-->

Suramnya Bayang-Bayang Jilid 46

Jilid 46

memang tidak akan dapat ditunda-tunda lagi.

Pada saat-saat yang demikian, dua orang yang agaknya telah dikirim oleh Ki Rangga Gupita itu masih tetap tekun mengikuti peristiwa itu lebih lanjut.

Di luar sadar, mereka telah hanyut pula dalam suasana yang mencekam. Mereka berusaha untuk dapat mendengar dengan jelas, nama-nama yang disebut oleh Gandar. Nama-nama yang tidak lagi disertai dengan wadagnya.

Tangis pun mulai meledak di antara mereka yang menunggu. Dengan penuh harap mereka datang ke halaman banjar untuk menyongsong anak-anak mereka atau suami mereka atau saudara-saudara mereka. Namun yang didengar hanyalah namanya disebut oleh Gandar yang berdiri di pendapa.

Namun akhirnya Gandar pun sampai pada nama terkahir. Dengan nada berat maka ia pun kemudian berkata, “Mereka telah kembali kepangkuan bumi. Mereka gugur untuk kepentingan Tanah ini, untuk kepentingan kita bersama.”

SUASANA yang campur baur telah terjadi dihalaman itu. Di antara mereka yang menangis, terdapat pula mereka yang mengucap syukur kepada Yang Maha Agung, karena anaknya telah diperkenankan kembali ke kampung halaman dengan selamat. Untuk beberapa saat halaman banjar tenggelam dalam suasana yang mencengkam. Ketika Gandar kemudian ingin menyampaikan sesuatu kepada Nyai Wiradana, ternyata Nyai Wiradana sudah tidak berada lagi di pendapa.

“Dimana Nyai Wiradana?” bertanya Gandar kepada seseorang yang berdiri disebelahnya.

“Masuk ke ruang dalam,” jawab orang itu.

Gandar pun tergesa-gesa menyusul pula. Seharusnya Nyai Wiradana masih berada di pendapa. Pasukan itu belum dibubarkan, sehingga Nyai Wiradana masih harus membubarkan pasukan itu, serta memberikan kesempatan beristirahat kepada para pengawal yang baru datang itu untuk waktu tertentu tanpa mengemban kewajiban apapun bagi Tanah Perdikan dan bagi padukuhannya.

Ketika Gandar membuka pintu pringgitan dan melangkah masuk, maka ia pun tertegun. Sambil menutup pintu Gandar melangkah satu-satu mendekati Iswari yang duduk disebuah amben panjang di ruang dalam.

“Nyai,” desis Gandar.

Bagaimanapun juga Nyai Wiradana adalah seorang perempuan. Betapapun juga ia berusaha menengadahkan wajahnya untuk menahan air matanya agar tidak mengalir dipipinya, namun ia gagal. Ketika suasana di halaman banjar itu dicengkam oleh keharuan, karena Gandar menyebut nama-nama mereka yang tidak kembali, Iswari benar-benar tidak dapat menahan diri betapapun ia berusaha. Titik-titik air yang mengembun dimatanya akhirnya meleleh juga dipipinya.

Ketika Gandar duduk disampingnya, maka Nyai Wiradana itu mengusap matanya sambil

berdesis, “Aku merupakan salah satu sebab dari perselisihan itu.” “Kenapa Nyai tiba-tiba saja menyalahkan diri sendiri?’ bertanya Gandar. “Aku tidak menyalahkan diri sendiri,” jawab Nyai Wiradana. “Aku hanya

mengatakannya. Di luar kehendakku sendiri, aku seakan-akan telah melihat kembali saat-saat aku pertama kali memasuki Tanah Perdikan ini. Ketika kakek membawa aku dan mempertemukan aku dengan kakang Wiradana.” “Nyai,” berkata Gandar. “Jangan menjadi cengeng seperti itu. Nyai sekarang adalah orang yang menjadi tumpuan dari segenap isi Tanah Perdikan ini. Karena itu Nyai harus melepaskan diri dari perasaan bersalah. Tidak ada seorang yang tahu apa yang akan terjadi kemudian di saat-saat Nyai memasuki Tanah Perdikan ini. Bahkan seandainya Nyai tidak berada di Tanah Perdikan ini, mungkin Tanah Perdikan ini sudah jatuh sepenuhnya ke tangan Warsi.”

Nyai Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Tetapi bahwa Gandar menyebut nama Warsi, ternyata telah menyentuh hati Iswari. Bagaimanapun juga ia tidak rela

jika Warsi sempat mengendalikan Tanah Perdikan itu. Apalagi bersama Ki Rangga Gupita.

Karena itu maka Iswari itu pun sekali lagi mengusap matanya. Sementara itu Gandar pun berkata, “Nyai. Pasukan itu menunggu Nyai. Sebaiknya Nyai memberi kesempatan kepada semua orang yang berada di dalam pasukan itu untuk beristirahat.”

“Baiklah,” berkata Iswari yang kemudian telah berdiri tegak. Lalu, “Aku akan memberi waktu dua pekan bagi mereka. Kecuali dalam keadaan yang sangat mendesak.”

“Baik Nyai. Waktu itu cukup memadai,” jawab Gandar.

Demikianlah maka Nyai Wiradana pun telah melangkah keluar dari ruang dalam. Tidak ada kesan bahwa dipipinya baru saja meleleh air mata. Ia tampil dihadapan pasukan pengawal Tanah Perdikan sebagaimana seorang pemimpin. Matanya dengan tajam beredar dari orang ke orang di dalam pasukan itu. Dengan jelas Nyai

Wiradana melihat kegelisahan dan ketidaksabaran.

Karena itu, maka Nyai Wiradana pun kemudian telah maju dan berdiri di tangga pendapa. Dengan suara mantap ia berkata, “Anak-anak terbaik di Tanah Perdikan. Upacara penerimaan ini telah selesai. Waktu kalian kemudian akan kalian peruntukkan sepenuhnya bagi keluarga kalian. Kalian mendapat istirahat dua pekan penuh kecuali terjadi sesuatu yang sangat penting. Karena itu, upacara ini akan diakhiri dan kalian dapat pulang kepada keluarga kalian masing-masing.” TERDENGAR sorak gemuruh dari para pengawal. Kegembiraan mereka pun meledak. Dengan ucapan terima kasih yang diulang-ulang, maka Iswari pun kemudian telah menutup upacara itu.

Gandarlah yang kemudian memerintahkan membubarkan barisan dan sekali lagi mengulang kata-kata Iswari, “Kalian mendapat istirahat penuh selama dua pekan.” Demikian upacara itu selesai, maka para prajurit yang masih menyandang senjata masing-masing itu pun telah menghambur mencari keluarga masing-masing. Suasana dihalaman itu pun menjadi hiruk pikuk.

Namun para pemimpin kelompok telah membantu para pengawal yang bertugas untuk menertibkan suasana. Mereka berusaha mengatur agar para pengawal dan keluarga mereka tidak saling mendesak dan dorong-mendorong karena saling mencari.

Beberapa orang anak muda yang tenang, justru tidak ikut dalam suasana yang agak kisruh itu. Mereka justru melangkah menjauh dan berdiri ditempat terbuka. Dengan demikian maka keluarga mereka justru akan dapat melihat dan datang mendekat.

Iswari yang berdiri ditangga pendapa harus bertahan lagi dari titik-titik air matanya. Ia tidak boleh menunjukkan kelemahan perasaan dihadapan pasukannya. Karena itu ia berusaha untuk tetap berdiri tegak sambil mengerutkan keningnya.

Gandar berdiri ditangga yang lebih rendah. Ia pun merasa hatinya tersentuh melihat orang-orang yang saling mencari itu. Sementara itu beberapa orang yang tidak akan dapat menemukan keluarga mereka di antara para pengawal yang pulang itu, telah kembali mendahului tetangga-tetangga mereka sambil mengusap air matanya.

Dua orang yang dikirim oleh Ki Rangga Gupita dan Warsi itu menyaksikan peristiwa itu dengan perasaan yang aneh. Bahkan seorang di antara mereka berdesis, “Alangkah bahagianya mereka.”

Kawannya mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera mengetahui maksud kawannya itu. Karena itu maka ia pun bertanya, “Apakah maksudmu? Apakah kau merasakan sesuatu menyaksikan peristiwa itu?”

“Ya,” jawab kawannya. “Ketika mereka kembali dari satu tugas yang berat, maka masih ada keluarga mereka yang datang menyambut. Manangisinya dengan gembira dan

haru. Mungkin orang tua mereka, mungkin istri dan anaknya yang masih dalam dukungan.”

“He, kau kenapa?” bertanya kawannya. “Tiba-tiba kau menjadi cengeng.” “Mungkin,” jawab kawannya. “Tetapi hal semacam ini tidak akan pernah kita alami. Tidak ada orang yang pernah menunggu kita, apakah kita akan kembali atau tidak. Tidak pernah ada orang menangisi kita. Apakah karena terharu atau karena sedih. Kita adalah orang-orang yang dibiarkan mengalami apapun juga tanpa perhatian orang lain.” Kawannya termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian menarik nafas dalam- dalam

sambil berkata, “Kita adalah orang-orang yang tenggelam dalam perjuangan yang khusus. Bukankah sebenarnya kita juga mempunyai keluarga? Tetapi belum saatnya kita datang kepada mereka dalam keadaan apapun juga.”

“Dan mereka pun tidak akan segera tahu jika kita mati di peperangan. Tubuh kita akan dilemparkan ke jurang dan menjadi makanan binatang buas,” desisnya.

Yang lain terdiam. Rasa-rasanya memang hanya dapat terjadi dalam mimpi saja. Tanah Perdikan ini sudah menjadi terlalu kuat. Bahkan orang itu masih juga berkata selanjutnya, “Juga usaha untuk membunuh Risang terlalu sulit dilakukan.”

“Seandainya anak itu terbunuh, apakah masih mungkin orang berpaling kepada Puguh. Juga apakah mungkin Pajang dapat menerima kehadiran anak Ki Wiradana itu

meskipun tanpa Risang? Jika Nyai Wiradana muda itu datang dengan membawa Puguh, bukan anak itu yang akan menerima warisan kepemimpinan Tanah Perdikan ini,

tetapi Pajang justru akan menangkap Ki Rangga dan Warsi sekaligus,” berkata yang lain.

Keduanya mengangguk-angguk. Dengan melihat kenyataan yang berkembang di Tanah Perdikan, maka rasa-rasanya tidak ada lagi kemungkinan yang dapat mereka lakukan di atas Tanah Perdikan ini. Tanpa pasukan Pajang pun, kekuatan Tanah Perdikan

ini akan mampu mengatasi segala kemelut yang dapat ditimbulkan oleh pasukan Ki Rangga dan Warsi, bahkan sebelum dihancurkan sekalipun.

Demikianlah, maka kedua orang itu telah membawa satu kesimpulan. Mereka merasa harus mengatakan yang sebenarnya ada di Tanah Perdikan ini. Bukan sekadar untuk menyenangkan perasaan Ki Rangga dan Warsi, karena jika terjadi salah penilaian seperti yang terdahulu, maka bisa kekuatan yang sangat kecil itu akan dapat dipunahkan sama sekali.

Dalam pada itu, Tanah Perdikan Sembojan sendiri baru diliputi oleh suasana yang aneh. Di antara kegembiraan yang meledak, terdapat pula kepedihan karena orang yang ditunggu-tunggu ternyata tidak kembali pulang.

Sementara itu, setelah banjar padukuhan induk itu menjadi semakin lengang, maka Iswari pun telah duduk di pendapa. Masih ada beberapa orang yang berada di banjar. Mereka yang terluka parah dan tidak dapat berjalan pulang, keluarganya sedang berusaha mendapatkan untuk membawa mereka. Pada umumnya mereka berusaha

membawa pedati ke banjar. Yang tidak mempunyai pedati sendiri di rumah berusaha meminjam tetangganya. Dalam pada itu agaknya tidak seorang pun yang berkeberatan untuk meminjamkan pedatinya kepada mereka yang akan mengambil keluarganya yang terluka.

Tetapi bagi mereka yang lukanya masih berbahaya, Iswari menganjurkan agar keluarganya bersedia meninggalkan mereka di gandok banjar padukuhan induk itu. Dengan demikian mereka akan mendapat perawatan yang lebih baik dari mereka yang memang mengerti tentang obat-obatan.

“Jika mereka berangsur baik, maka mereka akan segera dapat dibawa kembali,” berkata Iswari.

Pada umumnya keluarga mereka pun tidak berkeberatan. Ada empat orang pengawal yang masih tinggal di banjar karena luka-lukanya itu.

Sementara itu Gandar pun telah memberikan laporan yang lebih terperinci kepada Iswari. Sambi Wulung dan Jati Wulung pun mendampinginya pula. Dengan menyesal Gandar melaporkan bahwa Ki Rangga dan Warsi telah luput dari tangan mereka dan prajurit Pajang yang kuat.

“Dengan demikian, maka benih itu masih tetap ada. Satu saat, benih itu akan tumbuh dan berkembang biak,” berkata Gandar.

“Tetapi yang kalian lakukan adalah satu kerja yang paling baik yang dapat dilakukan,” desis Iswari. “Untuk sementara kita akan terlepas dari gangguan mereka.”

“Mungkin dalam benturan kekuatan yang besar,” jawab Gandar. “Tetapi

kekuatan-kekuatan yang tersisa itu masih mungkin mengacaukan ketenangan Tanah Perdikan ini,” jawab Gandar.

Iswari mengangguk-angguk. Bahkan ia pun kemudian berdesis, “Kau benar Gandar. Tetapi yang lebih mencemaskan lagi adalah Risang. Meskipun mereka tidak lagi berharap untuk dapat mengalihkan hak Risang kepada anak Kakang Wiradana yang lahir dari istrinya yang muda itu, namun mereka akan dapat mengancam dan membunuh Risang untuk membalas dendam. Atau jika mereka berhasil, maka semua keturunan Wiradana akan gagal mewarisi kedudukannya disini.”

Gandar mengangguk-angguk. Pendapat itu agaknya memang mungkin sekali terjadi. Karena itu, maka Gandar pun berkata, “Jika demikian maka penjagaan atas Risang harus semakin ditingkatkan. Tetapi ia tidak boleh merasa dirinya terkekang karenanya agar ia dapat tumbuh wajar.”

mohon maaf....terpotong sedikit aja...

ISWARI mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja ia telah teringat kepada Risang.

Karena itu, maka ia pun telah menjadi gelisah meskipun Bibi ada bersama Risang di rumah. Sementara para pengawal pun masih juga tetap berjaga-jaga.

“Tetapi jika Ki Rangga dan Warsi sendiri bersama-sama memasuki rumah itu, Bibi akan mengalami kesulitan,” berkata Nyai Wiradana di dalam hatinya.

Dengan demikian maka Nyai Wiradana itu pun telah menjadi tergesa-gesa untuk kembali, sementara tugasnya di banjar memang sudah selesai.

Bersama orang-orang tua yang mendampinginya memimpin Tanah Perdikan itu, maka Iswari pun segera meninggalkan banjar padukuhan induk. Rasa-rasanya ia ingin segera melihat, apakah Risang masih tetap berada di rumahnya atau tidak.

Ketika Iswari memasuki regol rumahnya dan melihat Risang berada di pendapa berlari-lari bekejaran dengan kawan sepermainannya yang rumahnya berseberangan jalan, Iswari menarik nafas dalam-dalam. Sedangkan Bibi duduk di sudut pendapa sambil mengawasinya bersama pemomong Risang.

Yang dilakukan oleh Iswari itu tidak terlepas dari pengamatan orang-orang tua yang selalu dekat dengannya. Orang-orang tua itu mengerti, betapa kecemasan di hati Iswari sebagai seorang ibu terhadap anak laki-lakinya, justru karena ia

sadar, bahwa anak itu merupakan sasaran utama dari dendam yang membakar jantung sekelompok orang yang memusuhinya.

Karena itu, maka agaknya orang-orang tua itu pun wajib membantu menenangkan kegelisahan itu. Kegelisahan seorang ibu kadang-kadang tidak lagi dapat dibendung dengan penalaran. Meskipun Iswari sudah berusaha untuk berdiri tegak

sebagai seorang pemimpin di Tanah Perdikan Sembojan, tetapi bagaimanapun juga ia tetap seorang ibu yang mencintai satu-satunya anaknya melampaui segala-galanya.

Bukan karena anaknya akan dapat memberikan kedudukan kepadanya. Tetapi anak baginya adalah belahan nyawanya.

Nyai Soka yang juga seorang perempuan dapat lebih mengenali perasaan Iswari. Karena itu, maka ia pun justru menjadi semakin dekat dengan cucu perempuannya itu.

Namun pada suatu saat terucapkan pula oleh Iswari yang dibayangi oleh kecemasan itu kepada neneknya, “Nenek, bagaimanakah nasib Risang itu kemudian.” Nyai Soka menarik nafas dalam-dalam. Iswari memang sering menyebutnya dengan panggilan yang berbeda-beda. Kadang-kadang ia memanggilnya Nyai. Kadang-kadang Iswari itu memanggilnya guru. Namun jika Iswari itu benar-benar tenggelam dalam kegelisahan, maka ia merasa dirinya seorang cucu yang memohon kepada neneknya, sebagaimana masa kanak-kanaknya jika permainannya terlempar ketempat yang sulit digapainya.

“Iswari,” desis Nyai Soka. “Kau jangan terlalu gelisah memikirkan anakmu. Menurut pengamatan lahiriah maka anakmu kini telah dikelilingi oleh kekuatan yang dapat diandalkan. Disini ada Bibi yang mencintai anak itu seperti anaknya sendiri, karena ia memang tidak mempunyai anak, bahkan ia merasa ikut berhak atas anak itu. Kemudian disini pun ada Gandar, ada Sambi Wulung dan Jati Wulung yang menganggap Risang juga seperti cucunya sendiri. Dan disini ada pula

cicit-cicitnya.”

Iswari mengangguk kecil. Namun tiba-tiba pula ia berdesis, “Tetapi rasa-raranya

aku sendiri, ibunya, masih belum mampu melindunginya jika benar-benar bahaya itu datang. pada satu saat aku tentu tidak akan dapat sekadar mengandalkan

orang-orang lain untuk melindungi anak-anak. Tetapi tumpuan perlindungan baginya adalah aku ibunya.”

“Sudah aku katakan Iswari, bahwa disini ada orang-orang lain yang mampu membantumu. Tetapi jika kau tarik persoalannya kepada dirimu sendiri, maka menurut perhitungan lahiriah pula, kau adalah seorang yang berilmu tinggi. Kau mampu melindungi anakmu jika benar-benar tersudut ke dalam satu peristiwa tanpa orang lain. Sementara itu menurut sandaran jiwani, maka kau pun harus pasrah kepada Yang Maha Agung. Umur seseorang tidak ditentukan oleh dinding baja sekalipun,” berkata Nyai Soka.

ISWARI menarik nafas dalam-dalam. Ternyata kata-kata terakhir Nyai Soka itu memang menyentuh perasaannya. Bahkan Iswari pun kemudian menunduk dalam- dalam

sambil berdesis, “Maaf nek. Agaknya aku memang terbelenggu oleh kepicikanku kepada Yang Maha Agung itu.”

“Baiklah,” berkata Nyai Soka. “Tetapi kau pun tidak bersalah. Kita memang

diwajibkan berusaha. Namun segala sesuatunya harus dikembalikan kepada yang Maha Kuasa itu dengan penuh kepercayaan bahwa Yang Maha Kuasa itu pulalah Yang Maha Kasih.” Iswari mengangguk kecil. Ia memahami sepenuhnya keterangan neneknya itu. Karena itu, maka ia pun kemudian menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Nek. Bahwa yang terakhir, memang harus aku serahkan kepada Yang Maha Agung itu.”

Nyai Soka mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Tetapi Iswari. Mungkin kami dapat membantu mengurangi kecemasanmu itu. Kami akan dapat membantumu meningkatkan ilmu untuk tahap akhir.”

“Siapa yang nenek maksud?” bertanya Iswari.

“Aku, kakekmu Kiai Soka dan Kiai Badra,” jawab Nyai Soka. “Tetapi nenek sudah memberi terlalu banyak,” desis Iswari.

“Masih ada sedikit yang tersisa. Justru mungkin akan sangat berarti bagiku,” berkata Nyai Soka.

Iswari termangu-mangu. Ia sudah menempuh laku yang panjang untuk mewarisi ilmu neneknya. Namun neneknya itu masih mempunyai sesuatu yang tersisa. Menurut pendapatnya, ia sudah mempelajari sampai tataran terakhir dari ilmu neneknya

itu, yang perkembangan di dalam dirinya tergantung pada dirinya sendiri.

Tetapi sudah barang tentu Iswari tidak akan menolak kesempatan yang belum diketahuinya dengan pasti itu, karena ia mempunyai kepercayaan sepenuhnya kepada neneknya sebagaimana kepada kakek-kakeknya.

“Iswari,” berkata Nyai Soka. “Kau memerlukan beberapa hari untuk itu. Bersiap-siaplah. Aku akan membicarakannya dengan kedua kakekmu.”

Iswari mengangguk kecil. Katanya, “Terima kasih nenek. Tetapi bukan maksudku bahwa aku tidak merasa mapan dengan apa yang sudah aku terima dari nenek. Aku sebenarnya merasa bahwa yang nenek berikan telah banyak sekali. Soalnya memang tergantung kepadaku, apakah aku dapat mengembangkannya atau tidak.”

Nyai Soka tersenyum. Katanya, “Kau adalah cucuku.”

Iswari menundukkan kepalanya. Sementara itu Nyai Soka berkata, “Aku akan berbicara dengan kedua kakekmu.”

Nyai Soka pun kemudian meninggalkan Iswari sendiri. Sekilas memang timbul penyesalan di hati Iswari, seakan-akan ia menuntut lebih banyak bahkan terlalu banyak dari neneknya yang juga gurunya. Tetapi ia pun kemudian yakin bahwa neneknya tentu akan memaafkannya seandainya memang timbul kesan yang demikian. Sementara itu Nyai Soka pun benar-benar telah menemui Kiai Soka dan Nyai Badra untuk berbicara tentang kemungkinan sebagaimana dikatakannya kepada Iswari.

Kiai Soka menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Iswari selalu dibayangi oleh kecemasan tentang keselamatan anaknya. karena itu ia ingin menjadi seorang yang memiliki kemampuan untuk melindungi anaknya itu.”

“Tetapi ia ingin mendapat terlalu banyak,” desis Kiai Badra.

“Jangan menangkap keinginan Iswari seperti itu kakang,” berkata Nyai Soka. “Perasaannya didera oleh kecemasannya sebagaimana dikatakan oleh Kiai Soka. Sebagai kakeknya, bukankah kakang mengetahui bahwa bukan sifat Iswari seperti itu?”

Kiai Badra mengangguk kecil. Katanya, “Ya. Aku kira tanpa persoalan yang menyesakkan perasaannya ia tidak akan merasa seperti itu.”

“Karena itu, apakah kita dapat berbuat sesuatu untuknya?” bertanya Nyai Soka. “Jika kalian sependapat, maka kita akan dapat memberikan seikat kemampuan kepadanya.”

“Apakah ia sudah siap untuk menerima Ilmu Janget Tinatelon,” bertanya Kiai Badra.

NYAI SOKA mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Aku kira ia sudah cukup masak. Peristiwa demi peristiwa telah menempa hidupnya lahir dan batin.

Karena itu, maka aku kira ia akan mampu menerimanya. Laku terakhir yang dijalaninya sudah menunjukkan bahwa Iswari adalah seorang yang memiliki kelebihan dari orang lain. Ketahanan tubuhnya, kemampuannya dan terutama tekadnya yang sangat besar telah membentuknya menjadi seorang yang secara jasmaniah dan rohaniah akan mampu menerima ilmu Janget Tinatelon.”

Kiai Sokalah yang kemudian berkata, “Jika demikian, baiklah kita serahkan saja kepadamu Nyai. Kau amati anak itu. Kau jajagi dan kau persiapkan, sehingga ia benar-benar siap menerima ilmu itu. Ilmu yang barangkali belum ada orang lain yang memilikinya. Jika kita berhasil, maka Iswari adalah orang yang pertama-tama memiliki ilmu itu. Tetapi bukan berarti bahwa ilmu itu adalah ilmu yang

terbaik.”

“Baiklah Kiai,” jawab Nyai Soka. “Kita memang tidak boleh menjadi tergesa-gesa. Karena jika gagal, akibatnya akan merusakkan tubuh Iswari sendiri. Sementara itu kita masing-masing juga harus bersiap-siap untuk menilai sekali lagi,

bagian-bagian dari ilmu kita masing-masing yang dapat diikat menjadi satu dalam Ilmu Janget Tinatelon ini. Karena kesalahan dapat saja timbul karena keadaan Iswari jasmaniah atau rohaniah, tetapi juga karena kita salah memilih ilmu yang sejalan, sehingga akan dapat menimbulkan pertentangan di dalam tubuh Iswari itu.”

“Baiklah,” berkata Kiai Badra. “Karena dasar ilmu anak itu adalah ilmu yang kau berikan, maka landasannya adalah ilmu itu.”

Demikianlah maka ketiga orang tua itu telah bersepakat untuk mempersiapkan bagian ilmu mereka yang sejalan yang dapat diperpadukan sesuai dengan landasan yang ada pada Iswari. Namun kemudian ketiga orang itu pun harus secara langsung mencoba untuk mengeterapkannya pada anak itu. Jika semuanya sudah dianggap mapan, maka barulah laku yang sebenarnya dapat dimulai untuk mencapai ilmu yang lahir dari mereka bertiga, Janget Tinatelon.”

Seperti yang dikatakan oleh Nyai Soka, selagi orang-orang tua itu sedang mempersiapkan apa yang masih mungkin diberikan, maka Nyai Soka telah mempersiapkan Iswari untuk memasuki laku sebagai kelanjutan laku yang pernah dijalaninya.

Namun di samping itu, maka bergantian ketiga orang tua itu telah menjajagi landasan ilmunya. Nyai Soka sendiri ingin melihat seberapa jauh ilmunya berkembang di dalam diri Iswari, sementara Kiai Soka dan Kiai Badra

berganti-ganti menilai kemampuan dan mengamati kedalaman landasan ilmu yang telah dikuasai oleh cucu perempuannya itu.

Baru kemudian, setelah masing-masing beberapa kali melakukannya, maka mereka pun telah mematangkan satu ikatan ilmu yang akan diberikan kepada Iswari. Seseorang yang pertamakali akan memiliki Ilmu Janget Tinatelon di samping ilmu yang memang sudah ada di dalam dirinya.

Memang ada kemungkinan lain dapat terjadi pada Iswari. Jika perhitungan ketiga orang itu salah atau ada kelainan di luar kemampuan pengamatan mereka, maka yang akan terjadi justru sebaliknya. Iswari tidak akan menjadi semakin tinggi

ilmunya, tetapi ilmu yang telah ada di dalam dirinya akan larut.

Mungkin sebagian kecil, tetapi mungkin justru sebagian besar. Bahkan jika terjadi kekeliruan yang lebih besar, maka tubuh Iswari akan dapat menjadi korban.

HAL itu sudah dikemukakan langsung oleh Nyai Soka. Sebagai seorang guru yang jujur, ia tidak berahasia terhadap muridnya. Dengan demikian maka tanggung jawab antara guru dan murid akan terjadi timbal balik. “Aku akan menerima segala akibatnya guru,” berkata Iswari kepada Nyai Soka. “Seperti yang guru katakan,

kita memang wajib berusaha. Tetapi segala sesuatunya kita harus pasrahkan kepada Yang Maha Agung. Kita diberi kemurahan untuk memohon kepada-Nya. Jika yang kita mohon itu berkenan, maka kita tentu akan diberinya. Bahkan kadang-kadang lebih banyak dari yang kita mohon itu. Namun jika permohonan kita itu tidak

dikabulkan, maka tentu ada alasan yang dapat atau tidak dapat kita ingkari.” “Bagus Iswari,” berkata Nyai Soka. “Dengan demikian kau memang sudah memiliki kesiapan jiwani untuk memasuki laku yang berat itu. Laku yang harus kau jalani dibawah tuntunan kami bertiga berganti-ganti.”

Iswari mengangguk-angguk. Ia memang sudah merasa siap lahir dan batin saat Iswari benar-benar harus memasuki sanggar dalam laku yang berat, maka tanggung jawab Risang diletakkan di pundak Bibi, Gandar dibantu oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung. Meskipun demikian Gandar masih juga disibukkan oleh kegiatan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan.

Ketika waktu yang diberikan untuk beristirahat bagi para pengawal lewat, maka kegiatan di Tanah Perdikan pun telah meningkat. Bukan saja kegiatan anak-anak muda sebagai pengawal Tanah Perdikan yang setiap saat siap menghadapi ancaman, tetapi kegiatan anak-anak muda Sembojan diberbagai macam segi-segi kehidupan. Karena menurut perhitungan, maka kekuatan Ki Rangga dan Warsi tidak lagi memadai untuk menyerang secara terbuka Tanah Perdikan Sembojan, sehingga sebagian dari tenaga yang tersimpan di Sembojan telah dialirkan untuk meningkatkan

kesejahteraan hidup. Parit-parit yang untuk beberapa saat lepas dari perhatian, telah diperbaiki. Jalan-jalan yang rusak dan gardu-gardu yang kurang terawat telah mulai dijamah.

Namun dalam pada itu, Warsi yang mendapat laporan tentang Sembojan dan bahkan pengamanan yang terus-menerus atas Tanah Perdikan itu membuat darahnya semakin bergelora. Bahwa Sembojan tumbuh dan semakin berkembang membuatnya seperti berdiri di atas api.

“Kenapa bukan aku yang memimpin Tanah itu,” geramnya. “Perempuan itu sebenarnya tidak berkemampuan apa-apa. Ia telah menemukan tikar yang sudah terbentang. Ia tinggal duduk saja di atasnya bersama saudara-saudaranya. Dan perkembangan Tanah Perdikan itu berjalan dengan sendirinya.”

“Kita tidak usah mengharapkannya lagi,” berkata Ki Rangga. “Kita harus mulai

lagi dari permulaan. Tetapi aku yakin, bahwa aku masih dapat menghimpun kekuatan jika aku pergi ke Jipang.”

“Apakah kau akan pergi ke Jipang?” bertanya Warsi. “Ya. Meskipun Jipang kemudian nampak damai sekarang, tetapi gejolak itu masih terdapat dibawah permukaan. Selagi Pajang belum mantap, maka aku harus bertindak cepat,” berkata Ki Rangga.

“Kau sudah memperhitungkan segala sesuatunya?” bertanya Warsi. “Semuanya sudah aku timbang untung dan ruginya,” jawab Ki Rangga. “Lalu padepokan itu,” bertanya Warsi pula.

“Kalau aku pergi ke Jipang itu bukan berarti bahwa aku akan tinggal disana. Kita akan tetap berada di padepokan itu,” jawab Ki Rangga. Lalu, “Aku berharap bahwa kau dapat ikut.”

Warsi mengangguk kecil. Jawabnya. “Aku tidak akan berkeberatan. Tetapi dengan demikian maka yang akan kita hadapi adalah langsung Pajang. Karena itu sebelumnya aku ingin membuat perhitungan yang lain. Aku sendiri akan membunuh

Risang. Aku mampu membunuh Ki Gede Sembojan waktu itu. Kenapa aku tidak dapat membunuh bayi itu?”

“Kau jangan hanyut oleh arus perasaanmu. Risang sekarang tidak penting lagi bagi kita. Mati atau tidak mati. Kita harus melepaskan mimpi kita tentang Tanah Perdikan itu,” berkata Ki Rangga.

“Tetapi sulit bagiku untuk melakukannya,” berkata Warsi. “Tanah itu telah memberikan satu pahatan ujud di dalam hatiku. Karena itu, maka setiap saat aku akan selalu mengenangnya.”

“Tetapi apa yang dapat kita temukan di tanah itu sekarang?” bertanya Ki Rangga. “Jika aku tidak dapat menguasai tanah itu, maka Iswari pun harus tidak pula.

Jika aku mampu membunuh Risang, maka berarti kami berdua akan sama-sama gagal menguasai tanah itu. Itu akan memberikan sedikit kepuasan padaku. Tanpa Risang, Iswari pun bukan apa-apa lagi di Tanah Perdikan itu. ia tidak akan dapat mendapatkan anak lagi dari keturunan lurus Kepala Tanah Perdikan di Sembojan.

Kecuali jika kemudian ia menjual dirinya kepada laki-laki yang akan mendapatkan hak untuk memimpin Tanah Perdikan itu.”

“Jadi niatmu tetap?” bertanya Ki Rangga.

“Ya. Aku sendiri akan berusaha membunuh Risang,” jawab Warsi. “Lalu bagaimana dengan anakmu sendiri?” bertanya Ki Rangga pula.

“Aku tidak memerlukannya lagi. Biar saja ia tumbuh menurut jalurnya. Aku tidak peduli lagi,” jawab Warsi.

“Ia hanya akan menyulitkanmu kelak,” geram Ki Rangga. “Tidak. Ia tidak akan berbuat apa-apa,” jawab Warsi.

Ki Rangga hanya menarik nafas. Tetapi agaknya ia tidak lagi dapat membendung keinginan Warsi untuk membunuh Risang. Namun pekerjaan itu bukan pekerjaan yang mudah.

Meskipun demikian Warsi telah mempersiapkan dirinya untuk melakukannya. Ia telah mempersiapkan sebuah sumpit yang akan dapat dipergunakannya untuk menyerang dari

jarak yang jauh.

Dengan keberanian yang luar biasa, maka Warsi dan Ki Rangga sekali-kali telah memasuki Tanah Perdikan Sembojan di malam hari. Mereka menyusuri jalan-jalan di bulak-bulak panjang. Jalan-jalan yang telah dikenalinya dengan baik. Tetapi

sekali-kali mereka telah memasuki padukuhan pula. Tidak melalui pintu-pintu gerbang di ujung-ujung lorong, karena di pintu-pintu gerbang pada umumnya terdapat gardu-gardu peronda yang dipenuhi oleh anak-anak muda.

Keduanya memasuki padukuhan-padukuhan dengan meloncati dinding yang lepas dari pengawasan para pengawal padukuhan dan anak-anak muda yang meronda. Tidak ada yang dilakukan oleh keduanya di padukuhan-padukuhan itu kecuali sekadar ingin melihat kembali isi dari Tanah Perdikan itu.

Semakin banyak yang dilihatnya, maka semakin tidak rela rasanya Tanah Perdikan itu dipimpin oleh Iswari. Karena itu, maka seperti yang dikatakannya, jika ia

tidak mewarisi kedudukan di Tanah Perdikan itu, maka orang lain pun tidak akan mewarisinya pula.

Karena itu, maka niatnya untuk membunuh Risang menjadi semakin menyala dihatinya.

Pada hari-hari berikutnya, maka Warsi tidak hanya memasuki padukuhan-padukuhan di Tanah Perdikan itu, tetapi ia sudah berani memasuki padukuhan induk. Warsi sengaja tidak membawa orang lain kecuali Ki Rangga Gupita, karena orang lain itu hanya akan menghambat rencananya saja.

Tetapi ternyata memang tidak mudah untuk membunuh Risang. Rumah Ki Wiradana itu cukup besar. Meskipun Warsi mengenal dengan baik setiap bilik di rumah itu,

tetapi ia tidak dapat memperhitungkan, dimanakah Risang itu tidur di malam hari. “Aku akan mencarinya,” geram Warsi.

Tetapi Ki Rangga menggeleng. Katanya, “Jika kita masih mempunyai cita-cita atau keinginan, jangan lakukan itu. Setidak-tidaknya sekarang.” “Kenapa? Kau ragukan kemampuanku?” bertanya Warsi.

“Tidak. Kau mewarisi ilmu Kalamerta sepenuhnya,” berkata Ki Rangga. “Tetapi kau pun tidak boleh ingkar dari kenyataan, bahwa di dalam rumah itu banyak terdapat orang berilmu tinggi. Seandainya kau mampu mengimbangi mereka seorang demi seorang, tetapi jika kau menghadapi mereka bersama-sama, maka rasa-rasanya kau akan mengalami banyak kesulitan.”

Warsi menarik nafas dalam-dalam. Ia memang tidak dapat berkisar dari kenyataan itu.

Meskipun bagi Warsi, para pengawal di gerbang rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu dapat diabaikan, tetapi tidak demikian halnya para penghuni yang ada di dalamnya.

Namun dalam pada itu, Warsi tidak mengetahui sama sekali, bahwa pada saat-saat ia mengamati rumah itu, yang dilakukannya tidak hanya semalam, tetapi beberapa malam, Iswari sedang tekun berada di dalam sanggar. Iswari sedang menempuh laku yang berat untuk menerima satu jenis ilmu yang belum dikenal sebelumnya, yang disusun oleh tiga orang tua yang berilmu tinggi. Tetapi dengan penjajagan yang berulang kali, serta usaha untuk menyesuaikan landasan ilmu yang ada dan

beberapa kemungkinan lain, maka seakan-akan ilmu yang dinamakan Janget Tinatelon itu diciptakan khusus bagi Iswari.

SELAGI Iswari hampir siang dan malam berada disanggar pada saat ia menjalani laku, maka Warsi sibuk mencari kesempatan untuk dapat membunuh Risang. Bahkan keberanian Warsi yang sulit untuk ditakar itu telah mendorongnya untuk lewat melalui jalan di padukuhan induk itu tidak dimalam hari, tetapi di siang hari.

Meskipun Warsi dan Ki Rangga berusaha untuk menyamarkan diri mereka, tetapi keberanian itu adalah diluar perhitungan orang-orang Tanah Perdikan Sembojan, sehingga justru karena itu, tidak seorang pun yang menduga bahwa Warsi dan Ki Rangga akan memasuki Tanah Perdikan itu di siang hari.

Hal itulah sebenarnya yang telah memberikan kesempatan kepada keduanya. Orang-orang Tanah Perdikan tidak tertarik untuk memperhatikan, ketika dua orang laki-laki dan perempuan memakai tudung kepala yang agak lebar dan runcing yang terbuat dari daun kelapa yang dianyam rapi berjalan lewat jalan yang membelah padukuhan induk.

Jalan itu memang jalan yang cukup ramai dilalui orang dari padukuhan-padukuhan sebelah menyebelah. Jika orang-orang yang pergi dan kembali dari pasar diujung padukuhan induk. Bahkan orang-orang dari Kademangan di luar Tanah Perdikan yang memerlukan untuk membeli sesuatu di pasar yang terhitung besar dilingkungan Tanah Perdikan Sembojan dan sekitarnya. Di pasar itu terdapat beberapa macam barang yang di pasar-pasar yang lebih kecil lainnya tidak terdapat.

Orang-orang yang berpapasan dengan sepasang laki-laki dan perempuan itu juga mengira bahwa keduanya adalah orang-orang dari lingkungan tetangga mereka. Namun tidak seorang pun yang menduga atau bahkan bagi mereka tidak akan masuk akal, bahwa Ki Rangga Gupita dan Warsi berjalan melalui jalan di padukuhan induk Tanah Perdikan.

Dalam pada itu ketika Warsi dan Ki Rangga berjalan melalui jalan di depan rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan keduanya sempat berhenti sejenak. Dihadapan orang-orang yang bertugas di regol halaman, Ki Rangga telah menjatuhkan batu thithikan yang dipakainya untuk membuat api dengan emput aren. Pada saat Ki

Rangga mengambil batu thithikan itulah, Warsi sempat memperhatikan halaman rumah yang cukup luas itu, meskipun tidak seluas halaman banjar.

“Anak setan itu ada disana,” geramnya.

Sebenarnya Warsi melihat Risang bermain-main di pendapa bersama dua orang perempuan. Seorang pemomongnya dan seorang lagi adalah Bibi. Namun di sudut pendapa itu dua orang pengawal sedang bergurau pula dengan anak yang sekali-kali berlari ke arah mereka sambil membawa sepotong bambu yang dibuat sebagai pedang-pedangan.

Warsi menarik nafas dalam-dalam. Meskipun ia sempat melihat Risang, tetapi ia tidak mempunyai kesempatan untuk berbuat sesuatu atas anak itu. Ia tahu bahwa orang-orang yang ada di pendapa itu tentu orang-orang yang memiliki kemampuan di atas tataran orang dan pengawal kebanyakan.

Ketika Warsi menggeram, Ki Rangga telah mendapatkan batu thithikannya. Bahkan ia pun sempat berdesis, “Kau harus menahan diri disini. Kau tidak akan dapat

berbuat apa-apa sekarang.”

Warsi mengangguk, betapapun hatinya bergejolak.

Sejenak kemudian dua orang laki-laki dan perempuan itu telah melanjutkan perjalanan. Beberapa langkah dari pintu gerbang itu Warsi berpaling memandangi dinding-dinding halaman yang menurut pendapatnya tidak begitu tinggi.

Tetapi di siang hari ia memang tidak akan dapat berbuat apa-apa. Sementara di malam hari tidak diketahuinya, dimana Risang itu disembunyikan. Karena itu yang dapat dilakukan oleh Warsi adalah menggeram sambil menggeretakkan giginya. Dengan penuh kebencian ia berkata, “Tetapi aku bersumpah untuk membunuh anak itu. Bukan hanya anaknya, tetapi juga ibunya.”

Ki Rangga tidak menyahut. Ia sadar, jika Warsi sedang melepaskan kemarahannya, ia tidak mau mendengarkan pembicaraan orang lain.

Untuk melepaskan dendam dan kebencian yang bergejolak di dalam dadanya, maka Warsi telah mengambil kesempatan untuk mematangkan ilmunya. Bersama Ki Rangga Gupita yang membawa bekal ilmu dari perguruan lain, keduanya telah mempergunakan waktunya yang cukup banyak untuk menempa diri. Baik jika mereka berada di

sarang-sarang mereka yang baru, tempat mereka menyembunyikan harta benda yang sempat mereka pindahkan, atau jika mereka sedang berada di padepokan mereka.

Meskipun keduanya tetap memelihara citra mereka sebagai dua orang suami istri yang baik, namun di dalam sanggar mereka telah menjadi sangat garang.

SAMBIL menempa diri sejadi-jadinya, Warsi selalu bergumam, “Aku harus membunuh mereka. Anak dan ibunya.” Tetapi kesempatan itu tidak pernah didapatinya. Dalam keadaan yang tidak tertahankan lagi, maka Warsi pun kemudian berkata kepada Ki Rangga Gupita, “Aku akan menempuh jalan lain.” “Jalan apa?” bertanya Ki Rangga. “Menurut pendengaranku, Iswari juga memiliki ilmu yang sangat tinggi. Karena

itu, untuk menyelesaikan dendam dihati kami masing-masing, maka aku akan menantang perang tanding.”

“Apakah kau sudah gila?” sahut Ki Rangga.

“Kau tetap meragukan kemampuanku?” bertanya Warsi.

“Tidak. Selalu aku katakan tidak. Apalagi setelah kau salurkan kemarahan dan dendammu pada latihan dengan laku yang berat ini. Tetapi menantang Iswari berperang tanding adalah sama dengan menyerahkan kepada orang-orang tua di Tanah Perdikan Sembojan,” sahut Ki Rangga.

“Tidak,” jawab Warsi. “Perang tanding itu tidak akan diganggu oleh orang lain. Aku atau perempuan itulah yang akan mati.”

“Jika kau tidak dapat membunuhnya, maka gagallah semua usahamu. Kau tentu juga tidak akan dapat membunuh anaknya. Karena itu kita harus membunuh anaknya lebih dahulu jika kau kehendaki. Baru kemudian kau dapat menantangnya jika kau belum puas dengan kematian anak itu,” berkata Ki Rangga.

“Tetapi kesempatan itu tidak pernah aku dapatkan. Di siang hari tidak dan di

malam hari pun sulit. Aku pun sebelumnya menganggap bodoh orang-orang kita yang gagal membunuh anak itu. Tetapi kini aku percaya, bahwa kesempatannya memang kecil sekali,” jawab Warsi. “Karena itu, aku akan langsung pada sasaran. Aku dan Iswari mempunyai banyak persoalan yang pantas diselesaikan di arena perang tanding.”

“Aku percaya,” jawab Ki Rangga. “Tetapi langkahmu sudah bergeser. Semula kau hanya ingin menggagalkan kemungkinan Iswari menurunkan pemimpin di Tanah Perdikan itu. Jika kau tidak maka perempuan itu pun tidak. Dengan demikian maka kau berusaha untuk membunuh Risang. Tetapi jika kau berniat berperang tanding dengan Iswari, bahkan seandainya kau berhasil membunuhnya, maka Risang akan tetap mendapat kesempatan untuk menjadi penguasa di Tanah Perdikan.”

“Aku sudah tidak peduli lagi,” jawab Warsi. “Tetapi aku berharap, jika kita

kelak sempat membangun kembali Jipang, kapan pun waktunya, aku akan tetap membuat perhitungan dengan Sembojan. Tetapi sementara itu, aku atau Iswarilah yang harus mati.”

Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam. Perkembangan keinginan Warsi menuju ke arah yang semakin berbahaya. Dengan susah payah Ki Rangga berusaha untuk mencegahnya,” Warsi. Apakah kau yakin bahwa jika kau menantang perang tanding

itu, kau tidak akan dikhianati? Misalnya tiba-tiba saja kau telah disergap oleh beberapa orang atau bahkan sepasukan pengawal dipimpin oleh orang-orang yang juga berilmu tinggi di Tanah Perdikan ini?”

“Jika demikian, aku akan mati dengan sangat terhormat. Aku akan mati karena orang-orang Sembojan telah berkhianat. Orang-orangku akan menceritakan kepada semua orang Pajang, Jipang dan Demak. Bahwa pewaris ilmu Kalamerta dibunuh dengan curang oleh orang-orang Sembojan. Justru pada saat perang tanding.

“Jadi kau benar-benar akan melakukannya?” bertanya Ki Rangga.

“Aku akan mencari kesempatan,” jawab Warsi yang sudah tidak dapat mengekang diri itu.

Ki Rangga termangu-mangu. Sebenarnya ia mempercayai kemampuan Warsi yang semakin

lama menjadi semakin masak. Di setiap kesempatan, didorong oleh dendam dan kebenciannya, ia selalu menempa diri dan mematangkan ilmunya. Latihan-latihan yang berat dan mendasar.

Ternyata bahwa Warsi memang mempunyai satu keinginan, menyelesaikan persoalannya dengan Iswari melalui cara yang telah dipilihnya. Agaknya Warsi telah memikirkannya beberapa lama meskipun seakan-akan keinginan itu bangkit dengan tiba-tiba.

Ternyata Warsi tidak hanya berangan-angan tentang perang tanding itu. Pada satu hari, ia benar-benar telah memerintahkan seorang kepercayaannya pergi ke Tanah Perdikan Sembojan.

“Bertemulah dengan perempuan yang bernama Iswari itu,” berkata Warsi. “Sampaikan kepadanya, apakah ia bersedia menyelesaikan persoalan di antara kami dengan laku kesatria.”

“Apakah maksud Nyai?” bertanya orang itu.

“AKU tantang perempuan itu untuk berperang tanding. Jika ia benar-benar memiliki sifat kesatria, maka perempuan itu tentu tidak akan menolak. Tetapi jika

perempuan itu tidak lebih dari sekadar mainan, maka ia tentu tidak akan berani turun ke arena perang tanding,” berkata Warsi.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Ia membayangkan betapa ngerinya memasuki lingkungan Tanah Perdikan Sembojan. Mungkin ia diterima sebagai utusan, tetapi mungkin tidak. Mungkin orang-orang Sembojan tidak mengakuinya sebagai utusan yang harus dilindungi.

Karena orang itu tidak segera menjawab maka Warsi pun telah membentaknya, “Apakah kau tuli he?”

Orang itu tergagap. Dengan serta merta ia menjawab, “Aku mendengar Nyai. Jadi, aku harus pergi ke Tanah Perdikan Sembojan.”

“Ya. Kau harus bertemu dengan perempuan yang bernama Iswari. Mendengar?” Nyai Wiradana itu hampir berteriak.

“Ya, ya Nyai. Aku mendengar,” sahut orang itu. “Aku harus mengatakan kepada perempuan itu, bahwa Nyai telah menantangnya untuk berperang tanding.” “Nah, pergilah,” geram Warsi.

Orang itu tidak mendapat kesempatan untuk minta penjelasan. Jika sekali ia bertanya, mungkin beberapa giginya akan rontok karenanya.

Namun ia sudah tahu maksud Warsi itu. Betapapun ia merasa cemas untuk memasuki Tanah Perdikan Sembojan, maka ia harus melakukannya. Jika ia sengaja tidak melakukannya karena ia tidak ingin jatuh ketangan orang-orang Sembojan yang marah, maka ia akan mengalami perlakuan yang lebih parah dari Warsi. Bahkan mungkin Ki Rangga pun akan ikut campur. Karena itu, maka ia tidak berbicara lagi dengan Warsi. Ia pun segera mempersiapkan diri untuk pergi ke Tanah Perdikan Sembojan.

Perjalanan ke Sembojan itu sendiri meskipun harus bermalam di jalan, namun bukan merupakan satu kesulitan bagi orang itu. Tetapi demikian ia mendekati batas

Tanah Perdikan, ia menjadi termangu-mangu. Jika ia tertangkap sebelum menyatakan maksudnya, mungkin akibatnya akan lain. Ia tidak akan pernah mendapat kesempatan untuk bertemu dengan perempuan yang bernama Iswari.

Tetapi ketika ia menelusuri jalan yang ramai memasuki Tanah Perdikan bersama dengan orang-orang yang pergi dan kembali dari pasar, maka rasa-rasanya tidak akan ada orang yang dapat dengan segera mengenalinya.

Ternyata orang itu tidak mau membuang banyak waktu. Yang pertama-tama dilakukan setelah ia berada di Tanah Perdikan Sembojan adalah benar-benar pergi ke pasar.

Ia membeli makan dan minum sepuas-puasnya.

“Jika terjadi sesuatu di Tanah Perdikan ini, maka aku sudah makan dan minum dengan puas,” berkata orang itu di dalam hatinya.

Dari pasar ia pun langsung menuju ke rumah perempuan yang bernama Iswari. Ketika ia sampai di regol maka pengawal yang berjaga-jaga di regol itu pun telah menghentikannya. Apalagi karena orang itu belum pernah dilihatnya.

“Siapa kau?” bertanya seorang pengawal.

Orang itu tidak mau berteka-teki lebih panjang tentang dirinya. Karena itu, maka ia pun telah menjawab dengan terus terang, “Aku adalah utusan Nyai Wiradana.” mohon maaf....terpotong sedikit aja...

GANDAR mengerutkan keningnya ketika ia melihat ketiga orang itu nampak sangat letih. Sementara itu dihadapan mereka dihidangkan minuman hangat dan beberapa potong makanan. Namun Gandar pun segera memaklumi. Mereka bertiga baru saja selesai dengan pewarisan ilmu mereka yang baru. Janget Tinatelon. Ilmu yang di antara mereka bertiga tidak ada yang memilikinya. Tetapi bersama-sama mereka telah menurunkan ilmu yang mereka sebut Janget Tinatelon itu.

“Marilah Gandar,” berkata Nyai Soka sambil tersenyum.

Gandar pun kemudian duduk di antara mereka. Namun ia pun segera bertanya, “Dimana Iswari?”

Nyai Soka menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ia baru saja menyelesaikan laku. Ia letih sekali. Hampir saja ia menjadi pingsan. Namun wadag Iswari, meskipun seorang perempuan, ternyata kuat sekali.” “Apakah ia sekarang sedang tidur?” bertanya Gandar.

Nyai Soka menggeleng. Katanya, “Iswari baru mandi keramas di pakiwan. Kenapa?” Gandar mengangguk-angguk. Katanya, “Ada sesuatu yang penting baginya. Tetapi aku akan menunggu.”

“Apakah yang penting itu?” bertanya Nyai Soka.

“Di gardu disebelah regol, seorang yang mengaku utusan Warsi akan menemuinya untuk menyampaikan suatu pesan,” berkata Gandar.

Nyai Soka, Kiai Soka dan Kiai Badra memang terkejut. Dengan nada rendah Nyai Soka bertanya, “Untuk apa?”

“Aku belum bertanya kepadanya,” jawab Gandar. “Demikian aku mendengar dari pengawal yang bertugas, maka aku telah memperingatkan Bibi. Mungkin orang itu sekadar umpan untuk menarik perhatian.”

Nyai Soka mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Aku sependapat. Lalu bagaimana?” “Apakah Iswari dapat menerimanya?” bertanya Gandar.

Nyai Soka pun kemudian telah bangkit. Katanya, “Aku akan menyusulnya di pakiwan. Ia dalam keadaan lemah. Jika ia mengalami serangan yang tiba-tiba ia tidak akan dapat melawannya.”

Dengan tergesa-gesa Nyai Soka itu telah pergi ke pakiwan. Ia masih mendengar percikan air di pakiwan itu. Namun ia sempat pula memanggil,” Iswari. Kaukah itu?”

“Ya nenek,” jawab Iswari. “Aku belum selesai.”

“Baik. Aku akan menunggumu disini. Ada sesuatu yang penting buatmu,” berkata Nyai Soka.

“Ada apa nek?” bertanya Iswari.

“Selesaikan. Jangan berhenti,” berkata Nyai Soka.

Iswari memang tidak berhenti. Ia menyelesaikan mandi dan keramasnya dengan air abu merang.

Baru kemudian setelah selesai, dan kemudian membersihkan badannya pula, Iswari keluar dari pakiwan.

Namun Iswari memang merasa aneh, bahwa Nyai Soka seakan-akan telah menungguinya

selama ia mandi. Dengan demikian maka Iswari memang menjadi bertanya-tanya, apa yang telah terjadi.

“Kenapa nenek menunggu aku mandi?” bertanya Iswari kemudian. Nyai Soka tersenyum. Katanya, “Tidak apa-apa. Tetapi marilah. Kau segera berpakaian. Ada tamu ingin menemuimu.”

“Tamu?” ulang Iswari.

“Tamu yang sangat khusus. Utusan seorang perempuan yang bernama Warsi,” jawab Nyai Soka.

“Warsi,” Iswari terkejut. “Maksud nenek, Warsi istri muda kakang Wiradana?” Nyai Soka mengangguk sambil menjawab, “Ya. Tentu ada sesuatu yang penting.” “Tetapi rambutku basah,” jawab Iswari.

“Biarkan saja rambutmu terurai. Yang penting, kau menemuinya dan mendengar kata-katanya. Mungkin diperlukan sikap yang khusus menghadapi Warsi itu sekarang,” berkata Nyai Soka.

“Orang itu belum mengatakan apa-apa?” bertanya Iswari.

“Belum. Ia baru mengatakan bahwa ia ingin bertemu dengan Nyai Wiradana, itu pun baru lewat Gandar. Orang itu masih berada di gardu,” jawab Nyai Soka.

Iswari pun kemudian segera pergi ke biliknya untuk berpakaian. Tetapi karena rambutnya basah, maka dibiarkannya rambutnya yang panjang itu terurai.

“Bawa orang itu kemari,” berkata Iswari kemudian kepada Gandar ketika ia sudah duduk di pringgitan bersama orang-orang tua yang mendampinginya.

DEMIKIANLAH maka Gandar telah pergi ke gardu. Sejenak kemudian ia pun telah membawa utusan Warsi itu ke pringgitan untuk bertemu dengan Iswari yang telah menunggunya. Ketika orang itu kemudian telah duduk di antara mereka yang berada di pringgitan itu, maka Iswari pun telah bertanya, “Ki Sanak. Apakah benar kau mengemban tugas dari Nyai Wiradana muda?”

“Ya Nyai,” jawab orang itu. “Aku memang hanya sekadar utusan untuk menyampaikan pesan kepada Nyai.”

“Apa pesannya?” bertanya Iswari.

Utusan itu memang tidak ingin berbelit-belit. Ia pun kemudian menyampaikan langsung pesan Nyai Wiradana, yang menghendaki agar kedua istri Wiradana itu menyelesaikan semua persoalan dengan perang tanding yang adil.

Pesan itu memang mengejutkan. Iswari seperti juga orang-orang tua di Tanah Perdikan itu serta Gandar justru tercenung untuk beberapa saat. Baru kemudian Nyai Wiradana itu berkata, “Jika aku tidak salah pendengaranku, Nyai Wiradana muda menantang aku untuk berperang tanding.”

“Ya Nyai,” jawab utusan itu. “Tetapi aku hanya sekadar menyampaikannya. Bagaimana jawaban Nyai, itu pun akan aku bawa dan aku sampaikan sebagaimana adanya kepada Nyai Wiradana muda.”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun bertanya, “Bagaimana ujud dari perang tanding itu, dimana dan kapan?”

“Semuanya terserah kepada Nyai,” jawab utusan itu. “Pada dasarnya tantangan ini aku terima,” jawab Iswari tanpa berpikir panjang.

“Iswari,” desis Nyai Soka.

Iswari berpaling. Tetapi pada wajahnya nampak sikapnya yang mantap, yang agaknya sulit untuk dapat diubah.

Karena itu, maka Nyai Soka pun berkata, “Iswari. Jika kau memang menerima tantangan itu, maka semuanya harus jelas. Semuanya harus bersikap kesatria. Perang tanding adalah salah satu cara penyelesaian yang menurut aku, tidak harus ditempuh. Namun jika cara itu sudah dipilih, maka persoalannya harus tuntas.” “Nenek benar,” jawab Iswari. “Karena itu, maka aku ingin mengajukan beberapa syarat. Perang tanding itu tidak boleh dicampuri oleh siapapun. Perang tanding itu harus sampai pada satu kenyataan yang pasti, siapakah yang kalah dan siapakah yang menang. Hidup atau mati bagi seorang yang kalah, tergantung pada yang menang.”

Utusan itu mengangguk-angguk. Syarat itu wajar bagi perang tanding. Namun orang itu masih bertanya, “Kapan menurut Nyai, perang tanding itu dilaksanakan?” “Terserah,” jawab Iswari. Lalu, “Kembalilah. Tanyakan kepada Nyai Wiradana yang muda. Kapan ia menghendaki perang tanding itu dan dimana.”

Utusan itu mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun berkata, “Baiklah Nyai. Aku minta diri. Aku akan menyampaikannya kepada Nyai Wiradana. Tidak sampai sepekan aku tentu sudah datang kembali untuk menyampaikan jawaban-jawaban Nyai Wiradana yang muda.”

Tetapi Iswari masih menahannya. Ia masih sempat menghidangkan minuman panas dan beberapa potong makanan kepada orang itu. Meskipun orang itu sudah makan

sepuas-puasnya di kedai, tetapi minuman hangat dan beberapa potong makanan ternyata masuk juga ke dalam perutnya.

Ketika utusan itu kemudian meninggalkan rumah Iswari, ia pun sempat menilai apa yang telah dialaminya. Ternyata dari dalam dasar nuraninya orang itu sempat melihat perbedaan yang sangat jauh antara dua orang istri Wiradana itu. Iswari nampak lebih tenang dan berwibawa. Bahkan orang itu sempat berkata kepada diri sendiri, “Alangkah cantiknya. Kenapa Ki Wiradana masih juga terpikat oleh Nyai Wiradana muda.”

Sikap Iswari benar-benar telah menyentuh perasaannya. Iswari tidak bersikap bermusuhan sama sekali tidak terhadap dirinya. Bahkan Iswari itu sempat menghidangkan minum dan makanan meskipun ia tahu, bahwa dirinya adalah utusan Nyai Wiradana yang muda.

Tetapi ia tidak boleh menyebutnya dihadapan Nyai Wiradana yang muda itu jika ia tidak ingin wajahnya menjadi bengkak.

Demikianlah maka orang itu pun kemudian telah bergegas menuju ke jalan kembali. Ia harus berhati-hati agar tidak seorang pun yang mengikutinya. Mungkin sikap Nyai Wiradana itu hanya sekadar mengelabuhinya, sementara ia lengah, maka seseorang atau lebih petugas sandi Tanah Perdikan itu mengikutinya sampai ke sarang yang dirahasiakan itu.

TETAPI setelah orang itu keluar dari tlatah Tanah Perdikan, maka ia pun menjadi yakin, bahwa tidak ada seorang pun yang mengikutinya. Demikianlah, maka ia pun kemudian mempercepat perjalanannya. Ia ingin segera sampai ke sarangnya dan memberikan jawaban sebagaimana dikatakan oleh Iswari serta beberapa pertanyaan tentang pelaksanaan perang tanding itu.

Namun bagaimana pun juga berjalan secepat dapat dilakukan, namun ia masih juga terhambat oleh malam yang turun. Karena itu, maka orang itu harus mencari tempat yang paling baik untuk bermalam. Tidak ditempat yang sering dikunjungi orang, tetapi juga tidak ditempat yang sering dikunjungi binatang buas.

Dalam sepinya malam, orang yang sendiri itu sempat mengunyah makanan yang dibelinya diperjalanan. Tetapi ketika ia merasa haus, maka ia tidak mempunyai bekal minum.

"Seharusnya aku membawa impes untuk tempat air," berkata orang itu kepada diri sendiri.

Tetapi ia pun kemudian dapat melupakannya karena ia pun segera tertidur oleh perasaan letih yang mulai mencengkam kakinya.

Namun ia tidak membuang banyak waktu. Sebelum matahari terbit ia sudah bangun dan meneruskan perjalanannya.

Ketika ia datang di sarang yang dirahasiakan itu, maka ia masih mendapati Warsi dan Ki Rangga berada di tempat itu. Warsi ternyata tidak sabar menunggu orang itu duduk. Dengan lantang ia bertanya, "Apa jawab perempuan itu? Takut, atau bagaimana?"

Utusan itu pun kemudian menjawab dengan serta merta pula, "Ia menerima tantangan itu Nyai."

"He, apa katamu? Ia menerima tantanganku untuk berperang tanding?" bertanya Nyai Wiradana yang muda itu.

"Ya Nyai. Ia siap berperang tanding," jawab orang itu.

"Siapa yang mengatakannya? Orang lain atau perempuan itu sendiri?" bertanya Warsi.

"Perempuan itu sendiri," jawab utusan itu. "Ia menemui aku dengan rambut terurai. Agaknya ia baru saja mandi keramas, karena rambutnya itu basah." "Persetan dengan rambut terurai," geram Warsi. "Tetapi apa katanya?"

Utusan itu pun kemudian melaporkan semua hasil pembicaraannya dengan Iswari itu. Pada dasarnya tantangan itu diterima. Kemudian Iswari memberikan kesempatan kepada Warsi untuk menentukan tempat dari perang tanding itu.

"Anak iblis," geram Warsi. "Perempuan itu memang bodoh. Kenapa ia berani menerima tantanganku."

"Kebetulan bagimu," sahut Ki Rangga. "Kau akan dapat membunuhnya tanpa campur tangan orang lain. Jika orang-orang Tanah Perdikan itu jujur sebagaimana kita harapkan, maka kematian Iswari hanya dapat ditangisi oleh orang-orang Tanah Perdikan yang bodoh dan masih saja mengaguminya. Jika kau berhasil, maka mungkin pandangan orang-orang Tanah Perdikan itu kepadamu akan berubah."

"Nah, bukankah rencana ini baik bagiku?" desis Warsi. "Jika aku mengikuti pendapatmu, maka kesempatan seperti ini tidak akan aku dapatkan."

"Mudah-mudahan orang-orang Tanah Perdikan bukan orang-orang licik," desis Ki Rangga.

"Baiklah. Kita kesampingkan sikap orang-orang Tanah Perdikan itu. Apapun yang mereka lakukan. Tetapi bagaimana menurut penilaianmu dengan jujur. Apakah aku akan dapat membunuhnya?" bertanya Warsi.

"Jika tidak terjadi keajaiban, maka kau akan dapat melakukannya. Seorang memang pernah melaporkan, bahwa telapak tangan Iswari itu dapat membekas dikulit lawannya justru pada saat perempuan itu mendukung anaknya. Itu memang harus kau perhatikan."

"Seorang yang ilmunya belum matang, maka anak di dalam dukungannya itu tentu akan ikut hangus. Tetapi Iswari mampu menyalurkan ilmunya pada bagian-bagian anggota badannya yang dikehendakinya. Itu satu pertanda bahwa ia memiliki kematangan laku pada pengeterapan ilmu. Tetapi kau tidak perlu gentar. kau juga mempunyai kekuatan puncak yang dapat kau pergunakan. Selama ini kau mempelajarinya pula. Bahkan dengan rantaimu itu, kau akan mempunyai kelebihan. Kau mampu menyalurkan kekuatan cadangan dan ilmumu tidak saja pada anggota badanmu tetapi juga pada senjatamu yang jarang kau pergunakan jika tidak pada saat-saat yang paling puncak itu," berkata Ki Rangga.

Warsi mengangguk-angguk. Ia selalu mengadakan latihan yang keras kepada Ki Rangga. Satu hal yang tidak pernah dapat dilakukannya bersama Ki Wiradana yang ilmunya sama sekali belum mapan. Di samping itu, kemampuan lontaran

senjata-senjata kecil telah dipelajari dengan baik sekali oleh Warsi, sehingga

akan dapat dipergunakan untuk menghancuran lawannya pada saat-saat yang gawat. Karena itu, maka Warsi pun telah membicarakannya dengan Ki Rangga, kapan sebaiknya perang tanding itu dilakukan.

"Ambillah waktu yang terdekat yang menurut pertimbanganmu paling baik," berkata Ki Rangga. "Sehingga perempuan itu tidak sempat sama sekali untuk melakukan sesuatu dengan ilmunya. Jika ia sudah terdesak waktu, maka ilmunya tidak akan lebih dari yang dimilikinya sekarang."

Warsi mengangguk-angguk. Katanya, "Aku sependapat. Aku sekarang sudah siap." "Nah, karena kau sudah menentukan jalan yang paling baik menurut pertimbanganmu, maka biarlah keputusanmu itu segera disampaikan," berkata Ki Rangga.

"Baiklah," berkata Warsi. Lalu katanya kepada utusannya itu, "Pergilah kembali ke Tanah Perdikan Sembojan. Katakan kepada Warsi, bahwa aku menantangnya

berperang tanding pada saat bulan purnama tujuh hari mendatang. Aku akan berada di padang rumput Serpihan, di pinggir Kali Pideksa. Di lepas Tanah Persawahan.

Aku akan ke luar dari Alas Masaran memasuki padang perdu dan kemudian padang rumput Serpihan. Terserah perempuan yang bernama Iswari itu akan datang dari mana. Kami akan melakukan perang tanding di tempat terbuka. Aku akan membawa beberapa saksi. Biarlah perempuan itu juga membawa saksi. Tetapi para saksi

tidak akan terlibat dalam permusuhan. Mereka hanya akan menyaksikan dan kemudian menerima akhir dari perang tanding itu sebagai satu keputusan. Kami akan menyelesaikan persoalan ini dengan tuntas."

"Baiklah Nyai," jawab utusan itu. "Tetapi kapan aku harus berangkat?" "Kapan? Jadi kau masih bertanya?" bentak Nyai Wiradana yang muda itu. Orang itu termangu-mangu. Namun Warsi itu pun telah membentaknya lebih keras, "Pergi sekarang kepada perempuan itu. Jangan kelambatanmu menjadi alasan baginya untuk menggagalkan perang tanding itu."

Jantung orang itu pun hampir saja rontok karenanya. Tetapi ia tidak berani bertanya lagi. Ia pun kemudian beringsut sambil berkata, "Baiklah. Aku berangkat sekarang."

Warsi itu pun kemudian melemparkan beberapa keping uang sambil berkata, "Nih bekalmu diperjalanan. Jika kurang, ambil sendiri di rumah-rumah yang kau lalui."

Orang itu memungut uang yang dilemparkan oleh Warsi sambil berkata, "Ini sudah cukup Nyai. Aku akan mengatakan semua pesan itu. Tiga hari lagi aku akan datang kembali untuk memberikan laporan perjalananku."

"Pergilah," geram Warsi kemudian.

Orang yang baru saja datang itu harus menempuh perjalanan kembali. Bukan perjalanan yang dekat. Tetapi perjalanan yang cukup jauh, karena ia harus bermalam di perjalanan pula.

TETAPI orang itu tidak dapat ingkar. Ia harus pergi karena ia sadar, bahwa Warsi adalah orang yang memiliki watak yang keras dan bahkan kasar. Apalagi jika perempuan itu sedang dibayangi oleh persoalan-persoalan yang baur seperti yang sedang dihadapinya itu. "Aku dapat beristirahat diperjalanan," berkata orang

itu.

Sebenarnyalah beberapa saat kemudian orang itu pun telah berjalan menuju arah yang berlawanan dari beberapa saat lalu. Ia harus kembali ke Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi karena ia tidak berangkat pagi-pagi, maka ia tidak akan

mencapai separo perjalanan pada hari itu. Apalagi karena ia memang merasa sangat letih, maka ia tidak dapat berjalan terlalu cepat. Bahkan ia pada kesempatan pertama telah berhenti disebuah kedai yang dijumpainya diperjalanan.

Ternyata bahwa Warsi cukup banyak memberinya bekal. Uang atau barang-barang berharga bagi Warsi seakan-akan tinggal mengambilnya seberapa dikehendaki.

Karena itu, maka yang diberikan kepada orang itu pun ternyata lebih dari cukup untuk bekal diperjalanan menuju ke Tanah Perdikan Sembojan.

Namun orang itu juga tidak berani terlalu sendat berjalan, karena jika saatnya kembali ia belum juga datang, maka akan mungkin saja ia menjadi sasaran kemarahan Warsi yang nampaknya baru dicengkam oleh perasaan yang buram. Demikianlah, maka segala sesuatunya telah dilaksanakannya dengan baik. Ia telah menghadap sebelumnya, ia sempat mendapat hidangan makan dan minum. Bahkan Iswari

telah memberinya kesempatan untuk bermalam jika dikehendakinya, karena orang itu datang menjelang senja.

Utusan itu memang ragu-ragu. Namun agaknya lebih baik tidur diserambi atau di

gardu sekalipun daripada tidur disemak-semak yang mungkin akan dapat menimbulkan persoalan. Mungkin dengan orang yang kebetulan lewat untuk berburu atau

keperluan lain yang tidak diketahui, atau mungkin binatang yang biasanya diburu itu menemukannya tidur nyenyak karena kelelahan.

Karena itu, maka orang itu pun telah bermalam di rumah Iswari. Ia mendapat tempat di gandok dekat longkangan yang langsung dapat diamati dari serambi samping. Ternyata bahwa dua orang penjaga khusus telah berada diserambi itu bergantian semalam suntuk.

Sementara itu, di ruang tengah malam itu juga Iswari telah berbicara dengan

ketiga orang yang telah memberikan kepadanya seikat ilmu yang dinamakan Janget Tinatelon.

"Iswari," berkata Nyai Soka. "Jika pada dasarnya kau memang telah menerima tantangan itu, maka kau harus bersiap menghadapinya. Purnama yang akan berlangsung enam hari lagi, harus kau hadapi dengan tekad yang bulat. Sementara itu, kau pasrahkan segala sesuatunya kepada Yang Maha Agung. Namun satu hal yang kau genggam di dalam tanganmu, adalah bahwa kau tidak berdiri dipihak yang

salah. Karena itu yakinlah, bahwa Tuhan akan melindungimu."

Iswari mengangguk-angguk kecil. Katanya "Tekadku memang sudah bulat guru." "Baik," berkata Kiai Badra. "Kau masih mempunyai kesempatan untuk menilai kembali kemampuanmu. Untunglah bahwa utusan itu datang untuk pertama kalinya menemuimu, sesaat setelah kau menyelesaikan laku yang paling berat itu. Waktu yang tersedia pun cukup panjang untuk beristirahat dan memulihkan semua kekuatanmu. Bahkan ilmu yang baru saja kau terima itu sudah mulai mapan dan siap kau pergunakan."

"Ya guru," jawab Iswari. "Purnama yang akan datang, aku akan memasuki padang rumput Serpihan di pinggir Kali Pideksa meskipun sedikit berada di luar garis batas Tanah Perdikan, tetapi itu bukan soal. Aku mohon guru bertiga menjadi saksi dalam perang tanding itu, sebagaimana disyaratkan oleh Warsi." "Tentu kami bersedia," berkata Kiai Soka. "Meskipun demikian, aku masih tetap curiga kepada mereka. Aku minta sepasukan kecil tetap bersiaga untuk melakukan satu tugas jika diperlukan. Namun pasukan itu tentu saja tidak akan berada terlalu dekat. Mereka hanya akan mengisyaratkan jika salah seorang di antara

kita mengisyaratkan dengan isyarat yang sudah saling dimengerti." Iswari mengangguk kecil, jawabnya. "Aku sependapat guru."

"NAH," berkata Nyai Soka. "Sejak besok kau harus sudah mempersiapkan diri lahir dan batin. Yang akan kau lakukan tidak hanya sekadar menyangkut dirimu sendiri. Tetapi akan menyangkut seluruh Tanah Perdikan Sembojan dan hari-hari mendatang." "Baik guru. Aku akan melakukan semua pesan itu," jawab Iswari.

"Sekarang beristirahatlah. Kau harus mengatur waktumu sebaik-baiknya." Iswari mengangguk. Namun ia pun kemudian minta diri untuk pergi ke biliknya.

Ketika ia menyusuri ruang dalam, maka Iswari masih sempat menengok bilik Risang yang tidur bersama pemomongnya dan Bibi disebelah menyebelah. Ketika ia menyingkapkan pintu sehingga berderit, maka Bibi pun telah terbangun.

Iswari tersenyum sambil berdesis, "Aku Bibi. Kenapa pintu tidak diselarak?" "Aku tahu Nyai masih duduk di ruang tengah. Biasanya Nyai menengok Risang sebelum pergi ke bilik," jawab Bibi.

Nyai Wiradana itu mengangguk. Senyumnya masih terlukis dibibirnya. Sambil bergeser mendekat ia berkata, "Selaraklah dari dalam. Aku akan tidur."

Nyai Wiradana mencium pipi Risang yang tertidur nyenyak. Kemudian ditinggalkannya bilik itu menuju ke biliknya sendiri.

"Sebenarnyalah lebih baik bagi Risang jika ia tidur seorang diri," berkata Nyai Wiradana kepada diri sendiri. "Ia tidak akan menjadi terlalu manja. Tetapi mengingat keselamatan jiwanya, ia memang memerlukan seorang yang dapat melindunginya di waktu tidur."

Karena itulah, maka Iswari tidak membiarkan Risang itu tidur sendiri meskipun ia sadar, bahwa hal itu akan lebih baik bagi Risang dipandang dari satu sisi.

Tetapi dari sisi yang lain, hal itu akan dapat membahayakannya.

Namun dalam pada itu, meskipun Nyai Wiradana sudah berusaha memejamkan matanya,

namun ia memang tidak dapat tidur nyenyak. Setiap kali ia memang dibayangi oleh wajah Risang. Jika ia gagal keluar dari arena perang tanding, maka Risang tentu akan menjadi yatim piatu. Tetapi kembali Nyai Wiradana menyerahkan segalanya dengan pasrah kepada Yang Maha Pencipta.

Menjelang fajar, maka utusan Nyai Wiradana yang muda itu pun telah bangun. Ia pun segera pergi ke pakiwan. Meskipun tidak semata-mata, para pengawal selalu mengawasinya kemana ia pergi.

Namun agaknya orang itu memang dapat dipercaya. Ia sekadar melakukan tugas yang dibebankan kepadanya untuk membicarakan persoalan perang tanding yang akan terjadi antara Nyai Wiradana yang tua dan Nyai Wiradana yang muda.

Pagi itu, utusan itu pun telah mendapatkan makan pagi yang hangat serta minuman panas dengan gula kelapa. Kemudian beberapa pesan telah diberikan oleh Nyai Wiradana yang tua. Katanya, "Aku akan datang setelah malam turun. Aku akan membawa beberapa orang saksi sebagaimana dikehendaki oleh Nyai Wiradana yang muda itu. Para saksi tidak akan melakukan apa-apa selain menjadi saksi."

"Baiklah Nyai," berkata utusan itu. "Aku mohon diri. Aku harus segera memberitahukan jawaban Nyai kepada Nyai Wiradana muda. Jika aku terlambat menurut perhitungan waktunya, maka aku akan mendapat kesulitan." Demikianlah, sepeninggal utusan Warsi itu, maka Iswari benar-benar telah mempersiapkan diri. Setiap hari ilmu yang telah diterimanya dari guru-gurunya itu pun selalu dicobanya dan diterapkannya dalam latihan-latihan yang cukup berat. Sehingga pada hari keempat dari saat ia mewarisi ilmu itu, maka

rasa-rasanya ilmu itu sudah menyatu di dalam dirinya. Ia sudah mampu mengeterapkan ilmu itu sebagaiman ia menggerakkan tangannya sendiri. Tidak ada lagi kecanggungan dan tidak ada lagi keragu-raguan.

Sehingga dengan demikan, maka ilmu Janget Tinatelon yang merupakan perpaduan antara kemampuan untuk menyerang dan bertahan itu akan merupakan ilmu yang benar-benar akan dapat melindunginya.

Pada malam menjelang purnama penuh, maka Iswari pun telah pergi ke tempat sebagaimana di tunjuk oleh Warsi untuk berperang tanding. Meskipun bulan belum bulat, namun ketika mereka memasuki padang rumput Serpihan dipinggir Kali Pideksa maka suasananya tidak berbeda dengan saat purnama naik.

ISWARI yang kemudian berdiri tegak di padang rumput itu memang berkeliling. Ketika ia menengadahkan wajahnya ke langit, maka dilihatnya bulan yang hampir bulat. Bahkan tidak banyak berbeda dengan saat bulan bulat sepenuhnya.

Sinar bulan yang kekuning-kuningan itu jatuh ke tubuh Iswari yang memang sudah berkulit kuning itu. Namun Iswari yang sikapnya sama sekali tidak menunjukkan sikap seorang perempuan yang lembut. Tetapi sikap Iswari adalah sikap seorang kesatria jantan yang siap untuk berperang tanding.

Ketiga orang gurunya yang menyertainya melihat sinar bulan yang jatuh ketubuh Iswari itu. Seakan-akan sinar bulan yang kekuning-kuningan itu telah menyatu dengan landasan ilmu yang ada di dalam dirinya, sehingga sinar bulan yang ajaib itu bagaikan mampu mematangkan ilmu Janget Tinatelon yang ada di dalam diri Iswari.

Namun dengan demikian Nyai Soka itu pun berkata, ”Kiai, apakah Kiai pernah mendengar ilmu yang mekar pada saat purnama naik?”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud Nyai Soka. Karena itu, maka katanya, ”Aku pernah mendengar Nyai. Tetapi seberapa peningkatan kadar kemampuan seseorang karena pengaruh sinar purnama? Seandainya demikian maka Iswari harus benar-benar siap menghadapi ilmu lawannya dalam tataran yang meningkat karena sinar rembulan itu.”

”Satu ilmu yang dimiliki oleh orang-orang yang menyembah kepada benda langit itu, yang dikiranya dapat memberikan sesuatu kepada mereka. Tetapi menurut perhitungan, kekuatan itu nampaknya memang meningkat jika purnama naik, justru

karena kepercayaannya penuh. Dengan kepercayaan yang penuh itu, maka seakan-akan benda langit itu benar-benar dapat meningkatkan ilmunya yang sebenarnya tidak

lebih karena dorongan dari dalam dirinya sendiri yang dapat menumbuhkan kekuatan yang cukup besar.”

”Aku sependapat Kiai,” berkata Nyai Soka. ”Karena itu, maka Iswari harus mengetahuinya, sehingga ia akan dapat menempatkan diri dihadapan Warsi yang menantangnya justru pada saat purnama naik.”

”Tetapi Iswari tidak perlu menempatkan diri pada pengaruh cahaya bulan itu,” berkata Kiai Badra.

”Tidak. Iswari tidak akan menengadahkan tangannya kepada bulan untuk mendapatkan tambahan kekuatan. Anak itu sudah tahu, bahwa satu-satunya sumber kekuatan bagi kebenaran adalah Tuhan yang Maha Agung. Kepada-Nya ia harus pasrah dan

kepada-Nya ia boleh memohon,” berkata Nyai Soka.

”Jika demikian, maka tidak ada kecemasan sama sekali meskipun Iswari akan bertempur dibawah sinar bulan yang sedang purnama,” berkata Kiai Badra.

Namun tiga orang tua itu tidak mengganggu saat-saat Iswari memusatkan nalar budinya ditengah-tengah ara-ara itu untuk mempersiapkan dirinya. Besok malam ia akan berada ditempat itu untuk berperang tanding.”

Beberapa saat lamanya Iswari berdiri ditempatnya. Dikejauhan mulai terdengar suara binatang buas di hutan Masaran.

Dengan tajamnya Iswari memandang kearah hutan Masaran itu. Dari sana besok perempuan yang bernama Warsi itu akan datang bersama beberapa orang saksi. Iswari menarik nafas dalam-dalam. Padang rumput Serpihan itu memang padang rumput yang cukup lebat. Ada beberapa gerumbul batang-batang perdu yang tumbuh di antara lebatnya rumput dan ilalang.

Beberapa saat kemudian, maka Iswari pun telah puas memandangi padang rumput yang bermandi cahaya bulan ini. Besok bulan akan menjadi semakin terang. Tetapi bulan

itu akan menerangi dua orang perempuan yang akan berada dalam putaran perang tanding yang ganas. Keduanya telah sepakat, bahwa perang tanding itu harus tuntas.

Namun demikian, Nyai Soka, Kiai Badra dan Kiai Soka memang melihat kemungkinan yang tidak dikehendaki jika Warsi ingin curang. Di antara pohon perdu yang

jarang, beberapa orang akan dapat bersembunyi. Bahkan jika seseorang bertiarap di antara rerumputan dan ilalang, maka dari jarak yang agak jauh orang itu tidak akan dapat dilihatnya.

Tetapi Iswari tidak akan membawa pengawal yang akan bersembunyi seperti itu. Sepasukan kecil pengawal dari Tanah Perdikan Sembojan akan dipersiapkan di luar padang rumput itu. Mereka setiap saat akan dapat cepat datang jika memang diperlukan. Tetapi jika Warsi tidak membawa pasukan, maka apapun yang terjadi, pasukan itu akan tetap berada ditempatnya.

MENJELANG tengah malam, maka nampaknya Iswari sudah puas mengamati keadaan di

padang rumput Serpihan itu. Ia pun kemudian memberi isyarat kepada kedua kakek dan neneknya untuk meninggalkan padang rumput itu.

Demikianlah maka mereka pun telah melangkah di antara rerumputan yang lebat dan batang-batang ilalang. Dengan nada rendah Iswari berkata, “Satu tempat yang memang menarik untuk melakukan perang tanding itu.”

“Ya,” jawab Nyai Soka. “Mudah-mudahan tidak terjadi kecurangan.” “Padang ini cukup luas guru,” berkata Iswari.

“Tetapi beberapa batang pohon perdu yang tumbuh di antara batang ilalang yang tinggi itu akan dapat menjadi tempat bersembunyi. Juga seseorang akan terlindung jika ia bertiarap di antara batang ilalang,” berkata Nyai Soka.

“Biarlah kita tidak berprasangka buruk,” berkata Iswari. “Perempuan itu agaknya benar-benar ingin menunjukkan kemampuannya dalam perang tanding.”

Nyai Soka mengangguk-angguk. Namun ia pun kemudian telah mengatakan kepada Iswari tentang kepercayaan bahwa bulan purnama itu akan dapat memberikan kekuatan yang lebih besar pada jenis ilmu tertentu. Namun Nyai Soka pun telah memberitahukan sikapnya serta dua orang kakek Iswari itu tentang cahaya bulan.

Iswari mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih guru. Semuanya itu akan dapat aku jadikan bekal untuk menghadapi lawanku besok. Seandainya ia percaya bahwa sinar bulan itu akan mampu meningkatkan ilmunya, maka aku pun yakin bahwa di

atas kebenaran aku akan dapat mengalahkannya. Semoga Yang Maha Agung melindungi aku.”

Nyai Soka mengangguk-angguk. Sementara itu mereka pun telah ke luar dari padang rumput. Jika disebelah yang lain terdapat hutan yang disebut hutan Masaran maka Iswari bersama guru-gurunya telah memasuki pategalan yang sepi. Apalagi di malam hari.

“Disini kita menempatkan sekelompok kecil pengawal,” berkata Nyai Soka. Iswari mengangguk-angguk. Ia memang sudah mendengar rencana neneknya itu.

Namun

ia pun sudah berpesan, bahwa pasukan itu hanya digerakkan jika lawannya berbuat curang. Jika tidak, apapun yang terjadi, pasukan itu harus tetap berada ditempatnya.

Disisa malam itu Iswari mencoba untuk beristirahat. Ia ingin tidur nyenyak. Meskipun beberapa saat lamanya, perasaannya terasa nyeri juga. Sekilas ia telah mengenangkan apa yang pernah terjadi pada dirinya sejak ia berada di Tanah Perdikan itu. Terkilas diingatannya, bagaimana ia disisihkan oleh Ki Wiradana karena kehadiran perempuan yang bernama Warsi itu. Hampir saja ia telah dibunuh oleh perempuan yang bernama Serigala Betina itu, yang ternyata mempunyai kelembutan hati yang lebih halus dari Ki Wiradana, suaminya. Dan apalagi perempuan yang bernama Warsi itu. Jika saat itu perempuan yang disebut Serigala Betina itu tidak membiarkannya hidup bersama anak di dalam kandungannya, maka Tanah Perdikan Sembojan itu tentu mempunyai cerita yang jauh berlainan dengan yang terjadi saat itu. Dalam pada itu, Iswari masih juga sempat memikirkan Risang disaat ia berperang tanding besok malam. Jika perang tanding itu sekedar merupakan pancingan untuk memisahkan orang-orang yang berilmu tinggi di rumah itu dari Risang, maka ia pun harus berhati-hati.

Dengan demikian maka Iswari memutuskan untuk menyerahkan Risang kepada Bibi. Namun Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung akan tetap berada di rumah. Mereka harus ikut bertanggung jawab seandainya yang datang Ki Randukeling sekalipun.

Bahkan Iswari pun telah memikirkan kemungkinan beberapa orang pengawal yang harus dengan cepat menyampaikan isyarat dengan panah sendaren yang bertunda jika terjadi sesuatu di rumahnya, sementara Warsi tidak hadir di padang rumput Serpihan.

Di samping itu, maka seluruh pasukan pengawal Tanah Perdikan harus dipersiapkan sebaik-baiknya untuk mengatasi jika terjadi sesuatu. Para pengawal terbaik harus berada disekitar rumahnya untuk menjaga segala kemungkinan.

Iswari itu menarik nafas dalam-dalam. Menjelang dini hari, maka ia pun sempat tertidur beberapa lama.

Dihari berikutnya, menjelang malam purnama, Iswari rasa-rasanya tidak mau berpisah dengan Risang. Hampir sehari penuh Iswari telah bermain-main dengan anaknya itu. Meskipun bagi Risang, ibunya tidak mengalami perubahan sikap, namun bagi orang yang telah cukup dewasa akan segera melihat, bahwa memang terjadi kegelisahan di dalam diri Iswari.

mohon maaf....terpotong sebagian...

"TERNYATA kau datang anak manis," terdengar suara seorang perempuan dengan lantang menyambut kedatangannya. Iswari mengerutkan keningnya. Sementara Nyai Soka berdesis, "Kau tidak boleh hanyut dalam arus perasaanmu. Jika kau

kehilangan penalaran, maka kemungkinan membuat kesalahan akan lebih besar." Iswari mengangguk. Ia sadar, bahwa lawannya agaknya sengaja membuatnya marah. Karena itu, maka Iswari tidak segera menjawab. Ia berjalan dengan langkah tegap mendekati orang-orang yang sudah menunggunya itu. Beberapa langkah dari perempuan yang bernama Warsi itu Iswari berhenti. Tiga langkah dibelakangnya, ketiga orang saksi yang dibawanya telah berhenti pula.

"Kau dengar pertanyaanku?" bertanya Warsi.

Iswari mengangguk. Jawabnya, "Aku dengar. Tetapi aku tidak terbiasa berbicara sambil berteriak-teriak. Karena itu, aku menunggu sampai aku mendekat untuk menjawab."

"O, begitu," Warsi mengerutkan keningnya. Namun katanya pula, "Kau cantik sekali dibawah cahaya bulan."

Iswari mengerutkan keningnya. Ia masih tetap sadar, bahwa perempuan itu tentu masih akan mengucapkan kata-kata yang dapat menyinggung perasaannya. Karena itu, ia pun justru menjawab, "Dibawah bulan purnama atau tidak, aku memang cantik." "Gila," geram Warsi. Namun ia pun berusaha untuk menahan dirinya. Seperti Iswari

ia pun sadar, bahwa ia tidak boleh marah dan kehilangan penalaran. "Iswari," berkata Warsi. "Kau memang cantik. Tetapi kenapa pada suatu saat

suamimu menjadi jemu kepadamu dan memilih orang lain? Bahkan suamimu sudah berusaha untuk menyingkirkanmu dengan cara yang paling kasar?"

"Kau benar," jawab Iswari pendek.

"Ya, kenapa? Bukankah suamimu kemudian telah tergila-gila kepadaku?" desak Warsi.

"Ya," jawab Iswari.

"Jika kau sadari itu, maka kau pun harus mengakui bahwa meskipun kau cantik, ada orang lain yang lebih cantik lagi," berkata Warsi. Lalu, "Dan orang yang lebih

cantik itu adalah aku."

"Tidak," jawab Iswari. "Aku tidak mengakui itu." "Kenapa? Kau ingkar pada kenyataan?" bertanya Warsi.

"Kau telah mengguna-gunai suamiku. Dengan ilmu hitam itu kau berhasil membuat suamiku lupa akan dirinya dan lupa kepada apapun juga," jawab Iswari.

"Satu usaha untuk mengurangi cacat diri. Tetapi jika kau jujur, marilah, bertanyalah kepada semua orang yang ada disini sekarang. Juga kepada

saksi-saksimu. Siapakah yang lebih cantik di antara kita berdua," berkata Warsi.

"Aku tidak akan bertanya kepada orang lain. Tetapi kepada suamiku. Ketika suamiku mengalami luka parah karena pengkhianatanmu, maka ia masih sempat mengatakannya, bahwa ternyata aku lebih cantik dari orang yang bernama Warsi.

Perempuan yang bernama Warsi itu hanya cantik jika ia berada di bawah lampu yang remang-remang yang terdapat pada pikulan gamelan selagi ia menjadi penari jalanan. Namun ia telah memaksa suamiku itu untuk menyebutnya cantik karena Warsi mempergunakan kekerasan. Diakui oleh suamiku bahwa Warsi memiliki kemampuan ilmu yang lebih tinggi. Memang lebih tinggi dari suamiku. Tetapi tidak lebih tinggi dari ilmuku," sahut Iswari.

"Cukup," Warsi berteriak memotong kata-kata Iswari. Sementara Iswari tersenyum sambil berkata, "Kenapa kau berteriak-teriak."

"Disini akan terjadi perang tanding. Kita akan mengadu ilmu. Bukan mengadu kepintaran berbicara," bentak Warsi.

"Aku sudah siap. Aku memang datang untuk berperang tanding. Bukan untuk memamerkan kecantikan. Bukankah kau sendiri yang telah memuji kecantikanku. Meskipun aku sadar, bahwa aku cantik, tetapi aku tidak mengira bahwa kau juga akan memujinya," berkata Iswari sambil tersenyum.

"Tutup mulutmu," sekali lagi Warsi berteriak.