dapat sembuh," jawab Gi-lim.

"Cuma luka di dadanya memang sangat parah, Fifi, sesungguhnya dia. . . .siapa dia ini?”

Fifi tidak menjawabnya, selang sejenak baru berkata: "Menurut pandangan kakekku, segala urusan duniawi tak dapat kau kesampingkan, katanya kau tidak pantas menjadi Nikoh.”

"Kakekmu kenal aku?" Gi-lim menegas dengan heran.

"dari. . .darimana dia mengetahui aku tak dapat mengesampingkan urusan orang hidup?”

"Kemarin, waktu makan di Cui-sian-lau. aku bersama kakek telah menyaksikan kalian bertempur dengan Thio Yan coan.”

"Ahhh!" Gi-lim bersuara terkejut. "Kiranya orang yang bersama kau itulah kakekmu?”

"Ya, kemarin kami sengaja menyamar sehingga si telur busuk Thio Yan-coan itu tak dapat mengenali kami," tutur Fifi dengan tertawa, "Dia paling takut kepada kakek, jika dia tahu kakek hadir disitu, mungkin pagi2 dia sudah kabur se-jauh2nya.”

Gi-lim berpikir: "Jika begitu, Waktu itu kalau kakekmu mau unjuk muka tentu dapat membuat Yan-coan lari ketakutan dan Sau-toako juga tidak perlu mati konyol.”

Namun sebagai orang yang alim, kata2 yang menyesali orang lain tidak nanti diucapkannya.

Tapi Fifi seperti tahu isi hatinya, katanya: "Dalam hati tentu kau menyesali kakekku karena tidak mau menghalau pergi Thio Yan-coan melainkan cuma menyaksikan kejadian itu sehingga Sau-toako tewas di tangan orang she Thio itu.”

-ooo0dw0ooo- 
Bagi para cianpwe yang mau donasi untuk biaya operasional Cerita Silat IndoMandarin dipersilahkan klik tombol merah dibawah ini :)

Posting Komentar