-->

Suramnya Bayang-Bayang Jilid 42

Jilid 42

Kemudian segala-galanya serahkan kepadaku.”

Damar menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan nada berat ia pun menjawab, “Ki Sanak. Bagaimana mungkin aku dapat melepaskan salah seorang dari keluargaku.

Mereka adalah bagian dari hidupku. Apalagi ayah dan ibuku. Justru karena mereka, aku ada dan kemudian dibesarkan.”

“Jika demikian, bagaimana salah seorang dari adikmu?” bertanya orang itu. “Aku mengasihani mereka. Tidak mungkin aku membiarkan mereka mengalami kesulitan

karena aku,” jawab Damar.

“Terserahlah kepadamu. Siapa yang kau sebut. Aku akan mengambilnya. Aku tidak akan membunuhnya disini. Tidak dihadapan matamu,” berkata orang itu.

Tetapi Damar menggeleng. Katanya, “Itu tidak mungkin. Kenapa tidak aku saja?” Orang itu mengerutkan keningnya. Dengan nada datar ia berkata, “Kau masih diharapkan dapat menyelesaikan tugasmu. Kau tidak akan dibunuh kecuali jika kemudian Ki Rangga yakin, bahwa kau memang tidak berarti lagi bagi kami.” DAMAR termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Ki Sanak. Cobalah bayangkan jika hal seperti ini terjadi padamu. Memang agak berbeda halnya jika tiba-tiba saja kau membunuh salah seorang keluargaku, siapapun orangnya. Tetapi tidak atas keputusanku sendiri.”

“Aku tidak dapat berbuat seperti itu,” berkata orang yang bertubuh tinggi kekar itu. “Tidak ada seorang pun di antara keluargamu yang keluar dari halaman rumahmu. Aku sudah menunggu untuk waktu yang terlalu lama. Bahkan aku sudah merasa cemas, bahwa aku pun akan mendapat ancaman seperti yang terjadi atasmu.” Damar menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba saja ia berpaling ke arah Jati

Wulung sambil berkata, “Aku pernah menyebut sebuah nama kepada orang yang pernah datang sebelumnya. Ambillah pamanku ini.”

Orang itu termenung sejenak, lalu sambil menggeleng ia berkata, “Tidak mungkin Ki Sanak. Hanya keluarga dalam saluran darah pertama sajalah yang dapat dikorbankan. Namun usulmu ternyata sangat menarik. Semula aku mengira, ketika aku mendengar bahwa kau telah mengusulkan agar pamanmu diambil, kau memang dalam

kebingungan. Tetapi ketika sekarang aku melihat orang yang kau maksud dengan pamanmu itu, maka aku mempunyai dugaan lain. Apakah maksudmu ini justru satu tantangan? Pamanmu menyandang pedang dilambung.”

Damar mengerutkan keningnya. Ternyata orang itu terlalu cerdas, sehingga dengan demikian, maka Damarpun menduga bahwa orang itu adalah orang yang memiliki ilmu yang tinggi.

“Ki Sanak,”berkata Damar. “Ternyata ketajaman nalarmu membuat aku kagum kepadamu. Tetapi apa boleh buat. Sudah barang tentu tidak akan ada orang yang dengan suka rela menyerahkan salah seorang keluarganya untuk dibunuh. Karena itu, maka aku tidak akan dapat mengatakan, siapakah yang akan aku serahkan,” Damar berhenti sejenak, lalu katanya pula, “Ki Sanak. Apa yang akan kau lakukan jika hal seperti ini dipaksakan atasmu.”

Orang itu menjadi tegang. Namun tiba-tiba ia menjadi garang, “Damar. Aku tidak mempunyai banyak waktu. Sebut satu nama dalam lingkungan keluargamu. Atau biarlah aku masuk dan mengambilnya siapapun yang pertama aku jumpai.” “Baiklah,” berkata Damar. “Kau memang sudah terlalu lama disini. Kau mulai membosankan aku. Karena itu pergilah.”

Wajah orang itu menjadi merah. Dengan nada tinggi ia berkata, “Damar. Apakah kau sudah menjadi gila? Aku adalah utusan Ki Rangga Gupita. Ternyata kau menjawab sekehendak hatimu, bukankah kau sudah menyinggung harga diriku.”

“Baiklah aku berterus terang Ki Sanak. Aku tidak dapat memenuhi keinginanmu, menyerahkan seorang anggota keluargaku untuk dibantai tanpa kesalahan. Yang bersalah atau lebih tepatnya, yang dianggap bersalah adalah aku. Bukan keluargaku. Karena itu yang harus dihukum adalah aku. Itu pun jika Ki Rangga berhak menghukumku,” berkata Damar.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Nampaknya Damar memang sudah siap menghadapi

keadaan. Karena itu, maka katanya, “Sekali lagi aku beritahukan, rumah ini sudah dikepung.”

Damar memandang orang itu dengan tajamnya. Tetapi tiba-tiba ia bertanya, “Siapa namamu. Aku sudah berada dilingkungan prajurit Jipang sejak semula, tetapi

rasa-rasanya aku belum mengenalmu.”

“Tidak ada kesempatan untuk berbicara tentang diriku,” berkata orang itu. “Beri

aku kesempatan memasuki rumahmu dengan cara yang baik dan membunuh orang yang pertama aku jumpai. Jika kau memilih jalan lain, maka akibatnya pun akan lain.

Aku mendapat wewenang untuk menentukan sikap sesuai dengan keadaan yang aku hadapi disini. Bahkan mungkin akan terjadi sesuatu yang tidak dibayangkan sebelumnya, justru karena akan mendapat tantangan disini.”

“Sudahlah Ki Sanak,” berkata Damar. “Pergi sajalah, atau lebih baik jika kau menyerah. Kau akan mendapat tempat lebih baik dari tempatmu sekarang.”

Orang itu memandang Damar dengan penuh kecurigaan. Bahkan dengan nada dalam ia berkata, “Damar, apakah kau memang sudah berniat untuk berkhianat dengan tidak melakukan tugasmu dengan baik dan bersiap untuk melawan jika hukuman itu datang?”

Jawab Damar memang mengejutkan. Katanya, “Ya. Aku tidak akan ingkar. Aku sudah mengambil keputusan untuk tidak membunuh Risang dengan mempertanggungjawabkan

segala akibatnya, termasuk kedatangan kalian malam ini.”

“Kau jangan gila Damar,” berkata orang itu. “Kau tidak mempunyai kesempatan.” Tetapi Damar justru tertawa, katanya, “Aku tidak peduli, apakah rumah ini dikepung seperti yang kau katakan. Tetapi yang pasti, bahwa kalian berada di

tengah-tengah anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan. Anak-anak muda yang telah ditempa oleh keadaan, sehingga tanah ini menjadi sebuah Tanah Perdikan yang

keras dan tegar. Itulah sebabnya aku memutuskan untuk tetap berada di Tanah Perdikan ini untuk selanjutnya.”

“Persetan,” geram orang itu. “Jika demikian, maka aku tidak usah berpikir

terlalu lama. Aku tidak hanya akan mengambil seorang saja di antara keluargamu. Tetapi aku akan mengambil seluruhnya termasuk kau sendiri.”

“Kau tidak akan mampu melawan seisi padukuhan ini. Apalagi seluruh Tanah Perdikan,” jawab Damar.

Tetapi orang itu tidak menghiraukannya. Tiba-tiba saja ia telah menarik pedangnya langsung terayun ke leher Damar.

Hampir saja leher Damar tertebas. Ternyata bahwa Jati Wulung memiliki naluri yang lebih tajam dari Damar, karena ilmunya yang memang terlalu tinggi bagi Damar, sehingga Jati Wulung sempat menariknya. Dengan demikian maka pedang orang

itu sama sekali tidak mengenainya.

Damar yang tergeser itu telah menarik parangnya pula. Namun sementara itu, orang yang bertubuh tinggi kekar itu telah memberikan isyarat kepada orang-orangnya.

Sebuah suitan nyaring telah membelah sepinya malam di halaman.

Orang-orang yang mengepung rumah itu pun tiba-tiba telah menghambur ke pintu dan menyerbu masuk.

Tetapi mereka tidak sempat memasuki pintu. Dari dalam, pemimpin kelompoknya telah terdorong keras sekali membentur kawan-kawannya sehingga mereka jatuh berguling keluar pintu.

Lima orang telah berloncatan bangkit dan bersiap menghadapi segala kemungkinan, sementara itu lima orang lainnnya telah bergeser pula mendekat.

Dalam pada itu, kelima orang itu mendengar pemimpin kelompok yang harus membunuh

itu berkata kepada Damar dengan suara gemetar oleh kemarahan, “Pengkhianat. Aku tidak akan membunuh satu orang. Tetapi semua orang termasuk kau.”

Jati Wulung dan Damar yang kemudian juga pergi keluar berdiri tegak sambil mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Dalam ketegangan itu terdengar Damar berkata, “Aku sudah mengambil sikap. Karena itu menyerah sajalah. Tidak ada gunanya kau dan orang-orangmu melawan. Sebentar lagi kami akan membunyikan isyarat dan anak-anak muda seluruh padukuhan dan bahkan Tanah Perdikan ini akan datang.” “Persetan,” geram pemimpin kelompok itu, “Aku hanya membutuhkan waktu sekejap untuk membunuhmu.”

Damar tidak sempat berbicara lagi. Pemimpin kelompok itu telah mendekat sambil mengacungkan pedangnya. Demikian pula keempat orang yang lain.

Namun dalam pada itu, ayah Damar yang berada di dalam rumah itu telah mendengar suara ribut di luar. Menurut perhitungannya, anaknya tentu sudah mulai bertempur melawan orang-orang yang datang itu. Karena itu, maka ia pun kemudian berkata kepada istrinya dan anak-anaknya, “Tinggallah disini. Aku akan keluar. Tutup kembali pintu penyekat itu dan pasang selaraknya. Masih ada beberapa pucuk senjata. Kau pegang tombak itu Nyi, biarlah anak-anakmu membawa pedang.

Tungguilah pintu itu. Jika ada orang yang memaksa membukanya dari luar, pukul kenthongan itu, sementara yang lain menjaga di depan pintu. Begitu orang itu berhasil memecahkan pintu dan mamaksa masuk, maka ujung tombak dan pedang itu harus kau pergunakan sambil menunggu bantuan yang datang.”

“KENAPA tidak dibunyikan sekarang saja kakang?” bertanya istrinya. “Aku akan melihat dahulu, apa yang terjadi diluar,” berkata ayahnya. Demikianlah, ayah

Damar itu keluar sambil membawa tombak, sementara itu istrinya dan kedua anaknya telah memegang senjata pula. Demikian suaminya keluar, maka pintu pun telah ditutup dan diselarak kembali.

“Kau siap di dekat kenthongan,” perintah ibunya kepada anak perempuannya yang besar, “Jika kau dengar aba-aba, kau pukul sekuat-kuatnya dengan nada sebagaimana dipesankan oleh kakakmu Damar.”

Adik Damar yang besar itu mengangguk, sementara yang kecil menjadi gemetar meskipun ia memegang pedang. Ibunya yang sebenarnya juga ketakutan, berusaha untuk menyembunyikan perasaan takutnya, agar anak-anaknya tidak menjadi semakin gemetar.

Dalam pada itu, kelima orang yang akan membunuh itu pun sudah siap untuk menyerang, sementara Damar dan Jati Wulung berdiri disebelah menyebelah pintu. Pada saat yang demikian, maka ayahnya pun muncul sambil membawa tombak yang sudah merunduk.

Damar terkejut. Tiba-tiba saja ia berteriak, “Jangan keluar ayah. Biarlah ayah tetap di pintu.”

“Aku juga bekas pengawal Tanah Perdikan ini ketika aku muda,” berkata ayahnya. “Tombak ini adalah tombakku pada saa aku masih bertugas. Karena itu aku mampu mempergunakan sekarang.”

Namun Damar menjawab, “Meski demikian ayah tetap saja di pintu.”

“Ya,” jawab ayahnya. “Aku tahu. Dengan demikian aku tidak akan mendapat serangan dari samping dan dari belakang.”

“Setan,” geram pemimpin kelompok yang datang untuk membunuh. “Tua bangka itulah yang akan mati lebih dahulu sebagai tebusan kelambatanmu. Kemudian yang lain-lain dan aku bunuh sebagai tumbal pengkhianatan Damar terhadap cita-cita perjuangan kita.”

Ayah Damar itu ternyata seorang yang memiliki keberanian yang tinggi. Katanya, “Dalam keadaan terjepit seperti ini, yang paling baik bagi kita memang harus melawan. Kematian dalam perlawanan terhadap niat-niat jahat adalah kematian yang terhormat. Dan kehormatan adalah sesuatu yang bernilai tinggi.”

Pemimpin pengawal itu tidak sabar lagi. Ia pun kemudian mulai memberikan isyarat kepada orang-orangnya untuk mulai menyerang.

Namun dalam pada itu, kelima orang yang mendengar semua pembicaraan itu menjadi pasti bahwa Damar memang sudah berkhianat. Karena itu maka mereka pun telah memutuskan untuk ikut serta mengambil bagian.

Pemimpin kelompoknya itu pun berkata, “Ki Rangga tentu akan dapat menilai apa yang telah kita lakukan. Kita sudah dengan cepat mengambil sikap, demikian kita mengetahui bahwa Damar memang telah berkhianat.”

Dengan demikian, maka pemimpin kelompok itu telah memerintahkan kedua orangnya untuk melihat-lihat ke ruang dalam. Mereka tidak akan dapat masuk lewat pintu depan, karena di pintu itu berdiri ayah Damar dengan tombak ditangan. Karena

itu, mereka harus berusaha lewat pintu butulan, untuk seterusnya memberikan isyarat dari dalam jika mereka berhasil masuk.

Kedua orang itu tidak menunggu lebih lama. Mereka pun dengan cepat menyelinap lewat halaman samping menuju pintu butulan.

Dengan kasar mereka telah mencoba untuk membuka pintu butulan itu. Namun karena pintu itu diselarak, maka mereka harus berusaha untuk membuka dengan paksa.

Yang ada di dalam menjadi sangat ketakutan. Ibu Damar yang membawa tombak telah bergeser mendekati pintu dengan ujung tombak yang merunduk.

Tetapi anak perempuannya tidak lagi dapat menahan ketakutannya. Tiba-tiba saja tanpa menunggu isyarat dari siapapun juga, tangannya telah memukul kenthongan sekuat-kuatnya dengan nada sandi sebagaimana pernah dikatakan oleh Damar.

Suara kenthontan itu memang mengejutkan. Terutama orang-orang yang datang dalam dua kelompok itu. Mereka sadar, bahwa isyarat itu tentu akan mengundang para peronda di gardu.

mohon maaf....terpotong sedikit aja...

DUA orang anak muda yang pertama memasuki halaman rumah Damar itu pun telah berteriak, “Damar kami datang.” “Terima kasih,” teriak Damar pula. Namun kedua orang anak muda itu segera terhenti. Dua orang telah dengan serta merta menyerang mereka.

Tetapi kedua anak muda itu adalah pengawal-pengawal Tanah Perdikan Sembojan, sehingga dengan demikian, maka mereka pun dengan tangkasnya menghadapi lawan-lawannya.

Ketika dua orang anak muda yang lain datang pula, maka Damarlah yang berteriak, “Tolong, lihat pintu butulan.”

Kedua anak muda itu dengan sigapnya berlari kesamping. Mereka telah mengenal keadaan halaman rumah Damar, karena mereka memang sering berada di halaman rumah

itu, sebagaimana anak-anak muda saling berkunjung. Sehingga dengan demikian maka mereka pun telah tahu letak pintu butulan rumah Damar, bahkan pintu dapur sekalipun.

Pada saat yang demikian kedua orang yang berusaha membuka pintu butulan itu telah hampir berhasil. Keduanya kemudian telah mengambil ancang-ancang. Dengan sepenuh tenaga keduanya telah berlari dengan membentur pintu butulan itu, sehingga selarak pintu itu pun telah berderak patah.

Sejenak kemudian, maka seorang di antara keduanya itu telah menendang pintu sehingga pintu yang sudah tidak diselarak itu pun telah terbuka.

Namun orang itu terkejut. Demikian mereka melangkah ke pintu, maka mereka melihat ujung tombak mengarah kepada mereka.

“Jangan masuk,” terdengar suara perempuan mengancam.

Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian seorang di antara mereka berkata, “Letakkan tombak itu. Tombak itu tidak ada artinya bagi kami.”

Tetapi perempuan itu tidak mau melepaskannya. Nalurinya sebagai seorang ibu telah membuatnya kehilangan perasaan takut menghadapi apapun juga.

“Kau sadari, bahwa senjata itu justru akan membuatmu menjadi semakin sulit. Kami memang akan membunuh kalian. Tetapi dengan cara yang baik. Jika kalian melakukan hal-hal yang aneh-aneh, maka kami akan mengambil cara lain, yang barangkali sama sekali tidak kalian kehendaki,” geram salah seorang dari kedua orang itu.

Tetapi perempuan yang merasa wajib melindungi anak-anaknya itu berkata lantang, “Bunuh aku dahulu. Baru kau dapat menjamah anak-anakku.”

Kedua orang itu menjadi jengkel. Seorang di antara mereka berkata, “Apaboleh buat. Kita tidak mempunyai waktu banyak.”

Kedua orang itu sudah siap untuk melakukan pembunuhan yang sebenarnya. Namun pada saat keduanya mulai memencar, tiba-tiba dua orang telah meloncat masuk pula. Keduanya adalah pengawal yang memang datang untuk melihat pintu butulan sebagaimana diteriakkan oleh Damar. Ternyata bahwa memang ada orang yang telah dengan paksa membuka pintu butulan itu.

“Siapa kalian?” bertanya salah seorang pengawal itu.

KEDUA orang yang sudah berada di dalam itu tidak menjawab. Tetapi keduanya langsung menyerang kedua orang pengawal itu. Kedua orang pengawal itu kemudian telah memancing kedua orang itu untuk keluar dan turun ke halaman samping.

Dengan lantang salah seorang dari kedua pengawal itu berkata, “Disini kita dapat bertempur dengan leluasa.” “Persetan,” geram lawannya yang kemudian menyerangnya dengan garang.

Dua orang pengawal itu sudah siap menghadapi mereka. Karena itu, maka sejenak kemudian perkelahian pun telah terjadi di halaman samping. Semakin lama menjadi semakin sengit. Para pengawal yang sudah menempa diri itu berusaha untuk dapat mengimbangi kegarangan bekas prajurit Jipang itu.

Ternyata bahwa kemampuan dan pengalaman bekas prajurit Jipang itu lebih luas dari kedua pengawal yang masih muda itu. Apalagi bekas prajurit Jipang itu sudah

ditempa oleh keadaan yang membuat mereka menjadi semakin keras dan kasar. Karena itu, maka kedua pengawal itu pun harus bergeser surut sambil melindungi diri

mereka dari kegarangan lawan-lawannya.

Namun dalam pada itu, anak-anak muda padukuhan itu pun semakin lama menjadi semakin banyak yang memasuki halaman rumah Damar. Sementara itu, sepuluh orang yang dikirim oleh Ki Rangga dalam dua kelompok itu semuanya telah terlibat dalam pertempuran yang semakin seru. Apalagi di antara anak-anak muda Sembojan terdapat Jati Wulung yang memiliki kelebihan bukan saja atas anak-anak muda Sembojan, tetapi juga atas bekas para prajurit Jipang.

Karena itu, maka meskipun seorang-seorang para bekas prajurit Jipang itu memiliki pengalaman dan ilmu yang lebih baik dari para pengawal, namun jumlah para pengawal itu ternyata makin lama menjadi semakin banyak.

“Gila,” geram pemimpin kelompok yang mendapat tugas untuk membunuh keluarga Damar itu, “Kalian datang seperti laron masuk ke dalam api. Di halaman ini akan berhamburan mayat dari para pengawal dan anak-anak muda yang dungu itu. Kalian tidak tahu, dengan siapa kalian berhadapan.”

Tetapi Jati Wulunglah yang menjawab, “Ki Sanak. Jangankan hanya sejumlah kecil orang-orang yang kasar dan liar seperti kalian. Seluruh kekuatan bekas prajurit Jipang yang berbaur dengan bekas-bekas orang-orang Kalamerta telah terusir dari Tanah Perdikan ini.”

“Persetan,” geram orang itu.

Namun sebenarnyalah pemimpin kelompok itu tidak mampu mengatasi kemampuan Jati

Wulung.

Dalam pada itu, Jati Wulung sendiri tidak merasa perlu untuk dengan serta merta membinasakan orang itu. Ia sudah melukai seorang di antara mereka. Namun Jati Wulung menganggap bahwa Sembojan memerlukan orang-orang itu dalam keadaan hidup.

Karena itu, maka mereka telah dijebak untuk memasuki halaman rumah Damar dan Saruju.

Ternyata bahwa pemimpin pengawal padukuhan itu pun telah menerima keterangan serupa. Itu sebabnya, maka ia pun telah memerintahkan, agar jika tidak terpaksa sekali, para pengawal jangan membunuh lawan-lawannya.

Pada waktu yang tidak terlalu lama, maka halaman rumah Damar telah dikepung rapat. Para pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang datang bukan saja dari padukuhan itu, tetapi juga dari padukuhan-padukuhan yang lain, sehingga dengan demikian maka sepuluh orang akan menghadapi sejumlah pengawal yang berlipat ganda banyaknya.

Untuk beberapa saat lamanya, masih terjadi pertempuran yang seru di halaman rumah itu. Sepuluh orang termasuk yang terluka, telah mengamuk sejadi-jadinya. Mereka menganggap bahwa para pengawal tidak akan dapat menahan mereka.

Namun ternyata bahwa perhitungan mereka salah. Meskipun seorang demi seorang para bekas prajurit Jipang itu memiliki kelebihan, namun anak-anak muda yang datang memasuki halaman itu menjadi semakin banyak. Karena itu, maka untuk melawan para pengawal yang jumlahnya bertambah-tambah itu, maka rasa-rasanya sepuluh orang utusan Ki Rangga Gupita itu tidak akan sanggup.

Karena itu, maka mereka berusaha mencari jalan lain. Karena mereka menganggap bahwa usaha mereka telah gagal, maka mereka berusaha untuk melepaskan diri dari tangan para pengawal. Itu sebabnya, maka mereka telah dengan susah payah berusaha untuk melarikan diri.

NAMUN halaman rumah itu terkepung rapat. Karena itu, maka tidak ada jalan seujung jarum pun yang dapat ditembusnya untuk menyingkir dari halaman rumah Damar. Dengan demikian, maka kesepuluh orang itu tidak mempunyai jalan sama sekali. Mereka tidak dapat melarikan diri, namun mereka juga tidak dapat menembus perlawanan anak-anak muda Tanah Perdikan.

Namun justru dalam keadaan yang tidak berpengharapan lagi, maka kesepuluh orang itu telah menjadi liar. Mereka menjadi kasar dan bahkan menjadi buas. Tanpa mengekang diri mereka berusaha untuk membunuh lawannya sebanyak-banyaknya sebelum mereka sendiri akan mati.

Tetapi mereka tidak dapat melakukannya. Bahkan para pengawal Tanah Perdikan itu mulai menjadi marah oleh sikap orang-orang kasar itu, sehingga dalam pertempuran berikutnya kadang-kadang disengaja ujung-ujung senjata telah menggores ditubuh lawannya.

Apalagi ketika beberapa orang pengawal Tanah Perdikan Sembojan telah terluka.

Maka rasa-rasanya kawan-kawannya menuntut agar orang-orang yang membayar utang mereka sampai lunas. Utang darah harus dibayar dengan darah.

Tetapi setiap kali para pengawal itu masih juga teringat pesan bahwa mereka memerlukan orang-orang itu tertangkap hidup-hidup.

Namun seorang pengawal yang terluka lambungnya oleh goresan pedang lawannya tidak menghiraukannya. Meskipun tubuhnya semakin lemah, tetapi kemarahannya telah mendorongnya untuk bertempur terus dan menebus luka itu dengan korban pada pihak lawan.

Namun dalam pada itu, darahnya justru semakin banyak mengalir, sehingga sebelum ia berhasil membunuh, rasa-rasanya ia tidak kuat lagi untuk bertempur terus.

Bahkan keseimbangannya pun mulai terganggu.

Justru hampir saja lawannyalah yang mengakhiri perlawanannya. Tetapi dua orang pengawal yang lain dengan sigapnya menggantikan kedudukannya, sementara kawannya yang lain lagi sempat menolong pengawal itu dan membawanya menepi.

Namun darah memang sudah terlalu banyak keluar. Karena itu, maka seakan-akan langit dengan bintang gemintangnya itu pun telah berputar semakin lama menjadi semakin kabur. Akhirnya pengawal itu pun menjadi pingsan ketika seorang tabib sibuk mengobati luka-lukanya yang agak dalam dilambungnya.

Dua orang pengawal yang menggantikannya pun merasa marah sekali. Namun seorang di antara para pengawal itu berkata, “Sudahlah, menyerahlah.”

“Persetan,” geram orang itu. “Seorang demi seorang kalian akan mati seperti kawanmu itu.”

Tetapi belum lagi bibirnya terkatub, maka kedua orang pengawal itu telah menyerang bersama-sama.

Orang yang bekas prajurit Jipang itu terkejut melihat kecepatan gerak kedua

orang lawannya. Namun ia sempat mengelakkan serangan-serangan itu. Bahkan ketika ia merendah menghindari ayunan mendatar senjata seorang pengawal muda itu, ia sempat menjulurkan senjata lurus-lurus sehingga ujung senjata itu sempat

menyentuh dadanya sebelah kanan. Meskipun goresan itu tidak terlalu dalam, tetapi rasa-rasanya pedih juga ketika keringat mulai menyentuh luka itu.

Kemarahan pengawal itu pun telah sampai ke puncak. Berdua ia menyerang lawannya. Bahkan seorang pengawal yang lain telah mendekati mereka pula dan sempat memperingatkan kawannya yang darahnya mulai mengucur dari lukanya itu.

“Aku akan membalasnya,” geram pengawal yang terluka itu.

Bekas prajurit Jipang itu tidak mampu bertahan terlalu lama ketika ia bertempur melawan tiga orang sekaligus. Karena itu, maka ia pun mulai terdesak. Bahkan pengawal yang marah dan tergores ujung senjata itu tidak memberi kesempatan. Pada saat kawannya menyerangnya, serta pedang lawannya itu terayun menangkis serangan kawannya, maka pengawal yang terluka itu telah meloncat dengan tangkasnya. Sambil menahan pedih, maka ia telah menjulurkan pedangnya dan langsung mengenai tubuh lawannya itu, tepat di pundaknya.

Lawannya mengeluh tertahan. Pundaknya rasa-rasanya telah koyak. Sementara rasa-rasanya urat nadinya telah terpotong pula, sehingga tangannya tidak lagi dapat digerakkan, justru tangan kanannya.

ORANG itu mengumpat kasar. Tetapi ketika ia berusaha memindahkan senjatanya ketangan sebelah kirinya, maka ia telah lengah pula sekejap. Ujung senjata lawannya yang lain telah tergores di punggungnya.

Bekas prajurit Jipang itu terhuyung-huyung selangkah maju. Ternyata luka dipunggung itu memanjang dari sebelah kiri ke sebelah kanan. Terasa luka itu pun menjadi sangat pedih dan darah yang hangat telah meleleh semakin deras.

Bekas prajurit Jipang itu memang menjadi putus asa. Namun justru karena itu, maka ia pun kemudian telah mengamuk dengan buas dan liar.

Namun ujung tombak seorang pengawal yang tidak tahan melihat keadaannya telah mengakhiri penderitaannya. Bekas prajurit Jipang itu terbunuh oleh ujung tombak di dadanya menembus jantung.

Ketika bekas prajurit itu terjatuh dan tidak bernafas lagi, pengawal yang

bersenjata tombak itu termangu-mangu. Kawan-kawannya pun memperhatikan untuk beberapa saat.

“Aku tidak ingin membunuhnya,” berkata pengawal itu. “Tetapi tidak ada cara lain untuk menghentikan perlawanannya yang gila itu.”

“Mudah-mudahan tidak semuanya menjadi gila seperti orang itu,” desis yang lain. “Sehingga kita benar-benar dapat menangkap mereka hidup-hidup untuk mendapat keterangan serba sedikit tentang Ki Rangga dan Nyi Wiradana.”

“Tetapi bukan berarti bahwa kita lebih baik memberi peluang baginya untuk membunuh kita,” berkata pengawal yang terluka itu.

Tidak ada yang menjawab. Kawan-kawannya mengerti bahwa pengawal yang terluka itu benar-benar marah.

Namun sejenak kemudian tubuh pengawal yang banyak kehilangan darah itu menjadi lemah pula, sehingga kawannya telah memapahnya keluar dari arena dan dibaringkannya di pinggir halaman itu untuk mendapatkan pengobatan.

Sementara itu pertempuran masih berkobar terus. Bekas prajurit Jipang yang telah ditempa oleh banyak sekali kesulitan dan bahkan kemalangan, tidak mau menghentikan perlawanan mereka, meskipun mereka mengerti bahwa perlawanan mereka

itu sia-sia.

Dalam pada itu, ketika isyarat itu terdengar sampai ke rumah Saruju, maka dengan serta merta Saruju telah mempersiapkan diri untuk pergi ke rumah Damar. Sambil menjinjing pedangnya ia berkata, “Aku harus membantunya.”

Namun Sambi Wulung telah mencegahnya. Katanya, “Siapa tahu, bahwa malapetaka itu nanti justru akan terjadi disini.”

Saruju menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya, “Apakah aku akan membiarkan Damar dalam kesulitan? Jika ia membunyikan isyarat, itu berarti bahwa ia memerlukan bantuan.”

“Bukankah para pengawal di gardu-gardu telah cukup banyak sehingga mereka akan berdatangan ke rumah Damar?” bertanya Sambi Wulung.

Saruju memang menjadi ragu-ragu. Jika ia meninggalkan rumah itu, apalagi bersama Sambi Wulung dan kemudian ada tiga atau empat orang utusan Ki Rangga datang ke rumah itu, maka keluarganyalah yang akan mengalami bencana. Karena itu, maka ia pun kemudian bertahan untuk tetap berada di rumahnya bersama Sambi Wulung menunggu keluarganya yang menjadi sangat gelisah pula.

Ibunya yang gemetar seakan-akan tidak mau melepaskan pegangannya pada tangan ayahnya, sementara adik-adiknya pun menjadi tegang dan menggigil pula. Namun Sambi Wulunglah yang menentramkan hati mereka dengan sikapnya yang tegas dan berwibawa itu.

Dalam pada itu pertempuran di rumah Damar pun masih terjadi terus. Para pengawallah yang mengalami kesulitan untuk dapat menangkap mereka hidup-hidup. Perlawanan orang-orang itu cukup keras dan kasar, sehingga kadang-kadang para pengawal itu pun terdesak surut, sehingga mereka dengan terpaksa sekali melumpuhkan perlawanan bekas prajurit Jipang itu. Dalam keadaan yang demikian memang sulit bagi para pengawal untuk dapat membatasi diri sampai pada sikap sebagaimana seharusnya mereka lakukan.

Pesan-pesan telah diberikan oleh para pemimpin mereka sebelum mereka sempat melihat, apa saja yang telah dilakukan oleh para bekas prajurit Jipang itu di Tanah Perdikan Sembojan.

Dengan demikian maka memang ada beberapa orang bekas prajurit Jipang itu terbunuh.

SEMENTARA itu Jati Wulung tengah bertempur melawan pemimpin kelompok dari orang-orang yang mendapat tugas untuk membunuh itu. Ketika Jati Wulung melihat kehadiran para pengawal dalam jumlah yang banyak, maka Jati Wulung berpendapat, bahwa dirinya sendiri tidak terlalu perlu sekali menyelesaikan pertempuran itu dengan cepat. Namun ia akan membuat lawannya letih dan kemudian menghentikan perlawanan tanpa terus membunuh orang itu.

Ternyata usaha Jati Wulung itu tidak semudah yang diperkirakan. Pemimpin kelompok itu memang berilmu. Apalagi dalam keadaan putus asa ia bertempur

mati-matian. Namun Jati Wulung sebenarnya memiliki banyak kelebihan daripadanya, sehingga karena itu, maka apapun yang dilakukan oleh orang itu tidak akan mengacaukan sikap Jati Wulung. Karena itu, jika Jati Wulung kemudian menjadi gelisah, bukan karena ia mulai terdesak, tetapi ia harus menemukan cara untuk mengalahkan lawannya tanpa harus membunuhnya.

Tetapi lawannya itu bagaikan seekor harimau luka yang mengamuk tanpa perhitungan dan pertimbangan lagi. Namun Jati Wulung ternyata jauh lebih mengendap dari para pengawal. Dengan demikian, maka ia berusaha sebaik-baiknya untuk tidak membunuh lawannya yang sangat diperlukan keterangannya tentang kehidupan dan kelompok-kelompok yang masih berada dibawah Ki Rangga dan Warsi.

Dalam pada itu, para pengawal yang sedang bertempur itu pun merasa terlalu sulit untuk dapat menangkap lawannya hidup-hidup. Namun ada juga pengawal yang mempunyai akal. Pengawal yang bersenjatakan tombak tidak mempergunakan ujung

tombaknya. Tetapi mereka mempergunakan landean tombaknya justru sebagai pemukul.

Dalam keadaan yang sulit dari seorang bekas prajurit Jipang itu, maka pengawal

yang bersenjata tombak itu telah mendekatinya dan mengayunkan landean tombaknya untuk memukul tengkuk lawannya itu.

Bekas prajurit Jipang itu pun menjadi pingsan. Namun ternyata ada juga yang

salah hitung. Seorang pengawal yang membuat landean tombaknya dari kayu berlian, mengayunkan terlalu keras sehingga justru tulang kepala orang itu menjadi retak, sehingga keadaan bekas prajurit Jipang itu menjadi sangat gawat.

Namun dalam pada itu, di antara sepuluh orang bekas prajurit Jipang itu, yang jelas sudah tertangkap hidup-hidup terdapat tiga orang. Para pengawal telah

mengikat tangannya di punggung dan membawanya ke serambi rumah Damar. Para pengawal memaksa mereka untuk duduk dengan kaki terselunjur, agar mereka tidak lagi mampu mengubah keputusannya dan kemudian membunuh dirinya. Beberapa orang

pengawal mendapat tugas untuk mengawasi mereka. Sementara yang lain masih akan berusaha untuk mengatasi keadaan.

Tetapi yang juga sudah pasti adalah bahwa empat orang bekas prajurit Jipang itu terbunuh. Sementara yang lain masih juga dengan gila bertempur tanpa menghiraukan keadaan yang mereka hadapi. Mereka sama sekali tidak menghiraukan kenyataan. Tetapi mereka benar-benar tengah membabi buta.

Dalam keadaan yang rumit bagi para pengawal yang ingin menangkap orang-orang yang tersisa itu hidup-hidup, para pengawal memang mendapat kesulitan. Sementara itu Jati Wulung pun sedang berusaha untuk melumpuhkan lawannya yang bagaikan menjadi gila itu.

Pada saat yang demikian itulah Gandar baru datang. Ia memang tidak terburu-buru, karena ia yakin akan kemampuan para pengawal bergerak cepat. Namun Gandar tidak pernah menduga, bahwa yang memasuki Tanah Perdikan dan langsung menuju ke rumah

Damar itu terdiri dari sepuluh orang.

Ketika Gandar mendengar isyarat yang merambat dari padukuhan ke padukuhan, ia sempat melaporkan kemungkinan lebih dahulu kepada Iswari. Baru kemudian setelah ia mendapat beberapa petunjuk, maka ia harus menuju ke padukuhan tempat Damar tinggal.

Petunjuk Iswari antara lain sebagaimana pernah juga dipesankan oleh Gandar kepada Jati Wulung dan para pengawal, agar mereka menangkap para pengikut Ki Rangga itu hidup-hidup.

KETIKA Gandar kemudian memasuki arena, maka ia melihat bahwa pertempuran masih terjadi. Beberapa orang pengawal, sedang berusaha untuk menjinakkan lawan-lawan mereka yang menjadi liar dan buas. Sementara itu Jati Wulung sendiri hampir kehabisan kesabaran. Namun dengan benturan-benturan kekuatan yang terus-menerus, akhirnya Jati Wulung berhasil membuat lawannya menjadi sangat letih.

Meskipun demikian pemimpin kelompok itu masih mengumpat dan menyerang dengan sisa-sisa kekuatannya. Namun Jati Wulung tidak menghindarinya. Ia telah

menangkis setiap serangan lawannya. Dengan senjata yang terlalu sering

berbenturan itu membuat tangan lawannya itu menjadi pedih. Tenaganya pun menjadi seakan-akan telah terkuras untuk mengayunkan senjatanya, namun yang kemudian membentur senjata Jati Wulung.

Pada saat lawannya sudah menjadi semakin lemah, maka Jati Wulung pun berusaha dengan hati-hati melemparkan senjata orang itu. Ia merasa perlu melakukannya, agar senjata itu tidak dalam keadaan yang tidak lagi dapat diatasi akan dipergunakan untuk membunuh diri. Agaknya orang itu merasa lebih baik mati daripada jatuh ketangan orang-orang Sembojan.

Gandar yang sudah berada di halaman itu menyaksikan apa yang akan dilakukan oleh Jati Wulung. Menilik sikapnya, Gandar dapat membaca rencana Jati Wulung itu. Dan Gandar pun sependapat, bahwa hal itulah yang paling baik dilakukan.

Karena itulah maka disaat-saat berikutnya, justru Jati Wulunglah yang berusaha menyerang lawannya dengan keras. Ayunan pedang Jati Wulung mendatar terarah dengan kerasnya. Namun lawannya masih sempat bergeser sambil menyilangkan pedangnya. Ketika benturan yang keras terjadi, terasa genggaman pemimpin kelompok itu atas senjatanya mulai goyah. Namun Jati Wulung tidak berhenti sampai sekian. Sejenak kemudian ia telah memutar pedangnya yang kemudian mematuk ke arah jantung. Sekali lagi lawannya meloncat surut. Tetapi Jati Wulung tidak melepaskannya. Ujung pedang itu telah memburu lawannya pada arah yang tetap. Karena itulah maka lawannya telah berusaha menangkis serangan itu. Agaknya Jati Wulung memang menunggu kesempatan

itu. Dengan cepat dan kuat, ia memutar pedangnya pada saat benturan terjadi. Dengan demikian, maka senjata lawannya itu bagaikan terputar oleh pedang Jati Wulung.

Orang yang sudah menjadi semakin lemah itu, ternyata tidak mampu lagi menahan getaran putaran pedang Jati Wulung. Itulah sebabnya, maka senjatanya telah terlempar beberapa langkah dari tangannya.

Orang itu memang terkejut. Namun dengan serta merta ia berusaha meloncat untuk menggapai senjatanya. Namun Jati Wulung pun telah meloncat pula. Dengan kakinya ia telah menghantam orang itu sehingga orang itu terpental beberapa langkah dan jatuh berguling.

Ketika orang itu berusaha untuk bangkit, maka tiba-tiba saja geraknya terhenti. Ujung pedang Jati Wulung telah melekat di dadanya.

Jati Wulung sadar, bahwa orang itu pada dasarnya tidak takut mati. Tetapi demikian terasa ujung pedang yang tajam menyentuh dadanya, dengan dorongan kesadaran naluriah, maka orang itu pun telah diam membeku.

“JANGAN berbuat sesuatu yang dapat mencelakai dirimu,” ancam Jati Wulung. Pemimpin kelompok itu benar-benar membeku. Beberapa orang pengawal yang bergerak

untuk mengerumuninya, telah disingkirkan oleh Gandar sambil berdesis, “Jangan kerumuni orang itu. Ia akan merasa direndahkan, sehingga mungkin ia akan mencari kesempatan untuk membunuh diri.”

Para pengawal pun kemudian telah menjauhinya. Tetapi masih banyak sasaran untuk mereka lihat. Beberapa orang telah terbaring tanpa dapat bangkit lagi. Namun ada juga di antara mereka yang pingsan dan bahkan ada yang sudah terikat diserambi.

Dalam pada itu, ternyata pemimpin kelompok yang bertugas untuk sekadar mengamati keadaan adalah salah seorang dari antara mereka yang terbunuh.

Dalam pada itu, maka Jati Wulung yang telah berhasil menguasai lawannya itu berusaha untuk tetap dapat mempengaruhinya. Sesuai dengan sifat dan watak orang itu, maka Jati Wulung pun telah bertindak keras pula.

Dengan menghentakkan lengannya Jati Wulung menarik orang itu sambil membentak, “Cepat. Bangkit. Jangan merajuk seperti perempuan.”

Orang itu tidak dapat berbuat lain. Ia pun kemudian dengan susah payah berusaha untuk bangkit. Dengan kasar Jati Wulung mendorong orang itu ke tempat yang tidak terlalu banyak berkerumun para pengawal. Baru kemudian ia memberi isyarat kepada seorang pengawal untuk mendekat.

“Ikat tangannya,” perintah Jati Wulung.

Orang itu termangu-mangu. Ia belum membawa pengikat apapun. Namun Jati Wulung berkata keras, “Ambil ikat kepalamu.”

Pengawal itu terkejut. Namun ia pun kemudian telah membuka ikat kepalanya. Dengan agak ragu ia kemudian mengikat tangan pemimpin gerombolan itu dengan ikat kepalanya. Kecuali ia harus berhati-hati agar orang yang diikat tangannya itu

tidak membuat gerakan yang dapat mencelakainya, pengawal itu pun merasa sayang, karena ikat kepalanya adalah ikat kepala yang masih baru.

Namun ia tidak dapat menolak. Ia mengikat tangan orang itu erat-erat.

“Marilah,” berkata Jati Wulung kepada orang itu sambil menyentuh dadanya dengan ujung pedang, “Kita pergi ke serambi.”

Orang itu tidak melawan. Jati Wulung telah membawanya ke serambi. Tetapi Jati Wulung tidak menempatkannya di tempat yang sama dengan orang-orangnya yang lain.

Pemimpin kelompok itu telah didudukkan di atas sebuah amben bambu. Kemudian ia memerintahkan tiga orang pengawal untuk mengamatinya dengan pedang terhunus. “Hati-hatilah dengan kakinya,” berkata Jati Wulung ditelinga salah seorang di

antara para pengawal, “Kakinya tidak terikat. Beritahu kawan-kawanmu. Karena itu, jangan terlalu dekat.”

Pengawal itu mengangguk-angguk. Namun Jati Wulung masih berbisik, “Jika orang itu berusaha melarikan diri, teriakkan namaku. Aku akan segera datang. Kalian tidak akan mampu mencegahnya meskipun tangannya terikat. Apalagi jika kekuatan telah pulih kembali dan kemudian berhasil memutuskan tali itu.”

Pengawal itu menjadi tegang. Tetapi Jati Wulung berkata, “Gandar ada di halaman ini juga bukan?”

Pengawal itu tidak menjawab. Namun sejenak kemudian Jati Wulung pun telah pergi menemui Gandar. “Aku berhasil menangkap pemimpinnya dalam keadaan hidup,” berkata Jati Wulung. “Bagus,” berkata Gandar. “Mudah-mudahan kita akan dapat mendengar dari mulut mereka, dimana Ki Rangga sekarang bersembunyi bersama Warsi. Jika mereka berada terlalu jauh dari Tanah Perdikan itu, maka kita dapat berhubungan dengan Pajang untuk bersama-sama menghancurkannya. Karena jika mereka masih mempunyai kekuatan

betapapun kecilnya mereka masih akan berbuat aneh-aneh di Tanah Perdikan ini. Terutama sasarannya diarahkan kepada Risang.”

Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun ia pun berdesis, “Atau barangkali juga Damar dan Saruju.”

“Itu bukan pokok persoalan mereka,” jawab Gandar. “Hal itu dilakukan sekadar untuk memaksa Damar dan Saruju mempercepat usaha mereka membunuh Risang.”

JATI WULUNG termangu-mangu. Namun kemudian ia bertanya, “Sekarang, bagaimana dengan pemimpin kelompok yang tertangkap itu?” Gandar termenung sejenak. Namun kemudian katanya, “Orang itu harus mendapat perlakuan khusus. Setiap saat ia

dapat dijangkiti keinginan untuk mati.”

“Ya,” berkata Jati Wulung. “Apakah kita bawa saja orang itu ke rumah Nyi Wiradana. Bukankan disana kemungkinan pengamatannya akan lebih baik.”

Gandar mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Tetapi pemeriksaan terhadap dirinya harus dilakukan segera. Secepat dapat kita lakukan.”

Jati Wulung dan Gandar pun kemudian sepakat untuk membawa mereka yang tertangkap

ke rumah Kepala Tanah Perdikan itu untuk segera diperiksa sampai tuntas, meskipun mereka tahu, terhadap pemimpin kelompok itu agaknya mereka akan mengalami kesulitan.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Gandar dan Jati Wulung telah bersiap untuk membawa pemimpin kelompok itu. Bahkan Gandar telah minta agar Damar ikut pula bersamanya.

“Rumahmu akan dijaga oleh para pengawal,” berkata Gandar. “Mereka akan memberikan isyarat jika terjadi lagi sesuatu.”

Bagaimanapun juga Damar merasa ragu-ragu. Namun kemudian telah memberitahukan kepada orangtuanya bahkan ia akan mengikut Gandar dan Jati Wulung ke rumah Nyi Wiradana.

“Apakah tidak akan mungkin datang orang lain lagi ke rumah ini Damar?” bertanya ibunya.

“Para pengawal akan tetap berada disini,” jawab Damar. “Tetapi jangan terlalu lama ya kang,” minta adiknya.

Damar menepuk pundak adiknya itu sambil menjawab, “Aku akan segera pulang.” “Tetapi jangan sendiri,” pesan ayahnya.

Damar mengangguk-angguk. Ia mengerti bahwa berjalan sendiri dalam keadaan seperti itu memang sangat berbahaya. Tidak seorang pun tahu, apakah memang hanya orang-orang yang ada di halaman itu sajalah yang telah dikirim oleh Ki Rangga

dan Warsi hari itu.

Namun membawa pemimpin kelompok orang-orang yang mendapat tugas di Tanah Perdikan Sembojan itu memang sulit. Orang itu memang merasa lebih beruntung jika ia mati saja dalam pertempuran itu. Tetapi ternyata bahwa ia telah tertangkap

hidup-hidup.

Tetapi diapit oleh Gandar dan Jati Wulung orang itu memang tidak dapat berbuat

apa-apa. Sementara itu Damar dan beberapa orang pengawal yang lain telah membawa tawanan yang lain pula, sementara para pengawal yang tinggal dan orang-orang

lain yang dapat pula ke rumah Damar serta para tetangga telah merawat mereka yang luka-luka dan yang telah terbunuh di pertempuran itu.

Ternyata malam itu merupakan malam yang menggemparkan seisi Tanah Perdikan. Semua padukuhan di Tanah Perdikan telah bersiaga. Namun ternyata pertempuran yang terjadi hanya terbatas di halaman rumah Damar, di salah satu dari

padukuhan-padukuhan yang tersebar di Tanah Perdikan Sembojan.

Ternyata orang-orang Tanah Perdikan Sembojan itu bertindak cepat. Mereka hanya sempat beristirahat sejenak, ketika kemudian di hari berikutnya Iswari sendiri

akan berbicara dengan pemimpin kelompok yang akan membunuh keluarga Damar, karena Damar tidak melakukan tugas yang dibebankan kepadanya pada batas waktu yang ditentukan.

Tetapi Iswari tidak membiarkan orang-orang yang tidak berkepentingan ikut mendengarkan. Yang ada disebuah bilik khusus itu hanyalah Iswari sendiri, Damar dan Saruju yang juga dipanggilnya, Gandar, Jati Wulung, Sambi Wulung dan kegika orang kakek Iswari, Kiai Badra, Kiai dan Nyi Soka. Sementara itu Bibi mendapat tugas khusus menunggui Risang bermain pada hari itu.

Namun untuk menjaga segala kemungkinan, maka rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan hari itu telah dijaga dengan lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Dipintu-pintu butulan pada dinding halaman terdapat dua orang pengawal yang siap, sementara itu di gardu telah siap pula beberapa orang pengawal.

Pemimpin kelompok yang duduk ditengah ruangan, di atas sehelai tikar pandan yang putih itu menjadi berdebar-debar juga. Betapa tebal keberanian dan tekad untuk menunjukkan kesetiaannya kepada Ki Rangga dan Warsi yang masih berjuang tanpa mengenal putus asa bagi pulihnya kejayaan Jipang.

NAMUN ketika orang itu mulai mendengar cara Iswari berbicara dan melihat sikapnya yang lembut, maka ia mulai melihat perbedaan yang sangat besar antara kedua istri Ki Wiradana. Yang seorang nampak lembut, sepenuhnya sebagai seorang perempuan dan bahkan keibuan, pandangannya yang luruh bagaikan sejuknya

titik-titik embun didedaunan. Sementara Warsi nampak garang, keras dan bahkan kasar. Bahkan terhadap anaknya sendiri yang masih sangat muda.

Tetapi kedua-duanya adalah orang yang cantik dengan pembawaannya masing-masing. Sementara itu kehadiran Damar dan Saruju di ruang itu juga membuat orang itu berdebar-debar. Keduanya akan dapat menyangkal hal-hal yang tidak benar jika ia berbohong. Namun satu hal yang menguntungkan bagi orang itu, Damar dan Saruju tidak berada di sarang yang sama dengan orang yang telah tertangkap itu,

sehingga Damar dan Saruju tidak akan dapat terlalu banyak mengetahui tentang diri mereka, atau jika ia memang berniat untuk berbohong.

Meskipun demikian tentu ada beberapa hal yang diketahuinya sehingga memungkinkan kedua orang itu mempersoalkan jawaban-jawaban yang diberikan.

Dalam pada itu, maka terdengar Iswari yang bertanya, “Ki Sanak. Siapakah namamu?”

Pemimpin kelompok itu benar-benar heran melihat sikap Iswari. Tetapi ketika kemudian ia berpaling ke arah beberapa orang lain disekitarnya, maka jantungnya berdegup semakin keras.

“Siapa Ki Sanak?” desak Iswari. “Namaku Rumpak,” jawab orang itu.

Iswari mengangguk-angguk. Kemudian ia pun bertanya pula, “Apakah kau sudah mengenal kedua anak muda ini? Maksudku sebelum kau datang ke rumahnya?” “Kenal,” jawab orang itu. “Mereka adalah Damar dan Saruju. Mereka adalah kawan-kawanku yang baik. Mereka datang ke Tanah Perdikan ini dengan tugasnya yang rumit. Membunuh anak Nyi Wiradana.” “Tidak,” desis Saruju. “Kami belum mengenalnya. Tetapi rasa-rasanya kami memang pernah melihat pada saat kami berada di sebelah Timur Pajang.”

“Tetapi kau tidak dapat ingkar akan tugasmu. Kau menyusup di antara anak-anak muda Tanah Perdikan ini dengan tugas membunuh,” geram Rumpak.

Tetapi Iswari tersenyum. Katanya, “Kau telah melakukan satu kesalahan yang besar Ki Sanak. Seharusnya kau tidak menyebut tugas Damar dan Saruju. Dengan demikian ia masih mungkin melakukan tugas yang dibebankan kepadanya itu. Tetapi karena kau mengatakannya, meskipun sekadar terdorong oleh perasaan Ki Sanak yang melonjak-lonjak, maka kemungkinan Damar dan Saruju sudah tertutup sama sekali.” Wajah orang itu menjadi tegang. Sejenak dipandanginya Damar dan Saruju.

Sementara Iswari berkata pula, “Nah, bukankah keterangan kalian dapat

menggerakkan kami untuk menangkap Damar dan Saruju? Memang hal itulah yang kau kehendaki sebagai pernyataan sakit hatimu kepada mereka. Tetapi dalam bilik tangkapan keduanya tidak akan dapat berbuat apa-apa.”

Rumpak menjadi bingung. Tetapi ia pun kemudian berkata, “Keduanya sudah berkhianat. Keduanya tidak berani lagi melakukan tugas mereka.”

Iswari bahkan tertawa. Sementara itu Damar dan Saruju sendiri menarik nafas dalam-dalam. Tetapi mereka melihat kekacauan pikiran Rumpak.

“Baiklah Ki Sanak,” berkata Iswari. “Tetapi baiklah kami beritahukan kepadamu, bahwa kami, di Tanah Perdikan ini sudah mengetahui siapa dan apakah tugas Damar dan Saruju disini. Yang sekarang penting bagi kami adalah keterangan, dimana Ki Rangga Gupita dan Warsi itu bersembunyi?”

“Kenapa kau tidak bertanya kepada Damar dan Saruju?” desis Rumpak.

“Sudah. Tentu sudah. Tetapi jawaban mereka kurang memuaskan. Menurut mereka, Ki Rangga dan Warsi mempunyai sarang di beberapa tempat.”

“Yang aku ketahui tidak lebih banyak dari yang diketahui oleh Damar dan Saruju,” jawab Rumpak.

“Mungkin, tetapi dengan keterangan Damar dan Saruju, kemudian keteranganmu, maka pengetahuan kita tentang Ki Rangga itu tentu lebih banyak,” berkata Iswari.

Rumpak mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun menarik nafas dalam-dalam. TETAPI kulitnya meremang ketika Gandar bergeser mendekatinya sambil bertanya dengan nada yang masih lunak, “Ki Sanak. Tolong sebutkan, dimana Ki Rangga itu bersembunyi. Tentu saja sejauh yang kau ketahui. Kau tidak usah mengarang nama sebuah tempat yang dapat kau bayangkan tersembunyi, dengan sebuah goa yang besar dan dalam. Tempat beberapa orang di antara kalian tidur dan menyimpan

barang-barang yang berhasil kalian rampas dari orang-orang dipadukuhan dengan dalih untuk menegakkan keadilan karena kalian ingin menjunjung nama Jipang itu kembali.”

Keringat mulai mengalir di punggung Rumpak. Namun ia pun berkata, “Apa ada gunanya aku mengatakan sesuatu? Meskipun mungkin yang aku katakan itu benar, kau sudah dibayangi oleh dugaan bahwa aku akan berbohong.”

“O,” Gandar bergeser semakin dekat. “Bukankah kita mempunyai banyak waktu? Kami akan mendengarkan ceritamu, betapa mengasikkannya. Lalu kami akan datang untuk membuktikan, apakah ceritamu benar. Kami sudah mempunyai keterangan tentang salah satu sarang Ki Rangga dari Damar dan Saruju. Jika kami mendengar dari

kalian, maka sekaligus kami dapat melihat tempat itu. Setidak-tidaknya dua sarang Ki Rangga sudah kita hancurkan. Tentu saja agar tidak menimbulkan salah paham dengan Pajang, yang kami lakukan tentu atas persetujuan Pajang.

Panji-panji serta tunggul yang pernah kami terima, memang menyatakan wewenang kami untuk bertindak atas nama Pajang, namun bagi tegaknya Tanah Perdikan ini.” Orang yang mengaku bernama Rumpak itu mengumpat di dalam hati. Ia mulai merasa nada suara Gandar agak keras. Bahkan tiba-tiba saja Sambi Wulung berkata, “Ki Sanak. Jangan kau sangka bahwa aku belum pernah menjelajahi cara hidup yang paling pahit disaat-saat gawat. Aku juga pernah menjadi salah seorang yang

mewakili satu sikap. Karena itu, kami pun mengerti, bahwa kau tidak akan semudah yang kami duga untuk berbicara. Tetapi pengalaman yang pernah terjadi atas diri kami, aku terutama, akan dapat aku terapkan disini. Aku harap kau cukup jantan untuk bertahan dan tidak berkhianat kepada pemimpinmu itu, sehingga kami harus berusaha untuk membuka mulutmu. Semakin sulit kami berusaha, maka hasilnya akan semakin memberikan kepuasan kepada kami.”

Wajah orang yang bernama Rumpak itu menjadi merah. Dipandanginya Sambi Wulung dengan sorot mata yang menyala. Namun ketika ia kemudian berpaling ke arah Jati Wulung, maka kepalanya kemudian menunduk dalam-dalam.

Adalah diluar dugaan bahwa Iswarilah yang kemudian berkata dengan nada yang masih lembut, “Ki Sanak. Mungkin kau masih terlalu letih. Apakah kau akan beristirahat saja lebih dahulu? Jika kau menghendaki demikian, maka kami tidak berkeberatan. Kami akan memberimu waktu beristirahat sampai senja. Sehari kau dapat tidur dan barangkali mengingat-ingat yang mungkin terlupa. Bahkan mungkin kau sempat menelusuri jalan hidupmu selama ini serta sikap yang manakah yang paling baik kau lakukan. Ada beberapa perbedaan di antara kau dengan Damar dan Saruju. Damar dan Saruju adalah memang anak Tanah Perdikan ini. Jika ia mengambil langkah untuk kembali kepada keluarganya, kekampung halamannya, itu bukan berarti satu pengkhianatan. Tetapi jika kau yang melakukannya disini, maka mungkin kau benar-benar seorang pengkhianat.”

Jantung orang itu bagaikan berdentang semakin keras. Ingin rasa-rasanya ia berteriak untuk melepaskan gejolak perasaan yang bagaikan menyumbat dadanya. Namun ia tidak melakukannya.

Tetapi ternyata Iswari benar-benar memberinya waktu untuk beristirahat. Iswari sendiri kemudian bangkit dari tempat duduknya dan berkata, “Sampai disini dahulu Ki Sanak. Senja nanti kita akan berbicara lagi. Jika aku berhalangan maka

biarlah Gandar, paman Sambi Wulung dan Jati Wulung sajalah yang melakukannya. Mungkin akan lebih baik bagimu, karena kau tidak berhadapan dengan seorang perempuan. Mungkin kau terpaksa mempertahankan harga dirimu, karena kau adalah seorang laki-laki yang tegar. Tetapi jika kau berhadapan dengan sesama

laki-laki, maka kau tidak akan tersinggung jika kau harus sedikit merendahkan dirimu.”

Wajah orang itu menjadi pucat. Ia sadar apa yang akan terjadi, jika tiga orang laki-laki yang keras itulah yang harus bertanya dan memeras keterangannya. Apalagi waktu yang diberikannya adalah setelah senja.

TETAPI Rumpak tidak dapat mengatakan sesuatu. Iswari pun kemudian meninggalkan bilik itu, sementara Gandar telah membawa orang itu kembali ke bilik tahanannya.

Dimuka pintu ia sempat berkata, “Pikirkan baik-baik akan sikap Nyi Wiradana. Tetapi ingat, bahwa Nyi Wiradana adalah Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan ini disamping seorang perempuan yang barangkali lembut keibuan. Ialah yang memerintahkan dan melakukan sendiri, menghancurkan kalian dan mengusir sisanya pada saat kalian berusaha mengguncang Tanah Perdikan ini dibawah pimpinan Ki Rangga dan Nyi Wiradana yang lain.”

Rumpak memandang Gandar dengan tatapan mata yang menyala. Kemarahan telah membakar jantungnya. Tetapi ia sadar, bahwa ia tidak dapat banyak berbuat.

Apalagi ia berada dilingkungan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan.

Karena itu, maka ia harus membiarkan saja Gandar kemudian menutup pintu bilik dan menyelarakkan dari luar. Di dalam biliknya Rumpak memang mempunyai banyak kesempatan beristirahat sampai senja sebagaimana dikatakan oleh Nyi Wiradana. Tetapi Rumpak sendiri menyadari,

apa yang harus dilakukannya didalam bilik itu. Ia mengerti, bahwa ia sama sekali tidak diharapkan untuk beristirahat. Tetapi ia harus merenungi sikap para pemimpin Tanah Perdikan itu.

Bagi Rumpak, Iswari sendiri memang merupakan seorang perempuan yang memiliki watak yang jauh berbeda dengan Warsi. Namun ia pun kemudian menyadari, bahwa di medan pertempuran, Iswari tentu bersikap lain. Menghadapi ujung-ujung senjata, maka tentu Iswari tidak akan bersikap selembut saat-saat ia berada di antara keluarganya, bahkan jika ia sedang menghadapi anaknya.

Tetapi menurut tanggapannya, Iswari pun tidak akan berbuat diluar batas-batas perikemanusiaan sebagaimana pernah dilakukan oleh Warsi. Seandainya Iswari sendiri yang akan memeriksanya, maka keadaannya tentu tidak akan menjadi sangat buruk.

Namun Rumpak tidak tahu, apakah para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan semuanya

mempunyai landasan sikap seperti Iswari, terutama Gandar, Jati Wulung dan Sambi Wulung yang dikenalinya meskipun hanya dalam saat yang pendek. Jati Wulung dan Sambi Wulung yang sudah memasuki masa-masa pengendapan itu pun nampaknya masih

sangat garang. Apalagi Gandar. Berbeda dengan sikap orang-orang yang lebih tua lagi di antara pemimpin itu.

Selagi Rumpak itu merenung ia terkejut. Tiba-tiba saja selarak pintunya dibuka. Seorang perempuan yang agak gemuk telah memasuki biliknya. Ketika perempuan itu tertawa, maka terasa jantungnya bergejolak semakin cepat.

“Silakan beristirahat sebaik-baiknya Ki Sanak,” berkata perempuan itu. Lalu, “Orang-orang serumah itu memanggilku Bibi. Semula hanya Risang sajalah yang

memanggilku Bibi. Tetapi sekarag panggilan itu seakan-akan sudah berubah menjadi nama bagiku. Sedang sebelumnya, aku dipanggil Serigala Betina dari Tanah Perdikan Sembojan, meskipun aku bukan orang asli dari Tanah Perdikan ini.”

Terasa keringat dingin mulai mengalir ditubuh Rumpak. Perempuan ini mempunyai sikap dan tentu saja watak yang tidak sewajarnya sebagaimana seorang perempuan. Ketika perempuan itu kemudian duduk dipembaringannya dekat disebelahnya, maka diluar sadarnya ia bergeser menjauh. “KI SANAK,” Bibi itu tertawa. “Aku tidak akan berbuat apa-apa. Aku hanya ingin menceritakan serba sedikit tentang Tanah Perdikan ini, terutama tentang Ki Wiradana. He, bukankah kau kenal dengan Ki Wiradana yang telah dibunuh oleh Warsi itu? Atau tepatnya bersama-sama dengan Ki Rangga Gupita yang kemudian mengambil Warsi itu untuk menjadi sisihannya?”

Ketika Bibi tertawa, kulit ditengkuk Rumpak terasa meremang. Sementara itu Bibi

pun berkata, “Akulah yang mendapat tugas dari Ki Wiradana untuk membunuh Iswari, justru pada saat Iswari sedang mengandung. Pada saat itu Warsi merupakan orang baru disini. Ia berhasil merampas hati Ki Wiradana, bahkan sampai ke dasar kesadarannya, sehingga Ki Wiradana sampai hati untuk menyingkirkan istrinya yang mengandung. Karena aku dikenal sebagai perempuan serigala betina maka Ki Wiradana itu mempercayakan tugas itu kepadaku. Tetapi ternyata aku tidak sampai hati melakukannya. Aku tidak membunuhnya,” Bibi itu berhenti sejenak, lalu, “He, kau tertidur mendengar ceritaku, seperti anak-anak yang mendengarkan dongeng neneknya. Aku bukan nenekmu he.”

Rumpak terkejut. Tetapi ia justru bergeser menjauh.

Namun tiba-tiba Bibi itu tertawa sambil bergeser mendekat sehingga Rumpak menjadi gemetar, katanya, “Aku tidak ingin mendengar ceritamu.”

Tetapi Bibi itu masih tertawa. Katanya, “Aku belum selesai. Aku hanya ingin memberikan kesan kepadamu tentang diriku. Mungkin aku adalah perempuan yang paling buas yang pernah kau kenal. Tetapi kau dapat memperbandingkan dengan Warsi. Siapakah sebenarnya yang lebih buas. Aku atau Warsi. Warsi menghendaki Iswari yang mengandung itu mati. Tetapi aku tidak sampai hati melakukannya meskipun aku tidak kurang dari seekor serigala pada waktu itu.”

Rumpak justru menggeram.

“Jangan menghina aku,” desis Bibi. “Kau akan dihadapkan pada sekelompok orang yang akan memeras keterangan dari mulutmu. Hati-hatilah berbicara. Aku tidak tahu, apakah aku sampai hati atau tidak untuk ikut berada didalamnya. Tetapi

jika aku kehilangan kendali sikapku, maka aku adalah orang yang paling liar disini, melampaui laki-laki yang bernama Gandar itu.”

Rumpak menjadi semakin geram. Dengan nada yang bergetar ia bertanya, “Apa maksudmu sebenarnya dengan mengucapkan ceritamu itu. Untuk menakut-nakuti aku?” “Ya. Dan aku berhasil, karena kau telah menjadi gemetar karenanya,” jawab Bibi.

“Tetapi ingat. Bukan sekadar menakut-nakuti karena hal itu akan benar-benar dapat terjadi atasmu. Sadari itu. Atau barangkali aku berniat untuk menantangmu berkelahi tanpa bantuan orang lain jika kau mengelak untuk berterus terang. Kau akan mengalami satu peristiwa yang barangkali belum pernah kau alami, bahkan kau lihat sekalipun.”

Jantung Rumpak rasa-rasanya berdenyut semakin cepat. Apalagi ketika kemudian ia mendengar perempuan yang disebut Serigala Betina itu tertawa.

Namun dalam pada itu Bibi itu pun kemudian berkata, “Sudahlah. Tidak baik aku terlalu lama berada dibilikmu. Apalagi jika kau ternyata kemudian pingsan ketakutan,” Bibi itu berhenti sejenak, “Tetapi aku minta kau perhatikan

kemungkinan itu. Aku akan menantangmu untuk berkelahi seorang melawan seorang.” Bibi tidak menunggu jawaban. Ia pun kemudian meninggalkan orang yang menjadi tawanan itu dalam kekalutan perasaan.

Orang itu sadar ketika ia mendengar pintu bilik itu diselarakkan lagi dari luar. Namun ia justru menarik nafas dalam-dalam. Bahwa perempuan yang agak gemuk itu telah keluar dari biliknya, rasa-rasanya bilik itu menjadi lapang.

Namun sejenak kemudian ia mulai berpikir tentang kata-kata yang dilontarkan oleh perempuan itu. Memang tidak mustahil ia berbuat aneh-aneh seperti itu, atau setidak-tidaknya ia mendapat perintah untuk melakukan hal seperti itu. Jika ia harus berkelahi melawan perempuan itu, maka ia akan menjadi tontonan. Jika ia menang tidak seorang pun akan mengaguminya karena ia harus melawan seorang perempuan. Tetapi jika ia kalah, maka ia akan lebih direndahkan lagi.

Rumpak pun akhirnya menyadarinya, bahwa semuanya itu memang sudah diatur oleh orang-orang Sembojan untuk mendesaknya agar ia menjawab semua pertanyaan tanpa harus dipaksa, apalagi dengan kekerasan. Orang-orang Sembojan ingin tanya jawab berikutnya berjalan lancar. Namun Rumpak pun menyadari, bahwa hal itu terjadi

atas pengaruh Iswari, Pemangku Jabatan Tanah Perdikan Sembojan.

AGAKNYA Iswari tidak ingin melakukan kekerasan jika mungkin. Tetapi apakah para pemimpin Sembojan yang lain juga bersikap demikian? Rumpak ternyata sama sekali tidak sempat beristirahat. Ia terlalu sibuk dengan pergolakan di dalam dirinya sendiri. Keragu-raguan, kecemasan dan bahkan ketakutan.

Perasaan yang belum pernah mencengkam jantungnya sebelumnya. Sebagai seorang yang ditempa oleh kerasnya latihan-latihan keprajuritan di Jipang, kemudian oleh pertempuran yang seru di beberapa medan. Terakhir ia telah hidup dalam keadaan yang kasar dan penuh dengan langkah-langkah kekerasan. Namun ia belum pernah mengalami kecemasan dan bahkan ketakutan seperti saat itu.

Saat ia ada didalam sebuah bilik yang tidak terlalu luas, cukup bersih dan tertutup rapat.

Rumpak berdiri dipersimpangan jalan. Apakah ia akan berterus terang menjawab semua pertanyaan, sehingga dengan demikian ia telah berkhianat seperti juga Damar dan Saruju, atau ia harus bertahan meskipun tubuhnya akan hancur dilumatkan oleh orang-orang yang keras dari para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan itu. Atau ia akan hanyut dalam sikap yang lembut sebagaimana ditunjukkan oleh Nyi Wiradana itu.

Rumpak akhirnya merebahkan dirinya dipembaringannya. Tetapi rasa-rasanya kepalanya menjadi beku. Ia justru tidak dapat berpikir dengan jernih.

“Gila. Aku sudah gila,” keluhnya. “Agaknya ketahanan jiwaku menghadapi keadaan yang sulit masih terlalu rapuh.”

Sementara itu, sekali lagi pintu bilik itu terbuka. Rumpak telah bangkit dan

duduk dipembaringannya sambil menggeram, “Siapa lagi yang akan mengganggu aku?” Tetapi yang masuk adalah seorang perempuan tua membawa makanan baginya.

Perempuan tua yang dlihatnya duduk bersama ketika ia menghadap Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan itu.

“Makanlah Ki Sanak,” berkata perempuan tua itu. “Tetapi barangkali yang dapat kami hidangkan tidak terlalu memenuhi selera Ki Sanak. Sekadar nasi putih, sayur waluh dan sedikit ikan yang ditangkap di sungai sebelah. Telur itu pun telur

yang diambil dari petarangan di belakangan dapur, karena di rumah ini memang dipelihara beberapa ekor ayam.”

Rumpak termangu-mangu sejenak. Tiba-tiba saja ia melihat suatu kesempatan. Jika ia menerobos keluar dari pintu yang terbuka itu, maka ia akan mendapat kesempatan untuk lari.

Tetapi niat itu diurungkannya. Ia yakin bahwa disekitar rumah itu tentu terdapat para pengawal yang siap untuk memburunya dan menangkapnya. Apalagi jika perempuan yang disebut Serigala Betina itu masih ada disekitar tempat itu.

Karena itu maka Rumpak itu pun duduk saja di pembaringannya sambil memandangi makanan yang disajikan oleh perempuan tua itu.

Sementara itu, perempuan tua itu pun tersenyum kepadanya sambil berkata, “Makanlah. Jangan memikirkan persoalanmu sekarang. Kau renungi atau tidak, akhirnya akan sama saja. Semuanya tergantung kepada kesediaanmu bekerja bersama kami. Tetapi pergunakan waktumu baik-baik untuk beristirahat dan makan, agar tubuhmu menjadi kuat. Mungkin kau memerlukannya untuk meningkatkan daya tahan dan mengatasi perasaan sakit. Tetapi Ki Sanak, kami berharap bahwa kita akan

dapat bekerja sama dengan baik. Beberapa orangmu yang tertangkap hidup sudah mulai menceritakan tentang diri masing-masing dan tentang Ki Rangga Gupita serta Warsi, yang keduanya kemudian hidup sebagai dua orang suami istri.”

Rumpak tidak menjawab. Dipandanginya makanan yang diletakkan oleh perempuan tua itu. Terlalu baik untuk seorang tawanan. Tetapi rasa-rasanya ia tidak lapar dan

tidak ingin menyentuhnya.

Sejenak kemudian perempuan tua itu pun meninggalkan bilik itu sambil berkata, “Makanlah. Nanti aku akan mengambil mangkuknya.”

Sepeninggal perempuan itu Rumpak termangu-mangu. Ia mulai mengamati makanan yang

ditinggalkan. Tetapi ia pun kemudian telah berbaring dipembaringannya tanpa menyentuh mangkuk-mangkuk yang dihidangkan itu.

Untuk sesaat ia berbaring. Tetapi kemudian ia merasa perlu untuk tetap dalam keadaan yang pa-ling baik. Wadag dan jiwanya.

KARENA itu maka ia pun telah bangkit lagi. Dipaksanya dirinya untuk makan, agar ia tidak menjadi sangat lemah dan tidak mampu mengatasi perasaan sakit jika hal itu dialami. Setelah makan dan minum, maka tubuhnya memang merasa lebih segar, meskipun tidak terasa enak dimulutnya. Badannya merasa bertambah kuat dan darahnya pun menjadi semakin hangat.

Bahkan orang itu pun menggeram, “Apapun yang akan terjadi, aku akan bertahan dan tidak akan berkhianat.”

Baru sejenak kemudian orang itu berbaring lagi. Tekadnya sudah bulat, bahwa ia akan menghadapi segala tekanan jika para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan yang akan memerasnya.

“Mereka harus tahu bobot seorang prajurit Jipang,” berkata prajurit itu di dalam dirinya.

Untuk beberapa saat ia menunggu.Tiba-tiba saja terdengar selarak pintu itu terbuka. Ketika daun pintu itu bergeser, maka perempuan tua yang telah menempatkan makanan di dalam biliknya itu berjalan tertatih-tatih masuk.

“Bagaimana Ki Sanak. Apakah Ki Sanak sudah makan?” bertanya perempuan tua itu. Tiba-tiba saja pikiran Rumpak berubah. Ketika tubuhnya sudah terasa menjadi semakin kuat, maka ia memang bertekad untuk melarikan diri mumpung pintu terbuka. Memang ia merasa seakan-akan ingin terjun ke dalam kegelapan karena ia tidak tahu apa yang ada diluar. Tetapi ia sudah bertekad bulat untuk tidak

gentar mengalami apapun juga. Jika ia berlari keluar dari bilik itu, ia

mempunyai kesempatan betapapun kecilnya untuk meloncati dinding rumah Kepala Tanah Perdikan itu dan hilang tanpa dapat disusul oleh para pengawal. Tetapi kemungkinan lain, ia akan ditangkap. Beberapa orang pengawal akan mengejarnya dan mengepung lingkungan disekitar halaman rumah itu. Tetapi itu bukan soal. Ia akan bertempur sampai mati sekalipun, karena hal itu tentu lebih baik daripada

ia tetap hidup tetapi diperas dengan cara yang parah oleh para pemimpin Tanah Perdikan itu.

Karena itu, maka Rumpak pun telah bangkit dari pembaringannya. Diamati pintu yang terbuka itu, sementara perempuan tua itu berdiri tanpa menghiraukannya. Ia sibuk mengemasi mangkuk-mangkuk kotor dan sisa makan. Namun sayang bahwa perempuan itu berdiri di antara sebuah amben kecil dan dinding kayu. Jika ia benar-benar ingin belari keluar, maka perempuan itu harus menyingkir atau didorongnya saja tanpa memperdulikan, apakah ia akan jatuh terbanting.

Sejenak ia termangu-mangu. Namun ia tidak mau kehilangan waktu. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia berkata, “Minggirlah.”

Perempuan itu menjadi heran. Dipandanginya Rumpak yang sudah siap untuk meloncat berlari melintasi halaman dan mencapai dinding. Ia sudah melihat dinding yang

tidak begitu tinggi, sehingga dengan mudah ia akan dapat meloncati meskipun ia tidak tahu, jika ia meloncat maka ia akan terjun dimana.

Ternyata Rumpak tidak sempat menunggu. Ia sudah ancang-ancang untuk menghambur dengan kecepatan yang paling tinggi.

“Minggir,” bentaknya sekali lagi.

Tetapi perempuan itu nampaknya justru menjadi bingung.

Karena itu, maka Rumpak itu tidak menghiraukannya lagi. Ia pun telah meloncat berlari. Jika ia menyinggung perempuan itu, ia tahu bahwa perempuan tua itu tentu akan jatuh.

Namun yang terjadi benar-benar diluar dugaannya. Ketika Rumpak belari dengan mengerahkan segenap kekuatan dan tenaganya pada loncatan pertama, maka pada langkah kakinya yang berikutnya ia memang menyinggung perempuan tua itu.

Tetapi yang terjadi, perempuan itu seakan-akan tidak tergeser dari tempatnya. Bahkan targetpun tidak. Justru malahan Rumpaklah yang terdesak dan jatuh menghantam dinding yang kuat, kemudian berguling ditanah.

Dengan tangkas Rumpak melenting berdiri. Namun rasa-rasanya punggungnya akan patah, sehingga tidak mungkin lagi baginya untuk berlari meninggalkan halaman itu. Ia tidak akan mampu lagi belari cukup cepat untuk mencapai dinding itu dan

ia pun merasa ragu bahwa dengan punggung yang bagaikan patah itu, apakah ia dapat meloncat.

Namun perhitungannya pun kemudian tertuju kepada perempuan yang nampaknya menjadi gugup dan bertanya, “Apa yang telah terjadi?”

TETAPI Rumpak menjawab, “Ternyata kau bukan perempuan kebanyakan. Kau dengan sengaja telah menghentikan aku dengan tenagamu yang besar, yang mampu membenturkan tubuhku pada dinding pada saat aku berlari. Meskipun aku mengerti, bahwa sentuhan yang tidak terlalu besar akan mampu mengguncang keseimbangan seseorang yang sedang berlari dengan tergesa-gesa, namun terasa bahwa aku

memiliki kekuatan yang besar. Karena itu, perempuan tua, kau harus menanggung akibat dari perbuatanmu. Kau sudah menggagalkan niatku.”

“Apa yang akan kau lakukan Ki Sanak?” bertanya perempuan itu.

“Mematahkan tulang belakangmu seperti yang terjadi padaku. Tulang belakangku terasa seakan-akan telah patah,” jawab Rumpak.

Perempuan tua itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Sudahlah Ki Sanak. Jika punggungmu sakit, sebaiknya kau beristirahat. Berbaring sajalah

untuk menenangkan diri. Sebentar saja perasaan sakit itu akan hilang.” “Persetan,” geram Rumpak. “Aku semakin yakin, bahwa kau termasuk seorang

perempuan yang memiliki ilmu seperti perempuan yang disebut Serigala Betina itu. Karena itu, maka aku ingin memutar tubumu sehingga tulang belakangmu patah karenanya.”

“Jangan mempersulit diri Ki Sanak,” berkata perempuan itu.

Tetapi Rumpak tidak mau mendengarnya lagi. Dengan kemarahan yang memuncak ia menggeram sambil menerkam tubuh perempuan tua itu. Perempuan yang telah menggagalkannya untuk meninggalkan bilik itu.

Namun ketika tangannya menyentuh tubuh perempuan itu, Rumpak terkejut. Tangannya, terutama jari-jarinya terasa seolah-olah berpatahan. Ternyata tubuh perempuan tua itu menjadi keras seperti baja.

Akhirnya Rumpak harus mengakui kenyataan. Perempuan itu benar-benar seorang perempuan yang memiliki ilmu yang tinggi.

Karena itu, maka ia pun telah melepaskan cengkeramannya dan membanting diri duduk dipembaringannya. Katanya, “Nyai. Aku menjadi semakin yakin akan kekecilan diriku di Tanah Perdikan ini. Inilah sebabnya maka Saruju dan Damar tidak berani melakukan tugasnya.”

“Tenanglah,” berkata perempuan tua itu. “Renungilah keadaanmu sebaik-baiknya. Pada satu saat, kau akan dipanggil lagi menghadap seperti tadi. Aku juga hadir ketika kau dipanggil Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang kebetulan seorang perempuan. Mungkin ia dapat berlaku lembut seperti kebanyakan perempuan. Tetapi ia akan dapat menjadi garang karena kedudukannya.”

Rumpak tidak menjawab. Namun jantungnya menjadi semakin berdebar-debar. Sementara itu perempuan tua itu berkata, “Sudahlah. Kesempatanmu untuk beristirahat tidak banyak lagi. Menurut pendapatku sebaiknya kau pergunakan waktumu sebaik-baiknya.”

Rumpak masih tetap berdiam diri. Sementara perempuan itu telah selesai membenahi mangkuk-mangkuk yang kotor. Sambil menjinjing mangkuk-mangkuk itu perempuan tua

itu berkata, “Ingatlah. Jika kau berkata dengan jujur, maka persoalan-persoalan yang tidak baik akan dapat dikesampingkan. Sebaliknya jika kau tidak berkata dengan jujur, mungkin kau akan mengalami perlakuan yang belum pernah kau bayangkan sebelumnya.”

Perempuan tua itu tidak menunggu jawaban. Perlahan-lahan ia keluar dari dalam bilik itu. Kemudian terdengar pintu bilik itu ditutup dan diselarak dari luar.

Rumpah menarik nafas dalam-dalam. Dalam waktu yang dekat, ia semakin mengenali Tanah Perdikan itu. Di Tanah Perdikan itu terdapat orang-orang yang berilmu

sangat tinggi jauh melampaui dugaannya. Jika semula orang yang paling dikagumi hanyalah Ki Rangga Gupita dan Warsi disamping Ki Randukeling yang tidak pernah muncul lagi, ternyata ia telah bertemu dengan orang-orang yang memiliki ilmu tanpa diduga sebelumnya.

Namun demikian perasaan Rumpak perlahan-lahan menjadi tenang. Ia pun kemudian mampu memaksa hatinya pasrah atas apa yang dapat terjadi atas dirinya.

Sejenak kemudian, Rumpak justru berbaring dipembaringannya. Ia mulai menerawang kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi atas dirinya. Namun pengenalannya atas kemampuan seorang perempuan tua itu sangat berkesan di dalam dirinya. SEKILAS Rumpak teringat kembali akan perempuan yang menyebut dirinya Serigala Betina. Perempuan gemuk itu tentu seorang perempuan yang garang. Kemudian dibayangkannya bagaimana Gandar itu melakukan sesuatu jika ia menjadi jengkel karena pertanyaan-pertanyaannya tidak terjawab. Laki-laki yang telah mengalahkannya di pertempuran, dan kemudian bagai-mana dengan Iswari sendiri.

Namun bagi Rumpak semuanya itu adalah sekelompok orang-orang berilmu tinggi yang telah menangkapnya ke dalam satu keadaan tanpa kemungkinan lain, kecuali pasrah.

Dalam kesibukan angan-angan, Rumpak justru tidak menyadari bahwa waktu berjalan terlalu cepat. Ia terkejut ketika selarak pintu biliknya terangkat. Kemudian

perlahan-lahan pintu itu pun terbuka.

Yang berdiri dimuka pintu kemudian adalah Gandar.

“Rumpak,” meskipun ujud Gandar cukup garang, tetapi suaranya terdengar wajar ditelinga. “Marilah. Kita akan berbicara tentang beberapa hal.”

Rumpak pun kemudian bangkit dari pembaringannya. Sejenak ia membenahi diri. Kemudian ia pun berjalan seperti tanpa perasaan menuju ke pintu.

Gandar bergeser kesamping. Kemudian Rumpaklah yang berjalan didepan menuju ke ruang dalam rumah Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan itu.

Rumpak sama sekali tidak merasa tegang lagi ketika ia duduk di antara beberapa orang. Ia tidak sempat memandang wajah mereka seorang demi seorang, sebagaimana yang telah terjadi sebelumnya. Ia hanya tahu ada beberapa orang yang telah duduk melingkar. Ia juga tidak melihat perempuan tua yang telah membawa mangkuk makanan ke dalam biliknya yang ternyata ada pula di ruang itu.

Tiba-tiba saja ketika Iswari memasuki ruang itu, hatinya merasa sejuk. Rumpak tidak tahu, apakah sebabnya bahwa ia lebih tenang jika Iswari ada di antara orang-orang Sembojan itu.

“Rumpak,” berkata Iswari kemudian. “Kau tentu sudah tahu, untuk apa kami memanggilmu. Pagi tadi kau nampak sangat letih, sehingga karena itu pertemuan kita telah tertunda.”

Rumpak menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia menjawab sambil mengangguk, “Ya Nyi. Aku tahu.”

“Nah, jika demikian, aku minta kau bersedia bekerja sama dengan kami, agar tidak timbul ketegangan yang tidak berarti bagi kita semuanya,” berkata Iswari.

Hampir di luar sadarnya Rumpak mengangguk sambil menjawab, “Baik Nyai.” Iswari mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Terima kasih Ki Sanak. Jika benar demikian, maka pertemuan ini akan cepat berakhir.”

Rumpak termangu-mangu sejenak. Tetapi ia memang tidak mempunyai pilihan lain. Sejenak kemudian, maka Iswari pun bertanya, “Jika demikian Ki Sanak. Bukankah kau dapat mengatakan serba sedikit yang kau ketahui tentang Ki Rangga Gupita dan Warsi yang sampai saat ini masih selalu mengganggu ketenangan Tanah Perdikan ini?”

Rumpak memandang wajah Iswari sekilas. Tetapi ia melihat wajah itu tetap tenang dan tidak bergejolak. Tetapi Rumpak tiba-tiba saja dicengkam oleh ketakutan untuk melihat wajah-wajah orang lain disekitarnya, sehingga ia tetap tidak mengerti siapa saja yang berada di ruang itu.

“TENTU Damar dan Saruju ada juga disini,” berkata Rumpak di dalam hatinya. “Ki Sanak,” berkata Iswari pula. “Silakan. Bukankah Ki Sanak tidak berkeberatan untuk bekerja bersama dengan kami?”

Rumpak tidak mempunyai pilihan lain. Karena itu maka ia pun mulai menceritakan serba singkat tentang keadaannya dan kedudukannya. Ia berada disalah satu sarang dari beberapa sarang para pengikut Ki Rangga Gupita. Namun seperti Damar dan Saruju serta kawan-kawannya yang lain yang tertangkap hidup-hidup dan diperiksa di tempat dan waktu yang terpisah, mereka sama sekali tidak menyebut tentang sebuah padepokan yang rapi, tertib dan bersih. Yang berhubungan akrab dengan padukuhan-padukuhan disekitarnya dan dianggap sebagai tempat untuk minta petunjuk dan bahkan nasihat-nasihat untuk mengatasi beberapa macam kesulitan yang terjadi di padukuhan-padukuhan. Kesulitan tentang tanaman mereka yang tidak dapat tumbuh subur disawah dan pategalan, tentang hama yang menyerang

batang-batang kelapa dan tentang banyak hal yang memberikan kesan, betapa pentingnya kehadiran padepokan itu di antara orang-orang padukuhan.

Karena itu, yang dapat ditangkap dari pembicaraan para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan dengan orang-orang yang dikirim oleh Ki Rangga dan Warsi tidak lebih dari beberapa sarang gerombolan yang garang dan kasar. Beberapa buah goa yang telah dibangun secara khusus sehingga mampu menjadi tempat tinggal dan dihuni oleh sekelompok pengikut Ki Rangga dan Warsi.

Rumpak memang dapat menyebutkan beberapa tempat dari sarang-sarang gerombolannya

yang banyak, meskipun tidak semua. Iswari mendengarkan keterangan itu sambil mengangguk-angguk. Ia percaya tentang apa yang dikatakan oleh Rumpak, karena keterangan itu tidak bertentangan dengan keterangan kawan-kawannya yang tertangkap dan tidak pula bertentangan dengan keterangan Saruju dan Damar.

Dalam pada itu, para pemimpin Tanah Perdikan yang ada di ruang itu mengangguk-angguk. Ternyata mereka berhasil memaksa Rumpak berbicara tanpa

menyakiti tubuhnya. Damar dan Saruju memang ada pula ditempat itu. Seakan-akan ia menjadi saksi kebenaran keterangan Rumpak tentang lingkungannya.

“Baiklah,” berkata Iswari kemudian. “Kau sudah mengatakan apa yang kau ketahui. Karena itu, maka kau akan dikembalikan ke dalam bilikmu. Untuk sementara persoalan yang kau kemukakan telah cukup bagi kami. Tetapi mungkin pada saat lain keteranganmu yang lainlah yang kami perlukan. Apalagi jika persoalannya telah berada di tangan para pemimpin Pajang yang tentu juga berkepentingan

dengan gerombolan-gerombolan yang kalian katakan itu untuk membersihkan Pajang dari gangguan mereka.”

Rumpak tidak menjawab. Ia sadar, bahwa ia sudah berkhianat. Tetapi ia memang tidak dapat berbuat lain. Apalagi setelah ia mendengar alasan dan keterangan tentang sikap Tanah Perdikan Sembojan serta Pajang, kenapa mereka harus membersihkan gerombolan-gerombolan sisa-sisa pasukan Jipang.

“Selama ini aku mendengar sikap dari satu sisi saja,” berkata Rumpak di dalam hatinya. “Dengan demikian maka aku tidak dapat melihat hubungan persoalannya dengan pertimbangan yang utuh. Itulah agaknya maka Damar dan Saruju yang sempat tinggal di Tanah Perdikan ini, kembali kepada keluarganya dan kepada kampung halamannya, justru karena ia mendapatkan bahan pertimbangan tentang sikapnya itu.” Tetapi Rumpak tidak menyatakan sesuatu. Semuanya telah terlambat baginya.

Bagi Tanah Perdikan, ia adalah seorang tawanan karena ia berusaha untuk membunuh Damar, meskipun Damar adalah bekas seorang pengikut Ki Rangga Gupita dan Warsi. Sejenak kemudian, maka Gandar pun telah membawa Rumpak kembali ke biliknya.

Sementara itu Gandar sempat berkata, “Nah, bukankah jika kau mau membantu kami, maka kau tidak akan mengalami perlakuan yang kasar, karena agaknya untuk

waktu-waktu yang akan datang masih banyak keteranganmu yang kami perlukan.” Rumpak tidak menjawab. Tetapi ia memang menjadi cemas. Jika keterangan yang diperlukan itu benar-benar tidak diketahuinya, maka ia akan dapat berada dalam keadaan yang sulit, seolah-olah ia dengan sengaja menyembunyikan sesuatu. DALAM pada itu, setelah Rumpak dibawa kembali ke biliknya, maka para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan itu pun mulai membicarakan persoalan yang mereka hadapi. Tetapi agaknya yang mereka hadapi itu tidak saja berada di Tanah Perdikan

Sembojan yang menjadi daerah jangkau kekuasaan Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan, karena sarang-sarang gerombolan itu semuanya berada diluar Tanah Perdikan.

Ternyata bahwa Iswari memerlukan satu kesempatan tersendiri untuk membicarakan persoalan gerombolan dari bekas para prajurit Jipang yang ternyata telah berbaur dengan sisa-sisa kekuatan gerombolan Kalamerta yang sempat dihimpuan kembali.

Sementara itu, perhatian Iswari terhadap Risang menjadi semakin tajam. Risang adalah sasaran utama dari gerombolan yang masih berusaha untuk mendapat kesempatan merampas Tanah Perdikan itu, karena seorang di antara anak Ki Wiradana ada di antara gerombolan itu.