Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat Jilid 17

Jilid 17 

In tiong-yan merasa diluar dugaan, pikirnya: "Umong dan kawan kawannya menerima tugas Koksu mengejar aku, tindakan mereka pasti tidak begitu ceroboh, melihat pinggir jalan ada sebidang hutan, kenapa mereka tidak kemari untuk memeriksanya, mungkinkah terkaanku yang salah?"

Lu Giok yau juga menyusul keluar, katanya, "Apakah mereka sudah pergi ?"

"Tak dapat dipastikan apakah benar mereka mengejar aku, mungkin nanti mereka bisa balik kesini. Sebelum mereka balik marilah lekas tinggalkan tempat ini, aku menuju kedepan dan kau lebih baik lari dari jurusan yang lain."

Sebelum berpisah terasa berat perasaan Lu Giok yau, katanya; "Cici, kau hendak kemana?"

In tiong-yan tertawa getir, sahutnya: "Aku sendiri juga tak tahu. Jangan kau risaukan diriku, lekaslah berangkat!"

Apa boleh buat terpaksa Lu Giok-yau turun gunung, setelah berjalan beberapa lama melihat tiada pengejar datang, legalah hatinya, pikirnya, "Ucapan In tiong yan memang benar untuk sementara lebih baik aku tidak pulang saja." teringat oleh ia punya bu inang yang bertempat tinggal diselokan bawah gunung sana, bu inang itu pasti orang orang Lou-keh ceng tidak akan mengenalnya, lebih baik aku kesana dulu sembunyi seluruh atau setengah bulan malah bisa minta bantuannya mencari berita diluar. Siapa tahu tanpa aku keluar ayah dan Ling toako bisa menjemput aku kemari setelah mendengar beritaku." Perhitungannya memang cukup muluk, sayang kejadian didunia ini kadang-kadang menyimpang dari kehendak manusia.

Terpaksa kita tinggalkan keadaan Lu Giok-yau, marilah kita ikuti perjalanan In tiong-yan. Sejak berpisah dengan Lu Giok-yau batinnya terasa hambar, pikirnya; "Setelah bersembunyi barang beberapa hari nona Lu itu masih punya rumah dan bakal jumpa pula dengan ayahnya, terlebih punya harapan bersua kembali dengan kekasihnya. Aku sebaliknya keluntang keluntung tak punya untuk menetap lagi," terpikir pula olehnya, "Aku sudah menitipkan Pinghoat itu kepada Sip It sian untuk diberikan kepada Hek swan-hong, tujuanku sudah terlaksana, kuduga Hek-swan hong pasti masih ingin mencari aku, tapi aku tiada minat bertemu pula dengan dia," Maklum dia sebagai seorang tuan putri bangsa Mongol, Mongol bakal menyerbu ke Tionggoan adalah kejadian yang pasti soalnya tinggal tunggu waktu saja. Dan bila peristiwa sudah terjadi terang dan gamblang Hek swan hong pasti berdiri dipihak yang bermusuhan dengan dirinya. Setelah ia menyerahkan Pinghoat itu kepada Hek-swan-hong, ia sudah bertekad untuk tidak pulang lagi kenegeri sendiri. Tekad hatinya ini sudah merupakan suatu pengorbanan terbesar selama hidupnya, seumpama ia harus selangkah setindak lebih maju berdiri dipihak dan sejajar dalam jalan dan haluan yang sama dengan Hek swan-hong paling tidak dalam saat ini, betapapun ia belum berani mengambil keputusan ini.

Dalam hati In-tiong-yan tertawa getir: "Meski luas bumi dan langit ini dimana tempatku meneduh? Apa boleh buat meski tiada rumah untukku menetap lebih baik kelana saja di Kangouw, hidup demikian jauh lebih bebas lebih leluasa untuk bergerak sesuka hati."

Dia berjalan seiring dengan arah keempat kuda tunggangan tadi, sangkanya pasti keempat penunggang kuda itu bakal balik kembali, namun diluar dugaan, sepanjang jalan yang dilalui ini seorangpun tidak pernah ditemuinya.

Tanpa punya tujuan In-tiong-yan melanjutkan kedepan, bila sampai ditempat-tempat yang indah panoramanya tentu ia berhenti untuk menikmati alam semesta, langkahnya enteng dan kehendaknya bebas seenaknya. Begitulah ia melanjutkan perjalanan tanpa tujuan, kira-kira tiga hari kemudian tibalah dia disuatu tempat, tiba tiba didengarnya derap langkah kuda yang dibedal kencang, dapat dilihatnya didepan mana jauh sana debu mengepul tinggi, In-tiong-yan memasang kuping dengan cermat, tahu dia bahwa yang datang ini adalah empat penunggang kuda yang hebat dibawah gunung tempo hari.

"Akhirnya mereka kembali juga, tapi tiga hari kemudian baru menyerah berbolak-balik, mungkin tujuannya bukan aku lagi." Demikian pikir In tiong yan hatinya menjadi ketarik ingin ia melihat siapa sebenarnya keempat penunggang kuda ini. Tapi keempat penunggang kuda itu mendadak membelokkan tunggangannya kearah sebuah jalan kecil terus dibedal pula dengan pesat. Karena debu mengepul tinggi, In tiong yan hanya melihat samar samar saja sehingga tidak diketahui siapa mereka sebenarnya.

Tatkala itu cuaca adalah menjelang senja, setelah melakukan perjalanan pula beberapa lama dilihatnya didepan sana sebuah kota kecil akhirnya ia memasuki kota dan menginap disini.

Disalah satu penginapan dilihatnya seorang pelayan sedang menuntun masuk kedalam kandang keempat ekor kuda, keempat kuda itu sama berbulu putih dan bertubuh tinggi kekar, selayang pandang cukup bagi In tiong yan untuk menilai bahwa keempat ekor kuda itu adalah kuda jempolan dari luar perbatasan.

"Mungkinkah tunggangan keempat orang itu?" demikian batin In tiong yan.

Tengah ia membatin, betul juga lantas didengarnya dari dalam sana seseorang berseru memberi pesan kepada pelayan itu, "Keempat kuda kita ini harap Siauko suka memberi makan rumput yang kenyang dan menyikatnya sampai bersih. Besok pagi pagi kita akan melanjutkan perjalanan."

Memang ln tiong yan hendak mencari penginapan segera ia masuk kedalam, tanyanya kepada Ciangkui (pemilik hotel), "Adakah kamar yang baik?" sebagai seorang yang menyayangi binatang terutama kuda yang bagus diwaktu memasuki penginapan dan melewati kandang kuda tak urung ia berpaling beberapa kali.

Pemilik hotel sedang bicara dengan seorang laki laki pertengahan umur melihat perempuan cantik molek macam In-tiong yan mencari penginapan tak terasa ia jadi melongo heran.

Pemilik hotel ini berontak cerdik dan hati hati sekali, ia berpikir nona muda yang berparas demikian cantik keluyar keluyur diluaran tanpa seorang teman pun mungkin bukan perempuan baik baik. "Rampok perempuan, aku tak berani mencari perkara padanya seumpama bukan begal tunggal perempuan mungkin perempuan yang minggat dari keluarganya, betapapun aku bakal kena perkara hukum."

Bagi terkaan pemilik hotel, asal usul In tiong yan tidak lepas dari dua dugaan, kalau bukan begal perempuan tentulah anak gadis orang yang minggat mencari gendaknya. Tanpa merasakan ia mengurutkan kening dengan cermat ia mengamati In-tiong yan sahutnya: "Maaf nona, penginapanku yang kecil ini sudah penuh. Jangan kata kamar bagus yang paling sederhana juga sudah tiada!"

In-tiong yan rada kecewa soalnya kota kecil ini hanya punya sebuah hotel ini saja. Karena kecewa ia menjadi uring uringan, desaknya: "Apa betul? Wah sungguh jelek nasibku!"

Mendengar nada orang rada curiga akan keterangannya segera pemilik hotel menambahkan: "Buat apa aku menolak kau ada penghasilan masa tidak akan kami terima? Kalau tidak percaya nona kau tanyakan tamuku itu."

Tak terduga laki laki pertengahan itu tiba tiba menyela bicara: "Nona, kamar yang aku tempati justru kamar baik boleh kuserahkan sebuah kamar pada kau!"

"Mana boleh begitu," ujar In tiong yan kikuk, "Biar aku mencari penginapan lain saja, jangan menyulitkanmu."

"Tidak menjadi soal, kami semua berempat tanpa membawa keluarga tidur saling berhimpitan tidak mengapa. Orang sering berkata berada diluar kalau memberi kesempatan orang lain berarti memberi keleluasaan pada hati sendiri pula. Nona, kau jangan sungkan sungkan lagi," demikian laki laki pertengahan itu berkata simpatik.

Adalah pemilik hotel malah yang menjadi tersipu sipu, katanya, "Nona ini hendak mencari tempat lain apalagi kalian berempat...." Sebelum ia bicara habis laki laki itu sudah menyeretnya kesamping, katanya berbisik: "Kau kuatir kita tidur berempat berhimpitan dan tidak leluasa bukan? Kalau begitu kau berikan pula dua kamar disamping sana yang masih kosong itu kepada kami! Aku telah membantu kau menghilangkan kerugiannya tahu tidak? Jangan kau tidak tahu diri apa perlu kubongkar kebohonganmu dihadapannya?'' pemilik hotel jadi bungkam dan tak berani banyak bacot lagi terpaksa ia manggut menyetujui.

Walaupun laki laki itu bicara dengan lirih tapi dengan lwekang In-tiong yan yang tinggi itu ia dapat mendengar dengan jelas, timbullah rasa curiganya, pikirnya: "Walau pemilik hotel ini cukup kurangajar tapi dia menolak diriku menginap disini karena punya alasannya sendiri karena tidak mengenal asal usulku, sebaliknya laki laki itu sudi memberikan kamarnya kepadaku, entah bermaksud baik atau punya tujuan buruk? Tapi akupun tidak perlu takut pada mereka."

Sementara mereka sedang bicara, tiga laki laki yang lain tampak keluar dari kamar. Laki laki pertengahan umur itu segera menjelaskan, "Nona tiada tempat untuk menginap, aku berkeputusan hendak memberikan sebuah kamar kepadanya!"

Ketiga orang itu mengiakan bersama: "Ah, tak menjadi soal, kan sudah seharusnya saling bantu. Dan lagi kami tak membawa perbekalan apa apa, gampang untuk dicangking kesebelah."

Pemilik hotel menimbrung bicara: "Sewa kamar kalian sudah bayar, apakah harus kuambilkan?"

"Tidak perlulah," sahut salah satu dari ketiga orang itu.

Tapi In Tiong-yan tak mau menerima kebaikan orang mentah-mentah, seenaknya ia mencomot keluar sebutir emas dan terus diangsurkan kepada pemilik hotel katanya: "Kacang emas ini mungkin seharga beberapa tail perak kelebihannya boleh tak usah dikembalikan!" Bisanya bagi yang kelana pada kangouw berpantang mengandal harta benda punya sendiri tapi In-tiong-yan memang sengaja berbuat begitu untuk mencoba keempat laki laki itu, apakah mereka dari golongan hitam. Bagi pemilik penginapan dalam sebuah kota kecil, kapan pernah melihat tamu yang begitu royal mau mengandal uang, dalam hati ia berpikir lagi, "Seumpama dia adalah begal perempuan, apa pula peduliku. Mas murni yang tulen ini setelah masuk kantong masakan aku lempar pula?'' Setelah menerima pembayaran yang berkelebihan ini terbuka lebar tawa sipemilik hotel, katanya berseri, "Nona kau ingin makan dan minum apa? silahkan pesan saja. Meskipun warungku kecil, dan tiada makanan berharga, kami akan berusaha mempersiapkan hidangan yang paling lezat."

"Sudah jangan banyak repot, aku hanya ingin makan sayur mayur yang segar saja."

Melihat In-tiong-yan mengudal biji kacang mas, keempat orang itu seketika berobah air mukanya, tampak mereka sangat heran, tapi tiada satu pun yang buka suara. Seorang yang paling muda diantara mendahului masuk kedalam memindahkan barang perbekalannya lantas mempersilahkan In-tiong-yan masuk. Semula In-tiong-yan menyangka mereka bakal bicara basa-basi dengan dirinya, siapa tahu mereka bungkam saja tanpa menanyakan she dan namanya.

Setelah makan malam lantas In tiong yan merebahkan diri tanpa ganti pakaian lagi. Sambil merebahkan diri, pikirnya melayang: "Siapakah orang orang ini? Aku mengeluarkan uang mas tapi melirikpun tidak, kelihatannya bukan bangsa perampok yang mata duitan. Tapi aku harus tunggu sampai nanti malam baru bisa tahu." lalu terpikir pula olehnya, "Seumpama benar mereka adalah golongan hitam, bisa memiliki kuda kuda jempolan sebagai tunggangan tentu mereka bukan rampok sembarang rampok. Mungkin mereka punya incaran lain yang lebih besar lebih gemuk, sudah tentu sebutir uang mas yang berharga beberapa tail perak itu tidak menjadi perhatian mereka."

Kedua kamar yang masing masing mereka tempati kebetulan berhadapan satu sama lain, kuatir keempat orang ini tengah malam nanti menggerayangi dirinya sudah tentu In tiong-yan tak berani tidur nyenyak. Tunggu punya tunggu tahu-tahu sampai kentongan ketiga tiba-tiba didengarnya lapat kamar sebelah ada suara bisikan dari pembicaraan mereka.

Keempat orang itu tidur berjajar diatas ranjang dan bicara berbisik dipinggir telinga tapi mereka tidak tahu bahwa ln tiong-yan justru unggul dan mahir Ginkangnya, bagi seorang tokoh yang lihay Ginkangnya, penglihatan mata dan pendengaran kupingnya tentu sangat tajam, meskipun mereka bicara bisik-bisik namun In tiong yan dapat mendengar pembicaraan mereka dengan jelas.

Terdengar salah seorang dari mereka tengah bicara: "Samte, apakah kau kepincut pada perawan sebelah itu? Memang keayuan gendak itu luar biasa dan sukar dicari bandingannya dikolong langit ini!"

Sambil meraba gagang pedangnya, In-tiong-yan berpikir : "Wah bila mereka adalah maling pemetik bunga (maling cabul) terpaksa malam ini aku harus tumpas dan membunuh mereka."

Tak tahunya jalan pikirannya menyimpang dari kenyataan.

"Samte" yang dimaksud tadi adalah laki-laki yang memberikan kamarnya itu kepada In-tiong-yan, terdengar suaranya menyahut : "Toako, kenapa kaupun mencurigai aku ? Masakah Siauwte mau orang macam begitu yang rendah martabatnya ?"

Orang yang dipanggil Toako itu berkata, "Dapat melihat bisa menilai, adalah jamak kalau kau ketarik pada gendak ayu itu, itupun tidak melanggar kesusilaan. Tetapi sebenarnya gendak ayu itu memang rada aneh dan mencurigakan, kau harus hati-hati terhadapnya."

Samte itu menyahut; "Toako tadi kan sudah kukatakan aku mengalah memberikan kamar toh karena ingin membantu sekedar kesulitan orang, adalah apa bila aku mempunyai tujuan lain. Besok pagi-pagi kita boleh berjalan kearah masing-masing tidak saling sentuh atau menyinggung kenapa pula aku harus hati-hati?"

"Tapi Toakopun bermaksud baik," demikian ujar Samte. "Adanya petunjuk Toako sungguh membuat siauwte banyak tambah pengalaman. Rasanya sudah terlambat bila aku nyatakan terima kasihku sekarang. Mana aku menjadi marah atau dongkol, tapi Toako mengatakan nona itu aneh dan mencurigakan, entah kemanakah maksud juntrungannya?"

"Masa kau belum melihatnya bahwa dia pun orang kalangan persilatan?'' tanya sang Toako.

"Benar," sela seorang lain. "Dia membayar uang mas sebagai uang perak, sembilan puluh persen tentu dia dari golongan hitam."

"O," Samte itu bersuara lagi. "Jiko jadi kaupun mencurigai bahwa dia sekomplotan dengan Liu Sam nio?"

"Kemungkinan Liu Sam nio sendiri belum tentu lebih unggul dari genduk ayu itu," demikian sahut sang Jiko, maksudnya bahwa gadis remaja dikamar sebelah ini pasti bukan sekomplotan dengan Liu Sam nio.

"Kau toh belum melihat ia pernah menunjukkan kepandaiannya, dari mana kau dapat tahu ilmu silatnya jauh lebih tinggi dari Liu Sam nio," demikian sela orang keempat yang sejak tadi tetap bungkam.

"Masa perlu turun tangan lagi, dilihat dari kilatan matanya sudah cukup!" demikian sang Jiko menjelaskan, "biji matanya tampak berkilatan dan berwibawa, terang membekal Lwekang yang cukup matang. Sebaliknya Liu Sam nio hanya mahir dalam menggunakan pisau terbangnya, menurut apa yang kutahu hakikatnya dia belum pernah berlatih Lwekang."

Mencuri dengar dari tempatnya tidur, bercekat hati In-tiong yan, pikirnya: "Pandangan orang ini jitu betul, didengar dari pembicaraan mereka, agaknya mereka dari golongan lurus." teringat bahwa dirinya mencurigai pihak orang demikian juga pihak sana sedang mencurigai dirinya pula tak terasa ia tersenyum geli sendiri.

Sementara itu si Samte sedang berkata pula, "Toako, pengalamanmu lebih luas. Begal perempuan di Kangouw beberapa saja jumlahnya menurut anggapanmu siapakah dia adanya."

"Menurut hematku belum tentu dia seorang begal dari golongan hitam, In-tiong yan nama ini apakah kalian pernah dengar?" demikian sang Toako mengajukan pendapatnya.

Terkejut In tiong yan dibuatnya, batinnya, "Lihay benar Toako ini, dapat menebak asal usulku."

"O, Toako, jadi kau curiga bahwa dia itulah In-tiong-yan?" tanya Jiko.

"Bicaralah yang lirih jangan sampai terdengar olehnya," demikian sang Toako memperingatkan.

"Kenapa In-tiong yan berada di Lou keh ceng, ada seorang Koksu yang bernama Liong siang Hoatong dari Mongol bersama dia mana mungkin dia berada disini seorang diri?" demikian sang Jiko menyatakan kesangsiannya meski ia sedapat mungkin berkata dengan suara sangat lirih, tapi In tiong yan memasang kuping dengan tajam ia jelas mendengar juga.

"ltu hanya terkaan saja," demikian sahut Toako, "Semoga bukan dia adanya kalau tak kuatir kita bakal mengalami kesulitan nanti."

"Sebenarnya orang macam apakah In-tiong yan itu?" tanya sang Samte.

"Sulit dikatakan," demikian sang Toako menjelaskan. "Ada kalanya dia melakukan dharma baktinya untuk rakyat jelata tapi selama ini belum berhubungan atau punya sangkut paut dengan golongan pendekar kita. Tapi kenyataan ia berada di Lou-keh ceng apalagi Liong-siang Hoatong itu Koksu dari Mongol. Malah boleh dikatakan mungkin dialah mata mata perempuan yang diutus pihak Mongol."

"Kiranya mereka belum mengetahui asal-usulku yang sebenarnya!" demikian pikir In-tiong yan.

Terdengar sang Jiko berkata: "Bukan mustahil dia adalah In-tiong yan tulen? Emh, Toako, menurut pandanganmu mungkinkah dia seorang Iblis perempuan lainnya yang punya sepak terjang serba misterius?"

Semakin dengar In tiong-yan semakin heran, batinnya: "O, jadi di kangouw muncul pula seorang perempuan Iblis lain, mengapa aku belum tahu?"

Belum lenyap pikirannya terdengar Samte itu menimbrung: "Nona Nyo boleh dianggap seorang Iblis!"

Sang Jiko tertawa, ujarnya: "Kudengar katanya kau pernah jumpa dengan dia, apakah kau sudah kepincut olehnya?"

Samte mendebat, katanya: "Aku berani pastikan bahwa nona Nyo bukan macam orang yang kalian bayangkan. Jiko kuharap kau jangan membual." bermula suaranya cukup lirih, karena terbawa perasaannya, suaranya semakin keras, agaknya hatinya rada dongkol dan marah.

Samte itu selamanya sangat menghormati Toakonya, maka dia hanya gunakan istilah membual saja, dan hal inipun belum pernah terjadi. Keruan Jikopun melengak juga hatinya mendelu, katanya uring-uringan, "Sudah kau jangan berkaok-kaok lagi ? Kalau begitu coba katakan orang macam apakah dia sebenarnya ?"

"Soal asal usulnya, tidak lama lagi tanggung kalian sendiri juga bakal tahu sendiri," demikian sahut si Samte dengan tawa yang mengandung arti. Jelas maksudnya bahwa saat ini dia sengaja mau tutup mulut dan tidak sudi membeberkan rahasia ini.

Mendengar ucapan yang mengandung arti sang Toako juga menjadi keheranan, pikirnya, "Kalau ada urusan selamanya Samte tidak pernah mengelabui kami, mengapa pertemuannya dengan iblis wanita yang merupakan urusan besar ini tidak mau memberitahukan kepada kita ?" demi menghindari sang Jiko merasa disepelekan, segera ia berkata sama tengah : "Kalau samte tidak mau menyinggung soal nona Nyo itu maka tidak perlu kita bicara mengenai dirinya lagi. Yang benar urusan kita sendiri belum selesai, mana ada tempo mengurus persoalan orang lain ?"

In-tiong yan mencuri dengar disebelah justeru ketarik pada persoalan Iblis perempuan ini, dalam hati ia membatin : "Entah urusan apakah yang mereka akan urus, apa pula yang telah dilakukan Iblis perempuan itu. Aku sendiripun pernah dianggap orang banyak sebagai iblis perempuan, semoga aku bisa tahu siapakah nona Nyo itu sebenarnya, ingin rasanya aku berkenalan dengan dia."

Karena kebentur dinding untung toako menghalangi sama tengah sehingga Jiko tidak kena malu, ujarnya, "Benar, justeru aku menguatirkan kita tak berhasil menemukan Geng-kongcu cara bagaimana kita harus menyelesaikan tugas ini ?"

Sampai disitu tergerak hati In-tiong-yan, pikirnya : "She Geng adalah she kecil, tokoh kangouw yang punya nama she Geng justru sangat sedikit jumlahnya. Geng-kongcu yang mereka maksudkan ini bukan mustahil adalah Sam-tian-jiu Geng Tian !"

Benar juga lantas terdengar Site yang paling sedikit bicara itu membuka pertanyaan, "Toako apakah berita kedatangan Geng-kongcu dari Kanglam dapat dipercaya ?" Geng-kongcu dari Kanglam sudah pasti adalah Geng Tian adanya.

Kata Toako, "Pangcu kami sendirilah yang memperoleh berita ini, sudah tentu berita ini dapat dipercaya."

Kata Site : "Berita itu mengatakan sementara ia singgah dirumah keluarga Lu Tangwan bila berita ini dapat dipercaya mengapa Lu-hujin berkukuh mengatakan bahwa ia tak kenal dan belum pernah bertemu dengan orang itu ? Mungkinkah Lu-hujin membual ?"

Jiko mendengus selanya: "Perempuan bawel itu setiap kali teringat dia lantas jengkel hatiku nama kita kan bukan kaum keroco dikangouw, hari itu hampir saja kita diusir keluar olehnya."

Baru sekarang In tiong yan paham, kiranya keempat orang ini pernah bertandang kerumah Lu Tangwan untuk mencari Geng Tian, tapi kena diusir oleh ibu Lu Giok-yau.

Dari penuturan Hong thian lui, In tiong yan tahu bahwa Geng tian pernah datang kerumah keluarga itu, ia berpikir: "Kenapa Lu hujin tak mau bicara sejujurnya pada mereka? Orang orang itu begitu hormat menyebut nama Geng Tian dengan sebutan Geng kongcu, mungkin bekas anak bawahan ayahnya itu. Kalau toh mereka bukan bangsa keroco yang tidak bernama, apakah Lu hujin tak mengenal asal usul mereka? Seumpama tidak tahu juga tidak seharusnya bersikap cuci tangan tak mau ambil tahu persoalan ini malah mengusir mereka keluar rumahnya pula? Apakah ada latar belakangnya?"

Terkaan In tiong yan memang tidak salah, Lu hujin tidak mau mengaku pernah bertemu dengan Geng Tian memang ada latar belakang lainnya. Tapi latar belakangnya justru sampai mimpi juga tak akan terduga olehnya, hal duduk perkaranya ikut curiga sang Toako itu juga sudah lama merasa curiga. Selagi In tiong yan tenggelam dalam alam pikirannya, terdengar sang Toako bicara lagi: "Kulihat perempuan bawel itu bukan takut urusan justru ia mengandung tujuan yang tidak genah, sengaja ia mungkir pada kami akan perkara yang sebenarnya. Untung sekarang kita sudah mendapat kabar berita yang sesungguhnya, Lu tang wan sudah pulang kandang. Untuk keduanya kita mohon bertemu dengan Lu Tangwan, kuduga Lu Tangwan tidak begitu pengecut menampik kedatangan kita!"

Si Jiko itu justru menjengek dingin; "Toako seketika beluk hal ini, mungkin kau sendiri masih belum jelas bukan?"

"Hal apa yang kau maksud?"

"Lu Tang wan punya seorang keponakan yang bernama Khu Tay seng, apakah kau tahu tentang pemuda itu?"

"Bu bing-siau cat (kaum keroco yang tak bernama) masa aku bisa tahu? coba kau jelaskan bagaimana dengan bocah itu?''

Baru sampai sekian pembicaraan mereka mendadak didengarnya derap langkah orang banyak yang berbondong menerjang masuk kerumah penginapan ini. Meski In-tiong-yan tidak takut, tak urung ia terkejut juga. Pikirnya: "Bila yang datang ini adalah kawanan rampok, wah aku bakal menonton keramaian disini.''

Benar juga lantas mendengar keributan di luar, terdengar pemilik hotel berteriak: "Petugas hukum datang memeriksa, harap semua tamu bangun membuka pintu masing masing."

Kiranya bukan rampok ternyata adalah polisi! Sebetulnya In-tiong yan hendak ngeloyor pergi tetapi setelah dipikir kembali akhirnya ia tetap tinggal dalam kamarnya, pikirnya, "Para petugas anjing ini bila berani mempersukar diriku terpaksa harus melanggar peraturan." Kiranya waktu mulai mengutus dia datang ke Tionggoan melakukan tugasnya pernah berpesan wanti wanti padanya, supaya jangan sekali-kali membuka kedok aliasnya sendiri terutama jangan sampai pihak penguasa setempat (pemerintah Kim) tahu akan asal usul dirinya. Maka selamanya ia selalu menghindari kena perkara dengan para petugas hukum. Tapi sekarang lain hanya ia sudah berkeputusan untuk tidak pulang kembali ke Mongol, mengenai perintah dan tugas yang diberikan oleh Dulai kepadanya tidak begitu mengindahkannya lagi, soalnya iapun ingin mengetahui lebih lanjut cara bagaimana keempat orang disebelah itu menghadapi para petugas hukum ini.

Dari sela-sela pintu In tiong yan mengintip keluar, tampak si orang perwira sedang bertanya pada pemilik hotel: "Keempat ekor kuda itu milik siapa?"

Sahut pemilik hotel: "Milik empat tamu yang bersama soal apa kerjaan mereka aku tidak tahu, nah, mereka menetap di kamar itulah."

Baru saja In-tiong-yan mau menonton keramaian tak terduga "blang" justru pintu kamarnyalah yang ditendang jebol oleh seorang petugas, kontan menerjang masuk seorang opas yang bermuka tirus bertubuh kurus kecil.

Laki-laki tirus ini memicingkan mata, mulutnya berkecek kecek, dengan sikapnya yang kurang ajar ia berkata, "Aduh genduk ayu, mana kekasihmu! Kuduga kau sudah berjanji dengan gendukmu untuk kawin lari bukan?''

"Kau kemari!'' ujar In-tiong yan menggapai tangan.

Laki laki tirus itu menjadi kegirangan, katanya cengar cengir: "Ada omongan mesra apa yang hendak kau ucapkan padaku! Genduk ayu, kau tak perlu takut, lari kawin bukan dosa yang terlalu besar, cukup asal kugeledah sekedarnya bila benar kau tidak lari dengan menggondol harta urusan tidak akan ditarik panjang."

Dalam bicara itu ia sudah maju mendekati In tiong-yan, tangannya sudah terulur hendak menjamah, tiba ia menjerit "aduh" kontan ia bertekuk lutut, kiranya jalan darah Hoan thiau-hiat didengkulnya telah tertutuk oleh In-tiong-yan.

Suara jeritannya itu membuat kaget orang-orang yang berada diluar, seorang laki-laki pertengahan umur yang memelihara jenggot kambing segera berseru: "Ong losam kenapa kau?" dengan langkah lebar ia menerjang masuk kedalam kamar, begitu berhadapan dengan In-tiong-yan, kedua belah pihak sama melengak, ternyata laki-laki pertengahan umur tidak lain tidak bukan adalah Ciok Goan, Jicengcu dari Ciok-keh-ceng di Tay-tong-hu.

Terdengar seorang yang lain berseru tertawa: "Losam memang selalu kepincut paras ayu dan melupakan urusan penting. Ciok cengcu tak usah kau urus dirinya, lebih penting kita bekuk empat kambing gemuk di sebelah." opas dari teng-ciu, Ciok Goan dan beberapa orang lainnya datang bersama membantu mereka mengadakan razia ini.

Waktu dipuncak karang kepala harimau di gunung Liang-san Ciok Goan pernah menyaksikan kepandaian In tiong-yan. Tatkala itu dengan mata kepala sendiri ia saksikan orang mengorek biji mata murid Lian Hou-bing dan memapas kedua telinga si ahli tutuk jalan darah ini, betapa telengas cara turun tangannya bila telinga Ciok Goan masih merinding dan ciut nyalinya, setelah melengak sebentar cepat ia putar tubuh serta berteriak, "Dia, dia ...."

Kenapa In tiong yan juga terkejut, soalnya Ciok Goan sudah tahu asal usul dirinya, dikalangan Kangouw meski belum tahu bahwa dirinya adalah "tuan putri" dari Mongol tapi setelah tahu bahwa dirinya adalah In-tiong-yan mungkin bakal membawa kesulitan pada dirinya. Timbullah nafsunya untuk membunuh pikirnya : "Aku terlanjur untuk aku menaruh muka di sini, baiklah kubunuh keparat ini untuk tutup mulut dan tinggal pergi beres," gesit sekali ia mengejar keluar terus melancarkan serangan yang mematikan.

Ciok Goan merasakan datangnya segulung angin kencang menerpa datang kearah punggungnya, kata kata selanjutnya mana sempat diucapkan lagi ? Tanpa menghiraukan betapa runyam keadaan saat itu, segera ia menjatuh diri terus bergelindingan ditanah dengan ilmu La-lu-ta gun (keledai malas menggelinding) beruntun ia menggelundung dua kali baru berhasil terhindar dari pukulan In-tiong yan yang mengarah jalan darah yang mematikan di punggungnya.

Begitu pukulan In tiong-yan dilancarkan saat itu juga iapun merasakan sambaran angin keras menerjang dari samping, jelas ada seorang yang menyerang kepada dirinya. Orang ini bermuka kurus kuning, usianya kira-kira dua puluh satu tahun, tapi jurus serangan Eng-jiau-jiau yang dia lancarkan sungguh cukup ganas dan lihay, lwekang orang itu kelihatannya juga tidak lemah.

Sekali berkelebat In-tiong-yan menghindar dan berbareng tangannya menyampok balik memapas pergelangan tangan sipenyerang gelap ini dengan hebatnya. Tapi gerakan sipenyerang juga cukup sebat, lekas telapak tangan kiri bergerak mundar-mandir memunahkan rangsangan balasan In-tiong-yan berbareng telapak tangan didorong ke depan dengan jurus Wan-kiong sia-tian (membidik memanah garuda) ia balas menyerang meski ia bergerak dan balas menyerang dengan sangat cekatan, tak urung lengan tangannya kena keserempet oleh ujung telapak tangan In-tiong-yan, terasa sakit panas dan kesemutan. Bahwa terkejutnya ia berteriak ketakutan : "Suhu Suhu !"

Bukan gurunya yang datang justru Ciok Goanlah yang putar balik. Begitu mendengar orang meneriaki sang guru sekonyong2 Ciok Goan sadar, ada elang hitam berada disini kenapa aku harus takut menghadapinya!" Begitu ia meletik bangun tubuhnya terus berputar kembali, dilihatnya kesempatan yang baik ini demi menolong muka sendiri yang kena malu tadi kontan ia ayun segenggam pasir beracun terus ditaburkan kearah In-tiong-yan.

In tiong yan tertawa dingin, jengeknya, "Waktu digunung kepala harimau untung kau dapat menyelamatkan jiwa anjingmu, sekarang berani pula kau gerakan cara lama yang licik ini."

Dalam pertempuran dipuncak karang kepala harimau digunung Liang san dulu Ciok Goan menggunakan pasir beracunnya membokong secara licik kepada Hek-swan-hong akibatnya bukan saja tidak berhasil melukai Hek-swan-hong malah senjatanya sendiri makan tuannya. Setelah pulang ia harus mengobati luka-lukanya, selama setahun baru pulih kembali.

Sebetulnya Ciok Goanpun tahu akan kelihayan In-tiong-yan, soalnya ia mengira betapapun lihay dan tinggi kepandaian In-tiong yan tidak lebih ia sebagai kaum hawa yang mempunyai kelemahan, Iwekang atau tenaga dalamnya mesti tidak ungkulan jika dibandingkan dengan Hek swan hong, pula mengandalkan perbawa si Elang hitam yang hadir pula disitu. Demi gengsi maka tanpa banyak pikir lagi ia taburkan segenggam pasir beracunnya.

Tepat pada saat itu pula terdengar suara, "Blang! Blang!" dua kali. Ada dua orang terlontar keluar jumpalitan dari kamar sebelah, begitu hebat tenaga lontaran ini sehingga kedua orang yang bergelindingan sejauh beberapa tombak dan akhirnya rebah celentang diluar pekarangan itu.

Kedua opas itu adalah orang yang setingkat dengan kedudukan Ong losam, tapi ilmu silat mereka rada lebih kuat dan lebih tinggi dari Ong-losam. Setelah menggoda Ong losam tadi baru mereka menerjang kekamar sebelah untuk menggeledah, tak terduga belum lagi mata melihat jelas ada berapa jumlah orang didalam kamar itu, tahu tahu tubuhnya sudah dijinjing oleh si Toako dari keempat orang itu terus dilempar keluar bergantian.

Yang datang menggerebek kehotel ini semua berjumlah enam orang tiga orang opas dan tiga orang lagi kaum persilatan. Seorang kakek tua yang ilmu silatnya paling lihay belum lagi turun tangan. Melihat kedua opas itu kena dilempar keluar begitu mengenaskan, meski ia berkepandaian tinggi tak urung terkejut juga.

Sikakek tua ini adalah seorang ahli silat yang cukup berpengalaman, dari gaya lemparannya membanting orang, dapatlah ia mengetahui asal usul pihak lawan. Mau tak mau ia berpikir: "Keempat orang ini pasti adalah Su-tay kim-kong dari Ceng-liong-pang yang kenamaan itu. Takut sih, tidak, soalnya entah mereka masih punya bantuan yang lebih kuat tidak, entahlah apakah perempuan ini merupakan komplotannya bukan?!"

Begitu segenggam pasir Ciok Goan ditaburkan, segera in tiong yan mengebutkan lengan bajunya seraya membentak; "Nih, kukembalikan !''

Waktu pertempuran dikarang kepala harimau Hwek-swan-hong menggunakan Bik khong-ciang memukul baik pasir pasir beracunnya itu sehingga melukai tuannya sendiri, meski kebutan lengan baju In tiong-yan ini tidak sekuat pukulan Bik-khong-ciang Hek swan hong tapi jarak mereka rada dekat, sekali kebut saja taburan pasir beracun itu kontan beterbangan balik laksana setabir kabut putih semua menungkrup kepala Ciok-Goan.

Saking kaget dan ketakutan serasa arwah Ciok Goan sudah copot dari badan kasarnya lekas-lekas ia berteriak minta tolong ; "Lian-lo cianpwee!"

Sikakek tua itu segera melompat maju berbareng lengan bajunya menggulung ke depan meraup taburan pasir itu, akan tetapi karena terhalang oleh kedua opas yang terlempar keluar itu, sehingga perhatiannya sedikit pecah sedikit terlambat saja meski ia berhasil menggulung banyak pasir-pasir itu, tak urung ada sebagian yang lolos belum lagi teriakan minta tolong Ciok Goan sempat diucapkan tahu-tahu beberapa butir pasir beracun itu sudah nyelonong masuk kemulut-nya, yang lebih celaka lagi ialah pasir itu langsung tertelan masuk kedalam perutnya.

Sementara itu pemuda bermuka kuning seperti berpenyakitan itu, masih menempur In-tiong yan dengan sengitnya. Waktu In-tiong yan mengebutkan lengan bajunya menghalau balik pasir beracun, tapi, gerak serangan balasan terhadap musuh pemuda ini sedikitpun tidak berkurang kecepatannya.

Tatkala itu kebetulan ia sedang melancarkan jurus Jiu Theingo sian atau (jari lima memetik senar) berbareng kelima jarinya terpentang kedepan tiga jalan darah penting didepan dada sipemuda sudah berada dicengkeraman jari tangannya paling tidak satu di-antaranya pasti bakal kena tertutuk dengan telak.

Tepat benar kedatangan sikakek itu melihat muridnya terancam bahaya tanpa ayal ia dorong sebuah hantaman telapak tangannya, kontan sipemuda tersurung sempoyongan kesamping beberapa langkah, secara kebetulan terhindar dari tutukan jari In-tiong-yan yang telak tadi.

Kiranya dorongan tangan kakek tua ini, yang digunakan adalah tenaga lunak yang diperhitungkan lebih dulu. Soalnya serangan In-tiong-yan terlalu cepat, bila ia gunakan cara kekerasan umumnya untuk menolong muridnya, seumpama ia berhasil melukai In-tiong-yan paling tidak muridnya akan terima akibatnya paling ringan tubuhnya bakal cacat seumur hidup. Justru tenaga dorongan yang dia gunakan kali ini sungguh sangat kebetulan dapat menolong jiwa muridnya. Pemuda itu laksana dijinjing kebelakang dan diletakkan lagi dengan entengnya.

Bercekat hati In tiong-yan, tahu dia lawannya ini merupakan musuh tangguh, sebat sekali ia susuli dengan gerakan mengitari pohon menerobos rumpun kembang, gerak kakinya begitu ringan dan lincah, tahu-tahu tubuhnya sudah mengitar kesamping lawan berbareng ia susuli dengan serangan Hong-biau loh-hoa (angin menghembus menjatuhkan kembang), dengan menyerang tapi penjagaannyapun merapat, beruntun ia lancarkan tiga serangan yang berantai.

Si kakek tua cukup menarik lengan baju telapak tangan nyelonong kedepan nyerempet lewat kesamping cukup sejurus saja ia berhasil memunahkan seluruh rangsekan In-tiong-yan yang bergelombang tiga ini malah tenaga dalamnya yang kuat dari samberan tangannya mendesak In tiong yan mundur, ia terpaksa melejit mundur.

Biasanya orang berkata : Seorang ahli sekali turun tangan lantas dapat mengukur betapa tinggi kepandaian lawannya. Demikianlah sekali kakek turun tangan, meski hanya satu jurus saja, In-tiong-yan sudah maklum bahwa kepandaian orang jauh berada diatas kemampuannya. Baru ia menanti rangsekan pihak lawan, tak duga kakek tua itu malah berdiri tegak dan menghentikan gerakannya, terus mengangkat tangannya serta menjura, ujarnya : "Kita datang menemui para kawan dari Ceng-liong-pang itu untuk menyelesaikan urusan umum, tidak bisa kita harus menggeledah seluruh hotel ini, karena kegegabahan mereka sampai mengganggu nona, kelakuan yang kurang hormat ini harap suka diberi maafkan."

Setelah menelan pasir beracunnya sendiri lidah Ciok Goan sudah merah melepuh dan tidak kuasa bicara lagi, melihat sikakek tua yang diandalkan ternyata mencari jalan damai terhadap In-tiong-yan, hatinya terasa menjadi dongkol dan gemas, batinnya, "Mereka hanya memikirkan mendapatkan pahala tanpa hiraukan mati hidupku pula, buat apa aku harus menjual jiwa bagi kepentingan mereka ?" Maka tanpa bicara lagi segera ia ngeloyor keluar dan melarikan diri. Maklum pasir beracunnya itu sangat lihay dan jahat sekali, meski ia sendiri punya obat pemunahnya, juga perlu mencari tempat untuk berobat diri. Untung luka-lukanya ini jauh lebih ringan dibandingkan luka-luka yang ditimbulkan oleh Hek swan-hong tempo hari. Untuk bergebrak lagi dengan musuh terang ia tidak mampu, tapi mengembangkan gin-kang untuk lari dia masih mampu melakukan.

Si kakek tua ini dapat berpikir demi kepentingan pihaknya, dan tak ingin ia membuat permusuhan lebih banyak. Maka In-tiong-yan pun berpikir : "Sepak terjang ke empat orang ini belum dapat kusegani seluruhnya, aku sudah menghukum kepada opas itu serta melukai Ciok Goan, selanjutnya aku tidak perlu turut campur urusan mereka lagi," karena pikirannya ini segera ia membuka suara : "Cerg-liong-pang tiada sangkut paut denganku, jalankan menurut tugas yang harus kalian lakukan, jangan mengusik diriku lagi." secara tidak langsung ia menyatakan bahwa untuk selanjutnya ia hanya berpeluk tangan dan menonton saja.

Melihat maksud hatinya tercapai si kakek tua menjadi girang, serunya : "Kami tidak akan berani ganggu nona lagi. Harap nona suka bermurah hati membebaskan opas itu." In-tiong-yan malah mendengus Ialu kembali kekamarnya, sekali tendang ia lempar opas itu mencelat keluar pekarangan, tendangannya ini sekaligus membebaskan jalan darahnya yang tertotok. Keruan saja kepala Opas dan kedua temannya yang terluka itu malu dan marah sekali; namun mereka hanya berani mendelik belaka tanpa berani sembarangan bergerak lagi, hanya mulutnya saja yang komat-kamit. Dasar kepandaian mereka memang tidak becus, akhirnya mereka saling pandang dan mengundurkan diri kesebelah samping.

Terdengar sikakek berseru lantang: "Para kawan dari Ceng-liong-pang silahkan keluar semua!"

Pintu kamar terbuka, beruntun empat orang keluar semua.

Kakek tua itu berkata lagi, "Kalian berempat kuduga adalah saudara Nyo, Pek, Lo dan Ong empat Kim-kong besar dari Ceng liong pang bukan? Aku pernah jumpa sekali dengan pangcu kalian, demikian juga nama dan ketenaran kalian berempat sudah lama kudengar, hari ini aku beruntung dapat bertemu disini, sungguh betapa bahagia aku orang tua ini.''

Kiranya Lotoa dari keempat orang ini bernama Nyo Su-gi, Loji bernama Pek Kian bu, Losam bernama Lo Hou wi dan Losi bernama Ong Beng-im.

Usia keempat orang ini masing masing terpaut sangat jauh, masuknya mereka menjadi anggota Ceng-liong-pang juga mendahului. Lotoa Nyo Sugi sudah berusia hampir setengah abad, Loji Pek Kianbu sudah lebih empat puluhan, sedang Losam Houwi dan Ong Beng-im masing masing baru berusia dua puluhan. Tapi karena mereka masing-masing punya bekal ilmu silat yang sama lihay-nya, maka setelah bergabung didalam Ceng liong-pang lantas mereka dapat angkat nama bersama dan diberi julukan Su-tay-kim-kong.

Dalam pada itu terdengar Lotoa Nyo Su gi menjengek dingin, katanya: "Siapa kira siapa nyana si Elang hitam Lian Tin san yang kenamaan itu rela merendahkan diri jadi cakar alap musuh."

Dia cuma menggunakan istilah cakar alap-alap bukan mengunakan "anjing alap" ini sudah berlaku cukup sungkan dan menghormat pada Lian Tinsan.

Baru sekarang In-tiong yan dapat mengetahui asal usul si kakek tua ini keruan ia terkejut, batinnya : "Kiranya Elang hitam Lian Tinsan, tak heran memiliki ilmu silat begitu tinggi. Sipenyakitan ini mungkin adalah muridnya yang bersama Ko Tengo itulah. Nama Sutay- kimkong dari Ceng liong pang memang kedengarannya bisa mengejutkan hati orang, tapi belum tentu mereka kuasa melawan guru dan murid ini."

Peristiwa Hong thian lui dihajar babak belur oleh si Elang hitam Lian Tinsan sejak lama sudah diketahui oleh Ing tiong yan. Karena alasan inilah sekarang terpaksa ia harus mengubah haluannya diam diam ia berpikir, "Sutay kimkong dari Ceng-liong pang ini bagaimana asal usul mereka aku tidak tahu, yang terang bahwa Lian Tin san adalah musuh besar Hong thian-lui, pasti dia bukan orang baik baik. Bila Sutay kimkong tidak kuasa melawannya terpaksa aku harus ikut turun tangan."

Maka terdengarlah Ji Pek Kianbu berkata melanjutkan : "Lian locianpwe bernama julukan Heking (elang hitam), baru sekarang aku paham, kiranya dimaksud bukan karena kelihayan ilmu silatnya," sindiran ini mengandung arti maksudnya bahwa Lian Tinsan hakikatnya adalah cakar alap alap yang terima diperbudak dan menjadi antek musuh soalnya mereka tidak tahu akan rahasia ini.

Sebenarnya julukan Elang hitam yang diperoleh Lian Tinsan ini karena berkah ilmu Eng-jiau kim najiu yang lihay itu. Justru Loji Pek Kianbu memang pandai menyindir, karuan Lian Tinsan merah padam saking gusar dan berjingkrak seperti kebakaran jenggot.

Meski gusar namun elang hitam Lian Tin san masih kuat menahan sabar, katanya tawar, "Jangan kalian pandang orang dari sela pintu, menjadikan bentuk orang itu gepeng. Memang kedatangan mereka adalah untuk menjalani tugas keamanan, tapi Lohu justru cuma ingin minta keterangan seseorang kepada kalian, seumpama kalian tak bisa menyerahkan orang ini maka kuharap kalian memberi tahu dimana sekarang dia berada."

"Siapa yang maksudkan ?" tanya Nyo Sugi.

"Sam-tianjiu Geng Tian yang datang dari Kanglam !"

Pek Kianbu bergelak tawa serunya, "Kau minta padaku lalu kepada siapa aku minta dia."

"Lian-locianpwe," imbrung Nyo Sugi, "Biarlah aku bicara terus terang memang kami mendapat perintah untuk menyambut kedatangan Geng-kongcu tapi sampai sekarang masih belum mengetahui dimana jejaknya," Karena Lian Tinsan sudah terang-terangan mengatakan tidak sejalan dengan para opas itu maka bicaranya menjadi rada sungkan.

Tapi Lian Tinsan tertawa dingin, jengeknya, "Apa benar belum mengetahui jejaknya ? Paling tidak pasti mendapat beritanya bukan ?"

Losam Lo Hou wie yang sejak tadi tetap bungkam sekarang mendadak menyela, katanya, "Sepuluh tahun yang lalu orang yang berusaha membegal Geng kongcu bukankah kau adanya ?"

"Kalau benar lantas mau apa ?" Tantang Lian Tinsan dengan congkaknya.

Serta mendengar kata-kata Lo Hou wi ini Loji Pek Kianbu menjadi heran dan bertanya tanya dalam hati.

Harus diketahui bahwa peristiwa itu terjadi pada sepuluh tahun yang lalu pada waktu itu Lo Hou wi dan Ong Beng im sama belum masuk menjadi anggota Ceng-liong-pang.

Pada suatu hari Pangcu Liong Jianpoh mengundang Nyo Sugi dan Pek Kiambu ke rumahnya untuk minum arak itu kejadian umum menemaninya minum arak, namun justeru kali ini ada sesuatu hal yang luar biasa. Pek Kian bu seorang yang cermat dan serba teliti suka mengerahkan otaknya untuk berpikir, pernah ia memperhatikan bahwa belakangan ini kelihatannya Pangcu mereka seperti punya kejanggalan hati dalam suasana yang cukup meriahpun beliau selalu bermuram durja sikapnya yang wajar dan riang serta gagah perwira itu entah kemana lenyapnya. Keadaan semacam ini berlarut-larut selama satu bulan Liong Jian poh suka minum arak, biasanya berselang beberapa hari pasti ia undang teman atau bawahannya untuk sekedar berkumpul minum arak. Tapi kali itu merupakan undangan pertama selama satu bulan ini berselang setelah tiba dirumahnya baru mereka ketahui pula bahwa tamunya juga mereka berdua saja, suasana yang biasanya gegap gempita dari riuhnya kelakar para tamu kini tidak terdengar lagi, sungguh berbeda jauh keadaan ini.

Arak memang dapat memanaskan hati dan menimbulkan semangat, begitulah setelah menenggak beberapa cawan arak, sikap Liong Jian poh berubah seperti sedia kala, melihat orang mengulum senyum tanda kegirangan hatinya, segera Pek Kian-bu mengajukan pertanyaannya, "Pangcu adakah berita menggembirakan apa?''

Setelah menenggak secawan pula arak, Liong Jian-poh berkata tertawa, "Memang selama satu bulan ini aku sedang menguatirkan suatu urusan. Sekarang ganjalan hatiku ini sudah buyar inilah kabar gembira yang lebih menyenangkan dari berita bahagia lainnya."

Tanya Nyo Sugi, "Entah soal apakah itu kiranya Pangcu sudi menerangkan kepada kami?''

Liong Jian-poh tertawa, ujarnya, "Kalian adalah kawan-kawan dekatku yang paling kental, kuundang kalian menemani aku minum arak justru karena aku terlalu kegirangan, ingin kucari dua orang yang dapat kuberitahu kabar gembira ini untuk mengecap kesenangan ini bersama. Nyo-lote, apakah kau masih ingat pada Geng-tayhiap? Urusan ini justru menyangkut dirinya."

"Sebelum Geng tayhiap hijrah keselatan tahun yang lalu, berkat kebaikan Pangculah sehingga aku bisa menghadap kepada beliau mana aku melupakan hal ini?" demikian sahut Nyo Su gi. "Setelah Geng tayhiap berangkat, sepuluh tahun sudah tiada kabar beritanya. Apakah Pangcu sekarang sudah mendapat kabar beritanya?''

Ternyata kanglam Tayhiap Geng Ciau adalah pemimpin sebuah laskar pergerakan didaerah utara sungai besar akhirnya dia bawa seluruh anak buahnya menyebrangi sungai besar dan menggabungkan diri dalam pasukan kerajaan Song selatan, akhirnya barisan laskar mereka menjadi pasukan terkuat dalam setiap pertempuran, nama pasukannya diberi julukan Hwi hou-kun, pasukan barisan terbang, dalam pertempuran besar kecil melawan serbuan pasukan kerajaan Kim pernah berulang kali mendirikan pahala dan jasa-jasa besar demi kepentingan kerajaan. Akhirnya Geng Ciau sendiri naik pangkat menjadi komandan dari Hwi hou-kun ini, selanjutnya mereka menetap di Kanglam (baca Pendekar Latah).

Liong Jin poh ini sebenarnya seorang perwira Geng Ciau yang paling diandalkan. Waktu Geng Ciau memimpin anak buahnya keselatan terpikir olehnya harus meninggalkan seseorang yang lihay untuk bekerja di-belakang musuh, satu pihak dapat melanjutkan pembentukan pasukan pergerakan melawan penjajah Kim, di pihak lain dapat melindungi dan menentramkan para saudaranya yang tidak bisa ikut hijrah keselatan karena punya tanggung jawab keluarga, dan pilihan ini akhirnya jatuh pada Liong Jin-poh.

Dalam hal ini Liong Jin poh tidak mengecewakan harapan Geng Ciau, tapi sejak Hwi hou kun hijrah keselatan, tekanan musuh terlalu berat, malah pernah terjadi suatu ketika situasi sangat gawat, sebegitu gentingnya sehingga mereka tidak berani terang terangan membentuk laskar pergerakan secara terbuka. Dikuatirkan sebelum mereka sempat mengangkat panji pasukan pergerakan, keburu bala tentara kerajaan Kim menumpas mereka. Karena itu untuk menghindarkan perhatian dan supaya tidak menyolok pandangan umum, maka Liong Jinpoh mencari akal mengganti cara lain dalam usahanya yang mulia, yaitu ia mendirikan Ceng-liong-pang.

Nyo Sugi sudah berkenalan sangat rapat dengan Liong Jinpoh sebelum Ceng-liong-pang terbentuk, dialah orang yang pertama menjadi anggota Ceng-liong-pang. Loji Pek Kianbu baru kira-kira setengah tahun kemudian mengabdikan dirinya. Maka kalau Nyo Sugi pernah bertemu dengan Geng Ciau, adalah Pek Kianbu belum pernah.

Tatkala ia mendengar Geng Ciau sudah ada kabar beritanya, Nyo Sugi jadi berjingkrak kegirangan, maka ia bertanya.

Liong Jianpoh tertawa, sahutnya : "Bukan berita pribadi Geng-tayhiap, tapi adalah berita tuan kita."

Nyo Sugi rada melengak, tanyanya tak mengerti : "Apakah putra Geng tayhiap itu sudah ketemu ?" kuatir Pek Kian-bu kurang paham segera ia menjelaskan ; "Waktu Geng-tayhiap mau ke selatan, istrinya sedang hamil tua dan tidak ikut kesana. Kabarnya telah melahirkan seorang putra, sekarang kira-kira usianya sudah lima belas tahun, tapi selama ini dicari kemana-mana tidak pernah ketemu."

"Setelah Geng-hujin melahirkan iapun menyusul keselatan," demikian Liong Jinpoh melanjutkan. "Karena berabe membawa orok yang masih kecil, maka ia titipkan bocah itu disalah satu sanak familinya. Satu bulan yang lalu baru aku mendapat kabar ini."

"Kalau begitu pangcu harus segera membawa anak itu kemari dan mengajarkan kepandaian silat kepadanya." demikian usul Nyo Sugi.

"Tidak perlu kita banyak berabe," jawab Liong Jin-poh, "Bing cong-piauthau dari Hou-wi piaukiok sudah mengantarnya menuju ke Kanglam, kabarnya Bing Thing juga mengundang sahabatnya yaitu Lu Tang-wan itu tokoh yang menggemparkan Bulim karena kelihayan ilmu Bianciangnya ikut melindungi."

Pek Kian-bu menjadi paham, katanya : "Jadi soal inilah yang dikuatirkan pangcu selama sebulan ini?"

"Sebelum aku mendapat kabar keselamatan mereka, hatiku selalu dirundung kekuatiran yang tak terkirakan. Aku kuatir adanya seseorang yang tahu asal usul bocah itu lantas menculiknya ditengah jalan. Untunglah meski ditengah jalan pernah sekali terjadi keributan, malah kabarnya Lu Tang-wan terluka sedikit, tapi Bing Thing dapat selamat membawa bocah itu tiba di Kanglam dan menyerahkan kepada ayahnya."

"Siapakah orangnya yang mencegat mereka ditengah jalan?" tanya Nyo Sugi.

"Seorang asing yang berkepandaian sangat tinggi, dari kepandaian Eng-jian-jiu orang yang lihay itu, Bing Thing mengira bahwa orang itu pasti Elang Hitam Lian Tin-san adanya."

Waktu itu Lian Tin-san sendiri baru saja muncul dikalangan kangouw, nama besarnya belum setenar sekarang. Maka sekarang tokoh pengalaman seperti Bing Thing juga cuma mengetahui namanya dan tidak tahu julukannya.

"Konon si Elang Hitam Lian Tin-san adalah begal tunggal yang malang melintang di kangouw apakah diapun sudah tunduk dan menjadi antek kerajaan Kim ?" demikian tanya Nyo Su-gi.

"itu hanya terkaan Bing Thing saja dia belum berani memastikan, kalianpun jangan sembarang katakan hal ini pada orang lain," demikian pesan Liong Jian-poh.

"Sikap Lu Tang-wanlah yang harus kita hargai apakah perlu kita menghaturkan terima kasih?" usul Nyo Sugi, sebab Bing Thing adalah sahabat kental dari Ceng liong pang lain halnya dengan Lu Tang-wan yang tidak mereka kenal, maka ia ajukan usulnya ini.

"Jangan, sekali-kali jangan," cepat Liong Jian-poh menggoyangkan tangannya, "Bing Thing sendiri pun tidak pernah menceritakan asal-usul bocah itu kepadanya, Lu Tang-wan punya rumah juga punya keluarga, dia tidak akan berani saling berhubungan dengan para kawanan Bulim macam kita ini. Bila dia benar-benar mengetahui asal usul bocah itu pastilah dia sendiripun akan merahasiakannya."

Karena mengingat pesan Pangcunya inilah maka selama sepuluh tahun ini belum pernah Nyo Su-gi dan Pek Kian-bu membicarakan rahasia ini dengan orang ketiga.

Hampir sepuluh tahun kemudian setelah Ceng-liong pang berdiri tegak dengan jaya baru Lo Hou wi dan Ong Beng-im masuk jadi anggota. Karena usia mereka masih terlalu muda dan pengalaman masih terlalu cetek maka banyak persoalan rumit yang serba rahasia, mereka tidak diikut-sertakan dalam perundingan. Seperti misalnya tugas untuk menyongsong kedatangan Geng Tian ini, setelah mereka berada ditengah perjalanan baru Nyo Su-gi mewakilkan Pangcu mereka untuk menjelaskan kepada mereka.

Oleh karena itulah pada waktu Lo Hou-wi secara mendadak bertanya jawab dengan Lian Tin-san tadi, sanubari Pek Kian bu menjadi bingung dan keheranan. Dalam hati ia membatin: "Aneh, dari mana Losam bisa tahu persoalan ini? Aku tak pernah beritahu padanya. Apalagi Nyo toako yang serba hati-hati, pesan Pangcu yang wanti-wanti sekali pantang dilanggar olehnya. Jelas tidak mungkin dia yang membocorkan rahasia ini. Sepuluh tahun yang lalu dia tak lebih merupakan bocah angon yang masih berusia dua tiga belasan, usianya lebih muda dari Geng-kongcu sendiri, tak mungkin dia bisa berkenalan dengan para sahabat yang setingkat dengan Geng-tayhiap. Lalu dari mana ia bisa mendapat tahu persoalan ini?"

Tengah ia menerka, terdengar disebelah sana Lian Tin-san sedang menjengek dengan sombongnya: "Kalau benar mau apa ?"

Lo Hou-wi segera tertawa dingin, katanya, "Masih untung kami tidak membuat perhitungan dengan kau, sebaliknya kau ingin mencari berita Geng kongcu kepada kita. Heheee, apakah terlalu muluk pikiranmu? Jangan kata kami tidak tahu seumpama tahu juga tak sudi beritahu kepada kau? Masa kita harus mandah membiarkan kau berbuat semena mena terhadap Geng-kongcu?''

Si elang hitam Lian Tin-san menengadah terloroh-loroh serunya: "Bocah ingusan yang masih berbau popok bawang juga berani bermulut besar dihadapanku! Hemm tidak kau katakan akupun punya cara supaya kau mau buka bacotmu. Baik biar kau rasakan kelihaianku, nanti kau akan tahu apakah aku ini berangan angan terlalu muluk tidak?''

"Kepandaian apaan yang lihay, silahkan maju aku ingin belajar kenal !" demikian tantang Lo Hou wi dengan berani.

Belum lagi lenyap suaranya, mendadak Nyo Sugi berteriak dari samping, "Samte, awas!" seiring dengan suara teriakan ini, tampak Elang hitam Lian Tinsan tahu-tahu sudah menubruk maju laksana burung elang.

Cengkeraman cakar tangannya ini sungguh sangat cepat dan hebat, meski Nyo dan Pek dua orang saudara tertuanya berada disamping juga merasa diluar dugaan serta tidak sempat lagi memberikan pertolongannya.

Maka terdengarlah suara bret, baju Lou Hou wi tahu-tahu sudah sobek secuil. Tapi, dalam waktu yang demikian singkat itu, Lou Hou wi juga sudah balas menyerang dengan goloknya, sekaligus ia lancarkan delapan tebasan serangan golok yang gencar.

Kedelapan golok cukup cepat dan aneh, setiap jurusnya menyerang tempat penting di tubuh Lian Tin san. Bagi pandangan orang lain, tulang pundak Lou Hou wi seperti hampir tercengkeram hancur oleh cakar tangan Lian Tin san, keadaannya memang cukup runyam. Tapi bagi Lian Tin-san sendiri bagaimana juga hatinya juga tercekat dan di luar dugaan. Soalnya itu terlalu memandang ringan musuhnya yang masih berusia terlalu muda, betapapun takkan mungkin luput dari cengkeraman bajanya yang lihay, menurut perhitungan begitu ia berhasil mencengkeram Lou Hou wi dengan siksaan yang cukup berat, ia hendak mengompas keterangan mulutnya. Tak terduga ia hanya berhasil mencakar sobek bajunya, kulit badannya saja tidak sampai tersentuh olehnya. Apalagi lawan masih mampu balas menyerang sekaligus delapan tebasan goloknya, kalau Lian Tin san tidak cukup gesit dan lincah gerak tubuhnya, hampir hampir saja tubuhnya sudah cedera. Meski demikian, tak urung iapun sudah boyong keluar seluruh kemampuannya untuk berkelit dari kedelapan bacokan goloknya yang hebat itu. Orang lain menyangka Lou Hou wi kena dipermainkan oleh dirinya, tapi dia sendiri maklum sedikitpun ia tidak berani pandang ringan pada musuh.

Begitulah kedua belah pihak saling tubruk dan mencelat maju mundur terdengar Nyo Su gi membentak gusar; "Tua bangka menganiaya bocah, termasuk orang gagah macam apa kau?" pukulan besinya terus menderu hebat, dan menempiling kebatok kepala Lian Tin-san.

Dari samping Pek Kian bu juga sudah cabut pedangnya bantu mengeroyok, semua pada bergebrak musuh, namun masing-masing bekerja berlainan. Kalau Nyo Su-gi tumplek seluruh perhatiannya menyerang musuh supaya lawan melindungi diri lebih dulu sebelum usaha penyerangan kepada musuh berhasil tercapai, adalah otak Pek Kian-bu sedang dirundung berbagai persoalan yang mengganjal benaknya.

Dalam hati Pek Kian-bu berpikir: "Kenapa kepandaian Losam mendadak maju berlipat ganda, apakah dulu mereka belum betul-betul mempertunjukkan kepandaian dasarnya yang asli? kalau hal ini benar, sungguh licik dan licin!"

Sepihak karena ia mempunyai perasaan curiga yang berkelebihan ini, dilain pihak, karena kepandaian silat Lian Tin-san memang amat kuat. Pek Kian bu berkelahi hanya cukup membela diri saja, sengaja ia hendak lihat sampai dimana tingkat kepandaian Lo Hou-wi yang belum pernah dilihat.

Memang tidak malu Lian Tin san mendapat gelar si Elang hitam, gerak penyerangan ilmu silatnya ternyata begitu ganas dan buas, rangsakannya beraneka ragam, terkam koyak, cengkeraman besi bergantian dengan cara kerja yang cukup keji dan tangkas sekali.

O^~^~^O 
DONASI VIA TRAKTEER Bagi para cianpwe yang mau donasi untuk biaya operasional Cerita Silat IndoMandarin dipersilahkan klik tombol hati merah disamping :)

Posting Komentar