-->

Suramnya Bayang-Bayang Jilid 41

Jilid 41

Itu kita sadari. Karena itu dalam waktu singkat, kita harus sudah menemukan satu cara untuk melindungi kalian. Tentu cara yang paling mudah adalah membawa keluarga kalian kesatu tempat yang dijaga oleh sekelompok pengawal. Namun agaknya kita perlu juga memperhitungkan kemungkinan untuk menjebak orang-orang

yang datang. Bukan sekadar mengejar mereka dan membunuh mereka beramai-ramai. Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “Nah, jika demikian, untuk sementara pembicaraan kita sampai disini. Pulanglah. Usahakan untuk dapat menyampaikan ancaman ini kepada keluarga kalian. Jika mereka tidak mengetahui, maka keadaan tentu akan sangat berbahaya bagi mereka. Mereka sama sekali tidak berhati-hati

dan berbuat sebagaimana biasa mereka lakukan. Sebab lambat atau cepat, pada akhirnya mereka memang harus mengetahui. Harus.” Damar dan Saruju mengangguk meskipun nampak keragu-raguan. Tetapi mereka memang

harus pulang dan mengatur perasaan mereka untuk menyampaikan persoalan mereka kepada keluarga mereka di rumah.

Dalam pada itu, maka Kiai Badra pun kemudian berkata, “Jangan cemas bahwa rahasia kalian akan diketahui orang lain. Kita akan menyimpan rahasia ini.”

Tetapi suara Saruju rendah, “Akhirnya mereka akan mengetahuinya juga, Kiai. Jika

Ki Rangga benar-benar melaksanakan ancamannya, maka Tanah Perdikan ini memang akan terganggu. Semua mata akan memandang kepadaku, menuduhku dan keluargaku akan terasing di Tanah Perdikan ini.”

Namun Kiai Badra tersenyum sambil berkata, “Bukankah kita dapat mengatakan kepada orang-orang Tanah Perdikan, bahwa Ki Rangga mendendam karena kalian menyerah dan meninggalkan mereka, sementara itu mereka sangat membutuhkan tenaga

kalian? Dalam dunia yang kelam dari orang-orang yang berhati hitam, maka mereka yang dianggap berkhianat atau meninggalkan ikatan mereka, maka orang itu tentu akan dibunuh.”

Damar dan Saruju tidak menjawab. Sementara itu Iswari pun berkata, “Baiklah. Kalian dapat pulang sekarang. Kita akan berbicara lagi pada kesempatan lain.” Kedua orang anak muda itu mengangguk dalam-dalam. Bahkan Saruju pun tiba-tiba telah mencium kaki Kiai Badra yang dengan serta merta menariknya sambil berkata, “Jangan kehilangan sifat-sifatmu sebagai laki-laki. Tentu saja laki-laki yang

baik setelah kau bertekad meninggalkan duniamu yang hitam itu.”

“Ya Kiai,” desis Saruju yang kemudian minta diri untuk kembali pulang. Damar pun telah minta diri pula sehingga keduanya kemudian meninggalkan halaman rumah itu dengan kepala tunduk.

Namun di regol keduanya terpaksa berhenti ketika pengawal yang menyapa mereka ketika mereka masuk itu bertanya, “He, apakah kalian sudah bertemu dengan anak itu.”

“Sudah,” Saruju mencoba tersenyum. Namun pengawal itu melihat sesuatu yang lain di mata Saruju. Namun pengawal itu tidak tahu pasti apakah yang terjadi.

“Apakah ia menangisi Risang yang katanya agak sakit?” bertanya pengawal itu kepada diri sendiri. Namun kemudian ia pun berdesis, “Alangkah cengengnya.” Saruju dan Damar pun tanpa berpaling berjalan tergesa-gesa meninggalkan regol rumah Kepala Tanah Perdikan itu.

Untunglah bahwa tidak banyak kawan-kawannya yang bertemu di sepanjang jalan di padukuhan induk itu. Demikian mereka ke luar dari padukuhan induk, maka mereka pun telah memilih jalan simpang untuk menghindarkan diri kemungkinan bertemu dengan kawan-kawan mereka lebih banyak lagi disepanjang perjalanan pulang.

Bahkan kemudian keduanya pun telah sepakat untuk mengambil jalan yang berbeda menuju ke rumah masing-masing.

Di sepanjang jalan keduanya dipenuhi oleh berbagai macam perasaan. Mereka merasa sangat berterima kasih kepada Kiai Badra, yang telah melindunginya sehingga

mereka berdua mendapat kesempatan untuk mengatasi persoalan yang menerpa keluarganya.

Namun hari itu mereka masih belum dapat menyampaikan persoalan itu kepada keluarganya. Mereka masih harus mengumpulkan keberanian untuk mengutarakan persoalan yang sebenarnya.

Menjelang malam kedua anak muda itu telah bertemu di gardu. Seperti biasanya keduanya secara terpisah telah pergi ke gardu berkumpul dengan kawan-kawannya, meskipun mereka sedang gelisah, agar tidak menarik perhatian apabila mereka tidak datang.

Keduanya berusaha untuk berlaku sebagaimana yang mereka lakukan sehari-hari. Sehingga dengan demikian tidak seorang pun di antara kawan-kawan mereka yang tahu, apakah yang telah terjadi pada mereka.

Pada kesempatan itu, maka Damar dan Saruju sepatah dua patah kata berbicara juga tentang pertemuan merreka dengan Nyi Wiradana. Ketika mereka berdua duduk di amben yang berada di sebelah gardu itu, Saruju sempat berdesis, “Aku belum dapat menyampaikannya kepada keluargaku.”

“Aku juga,” sahut Damar.

Keduanya terdiam, ketika kawannya yang lain ikut pula duduk bersama mereka. Pembicaraan mereka pun kemudian berkisar pada peristiwa yang baru-baru saja menggemparkan penduduk. Seekor harimau agaknya telah tersesat keluar dari hutan dan beberapa orang sempat melihatnya dan mengusirnya kembali ke dalam hutan.

Namun sementara itu, di rumah Iswari telah terjadi satu pembicaraan yang khusus. Ternyata Iswari telah mendesak Kiai Badra untuk mengatakan tentang kedua anak muda itu.

“Kakek, bukankah mereka datang siang itu dengan rencana untuk membunuh Risang?” bertanya Iswari.

“Aku tidak tahu pasti,” jawab Kiai Badra. “Mereka hanya datang untuk memberikan jambu air itu. Memang mereka minta untuk dapat menyerahkan jambu air itu langsung kepada Risang.” “Tetapi kenapa kakek nampaknya melindungi mereka?” bertanya Iswari. “Bukankah kakek juga menyadari, bahwa aku tidak akan dengan serta merta menjatuhkan hukuman kepada mereka?”

“Aku tahu Iswari. Tetapi dihadapanku, kedua orang anak muda itu menyatakan penyesalannya. Aku percaya bahwa sebenarnya mereka tidak ingin melakukan perintah yang mereka terima, membunuh Risang. Tetapi Ki Rangga Gupita dan Warsi telah memaksa mereka dengan ancaman. Karena itu, aku pun percaya bahwa mereka benar-benar hampir menjadi gila,” jawab Kiai Badra. Namun kemudian katanya, “Tetapi bagiku Iswari, yang penting adalah bagaimana sikap mereka selanjutnya.

Kita memang tidak akan dapat mempercayai sepenuhnya tanpa

pertimbangan-pertimbangan lain. Namun untuk sementara aku yakini bahwa keduanya menyesal, kemudian bahkan kehilangan pegangan dan pasrah kepada kita untuk memohon perlindungan. Kau jangan terpancang pada satu dugaan, bahwa orang-orang itu sudah berniat untuk membunuh anakmu. Karena itu maka mereka adalah

musuh-musuhmu.”

“Aku berusaha untuk melupakan rencana itu kakek. Tetapi alangkah sulitnya untuk membedakan seorang Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan yang baik dengan pribadiku sebagai seorang ibu,” berkata Iswari.

Kiai Badra pun memaklumi perasaan Iswari sebagai seorang ibu. Niat yang tumbuh di hati seseorang untuk membunuh anaknya telah cukup kuat mendorongnya untuk bertindak jauh, meskipun belum terjadi.

Namun untunglah bahwa Iswari masih mampu mengendalikan dirinya terhadap kedua orang anak muda itu.

Dalam pada itu, maka Kiai Badra pun kemudian berkata, “Yang justru perlu diperhitungkan kemudian adalah bagaimana kita melindungi dua keluarga yang terancam bahaya itu.”

“Kita memang harus merencanakan dengan cermat,” berkata Iswari. “Bahkan apabila mungkin menjebak orang-orang Ki Rangga Gupita yang sebagian besar tentu bekas prajurit Jipang, sedangkan para pengikut Warsi agaknya telah dihimpun kembali para pengikut Kalamerta.”

“Kita memang memerlukan waktu untuk berbicara dengan orang-orang tua di Tanah Perdikan ini. Khususnya Kiai dan Nyai Soka,” berkata Kiai Badra.

“Besok kita akan berbicara. Waktunya memang sudah terlalu sempit,” sahut Nyai Wiradana.

“Ya, waktunya memang tinggal beberapa hari lagi. Menurut pendapatku, Ki Rangga Gupita tentu tidak hanya sekadar mengancam. Tetapi ia akan benar-benar melakukannya. Setidak-tidaknya ia akan mendapatkan kepuasan tersendiri jika ia dapat membunuh dengan alasan yang dianggapnya cukup kuat,” berkata Kiai Badra. “Baiklah,” berkata Iswari. “Sekarang agaknya kakek dan nenek itu sedang beristirahat. Biarlah aku tidak mengganggunya.”

Iswari pun kemudian meninggalkan Kiai Badra yang duduk seorang diri. Sejenak Iswari telah singgah ke bilik Risang yang tidur bersama pemomongnya dan Bibi. Ketika pintu berderit, ternyata Bibi telah terbangun. Namun ia menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat Iswarilah yang berdiri dimuka pintu.

“Pintunya masih belum diselarak Bibi?” bertanya Iswari.

“Belum Nyai,” jawab Bibi. “Aku tahu Nyi Wiradana masih berbincang dengan Kiai Badra. Aku memang membiarkan pintu tidak diselarak, karena Nyai Wiradana tentu masih akan menengok Risang yang tidur nyenyak.”

“Tetapi bukankah ia tidak apa-apa?” bertanya Nyi Wiradana. “Tidak. Kenapa?” bertanya Bibi.

“Siang tadi, anak itu telah dinyatakan seolah-olah sedang kurang sehat,” berkata Nyi Wiradana.

“Ah. Tidak apa-apa. Bukankah hal itu dilakukan untuk kebaikannya,” jawab Bibi. Nyi Wiradana mengangguk-angguk. kemudian ia pun telah keluar dari bilik itu dan pergi ke biliknya disebelah. Sementara itu Bibi pun telah menyelarak pintu pula.

Dalam pada itu Nyi Wiradana memang menjadi gelisah. Usaha untuk membunuh anaknya

masih saja dilakukan oleh orang-orang yang berniat buruk. Ia pun kemudian menduga, bahwa akhirnya niat membunuh itu tidak lagi dilambari dengan suatu kepentingan tertentu. Mereka yang merasa putus asa dan gagal untuk memperoleh pengesahan atas hak sebagai Kepala Tanah Perdikan di Sembojan, maka tidak ada yang lebih memuaskan bagi mereka kecuali membunuh anaknya.

Kegelisahan itu benar-benar telah mencengkam perasaannya, sehingga rasa-rasanya ia ingin mengambil Risang dan dibawanya tidur bersamanya. Namun Nyi Wiradana itu pun kemudian berkata kepada diri sendiri, “Di belakang bilik itu terdapat bilik yang besar yang sejak Risang dalam bahaya dipergunakan

oleh Gandar bahkan jika kebetulan ada di Sembojan, Sambi Wulung dan Jati Wulung pun ada di dalam bilik itu pula sebagaimana halnya malam ini. Sementara itu,

Kiai Badra ternyata lebih senang tidur di amben panjang disisi pintu butulan di ruang dalam. Meskipun Kiai Badra mempunyai bilik sendiri di gandok sebagaimana Kiai dan Nyai Soka, namun ia lebih senang tidur di ruang dalam. Agaknya kakek

itu juga mencemaskan keadaan Risang.”

Dengan demikian hati Iswari itu menjadi agak tenang. Di sekitar bilik Risang terdapat orang-orang yang akan dapat melindunginya jika bahaya itu datang di malam hari. Bahkan di dalam bilik itu sendiri terdapat Bibi yang memiliki kemampuan yang tinggi pula setelah ia mendapat tuntunan dari Nyai Soka secara khusus.

Di hari berikutnya kehidupan di Tanah Perdikan itu berjalan sebagaimana

hari-hari yang lain. Tetapi berbeda dengan kehidupan pada keluarga Damar dan Saruju. Keduanya bersepakat bahwa pada hari itu, mereka akan memberitahukan keadaan mereka yang sebenarnya kepada keluarga mereka sebagaimana dipesankan oleh Kiai Badra dan Iswari. Sehingga dengan demikian maka baik Saruju maupun Damar berpendapat, bahwa akan ada perubahan yang terjadi dalam kehidupan keluarga mereka.

Sebenarnyalah, sejak pulang dari gardu menjelang pagi, Damar memang tidak langsung masuk ke ruang dalam. Ia tidak mengetuk pintu sebagaimana biasanya jika ia pulang dari gardu kapan pun juga. Tetapi Damar telah berbaring di amben

panjang yang terletak diserambi samping rumahnya. Tanpa dapat memejamkan mata oleh kegelisahan Damar menunggu hari menjadi pagi sambil menganyam kata-kata yang akan diucapkan kepada keluarganya tentang dirinya serta ancaman Ki Rangga Gupita dan Nyi Wiradana yang muda atas keluarganya.

Saruju pun menjadi gelisah. Tetapi Saruju tidak tidur diserambi. Ia telah mengetuk pintu dan masuk ke dalam biliknya yang kemudian ditutupnya dan diselaraknya dari dalam.

Kegelisahan di hati Saruju tidak kurang dari kegelisahan yang ditanggungkan oleh Damar. Bahkan Saruju membayangkan, apakah keluarganya justru tidak akan selalu berada dalam ketakutan.

“Tetapi Nyi Wiradana dan Kiai Badra telah sanggup memberikan perlindungan,” berkata Saruju di dalam hatinya. Tetapi ia pun kemudian masih mempertanyakan, sejauh mana perlindungan itu akan dapat diberikan.

Ketika ayam jantan berkokok didini hari, seperti biasanya, orang tua Damar telah bangun untuk menyapu halaman, sementara Damar biasanya mengambil air untuk mengisi jambangan dan genthong di dapur serta padasan di dekat pintu butulan.

Tetapi pagi itu, mereka terkejut ketika mereka menemukan Damar tertidur di serambi. Dengan nada rendah ayahnya bertanya, “Apakah semalam kita tidak mendengar Damar mengetuk pintu sehingga ia tidur diserambi?”

“Entahlah,” sahut ibunya. “Biasanya kita mendengarnya ia mengetuk pintu.”

Tetapi keduanya tidak membangunkan Damar yang nampak tidur dengan nyenyaknya, karena sebenarnyalah Damar baru saja sempat memejamkan matanya dalam kegelisahan.

Namun Damar tidak lama tidur di serambi itu. Beberapa saat kemudian ia pun segera terbangun. Bahkan ia tergagap ketika ternyata ia bangun terlalu siang. Ayahnya yang melihat Damar tergesa-gesa bangkit ia pun tersenyum. Bahkan ia bertanya, “Apakah kau semalam mengetuk pintu dan kami tidak mendengarnya?” Damar termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya, “Tidak ayah. Aku memang

tidak mengetuk pintu. Aku kembali dari gardu sudah hampir pagi. Maksudku aku tinggal menunggu sebentar, ayah tentu sudah akan segera terbangun dan membuka pintu. Namun agaknya aku tertidur diserambi.”

“Jika kau masih merasa mengantuk, pindah sajalah ke dalam. Kebilikmu sendiri,” berkata ayahnya. “Tidak ayah,” berkata Damar. “Agaknya aku sudah tertidur cukup lama, sehingga rasa-rasanya memang sudah tidak mengantuk lagi.”

Ayahnya tersenyum. Ia melihat Damar sambil mengusap matanya pergi ke pakiwan, mencuci muka dan kemudian seperti biasanya ia pun telah pergi ke sumur. Sejenak kemudian terdengar derit senggot ketika Damar mulai mengambil air untuk mengisi jambangan di pakiwan dan kemudian di dapur dan padasan.

Demikianlah maka setiap saat di hari itu membuat Damar dan Saruju rasa-rasanya semakin gelisah. Mereka menyusun keberanian untuk mengatakan kepada keluarganya dan mereka pun sedang mereka-reka dari arah mana mereka akan mulai.

Namun akhirnya mereka pun berketetapan hati, mau tidak mau mereka harus berbicara untuk kebaikan keluarga mereka sendiri.

Sementara itu, hari itu juga Iswari telah berbicara dengan orang-orang tua di rumahnya. Kiai Badra, Kiai dan Nyai Soka dan bahkan Bibi, Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung yang ada di rumah itu, telah terkumpul untuk membicarakan persoalan yang dihadapi oleh Damar dan Saruju.

“Aku sependapat bahwa orang-orang itu harus dijebak,” berkata Gandar.

“Aku sependapat,” sahut Iswari. “Tetapi cara yang mana yang akan kita tempuh?” Gandar termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Salah seorang di antara kita tinggal bersama keluarga itu.”

Iswari termangu-mangu sejenak. Sementara itu Gandar meneruskan, “Sudah tentu bukan orang-orang tua. Kita yang lebih muda ini akan dapat melakukannya.” “Bagus,” tiba-tiba Sambi Wulung menyahut. ”Biarlah aku dan Jati Wulung melakukannya. Kami masing-masing akan tinggal seorang disetiap keluarga. Dengan demikian di dalam keluarga itu setidak-tidaknya ada dua orang yang akan mampu bertahan jika benar ada usaha untuk melakukan pembunuhan. Salah seorang dari kami berdua dan Damar serta Saruju sendiri.”

Iswari mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Tetapi dengan demikian maka seluruh keluarga itu tidak akan pernah keluar dari rumah mereka. Mereka tidak

ada yang dapat pergi ke pasar atau kemanapun juga. Karena jika salah seorang dari kalian mengantar ke pasar, maka yang di rumah akan terancam bahaya. Dan sebaliknya.”

“Tetapi kita dapat menggerakkan bukan hanya kedua orang itu saja,” berkata Kiai Badra. “Kita dapat menggerakkan para pengawal. Namun kita harus menjaga agar Damar dan Saruju tidak tercemar di mata mereka.”

“Untuk kita tidak akan terlalu sulit,” jawab Iswari. “Seperti yang pernah kakek katakan, kita dapat mengatakan kepada para pengawal, bahwa Damar dan Saruju telah diancam oleh Ki Rangga dan Warsi, karena keduanya telah dianggap berkhianat tanpa menyebut tugas yang dibebankan kepada mereka.”

“Jika demikian, maka tidak ada salahnya jika kita mempergunakan juga para pengawal,” berkata Kiai Soka. “Selain mengawasi rumah kedua orang anak muda itu, juga mengawasi seluruh Tanah Perdikan. Kita juga dapat mempergunakan para pengawal bergantian untuk melindungi keluarga kedua anak muda itu jika mereka ke luar dari halaman rumah mereka.”

“Aku sependapat Kiai,” berkata Iswari. “Tetapi pelaksanaannya tidak begitu mudah, agar yang dilakukan itu tidak diketahui oleh orang-orang yang ingin kita jebak.” “Kita akan menyerahkannya kepada Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung serta para pemimpin pengawal. Namun pengertian kita tentang keadaan yang sebenarnya dari Damar dan Saruju hanya terbatas di antara kita saja,” berkata Kiai Badra.

Iswari mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sependapat. Segalanya yang berhubungan dengan pelaksanaan rencana itu kita serahkan kepada mereka. Namun kalian harus berhati-hati jika yang memasuki Tanah Perdikan itu adalah Ki Rangga dan Warsi

itu sendiri. Apalagi jika Randukeling ikut campur pula. Dalam rencana kalian harus diperhitungkan pula unsur isyarat jika kalian menemui kesulitan.”

Dengan demikian, maka Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah mendapat tugas untuk mengatur perlindungan terhadap keluarga Damar dan Saruju. Untuk tugas itu mereka mendapat wewenang berhubungan dengan para pengawal. Namun mereka tidak akan mengatakan keadaan Damar dan Saruju yang sebenarnya.

Dalam waktu dekat, maka Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah menemui pemimpin pengawal untuk menyampaikan persoalan Damar dan Saruju.

Pemimpin pengawal itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian tiba-tiba saja ia bertanya, “Kenapa hanya Damar dan Saruju? Bukankah banyak di antara anak-anak muda yang pernah terlibat dalam gerombolan yang dipimpin oleh para bekas Senapati Jipang dan Nyi Wiradana muda itu yang menyerah?”

Gandar tertegun sejenak. Namun kemudian jawabannya, “Aku kurang tahu. Tetapi ancaman itu terasa pada keduanya, karena mereka telah mendapat keterangan dari bekas kawan mereka untuk berhati-hati. Agaknya Damar dan Saruju sebelumnya dianggap orang-orang yang dibutuhkan dalam lingkungan mereka. Sementara itu keduanya termasuk orang-orang terakhir yang menyerah.”

Pemimpin pengawal itu mengangguk-angguk. Tetapi ia masih juga bertanya, “Tetapi kenapa termasuk keluarga mereka?”

“Itulah yang kami tidak tahu,” jawab Gandar. “Tetapi ancaman itu benar-benar telah didengar oleh keduanya. Untunglah masih ada kawannya yang sempat menyampaikan ancaman itu.”

“Hal itu pantas untuk diselidiki lebih jauh,” desis pemimpin pengawal itu.

Gandar menarik nafas dalam-dalam. Pemimpin pengawal itu memang tidak terlalu dungu untuk percaya begitu saja terhadap keterangan Gandar. Karena itu maka Gandar pun bertanya, “Apa yang harus diselidiki?”

“Mungkin kedua orang itu telah dibebani tugas apapun juga. Tetapi keduanya tidak sanggup melakukannya, sehingga karena itu mereka justru telah diancam, bahkan keluarganya,” berkata pemimpin pengawal itu.

Gandar mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin juga dapat terjadi demikian. Tetapi bahwa Damar dan Saruju mohon perlindungan itu adalah pertanda bahwa mereka mempercayakan diri mereka kepada kita.”

Tetapi pemimpin pengawal itu masih juga berkata, “Gandar. Kau tahu bahwa sasaran dari Nyi Wiradana yang muda itu saat ini adalah Risang. Siapa tahu bahwa kedua orang itu sebenarnya telah dibebani untuk membunuh anak itu. Tetapi mereka tidak sanggup melakukannya karena banyak hal. Mungkin tidak sampai hati. Tetapi mungkin mereka memang tidak melihat kesempatan itu. Karena itu, maka kau yang berada di rumah Risang, seharusnya berhati-hati menghadapi persoalan ini.”

mohon maaf....terpotong sedikit aja...

DI malam itu juga, maka semua yang telah disembunyikan oleh Damar dan Saruju itu telah dibawa ke Sembojan. Saruju dan Damar sepakat menyerahkan semuanya itu bagi kepentingan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan.

“Tidak ada hubungannya sama sekali dengan permohonanku untuk mendapat perlindungan,” berkata Saruju yang cemas jika disangka telah menyerahkan semuanya itu sebagai upah perlindungan terhadap dirinya.

Namun Nyi Wiradana yang menyaksikan penyerahan yang dilakukan di rumahnya itu pun berkata, “Kami mengerti. Dan semuanya itu akan dipergunakan sebaik-baiknya oleh para pengawal untuk melengkapi dirinya. Mungkin untuk memperbanyak jumlah kentongan di gardu-gardu, mungkin untuk membuat gardu-gardu baru atau hal-hal lain yang berarti.”

“Uang dan barang-barang itu tidak seberapa banyak,” berkata Damar. “Berapapun jumlahnya, yang penting bahwa kalian telah dengan ikhlas menyerahkannya,” berkata Iswari.

Damar dan Saruju itu pun mengangguk-angguk. Nampaknya dengan demikian dikalangan

para pengawal dan anak-anak muda tidak timbul persoalan tentang tugas mereka yang sebenarnya.

Untuk beberapa hari, di gardu-gardu, di sudut-sudut padukuhan, di banjar dan ditempat-tempat anak-anak muda berkumpul, persoalan Damar dan Saruju itu menjadi

bahan pembicaraan. Namun kemudian perlahan-lahan mereka pun telah melupakannya. Yang kemudian justru menjadi persoalan mereka adalah bagaimana melindungi keluarga Saruju dan Damar itu dari ancaman orang-orang yang telah tersisih dari pergaulan itu.

Hanya Iswari sajalah yang tidak pernah melupakan tugas sebenarnya Damar dan Saruju. Bagaimanapun juga ia masih berpesan secara khusus kepada Bibi dan Gandar, agar mereka mengawasi anaknya baik-baik.

“Bukan maksudku tidak mengakui menyesalan Damar dan Saruju. Tetapi jika dalam keadaan terpaksa, mungkin mereka masih harus memikirkan kemungkinan itu lagi,” berkata Iswari kepada Bibi. “Atau karena keduanya telah gagal, maka mereka telah mengirimkan orang lain untuk melakukannya.”

Bibi mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sudah berpesan kepada pemomongnya. Jika tidak ada orang lain, maka sebaiknya Risang dibawa masuk saja ke ruang dalam.

Hanya jika ada aku, Gandar atau Nyi Wiradana sendiri, Risang boleh bermain di halaman.”

Nyi Wiradana mengangguk kecil. Katanya, “Sebenarnyalah ia memang perlu bermain di halaman. Ia memerlukan kawan yang dapat bermain bersama. Anak itu tidak dapat dikungkung untuk hidup sendiri tanpa orang lain. Sejak kanak-kanak seharusnya ia sudah belajar hidup dalam satu lingkungan sesamanya.”

“Tetapi Risang berada dalam keadaan yang khusus,” desis Bibi.

Wajah Iswari memang menjadi murung. Namun Bibi pun kemudian berkata, “Kitalah yang harus mengusahakan agar Risang dapat bermain dengan kawan-kawannya tanpa kecemasan. Pengawal di sekitar halaman rumah ini sebaiknya diperketat tanpa menarik perhatian. Menurut pendengaranku, kematian Ki Gede Sembojan yang dahulu juga karena serangan jarak jauh, apalagi penyerangnya tidak dapat diketemukan, meskipun akhirnya dapat diketahui, siapakah yang melakukannya.”

Iswari mengangguk-angguk. Risang baginya merupakan persoalan khusus yang selalu membebani hatinya. Meskipun di halaman itu ada Bibi, Gandar dan bahkan ada dirinya sendiri, namun agaknya orang yang berniat jahat itu akan mencari seribu jalan agar niatnya dapat terlaksana.

Tetapi Iswari pun menyadari, bahwa ia adalah Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Ia tidak boleh tenggelam dalam persoalan dirinya sendiri

saja. Tetapi ia wajib memikirkan seluruh Tanah Perdikan Sembojan. Hitam putihnya Tanah Perdikan itu sebagian tergantung dari padanya.

Dan yang harus dipikirkannya antara lain adalah permohonan perlindungan dari Damar dan Saruju.

Dalam pada itu, meskipun Tanah Perdikan Sembojan telah menyatakan kesediaan untuk memberikan perlindungan, namun Damar dan Saruju masih saja tetap gelisah. Tetapi didinding sebelah pembaringan, tergantung pedang. Dibawah tikarnya terdapat pisau belati panjang.

MESKIPUN demikian, Damar dan Saruju masih merasa segan untuk membawa senjata jika ia keluar rumah. Karena itu, maka mereka telah membawa senjata pendek yang dapat disembunyikan dibawah kain panjangnya. Namun agar tidak menimbulkan salah paham di antara kawan-kawannya, Damar dan Saruju telah melaporkan kepada pemimpin pengawal Tanah Perdikan dan pemimpin pengawal di padukuhannya, bahwa ia

memang membawa senjata.

“Aku merasa terancam,” berkata Saruju. “Bukan hanya sekadar khayalanku. Tetapi ancaman itu benar-benar pernah aku dengar. Untunglah masih ada kawanku yang memberitahukan rencana penyingkiran itu.”

Para pemimpin pengawal itu tidak merasa berkeberatan. Apalagi mereka memang sudah tahu, bahwa Damar dan Saruju memang harus mendapat perlindungan.

Ketika kemudian saat-saat yang ditakutkan itu datang, maka sekali lagi Damar dan Saruju menemui Gandar dan mengatakan apa yang sebenarnya dapat terjadi atas mereka.

“Baiklah,” berkata Gandar. “Kami akan mengatur sebaik-baiknya. Tetapi keluargamu juga harus membantu kami, apalagi bagi kepentingan keselamatan mereka sendiri.” Sebenarnyalah, dengan memaksa diri Damar dan Saruju memang telah menyampaikan kepada keluarga mereka, ancaman dari bekas perwira dalam tugas sandi di Jipang

dan Nyi Wiradana yang muda. Meskipun kepada keluarganya Damar dan Saruju juga tidak mengatakan apa yang sebenarnya, namun dengan demikian, maka keluarga Damar dan Saruju telah menyadari, betapa bahaya mengancam hidup mereka.

Namun ternyata bahwa ayah Damar dan Saruju bukannya penakut. Dalam keadaan terjepit, maka mereka pun telah mempersiapkan senjata disisi pembaringan mereka.

Ayah Damar telah menggantungkan tombaknya disisi amben tempat tidurnya, sementara ayah Saruju meletakkan ploncon tombaknya dekat disebelah pemberingannya pula.

Tetapi ibunya dan adik-adiknya yang selalu dibayangi oleh kecemasan dan ketakutan. Adik-adik Damar tidak lagi berani pergi ke pasar. Demikian juga

adik-adik Saruju tidak mau keluar lagi dari regol halaman rumahnya. Apalagi ibu mereka melarangnya, agar mereka tidak mengalami bencana disepanjang jalan. Bahkan ibu Damar dan Saruju pun sebenarnya telah melarang kedua anak muda itu untuk keluar. Namun keduanya tidak merasa perlu untuk bersembunyi di dalam rumah saja.

“Kawan-kawanku sudah tahu akan ancaman ini,” berkata Damar kepada ibunya. “Mereka telah bersedia melindungi aku jika ancaman itu benar-benar akan dilakukan.”

“Tetapi kau tidak selalu bersama dengan kawan-kawanmu,” berkata ibunya. “Di jalan-jalan dan di lorong-lorong kau sering berjalan sendiri. Jika pada saat

itu, kau diterkam dari belakang?”

“Aku akan berhati-hati ibu,” berkata Damar, karena sebenarnyalah bahwa yang dicemaskan Damar adalah justru ibunya serta adik-adiknya.

Namun yang mengejutkan memang telah terjadi. Ketika Saruju pada satu hari berdiri di regol rumahnya, maka jantungnya bagaikan berhenti berdetak.

Dilihatnya seseorang yang memang sudah dikenalnya. Orang itu adalah orang yang pernah mendapat tugas untuk menghubunginya dan memberikan batasan waktu disertai dengan ancaman-ancamannya.

Sejenak Saruju tertegun. Namun yang berdiri diseberang jalan di depan regol rumahnya itu hanya seorang. Karena itu maka hatinya menjadi sedikit tenang. Jika terjadi kekerasan, maka ia tidak akan gentar melawan orang itu seandainya tidak ada orang lain yang melihatnya.

Namun ketika Saruju memadang disekitarnya, orang itu berkata, “Aku sendiri Saruju.”

Saruju menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian melangkah menyeberang jalan dan mendekati orang itu.

“Untuk apa kau datang lagi kepadaku?” bertanya Saruju.

Orang itu mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Kau aneh Saruju. Seharusnya kau tahu, untuk apa aku datang?”

Saruju termangu-mangu sejenak. Dipandangi orang itu dengan tajamnya. Lalu katanya, “Kau akan memberitahukan kepadaku, bahwa waktu yang diberikan kepadaku telah habis.”

”TIDAK,” jawab orang itu. “Bukan begitu. Waktu yang diberikan kepadamu tidak terbatas. Kapan saja kau melakukannya bukan menjadi soal bagi Ki Rangga dan Nyi Wiradana.” Saruju mengerutkan keningnya. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Jadi apa yang kau katakan beberapa waktu yang lalu itu tidak benar?”

“Bukan tidak benar,. Yang tidak benar adalah waktu yang diberikan kepadamu telah habis,” jawab orang itu.

“Aku tidak mengerti,” desis Saruju.

Orang itu tersenyum. Tetapi bagi Saruju, senyumnya seperti senyum iblis yang melihat tanah merah dikuburan. Dengan nada datar orang itu berkata, “Saruju. Kau masih mempunyai kesempatan. Sekarang, besok, bulan ini atau bulan berikutnya. Namun yang penting kau ingat adalah, bahwa setiap bulan Ki Rangga dan Nyi Wiradana akan mengambil keluarga Damar seorang. Mungkin bulan ini keluargamu, sedangkan bulan berikutnya keluarga Damar. Pembunuhan ini akan berhenti jika kau sudah berhasil dengan tugasmu. Tetapi jika sampai orang terakhir kau dan Damar tidak berhasil membunuh Risang, maka kau dan Damar adalah orang yang terakhir yang akan dibunuh oleh Ki Rangga dan Nyi Wiradana.”

“Setan,” geram Saruju. Hampir ia menerkam orang itu. Tetapi ia masih sempat menahan diri.

“Nah, pikirkan Saruju,” berkata orang itu. “Bulan ini kau sudah memasuki bulan pertama dari ancaman hukuman itu. Jika bulan ini kau tidak berhasil membunuh Risang, maka Ki Rangga akan benar-benar membunuh. Bukan sekadar mengancam. Bahkan Ki Rangga sudah berpesan, siapakah di antara keluargamu dan keluarga

Damar yang pertama akan dikorbankan. Mungkin kakek Damar, atau barangkali adikmu atau siapapun yang paling tidak berarti di dalam keluargamu dan keluarga Damar.

Baru di bulan berikutnya mungkin harus kau korbankan orang yang lebih dekat denganmu atau Damar. Demikian berturut-turut setiap bulan sampai saatnya kau berhasil membunuh anak itu.”

Saruju menarik nafas dalam-dalam. Hampir saja ia menantang orang itu. Bahkan karena ia sudah berpijak pada satu alas yang jelas ia tidak merasa takut lagi seandainya saat itu ia harus bertempur melawan orang itu dan bahkan membunuhnya sekaligus.

Tetapi Saruju tidak melakukannya. Jika demikian maka ia akan membuka pertentangan yang luas. Ki Rangga tidak akan lagi menghitung hari dan bulan, serta satu-satu keluarganya. Tetapi mereka tentu berusaha membunuh sebanyak-banyaknya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, sehingga dengan

demikian maka perlindungan yang harus diberikan oleh Tanah Perdikan Sembojan akan menjadi sangat berat. Bahkan justru akan berakibat sebaliknya. Usaha untuk menjebak mereka akan menjadi sulit, karena mereka akan menyadari apa yang sebenarnya mereka hadapi.

Karena itu, betapapun jantung Saruju bergejolak, namun ia pun kemudian berkata, “Kembalilah kepada Ki Rangga. Katakan, bahwa dalam waktu dekat, aku akan menyelesaikan tugas ini. Tetapi katakan, bahwa seandainya Ki Rangga atau Nyi Wiradana sendiri pun tidak akan mampu melakukannya.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Dengan nada rendah ia berkata, “Jangan berkata begitu. Jika hal itu benar-benar aku katakan kepada Ki Rangga, maka akibatnya akan sangat rumit bagimu.”

Tetapi Saruju justru menjawab, “Aku ingin kau benar-benar mengatakannya agar mereka memikirkannya, yang kami lakukan bukan sekadar bermain-main.”

Orang yang datang itu termangu-mangu sejenak. Namun ketika ia sempat menatap mata Saruju, agaknya anak muda itu berkata dengan sungguh-sungguh. Bahkan orang itu seakan-akan melihat gejolak perasaan yang dahsyat di dalam dada Saruju.

Sementara itu, selagi orang itu mencoba menilai sikap Saruju, maka seseorang telah lewat di jalan itu. Seolah-olah tanpa mengacuhkannya, orang itu menyapa Saruju sambil berjalan terus, “kau tidak ke pasar Saruju?”

Saruju memandang orang itu sejenak. Namun ia pun kemudian menjawab, “Nanti aku menyusul, Gandar.”

Orang yang lewat itu memang Gandar. Tetapi ia tidak berhenti. Ia hanya sedikit berpaling. Namun ia melangkah terus semakin lama semakin jauh. Tetapi disebuah simpang tiga, Gandar itu telah hilang dikelokan.

“SIAPA orang itu?” orang yang menemui Saruju itu bertanya. “Orang diujung padukuhan,” jawab Saruju pendek. Orang itu tidak bertanya lebih jauh. Namun kemudian katanya, “Baiklah Saruju. Aku tidak merasa perlu untuk secara khusus menemui Damar. Kau sajalah yang berkata kepadanya bahwa aku telah datang. Kau bicarakan dengan Damar, siapakah orang pertama yang akan kalian korbankan.

Barangkali dapat kau pilih orang yang paling tidak berarti dalam hidup kalian.” Darah Saruju memang terasa mendidih di dalam jantungnya. Tetapi ia tidak berbuat sesuatu selain menjawab, “Aku akan berbicara dengan Damar.”

Orang itu pun kemudian minta diri sambil mengangguk kecil ia berkata, “Jangan salahkan aku Saruju. Aku hanya sekadar menjalankan perintah. Juga seandainya kelak aku harus datang dan mengambil seorang di antara keluargamu atau Damar. Itu pun bukan salahku.”

“Pergilah,” berkata Saruju. “Dalam waktu dekat kau akan melihat, anak yang bernama Risang itu dibawa ke kuburan.”

Orang itu tidak menjawab lagi. Tetapi bibirnya nampak tersenyum. Senyum yang tajamnya melampaui tajamnya pisau pencukur.

Beberapa saat kemudian, maka orang itu pun telah meninggalkan Saruju sendiri termangu-mangu. Orang itu telah berjalan menyusuri jalan padukuhan.

Saruju berdiri tegak ditempatnya sampai orang itu hilang. Sambil menggeretakkan giginya, ia kemudian melangkah keregol halaman rumahnya diseberang jalan. Namun langkahnya tertegun. Ia melihat lagi Gandar berjalan dari arah yang sama seperti

saat ia lewat ketika orang yang diperintah Nyi Wiradana itu masih berada disitu.

“Darimana kau?” bertanya Saruju.

“Aku hanya berputar saja melingkar lewat jalan sempit dibelakang rumah ini,” sahut Gandar, yang tersenyum kecil. Tetapi senyumnya berbeda sekali dengan senyum orang yang datang atas perintah Ki Rangga dan Warsi itu. Lalu katanya selanjutnya. “Aku memang mempunyai dugaan buruk terhadap orang itu. Maaf jika dugaan itu salah.”

Saruju mengangguk-angguk. Katanya, “Kau benar.”

“Jadi orang itu adalah orang Ki Rangga Gupita?” bertanya Gandar pula.

“Ya. Ia datang untuk menyampaikan ancaman itu sekali lagi. Batas waktu telah habis. Jika bulan ini aku gagal melakukan tugasku, maka salah seorang keluargaku atau keluarga Damar akan diambilnya,” berkata Saruju.

“Aku sebenarnya memang menunggu kau memberikan isyarat,” berkata Gandar. Lalu ia pun bertanya, “Bagaimana jika orang itu kita tangkap saja?”

“Jika orang itu kita tangkap, maka Ki Rangga akan menyadari bahwa aku

benar-benar telah berkhianat. Dengan demikian maka mereka akan berbuat sangat hati-hati,” jawab Saruju.

Gandar mengangguk-angguk. Katanya, “Kita hanya menunda untuk sebulan. Jika orang yang pertama mereka tugaskan untuk membunuh keluargamu gagal atau bahkan hilang di Tanah Perdikan ini, maka Ki Rangga pun akan melakukan sikap serupa

sebagaimana jika orang itu kita tangkap. Namun kita dapat menunda sebulan ini tanpa mengguncang ketenangan Tanah Perdikan.”

Saruju mengangguk-angguk. Namun Gandar pulalah yang berkata, “Tetapi baiklah. Dalam sebulan banyak hal dapat terjadi.”

SARUJU mengangguk. Namun tiba-tiba saja ia bertanya, “Darimana kau tahu bahwa ada orang yang menemuiku?” “Kebetulan saja aku bertemu dengan orang yang pantas dicurigai. Dari jarak yang agak jauh aku mengikutinya dan melihat orang itu

berhenti diseberang jalan di depan regol halaman rumahmu ini.” Saruju menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Terima kasih. Dalam bulan ini agaknya ancaman itu akan benar-benar dilakukan.”

“Kita akan mengatur diri. Kalian pun harus berusaha mengatur setiap kegiatan keluargamu. Demikian pula Damar,” berkata Gandar.

“Baik. Aku akan melakukannya,” jawab Saruju. Namun ia pun kemudian berkata, “Marilah. Silakan singgah barang sejenak.”

Tetapi Gandar menggeleng. Katanya, “Besok sajalah. Aku masih akan pergi ke sawah.”

Saruju mengangguk-angguk pula. “Baiklah. Aku pun akan pergi ke rumah Damar. Ia harus mengetahui pula, bahwa ancaman itu telah datang lagi.”

Demikianlah, maka Gandar telah meninggalkan rumah Saruju. Sementara itu Saruju pun minta diri kepada orang tuanya untuk pergi ke rumah Damar.

“Hati-hatilah,” desis ayahnya yang sudah tahu apa yang sebenarnya sedang membayangi anaknya.

Ibunyalah yang menjadi sangat cemas. Bukan saja terhadap Saruju tetapi juga keluarganya. Jika Saruju tidak ada, maka orang-orang yang berniat buruk akan dapat datang dan melakukan niatnya dengan leluasa.

“Jangan takut,” berkata ayah Saruju. “Jika Saruju tidak ada di rumah, aku tidak akan pergi.”

“Tetapi kakang sudah terlalu tua untuk menghadapi kekerasan,” berkata ibu Saruju.

“Bukankah sudah ada kentongan di dalam rumah kita,” berkata ayah Saruju. “Kenthongan yang akan dapat memanggil para pengawal yang memang sudah bersedia melindungi kita.”

Namun bagaimanapun juga kecemasan memang tengah mencengkam keluarga Saruju dan

Damar. Bahkan ibu Saruju itu pernah berkata, “Bagaimana jika kita mengungsi saja dari Tanah Perdikan ini. Kita mempunyai keluarga yang tinggal di tempat lain.” Tetapi ayah Saruju menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak ada gunanya. Mereka akan memburu kita sampai kemanapun juga. Justru disini Nyi Wiradana, Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan telah menyatakan kesediaannya untuk melindungi kita.”

Ibu Saruju itu menundukkan kepalanya. Tetapi kecemasan yang mencengkam jantungnya terasa semakin menghimpit. Apalagi jika dilihatnya anak-anaknya yang lebih kecil menjadi ketakutan pula.

Namun ayahnyalah yang selalu menghibur, “Jangan takut. Kita berada di antara orang-orang yang baik terhadap kita. Kita tidak dapat menghindari hal ini

sebagai akibat kesalahan Ki Wiradana yang telah membiarkan anak-anak mudanya terseret ke dalam arus pemberontakan Jipang. Apa yang terjadi pada Saruju adalah akibat dari kesalahan Ki Wiradana itu yang mulai dengan kehadiran Warsi.” Istrinya mengangguk-angguk. Namun bagaimanapun juga ancaman itu tidak akan pernah dapat diabaikan.

Dalam pada itu, Gandar telah melihat sendiri, bahwa Saruju memang dibayangi oleh orang-orang yang ditugaskan oleh Ki Rangga telah membicarakannya pula dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung. Namun dengan hati-hati Gandar selalu menghindari kesan, bahwa Saruju dan Damar memang menyandang tugas untuk membunuh Risang. Itulah sebabnya maka hanya kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung sajalah Gandar menceritakan kehadiran orang yang memberikan ancaman kepada Saruju itu.

“Kami masing-masing akan berada di rumah kedua anak muda itu,” berkata Sambi Wulung.

“Mungkin ini satu cara yang dapat ditempuh,” sahut Gandar. “Dengan demikian maka kita sudah dapat memberikan sedikit ketenangan kepada keluarga yang ketakutan

itu. Sementara itu para pengawal pun akan selalu memperhatikan setiap isyarat yang dibunyikan.”

Atas persetujuan Iswari, maka Sambi Wulung kemudian telah berada di rumah Saruju, sedang Jati Wulung berada di rumah Damar. Mereka sebagai dua orang perantau dan pengembara dengan cepat dapat menyesuaikan diri dengan keadaan keluarga itu. Bahkan Sambi Wulung yang berada di rumah Saruju seakan-akan telah berada di lingkungan keluarga sendiri. Ia bekerja sebagaimana Saruju bekerja.

Pagi-pagi ia sudah menimba air, membersihkan kandang dan menjemur kayu bakar. “JIKA semua itu kau lakukan, lalu apa yang harus aku lakukan?” bertanya Saruju.

Sambi Wulung tertawa. Katanya, “Masih banyak yang harus kau lakukan. Aku hanya mengisi jambangan di pakiwan. Kau harus mengisi genthong di dapur. Jika aku membersihkan kandang, kaulah yang menyingkirkan kotorannya. Dan masih banyak kerjamu sehingga sampai saat ini kaupun masih nampak sibuk.”

“Aku harus membuat kesibukan-kesibukan baru,” berkata Saruju.

“Kau dapat bantu ayahmu. Kaulah yang pergi ke sawah, karena hidupmu tidak terancam, setidak-tidaknya untuk beberapa waktu ini. Biarlah ayahmu di rumah, karena ayahmu termasuk salah seorang di antara yang terancam jiwanya,” berkata Sambi Wulung.

Saruju mengangguk-angguk. Ia sependapat dengan Sambi Wulung. Lebih baik ia sendiri yang melakukan kerja ayahnya di sawah, karena baginya, ancaman itu baru akan datang kemudian.

Sebenarnya ayah Saruju merasa keberatan. Ia sudah terbiasa bekerja keras. “Jika aku harus tinggal di rumah saja, aku akan merasa seperti seorang tahanan. Atau barangkali tanpa kerja yang berarti aku akan merasa terlalu cepat menjadi tua dan pikun,” berkata ayah Saruju.

“Kita berada dalam keadaan yang khusus,” jawab Saruju. “Bila datang saatnya, semuanya akan kembali sebagaimana sewajarnya.”

Ayah Saruju mengangguk-angguk. Namun sebenarnya ia tidak merasa takut dengan segala macam ancaman. Ia merasa berada di dalam lingkungan keluarga besar yang baik, yang siap membantunya bila diperlukan.

Namun Saruju sempat juga meyakinkannya, bahwa yang dihadapi adalah segerombolan orang-orang yang tidak lagi mengenal tata kehidupan yang berperadaban, sehingga akhirnya ayah Saruju itu pun setuju untuk menyerahkan semua tugas di sawah

kepada Saruju.

“Jika tenagamu tidak lagi mampu mencakup semua kerja di sawah, Saruju,” berkata ayahnya. “Kau dapat mengupah satu dua orang untuk membantumu mengerjakan pekerjaan yang segera harus dilakukan. Bukankah biasanya kita melakukan berdua?”

Tetapi Saruju itu tersenyum sambil berkata, “Aku lebih muda dari ayah. Aku akan dapat melakukannya lebih baik dari ayah.”

Ayahnya mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian mengangguk-angguk. “Bagus.

Jika demikian aku yakin, hasil panen kita akan bertambah banyak nanti.” Saruju tidak menjawab. Tetapi ia hanya tersenyum saja.

Sebenarnyalah kehadiran Sambi Wulung di rumah Saruju memang dapat memberikan ketenangan. Saruju telah menceriterakan kepada keluarganya, bahwa Sambi Wulung adalah seorang yang memiliki ilmu tinggi. Jauh lebih tinggi dari dirinya

sendiri. Sementara itu, Sambi Wulung tidak merasa dirinya seperti seorang yang diperlukan di rumah itu. Bahkan ia telah membantu melakukan kerja yang berat. Di rumah Damar, Jati Wulung menjadi anggota keluarga yang sangat akrab bagi adik-adik Damar. Sebenarnyalah yang paling dicemaskan oleh Damar adalah kedua

adik perempuannya. Ia menjadi gembira ketika ia melihat kedua adik perempuannya itu menjadi sangat dekat dengan Jati Wulung seperti kepada pamannya sendiri.

Jati Wulung menyenangi kedua adik Damar itu. Ia sering memerlukan duduk dibawah sebatang pohon yang rindang atau duduk diserambi di sore hari sambil bercerita tentang dongeng-dongeng yang menarik. Ternyata Jati Wulung adalah seorang yang seakan-akan mengenal hampir semua carangan cerita Panji. Ia bercerita tentang Timun Emas, tentang Kleting Kuning, Brambang Bawang dan cerita tentang Keong Mas.

Jika Jati Wulung sedang bercerita, maka kedua adik Damar itu sudah lupa makan sehingga ibunya sering memanggilnya berkali-kali.

Jati Wulunglah yang kemudian mengalah. Katanya, “Sudahlah. Besok aku akan bercerita lagi.”

“Tetapi paman belum menceritakan, apa yang terjadi dengan Jaka Tarub itu kemudian,” desak adik Damar yang besar ketika Jati Wulung bercerita tentang Jaka Tarub dan Dewi Nawang Wulan kepada kedua gadis remaja itu.

“Nanti sajalah, atau besok. Biyung kalian telah menunggu kalian makan, mumpung hari masih belum terlalu malam,” berkata Jati Wulung.

mohon maaf....terpotong sedikit aja...

SEPERTI yang dipesankan oleh Gandar, maka Saruju dan Damar tidak lagi

berlama-lama berada di gardu. Bahkan kawan-kawannya di gardu pun telah memberi mereka kesempatan untuk tidak perlu datang.

Tetapi Saruju berkata, “Jika aku tidak menjumpai kalian dalam sehari, rasa-rasanya aku justru terasing sehingga aku menjadi ketakutan.”

“Tetapi kalian harus lebih banyak mengawasi keluarga kalian di rumah,” sahut seorang kawannya.

Saruju dan Damar mengangguk mengiakan. Dan mereka memang tidak lagi terlalu lama berada di gardu disetiap malam. Tetapi seperti yang dikatakan, jika ia tidak

pergi ke gardu, rasa-rasanya ia terlepas dari ikatan kekeluargaan dengan anak-anak muda dan para pengawal.

Hari-hari pun merambat melewati pertengahan bulan. Kegelisahan dalam keluarga Saruju dan Damar pun menjadi semakin meningkat. Saat yang mendebarkan itu akan segera datang pada keluarga mereka.

Dalam pada itu Sambi Wulung dan Jati Wulung pun menjadi kian berhati-hati. Keduanya lebih banyak berada di ruang dalam rumah keluarga Saruju dan Damar. Hanya kadang-kadang saja mereka berada di halaman atau di kebun. Mereka tidak mau kehilangan kesempatan pengamatan terhadap keluarga itu barang sekejap pun. Jati Wulung yang berada di rumah Damar menjadi semakin dekat dengan kedua adik perempuan Damar. Damar sendiri menganjurkan dan bahkan menitipkan kedua adiknya

itu kepada Jati Wulung tanpa setahu kedua adiknya itu.

Namun kebiasaan Jati Wulung untuk bercerita masih saja dilakukan. Kecuali untuk mengisi waktu Jati Wulung itu sendiri, dengan dongeng-dongeng itu, Jati Wulung dapat mengurangi ketegangan di hati kedua gadis remaja itu.

Menjelang hari-hari terakhir pada bulan yang ditentukan itu, Saruju dan Damar menjadi semakin berhati-hati. Demikian pula Sambi Wulung dan Jati Wulung. Keduanya ikut merasa bertanggung jawab atas keselamatan seluruh keluarga serumah dimana mereka tinggal.

Dalam pada itu, Iswari pun menjadi semakin berhati-hati pula mengawasi Risang. Bagaimanapun juga ia merasa cemas, bahwa pada saat-saat terakhir yang gawat, Saruju dan Damar berubah pikiran. Meskipun nalarnya, sebagaimana dikatakan oleh Kiai Badra, sependapat bahwa hal itu tidak akan dilakukan.

Namun Bibi pun menjadi semakin dekat pula kepada Risang. Jika tidak Saruju dan Damar, mungkin ada orang lain yang mendapat perintah untuk melakukannya. Jika pengamatan mereka hanya tertuju kepada Saruju dan Damar saja, maka mereka akan menjadi lengah.

Hari-hari terakhir di bulan itu dihadapi dengan penuh ketegangan oleh Saruju dan Damar. Namun mereka sudah benar-benar siap menghadapi segala kemungkinan. Di setiap rumah itu sedikitnya ada tiga orang yang akan dapat mengadakan perlawanan sementara sebelum para pengawal datang setelah mereka mendengar isyarat.

Sambi Wulung dan Jati Wulung merupakan orang-orang yang berilmu tinggi. Saruju sendiri dan Damar pernah pula menempa diri dalam oleh kanuragan. Sementara ayah dari kedua orang anak muda itu merasa sebagai laki-laki juga sepantasnya melindungi keluarga mereka masing-masing.

Menjelang hari terakhir, Damarlah yang terkejut ketika ia melihat seseorang berdiri di depan regol halaman rumahnya. Orang itu pernah dikenalnya, karena orang itu adalah kepercayaan Ki Rangga yang pernah menemuinya sebelumnya.

Tanpa diketahui oleh keluarganya, Damar mendekatinya. Namun sebelumnya ia sudah berbisik kepada Jati Wulung bahwa orang itu adalah orang yang dikirim oleh Ki Rangga Gupita.

“Apakah ancaman itu akan dilaksanakan hari ini?” bertanya Jati Wulung. “Seharusnya belum. Tetapi siapa tahu, bahwa hal itu dilakukannya juga,” jawab Damar.

Jati Wulung mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak ikut mendekat. Ia mengawasi Damar dari kejauhan. Namun siap untuk meloncat mendekat jika diperlukan.

“Selamat bertemu kembali Damar,” berkata orang itu ketika Damar mendekatinya. “Pesan apa yang kau bawa?” bertanya Damar langsung pada persoalannya. “Baiklah,” berkata orang itu. “Kau bertanya langsung sehingga aku pun akan menjawab langsung.”

“Bukankah itu lebih baik?” bertanya Damar pula.

ORANG itu mengangguk kecil. Katanya, “Ya. Dan aku tidak terlalu lama berdiri disini.”

“Cepat, katakan,” desak Damar.

“Dua hari lagi waktu pada batasan pertama telah habis. Bukan berarti bahwa kau tidak lagi terikat kepada kewajibanmu. Tetapi kau akan memasuki batas waktu kedua. Dalam dua hari ini jika kau tidak dapat melakukan tugasmu, siapakah di antara keluargamu yang akan kau serahkan kepada kami,” desis orang itu. “Gila,” geram Damar.

“Jangan berkata kasar,” berkata orang itu. “Bukankah sudah menjadi paugeran. Dan kau harus menjalaninya. Nah, bukankah dengan cara ini Ki Rangga masih mempunyai itikad yang baik?” Ia masih sempat bertanya, “Siapakah di antara keluargamu yang paling tidak diperrlukan di dalam lingkungan keluargamu. Biar orang itulah yang

akan kami ambil pertama-tama, karena Ki Rangga memang ingin membuktikan, bahwa ancamannya memang akan dilakukan.”

Darah Damar terasa mulai menjadi panas. Wajahnya nampak kemerah-merahan, sedangkan matanya memandang orang itu dengan tajamnya.

Namun orang itu berkata, “Jangan marah Damar. Kau hanya akan mempersulit dirimu sendiri saja.”

Jantung Damar berdegup semakin keras. Namun kemudian timbul penalarannya, sehingga ia tidak menerkam dan mencekik orang itu. Apalagi ketika orang itu berkata, “Atau barangkali kau akan membicarakannya dengan Saruju? Mungkin salah seorang di antara keluarga Saruju saja yang akan diserahkan sebagai tumbal?”

Damar menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian menunduk sambil berdesis,

“Baiklah. Apa boleh buat. Kami memang tidak dapat menjalankan tugas kami pada waktunya karena kesulitan yang tidak teratasi,” Damar terhenti sejenak, lalu.

“Ki Sanak. Jika kau memang harus mengambil seorang di antara kami, agaknya aku memang harus menunjuk orang yang paling tidak berharga di dalam keluarga kami. Nah, untuk pertama kali ini aku akan menyerahkan pamanku itu. Ia adalah adik ayahku. Meskipun tenaganya sangat aku perlukan di rumah ini, tetapi ia adalah salah seorang di antara keluargaku yang mempunyai jarak hubungan darah paling jauh.”

“Pamanmu?” bertanya orang itu dengan kerut didahi.

“Ya. Itu, jika kau sempat melihat ke halaman, yang sedang membelah kayu bakar,” berkata Damar.

Orang itu mengerutkan keningnya. Namun ia berdesis, “Aku akan menyampaikan kepada Ki Rangga dan Nyi Wiradana. Aku tidak tahu apakah usulmu dapat disetujui. Agaknya yang dimaksud Ki Rangga adalah orang-orang yang paling dekat denganmu. Ayah, ibu atau adik-adikumu.”

“Katakan saja kepada Ki Rangga. Untuk bulan ini biarlah pamanku kau ambil, jika dalam dua hari ini aku tidak berhasil membunuh Risang,” berkata Damar. “Seandainya Ki Rangga tidak menyetujuinya?” bertanya orang itu.

“Kau belum bertanya kepadanya,” berkata Damar. “Jangan dipersulit begitu.” “AKU tidak akan mempersulit persoalan ini,” jawab orang itu. “Tetapi tentu lebih baik jika aku tidak mondar-mandir ke rumahmu atau ke rumah Saruju. Jika aku

sudah membawa jawaban itu sekaligus, maka Ki Rangga akan tinggal melaksanakan saja.”

“Aku tidak akan menyebut nama lain. Ambil saja pamanku itu. Mungkin ayahku akan jatuh sakit karenanya. Tetapi itu lebih baik daripada jika kau ambil orang lain

dari keluargaku,” berkata Damar.

Orang itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan mengatakan kepada Ki Rangga, bahwa kau memberikan pamanmu sebagai tumbal kegagalanmu pada batasan waktu pertama ini. Jika dibatasan waktu kedua kau gagal lagi, mungkin aku akan melemparkan gilirannya kepada keluarga Saruju.”

“Aku tidak sempat memikirkannya sekarang,” sahut Damar.

Demikianlah orang itu pun kemudian meninggalkan regol halaman rumah Damar. Dengan dada yang berdegupan Damar memperhatikan orang itu sehingga berbelok di simpang tiga di ujung. Baru kemudian ia memasuki regol halaman rumahnya dan mendekati Jati Wulung yang memang sedang membelah kayu bakar.

“Apa katanya?” bertanya Jati Wulung.

“Ia memerlukan kepastian, siapakah di antara keluargaku yang akan aku korbankan karena kegagalan pada batasan waktu yang pertama ini,” jawab Damar.

“Gila,” geram Jati Wulung. “Tetapi batasan waktu yang bagaimana?”

“Bulan ini. Di bulan depan ia tentu akan datang lagi dan minta nama baru jika kita sekadar tunduk kepada mereka,” jawab Damar.

Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun ia bertanya, “Tetapi apakah kau juga memberikan nama yang dimintanya?”

“Ya,” jawab Damar.

“Damar,” wajah Jati Wulung menjadi tegang. “Kau memang akan mengorbankan salah seorang keluargamu?”

“Ya. Aku sudah menyebut seseorang yang paling pantas untuk diambilnya pertama kali,” jawab Damar.

“Jadi apa artinya aku berada di rumah ini?” bertanya Jati Wulung.

“Maaf, bahwa aku tidak membicarakannya dahulu denganmu. Nama yang aku berikan ittu adalah nama pamanku, Jati Wulung. Yang sering menceriterakan

dongeng-dongeng yang menarik kepada adik-adikku,” jawab Damar.

Jati Wulung mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tersenyum. Katanya, “Dalam keadaan yang menegangkan itu kau sempat juga bergurau. Tetapi gurauanmu tepat. Aku tidak berkeberatan.”

Damar menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tetapi itu belum meyakinkan.” “Kenapa?” bertanya Jati Wulung.

“Mungkin Ki Rangga akan menolak jika yang aku serahkan sebagai tumbal untuk pertama kali itu pamanku. Mereka akan memilih orang dari darah yang langsung dalam hubungan keluargaku. Ayah, ibu atau adik-adik. Bahkan kakek,” jawab Damar. “Sudahlah,” berkata Jati Wulung. “Jangan hiraukan lagi. Jika mereka datang, maka persoalannya tentu sudah lain. Bukankah kita memang ingin menjebak mereka. Biar sajalah apa kata mereka dan siapakah menurut mereka yang paling baik untuk dikorbankan kali ini.”

Damar mengangguk-angguk. Namun setiap waktu mala petaka akan dapat menimpa keluarga mereka. Ia tidak dapat membayangkan, berapa orang yang akan datang untuk mengambil korbannya itu. Mungkin hanya dua orang atau tiga orang. Tetapi mungkin lebih banyak lagi.

Itulah sebabnya, setelah hari terakhir berlalu, maka baik Saruju maupun Damar memang lebih banyak berada di rumah. Baik malam maupun siang hari. Keduanya tidak lagi terpisah dengan senjata mereka. Demikian pula ayah mereka. Dimana pun mereka berada, dilambung mereka tergantung parang yang dapat mereka pergunakan sebagai senjata. Sementara itu didekat pembaringan mereka, terdapat tombak dan bahkan senjata-senjata lainnya.

Saat-saat yang gawat itu pun telah dilaporkannya kepada Gandar, sehingga Gandar pun telah mengambil sikap pula. Para pengawal diperintahkannya untuk lebih berhati-hati. Mereka tidak saja sekadar menunggu. Tetapi jika mereka melihat

orang yang mencurigakan di dalam padukuhan yang terutama dihuni oleh Damar dan Saruju, mereka harus mengamati orang itu dengan seksama.

NAMUN dalam pada itu, ternyata Ki Rangga dan Nyi Wiradana telah berusaha untuk mengambil dua kesempatan sekaligus. Mereka memang memerintahkan orang- orangnya

untuk selalu menakut-nakuti Damar dan Saruju. Bahkan Ki Rangga dan Nyi Wiradana benar-benar akan membunuh jika batas waktu yang pertama itu lampau. Namun selagi rencana hukumannya yang tertuju kepada Damar dan Saruju siap untuk dilaksanakan Ki Rangga dan Nyi Wiradana telah merencanakan pula untuk menunjuk orang lain agar pembunuhan terhadap Risang dapat dilakukan.

“Jika kematian keluarga Damar dan Saruju itu menggemparkan seisi Tanah Perdikan, maka orang-orang Tanah Perdikan itu tentu akan menelusuri sebabnya.

Mudah-mudahan perhatian para pemimpin Tanah Perdikan pun seluruhnya tertuju kepada Damar atau Saruju.

Mungkin mereka memang menaruh kecurigaan. Namun pada saat yang demikian, maka perhatian terhadap Risang tentu berkurang,” berkata Ki Rangga.

“Kita akan menjajaginya,” sahut Nyi Wiradana. “Kita akan mengirimkan orang untuk membunuh dan orang lain untuk menilai keadaan.”

Dalam pada itu, orang yang mendapat perintah untuk menemui Damar itu telah kembali dan melaporkan, bahwa orang yang pertama diserahkan adalah pamannya. Ki Rangga dan Nyi Wiradana yang mendengar laporan itu tiba-tiba menjadi tegang.

Dengan serta merta Ki Rangga membentak, bodoh. Buat apa kita mengurusi pamannya? Orang yang disebut pamannya itu tentu orang lain. Jika kita membunuh pamannya, maka ia akan memanggil orang lain lagi yang akan diakunya juga sebagai pamannya atau jika perempuan diakuinya sebagia bibinya, sehingga kematian demi kematian berjalan, namun keluarganya sama sekali tidak berkurang.”

Orang yang melaporkan itu pun menyahut, “Aku juga sudah mengatakan, bahwa orang lain tidak akan dapat diperhitungkan. Tetapi Damar memaksaku untuk menyampaikan permohonannya ini.”

“Orang dungu kau,” bentak Ki Rangga pula. “Tetapi kita tidak peduli. Kita akan mengambil siapapun juga di antara keluarga Damar.”

Orang yang memberikan laporan itu tidak menyahut lagi. Jika Ki Rangga dan Nyi Wiradana sudah mengambil keputusan, maka sulit bagi siapapun untuk mengubahnya. Namun ia masih akan bertanya, “Apakah aku perlu lagi datang kepada Damar dan bertanya tentang nama lain yang harus disebutnya?”

“Tidak perlu. Beberapa orang akan datang melakukan tugas. Karena kesalahan Damar sendiri, maka orang-orang kita akan mengambil siapapun yang mereka sukai. Bahkan mungkin orang yang paling dekat dengan Damar. Mungkin ibunya.”

“Orang yang paling dekat dengan Damar adalah dua orang adiknya,” jawab orang itu. “Adik perempuan.”

“Bagus,” berkata Ki Rangga. “Kita akan mengambil adiknya. Salah seorang dari kedua orang itu.”

Orang yang melaporkan itu hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi sebenarnya terbesit pula perasaan kasihannya terhadap Damar dan adik perempuannya yang sama sekali tidak bersalah itu. Namun ia tidak berani berbuat sesuatu.

Dengan demikian, maka Ki Rangga dan Nyi Wiradana pun telah menyiapkan orang terbaik. Lima orang akan memasuki Tanah Perdikan. Tidak seorang di antara mereka anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan sendiri, karena Ki Rangga masih mencemaskan anak-anak muda itu, bahwa mereka pada satu saat akan terpengaruh oleh suasana Tanah Perdikan yang menjadi semakin baik itu.

Tetapi disamping lima orang itu, Ki Rangga dan Nyi Wiradana juga menunjuk lima orang yang lain yang harus mengamati keadaan di Tanah Perdikan Sembojan. Tugas mereka adalah untuk mengetahui perhatian para pemimpin Tanah Perdikan terhadap kematian salah seorang anggota keluarga Damar dan tugas mereka yang lain adalah untuk meyakinkan apakah kedua orang yang ditugaskan untuk membunuh Risang itu berkhianat atau tidak.

“JIKA kalian mengambil kesimpulan bahwa Damar dan Saruju memang sudah berkhianat

dan tidak dapat diharapkan lagi untuk pada satu saat melaksanakan tugasnya, maka kita tidak perlu lagi melakukan sebagaimana kita rencanakan. Seorang anggota keluarga setiap bulan. Tetapi kita akan membunuh semua keluarganya. Tetapi tidak dengan Damar dan Saruju. Biarlah ia merasakan kepedihan itu untuk beberapa lama. Baru kemudian kita akan mengambil mereka dan membawanya kemari. Kematian bagi mereka adalah hukuman yang terlalu ringan,” berkata Ki Rangga.

Demikianlah, Ki Rangga telah memilih lima orang yang akan memasuki Tanah Perdikan pula, di samping lima orang terbaik yang akan membunuh itu. Mereka hanya sekadar mengamati keadaan selama lima orang lainnya bertugas membunuh

salah seorang keluarga Damar. Namun Ki Rangga juga memerintahkan kepada mereka, “Tetapi jika kalian mendapat kesempatan untuk membunuh Risang, maka lakukanlah. Kalian akan dapat penghargaan khusus jika kalian dapat melakukannya dengan cara apapun juga.”

Kelima orang itu mengangguk-angguk. Tugas sampiran itu memang sangat menarik. Tetapi mereka pun menyadari bahwa untuk itu tentu akan sangat sulit dilakukan.

Damar dan Saruju yang sudah lama di Tanah Perdikan itu pun tidak berhasil melakukannya. Apalagi mereka yang hanya untuk waktu yang sangat terbatas. Sementara itu, mereka mempunyai tugas pokok yang lain, yang memerlukan kecermatan pula untuk melakukannya. Bahkan jika kelima orang yang bertugas membunuh keluarga Damar itu memerlukan bantuan, mereka tentu tidak akan tinggal diam.

Pada saat yang ditentukan, sepuluh orang terbaik telah meninggalkan salah satu sarang dari gerombolan Ki Rangga Gupita. Mereka adalah bekas prajurit Jipang yang memiliki pengalaman dan ilmu yang luas, sehingga menurut perhitungan Ki Rangga, mereka akan dapat menyelesaikan tugas mereka dengan baik.

“Apa sulitnya membunuh seorang perempuan,” berkata salah seorang dari kelima orang yang mendapat tugas membunuh adik Damar itu. “Tetapi kita akan memasuki Tanah Perdikan yang kuat,” berkata kawannya. “Damar tidak akan dapat minta bantuan kepada siapapun juga,” berkata orang yang pertama. “Ia akan dibayangi oleh beban yang diberikan oleh Ki Rangga. Karena

itu, maka ia tidak akan berani melaporkan atau memberikan isyarat kepada para pengawal.”

“Belum tentu,” jawab yang lain. “Menurut laporan. Damar berusaha untuk mendekatkan diri kepada para pengawal, agar ia tidak mendapat kesulitan melakukan tugasnya yang rumit itu.”

“Tetapi tugas itu tidak dapat diselesaikannya sampai saat ini,” jawab yang pertama.

Namun tiba-tiba kawannya yang lain, yang tertua di antara mereka berkata, “Banyak kemungkinan dapat terjadi. Mungkin Damar dan Saruju benar-benar

mengalami kesulitan meskipun mereka sudah berusaha membaur dengan anak-anak muda

Sembojan. Tetapi mungkin pula, justru karena itu, mereka telah tenggelam di

antara kawan-kawannya dan kehidupan Tanah Perdikan itu, sehingga mereka memang sudah berkhianat. Bahkan masih ada kemungkinan-kemungkinan baru yang dapat terjadi antara lain, bahwa Damar dan Saruju telah mempersiapkan kawan-kawannya untuk melindungi keluarganya.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Memang banyak kemungkinan yang akan mereka

hadapi. Dengan demikian maka tugas mereka pun akan sama sulitnya dengan membunuh

Risang itu sendiri. Tetapi bagi orang Tanah Perdikan Sembojan nilai Risang jauh lebih tinggi dari nilai Damar dan Saruju.

Dengan demikian maka kesepuluh orang itu menjadi sangat berhati-hati. Mereka tidak dapat dengan serta merta mendatangi rumah Damar atau Saruju. Tetapi mereka memerlukan waktu.

Tanah Perdikan Sembojan adalah Tanah Perdikan yang menjadi semakin lama semakin hidup. Namun dengan demikian, maka jalan-jalan induk di Tanah Perdikan itu menjadi jalan yang ramai yang dilalui bukan saja oleh orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Orang-orang dari Kademangan sebelah menyebelah setiap hari banyak juga yang datang memasuki Tanah Perdikan Sembojan dan sebaliknya untuk kepentingan perdagangan. Beberapa pasar yang tersebar di Tanah Perdikan Sembojan pun menjadi semakin ramai, apalagi pasar di padukuhan induk Tanah Perdikan.

KARENA itu, maka sulit bagi para pengawal Tanah Perdikan untuk dapat menyaring orang-orang yang memasuki Tanah Perdikan. Hal itu disadari oleh orang-orang yang bertugas di Tanah Perdikan. Mereka dapat saja berada di antara orang-orang yang pergi ke pasar atau berada di jalan-jalan yang menghubungkan

kademangan-kademangan tetangga disebelah menyebelah Tanah Perdikan.

Dengan perhitungan yang demikian itulah maka mereka menjadi agak leluasa berada di Tanah Perdikan Sembojan. Apalagi mereka adalah orang-orang yang tidak begitu dikenal oleh Damar dan Saruju. Ki Rangga telah dengan cermat memilih mereka,

selain kemampuan mereka yang memadai, maka mereka tidak akan dapat dengan cepat dikenali oleh Damar dan Saruju karena sarang mereka yang berbeda dan sejak

mereka berada disebelah Timur Pajang, mereka berada dalam kelompok yang berbeda dan jarang saling berhubungan. Namun orang-orang itu telah mendapat petunjuk dan keterangan tentang Damar dan Saruju, serta rumah mereka dan jumlah keluarga mereka.

Di hari pertama mereka berada di Tanah Perdikan Sembojan, mereka hanya sekadar berusaha mengenali lingkungan yang akan menjadi arena perburuan mereka.

Sepuluh orang yang ditugaskan Ki Rangga di Tanah Perdikan Sembojan itu telah memecah diri menjadi bagian-bagian yang kecil yang terdiri tidak lebih dari dua orang. Namun mereka dapat menjelajahi Tanah Perdikan itu tanpa hambatan. Mereka dapat menyusuri jalan-jalan di padukuhan-padukuhan, apalagi di waktu pagi. Pada saat-saat orang hilir mudik pergi ke pasar untuk menjual atau membeli kebutuhan mereka sehari-hari.

Ternyata semua orang yang dikirim oleh Ki Rangga Gupita itu telah memerlukan berjalan lewat jalan disebelah rumah Saruju dan Damar. Sesuai dengan petunjuk maka mereka pun segera mengetahui dimana letak rumah yang dimaksud. Sementara itu mereka pun telah berjalan melalui jalan di padukuhan induk yang melewati rumah Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Namun ketika mereka berjalan di depan regol itu, mereka tidak dapat menangkap kesan yang khusus. Mereka hanya melihat beberapa orang pengawal meronda.

Nampaknya tidak ada persiapan khusus, karena kelihatannya para petugas itu berada di gardu dengan sikap wajar saja.

Ketika pada malam harinya mereka berkumpul di luar Tanah Perdikan itu, di sebuah hutan kecil, maka mereka mulai membicarakan langkah-langkah yang akan dapat mereka ambil.

“Nampaknya di rumah Saruju dan Damar tidak terdapat penjagaan secara khusus,” berkata pemimpin kelompok yang bertugas membunuh itu.

“Ya,” sahut seorang kawannya. “Aku tidak melihat seorang pengawal pun. Agaknya mereka memang dalam kesulitan. Jika mereka minta kawan-kawannya melindungi mereka, tentu mereka akan menelusuri sebab-sebabnya. Apabila sampai pada satu kesimpulan bahwa keduanya akan membunuh Risang, maka keduanya akan mengalami kesulitan pula dari orang-orang Tanah Perdikan sendiri. Karena itu, maka kedua

orang anak muda itu tidak akan berani minta bantuan kepada siapapun juga.” “Tetapi,” berkata kawannya yang lain. “Jika demikian, maka keduanya tentu mengambil sikap lain. Keluarganyalah yang tentu tidak berani keluar dari halaman rumah mereka.”

“Itu bukan soal yang rumit. Kitalah yang akan memasuki rumah mereka. Tentu saja di malam hari,” berkata pemimpin kelompok itu. “Bukankah tugas kita hanya membunuh seorang. Kita hanya akan memasuki rumah Damar. Tidak rumah Saruju. Karena giliran pertama agaknya jatuh pada keluarga Damar.”

“Itu tidak terlalu penting,” desis pemimpin kelompok yang lain, yang hanya bertugas untuk mengamati keadaan. “Jika kalian menganggap lebih mudah untuk membunuh keluarga Saruju maka kalian dapat memilih keluarga itu. Yang penting menurut pendengaranku. Tetapi terserahlah kepada kalian yang bertugas, seorang dari kedua keluarga itulah yang harus dibunuh.”

“Ya,” jawab pemimpin kelompok yang bertugas membunuh itu, “Namun yang disebut-sebut pertama kali adalah keluarga Damar. Meskipun demikian jika lebih

mudah bagi kami untuk mengambil keluarga Saruju, maka kami akan mengambilnya.”

KAWAN-KAWANNYA mengangguk-angguk. Tetapi mereka memerlukan waktu untuk melihat

yang manakah yang lebih baik mereka lakukan. Di hari berikutnya seorang di

antara mereka telah mengamati rumah Damar dari tempat yang agak jauh. Seorang di antara mereka telah menjadikan dirinya seorang pengemis yang sakit-sakitan.

Mula-mula orang itu berada di pasar. Kemudian ia merambat ke lorong yang melewati rumah Damar. Untuk beberapa saat ia berhenti dibawah sebatang pohon. Namun selama ia berada dibawah sebatang pohon itu, ia tidak melihat seorang pun keluar dari rumah Damar. Dengan demikian maka orang itu berkata di dalam hati, “Agaknya keluarga Damar memang sudah harus menjaga diri setelah mendapat peringatan. Semua orang tetap berada di halaman rumahnya.”

Namun dalam pada itu, ia justru melihat seorang anak muda yang keluar dari rumah itu. Damar sendiri.

“Anak itu mau kemana?” bertanya orang yang sedang mengamatinya itu didalam hatinya.”

Dengan hati yang berdebar-debar ia melihat Damar lewat di depannya tetapi tanpa menghiraukannya. Sementara orang itu pun telah duduk bagaikan membeku dengan menundukkan kepalanya. Tubuhnya kelihatan sangat lemah dan bahkan sakit-sakitan. Tetapi ia tidak mengacungkan tangannya untuk memohon belas kasihan ketika Damar lewat.

Ternyata orang itu telah mengikuti Damar dari jarak yang agak jauh. Dengan sangat hati-hati ia berjalan dengan kaki timpang, punggung yang terbongkok-bongkok dan nafas yang terengah-engah.

“Anak itu pergi ke pasar,” berkata orang itu di dalam hatinya ketika ia melihat Damar memasuki jalan yang menuju ke pasar. Bahkan orang itu segera dapat

mengambil kesimpulan, bahwa Damarlah yang pergi berbelanja. Menurut keterangan yang pernah didengarnya dari orang yang pernah menemui Damar sebelumnya. Namun justru karena ancaman-ancaman itu, Damar sendirilah yang berbelanja. Meskipun

hal itu tidak biasa dilakukan, bahwa seorang anak muda berbelanja di pasar, tetapi terpaksa dilakukannya.

“Kenapa bukan Damar sajalah yang harus dibunuh,” berkata orang yang menyamar sebagai seorang pengemis itu. “Agaknya lebih mudah untuk melakukannya. Sekarang pun aku akan dapat membunuhnya.”

Pengemis itu tidak mengikuti terus. Ketika ia sudah mendapat kepastian bahwa Damar akan pergi ke pasar, maka ia pun telah berhenti dan kembali duduk di bawah sebatang pohon yang rindang.

Pengemis itu sama sekali tidak memperhatikan, ketika seorang berjalan dihadapannya dan agaknya juga menuju ke pasar.

Sementara itu, Damar memang pergi ke pasar. Seperti yang diduga oleh pengemis itu, Damar memang pergi berbelanja. Ia tidak membiarkan adik-adiknya atau ibunya pergi ke pasar, karena mereka akan dapat menemui kesulitan di perjalanan.

Namun dalam pada itu, seorang lagi, yang lewat kemudian di depan pengemis itu tanpa mendapat perhatiannya, telah menyusul Damar pergi ke pasar pula. “He, kau pergi berbelanja?” bertanya orang yang menyusulnya itu.

mohon maaf....terpotong sedikit aja...

NAMUN pada giliran yang pertama, ancaman terberat agaknya ditujukan kepada keluarga Damar. Karena itu, maka perhatian Gandar dan pemimpin Pengawal Tanah Perdikan itu pun lebih banyak ditujukan kepada Damar pula, meskipun mereka tidak mengabaikan keluarga Saruju. Sementara itu, Damar pun telah menemui Saruju pula untuk menyampaikan pesan terakhir dari orang yang diperintahkan oleh Ki Rangga menemuinya.

Saruju memang menawarkan apakah sebaiknya Sambi Wulung pun untuk sementara biar

tinggal bersama Damar pula. Tetapi Damar menggeleng. Katanya, “Aku kira Jati Wulung sudah cukup membantuku. Sementara itu masih ada kenthongan di dalam rumahku. Setiap saat kenthongan itu akan dapat dibunyikan dan aku harap, pertolongan akan segera datang.”

Dalam pada itu, maka keluarga Damar benar-benar ada di dalam saat-saat yang paling tegang. Gandar sendiri kemudian ternyata lebih sering berada di rumah Saman, yang hanya berjarak dua halaman saja dari rumah Damar.

Meskipun demikian, maka para pengawal tidak melalaikan tugas-tugas mereka yang lain. Sejalan dengan usaha untuk menjebak orang-orang yang akan datang untuk membunuh itu, maka semua pengamatan dan kesiagaan telah disamarkan dan hanya diketahui oleh para pengawal saja.

Demikianlah setelah beberapa hari kelima orang yang ditugaskan untuk mengambil salah seorang keluarga Damar itu berada di sekitar Tanah Perdikan, maka mereka pun telah bersiap untuk melakukan tugas mereka. Pemimpin dari kelompok yang harus mengawasi keadaan Tanah Perdikan itu sudah memperingatkan, bahwa mereka harus segera menyelesaikan tugas mereka, agar terhadap mereka pun tidak perlu dijatuhkan ancaman sebagaimana yang dilakukan atas Damar dan Saruju.

“Kami bukan perempuan yang takut melihat darah,” geram pemimpin kelompok itu. “Bukan maksudku,” jawab pemimpin kelompok yang lain. “Tetapi jangan terlalu lama menunggu. Kesempatan itu harus kau cari, jangan kau tunggu datang sendiri.” “Malam nanti aku akan memasuki rumah Damar,” berkata pemimpin kelompok yang harus membunuh keluarga Damar itu.

Pemimpin kelompok yang lain tidak menjawab. Tetapi nampaknya orang-orang yang bertugas membunuh itu benar-benar akan melakukan tugasnya pada malam yang bakal datang.

Sebenarnyalah ketika matahari menjadi semakin rendah, maka kelima orang yang bertugas itu telah dikumpulkan. Setiap orang di antara mereka mendapat kesempatan untuk menyatakan pendapatnya.

Namun pada umumnya mereka berpendapat, bahwa tidak ada bahaya yang sungguh-sungguh jika mereka memang akan memasuki rumah itu malam nanti. “Memang ada tiga orang laki-laki,” berkata salah seorang di antara kelima orang itu. “Tetapi mereka adalah laki-laki lugu yang tidak tahu tentang olah kanuragan kecuali Damar sendiri.”

“Tiga orang sekaligus harus menghadapi mereka itu jika mereka berusaha melawan,” berkata pemimpin kelompok itu. “Dua orang lainnya akan bertugas langsung membunuh siapapun. Mungkin ayahnya, mungkin ibunya, atau salah seorang adiknya. Tetapi jika mereka melawan, maka kemungkinan kematian akan bertambah lagi.”

“Itu bukan salah kita,” jawab pemimpin kelompok yang lain. “Bahkan seandainya semua terbunuh pula, jika memang sudah tidak ada cara lain yang lebih baik.” “Tetapi sebagaimana ditekankan kepada kita oleh Ki Rangga Gupita dan Nyi Wiradana bahwa seandainya Damar atau Saruju terbunuh pula dalam pertempuran, maka kita tidak akan dapat dipersalahkannya,” desis pemimpin kelompok yang mendapat tugas untuk membunuh itu.

Demikianlah, maka setelah semua orang menyatakan pendapat mereka tentang rencana yang akan mereka lakukan, maka mereka telah mengambil kesimpulan untuk memasuki halaman rumah Damar, mengetuk pintunya dan minta salah seorang di antara keluarganya itu.

“Tetapi bukan pamannya,” berkata salah seorang dari mereka.

Namun dalam pada itu, pemimpin kelompok itu masih berkata kepada pemimpin kelompok yang lain, “Apakah kalian akan mengamati langsung suasana?”

“JIKA itu menguntungkan, aku akan pergi,” jawab pemimpin kelompok yang lain. “Atau barangkali kalian memerlukan kekuatan cadangan?” “Tidak,” jawab pemimpin kelompok yang bertugas membunuh itu. “Semuanya terserah kepadamu. Apa kau akan mengamati langsung atau tidak.” Pemimpin kelompok yang lain itu pun memandangi orang-orangnya. Agaknya ia memerlukan pertimbangan dari mereka.

Dalam pada itu, seorang di antara mereka berkata, “Ada juga baiknya kita nonton. Jika diperlukan, apa salahnya kita membantu, asal laporan yang bakal sampai kepada Ki Rangga juga berkata begitu.”

Pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah kita juga pergi.” Akhirnya dua kelompok itu pun telah pergi menuju ke padukuhan dimana Damar tinggal. Namun kelompok yang kedua, tidak akan terlibat langsung jika tidak diperlukan, karena kelompok pertama memang sudah terlalu yakin, akan mampu mengatasi keadaan. Sementara kelompok kedua memang mempunyai tugasnya sendiri.

Tetapi karena mereka merasa berasal dari satu keluarga besar dengan cita-cita yang satu, maka pemimpin kelompok kedua itu pun telah mempersiapkan diri pula jika diperlukan.

Demikianlah, maka mereka berhasil menyusup lewat pematang sawah dan lorong-lorong sempit di antara tanaman yang rimbun di pategalan, mendekati

padukuhan yang mereka tuju. Sekali lagi orang-orang dalam kelompok yang bertugas untuk membunuh itu meyakini sesuai dengan pengamatan mereka, bahwa tidak ada orang lain di rumah itu dan tidak ada penjagaan yang khusus. Namun mereka memang harus masuk kerumah mereka, karena tidak pernah ada seorang pun di antara keluarga Damar yang keluar regol halaman.

Dengan sangat berhati-hati maka sepuluh orang itu pun telah menyusup memasuki padukuhan tanpa diketahui oleh anak-anak muda yang bertugas meronda. Apalagi karena dalam beberapa hari, ternyata tidak terjadi sesuatu, sehingga anak-anak muda itu semakin merasa bahwa padukuhan mereka tetap aman. Bahkan satu dua di antara mereka berpendapat, bahwa ancaman Ki Rangga terhadap Damar itu hanya untuk sekadar menakut-nakuti saja, meskipun Gandar sudah menekankan, bahwa ia pernah melihat seorang pengemis yang mencurigakan, kemudian yang terakhir, ia melihat pengemis itu lagi lewat di muka rumah Damar.

Ketika dalam gelapnya malam mereka mendekati regol halaman, maka pemimpin kelompok yang bertugas untuk membunuh itu berkata, “Ternyata tugas kita tidak terlalu sulit. Kita akan segera memasuki rumah itu dan besok kita kembali

membawa laporan tentang kematian salah seorang keluarga Damar, sementara itu kau masih akan tinggal disini untuk beberapa hari, mengamati perkembangan keadaan.” Pemimpin kelompok yang lain itu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab.

Sementara itu, sepinya malam terasa berbaur dengan dinginnya udara. Untuk beberapa saat lamanya kedua kelompok itu berhenti di depan regol. Namun mereka tidak melihat atau merasakan sesuatu yang ganjil yang dapat menghambat tugas mereka. Namun dalam pada itu, mereka terkejut ketika mereka mendengar suara kothekan. Agaknya sekelompok peronda telah nganglang sambil membunyikan kenthongan bambu di sepanjang lorong yang mereka lalui. Karena itu, maka pemimpin kelompok itu

pun segera memerintahkan orang-orangnya untuk masuk ke halaman dan menghilang dibalik gerumbul-gerumbul perdu dan taman-taman yang rimbun lainnya.

Sebenarnyalah sejenak kemudian, terdengar beberapa orang anak muda lewat di depan regol halaman rumah Damar sambil memukul kenthongan-kenthongan kecil dengan irama kothekan. Bahkan terdengar mereka tertawa dan bergurau dengan gembira.

Pemimpin sekelompok orang yang akan membunuh itu mengumpat, ketika peronda itu justru berhenti di muka rumah Damar. Beberapa orang di antara mereka agaknya saling berkejaran. Bahkan terdengar suara batu-batu kecil yang dilemparkan.

Rupa-rupanya mereka saling melempar batu-batu kecil sambil berkejaran.

“Anak setan,” geram pemimpin kelompok itu. Namun mereka harus sabar menunggu para peronda itu pergi.

mohon maaf....terpotong sedikit aja...

KETIKA Damar kemudian pergi ke ruang depan menemui Jati Wulung yang menunggu dengan berdebar-debar, ayah Damar itupun telah mengambil kenthongan. Kemudian ia ia pun telah menutup pintu sekat ruang depan dengan ruang dalam. Sementara itu,

ia pun mulai membangunkan istrinya dan anak-anak perempuannya, kecuali kakek Damar.

Ketegangan telah mencengkam seisi rumah itu. Damar dan Jati Wulung yang sudah siap sepenuhnya telah berada di ruang depan. Dengan hati-hati Damar mendekati pintu. Ketika ia sudah siap membuka selarak, ia masih juga berdesis, “Siapa yang diluar? Sebut namamu.”

“Damar,” terdengar suara itu. “Aku sudah terlalu lama menunggu. Jangan permainkan aku dengan cara seperti ini. Bukalah pintu, baru kita akan berbicara.”

Damar menjadi semakin yakin. Tentu bukan kawan-kawannya di gardu. Dan bukan pula orang yang bermaksud baik.

Perlahan-lahan Damar telah membuka selarak pintu rumahnya. Kemudian pintu itu pun mulai berderit. Sedikit demi sedikit pintu itu terbuka. Namun tiba-tiba

pintu itu telah diselarakkan dari luar, sehingga pintu itu terbuka lebar-lebar. Damar bergeser surut. Ia yakin, bahwa ia berhadapan dengan orang-orang yang datang untuk menghukumnya, karena ia memang belum berhasil menyelesaikan Risang, anak Nyi Wiradana.

Sementara itu, seorang laki-laki yang bertubuh tinggi tegap dan kekar telah berdiri di pintu.

Damar yang bergeser surut berdiri disebelah Jati Wulung yang tegak dengan kerut

di dahinya. Namun keduanya telah bersiap menghadapi segala kemungkinan meskipun mereka belum menarik pedang mereka dari wrangkanya.

“Siapa kau Ki Sanak?” bertanya Damar.

“Kau tentu sudah dapat menduganya,” jawab orang itu. “Tetapi baiklah aku mengatakan. Aku dan beberapa orang kawanku yang sekarang mengepung rumah ini, adalah utusan Ki Rangga Gupita dan Nyi Wiradana. Kami mendapat tugas untuk mengambil seorang dari keluargamu sebagaimana pernah diberitahukan kepadamu oleh petugas yang mendahului aku. Nah, waktunya itu sudah datang. Aku akan mengambil orang yang menurut penilaianmu, tidak berarti lagi di rumah ini. Sebutkan.