-->

Suramnya Bayang-Bayang Jilid 37

Jilid 37

Tetapi ternyata bahwa kekuatan dan kemampuan tawanan yang sudah berada di puncak itu mulai surut perlahan-lahan. Nafasnya mulai berdesahan dan keringat yang

bagaikan diperas dari seluruh tubuhnya itu pun membuat kekuatannya seakan-akan semakin susut terus.

“Anak gila,” geram tawanan itu. Ia masih mencoba menghentakkan serangannya. Kedua tangannya telah terjulur menerkam dada lawannya pada saat ia melihat pertahanan lawannya terbuka. Namun pemimpin pengawal itu sempat bergeser selangkah surut, sehingga jari-jari tawanan itu tidak menyentuhnya.

Namun justru pada saat yang demikian pemimpin pengawal itu merendahkan dan kakinya telah terjulur menyamping.

Dengan cepat tawanan itu memutar tubuhnya sambil bergeser. Ia sempat mendorong kaki yang terjulur itu dengan sepenuh kekuatan sehingga kaki itu seakan-akan

telah terlempar. Pada saat pemimpin pengawal itu berputar dengan bertumpu pada tumit kakinya yang lain, maka tawanan itu telah menyerang dengan pukulan ke arah lambung. Dengan meloncat selangkah ke depan, sambil sedikit merendah, maka tangannya terjulur dengan jari-jari merapat. Ujung jari-jarinya yang merapat itu siap untuk mematuk lambung lawannya yang sedang berputar itu.

Tetapi pemimpin pengawal itu bergerak lebih cepat. Ia sempat melenting menyamping pada saat kakinya yang lain menyentuh tanah, sehingga dengan demikian, maka ujung jari-jari tangan yang merapat itu tidak mengenai sasaran.

Namun tawanan itu tidak melepaskan lawannya. Ia masih berusaha untuk memburunya. Sambil meloncat selangkah maju tangannya menghantam ke arah kening.

Namun pemimpin pengawal itu sempat bergeser. Pada saat tangan itu berdesing di sebelah keningnya, maka tiba-tiba saja pemimpin pengawal itu telah menghantam perut tawanan itu.

Pukulan itu demikian cepatnya sehingga sulit untuk dihindari. Tangannya yang lain yang berusaha menangkis sambil memiringkan tubuhnya, tidak berhasil

membebaskannya sepenuhnya. Sehingga dengan demikian pukulan pemimpin pengawal itu masih juga mengenai lambungnya meskipun tidak telak.

Namun demikian pemimpin pengawal itulah yang tidak mau membiarkan kesempatan berlalu. Pada jarak yang dekat itu ia justru menghentak maju selangkah. Sikunya diangkatnya mengarah ke dada tawanan itu.

Gerakan itu berlangsung demikian cepatnya pada jarak yang sangat pendek. Karena itu, maka terasa dadanya itu tiba-tiba menjadi sesak. Pukulan itu bagaikan telah mematahkan tulang-tulang iganya.

Tawanan itu masih sempat meloncat mundur. Ia jatuh pada kedua kakinya yang merendah. Satu kakinya ditarik setengah langkah kebelakang, sementara tangannya siap melindungi bagian samping tubuhnya.

SEKALI lagi pemimpin pengawal itu memburunya. Kakinyalah yang kemudian melingkar

mendatar. Tumitnyalah yang mengarah ke punggung lawannya yang berdiri menyamping. Tetapi tawanan itu sempat meloncat surut sehingga putaran kaki lawannya itu lewat, dengan tangkasnya tawanan itu telah menyerang, menyapu kaki lawannya yang menjadi tumpuan putaran tubuhnya.

Sapuan itu demikian cepatnya sehingga pemimpin kelompok itu tidak sempat mengelak. Sapuan itu telah membentur kakinya sehingga pemimpin pengawal itu terlempar jatuh. Sebelum ia sempat melenting tawanan itu telah meloncat dan menghentakkan kakinya menyerang dada.

Pemimpin pengawal itu sempat berguling. Sambil berputar ia telah mengayunkan kakinya menyilang ke arah yang berbeda, menjepit kaki tawanan itu dari dua arah pada ketinggian yang tidak sama.

Satu putaran telah melemparkan tawanan itu sehingga ia pun tidak mampu bertahan berdiri. Ia pun telah terjatuh dan bahkan terbanting di tanah. Hanya karena

latihan-latihan yang mapan sajalah yang menyelamatkannya, karena ia sempat berputar pada punggungnya, berguling dan kemudian melenting berdiri.

Namun pada saat itu, pemimpin pengawal itu pun telah berdiri tegak pula. Keduanya saling memandang untuk sejenak. Keduanya telah mulai merasa bahwa tenaga mereka sedikit demi sedikit susut. Namun tawanan yang sama sekali tidak menduga bahwa pemimpin pengawal itu memiliki kemampuan olah kanuragan yang tinggi mulai menjadi gelisah. Nafasnya mulai berkejaran dan tulang-tulangnya serasa retak dimana-mana.

Ketika keduanya terlibat lagi dalam perkelahian yang satu, maka pemimpin

pengawal itu mulai merasa yakin, bahwa ia benar-benar mampu melawan tawanan yang pernah mendapat latihan dari para perwira Jipang itu. Perlahan-lahan namun pasti ia semakin mendesak lawannya. Pukulan-pukulannya semakin sering mengenai tubuh lawannya. Bahkan ketika tawanan itu lengah, tangan pemimpin pengawal itu telah mengenai keningnya.

Mata tawanan itu berkunang-kunang. Tetapi ia telah mendapat tempaan lahir dan batin yang kuat sekali, sehingga tidak mudah baginya untuk berputus asa. Itulah sebabnya, maka tawanan itu masih juga berusaha mengayunkan tangannya pula mendatar dan berusaha menghantam leher pemimpin pengawal itu dengan sisi telapak tangannya.

Tetapi dengan memiringkan tubuhnya sedikit kebelakang, ayunan tangan itu tidak mengenainya. Bahkan tiba-tiba saja ia telah meloncat maju sambil mengangkat lututnya, tepat mengenai perut pengawal itu.

Terdengar keluhan tertahan. Perut itu rasanya menjadi sangat mulas. Bahkan rasa-rasanya isi perutnya telah terdorong ke dadanya sehingga ia tidak mampu lagi untuk bernafas.

Pemimpin pengawal itu masih ingin meyakinkan bahwa serangannya itu menentukan. Kedua tangannya kemudian terayun dengan kerasnya. Dengan sisi telapak tangannya pula ia menghantam pundak tawanan itu kiri dan kanan.

TAWANAN itu mengaduh. Kemudian ia pun terhuyung-huyung surut kebelakang. Sementara itu pemimpin pengawal itu berkata kepada diri sendiri, “Untung, aku tidak memukul lehernya dengan kedua sisi telapak tenganku dari dua arah.” Sebenarnya jika ia memukul leher tawanan itu, agaknya tawanan itu tidak akan dapat bernafas lagi. Mungkin tawanan itu akan mati. Meskipun kematian itu terjadi dalam arena, namun akan dapat menimbulkan kesan tersendiri.

Sesaat pemimpin pengawal itu berdiri tegak. Dilihatnya tawanan itu pun kemudian telah terjatuh di tanah. Nafasnya terengah-engah, sementara tenaganya bagaikan telah terhisap habis oleh perkelahian itu.

Pemimpin pengawal itu pun berusaha untuk tetap bertahan berdiri. Sejenak ia mengamati keadaan. Namun kemudian sorak pun bagaikan membelah langit. Para pengawal telah bersorak-sorak melihat kemenangan itu.

Para tawanan yang sempat menyaksikan perkelahian itu menarik nafas dalam-dalam. Mereka melihat satu kenyataan, bahwa pengawal Tanah Perdikan Sembojan ternyata memiliki kemampuan yang tinggi. Meskipun ia sadar, bahwa tidak semua pengawal memiliki ilmu setataran dengan pemimpin pengawal itu, namun dengan demikian mereka harus mengakui, bahwa anak muda yang dianggap sebagai orang yang tersisih pada masa mereka memasuki pendadaran untuk menjadi pengawal dibawah tempaan para

prajurit Jipang itu, telah mampu menyadap ilmu yang lebih baik dari mereka. Kekalahan salah seorang di antara para tawanan yang termasuk pengawal terbaik itu, telah memberi isyarat kepada mereka, terutama mereka yang sampai saat terakhir tetap pada sikap mereka, bahwa mereka harus mempertimbangkan segala macam segi untuk menentukan sikap mereka lebih lanjut.

Sementara itu, para tawanan pun menjadi berdebar-debar. Pemimpin pengawal itu akan dapat menjatuhkan hukuman yang paling berat kepada pengawal yang telah menantangnya dan yang kemudian turun ke arena. Pemimpin pengawal itu jika mau, akan dapat membunuh lawannya tanpa dapat dipersalahkan, selama itu terjadi di arena.

Sejenak mereka termangu-mangu. Pemimpin pengawal itu memang merasa sangat letih.

Bahkan ia merasa seakan-akan sudah tidak mampu lagi berbuat sesuatu selain bertahan untuk dapat tetap berdiri. Tetapi beberapa saat kemudian, ketika angin semilir menyentuh wajahnya, maka tubuhnya pun terasa menjadi segar. Sebagian dari kekuatannya telah tumbuh kembali di dalam dirinya.

Diamatinya lawannya yang terbaring dengan nafas terengah-engah. Dengan susah payah lawannya itu berusaha untuk bangkit. Namun demikian ia duduk, ia pun telah terbanting lagi jatuh terlentang tidak berdaya.

Tawanan yang kalah itu pun sadar. Pemimpin pengawal itu akan dapat mendekatinya dan mencekik lehernya sampai mati tanpa ada seorang pun yang dapat menyentuhnya. Ia berhak berbuat demikian dalam perang tanding itu.

Ketika ia melihat pemimpin pengawal itu maju setapak mendekatinya, maka jantungnya pun menjadi berdebar-debar. Rasa-rasanya ia ingin meronta dan meloncat bangkit untuk melawan. Tetapi tulang-tulangnya terasa bagaikan terlepas dari sendi-sendinya. Bahkan tulang-tulang rusuknya terasa bagaikan berpatahan. Karena itu, semakin dekat pemimpin pengawal itu ke arahnya, rasa-rasanya ia pun menjadi semakin gelisah.

Namun akhirnya ia tidak mampu mengelak dari kenyataan, sehingga dengan demikian ia pun menjadi pasrah terhadap kenyataan, bahwa ia telah dikalahkan dan akan

dapat diperlakukan apa saja oleh lawannya yang menang di arena perang tanding itu.

Tetapi lawannya yang kemudian berdiri disisi tubuhnya yang terbaring itu tidak melakukannya. Bahkan kemudian pemimpin pengawal itu berkata, “Bangkitlah. Kembalilah kepada kawan-kawanmu. Namun kau sudah membuktikan bahwa anak- anak

muda yang pernah menjadi pasukan pengawal dibawah tempaan orang-orang Jipang bukan anak muda yang terbaik dari Tanah Perdikan ini. Aku minta kau dan

kawan-kawanmu menyadari, bahwa masih banyak hal yang salah terjadi di dalam alam pikir kalian. Bukan saja tentang kemampuan dalam olah kanuragan. Tetapi juga kekeliruan sikap batin kalian terhadap Tanah Perdikan serta para pemimpinnya.

Renungkan. Kalian masih mendapat kesempatan.”

TAWANAN yang kalah di arena itu termangu-mangu. Namun pemimpin pengawal itu pun

kemudian berdiri menghadap perwira Pajang. Sambil membungkuk hormat ia pun berkata, “Perkelahian ini sudah selesai.” Iswari menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat pemimpin pengawal itu telah menyelesaikan perang tanding serta mengambil sikap yang tepat setelah ia memenangkan perang tanding itu. Pemimpin pengawal

itu tidak membunuh lawannya, tetapi membiarkannya hidup dan kembali kepada kawan-kawannya.

Dengan demikian maka perang tanding itu pun telah selesai. Para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan serta para perwira prajurit Pajang telah meninggalkan arena.

Mereka memang merasa tegang dan berdebar-debar. Namun rasa-rasanya dada mereka telah menjadi lapang.

Pemimpin pengawal itu masih berdiri di arena. Sementara beberapa orang tawanan yang lain telah memasuki arena pula untuk menolong kawannya bangkit berdiri.

Demikian tawanan itu berdiri, maka ia pun bertanya kepada pemimpin pengawal itu, “Kenapa kau tidak membunuhku? Kau berhak berbuat demikian setelah kau memang dalam perang tanding ini. Apalagi aku hanya seorang tawanan yang dapat diperlakukan apa saja.”

“Aku tidak ingin membunuhmu,” jawab pemimpin pengawal itu. “Aku hanya ingin membuktikan, bahwa kau bukan orang terbaik bagi anak-anak muda Tanah Perdikan. Juga sikapmu bukan sikap yang mutlak benar. Karena itu, renungkanlah kembali apa yang pernah kau lakukan dan apa yang pernah terjadi diatas Tanah Perdikan ini.”

Tawanan itu tidak menjawab. Namun kemudian ia pun telah dipapah oleh

kawan-kawannya meninggalkan arena itu kembali ke barak mereka dibawah pengawalan para pengawal dengan senjata telanjang. Para tawanan itu pun sempat memandang para pengawal itu sekilas. Mereka menyadari, bahwa tiba-tiba saja sikap mereka telah berubah. Para pengawal itu bukan sekadar golok kayu digerakkan oleh tajamnya ujung-ujung pedang prajurit Pajang. Namun mereka benar-benar pengawal yang berhak menyandang pakaian sebagaimana mereka kenakan dan senjata sebagai mereka pegang.

Kemampuan para pengawal itu tidak begitu terasa dalam benturan kekuatan di medan pertempuran dalam perang brubuh. Para pengawal yang kemudian menjadi tawanan itu mengira, bahwa anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan itu sekadar berada dibawah bayangan dan perlindungan pasukan Pajang.

Ketika para tawanan itu telah berada didalam barak mereka, maka mereka pun sempat merenungkan apa yang telah terjadi. Apalagi tawanan yang telah dikalahkan di arena perang tanding itu, sementara pemimpin pengawal itu tidak memberikan hukuman apapun kepadanya, apalagi membunuhnya meskipun ia berhak.

Di bagian lain dari barak itu mulai terdengar pembicaraan yang

bersungguh-sungguh. Mereka yang sudah mulai ragu-ragu, telah dipacu untuk menentukan sikap, bahwa tidak ada yang tersirat di dalam diri mereka kecuali penyesalan.

“Kita harus melihat kenyataan,” berkata salah seorang tawanan. “Tanah Perdikan ini kini berada di tangan Iswari. Istri tua Ki Wiradana.”

Kawannya mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Bukankah ia memang berhak?

Bukankah

ia istri yang tua dan kita dapat menutup mata melihat saat kehadiran istri muda Ki Wiradana. Kita semuanya kecewa pada waktu itu. Namun rasa-rasanya kita bagaikan terbius ketika para perwira Jipang itu datang. Kita telah terjerumus untuk memilih sikap yang salah justru dengan penuh kebanggaan.”

“Aku sudah menyesal sejak semula,” sahut yang lain. “Tetapi aku tidak sempat berbuat apa-apa. Lingkunganku telah menyeretku ke dalam sikap dan keadaan yang semula tidak aku kehendaki. Karena itu, ketika di Pajang aku bertemu dengan saudaraku dari Tanah Perdikan, goncangan perasaanku menjadi semakin menekan.” Beberapa orang tawanan yang mendengarnya mengangguk-angguk. Namun mereka yang

sampai saat terakhir masih juga berani memaki pemimpin pengawal itu, harus menilai kembali sikapnya menghadapi para pengawal dan para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan. DALAM keragu-raguan itu, para tawanan pun ternyata menghadapi satu kenyataan, bahwa sikap para pengawal terhadap mereka pun perlahan-lahan telah berubah. Para tawanan tidak lagi berlaku sebagai prajurit yang keras dan garang. Tetapi mereka menjadi semakin dekat dan pembicaraan diantara para pengawal dan para tawanan telah menjadi bertambah terbuka.

Iswari menyaksikan perkembangan keadaan itu pun menjadi semakin yakin akan keberhasilan para pengawal menguasai keadaan. Bukan secara wadag dan mengungkung mereka yang pernah berpihak kepada Jipang di barak-barak tertutup, tetapi justru menguasai perasaan mereka, sehingga hati mereka menjadi semakin terbuka menghadapi kenyataan.

Dengan demikian, maka garis-garis batas diseputar barak-barak itu pun telah dipeRlonggar. Beberapa orang tawanan yang menurut para pengawal bersikap baik, telah diijinkan untuk bertemu dengan keluarganya. Bahkan beberapa orang telah diperkenankan untuk keluar dari barak-barak tertutup dan menengok keluarga mereka.

Seorang tawanan yang semula bersikap keras dan kasar terhadap para pengawal, sebagaimana sikap tawanan yang turun ke arena perang tanding itu, benar-benar telah menyadari keadaan yang dihadapinya. Ketika para pengawal kemudian memberinya kesempatan untuk keluar dari barak tertutup itu sehari, maka waktu itu pun dipergunakannya sebaik-baiknya.

Ibunya tidak dapat membendung air matanya ketika ia melihat anaknya yang sudah dianggapnya hilang itu kembali lagi kepadanya. Selama perang besar antara Pajang dan Jipang berlangsung, ia sudah merasa kehilangan anaknya. Namun ketika Jipang menyerah, ia berharap bahwa anaknya itu akan kembali lagi kepadanya. Tetapi yang terjadi telah membuatnya putus asa, karena Jipang dan anak-anak muda Tanah

Perdikan yang berada dibawah pengaruh mereka datang menyerang Tanah Perdikan itu sendiri, sehingga akhirnya anaknya itu menjadi tawanan.

“Aku mengerti apa yang telah terjadi,” berkata anak muda itu kepada ayah dan ibunya. “Hatiku telah mulai terbuka.”

“Syukurlah,” berkata ibunya. “Mudah-mudahan semua tekanan pada hati orang tua ini sudah berlalu.”

Anak muda itu mengangguk-angguk.

Namun anak muda itu terkejut ketika ia mendengar derap kaki kuda yang berhenti dihalaman. Ia melihat seorang pengawal Tanah Perdikan meloncat turun dari kudanya. Pengawal yang masih sangat muda.

Namun hatinya semakin berdebar ketika ia melihat seorang yang masih sangat muda itu berlari-lari ke pintu rumahnya.

“Toleh, kaukah itu,” anak muda yang berada di dalam itu hampir berteriak. Pengawal Tanah Perdikan itu tertegun. Ia pun keumudian berdesis, “Kakang.”

Keduanya pun kemudian berpelukan. Mereka sudah berpisah terlalu lama. Sejak mereka kanak-kanak, mereka hampir tidak pernah berpisah. Mereka adalah dua orang saudara laki-laki tanpa saudara yang lain. Kakaknya selalu membawa adiknya

kemana ia pergi. Mencari dan membuat mainan untuk adiknya, menggendongnya jika adiknya merengek dan bahkan jika adiknya segan makan, adiknya itu telah disuapinya.

Namun ia harus meninggalkan adiknya karena ia memasuki pasukan pengawal yang ditempa oleh para perwira Jipang.

Anak muda itu mencoba mengingat, bagaimana perasaannya pada waktu itu. Ia tidak lagi ingat, apakah ia merasa bangga atau segan bahkan merasa terpaksa untuk ikut dalam pasukan pengawal. Namun setelah ia ditempa dengan keras oleh para perwira Jipang, maka hatinya mengeras. Celakanya keyakinan itu tumbuh dan berkembang di dalam dirinya justru pada saat ia berdiri ditempat yang salah. Jipang telah

dengan cerdik memberikan keterangan yang dapat meyakinkan para pengawal tentang keadaan yang dihadapi pada waktu itu, sehingga ia pun telah melihat

kenyataan-kenyataan semu yang dibuat oleh para perwira Jipang itu.

Ternyata kemudian adiknya yang masih sangat muda telah memasuki pasukan pengawal pula namun disisi yang berseberangan.

Kedua orang tua mereka pun menarik nafas dalam-dalam. Mereka memang merasa cemas

seandainya keduanya ternyata tidak dapat mengekang diri masing-masing.

Namun para pengawal, dibawah pimpinan Iswari telah mendapat lambaran agar mereka tidak bersikap memusuhi saudara-saudara mereka yang sedang ditawan.

“Mereka adalah anak-anak terbaik kita yang hilang,” berkata Iswari. “Dan kini

kita telah menemukan kembali meskipun baru wadagnya. Karena itu perlahan-lahan kita harus mampu menemukan pula jiwanya kembali sebagaimana anak-anak terbaik yang pulang ke rumah ibu bapaknya.”

Kedua anak muda itu pun kemudian telah duduk di amben bambu di dalam rumah itu. Namun agaknya anak muda yang pernah berada di lingkungan pasukan Jipang itu tidak mampu menahan gejolak perasaannya. Tiba-tiba saja ia telah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya untuk menyembunyikan air mata yang meleleh dipipinya.

Dalam nada rendah dan suara yang bergetar ia berkata, “Sebagai laki-laki aku pantang menitikkan air mata. Tetapi kenyataan yang aku hadapi sangat menyentuh perasaanku. Untunglah kita tidak bertemu di medan pertempuran.”

Adiknya hanya menundukkan kepalanya saja. Sementara kakaknya itu berkata, “Tuhan Maha Besar. Dan kita telah dipertemukan dalam keadaan yang sangat baik ini.”

Adiknya hanya mengangguk-angguk saja. Meskipun ia ingin menjawab, tetapi ia tidak menemukan kata-kata yang tepat.

Demikianlah, tawanan itu sempat makan dan minum di rumahnya tanpa merasa gelisah. Ia mendapat kesempatan sehari penuh. Apalagi di rumah itu ternyata ada seorang pengawal Tanah Perdikan Sembojan pula.

Namun ternyata adiknya tidak dapat menemaninya sampai menjelang sore. Adiknya harus kembali ke kesatuannya untuk melakukan tugas-tugasnya.

“Jangan cemas kakang,” berkata adiknya. “Semua orang Tanah Perdikan ini dan disekitarnya mampu mengekang diri. Mereka tidak akan berbuat apa-apa.

Kakaknya itu mengangguk-angguk. Hatinya justru tergetar ketika ia melihat

adiknya dengan tangkas meloncat ke punggung kudanya dan kemudian dilarikannya keluar halaman turun ke jalan di depan rumah mereka.

“Anak itu ternyata tumbuh dan berkembang dengan gagahnya,” berkata tawanan itu. Ayahnya mengangguk kecil. Desisnya kemudian, “Marilah. Duduklah kembali.” Tawanan itu masuk kembali ke ruang dalam dan duduk bersama ayah dan ibunya. Ia akan berada di rumah itu sampai matahari turun disisi Barat.

Sebenarnyalah orang-orang Tanah Perdikan tidak bersikap memusuhinya ketika ia kemudian kembali ke barak tertutup. Seorang kawannya yang dikenalnya dengan baik sebelum ia pergi ke Pajang telah bertemu pula disimpang tiga dalam pakaian pengawal Tanah Perdikan.

Dengan akrab pengawal itu menyapanya meskipun ia tahu, bahwa anak muda itu adalah tawanan.

Beberapa saat mereka berbicara dengan lancar. Namun tiba-tiba tawanan itu telah menanyakan seorang kawannya yang lain yang mempunyai hubungan sangat baik pada waktu itu. Kawannya yang hampir disetiap hari bersama-sama pergi ke sawah,

karena sawah mereka berdekatan letaknya. Bersama-sama menelusuri air dan bersama-sama menunggu air hampir semalam suntuk.

Pengawal itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia menjawab, “Anak itu sudah gugur.”

“Gugur?” tawanan itu mengulang. “Kapan dan dimana?”

“Belum lama. Ketika pasukan Jipang itu menyerang Tanah Perdikan ini. Tanah kuburnya agaknya masih basah,” jawab pengawal itu.

“O,” tawanan itu mengangguk-angguk. Ia sadar apa yang telah terjadi. Karena itu, tiba-tiba saja terasa telah ada jarak di antara mereka berdua. Pengawal itu

telah dicengkam oleh keharuan mengingat kawan-kawannya yang telah gugur. Yang mungkin di antaranya telah dibunuh oleh tawanan yang berdiri dihadapannya itu. Namun sebagaimana selalu diperingatkan oleh para pemimpin mereka, agar mereka mampu mengekang diri untuk menemukan satu masa yang lebih baik bagi Tanah Perdikan tanpa dibayangi oleh dendam dan kebencian.

“BETAPA sulitnya,” berkata pengawal itu di dalam hatinya. Namun ia pun kemudian memaksa diri untuk tersenyum dan berkata, “Marilah. Sebentar lagi aku akan bertugas.” “O, silakan,” jawab tawanan itu. Namun tiba-tiba pengawal itu

berkata, “He, apakah kau sudah bertemu dengan adikmu?”

Tawanan itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baru saja aku bertemu di rumah. Adikku telah menjadi seorang pengawal yang baik.

“Ya,” jawab pengawal itu. “Adikmu ternyata memiliki keberanian melampaui

kawan-kawannya. Ia cepat maju dalam olah kanuragan, sehingga para pelatih merasa heran akan ketajaman nalar budinya.”

Tawanan itu mengangguk-angguk. Ia memang melihat sesuatu yang lebih pada adiknya itu.

Sejenak kemudian maka pengawal itu telah meninggalkannya. Tawanan itu mengikutinya dengan pandangan matanya, sehingga pengawal itu hilang ditikungan. Dengan langkah lesu tawanan itu menuju kembali ke barak tertutup. Disepanjang jalan ia merasa berada di tanah kelahiran sendiri meskipun ia seorang tawanan.

Ia tidak melihat sikap bermusuhan. Jika sekali-kali ia melihat gadis-gadis yang menepi karena berpapasan dengan dirinya, maka ia sama sekali tidak merasa tersinggung. Ia mencoba untuk memaklumi, apakah yang sebenarnya bergejolak dihati gadis-gadis itu.

Ketika ia kembali ke barak, maka dipintu regol halaman ia disambut dengan ramah oleh para pengawal yang berjaga-jaga. Meskipun para pengawal itu tetap bersiaga sepenuhnya, tetapi mereka menjadi semakin ramah. Mereka menyapanya sebagai kawan bermain diwaktu remaja, bukan sebagai seorang pengawal menghadapi tawanannya.

Dengan cara itu, perlahan-lahan Iswari dan seluruh Tanah Perdikan Sembojan telah menemukan kembali anak-anak mereka yang hilang. Perlahan-lahan tumbuhlah kesadaran di hati anak-anak mdua yang pernah terlepas dari kekang kendali pengabdian yang sebenarnya bagi Tanah Perdikan.

Namun dalam pada itu, para pengawal Tanah Perdikan Sembojan tidak pernah melepaskan kesiagaan mereka, karena mereka menyadari, bahwa bahaya yang sebenarnya masih tetap mengancam. Para prajurit Jipang yang pecah, Warsi dan Ki Rangga Gupita yang masih dapat menghimpun kembali gerombolan Kalamerta yang pernah hilang namanya sesaat, setelah pemimpinnya dihancurkan oleh Ki Gede Sembojan sendiri.

Sebenarnyalah para pemimpin pasukan Jipang yang pecah masih berusaha untuk dapat berhimpun kembali. Mereka berusaha untuk dapat saling berhubungan, sebagaimana dipesankan oleh para perwira mereka. Namun agaknya mereka mengalami kesulitan.

Meskipun demikian, perlahan-lahan jumlah mereka yang sempat berkumpul itu pun menjadi semakin bertambah. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa atas Tanah Perdikan Sembojan, karena Tanah Perdikan dan Kademangan disekitarnya masih ditunggui oleh sepasukan prajurit Pajang yang ditempatkan terpisah-pisah, namun yang dalam keadaan yang gawat, mereka akan dapat dengan cepat dihimpun menjadi satu kekuatan yang tidak akan terlawan.

KARENA itu, maka para pemimpin bekas prajurit Jipang yang pecah itu, merasa lebih baik untuk mencari jalan lain daripada satu keinginan untuk memasuki Tanah

Perdikan Sembojan. Agaknya untuk sementara mereka telah mengarahkan pandangan mereka kepada sekelompok bekas prajurit Jipang yang berada disebelah Barat

Pajang. Dalam keadaan yang lemah, maka mereka lebih baik bergabung dengan kawan-kawan mereka, sehingga dengan demikian mereka akan menjadi cukup kuat untuk setidak-tidaknya memperpanjang hidup mereka.

Tetapi disamping bekas para prajurit Jipang yang berkeliaran, ternyata ada pula

anak-anak Tanah Perdikan Sembojan yang berada dilingkungan pasukan Jipang yang kehilangan pegangan. Mereka tidak tertawan karena mereka sempat melarikan diri bersama para bekas prajurit Jipang. Tetapi prajurut Jipang pun kemudian tidak menghiraukan mereka lagi. Karena itu, maka mereka tidak lagi tahu apa yang sebaiknya mereka lakukan. Sementara itu mereka pun harus makan dan minum, sehingga dengan demikian maka mereka tersudut kedalam keadaan yang sangat sulit.

Dalam keadaan yang sangat menekan itu, mereka tidak mempunyai pilihan lain. Mereka tidak mau mati kelaparan, sehingga dengan demikian, maka mereka pun telah terdorong untuk mencari makan dengan cara yang tidak sewajarnya. Mereka memasuki rumah-rumah di Kademangan di luar Tanah Perdikan Sembojan untuk minta makan kepada penghuninya. Jika terasa penghuninya agak keberatan, maka mereka terpaksa mempergunakan kekerasan.

Untuk sementara anak-anak muda itu masih berusaha untuk menghindari Tanah Perdikan Sembojan. Jika mereka terpaksa mempergunakan kekerasan, maka orang-orang yang dipaksa itu bukan orang yang pernah dikenalnya.

Namun peristiwa yang terjadi beruntun itu telah didengar oleh orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Para pemimpin dari Kademangan di sebelah menyebelah telah memberitahukan bahwa sekelompok anak muda yang kelaparan telah melakukan perampokan dengan kekerasan. Bahkan akhirnya yang tidak diharapkan pernah terjadi. Seorang pemilik rumah yang telah dilukai oleh anak-anak muda yang kelaparan, namun memiliki bekal olah kanuragan itu.

“Panjagaan di gardu-gardu telah ditingkatkan,” berkata pemimpin pengawal di Kademangan sebelah. “Tetapi mereka dapat juga menyusup memasuki rumah-rumah di Kademangan kami. Yang kami cemaskan adalah, bahwa pada suatu saat mereka tidak hanya mencari makanan dan minuman. Tetapi terdorong oleh kebiasaan itu, maka mereka benar-benar menjadi perampok. Mereka tidak mengambil makanan dan minuman

karena kelaparan, tetapi benar-benar merasa perlu untuk mengumpulkan dan memiliki harta benda yang berlebihan.”

Iswari yang mendapat laporan itu pun menjadi sangat prihatin. Ia pun kemudian memerintahkan semua orang untuk menyebarkan keputusan yang diambil oleh para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan bagi anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang berkeliaran tidak menentu. Mereka akan mendapat perlakuan yang baik jika mereka bersedia menyerahkan diri kepada para pengawal di Tanah Perdikan Sembojan.

Tetapi anak-anak muda itu tidak pernah datang menyerah.

“Mungkin mereka tidak mendengar keputusan itu,” berkata pemimpin pengawal Tanah Perdikan. “Cobalah mempergunakan maklumat yang ditulis dan disebarkan. Mungkin pada suatu saat mereka sempat membaca,” berkata Kiai Badra.

Pemimpin pengawal Tanah Perdikan itu pun telah mencobanya. Mereka menulis di atas lembaran kain berwarna putih dan ditempelkan di beberapa tempat. Tidak hanya dilingkungan Tanah Perdikan Sembojan, tetapi juga di Kademangan di luar Tanah Perdikan Sembojan.

Ternyata pada suatu saat anak-anak muda itu menjumpai juga maklumat yang ditempelkan pada sebatang pohon randu alas yang besar di tengah bulak.

Tiga orang anak muda yang berada dalam satu kelompok telah membaca maklumat itu. Untuk beberapa saat mereka merenungi kata demi kata yang tercantum dalam maklumat itu.

“Apakah yang dikatakan itu benar?” desis salah seorang di antara mereka. “Entahlah,” sahut kawannya. “Tetapi yang menyerah pada saat perang terjadi itu pun telah ditawan. Apalagi kita. Mungkin maklumat itu dibuat setelah mereka menjadi putus asa karena mereka tidak mampu menangkap kita.”

Kedua orang yang lain mengangguk-angguk. Seorang di antara mereka berkata, “Apakah kita akan memperhatikan maklumat kita.”

“Persetan,” geram kawannya. “Kita bukan orang-orang dungu yang mudah dijebak. Kita akan meneruskan pengembaraan kita, sampai pada suatu saat kita mendapat hubungan dengan Ki Rangga Gupita, Warsi atau para pemimpin prajurit Jipang.” Kawannya mengangguk-angguk. Katanya, “Kita akan bertahan. Kawan-kawan kita yang menyerah ternyata mengalami nasib yang sangat buruk. Mungkin seorang demi seorang mereka telah dibunuh, sehingga akhirnya mereka akan habis dan tidak lagi dicemaskan akan mengganggu untuk selama-lamanya. Pengkhianat-pengkhianat itu akan dapat memerintah Tanah Perdikan Sembojan menurut selera mereka.”

“Kita harus berusaha untuk dapat menghubungi para prajurit Jipang. Tempat yang ditunjuk telah kita datangi beberapa kali, tetapi kita tidak pernah bertemu

dengan seorang pun. Sementara itu kita tidak tahu, kemana Warsi pergi,” berkata yang lain.

“Tetapi kita yakin bahwa mereka akan tetap pada sikap mereka. Warsi tentu berusaha untuk mendapatkan kembali Tanah Perdikan itu, karena anak laki-lakinya adalah anak Ki Wiradana yang berhak menggantikan kedudukan ayahnya,” sahut kawannya.

“Nah,”berkata yang lain. “Apalagi kita. Sedang Ki Wiradana pun telah dibunuhnya ketika ia tertangkap dalam keadaan luka.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Yang seorang berdesis, “Ya, Ki Wiradana pun telah mereka bunuh pula, apapun yang mereka katakan.”

Dengan demikian, maka mereka bertiga pun sama sekali tidak berniat untuk menyerahkan diri dan kembali ke lingkungan keluarga Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan dendam dan kebencian mereka terhadap kawan-kawannya di Sembojan pun menjadi semakin memuncak.

“Pada suatu saat, kita akan memasuki Sembojan itu sendiri. Biarlah orang-orang Sembojan mengetahui, bahwa kita masih ada dan mampu berbuat sesuatu.” Ternyata yang mereka katakan itu bukan sekadar ucapan kata-kata saja. Mereka berusaha untuk pada suatu saat dapat melakukannya.

Itulah sebenarnya, maka pada malam ketiga orang itu menyusup ke padukuhan yang termasuk dalam Tanah Perdikan Sembojan. Mereka mengerti bahwa penjagaan dimalam hari di padukuhan-padukuhan dilakukan oleh anak-anak muda dengan baik. Karena

itu, maka mereka pun telah melakukannya dengan sangat berhati-hati.

Mereka bertiga sepakat untuk memasuki rumah seorang yang telah mereka kenal. Seorang yang mereka anggap cukup kaya.

Kehadiran ketiga orang itu benar-benar mengejutkan. Pemilik rumah itu sama sekali tidak menyangka, bahwa tiga orang pengawal yang pernah ikut bersama pasukan Jipang itu telah datang di malam hari yang sepi dengan wajah yang menakutkan.

Melihat pemilik rumah itu ketakutan, ketiga anak muda itu tertawa tertahan. Seorang di antara mereka berkata, “Nah, kau lihat, bahwa kami masih tetap ada. Bukan saja ujud kami, tetapi juga sikap dan keyakinan kami.”

“Aku tidak mengerti,” jawab pemilik rumah itu. “Keyakinan yang manakah yang kau sebut itu?”

“Bahkan beberapa orang pengkhianat telah menguasai Tanah Perdikan ini,” jawab salah seorang dari ketiganya.

“Jika mereka kalian sebut pengkhianat, siapakah yang sebenarnya berhak atas Tanah Perdikan ini?” bertanya pemilik rumah itu.

“Kau jangan berpura-pura bodoh,” jawab anak muda itu. “Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan ini adalah Ki Wiradana yang telah dibunuh oleh

pengkhianat-pengkhianat itu.”

“Kau salah,” jawab pemilik rumah itu. “Ki Wiradana diketemukan dalam keadaan luka parah. Segala usaha sudah dilakukan. Tetapi para pemimpin Tanah Perdikan ini telah gagal menyelamatkan jiwanya. Ki Wiradana telah meninggal dengan tenang ditunggui oleh para pemimpin Tanah Perdikan ini.”

mohon maaf....terpotong sedikit aja...

SUAMINYA menggeleng lemah. Katanya, “Aku tidak sampai hati. Jika aku membunyikan

kentongan ini, maka anak-anak muda dan para pengawal akan memburu mereka seperti sedang memburu tupai. Sedangkan ketiga anak-anak muda itu adalah keluarga kita sendiri, meskipun mereka telah tersesat.”

“Tetapi dengan demikian kau telah membiarkan mereka berkeliaran,” berkata istrinya. “Jika ketiganya tertangkap, maka mereka akan mendapat perlakuan baik sehingga akhirnya mereka menyadari akan kekeliruan mereka.”

Pemilik rumah itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau benar. Tetapi aku tidak sampai hati melakukannya. Aku membayangkan ketiganya akan diburu dan mereka akan berkelahi sehingga ketiga orang anak muda itu dipaksa untuk menyerah. Mungkin karena keteguhan hati ketiga anak muda itu, mereka harus mengalami perlakuan yang keras sebelum mereka dapat diikat untuk dibawa ke barak-barak tertutup.”

Istrinya termangu-mangu. Namun katanya, “Apakah kau keberatan seandainya

anak-anak itu mengalami perlakuan kasar, namun kemudian hati mereka terbuka dan tidak lagi berkeliaran seperti itu!”

Suaminya itu menjadi bingung. Namun kemudian katanya, “Aku akan ke gardu. Aku akan melaporkannya. Jika anak-anak muda di gardu akan memburunya, aku akan ikut bersama mereka.”

Istrinya tidak mencegahnya. Ia tahu, suaminya mencemaskan ketiga anak muda itu jika terjadi benturan kekerasan karena ketiga anak muda itu juga bersenjata

serta dilandasi oleh keyakinan yang dianggapnya benar. Keyakinan yang akan digenggamnya dengan segala akibatnya, bahkan mati sekalipun.

Sesaat kemudian, maka suaminya itu pun telah turun dengan tergesa-gesa kehalaman dan kemudian keluar dari pintu regol halaman. Menembus kegelapan ia menuju ke gardu terdekat diujung jalan itu.

Kehadirannya di gardu itu memang mengejutkan. Apalagi sikapnya yang gelisah dan tergesa-gesa.

“Sesuatu telah terjadi di rumahku,” berkata orang itu. “Apa?” bertanya seorang pengawal.

Orang itu pun kemudian telah menceritakan apa yang telah terjadi. Tiga orang datang kepadanya untuk minta sejumlah uang yang tidak disebutnya. Ketika ia memberikan uang itu, mereka tidak mempersoalkan jumlahnya. Mereka pun sama sekali tidak menyakiti kecuali mengatakan bahwa ketiganya akan kembali untuk merebut Tanah Perdikan itu dari para pengkhianat.

“Kenapa kau tidak membunyikan isyarat,” tegur pengawal itu. “Aku tidak sampai hati,” berkata orang yang telah dirampok itu. “Kemana mereka sekarang?” bertanya pengawal itu pula.

“Aku tidak tahu,” jawab orang yang dirampok itu.

Pengawal itu pun kemudian menyampaikan persoalannya kepada kawan-kawannya.

Orang

yang malam itu mendapat tugas memimpin sekelompok kecil kawan-kawannya itu pun segera memerintahkan para pengawal untuk mencari.

Tetapi orang yang dirampok itu tidak berhasil mencegah para pengawal itu membunyikan isyarat.

Dengan demikian maka sejenak kemudian, suara kentongan pun telah menjalar dari satu gardu ke gardu yang lain. Bahkan kemudian teah terdengar pula suara

kentongan di padukuhan terdekat menyahut isyarat yang bergema di malam yang sepi itu.

Dalam waktu yang singkat, maka semua jalan memang telah tertutup.

Kelompok-kelompok kecil anak-anak muda telah berusaha untuk mengawasi semua sudut halaman dan setiap jengkal dinding padukuhan, sehingga tidak seorang pun yang akan mungkin dapat lolos dari pengamatan mereka. Karena yang kemudian berusaha untuk menemukan ketiga orang anak muda yang merampok uang itu bukan hanya mereka yang sedang bertugas malam itu, tetapi semua laki-laki di padukuhan itu telah keluar dan ikut pula mencarinya setelah mereka mendapat keterangan apa yang telah terjadi.

Tetapi ketiga orang anak muda itu ternyata telah keluar dari padukuhan. Mereka telah mendapat kesempatan untuk meloncati dinding padukuhan dan hilang di bulak yang luas, di antara tanaman jagung yang tumbuh dengan suburnya.

“BETAPA lambannya mereka,” berkata salah seorang dari ketiga anak-anak muda itu. Ketiganya tertawa. Yang lain telah menyahut disela-sela suara tertawanya, “Bagaimana mereka akan dapat bertahan dengan cara seperti ini. Lamban, sedikit dungu dan tanpa keberanian bertindak.” Ketiganya tartawa semakin keras.

Namun, di bagian lain dari Tanah Perdikan itu telah terjadi pula suatu peristiwa yang tidak diduga sebelumnya. Malam itu juga, di luar pengetahuan ketiga orang anak muda yang merampok itu dua orang anak muda yang semula juga menjadi pengawal yang berpihak kepada Jipang serta sempat melarikan diri dari medan, berada di Tanah Perdikan itu pula. Keduanya berada di rumah orang tua dari salah seorang diantara mereka.

Ketika keduanya mendengar kentongan berbunyi dan menjalar diseluruh Tanah Perdikan, maka keduanya pun menjadi cemas. Dengan tergesa-gesa mereka bersiap. Digantungkannya pedang mereka dilambung sambil bergumam dengan kasar, “Tentu ada

pengkhianat yang telah melaporkan kehadiranku disini. Menurut perhitunganku tidak seorang pun yang mengetahui aku telah berada di rumah. Karena itu tentu salah seorang dari keluarga kita sendiri yang telah berkhianat itu.”

“Tidak ada seorang pun di antara kita yang sampai hati melaporkan kehadiran kalian” jawab ayahnya.

“Tetapi kenapa para pengawal telah mengetahui kehadiran kita dan memukul kentongan,” geram anaknya.

“Bukankah sumber isyarat itu bukan dari padukuhan ini?” bertanya ayahnya.

“Mereka tidak akan mencari kemari. Tetapi mereka akan menuju ke padukuhan sumber isyarat itu. Mungkin ada juga kawan-kawanmu yang menyusup pulang ke rumahnya di padukuhan lain.”

Anaknya termangu-mangu. Namun ia pun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan

bersama kawannya yang menunjukkan sikap tidak senang terhadap keadaan di rumah itu.

“Apakah kau memang menjebak aku dengan mengajakku bermalam di rumah ini?” bertanya kawannya itu.

Anak pemilik rumah itu mengerutkan keningnya. Wajahnya menjadi tegang. Katanya, “Kau jangan membuat perkara. Kau mengenal aku seperti aku mengenalmu. Apakah menurut perhitunganmu aku mungkin akan berbuat demikian?”

“Siapa tahu gejolak perasaan seseorang,” jawab kawannya. “Banyak di antara kita sudah berkhianat. Dan sekarang, akan dapat pula giliran itu datang kepadamu.” “Kau jangan mengigau,” jawab anak pemilik rumah itu. “Aku pun sedang mengalami ketegangan seperti kau. Kita sudah sama-sama letih selama mengalami tekanan hidup yang berat. Perasaanku pun menjadi mudah tersinggung pula seperti perasaanmu. Karena itu biarlah kita berusaha tidak menumbuhkan

persoalan-persoalan baru yang tidak berujung pangkal.”

Kawannya menggeram. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Bahkan ia pun telah berjalan hilir mudik di ruang tengah dengan menggenggam hulu pedang.

“Jika ada seseorang datang, maka aku akan membunuhnya,” berkata anak muda itu. “Aku tidak peduli siapa mereka. Kedatangannya tentu dalam hubungan dengan suara kentongan itu.

mohon maaf....terpotong sedikit aja...

Suaminya mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan berhubungan langsung dengan para

pemimpin sehingga tidak akan terjadi pertempuran yang lama dan berkepanjangan, yang akan dapat membakar perasaan dan tidak lagi mampu mengekang diri. Jika yang melakukannya itu justru para pemimpin, keadaannya akan berbeda. Mereka akan dengan mudah dapat menangkap anak kita sehingga justru karena itu, segalanya

akan dapat segera dibenahi.”

Istrinya mengangguk kecil. Namun di kedua matanya telah membayang air mata. “Sudahlah,” berkata suaminya. “Yang kita bicarakan ini adalah rahasia. Jangan sampai anak kita mendengarnya.”

Istrinya mengangguk. Sementara itu suaminya berdesis, “Besok pagi-pagi aku akan berpura-pura pergi ke sawah.”

Sebenarnyalah bahwa laki-laki itu kemudian telah memantapkan rencananya. Tetapi ia akan pergi langsung ke rumah Kepala Tanah Perdikan itu dan bertemu dengan Iswari.

Adalah menjadi kebiasaan Iswari untuk menerima siapa saja yang berusaha menghubunginya asal ia berada di rumah. Ia tidak menolak pula permintaan orang tua itu untuk menghadap.

“Nyai,” berkata orang tua itu. “Aku akan menyerahkan persoalanku ke tangan Nyai sepenuhnya.”

Iswari termangu-mangu. Dengan nada rendah ia bertanya, “Persoalan apakah yang kau maksud?”

Orang tua itu pun kemudian menceriterakan tentang anaknya yang kebetulan berada di rumah. Anaknya yang ikut dalam pasukan Jipang dan bahkan yang telah melarikan diri dari arena pertempuran pada saat bekas prajurit Jipang menyerang Tanah Perdikan itu.

“Ia berada di rumah bersama seorang kawannya,” berkata orang tua itu.

Iswari mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih atas keteranganmu itu. Aku akan memerintahkan para pengawal untuk mengambilnya.”

“Nyai,” berkata orang tua itu. “Aku mohon Nyai jangan memerintahkan kepada

anak-anak muda untuk menangkapnya. Mereka sama-sama muda, apalagi telah dibekali dengan dendam dan kebencian. Aku tidak sampai hati melihat anakku itu diseret dengan kasar serta diikat tangannya.”

“O,” Iswari tersenyum. “Para pengawal Tanah Perdikan ini tidak akan berbuat demikian. Mereka telah mendapat pesan agar mereka memperlakukan anak-anak muda yang tersesat itu sebagaimana mereka memperlakukan saudara sendiri. Jika ada kekerasan itu adalah karena kami menginginkan segala sesuatunya berlangsung

sesuai dengan rencana. Namun anak-anak Tanah Perdikan ini akan selalu dapat mengekang diri.”

Orang tua itu mengangguk-angguk. Namun ia masih juga memohon, “Seandainya Nyai memerintahkan anak-anak muda untuk mengambil anakku, aku mohon Nyai menyertainya.

Iswari tersenyum. Katanya, “Baiklah. Aku akan berusaha agar segala sesuatunya terjadi dengan baik. Aku mengucapkan terima kasih atas keikhlasanmu menyerahkan anakmu yang kau nilai telah tersesat. Mudah-mudahan kita semuanya akan dapat menolongnya untuk menemukan jalan kembali.”

“Terima kasih Nyai,” berkata laki-laki tua itu. “Aku tidak akan segera pulang,

agar aku tidak melihat apa yang terjadi. Aku masih mohon Nyai untuk menenangkan istriku jika hatinya terguncang karena peristiwa ini, meskipun aku sudah memberitahukan kepadanya.”

Iswari mengangguk. Senyumnya masih nampak pada bibirnya. Katanya, “Aku akan berusaha berbuat sebaik-baiknya. Kau telah dengan jujur dan bersungguh-sungguh mencari jalan keluar bagi kesulitan yang membelit anakmu. Kami pun akan berbuat sebagaimana kau lakukan, karena anakmu adalah anak Tanah Perdikan ini. Karena itu maka ia adalah anakku juga.”

“Terima kasih Nyai. Aku percaya kepada Nyai. Aku serahkan anakku hitam putihnya kepada Nyai,” berkata orang tua itu. Iswari menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun mengangguk-angguk sambil

berkata, “Aku akan berusaha.”

Demikianlah, maka laki-laki itu pun telah mohon diri. Tetapi seperti yang dikatakannya, ia tidak segera pulang ke rumahnya. Betapapun kegelisahan mencengkam jantungnya, namun ia tidak ingin melihat anaknya ditangkap atau bahkan anaknya telah menuduhnya berkhianat.

SEPENINGGAL orang tua itu, maka Iswari telah mencari kakek dan neneknya. Ia telah minta Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka untuk membicarakan permintaan orang-orang tua itu. Kiai Badra mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Baiklah kita turuti saja permintaan orang tua itu. Ada dua orang pengawal yang berada di

rumah itu. Namun demikian, halaman rumah itu memang harus dikepung agar mereka tidak sempat meninggalkan halaman jika mereka mempunyai peluang untuk melarikan diri dengan cara apapun juga.”

“Tetapi jangan menimbulkan kegelisahan,” berkata Iswari.

“Baiklah,” berkata Kiai Soka. “Kita serahkan saja kepada Gandar. Biarlah ia

membawa empat atau lima orang yang akan mengawasi lingkungan rumah itu jika anak itu melarikan diri. Tentu saja tidak perlu mempergunakan pakaian pengawal Tanah Perdikan.”

Iswari sependapat dengan Kiai Soka. Karena itu maka ia pun telah memerintahkan memanggil Gandar dan memerintahkan kepadanya agar membawa lima orang pilihan. Sejenak mereka telah membicarakan langkah-langkah yang akan diambil. Mereka berusaha untuk memenuhi permintaan laki-laki tua yang telah dengan suka rela melaporkan kehadiran anak laki-lakinya yang dianggap memasuki Tanah Perdikannya.

Setelah semua rencana disepakati dan dipahami, maka Gandar pun telah memanggil lima orang pengawal terpilih. Seorang di antaranya adalah pimpinan pengawal Tanah Perdikan Sembojan.

Dengan terperinci Gandar memberikan penjelasan apa yang harus mereka lakukan, agar ketenangan Tanah Perdikan yang sudah mulai pulih kembali itu. Apalagi semalam Tanah Perdikan baru saja diguncang kehadiran tiga orang anak muda yang telah merampok disebuah padukuhan, namun ketiganya sama sekali tidak dapat ditangkap.

Tetapi menilik ceritera orang tuanya, maka anak muda yang dilaporkan itu bukannya anak muda atau salah seorang di antara anak-anak muda yang telah merampok itu, karena anak muda yang dilaporkan itu bersama kawannya, berada di rumah sejak matahari tenggelam tanpa beranjak keluar.

“Berhati-hatilah,” pesan Gandar. “Jika mereka melarikan diri dan kalian harus menangkapnya, berbuatlah sebaik-baiknya. Ingat, bahwa kita memerlukan kemampuan tertinggi dari Tanah Perdikan ini, sehingga kita memerlukan setiap anak muda

untuk tegak dan menjadi tulang punggung Tanah Perdikan ini.”

Kelima pengawal itu mengangguk-angguk. Sementara itu Gandar pun telah menyerahkan pelaksanaannya kepada pemimpin pengawal itu.

“Aku akan mengantarkan Iswari yang akan langsung menangani kedua anak muda itu bersama Nyai Soka,” berkata Gandar kemudian.

Sebenarnyalah, bahwa Iswari telah pergi ke rumah orang tua yang melaporkan kehadiran anaknya dengan seorang kawannya itu bersama dengan Nyai Soka di antar oleh Gandar. Meskipun Iswari dan Nyai Soka memiliki kemampuan yang sangat tinggi, tetapi karena ujud mereka sebagaimana seorang perempuan, nampaknya tidak terlalu garang sehingga mungkin tidak perlu kekerasan sama sekali untuk membawa kedua anak muda itu keluar dari rumah itu dan dibawa ke barak tertutup.

Namun dalam pada itu, untuk melindungi istri laki-laki tua yang melaporkan anaknya itu, maka perlu diambil langkah-langkah pendahuluan.

Karena itulah, maka ketika mereka sudah semakin dekat dengan rumah itu, Nyai Sokalah yang mendahului memasuki halaman. Sementara Gandar sempat melihat pemimpin pengawal yang bertugas mengamati keadaan, duduk dibawah sebatang pohon yang rindang beberapa puluh langkah dari regol halaman rumah itu.

Nyai Soka ternyata telah langsung menuju ke sisi rumah itu dan menuju ke pintu butulan.

Kedatangan perempuan tua itu memang tidak banyak menarik perhatian. Kedua anak muda yang berada di dalam rumah itu, sebenarnya telah terbangun pula setelah mereka sempat tidur sejenak di saat matahari terbit.

Keduanya tidak begitu tertarik pula ketika mereka mendengar suara seorang perempuan bercakap-cakap di pintu dapur.

NAMUN sebenarnyalah yang berbicara itu adalah Nyai Soka. Ia telah memberitahukan bahwa suami perempuan itu telah menghadap Iswari dan menyerahkan persoalan anaknya kepada perempuan itu. “Kami datang untuk memenuhi permintaannya,” berkata Nyai Soka. “Karena itu, ijinkan kami mengambil anakmu dan kawannya.” Perempuan itu mengusap matanya. Tetapi karena yang datang seorang perempuan tua, maka hatinya memang agak menjadi tenang, meskipun ia pun pernah mendengar tentang Nyai Soka. “Apakah Nyai datang sendiri?” bertanya perempuan itu.

“Tidak,” jawab Nyai Soka. “Aku datang bersama Iswari.” “Dimana Nyai Wiradana itu sekarang?” bertanya perempuan itu.

“Ia masih berada di luar regol,” jawab Nyai Soka. “Karena itu pergilah ke regol. Beritahukan kepada Iswari, bahwa ia sudah dapat masuk. Sementara itu sebaiknya kau memang menyingkir keluar.”

Perempuan itu tidak membantah. Ia pun turun ke halaman dan menuju ke regol. Sementara itu anaknya dan kawannya masih berada di ruang dalam. Suara perempuan di dengarnya meskipun hanya lamat-lamat dan tidak jelas itu sama sekali tidak menarik perhatian mereka.

Sejenak kemudian, maka perempuan ibu dari anak muda yang berada di dalam rumah bersama kawannya itu pun melintasi halaman. Sekali-sekali ia berpailng ke pintu rumahnya yang masih tertutup.

Demikian ia keluar dari regol, dilihatnya Iswari berdiri bersandar disisi regol halaman rumahnya. Sejenak perempuan itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya,

“Nyai Soka mempersilakan Nyai masuk.”

Iswari mendekati perempuan itu. Katanya, “Suamimu telah mengatakan dengan niat yang jujur tentang anaknya dan seorang kawannya yang ada di dalam rumahnya. Ia minta aku datang menjemputnya.”

Perempuan itu mengangguk. Wajahnya memang nampak suram. Namun agaknya ia memang

sudah pasrah. Katanya, “Aku serahkan anak itu kepada kebijaksanaan Nyai. Namun aku mohon anak itu jangan dibunuh.”

“Kami memerlukan semua tenaga yang ada di Tanah Perdikan ini,” jawab Iswari. “Aku memerlukannya. Memang mungkin untuk mengembalikannya pada tempatnya yang

sewajarnya dari seorang anak muda dari Tanah Perdikan ini diperlukan waktu. Namun kita bersama-sama berdoa agar waktu itu datang dengan cepat.”

Perempuan itu tidak menjawab lagi. Namun dengan suara payah ia berusaha menahan tangisnya meskipun air matanya meleleh juga dari kedua belah matanya.

Iswarilah yang kemudian bergerak masuk. Sementara itu, Gandar masih berdiri di regol bersama ibu anak muda yang akan diambil oleh Iswari itu.

Jika yang ada di rumah itu hanya dua orang, maka Iswari dan Nyai Soka tentu akan dapat menyelesaikannya andaikan keduanya mencoba untuk melawan. Yang perlu dilakukan adalah menjaga agar keduanya atau salah seorang daripadanya tidak melarikan diri.

Di luar sadarnya Gandar menjenguk halaman rumah itu. Dilihatnya dinding yang tidak terlalu tinggi mengelilingi halaman. Ia pun kemudian membayangkan, berapa orang telah mengawasi dengan cermat, sehingga tidak seorang pun di antara

keduanya akan mungkin lolos. Namun Gandar pun mengetahui dan sudah memberikan pesan, agar mereka berusaha menangkap anak-anak muda itu hidup meskipun mereka akan melawan.

Dalam pada itu, maka Iswari pun telah mendekati pintu rumah yang masih tertutup itu. Nyai Soka yang melihatnya datang telah menyongsongnya pula bersama-sama menuju ke pintu.

Sejenak kemudian, maka Iswarilah yang telah mengetuk pintu itu perlahan-lahan sambil mendehem, sehingga yang berada di dalam telah mendengar bahwa di luar seorang perempuan telah mengetuk pintu rumah itu.

Meskipun demikian kedua anak muda itu memang berhati-hati. Karena itu, mereka tidak segera membuka pintu. Dengan langkah yang hati-hati anak muda dari pemilik rumah itu telah beringsut ke dapur untuk mencari ibunya. Tetapi ibunya tidak diketemukannya.

mohon maaf....terpotong sebagian...

“ANAK-ANAK muda. Persoalannya bukan sekadar persoalan antara Pajang dan Jipang atau antara Tanah Perdikan Sembojan yang diperebutkan oleh dua pihak yang

masing-masing mengaku sebagai pengemban tugas anak-anak Ki Wiradana, tetapi ada persoalan lain atara Ki Wiradana dan Ki Rangga Gupita sebagai laki-laki dalam hubungannya dengan Warsi sebagai perempuan.”

Kedua anak muda itu menjadi tegang. Namun tiba-tiba salah seorang di antara mereka berkata dengan suara bergetar, “Apa sebenarnya yang kau katakan itu? Seharusnya kau melihat kepada dirimu. Yang mengalami persoalan seperti itu bukan Ki Wiradana, tetapi kau sendiri. Kau telah tersisih ketika Nyi Wiradana yang

muda itu datang. Kau telah melepaskan dendam dan kebencianmu dengan caramu. Kau korbankan Tanah Perdikan ini tanpa mengenal pertimbangan bagi masa depan, sekadar untuk memenuhi gejolak darahmu yang dibakar oleh perasaan cemburu seorang perempuan.”

Wajah Iswari menegang. Namun ia masih menahan dirinya, “Anak muda. Aku datang dengan maksud baik. Tetapi jika kau tidak mau melihat kenyataan, maka aku akan dapat bertindak atas kalian. Selama ini, aku masih berpengharapan atas kalian.”

Wajah anak-anak muda itu menjadi tegang. Mereka memang pernah mendengar bahwa Iswari adalah seorang yang sulit dilawan di peperangan sebagaimana Warsi. Namun bagaimanapun juga dalam keadaan yang demikian, anak-anak muda itu melihat ujud seorang perempuan yang nampaknya lemah lembut dan keibuan. Karena itu, maka mereka sulit untuk membayangkan, bagaimana Iswari mampu bertindak dengan kekerasan.

Apalagi mereka memang sudah tersudut pada satu keharusan untuk berusaha melepaskan diri. Siapapun yang dihadapinya maka keduanya harus melawan dan berusaha untuk keluar dari Tanah Perdikan Sembojan yang agaknya mengetahui kehadirannya itu.

Karena itu, maka kedua anak muda itu pun telah bersiap. Sementara Iswari masih berkata, “Anak-anak muda. Jangan berusaha untuk memberikan perlawanan. Rumah dan halaman ini sudah terkepung. Kalian tidak akan dapat keluar dengan cara apapun juga.”

“Persetan,” geram anak muda pemilik rumah itu, “Aku akan melakukannya.” “Sia-sia,” desis Iswari.

Namun tiba-tiba saja anak muda itu telah menarik senjatanya yang tidak pernah terpisah dari tubuhnya. Dengan serta merta ia mengacukan senjatanya kepada

Iswari sambil membentak, “Jangan mencoba untuk berbuat sesuatu. Ujung pedang ini akan menusuk dadamu tanpa belas kasihan. Kecuali jika kau mau mencarikan jalan bagi kami keluar Tanah Perdikan ini.”

Iswari mengerutkan keningnya. Ujung pedang itu memang telah melekat didadanya. Sementara itu anak muda yang seorang lagi telah pula menggenggam senjatanya sambil menggeram, “Jika kau tidak mau mencarikan jalan keluar, kau adalah korban yang sia-sia setelah kau merasa memenangkan pertarungan melawan Warsi untuk merebut Tanah ini, maksudku itu.”

Iswari tidak segera menjawab. Diamatinya kedua anak muda itu. Namun Iswari masih berusaha untuk membujuk mereka meskipun pada sorot mata kedua anak itu nampak api bagaikan menyala, “Anak-anak muda. Aku sudah berjanji untuk tidak berlaku kasar kepada anak-anak muda yang ingin pulang kepada induknya. Aku pun tidak ingin berbuat kasar kepada kalian berdua, karena kalian adalah anak-anakku dalam kedudukan sebagai pelaksana pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Aku ingin kalian pulang dengan keyakinan atas masa depan Tanah Perdikan Sembojan.” “Persetan,” geram anak muda kawan pemilik rumah itu. “Cepat. Bawa kami keluar.

Jika seorang saja di antara para pengawalmu yang bertindak diluar kehendak kami, maka kaulah yang akan menjadi korban.”

“Jadi kalian benar-benar tidak mau mendengarkan seruanku untuk kembali pulang sebagai seorang anak yang pernah hilang dari pangkuan ibunya?” bertanya Iswari.

“CUKUP,” anak muda itu hampir berteriak. Namun ia masih berusaha untuk menekan suaranya. Ia sadar, bahwa halaman itu tentu sudah dikepung. Jika suaranya memancing perhatian para pengawal, maka keadaan akan menjadi lebih sulit lagi baginya.

“Baiklah,” berkata Iswari. “Jika kalian memilih jalan kekerasan, apaboleh buat.”

“Aku dapat menusuk dadamu sekarang,” berkata anak muda pemilik rumah itu. “Cepat berputar dan berjalan. Kaulah yang membuka jalan bagi kami sampai perbatasan Tanah Perdikan. Tidak seorang pun boleh mengikuti kami. Atau kau terkapar mati disini.” Iswari menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa ujung pedang anak muda itu memang menekan dadanya.

“Dadamu terlalu lunak bagi ujung pedangku,” geram anak muda itu. “Baiklah,” jawab Iswari. “Kalian agaknya benar-benar tidak mau mendengar permintaanku.”

“Cepat berputar dan berjalan,” berkata anak muda itu.

Iswari memang berputar. Tetapi saat ia berputar itulah terjadi sesuatu yang

tidak dikehendaki oleh kedua anak muda itu. Demikian cepatnya Iswari bergerak. Meskipun ia tidak mengenakan pakaian khususnya, karena ia mengenakan pakaian seorang ibu Tanah Perdikan. Namun dengan sedikit menyingsingkan kain panjangnya,

Iswari telah berhasil melenting mengambil jarak. Tiba-tiba saja Iswari telah berdiri dihalaman beberapa langkah dari anak-anak muda itu.

Nyai Soka yang berada di halaman telah memperhitungkan, bahwa demikianlah yang akan terjadi, karena ia mengikuti segala pembicaraan Iswari dengan anak-anak muda itu.

Kedua anak muda itu terkejut bukan buatan. Namun ia tidak ingin kehilangan Iswari. Karena itu, maka keduanya pun segara meloncat memburunya.

Ditempat yang lebih luas, maka gerak Iswari tidak lagi terkekang. Itulah

sebabnya kedua anak muda itu benar-benar menjadi berdebar-debar. Keduanya merasa bahwa mereka tidak akan sempat mendekati Iswari dan apalagi menyerangnya dengan senjata mereka meskipun mereka benar-benar ingin melakukannya.

Namun kedua anak muda itu tidak menyerah. Mereka benar-benar berniat menguasai Iswari agar dengan demikian perempuan itu dapat menjadi syarat untuk keluar dari Tanah Perdikan.

Iswari memang menjadi kecewa terhadap anak-anak muda itu. Tetapi ia sudah berjanji untuk memperlakukan anak muda itu dengan baik kepada ayahnya yang telah dengan jujur memberitahukan kehadiran anaknya dirumahnya.

Gandar yang berada di regol mendengar keributan yang terjadi di halaman. Karena itu, maka ia pun telah menjenguknya dan ia pun melihat kedua anak muda itu telah menyerang Iswari. Bukan sekadar untuk mengusirnya pergi, tetapi keduanya

benar-benar telah menyerang untuk melukai tubuh Iswari itu.

Secara naluriah Gandar bergeser memasuki halaman. Namun ketika ia melihat Nyai Soka masih tetap berdiri tanpa berbuat apa-apa, maka ia pun telah mengendalikan dirinya.

Beberapa saat lamanya Gandar menyaksikan kedua orang anak muda itu berusaha menguasai Iswari tanpa menghindari kemungkinan untuk melukainya. Keduanya ingin mempergunakan Iswari untuk perisai dalam keadaan apapun. Bahkan dalam keadaan yang semakin bingung, keduanya tidak lagi tahu apa yang mereka lakukan. Mereka semakin menjadi kasar dan senjata mereka semakin cepat bergerak. Namun Iswari yang memiliki ilmu yang tinggi itu sama sekali tidak mengalami kesuitan untuk menghindari setiap serangan.

“Jangan kehilangan akal,” berkata Iswari.” Sebaiknya kalian mempergunakan nalar kalian sebaik-baiknya.”

“Persetan,” geram anak muda, kawan pemilik rumah itu. “Jika ujung pedangku menembus dadamu dan membunuhmu, bukan salahku.”

Iswari meloncat kesamping ketika pedang anak muda itu terjulur lurus ke dadanya. Namun ia pun telah dengan cepat merendahkan diri ketika pedang anak muda yang seorang lagi menembus lehernya.

AKHIRNYA anak muda itu memang tidak dapat berbuat lain. Ketika ia benar-benar sudah memeras tenaganya serta perasaan sakit telah menjalar ke seluruh tubuhnya, maka ia pun telah kehilangan kekuatannya untuk melawan. Pada saat-saat ia menyerang dan tidak menyentuh sasaran, ia pun justru telah terhuyung-huyung terseret oleh ayunan senjatanya sendiri. Bahkan beberapa kali anak muda itu harus mempertahankan keseimbangannya, agar tidak jatuh terjerembab.

Namun pada saatnya, kekuatan anak muda itu benar-benar telah terperas habis. Karena itu, maka ketika ia berusaha menusuk lambung Gandar, namun tidak menyentuhnya, anak muda itu tidak lagi mampu bertahan. Ia pun telah terjerumus dan kakinya seakan-akan tidak mampu lagi mengikuti gerak tubuhnya, sehingga akhirnya anak muda itu pun telah terjatuh.

Gandar membiarkan saja anak muda itu tertelungkup. Pedangnya justru terlepas selangkah terpisah dari tangannya.

Dengan susah payah anak muda itu menggapai pedangnya tanpa dicegah oleh Gandar. Dengan susah payah pula ia berusaha untuk berdiri. Namun ia sudah tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Meskipun ia berhasil berdiri di atas kedua kakinya, tetapi

ia tidak mampu lagi untuk menyerang meskipun Gandar berdiri sejangkau ujung pedangnya.

“Bagaimana anak muda?” bertanya Gandar.

Anak muda itu menggeram. Sementara itu anak muda yang seorang lagi agaknya masih lebih segar, karena Iswari tidak menyakitinya.

Tetapi karena Gandar telah menyelesaikan anak muda yang seorang lagi, maka Iswari pun ingin mempercepat penyelesaiannya pula.

Karena itu, maka ia pun telah mengambil jalan pintas. Ia tidak ingin memaksa lawannya berhenti berkelahi dengan menyakitinya. Tetapi ketika pedang lawannya terayun lepas di atas kepalanya karena ia merunduk, maka ia pun tiba-tiba telah meloncat mendekat. Kedua tangannya dengan cepat menggapai kedua pundak anak muda

itu.

Tidak terdengar anak muda itu mengeluh. Tetapi dengan demikian maka seakan-akan kekuatan anak muda itu terhisap habis oleh jari-jari yang menekan bagian

belakang kedua pundaknya. “Duduklah anak muda,” desis Iswari.

Sebenarnyalah anak muda itu tidak lagi mampu berdiri. Ketika Iswari menekan pundaknya itu, maka ia pun telah jatuh terduduk di tanah.

Anak-anak muda yang sudah kehilangan kekuatannya itu masih menunjukkan sikap bermusuhan, sehingga Iswari pun berkata, “Aku kecewa terhadap kalian. Aku sudah berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya. Tetapi kalian sama sekali tidak menanggapinya.”

Kedua anak muda itu tidak menjawab. Gandar pun telah memaksa lawannya untuk duduk pula disisi kawannya yang telah dilumpuhkan oleh Iswari.

“Nah,” berkata Iswari. “Jika kalian memang tidak mau mendengar kata-kataku, kalian akan aku tinggalkan disini. Aku tidak tahu, siapa lagi yang bakal datang. Tetapi pasti bukan aku, Gandar atau Nyai Soka. Mungkin para pengawal. Atau mungkin anak-anak nakal disekitar rumahmu ini. Melihat kalian, mereka akan merasa mendapat barang mainan.”

“GILA,” geram anak muda yang telah kehilangan tenaganya karena bertempur melawan Gandar, bahkan yang tubuhnya telah disakiti itu. Gandar termangu-mangu sejenak.

Agaknya kedua orang anak muda itu benar-benar sudah dikuasai oleh pengertian yang pernah dijejalkan oleh para perwira Jipang yang pernah menempa mereka. Namun demikian, Gandar harus menahan diri meskipun rasa-rasanya tangannya memang

menjadi gatal untuk memukul mulut anak muda yang menjadi keras kepala itu. Tetapi Iswari masih berpengharapan. Karena itu, Iswari pun kemudian berkata, “Nah, pikirkan. Apakah kau ikut bersama kami, atau kami akan membiarkan kalian disini. Kami tidak mempunyai banyak waktu untuk menunggu kalian. Kami masih harus melakukan kerja yang lain.”

Yang terdengar hanyalah gemeretak gigi kedua orang anak muda itu.

Karena itu, maka Iswari pun berkata, “Nah, marilah anak-anak ini kita tinggalkan disini. Marilah Gandar.”

Iswari pun segera beranjak dari tempat itu. Gandar dan Nyai Soka pun

mengikutinya pula. Beberapa langkah anak-anak muda itu masih mencoba bertahan. Namun ketika Iswari hampir sampai di regol halaman, terdengar salah seorang dari kedua anak muda itu memanggilnya, “Nyai tunggu.”

Iswari berhenti. Demikian pula Nyai Soka dan Gandar. “Ada apa?” bertanya Iswari.

“Jangan tinggalkan kami disini”, berkata anak muda itu.

“Kenapa? Bukankah kalian tidak mau ikut bersama kami?” bertanya Iswari. “Kalian akan pergi kemana?” bertanya anak muda itu.

“Pulang,” jawab Iswari. Kedua anak muda itu memang tidak mempunyai pilihan lain. Jika mereka benar-benar ditinggalkan, maka mereka akan mengalami perlakuan yang sangat buruk dari

anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan apabila mereka berdatangan. Bahkan Iswari mungkin akan memanggil anak-anak muda itu. Atau bahkan sebenarnyalah bahwa rumah

itu memang sudah dikepung, sehingga tidak ada kemungkinan bagi mereka untuk meloloskan diri dan meninggalkan Tanah Perdikan itu.

Karena itu, mereka memang tidak mempunyai pilihan lain. Dengan nada berat, maka seorang di antara mereka berkata, “Kami akan mengikuti kalian.”

Iswari menarik dalam-dalam. Ternyata bahwa ia tidak perlu mempergunakan kekerasan lagi lewat para pengawal untuk membawa kedua orang anak muda itu. “Baiklah,” berkata Iswari kemudian. “Marilah.”

Iswari pun justru telah berbalik mendekati kedua anak muda itu. Dengan lembut ia berkata, “Lepaskan senjata kalian. Bersikaplah wajar disepanjang jalan. Jangan merasa dirimu tawanan, sehingga perjalanan kita tidak menarik perhatian orang lain.

Kedua anak muda itu memang tidak dapat berbuat lain. Mereka melakukan apa saja yang dikatakan oleh Iswari. Mereka telah melepas wrangka senjata mereka yang tergantung dilambung. Kemudian membenahi pakaian mereka dan berusaha bersikap wajar, meskipun jantung mereka bergejolak menghentak-hentak di dalam dada.

Demikianlah sejenak kemudian, maka mereka pun telah keluar dari regol rumah itu. Iswari berjalan di paling depan bersama Nyai Soka. Kemudian kedua orang anak muda itu berjalan dibelakangnya. Dan dipaling belakang adalah Gandar. Tidak ada

tanda-tanda yang menunjukkan bahwa kedua orang anak muda itu tawanan yang harus dibawa ke barak khusus.

Ibu salah seorang dari anak muda yang berada diluar regol melihat anaknya meninggalkan rumahnya tanpa berpaling. Hampir saja ia berteriak. Namun suaranya ditahankannya dikerongkongan. Sejak semula ia memang tidak berani melihat apa yang terjadi di halaman. Ketika terjadi sedikit keributan, hatinya bagaikan

rontok di dalam dadanya. Seolah-olah ia melihat kedua orang anaknya itu tengah bertempur dengan orang-orang yang akan menangkapnya. Namun ia sama sekali tidak berani menjengukkan kepalanya di regol. Bahkan ia telah menutup telinganya

dengan tangannya agar ia tidak mendengar apa yang terjadi. mohon maaf....terpotong sedikit aja... NAMUN perempuan itu sebagaimana suaminya telah pasrah, apapun yang akan terjadi dengan anaknya. Bahwa Iswari telah mau datang sendiri untuk mengambil anaknya

itu pun merupakan satu kesempatan yang sangat menguntungkan, sehingga kemungkinan-kemungkinan buruk yang dapat terjadi atas anaknya dapat dikurangi. Demikian anaknya itu melangkah menjauh, maka perempuan itu pun segera berlari masuk regol halaman rumahnya. Ia tertegun ketika melihat dua helai pedang terletak di tanah. Dipungutnya senjata itu beserta sarungnya dan membawanya masuk ke dalam. Perempuan itu mengerti, bahwa anaknya dan kawannya itu tentu mencoba memberikan perlawanan. Namun mereka tidak mampu bertahan. “Untunglah bahwa Iswarilah yang datang sendiri,” berkata perempuan itu. “Jika yang datang para pengawal yang masih muda, semuda anakku, maka akibatnya tentu lain.”

Jantung perempuan itu telah bergetar semakin cepat. Tiba-tiba saja ia telah

berlari masuk ke ruang dalam. Dibantingnya tubuhnya di amben yang besar sambil menelungkup. Perempuan itu tidak dapat menahan tangisnya yang menghentak dari dalam dadanya yang serasa telah penuh dengan kegelisahan.

Perempuan itu tidak menyadari, berapa lama ia menangis. Namun tiba-tiba terasa pundaknya disentuh oleh tangan yang meskipun kasar tetapi terasa lunak. “Kang,” desisnya ketika perempuan itu mengangkat wajahnya yang basah.

Suaminya yang pulang dari sawah memandangnya dengan jantung yang berdebar-debar. Dengan suara sendat ia bertanya, “Bagaimana dengan anak kita Nyai?”

Perempuan itu bangkit dan duduk disamping suaminya. Disela-sela isak tangisnya ia menjawab, “Anak kita sudah diambil, kakang.”

“Siapa yang mengambilnya?” bertanya suaminya. “Nyai Wiradana sendiri,” jawab istrinya.

“Syukurlah. Iswari telah memenuhi janjinya,” desis suaminya.

“Tetapi anak kita memang keras kepala, kakang. Anak kita dan kawannya agaknya telah melawan,” berkata istrinya.

“O,” suaminya mengerutkan keningnya.

“Tetapi tidak terjadi sesuatu. Keduanya telah dibawa. Aku tidak berani menyapanya ketika anak kita lewat pintu regol, meskipun aku ada disebelah regol itu. Apalagi anak kita memang tidak berpaling.”

Suaminya menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada berat ia berkata, “Tetapi begitu akan lebih baik.Jika pada suatu saat anak kita itu bertemu dengan para pengawal Tanah Perdikan ini, maka akibatnya akan berbeda. Jika anak-anak muda bertemu dengan anak-anak muda dalam landasan yang berbeda apalagi bertentangan, maka akibatnya akan gawat.”

Istrinya mengangguk-angguk. Namun ia tidak menjawab lagi. Bahkan perlahan-lahan istrinya itu berdiri dan berdesis, “Aku akan ke dapur.”

Ketika istrinya itu pergi ke dapur, ternyata suaminya pun masih merenungi keadaan untuk beberapa saat. Bagaimanapun juga anak yang diambil oleh Iswari itu adalah anaknya. Namun baginya keadaan itu akan lebih baik daripada anaknya berkeliaran dengan para bekas prajurit Jipang dengan tanpa tujuan atau bahkan jatuh ketangan gerombolan Kalamerta. Karena ditangan Nyai Wiradana, ayahnya berharap bahwa anak itu akan dapat menjadi baik kembali dan hidupnya dapat memberikan arti.

Dalam pada itu, pemimpin pengawal yang duduk di depan rumah orang itu pada saat Iswari mengambil anak muda dari rumah itu, telah melangkah pergi pula. Ketika seorang yang mengenalnya bertanya, anak muda itu menjawab, “Sekali-kali ingin juga berjalan-jalan melihat keindahan Tanah Perdikan ini tanpa ketegangan

pakaian pengawal.”

Kawannya tersenyum. Karena ia tidak mengerti persoalannya maka ia pun berkata, “Kau aneh. Bukankah hal seperti ini sering kau lakukan? Apakah selama ini kau merasa terbelenggu oleh pakaianmu karena pakaian itu menunjukkan siapakah kau dan apakah kedudukanmu di Tanah Perdikan ini.”

“Bukan. Bukan begitu maksudku. Tetapi baiklah, begitu tiba-tiba aku ingin berjalan-jalan dalam keadaan seperti ini. Singgah di bibiku untuk mencari jambu air dan duwet,” jawab pemimpin pengawal itu.

“AH,” kawannya tertawa. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Namun katanya, “Kau mau mencari ikan disungai? Aku akan membuka rumpon sebentar lagi. Tentu ikannya akan banyak sekali, karena rumpon itu sudah aku buat lama sekali.”

“Terima kasih. Lain kali saja,” jawab pemimpin pengawal itu.

Kawannya tertawa. Sementara itu pemimpin pengawal yang sadar bahwa kawannya itu memang sedang mengganggunya itu pun tertawa pula katanya, “Sudahlah sebelum aku tinju kau.”

Keduanya tertawa semakin keras. Namun kawannya itu berkata, “Jangan membantah, bukankah kau sedang mengawasi Nyai Wiradana yang sedang mengambil kedua orang kawan kita yang keras kepala itu? He, aku bertemu dengan mereka.” Pemimpin pengawal itu masih saja tertawa. Katanya, “Sudahlah. Pulanglah. Biyungmu sudah menyenduk nasi hangat.”

Anak muda itu tertawa semakin keras. Namun ia pun kemudian meninggalkan pemimpin

pengawal itu. Namun ternyata anak muda itu telah bertemu lagi pengawal dalam pakaian sehari-hari. Bahkan seorang lagi yang berjarak agak jauh dibelakang.

Dalam pada itu, Iswari yang berjalan bersama Nyai Soka memang tidak menarik perhatian. Hanya orang-orang tertentu sajalah yang sedikit tertarik kepada dua orang anak muda yang berjalan di belakangnya. Sedangkan beberapa langkah lagi, Gandar telah mengikutinya pula.

Meskipun tidak banyak orang yang memperhatikan selama mereka berjalan, namun kedua anak muda itu merasa sebagai tontonan di perjalanan. Meskipun tangannya tidak terikat, dan tidak ada ujung senjata yang merunduk dipunggungnya, namun perasaan mereka setiap kali bergetar, jika seorang telah menyapa Nyai Wiradana, seolah-olah orang itu ingin mendapat penjelasan, kenapa dengan kedua orang anak muda itu.

Namun akhirnya kedua anak muda itu telah sampai ke rumah Nyai Wiradana. Dengan ramah Iswari itu pun mempersilakan kedua anak muda itu duduk di pendapa,

ditemani oleh Gandar, meskipun kedua anak muda itu menyadari, bahwa Gandar bukan sekedar menemani mereka, tetapi mengawasi mereka.

Tanpa disadari kedua anak muda itu memandang berkeliling. Rumah itu tidak berubah. Di regol masih ada petugas yang berjaga-jaga sebagaimana saat Ki

Wiradana masih ada. Namun agaknya karena suasana yang masih hangat penjagaan itu agaknya telah diperkuat.

Beberapa saat kedua anak muda itu duduk bersama Gandar. Bagaimanapun juga Gandar bersikap ramah, tetapi ternyata kedua anak muda itu tetap merasa terkungkung

oleh perasaan mereka sendiri, bahwa mereka berdiri diseberang batas dengan Gandar dan anak-anak muda yang berada di regol dan di gardu.

Karena itu, maka mereka tidak dapat berbicara dengan lancar. Sekali-sekali Gandar bertanya. Tetapi jawabnya sepatah-patah dan kadang-kadang tidak jelas artinya.

Baru beberapa saat kemudian Iswari keluar dan duduk pula bersama mereka. Tetapi tidak dengan Nyai Soka. Yang kemudian duduk bersama mereka adalah Kiai Badra dan Kiai Soka. Dengan beberapa kalimat panjang kedua orang tua itu memberikan petunjuk dan sedikit peringatan kepada kedua orang anak muda itu. Mereka mencoba membuka hati keduanya, meskipun kedua orang tua itu sadar, bahwa hal yang demikian itu tentu tidak akan dapat terjadi dengan serta merta.

“Kalian masih muda,” berkata Kiai Badra. “Jika kalian terjebak pada sikap yang keliru, maka hari depan kalian tidak akan dapat diharapkan. Padahal hari depan Tanah Perdikan ini tentu terletak pada anak-anak muda sebaya dengan kalian, dan

kemudian akan menyusul anak-anak muda yang lebih muda lagi. Terus-menerus tanpa berhenti. Jika aliran ini pada suatu saat terputus, maka Tanah Perdikan ini akan mengalami guncangan. Bahkan mungkin Tanah Perdikan ini akan merangkak menuju ke jalan yang keliru dan terjerumus ke dalam jurang kehancuran, sebagaimana yang

kita lihat, bahwa hal itu hampir saja terjadi. Jika Tanah Perdikan ini merupakan keluarga dari Kadipaten Pajang, tiba-tiba sekelompok orang telah memaksa menempatkan Tanah Perdikan ini dibawah perintah Jipang.”

mohon maaf....terpotong sedikit aja...

TETAPI Gandar sendiri adalah orang yang pilihan lahir dan batinnya. Dan tanpa cemas sama sekali, ia membawa kedua orang anak muda itu memasuki barak khusus itu. Beberapa pasang mata memandanginya dengan penuh kebencian. Ketika Gandar memasuki gerbang, para penjaga berkata, “Marilah. Kami ikut mengantar.”

Tetapi Gandar tersenyum. Katanya, “Jangan menarik perhatian mereka. Biar aku sendiri mengantar. Jika perlu aku akan memanggil kalian.”

Demikianlah, maka Gandar telah memasuki barak khusus itu seorang diri. Dibawanya kedua orang anak muda itu ke bilik yang masih tersedia tempat bagi keduanya, meskipun bilik itu sudah dihuni sebelumnya.

Ternyata kedua orang anak muda itu disambut baik oleh kawan-kawannya. Apalagi yang pernah berada di dalam satu kelompok dengan keduanya pada pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang ikut dalam pasukan Jipang membayangi Pajang dari sisi Timur.

“He, marilah,” berkata seorang anak muda yang bertubuh tinggi kekar. “Ternyata kita bertemu lagi. Dimana kau ditangkap oleh kerbau dungu itu?”

Kedua anak muda itu mengerutkan keningnya. Namun orang yang menyapanya itu sama sekali tidak merasa takut untuk menyebut Gandar dengan kata-kata yang sengaja

dibuat sangat menyakitkan hati.

“Kerbau itu tidak akan berani marah kepada kita. Kita akan dapat membantainya disini,” berkata anak muda yang bertubuh tinggi kekar itu.

Seorang yang lain menyambung, “Marilah. Selamat datang di istana kami ini. Jangan hiraukan keledai itu. Ia tidak akan berani berbuat apa-apa.”

Gandar memang tidak menanggapinya. Ia justru tertawa betapapun hatinya bergejolak dahsyat sekali.

“Silakan mengucapkan kata-kata apa saja,” berkata Gandar. “Kalian memang tidak mungkin berbuat apa-apa kecuali mengumpat-umpat. Jika mengumpat-umpat itu mampu

memberikan kepuasan kepada kalian, maka silakan. Aku tidak akan mengganggu kesempatan kalian terakhir untuk mendapat kepuasan.

“Gila,” geram orang bertubuh tinggi kekar itu. “Kau kira kau benar-benar seorang yang memiliki kelebihan? Seandainya aku mendapat kesempatan, aku ingin menantangmu berperang tanding.”

Gandar mengerutkan keningnya. Selangkah demi selangkah ia mendekati anak muda itu. Tetapi bibirnya masih saja tersenyum, “Apakah kau berkata sebenarnya? Jika

kau berkata sebenarnya aku akan mengusahakan kesempatan itu. Kita akan berperang tanding. Kita akan menentukan, siapakah di antara kita yang mampu bertahan

hidup. He, kau kenal Ki Rangga Gupita? Katakan, apakah kau saudara seperguruannya, atau kau barangkali merasa memiliki kemampuan setingkat dengan perwira Jipang dalam tugas sandi itu dan yang ternyata telah membunuh Ki Wiradana untuk merebut istrinya yang memang tidak setia itu? Nah, jika kau

merasa memiliki kemampuan setingkat Ki Rangga Gupita, maka kita akan berperang tanding sebagaimana pernah aku lakukan dengan Rangga Gupita?”

Wajah anak muda itu menjadi merah. Namun ia masih mencoba menjawab karena beberapa pasang mata memandanginya, “Bohong. Kau bukan tandingan Ki Rangga Gupita.”

“BAIKLAH, barangkali kau mengenal Warsi di peperangan? Atau siapa lagi?” bertanya Gandar. “Namun aku tidak bermaksud menakut-nakuti. Siapa yang ingin berperang tanding dengan aku, aku sama sekali tidak berkeberatan.”

Anak muda yang bertubuh tinggi kekar itu ternyata mulai berpikir. Bagaimanapun juga ia memang pernah mendengar tentang Gandar yang memiliki ilmu yang tinggi itu.

Namun ternyata Gandar tidak segera meninggalkan tempat itu. Meskipun ia masih tetap tersenyum, namun ia berkata, “Nah, siapa yang ingin melakukannya seperti anak ini.”

Adalah diluar dugaan, bahwa Gandar benar-benar mendekati anak muda bertubuh tinggi kekar itu. Dengan serta merta ia menarik ikat kepalanya dan menggenggam rambutnya. “Inilah contoh seorang anak muda yang berani. Yang dalam keadaan terjepit di barak khusus ini, masih juga berani menyatakan sikapnya.”

Anak muda yang bertubuh tinggi itu terkejut. Tetapi betapa besar pengaruh sikap Gandar itu. Ternyata anak muda yang mulutnya berani mengumpat itu, tidak segera mampu berbuat sesuatu, ketika justru kepalanyalah yang telah diraba oleh Gandar.

“Mari anak manis,” berkata Gandar. “Kita menghadap para pemimpin Tanah Perdikan ini untuk mohon kesempatan berperang tanding.”

Anak muda bertubuh tinggi kekar itu menjadi pucat. Ia mengharap kawan-kawannya berbuat sesuatu. Tetapi ternyata kawan-kawannya, bahkan yang telah ikut mengumpati Gandar itu pun tidak ada yang berani berbuat sesuatu. Demikian pula kedua orang anak muda yang baru saja dibawa masuk itu.