-->

Suramnya Bayang-Bayang Jilid 38

Jilid 38

Karena anak muda itu tidak segera berbuat sesuatu, maka Gandarlah yang berkata selanjutnya, “Nah marilah. Bukankah kau menantang aku?”

Anak muda itu masih membeku. Bahkan wajahnya menjadi bertambah pucat. Ia tidak menyangka bahwa Gandar akan langsung berbuat demikian tanpa ragu-ragu.

Tetapi Gandar pun merasa wajib membuat demikian. Ia harus tetap berwibawa dihadapan anak-anak muda yang ditempatkan dibarak-barak khusus untuk mendapat tuntunan ke jalan kembali.

Ketegangan telah mencengkam suasana. Namun karena anak muda itu tidak berbuat apa-apa, maka Gandar pun kemudian berkata, “Baiklah. Nampaknya kau ingin menunda tantanganmu. Aku tidak berkeberatan, kapanpun kau menghendaki. Aku akan minta agar hal itu diijinkan.”

Sepatah katapun anak muda itu tidak menjawab. Sementara itu Gandar pun kemudian berkata, “Aku minta diri. Biarlah dua orang kawan kalian ini diterima di antara

kalian. Tetapi terserah kepada kalian. Namun seperti yang sudah sering aku

katakan, atau dikatakan oleh para pemimpin Tanah Perdikan ini, Sembojan memang menunggu tenaga kalian. Tanah ini memerlukan uluran tangan untuk membenahinya setelah untuk beberapa lama kita koyak-koyak sendiri, namun karena dorongan dan pengaruh dari luar.”

Tidak seorang pun menjawab. Namun Gandar pun sadar, bahwa kata-katanya itu tentu diterima dengan tanggapan yang berbeda-benda di antara anak-anak muda itu. Tentu ada yang dicerna dan ditanggapi dengan baik, tentu tentu ada yang masih

ragu-ragu dan bahkan ada di antara mereka yang mencemohnya di dalam hati. Tetapi bagi Gandar hal itu bukannya persoalan yang harus ditanggapinya secara khusus, karena yang menangani anak-anak muda itu adalah seluruh pimpinan Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan satu dua orang perwira dari Pajang pun setiap kali

ikut pula turun ke barak-barak khusus itu untuk memberikan

penjelasan-penjelasan, terutama kedudukan Tanah Perdikan Sembojan dalam hubungannya dengan Pajang, Jipang dan sebelum itu Demak.

Sejenak kemudian maka Gandar pun kemudian berkata sambil melangkah pergi, “Cobalah berpikir. Pergunakanlah nalar kalian sebaik-baiknya.”

Tidak ada yang menjawab. Dan Gandar pun memang tidak menunggu jawaban. Sejenak kemudian ia pun telah melangkah menjauh dan keluar dari lingkungan barak khusus itu.

“Layanilah mereka baik-baik,” berkata Gandar kepada para pengawal. “Rawatlah sebagaimana merawat orang sakit meskipun yang sakit bukan wadagnya.”

PARA pengawal itu tersenyum meskipun mereka tahu bahwa Gandar

bersungguh-sungguh. Pemimpin pengawal itu pun berkata, “Kami mengerti Gandar. Tetapi kami tidak mempunyai pengalaman untuk merawat orang-orang yang sakit jiwanya. Kadang-kadang kami kehilangan kesabaran dan justru jantung kami sendirilah yang hampir rontok karenanya.”

Gandar mengangguk-angguk. Ia pun sadar akan hal itu. Bahkan ia pun kemudian menceriterakan apa yang baru saja dialami. Namun kemudian ia berkata, “Kita memang sedang memikul beban yang sangat berat untuk mengembalikan mereka ke pangkuan kampung halaman dengan kesadaran sepenuhnya.”

“Tetapi Gandar,” tiba-tiba pemipin pengawal yang bertugas itu berbisik, “Mereka justru mendapat perlakuan yang sangat baik. Keadaan mereka menurut pengamatan kami, justru lebih baik dari para pengawal.”

“Ah, jangan beranggapan begitu,” sahut Gandar.

“Mereka mendapat makan, minum, pakaian dan alat-alat yang cukup,” pemimpin pengawal itu menjelaskan.

“Seperti sudah aku katakan. Mereka adalah orang-orang yang sedang sakit,” jawab Gandar.

“Dan karena itu maka mereka perlu dimanjakan?” bertanya pemimpin kelompok itu pula.

Gandar menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia berkata, “Namun bagaimanapun juga mereka tetap berada di dalam lingkungan tertutup. Mereka tidak dapat

berjalan-jalan di bulak-bulak panjang memandangi hijaunya hasil kerja kita di

sawah. Mereka tidak dapat mengunjungi sanak-kadang dan kawan-kawan mereka dalam keadaan bebas seperti kita.”

Pemimpin pengawal itu mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Ya. Aku mengerti.” “Dengan demikian kita akan dapat mengambil makna dari peristiwa itu. Ternyata kebebasan lebih berharga dari kemanjaan yang diberikan kepada saudara-saudara kita itu. Pada satu saat saudara-saudara kita itu pun akan menyadarinya pula sejalan dengan gerak nurani mereka untuk melihat kebenaran di Tanah Perdikan ini,” berkata Gandar pula. Lalu, “Dengan demikian, maka mereka akan dapat lebur kembali ke dalam lingkungan kita.”

Pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Namun ia masih juga bertanya, “Tetapi bagaimana dengan kebiasaan mereka. Mungkin kesadaran itu akan timbul. Namun jika mereka menuntut lebih banyak.”

“Maksudmu?” bertanya Gandar.

“Kebebasan itu dan kemanjaan sekaligus,” jawab pemimpin pengawal yang bertugas saat itu.

Gandar menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mudah-mudahan terdapat keseimbangan

sikap jiwani di dalam diri mereka. Kebebasan itu akan mereka peroleh tidak bersama dengan kemanjaan, tetapi dengan rasa tanggung jawab.”

Pemimpin pengawal itu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian mengangguk-angguk sambil berkata, “Mudah-mudahan.”

Gandarlah yang kemudian tersenyum. Ia mengerti sepenuhnya perasaan pemimpin pengawal yang sedang bertugas itu. Perasaan yang demikian tentu tidak hanya tersirat di dalam hatinya. Tetapi tentu juga di dalam hati para pengawal yang

lain. Mereka yang merasa bekerja keras dan mengorbankan apa saja, bahkan seandainya nyawa mereka harus direnggut pula di medan perang sebagaimana terjadi atas kawan-kawan dan saudara-saudara mereka, harus selalu menahan diri menghadapi sikap kawan-kawan mereka yang pernah berkhianat kepada Tanah Perdikan

Sembojan itu. Yang meskipun berada di dalam barak khusus dan tertutup, namun mereka mendapat pelayanan yang cukup baik.

Meskipun demikian pemimpin pengawal itu berusaha untuk dapat mengerti keterangan Gandar, bagaimanapun juga mereka tidak mendapatkan kebebasan.

Demikianlah, maka anak-anak muda yang menyerah itu pun semakin hari semakin bertambah. Baik oleh karena mereka tidak lagi mempunyai harapan untuk berbuat sesuatu, atau menjadi putus asa atau karena pengaruh orang-orang yang pernah mereka temui selama mereka bersembunyi-sembunyi.

Keadaan Tanah Perdikan Sembojan yang nampaknya menjadi semakin baik dan tenang pun menjadi dorongan bagi mereka untuk kembali ke kampung halaman. Apalagi dengan sengaja Iswari telah menyebarkan keterangan lewat orang-orang Tanah Perdikan Sembojan, bahwa ia akan memberikan pengampunan kepada anak-anak Sembojan yang ingin kembali ke kampung halamannya.

UNTUK itu mereka telah ditampung di dalam barak-barak yang khusus. Mereka mendapat penjelasan, keterangan dan kesempatan untuk berbicara secara terbuka, apakah yang sebenarnya terjadi dengan Tanah Perdikan itu. Anak-anak muda yang kembali itu mendapat kesempatan untuk menyatakan pendapatnya, membantah, mempersoalkan, menanyakan dan sikap apapun juga pada kesempatan-kesempatan yang

memang banyak diberikan oleh Iswari. Dengan demikian maka mereka perlahan-lahan menemukan satu keyakinan baru tentang Tanah Perdikan mereka. Bukan sekadar keterangan yang harus mereka dengarkan dan mereka telan tanpa mengunyahnya sama sekali.

Sedikit demi sedikit, harapan Iswari mulai nampak. Sebagian anak-anak muda yang berada di dalam barak-barak khusus itu mulai terbuka hatinya. Dalam perdebatan yang kadang-kadang sengit, kadang-kadang dibayangi oleh gelapnya perasaan, namun penjelasan-penjelasan yang mereka dengar dari para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan dan para perwira dari Pajang agaknya mampu meyakinkan mereka tanpa memaksakannya. Dan mulailah mereka melihat ke dalam diri mereka sendiri. Mereka seakan-akan telah melihat satu pertunjukan tentang diri mereka sendiri. Mereka seakan-akan telah melihat dengan jelas, bagaimana mereka mulai melangkahkan kakinya ke arah yang sesat. Dan mereka pun mulai menilai apa yang pernah dilakukan Ki Wiradana sejak kedatangan seorang penari jalanan yang bernama

Warsi.

Perlahan-lahan penyesalan mulai mencengkam jantung. Seandainya semua itu tidak terjadi, maka ketenangan Tanah Perdikan ini tidak akan pernah diganggu. Mereka tidak akan pernah berdiri dengan batasan jarak yang keras dengan kawan-kawan dan saudara-saudara mereka yang kemudian ternyata berpendirian lain.

Sejalan dengan itu, maka kehidupan di Tanah Perdikan Sembojan pun mulai menjadi pulih kembali. Berita tentang pemindahan pusat pimpinan pemerintahan dari Demak ke Pajang disambut dengan gembira di Tanah Perdikan Sembojan. Dengan demikian maka kedudukan Sembojan menjadi semakin kuat. Apalagi Adipati Hadiwijaya kemudian telah bergelar menjadi Sultan Hadiwijaya yang berkedudukan di Pajang.

Namun demikian, para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan tidak pernah melupakan, bahwa di antara kemajuan yang dicapai dalam tatanan kehidupan di Tanah Perdikan Sembojan masih ada lawan yang selalu mengintai dengan penuh dendam.

Warsi yang melahirkan anak laki-laki dari Ki Wiradana masih tetap merasa, bahwa anaknya akan berhak untuk menggantikan kedudukan suaminya.

Satu-satunya penghalang yang terbesar adalah hadirnya seorang anak pula dari Iswari. Kecuali Iswari memang istri yang lebih dahulu dari Ki Wiradana, anaknya pun lahir lebih dahulu pula meskipun hanya berjarak bulan.

Karena itu, bagi Warsi dan orang-orang yang kemudian tetap menjadi pendukungnya, cara yang paling cepat untuk kembali ke Tanah Perdikan Sembojan adalah membunuh anak Ki Wiradana yang lahir dari Iswari.

“Aku berhasil membunuh Ki Gede Sembojan,” geram Warsi. “Kenapa aku tidak dapat membunuh anak itu?”

Namun demikian Warsi pun mengerti, bahwa Iswari tentu akan tetap berhati-hati dengan anaknya. Mungkin Iswari tidak akan pernah membiarkan anaknya keluar dari halaman rumahnya, sementara itu beberapa orang pengawal akan selalu mengawasinya dari segala penjuru.

“Tetapi aku harus dapat melakukannya,” berkata Warsi di dalam hatinya. Apalagi Ki Rangga Gupita yang kehilangan kesatuan dan lingkungannya di Jipang bersama beberapa orang bekas prajurit Jipang yang berhasil dihimpunnya tetap mendukungnya untuk mendapatkan satu landasan tempat berpijak. Sementara itu Warsi pun berusaha untuk menghimpun pula kekuatan Kalamerta yang pecah sepeninggal Kalamerta itu sendiri.

Sebenarnyalah, bahwa meskipun persoalan tahta Demak sudah diselesaikan, namun pertentangan-pertentangan masih berkecamuk di beberapa tempat.

DISEBELAH Barat Pajang, di beberapa tempat masih juga berkeliaran bekas-bekas prajurit Jipang. Mereka telah menempatkan diri disekitar sebuah Kademangan yang sangat subur. Mereka memilih hutan-hutan yang membujur ke Utara disebelah Barat Kademangan Sangkal Putung dan kemudian melintang ke Barat dekat dengan sebuah tempat yang disebut Macanan. Pasukan yang dipimpin oleh seorang Senapati yang memiliki ilmu yang tinggi yang disadapnya dari gurunya Ki Patih Mantahun,

ternyata tidak tunduk kepada perintah untuk meletakkan senjata yang kemudian diserukan oleh para Panglima Jipang sendiri. Pasukan itu telah berusaha untuk

tetap mengadakan perlawanan terhadap Pajang, meskipun tidak langsung menghadapi prajurit-prajurit Pajang sendiri.

Namun dengan menempatkan pasukan di hutan-hutan disekitar Sangkal Putung itu, maka Pajang pun telah menempatkan pasukannya yang kuat di antara Jati Anom dan Sangkal Putung, sementara di beberapa Kademangan telah dibentuk pasukan pengawal yang dibawah tuntunan dan bimbingan para perwira prajurit Pajang. Dengan

demikian maka Kademangan-kademangan itu sendiri telah membangun kekuatan yang mempertahankan diri sendiri.

Rangga Gupita dengan pasukan Jipang yang kecil memang telah membuat hubungan dengan pimpinan pasukan Jipang yang tinggal di hutan-hutan di sebelah Barat Pajang. Tetapi Senapati yang memimpin pasukan itu tidak dengan serta merta bersedia membantunya.

“Kau telah berusaha memperalat kami untuk kepentingan pribadimu,” berkata Senapati di sebelah Barat Pajang itu ketika Ki Rangga Gupita membuat hubungan dengannya.

“Tetapi kita akan mendapat satu landasan yang kuat. Sebuah Tanah Perdikan yang cukup luas dan subur. Apalagi perempuan itu mempunyai hak untuk memerintah Tanah Perdikan itu atas nama anaknya sehingga Warsi akan dapat banyak membantu kita, menentukan jalannya pemerintahan di Tanah Perdikan itu,” berkata Ki Rangga

Gupita.

“Jangan mimpi,” jawab Senapati pasukan Jipang yang bersembunyi di hutan-hutan disebelah Barat Pajang. “Aku pun akan dapat membuat satu landasan disini. Karena itu, jika kau memang ingin bergabung dengan kami, bawa orang-orangmu yang

tinggal beberapa orang itu kemari. Jangan perintah aku untuk membantumu menuruti perempuan yang telah menjebakmu sebagaimana ia menjebak Ki Wiradana sebelumnya.” “Darimana kau tahu persoalan perempuan itu dengan Ki Wiradana?” bertanya Ki Rangga Gupita.

“Pengawalmu juga punya mulut. Ia bercerita kepada kawan-kawannya disini. Aku tidak tahu darimana pengawal itu mendengar cerita tentang Warsi dan Wiradana. Tentang seorang penari jalanan dan seorang anak dan bahkan kemudian Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan.”

Ki Rangga Gupita tidak dapat membantah lagi. Para pengawalnya itu tentu mendengar dari anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang ada di dalam lingkungan pasukan Jipang.

Sementara itu Senapati itu pun kemudian berkata, “Jika kau masih tetap ingin berjuang bersama kami, bawa pasukanmu itu kemari. Atau jika pada suatu saat aku mempunyai perhitungan lain, aku akan mencari hubungan denganmu.”

“Kau akan datang kepada kami setelah kami kuasai Tanah Perdikan itu,” desis Ki Rangga Gupita.

“Aku bukan pengemis seperti itu,” geram Senapati Jipang. Namun kemudian ia berkata, “Jika aku datang, tidak untuk minta belas kasihanmu. Tetapi aku datang dengan pasukan dan menduduki Tanah Perdikan itu dengan kekuatan.”

“Kau kasar sekali,” jawab Ki Rangga Gupita.

“Kita memang orang-orang kasar,” jawab Senapati itu. “Apalagi setelah kita kehilangan tempat berpijak. Maka kita menjadi semakin kasar, pemberang, pendendam dan agaknya kita tidak lagi mempunyai kepercayaan di antara kita. Dan aku telah menuduhmu bahwa kau akan mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya dengan peristiwa ini. Tanah Perdikan, perempuan dan kedudukan.”

“Cukup,” potong Ki Rangga Gupita dengan wajah yang merah. “Jika kau tidak mau melakukan permintaanku, katakan bahwa kau tidak bersedia. Jangan mengada-ada.

Aku sendiri masih mempunyai pasukan yang cukup untuk memasuki Tanah Perdikan itu dan membangun kekuatan di atasnya. Jangan menyesal, bahwa pada suatu saat,

akulah yang memasuki Jipang dengan tanda-tanda kebesaran.” mohon maaf....terpotong sedikit aja...

PARA pengikut Ki Rangga Gupita dan Warsi yang ikut tinggal di padepokan terpencil itu tidak terlalu banyak. Sebagian besar dari para pengikutnya justru tersebar disarang-sarang mereka yang garang, yang tersembunyi dan tidak diketahui oleh orang lain. Para pengikutnya terutama adalah para bekas prajurit Jipang, sisa-sisa gerombolan Kalamerta dan ada juga anak-anak Tanah Perdikan Sembojan yang telah tersesat semakin jauh dari jalan menuju kembali ke kampung halaman. Mereka dengan dibekali dengan harapan-harapan dan dendam, telah menjadi pengikut yang setia. Yang tidak lagi mengerti dari tujuan hidup mereka sendiri.

Dengan kasar mereka melakukan pekerjaan yang diberikan kepada mereka untuk merampas, merampok dan menyamun. Mereka merasa bahwa mereka wajib melakukannya,

karena hasil kerja mereka itu akan menjadi modal untuk mendaki satu cita-cita yang amat tinggi.

“Jika kita tidak dapat menikmati hasilnya, maka anak cucu kitalah yang akan memetiknya,” berkata Ki Rangga Gupita.

Dalam pada itu, pada saat-saat tertentu Ki Rangga Gupita dan Warsi memang berada di padepokannya sebagai Kiai dan Nyai Premati. Meskipun letak padepokan itu memang agak terpencil, agak jauh dari padukuhan, bahkan dari sebuah hutan yang termasuk lebat hanya berjarak sebentang ara-ara perdu, namun padepokan itu dikenali juga oleh beberapa orang di padukuhan-padukuhan yang tersebar agak jauh itu.

Kiai dan Nyai Premati dikenal sebagai dua orang pertapa yang baik dan rendah hati. Banyak orang yang mengenalnya sebagai dua orang suami istri yang hidup dalam suasana yang tenang, tentram dan penuh kedamian hati.

Namun sebenarnyalah di dalam dada kedua orang itu menyala api dendam yang bagaikan menggapai langit. Dendam itu berkobar di tempat-tempat lain di luar padukuhan itu dan sekitarnya.

Bahkan dendam itu hampir saja membakar anak Warsi sendiri. Betapa bencinya Warsi kepada Ki Wiradana yang ternyata tidak dapat menjadi alas untuk mencapai satu kedudukan yang baik baginya dan bagi keinginannya untuk hidup melebihi orang kebanyakan. Jika semula laki-laki yang bernama Wiradana itu memang berhasil meluluhkan hatinya saat-saat dendam atas kematian pamannya membakar jantungnya, sehingga ia tidak sampai hati membunuh laki-laki itu, maka kemudian anggapannya telah berubah sama sekali. Laki-laki yang bernama Wiradana itu adalah orang yang baginya telah merampas seluruh masa depannya.

Seandainya tidak ada terpercik harapan pada anak laki-lakinya untuk mempergunakan haknya sebagai pewaris Tanah Perdikan Sembojan, maka anak itu tidak akan banyak berarti lagi baginya. Bahkan mungkin anak itu telah diberikannya kepada perempuan yang pernah dipaksa menjadi pemomongnya. “Tetapi jika kau tidak dapat memperoleh hak itu atas Tanah Perdikan Sembojan maka kau tidak lebih baik dari ayahmu,” berkata Warsi kepada anak laki-lakinya dengan kasar.

Bayi itu memandang wajah ibunya tanpa mengerti persoalannya. Dengan tatapan yang bening ia justru tersenyum sambil melenjit di pangkuan perempuan yang selalu dibakar oleh kebencian itu.

Tetapi ibunya justru membentak, “Diam anak setan. Jika kau melenjit-lenjit aku lepaskan kau biar kepalamu terantuk batu dibawah kakiku itu.”

Anak itu tidak tahu apa yang diucapkan ibunya. Ia justru berteriak kegirangan. Namun sementara itu, Ki Rangga Gupitalah yang berkata, “kenapa tidak kau lakukan? Anak itu merupakan beban bagi kita. Bukan hanya beban perawatannya tetapi juga beban perasaan. Bukankah kau juga merasakan?”

“Aku masih ingin menunggu bahwa pada suatu saat aku dapat membunuh anak Iswari itu. Dengan demikian anak ini akan dapat menuntut haknya,” jawab Warsi.

“Untuk berapa lama kita akan menunggu,” geram Ki Rangga Gupita. “Seandainya anak Iswari itu terbunuh, masih banyak orang yang akan berbicara tentang anakmu itu.

Mungkin Pajang juga akan ikut campur.”

“APAKAH kita perlu berbicara dengan Pajang?” bertanya Warsi. “Jika aku berhasil membunuh anak Iswari, dan kita berhasil memasuki Tanah Perdikan Sembojan, maka aku akan dapat mempergunakannya, memaksakan kehendakku atas orang-orang Tanah Perdikan itu. Disetujui atau tidak disetujui oleh Pajang. Sebelum Pajang

akhirnya mengambil langkah kekerasan, kita harus sudah dapat menyusun kekuatan itu. Kita dapat berbicara lagi dengan Senapati Jipang di hutan-hutan disekitar Sangkal Putung itu. Jika mereka melihat kita berhasil, aku kira mereka tidak

akan berkeberatan untuk bekerjasama dengan kita. Akan lebih baik kalau kita dapat menghimpun kekuatan yang lebih luas dengan cara apapun juga. Kita akan dapat membakar perasaan tidak puas atas pemerintahan Sultan Hadiwijaya. Kita dapat mempergunakan banyak alasan untuk menyalakan kebencian itu. Apalagi Hadiwijaya adalah anak dari daerah Tingkir yang kedudukannya tidak lebih tinggi dari kita sendiri. Kita tidak perlu takut kena kutuk dan tuahnya karena

derajatnya adalah sebagaimana derajat kita.”

Ki Rangga Gupita yang juga menyebut dirinya Kiai Premati tidak menjawab. Ia

masih mencoba untuk menyetujui pendapat Warsi tentang anak yang berada di tangan Warsi itu. Namun sebenarnyalah anak itu tumbuh tanpa kasih sayang. Bahkan anak itu kemudian lebih banyak berada ditangan pemomongnya dari pada ditangan Warsi. Pemomong yang akhirnya didapat juga dari keluarga para pengikut ayah Warsi di padukuhannya.

Tetapi karena sikap Warsi sendiri, maka pemomongnya pun tidak terlalu banyak menunjukkan kasih sayangnya kepada anak-anak. Ia kadang-kadang berlaku kasar juga kepada anak yang masih belum mengerti arti hidupnya sendiri.

Namun dalam permainan Warsi yang sempurna, maka dihadapan orang lain di luar padepokannya, nampaknya Warsi yang disebut Nyai Premati bersama laki-laki yang dianggap suaminya, Kiai Premati, dapat berlaku sangat manis kepada anak

laki-lakinya itu. Dan tentu demikian pula dengan pemomongnya.

Dalam pada itu, di Tanah Perdikan Sembojan Iswari pun tengah memelihara anak laki-lakinya yang beberapa bulan lebih tua dari anak Warsi. Namun agaknya keadaan anak Iswari itu jauh berbeda dengan anak Warsi. Anak Iswari itu ternyata mendapat perawatan dan pelayanan yang sewajarnya. Ia mendapat kasih sayang dari ibunya dan orang-orang disekitarnya. Meskipun anak itu tidak mengenal ayahnya, tetapi ia mendapat tuntunan dan bimbingan yang memadai sebagai seorang anak laki-laki yang dipersiapkan kelak untuk menjadi seorang Kepala Tanah Perdikan.

Meskipun anak itu masih bayi, namun setiap orang disekitarnya mengharapkan, bahwa ia akan menjadi orang yang besar kelak, yang tidak akan tergelincir seperti ayahnya.

Dengan demikian maka anak Iswari itu tumbuh dengan suburnya. Bukan hanya wadagnya, tetapi juga jiwanya menjadi tegar. Ia mendapat kegembiraan dengan permainan-permainan yang banyak diberikan kepadanya. Pemomongnya adalah seorang

perempuan yang riang. Yang gemar berdendang, bukan saja saat-saat menjelang tidur. Tetapi hampir setiap saat.

Di antara kawan-kawannya yang sebaya, anak Iswari nampak mempunyai perbawa yang lebih besar. Ada sesuatu yang lain. Agaknya karena asuhan yang

bersungguh-sungguh serta cermat dilandasi oleh kasih sayang yang tinggi. Namun anak Iswari sekali-kali tidak menjadi manja. Setiap kali orang-orang tua telah memperingatkan Iswari, agar anaknya tidak menjadi manja. Salah satu

kelemahan Ki Wiradana adalah justru karena kemanjaannya. Ia adalah satu-satunya anak laki-laki Ki Gede Sembojan. Namun agaknya K Gede kurang tepat membimbingnya, sehingga anak itu tidak mewarisi kelebihan-kelebihan Ki Gede, tetapi justru kekurangan-kekurangannya.

“Jadi pengalaman pahitmu itu menjadi pelajaran,” berkata Nyai Soka. “Kemanjaan tidak memberikan keuntungan apa-apa bagi seorang anak. Seorang yang mengasihi anaknya berlebihan dengan memanjakannya itu berarti menjerumuskan anak itu sendiri ke dalam kesulitan.”

ISWARI pun telah berpegangan kepada pesan-pesan orang-orang tua itu. Ia pun mengalami kepahitan yang tidak akan dilupakannya meskipun ia tidak mendemdamnya, justru karena suaminya seorang yang manja dan kemudian dalam kemanjaannya itu ia telah memanjakan dirinya sendiri. Dalam hubungan sehari-hari dengan orang-orang disekitarnya, anak Iswari itu lebih dikenal dengan nama panggilannya. Ia lebih

senang dipanggil Risang daripada namanya yang panjang. Sementara itu orang-orang lain pun lebih senang pula memanggil Risang, karena jika dipanggil dengan

sebutan lain anak itu sama sekali tidak berpaling.

Dari hari ke hari Risang tumbuh semakin besar. Ia sudah mempunyai pengalaman baru. Beberapa kali ia terjatuh waktu belajar berjalan. Namun Risang tidak

pernah menyerah. Sehingga akhirnya Risang pada umurnya setahun lebih beberapa hari sudah benar-benar dapat berjalan.

Pada saat-saat berikutnya Risang dengan cepat dapat berlari-lari kecil.

Memanggil-manggil ibunya dan nama pemomongnya. Bahkan kemudian sepatah-patah Risang sudah dapat berbicara.

Iswari menjadi gembira sekali melihat perkembangan Risang. Meskipun sekali-kali anak itu mengingatkannya kepada tingkah laku ayahnya. Bahkan hampir saja membunuhnya, namun justru Iswari merasa senasib dengan anak itu. Matinya adalah matinya anak itu dan hidupnya adalah hidup anak itu.

Karena itu, kasihnya kepada anak itu justru semakin bertambah-tambah, meskipun ia selalu ingat kepada pesan, bahwa ia tidak boleh memanjakannya.

Bahkan Iswari beberapa kali terpaksa memperingatkan perempuan yang disebut Serigala Betina. Ialah yang justru sering memanjakan Risang. Perempuan itu pun tiba-tiba ikut merasa bahwa Risang adalah anaknya. Ia merasa bahwa hadirnya Risang karena ia tidak melakukan perintah Ki Wiradana, meskipun ia tidak mengucapkannya kepada Iswari. Sehingga dengan demikian, meskipun ia tidak melahirkan Risang, tetapi ia merasa punya hak pula untuk ikut mengakunya sebagai anaknya.

Namun akhirnya perempuan itu menyadari, bahwa bagaimanapun juga Risang adalah anak Iswari. Dan ia harus mengikuti keinginannya untuk tidak memanjakan anak itu.

Di samping perawatan dan asuhan yang sungguh-sungguh Iswari tetap berhati-hati atas keselamatan anaknya itu. Ia mempercayakan pengamatan keselamatan anaknya kepada perempuan yang disebut Serigala Betina, yang ternyata lebih senang dipanggil Bibi oleh Risang. Bahkan kemudian bukan saja oleh Risang. Semua orang kemudian telah memanggilnya Bibi, sehingga Bibi itu seakan-akan telah berubah bukan sebagai sebutan, tetapi sebagai namanya.

Di samping Bibi, Iswari juga membebankan pengawasan anaknya kepada Gandar. Meskipun untuk sementara rumah Iswari masih tetap dijaga oleh sekelompok kecil pengawal yang bergiliran, namun Iswari sadar, bahwa lawannya adalah orang berilmu tinggi, sehingga hanya orang-orang berilmu tinggi sajalah yang pantas untuk melindungi anaknya dari intaian mereka.

Jika Risang bermain di halaman di pagi hari dikawani oleh pemomongnya, maka Gandar duduk di tangga pendapa. Jika Gandar sekali-kali pergi ke sawah, maka Bibilah yang kemudian ikut bermain-main dengan Risang. Bahkan Bibi banyak dapat membuat mainan yang membuat Risang menjadi gembira.

Namun regol rumah itu tidak tertutup bagi anak-anak sebaya Risang yang kadang-kadang diasuh oleh kakak perempuannya atau bahkan oleh ibunya

bermain-main di halaman itu. Justru dengan demikian Risang akan mendapat kawan dan membiasakannya bermain dalam satu lingkungan. Bukan sendiri. Kebiasaan bergaul itu akan memberikan arti yang baik baginya dimasa perkembangannya nanti.

Di antara kawan-kawannya pun Risang tidak dibiasakan menang sendiri. Ia harus bersikap wajar kepada teman-temannya meskipun ia adalah calon Kepala Tanah Perdikan itu.

Dalam pada itu, di samping mengamati perkembangan Risang, maka Iswari juga harus mengamati perkembangan nalar budi anak-anak muda Tanah Perdikan yang berada di dalam barak-barak khusus. Ternyata mereka telah cukup lama berada dalam lingkungan yang terbatas. Sebagian besar dari mereka telah menunjukkan perubahan keyakinan dan sikap terhadap Tanah Kelahirannya.

KARENA itu, maka Iswari memandang perlu untuk mengambil langkah-langkah bagi mereka. Ia sadar, jika mereka terlalu lama berada di dalam lingkungan yang

tertutup, maka justru akan dapat terjadi perkembangan jiwa yang tidak diharapkannya.

Dalam satu kesempatan, maka Iswari telah mengundang orang-orang tua di Tanah Perdikan itu untuk berbicara tentang anak-anak muda itu. Apakah yang sebaiknya dilakukan atas mereka.

“Mereka telah terlalu lama merasa disekap dalam satu lingkungan tertutup, kakek,” berkata Iswari kepada Kiai Badra dan Kiai Soka.

Kiai Badra mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Tetapi bukankah masih ada

di antara mereka yang belum mengerti apakah sebenarnya maksud kita terhadap mereka.”

“Ya. Tetapi sebagian kecil saja,” jawab Iswari.

“Jika demikian,” berkata Kiai Soka. “Sebaiknya diadakan pemisahan untuk sementara. Kita akan memi-lih siapakah di antara mereka yang sudah pantas untuk diturunkan kembali ke dalam lingkungan kehidupan yang sewajarnya. Namun siapa pula yang masih belum waktunya untuk dikembalikan ke dalam lingkungan yang lebih luas di Tanah Perdikan ini.”

Iswari mengangguk-angguk. Langkah itu mungkin adalah langkah yang paling baik yang dapat segera dilakukan, sebelum ia mengambil keputusan yang lebih tajam

mengenai anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang pernah terbius oleh tempaan lahir dan batin dari para perwira Jipang.

Karena itu, maka Iswari pun perlu mendapat bahan-bahan dari mereka yang mendapat tugas untuk setiap kali memberikan penjelasan kepada anak-anak muda itu,

termasuk ke beberapa orang perwira Pajang. Siapa saja di antara mereka yang

masih perlu mendapat pembatasan untuk tidak dilepaskan dalam kehidupan wajar di Tanah Perdikan Sembojan.

Dengan cara itulah, maka Iswari telah memilih, siapakah di antara anak-anak muda itu yang masih harus tinggal dan siapakah yang sudah pantas untuk meninggalkan barak-barak khusus dan tertutup itu.

Namun Iswari tidak dengan serta merta melepaskan mereka. Anak-anak muda yang sudah dianggap menjadi baik itu telah dipindahkan ke barak yang lain. Barak yang tidak lagi diawasi terlalu ketat. Bahkan mereka yang tinggal di barak itu sudah diperkenankan untuk menengok keluarga mereka dan tinggal di rumah selama sehari. Di sore hari mereka diwajibkan untuk kembali ke barak.

Hal seperti itu berlaku untuk waktu dua pekan. Setelah ternyata tidak terjadi sesuatu, maka datanglah saatnya anak-anak muda itu dilepas.

Namun Iswari justru telah merencanakan untuk mengadakan upacara yang meriah. Pelepasan itu justru diberikan pengertian penerimaan kembali anak-anak mereka yang telah dianggap hilang.

Seluruh Tanah Perdikan akan merayakannya. Semua padukuhan akan menerima anak-anak mereka yang hilang di banjar dengan mengundang orang tua atau keluarga

yang masih ada. Para Bekel sebagai wakil para penghuni padukuhan akan memberikan sesorah sebagai pernyataan suka cita atas kembalinya anak-anak mereka di antara keluarganya.

Demikianlah, pada saat yang ditentukan, semua banjar padukuhan memang nampak ramai. Lebih ramai dari hari-hari biasa. Lampu minyak sudah dipersiapkan di pendapa. Sejak matahari turun, helai-helai tikar pandan yang putih sudah dibentangkan di pendapa.

Namun demikian, nampak penjagaan menjadi lebih ketat dari hari-hari yang lain. Para pengawal berkelompok di banjar dan di gardu-gardu. Justru lengkap dengan senjata.

Menjelang matahari terbenam, maka dengan dikawal oleh masing-masing dua orang, anak-anak muda yang telah disisihkan dalam barak khusus itu dilepas dan di antar kembali ke padukuhan masing-masing. Mereka langsung di antar ke banjar padukuhan, yang memang telah mempersiapkan penerimaan. Ki Bekel yang sudah berada di Banjar bersama orang itu mereka menerima kedatangan anak-anak muda itu dengan ramah dan akrab. Seakan-akan tidak pernah terjadi sesuatu jarak di antara mereka. Ki Bekel yang pada masa kekuasaan Ki Wiradana dengan lambaran kekuatan para pengawal yang saat itu dikembalikan kepada orang tua atau keluarganya itu, pernah mengalami bentakan-bentakan dan bahkan surutnya kekuasaan mereka, harus menyingkirkan perasaan kesal dan apalagi dendam.

DEMIKIANLAH, maka kehadiran anak-anak muda itu telah diterima dengan kemeriahan.

Bahkan ada di antara para Bekel yang telah mempersiapkan makan dan minum sebaik-baiknya untuk menghormati anak-anak mereka yang pulang kembali kepada sanak kadangnya.

Namun dibalik kemeriahan itu, pemimpin pengawal Tanah Perdikan telah menghadap Iswari di rumahnya bersama dengan dua orang pimpinan pengawal yang lain, yang diterimanya di ruang dalam.

“Apakah Nyai tidak mengunjungi salah satu banjar yang tengah mengadakan keramaian untuk menerima anak-anak mereka kembali?” bertanya pimpinan pengawal itu.

Iswari tersenyum. Katanya, “Ada juga niatku. Tetapi seandainya tidak, aku yakin para Bekel akan melakukannya dengan sebaik-baiknya.”

“Kami tidak akan lama,” berkata pimpinan pengawal itu.

“Kalian tidak perlu tergesa-gesa,” berkata Iswari. “Katakan apa yang ingin kalian katakan. Jika ada persoalan marilah kita pecahkan. Sudah aku katakan, jika aku tidak pergi pun tidak akan mengurangi kemeriahan penerimaan saudara-saudara kita kembali ke dalam keluarga kita.”

“Tetapi agaknya Nyai lebih baik jika ikut dalam kegembiraan ini, karena bukankah Nyai yang telah memerintahkannya?” bertanya pemimpin pengawal itu.

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Menilik sikap dan gelagat para pemimpin pengawal itu, Iswari dapat menebak apa yang tersirat di dalam hati mereka. Meskipun demikian Iswari tidak mau mendahului menyebut perasaan yang tersimpan itu. Bahkan ia pun kemudian berkata, “Jika demikian marilah. Kita bersama-sama pergi untuk ikut bersuka ria dengan saudara-saudara kita yang telah kembali.” Pemimpin pengawal itu menggeleng. Katanya, “Keramaian itu tidak untuk kita Nyai.

Keramaian itu adalah untuk saudara-saudara kita. Tugas kita adalah bekerja keras, menjaga keamanan Tanah Perdikan ini. Bertempur dan jika perlu

mengorbankan nyawa kita. Biarlah yang mendapat penyambutan dengan keramaian bergembira karena keramaian itu. Tetapi bukankah sudah menjadi janji kita, bahwa kita akan hidup prihatin sampai Tanah Perdikan ini mekar kembali?”

Iswari termangu-mangu sejenak. Namun katanya kemudian, “Bukankah sudah sewajarnya jika kita merasa gembira, bahwa saudara-saudara kita yang sudah kita anggap mati itu dapat hidup kembali dan bersatu kembali dengan keluarganya.” “Tetapi mereka tidak mati Nyai,” jawab pimpinan pengawal yang lain. “Mereka

tetap hidup. Mereka justru membunuh saudara-saudara kita yang lain. Dalam ucapan lain, mereka telah berkhianat.”

Iswari mengangguk-angguk. Katanya, “Itulah yang aku maksudkan. Mereka bukan berarti mati dalam ujud kewadagan. Tetapi mereka mati dalam pengertian kejiwaan. Mereka telah kehilangan kepribadian mereka bahkan berkhianat. Dan kini kepribadian itu telah diketemukan kembali. Karena itu, bukankah wajib mereka kita terima kembali? Mereka memang telah tersesat. Tetapi mereka telah melakukan langkah-langkah perbaikan. Mereka telah menyesali kesalahan-kesalahan itu dan berjanji tidak akan melakukannya kembali.”

mohon maaf....terpotong sedikit aja...

RISANG memandang Gandar sejenak. Namun ia pun kemudian tertawa sambil berlari lagi. Namun dalam pada itu ibunyalah yang berkata, “Sudahlah. Hari mulai gelap.” “Tetapi ia masih senang bermain,” jawab Gandar. Iswari tersenyum. Namun kemudian, “Ia harus dibersihkan lagi. Kaki dan tangannya tentu kotor sekali.”

“Itu pertanda anak laki-laki,” jawab Gandar pula. Iswari justru tertawa. Katanya, “Jadi anak laki-laki harus kotor kaki dan tangannya?”

Gandar pun tertawa pula. Para pengawal yang baru saja keluar dari ruang dalam itu pun tertawa pula.

Tetapi Risang agaknya masih berkeberatan. Karena itu, ketika pemomongnya berusaha mendekatinya, ia justru berlari lagi. Namun Gandarlah yang kemudian meloncat menangkapnya. Risang meronta, tetapi ia tidak menangis ketika ibunya berkata, “Mari. Ikut aku. Tetapi kaki dan tanganmu harus dibersihkan dahulu.

Kita melihat-lihat sekeliling Tanah Perdikan.”

Demikianlah, maka para pengawal pun telah minta diri. Mereka berjanji untuk mengajak kawan-kawannya bergembira pula malam ini. Memang bukan sewajarnya mereka merasa iri, karena merekalah yang sebenarnya merasa gembira menerima saudara-saudaranya kembali.

Sepeninggalan para pemimpin pengawal itu, Iswari pun telah bersiap-siap. Ia ingin melihat-lihat Tanah Perdikan dalam keseluruhan. Karena itu, maka ia telah mengajak Gandar dan Bibi untuk bersamanya, berkuda bersama Risang.

“Hati-hatilah,” pesan Kiai Badra, “Anak itu nakal sekali. Ia tidak boleh melonjak-lonjak di atas punggung kuda yang sedang berjalan.”

“Ya kakek,” jawab Iswari. “Aku akan menjaganya.

“Jangan terlalu malam. Anak itu tidak boleh terlalu banyak terkena embun malam yang dingin,” pesan Nyai Soka pula.

Namun Gandarlah yang menjawab, “Ia harus menjadi anak yang kuat. Yang tahan panas dan dingin.”

Nyai Soka tersenyum, jawabannya, “Untuk itu diperlukan keadaan yang khusus.”

Iswari pun tersenyum pula. Namun kemudian ia pun telah minta diri untuk pergi melihat-lihat keramaian dibeberapa padukuhan. Namun hampir semua padukuhan akan menerima beberapa orang anak mudanya, meskipun ada pula yang hanya seorang dan bahkan tidak sama sekali.

Di samping tiga ekor kuda yang ditumpangi Iswari bersama Risang, Bibi dan Gandar masih ada dua lagi pengawal yang pergi bersama mereka, melintasi bulak-bulak panjang dan pendek, mengunjungi padukuhan-padukuhan yang sedang mengadakan keramaian.

Ternyata penerimaan anak-anak muda dengan upacara yang khusus itu memang memberikan kesan yang mendalam kepada sebagian besar di antara anak-anak muda itu. Mereka merasa diterima kembali ke dalam satu lingkungan sanak kadangnya yang berjiwa besar. Yang melupakan segala permusuhan yang pernah terjadi.

Sehingga dengan demikian, peristiwa itu telah memberikan tekanan batin kepada mereka untuk benar-benar menenuhi janji pertaubatannya terhadap kampung halamannya.

Bahkan di dalam hati mereka berkata, “Aku harus menebus kesalahan yang pernah aku lakukan.”

Namun satu dua di antara mereka, memang ada yang berhati batu. Yang mampu berpura-pura berlaku sebagaimana saudara-saudaranya. Namun kebencian dan dendam masih tetap menyala di hati mereka.

Sebagaimana dipesan oleh Iswari, maka para pengawal yang setia dan patuh kepada cita-cita kebesaran Tanah Perdikan itu, harus mengawasi mereka dengan panuh tanggung jawab.

Namun dalam pada itu ternyata sepasang mata telah sempat melihat Iswari keluar dari regol padukuhan induk, justru bersama anak laki-lakinya. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa ia menyusup di antara tanaman di sawah, menyusuri pematang menuju ke sebuah tempat yang sepi di tengah-tengah bulak.

“Apa yang kau lihat?” bertanya kawannya.

“Iswari memang pergi keluar dari padukuhan induk,” jawab orang itu. “Aku telah melihatnya.”

“Jika demikian, kita cari anaknya di rumahnya. Kita akan membunuhnya,” berkata kawannya itu pula.

“ANAK itu dibawanya,” jawab orang yang telah melihat Iswari itu. “Dibawa? Maksudmu anak itu menyertainya?” bertanya kawannya. “Ya. Anak itu menyertainya,” jawab orang yang bertemu dengan Iswari itu.

“Gila,” geram kawannya. “Kemana orang itu pergi? Berapa orang pengawal yang bersama?”

“Menurut penglihatanku ada empat orang yang mengawalnya. Iswari duduk berkuda dipaling depan memangku anaknya itu,” jawab orang yang melihatnya itu.

“Kita akan mencegatnya,” berkata kawannya. “Kita berjumlah lebih dari lima orang.”

“Tetapi kau tahu, Iswari bukan orang kebanyakan,” berkata yang lain.

“Ada sepuluh orang yang kita bawa sekarang,” berkata orang yang dianggap tertua

di antara mereka. “Kita memang harus memperhitungkan segala kemungkinan. Tetapi keadaan sekarang di Tanah Perdikan ini merupakan keadaan yang menguntungkan.

Semua orang sibuk dengan keramaian yang ada di hampir semua padukuhan. Kita memperhitungkan kelengahan mereka, apalagi setelah mereka merasa keadaan Tanah Perdikan ini menjadi wajar kembali sehingga mereka berani melepaskan anak-anak muda yang mereka tahan dalam barak-barak khusus.”

“Ya. Keadaan malam ini agaknya menguntungkan sekali. Meskipun perhitungan kita keliru, bahwa anak Iswari itu tidak ditinggal di rumahnya oleh ibunya dan

orang-orang yang mungkin mengawasinya sehari-hari. Tetapi kita justru akan dapat sekaligus memanfaatkannya. Kita bunuh anak itu bersama ibunya sekaligus,” berkata yang lain di antara kesepuluh orang itu.

Sementara itu orang yang tertua itu menyahut, “Baiklah. Iswari tentu tidak akan dapat mempergunakan kemampuannya sepenuhnya. Ia merasa wajib melindungi anaknya

yang tidak akan dapat diserahkannya atau dipercayakannya kepada orang lain yang kemampuannya berada dibawah kemampuan Iswari itu sendiri.” Yang lain mengangguk-angguk. Mereka sependapat dengan orang tertua di antara mereka itu. Namun seorang di antara mereka bertanya, “Tetapi dimana Iswari itu sekarang?” “Ia keluar dari padukuhan induk. Ia tentu akan mengunjungi salah satu padukuhan

atau mungkin dari padukuhan yang satu ke padukuhan yang berikutnya,” jawab orang yang telah melihat Iswari itu.

“Jika demikian marilah kita mencoba mencegatnya di bulak antara padukuhan yang pertama dikunjungi sesuai dengan arah perjalanannya ke padukuhan disebelahnya.” “Mereka berkuda,” berkata orang yang menjumpai Iswari.

“Tetapi mereka tidak akan berjalan terus. Mereka tentu akan berhenti di padukuhan itu untuk beberapa lama. Mudah-mudahan kita dapat menyusulnya dan mencegatnya di bulak berikutnya,” jawab yang tertua. Demikianlah mereka telah bersepakat untuk pergi ke bulan sebelah. Mereka telah membagi diri dalam dua atau tiga orang, menyusuri pematang menuju ke bulan diseberang padukuhan yang pertama. Mereka akan bertemu lagi di sekitar pertengahan bulak panjang. Kemudian setelah melihat medan, mereka akan menentukan dimana mereka akan mencegat Iswari dan anaknya. Dengan tergesa-gesa kesepuluh orang itu menempuh jalan mereka masing-masing menuju ke bulak diseberang padukuhan itu.

Ternyata suasana di luar padukuhan memang sepi. Pada ujung malam jalan-jalan sudah tidak lagi dilalui seorang pun. Sawah-sawah pun tidak dijenguk lagi meskipun air di parit mengalir deras. Bahkan ada kotak-kotak sawah yang airnya telah melimpah, sementara disebelah lain, sawahnya masih belum diairi sama sekali.

Agaknya orang-orang disetiap padukuhan lebih senang bergembira bersama keluarga yang sedang menerima anak-anaknya kembali. Mereka yang tidak berkepentingan ingin sekadar melihat apa yang akan terjadi di banjar, sementara yang lain ingin

ikut makan-makan beramai-ramai. Sedangkan ada pula yang terpaksa menunggui rumah

karena hampir semua keluarganya pergi ke banjar.

Memang ada bermacam-macam tanggapan atas peristiwa yang terjadi di hampir semua banjar itu. Namun pada umumya para Bekel berhasil memberikan penjelasan kenapa mereka harus menerima dengan gembira kehadiran kembali anak-anak mereka yang telah mereka anggap hilang, bahkan mati.

SEMENTARA itu sepuluh orang yang berusaha untuk menghadang Iswari pun telah berada ditempat yang mereka tentukan. Menilik keadaan medan, maka mereka telah menentukan bahwa mereka akan menunggu Iswari disimpang empat ditengah-tengah bulak itu.

Namun sudah beberapa lama mereka menunggu, ternyata Iswari masih belum lewat. Dengan sisa kesabaran yang tinggal selembar seorang di antara mereka berkata, “Perempuan itu tidak akan melalui jalan ini.”

“Kita tunggu sebentar lagi,” sahut yang tertua.

“Bukankah perempuan itu mengajak anaknya? Tentu ia akan segera kembali,” berkata yang lain.

“Belum tentu,” sahut yang lain lagi. “Kita tunggu sebentar. Jika perempuan itu ternyata memang tidak lewat, salah seorang di antara kita akan melihat ke banjar. Apakah Iswari masih disana atau tidak.”

“Kenapa harus menunggu,” berkata yang lain pula. “Salah seorang dari kita akan pergi kesana sekarang. Ada atau tidak, kita akan segera mengetahuinya.” “Baiklah,” berkata yang tertua. “Siapakah di antara kalian yang akan pergi?” “Biarkan aku pergi,” berkata seorang yang bertubuh kecil, “Aku akan masuk ke halaman banjar. Tentu banyak orang disana, sehingga kehadiranku tidak akan menarik perhatian.”

“Kau salah,” berkata yang tertua. “Disemua banjar ada keramaian sehingga yang ada disetiap banjar, tentu hanya orang-orang dari padukuhan itu sendiri. Jika ada orang dari luar padukuhan memang pantas dicurigai.”

“Jadi bagaimana?” bertanya orang bertubuh kecil itu.

“Lihat banjar saja. Tetapi jangan sampai ada orang yang mengetahuinya,” berkata yang tertua.

“Baiklah,” desis yang bertubuh kecil itu. “Aku akan pergi.”

Namun ternyata orang itu tidak perlu pergi. Sejenak kemudian mereka telah mendengar derap kaki kuda yang datang.

“Itukah mereka?” bertanya seorang di antara sepuluh orang itu.

“Berpencarlah. Mungkin merekalah yang lewat. Kita harus serta merta bertindak. Jangan ragu-ragu. yang penting anak itu harus mati. Yang lain jika mungkin. Jika kita merasa tidak dapat melakukannya, maka kita akan melarikan diri. Kita sadar, bahwa segera akan terdengar tanda bahaya dengan isyarat kentongan. Karena itu, kita harus menempuh cara seperti yang sudah kita sepakati bersama,” pesan orang yang tertua di antara mereka.

Orang-orang itu pun segera berpencar. Mereka berada disebelah menyebelah jalan bulak, berlindung pada pohon perdu dan bahkan batang padi di sawah.

Dalam pada itu derap kaki kuda itu semakin lama menjadi semakin dekat. Dalam keremangan malam, orang-orang itu melihat beberapa penunggang kuda yang menjadi semakin jelas. Seorang di antara mereka memang berkuda berdua dengan seorang anak-anak dipangkuannya.

Kesepuluh orang itu pun segera menjadi pasti. Perempuan yang berkuda bersama anaknya itu tentu Iswari.

Karena itu, maka ketika kuda itu menjadi semakin dekat. Beberapa orang telah berloncatan ke tengah jalan. Dengan demikian maka kuda-kuda itu pun terkejut, sehingga mereka pun berhenti dengan tiba-tiba. Kendalipun telah ditarik, sehingga kuda-kuda itu bagaikan dihentakkan. Beberapa di antara kuda-kuda itu justru meringkik sambil mengangkat kaki depannya.

Iswari memang tangkas pula berkuda. Ia berhasil menguasai kuda dengan memutarnya ke arah yang berlawanan. Namun ia sadar sepenuhnya bahwa bahaya memang telah datang.

Namun yang berkuda bersamanya adalah diantaranya Gandar dan Bibi. Itulah sebabnya, maka dalam keadaan yang gawat itu keduanya cepat mengambil sikap Kedua ekor kuda itu pun cepat dikuasai. Namun di jalan yang sempit dan malam hari,

sulit bagi keduanya untuk bertempur di atas punggung kuda melawan orang dalam jumlah yang lebih banyak. Karena itu, maka mereka pun telah dengan cepat-cepat meloncat turun.

Orang-orang yang menghentikan iring-iringan itu pun telah bertindak cepat pula. Tujuan mereka yang utama adalah anak dipangkuan Iswari, sehingga karena itu, maka beberapa orang di antara mereka telah siap untuk meloncat menyerang.

NAMUN gerak Gandar dan Bibi ternyata lebih cepat dari mereka. Tiba-tiba saja kedua orang itu telah menyerang dengan dahsyatnya, sehingga orang-orang yang sudah siap menerkam Risang itu pun harus berloncat surut. Namun pada saat yang demikian beberapa orang lagi telah siap untuk meloncat menyerang dari kedua sisi jalan, sementara Gandar dan Bibi mendesak kawan-kawannya mundur.

Untunglah bahwa para pengawal itu pun dapat bertindak cepat pula. Mereka pun telah berloncatan dari kuda mereka pula. Dengan pedang ditangan, mereka pun telah mencegah orang-orang yang siap menyerang Risang.

Dalam keadaan yang demikian, maka Iswari pun sempat meloncat turun pula. Kemudian memeluk Risang pada bahu kirinya, sementara tangan kanannya telah siap menghadapi segala kemungkinan. Bahkan untuk melindungi Risang, Iswari sama sekali tidak berusaha untuk menahan diri lagi.

Sebenarnyalah bahwa kemampuan Iswari bukan saja terbatas dalam olah kanuragan.

Ia sudah merambat kepadai ilmu yang rumit, yang berhasil disadapnya dari

neneknya, Nyai Soka. Sehingga dengan demikian, maka Iswari benar-benar merupakan seorang perempuan yang pilih tanding.

Dengan Risang didukungan, Iswari memang menjadi sangat garang. Sebagai seekor induk ayam yang sama sekai tidak gentar menghadapi elang yang paling ganas sekalipun.

Untuk sesaat, perkelahian terjadi dengan sengitnya. Namun seorang di antara mereka berhasil menyusup pertahanan salah seorang pengawal dari sisi kiri. Dengan tangkasnya ia meloncat sambil menjulurkan pedangnya ke arah lambung Risang di dalam pelukan tangan kiri ibunya.

Namun ternyata bahwa Iswari sempat bergeser kesamping sesaat sebelum ujung pedang itu menyentuh Risang. Dengan demikian maka orang yang menyerangnya itu justru hampir saja melanggarnya. Dengan susah payah orang itu berusaha menahan tubuhnya dan bergeser menjauh. Namun tiba-tiba terasa telapak tangan Iswari mengenai pundaknya.

Hampir di luar sadarnya orang itu berteriak mengaduh kesakitan. Tubuhnya terlempar selangkah, namun kemudian ia pun telah berguling-guling masuk ke dalam parit. Namun air parit itu tidak menolongnya. Pundaknya itu masih saja bagaikan terbakar. Bekas sentuhan tangan Iswari membuat kulitnya terkelupas seperti

terkena bara api.

Karena itu, maka ia pun justru melenting keluar dari parit. Meskipun badannya dan pakaiannya menjadi basah kuyup, tetapi pundaknya rasa-rasanya masih tetap bagaikan disentuh bara.

Untuk beberapa saat orang itu kebingungan sendiri. Sampai berteriak-teriak kesakitan. ia tidak tahu lagi dimana pedangnya terjatuh.

Sementara itu, Gandar, Bibi dan dua orang pengawal yang lain pun telah bertempur dengan garangnya. Lawannya yang telah berkurang seorang itu pun berusaha untuk dapat menembus pertahanan para pengawal dan menyerang Risang yang berada di dalam pelukan ibunya. Namun Gandar dan bibi memang terlalu garang bagi

lawan-lawannya. Gandar tidak bertempur sebagaimana ia bertempur melawan anak muda yang akan diambil dari rumahnya, karena ayahnya telah melaporkannya. Tetapi ia benar-benar bertempur untuk menghancurkan lawannya justru karena di antara mereka terdapat Risang.

BIBI pun telah bertempur dengan keras pula. Ketika lawan-lawannya telah menarik senjata mereka masing-masing, maka Bibi pun telah mempergunakan senjatanya. Ia mampu mempergunakan apa saja yang dapat dipegangnya. Karena itu, ia pun mampu bertempur melawan senjata-senjata yang kuat dan tajam dengan mempergunakan selendangnya. Namun yang pada ujung selendangnya disebelah menyebelah terdapat juntai untaian biji baja. Dengan selendang itu, Bibi telah bertempur dengan

keras pula.

Dalam pada itu, kedua pengawal yang harus bertempur masing-masing melawan dua orang yang keras dan kasar itu pun menjadi agak terdesak, sehingga pertahanannya pun seakan-akan telah membuka ke samping. Kesempatan itu telah dipergunakan oleh seorang di antara mereka untuk dengan serta merta menyerang Risang sebagaimana pernah dilakukan oleh seorang yang terdahulu.

Namun ternyata nasibnya tidak berbeda pula. Orang itu tidak menyerang dengan menjulurkan pedangnya menusuk kearah Risang. Tetapi pedang itu menebas mendatar setinggi punggung Risang.

Iswari dengan tangkas meloncat surut. Namun tiba-tiba saja kakinya telah menghantam pergelangan tangan lawannya, sehingga rasa-rasanya tulang dipergelangannya itu telah patah dan sendinya telah terlepas. Demikian pula pedangnya pun telah meloncat pula dari tangannya. Bahkan sebelum ia memperbaiki keadaannya, maka Iswari yang mendukung Risang itupun sempat meloncat mendekatinya. Ketika telapak tangan Iswari itu menghantam dada orang itu, maka rasa-rasanya dadanya telah dihantam oleh pecahan batu yang terlontar dari mulut gunung berapi yang sedang meletus. Demikian kerasnya menghentak dadanya dan sentuhan itu pun rasanya telah membakar tubuhnya pula.

Orang itu telah terlempar beberapa langkah. Ia jatuh terlentang. Namun ia tidak mampu bangkit lagi karena isi dadanya bagaikan telah menjadi hangus. Bahkan beberapa saat kemudian ia pun tidak lagi menyadari sesuatu lagi, karena ia pun menjadi pingsan.

Disebelah lain, Gandar tidak menahan diri lagi menghadapi orang-orang yang dengan licik menyerang. Apalagi Gandar menjadi pasti, bahwa orang-orang itu telah mendapat perintah dari Warsi, sehingga dengan demikian, maka ia pun telah berusaha secepat mungkin menyelesaikan pertempuran.

Gandar yang tidak mempergunakan senjata apapun itu, telah sempat menarik tonggak di pinggir jalan. Tonggak itu memang tidak lebih dari tonggak bambu. Namun tonggak bambu itu ternyata ujungnya, yang tertanam ditanah telah diruncingkan.

Ternyata tonggak bambu itu menjadi senjata yang sangat dahsyat di tangan Gandar. Ketika seorang lawannya menyerangnya, Gandar berhasil mengelak diri kesamping. Sementara itu lawannya yang lain dengan cepat memburunya. Pedangnya terjulur lurus mengarah ke dada Gandar. Gandar yang baru saja menginjakkan kakinya tidak sempat meloncat lagi. Justru karena itu, maka ia pun telah merendahkan tubuhnya sambil menjulurkan tongkat bambunya yang runcing di ujungnya itu. Akibatnya memang mengerikan sekali. Ujung pedang lawannya memang tidak menyentuh

tubuhnya, tetapi justru ujung bambunya yang runcing itulah yang menembus dada lawannya.

Yang berteriak justru Iswari sambil mendukung Risang, “Gandar. Apa yang kau lakukan?”

Gandar memang juga terkejut, sehingga senjata itu telah dilepaskannya.

Orang yang dikenai senjata Gandar itu memang tidak sempat mengeluh. Ia pun kemudian terkapar jatuh ditanah. Mati.

Ternyata bukan hanya Gandar yang telah membunuh lawannya. Bibi pun telah membunuh seorang lawan pula dengan selendangnya. Ketika juntai selendangnya mengenai dada lawannya, rasa-rasanya dada itu telah terhimpit dua buah gunung anakan, sehingga tidak seutas nafas pun yang sempat lagi melalui kerongkongannya.

Pertempuran itu benar-benar telah menggetarkan jantung orang-orang yang berniat untuk membunuh Risang itu. Beberapa di antara mereka telah terbaring mati.

Karena itu,mereka merasa tidak mungkin dapat melaksanakan rencana mereka untuk membunuh Risang, apalagi bersama ibunya dan para pengawalnya.

DENGAN demikian maka tidak ada kemungkinan lain bagi mereka selain melarikan diri. Demikianlah, maka orang tertua di antara mereka pun telah memberikan isyarat, sehingga orang-orang yang telah menyerang iring-iringan itu pun bersiap untuk meninggalkan medan. Sementara itu orang yang terluka pundaknya yang bagaikan menjadi gila telah berteriak, “Tunggu, jangan tinggalkan aku.”

Seorang kawannya yang justru menjadi jengkel tidak memberinya kesempatan lagi. Tiba-tiba saja justru pedang kawannya itu telah menusuk lambungnya, sehingga orang itu pun telah terdiam.

Gandar yang melihat hal itu menjadi sangat marah. Karena itu maka ketika orang yang telah membunuh kawannya itu dengan pedang sempat berlari meninggalkan arena, Gandar telah meloncat menerkamnya dan sebuah ayunan tangan yang keras sekali telah memukul tengkuk orang itu.

Ternyata Gandar tidak perlu mengulangi pukulan itu. Tulang leher orang itu sudah dipatahkannya, sehingga karena itu, maka ia pun segera jatuh tertelungkup. Mati.

Gandar dan Bibi tidak mengejar orang-orang yang melarikan diri, karena mereka tidak yakin bahwa sudah tidak ada bahaya yang ain yang lebih besar mengancam Risang. Mungkin orang-orang itu sekadar memancingnya dan kemudian datang orang yang lebih berbahaya lagi dari lingkungan mereka. Bahkan mungkin Warsi sendiri atau Ki Rangga Gupita atau justru Ki Randukeling.

Kedua pengawal itu pun tidak melakukannya pula. Mereka pun bersiap menghadapi kemungkinan yang masih mungkin terjadi.

Demikian pula Iswari. Ia tidak segera beranjak dari tempatnya. Dipeluknya Risang erat-erat di dadanya. Apapun yang terjadi Risang tidak akan dapat berpisah dari padanya.

Sementara itu, Risang sendiri menjadi gemetar. Ia tidak tahu apa yang terjadi.

Namun anak itu ternyata tidak menangis. Namun setelah kemudian ibunya memutarnya dan menciumnya dengan haru, anak itu justru menangis.

“O, jangan menangis anak manis,” Bibinyalah yang berlari-lari mendekat. Sementara itu dari tempatnya Gandar berkata, “Laki-laki tidak boleh menangis.”

Namun Iswari berkata, “Biarlah ia menangis. Anak-anak memang harus menangis. Ia tidak boleh menahan menangis sebagaimana jika ia nanti menjadi besar. Baru kemudian kita mengajarkannya kepadanya, sebaiknya ia tidak menangis hanya karena cengeng. Tetapi dalam keadaan yang khusus, menangis kadang-kadang ada gunanya.” Gandar mengerutkan keningnya. Baginya hanya ada satu anggapan, bahwa laki-laki tidak boleh menangis. Tetapi Risang adalah anak laki-laki yang masih

kanak-kanak, sehingga karena itu ia tidak berkeberatan Risang menangis. Bahkan tangisnya terdengar keras sekali. Lepas tanpa ditahan-tahan.

Baru sejenak kemudian ibunya mulai menenangkan dengan kata-kata lembut dan manis.

Sedikit demi sedikit Risang menjadi tenang. Sementara para pengawal telah mengumpulkan kuda-kuda mereka.

“Marilah,” berkata Gandar kemudian, “Kita melanjutkan perjalanan.

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Seorang di antara orang-orang yang mencegatnya itu telah dibunuhnya langsung. Karena yang pingsan itu pun kemudian telah

meninggal pula. Namun kemudian katanya,”Lalu bagaimana dengan mayat-mayat itu?” “Kita akan menyerahkannya kepada orang-orang di padukuhan sebelah,” berkata Gandar.

Iswari menjadi ragu-ragu. Namun suasana hatinya sudah tidak tenang lagi jika ia

harus mengunjungi banjar padukuhan berikutnya. Terutama karena Risang nampaknya masih selalu berdebar-debar.

Namun dalam pada itu Gandar yang melihat keragu-raguan Iswari pun berkata, “Satu pengalaman pertama bagi Risang menyaksikan kekerasan dunia kanuragan.” “Dadanya sangat berdebar-debar,” berkata Iswari. “Sebaiknya kita kembali saja.

Mudah-mudahan upacara penerimaan di banjar-banjar padukuhan itu berjalan lancar.”

Gandar mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Jika kau menghendaki, kita akan kembali.”

“TETAPI tidak melalui padukuhan sebelah yang tadi kita kunjungi agar tidak menarik perhatian orang-orang padukuhan itu, bahwa kita cepat kembali,” berkata Iswari.

“Tetapi untuk mengubur orang-orang ini?” bertanya Gandar.

“Kau sajalah nanti pergi ke Ki Bekel, setelah upacara kira-kira selesai. Aku kira tidak akan ada binatang buas yang sampai ketempat ini,” berkata Iswari.

Gandar tidak membantah. Namun bersama para pengawal mereka menyingkirkan mayat-mayat yang berserakan itu dan meletakkannya di atas tanggul diseberang parit.

Sejenak kemudian maka iring-iringan orang berkuda itu pun telah berputar kembali ke padukuhan induk. Namun mereka tidak menempuh jalan semula. Mereka tidak melintasi padukuhan yang telah mereka kunjungi agar tidak menimbulkan kegelisahan di padukuhan itu selama upacara penerimaan itu masih berlangsung.

Ketika kemudian mereka sampai di rumah Nyai Wiradana dan naik ke pendapa, maka nampaklah bahwa ada beberapa percik noda darah pada tubuh Gandar.

“Bersihkan dirimu,” berkata Iswari.

Gandar mengangguk. Ia pun segera berganti pakaian dan sekaligus mencucinya agar noda darah itu tidak telanjur mengering dan tidak larut lagi ke dalam air lerak.

Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka yang mendapat pemberitahuan itu pun menjadi berdebar-debar. Setelah sekian lama tidak terjadi sesuatu, maka api yang memang tersimpan di dalam sekam itu nampaknya mulai membakar.

“Besok kita mengadakan pertemuan,” berkata Iswari. “Jika yang menjadi sasaran adalah anakku, itu sekadar lambang dari Tanah Perdikan ini dalam keseluruhan. Kita tidak boleh terlambat menanggapi persoalan ini.”

“Aku sependapat,” berkata Kiai Badra. “Semua orang yang memegang kendali pimpinan di segala tingkatan harus mendapat penjelasan.”

Demikianlah malam itu Gandar mempunyai tugas menemui Ki Bekel. Ia bersama kedua orang pengwal yang bersamanya menghadapi kesepuluh orang yang telah menyerangnya itu telah pergi ke padukuhan sebelah. Agaknya upacara memang sudah selesai

ketika Gandar memasuki banjar. Tetapi karena Ki Bekel juga sudah pulang maka Gandar harus menyusul ke rumahnya.

Para pengawal yang tidak bertugas di malam itu telah ikut dibangunkan pula untuk membantu kawan-kawannya menyelenggarakan dan merawat mayat-mayat yang ada di bulak. Bagaimanapun juga peristiwa itu telah menggemparkan anak-anak muda bukan saja dari padukuhan itu, tetapi berita tentang peristiwa yang teradi di tengah

bulak itu pun segera tersebar diseluruh Tanah Perdikan.

Di hari berikutnya, Iswari memang telah mengundang para pemimpin pengawal bukan saja dari Tanah Perdikan Sembojan, tetapi juga anak-anak muda di Kademangan di sekitarnya. Iswari juga mengundang Sambi Wulung dan Jati Wulung yang ternyata lebih banyak tinggal di padukuhan-padukuhan di lingkungan kademangan tetangga.

Atas persetujuan Iswari ia memimpin anak-anak muda itu untuk berlatih dalam olah kanuragan, sehingga para pengawal Kademangan disekitar Tanah Perdikan Sembojan pun telah jauh meningkat. Bagi Tanah Perdikan Sembojan hal itu menguntungkan sekali, karena hubunganna dengan kademangan-kademangan itu telah dibina semakin baik.

Dalam pada itu, jauh dari Tanah Perdikan Sembojan sekelompok kecil orang yang dalam keadaan letih memasuki sebuah hutan kecil. Di dalam hutan itu terdapat salah satu sarang dari para pengikut Warsi dan Ki Rangga Gupita. Kedatangan mereka telah disambut dengan perasaan gelisah oleh para penghuninya. Dan ternyata Warsi dan Ki Rangga Gupita pada saat-saat itu berada pula di sarang yang tersembunyi di hutan kecil itu.

Menilik sikap, pandangan mata dan ungkapan wajah mereka, maka Warsi sudah menduga, apa yang telah terjadi. Apalagi jumlah mereka sudah jauh susut daripada saat mereka berangkat. Ketika orang-orang yang tersisa itu kemudian menghadap Warsi dan Ki Rangga Gupita, maka mereka pun telah menceritakan apa yang terjadi.

WARSI menghentakkan kakinya sementara Ki Rangga Gupita menggeram. Kegagalan itu

telah membuat jantung mereka berdegup semakin cepat. Kami mempercayakan pekerjaan ini kepada kalian yang kami anggap memiliki pengalaman dan kemampuan terbaik di antara kawan-kawan kalian,” suara Ki Rangga gemetar menahan gejolak perasaannya.

Orang-orang yang tersisa itu hanya dapat menundukkan kepalanya saja. Untuk beberapa saat mereka berdiam diri. Membantah atau memberikan penjelasan tanpa diminta justru akan berakibat gawat.

“Kenapa kebodohan itu dapat terjadi he?” Ki Rangga tiba-tiba membentak.

Orang tertua di antara mereka itu pun masih merasa ragu. Namun kemudian ia terpaksa juga berbicara, “Perhitungan kami ternyata salah. Kami memperhitungkan bahwa Nyai Wiradana dan orang-orang yang dianggap pemimpin di Tanah Perdikan itu meninggalkan rumah mereka mengunjungi keramaian di padukuhan-padukuhan.

Namun

ternyata anak itu justru dibawa oleh ibunya.”

Ki Rangga Gupita memandang orang itu dengan mata yang bagaikan menyala. Namun kemudian ia pun menyadari, bahwa tiga orang yang berada di perjalanan diikuti

oleh dua orang pengawal itu mempunyai ilmu yang sangat tinggi. Bahkan Ki Rangga Gupita bersama dua orang lainnya yang memiliki ilmu setingkat pun akan dapat pula mengalahkan sepuluh orangnya itu.

Dalam pada itu, Warsi yang sangat kecewa berkata lantang, “Lain kali aku sendiri yang akan pergi.”

Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya kepada Warsi, “Kita perlu bertemu dengan Ki Randukeling. Besok atau besok lusa. Kita memerlukan pertimbangannya.”

“Ki Randukeling tiba-tiba saja menjadi acuh tidak acuh. Pada hal kakeklah yang dahulu menekankan kepada kami untuk berhubungan dengan Jipang,” sahut Warsi. “Bukan acuh tak acuh. Tetapi Ki Randukeling tentu mempunyai perhitungan yang sedang dipersiapkan sebaik-baiknya. Ia memang bukan sebagaimana kita ambil keputusan meskipun bagi kita rasa-rasanya orang-orang tua itu menjadi sangat lamban,” jawab Ki Rangga Gupita.

“Jika demikian, apa perlunya kita berhubungan dengan kakek tua yang lamban itu?” bertanya Warsi. “Nampaknya kakek tua itu kecewa kematian cucunya yang disayangi.”

“Siapa?” bertanya Ki Rangga Gupita. “Wiradana,” jawab Warsi. “Bah,” Ki Rangga Gupita memalingkan wajahnya. “Bukankah kau juga menjadi muak?” bertanya Warsi pula.

Ki Rangga tidak segera menjawab. Namun kemudian katanya, “Kita akan memikirkannya kemudian. Namun kegagalan ini tentu akan sempat membuat Tanah Perdikan itu berjaga-jaga. Kita harus menunggu kesempatan yang lain yang tidak akan datang setiap pekan, bahkan beberapa bulan mendatang.”

Warsi mengerutkan keningnya. Namun ia pun telah menyahut, “Kita akan menunggu kesempatan itu sampai kapanpun. Kita tidak boleh menjadi jemu dan berputus asa.”

“Ya. Kita tidak akan menjadi jemu dan berputus asa,” lalu Ki Rangga Gupita itu pun berkata kepada orang-orang yang gagal, “Jadikan pengalamanmu itu petunjuk bagi tugas-tugasmu masa datang. Tugas-tugas kita menjadi semakin berat. Tetapi ia adalah akibat beban yang kita pikulkan ke atas pundak kita sendiri. Di atas Bumi Demak ini harus ada perubahan. Jika Karebet itu yang menjadi raja, kenapa bukan salah seorang di antara kita, yang sama-sama dilahirkan di antara banyak

orang. Sementara itu masih banyak orang yang lebih pantas untuk memegang kendali pemerintahan. Memang perjuangan ini adalah perjuangan yang sangat berat. Kita harus mengerahkan semua kekuatan yang ada dan sejalan dengan keyakinan kita, darimanapun kita berasal.”

Orang-orang itu mengangguk-angguk. Namun tidak seorang pun yang menjawab. “Nah,” berkata Ki Rangga. “Sekarang beristirahatlah kalian. Tugas kalian masih banyak. Jangan terpancang kepada kegagalan ini agar tugas-tugas kalian berikutnya tidak dibayangi oleh kesuraman itu.”

ORANG-ORANG itu pun segera meninggalkan ruangan itu. Demikian mereka memasuki subuah barak yang panjang, maka mereka pun langsung merebahkan diri di atas

sebuah amben yang besar.

Kengerian masih terbayang di wajah-wajah itu. Mereka masih membayangkan bagaimana orang-orang Tanah Perdikan Sembojan itu mampu melawan mereka dengan senjata-senjata apa saja. Bahkan tangan perempuan yang menggendong anaknya itu telah mampu membuat dua orang di antara mereka kehilangan kesempatan untuk melawan, meskipun yang seorang telah mereka bunuh sendiri.

Dalam pada itu, di Tanah Perdikan Sembojan telah di dapat kata sepakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Yang terjadi itu adalah langkah permulaan. Tentu akan disusul dengan langkah-langkah berikutnya yang tentu akan menjadi lebih keras dan barangkali lebih kasar.

Namun para Bekel pun sepakat, bahwa mereka tidak perlu membuat Tanah Perdikan itu menjadi gelisah. Yang perlu mendapat cambuk untuk lebih banyak berbuat adalah para pengawal saja. Para pengawal yang semakin lama menjadi semakin mapan. Namun para pengawal itu tidak terpisah dari anak-anak mudanya, karena mereka memang berasal dari lingkungan anak-anak muda itu pula.

Karena itu dimalam hari, bukan hanya para pengawal saja yang bertugas. Tetapi gardu-gardu pun dipanuhi oleh anak-anak muda yang memang mempunyai kebiasaan bermain di gardu-gardu. Berkelakar dan bergurau dengan kawan kawan. Bermain macanan atau bas-basan. Bahkan binten dan geresan.

Namun dalam pada itu, Iswari menjadi semakin berhati-hati dengan Risang. Ia sadar, bahwa Risang adalah sasaran utama dari setiap usaha untuk memutuskan aliran hak atas Tanah Perdikan ini. Tanpa Risang maka darah Ki Wiradana akan mengalir di dalam tubuh anaknya yang lahir dari ibu yang lain, yang tentu akan menuntut hak yang sama pula sebagaimana Risang. Meskipun para perwira Pajang

setiap kali mengatakan, bahwa Pajang berhak untuk mencegahnya, namun kebimbangan masih tetap ada di hati Iswari. Bahkan seandainya Pajang berhak mencegah anak

Warsi mewarisi kedudukan ayahnya, namun sudah barang tentu bahwa Iswari tidak akan merelakan anaknya menjadi korban.

Karena itu, maka Risang dibawah asuhan pemomongnya, tidak pernah terpisah dari Gandar atau Bibi selain Iswari sendiri. Dimanapun anak itu berada, maka ia

selalu dibawah pengawasan Gandar, atau jika Gandar sedang sibuk, maka Bibilah yang bermain bersamanya.

Dalam pada itu, Tanah Perdikan yang menjadi semakin tenang telah berkembang semakin baik. Anak-anak muda yang pernah mengambil langkah yang salah pun telah menemukan kembali jalan mereka sebagai anak Tanah Perikan Sembojan. Apa yang pernah terjadi, bagi mereka tinggallah satu kenangan bahkan bagaikan satu mimpi yang buruk di dalam tidur yang gelisah. Tatanan-tatanan yang wajar mulai berlaku lagi di Tanah Perdikan. Pembagian pekerjaan di antara para bebahu dan para pengawal menjadi semakin jelas.

mohon maaf....terpotong sedikit aja...

NAMUN Kiai dan Nyi Premati memang sudah memperhitungkan langkah-langkah dalam

waktu yang panjang. Karena Warsi sudah bertekad, sampai kapan pun ia akan tetap berusaha untuk menempatkan anaknya pada kedudukan ayahnya, Kepala Tanah Perdikan

Sembojan.

Sementara itu anak laki-laki yang dilahirkan oleh Warsi itu pun tumbuh juga sebagaimana anak Iswari. Semakin lama semakin besar. Namun dalam suasana yang berbeda.

Meskipun anak laki-laki Warsi yang dipanggil Puguh itu tinggal pula di dalam sebuah padepokan yang bersuasana tenang dan damai, namun ia sendiri mengalami perlakuan yang berbeda. Hanya di hadapan orang lain sajalah Warsi menunjukkan sikap manis kepada anaknya. Tetapi di padepokan, dan dalam kehidupan

sehari-hari, Warsi adalah seorang ibu yang keras. Kekecewaan, penyesalan dan dendam yang tertimbun di dalam dirinya, kadang-kadang tertumpah kepada anaknya yang tidak bersalah sama sekali.

Namun di samping perlakuan yang kasar dan keras, Warsi juga memaksa anaknya untuk memasuki masa-masa persiapan untuk menyadap kemampuan dalam olah kanuragan. Anaknya harus menjadi seorang yang keras hati namun juga memiliki bekal kemampuan yang tinggi.

Karena itu, sejak masih kanak-kanak Puguh sudah dipersiapkannya.

Diajarinya Puguh berlari-lari disetiap pagi sejak ia mampu berjalan. Bahkan

kadang-kadang diseretnya dengan kasar dan umpatan-umpatan kotor apabila anak itu cepat menjadi letih. Warsi tidak peduli mendengar tangisnya yang kadang-kadang meninggi.

“Anak malas,” geram Warsi setiap kali. “Kedunguan ayahnya agaknya menurun pada anak ini.”

Ki Rangga Gupita sama sekali tidak menghiraukan anak itu. Bahkan ia menjadi muak dan ingin rasanya untuk melempar anak itu ke dalam hutan.

“Biar saja anak itu diterkam binatang buas atau anjing-anjing liar,” geramnya. Tetapi nampaknya Warsi masih tetap ingin memeliharanya dengan caranya.

Dengan demikian maka Puguh tumbuh dalam suasana yang menekan. Pemomongnya pun

sama sekali tidak mempunyai kasih sayang kepadanya, justru karena sikap Warsi sendiri. Seisi padepokan pun membayangkan wajah anak itu sebagaimana wajah Ki Wiradana yang mereka anggap sebagai seorang pemimpin yang gagal, yang tidak memberikan arti apa-apa di dalam hidupnya selain memberikan anak itu. Karena itu, maka tidak seorang pun di antara penghuni padepokan yang nampaknya sebagai orang-orang yang ramah dan baik hati untuk memperhatikan perkembangan dan pertumbuhan Puguh dengan baik, dalam arti yang baik pula.

Namun ibunya sama sekali tidak menghiraukannya. Meskipun Warsi tahu tidak seorang pun yang tertarik kepada anak laki-lakinya, bahkan hampir semua orang menjadi muak melihatnya, ia sama sekali tidak berkeberatan.

Yang dilakukan oleh Warsi atas anaknya itu adalah mempersiapkannya dengan keras dan kasar. Dipanggilnya orang yang pernah diakunya sebagai bapaknya ketika ia menjadi seorang penari yang berkeliling di Tanah Perdikan Sembojan. Orang yang menjadi pengendangnya itu. Diserahinya orang itu untuk membentuk kemampuan dasar pada anak laki-lakinya yang terlampau kecil itu.

“Anak itu masih sangat kecil,” berkata pengendangnya itu.

“Jadi menurut kau, anak itu dibiarkan dahulu sampai tua. Baru ia harus menekuni olah kanuragan,” bentak Warsi.

“Bukan begitu. Tetapi biarlah ia tumbuh dahulu dengan wajar sampai saatnya ia dapat disebut anak-anak. Bukan lagi bayi,” jawab laki-laki yang pernah disebut ayahnya itu.

“Ia sudah pandai berlari-lari,” suara Warsi meninggi. “Sejak seumurnyalah ia

harus mulai dibentuk untuk menjadi seorang yang memiliki kemampuan dan ilmu yang tinggi. Kau sadari kelemahanmu di antara orang-orang berilmu? Nah, itu karena keterlambatanmu mulai menyadap ilmu kanuragan itu. Apalagi dalam perkembangannya

kau adalah seorang pemalas. Karena itu apa yang kau capai sama sekali tidak berarti.”

mohon maaf....terpotong sedikit aja...

SEMENTARA itu Warsi sendiri hampir tidak pernah lagi bersentuhan dengan Puguh.

Ia sibuk dengan pekerjaannya. Jika ia berada di padepokan, maka ia adalah

seorang perempuan yang lembut, ramah dan penuh dengan perasaan belas kasihan. Sebagai Nyi Premati ia adalah perempuan yang dikagumi oleh para penghuni pandukuhan disekitar padepokannya.

Namun jika Warsi itu keluar dari padepokannya, tanpa diketahui oleh orang-orang padukuhan bersama Ki Rangga Gupita dan berada disarang-sarangnya yang lain, maka ia adalah seorang perempuan yang kasar dan bengis. Namun kemampuan dan ilmunya memang mendukungnya untuk berlaku demikian. Sehingga para pengikutnya menjadi patuh dan takut kepadanya dan kepada Ki Rangga Gupita.

Apalagi beberapa orang diantara para pengikutnya, merasa bahwa mereka harus melakukannya dengan landasan kesetiaan. Masih terbayang dipelupuk mata mereka, harapan yang manis bagi masa depan. Tanah Perdikan Sembojan dan bahkan Kadipaten Jipang yang besar dan kuat.

Beberapa orang yang pernah berhubungan dengan kelompok-kelompok bekas prajurit Jipang memang dapat memberikan banyak harapan bagi mereka. Bekas prajurit Jipang yang tersebar dibeberapa tempat itu pun masih juga berpengalaman sebagaimana

para pengikut Ki Rangga Gupita. Bahkan para pengikut Ki Rangga masih mempunyai pengharapan lain. Landasan perjuangan yang lebih mapan. Tanah Perdikan Sembojan.

Sementara itu di Tanah Perdikan Sembojan, suasana telah menjadi mapan. Tidak banyak lagi masalah yang timbul. Sementara itu kegiatan anak-anak muda masih tetap tinggi. Bahkan demikian pula kademangan-kademangan di sekitarnya.

Dalam suasana itulah Risang berkembang. Ia tumbuh semakin besar. Kasih sayang ibunya telah membekali jiwanya justru pada saat wadag dan jiwanya mulai tumbuh. Orang-orang yang ada disekitarnya pun berbuat sebagaimana Iswari memperlakukannya.

Sementara itu, Gandarlah yang atas kemauannya sendiri ingin menjadikan Risang seorang anak yang pilihan. Karena itu, maka Gandar telah menyampaikan niatnya itu kepada Iswari, agar ia di ijinkan untuk berbuat sesuatu atas Risang pada usianya yang masih sangat muda.

“Belum waktunya bagi anak itu untuk mendapat tuntunan dalam olah kanuragan,” berkata Iswari.

“Aku belum akan menuntunnya dan apalagi menempa Risang dalam olah kanuragan.

Aku

baru akan mempersiapkannya pada suatu saat ia mengalami latihan-latihan di permulaan,” jawab Gandar.

Iswari tersenyum. Namun katanya, “Tetapi kau harus menyesuaikan diri dengan keadaannya. Bukan Risang yang menyesuaikan diri dengan keinginanmu. Tetapi kaulah yang harus pandai-pandai membawanya dalam persiapan itu sesuai dengan perkembangan tubuh dan jiwanya.”

“Aku mengerti,” jawab Gandar. “Jika diijinkan, maka aku akan melakukannya dengan sebaik-baiknya.” Iswari mengangguk. Namun ia tidak memutuskannya sendiri. Hal itu disampaikannya pula kepada Nyai Soka.

“Gandar terlalu tergesa-gesa,” berkata Nyai Soka. “Ia ingin segera melihat anak itu memiliki sesuatu.”

“Tetapi aku sudah memberikan beberapa pesan,” berkata Iswari.

“Baiklah. Aku akan melihat apa yang dilakukan Gandar atas anak itu. Jika ia

salah langkah, akibatnya justru akan merugikan pertumbuhan anak itu,” sahut Nyai Soka.

Namun ternyata Gandar mampu menahan diri untuk dengan cepat membentuk Risang dalam olah kanuragan. Yang dilakukannya kemudian adalah membawa Risang bermain. Namun permainan yang memang disusun sesuai dengan keinginan Gandar. Risang telah dibawa bermain-main dengan permainan yang banyak menggerakkan tubuhnya.

Berkejar-kejaran, sembunyi-sembunyian dan permainan-permainan yang lain. Dalam usianya yang masih sangat muda, Risang telah dibuatkan jagrag dengan kayu yang bersilang tegak dan mendatar. Dibiarkannya Risang memanjat, menyusup di antara kayu yang mendatar, kemudian berpegangan kayu yang tegak, menyelusuri batang-batang kayu yang menyilang.

DENGAN memperhatikan pertumbuhannya, maka Gandar telah membawa Risang mempersiapkan tubuhnya dengan baik justru dalam permainan yang membuat Risang gembira. Bahkan beberapa orang kawan sebayanya telah ikut pula bermain bersamanya. Namun dalam usianya yang masih sangat muda, Risang telah menunjukkan

kelebihannya dengan anak-anak yang lain dalam usia sebaya.

Namun dalam pada itu, Gandar tidak pernah melupakan bahwa keselamatan anak itu harus dijaga sebaik-baiknya. Usaha yang pernah dilakukan untuk membunuh anak itu merupakan peringatan yang keras, agar anak itu mendapat perlindungan yang baik.

Namun usaha itu dilakukan tanpa ada jemunya. Kegagalan yang pernah terjadi, justru membuat Warsi semakin bernafsu untuk melakukannya.

Tetapi Ki Rangga Gupita telah melarangnya untuk melakukannya sendiri. Ketika Warsi berniat untuk pergi ke Tanah Perdikan Sembojan, Ki Rangga berusaha mencegahnya, “Kau tidak boleh melupakan kenyataan, bahwa di Tanah Perdikan itu terdapat orang-orang yang memiliki kemampuan yang harus diperhitungkan.”

“Aku tidak akan menantang mereka,” berkata Warsi. “Tetapi aku akan membunuh anak itu dengan caraku. Aku mempunyai cara yang baik sebagaimana aku pergunakan untuk membunuh Ki Gede Sembojan. Aku mempunyai kemampuan mempergunakan sumpit. Sehingga aku dapat membidiknya dari jarak jauh. Jika mata sumpitku berhasil menyentuhnya, maka tidak akan ada obat yang dapat menolongnya.”

“Tetapi kau tidak dapat melakukannya tanpa mendekati dinding rumah itu,” berkata Ki Rangga. “Anak itu tentu berada dilingkungan dinding halamannya.”

“Dimanapun anak itu berada,” berkata Warsi. “Harus ada jalan untuk membunuhnya.” “Tetapi belum saatnya kau melaksanakannya sendiri,” berkata Ki Rangga. “Kita

masih mempunyai beberapa orang yang pantas dipercaya untuk melakukannya.” “Tetapi jika mereka gagal dan tertangkap, maka mereka akan mengungkapkan padepokan yang kita bangun dengan susah payah, serta rahasia ujud kehidupan kita yang lain itu pun akan terbuka,” berkata Warsi.

“Kenapa kau cemas hal itu?” bertanya Ki Rangga. “Kita akan memerintahkan orang-orang kita dari luar padepokan. Kita akan memerintahkan beberapa orang dari salah satu di antara sarang kita yang jauh. Orang-orang yang tidak banyak mengenal padepokan ini dan tidak akan dapat berbicara apapun tentang rahasia kehidupan kita disini. Namun tentu saja kita berharap bahwa usaha itu berhasil. Setidak-tidaknya tidak seorang pun di antara mereka yang tertangkap.”

Warsi mengangguk-angguk. Katanya, “Namun kita memerlukan waktu yang baik dan tepat. Aku justru berharap bahwa satu dua anak-anak Tanah Perdikan Sembojan sendiri yang masih setia kepada kita akan dapat membantu kita.”

“Apa yang dapat mereka lakukan?” bertanya Ki Rangga.

Warsi termangu-mangu. Bagaikan melihat satu kejadian di dalam mimpi ia berkata, “Jika ada satu dua orang di antara mereka yang benar-benar dapat dipercaya. Kita minta anak-anak itu berpura-pura kembali ke kampung halamannya. Menyerahkan diri dan berbuat sebagaimana anak-anak muda yang pernah menyerah sebelumnya. Namun mereka pada suatu saat harus dapat membunuh anak Wiradana itu.”

“SATU rencana yang sulit,” berkata Ki Rangga Gupita. “Memang,” jawab Warsi. “Tetapi bukannya tidak mungkin. “Aku condong mempergunakan orang-orang yang tidak akan dapat membuka rahasia padepokan ini, sementara itu ia adalah orang yang memiliki kemampuan yang cukup tinggi,” berkata Ki Rangga.

“Kita akan menempuh dua jalur,” berkata Warsi. “Satu jalur sebagaimana kau katakan. Jalur yang lain sebagaimana aku katakan. Sudah tentu kita akan memilih

anak-anak Sembojan yang tidak mengenal padepokan ini pula sebagaimana orang yang kau maksudkan. Di beberapa sarang terpisah masih ada anak-anak Sembojan yang setia kepada Puguh sebagai anak Ki Wiradana.”

Ki Rangga Gupita mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Semua cara yang kita anggap baik akan kita tempuh. Namun kita harus menyadari bahwa keadaan Tanah Perdikan itu tentu sudah berubah. Seandainya anak Iswari itu terbunuh, kita agaknya masih akan menempuh jalan panjang.”

“Kita menyadarinya,” berkata Warsi. “Namun kita pun tahu, bahwa sebagian besar pasukan Pajang telah ditarik. Dengan demikian maka kekuatan Tanah Perdikan itu tergantung kepada para pengawal Tanah Perdikan itu sendiri.”