Kaki Tiga Menjangan Jilid 91

Jilid 91

Di saat pasukan negara Lo Sat sampai di depan tenda-tenda itu, mereka tidak melihat batang hidung seorang prajurit Kerajaan Ceng di sana, Tolbusin menerjang ke dalam tenda yang paling besar Di sana tampak makanan yang masih mengepulkan asap dan kendi arak berserakan di mana-mana, juga terdapat berbagai jenis batu permata, mantel berbulu tebal serta benda-benda berharga lainnya yang bertaburan di dalam tenda.

Tolbusin girang sekali melihatnya.

"Ha, ini pasti tenda Panglima bangsa bodoh itu. karena diserang secara tiba-tiba dia langsung mengambil langkah seribu serta tidak sempat lagi membereskan semua ini, Cepat kalian kejar! Tangkap panglima bangsa bodoh itu, Siapa yang berhasil akan mendapat hadiah besar Kalau dilihat dari isi tenda nya, barang-barang berharga yang dibawa orang itu pasti banyak sekali!" perintahnya.

Para serdadu Bangsa Lo Sat yang melihat harta sebanyak itu langsung menjadi hijau matanya. Mereka segeraberebut mengambili batu permata, emas intan yang berserakan di dalam tanah. Ada pula yang langsung mengambil kendi arak dan meneguknya sampai kering, Beberapa yang lainnya mencomot makanan lezat yang banyak sekali jumlahnya. 

Setelah mendengar perintah panglimanya, mereka baru berbondong-bondong ke luar untuk naik ke atas kuda dan mengejar ke arah selatan. 

Di sepanjang perjalanan tampak berceceran uang emas, batu permata, golok panjang, busur, dan anak panah, Para serdadu Lo Sat menduga bahwa prajurit Kerajaan Ceng terkejut setengah mati melihat kedatangan mereka lalu lari terbirit-birit. Bahkan senjata serta benda berharga yang jatuh berceceran pun tidak mereka perdulikan lagi,

Mereka meneruskan pengejaran Tidak seberapa jauh kemudian mereka kembali melihat sepasang sepatu dan beberapa topi tergeletak di tengah jalan.

"Rupanya panglima bangsa yang bodoh itu sudah mengganti pakaiannya untuk menyamar Kemungkinan sekarang dia menyamar menjadi prajurit biasa, jangan sampai terkecoh olehnya!" teriak Tolbusin.

"Ciangkun selalu meramal sesuatu dengan tepat, pasti begitulah kejadiannya!" sahut beberapa orang pengikutnya. Tolbusin juga menyuruh anak buahnya untuk mengambil sepatu serta topi yang mereka temukan.

"Kalau kita berhasil meringkus prajurit bangsa yang bodoh itu, suruh dia mengenakan sepatu dan topi itu untuk dicocokkan. Bagi yang pas, kemungkinan dialah sang panglima yang kita cari," katanya.

Sekali para serdadu Lo Sat memuji panglimanya, Siapa manusia di dunia ini yang tidak senang mendengar pujian?

Pengejaran pun diteruskan Tidak lama kemudian mereka kembali menemukan sebuah tenda besar Kecuali uang emas dan batu permata, kali ini tampak pakaian dalam wanita berserakan di mana-mana, warnanya mencolok pandangan mata, jantung para serdadu jadi berdegup-degup melihat pemandangan itu.

"Cepat kejar! Prajurit-prajurit bangsa bodoh itu juga membawa beberapa wanita!" teriak beberapa diantara nya.

Yang lain juga ikut bersemangat Apalagi di dalam tenda itu juga tercium bau pupur serta wewangian yang menyengat hidung, Mereka jadi yakin prajurit Kerajaan Ceng membawa sejumlah perempuan sebagai hiburan.

Mereka melanjutkan pencarian Dalam perjalanan mereka masih menemukan tujuh buah tenda lainnya, dari kejauhan terdengar suara teriakan hiruk-pikuk, Tulbosin segera mengeluarkan alat peneropong jarak jauh. Dia melihat sejumlah prajurit Ceng sedang berlari serabutan Rupanya pasukan mereka telah terpecah belah, Melihat keadaan ini hati Tulbosin jadi senang tidak terkatakan.

"Kita berhasil menyusul mereka!" serunya sambil menghunus goloknya dan diayun- ayunkannya ke atas. "Serang... Bunuh!" teriaknya dengan keras.

Dia segera memimpin pasukannya untuk menyerbu ke depan, Di tengah perjalanan mereka melihat beberapa ekor kuda milik prajurit Kerajaan Ceng tergeletak lemas. Bahkan ada beberapa diantaranya yang sudah mati.

"Kuda tunggangan bangsa bodoh itu tidak punya tenaga untuk berlari lagi!" seru beberapa serdadu Lo Sat.

Mereka melarikan kudanya dengan cepat, setelah agak dekat, mereka melihat para prajurit menyusup masuk ke sebuah celah di antara dua bukit.

Tolbusin mengejar sampai di depan bukit tersebut Untuk sesaat dia tertegun melihat keadaan di depan mata yang tidak menguntungkan bagi pihaknya.

-- Apabila pihak musuh tiba-tiba menyerbu ke luar, kami akan kewalahan menghadapinya. -- pikirnya dalam hati. Tiba-tiba dari dalam bukit terdengar seseorang berteriak dengan menggunakan Bahasa Lo Sat.

"Hei, prajurit bangsa bodoh, jadi kalian sudah menyerah? Bagus! Bagus!" Kemudian ada orang lainnya yang berseru pula.

"Ha ha ha! Kali ini prajurit Bangsa Cina mengalami kekalahan dengan mengenaskan!"

Suara orang itu terdengar seperti logat orang setempat Hal ini tidak perlu diragukan lagi. Tolbusin gembira sekali, Tanpa curiga sedikit pun, dia memimpin pasukannya menerjang ke celah di antara dua bukit Prajuritnya yang berjumlah dua ribu orang pun segera mengikuti di belakangnya.

"Pasukan mana yang ada di depan? Di mana kalian?" teriak Tolbusin. Dari tengah bukit terdengar sahutan puluhan orang.

"Kami di sini! Prajurit bangsa bodoh ini sudah menyerahkan diri!"

"Bagus!" seru Tolbusin, Baru saja dia menarik tali kendali kuda tunggangannya, dari belakang terdengar suara tembakan yang memekakkan telinga.

Tolbusin terkejut setengah mati. Dia membalikkan tubuhnya, tampak pepohonan di kedua sisi bukit penuh dengan asap tebal Cahaya api memijar-mijar. Di kedua sisi bukit muncul moncong senapan yang berbaris rapi, para serdadu Lo Sat menjerit-jerit kalang kabut.

"Membalik! Kita ke luar dari celah bukit ini!" teriak Tolbusin. Terdengar teriakan beribu-ribu orang dari kedua sisi bukit itu.

"Tentara Lo Sat, menyerahlah! Menyerahlah!" Suara itu begitu keras sehingga memekakkan telinga.

Sementara itu, ratusan batu dilempar ke luar sehingga menutupi jalan masuk celah kedua bukit itu. para serdadu Lo Sat menjadi panik, mereka saling mendorong untuk meloloskan diri, namun keadaannya justru semakin parah, Belum lagi bidikan anak panah yang gencar milik prajurit Kerajaan Ceng dari segala penjuru.

Diam-diam Tolbusin mengeluh, dia baru sadar dirinya telah terjerat perangkap yang dipasang musuh. Sekarang jalan masuk sudah tertutup, terpaksa dia memutar kembali kuda tunggangannya untuk menerjang ke arah lain.

"Semuanya terjang ke depan!" teriaknya memerintahkan. Baru saja melarikan kudanya beberapa depa, tiba-tiba dari arah depan terdengar suara ledakan dahsyat Berpuluh-puluh meriam ditembakkan ke arah mereka, Tampak berpuIuh-puluh serdadu Lo Sat yang memimpin di depan langsung mati terkena ledakan meriam. 

Kekagetan Tolbusin jangan ditanyakan lagi, sukmanya seakan melayang entah ke mana, Dia tidak pernah menyangka bahwa pasukan Kerajaan Ceng juga mempunyai perlengkapan senjata api yang tidak kurang hebatnya. 

Apalagi mereka sudah mempersiapkan meriam-meriam di ujung celah kedua bukit itu. Dengan panik dia melompat turun dari kudanya.

"Tinggalkan kuda kalian! Gunakan senapan untuk menyerbu ke luar dari arah kita masuk tadi!" teriaknya gugup.

Para serdadu itu segera melompat turun dari kuda masing-masing, Keadaan semakin kacau, beratus-ratus orang berusaha memanjat ke atas bebatuan untuk meloloskan diri, namun masih ada tersisa beberapa puluh orang yang masih bisa menggunakan akal sehatnya. 

Mereka menembaki prajurit Kerajaan Ceng untuk melindungi teman-temannya yang sedang berusaha meloloskan diri, Tembakan para serdadu itu cukup hebat Belasan prajurit Kerajaan Ceng terkena sasarannya. 

Tapi meriam yang ditembakkan oleh pihak Siau Po juga tidak kurang dahsyatnya.

Beratus-ratus serdadu Lo Sat berusaha melarikan diri, namun meriam-meriam serta granat yang dilemparkan ke arah mereka mencegahnya, Suara dentuman yang keras semakin menggema di udara, sebagian serdadu itu tidak sempat menyelamatkan diri, Kepala mereka terpisah dari leher karena ledakan meriam, ada pula yang kehilangan empat anggota tubuhnya, sedangkan yang belum terkena musibah segera mengundurkan diri daripada mati konyol

Tampaknya kalau perang ini dilanjutkan pihak seradu Lo Sat akan mengalami kekalahan tragis, bahkan ada kemungkinan semuanya mati tanpa tersisa seorang pun. Melihat situasi yang gawat ini, Panglima Tolbusin segera berteriak.

"Jangan menembak lagi! Kami menyerah!" sayangnya suara ledakan meriam dan tembakan senapan terlalu keras sehingga menutupi teriakannya. Tidak ada yang mendengar Buktinya meriam masih diledakkan dan senapan pun tetap mengeluarkan tembakan.

Beberapa serdadu yang ada di sisinya segera ikut berteriak. "Hentikan tembakan! Hentikan tembakan!" Prajurit Kerajaan Ceng pun berhenti menembak. Terdengar seseorang berseru dengan bahasa Lo Sat.

"Lemparkan senapan kalian, buang senjata yang lain, lepaskan semua pakaian kalian!"

Tulbusin marah sekali mendengar teriakan itu.

"Kami akan membuang semua senjata tapi tidak boleh menyuruh kami melepaskan pakaian!" sahutnya lantang.

Dari antara prajurit Kerajaan Ceng kembali terdengar seruan.

"Buang senapan kalian, lepaskan pakaian! Siapa yang menurut akan diundang minum arak, yang membangkang pasti mati!"

"Kami tidak akan melepaskan pakaian!" sahut ToIbusin sekali lagi.

Baru saja teriakannya lenyap, kembali terdengar suara ledakan, Rupanya prajurit Kerajaan Ceng menembakkan meriam mereka sekali lagi, Sebagian besar serdadu Lo Sat takut mati, mereka segera melemparkan senapan atau senjata lainnya dari tangan masing-masing lalu mulai membuka pakaiannya satu per satu.

ToIbusin mengeluarkan sebatang tombak pendek lalu ditimpukkannya ke arah salah seorang serdadunya yang sedang melepaskan pakaian sehingga orang itu mati seketika.

"Siapa yang berani melepaskan pakaiannya akan mendapat hukuman mati!" teriaknya.

Meskipun demikian, di bawah tembakan meriam yang semakin lama semakin gencar, mereka terpaksa mengabaikan perintah panglimanya, Belasan serdadu segera membuka pakaian mereka sehingga telanjang bulat Setelah itu mereka memanjat ke atas bebatuan. pemandangan itu tentu lucu sekali Para prajurit Kerajaan Ceng tertawa terbahak-bahak sambil bertepuk tangan.

"Cepat buka pakaian kalian!" seru mereka beramai-ramai.

Serdadu yang melepaskan pakaiannya semakin lama semakin banyak, Lagi-lagi ToIbusin menimpuk dengan tombak pendeknya, Dua serdadu yang terkena sasaran mati seketika. Tapi bagaimana mungkin dia sanggup membunuh serdadu yang jumlahnya demikian banyak?

Prajurit Kerajaan Ceng tidak menembakkan meriam lagi, Dari atas bukit terdengar seseorang berseru.

"Siapa yang ingin hidup cepat lepas pakaiannya dan panjat ke mari!" Pada saat itu, hampir seluruh serdadu Lo Sat tidak berniat melakukan perkelahian lagi, Mereka sibuk melepaskan ikat pinggang dan seluruh pakaian.

ToIbusin menarik nafas panjang, Dia mengangkat tombak pendeknya ke atas dan bersiap-siap untuk menghunjamkan senjata itu ke ubun-ubun kepalanya sendiri, namun seorang serdadu yang rupanya merupakan wakil komandan pasukan pertama segera menarik tangannya dan berkata.

"Ciangkun, kau tidak boleh berbuat demikian. Elang yang mempunyai sayap baru bisa terbang tinggi di atas gunung!"

Pepatah dalam Bahasa Lo Sat itu kira-kira mempunyai arti yang sama dengan pepatah "Selagi gunung masih menghijau, jangan takut kekurangan kayu bakar" dari Cina.

Dari antara para prajurit Kerajaan Ceng kembali terdengar seseorang berteriak dengan menggunakan Bahasa Lo Sat.

"Kalian lekas buka pakaian Tolbusin, kemudian kalian ke luar bersama-sama! Kalau tidak, aku akan memerintahkan orang-orangku untuk menembakkan meriam lagi!"

Kata Bahasa Lo Sat ini diucapkan dengan fasih, Yang menyerukannya justru para serdadu negara Lo Sat yang telah menyerahkan diri. Tentu saja mereka dipaksa untuk menyerukannya.

Hawa amarah Tolbusin benar-benar meluap, Tapi berpuluh-puIuh pasang mata anak buahnya menatap dirinya lekat-lekat. Dia tahu mereka juga merasa malu, Akhirnya dia bertekad untuk membunuh diri. Tangannya segera terjulur untuk menghunus pedang panjang di pinggangnya.

Namun baru saja berhasil menyentuh gagang pedang tersebut, tujuh delapan serdadu sudah menomplok ke arah tubuhnya dan meringkusnya hidup-hidup, Ada yang memegangi kepalanya, ada yang sibuk melepaskan pakaiannya. Dalam sekejap mata Tolbusin sudah telanjang bulat. Tubuhnya diangkat oleh para serdadu dan digotong ke luar dari celah bebatuan.

Setiap ada serdadu Lo Sat yang memanjat ke luar maka ada dua orang prajurit Kerajaan Ceng yang menghampirinya lalu mengikat kedua tangannya ke belakang. Setelah itu mereka digiring meninggalkan tempat itu sejauh beberapa li. Dalam gebrakan kali ini, hampir seluruh serdadu Lo Sat kecuali yang mati sebanyak enam ratus orang lebih telah terikat tangannya dan dijejerkan di sebuah tanah kosong. 

Tubuh mereka semuanya telanjang bulat Ketika angin dingin berhembus, tampak tubuh mereka menggigil kedinginan. Prajurit Kerajaan Ceng menggiring Tolbusin dan menempatkannya di barisan paling depan, padahal saat itu serdadu Lo Sat sendiri merasa kecewa sekali sehingga mereka menundukkan kepalanya dalam-dalam. 

Namun ketika mereka melihat sang panglima yang sehari-harinya sangat garang dan saat ini dapat diperlakukan sedemikian rupa, diam-diam jadi merasa geli, Ada beberapa serdadu yang merasa lucu melihat pantatnya yang bulat sehingga tertawa cekikikan yang lainnya pun jadi ikut memperhatikan. 

Dalam waktu yang singkat suasana di tempat itu jadi riuh karena suara tertawa yang ramai. Hampir seluruh serdadu Lo Sat yang kena ditawan dan para prajurit Kerajaan Ceng tertawa terbahak-bahak menyaksikan pemandangan tersebut.

Tolbusin marah sekali, dia menolehkan kepalanya dan membentak.

"Siapa! Apa yang kalian tertawakan?" Namun kata-katanya terhenti seketika, Dia baru ingat bahwa saat ini dia tidak mengenakan sehelai benang pun, dengan bersikap garang seperti ini kelihatannya malah semakin lucu, walaupun dalam hati mereka masih tersisa rasa gentar akan wibawa yang ditunjukkan sang panglima sehari-harinya, namun pada saat ini siapa yang sanggup menahan rasa geli dalam hatinya?

Tiba-tiba terdengar suara tembakan meriam sebanyak tiga kali Kemudian tampak serombongan pasukan berkuda mendatangi orang yang ada di bagian terdepan membawa bendera biru. 

Di belakangnya menyusul lagi rombongan berkuda yang lain, kali ini yang dibawanya bendera kuning, sedangkan rombongan yang terakhir membawa bendera merah bertuliskan "Tay Ceng Lu Ting Kong Wi" yang artinya pangkat Lu Ting Kong, orangnya she Wi dan mewakili Kerajaan Ceng yang besar. 

Setelah sampai di hadapan para tawanan, rombongan berkuda yang membawa bendera biru dan kuning menggeser diri menjadi dua rombongan di kanan kiri sedangkan rombongan bendera merah berbaris rapi di tengah-tengah. 

Tampak di bagian paling depan duduk bertengger di atas kudanya seorang pemuda yang mengenakan mantel berwarna merah, topinya berwarna merah juga dan tangannya sedang mengibaskan sebuah kipas, Lagaknya lucu sekali Dia tentu si pemuda konyol Wi Siau Po.

Dia menggerakkan kudanya ke depan lalu tertawa terbahak-bahak pada saat itu Tolbusin sedang gusar sekali, sedangkan dia tidak mempunyai wadah untuk melampiaskannya. 

Sejak tadi hatinya sudah dingin, dia sudah tidak memperdulikan mati hidupnya lagi Karena itu dia memaki dengan suara lantang. "Bocah Cina, kau menggunakan siasat jahat untuk meringkus kami, itu bukanlah perbuatan para pendekar! Kalau mau bunuh, silahkan, Kenapa kau harus memperlakukan kami dengan cara demikian? Mengapa kau harus mempermalukan kami di depan umum?"

Siau Po tertawa.

"Bagaimana aku membuatmu malu?" tanyanya santai. Tolbusin semakin berang.

"Kau lihat sendiri ke... adaanku i... ni, apakah ini bukan suatu hinaan namanya?" Kembali Siau Po tertawa.

"Celanamu itu... siapa yang melepaskannya?"

Tolbusin segera sadar bahwa tuduhannya tidak tepat, Sudah jelas celananya dilepaskan dengan paksa oleh anak buahnya sendiri, bagaimana mungkin dia menyalahkan pemuda pesolek ini? Dalam keadaan marah besar, wajahnya berubah merah padam. Dia lalu memberontak dan menerjang ke depan seakan hendak mengadu jiwa dengan Siau Po. 

Empat orang prajurit segera mengangkat senapan mereka dan menudingkannya ke arah Tolbusin. Panglima itu merasa tidak berdaya, terpaksa dia menghentikan gerakan kakinya, Tanpa sadar dia menurunkan tangannya untuk menutupi bagian bawah tubuhnya (memang hanya Tolbusin seorang yang tangannya diikat ke depan). 

Tindakannya itu justru menimbulkan lagi rasa geli di hati kedua belah pihak sehingga suara tawa kembali riuh.

"Kalau kau benar-benar menyerah, maka kau harus mengikuti Kerajaan Ceng kami yang besar, sekarang juga kau berangkat ke Pe King untuk menyembah kepada Sri Baginda," kata Siau Po.

"Aku tidak akan menyerah! Biar pun tubuhku dipotong menjadi beberapa bagian, aku tidak akan menyerah!" sahut Tolbusin.

Siau Po mengeraskan suaranya untuk bertanya kepada para serdadu Lo Sat. "Bagaimana dengan kalian? Apakah kalian menyatakan takluk kepada Kerajaan 

Ceng kami yang besar?"

Tidak ada jawaban atau pun reaksi dari para serdadu itu. Mereka menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Baik, rupanya kalian tidak benar-benar menyerah panggil tukang masak!" teriak Siau Po pula.

Sepuluh orang tukang masak berjalan ke luar, di belakangnya mengiringi beberapa orang cong peng yang membawakan sebuah tungku api. Mereka berdiri untuk menanti perintah selanjutnya.

Siau Po menoleh kembali kepada Tolbusin.

"Di Negara Lo Sat kalian ada semacam hidangan yang bernama "Sia sunik", rasanya boleh juga, sekarang tiba-tiba saja aku kepingin makan lagi hidangan itu. Sudah cukup lama aku tidak merasakannya yakni sejak kembali dari Moskow!" katanya kemudian menoleh lagi kepada ke sepuluh orang tukang masak tadi dan memerintahkan "Buatkan hidangan "Sia sunik"

"Terima perintah," sahut ke sepuluh tukang masak itu serentak.

Tungku api dinyalakan, di atasnya disampirkan selembar jala kawat. Dalam sekejap mata jala kawat itu sudah merah membara karena apinya yang besar, Para serdadu Lo Sat saling memandang. Mereka tidak tahu permainan apa lagi yang akan ditunjukkan oleh para prajurit Cina itu.

Siau Po mengibaskan tangannya, dua puluh anak buahnya segera menyeret ke luar sepuluh serdadu Lo Sat. Dengan Bahasa Lo Sat Siau Po berseru.

"Potong bagian bawah tubuh mereka untuk dijadikan "Sia sunik"!"

Sia sunik adalah sejenis hidangan seperti sosis yang dipanggang di atas api. Hidangan khas ini sangat terkenal di Negara Lo Sat.

Sepuluh orang koki tadi segera menghampiri serdadu Lo Sat yang diseret ke luar, Golok mereka yang berkilau saking tajamnya diangkat tinggi ke atas lalu dibacokkan ke bawah kemudian terdengar suara jeritan yang memilukan. 

Ketika para serdadu itu diseret ke daerah perbukitan, di atas tanah tampak sisa darah yang berceceran Seakan suatu hal yang sudah biasa, tukang masak Siau Po langsung menusuk setiap alat kelamin ke dalam sebatang pesi panjang lalu dipanggangnya di atas api. 

Suara peletekan dan bau hangus pun tersebar Dapat dibayangkan bagaimana perasaan para serdadu Lo Sat lainnya ketika melihat daging rekan mereka dipanggang sedemikian rupa, Wajah mereka tampak pucat pasi dan kepala mereka semakin menunduk.

"Seret lagi sepuluh serdadu Lo Sat untuk dibuat "Sia sunik"!" teriak Siau Po sekali lagi. Dua puluh prajurit Cina pun ke luar menyeret mereka, Di antara sepuluh serdadu yang terpilih, empat di antaranya sudah tidak dapat menahan diri lagi.

"Menyerah! Menyerah!" teriak mereka serentak.

"Baik, Bagi yang menyerah boleh kalian bawa ke bagian bendera putih di sana!" kata Siau Po sambil menunjuk pada sebuah bendera putih yang entah sejak kapan dipalangkan pada dahan sebatang pohon.

Empat serdadu itu dibawa ke bawah pohon, Tidak lama kemudian ada prajurit yang datang mengantarkan arak dan makanan.

Beberapa prajurit kembali menyeret ke luar empat orang serdadu lainnya untuk melengkapi jumlah yang sudah berkurang. Empat serdadu itu melihat rekan-rekannya yang sudah menyerah malah mendapat arak dan makanan, sedangkan yang keras kepala akan ditebas bagian bawah tubuhnya untuk dijadikan "Sia sunik", mereka segera mengambil keputusan.

"Menyerah! Kami menyerah!"

Sedangkan ke enam serdadu yang pertama-tama diseret keluar juga sadar apa yang sedang mereka hadapi, maka mereka pun ikut berseru.

"Menyerah! Kami juga menyerah!"

Kalau sudah ada satu yang mulai, biasanya pengikut yang latah pasti banyak, apalagi untuk urusan yang enak, Suara teriakan "menyerah" memecahkan kesunyian yang mencekam Malah sebagian besar tidak perlu diseret keluar lagi oleh para cong peng. Mereka berhamburan lari ke bawah bendera putih. 

Dalam sekejap mata seribu lebih serdadu Lo Sat sudah menyerahkan diri, Di tempat semula hanya tertinggal Tolbusin seorang yang masih berdiri dengan tegak.

"Bagaimana? Apakah kau sudah mau menyerah sekarang?" tanya Siau Po. "Lebih baik mati daripada menyerah!" sahut Tolbusin tegas.

"Baiklah, aku akan mengembalikan kau ke Ya Ke Lung!" ujar Siau Po, lalu memerintahkan anak buahnya untuk mengantar Totbusin ke Ya Ke Lung.

Tadinya Tolbusin sudah yakin, kalau dia bersikap keras kepala, paling-paling dia akan dibunuh oleh prajurit-prajurit Kerajaan Ceng ini. Ternyata sekarang dia mendengar perintah untuk melepaskan dirinya, hal ini benar-benar di luar dugaan Tolbusin.

"Kalau kau memang bersedia melepaskan aku, kembalikanlah pakaianku!" kata ToIbusin. Siau Po tersenyum.

"Pakaian sih tidak boleh dikembalikan lagi," katanya. Dia lalu menurunkan perintah lagi kepada anak buahnya, "Kalian antar dia sampai perbatasan kota Ya Ke Lung, sampaikan pesanku bahwa untuk sementara peperangan dihentikan. Kalian harus menggiring manusia bugil ini keliling tembok kota sebanyak tiga kali baru boleh membawanya masuk."

Ang Cao yang selaku Komandan segera mengiakan Di bawah suara tertawa yang riuh dari para prajurit, dia membawa pasukannya untuk menggiring Tolbusin meninggalkan tempat itu.

"Mohon bertanya kepada Panglima, kita sudah berhasil menangkap panglima musuh, mengapa kemudian dilepaskan lagi?" tanya Lim Heng Cu. "Apabila dibalik persoalan ini ada siasat yang ajaib, bolehkah panglima menjelaskan nya kepada kami?"

Siau Po tertawa.

"Hari ini kita berhasil memenangkan peperangan dengan gemilang, tahukah kalian siasat apa yang kupakai?"

"Otak Thayswe (Panglima) sangat cerdas, siasat yang terpikirkan pun pasti ajaib tidak terkira, dalam hal ini hamba-hambamu merasa kagum sekali," sahut Li Heng Cu.

Siau Po menggelengkan kepalanya.

"Bukan siasatku yang ajaib, melainkan strategi sakti yang disusun oleh Sri Baginda, Beliau berkata, dulu Cu Kek Liang berhasil memenangkan peperangan dengan gemilang, kita harus banyak belajar dari pengalaman tokoh besar itu. Apakah kau pernah menonton sandiwara tentang tokoh Cu Kek Liang? Taruhlah kau tidak pernah menonton sandiwara ini, tetapi pasti kau pernah mendengar kisahnya dari gurumu, bukan? 

Cu Kek Liang memerintahkan Wei Seng untuk berperang, dia hanya boleh kalah tidak boleh menang, Wei Seng mengalami kekalahan selama lima belas kali berturut- turut dan pihak Beng Hok berhasil merebut tujuh buah tenda mereka, Kemudian Beng Hok dipancing masuk ke Lembah Pan Coa Kok, akhirnya dengan api Wei Seng mengurung musuhnya sehingga terbakar hidup-hidup di dalam lembah. Siasat yang kita gunakan hari ini merupakan pemikiran Cu Kek Liang tempo dulu," katanya menjelaskan.

Para prajurit menyatakan kekaguman.

"Sri Baginda berjiwa pengasih, Beliau mengatakan bahwa cara Cu Kek Liang membakar hidup-hidup musuhnya di dalam lembah Pan Coa Kok terlalu sadis, Kita bangsa yang beradab dan sudah lebih pandai lagi harus bisa mengendalikan diri. Apabila para serdadu Lo Sat memang benar-benar takluk, kita harus mengampuni jiwa mereka," kata Siau Po pula. "Kalau bukan Thayswe yang cerdas menggunakan siasat "Sia sunik" dan memanggang daging beberapa orang dari mereka, belum tentu serdadu-serdadu itu sudi menyerahkan diri. Mereka begitu keras kepala. Namun setiap manusia pasti ada rasa takut menghadapi kematian, apalagi dengan cara sedemikian rupa. Menurut hamba, siasat Thayswe kali ini bahkan lebih cemerlang daripada siasat Cu Kek Liang tempo dulu," sahut seorang komandan pasukan.

Siau Po tertawa.

"Aku tidak akan berbuat sekejam itu, sebetulnya di dalam saku para tukang masak itu sudah tersedia sepuluh potongan daging sapi yang masih segar. Kami sudah yakin bahwa tidak ada seorang pun yang sampai hati melihat dengan mata terbelalak di saat temannya dihukum mati. 

Apalagi dengan cara demikian padahal beberapa cong peng itu sudah mendapat kisikan, mereka hanya menebas bagian paha para serdadu itu sehingga darah berceceran Biar bagaimana rasa sakitnya pasti tidak berbeda jauh, itulah sebabnya mereka menjerit histeris. sedangkan yang dipanggang di atas api tidak lain dari sepuluh potong daging sapi yang telah disediakan Kalau kalian ingin tahu bagaimana rasanya, silahkan mencobanya sendiri."

Tentu saja prajurit yang lain jadi tertawa terbahak-bahak. Mereka segera mengambil potongan daging sapi dari atas tungku pembakaran Ternyata apa yang dikatakan Siau Po memang benar, rasanya gurih dan lezat.

"Thayswe melepaskan panglima musuh begitu saja, apakah maksudnya agar dia menjadi jera serta tidak berani lagi memimpin pasukan untuk menyerang kita?" tanya beberapa orang prajurit.

"Bukan begitu maksudku, Tentang urusan ini, ketika di Kotaraja aku pun pernah menanyakannya kepada Sri Baginda, Aku menyebut Hong Siang sebagai Niau Seng Hi Tong. jiwanya besar dan berbudi tinggi, Apakah kita harus meniru cara Cu Kek Liang, yakni setelah berhasil menangkap panglima Lo Sat lalu melepaskannya sebanyak tujuh kali? Sri Baginda mengatakan bahwa itu merupakan suatu kesalahan. 

Cu Kek Liang berhasil meringkus seorang raja, sedangkan yang tertangkap oleh kita kemungkinan hanya seorang panglima, Andaikata dia menyatakan bahwa dia tidak berani memberontak lagi, tetap saja tidak ada gunanya, karena tampuk kekuasaan bukan terletak pada dirinya, Raja atau ratu dari Lo Sat masih bisa mengutus panglima yang lain untuk menyerang kita," kata Siau Po menjelaskan.

Para prajurit membenarkan pendapat rajanya, "Serdadu Lo Sat yang berjaga di Ya Ke Lung sangat kejam, Persenjataan yang dimiliki mereka pun hebat sekali, Kalau kita membunuh panglimanya tadi, mereka masih bisa memilih seorang panglima yang lain untuk memimpin pasukan yang lebih besar berperang mati-matian dengan kita.  Tapi aku justru menyuruh orang-orang kita menggiring panglimanya yang telanjang bulat kembali ke sana, mereka harus mengaraknya mengelilingi tembok kota sebanyak tiga kali, Serdadu Lo Sat pasti melihatnya, dan sejak sekarang panglima itu tidak dihargai lagi. Kelak apabila dia memberikan perintah apa pun, anak buahnya belum tentu mau mendengarkan," kata Siau Po pula. 

Sekali lagi para prajuritnya mengiakan "Apakah Sri Baginda pula yang berpesan agar seluruh pakaian panglima itu harus dilepaskan?" tanya Lim Heng Cu.

Siau Po tertawa terbahak-bahak "Mana mungkin Sri Baginda berbuat senekad itu? Beliau hanya menyuruhku mencari akal agar semangat kita tetap terbangun dan musuh menjadi gentar sehingga kita sanggup mengalahkan Bangsa Lo Sat. Sri Baginda berkata: Serdadu Lo Sat bertubuh tinggi besar, seluruh tubuh tertutup oleh bulu yang lebat puIa, dan tampangnya seperti orang liar. 

Senjata api mereka hebat-hebat pula, Apabila para prajuritku melihat tampang mereka yang kasar, mungkin bisa timbul rasa takut dalam hati, Begitu semangat pudar, maka untuk mencapai kemenangan bukanlah hal yang mudah lagi, Sri Baginda berkata pula. 

"Siau Kui Cu, kau paling banyak akal muslihatnya, pokoknya aku tidak mau tahu, kau harus melakukan sesuatu agar para prajuritku memandang hina serdadu bangsa liar itu", sepanjang malam aku tidak bisa tidur, aku terus mengasah otak mencari jalan melaksanakan pesan Sri Baginda, sampai lama aku kebingungan. Akhirnya aku teringat masa kecilku ketika suka bermain judi."

"Apa hubungannya antara serdadu Lo Sat dan kisah berjudi Thayswe di masa kecil?" tanya seorang prajurit.

"Ketika kecil aku sering bermain judi di kota Lok Yang, sifatku memang jelek. Kalau menang masuk kantong, kalau kalah justru tidak mau mengakuinya, Diajak berkelahi selalu ayo saja, tidak pernah ada rasa takut terhadap siapa pun, Sampai suatu hari aku benar-benar kapok dibuatnya. 

Orang yang memenangkan perjudian menyuruh rekan-rekannya meringkusku, Setelah celanaku juga dilepasnya, lalu aku disuruh pulang dengan tubuh telanjang, sepanjang perjalanan aku ditertawai oleh para penduduk, malunya bukan main. 

Untuk selanjutnya aku tidak berani main gila lagi, Kalau kalah ya kalah, kalau menang, boleh saja main curang asal jangan ketahuan pihak lawan."

Anak buahnya tertawa terbahak-bahak mendengar ceritanya.

"Sri Baginda mengatakan bahwa dalam perangan kita harus banyak akal dan pandai melihat situasi Sri Baginda memang bisa memberikan berbagai saran, tapi sampai waktunya bagaimana pun harus menjalani sendiri Aku ingat ketika aku kecil saja masih tahu betapa malunya kalau celanaku dilepaskan orang, masa Bangsa Lo Sat tidak takut  diperlakukan serupa? Ternyata memang sama, begitu disuruh telanjang, mereka segera menyatakan takluk," kata Siau Po selanjutnya.

Para prajurit memuji dirinya, dan merasa kagum sekali Beberapa diantaranya berpikir.

-- ilmu melepas celana ini belum pernah ada, bahkan dari jaman Dinasti Sung. Ternyata ilmu panglima Wi cukup lihai -

Setelah itu, Siau Po menyuruh para serdadu Lo Sat untuk mengganti pakaiannya dengan seragam Kerajaan Ceng lalu di bawah iringan seorang komandan, mereka berangkat menuju Kotaraja untuk dipersembahkan kepada Kaisar Kong Hi.

Dalam rombongan Siau Po sekarang hanya tertinggal dua puluhan serdadu Lo Sat. Dia mempertahankan sedikit sisanya agar dapat dimanfaatkan apabila terjadi kesulitan dalam berkomunikasi.

Malam itu juga Siau Po memanggil ketiga panglima lainnya, mereka diharuskan menggempur Kota Ya Ke Lung. Keesokan harinya, dia pribadi membawa sepasukan prajurit untuk menyusul mereka, Dari jauh saja sudah terdengar suara dentuman meriam Asap senjata-senjata api yang digunakan sampai mengepul ke atas langit. Suara bentakan dan jeritan kedua belah pihak terdengar dari dalam maupun luar kota.

Komandan pasukan Peng Cun yang mendapat tugas menyerang kota tersebut melaporkan bahwa senjata api serta meriam serdadu Lo Sat hebat sekali. Banyak prajurit Kerajaan Ceng yang menjadi korban.

"Tambah meriam kita dan gempur terus!" teriak Siau Po.

Peng Cun segera melaksanakan tugas yang diberikan Tidak lama kemudian berpuluh-putuh meriam dipencarkan ke sekeliling tembok kota, Kali ini dentuman meriam yang terdengar lebih dahsyat dari sebelumnya.

Selama beberapa hari berturut-turut peperangan terus berlangsung. Tampaknya kedua pihak sama-sama dirugikan. Malah kalau dihitung-hitung, lebih banyak prajurit kerajaan Ceng yang mati atau terluka parah.

Pelipis kanan panglima Lu Pu Suk terserempet peluru, untung Lim Heng Cu dengan sigap menariknya ke luar dari kancah peperangan panglima Lung segera mendapatkan pertolongan. Tampaknya nasib orang ini masih cukup terang, peluru yang mengenai dirinya tidak sampai menembus ke dalam otak.

Siau Po memberikan hadiah kepada Lim Heng Cu atas jasanya, Dia juga memerintahkan anak buahnya untuk mendirikan tenda sejauh lima li dari pintu gerbang kota. Beberapa prajurit memberikan pendapatnya kepada Siau Po.  Ada yang mengusulkan anak muda itu menggunakan cara yang sama dengan sebelumnya yakni memancing musuh ke tempat yang sudah terkepung sehingga dapat diledakkan sekaligus, ada pula yang menyarankan agar menggali jalan dari bawah tanah untuk melakukan penyerangan.

Cara menggali jalan di bawah tanah ini memang sudah Iama ada di Negara Cina. Beberapa kali negara ini berhasil dalam perang justru menggunakan tradisi kuno ini. Dan saran yang diberikan oleh salah seorang prajurit Kerajaan Ceng tersebut justru memberi ilham kepada Siau Po.

Dia tahu di dalam kota Ya Ke Lung memang ada sebuah jalan di bawah tanah, di situlah dia pernah memeluk tubuh Ratu Sophia yang bugil, Rasanya ingin sekali kembali ke masa itu. Tanpa sadar mimik wajahnya jadi aneh, bibirnya tersenyum- senyum. 

Para prajurit yang menyaksikan hal itu mengira panglima-nya telah menemukan siasat yang jitu untuk menggempur lawan, karena itu tidak ada seorang pun yang berani membuka suara.

Dalam hati Siau Po berpikir.

- Bagaimana kalau Ratu Sophia tiba-tiba muncul di kota Ya Ke Lung dan memimpin pasukannya untuk menyerang kami? Kali ini aku harus memeluknya lebih erat, Oh, indahnya tubuh yang penuh dengan bulu emas itu! --

Para prajuritnya masih menantikan keputusan Siau Po. Mereka tidak mengerti apa yang dipikirkan Siau Po. Tampang anak muda itu aneh sekah, Kadang-kadang matanya setengah terpejam seakan sedang membayangkan sesuatu yang indah, Kadang- kadang bibirnya bergerak-gerak seakan sedang bersenandung, namun mereka tetap tidak berani mengganggunya.

Tiba-tiba terdengar Siau Po berkata, "Kurang ajar, bikin orang penasaran!" 

"Memang betul," sahut Ang Cao. "Sudah berapa kali kita menyerang serdadu Lo Sat, namun hasilnya tidak memuaskan, kota Ya Ke Lung masih belum berhasil kita rebut kembali Bagaimana kita tidak jadi penasaran dibuatnya?"

Namun Siau Po sedang memikirkan tubuh ratu Sophia yang halus, telinganya seakan tersumbat sehingga dia tidak mendengar apa yang dikatakan Ang Cao.

Terdengar dia menggumam kembali, "Aih, masa bodoh! Biar barang rongsokan dari Lo Sat itu bagaimana lihainya, suatu hari aku pasti mendapatkan jalan ke luar untuk mengatasinya!"

"Apa yang dikatakan Thayswe memang benar, bagaimana pun lihainya Bangsa Lo Sat, kita pasti akan menemukan jalan untuk mengalahkannya," sahut Peng Chun. Siau Po seperti tersentak mendengar kata-katanya,

"Apa? Kau juga ingin meraba perempuan rongsokan itu? Boleh! Boleh! Tapi kau harus hati-hati, jangan sampai melupakan anak istrimu di rumah!" katanya sambil tertawa terbahak-bahak

Peng Cun kebingungan namun tidak berani banyak bertanya, Siau Po menggebrak meja keras-keras.

"Bagus! ide saudara-saudara sekalian semuanya bagus! Tapi jalan di bawah tanah itu terlalu sempit, lagipula tembusnya ke kamar sang Panglima, kemungkinan sekarang sudah disumbat Mulai besok pagi kalian harus mulai menggali lagi!"

Para prajurit tentu saja merasa senang mendengar usul mereka dapat digunakan walaupun dalam hati mereka menganggap sikap Siau Po angin-anginan, Kadang- kadang mereka tidak mengerti jalan pikiran anak muda itu.

Pada keesokan harinya mereka mulai menggali terowongan, Selama itu peperangan masih berlangsung. Prajurit Siau Po masih belum berhasil menemukan titik kelemahan lawan, Korban yang jatuh semakin banyak, Apalagi setelah Tolbusin mendengar selentingan bahwa pihak Kerajaan Ceng sedang menggali jalan di bawah tanah. Diam- diam dia meletakkan beberapa bom di sana sehingga ratusan anak buah Siau Po mati seketika.

Siau Po semakin kesal, Kepalanya terasa hendak pecah memikirkan jalan untuk memenangkan peperangan ini. sedangkan cuaca semakin hari semakin dingin. wilayah ini merupakan wilayah paling dingin di utara, Begitu masuk musim gugur saja, angin sudah terasa menggigilkan, apalagi musim salju di penghujung tahun. 

Setiap air yang menetes segera berubah menjadi es. Hidung dan telinga terasa akan copot dari tempatnya, Kaki dan tangan membeku. para sukarelawan yang membantu prajurit Kerajaan Ceng merasa tidak tahan lagi, Mereka mengatakan bahwa mereka ingin memohon diri untuk kembali ke tempat masing-masing. Sampai tahun depan musim semi mereka baru datang lagi untuk memberikan bantuan,

Lung Pu Suk dan Pa Hai pernah tinggal lama di daerah utara, Mereka tahu bagaimana dinginnya cuaca di musim salju, Tidak mengherankan apabila sebagian prajurit bisa mati kedinginan Apalagi mereka tidur di dalam tenda. 

Berbeda dengan serdadu Lo Sat yang tinggal di dalam rumah. Tembok rumah lebih lama menyerap hawa dingin daripada tenda yang terbuat dari kain terpal.

Akhirnya Siau Po mengambil keputusan untuk mengundurkan diri sementara, Mereka harus menemukan cara yang lebih efisien untuk mengalahkan Bangsa Lo Sat.

Ketika serdadu Lo Sat melihat prajurit Kerajaan Ceng mengundurkan diri, mereka menganggap lawannya sudah keok. Mereka bersorak dan bertepuk tangan keras-keras,  bahkan ada sebagian yang naik ke atas tembok kota dan membuka celananya serta seenaknya membuang air kecil. 

Tentu saja Siau Po mendongkol sekali, Tangannya menunjuk ke arah tembok kota dan memaki-maki, Salah seorang prajuritnya berkata.

"Serdadu-serdadu Lo Sat seperti binatang liar, Thayswe tidak usah memperdulikan mereka."

"Tidak bisa! Kekalahan kita terlalu memalukan!" teriaknya, Kemudian dia menyuruh anak buahnya membawakan selang air yang besar.

Selang air itu gunanya untuk memadamkan kebakaran Dalam peperangan mereka selalu menyediakannya, sebab ada kemungkinan tenda-tenda mereka dibakar musuh atau kejadian lainnya yang tidak terduga-duga,

Para prajurit Kerajaan Ceng membawakan belasan selang air yang besar Namun benda-benda itu tidak ada gunanya karena tidak dapat menyedot air. Bukannya tidak bisa tapi air sungai telah membeku menjadi es. Sekali lagi Siau Po menyuruh anak buahnya menyediakan kuali raksasa. 

Mereka segera menyalakan api dan memasak es dari salju sehingga mencair Setelah itu air panas dituang ke dalam sebuah corong yang mengalir ke dalam selang, Siau Po membuka celananya lalu mengencingi air panas tersebut.

"Semburkan ke arah kota!" perintahnya.

Para prajurit tahu bahwa Siau Po telah mendapatkan akal yang jitu untuk membalas hinaan pihak Lo Sat, Tanpa disuruh lagi mereka segera turun tangan membantu Ada yang memasak es, ada yang menuangkannya ke dalam selang dan sisanya menyemprotkan air panas itu ke arah kota, Beberapa diantaranya malah berseru,

"Wi Thayswe mempersembahkan sirop air seni untuk diminum serdadu Lo Sat!"

Begitu air panas menyemprot ke dalam kota, para serdadu Lo Sat segera menghindarkan diri sambil mencaci maki.

-- Anak muda ini benar-benar iseng! -- pikir beberapa komandan pasukan Namun ada sebagian pula yang ingin mengambil hati panglima besarnya sehingga bertepuk tangan menyerukan pujian.

Sayangnya cuaca terlalu dingin, air yang dimasukkan ke dalam selang pun sebentar saja sudah membeku jadi es. Para prajurit Kerajaan Ceng terpaksa menggodoknya kembali.

Siau Po merasa bangga sekali akan hasil pemikirannya, Dia memuji dirinya sendiri. "Cu Kek Liang menggunakan api membakar seluruh Pan Coa Kok, aku Wi menggunakan air seni menyembur Gunung Lu Ting San. Sungguh suatu kebanggaan yang tidak terkirakan!" serunya.

Seorang prajurit yang berdiri di sampingnya segera menukas.

"Wi Thayswe menggunakan air seninya untuk menenggelamkan semangat Bangsa Lo Sat!"

Siau Po tertegun sejenak mendengar ucapan orang itu. Suatu pernikiran kembali melintas dalam benaknya. Tiba-tiba dia tertawa terbahak-bahak.

"Bagus sekali! Bagus sekali!" serunya sambil melonjak-lonjak kegirangan.

Siau Po memerintahkan anak buahnya memukul tambur sebagai tanda bahwa dia ingin segera bertemu dengan wakil-wakiInya. Setelah mereka berkumpul, Siau Po bertanya.

"Berapa banyak selang air yang kita miliki?"

Salah seorang komandan yang menangani bagian perbekalan muncul dan menjawab.

"Jumlah seluruhnya ada delapan belas buah." Siau Po mengerutkan keningnya.

"Kurang, masih kurang banyak! Mengapa tidak membawa lebih banyak?" Komandan itu tidak menjawab, namun dalam hatinya dia berkata,

-- jarang sekali terjadi kebakaran dalam peperangan Kalaupun ada delapan belas buah selang sudah cukup untuk memadamkan api, --

"Aku menginginkan seribu buah selang, Cepat sebar orang untuk membelinya di desa-desa terdekat Kira-kira kapan semuanya bisa tersedia?" tanya Siau Po pula.

Wilayah itu merupakan perbatasan utara, Tempatnya luas namun penduduknya sedikit Desa atau kota yang terdekat saja jaraknya mencapai seratus li. Setiap desa atau kota hanya dihuni oleh ratusan keluarga, Kehidupan mereka sulit sekali, belum tentu mereka mempunyai selang air yang besar, Bila menginginkan seribu selang besar dalam waktu yang singkat siapa pun tidak ada yang berani menjanjikannya.

Komandan itu menampakkan tampang serba salah.

"Harap Thayswe ketahui, di dalam perbatasan jarang ada yang menjual selang besar, jumlahnya tidak mungkin mencapai demikian banyak. Kalau di luar perbatasan  kemungkinannya lebih besar, misalnya di Tian Cin atau Pe King, Kita harus menyuruh orang pergi memesannya dan minta dikirim ke mari secepat nya."

Siau Po marah sekali.

"Kentut busuk! Berangkat ke Pe King atau Thian Cin hanya untuk memesan selang besar? Kau kira berapa lama waktu yang diperlukan? Untuk urusan perang, terlambat setengah jam pun tidak boleh!" teriaknya keras-keras.

Komandan itu mengiakan berkali-kali, wajahnya berubah murung seketika, Dalam hati dia berpikir.

-- Celaka! Kemungkinan batok kepalaku ini tidak dapat dipertahankan lebih lama lagi. 

--

Salah seorang prajurit yang duduk di dekatnya mencoba memberikan saran kepada Siau Po.

"Thayswe, air senimu yang berharga sudah menyebar di tempat Bangsa Lo Sat Yang penting mutu-nya, bukan banyaknya, Menurut pandangan saudaramu yang dangkal ini, lebih baik kita hentikan saja semburan ini, toh kita sudah menunjukkan keangkeran kita!"

Siau Po menggelengkan kepalanya.

"Tidak bisa! Tanpa seribu selang besar, urusan yang besar ini tidak akan dapat diselesaikan!"

Dalam hati komandan tadi berpikir.

- Panglima yang satu ini benar-benar pengacau! Urusan rasa kesal yang disebabkan air seni saja harus diperpanjang sedemikian rupa. Toh semua ini tadinya hanya gurauan dan tidak akan melukai siapa pun, apa untungnya? Raja yang masih muda pasti senang menggunakan tenaga panglima yang muda pula, Hubungan mereka atasan dan bawahan begitu dekat, siapa yang berani banyak mulut? 

Tapi kalau permainannya sudah mencapai batas yang keterlaluan toh kita sendiri yang akan menjadi bahan tertawaan orang-orang sedunia! --

Baru saja dia akan menasehati Siau Po sekali lagi, tiba-tiba terdengar anak muda itu bertanya.

"Saudara-saudara sekalian, siapakah diantara kalian yang dapat menemukan cara terbaik untuk mendatangkan selang besar secepatnya? Kalau bisa mendapatkannya, maka akan menjadi jasa yang tidak terkatakan besarnya." "Mohon bertanya kepada Thayswe, apakah... apakah seribu selang besar ini... akan digunakan untuk menyemprotkan air seni ke dalam kota?" tanya Peng Cun.

Siau Po tertawa.

"Kalau kita sudah memiliki seribu selang besar dan akan kita gunakan untuk menyemprotkan air kencing ke dalam kota, coba aku ingin tahu, dari mana kita menemukan orang yang bisa buang air seni sebanyak itu?"

"Memang benar, Hamba sungguh bodoh, Biar semua prajurit membuang air kecil sepanjang hari, jumlahnya juga tidak akan cukup untuk mengisi seribu selang, Hamba mohon petunjuk dari Thayswe," sahut Peng Cun.

"Tadi aku melihat air seniku yang berharga telah menyemprot ke dalam tembok kota dan dalam sekejap mata saja sudah membeku menjadi salju, Nah, kalau kita menggunakan seribu selang lebih untuk menyemprotkan air ke dalam tembok kota itu selama beberapa hari beberapa malam, apa yang akan terjadi?" tanya Siau Po.

Para prajurit tertegun sejenak, orang yang otaknya lebih encer segera bersorak gembira, kemudian yang lainnya juga ikut mengerti. Dari dalam tenda besar terdengar seruan-seruan yang memekakkan telinga.

"Siasat yang bagus! Strategi yang jitu! Air memenuhi kota Ya Ke Lung! Salju membeku di gunung Li Ting San!" Demikian teriak mereka.

Beberapa saat kemudian, seruan mereka baru mereda, terdengar ada seseorang yang berkata.

"Walaupun harus ke Kotaraja atau Tian Cin, kita tetap harus mengusahakan seribu selang besar itu!"

Bahkan ada beberapa komandan pasukan yang memberanikan diri memohon surat ijin agar mereka dapat segera berangkat mencari selang besar tersebut.

Kedudukan Ang Cao tidak begitu tinggi. Sejak tadi dia berdiri di bagian belakang dan mendengarkan saja percakapan Siau Po dengan anak buahnya, Pada saat itu dia membungkukkan tubuhnya dan berkata.

"Lapor Thayswe, hamba mempunyai sebuah pandangan yang dangkal, bolehkah hamba mengungkapkannya?"

"Katakanlah!" sahut Siau Po.

"Begini, hamba adalah orang dari propinsi Hok-kian, Kampung halaman hamba itu merupakan daerah yang miskin, maka kami tidak sanggup membeli selang air. Apabila terjadi kebakaran di desa kami, para penduduk menggunakan pompa air dari bambu yang besar untuk memadamkan api, Kami membuatnya sendiri dengan menggunakan  bahan bambu dan kayu. Dari sebelah atas dibuka sebuah liang kecil untuk memasukkan air, sedangkan kayu yang panjang kita gunakan untuk mendorong air sehingga menyembur ke luar," kata Ang Cao menjelaskan.

Siau Po menganggukkan kepalanya beberapa kali, Kemudian dia merenungkan cara pemakaian pompa air itu.

"Harap Thayswe ketahui, bentuk pompa air ini bisa kecil namun bisa besar juga," kata Ho Yu, "Ketika kecil hamba sering bermain dengan teman-teman, kami menggunakan pompa air semacam itu untuk menyemprot lawan, Memang menyenangkan juga. sayangnya daerah ini tidak banyak batang bambu yang besar Untuk membuat pompa air yang besar, mau tidak mau kita juga harus mencari bambunya di seberang sungai."

"Apakah kau mempunyai jalan keluar yang lebih baik?" tanya Siau Po kepada Ang Cao.

"Hamba rasa bambu besar memang sulit ditemukan di daerah ini. Namun pohon siong dan lainnya banyak, Kita dapat menebang batang pohon itu lalu bagian tengahnya kita lubangi untuk dijadikan pompa air besar," sahut Ang Cao.

"Untuk melubangi batang pohon Siong rasanya juga tidak begitu mudah, bukan?" kata Siau Po.

Salah seorang wakil komandan pasukan Siau Po merupakan keturunan tukang kayu, dia segera menyatakan pendapatnya.

"Lapor Thayswe, pekerjaan itu tidak terlalu sulit dilaksanakan Mula-mula kita belah dulu batang pohon itu menjadi dua bagian lalu masing-masing di-korek sehingga berbentuk setengah lingkaran, lalu kita serut sehingga rata dan terakhir kedua bagian itu kita satukan kembali Dengan demikian di bagian tengahnya sudah terdapat lubang seperti bambu, untuk merapatkan kedua bagian batang pohon itu kita pantek saja dengan paku besar."

Siau Po gembira sekali mendengarnya.

"Bagus! Untuk membuat sebuah pompa air sebesar itu, kira-kira berapa lama waktu yang dibutuhkan?"

"Kalau hamba turun tangan sendiri, satu hari rasanya bisa menyelesaikan satu buah, Apabila ditambah dengan kerja malam, mungkin satu hari bisa menyelesaikan dua buah," sahut orang tadi,

Siau Po mengerutkan keningnya.

"Terlalu lambat. Kau harus pergi ke setiap tenda dan mencari orang yang mengerti pertukangan. Kau jadi mandornya, dalam waktu sesingkat mungkin kau harus  mengajarkan mereka cara membuatnya, Pompa air ini merupakan barang kasar, bukan bahan untuk membangun rumah seorang hartawan atau bahan untuk peti mati seorang pembesar. Kulit luar batang pohon itu juga tidak perlu dikelupas, pokoknya harus bisa menghemat waktu, tidak penting bagusnya, asal dapat digunakan secepatnya. sekarang juga kau mencari tenaga untuk membuat pompa air sebanyak mungkin!" perintahnya.

Prajurit itu mengiakan, lalu segera mencari orang untuk pergi menebang batang pohon, Beberapa puluh di antaranya mendapat tugas mendatangi rumah penduduk untuk meminjam berbagai alat pertukangan.

Daerah luar perbatasan penuh dengan pohon Siong, malah di sepanjang tepi sungai merupakan hutan yang luas, Selama ratusan tahun penduduk di sekitar daerah itu tidak pernah mengeluh kekurangan kayu bakar, mungkin saking luasnya hutan tersebut. 

Para prajurit segera bekerja, Dalam setengah hari mereka sudah berhasil menebang ribuan batang pohon, Ada ratusan prajurit yang tadinya memang tukang kayu, Wakil Komandan mereka mengumpulkan orang-orang itu menjadi satu. Setelah itu dia mencari lagi empat lima ratus orang untuk membantu, Selama beberapa hari beberapa malam mereka bekerja tanpa mengenal waktu untuk menyelesaikan pompa air yang besar itu. sedangkan jumlah yang diperlukan juga banyak sekali, jadi mereka agak kewalahan juga.

Begitu selesai satu, Siau Po menyuruh anak buahnya mengadakan percobaan, Pompa air itu diisi dengan air panas, enam orang mendorongnya, Ternyata air panas itu bisa menyembur sampai sejauh dua ratusan depa.

Melihat hasil percobaan itu, Siau Po tidak henti-hentinya memuji.

"lni sih bukan pompa air, lebih cocok dinamakan meriam air. Tapi seharusnya kita mencari nama yang lebih bagus lagi seperti.,., Pek.Liong Cui Pao (Meriam air Naga Putih)," katanya seakan untuk dirinya sendiri. “

Kemudian dia mengeluarkan uang perak untuk diberikan kepada Wakil Komandan dan rekan-rekannya, lalu memerintahkan mereka agar bekerja lebih giat lagi.

Tolbusin melihat para prajurit Kerajaan Ceng yang sudah mundur, sekarang balik kembali. Namun mereka berdiri di kejauhan dan memandang ke arah tembok kota, Dengan alat teropongnya dia juga melihat musuhnya mengumpulkan batang pohon dalam jumlah yang banyak sekali, Dalam hati dia berpikir.

-- Bangsa Cina yang bodoh itu menebangi batang pohon, mungkin untuk menghangatkan tubuh, Kalau melihat caranya, tampaknya mereka tidak akan meninggalkan tempat ini dengan segera. 

Hm, lewat setengah bulan lagi, kalian akan mendapat kese-nangan. Biarpun api yang lebih besar lagi, tetap saja tidak bisa mengalahkan hawa dingin seperti di neraka ini. - Dia menyuruh anak buahnya menambah kayu di tungku perapian, setelah itu menuangkan secawan arak Lo Sat dan meminta dua orang gadis Cina yang didatangkan dari dalam perbatasan untuk menemaninya.
Mengapa udah nggak bisa download cersil di cerita silat indomandarin?

Untuk yang tanya mengenai download cersil memang udah nggak bisa hu🙏, admin ngehost filenya menggunakan google drive dan kena suspend oleh google, mungkin karena admin juga membagikan beberapa link novel barat yang berlisensi soalnya selain web cerita silat indomandarin ini admin juga dulu punya web download novel barat terjemahan yang di takedown oleh google dan akhirnya merembes ke google drive admin yang dimana itu ngehost file novel maupun cersil yang admin simpan.

Lihat update cersil yang baru diupload 3 Bulan Terakhir

27 Oktober 2022] Kaki Tiga Menjangan

05 November 2022] Seruling Samber Nyawa (Bu Lim Su Cun)

Mau donasi lewat mana?

BCA - Nur Ichsan (7891-767-327)
Bagi para Cianpwee yang ingin berdonasi untuk pembiayaan operasional web ini dipersilahkan Klik tombol merah.

Posting Komentar

© Cerita silat IndoMandarin. All rights reserved. Developed by Jago Desain
]