Bara Naga Jilid 20

Jilid 20

Sampai di sini, lalu ia berpaling kepada Giam Ciang dan berkata.

"Sahabat, tentu kaupun paham jalan pikiran ini."

Muka Giam Ciang tampak berkerut-kerut, dengan suara parau ia menjawab.

""Siang Cin, tidak perlu nasehatmu. Selama puluhan tahun berkecimpung di dunia Kangouw, pengalamanku kiranya tidak lebih sedikit daripadamu......Dan sekarang, pudarlah segala angan2ku yang muluk2 . ...Sepulangnya di Pek hoa kok, selamanya aku akan mengasingkan diri dan takkan ikut campur urusan tetek bengek lagi ... .. ."

"Kukira itu jalan yang paling baik, sahabat,"

Ujar Siang Cin lalu ia berpaling kepada Bwe Sin dan berkata.

"Dan kau nona Bwe, kaupun boleh bebas untuk pergi."

Mendadak sorot mata Bwe Sin mencorong terang dan menatap Siang Cin setajam sembilu, katanya.

"Kau sungguh baik hati Siang Cin."

"Kuharap di antara kita akan lebih baik jika tidak saling bermusuhan .....

"

Ucap Siang Cin dengan tenang.

"Jangan bermusuhan, setelah kau membunuh ayah angkat dan ke enam pamanku? Setelah kau hancurkan Tiang hong pay kami dan menipuku?"

"Kau tahu, kita berdiri di pihak berlawanan, ayah angkat dan pamanmu ingin membunuhku, jika aku tidak membunuh tentu akan terbunuh, kau kira cara bagaimana harus bertindak kepada mereka?"

"Dendamku kepadamu sedalam lautan, Siang Cin.

"

"Jangan bodoh nona Bwe, kau bukan tandinganku. Adalah menjadi kebiasaanku tidak mengampuni orang yang memusuhi diriku."

"Jika begitu, akan lebih baik kau bunuh diriku saja sekarang, babat rumput sampai akar2nya."

"Kau tahu aku takkan membunuh kau, kalau tidak, untuk apa ku buang waktu dan tenaga lagi? Nona Bwe, aku tidak meminta pengertianmu atas diriku, aku cuma ingin mengatakan padamu bahwa nasib mujur dan pengampunan takkan datang berulang2 atas dirimu."

Dengan rasa benci Bwe Sim mengangguk, katanya.

"Ya, akupun ingin memberitahu padamu, bilamana aku dapat pergi dengan hidup, pada suatu hari pasti akan kucari kau, akan kubunuh kau dan ...."

"Perempuan hina!"

Sian Goan kian meraung murka, segera ia lolos goloknya dan hendak melabrak Bwe Sim. Sebun Tio bu juga lantai mencaci maki atas sikap Bwe Sam yang tidak tahu diri itu. Tapi Siang Cin lantas mencegah tindakan mereka, katanya.

"Nona Bwe, apakah betul kau bertekad begitu? Apakah kau tidak kuatir aku mengingkari janji sekarang dan bertindak padamu. Kau tahu untuk ini hampir tiada kesukaran bagiku."

"Kau boleh bertindak sesukamu Siang Cin, aku tidak gentar,"

Jawab Bwe Sim tanpa gentar. Kembali Sebun Tio bu berjingkrak gusar, begitu pula Sian Goan kian hendak menghajar lagi si nona. Namun Siang Cin menggeleng kepala dan mencegah pula, katanya.

"Sudahlah, bebaskan dia saja!"

"Siang heng,"

Teriak Sebun Tio bu.

"apakah kau sudah keblinger, mengapa bebaskan dia jika keparat ini tetap tidak mau menyadari dosanya? Apakah kau tidak salah ...."

"Bisa jadi aku salah, tapi biarlah ...."

Kata Siang Cin. Dengan dingin Bwe Sim berkata.

"Aku tidak berterima kasih kepadamu, Siang Cin."

Siang Cin tersenyum, katanya.

"Ingat pada perkataanku, aku tidak membunuh kau dan juga tidak memerlukan terima kasihmu. Aku merasa kau bukan pemeran pokok dalam pertempuran yang banyak menimbulkan banyak korban ini. kau hanya atas perintah dan ikut2an saja, malahan kaupun sudah membantu kelancaran usahaku, makanya kuberi jalan hidup bagimu. Ku tahu kebebasanmu akan merugikan diriku sendiri, tapi aku tidak menyesal, apabila kau tetap akan memusuhi aku, itulah hakmu, akan kutunggu kapan dan di manapun juga. Tapi kau harus yakin benar2 akan dapat mengalahkan aku, kalau tidak, maka nasibmu akan tamat juga pada saat itu ....Nah. sekarang boleh silahkan pergi semua!"

Bwe Sim mendongak dengan angkuh, jengeknya.

"Akan kuingat baik2 ucapanmu ini, Siang Cin."

Habis berkata ia terus melangkah keluar tanpa menoleh disusul oleh Giam Ciang dan Giam Ciat. Waktu lewat di samping Siang Cin, mendadak Giam Ciang berhenti dan menatap Siang Cin lekat2, sampai lama barulah ia bersuara parau.

"Terima kasih, Naga Kuning!"

Siang Cin hanya membalasnya dengan tersenyum tanpa berucap.

Sorot mata Giam Ciat juga menampilkan perasaan aneh.

Sesaat itu Siang Cin merasakan perasaan aneh pada pandangan kakak beradik itu, yaitu terima kasih, merasa utang budi dan ketulusan hati.

Siang Cin memandangi bayangan mereka yang akhirnya lenyap di kejauhan sana.

Sebun Tio bu menggeleng, katanya.

"Siang-heng, lihat saja nanti, pasti akan datangkan kesukaran bagimu gara2 pembebasan budak hina tadi."

Dengan tak acuh Siang Cin tersenyum, ucapnya.

"Bisa jadi begitu. Tapi kukira dia juga akan berpikir, akupun bukan orang yang sering mengampuni orang."

Setelah memandangi sekelilingnya, lalu ia berkata.

"Kukira kitapun keluar saja, permainan di sini sudah berakhir."

Memandangi malam yang kelam, tiba2 Sebun Tio bu berkata.

"Fajar akan tiba tak lama lagi, apakah pagi2 kita akan terus berangkat?"

Siang Cin mengangguk.

"Dan bagaimana dengan Kin heng?"

Tanya Sebun Tio bu pula setelah termenung sejenak.

"Sudah tentu Kin heng berangkat bersama kita, akan kita antar pulang ke Tan ciu,"

Jawab Siang Cin.

"Kemudian?"

"Tentu kaupun harus pulang kandang dan menjenguk Jian ki beng yang sudah lama kau tinggalkan itu!"

Sebun Tio bu tertawa, ucapnya.

"Siang heng, bicara sesungguhnya, memang ada niat ku undang engkau berkunjung ke tempatku itu sekadar melihat bagaimana aku menjadi `raja` di sana."

"Tentu saja aku berkunjung ke tempat Sebun-tangkeh, cuma untuk sementara waktu mungkin tak dapat terlaksana ...."

"Memangnya kenapa?"

Tanya Sebun Tio bu.

"Aku masih harus menjenguk beberapa kawan lamaku, mereka terluka dan sedang dirawat, sudah sekian lama kutinggalkan mereka. pula . ...Ciciku juga sedang menantikan kedatanganku."

"Cicimu?"

Sebun Tio bu melenggong.

"Kau mempunyai seorang Cici (kakak perempuan)! Baru sekarang kudengar. aneh ....Apakah kakak kandung, Siang heng" "O, bukan, kakak angkat, tapi tiada ubahnya seperti kakak kandung,"

Jawab Siang Cin dengan tertawa.

"Baik,"

Seru Sebun Tio bu sambil berkeplok.

"akan kuiringi kau ke sana dulu, habis itu kita boyong teman2mu itu berkunjung ke tempatku. Kita harus berkumpul dengan baik selama lima tahun atau sepuluh tahun ......."

"Wah, apakah takkan mengganggu dan membikin bangkrut padamu?"

Ujar Siang Cin.

"Busyet,"

Seru Sebun Tio bu dengan tertawa.

"Ribuan orang saja tak pernah membikin bangkrut, hanya ketambahan beberapa orang saja apa artinya. Nah, jadi sudah pasti kalian harus ikut ke sana?"

Siang Cin tertawa, katanya.

"Tapi kukira masih ada urusan lain lagi yang harus ku selesaikan."

"Urusan apapun, pokoknya aku telah pergi bersamamu,"

Seru Sebun Tio bu. Tiba2 Sian Goan kian menyela.

"Bilamana diperbolehkan, sesungguhnya Tecu juga ingin ikat pergi bersama kalian."

"Jangan kuatir saudaraku, kesempatan masih banyak di kemudian hari,"

Ujar Sebun Tio bu sambil menepuk bahu orang.

"Siang susiok dan Sebun tangkeh,"

Kata Sian Goan kian pula dengan perasaan berat.

"apapun juga, kelak kalian harus berkunjung ke padang rumput, segenap anggota Bu siang pay sangat mengharapkan kehadiran kalian."

"Jangan kuatir, kami pasti akan datang,"

Jawab Siang Cin dengan tersenyum. Lalu ia mendongak memandang langit yang masih kelam, gumamnya.

"Sudah beberapa malam kita tidak tidur dengan baik, kukira bolehlah kita istirahat sekarang dan esok pagi2 dapatlah kita berangkat .....

"

O0u 000 000 Di atas sebuah bukit kira2 belasan li di luar Toa ho tin, Siang Cin dan Sebun Tio bu bertengger di atas kuda masing2 sedang memandangi barisan panjang pasukan berkuda berseragam putih yang sedang menuju ke utara.

Angin meniup men deru2 dingin, kain putih berkibar disertai gemilapnya gelang emas di kepala, para pahlawan gagah berani itu sedang menuju pulang ke padang rumput.

Sayup2 terdengar suara terompet yang mengharukan diselingi ringkik kuda, jauh di belakang sana asap tebal mengepul tinggi di angkasa, api sedang berkobar membakar Ji ih hu.

Suara gegap gempita kemarin, suara pembunuhan dan banjir darah, kini telah lenyap.

Sebagai gantinya adalah suasana yang hening dengan puing2 yang berserakan.

"Semuanya sudah berlalu, mereka sudah berangkat, Siang heng,"

Kata Sebun Tio bu dengan terharu.

"Ya, tiada perjamuan di dunia ini yang tidak bubar,"

Ujar Siang Cin.

"Marilah Sebun tangkeh, kukira Kin heng sudah tidak sabar menunggu di dalam kereta sana."

Di kaki bukit sana ada sebuah kereta kuda, di situlah Kin Jin berbaring karena lukanya belum sembuh.

Kuda kesayangannya tertambat di samping kereta.

Di bawah pengawalan Siang Cin berdua, tanpa kesukaran apa2 sampailah mereka di Tan-ciu, tempat kediaman Kin Jin.

Kin Jin adalah tokoh yang sangat menonjol di daerah ini, hampir setiap orang dari orang tua sampai anak kecil tahu nama Kim lui jiu Kin Jin, terkenal karena keluhuran budinya, karena baik hatinya.

Seperti halnya rakyat jelata di setiap tempat yang suka menonjolkan sesuatu atau hasil setempat yang terkenal, umpamanya Hami dengan semangkanya yang semanis madu, Turfan dengan anggurnya.

Peking dengan bebek panggangnya, maka di Tanciu nama Kim lui jiu hampir menjadi buah bibir setiap orang.

Rumah tinggal Kin Jin adalah sebuah gedung yang mentereng dan halaman yang luas.

Sesudah Kin Jin diserahkan kepada anak buahnya yang akan merawatnya, Siang Cin dan Sebun Tio bu untuk sementara juga ditahan oleh Kin Jin agar suka tinggal beberapa hari di situ.

Tapi sekali tinggal, tanpa terasa sepuluh hari sudah lalu, selama beberapa hari itu salju juga turun dengan lebatnya.

Sudah tentu dandanan Siang Cin sekarang sudah kembali pada gayanya yang semula, dengan jubah kuningnya yang khas, rambut terikat indah dengan ikat kepala warna hitam.

Muka bersih, gigi putih, gagah dan tampan, ia telah kembali pada gaya aslinya yang menggiurkan setiap gadis.

Pagi hari ke sebelas, Siang Cin duduk di ruangan tamu dan sedang menghangatkan badan di tepi tungku.

Di depannya sebuah meja kecil dengan satu poci arak dan dua tiga macam nyamikan.

Di luar bunga salju berhamburan menyelimuti pepohonan yang gundul.

Selagi Siang Cin menghirup araknya, tiba2 pintu terbuka dan masuklah Sebun Tio bu dengan langkah lebar.

Begitu melihat Siang Cin, segera ia berseru.

"Aha, nikmat juga kau minum arak sendirian, pantas kau menjadi lupa kepada Cicimu dan tidak ingin pulang lagi."

"Duduklah Sebun tangkeh, memang sedang kupikirkan urusan ini,"

Kata Siang Cin.

"Kupikir besok juga aku akan mohon diri kepada Kin heng, kulihat kesehatannya sudah tambah baik dan mungkin tidak berbahaya lagi."

"Besok? Aha, bagus sekali,"

Seru Sebun Tio-bu.

"Sesungguhnya akupun sudah rindu kepada anak buahku yang sudah lama kutinggalkan itu. Besok pagi2 kita berangkat, lebih dulu menjemput Cici dan kawanmu itu, lalu pergilah ke tempatku sana. Terus terang, biarpun tempatku itu tidak mentereng seperti rumah Kin heng ini, tapi juga mempunyai gayanya sendiri, pula tempatnya lebih luas, pemandangan juga tidak kurang indahnya, kukira engkau pasti akan kerasan di sana."

Siang Cin mengucap terima kasih. Lalu ia termangu2 dan memandang jauh keluar sana. Sebun Tio bu memandangi kawan ini dengan lekat2, tiba2 ia tertawa dan berkata.

"Siang heng, kukira engkau sedang mengenangkan Cicimu itu? Apakah sejak kau terjun membantu Bu siang pay. Cicimu dan kawanmu itu kau tinggalkan di Tay goan-hu?"

"Betul,"

Jawab Siang Cin dengan tersenyum.

"Kukira Cicimu itu tentu ......tentu sangat cantik bukan?"

Siang Cin mengangguk.

"Ya, cukup cantik."

Sebun Tio bu tertawa, katanya pula.

"Dan kukira hubungan kalian pasti juga sangat akrab, tentunya dia juga sangat sayang padamu ... , ..Apakah hubungan kalian tidak lebih dari itu, misalnya kalianpun saling mencintai?"

"Ya. memang ......memang dalam hati kami cukup memahami perasaan masing2,"

Jawab Siang Cin terus terang setelah ragu2 sejenak.

"Aha, pantas engkau suka ngelamun, kiranya merindukan sang Cici,"

Goda Sebun Tio bu dengan tertawa.

"Maka kukira kita harus lekas berangkat saja besok, aku menjadi ingin melihat bagaimana bidadari kita yang berhasil menawan hati jagoan kita ini."

Siang Cin tidak menjawab, hanya sorot matanya saja tampak mencorong terang, ia angkat poci dan menuangkan arak bagi Sebun Tio bu.

"Aku menjadi heran juga, jika kalian benar2 saling menyukai, mengapa kalian belum lagi menikah? Haha, jika Naga Kuning sudah berkeluarga, inilah peristiwa besar yang sukar dibayangkan"

"Ya, hal ini juga pernah ditanyakan orang kepadaku ...."

Tutur Siang Cin sambil memejamkan mata seperti mengenangkan masa lalu.

"Bila teringat, aku sendiripun rada2 terharu ....memang, mengapa kami tidak menikah saja?!"

"Dapatkah kau jelaskan?"

Tanya Sebun Tio bu.

"Memang ada beberapa sebabnya,"

Jawab Siang Cin.

"Ada alasan yang nyata, tapi ada juga yang tidak berwujud ... ."

"He, perduli apa alasannya, jika suka lama suka, kenapa mesti urusan tetek bengek lagi?"

Seru Sebun Tio bu.

"Sudahlah, pokoknya bila sudah berada di tempatku nanti, segera akan kupersiapkan hari bahagiamu, semuanya kujamin beres, kalau sudah jelas sama2 suka, kenapa pakai banyak alasan lagi?"

Siang Cin seperti mau omong apa2 pula, tapi tidak jadi.

Apa yang dikatakan Sebun Tio bu memang betul, selama ini dia selalu terikat dan dirisaukan oleh hal2 yang mestinya tidak perlu dihiraukan itu.

Ucapan Sebun Tin bu memang tepat, ia harus melupakan hal2 yang telah lalu, melupakan kejadian dahulu, bersihkan bayangan gelap yang selalu menutupi pikirannya.

000 000 Tay goan hu, kota yang dituju tampak di depan sana.

Tidak jauh di luar kota itu ada sebuah rumah yang sederhana dan serba tenang, halaman luas dengan pagar bambu.

Di sekelilingnya adalah hutan bambu dan sebuah sungai kecil menyusur samping perkampungan itu.

Air sungai sudah membeku, sebuah jembatan kecil menghubungkan jalan masuk ke perkampungan.

Waktu itu sudah dekat magrib, dua ekor kuda tampak membedal tiba dengan cepat, terdengar suara derap kaki kuda itu berdetak-detak memecah kesunyian alam sekeliling.

Kedua ekor kuda itu yang satu putih mulus dan yang lain berbulu loreng, di musim dingin begini napas yang dihembuskan kuda itu tampak seperti kabut, badan juga bermandikan peluh, jelas kuda2 itu telah mengalami perjalanan yang cukup jauh dan lama.

Kedua penunggang kuda itu tampak gagah perkasa, mereka adalah Cap pi kun cu Sebun Tio bu dan si Naga Kuning Siang Cin.

Mereka langsung melarikan kudanya ke jurusan perumahan ini, yang tinggal di rumah ini tak lain tak bukan adalah sahabat Siang Cin yang sudah lama berpisah, yaitu "Dua potong kayu"

Pau Seh hoa serta An Lip dan kekasihnya yang pernah mendapat pertolongan Siang Cin, selain itu ada lagi Kun Sim ti.

"Cici angkat"

Yang dirindukan Siang Cin itu"

Pada waktu sebelum Siang Cin berangkat membantu Bu siang pay menyerbu Hek jiu tong di Pi-ciok san, ketika lewat kota Tay goan hu, di situ Siang Cin meminta Pau Seh hoa dan lain2 supaya berdiam saja di perumahan sederhana ini.

Waktu mereka sama terluka parah dan perlu dirawat.

untuk itu tentu saja diperlukan waktu yang cukup lama.

Tapi Siang Cin tidak menyangka kepergiannya akan makan tempo sepanjang ini, namun begitu di mana dan kapanpun juga Siang Cin tidak pernah melupakan kawan2 baiknya serta Cici angkat yang sedang menunggu kembalinya itu.

Perjalanan dari Tanciu ke sini memakan waktu hampir sepuluh hari, inipun sudah cepat, sedemikian cepatnya sehingga Sebun Tio bu kepayahan di tengah perjalanan.

Akan tetapi Siang Cin tetap penuh semangat dan tentu juga tidak sabar, dia hampir2 lupa tentang lapar dan lelah.

Diam2 Sebun Tio bu tertawa, ia dapat memahami perasaan kawannya ini, iapun mengerti bagaimana perasaan seorang yang merindukan kekasih.

Dari jauh mereka sudah melihat rumah yang tenang itu, terharu hati Siang Cin setelah dekat dengan rumah itu.

Jantungnya mulai berdebar, darahnya mengalir terlebih cepat, sampai2 tangan yang memegang tali kendali juga rada gemetar.

Mendadak ia mengendurkan lari kudanya.

Sebun Tio bu terlanjur membedal kudanya beberapa tombak ke depan, habis itu barulah ia menahan kudanya.

"He, apa2an kau ini?"

Serunya sambil menoleh.

"Dari jauh kau melarikan kudamu seperti diuber setan, sesudah dekat kau malah bermalas-malasan. Haha, memangnya apalagi yang sedang kau pikirkan? Kau hendak membuat kejutan?"

Akan tetapi Siang Cin tidak perlu lagi membikin kejutan, sebab pada saat itu kedatangan mereka sudah dilihat oleh An Lip yang kebetulan sedang berkebun di depan rumah.

Dari jauh An Lip dapat mengenali Siang Cin, segera ia berlari ke dalam rumah dan berkaok-kaok memanggil Pau Seh hba dan Kun Sim ti..Maka ber ramai2 mereka menyongsong keluar, dengan sendirinya termasuk pula Tio Peng ji, tunangan An Lip, Pau Seh hoa sengaja mengalangi An Lip berdua dan membiarkan Kun Sim ti berada di paling depan.

Hanya sekejap saja Siang Cin dan Sebun Tio-bu sudah mendekat dan berada di seberang jembatan kecil..

Melihat Kun Sim ti, segera Sebun Tio bu berpaling ke arah Siang Cin sambil manggut2 sebagai tanda memuji.

Dengan mengembeng air mata terharu Kun Sim ti memandang lekat2 ke depan, Untuk sekian lamanya Siang Cin tertegun di atas kudanya, kemudian ia melompat turun dan melangkah ke atas jembatan, sorot matanya juga tidak pernah bergeser dari wajah Kun Sim ti yang molek itu, ia mempercepat langkahnya sambil memanggil.

"Ci .....

"

"O, adikku .....

"

Dengan suara gemetar Kun Sim ti sempat menyebut kata itu, lalu tidak sanggup meneruskan lagi, tenggorokan serasa tersumbat dan air matapun bercucuran.

la memburu maju memapak Siang Cin.

Segera pula Siang Cin memegang tangan si nona dengan erat dan merangkulnya dengan mesra.

Seluruh badan Kun Sim ti serasa lumpuh, ia membenamkan kepalanya di dada Siang Cin, sampai sekian lamanya ia tidak dapat mengucapkan apa2.

Akhirnya ia mendongak dan menatap Siang Cin, sorot matanya yang penuh kasih mesra itu cukup mewakilkan mengutarakan segala isi hatinya.

"Maafkan Ci, sampai sekian lama kutinggalkan kau, akulah yang menambah beban pikiranmu"

Kata Siang Cin dengan terharu.

"Tapi percayalah, siang dan malam tak pernah kulupakan dirimu percayalah rinduku padamu yang senantiasa menggoda hatiku...

"

Kun Sim ti tersenyum dengan air mata meleleh di pipinya, ucapnya.

"Ya, kupercaya, percaya sepenuhnya. Sejak di penjara Jing siong san ceng, di mana engkau menyatakan cintamu padaku, sejak itu hatiku sudah kuserahkan padamu sepenuhnya ....Dik. apapun yang akan kau lakukan, apapun yang akan kau perbuat atas diriku, selamanya aku takkan ragu sedikitpun."

Siang Cin mendekapnya lebih erat, katanya.

"Kak ....bagaimana perasaanku padamu kiranya tidak perlu lagi kulukiskan dengan kata2 .....

"

"Ku tahu, dik, kupercaya ...."

Ucap Kun Sim ti dengan suara lembut dan hampir tak terdengar.

Lama sekali mereka termangu-mangu dan lupa kepada keadaan sekitarnya.

Dengan menyeret sepatunya yang butut Pau Seh hoa lantas mendekati mereka dan menepuk pelahan bahu Siang Cin sambil menegur.

"He, Kongcu-ya, kukira sudah cukup kalian bermesraan, tapi kawan lama dan masih ada pula tamu yang ikut datang dari jauh masakah sama sekali kau lupakan."

Siang Cin tersentak kaget, cepat ia melepaskan Kun Sim ti dan berpaling, mukanya tampak merah jengah, katanya.

"He, Lo Pau, baik2kah kau? ...."

Pau Seh hoa menyengir, jawabnya.

"Hah, masakah kau masih ingat padaku? Kau pergi dan mengendurkan otot sepuasmu, tapi seluruh beban di sini kau taruh di atas pundakku, rasanya aku bisa mati nganggur di sini."

"Lo Pau,"

Kata Siang Cin sambil memegang pundak sang kawan.

"bicara sesungguhnya, aku harus berterima kasih kepadamu yang telah menjaga Kun cici dan An Lip berdua."

"Sudahlah, tidak perlu kau bermulut manis lagi padaku, mulut manismu lebih tepat kau berikan kepada Kun cicimu, begitu mesra, sampai lupa teman dan lupa tamu kita yang masih kau telantarkan."

Karena omelan Pau Seh hoa ini barulah Siang Cin ingat kepada Sebun Tio bu yang masih berdiri di seberang jembatan sana.

Cepat ia menggapainya sambil memanggil.

Dengan tersenyum Sebun Tio bu melompat turun dari kudanya dan menghampiri mereka.

Baru sekarang Siang Cin sempat memperkenalkan mereka satu persatu.

"Aha, kiranya Sip pi kun cu Sebun tangkeh, sudah lama kudengar nama kebesaranmu, Juragan besar Jian ki beng memang nyata lain daripada yang lain,"

Sera Pau Seh hoa sambil memberi hormat, Sebun Tio bu membalas hormat dan menjawab.

"Ah, nama Pau heng juga sudah sering kudengar dari Siang heng. Bahwa Pau heng adalah sahabat sehidup semati Siang heng, maka maaf jika akupun ingin menyatakan bahwa sahabat karib Siang heng sama juga dengan sahabat baikku."

"Terima kasih atas penghargaan Sebun tangkeh kepada diriku yang rudin ini, selanjutnya masih banyak diharapkan petunjuk Sebun tangkeh." Lalu An Lip dan Tio Peng ji juga saling memberi hormat dengan Sebun Tio bu, Siang Cin menggentak-gentakkan pundak An Lip, katanya dengan tertawa.

"An heng, lukamu ternyata sudah sembuh sama sekali. Selama beberapa bulan ini tentu kau sudah tidak sabar menunggu lagi, kukira sudah waktunya kalian ......"

"Huh, tidak perlu kau bakar mercon setelah upacara selesai,"

Omel Pau Seh hoa dengan tertawa.

"Ketahuilah, adik Kun dan aku sudah mengambil keputusan sendiri di luar tahumu dan menikahkan mereka secara resmi bulan yang lalu"

"Mereka sudah menikah dengan resmi?"

Siang Cin jadi melengak.

"Maaf, mestinya kami ingin menunggu sampai kepulangan In-kong, tapi Pau cianpwe tetap menghendaki kami menikah secepatnya mengingat di tempat ini jauh dari keramaian dan tidak perlu mempersoalkan adat kebiasaan segala dan kamipun ......"

Belum habis An Lip menutur, dengan tertawa Siang Cin lantas menyela.

"Bagus, bagus sekali, memang selayaknya kalian harus lekas terikat lahir batin agar seterusnya bisa hidup dengan lebih mantap hingga tua, tentang ada atau tidak adanya kehadiranku, kukira tidak menjadi soal. Malahan kupikir kadoku untuk perkawinan kalian masih harus ku susulkan ...."

"Ya, dan juga kadoku,"

Sambung Sebun Tio bu dengan tertawa. An Lip dan Tio Peng ji menjadi ter sipu2, cepat mereka mengucapkan terima kasih.

"Eh, bicara punya bicara, kenapa kita hanya berdiri saja di luar sini, hayolah silahkan masuk semua ke dalam rumah,"

Tiba2 Pau Seh hoa berseru.

"Marilah, Sebun tangkeh, akan kuiringi kau, sebentar kita harus habiskan sepuluh kati arak bersama. Masih ada satu guci simpananku akan kukeluarkan.

"An Lip, suruhlah binimu buatkan beberapa macam daharan yang lezat, malam ini kita harus mengadakan perayaan ulangan."

An Lip dan Peng ji mengiakan bersama, An Lip lantas menuntun kuda ke belakang rumah dan isterinya berlari ke dapur. Pau Seh hoa lantas menggandeng Sebun Tio-bu ke dalam rumah, tampaknya mereka sudah seperti kenalan lama saja.

"Kak, marilah kitapun masuk saja,"

Ajak Siang Cin sambil menggandeng tangan Kun Sim ti. Si nona setengah menggelendot di tubuh Siang Cin, ucapnya dengan tersenyum.

"Kawanmu itu sungguh sangat terbuka wataknya dan tidak suka berpura-pura.

"Betul, dia dan Lo Pau adalah suatu pasangan yang cocok, sama2 suka bicara secara blak2an, memandang kejahatan sebagai musuh, dengan cepat mereka pasti dapat menjadi sahabat yang karib. Waktu beromong-omong di tengah perjalanan, dia juga banyak memberi dorongan padaku ...."

"Dorongan apa?"

Tanya Kun Sim ti ketika Siang Cin mendadak tidak melanjutkan ucapannya. Siang Cin menunduk memandang si nona sekejap, katanya kemudian.

"Mengenai kita berdua. Dia malah mengomeli diriku, katanya aku brengsek, penakut ...."

"Mengapa dia muring2 begitu?"

"Dia anggap aku kurang tegas, kalau sudah saling mencintai mengapa tidak berani menyatakan cinta yang suci ini sehingga banyak waktu terbuang percuma ...."

Dengan sayu Kun Sim ti berkata.

"Dik, ku tahu ....mungkin aku memang tidak setimpal bagimu ... ."

Mendadak Siang Cin memegang bahu si nona dan berhadapan muka serta memandangnya lekat2, sejenak kemudian barulah ia berkata.

"Ci, mengapa kau berkata demikian? Kau tahu betapa cintaku padamu. Memang selama ini belum pernah kukatakan terus terang, sebab ku kuatir akan mencemarkan kepribadianmu, apalagi bila ditolak olehmu, ini hal tak sanggup kutahan ...."

Mata Kun Sim ti terpejam, sedapatnya ia menahan gejolak perasaannya, gumamnya kemudian.

"Tapi seharusnya kau tahu aku, takkan ....takkan menolak ...."

"O, Ci ....kau . .. ."

Siang Cin memeluk si nona erat2 dan keduanya tenggelam dalam keheningan, hanya detak jantung kedua orang se akan2 berlomba cepat.

000 000- Malamnya, kamar Kun Sim ti telah diatur terlebih indah daripada biasanya.

Di luar sana Sebun Tio bu dan Pau Seh hoa masih asyik menghabiskan sisa arak seguci yang kini sudah tinggal separoh itu.

Di dalam kamar Siang Cin duduk bersanding dengan Kun Sim ti dalam suasana yang romantis.

Siang Cin telah minum dua cawan arak sehingga mukanya yang putih bersemu merah.

Kun Sim ti memandangnya dengan ter mangu2.

Dalam keadaan demikian ia merasa tiada kata2 yang lebih dimengerti daripada tatapan mata yang mesra ini.

Sampai lama sekali, dengan lirih barulah Kun Sim ti berkata.

"Dik, selama ini, tentunya kau sangat susah ...."

Siang Cin tersenyum ringan, ucapnya.

"Terkadang aku merasa diriku ini sangat bodoh, berlari kian kemari dengan bersusah payah, banyak pula mendatangkan rasa cemas, gusar dan gemas, tapi yang kukerjakan adalah urusan orang lain, akupun suka heran pada diriku sendiri darimana timbulnya hasratku ini .....

" "Dik, kau pendekar berbudi luhur, memang itulah tugas kewajibanmu mengabdi bagi sesamanya, padahal akupun senantiasa cemas dan kuatir bagimu . ....

""

La terdiam sejenak, lalu menyambung pula.

"Kau tahu, aku tidak mempunyai seorang sanak kadang lagi di dunia ini kecuali kau. Aku sering merasa kesepian dan tiada sandaran, hanya bila engkau berada di sisiku, terasalah aman dan terhibur. Dik, aku tidak menyesal apa yang telah kubeberkan padamu di Jing siong san ceng tempo hari ....Sesungguhnya akupun ingin berkata kepadamu, usiaku lebih tua daripadamu, juga badan tak sempurna lagi, aku menjadi ....menjadi ragu apakah kau dapat menerima diriku dengan sesungguh hati? Apakah cintamu padaku bukan cuma timbul dari perasaan kasihan dan ingin menolong saja?!"

"Tidak, sama sekali tidak,"

Jawab Siang Cin dengan tulus dan tegas.

"Kita berteman sejak kecil, tentunya kau kenal pribadiku. Sejak kecil memang sudah kusukai kau. Waktu itu aku tidak tahu bahwa inilah yang disebut cinta, lebih2 tidak tahu bahwa cinta diperlukan pengutaraan yang nyata. Tapi sejak lama kusimpan saja perasaanku itu di dalam lubuk hatiku. Kemudian kitapun sudah sama2 dewasa, belum lagi sempat ku paparkan perasaanku kepadamu, tahu2 kau telah dipaksa orang tua untuk dengan keluarga Oh.

"Pada waktu kau diberangkatkan, sungguh hatiku serasa di sayat2, kukira selama hidup ini kita takkan berjumpa pula. Dari balik jendela kusaksikan engkau naik ke atas tandu dan ..... ketika itu aku baru berusia lima belasan, bisa jadi aku memang belum paham artinya cinta, tapi sedikitnya sudah dapat kurasakan betapa beratnya ditinggalkan olehmu. Hal lain yang membuat ragu diriku untuk mengutarakan perasaanku kepadamu adalah karena akupun sangsi, ku sangsi apakah engkau juga mempunyai perasaan yang sama terhadapku? Ku takut perasaanku padamu hanya menjadi khayalan belaka ...."

Dengan tangannya yang halus Kun Sim ti menggenggam tangan Siang Cin dengan erat, katanya dengan terharu.

"Tentunya tak terpikir olehmu bahwa apabila aku tidak suka padamu, masakah aku mau mengiringi kau bermain layangan, mencari jengkerik, dan juga mendampingi kau membaca. Setiap tahun tentu kuberi hadiah dompet kain bersulam, yang kusulam adalah sepasang merpati ....Bilamana kancing bajumu terlepas, aku pula yang membetulkannya bagimu, pernah satu kali kau jatuh sakit, hampir setiap hari kujenguk kau dan menjaga dirimu ..... Tapi setelah kausembuh, aku menjadi heran bahwa kau se akan2 menjauhi diriku malah."

"Waktu itu secara diam2 aku telah berguru kepada seorang kosen, beliau selalu datang ,mengajar pada waktu pagi dan magrib, bilamana habis berlatih Kungfu, rasanya menjadi lelah sehingga perjumpaan kita lantas banyak berkurang ......"

"O. jadi pada waktu aku dipaksa menikah, saat itu kau sudah mahir Kungfu, tapi mengapa engkau tidak berusaha menolong diriku?"

Tanya Kun Sim-ti dengan menyesal.

"Mana bisa ku bertindak begitu, apalagi akupun tidak tahu sesungguhnya kau suka padaku atau tidak, juga engkau tidak memberi sesuatu isyarat padaku agar bertindak demikian..... Aku memang bodoh, sama sekali tidak kupahami sikapmu yang baik itu padaku."

"Kemudian, setelah tambah umur tentunya kau paham bukan?"

Ujar Kun Sim ti dengan rawan.

"Ya, dua tiga tahun kemudian pahamlah aku segalanya,"

Jawab Siang Cin sambil mengangguk.

"Tapi yang kuketahui juga cuma terbatas pada kebaikanmu padaku, hanya kebaikan antara seorang kakak dengan adiknya, tetap tak berani kupikirkan tentang cinta. Baru setelah kuselamatkan kau dari keluarga Oh, sesudah kau bicara terus terang pada ku barulah ku paham seluruhnya.

"Akan tetapi lantaran pengaruh berbagai macam pandangan dan ikatan adat umum, sebegitu jauh tetap tak berani kuterima perasaanmu itu. Setelah sekian tahun pula, ketika terjadi peristiwa berdarah di Jing siong san ceng itulah, pada saat2 gawat itulah kau masih tetap mencurahkan segenap cintamu padaku, pada detik itu pula tekadku menjadi bulat pula, apapun tidak ku pusingkan lagi, hanya engkau, sekalipun semua orang di dunia ini menyatakan tidak setuju tetap ku cinta padamu. Dan sekarang, cahaya terang sudah cemerlang, sinar harapan sudah di depan mata. Akhirnya kita berkumpul juga dan akan berada bersama selamanya. Berkumpulnya kita memang banyak mengalami rintangan dan tertunda, tapi belum terlambat. Cinta memang tidak kenal waktu dan terlambat segala ....."

Kun Sim ti seperti berada di alam khayal, gumamnya sambil mengangkat mukanya yang basah dengan air mata.

"Benarkah demikian, cinta tidak pernah terlambat... ."

"Ya, cinta memang tidak pernah terlambat!"

Jawab Siang Cin tegas. Erat Kun Sim ti merangkul pinggang Siang Cin, untuk sejenak mereka tidak bicara. Sampai lama sekali barulah Kun Sim ti mendongak pula dan bertanya dengan lugu.

"Dik, kelak .... lama2, bila Cici sudah tua. apakah kau takkan bosan padaku?. Siang Cin mencium dahi si nona, ucapnya dengan tersenyum.

"Tidak, waktu kecilku kau tidak menganggap aku terlalu kecil bagimu. bila kau sudah tua, mana bisa ku anggap kau terlalu tua bagiku? Ci, tidak lama lagi, bilamana beberapa urusan sudah kubereskan, akan ku pilih hari yang baik dan kita akan menikah ....Dan sekarang. aku harus kembali ke kamarku ...."

Ia mengangkat kepala si nona dan memandangnya lekat2, tiba2 ia berkata pula dengan rada tercengang.

"Ci, sungguh ajaib, luka bakar mukamu . ...lukamu sudah sembuh seluruhnya, bahkan ....bahkan kau tampak lebih cantik daripada dulu."

Kun Sim ti mengusap pelahan muka sendiri, sambil bergumam.

"Ya, sudah sembuh, semuanya berkat perawatan Pau toako."

"Dalam hal ilmu pengobatan, Lo Pau memang ahli yang sukar dicari bandingannya,"

Ujar Siang Cin dengan kagum.

"Kalau cuma melihat lahiriahnya, siapapun tidak percaya dia memiliki kepandaian khas. Sungguh aku sangat gembira dan bersyukur lukamu telah sembuh secepat ini."

Tiba2 Kun Sim ti seperti teringat sesuatu, ia menunduk dengan muram, lalu berkata dengan lirih.

"Dik, ingin kutanya ... ." "Urusan apa, katakan saja,"

Jawab Siang Cin. Kun Sim ti mendongak pula, dengan sorot mata yang sayu ia tatap Siang Cin, lalu berkata dengan rawan.

"Dik, misalkan ......misalkan luka bakar mukaku tak dapat disembuhkan seluruhnya, umpamanya sekarang mukaku berubah menjadi sedemikian buruknya sehingga mirip siluman, apakah ....apakah engkau akan tetap cinta padaku!"

Wajah Siang Cin memancarkan cahaya yang cerah, dengan tegas dan tulus ia menjawab.

"Pasti, pasti tetap kucintai kau!"

Ia merandek sejenak, lalu menyambung pula.

"Ci, ketahuilah, cintaku padamu bukanlah karena kecantikan lahiriahmu, akan tetapi yang lebih penting adalah kecantikan batinmu, kecantikan rohaniahmu, Ku tahu betapa lembutnya perangaimu, betapa bajiknya hatimu, keluhuran budimu, ditambah lagi sifatmu yang sabar, anggun. Semua ini membuat kagum padaku. Ci, wajah seorang perempuan, betapapun cantiknya dia pasti juga akan tiba masanya layu. Akan tetapi kecantikan batin adalah abadi, tak pernah layu, bahkan semakin diasah akan semakin cemerlang Ci, untuk itulah makanya ku cinta padamu dengan segenap jiwaku, sukmaku."

"Kupercaya padamu, dik"

Kata Kun Sim ti dengan terharu.

"Padahal akupun tidak sebaik sebagaimana kau gambarkan tadi. Cuma aku harus bersyukur kepada Thian, harus berterima kasih kepada Pau toako yang telah menyelamatkan wajahku ini."

Siang Cin mengangguk pelahan, ucapnya dengan lembut.

"Selanjutnya kita akan hidup bahagia dan aman tenteram, takkan ku bikin kau tersiksa dan menderita lagi. Ci, fajar sudah hampir menyingsing, sudah waktunya ku kembali ke kamarku, hendaklah kau juga istirahat dengan baik ...."

O 00 000 O0 o Hari ketiga setelah mereka pulang ke sarang yang hangat ini.

Sejak pagi cuaca cukup baik, salju sudah berhenti, malahan sang suryapun mengintip dari balik awan, meski cahayanya tidak begitu gemilang, namun tetap memberikan perasaan yang hangat.

Dengan santai Siang Cin tampak berdiri di tepi pagar bambu dekat jembatan sana sedang memandangi bumi raya yang dilapisi salju putih dengan sinar gemilapan yang terpantul oleh cahaya matahari.

Dengan wajah berseri Kun Sim ti berdiri di samping Siang Cin, yang lelaki gagah tampan, yang perempuan cantik halus, sungguh suatu pasangan yang amat setimpal.

Dari balik jendela Pau Seh hoa dan Sebun Tio-bu yang berduduk di ruangan tengah dapat mengikuti gerak gerik kedua sejoli itu.

Berulang-ulang Sebun Tio bu mengangguk, ia merasa kagum dan juga iri, ia merasa pasangan yang cocok ini memang sukar dicari bandingannya.

Pau Seh hoa menguap, pelahan ia tarik lengan baju Sebun Tio bu dan bertanya.

"Apa yang kau pikir Tangkeh, pakai angguk2 segala?"

Sebun Tio bu menjawab.

"Kau lihat Siang heng dan nona Kun itu, sungguh suatu pasangan yang setimpal. Anehnya kalian tidak memberi dorongan sehingga sudah sekian tahun waktu mereka terbuang dengan percuma."

Setelah mengusap ingusnya yang hampir meleleh, Pau Seh hoa mendengus, ucapnya.

"Siapa bilang kami tidak memberi dorongan? Sialan, justeru demi urusan ini, entah berapa kali kami perang mulut. Tapi dasarnya Kongcu-ya kita itu memang brengsek, kuatir ini ragu itu, dalam hati kepingin, di mulut tidak berani kentut. Orang ikut memikirkan dia, tapi dia sendiri malah maju mundur. Dirodok, mungkin aku sendiri mencari isteri juga tidak perlu diributkan begitu."

Sebun Tio bu mengangguk-angguk pula, katanya.

"Di dunia Kangouw Siang heng terkenal sebagai Naga Kuning yang tegas dan bijaksana, tapi menghadapi urusan kehidupan berumah tangga dia justeru sedemikian prihatin dan patuh."

"Huh, prihatin dan patuh apa? Lebih tepat dikatakan dia penakut dan pengecut!"

Jengek Pau Seh hoa.

"Kenapa Pau heng menuduhnya demikian?"

Tanya Sebun Tio bu.

"Kau tahu, Kongcu-ya kita dengan nona Kun adalah tetangga dan juga ada hubungan baik antara kedua keluarga. Mereka berdua juga teman memain sejak kecil. Pada waktu mulai akil balig diam2 nona Kun sudah menyukai Kongcu-ya. Sudah tentu Kongcu-ya juga lengket dengan nona Kun. Karena nona Kun lebih tua tiga tahun daripada Kongcu-ya, maka dia memanggilnya Cici, jadi tidak pernah berjanji atau bersumpah segala, panggilan kakak hanya karena kebiasaan saja. Sebab itulah bilamana dia anggap kakak angkat tidak boleh dijadikan isteri, ini alasan yang tidak masuk akal dan cuma kentut belaka."

"Lalu, karena nona Kun dinikahkan orang tua kepada keluarga yang tidak cocok, setelah suaminya meninggal, Siang heng lantas menolongnya dari neraka,"

Kata Sebun Tio bu.

"O, Siang heng sudah bercerita padamu?"

Tanya Pau Seh hoa.

"Ya, sepanjang jalan ia sudah mengisahkan pengalamannya kepadaku."

"Nah, jika begitu, tentu kau dapat menarik kesimpulan sendiri, apakah ke ragu2an Kongcu-ya ini bukankah berlebihan. Bahwa nona Kun kini adalah janda, Kongcu-ya telah menolongnya keluar dan mereka telah hidup berdampingan selama beberapa tahun, kenapa mereka tidak2 tegas2 menikah dan menjadi suami isteri resmi saja, kenapa masih harus pikir ini dan kuatir itu."

"Benar juga, kukira Siang heng memang terlalu lemah mengambil keputusan dalam persoalan ini."

"Makanya bagiku sudah mutlak Kongcu-ya dan nona Kun harus selekasnya menikah dengan resmi dan tampaknya cita2ku ini dapatlah terlaksana tak lama lagi." "Betul, pasti akan terlaksana dalam waktu singkat, mereka pasti juga suatu pasangan yang bahagia."

"Langkah selanjutnya tinggal soal waktu saja, entah kapan baru arak nikah mereka dapat kita minum,"

Tanya Pau Seh hoa dengan terbahak2. Tiba2 Siang Cin berpaling dan berteriak.

"He, apa yang kalian bicarakan, begitu serius, sebentar berteriak, sebentar tertawa ....""

"Yang kami bicarakan justeru adalah kau si dungu ini!"

Seru Pau Seh hoa. Sambil bicara mereka berdua lantas melangkah keluar dan mendekati Siang Cin.

"He, ada apa aku dijadikan sasaran pembicaraan kalian, memangnya kapan aku pernah bersalah padamu, Lo Pau?"

Ujar Siang Cin dengan tertawa.

"Siang heng,"

Sela Sebun Tio bu.

"kita bicara yang benar saja. Adakah hari nikahmu dengan nona Kun sudah kalian tentukan?"

Seketika muka Kun Sim ti menjadi merah dan menunduk malu, tapi tidak urung tersembul juga senyum manis pada ujung bibirnya. Siang Cin tertawa, jawabnya kemudian.

"Sebun-tangkeh, tepatnya kapan menurut pendapatmu?"

"Kalau menurut pendapatku, kukira besok juga boleh,"

Seru Sebun Tio bu.

"Haha!"

Siang Cin tertawa.

"Masa begitu cepat tidak mungkin, Tangkeh."

"Begini,"

Kata Sebun Tio bu pula.

"sekarang sudah dekat akhir tahun, kupikir bagaimanapun juga beristerilah sebelum tahun baru akan sangat berarti bagi kehidupanmu. Seperti sudah pernah kukatakan hayolah bopong semuanya ke tempatku sana, kujamin segalanya, akan kukerahkan segenap tenaga dan pikiran untuk merayakan pernikahanmu."

"Tepat,"

Sela Pau Seh hoa.

"sialan, untuk urusan ini bisa beruban bila harus menunggu lagi. Memangnya mau apa jika tidak lekas dilaksanakan."

"Sebun tangkeh,"

Kata Siang Cin.

"bagi kami sebenarnya urusan ini sudah bukan soal. lagi. Yang jelas, bukankah engkau yang harus berkorban, baik tenaga, pikiran dan juga harta. Betapapun kami merasa tidak enak."

"Siang heng, mengapa kau menjadi seperti orang yang baru kenal saja?"

Seru Sebun Tio bu.

"Jika kau main sungkan2 lagi, baiklah segera ku angkat kaki dari sini dan anggaplah kita tidak pernah bersahabat."

"Maaf, Tangkeh,"

Cepat Siang Cin memberi penjelasan.

"Sudah tentu maksud baikmu kami terima dengan senang hati. Cuma, untuk ini masih harus tunggu sampai kepulangan kami nanti ........"

Sebun Tio bu melengak, tanyanya kemudian dengan bingung.

"Menunggu kepulanganmu? Bukankah sekarang kita sudah berada di rumah. Memangnya mau ke mana lagi dan pulang apa segala?" Sinar mata Siang Cin mendadak mencorong terang, ucapnya dengan tegas.

"Jeng siong san ceng!"

Kun Sim ti berseru tertahan sambil mendekap mulut, dengan cemas ia pandang Siang Cin, seperti mau bicara tapi urung. Sikap Pau Seh hoa juga kelihatan prihatin, katanya.

"Betul, utang itu kalau tidak ditagih, matipun aku tidak rela,"

"Utang? Utang apa?"

Tanya Sebun Tio bu.

"Utang darah!"

Jawab Pau Seh hoa dengan perasaan pedih.

"Di dalam utang darah ini masih harus ditambah lagi penghinaan dan kehormatan."

Sebun Tio bu jadi teringat kepada cerita Siang Cin tentang sengketanya dengan Jeng siong san ceng, tapi tak tersangka begini mendalam permusuhannya.

Maka ia coba tanya lagi lebih jelas seluk beluk permusuhan itu.

Dengan ringkas Pau She-hoa lantas menuturkan apa yang terjadi dahulu.

"Pantas kesepuluh jari Siang heng belum hilang bekas lukanya,"

Teriak Sebun Tio bu setelah mengetahui kekejaman Jeng siong san ceng.

"Pernah juga kulihat Siang heng berganti pakaian dan tampak dadanya penuh bekas luka. Kiranya di balik bekas luka itu tersimpan dendam kesumat sedalam ini. Sungguh keji dan rendah perbuatan Jeng siong san-ceng dengan setan tua she Ha itu. Baiklah, bilakah kita berangkat?"

"Berangkat ke mana? tanya Siang Cin heran.

"Ke mana? Jeng siong san ceng tentunya!"

Teriak Sebun Tio bu.

"Kau, kaupun ikut pergi ke sana?"

Dengan Siang Cin menatap Sebun Tio bu.

"Memangnya kenapa?"

Tanya Sebun Tio bu dengan mendongkol.

"Apakah Siang heng menganggap orang the Sebun ini tidak memenuhi syarat untuk ikut menghajar kawanan bangsat di Jeng-siong san ceng sana?"

Siang Cin tersenyum, jawabnya.

"Jangan salah paham Tangkeh, yang kupikirkan adalah persoalan ini adalah urusan pribadiku dengan Lo Pau, tidaklah pantas jika ikut menyeret kau terjun ke lumpur ... ."

""Apa katamu?"

Sela Sebun Tio bu dengan penasaran.

"Coba jawab, persoalan antara Bu siang pay dan Ji ih hu kan juga urusan pribadi mereka, tapi mengapa kau membela Bu siang pay mati2an?"

"Tiada alasan lain, hanya demi keadilan belaka"

Jawab Siang Cin.

"Itu dia!"

Seru Sebun Tio bu.

"Lalu, apakah kau anggap aku Sebun Tio bu ini tidak tahu keadilan, tidak kenal persahabatan, tidak tahu perasaan? Apakah persahabatan kita ini belum cukup erat dibandingkan hubunganmu dengan Bu siang pay." Siang Cin bergelak tertawa sambil menggeleng-geleng akhirnya ia berkata.

"Sungguh aku sangat berterima kasih atas perhatianmu Sebun tangkeh, terpaksa mesti bikin repot kau juga."

"Nah, kan seharusnya begini, lalu apa artinya persahabatan jika tidak saling membantu?"

Ujar Sebun Tio bu dengan tertawa.

"Baiklah, kukira tidak perlu lagi kita ribut,"

Sela Pau Seh hoa.

"Yang penting sekarang harus kita rundingkan dulu, bilakah kiranya kita akan berangkat dan cara bagaimana harus bertindak?"

"Petang nanti juga kita boleh berangkat dan langsung menuju Jeng siong san ceng,"

Ujar Siang Cin.

"Kita menyampaikan kartu dan menantang secara terang2an atau dengan cara lain?"

Tanya Sebun Tio bu.

"Tidak,"

Kata Siang Cin.

"Kita takkan memberi kesempatan bersiap bagi mereka, lebih2 takkan memberi keuntungan bagi mereka dengan cara main kerubut. Tapi kita gunakan gerakan kilat, kita serbu ke dalam perkampungan mereka, siapapun yang kepergok segera kita bereskan tanpa ampun"

"Setuju!"

Seru Pau Seh hoa.

"Sudah terlalu banyak kejahatan dan perbuatan kotor yang dikerjakan anak kura2 itu, dengan mereka tiada persoalan tentang moral dan perikemanusiaan lagi. Begitu menyerbu ke dalam kita lantas gempur dan obrakabrik mereka hingga habis2an."

"Ya, terhadap penjahat seperti kawanan bangsat Jeng siong san-ceng itu memang tiada istilah perikemanusiaan,"

Kata Siang Cin.

"Memang di dunia ini ada sementara orang yang sok bicara tentang perikemanusiaan, tapi coba kalau mereka sudah mengalami bagaimana "perikemanusiaan"

Yang berlaku di kalangan penjahat, maka barulah mereka akan tahu rasa dan mata akan terbuka.

Bagiku, perikemanusiaan memang mutlak harus dihormati, tapi perlu juga dilihat kepada siapa perkemanusiaan itu ditujukan.

Terhadap kawanan penjahat sendiri yang tidak pernah lagi tahu apa artinya perikemanusiaan kukira diperlukan tindakan tangan besi, tindakan keras yang setimpal.

Pada hakikatnya kawanan penjahat yang sudah berakar itu tiada harapan untuk diperbaiki, mereka adalah parasit masyarakat, bagiku akan lebih baik korbankan seorang penjahat daripada mesti si penjahat sendiri akan mengambil korban seorang, atau mungkin puluhan orang yang baik dan tak berdosa."

"Betul,"

Tukas Sebun Tio liu.

"Setiba di Jeng-siong san ceng segera akan kulepaskan panah bulu merah. Bilamana mereka tidak menggubris panah tanda pengenal Jian ki beng kami, maka berarti mereka sengaja memusuhi Jian ki beng dan akupun cukup alasan untuk mengerjai mereka."

"Haha, cara Tangkeh ini bukankah pernah kau gunakan terhadap Kim lui jiu, tapi akhirnya engkau dan Kin heng telah menjadi sahabat baik,"

Kata Siang Cin dengan tertawa.

"Betul, tapi sekali ini jelas takkan mendatangkan kawan baik lagi,"

Jawab Sebun Tio bu dengan tertawa. Mereka bicara dengan gembira dan bersemangat, tapi di samping sana Kun Sim ti tampak murung.

"Jangan kuatir, Ci,"

Kata Siang Cin ketika mengetahui kekuatiran si nona.

"Adalah menjadi pedoman hidup Naga Kuning selama ini, budi dan dendam selamanya kubedakan dengan tegas. Budi harus kubalas dan dendam harus ku tuntut. Utang darah harus bayar darah. Terhadap Jeng-siong san ceng rasanya tiada pemecahan lain kecuali melabraknya dengan kekerasan, demi sakit hatiku, demi keselamatan umat manusia yang pernah mengalami penganiayaan mereka, aku harus bertindak dan menghancurkan mereka."

"Ucapanmu memang betul, dik, cuma ... ....cuma apakah tidak berbahaya ........."

"Jangan kuatir, kami pasti akan pulang dengan selamat, takkan kurang sesuatu apapun,"

Hibur Siang Cin dengan tersenyum.

"Dan setelah kami pulang, segera kita akan berangkat ke tempat Sebun tangkeh. Harap menunggu saja dengan tenang."

"Adik Kun, janganlah kau kuatir, kujamin Kongcu-ya akan pulang tanpa kurang seujung rambutpun,"

Sela Pau Seh hoa.

000 000 Tempat itu di perbatasan propinsi Soa-say.

Pada tanah yang agak membukit di tengah itu membentang sebuah jalan yang tertimbun salju menjulur ke depan dengan berliku-liku seperti ular yang panjang.

Jeng siong san ceng hanya berjarak tujuh atau delapan li saja dari sini.

Sebun Tio bu tetap menunggang kudanya yang berbulu putih mulus dan Siang Cin juga menunggang kuda loreng, Pau Seh boa dapat membeli seekor kuda hitam yang dibelinya di Tay goan hu sebelum berangkat.

Ketiga ekor kuda itu lama menghembuskan napas yang menguap menjadi seperti kabut tipis dan masih terus berlari di jalanan yang licin itu, akhirnya mereka melambatkan lari kuda di jalan bersalju itu.

"Sudah dekat, Siang heng,"

Ucap Sebun Tio-bu sambil menguap Wah. Siang Cin mengangguk, jawabnya.

"Ya, tinggal beberapa li lagi."

Pau Seh hoa menengadah memandang cuaca, ucapnya.

"Tepat pada waktunya dan akan kita bereskan mereka satu persatu."

"Pau heng, kedua keping kayu andalanmu tentunya kau bawa bukan?"

Tanya Sebun Tio bu dengan tertawa. Pau Seh hoa menepuk bajunya, lalu berkata dengan menyesal.

"Memang sudah kubawa, cuma bila mengingat kedua keping kayu lama, sungguh aku menjadi sedih. Keparat, kedua keping itu sudah hampir 20 tahun kugunakan, buatan dari kayu kurma yang keras. Kedua keping kayu itu sudah tergosok licin dan cocok dengan tanganku, saking lamanya warna kayu dari ke coklat2an berubah menjadi ke hitam2an. Akan tetapi, ketika terjebak di Jeng siong san ceng amblaslah dirampas mereka. Ai, sungguh sayang ..... Adapun kedua keping kayu baru ini kubuat dua bulan yang lalu, lumayan juga, tapi kalau dibandingkan kepingan yang lama akan terasa jauh bedanya."

Sebun Tio bu mengangguk setuju, ucapnya.

"Memang betul. Bagi orang persilatan seperti kita ini, senjata lama yang kita pakai memang lebih baik, senjata lama bagi kita adalah seperti sahabat lama, sepatu butut sekalipun akan terasa terlebih enak dipakai daripada sepatu baru. Senjata adalah jiwa kita yang kedua, bilamana hilang tentu akan terasa sedih. Andaikan mendapat ganti yang baru juga akan terasa agak canggung."

Siang Cin yang berjalan di depan tiba2 menoleh, katanya dengan tertawa.

"Makanya selama ini aku lebih suka menghadapi musuh dengan bertangan kosong, meski tersedia juga senjataku, tapi tak pernah kugunakan. Dengan demikian senjataku takkan pernah hilang, andaikan hilang tentu juga tidak perlu menyesal lagi, sebab itu berarti tamatnya permainan dan habisnya riwayat ....."

"Keparat, memangnya dalam hal kekuatan tangan, siapa yang mampu menandingi kau? Huh, tidak perlu kau berolok-olok, orang kehilangan senjata, kau bersorak malah,"

Omel Pau Seh hoa. Selagi Siang Cin hendak berseloroh pula, tiba2 Sebun Tio bu menyela.

"O, ya, tempo hari Siang-heng pernah berkata padaku bahwa Ih Keng hok dari Ang tong leng bisa jadi juga berada di Jeng-siong san ceng."

"Memang betul,"

Jawab Siang Cin dengan prihatin. Setelah termenung sejenak, lalu Sebun Tio bu berkata pula.

"Keparat itu memang cukup tangguh, namanya juga cukup besar, hampir tidak lebih kecil daripada namamu. Bila mendengar nama Im bing-long kun hampir setiap orang persilatan pasti mengernyitkan kening ."

"Ah, Locu justeru tidak perduli siapa dia, bila mana dia memusuhi kita, biarpun jiwa tua ini harus melayang juga akan ku labrak dia,"

Jengek Pau Seh hoa.

"Bicara terus terang, akupun rada was-was terhadap lh Keng hok, sedapatnya ingin kuhindari permusuhan dengan dia,"

Kata Siang Cin.

"Tapi kalau dia berkeras ingin membela si tua she Ha dari Jeng siong san ceng, terpaksa harus kuhadapi dengan segenap kemampuanku. Apapun juga belum tentu dan mampu melalap diriku."

"Tepat,"

Tukas Sebun Tio bu.

"Paling2 jiwa melayang seperti apa yang dikatakan Pau heng tadi. Padahal kalau jiwa kita melayang, maka segenap penghuni Jeng siong san ceng juga jangan harap akan dapat lolos satupun."

"Bila Ih Keng hok betul berada di sana, kebetulan akan ku tentukan dia yang akan merajai Bulim atau aku yang akan menjagoi Kangouw,"

Kata Siang Cin.

"Bagus!"

Seru Sebun Tio bu. Begitulah ketiga ekor kuda mereka terus melintasi jalanan berliku itu secara berurutan. Suasana sunyi senyap, bumi raya ini se olah2 tenggelam dalam kelelapan. Se konyong2. ...... Siang Cin menghentikan kudanya dan mendesis.

"Ada orang!"

Sebun Tio bu juga lantas menahan kudanya dan pasang kuping dengan cermat, segera iapun mengangguk.

"Ya, betul, juga tiga penunggang kuda, sedang menuju kemari menyusuri lereng bukit sana."

"Di depan tiada rumah penduduk lain kecuali Jeng siong san ceng,"

Kata Pau Seh boa.

"Kukira beberapa orang ini besar kemungkinan datang dari sana"

Ia menyeringai, lalu menyambung pula.

"Jika betul dugaanku, maka anggaplah nasib mereka yang lagi apes, Biarlah kita menggunakan mereka sebagai tanda pembukaan."

"Setuju!"

Kata Sebun Tio bu.

"Tapi sebaiknya kita menentukan dulu apakah pihak lawan benar2 orang Jeng siong san ceng agar tidak salah sasaran,"

Ujar Siang Cin sambil memandang jauh ke depan sana.

"Bila anak kura2 dari Jeng siong san ceng, kukira tidak sukar untuk mengenali mereka, sebab di dahi mereka se olah2 terukir satu huruf, yaitu. jahat!"

Kata Pau Seh hoa sambil tertawa.

"Itu dia sudah muncul!"

Desis Siang Cin.

Sesaat Sebun Tio bu dan Pau Seh hoa memandang ke lereng sana, betul juga, tiga penunggang kuda dengan seragam jubah hijau, berkopiah kulit domba dan hampir menutupi mukanya.

Agaknya merekapun merasakan licinnya jalan bersalju itu, maka perhatian mereka tercurahkan kepada kuda mereka yang berjalan dengan hati2 sehingga tidak tahu bahwa di atas sana sudah menanti tiga malaikat elmaut.

Siang Cin terus mengawasi ketiga orang itu, akhirnya tersenyumlah dia, Kiranya seorang di antaranya dikenalnya sebagai Yu Hoat, yaitu kepala perkampungan belakang Jeng siong san ceng yang pernah juga bergebrak beberapa jurus dengan Siang Cin dahulu.

Sungguh kebetulan sekarang kepergok lagi di sini.

Dua orang lagi tidak dikenal Siang Cin, tapi dapat diduga pasti juga bukan manusia baik2, jelas mereka adalah antek Jeng siong san ceng, melihat lagaknya bisa jadi juga mempunyai kedudukan lumayan, mungkin sebangsa pelatih.

"Siang heng, adakah yang kau kenal?"

Tanya Sebun Tio bu. Siang Cin mengangguk dan menjawab.

"Ada, kepala perkampungan belakang Jeng siong san ceng."

"Ehm, adil juga, tiga lawan tiga,"

Ujar Pau Seh hoa.

Pelahan2 ketiga penunggang kuda itu sudah makin mendekat.

Karena jalanan berlingkar dan juga tidak rata, maka setelah mengitari sebuah tanjakan barulah ketiga penunggang kuda itu muncul di depan mereka.

Hampir pada saat yang sama dengan munculnya ketiga penunggang kuda itu, Siang Cin bertiga terus melayang turun di depan mereka.

Keruan Yu Hoat bertiga terkejut, namun reaksi merekapun cukup cepat, di tengah hardikan Yu Hoat mereka terus melompat turun dari kuda masing-masing dan siap tempur.

Yu Hoat tetap bertangan kosong, sedang kedua temannya sudah melolos senjata, yang satu memegang pedang dan yang lain bergolok.

Yang berpedang menghadapi Pau Seh-hoa dan yang bergolok menghadapi Sebun Tio-bu.

Yu Hoat sendiri tepat berhadapan dengan Siang Cin.

Setelah berpisah sekian lama, agaknya Yu Hoat tidak segera mengenali Siang Cin.

Tapi demi melihat jubah kuning Siang Cin yang cemerlang itu, air mukanya lantas berubah hebat.

"Selamat bertemu, Toa-wancu!"

Seru Siang Cin dengan ketus. Seketika kulit muka Yu Hoat berkerut-kerut, dadanya juga berdebar-debar, sejenak ia tertegun, lalu bergumam.

"Naga Kuning..."

"Betul!"

Jengek Siang Cin.

"Tak terduga bukan?"

Sedapatnya Yu Hoat berlagak tenang, ucapnya kemudian.

"Ehm, lama juga tak bertemu Siang heng..."

"Ya, sudah rindu, makanya sengaja datang menjenguk kalian."

Jengek pula Siang Cin.

"Adakah...adakah sesuatu petunjuk yang akan kau..."

"Tentu saja ada."

Sela Siang Cin sambil mengerling sekejap ketiga lawan.

"Kukira sangat sederhana urusannya, kami hanya ingin meminjam alat makan nasi kalian."

Yu Hoat menyurut mundur dengan terkesiap, serunya.

"Sahabat she Siang, selama ini rasanya orang she Yu tidak pernah memusuhi dirimu. Yang akan menghadapi kau masih ada orang lain, kami ini hanya makan gaji dan terima tugas. Bilamana kau ingin mencari perkara, tujukanlah kepada sasaran yang tepat, untuk apa kau recoki kami?"

"Hm, setiap penghuni Jeng siong san-ceng kalian adalah binatang satu sarang, masakah ada perbedaannya antara kalian? Tidakkah kau membikin malu si tua bangka she Ha belaka?"

Ejek Siang Cin.

"Kongcuya."

Teriak Pau Seh-hoa dengan tidak sabar.

"Apakah kita masih harus mengajak obrol padanya, apakah perlu aku mencari keringat lebih dulu?" Yu Hoat melirik sekejap kepada Pau Seh-hoa dengan mendongkol ia membentak.

"Kau, siapa pula kau?"

Pau Seh-hoa mendelik, jengeknya.

"Aku bapakmu, masa kau tidak kenal?!"

Lelaki muka kuning yang berpedang menjadi gusar, teriaknya.

"Wancu, perlu apa sungkan-sungkan, Apakah kedatangan kita kesini hanya untuk mengundang caci maki orang? Beberapa bangsat ini barangkali belum tahu siapa diri kita..."

"Kunyuk."

Damperat Pau Seh-hoa.

"Yang pertama kubereskan justeru kau keparat ini."

Pedang si muka kuning lantas bergetar, teriaknya.

"Bagus, boleh kita coba-coba apakah aku si kunyuk ini lebih unggul atau asor daripada kau si tikus ini."

Tapi sebelum dia bergerak, cepat Yu Hoat mencegahnya dan berkata pula kepada Siang Cin.

"Sahabat Siang, jika kau seorang jantan sejati, hayolah katakan hari dan waktunya, boleh kita perang tanding secara terbuka, tapi kalau main cegat dan labrak begini, betapapun bukan perbuatan seorang ksatria sejati..."

"Hm, kau ksatria sejati kelas berapa?"

Jengek Siang Cin.

"Pakai hari dan waktu segala. Huh, jangan kau mimpi disiang bolong, Yu Hoat. Keledaipun takkan kesandung untuk kedua kalinya pada batu yang sama, apalagi aku Siang Cin belum menjadi keledai, kau kira aku dapat kau tipu lagi?"

"Siang heng, bicara apalagi? Apakah kita perlu tunggu pula?"

Teriak Sebun Tiobu tak sabar.

"Nanti dulu..."

Seru Yu Hoat dengan keringat memenuhi dahinya. Tapi belum lagi lanjut ucapannya, segera "lengan besi"

Sebun Tio-bu bergerak, kontan dia menyerang lawannya yang kurus dan bergolok itu. Pada saat yang sama Pau Seh-hoa juga sudah meraba keluar kedua keping kayunya.

"pletak", sekali kepingan kayu itu berbunyi, serentak iapun mengetuk batok kepala lawan yang berpedang itu. Karena tidak menduga, si muka kuning berpedang itu melompat mundur dengan kaget.

"Dan kitapun boleh mulai!"

Seru Siang Cin kepada Yu Hoat dengan tersenyum.

Berbareng ia menggeser ke samping dan telapak tangannya lantas menghantam pelipis lawan.

Yu Hoat juga tidak kalah cepatnya, dengan sedikit mendoyongkan tubuh ke belakang, kedua kakinya sekalian menendang secara berantai.

Selagi Siang Cin terpaksa harus mengelak, menyusul ia lantas menghantam pula dengan kedua telapak tangannya yang bekerja dengan cepat.

Siang Cin tahu lawan sudah nekat, karena itulah dia tidak terburu-buru menundukkan lawan, ia lantas mengegos sini dan berkelit ke sana sambil mencari titik kelemahan musuh.

Di sebelah sana Sebun Tio-bu sudah tampak jelas di atas angin.

Senjata andalannya "Tiat mo pi", lengan besi iblis, terus menyambar kian kemari mengitari lawan.

Golok orang itu kelihatan sangat berat, tapi bila dibandingkan Thi mo pi yang ringan dan lincah, golok itu hampir tak bisa berkutik menghadapi serangan Sebun Tio-bu.

Kalau Thi mo pi semakin cepat menyambar kian kemari, sebaliknya golok orang itu semakin lamban dan semakin kacau permainannya.

Keadaan si muka kuning yang berpedang juga tidak lebih baik daripada kawannya, ia blingsatan menghadapi dua keping kayu Pau Seh-hoa yang berturutturut menerbitkan bunyi "pletak pletok"

Yang membingungkan itu, beberapa kali bagian tubuhnya yang fatal hampir terketuk oleh kepingan kayu itu.

Sedapatnya ia putar pedangnya seperti kitiran, tapi ujung baju Pau Seh-hoa saja tak dapat disentuhnya.

Lama-lama si muka kuning ini menjadi kalap, dengan mandi keringat dia menyerang serabutan, akan tetapi dia seperti menghadapi sesosok bayangan saja yang tak berwujud, betapapun pedangnya menabas dan menusuk, bayangan tetap bayangan dan tak terluka sama sekali.

Pada saat itulah sekonyong-konyong Siang Cin mengapung ke atas terus menukik pula ke bawah, kedua lengannya terpentang untuk segera mengatup pula.

Di tengah terpentang dan mengatup inilah, telapak tangannya yang keras dan tajam menabas dengan dahsyatnya.

Inilah "Pat goan cam", sabetan melingkar kebanggaan Siang Cin yang ditakuti orang.

Terdengar Yu Hoat meraung kaget dan sedapatnya miringkan tubuh sambil menangkis sekuatnya.

Akan tetapi Siang Cin terlalu tangguh baginya, juga kecepatan Siang Cin sukar baginya untuk mengikutinya.

Hanya beberapa gebrak saja Yu Hoat sudah kewalahan dan kelabakan.

Dengan mandi keringat dan napas tersengal-sengal sekuatnya Yu Hoat bertahan, ia meraung kalap dan berusaha balas menyerang, namun selalu gagal dan didahului oleh Siang Cin.

Akhirnya ia menjadi nekat, mendadak ia menubruk maju, dengan jurus "Siang liong jut-hay"

Atau dua naga keluar dari lautan, kedua tangannya menyodok sekaligus ke dada Siang Cin.

Namun secepat kilat Siang Cin mengegos ke samping, berbareng sebelah telapak tangannya lantas menabas.

Tanpa ampun lagi, badan Yu Hoat segede kerbau itu terlempar hingga dua tiga tombak jauhnya dan tidak bangun lagi.

Pertarungan mereka berlangsung belum lagi genap 20 jurus, namun mati dan hidup sudah ditentukan dengan jelas.

Sebun Tio-bu berpekik melihat Siang Cin berhasil merobohkan lawannya, iapun tidak mau mengulur waktu lagi, di tengah raungannya yang menggetar sukma, Thi mo pi berputar secepat kitiran, tangan kiri juga menghantam dengan tenaga sakti.

Memangnya si lelaki kurus bergolok itu sudah mulai payah, dicecar lagi lebih kencang, tentu saja ia mati kutu.

"Trang", didahului mencelatnya golok, menyusul tubuhnya juga tersodok mundur dua-tiga langkah, selagi sempoyongan, pukulan dahsyat Sebun Tio-bu hinggap pula di dadanya sehingga orang itu mencelat jauh. Hampir pada saat yang sama, di sebelah sana Pau Seh-hoa juga telah bereskan lawannya yang berpedang itu, batok kepala musuh terketuk kepingan kayunya hingga hancur, kontan orang itu terkapar. Sambil menyimpan kembali Thi mo pi, Sebu Tio-bu menghembuskan napas lega, lalu ia menyengir ke arah Siang Cin dan berkata.

"Tiga-kosong!"

"Ya, semuanya sudah mampus, kemenangan mutlak!"

Seru Pau Seh-hoa, waktu itu dia sedang mengusap kepingan kayunya yang berlepotan darah pada baju korbannya yang sudah tak berkutik itu.

"Hayolah kita maju terus!"

Ajak Siang Cin. Cepat mereka melayang ke atas kuda masing-masing.

"Bila ditengah jalan kepergok lagi beberapa antek Jeng siong san ceng, lamalama pekerjaan kita tentu akan lebih ringan kalau sudah sampai di tempat tujuan."

Kata Pau Seh-hoa dengan tertawa.

"Enak saja perhitunganmu."

Ujar Siang Cin.

"Memangnya kau kira pihak musuh adalah kawanan domba yang boleh kau jagal sesukamu?"

Kuda dilarikan pula ke depan. Hanya sekejap saja Siang Cin lantas mendahului menahan kudanya, katanya sambil menunjuk ke depan kanan.

"Itu dia, sudah sampai!"

Waktu Pau Seh-hoa dan Sebun Tio-bu memandang ke arah yang ditunjuk, benarlah di sana berdiri sederetan rumah yang besar dengan halaman yang luas.

Pagar tembok warna merah mengelilingi perkampungan itu sehingga sangat kontras tampaknya berpadu dengan bumi sekitarnya yang diliputi salju yang putih bersih.

Ditambah lagi beberapa pohon Siong yang kelihatan masih menghijau, pemandangan perkampungan ini menjadi sangat indah.

Sebun Tio-bu baru pertama kali ini berkunjung ke sini, melihat pemandangan Jeng siong san ceng yang permai itu, mau tak mau iapun memuji.

"Sungguh elok tempat ini, seperti surga malaikat dewata..."

"Ya, cuma harus disesalkan, surga yang seharusnya dihuni malaikat dewata itu ternyata didiami oleh sekumpulan setan iblis."

Dengus Pau Seh-hoa. "Jika begitu, kenapa kita tidak mengubah tempat ini agar menjadi tempat kediaman yang layak bagi mereka."

Ujar Siang Cin.

"Lo Pau, menurut kau apa tempat kediaman yang layak bagi mereka?"

"Neraka!"

Jawab Pau Seh-hoa.

"Baik, jika begitu kehendakmu."

Kata Siang Cin sambil tertawa. Singkat ucapannya, tapi nadanya tegas seakan-akan jatuhnya keputusan sang penguasa yang menentukan segalanya.

"Marilah kita turun di sini saja."

Kata Siang Cin pula sambil mendahului melompat turun dari kudanya.

Setelah menambat kuda mereka di balik pohon sana, mereka bertiga lantas melayang ke perkampungan sana secepat terbang.

Mereka mengitar ke samping perkampungan itu, baru saja melintasi pagar tembok, tahu-tahu kepergok dua orang lelaki kekar berseragam hijau.

Tentu saja kedua orang itu melengak, tapi sebelum mereka sempat bersuara, tahu-tahu Sebun Tio bu sudah menubruk tiba dan secepat itu pula ia melompat balik.

Kedua orang itu sama sekali tidak melihat jelas bagaimana bentuk penyerangnya, cukup sekali pergi datang saja, Sebun Tio bu telah merobohkan mereka.

"Cepat amat!"

Puji Pau Seh-hoa.

"Lumayan!"

Jawab Sebun Tio bu tertawa. Belum habis mereka bicara, kembali tujuh atau delapan orang berseragam jubah hijau berlari datang pula. Seorang yang menjadi kepalanya lantas membentak dengan bengis.

"Siapa kalian berani sembarangan menerobos kemari?"

Tiba-tiba seorang di belakangnya menjerit kaget, mungkin karena melihat mayat kedua orang tadi, teriaknya pula.

"Tan suhu, orang-orang ini mata-mata musuh, dua saudara kita mati terbunuh."

Cepat orang yang disebut Tan suhu itu berpaling, ia menjadi kaget juga dan segera berteriak.

"Ada mata-mata musuh..."

Tapi Pau Seh-hoa telah menubruk maju sambil memaki.

"Bangsat, disinilah orangnya, apa yang kau teriakkan?"

Cepat Tan suhu itu berkelit dan segera melolos golok yang terselip di pinggang. Beberapa anak buahnya segera pula menerjang maju. Di tengah gelak tertawanya Pau Seh hoa menyelinap kian kemari, kedua keping kayunya berbunyi "pletak-pletok"

Beberapa kali dan kontan tiga orang menggeletak dengan kepala pecah. "Seerr"

Golok musuh menyambar lewat di atas kepala Pau Seh hoa, untung dia berkelit tepat pada waktunya, kalau tidak pasti buah kepalanya sudah berpisah dengan tuannya.

Seh hoa menjadi gusar, keping kayu berputar dan hinggap pula di muka dua orang, sambil menjerit, muka kedua orang itu seketika penyok dengan darah berhamburan.

Tanpa ayal ia menubruk maju lagi ke sana, belum lagi sisa dua orang lain itu bergerak, tahu-tahu batok kepala merekapun terketuk pecah.

Tinggal si Tan suhu saja, ketika goloknya sudah terhunus dan hendak menubruk maju, tahu-tahu anak buahnya sudah terkapar seluruhnya.

Keruan ia ketakutan setengah mati, segera ia putar haluan terus hendak kabur.

Akan tetapi baru saja dia membuka langkah, tahu-tahu sebuah tangan baja menyambar tiba, sehingga batok kepalanya terhantam remuk.

Kiranya dari jarak jauh Sebun Tio bu sempat menyambitkan Thi mo pi yang berantai itu, begitu sasarannya roboh segera pula tangan besi iblis itu ditariknya kembali.

Lalu ia menyengir terhadap Pau Seh hoa, katanya.

"Inilah resep Siang heng, cepat serang cepat beres!"

Pau Seh hoa tertawa, ia celingukan sekelilingnya, tapi jejak Siang Cin tidak kelihatan lagi, ia menjadi heran dan bertanya.

"Kemanakah Kongcu-ya?"

Sebun Tio bu melirik ke atas pohon Siong yang besar di sebelah sana dan berkata.

"Naik ke langit!"

Waktu Pau Seh hoa menengadah, benarlah Siang Cin sedang nongkrong di dahan pohon yang bergoyang-goyang itu, malahan mulut mengulum lidi pohon cemara itu.

"Haha..."

Pau Seh hoa bergelak tawa.

"bisa saja dia..."

Dalam pada itu suara bende terdengar ber-talu2, menyusul lantas terlihat cahaya api berkilauan di sana sini disertai suara orang berlari kian kemari dan bentakan orang, hampir semua suara itu berbondong-bondong menuju ke arah sini.

"Pletak", Pau Seh hoe ketuk kedua keping kayunya. Serunya.

"Hebat, sebentar lagi pasti ramai"

"Ya, biarkan mereka datang, akan kuperkenalkan panahku, kepada mereka,"

Jengek Sebun Tio bu.

Hanya sekejap saja, dari balik rumah sana, ujung pagar tembok dan sekitarnya be ramai2 membanjir tiba bergerombol-gerombol pasukan berseragam hijau dengan golok terhunus.

Semuanya berteriak-teriak, entah untuk membangkitkan semangat atau untuk menabahkan hati.

"Busyet, tampaknya tiada banyak bedanya dengan adegan di Toa ho tin dan Ji ih hu sana,"

Ujar Sebun Tio bu sambil terkekeh.

"Marilah kita mendahului kerjai mereka!"

Pau Seh hoa mengiakan. Berbareng mereka lantas bertindak. Sebun, Tio bu mengeluarkan sebatang panah kecil berwarna biru dengan hiasan batu merah, segera ia sambitkan panah itu ke angkasa sehingga menimbulkan selarik sinar yang berwarna warni.

"cret", panah itu lantas menancap di pekarangan sana, ambles ke dalam tanah yang bersalju itu.
Mengapa udah nggak bisa download cersil di cerita silat indomandarin?

Untuk yang tanya mengenai download cersil memang udah nggak bisa hu🙏, admin ngehost filenya menggunakan google drive dan kena suspend oleh google, mungkin karena admin juga membagikan beberapa link novel barat yang berlisensi soalnya selain web cerita silat indomandarin ini admin juga dulu punya web download novel barat terjemahan yang di takedown oleh google dan akhirnya merembes ke google drive admin yang dimana itu ngehost file novel maupun cersil yang admin simpan.

Lihat update cersil yang baru diupload 3 Bulan Terakhir

27 Oktober 2022] Kaki Tiga Menjangan

05 November 2022] Seruling Samber Nyawa (Bu Lim Su Cun)

Mau donasi lewat mana?

BCA - Nur Ichsan (7891-767-327)
Bagi para Cianpwee yang ingin berdonasi untuk pembiayaan operasional web ini dipersilahkan Klik tombol merah.

Posting Komentar

© Cerita silat IndoMandarin. All rights reserved. Developed by Jago Desain
]