-->

Suramnya Bayang-Bayang Jilid 43

Jilid 43

Karena itulah maka pengawasan terhadap Risang menjadi semakin ketat. Namun agar Risang tidak menjadi seorang yang terlepas dari lingkungannya, maka Iswari memberikan kesempatan kepada anaknya untuk bermain-main dengan anak-anak sebayanya. Namun dalam keadaan yang demikian, pengamanan atas anak itu dilakukan dengan bersungguh-sungguh. Bukan saja Bibi lebih banyak mempergunakan waktunya untuk berada di dekat Risang. Tetapi juga Gandar, Nyai Soka dan Iswari sendiri.

Untuk menjaga banyak kemungkinan, maka Iswari justru membiarkan anak-anak tetangga-tetangganya bermain di halaman rumahnya yang luas daripada melepaskan Risang keluar dari halaman dan bermain di jalan atau ditempat-tempat lain.

Meskipun demikian agar Risang tidak menjadi seorang yang berpandangan sempit kelak, maka sekali-kali Risang masih juga dibawanya keluar. Namun jika demikian, maka beberapa orang terpercaya mengikutinya pula.

Sekali-kali Risang memang diajak juga pergi ke sungai. Pergi ke sawah dan pategalan. Pergi ke bendungan dan tempat-tempat lain yang perlu dikenalinya. Tetapi dengan satu keyakinan, bahwa keselamatannya akan tetap dilindungi. Bahkan Risang lebih banyak pergi bersama ibunya sendiri bersama Gandar dan Bibi.

Sementara itu para pengawal di padukuhan-padukuhan masih saja berada dalam kesiagaan tertinggi setelah terjadi usaha pembunuhan terhadap keluarga Damar.

Di pihak lain, Ki Rangga dan Warsi ternyata telah mendapat laporan tentang kegagalan Rumpak dan kawan-kawannya. Ternyata Rumpak tidak berhasil membunuh salah seorang keluarga Damar. Bahkan Rumpak dan beberapa orang kawannya tertangkap hidup-hidup, sementara yang lain tertangkap mati.

“Gila,” geram Ki Rangga. “Ternyata mereka adalah tikus-tikus yang dungu. Mereka tidak mampu berbuat apa-apa. Membunuh kecoak pun tidak dapat mereka lakukan. Bahkan mereka telah dihancurkan oleh orang-orang Tanah Perdikan Sembojan.” Warsi pun mengumpat tidak habis-habisnya. Dengan nada tinggi ia berkata, “Jika demikian, dengan cara apa lagi kita harus membunuh anak itu?”

“Kita tidak boleh putus asa. Kita akan membunuhnya. Jika kita tidak melakukannya, lalu apa artinya anakmu itu? Ia tidak akan berguna sama sekali bagi kita,” sahut Ki Rangga.

“Anak itu memang membawa nasib buruk,” geram Warsi. “Tetapi aku masih akan tetap memeliharanya sampai saatnya kita dapat membunuh Risang. Anak itu akan memasuki Tanah Perdikan dengan haknya sebagai anak Wiradana.

Ki Rangga tidak menjawab. Bahkan kebenciannya terhadap anak Wiradana itu menjadi semakin menyala di dalam hatinya. Anak itu seakan-akan hanya merupakan beban

saja dan bahkan membuatnya selalu teringat kepada ayah anak itu yang sudah terbunuh.

Tetapi untuk sementara ia masih menyabarkan dirinya. Mungkin masih ada

kesempatan. Namun jika memang tidak ada lagi kemungkinan untuk membunuh Risang, maka Puguh itu pun tidak akan berarti apa-apa lagi.

Karena itulah, maka perlakuan terhadap Puguh itu tidak menjadi bertambah baik. Anak itu setiap hari dibebani dengan tuntutan-tuntutan yang sangat berat. Ibunya dan Ki Rangga menyebutnya sebagai satu usaha untuk menempa anak itu.

mohon maaf....terpotong sedikit aja...

“JIKA demikian, apakah tidak sebaiknya diambil tindakan juga atas sarang-sarang kekuatan pasukan Ki Rangga itu? Mudah-mudahan dengan demikian gangguan atas tegaknya Pajang akan dapat dikurangi sejauh-jauhnya,” berkata Iswari kemudian. “Tetapi kita tidak akan menemukan sasaran,” berkata perwira Pajang itu. “Aku yakin, bahwa setelah orang-orangnya tertangkap Ki Rangga akan menarik

orang-orangnya dari sarang yang mungkin akan disebut oleh orang-orangnya yang tertangkap itu.”

Iswari mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Tetapi ada beberapa buah sarang yang dikenalinya. Mungkin satu dua di antara sarang-sarang itu akan dikosongkan. Tetapi tidak semuanya sebagaimana dikatakan oleh orang yang tertangkap itu.” Perwira Pajang itu menggeleng, katanya, “Apa yang dikenal oleh seseorang tentu bukan segala-galanya. Tentu ada sarang-sarang lain yang tidak diketahuinya.” “Jika kita mendengar langsung keterangannya, maka kita dapat menangkap isyarat tentang sarang-sarang yang bertebaran. Memang tidak semuanya dikenal, tetapi

Rumpak sebagai seorang yang telah mendapat kepercayaan maka yang diketahuinya bukan sekadar lingkungan yang sempit. Apalagi ada beberapa sumber keterangan yang ada di Tanah Perdikan ini. Selain orang-orang yang tertangkap, maka Damar dan Saruju sendiri akan dapat menjadi sumber keterangan itu.”

Perwira Pajang itu mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah. Aku akan membicarakannya dengan Senapati. Jika Senapati setuju, maka kita akan dapat berangkat. Sepasukan yang disiapkan oleh Pajang dan sekelompok yang lain akan disiapkan oleh Tanah Perdikan Sembojan, meskipun bukan berarti bahwa Sembojan harus dikosongkan.”

Demikianlah, maka Tanah Perdikan Sembojan telah menyiapkan pasukan yang kuat untuk bersama-sama pasukan Pajang menelusuri daerah yang asing untuk mencari sumber kejahatan yang kadang-kadang terasa sangat mengganggu Pajang yang baru tumbuh.

Untuk itu maka Iswari telah memerintahkan Damar dan Saruju untuk ikut.

Namun dalam pada itu, para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan serta para perwira Pajang menganjurkan agar Iswari sendiri tidak usah ikut serta.

“Kenapa?” bertanya Iswari.

“Tanah Perdikan ini sedang mulai berkembang,” jawab seorang perwira Pajang. Namun Kiai Badra mempunyai pertimbangan lain. Katanya, “Kau harus mengamati Risang. Siapa tahu, justru dalam saat-saat pemburuan itu, mereka telah mengirimkan sekelompok orang yang memiliki kemampuan melampaui orang-orang mereka terdahulu untuk membunuh atau mengambil Risang.”

Iswari termangu-mangu. Namun ketika Kiai Badra menyebut Risang, maka jantungnya memang berdegup lebih keras.

Dengan kepala tunduk maka Iswari pun kemudian berkata, “Baiklah. Aku akan tinggal di Tanah Perdikan ini.”

Dalam pada itu, dalam pasukan Tanah Perdikan yang kuat meskipun tidak terlalu banyak jumlahnya terdapat Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung. Gandar sendirilah yang akan memegang pimpinan pasukan Tanah Perdikan Sembojan.

Ketika semua persiapan telah selesai, maka seperti yang diperintahkan oleh para perwira dari Pajang mereka harus mulai bergerak. Mereka diperkenankan membawa tunggul yang pernah diberikan oleh Pajang kepada Tanah Perdikan itu pada saat mereka mendapat wewenang untuk memegang pimpinan di Tanah Perdikan dan melawan

pasukan Warsi dan Ki Rangga Gupita.

“Dengan tunggul itu, maka kalian memang bergerak atas nama Pajang,” berkata seorang perwira Pajang. “Daerah yang akan kalian lewati tidak akan merasa tersinggung, karena kalian tidak bergerak atas nama Tanah Perdikan Sembojan, tetapi atas nama pemerintahan Pajang.”

Sebanyak lima kelompok Pasukan Tanah Perdikan telah berangkat. Setiap kelompok terdiri dari duapuluh orang. Sehingga semua kekuatan Tanah Perdikan yang akan ikut dalam usaha penumpasan gerombolan Ki Rangga dan Warsi yang terdiri dari bekas prajurit Jipang dan orang-orang yang pernah menjadi pengikut Kalamerta, semua berjumlah seratus orang ditambah dengan tiga orang pemimpinnya.

mohon maaf....terpotong sedikit aja...

“AKU kira jumlah anak-anak muda dan laki-laki dalam batas usia tertentu dibanding dengan jumlah penduduk tidak jauh berbeda dengan Kademangan ini,” jawab Gandar.

Ki Demang mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin demikian. Tetapi di Kademangan ini tidak ada orang yang mampu menghimpun mereka untuk menjadi satu kekuatan yang besar. Kami memang mempunyai

sekelompok anak-anak muda yang kami sebut pengawal Kademangan. Bahkan disetiap padukuhan terdapat para pengawal. Namun tidak terlalu banyak dapat diharapkan dari mereka. Aku pun tidak ingin mengorbankan mereka dalam benturan kekerasan dengan gerombolan yang kuat, garang dan kasar itu. Para pengawal tidak akan

dapat berbuat apa-apa,” Ki Demang itu berhenti sejenak, lalu. “Tetapi jika aku boleh tahu, apakah anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan ini sudah mendapat gambaran tentang kemampuan gerombolan itu, sehingga jika mereka benar-benar telah berbenturan, mereka tidak akan terkejut atau bahkan menjadi kebingungan?” “Kami pernah ikut bersama pasukan Pajang bertempur melawan mereka,” jawab

Gandar. “Kami pernah berada di medan perang disebelah Timur Pajang menghadapi pasukan Jipang dan kami pun telah berhasil mengusir pasukan dari bekas para prajurit Jipang yang berada di Tanah Perdikan kami.” “Bukan main,” desis Ki Demang. “Suatu pengalaman yang sangat berharga. Tetapi bagaimanakah Tanah Perdikan Sembojan mamu membentuk suatu pasukan yang kuat. Bukan saja jumlahnya yang besar, tetapi kemampuan yang tinggi.”

“Kami telah menempa anak-anak muda kami. Tidak hanya dalam waktu satu dua hari,” jawab Gandar tanpa menceritakan apa yang pernah terjadi seluruhnya. Gandar juga tidak menceritakan bahwa termasuk orang-orang Jipang yang mula-mula telah menempa anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan.

Namun dalam pada itu Ki Demang Kedung Waringin pun berkata, “Kami ingin melakukan sebagaimana pernah Ki Sanak lakukan di Tanah Perdikan Sembojan, sehingga setidak-tidaknya kami akan dapat melindungi diri kami dari perampokan yang ganas yang sering terjadi Kademangan ini.”

“Ki Demang. Pada waktu yang dekat, akan datang pasukan dari Pajang yang akan bersama-sama dengan kami menuju ke sarang para perampok itu. Kalian dapat mengutarakannya kepada para perwira dari Pajang. Mereka tentu menaruh perhatian dan bersedia membantu kalian, karena kekuatan yang terbangun dari

Kademangan-kademangan pada dasarnya adalah kekuatan Pajang pula,” berkata Gandar.

Ki Demang mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia berkata, “Aku akan mencobanya. Tetapi sudah barang tentu aku harus membangkitkan minat anak-anak muda di Kademangan ini untuk melakukannya.”

“Keadaan yang sulit, peristiwa perampokan yang sering terjadi dan keadaan yang tidak menentu, akan mendorong anak-anak muda itu untuk membentuk dirinya. Terdorong oleh tanggung jawab yang tinggi, maka mereka tentu akan berbuat sesuatu,” berkata Gandar.

Ki Demang Kedung Waringin mengangguk-angguk. Kehadiran anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan itu akan dapat dijadikan contoh betapa anak-anak muda akan mampu berbuat lebih banyak bagi kampung halamannya.

Karena itulah, maka Ki Demang telah memanggil beberapa orang anak muda yang paling berpengaruh di Kademangannya dan pemimpin pengawal yang kemampuannya kurang memadai, mereka diminta oleh Ki Demang untuk berkenalan dan berbicara tentang banyak hal dengan anak-anak Tanah Perdikan Sembojan itu.

Dalam pada itu, ternyata pasukan Tanah Perdikan Sembojan berada di Kedung Waringin untuk waktu yang cukup lama. Mereka telah sempat bermalam pula semalam. Namun ternyata yang semalam itu telah dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Ki Demang untuk menggugah anak-anak muda Kademangan Kedung Waringin yang seolah-olah sedang terkantuk-kantuk itu.

Di malam itu Gandar sempat menunjukkan kemampuan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang tidak ubahnya kemampuan seorang prajurit. Mereka telah melakukan permainan dengan senjata untuk menunjukkan ketangkasan mereka memegang pedang dan tombak. Bahkan anak-anak muda Sembojan itu atas permintaan Ki Demang juga telah menunjukkan kemampuan mereka berkelahi dengan tangan tanpa senjata.

“LUAR biasa,” desis Ki Demang. “Aku juga ingin membentuk sekelompok pengawal yang memiliki kemampuan seperti itu.” Ketika di hari berikutnya pasukan Pajang datang pula di Kademangan Kedung Waringin, maka yang pertama-tama dinyatakan oleh Ki Demang setelah mengucapkan selamat datang adalah niat untuk menyusun pasukan pengawal yang benar-benar mampu menjaga keselamatan Kademangannya. “Bagus sekali,” sahut Senapati Pajang yang memimpin pasukan Pajang yang kuat, “Kami ingin memenuhinya setelah tugas ini selesai.”

Demikianlah, pasukan Pajang itu pun telah bermalam pula semalam sehingga pasukan Tanah Perdikan Sembojan sempat pula beristirahat lebih lama dan berhubungan

lebih banyak lagi dengan anak-anak muda Kademangan Kedung Waringin. Namun dihari berikutnya, maka seluruh pasukan telah bersiap untuk melanjutkan perjalanan mereka yang masih panjang. Sebuah iring-iringan pasukan yang kuat. Pajang memang tidak ingin bekerja setengah-setengah.

Meskipun demikian, mereka telah memperhitungkan pula kemungkinan bahwa mereka akan menjumpai sarang yang telah dikosongkan.

Dalam pasukan itu, Damar dan Saruju menjadi bagian dari mereka yang menunjukkan jalan disamping orang-orang yang telah tertangkap bersama Rumpak. Namun seperti dugaan beberapa orang, Damar dan Saruju pun menduga, bahwa sarang-sarang itu telah dikosongkan demikian Rumpak dan kawan-kawannya tertangkap.

Meskipun demikian, pasukan itu harus melihat langsung sarang-sarang yang pernah disebut oleh Damar, Saruju, Rumpak dan yang telah tertangkap lainnya.

Karena itu, maka iring-iringan itu telah menyelusuri untuk beberapa lama Kali Kedawung. Namun kemudian iring-iringan itu mengambil jalan kekiri. Melewati bagian hutan yang lebat yang agak sulit ditembus, kemudian memasuki daerah yang berawa-rawa.

Jalan yang ditempuh oleh pasukan itu memang sulit. Mereka menuju ke kaki Gunung Kukusan. Untuk beberapa lama iring-iringan itu berjalan dilereng-lereng perbukitan dan kemudian menuruni lembah-lembah yang masih pepat oleh pepohonan.

Jarak yang mereka tempuh memang belum terlalu jauh. Tetapi mereka telah menghabiskan waktu hampir sehari. Mereka hanya beristirahat beberapa saat ketika matahari tepat berada di atas ubun-ubun. Mereka sempat makan dan minum bekal yang mereka bawa. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan mereka yang berat.

Namun Senapati yang memimpin pasukan itu tidak memaksakan pasukannya untuk memeras tenaga dihari pertama. Meskipun matahari masih agak tinggi, namun Senapati pasukan itu udah memberikan isyarat, bahwa mereka akan mencari tempat untuk bermalam.

Beberapa orang telah memencar. Ternyata dua orang di antara mereka telah menemukan tempat yang sangat baik untuk bermalam. Mereka menemukan sebuah dataran yang terdiri dari hamparan batu padas. Satu dua batang pohon yang kurus tumbuh mencuat dari sela-sela batu padas itu.

Senapati Pajang itu pun telah membawa pasukannya ke hamparan batu padas itu. Ternyata beberapa orang sependapat, bahwa tempat itu adalah yang paling baik untuk bermalam. Apalagi disebelahnya terdapat air terjun yang meskipun hanya kecil, namun dapat mereka pergunakan sebaik-baiknya. Bahkan untuk minum sekalipun.

Beberapa puluh langkah dari hamparan batu padas itu terdapat hutan perdu yang luas. Namun karena letaknya dilereng bukit, maka padang itu terdiri dari

tebing-tebing yang curam, celah-celah lembah yang miring dan bahkan jurang-jurang yang dalam.

Senapati itu pun kemudian memerintahkan pasukannya untuk beristirahat meskipun matahari masih nampak dan panasnya masih terasa menyengat tengkuk. Namun para prajurit itu memang telah merasa letih menempuh perjalanan yang berat itu.

“Setelah kita melewati puntuk itu, maka akan terdapat jalan setapak. Namun lebih baik dari jalan yang telah kita lewati. Kita akan menuju ke daerah disela-sela Gunung Kemukus itu dengan Gunung Lawu,” berkata Damar kepada Gandar. “Mereka memilih tempat yang sulit,” desis Gandar.

“Mereka harus tetap berada ditempat yang tersembunyi,” jawab Damar. “Hanya jika mereka memerlukan sesuatu, maka sekelompok orang akan turun. Juga jika mereka menganggap perlu untuk mendapat sesuatu yang menurut istilah mereka dana bagi perjuangan untuk menegakkan Jipang kembali. Mereka melintasi jalan yang sulit untuk kemudian memasuki padukuhan-padukuhan yang mereka anggap menyimpan barang-barang berharga, atau uang. Perolehan mereka itu kemudian mereka bawa ke sarang mereka kembali untuk disimpan sehingga saatnya Ki Rangga dan Warsi mengambilnya untuk dikumpulkan.”

“Tempat untuk mengumpulkan hasil rampasan itulah yang belum pernah kalian sebut. Juga Rumpak tidak menyebut,” berkata Gandar.

Tetapi Saruju yang menggeleng berkata, “Tidak seorang pun di antara kami yang mengetahuinya. Penyimpanan itu dilakukan oleh Ki Rangga dan Warsi. Mungkin dua tiga orang kepercayaan mereka sajalah yang tahu dimana harta benda itu

disimpan.”

Gandar mengangguk-angguk. Ia percaya akan keterangan itu. Ki Rangga dan Warsi tentu tidak akan mempercayai orang-orangnya sepenuhnya.

Malam itu, pasukan Pajang dan Tanah Perdikan Sembojan telah bermalam di tempat terbuka dengan satu dua batang pohon yang tumbuh dicelah-celah batu padas.

Meskipun batu padas itu dibeberapa bagian berlumut dan terasa basah, tetapi dibeberapa bagian hamparan itu cukup baik bagi para prajurit untuk bermalam. Mereka telah mulai membuat perapian ketika matahari tenggelam. Beberapa perapian menerangi tempat itu. Bukan saja menerangi, tetapi juga menghangatkan tempat yang udaranya terasa sangat dingin sampai menggigit tulang.

Sementara itu, beberapa orang mendapat tugas untuk berjaga-jaga. Mereka bergantian berjalan hilir mudik di antara pasukan yang sedang beristirahat itu. Namun menjelang dini hari, sekelompok yang lain telah terbangun pula. Mereka sibuk menyiapkan makan dan minuman bagi kawan-kawan mereka, meskipun hanya sekadarnya sesuai dengan kemungkinan yang dapat mereka berikan ditempat yang khusus itu.

Menjelang matahari terbit, bergantian mereka telah pergi ke parit dibawah air terjun yang tidak terlalu besar. Namun ternyata disebelah lain mereka juga menemukan mata air yang dapat pula mereka pergunakan untuk mandi.

Ketika matahari mulai naik, maka pasukan itu telah selesai. Mereka telah mulai makan dan minum. Kemudian mereka tinggal menunggu perintah Senapatinya untuk berangkat.

Sementara itu, ternyata Senapati itu masih memberikan beberapa pesan. Pada bagian terakhir ia berkata, “Kita jangan sampai kehabisan tenaga dalam perjalanan. Karena itu, kita berjalan sesuai dengan tenaga yang dapat kita berikan untuk sehari. Namun nampaknya kita akan segera sampai ketempat tujuan, Mungkin besok.”

Senapati itu memang telah berbicara dengan Damar dan Saruju. Juga orang yang mereka bawa sebagai penunjuk jalan, di antara mereka yang tertangkap bersama Rumpak.

Jalan yang kemudian mereka tempuh memang masih saja sulit. Sesuai dengan perintah Senapati, maka mereka tidak memaksa diri untuk mencapai jarak tertentu. Tetapi mereka lebih banyak memperhatikan keadaan diri mereka. Jika mereka kemudian menjadi sangat letih dan kemudian mereka menjumpai lawan yang kuat, maka keadaan mereka akan menjadi gawat.

Namun seperti yang dikatakan Damar, maka setelah mereka melampaui sebuah bukit, maka mereka turun ke jalan setapak. Jalan itu memang tidak terlalu baik, tetapi agaknya jalan itu sering dilalui orang-orang padukuhan untuk melintas dan

mencari kayu ke hutan.

Namun Senapati dari pasukan itu menjadi heran, bahwa mereka melihat dari tempat yang tinggi, sebuah padukuhan kecil di lereng agak ke bawah.

“Bagaimana mungkin ada padukuhan ditempat itu?” bertanya Senapati itu. Sarujulah yang kemudian memberikan keterangan, “Padukuhan itu mempunyai jalur hubungan melalui jalan Utara.”

Senapati itu mengangguk-angguk. Tetapi ia bertanya pula, “Tetapi apakah ada jalur jalan yang cukup baik?”

Saruju menggeleng. Katanya, “Tidak. Hanya ada jalan setapak seperti jalan yang kita lalui sekarang.”

“Apakah yang menjadi makanan pokok mereka yang tinggal di padukuhan itu?” bertanya Senapati.

“MEREKA mempunyai pategalan yang cukup luas. Bahkan dibawah padukuhan itu terdapat sawah bertingkat. Air bukan masalah yang sulit, sebagaimana kita lihat disini. Mereka menanam ketela pohon di pategalan dan menanam padi disawah,” jawab Saruju.

Tentang kebutuhan lain? Garam misalnya?” bertanya Senapati itu pula.

“Mereka harus turun lewat jalur Utara menuju ke sebuah padukuhan yang cukup jauh. Ada sebuah pasar kecil di padukuhan itu. Jika mereka mulai turun menjelang matahari terbit, menjelang senja mereka baru kembali dengan membawa garam dan kadang-kadang kebutuhan yang lain.” Senapati itu mengangguk-angguk. Tetapi ia masih juga bertanya, “Apakah padukuhan itu tidak sering diganggu oleh para pengikut Ki Rangga?”

“Padukuhan itu miskin. Tidak ada apapun yang berarti yang dapat diambil. Namun kadang-kadang di antara orang-orang Ki Rangga dan Warsi ada juga yang sering singgah di padukuhan itu sekadar memerlukan makan. Nasi atau ketela pohon,” jawab Saruju.

“Tetapi darimana orang-orang itu mendapat uang untuk membeli garam, pakaian atau keperluan-keperluan lain?” bertanya Senapati itu pula.

“Mereka menanam pohon kelapa. Tetapi mereka juga beternak ayam dan kambing. Sekali-kali orang-orang Ki Rangga memang mengambil kambing dari padukuhan itu. Tetapi jarang sekali. Bahkan kadang-kadang kambing itu dibelinya, meskipun uangnya juga sekadar hasil rampasan,” jawab Saruju.

Senapati itu mengangguk-angguk. Ia kemudian mendapat gambaran jalan yang harus mereka tempuh.

“Sarang yang satu dengan yang lain tidak terlalu dekat jaraknya,” berkata Saruju kemudian.

“Tetapi dimana Ki Rangga dan Warsi sering tinggal?” bertanya Senapati itu.

“Kami tidak mengetahuinya. Bahkan hampir setiap orang dari sarang yang berbeda jika saling bertemu, tidak seorang pun yang dapat mengatakan, sebagian besar waktunya Ki Rangga dan Warsi itu berada dimana. Sekali-kali mereka berada di salah satu sarang. Tetapi tidak lebih dari dua malam, Ki Rangga dan Warsi tentu sudah berpindah tempat. Bahkan kadang-kadang ia tidak berada di manapun untuk waktu yang agak lama,” jawab Saruju.

Senapati itu mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun bertanya, “Apakah kita akan melewati padukuhan kecil itu?”

“Sebaiknya tidak,” jawab Saruju. “Jika ada orang-orang Ki Rangga yang kebetulan berada di tempat itu, maka mereka akan dapat memberikan isyarat kepada kawan-kawannya untuk menghindar.”

Senapati itu mengangguk-angguk, sementara Saruju berkata selanjutnya, “Padukuhan itu bukan satu-satunya. Disebelah nanti kita akan menjumpai lagi padukuhan serupa.”

Senapati itu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lagi.

Demikianlah iring-iringan itu telah menyusuri jalan setapak dilereng pegunungan. Sekali-kali mereka hilang ditelan rimbunnya dedaunan. Namun kemudian mereka berjalan melalui wajah batu padas yang keras dan kadang-kadang berujung runcing.

Ternyata bahwa di daerah itu air cukup melimpah. Dilereng-lereng air menitik seperti diteritis rumah. Kemudian mengalir lewat relung-relung batu padas dan akhirnya menjadi parit-parit kecil.

Agaknya air itu tetap menitik disegala musim. Meskipun kemarau mengeringkan ngarai namun agaknya air didinding perbukitan itu tetap menitik. Ketika mereka harus beristirahat di siang hari maka Senapati itu telah memanggil beberapa orang pemimpin kelompok di dalam pasukannya. Ia pun telah memanggil Gandar, Damar dan Saruju.

Sambil menunggu matahari turun ke arah Barat setelah melewati puncak, maka mereka telah membicarakan rencana perjalanan mereka.

“Aku memilih sasaran yang belum pernah dihuni oleh Damar, Saruju atau Rumpak dan orang-orangnya. Mungkin kau pernah melihat satu di antara sarang-sarang itu.

Jika mungkin yang cukup besar dan berarti,” berkata Senapati itu.

Gandar dan para perwira Pajang sependapat. Namun sasaran itu harus mereka tentukan. Apa-kah ada di antara mereka yang dapat menunjukkan sasaran itu, terutama Damar dan Saruju.

UNTUK beberapa saat Damar dan Saruju merenung. Namun tiba-tiba dipanggilnya seorang di antara orang-orang yang tertawan bersama Rumpak yang dibawa serta dalam iring-iringan itu. “Nah,” berkata Damar. “Bukankah kau pernah mendatangi sarang-sarang yang lain kecuali sarangmu sendiri? Kau pernah mendapat tugas untuk membawa barang-barang rampasan. Nah, agaknya kau akan dapat menunjukkannya.” “Aku tidak pernah,” jawab orang itu. “Bukan aku yang harus membawa barang-barang rampasan.”

“Jangan berbohong. Di Tanah Perdikan Sembojan kau sudah bersikap baik. Kau telah bersedia mengadakan kerja sama dengan kami. Tetapi kini tiba-tiba kau ingkar

dari kesediaanmu itu,” berkata Damar.

“Kau Damar,” sahut orang itu. “Aku memang sudah bersedia, untuk bekerja sama karena aku tidak mempunyai pilihan lain. Tetapi aku tidak pernah mendapat tugas membawa barang-barang itu. Meskipun demikian, barangkali aku dapat menyebutnya satu di antara sarang yang lain kecuali tempat tinggalku, hanya sekadar dari

sebuah percakapan dengan seorang kawan yang bertugas di tempat lain, namun yang bersama-sama mendapat perintah untuk turun dan mengambil kekayaan seseorang.” Damar mengangguk-angguk. Katanya, “Nah, sebutkan. Kita sudah sampai disini. Pada umumnya sarang itu dapat ditempuh lewat jalan ini, meskipun ada satu dua yang menurut pendengaranku berada di arah lain.”

Orang itu pun kemudian menyebut satu di antara sarang para pengikut Ki Rangga yang pernah diketahuinya. Meskipun ia sendiri belum pernah datang ketempat itu, tetapi ancar-ancar itu terasa agak jelas. Justru lebih dekat dari yang lain. “Baiklah,” berkata Senapati itu. “Kita akan mencoba mendatangi sarang itu. Kita harus mengepungnya dan tidak memberi kesempatan seorang pun lolos, agar kedatangan kita tidak segera tersebar di antara mereka.”

Tetapi Senapati itu tidak akan mengepung tempat itu segera. Mereka menunggu matahari turun. Kemudian mereka akan melanjutkan perjalanan mendekati sarang itu. Mereka akan bermalam disekitar sarang itu dan sekaligus mengamatinya. Jika orang-orang Ki Rangga itu menyadari, maka kepungan justru akan dirapatkan.

Senapati itu akan menunda pertempuran sampai hari berikutnya setelah matahari terbit. Tetapi jika malam itu orang-orang di sarang itu memaksakan pertempuran, maka apaboleh buat.

Tetapi Damar kemudian berkata, “Senapati. Orang-orang disarang itu lebih memahami medan daripada kita. Pengalaman mereka sebagai prajurit Jipang dan kehidupan yang keras selama ini, membuat mereka menjadi keras dan bahkan kasar dan liar. Karena itu aku minta dipertimbangkan, jika harus terjadi pertempuran

di malam hari di medan yang sangat berat ini.”

“Tetapi prajurit-prajurit Pajang juga prajurit yang terlatih. Tidak lebih buruk dari prajurit Jipang,” jawab Senapati itu, “Kami telah ditempa untuk bertempur siang atau malam.”

“Tetapi satu kelebihan dari bekas prajurit-prajurit Jipang itu,” berkata Damar. “Apa?” desak Senapati itu.

“Seperti yang sudah aku katakan. Mereka lebih mengenal daerah ini. Padahal seperti yang kita lihat, daerah ini adalah daerah yang sulit. Jika kita harus bertempur di malam hari, maka kita akan banyak mengalami kesulitan karena lereng-lereng terjal dan batu-batu padas yang licin. Celah-celah berbatuan yang menganga dan seperti kita lihat, alam tidak terlalu ramah disini,” sahut Damar. mohon maaf....terpotong sedikit aja...

TERNYATA Senapati itu memahami keterangan Damar. Karena itu, maka katanya kemudian, “Baiklah. Aku mendengarkan petunjukmu. Tetapi lalu apa yang sebaiknya kita lakukan sekarang?” “Jangan terlalu dekat,” berkata Damar. “Besok dini hari

kita merangkak mendekat, sehingga pada saatnya matahari naik, kita sudah dapat mengepung tempat itu. Seperti aku katakan, aku belum pernah melihat tempat itu. Orang yang menyebut tempat itu belum pernah dilihatnya pula. Karena itu, menilik keadaan alam ditempat ini, maka kita dapat membayangkan tempat yang akan kita tuju.”

Senapati itu mengangguk-angguk. Katanya, “Nampaknya kau juga mempunyai pengamatan setajam prajurit. Meskipun sebenarnya aku yakin akan kemampuan prajurit-prajuritku, namun aku sependapat denganmu. Kita akan memperlambat gerak pasukan ini. Tetapi aku akan mengirimkan dua orang untuk berusaha melihat-lihat keadaan di sekitar tempat ini.”

Damar mengangguk-angguk. Namun sebelum ia mengatakan sesuatu, Senapati itu mendahului, “Aku tahu, kau akan berpesan agar kedua orang itu berhati-hati.

Mungkin orang-orang Ki Rangga Gupita melihat keduanya lebih dahulu, sehingga persoalannya akan menjadi lain.”

Damar mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tersenyum.

“Dua orangku tidak akan pergi terlalu jauh dari pasukan. Mereka hanya akan mengamati keadaan disekitar tempat ini,” berkata Senapati itu.

Damar mengangguk-angguk. Sementara itu, Senapati itu pun berkata kepada Gandar, “Kau berikan seorang di antara orang-orangmu. Biarlah bertiga mereka mengamati keadaan. Kita akan menunggu sambil beristirahat disini. Menurut perhitungan Damar, tempatnya sudah tidak terlalu jauh lagi.”

Demikianlah, ketiga orang yang sudah disiapkan itu pun segera meninggalkan induk pasukan. Mereka mendapat waktu beberapa saat untuk mengamati keadaan. Mereka harus segera kembali dan memberikan laporan tentang pengamatan mereka. Pasukan itu masih akan maju beberapa tonggak lagi, justru mengambil jalan yang bergeser dari arah semula, karena mereka akan mendatangi sarang yang lain, yang menurut salah seorang di antara mereka yang tertangkap bersama Rumpak, justru berada ditempat yang lebih dekat, meskipun arahnya berubah.

Ketiga orang yang mengamati keadaan itu memang melihat, bahwa medannya terlalu berat. Sangat berbahaya bagi mereka untuk bertempur di malam hari. Mereka pun kemudian melihat jalur jalan setapak yang berbelok. Agaknya jalan itulah yang

harus mereka tempuh menuju ke sarang yang akan menjadi sasaran pertama itu. Beberapa tonggak mereka mengikuti jalur jalan yang bergeser dari arah semula

itu. Namun mereka pun tidak menemukan sesuatu yang menarik, kecuali jalan yang sulit ditepi tebing yang tinggi atau jurang yang dalam.

Namun waktu mereka tidak terlalu banyak. Mereka pun harus segera kembali untuk melaporkan apa yang telah mereka lihat.

Sejenak kemudian, ketiganya telah memberikan laporan tentang daerah itu. Semuanya masih tetap seperti lingkungan di sekitar mereka. Daerah perbukitan di Gunung Kukus itu memang masih agak sulit dilalui. Tetapi mereka harus menempuh jalan itu.

Setelah matahati turun, maka pasukan itu telah bergerak kembali. Tetapi tidak terlalu cepat. Mereka akan berhenti lagi ditempat yang tidak terlalu dekat

dengan sasaran. Dimalam hari jika mereka harus membuat perapian karena dingin, serta sekelompok yang harus menyiapkan makanan dan minuman, agar tidak akan tampak dari sarang yang akan mereka tuju.

Perjalanan berikutnya memang sulit. Jumlah pasukan yang banyak berjalan dijalan setapak, merupakan iring-iringan yang panjang, seperti iring-iringan semut di

atas bebatuan. Merangkak berkelok-kelok mengikut jalan yang juga berkelok-kelok.

Namun seperti yang dikatakan Damar, maka mereka tidak akan berada ditempat yang terlalu dekat. Setelah mereka menempuh jalan yang berbelok dari arah semula,

maka beberapa saat kemudian mereka telah mencari tempat untuk bermalam. Ternyata mereka tidak menemukan tempat yang baik. Tetapi sebagai prajurit, mereka sama sekali tidak mengeluh.

“Batasi perapian,” berkata Senapati itu. “Usahakan berada ditempat yang terlindung dari arah sasaran.

“SIAPA kalian,” salah seorang dari kedua orang itulah yang justru telah

bertanya. Seorang dari prajurit Pajang itu pun maju pula selangkah. Dengan nada rendah ia menjawab, “Kami datang untuk menemui kalian. Tetapi sebut, apakah kalian memang orang yang kami cari?” “Siapa yang kalian cari?” bertanya orang itu. “Bukankah kalian bekas prajurit Jipang yang bersembunyi di daerah ini?” prajurit Pajang itu langsung menunjuk.

Kedua orang itu menjadi tegang. Sementara itu prajurit Pajang itu berkata, “Masih sepagi ini kalian telah turun. Mungkin kalian membawa tugas penting?” Kedua orang itu menjadi semakin tegang. Mereka sadar, bahwa mereka telah berhadapan dengan orang-orang yang akan mengganggu ketenangan sarang mereka. Namun seorang di antara mereka masih berkata, “Aku adalah penghuni padukuhan sebelah. Aku sedang mencari daun kates grandel untuk obat.”

“Baiklah. Jika demikian ikut kami,” berkata prajurit Pajang itu.

Kedua orang itu saling berpandangan. Namun yang seorang kemudian bertanya, “Untuk apa? Dan siapakah kalian?”

“Sudahlah. Kita sudah saling mengetahui. Kau adalah penghuni sarang para pengikut Ki Rangga Gupita. Sebaiknya kita berterus terang,” jawab prajurit Pajang itu.

“Dan kau adalah orang Tanah Perdikan Sembojan,” tiba-tiba orang itu menebak. Yang menyahut adalah Sambi Wulung, “Ya. Aku adalah orang Tanah Perdikan Sembojan. Adalah kebetulan bahwa kita bertemu disini. Sebaiknya kalian bersedia menunjukkan dimana sarangmu itu. Kami baru mengetahui ancang-ancangnya.” “Persetan,” geram kedua orang itu hampir berbareng.

“Jangan menentang. Tidak ada gunanya. Kau pun tidak akan dapat lari karena jalur jalan itu tertutup. Kecuali kau memang ingin meloncat ke dalam jurang itu,” berkata prajurit Pajang itu.

Kedua orang itu menjadi termangu-mangu. Namun seorang di antara mereka kemudian berkata, “Terserah, kau sebut siapa saja kami berdua. Tetapi kami bukan pengecut

yang menyerahkan kedua pergelangan tangan untuk diikat.”

Prajurit Pajang itu pun menggeram. Katanya, “Kau terlalu sombong. Baiklah. Jika demikian kami harus mempergunakan kekerasan untuk memaksamu menyerah.” Di luar sadarnya kedua orang itu memandang ke atas, kelereng bukit yang lebih tinggi. Agaknya memang terlalu jauh, untuk berteriak memberikan isyarat kepada kawan-kawan mereka.

Karena itu, maka yang dapat dilakukannya adalah melawan ketiga orang itu dengan segenap kemampuan yang ada.

Kedua prajurit Pajang itu pun segera bersiap. Demikian pula Sambi Wulung. Sementara itu kedua orang yang turun dari bukit itu pun telah mempersiapkan diri pula. Dari sikap mereka tentu bekas prajurit Jipang.

“Bukan salahku jika kalian bertiga akan menjadi makanan burung pemakan bangkai yang banyak berkeliaran di daerah ini,” berkata salah seorang dari kedua orang

itu.

“Biarlah kami menyelesaikannya,” berkata salah seorang prajurit Pajang itu kepada Sambi Wulung. “Kau berjaga-jaga saja jika ada di antara mereka yang berusaha untuk melarikan diri.”

Sambi Wulung mengerutkan keningnya. Agaknya orang Pajang ini juga mempunyai sifat yang sombong. Karena ia datang dari Tanah Perdikan, maka orang-orang

Pajang itu tentu menganggapnya tidak mempunyai kemampuan setingkat dengan para prajurit itu.

Tetapi Sambi Wulung tidak menanggapi, justru pada saat musuh berada di depan hidung mereka. Sambi Wulung itu lebih senang mematahui keinginan kedua prajurit Pajang itu untuk berjaga-jaga.

Sejenak kemudian, dua orang prajurit Pajang itu telah bergerak mendekat. Mereka mulai bergeser dan menempatkan diri menghadapi kedua orang yang dianggapnya bekas prajurit Jipang itu.

Sambi Wulung memperhatikan sikap keempat orang itu dengan jantung yang berdebaran. Keempat orang itu nampaknya memiliki bekal yang seimbang. Namun sebelum mereka mulai dengan pertempuran, agaknya memang sulit untuk menilai, siapakah di antara mereka yang terbaik.

SEJENAK kemudian, maka prajurit Pajang itu pun telah mulai menyerang. Mereka tidak ingin mempergunakan waktu yang berkepanjangan. Karena itu, maka mereka pun segera menarik senjata mereka sehingga kedua orang yang turun dari bukit itu pun telah menggenggam senjata mereka pula.

Demikianlah, maka pertempuran antara dua orang prajurit Pajang dan dua orang lawannya itu berjalan dengan sengitnya. Seperti yang diduga oleh Sambi Wulung, kedua pihak memang memiliki tingkat ilmu yang sama. Namun ternyata bahwa orang yang baru turun dari bukit itu memiliki pengenalan yang lebih akrab dengan lingkungan, sehingga mereka tidak begitu banyak terganggu oleh arena yang nampaknya memang berbahaya.

Karena itulah, maka kedua prajurit Pajang itu pun mulai terdesak. Kecuali memperhatikan tata gerak lawan, keduanya harus sangat berhati-hati menempatkan kaki mereka, karena mereka akan dapat tergelincir.

Sambi Wulung menjadi semakin tegang. Tetapi ia masih belum melibatkan diri. Ia ragu, apakah para prajurit Pajang itu tidak tersinggung jika ia langsung

memasuki pertempuran.

Namun dalam keadaan yang mendesak. Sambi Wulung sudah mempersiapkan diri. Belum lagi Sambi Wulung memasuki pertempuran, tiba-tiba saja seorang di antara kedua prajurit itu telah tergelincir. Untunglah bahwa tangannya sempat meraih sebatang pohon perdu yang tumbuh di lereng jurang dipinggir jalan. Namun pada saat yang demikian lawannya tiba-tiba saja tertawa sambil mengayunkan senjatanya. Katanya, “Jika pohon ini aku patahkan, maka kau akan dihisap oleh dalamnya jurang. Kepalamu akan terhempas pada batu padas dibawah itu.” Namun sebelum hal itu terjadi, maka Sambi Wulung dengan tangkasnya telah meloncat menyerang. Serangannya beruntun mengejutkan. Sambi Wulung pun mempergunakan pedang pula sebagaimana lawannya.

Namun pada benturan pertama lawannya benar-benar terkejut. Sambi Wulung ternyata memiliki kekuatan yang sangat besar.

Tetapi lawannya itu tidak menunjukkan kecemasannya. Ia pun dengan sigap memperbaiki keadaannya. Kemudian ia pun telah membalas menyerang dengan kecepatan yang tinggi.

Sementara itu, prajurit Pajang yang tergantung di atas jurang itu mengalami kesulitan.

Ketika prajurit Pajang itu berusaha untuk naik, maka batang perdu tempatnya bergantung itu justru semakin runduk. Setiap ia bergerak, maka batang itu terasa akan menjadi patah.

Sementara itu, prajurit Pajang yang seorang lagi masih juga terdesak oleh lawannya yang mempunyai pengalaman lebih baik di atas medan yang tidak terlalu luas dan licin.

Sambi Wulung ternyata mengetahui kesulitan prajurit Pajang yang bergantung pada batang perdu itu. Karena itu, maka ia pun berusaha untuk menekan lawannya secepatnya agar ia mendapat kesempatan untuk menolong prajurit itu.

Ternyata bahwa dugaan prajurit Pajang tentang orang-orang Sembojan itu keliru. Jika semula para prajurit Pajang itu mengalami kesulitan karena medan, ternyata

Sambi Wulung mampu mengatasinya. Dengan mengerahkan tenaga cadangannya, maka kekuatannya bagaikan berlipat. Kecepatan geraknya pun melampaui kecepatan burung sikatan menyambar belalang.

Lawannya benar-benar terdesak. Dengan hati-hati Sambi Wulung berusaha untuk mendesak lawannya mendekati pertempuran antara prajurit Pajang yang seorang lagi.

Dalam pertempuran yang keras, maka bekas prajurit Jipang itu tidak mampu melindungi dirinya sendiri. Tiba-tiba saja ujung pedang Sambi Wulung telah tergores di dadanya. Namun goresan itu hanya goresan tipis meskipun memanjang. Namun demikian, dari goresan itu telah menitik darah yang membasahi bajunya yang koyak.

Pada kesempatan itu, maka Sambi Wulung pun kemudian berteriak kepada prajurit Pajang yang seorang, “Tinggalkan lawanmu. Tolonglah kawanmu itu.”

Prajurit Pajang itu tidak segera dapat meninggalkan lawannya. Lawannya yang menyadari kesulitan prajurit yang bergantung pada pohon perdu itu tidak mau melepaskan lawannya yang akan menolong prajurit Pajang itu. Bahkan ia pun justru semakin menekan prajurit Pajang itu dan berusaha untuk mendesaknya masuk ke dalam jurang.

SAMBI WULUNG yang kemudian mencemaskan kedua prajurit Pajang itu, akhirnya mengambil keputusan untuk mengakhiri perlawanan lawannya yang keras, garang dan kasar itu. Ternyata Sambi Wulung pun mampu bertempur dengan keras, garang dan kasar. Itulah sebabnya, maka sejenak kemudian, pedangnya pun telah berputar

seperti baling-baling. Kekuatannya pun meningkat sejalan dengan meningkatnya kecepatan geraknya.

Lawannya yang terluka itu memang menjadi bingung. Betapapun ia akrab dengan medan, tetapi lawannya terlalu kuat dan terlalu cepat baginya. Karena itu, maka sekali lagi segores luka telah menganga di pundakya. Lebih dalam dari luka semula.

Orang itu mengaduh tertahan. Belum lagi ia memperbaiki keadaannya, maka serangan berikutnya telah menerkamnya pula.

Sambi Wulung benar-benar menjadi garang. Apalagi ketika kemudian prajurit Pajang yang tergantung itu mulai memanggil kawannya. Katanya dengan nada tinggi, “Tolong, pohon ini akan patah.”

“Bertahanlah sebentar,” Sambi Wulunglah yang berteriak menjawab.

Satu serangan yang cepat dan keras, tidak lagi dapat dihindari oleh lawannya. Demikian tiba-tiba terasa ujung pedang Sambi Wulung itu telah tergores dilambungnya pula.

Bekas prajurit Jipang itu terdorong surut. Hampir saja ia pun tergelincir dan masuk ke dalam jurang. Namun ternyata bahwa ia telah berhasil menjatuhkan dirinya dan tertahan oleh sebuah pohon yang lebih kuat dari sebatang pohon perdu yang digantungi oleh prajurit Pajang itu.

Oleh luka-lukanya, maka bekas prajurit Jipang itu tidak lagi mampu untuk bangkit. Darah mengalir dengan derasnya dari tiga lukanya.

Karena itu, maka ia pun tetap terbaring bertumpu pada sebatang pohon sehingga ia tidak terguling jatuh betapapun tubuhnya merasa lemah.

Setelah Sambi Wulung kehilangan lawannya, ia tidak langsung menolong prajurit Pajang itu, karena prajurit Pajang yang bertempur itu pun telah mengalami kesulitan. Karena itu, maka ia pun meloncat mengambil alih perlawanan prajurit Pajang itu dan berkata kepadanya, “Tolong kawanmu. Tetapi hati-hati. Jangan kau sendiri justru terseret pula masuk ke dalam jurang.”

Bekas prajurit Jipang itu mengumpat. Tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu. Ia pun kemudian ternyata mendapat lawan yang jauh lebih berat dari prajurit Pajang itu.

Demikian terlepas dari lawannya, maka prajurit Pajang itu berusaha untuk menolong kawannya. Tepat pada saat ia menelungkup menggapai tangan kawannya sambil berpegangan pada sebatang pohon yang lain, maka perdu tempat prajurit itu bergantung mulai berderak.

“Tangkap tanganku,” berkata prajurit Pajang yang berusaha menolong itu. Ternyata pertolongan itu tepat datang pada waktunya. Sejenak kemudian, dengan susah payah prajurit Pajang itu dapat naik ke atas bibir jurang.

Sejenak keduanya duduk dengan nafas terengah-engah. Baru kemudian prajurit yang terperosok itu bertanya, “Di mana lawan yang seorang lagi?”

Prajurit Pajang yang menolongnya itu menunjuk ke arah sesosok tubuh yang terbaring diam, tersangkut pada sebatang pohon.

“SIAPA yang melumpuhkannya?” bertanya prajurit itu. Kawannya tidak menjawab. Tetapi ia menunjuk kepada Sambi Wulung. Prajurit Pajang yang baru saja tertolong itu menarik nafas dalam-dalam. Ternyata bahwa Sambi Wulung itu mampu berbuat lebih baik dari prajurit Pajang. Bahkan orang itu telah mampu mengalahkan kedua lawannya yang semula bertempur melawan dua orang prajurit Pajang.

Sebenarnyalah Sambi Wulung telah mengalahkan lawannya yang seorang lagi. Dengan serangan yang keras Sambi Wulung mendesak lawannya.

Lawannya yang tidak mempunyai banyak kesempatan itu berusaha untuk bergeser meskipun kakinya telah berada dibibir jurang.

Serangan mendatar itu memang tidak mengenai lawannya. Tetapi sebelum lawannya sempat memperbaiki keadaannya, pedang Sambi Wulung itu telah berputar dan mematuk dada lawannya. Bekas prajurit Jipang itu menjadi kebingungan. Ia tidak sempat lagi berkisar. Jika ia mundur lagi, maka ia tentu akan terperosok masuk ke dalam jurang.

Karena itu, maka ia pun telah berusaha untuk menangkis serangan itu dengan mengerahkan segenap tenaganya, bekas prajurit Jipang itu berusaha untuk memukul pedang Sambi Wulung menyamping.

Namun Sambi Wulung tidak membiarkan pedangnya bergeser. Ia justru memutar pedangnya itu. Demikian cepatnya, sehingga lawannya tidak mempunyai kesempatan lagi. Pedangnya justru bagaikan terhisap oleh pedang Sambi Wulung.

Prajurit Pajang yang duduk di pinggir jurang itu pun menjadi semakin

berdebar-debar. Mereka tidak mengira bahwa orang Sembojan itu mampu bertempur demikian garangnya.

Keduanya dengan wajah tegang sempat melihat pedang bekas prajurit Jipang itu terlempar dari tangannya dan masuk ke dalam jurang yang dalam.

Sambi Wulung kemudian mengacukan pedangnya di dada orang itu. Dengan nada rendah

tetapi berat Sambi Wulung bertanya, “Kau menyerah atau aku dorong kau masuk ke dalam jurang.”

Orang itu menjadi pucat. Apalagi ketika ujung pedang Sambi Wulung melekat didadanya, “Jawab,” bentak Sambi Wulung.

Orang itu tidak mempunyai pilihan lain. Karena itu, maka jawabnya ragu, “Aku menyerah.”

“Kau tidak bohong?” desak Sambi Wulung.

“Tidak. Aku menyerah,” suara orang itu menjadi gemetar.

Pada saat yang demikian itulah, pasukan Pajang nampak mendekati arena pertempuran. Senapati Pajang itu menjadi heran melihat apa yang terjadi. Orang Sembojan itu mengacukan pedangnya ke arah seseorang, sementara kedua orang prajurit Pajang itu baru kemudian bangkit berdiri dengan tergesa-gesa.

Sambi Wulung yang telah menguasai lawannya sepenuhnya itu pun kemudian memerintahkan lawannya untuk bergeser ketengah. Kemudian memerintahkannya untuk

duduk di tanah.

Senapati Pajang yang berjalan di paling depan telah memberikan isyarat agar pasukannya berhenti. Kemudian dengan heran ia bertanya, “Apa yang terjadi?

Kenapa kalian berdua justru hanya duduk-duduk saja sementara kawanmu bertempur?” “Apa yang terjadi?” bertanya Senapati itu.

“Ampun,” desis prajurit Pajang itu. Dengan singkat ia menceritakan seluruhnya yang telah terjadi. ia pun kemudian menunjuk kepada sesosok tubuh yang terbaring diam tersangkut pada sebatang pohon di pinggir jurang.

“Orang Sembojan itu pulalah yang telah mengalahkannya,” berkata prajurit Pajang itu dengan jujur. Lalu, “Tanpa orang Sembojan itu, mungkin kami berdua telah terbunuh disini.”

Senapati itu mengangguk-angguk. Ia pun kemudian melangkah mendekati bekas prajurit Jipang yang terbaring itu. Ketika ia berjongkok dan memegang tangannya, maka katanya,”Sayang. Orang ini sudah mati.”

“O,” Sambi Wulung pun mendekatinya pula. Tetapi orang itu benar-benar telah mati.

“Kehabisan darah,” berkata Senapati itu. “Lukanya telah mengalirkan darah tanpa dapat dicegah.”

Sambi Wulung mengangguk-angguk.

“Jadi bagaimana dengan kedua orang itu?” bertanya Senapati itu. SAMBIWULUNG pun kemudian menceritakan tentang kedua orang itu. “Agaknya mereka

memang berasal dari salah satu sarang para pengikut Ki Rangga Gupita”. Senapati itu pun kemudian memberikan isyarat, agar pasukannya beristirahat sejenak. Ia mempunyai kepentingan dengan orang yang menyerang itu.

Ternyata bahwa orang itu tidak banyak berbelit-belitt. Ia menjawab pertanyaan sebagaimana adanya. Ternyata bahwa setiap pengikut Ki Rangga selalu dibatasi pengenalannya atas sarang-sarang yang dibuatnya. Hanya orang-orang tertentu sajalah yang mengenali sarang-sarang para pengikutnya di beberapa tempat. “Kau akan kemana?” bertanya Senapati itu.

Orang itu tidak dapat ingkar. Ia memang mendapat tugas untuk menghubungi kawannya. Tetapi tidak disarang yang lain. Ia harus menemui kawannya justru di sebuah padukuhan kecil untuk menerima perintah.

“Perintah apa kira-kira yang akan kau terima?” bertanya Senapati itu.

“Aku tidak tahu,” jawab tawanan itu. “Tetapi tentu sekitar usaha untuk mengambil harta benda di padukuhan-padukuhan.”

“Di padukuhan-padukuhan kecil itu?” bertanya Senapati. “Tentu tidak. Tetapi kami harus pergi ketempat yang cukup jauh. Kami harus memasuki padukuhan-padukuhan yang besar, yang sudah diketahui lebih dahulu, bahwa di padukuhan-padukuhan itu tersimpan harta benda yang cukup untuk membantu

perjuangan kami,” jawab orang itu.

Senapati itu termangu-mangu. Namun kemudian ia pun berkata, “Baiklah. Segala sesuatunya akan dapat kita bicarakan nanti. Sekarang aku ingin pergi ke

sarangmu. Aku ingin bertemu dengan pemimpinmu. Apakah Ki Rangga Gupita sering datang kemari?”

“Pernah. Tetapi jarang sekali,” jawab orang itu.

Tawanan itu memang tidak dapat berbuat lain. Ia dipaksa kembali ke sarangnya, sementara itu Senapati itu telah berkata, “Setelah kita selesai, maka kita akan mengurus mayat kawanmu itu.”

Tawanan itu tidak menjawab. Dua orang prajurit mengawalnya. Sementara itu iring-iringan pun berjalan maju dengan hati-hati.

Disepanjang perjalanan itu, dua orang perwira telah berusaha untuk menyadap keterangan dari tawanan itu.

Ternyata bahwa sarang mereka terletak ditempat yang agak tinggi. Bukan sebuah goa saja. Tetapi disamping goa yang memang terdapat disitu, mereka pun telah membuat beberapa buah barak.

“Kami harus mengepungnya,” desis perwira itu.

“Sulit dilakukan,” berkata tawanan itu. “Sarang kami dikelilingi oleh jruang

yang terjal. Jalan satu-satunya adalah jalan ini. Tetapi ada kalanya kawan-kawan kami menelusur turun lewat jurang-jurang itu untuk mencapai jalur jalan dibawah dengan cara yang lebih cepat. Tetapi kadang-kadang dapat terjadi kesulitan.

Kadang-kadang pakaian dapat koyak oleh duri-duri yang tajam. Bukan hanya pakaian tetapi kadang-kadang kulit kami.”

Perwira itu kemudian mendapat gambaran serba sedikit. Memang sulit untuk mengepung tempat itu. Satu-satunya cara adalah menyergap dengan tiba-tiba. “Tetapi penghuni sarang kami kini bertambah. Ada beberapa sarang yang dikosongkan karena beberapa orang di antara kami tertangkap. Dari sarang kami yang dikosongkan itu, sebagian ada pula disini.”

Perwira itu mengangguk-angguk. Namun menurut tawanan itu, jumlah mereka tidak terlalu banyak, sehingga jumlah prajurit Pajang yang datang, serta para pengawal Tanah Perdikan itu akan dapat mengatasi perlawanan mereka betapapun garang, keras dan kasarnya mereka.

“Pasukan kita berlipat hampir tiga kali,” berkata perwira itu.

Sejenak kemudian, maka perwira yang menyadap keterangan dari tawanan itu telah melaporkan kepada Senapatinya. Dengan demikian maka Senapati itu pun telah memerintahkan mengatur pasukannya karena mereka tidak akan mengepung tempat itu, tetapi mereka akan menyergap dengan tiba-tiba.

“Tetapi kita jangan terjebak oleh keterangan yang dibuat-buat,” berkata Senapati itu.

Ternyata bahwa jarak antara tempat mereka berhenti dan sarang gerombolan itu masih agak jauh, sehingga mereka tidak dapat menyergap pada saat yang dikehendaki.

DEMIKIANLAH matahari mulai naik perlahan-lahan dilangit. Iring-iringan itu merayap terus mendekati sasaran. Untunglah bahwa pepohonan dilereng bukit itu cukup rimbun, sehingga iring-iringan yang panjang itu tidak dengan segera dapat dilihat.

Beberapa tonggak dari sasaran, maka Senapati itu telah memerintahkan pasukan berhenti. Lingkungan dan medanpun mulai berubah. Jurang tidak lagi terdapat disebelah menyebelah jalan sempit. Tetapi di lereng bukit itu mulai terdapat dataran yang agak luas.

Senapati itu mulai membagi pasukan. Sebagian akan menyergap lewat arah yang lain, sementara induk pasukan akan tetap mendekati sarang itu melalui jalur jalan.

“Jalan yang harus ditempuh untuk mendekati sarang kami lewat hutan itu agak sulit,” berkata tawanan itu memperingatkan.

“Kenapa?” bertanya Senapati pasukan Pajang.

“Jalan sangat licin dan banyak terdapat semak-semak duri,” jawab tawanan itu. “Tetapi bukankah mungkin dicapai lewat hutan itu?” bertanya seorang perwira. “Memang mungkin meskipun sulit. Lewat hutan itu mereka akan mendekati sarang kami dari sisi sebelah kiri yang tidak berjarak dari jalur jalan masuk lewat

jalan setapak ini. Hampir tidak ada artinya, dibanding dengan kesulitan yang akan dialami,” berkata tawanan itu pula.

Perwira Pajang itu mulai ragu-ragu. Namun akhirnya Gandarlah yang berkata, “Aku dan para pengawal akan menempuh jalan hutan ini. Para prajurit akan sangat diperlukan untuk menyergap dengan tiba-tiba. Jika aku terlambat datang, maka agaknya tidak akan terlalu mengganggu penyergapan itu sendiri. Mungkin ada di antara mereka yang melarikan diri ke hutan-hutan sempit itu. Mudah-mudahan kami sempat menyergap mereka.”

Senapati itu sependapat. Gandar dan pasukannya akan memisahkan diri memasuki hutan. Mereka akan mendekati sarang itu lewat puntuk-puntuk kecil yang licin dan ditumbuhi semak-semak berduri.

“Kita harus menunjukkan, bahwa kita tidak sekadar menggenapi syarat untuk ikut hadir disini,” berkata Gandar. “Kita harus menunjukkan, bahwa kita memang ikut serta dalam penumpasan ini.”

Para pengawal dari Tanah Perdikan itu pun mengangguk-angguk. Mereka memang harus

menyatakan diri mereka, bahwa kehadiran mereka memang diperlukan. Sambi Wulung telah mengalami satu perlakuan, bahwa prajurit-prajurit Pajang menganggap

orang-orang dari Tanah Perdikan Sembojan itu sekadar sebagai satu kesempatan. Demikianlah Gandar yang hanya mendapat gambaran tentang sasaran dari tawanan yang ditangkap oleh Sambi Wulung itu, telah membagi pasukannya menjadi dua kelompok besar yang masing-masing akan dipimpin oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung.

“Kita harus mampu memasuki barak itu dengan cepat dan mencegah mereka melarikan diri dengan meloncat dan menelusur turun di tebing-tebing itu sebagaimana sering mereka lakukan,” berkata Gandar. “Pasukan kita harus dengan cepat memasuki lingkungan barak itu dan berusaha mengepungnya, meskipun hal itu sulit

dilakukan. Tetapi bukan mustahil. Kita mengepung barak itu di dalam halaman barak itu sendiri, sementara kita berharap bahwa pasukan Pajang itu tepat pada waktunya berhasil memasuki barak-barak itu. Sedangkan sebagian lagi akan menyumbat goa disebelahnya dengan pasukan pula.”

Dengan dasar gerak sebagaimana dikatakan oleh Gandar, maka pasukan Tanah Perdikan Sembojan itu maju menembus hutan yang tidak terlalu luas disebuah dataran di lereng bukit.

Mereka memang menembus sebuah medan kecil yang lebat. Tetapi ternyata medannya tidak seberat sebagaimana dikatakan oleh tawanan itu.

“Tawanan itu mengharap tidak sekelompok pun di antara pasukan ini yang mendekati lewat hutan ini,” berkata Gandar. “Agaknya tawanan itu masih berusaha memberikan kesempatan kepada kawan-kawannya untuk melarikan diri.”

Sambi Wulung yang berada disebelah Gandar mengangguk-angguk. Dengan demikian maka mereka menjadi semakin yakin, bahwa mereka akan dapat berbuat sesuatu dalam tugas mereka itu.

Dalam pada itu, Jati Wulung telah membawa pasukannya melebar. Sementara Sambi Wulung berusaha untuk mendekati sasaran dari satu arah.

SEMAKIN dekat dengan sasaran maka orang-orang dalam kelompok yang dipimpin oleh Jati Wulung menjadi semakin terpecah. Mereka berada dalam satu kelompok-kelompok yang terdiri dari sepuluh orang, sehingga lima kelompok itu telah maju dalam

urutan masing-masing. Semakin dekat dengan sasaran, maka orang-orang dalam kelompok bergeser sedikit kekiri. Ia akan mendekati sasaran tidak terlalu jauh dari kehadiran pasukan Pajang, namun dari arah yang berbeda.

Gerak pasukan Pajang dan Tanah Perdikan Sembojan itu memang tidak diduga sebelumnya oleh mereka yang berada di sarang itu. Seperti Ki Rangga, mereka memang agak mengabaikan kemungkinan seperti itu.

Para pengikut Ki Rangga, bekas prajurit-prajurit Jipang pada umumnya menganggap bahwa Tanah Perdikan Sembojan tidak mempunyai cukup kekuatan untuk menyusuri lereng-lereng pegunungan pada jarak yang begitu jauh. Karena itu, meskipun

mereka mendapat keterangan dari Damar dan Saruju serta orang-orang yang telah mereka tangkap, maka orang-orang Tanah Perdikan Sembojan tidak akan datang. Demikian pula para prajurit Pajang. Pajang yang sedang sibuk untuk menegakkan kewibawaannya itu tentu lebih banyak berhubungan dengan para Adipati dan Tumenggung yang masih belum mapan. Prajurit Pajang tentu masih dipergunakan untuk menunjukkan kekuatan Pajang kepada pihak-pihak tertentu yang masih ragu-ragu dengan kekuasaan Pajang.

Jika tidak didesak oleh Warsi, maka Ki Rangga memang tidak akan mengosongkan beberapa di antara sarang mereka. Namun perhitungan Warsi pun ternyata dapat ditebak oleh Pajang sehingga Pajang tidak langsung pergi ke sarang-sarang orang yang tertangkap di Tanah Perdikan. Tetapi Pajang telah memilih sasaran yang lain.

Demikianlah, maka pasukan Pajang dan Tanah Perdikan itu bergerak semakin dekat. Beberapa langkah sebelum sampai ke barak, maka Gandar telah memperlambat pasukannya. Dengan isyarat ia menahan gerak maju Sambi Wulung dan Jati Wulung, karena mereka belum melihat tanda-tanda pasukan Pajang sampai ke sasaran pula. Dalam pada itu Senapati Pajang itu pun telah membagi pasukannya pula. Sekelompok di antara mereka harus langsung menyumbat mulut goa disebelah barak yang didirikan untuk menampung bekas prajurit Jipang yang berada dibawah pengaruh Ki Rangga Gupita.

Sementara itu, maka Gandar sendirilah yang menyusup dibawah gerumbul-gerumbul perdu dan bergerak mendekati sasaran. Beberapa puluh langkah dari barak itu Gandar berhenti. Ia sudah melihat dinding yang tidak rapat yang terbuat dari

bambu yang tidak terlalu kuat.

Sejenak kemudian, maka Gandar pun telah melihat iring-iringan pasukan Pajang yang agaknya telah berhenti sebentar untuk mengambil ancang-ancang. Ternyata prajurit Pajang itu datang berlari-lari menyergap sasaran.

Gandar pun telah melemparkan batu ke arah pasukannya sebagai isyarat. Ia memang sudah memberitahukan. Jika ia melemparkan batu, maka pasukannya harus mulai bergerak.

Sebenarnyalah suara gemerasak batu di dedaunan hutan telah membuat perintah bagi Sambi Wulung untuk menggerakkan pasukannya. Namun sebelum itu ia pun telah melemparkan batu pula ke arah pasukan Jati Wulung yang berada disisi yang lain.

Dengan demikian kelompok pasukan dari Tanah Perdikan itu pun telah maju pula dengan cepat, sehingga mereka pun akan mampu mengimbangi kecepatan kehadiran pasukan Pajang.

Sebenarnyalah ketika sorak yang riuh menerpa barak yang terpencil itu, maka seisi barak itu menjadi terkejut bukan buatan.

Mereka tidak mengira sama sekali, bahwa bahaya akan menyergap mereka, memang tidak memasang orang untuk mengamati keadaan. Ternyata kelengahan itu telah membuat mereka diterkam oleh pasukan Pajang dan Tanah Perdikan Sembojan.

Dalam pada itu, sebagian dari pasukan Pajang itu memang langsung menuju ke sebuah goa yang besar tetapi tidak terlalu dalam yang terdapat ditebing lereng pegunungan pada batu padas yang kering. Sementara yang lain telah langsung memasuki halaman barak yang tidak terlalu luas, tetapi memanjang.

Orang-orang yang ada di dalam barak-barak itu terkejut bukan buatan. Dengan serta merta mereka pun telah menyambar senjata-senjata mereka. Sebagai seorang yang telah ditempa oleh kerasnya latihan prajurit Jipang, kemudian oleh kerasnya kehidupan yang mereka jalani untuk waktu yang cukup lama sejak jatuhnya Jipang, maka mereka pun menjadi orang-orang yang keras dan tangguh seperti batu-batu padas dipegunungan itu sendiri.

DENGAN serta merta maka isi padepokan itu telah menyongsong pasukan Pajang yang datang dari regol sebelah depan. Sehingga untuk beberapa saat pasukan Pajang itu tertahan. Namun karena jumlahnya yang besar, maka pasukan itu pun telah merembes memasuki lingkungan barak itu. Dalam pada itu, orang-orang Jipang yang terkejut

dan melawan dengan serta merta itu, sebagian memang telah menentukan sikap yang serta merta pula, untuk bergeser kehutan sempit disebelah barak mereka.

Beberapa orang telah siap untuk mundur sambil bertempur dan kemudian mereka akan menghambur ke dalam hutan itu untuk memberikan perlawanan secara khusus. Mereka dapat berlari-lari sambil bertempur di antara pepohonan yang meskipun tidak

sepapat hutan-hutan di ngarai namun cukup memberikan perlindungan mereka. Namun demikian mereka bergeser kedinding, tiba-tiba sepasukan yang lain telah datang pula menghancurkan dinding bambu mereka. Pasukan yang datang itu adalah pasukan Sambi Wulung bersama Gandar sendiri.

Orang-orang yang tinggal di barak itu mengumpat sejadi-jadinya. Mereka tidak dapat memencar ke luar dari halaman barak yang ternyata telah diserang dari beberapa arah.

Namun beberapa di antara mereka masih memikirkan kemungkinan untuk turun dari belakang barak itu. Menyusur kebawah lewat lereng yang memang sering mereka turuni itu meskipun kadang-kadang mereka terkena duri.

“Orang-orang Pajang itu tentu tidak akan berani melakukannya,” berkata orang-orang di barak itu didalam hatinya.

Tetapi orang-orang itu telah terkejut pula akan kehadiran kelompok-kelompok pasukan yang langsung menyusup ke dalam barak sambil merusak pagar bambu.

Mereka

ternyata telah berusaha untuk langsung berada di bagian belakang dari barak itu

dan menutup kemungkinan orang-orang di barak itu untuk melarikan diri menelusur turun lewat tebing dibelakang barak itu.

Dengan demikian maka para prajurit Pajang dan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan telah mengatasi kesulitan untuk dapat mengepung barak itu, karena mereka telah menutup kemungkinan di lingkungan barak itu sendiri, bukan diluarnya.

Pertempuran pun segera berkembang. Ternyata bahwa orang-orang yang tinggal di barak itu adalah orang-orang yang cukup garang. Selain mereka memang memiliki kemampuan bertempur sebagaimana seorang prajurit, ternyata bahwa mereka adalah orang-orang yang merasa terikat pada kesetiaan mereka terhadap Jipang.

Itulah sebabnya, maka orang-orang di barak itu yang hampir semuanya adalah bekas prajurit Jipang, telah bertempur dengan mengerahkan segenap kemampuan mereka. Mereka meloncat, menyerang, bergeser dan kadang-kadang berloncatan surut.

Sementara yang lain telah berteriak dengan nyaring, yang dalam kelompok kecil berusaha menembus pasukan Pajang yang ketat.

Namun para pengawal Tanah Perdikan Sembojan, sebagaimana para prajurit Pajang tidak terkejut karenanya. Gandar sudah berusaha untuk membekali para pengawal dengan pengertian, bahwa bekas prajurit Jipang yang terhimpit oleh keadaan itu tentu akan menjadi semakin garang dan keras. Selagi mereka masih berada dalam pasukan yang utuh dibawah naungan panji-panji Kadipaten Jipang, mereka sudah dikenal sebagai prajurit-prajurit yang keras. Apalagi setelah mereka ditempa

oleh kerasnya petualangan.

DEMIKIANLAH pertempuran pun segera menjadi keras dan kasar. Para pengawal Tanah

Perdikan Sembojan mula-mula memang merasa gelisah melihat cara lawan mereka bertempur. Namun mereka memiliki jumlah orang yang lebih banyak. Apalagi setelah para prajurit Pajang yang juga cukup berpengalaman itu menebar.

Agak berbeda dengan kedua orang prajurit Pajang yang bertempur di jalan yang sempit dan bibir jurang yang licin, maka para prajurit Pajang di barak itu mendapat tempat yang agak leluasa. Mereka tidak berdiri hanya beberapa langkah dari bibir jurang yang dalam. Namun mereka berada ditempat yang dapat dipergunakannya untuk mengembangkan kemampuan mereka bertempur.

Karena itulah, maka para prajurit Pajang dan para pengawal dari Tanah Perdikan Sembojan dapat bertempur dengan mapan.

Sementara itu dipelataran goa disebelah halaman barak itu pun telah terjadi pertempuran yang keras dan kasar. Para bekas prajurit Jipang yang ada di dalam

goa itu telah berusaha untuk mempertahankan goa mereka dengan segenap kemampuan mereka, karena di dalam goa itu tersimpan barang-barang milik gerombolan mereka yang oleh Ki Rangga disebut sebagai harta kekayaan yang akan menjadi bekal

mereka untuk menegakkan Jipang kembali.

Prajurit Pajang yang berada di mulut goa itu memang terkejut menghadapi perlawanan yang luar biasa dari bekas prajurit Jipang itu. Ternyata beberapa orang di antara mereka adalah perwira Jipang yang memiliki kemampuan lebih baik dari para prajurit mereka.

Dengan demikian meskipun jumlah mereka lebih kecil dari jumlah para prajurit Pajang, namun mereka tetap bertahan di halaman goa yang tidak terlalu sempit. Yang terjadi kemudian adalah pertempuran yang bertebaran dimana-mana. Ternyata para pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang cukup berpengalaman itu masih juga sekali-kali merasa tergetar melihat kekerasan dan kekasaran bekas para prajurit Jipang yang tinggal di barak itu.

Namun Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah memberikan semacam sandaran kekuatan jiwani terhadap para pengawal Tanah Perdikan. Mereka melihat bagaimana ketiga orang pemimpin mereka itu bertempur.

Sementara itu, Damar dan Saruju ternyata telah ikut pula bertempur bersama para pengawal, sementara tawanan yang mereka bawa dari Tanah Perdikan Sembojan serta tawanan yang ditangkap Sambi Wulung dijalan setapak menuju ke sarang itu, telah diserahkan kepada beberapa orang prajurit Pajang yang tugasnya sehari-hari menyiapkan makan dan minum pasukannya. Namun bagaimanapun juga, mereka adalah

prajurit-prajurit, sehingga dalam keadaan yang gawat, mereka pun mampu mempermainkan pedang.

Ternyata Damar dan Saruju memiliki kemampuan bertempur yang seimbang dengan orang-orang yang tinggal di sarang bekas prajurit Jipang itu. Bahkan diluar

dugaan, tiba-tiba saja Damar telah bertemu dengan seseorang yang dikenalnya, seorang bekas prajurit Jipang yang pernah menjadi pelatihnya.

“Kau,” geram bekas prajurit Jipang itu.

Damar memang menjadi berdebar-debar. Orang itu adalah bekas pelatihnya. Bagaimanapun juga terasa sesuatu bergetar dihati Damar.

Namun Damar tidak mempunyai pilihan lain. Ia pun kemudian telah menyerang bekas pelatihnya itu.

“Aku sudah mampu mengembangkan ilmuku,” berkata Damar di dalam hatinya. “Kemampuanku bukan sekadar pengetahuan dasar olah kanuragan sebagaimana diajarkannya kepadaku.”

Dengan demikian maka Damar menjadi semakin mantap. Namun kadang-kadang getaran

dijantungnya masih juga membuatnya merasa lebih kecil dari lawannya. Namun suasana pertempuran itu memang menguntungkan Damar. Jumlah para pengawal

dari Tanah Perdikan Sembojan dan para prajurit Pajang berlipat dari jumlah lawannya. Meskipun tidak semua prajurit Pajang ikut bertempur, karena ada di antara mereka yang harus menjaga para tawanan dan sebagian lagi harus berjaga-jaga di luar barak itu serta sekelompok yang lain merupakan kekuatan

cadangan, namun jumlahnya memang sudah lebih banyak dari bekas prajurit Jipang yang ada di dalam sarangnya itu.

Beberapa orang di antara mereka memang berusaha untuk melarikan diri. Namun di bagian belakang dari barak itu, telah menebar pasukan pengawal dari Tanah Perdikan Sembojan, sehingga mereka tidak akan dapat dengan serta merta meluncur turun di tebing yang tinggi dibelakang barak mereka, meskipun hal itu memang sudah sering mereka lakukan.

NAMUN betapapun prajurit Pajang dan pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang jumlahnya lebih banyak, tetapi perlawanan bekas prajurit Jipang itu telah menggetarkan jantung setiap orang.

Damar yang bertempur melawan pelatihnya, ternyata memang masih belum menemukan

keseimbangan. Damar semakin lama menjadi semakin terdesak.

Tetapi ternyata Saruju yang berada tidak jauh dari padanya sempat melihat keadaannya. Karena itu, maka ia pun telah meloncat mendekatinya.

Mula-mula Saruju pun terkejut. Bekas prajurit Jipang itu memang pernah pula menjadi pelatihnya sebagaimana Damar.

“Marilah,” geram bekas prajurit Jipang itu. “Kau yang telah berkhianat.

Datanglah kepadaku, agar aku akan dapat melaksanakan hukuman mati itu atasmu.” “Siapa yang berkhianat?” bertanya Saruju.

“Kalian berdua,” jawab bekas pelatihnya itu. “Aku mendengar dari para perwira. Mereka menyesal telah mengirimkan kalian berdua ke Tanah Perdikan Sembojan untuk membunuh anak Wiradana itu.”

“Agaknya kau termasuk orang yang beruntung dapat mengetahui persoalan yang dituduhkan kepadaku,” berkata Damar. “Jika demikian, maka kau termasuk orang yang kami perlukan. Kau juga mengetahui beberapa hal tentang perkembangan pasukan Ki Rangga dan Warsi itu sekarang. Tidak seperti aku dan Damar,” berkata Saruju. “Aku dan Damar hanya tahu apa yang terjadi disarang kami tanpa mengetahui apa yang terjadi ditempat lain.”

“Kalian tidak pantas untuk mengetahui banyak hal. Apalagi terbukti kalian telah berkhianat,” geram bekas pelatihnya itu.

Damar dan Saruju tidak menjawab lagi. Mereka berdua telah bertempur berpasangan melawan bekas pelatihnya yang ternyata masih tetap memiliki kelebihan dari mereka.

Namun ketika Damar dan Saruju bertempur berdua, maka kedudukan mereka menjadi lebih baik. Meskipun bekas pelatihnya itu masih tetap menunjukkan kecepatan

gerak yang kadang-kadang mengejutkan, namun dengan bertempur berpasangan, kedudukan Damar dan Saruju menjadi semakin mapan.

Dalam hiruk pikuk pertempuran itu, Damar dan Saruju telah menunjukkan bahwa ilmu yang mereka terima dari para prajurit Jipang, tidak sekadar mereka pergunakan sebagaimana mereka pelajari. Tetapi ilmu itu telah berkembang di dalam diri

kedua orang anak muda itu, karena mereka pun telah ditempa pengalaman pula. Mereka telah ikut bertempur melawan prajurit Pajang di medan sebelah Timur Pajang. Mereka pun telah ikut dalam pertempuran-pertempuran yang lain serta

pengalaman mereka menjelajash padukuhan untuk merampas harta benda orang-orang padukuhan tanpa belas kasihan.

Dengan pengalaman mereka yang panjang, maka kemampuan kedua anak muda itu pun menjadi semakin berkembang, meskipun dengan ciri-ciri yang sama seperti prajurit Jipang itu sendiri.

Karena itulah maka pertempuran di antara Damar dan Saruju di satu pihak, serta bekas prajurit Jipang yang pernah menjadi pelatihnya dipihak lain itu pun menjadi keras dan kasar.

Sementara itu, Gandar yang memiliki kemampuan tidak sekadar kemampuan seorang prajurit, ternyata telah berhasil mengoyak tata tempur bekas prajurit Jipang

yang ada di sekitarnya. Demikian pula Sambi Wulung dan Jati Wulung. Apalagi jumlah para pengawal beserta para prajurit Pajang lebih banyak dari lawan-lawan mereka.

Dengan demikian, maka bekas prajurit Jipang itu pun semakin lama menjadi semakin terdesak ketengah-tengah halaman barak mereka. Mereka sama sekali tidak melihat kesempatan untuk melarikan diri.

Ketika seorang di antara mereka, memaksa diri untuk menghindar dari medan dan dengan tidak berperhitungan berlari ke arah belakang halaman barak mereka, meloncati pagar dan langsung meluncur turun, maka ternyata ia tidak mampu menguasai dirinya sendiri. Ia bukannya meluncur menuruni tebing itu dengan kaki menjulur kebawah dengan keseimbangan yang mapan. Tetapi orang itu telah terlempar dan jatuh ke dalam jurang tanpa mampu mengatur diri. Karena itulah yang terdengar kemudian adalah teriakan panjang. Namun kemudian suara itu bagaikan hilang ditelan deru dan dentang senjata beradu.

Seorang pengawal yang lepas dari lawannya sempat menjenguk ke dalam lereng yang dalam itu. Tetapi ia tidak melihat sesuatu. Meskipun demikian ia memang dapat melihat kemungkinan untuk dapat menuruni tebing itu jika tidak tergesa-gesa dan berhati-hati.

DEMIKIANLAH pertempuran itu semakin lama menjadi semakin ganas dan garang. Hampir setiap orang terpancing untuk bertempur dengan kasar. Teriakan-teriakan mengatasi dentang senjata sementara umpatan kasar terdengar di antara keluh kesakitan.

Senapati Pajang yang menyaksikan pertempuran itu memang menjadi berdebar-debar.

Meskipun bekas para prajurit Jipang itu jumlahnya jauh lebih sedikit, tetapi mereka bertempur dengan jantung yang membara di dalam dada mereka.

Namun ternyata bahwa jumlah dan kemampuan setiap orang di dalam medan pertempuran merupakan penentu dalam perang keseluruhan. Meskipun kemampuan seorang-seorang dari para prajurit Jipang ditambah dengan api yang menyala di

dalam dada mereka, namun jumlah prajurit Pajang dan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan jauh lebih banyak. Sementara itu kemampuan prajurit Jipang dengan lawan mereka seakan-akan tidak terpaut. Hanya pengalaman mereka yang berbeda itu sajalah yang membuat warna tata tempur mereka berbeda pula. Meskipun keduabelah pihak bertempur dengan keras, bahkan kasar, namun pada bekas prajurit Jipang itu terdapat meskipun semburat, warna kebengisan dan kekejaman.

Tetapi hal itu terjadi justru karena mereka merasa terhimpit oleh keadaan.

Mereka selalu merasa diburu kemanapun mereka berada. Tetapi juga karena mereka terbiasa memaksakan kehendaknya kepada orang lain dengan garang pada saat-saat mereka merampas dan mengambil milik orang lain itu.

Bagaimanapun juga bekas prajurit Jipang itu bertempur, namun ternyata bahwa mereka tidak mampu untuk tetap bertahan. Perlawanan mereka pun telah terkoyak dimana-mana.

Meskipun demikian, pertempuran diplataran goa itu masih berlangsung dengan dahsyatnya. Para bekas prajurit Jipang ternyata tidak mau beringsut setapak pun juga. Mereka tidak melepaskan kesempatan sama sekali bagi lawan-lawan mereka untuk bergeser maju ke mulut goa itu.

Namun para prajurit Pajang pun tidak mau bergeser mundur dari tempat mereka berpijak. Pertempuran yang keras itu agaknya telah mengaburkan segala macam pertimbangan nalar. Kedua belah pihak telah dicengkam oleh kemarahan yang mencengkam. Kekerasan dan kematian di antara kawan-kawan mereka, telah membuat mereka tidak mempunyai pilihan lain kecuali membunuh.

Sebenarnyalah maka pembunuhan-pembunuhan itu telah terjadi. Prajurit Pajang yang jumlahnya lebih banyak ternyata mendapat kesempatan untuk membunuh lebih banyak pula.

Tetapi bekas prajurit Jipang itu sama sekali tidak beringsut dari tempatnya. Meskipun jumlah mereka semakin susut, tetapi mereka masih tetap berada di tempat mereka berpijak. Mulut goa itu masih saja seakan-akan tersumbat.

Namun satu-satu orang-orang Jipang itu telah jatuh tersungkur ditanah, sehingga akhirnya jumlah mereka pun menjadi semakin susut. Namun para perwira Pajang itu menggeleng-gelengkan kepalanya ketika mereka melihat bekas prajurit Jipang yang tinggal seorang itu pun masih juga berusaha untuk menahan orang-orang Pajang yang akan memasuki mulut goa itu.

Para perwira Pajang menarik nafas dalam-dalam. Ternyata bekas prajurit Jipang yang berada di goa itu telah gugur sampai orang yang terakhir.

“Luar biasa,” desis para perwira Pajang yang menyaksikan pertempuran itu. “Jika keprajuritan masih melekat dihati mereka. Sayang mereka telah diderai memasuki jalan yang sesat.”

Sebenarnyalah orang yang terakhir dari bekas para prajurit Jipang itu sudah jatuh. Dengan demikian maka para prajurit Pajang pun mulai memasuki goa itu.

Namun mereka tidak ingin menjadi korban yang sia-sia. Karena itu mereka menjadi sangat berhati-hati.

Setiap langkah harus mereka perhitungkan sebaik-baiknya. Apalagi di dalam goa itu semakin dalam menjadi semakin gelap.

Namun para prajurit Pajang itu mengurungkan niatnya untuk memasuki goa itu tidak terlalu dalam. Tetapi para perwira Pajang telah memerintahkan mereka untuk menarik diri.

“Kita harus berhati-hati,” perintah seorang perwira. “Kalian berjaga-jaga saja diplataran goa ini. Kami harus berhubungan dengan para prajurit yang bertempur di antara barak-barak di sebelah.”

Para prajurit Pajang itu tidak mempersoalkan perintah itu. Apalagi dalam arena yang keras dan garang. Maka ikatan paugeran bagi prajurit terasa menjadi semakin ketat. Setiap perintah dari pimpinan mereka harus mereka jalankan

sebaik-baiknya.

Dengan demikian maka para prajurit Pajang itu pun telah berjaga-jaga di plataran goa. Beberapa orang berdiri dimulut goa menghadap ke dalam. Mereka harus berhati-hati untuk menghadapi setiap kemungkinan yang dapat terjadi.

Sementara itu, maka beberapa orang telah mempergunakan kesempatan itu untuk menolong dan merawat kawan-kawan mereka. Terutama yang terluka. Sementara itu mereka masih belum sempat berbuat sesuatu terhadap tubuh-tubuh yang berserakan, yang gugur di peperangan yang keras itu.

Dalam pada itu, pertempuran di barak itu pun sudah mendekati saat-saat terakhir.

Para prajurit Pajang dan para pengawal Tanah Perdikan benar-benar telah

menguasai keadaan. Di beberapa bagian masih terjadi pertempuran. Namun beberapa saat kemudian, maka para bekas prajurit Jipang yang tersisa itu pun telah

menyerah.

Namun dalam pada itu, Damar dan Saruju harus menempuh jalan yang tidak mereka inginkan. Pelatihnya ternyata bertempur dengan keras dan pantang menyerah. Dalam keadaan yang terdesak, ternyata bekas prajurit Jipang itu telah sempat melukai Damar dan Saruju meskipun tidak terlalu parah. Namun dari luka itu telah

mengalir darah.

Kemarahan Damar dan Saruju telah melonjak ke ubun-ubun. Itulah sebabnya maka mereka pun telah memperketat serangan-serangan mereka, sehingga akhirnya keduanya berhasil me-nyentuh bekas pelatihnya itu dengan ujung senjata mereka. Bukan hanya segores, tetapi beberapa gores luka telah menganga di tubuhnya.

Namun luka-luka itu telah membuatnya bagaikan gila. Prajurit Jipang itu justru telah mengamuk sejadi-jadinya. Ia sama sekali tidak lagi membuat

perhitungan-perhitungan mapan. Bahkan dalam keadaan yang semakin sulit, maka ia pun menjadi semakin kehilangan keseimbangan nalar.

Dengan demikian, maka kedua belah pihak benar-benar telah dibakar oleh kemarahan karena luka-luka ditubuh masing-masing. Itulah sebabnya, maka Damar dan Saruju pun tidak pernah lagi berharap bahwa pelatih mereka itu akan menyerah. Dalam pertarungan yang keras dan kasar, maka senjata Damar telah berhasil menambah luka ditubuh pelatihnya itu. Namun pelatihnya itu sempat pula mengayunkan senjatanya ke kening Damar. Justru pada saat Damar merendah sambil melindungi keningnya dengan senjatanya, lawannya itu mengurungkan serangannya. Tiba-tiba saja kakinyalah yang melingkar menebas kelambung Damar.

Ketika tumit lawannya mengenai lambungnya, terdengar Damar mengeluh tertahan. Pada saat yang demikian, pelatihnya yang berpengalaman itu seakan-akan mendapat kesempatan. Ia pun telah siap meloncat untuk menyelesaikan Damar yang sedang kesakitan.

Tetapi ketika ia meloncat sambil mengayunkan pedangnya, Damar justru menjatuhkan dirinya. Kakinya dengan cepat berputar menyapu kaki lawannya.

Pelatihnya itu sempat meloncat menghindar. Namun dengan demikian perhatiannya terhadap Saruju terlepas sejenak. Pada saat yang demikian Saruju telah meloncat mendekat dari samping. Senjatanya teracu lurus ke depan.

Lawannya berusaha untuk menggeliat. Namun tiba-tiba saja ujung senjata Damar telah menyambarnya. Sekali lagi segores tipis luka mengenai pahanya dan mengoyak kain panjangnya.

Namun ketika Saruju menebaskan senjatanya, lawannya itulah yang sempat terguling. Ujung senjatanya mematuk dengan cepat ke arah perut Saruju. Namun karena Saruju bergeser, maka senjata itu tidak mengenai sasaran. Tetapi sempat pula tergores dilambung. Meskipun tidak dalam, namun dari luka itu telah mengalir darah pula.

Kemarahan Damar dan Saruju semakin menjadi-jadi. Serangan mereka semakin cepat bergantian datang susul menyusul. Luka-luka yang terasa semakin pedih membuat keduanya semakin keras dan kasar.

Demikain kerasnya, maka pada akhirnya lawannya itu tidak mampu lagi untuk bertahan. Darah yang mengalir dari luka-lukanya menjadi semakin banyak, sehingga tubuhnya pun menjadi semakin lemah.

Meskipun tenaga Damar dan Saruju menjadi semakin susut, tetapi ternyata keduanya masih memiliki kelebihan dari lawannya. Bekas pelatih Damar dan Saruju itu akhirnya terpaksa menyerahkan nyawanya kepada kedua orang anak muda Tanah Perdikan yang sedang marah itu.

Namun ternyata bahwa Damar dan Saruju pun kemudian seolah-olah menjadi tidak bertenaga lagi. Dengan lemahnya keduanya terduduk ditanah bertelekan senjata mereka masing-masing.

Gandar yang ternyata telah menyelesaikan tugasnya, telah sempat mendekatinya sementara Sambi Wulung dan Jati Wulung mengatur anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan setelah mereka menyelesaikan pertempuran.

“Bagaimana dengan kalian?” bertanya Gandar.