-->

Suramnya Bayang-Bayang Jilid 34

Jilid 34

Karena Ki Juru mengangguk, maka Sutawjaya pun telah mendekat pula dan berjongkok disisi Arya Penangsang.

Ternyata Arya Penangsang tersenyum memandanginya. Dengan suara bergetar ia berkata, “Kau adalah seorang anak muda yang gagah berani. Meskipun membawa tombak pusaka Kanjeng Kiai Pleret yang terkenal itu, tidak banyak orang yang

berani menghadapi Arya Penangsang. Tetapi darah kejantanan ayahmu Pemanahan dan ayah angkatmu Si Karebet itu ada di dalam dirimu. Mudah-mudahan kelak kau akan menjadi orang terpilih di antara orang-orang Pajang.

Sutawijaya menundukkan kepalanya. Ketika terpandang olehnya luka dilambung Arya Penang-sang ia berdesis, “Aku mohon maaf paman.”

“JANGAN begitu. Kau tidak bersalah. Kau tahu, bahwa ini terjadi di medan perang. Hatimu jangan lemah menghadapi orang yang hampir mati seperti aku sekarang ini, karena bagi Pajang, aku memang orang yang harus disingkirkan, sebagaimana Karebet itu bagi Jipang. Tetapi aku harus mengakui, bahwa Pajanglah yang menang. Karena itu maka Pajang akan hidup dan tumbuh. Kaupun harus tumbuh dan mekar menjadi seorang yang besar dikemudian hari,” suara Arya Penangsang menjadi semakin lambat. Namun ia masih juga berbicara kepada Ki Pemanahan, “Pemanahan, bantulah anakmu menjadi seorang yang berarti.”

“Aku akan mencobanya Kanjeng Adipati,” jawab Ki Pemanahan.

Arya Penangsang terdiam sejenak. Wajahnya berkerut ketika ia menahan sakit yang mengiris di lukanya. Namun kemudian ia masih berbicara, “Bawa tubuhku ke medan. Biarlah orang-orangku menyaksikan mayatku, sehingga mereka akan menghentikan pertempuran sehingga dengan demikian korban akan berkurang dikedua belah pihak. Tetapi pesanku, jangan kau lakukan kekejaman atas prajurit-prajuritku. Mereka sama sekali tidak bersalah.”

Ki Pemanahan mengangguk kecil sambil menjawab, “Kami berjanji Kanjeng Adipati.” Arya Penangsang menarik nafas dalam-dalam. Kemudian disentuhnya tangan Sutawijaya. Dan sekejap kemudian, maka sambil tersenyum Adipati yang gagah berani itu menutup matanya untuk selama-lamanya.

Ki Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Ki Juru dan Ki Penjawi pun telah menundukkan kepalanya, sementara Sutawijaya bagaikan telah membeku oleh kekagumannya terhadap Arya Penangsang yang telah gugur di medan perang. Beberapa saat suasana pun menjadi hening. Namun kemudian mereka pun telah teringat kepada pesan Arya Penangsang. Karena itu, maka mereka pun telah mengangkat tubuh Arya Penangsang itu dan membawanya mendekati medan.

Dalam pada itu, pertempuran pun menjadi semakin membakar. Kedua belah pihak yang telah basah oleh keringat menjadi semakin garang. Suara senjata beradu pun

semakin berdentang sedang setiap kali terdengar teriakan-teriakan marah serta hentakan-hentakan kekuatan.

Namun kadang-kadang terdengar juga keluhan tertahan dan rintihan kesakitan. Namun suara-suara itu tenggelam dalam hiruk pikuk yang keras dan bahkan menjadi semakin kasar.

Pasukan khusus dari Jipang telah bertempur dengan mengerahkan kemampuan dari setiap orang yang ada di dalamnya. Mereka yang memiliki beberapa kelebihan itu berusaha untuk dapat memecahkan pertahanan orang-orang Pajang, sehingga mereka pun kemudian akan dapat membantu mengoyak sekat antara pasukan khusus itu dengan pasukan yang lain.

Namun mereka harus berhadapan dengan kekuatan yang seimbang. Ternyata pasukan khusus Pajang tidak pula kalah garangnya setelah tangan mereka basah oleh

keringat.

Dalam keadaan yang demikian, maka arena itu sudah dikejutkan oleh teriakan nyaring, “Hei orang-orang Jipang. Perhatikan, siapakah yang telah gugur di medan pertempuran ini.”

Tidak seorang pun yang menghiraukannya. Mereka tidak sempat untuk menggeser perhatian mereka dari lawan-lawan mereka barang sekejap pun. Jika mereka lengah sesaat, maka senjata lawan itu pun akan sempat singgah di lambungnya.

Namun terdengar suara itu lagi mengguruh, “Lihatlah, siapakah yang telah gugur.”

Karena masih belum nampak pengaruhnya, maka Ki Pemanahan dan Ki Penjawi pun telah membawa tubuh Arya Penangsang itu lebih dekat lagi ke arah pasukan Jipang. Bukan pasukan khususnya. Tetapi pasukan yang dipimpin oleh Ki Patih Mantahun. “Ki Patih,” berkata Ki Juru. “Hentikan sejenak. Apakah kau tidak mengenal, siapakah yang telah gugur ini?”

Ki Patih mengerutkan keningnya. Sementara itu, para perwira yang bertempur melawannya pun agaknya telah memberi kesempatan kepada Ki Patih untuk sejenak memperhatikan tubuh yang dimaksud oleh suara itu. Apalagi mereka segera mengenal bahwa suara itu adalah suara Ki Juru Martani.

Sejenak kemudian maka pertempuran antara Ki Patih Mantahun dan kawan-kawannya itu pun seakan-akan terhenti sejenak. Ki Patih Mantahun sempat memperhatikan tubuh yang dibawa oleh Ki Pemanahan dan Ki Penjawi itu.

Ki Penjawi melihat keragu-raguan di wajah para Senapati. Karena itu, maka katanya, “Masih ada kesempatan untuk berbicara. Marilah kita berbicara.

Menyerahlah.” Tetapi para Senapati itu tidak dapat mengambil keputusan. Mereka lebih banyak menunggu perintah Ki Patih Mantahun. Bahkan mereka masih berpengharapan bahwa Ki Patih itu akan membuat keseimbangan dalam perang itu. Atau barangkali pasukan khusus yang terpilih itu akan ikut menentukan akhir dari peperangan itu.

Sebenarnyalah Ki Pemanahan dan Ki Patih Mantahun telah bertempur dengan segenap kemampuan mereka. Mereka telah melepaskan segenap kekuatan yang ada di dalam diri mereka. Ternyata kemampuan keduanya adalah seimbang. Ki Patih Mantahun tidak mampu segera mengalahkan Ki Pemanahan, sebaliknya Ki Pemanahan pun tidak dapat menundukkan Ki Patih Mantahun yang tua itu.

Raden Sutawijaya menyaksikan pertempuran itu dengan hati yang berdebar-debar. Namun tiba-tiba ia teringat kepada pusaka yang dibawanya. Pusaka tertinggi Pajang yang disebut Kanjeng Kiai Pleret.

Tiba-tiba saja tangannya bergetar. Arya Penangsang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi pun dapat tergores oleh ujung tombak itu.

Karena itu, maka tiba-tiba saja ia telah mendekati arena. Dengan hati-hati ia menyaksikan ayahnya bertempur melawan Ki Patih Mantahun. Desak mendesak dan dera-mendera.

Tetapi Raden Sutawijaya ragu-ragu untuk melibatkan diri dalam pertempuran itu. Ketika ia berpaling ke arah Ki Juru Martani yang tegang, maka ia tidak mendapat kesan apapun dari wajah Ki Juru yang perhatiannya justru telah terampas oleh pertempuran itu.

Sejenak Sutawijaya termangu-mangu. Jika ia ikut serta melibatkan diri, mungkin ayahnya akan menyalahkannya. Ayahnya akan dapat tersinggung karena dalam perang tanding itu seseorang telah membantunya. Namun jika pertempuran itu

dibiarkannya, maka mungkin akan makan waktu yang tidak terbatas. Mungkin sampai saatnya matahari terbenam pertempuran itu masih belum selesai dan harus dilanjutkan esok pagi.

Karena itu, maka Raden Sutawijaya itu telah mendekati Ki Juru. Ketika ia menggamit Ki Juru, maka Ki Juru memang terkejut.

“Paman,” berkata Sutawijaya, “Apakah aku dapat membantu ayah dalam pertempuran ini?”

Ki Juru mengerutkan keningnya. Katanya, “Meskipun tidak ada perjanjian perang tanding, tetapi sebaiknya kau jangan mengganggu.”

“Tetapi apakah pertempuran itu akan dapat cepat selesai? Jika perang tanding itu cepat selesai, maka perang dalam keseluruhannya akan selesai,” berkata Raden Sutawijaya. “Korban akan dapat disusut sejauh mungkin.”

Ki Juru mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah Sutawijaya. Pertempuran memang harus segera diakhiri. Tetapi kita atau siapapun juga tidak akan ada yang mampu memaksa Ki Patih itu menyerah. Ia adalah seorang Patih yang sangat setia. Maka

akhir dari pengabdiannya adalah kematiannya.” “Jadi bagaimana menurut pertimbangan paman?” bertanya Raden Sutawijaya. “Marilah,” berkata Ki Juru. “Berdirilah dekat dengan arena pertempuran itu. Tetapi bersiagalah dengan Kanjeng Kiai Pleret itu.”

Raden Sutawijaya mengerutkan keningnya. Tetapi ternyata bahwa ia adalah anak muda yang bukan saja berani, tetapi juga memiliki kecerdasan yang tinggi. Karena itu, maka ia pun segera mengetahui maksud Ki Juru.

Sejenak kemudian maka Raden Sutawijaya pun telah mendekati arena untuk menyaksikan pertempuran itu dari jarak yang sangat dekat. Namun seperti pesan Ki Juru, Raden Sutawijaya itu pun telah siap dengan tombak pusakanya yang diterimanya dari ayahanda angkatnya, Kanjeng Adipati di Pajang.

Sementara itu perang tanding antara Ki Pemanahan dan Ki Mantahun telah menjadi semakin seru. Ketika keduanya mengerahkan segenap kemampuan mereka, maka rasa-rasanya tubuh mereka memang mulai tersentuh oleh serangan-serangan lawan yang menggoyahkan pertahanan ilmu kebal masing-masing. Ujung-ujung senjata itu memang terasa mulai menyakiti daging dibawah kulit. Tetapi kulit mereka sama sekali tidak terluka karenanya.

PARA perwira itu terkejut. Dengan serta merta mereka pun telah berloncatan menghindari serangan Ki Patih. Namun Ki Patih mampu bergerak semakin cepat, sehingga ujung senjatanya seakan-akan telah memburu setiap orang di arena itu.

Para perwira itu seakan-akan telah kehilangan kesempatan. Orang tua itu benar-benar tidak menghiraukan keselamatan dirinya.

Ki Pemanahan yang melihat keadaan itu, tidak dapat berpangku tangan. Meskipun para perwira yang ditugaskannya membatasi gerak Ki Patih Mantahun itu adalah orang-orang pilihan, tetapi sulit bagi mereka untuk menyelesaikan pertempuran itu. Ki Patih Mantahun memang seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi.

Karena itu, maka Ki Pemanahan pun telah minta kepada Ki Penjawi untuk meletakkan saja tubuh Arya Penangsang. Katanya, “Kau tunggui tubuh itu bersama Ki Juru. Aku akan menyelesaikan Ki Patih meskipun mungkin akan dapat terjadi sebaliknya.”

Ki Penjawi tidak dapat menahannya. Ki Pemanahan adalah Panglima prajurit Pajang.

Sejenak kemudian, maka Ki Pemanahan pun telah menyibak para perwira yang mengepung Ki Patih Mantahun. Dengan nada rendah Ki Pemanahan berkata, “Aku adalah Panglima pasukan Pajang. Karena itu sudah sepantasnya bahwa aku akan menghadapimu Ki Patih.”

Ki Patih memandang Ki Pemanahan dengan tajamnya. Kemudian katanya, “Baiklah. Memang seharusnya kita bertempur berhadapan. Kau tidak dapat mempercayakan kepada tikus-tikus kecil yang ternyata tidak berarti apa-apa itu.”

“Jangan menghina. Tetapi satu kenyataan bahwa Ki Patih tidak juga dapat mengalahkan mereka,” jawab Ki Pemanahan.

“Satu langkah yang berani. Bukan keberanian seorang kesatria, tetapi para prajurit Pajang telah menjadi semakin berani berbuat licik. Justru karena para pemimpin dari Pajang telah kehilangan harga dirinya,” geram Mantahun.

“Ki Patih,” wajah Ki Pemanahan menjadi merah oleh kemarahan yang mulai menyentuh jantungnya. “Kehadiranku dihadapan Ki Patih sekarang ini juga karena harga diri.

Tetapi baiklah. Kita akan mulai menguji diri kita masing-masing. Kau atau aku. Namun wajar sekali jika seorang prajurit mati di medan perang.”

Ki Patih tidak menjawab. Tetapi ia sudah siap bertempur menghadapi Ki Pemanahan, Panglima prajurit Pajang yang pernah menjadi saudara seperguruan Karebet yang kemudian menjadi Adipati Pajang.

Sejenak kemudian, maka keduanya pun telah terlibat dalam pertempuran yang seru.

Ki Pemanahan telah mencabut pedangnya dan mempergunakan untuk melawan senjata Ki

Patih Mantahun. Sekali-kali kedua senjata itu beradu memercikkan bunga-bunga api. Namun ketika senjata-senjata itu menyentuh kulit lawan, ternyata bahwa tidak terjadi segores lukapun. Baik pada tubuh Ki Patih Mantahun maupun pada

tubuh Ki Pemanahan. Namun kecepatan mereka bergerak memang sekali-kali memberi kesempatan bagi ujung-ujung senjata masing-masing mengenai lawannya.

Sementara itu, pertempuran di seluruh medan pun menjadi semakin dahsyat pula. Namun ternyata bahwa para prajurit Jipang semakin lama memang menjadi semakin terdesak. Semakin lama semakin mendekati tepian Bengawan Sore.

Dalam pada itu, Ki Penjawi dan beberapa orang perwira telah membawa tubuh Arya Penangsang yang gugur itu mendekati pasukan yang mundur itu. Dengan lantang ia berkata, “Lihatlah. Kanjeng Adipati Jipang telah gugur di medan perang. Ia gugur sebagai seorang laki-laki jantan. Tetapi pesannya adalah pesan seorang kesatria sejati. Ia tidak mau melihat korban lebih banyak lagi dari kedua belah pihak.” Kenyataan itu memang mendebarkan jantung. Sementara itu Ki Penjawi berkata, “Marilah kita hentikan pertempuran itu. Menyerahlah. Dengan demikian maka korban tidak akan bertambah banyak dan kita akan berusaha mencari penyelesaian yang paling baik. Apa artinya perang ini bagi kalian jika Arya Penangsang sudah tidak

ada.”

Para Senapati dalam pasukan Jipang itu termangu-mangu. Namun mereka menyadari, bahwa Ki Patih Mantahun masih bertempur. Bahkan dalam kemelut yang mendesak, Ki Patih seakan-akan telah terpisah dari pasukannya yang terdesak mundur.

Para Senapati itu memang sudah tidak melihat kemungkinan untuk berbuat apa-apa lagi. Selain mereka memang sudah terdesak, maka tanpa ikatan perintah dari

seorang pemimpin yang memiliki wibawa sebagaimana Kanjeng Adipati Jipang atau Ki Patih Mantahun, maka perlawanan mereka tidak akan berarti. Yang akan terjadi kemudian hanyalah sekadar memperpanjang waktu dan memperbanyak korban.

Berbeda dengan pasukan Jipang yang lain, maka pasukan yang disebut Pasukan Pengawal Khusus itu justru berteriak mengumpati kawan-kawannya yang kemudian ternyata menyerah itu, seorang di antara mereka berteriak keras-keras,

“Pengecut. Kalian sama sekali tidak memiliki kesetiaan mengabdi. Kenapa kalian telah berubah dengan tiba-tiba menjadi pengecut? Kenapa kalian menyerah, he?” Tetapi teriakan-teriakan itu tidak berpengaruh sama sekali. Yang menyerah sudah telanjur menyerah. Prajurit Pajang telah menggiring mereka dengan meninggalkan senjata-senjata yang telah mereka lemparkan ke tanah. Para prajurit Pajang itu

pun telah memerintahkan pasukan Jipang yang menyerah itu kemudian duduk ditepian berpasir dijaga oleh prajurit Pajang dengan ketatnya. Sementara itu sebagian di

antara para prajurit Pajang itu telah mengumpulkan senjata-senjata yang terbuang itu.

Namun dalam pada itu, sepasukan yang disebut Pasukan Khusus yang setia itu masih bertempur terus. Pasukan Khusus Pajang menjadi marah juga menghadapi mereka.

Tetapi setiap prajurit dari pasukan khusus Jipang itu seakan-akan telah berbuat

di luar sadarnya. Mereka seakan-akan telah melakukannya sekadar untuk membunuh diri. Namun justru karena itu, maka mereka pun telah menjadi liar.

Sebagian prajurit Pajang yang lain pun telah ikut pula memperkuat pasukan khusus itu. Bahkan kemudian Ki Pemanahan, Ki Penjawi dan beberapa perwira yang dipersiapkan untuk melawan Ki Patih Mantahun pun telah ada pula di antara pasukan khusus Pajang. Sehingga dengan demikian maka keseimbangan kekuatan antara kedua pasukan itu pun segera berubah. Namun bagaimanapun juga, pasukan terpilih itu sama sekali tidak berniat untuk menyerah. Mereka bertempur dengan segenap kekuatan dan kemampuan mereka. Meskipun seorang demi seorang telah gugur, namun tidak seorang pun di antara mereka menjadi gentar.

Ki Pemanahanlah justru yang menjadi bingung menghadapi pasukan yang luar biasa itu. Pasukan yang benar-benar akan bertempur sampai orang yang terakhir. “Kenapa kita tidak mempergunakan nalar kita,” teriak Ki Pemanahan. “Apakah pertempuran seperti ini akan berarti. Kalian akan mati dan sebagian dari

prajurit kami pun akan mati tanpa arti.”

“Kami adalah para prajurit dari pasukan pengawal khusus,” sahut Senapati dari pasukan itu. “Akhir perlawanan kami adalah kematian kami.”

Ki Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti keteguhan hati para prajurit dari Pasukan Pengawal Khusus Jipang sebagaimana juga Pasukan Khusus Pajang.

Karena itu, maka Ki Pemanahan tidak dapat mengharap mereka akan mengakhiri pertempuran dan menyerah. Tetapi mereka tentu akan melawan sampai mati. mohon maaf....terpotong sedikit aja...

Ki Patih pun tiba-tiba saja telah bergeser setapak. Kemudian dengan loncatan panjang ia pun melenting menyerang Sutawijaya. Meskipun Raden Sutawijaya membawa

tombak Kanjeng Kiai Pleret, namun jika Ki Patih itu benar-benar berusaha membunuhnya dengan tanpa menghiraukan keselamatannya sendiri, maka Sutawijaya tentu tidak akan mampu menghindarkan dirinya.

Namun dalam pada itu, Ki Juru meloncat lebih cepat. Dengan serta merta ia telah menarik Raden Sutawijaya menjauh, sementara itu Ki Pemanahanpun telah tanggap akan keadaan. Karena itu, maka ialah yang kemudian meloncat memasuki arena, menangkis ujung senjata Ki Patih Mantahun yang mengarah ke dada anaknya. “Setan kau,” geram Ki Patih Mantahun.

“Salahmu Ki Patih yang telah menjadi pikun. Seharusnya kau bertempur melawan aku. Tidak anak kecil itu,” berkata Ki Pemanahan.

“Ia telah menyentuh tubuhku dengan tombak Kanjeng Kiai Pleret. Biarlah ia mati bersamaku,” jawab Ki Patih Mantahun.

“Seandainya harus mati, biarlah yang tua inilah yang mati. Jangan anak yang

masih sangat muda itu. Umurnya masih panjang, karena ia merupakan harapan masa depan,” sahut Ki Pemanahan pula. “Persetan,” geram Ki Patih Mantahun yang meloncat menyerang Ki Pemanahan.

Ki Pemanahan sudah bersiap. Karena itu, maka ia pun sempat meloncat menghindar. Namun Ki Patih Mantahun benar-benar menjadi putus asa. Ia tahu akibat sentuhan tombak Kanjeng Kiai Pleret. Karena itu, maka yang menjadi tujuan terakhirnya adalah membawa lawannya untuk mati bersama.

Tetapi Ki Pemanahan pun tahu pasti akibat yang dapat terjadi dengan Ki Patih Mantahun yang terluka itu. Karena itulah, maka Ki Pemanahan untuk selanjutnya tidak bernafsu lagi untuk menyerang. Ia hanya bergeser saja menghindar dari setiap serangan Ki Patih. Sekali-kali menangkis dan bahkan sekali-kali kulitnya telah tersentuh pula serangan ujung senjata lawannya. Namun kekebalannya telah melindungi kulitnya meskipun terasa betapa nyerinya bagian dalam tubuhnya.

Seperti perhitungan Ki Pemanahan, maka lambat laun, tenaga Ki Patih pun menjadi susut. Ketika kekuatan tombak Kanjeng Kiai Pleret mulai bekerja ditubuhnya, maka Ki Patih itu pun merasa waktunya tidak akan lama lagi, bahwa pengabdiannya akan selesai.

Namun ia sudah tidak mampu lagi bergerak dengan garang dan cepat. Semakin lama tubuhnya terasa semakin lemah, sehingga akhirnya maka lututnya pun seakan-akan tidak lagi mampu menahan berat badannya.

Ki Patih Mantahun itu pun akhirnya kehilangan keseimbangannya. Perlahan-lahan ia jatuh pada lututnya. Dipandanginya Ki Pemanahan dan Sutawijaya berganti-ganti dengan sorot mata penuh kebencian.

“Kalian ayah dan anak yang tidak lagi berpijak pada sifat kesatria,” geramnya. Sutawijaya mengerutkan keningnya. Namun Ki Pemanahan sama sekali tidak berbuat apa-apa dan tidak pula menjawab ketika Ki Patih Mantahun berkata, “Kemenangan kalian bukan kemenangan yang dapat dibanggakan. Kalian akan malu sendiri mengenangkan kemenangan kalian kali ini.”

Ki Pemanahan melangkah setapak maju meskipun ia masih juga berhati-hati. Namun sekejap kemudian, maka tubuh Ki Patih itu pun telah terguling dan terbaring ditanah.

Prajurit-prajurit Pajang yang melihat hal itu telah bersorak gemuruh. Bahkan ada di antara mereka yang berteriak, “Ki Patih telah terbunuh. Ki Patih Mantahun telah terbunuh.”

Teriakan itu mengumandang semakin tinggi, sehingga seluruh pasukan Jipang pun telah mendengarnya, karena prajurit-prajurit Pajang yang mendengar teriakan itu telah menyambut dengan teriakan yang sama.

Para Senapati Jipang tidak mempunyai pilihan lain. Karena kedua orang pemimpin mereka telah terbunuh di medan, maka para Senapati itu pun telah mengambil langkah sendiri-sendiri. Namun ketika seorang di antara mereka membunyikan isyarat, maka yang lain pun telah berbuat serupa pula.

Dengan demikian maka pasukan Jipang itu telah menyerah. Mereka menarik diri beberapa langkah. Kemudian mereka pun telah melepaskan senjata mereka masing-masing.

mohon maaf....terpotong sedikit aja...

“AKU sudah berusaha,” berkata Ki Pemanahan. “Namun jika kematian harus bertambah-tambah, itu sama sekali bukan salahku.” Senapati dari Pasukan Pengawal Khusus itu tidak menjawab. Namun ia justru memberikan isyarat kepada

prajurit-prajuritnya untuk bertempur semakin cepat.

Pasukan Pengawal Khusus dari Jipang itu pun kemudian bagaikan menjadi gila. Mereka bertempur dengan garangnya. Mereka telah mengerahkan semua kemampuan dan

ilmu yang ada pada diri mereka. Dan yang lebih berbahaya adalah karena justru mereka telah menjadi putus asa. Mereka tidak mempunyai harapan lagi untuk hidup, ditambah dengan keinginan untuk tetap setia kepada Arya Penangsang sampai mereka gugur dipertempuran.

Namun tidak ada jalan lain bagi Ki Pemanahan jika ia ingin menghentikan pertempuran. Membunuh para prajurit dari Pasukan Pengawal Khusus itu sampai orang yang terakhir.

Demikianlah pertempuran itu pun semakin lama menjadi semakin dahsyat. Dalam puncak ilmu, maka sulit bagi orang yang tidak memiliki ilmu yang tinggi untuk memasuki arena. Pasukan Pajang yang bukan dari prajurit Pasukan Pengawal Khusus mengalami kesulitan dihadapan para prajurit dari Pasukan Pengawal Khusus itu.

Sehingga karena itu, maka mereka pun kemudian hanya sekadar mengepung pasukan yang sedang bertempur itu.

Tetapi para perwira dari pasukan itu pun memiliki kelebihan pula di dalam diri mereka, sehingga sebagian besar dari mereka telah ikut pula terjun di medan perang melawan Pasukan Pengawal Khusus itu.

Bukan saja mereka, tetapi ketika Ki Pemanahan, Ki Penjawi dan bahkan Ki Juru Martani sudah kehabisan cara untuk menghentikan pertempuran itu, maka mereka pun telah benar-benar melibatkan diri pula ke dalamnya. Namun sebelumnya Ki Pemanahan telah menyerahkan Sutawijaya kepada beberapa orang perwira dan prajurit untuk mendapat perlindungan. Meskipun Raden Sutawijaya telah mampu membunuh Arya Penangsang, namun sebenarnyalah masih sangat berbahaya baginya jika Raden Sutawijaya itu bertempur melawan prajurit Jipang dari Pasukan

Pengawal Khusus di arena perang brubuh.

Seperti yang diperhitungkan oleh Ki Pemanahan, maka seorang demi seorang prajurit Jipang itu gugur, sehingga akhirnya mereka pun menjadi semakin sedikit.

“Bukan main,” desis Ki Pemanahan. “Demikian banyaknya kematian yang terjadi sepeninggal Arya Penangsang, meskipun sebelum gugurnya Arya Penangsang sempat berpesan agar kedua belah pihak menghentikan peperangan. Tetapi pesan itu tidak pernah dapat dilakukan. Karena para prajurit dari Pasukan Pengawal Khusus itu telah menunjukkan kesetiaannya yang tinggi. Kesetiaan yang sebenarnya

berlebih-lebihan. Namun kesengajaan untuk membunuh diri dalam keadaan putus asa telah mendorong mereka pula untuk bertempur terus. Mereka memang memilih mati daripada menjadi tawanan perang.

Para prajurit Pajang pun bukannya tidak menderita korban. Satu demi satu,

prajurit Pajang pun berkurang. Namun kehadiran Ki Pemanahan, Ki Penjawi sebagai Panglima prajurit Pajang serta Ki Juru Martani telah membatasi korban di pihak Pajang dan memperbanyak kematian di pihak Jipang.

“Apakah kalian masih juga tidak bersedia menyerah,” Ki Pemanahan sekali lagi memperingatkan para prajurit Jipang. “Mengakui kebenaran adalah salah satu tindak kesatria, sebagaimana mengakui kenyataan. Nah, apakah kalian tidak melihat kenyataan yang terjadi sekarang ini. Mengakui kekalahan tidak dengan cara pengecut adalah pertanda seorang yang berjiwa besar. Kalian dihadapkan pada

satu kenyataan bahwa kalian tidak akan mungkin mengalahkan prajurit Pajang atau menembus kepungan dan lari ke hutan.”

“Persetan,” geram Senapatinya yang masih bertempur dengan gigih, “Seorang di antara kami mati, maka dua orang prajuritmu akan mati.”

“Jangan membual pada saat yang sulit seperti ini, seolah-olah kami tidak pernah melihat pertempuran serupa ini, bahkan mengalami,” jawab Ki Pemanahan. “Karena itu renungkan.”

Tetapi segala macam peringatan, bujukan dan ancaman tidak mereka hiraukan. Ki Pemanahanlah yang kemudian bergeser mendekati Senapati itu. Ia akan menempatkan dirinya sebagai lawannya dengan harapan, bahwa setelah Senapatinya terbunuh dipeperangan, yang lain akan membuat pertimbangan khusus.

Demikianlah, Senapati yang melihat Ki Pemanahan bergeser kearahnya itu menjadi semakin marah. Dengan lantang ia berkata, “Nah, Pemanahan yang agung. Sebaiknya kita memang berhadapan sejak semula.”

Namun Ki Pemanahan menjawab, “Aku adalah Panglima prajurit Pajang yang harus mengamati medan dalam keseluruhan. Tetapi sepeninggal Arya Penangsang dan Ki Patih Mantahun, tugasku sebenarnya sudah selesai. Namun ternyata bahwa kalian telah mengeraskan hati kalian dalam keputusasaan serta memaksa kami untuk membantu kalian membunuh diri sendiri. Mungkin memang terbersit keinginan kalian untuk mati di peperangan ini dalam kesetiaan yang membabi buta.”

Senapati itu menjadi sangat marah. Ia pun dengan serta merta telah meninggalkan lawannya dan menerkam Ki Pemanahan dengan ujung senjatanya.

Ki Pemanahan yang telah mengetrapkan ilmu kebalnya masih juga berusaha menghindar sambil menangkis serangan lawannya untuk menjajagi kekuatan lawannya itu. Apakah kekuatan itu akan dapat menembus ilmu kebalnya atau tidak.

Baru setelah Ki Pemanahan yakin, maka pada serangan berikutnya Ki Pemanahan dengan sengaja tidak menghindarkan diri lagi.

Senapati itu terkejut ketika senjatanya menyentuh lambung Ki Pemanahan, namun sama sekali tidak melukainya. Namun Senapati itu pun segera menyadari, bahwa Ki Pemanahan memang memiliki ilmu kebal yang kuat.

Tetapi Senapati itu tidak berputus asa. Seorang yang memiliki ilmu kebal tentu memiliki kelemahan. Diseluruh tubuhnya tentu ada bagian yang tidak dapat dilindungi langsung oleh ilmu kebalnya.

Namun Senapati itu harus berusaha untuk menyerang diseluruh tubuh Ki Pemanahan jika ia ingin menemukan kelemahan itu.

Namun Senapati itu tidak mendapat kesempatan. Ki Pemanahan yang ingin segera mengakhiri pertempuran itu pun telah melawannya dengan sungguh-sungguh, sehingga dalam waktu dekat, darah Senapati itu benar-benar telah menitik di bumi

kelahiran yang menjadi pedih melihat pertempuran di antara putera-putera terbaiknya.

Tetapi pertempuran itu tidak berhenti. Senapati yang terluka itu justru menjadi garang dan liar. Sama sekali tidak terlintas di otaknya untuk memberikan isyarat agar pasukannya menyerah.

Karena itu, maka Ki Pemanahan pun tidak mempunyai pilihan lain. Ia benar-benar telah berniat untuk membunuh saja Senapati yang angkuh, harga diri dan putus asa berbaur didalam dirinya.

Karena itulah, maka seterusnya Ki Pemanahan tidak sekadar bertahan. Ia pun telah menyerang Senapati yang memimpin Pasukan Pengawal Khusus yang tidak lagi mampu mempergunakan pertimbangan nalarnya.

Sejenak kemudian, maka dengan satu serangan yang cepat, Ki Pemanahan telah mengakhiri perlawanan senapati itu. Ujung senjatanya telah menembus dada orang yang menyebut dirinya pengikut setia Arya Penangsang yang ingin bela pati bersama seluruh pasukannya.

Kematian Senapati itu diiringi sorak yang gemuruh. Para prajurit yang tidak ikut terlibat langsung dalam pertempuran itu, karena mereka sadar mengepung saja di luar arena, telah bersorak pula sampai suara mereka menjadi serak.

Tetapi gemuruh sorak yang sampai menggetarkan langit itu tidak mempengaruhi kesetiaan para prajurit Jipang. Meskipun Senapati mereka telah terbunuh, namun mereka masih juga meneruskan pertempuran itu.

Betapapun berat hati Ki Pemanahan, Ki Juru dan Ki Penjawi, namun akhirnya mereka harus melihat bahwa para prajurit Jipang dari Pasukan Pengawal Khusus itu harus mati seluruhnya tanpa terisisa seorang pun, karena orang yang terakhir pun telah bertempur sampai ujung senjata prajurit Pajang menembus dadanya. Dengan bangga ia memandang lawannya yang menghunjamkan ujung senjatanya di dadanya itu sebelum

ia terjatuh ditanah dan gugur.

Dengan demikian, maka pertempuran itu pun telah terhenti. Para prajurit dari Pasukan Pengawal Khusus itu memang tidak tersisa seorang pun. Namun para prajurit yang lain memang telah menyerahkan diri kepada prajurit Pajang.

KI PEMANAHAN pun kemudian telah memanggil para perwira prajurit Pajang. Ia pun telah memberikan beberapa petunjuk untuk mengatur dan membenahi pasukan masing-masing. Ternyata dalam pertempuran itu, kedua belah pihak telah mengorbankan prajurit-prajurit terbaiknya.

Dalam pada itu, Ki Pemanahan pun berkata kepada Ki Juru, “Kita harus segera memberikan laporan kepada Kanjeng Adipati, apa yang telah terjadi di medan pertempuran ini.” “Baiklah. Kita memang harus segera menghadap. Bukankah Kanjeng Adipati telah memerintahkan setiap perkembangan keadaan kita harus memberikan laporan,” berkata Ki Juru.

Namun Ki Pemanahanpun menjadi ragu-ragu. Karena itu maka ia pun berkata kepada Ki Juru, “Siapakah yang harus kita sebut telah membunuh Arya Penangsang? Jika kita melaporkan keadaan sesungguhnya, apakah Kanjeng Adipati tentu akan marah kepada kita, bahwa kita telah mempertaruhkan putera angkatnya yang sangat dikasihinya.

Ki Juru termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Jadi apakah sebaiknya kita memberikan laporan lain? Bukankah di ujung tombak itu nampak bekasnya, bahwa tombak itu telah dipergunakan?”

“Itulah yang membuat aku menjadi termangu-mangu,” berkata Ki Pemanahan kemudian.

“Baiklah,” berkata Ki Juru. “Kita akan membuat laporan lain. Kalian berdualah yang telah membunuh Arya Penangsang. Jika Kanjeng Adipati menanyakan tombak Kanjeng Kiai Pleret dan melihat darah di ujung tombak itu maka kita akan menceriterakan apa yang telah terjadi dengan Ki Patih Mantahun.”

Ki Pemanahan dan Ki Penjawi mengangguk-angguk. Dengan nada datar Ki Pemanahan berkata, “Baiklah. Mungkin akan lebih baik jika kita tidak mengatakan yang sebenarnya. Bukan karena kami tidak ingin mendapat pujian dari Kanjeng Adipati, tetapi semata-mata agar Kanjeng Adipati tidak marah karena kita telah mempertaruhkan Sutawijaya.

Demikianlah, setelah Ki Pemanahan memberikan pesan kepada para Senapati dan para perwira, maka bersama Ki Juru, Ki Penjawi dan Raden Sutawijaya, mereka telah menghadap Kanjeng Adipati di pesanggrahannya.

Ki Pemanahanlah yang mendapat tugas untuk memberikan laporan. Dan ia pun telah melaporkan sebagaimana telah direncanakan.

Sebenarnyalah, karena tombak Kanjeng Kiai Pleret masih belum dibalut dengan selongsongnya, maka Kanjeng Adipati itu pun melihat bahwa tombak pusaka terbesar Pajang itu telah dipergunakan.

Namun Ki Pemanahan pun telah menceriterakan apa yang terjadi dengan Ki Patih Mantahun yang gugur karena ujung tombak Kanjeng Kiai Pleret.

Kanjeng Adipati Pajang menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam ia berkata, “Terima kasih kakang Pemanahan, kakang Penjawi dan kakang Juru Martani. Kalian ternyata telah berhasil menyelesaikan pertentangan yang berlarut-larut antara Pajang dan Jipang. Meskipun akhir dari pertentangan ini adalah kematian yang

tidak terhitung jumlahnya, bahkan kematian kakangmas Arya Penangsang dan Paman Mantahun. Tetapi agaknya memang tidak ada cara lain yang dapat ditempuh.” “Penyelesaian ini tentu akan membawa akibat yang meluas. Pasukan Jipang yang terbesar itu pun tentu akan mengakhiri perlawanan meskipun kita harus memperhitungkan, bahwa tentu ada juga kelompok-kelompok yang tidak mau mengakui kekalahan ini,” berkata Ki Juru.

Kanjeng Adipati mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah. Kita akan mengatur kemudian. Mudah-mudahan yang terjadi ini akan menjadi pertanda, bahwa pertentangan yang terjadi sepeninggal ayahanda Sultan Trenggana telah dapat diselesaikan. Aku akan pertanggung jawabkan penyelesaian yang kita tempuh dengan mengorbankan kakangmas Arya Penangsang. Mudah-mudahan tidak ada lagi persoalan. Lebih dari itu, mudah-mudahan tidak ada pihak yang menganggap aku bersalah dalam penyelesaian ini, karena aku pun sudah bertekad bulat. Jika ada pihak yang menganggap kita bersalah maka kita akan siap mempertahankan sikap kita ini serta akan mempertanggung jawabkan segala akibatnya.”

NAMUN dalam pada itu, gema kekalahan pasukan induk Kadipaten Jipang itu segera tersebar ke seluruh sudut Demak. Pasukan Jipang yang terpencar pun segera menyesuaikan dirinya. Mereka tidak mempunyai kekuatan lagi untuk bertumpu, karena Jipang kemudian telah tunduk kepada Pajang. Bahkan segera tersiar berita, bahwa para pemimpin dan orang-orang tua yang berpengaruh di Demak telah siap mewisuda Adipati Pajang menjadi Sultan di Demak, tetapi berkedudukan di Pajang, karena Hadiwijaya lebih senang berada di Pajang daripada di Demak. Tetapi di samping pasukan Jipang yang menyerah di berbagai medan, ternyata ada juga pasukan yang berkeras untuk tetap melawan kekuatan Pajang. Seorang murid Ki Patih Mantahun yang digelari Macan Kepatihan dan bertugas disebelah Barat Pajang dengan satu kepercayaan bahwa Macan Kepatihan itu akan dapat mengganggu Pajang dan bahkan pada suatu saat dengan kelebihan pada murid Mantahun itu, akan dapat menembus memasuki Pajang, ternyata tidak bersedia menyerah. Mereka telah memasuki daerah berhutan di sebelah barat Pajang dan mengintai daerah yang subur disebelah barat hutan itu untuk dikuasai dan dijadikan landasan perjuangan berikutnya.

Sebagaimana pasukan Macan Kepatihan yang sebenarnya bernama Tohpati itu, maka disebelah Timur Pajang pun telah terjadi hal yang serupa. Oleh pengaruh sikap Tohpati yang bergelar Macan Kepatihan itu, maka Ki Rangga Gupita telah

bersepakat dengan Senapati yang menjadi panglima pasukan Jipang disebalah Timur Pajang untuk tidak menyerah kepada pasukan Pajang. Bahkan Ki Rangga Gupita telah memperhitungkan, bahwa mereka akan dapat menyusun kekuatan di Tanah Perdikan Sembojan.

“Bukankah ada kekuatan yang berada di Tanah Perdikan Sembojan itu?” bertanya Panglima pasukan Jipang.

“Apa artinya kekuatan itu,” jawab Ki Rangga Gupita. “Kita akan memaksa Ki Wiradana untuk berbuat sesuatu di Tanah Perdikan itu, sementara pasukan Jipang yang ada akan dapat memaksa kekuatan yang ada di Tanah Perdikan itu terusir.

Kita harus bergerak cepat sebelum segala sesuatunya menjadi mapan. Sebentar lagi Adipati Pajang yang sekarang telah memegang segenap kekuasaan Demak itu tentu akan segera kembali ke Pajang. Tetapi dimana-mana tentu masih memerlukan perhatian karena pergolakan-pergolakan kecil yang mungkin masih terjadi. Dalam keadaan yang demikian itulah kita menempatkan diri kita dengan sebaik-baiknya.

Jika kita berhasil, kita akan menghubungi Tohpati untuk merencanakan

langkah-langkah kita selanjutnya. Aku yakin, bahwa kita akan dapat menghimpun kekuatan dari para prajurit Jipang yang tersebar, jika kita memang mempunyai landasan.”

Panglima itu mengangguk-angguk. Ia pun mengerti, bahwa Demak tentu tidak akan menjadi tertib dengan serta merta. Meskipun Jipang sudah dinyatakan kalah sepeninggal Arya Penangsang dan Patih Mantahun, namun gelombang yang pernah melanda Demak itu tidak akan dengan tiba-tiba menjadi tenang dan diam tanpa gejolak sama sekali. Dan saat-saat yang demikianlah yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya mengingat keadaan mereka.

KARENA itulah maka Ki Rangga Gupita dan Panglima pasukan Jipang disebelah Timur Pajang itu pun telah mempersiapkan dirinya. Mereka harus mempersiapkan pasukan mereka untuk pergi ke Tanah Perdikan Sembojan. Dengan kekuatan yang ada, maka Tanah Perdikan Sembojan tentu tidak akan mampu bertahan. Di samping anak-anak muda yang berasal dari Tanah Perdikan Sembojan sendiri, maka para prajurit

Jipang yang kehilangan pegangan itu pun akan ikut bersama mereka menguasai Tanah Perdikan Sembojan.

Dalam pada itu, berita tentang kekalahan Jipang itu pun telah sampai pula ke telinga para pemimpin yang berada di Tanah Perdikan Sembojan. Namun dalam pada itu, Kiai Badra telah memanggil Iswari untuk berbicara tentang

kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.

“Keadaannya justru mencemaskan,” berkata Kiai Badra. “Jika para prajurit Jipang berada disebelah Timur Pajang, yang kekuatannya didukung oleh anak-anak muda Sembojan yang sudah terbius oleh kekuasaan Warsi itu berpaling ke arah Tanah Perdikan ini, maka kedudukan kita akan menjadi gawat.”

Iswari mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Kita memang harus memperhitungkan segenap kemungkinan. Tetapi apakah kekuatan mereka terlalu besar, sehingga kita sama sekali tidak berdaya?”

“Jumlah mereka terlalu banyak bagi kita. Anak-anak perdikan ini yang terpilih telah berada di pihak mereka. Yang ada sekarang hanya sebagian kecil dari seluruh jumlah anak-anak muda yang ada. Itu pun yang menurut penilaian para prajurit Jipang dalam pemilihan anak-anak muda ditataran pertama, kurang memenuhi syarat bagi seorang prajurit pilihan,” jawab Kiai Badra.

“Tetapi bagaimana dengan kita?” bertanya Iswari. “Apakah kemampuan kita tidak berpengaruh?”

“Memang berpengaruh. Tetapi menghadapi jumlah yang terlalu banyak, sementara itu ada juga orang-orang berilmu di dalamnya, kita akan menghadapi kesulitan. Korban di antara anak-anak kita akan terlalu banyak, karena dalam benturan kekuatan

yang melebar kemampuan kita melindungi orang dari ujung ke ujung sangat kecil.

Apalagi yang akan kita hadapi adalah prajurit-prajurit Jipang atau anak-anak

muda Tanah Perdikan ini yang sudah mendapat tuntunan dari para prajurit Jipang, sehingga mereka pun tentu akan bersikap sebagaimana para pelatihnya,” jawab Kiai Badra.

“Jadi, apakah yang sebaiknya kita lakukan dalam keadaan seperti ini?” bertanya Iswari.

“Kita memang harus bersiap untuk menahan arus kekuatan yang menurut perhitunganku akan datang kembali bahkan bersama kekuatan yang jauh lebih besar. Namun bagaimanapun juga, kita harus menyiapkan jalur pengungsian, meskipun untuk sementara,” berkata Kiai Badra.

“Kita akan keluar lagi dari Tanah Perdikan ini?” bertanya Iswari.

“Dalam keadaan yang terpaksa, hal itu harus kita lakukan. Namun dengan perhitungan, bahwa kita akan segera merebut kembali kedudukan itu,” jawab Kiai Badra.

“Jika kita sudah terusir, maka kita akan menjadi semakin sulit untuk menguasai Tanah ini kembali,” jawab Iswari. “Sementara itu rakyat Tanah Perdikan ini akan menjadi semakin menderita. Apalagi para Bekel yang selama ini telah membantu kita. Juga Kademangan tetangga.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Ia mengerti jalan pikiran Iswari. Sementara itu Iswari berkata pula, “Kakek, kita tidak akan keluar. Kita akan bertahan disini sampai kemungkinan yang paling pahit terjadi atas kita.”

Kiai Badra masih saja mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Tetapi apakah menurut penilaianmu, seandainya kita bertempur sampai orang yang terakhir,

rakyat Tanah Perdikan ini kemudian tidak akan mengalami nasib yang lebih buruk? Bahkan untuk selamanya? Mungkin kita dapat mengesampingkan kemungkinan itu, karena kita sudah tidak ada lagi, gugur di dalam perjuangan. Namun ketiadaan

kita tidak akan menolong mereka. Jika kita acuh tidak acuh terhadap keadaan sepeninggalan kita, maka kita terlampau mementingkan diri sendiri. Dalam hal ini adalah harga diri kita.”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Ia pun menjadi bingung. Sementara itu, Kiai Badra berkata, “Baiklah. Kita akan berbicara dengan orang-orang lain. Mungkin mereka akan dapat memberikan jalan keluar.”

ISWARI mengangguk kecil sambil berkata, “Baiklah kakek. Tetapi waktu kita tidak banyak.” “Sore nanti kita berbicara,” jawab kakeknya. Namun dalam pada itu, di Pajang, pimpinan prajurit Pajang disisi Timur itu sudah mengisyaratkan agar pasukan Jipang menyerah saja. Tetapi ternyata Panglima pasukan Jipang telah menolak. Bahkan prajurit sandi yang mengawasi terus gerak pasukan Jipang itu mendapat keterangan bahwa pasukan Jipang itu sedang berkemas.

“Mereka akan pergi,” berkata Senapati pasukan Pajang disisi Timur. “Apakah kita akan mencegahnya?” bertanya seorang perwiranya.

“Kekuatan kita masih tetap terbatas. Apalagi pasukan Jipang disisi Barat pun tidak mau menyerah. Seandainya pasukan itu menyerah, maka sebagian prajurit Pajang yang ada disisi Barat dapat ditarik. Sementara itu pasukan induk yang mengiringi Kanjeng Adipati juga belum kembali ke Pajang,” jawab Panglimanya. “Apa yang sebaiknya kita lakukan? Kita tidak akan dapat membiarkan pasukan Jipang itu berkeliaran. Padahal pasukan itu termasuk yang kuat, sehingga tetap

merupakan bahaya yang mengancam ketenangan hidup rakyat Pajang dan sekitarnya,” berkata perwira itu.

Namun sementara itu, Kiai Soka yang diperkenankan hadir dalam pertemuan itu pun berkata, “Apakah tidak mungkin pasukan Jipang telah mengarahkan pandangannya kepada Tanah Perdikan Sembojan, karena di antara kekuatan yang ada di dalamnya adalah kekuatan yang berasal dari Tanah Perdikan Sembojan.”

“Itu sudah kami perhitungkan,” jawab Senapati itu. “Agaknya pasukan Jipang yang berkemas itu memang akan menuju ke Tanah Perdikan Sembojan.”

“Jika demikian, apakah pasukan Pajang ini tidak dapat mengikuti mereka dan mengambil tindakan jika benar mereka berada di Tanah Perdikan Sembojan?” bertanya Kiai Soka.

“Kai tidak boleh terpancing. Jika kami meninggalkan daerah pertahanan ini, maka kami akan dapat terjebak, justru pasukan Jipang itu akan memasuki Pajang dari sisi Timur. Mungkin mereka tidak akan berniat untuk menduduki Pajang, karena mereka memang tidak akan dapat bertahan. Tetapi seandainya mereka sekejap saja dapat berada di dalam Kota Pajang, maka keadaan tentu akan berubah sama sekali. Akibatnya akan sangat besar dan penderitaan akan berlangsung lama sekali, karena Pajang itu akan menjadi karang abang. Setiap bangunan akan dibakar dan setiap

orang akan dibantai tanpa ampun. Mungkin dalam keadaan wajar orang-orang Jipang tidak akan sekejam dan seliar itu. Tetapi justru karena mereka harus mengaku

kalah itulah yang membuat mereka menjadi liar,” berkata Senapati Pajang itu. Kiai Soka mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia bertanya, “Apakah pasukan Jipang itu akan kita biarkan saja berbuat sesuka hati?”

“Itu pun tidak,” jawab Senapati itu. “Karena itulah, maka persoalan kita ini

memang cukup rumit. Tetapi baiklah kita menunggu perkembangan. Pasukan Jipang juga masih belum pergi.”

Tetapi yang terjadi benar-benar merupakan satu keuntungan yang tiba-tiba saja telah melimpah kepada para prajurit Pajang. Dihari berikutnya mereka mendengar berita, bahwa sebagian pasukan Pajang yang ada di pesanggrahan telah tiba

kembali mendahului Adipati Hadiwijaya yang akan menerima wisuda menjadi Sultan. Prajurit itu mendapat tugas untuk mengamankan lingkungan kota Pajang, sehingga wisuda itu pun dapat berlangsung tanpa gangguan.

Dengan demikian, maka Senapati prajurit Pajang disisi Timur itu pun telah menemui Panglima pasukan yang datang itu dengan mengemukakan persoalan yang terjadi di bagian Timur Pajang dengan segala persoalannya. Panglima itu mengangguk-angguk. Bahkan ia pun sempat berkata, “Ternyata pengalaman yang kita dapatkan cukup banyak. Tetapi kaulah yang lebih banyak, karena kalian yang berada disini justru hampir setiap hari bertempur, sedangkan kami setiap hari kerjanya hanya makan, tidur dan mencari kesibukan untuk melupakan kejemuan.”

“Tetapi perang yang menentukan terjadi di pesanggrahan itu,” jawab Senapati pasukan Pajang disisi Timur itu.

“Pertempuran hanya terjadi satu kali. Itu pun kami tidak dapat berbuat sepuas hati, karena pasukan Jipang segera menyerah,” berkata Panglima itu.

mohon maaf....terpotong sedikit aja...

NAMUN dalam pembicaraan berikutnya mereka telah mencari jalan yang paling baik untuk mengatasi persoalan pasukan Jipang disisi Timur dan Barat yang masih belum menyerah.

Dalam pembicaraan itu, maka Senapati yang berada di sisi Timur itu pun telah mengajukan pendapatnya, “Bagaimana jika kita ikut membantu para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan yang tentu akan mengalami kesulitan karena kekuatan Jipang yang ada itu mungkin akan menuju ke Tanah Perdikan itu. Apalagi sebagian dari kekuatan Jipang itu adalah anak-anak Tanah Perdikan Sembojan sendiri.”

“Jika demikian mengapa Tanah Perdikan itu akan dikorbankan,” bertanya Panglima itu.

“Ada dua kekuatan yang bertentangan di Tanah Perdikan itu,” berkata Senapati prajurit Pajang di sisi Timur itu. Ia pun kemudian menceriterakan apa yang sudah terjadi di Sembojan menurut pengertiannya.

Panglima pasukan Pajang yang baru datang itu pun mengangguk-angguk. Ia pun dapat mengerti karenanya. Karena itu, maka mereka pun kemudian telah melaporkan pembicaraan mereka kepada para pemimpin yang ada di Pajang.

Akhirnya keluar perintah, bahwa pasukan Pajang yang ada disisi Timur harus membayangi pasukan Jipang kemanapun mereka pergi. Sedangkan apabila itu hanya sekadar jebakan serta pasukan Jipang itu dengan diam-diam justru mendekati dan menyerang kota, maka sudah ada pasukan yang kuat yang akan menahan arus mereka dan bahkan menghancurkannya.

Perintah itu pun kemudian telah dibawa oleh Senapati di sisi Timur itu kepada pasukannya, sehingga karena itu, maka pasukan Pajang itu pun telah berkemas pula. “Aku yakin, bahwa mereka akan pergi ke Tanah Perdikan Sembojan,” berkata Kiai Soka.

“Kita akan menunggu,” sahut Senapati itu. “Tetapi aku pun cenderung untuk menganggap demikian.”

“Jika perhitungan kita benar, maka Tanah Perdikan itu memang harus mendapat perlindungan,” berkata Kiai Soka. “Kekuatan pasukan Jipang itu jauh lebih baik dari pasukan yang tersisa di Tanah Perdikan Sembojan. Karena itu, jika

orang-orang Jipang itu berusaha melepaskan dendamnya kepada rakyat Tanah Perdikan itu, maka akibatnya tentu akan sangat gawat.”

“Baiklah,” berkata Senapati itu. “Untuk sementara kita menganggap bahwa tujuan mereka adalah Tanah Perdikan Sembojan.”

Kiai Soka mengangguk-angguk. Ia berharap bahwa Senapati itu berkata sebenarnya, sehingga Sembojan tidak akan mengalami peristiwa yang sangat pahit bagi Tanah Perdikan itu.

Pasukan Pajang yang semula berada disisi Timur itu telah memerintahkan pasukan sandinya untuk meningkatkan pengawasan terhadap pasukan Jipang yang sudah kehilangan induknya itu. Namun untuk meyakinkan sikap orang-orang Jipang itu, maka Pajang telah mengirim utusan resmi untuk menemui Panglima pasukan Jipang itu. Utusan itu membawa pesan Senapati Pajang agar pasukan Jipang itu menyerah sebagaimana dilakukan oleh induk pasukannya.

Tetapi Panglima pasukan Jipang itu justru telah menghina utusan itu dengan menyiram wajah utusan itu dengan air hangat sambil berteriak, “Kembali ke Senapatimu. Kami memiliki harga diri dan kekuatan untuk menghancurkan Pajang.” Dengan demikian maka Senapati Pajang itu pun menjadi yakin akan sikap Panglima Pasukan Jipang itu. Agaknya pasukan Pajang memang harus memaksa mereka untuk menyerah.

Di Tanah Perdikan Sembojan, Iswari sudah mengambil keputusan. Ketika diadakan pembicaraan dengan beberapa orang pemimpin Tanah Perdikan itu sebagaimana dikehendaki oleh Kiai Badra, termasuk dengan para Bekel dan beberapa orang Demang tetangga Tanah Perdikan Sembojan, maka mereka bertekad untuk bertahan apapun yang terjadi.

Seorang Bekel yang sudah separo baya berkata, “Jika mereka mendapat kesempatan untuk masuk ke Tanah Perdikan ini, maka kami, para Bekel tentu akan dibantai pertama kali. Mereka akan menganggap bahwa kami, para Bekel, telah menganjurkan rakyat kami untuk berpihak kepada Iswari.”

YANG lain pun menyahut, “Bagi kami, melawan mati, tidak melawan pun mati. Karena itu lebih baik kami mati dengan sikap jantan. Karena kami akan mati dengan menggenggam senjata di tangan.”

Namun dalam pada itu, seorang yang lain yang sudah agak lebih tua berkata, “Aku sependapat. Kita bertempur dengan kekuatan yang ada pada kita sekarang. Mati atau tidak mati bukan soal kita, karena mati bukannya kita yang menentukan. Kita harus pasrah kepada Yang Maha Pencipta. Sebenarnyalah segala sesuatu kepastian itu di tanganNya.”

Kiai Badra hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak akan berbuat apa-apa. Meskipun sebenarnya ia hanya ingin mencegah korban yang tidak berarti. Tetapi tekad yang menyala di hati rakyat Sembojan sendiri ternyata tidak dapat disusut lagi.

Bahkan seorang Demang tetangga Tanah Perdikan itu berkata, “Kami akan menyediakan bantuan yang mungkin kami berikan. Anak-anak kami yang telah mendapat latihan sebaik-baiknya dari kalian akan membantu Tanah Perdikan ini, meskipun aku tahu akibatnya. Tetapi bertetangga dengan kekuasaan yang garang di Tanah Perdikan ini pengaruhnya tentu sangat buruk bagi Kademangan kami.” “Terima kasih,” jawab Iswari. “Kami tidak menyangka bahwa kesediaan Ki Demang telah menjangkau pada perlawanan langsung menghadapi kekuatan yang cukup besar menurut perhitungan kami.”

“Kami adalah tetangga yang baik,” berkata Ki Demang. “Sementara ini kalian telah membantu menempa anak-anak muda kami. Dengan demikian maka kami mempunyai kewajiban untuk membantu kalian. Kita bersama-sama adalah keluarga besar di bawah lingkungan Kadipaten Pajang. Jika ada kekuatan Jipang di lingkungan ini, maka ia tentu merupakan lawan kami. Apalagi seharusnya orang-orang Jipang itu sudah melepaskan senjata dengan kekalahan pasukan induknya dan kematian Arya Penangsang dan Ki Patih Mantahun.

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Namun ternyata bukan hanya sebuah Kademangan yang menyatakan diri untuk membantu Tanah Perdikan Sembojan. Tiga buah Kademangan telah menyatakan hal itu kepada Iswari. Tiga Kademangan yang sebelumnya memang sudah menunjukkan sikap seperti itu, sehingga Tanah Perdikan Sembojan telah mengirimkan beberapa orang untuk menempa anak-anak muda Kademangan itu agar mereka mampu memegang senjata ditangan meskipun mereka belum

memiliki keterampilan seorang prajurit.

“Ki Demang bertiga,” berkata Iswari. “Kami, rakyat Tanah Perdikan ini merasa sangat berterima kasih. Tetapi kami ingin memperingatkan, bahwa akibat dari sikap Ki Demang itu mungkin akan sangat pahit. Orang-orang Jipang itu tentu akan menjadi liar dan bahkan kehilangan pertimbangan-pertimbangan wajarnya karena keadaannya.”

“Kami sudah mempertimbangkannya,” jawab seorang di antara ketiga Demang itu. “Tetapi seperti yang dikatakan Ki Bekel, melawan atau tidak melawan kami akan mengalami nasib yang sama. Jika kekuatan Jipang yang seharusnya itu berada di Tanah Perdikan ini, maka nasib kami pun tidak akan jauh berbeda dengan Tanah Perdikan ini sendiri. Orang-orang Jipang itu tentu berusaha untuk membangun landasan disini untuk melakukan perlawanan terhadap Pajang. Justru satu kekuatan yang tidak dilandasi oleh sikap dan dasar yang mapan sebagaimana Jipang sebelumnya. Kekuatan yang merasa tidak terikat oleh paugeran apapun selain permusuhan. Tidak ada kesempatan dan tidak ada kekangan atas mereka untuk berbuat sesuatu yang tidak akan diakukan selagi Jipang masih tegak.”

Dengan demikian maka Iswari pun menjadi semakin mantap. Para Demang itu ternyata melakukannya dengan penuh kesadaran akan akibat yang dapat terjadi. Bukan

sekadar gejolak perasaan semata-mata.

Kiai Badra yang mendengar tekad yang membara dihati Iswari dan orang-orang yang bersedia mendukungnya itu tidak dapat berbuat lain kecuali ikut serta

didalamnya. Nyai Soka pun justru telah mengangguk-angguk pula.

Dalam pada itu, maka Iswari pun kemudian berkata, “Jika demikian maka kita harus menyusun pasukan yang dikendalikan oleh satu perintah, agar kita tidak berbuat sendiri-sendiri.”

“Kami tentu akan sependapat,” berkata para Demang.

WAJAH anak-anak muda Tanah Perdikan itu menjadi tegang. Sementara Ki Rangga Gupita dan Warsi tersenyum mendengar kata-kata Ki Wiradana.

“Seorang pembicara yang ulung,” berkata Ki Rangga. “Aku tidak akan dapat berbicara seperti itu.”

“Kakang Wiradana telah menutupi kekurangannya dengan kelebihannya di bidang lain. Ia memang seorang pembicara yang baik, meskipun hanya dibibirnya saja. Ia tidak akan mampu melakukan apa yang dikatakannya,” jawab Warsi. “Tetapi ia lebih baik daripada ia tidak dapat berbuat apa-apa,” berkata Ki Rangga Gupita.

Ki Wiradana sendiri masih berbicara beberapa saat lagi dihadapan anak-anak muda Sembojan itu untuk membangunkan kemauan mereka untuk berjuang. Sementara itu, para perwira dari pasukan Jipang itu pun mendengarnya sambil mengangguk-angguk pula.

Demikianlah, maka persiapanpun telah dilakukan sebaik-baiknya. Pasukan Jipang itu sama sekali tidak menunjukkan kelemahannya sebagai pasukan dari Kadipaten yang kalah perang. Tetapi mereka tetap menunjukkan sikap yang besar dari satu pasukan yang besar pula.

Namun semua gerak pasukan itu tidak terlepas dari pengamatan para telik sandi Pajang. Karena itu, maka pasukan Pajang pun telah bersiap pula untuk membayangi pasukan Jipang yang siap untuk bergerak.

Setelah semua persiapan selesai, maka pasukan Jipang itu benar-benar telah bergerak. Mereka tidak sekadar membawa senjata dan perlengkapan perang, tetapi

mereka juga membawa bekal yang dapat menjamin kebutuhan mereka untuk beberapa hari, sebelum mereka dapat menguasai kembali Tanah Perdikan Sembojan.

Dalam pada itu, demikian pasukan Jipang itu meninggalkan padukuhan yang dipergunakannya sebagai landasan perang mereka disisi Timur Pajang, maka pasukan Pajang telah memasuki lingkungan itu.

Dari keadaan dan jejak yang mereka dapati di padukuhan-padukuhan itu, serta laporan para petugas sandi, maka ternyata bahwa pasukan Jipang itu telah membawa beberapa pedati berisi bahan makanan dan bahan alat-alat pertanian dan alat-alat rumah tangga yang mereka temukan di padukuhan itu.

Para perwira pasukan Pajang itu segera membuat perhitungan. Perjalanan pasukan itu tentu agak lambat, justru karena terlalu banyak yang mereka bawa. Bahkan mungkin disepanjang jalan orang-orang Jipang itu masih akan mengambil apa saja yang mereka anggap berguna dan dapat mereka pergunakan.

Namun selagi para perwira Pajang itu berbincang tentang langkah-langkah yang akan mereka ambil, telah datang laporan bahwa mereka menemukan tulisan yang tergores pada sebatang pohon di halaman sebuah rumah yang dipergunakan sebagai barak anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang berpihak kepada Jipang.

Beberapa orang perwira telah melihat langsung tulisan itu. Ternyata tulisan itu memberitahukan, bahwa pasukan Jipang telah meninggalkan padukuhan ini langsung menuju ke Tanah Perdikan Sembojan.

“Perhitungan kita benar,” berkata Senapati yang memimpin pasukan Pajang itu. “Kita harus segera berangkat,” berkata Kiai Soka.

“Ya. Kita akan segera mempersiapkan diri dan berangkat menuju Sembojan,” jawab Panglima itu.

Namun Kiai Soka dan Gandar berpendirian lain. Mereka akan mendahului pasukan Jipang itu untuk memberitahukan agar Sembojan bersiap-siap menghadapi pasukan yang cukup besar.

Senapati Pajang itu tidak berkeberatan. Namun ia pun berpesan, “Berhati-hatilah Kiai. Jangan sampai berpapasan dijalan dengan pasukan Jipang itu, agar Kiai tidak menemui kesulitan.”

Bersama Gandar dan anak-anak muda Tanah Perdikan yang telah dijemput Gandar sebelumnya, maka Kiai Soka pun menempuh perjalanan ke Tanah Perdikan. Mereka telah mengambil jalan melintas untuk mendahului perjalanan pasukan Jipang yang memang menuju ke Tanah Perdikan Sembojan.

mohon maaf....terpotong sedikit aja...

“SIAPAKAH yang telah menulis dipohon itu menurut Kiai?” bertanya Gandar. “Mungkin anak muda yang pernah dibawa ke dalam lingkungan pasukan Pajang itu,” jawab Kiai Soka. “Yang kemudian kembali ke dalam pasukannya itu?” bertanya Gandar pula.

Kiai Soka mengangguk-angguk. Sementara Gandar berkata pula, “Ada juga gunanya. Mungkin ia telah mempengaruhi orang-orang disekitarnya untuk melihat kenyataan.”

“Memang ia berniat berbuat demikian,” jawab Kiai Soka.

Gandar pun mengangguk-angguk. Ia berharap bahwa sikap anak muda itu dapat menular kepada kawan-kawannya meskipun tidak dengan serta merta.

Demikianlah, maka sebagaimana dikehendaki, Kiai Soka, Gandar dan anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang bersamanya itu telah memasuki Tanah Perdikan Sembojan lebih dahulu dari pasukan Jipang. Dengan jantung yang berdebar-debar para pemimpin Tanah Perdikan menyambut kedatangan mereka.

Demikian mereka diterima di rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang telah dipergunakan oleh Iswari dan para pemimpin Tanah Perdikan itu, maka Iswari seakan-akan tidak sabar lagi bertanya, “Bagaimana dengan pasukan Jipang itu?” Nyai Sokalah yang kemudian berkata sareh, “Biarlah kakekmu, Gandar dan anak-anak itu minum dahulu.”

“Aku tidak sabar,” sahut Iswari.

Kiai Soka tersenyum. Katanya, “Baiklah. Sambil menunggu minuman hangat, biarlah aku berceritera tentang pasukan Jipang itu.

Demikianlah maka Kiai Soka pun telah menceriterakan apa yang telah terjadi di sisi sebelah Timur Pajang. Kiai Soka pun menceriterakan keragu-raguan yang timbul di antara anak-anak Tanah Perdikan yang berada di antara orang-orang

Jipang. Ternyata bahwa ada di antara mereka yang telah memberikan isyarat dengan tulisan pada sebatang pohon.

“Syukurlah,” berkata Iswari. “Mudah-mudahan kesadaran itu akan merata sehingga kita disini tidak akan berkelahi melawan sanak kadang sendiri.”

Dalam pada itu, Kiai Soka pun telah mengatakan pula bahwa pasukan Jipang sedang dalam perjalanan menuju ke Tanah Perdikan ini. Tetapi karena mereka membawa barang-barang dan bahan pangan yang cukup banyak, maka mereka telah mempergunakan beberapa pedati. Pedati-pedati itulah yang memperlambat perjalanan mereka.

“Jadi pasukan Jipang telah dalam perjalanan kemari?” bertanya Iswari.

“Ya. Bersama-sama anak-anak kita sendiri. Dengan kekuatan yang cukup besar itu, mereka akan menguasai kembali Tanah Perdikan ini yang agaknya akan mereka jadikan landasan perjuangan mereka,” jawab Kiai Soka.

“Baiklah,” berkata Iswari. “Kita harus secepatnya bersiaga. Kita tidak ingin terlambat, sehingga setelah pasukan Jipang itu berada di hidung kita, maka kita baru mulai bergerak.”

Karena itu, hari itu juga Iswari telah memanggil semua pemimpin pengawal,

anak-anak muda, para bekel dan para Demang yang sudah menyatakan kesediaan mereka membantu Demang yang sudah menyatakan kesediaan mereka membantu Tanah

Perdikan Sembojan menghadapi kedatangan pasukan Jipang dan pasukan Tanah Perdikan Sembojan sendiri.”

Kepada mereka Iswari minta Kiai Soka memberikan penjelasan langsung sehingga tidak ada persoalan yang dikurangi atau tumbuh dengan sendirinya.

“Kita memang harus segera mempersiapkan pasukan. Tidak sekadar di dalam lingkungan Tanah Perdikan, tetapi justru diperbatasan menghadap ke arah kemungkinan pasukan Jipang dan Tanah Perdikan itu sendiri datang.

“Kita harus sudah mempersiapkan kerangka gelar. Karena kita tidak tahu saatnya kapan pasukan Jipang itu datang, maka bagian dari pertahanan di perbatasan itu tidak boleh kosong. Setiap orang yang karena sesuatu hal meninggalkan gelar yang baru disusun kerangkanya, maka orang lain harus menggantikan. Mereka pun telah ditugaskan sebagai pengawas pula untuk mengamati keadaan.

Yang ternyata telah bersiap, bukan saja pengawal Tanah Perdikan Sembojan,

anak-anak muda serta orang-orang laki-laki yang masih kuat dan bersedia berjuang dengan keras, tetapi juga anak-anak muda di Kademangan-kademangan tetangga. Iswari sendiri telah mengatur pertahanan itu. Namun dengan demikian kemungkinan lain memang dapat terjadi. Mungkin pasukan Jipang dan anak-anak Tanah Perdikan yang berada dilingkung-annya itu mengambil jalan lain.

KARENA itu, maka disamping pertahanan yang tersusun rapi dengan kerangka gelar itu, maka di arah yang lain pun telah diadakan pengamatan yang kuat.

Sementara itu, orang-orang terpilih telah ditugaskan mengadakan pengamatan maju beberapa ratus tonggak. Mereka akan memberikan isyarat jika mereka melihat pasukan Jipang itu datang. Mereka telah membawa masing-masing dua ekor merpati yang siap dilepaskan jika mereka melihat iring-iringan lawan.

Di samping pertahanan yang telah tersusun rapi itu, maka anak-anak muda baik yang diperbatasan, di tempat-tempat lain untuk mengamati jalan-jalan masuk ke Tanah Perdikan, atau yang berada di Tanah Perdikan itu sendiri pada setiap kesempatan masih tetap melakukan latihan-latihan dengan keras, agar kemampuan

dan ketrampilan mereka mempergunakan senjata tidak kalah dengan seorang prajurit Jipang atau Pajang atau kawan-kawan mereka yang berada di dalam lingkungan pasukan Jipang. Anak-anak muda itu juga akan membuktikan bahwa mereka bukannya anak-anak muda yang jelek dan pada pendadaran-pendadaran terdahulu tidak diterima atau tersisih karena kejelekannya itu. Pada kesempatan mendatang mereka akan menunjukkan, bahwa mereka juga mampu menjadi pengawal yang baik, yang memiliki ketrampilan setingkat dengan para prajurit Jipang itu sendiri.

Kiai Soka, Nyai Soka dan Kiai Badra memang kagum juga melihat ketrampilan dan kecerdasan Iswari menghadapi perang yang besar. Ternyata ia memiliki tanggapan yang mapan atas peristiwa yang bakal terjadi. Dengan demikian maka ia mampu bersiap-siap dengan sebaik-baiknya. Tidak menghamburkan tenaga, tetapi cukup cermat dan dapat dipercaya. Sementara itu, pasukan Jipang disisi Timru Pajang serta anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang ada di dalamnya, merayap mendekati Tanah Perdikan Sembojan. Mereka tidak merasa perlu untuk bersembunyi-sembunyi lagi. Mereka pun menyadari, bahwa para pemimpin yang ada di Tanah Perdikan Sembojan tentu sudah memperhitungkan akan kehadiran mereka dan bersiap-siap untuk melawan.

Tetapi orang-orang yang pernah berada di Tanah Perdikan Sembojan termasuuk Warsi dan Ki Rangga Gupita, telah dapat mengukur, seberapa jauh kekuatan anak-anak muda yang tinggal sebagian saja, justru yang dianggap kurang baik. Jika mereka datang kembali bersama anak-anak muda yang telah terlatih baik dan memiliki kemampuan setingkat prajurit, ditambah dengan prajurit Jipang itu sendiri, maka Tanah Perdikan Sembojan itu tidak akan mampu bertahan sampai sepenggalah seandainya mereka memasukinya setelah fajar.

Tetapi ternyata bahwa para Senapati Jipang cukup berhati-hati. Mereka tidak dengan serta merta memasuki Tanah Perdikan Sembojan meskipun Warsi sudah mengisyaratkan.

“Tidak ada yang akan dapat menghalangi kita,” berkata Warsi. “Suamiku adalah pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Jika ia memasuki Tanah Perdikan itu, berarti ia kembali ke dalam kedudukannya. Dan ia akan dapat mengatur Tanah Perdikan itu sesuai dengan kehendaknya dan sebagaimana kita kehendaki.”

“Aku mengerti,” berkata Panglima pasukan Jipang itu. “Tetapi aku tidak mau

memikul tanggung jawab karena kelengahan. Lebih baik aku mengirimkan orang-orang yang akan dapat menilai keadaan Tanah Perdikan itu. Bukan anak-anak muda Tanah Perdikan sendiri yang sudah dikenal di Tanah Perdikan itu. Tetapi prajurit

sandiku yang akan memasuki Tanah Perdikan dan melihat-lihat keadaan.”

Warsi tidak memaksanya. Karena itu, maka Panglima itu pun telah mengirimkan dua orang petugas sandi memasuki Tanah Perdikan Sembojan di siang hari. Dengan mengenakan pakaian orang kebanyakan, mereka memasuki jalan menuju ke pusat Tanah

Peridkan yang cukup ramai. Keduanya telah menemukan pasar ditengah-tengah padukuhan induk Tanah Perdikan itu dan membeli beberapa jenis barang yang tidak begitu penting.

Namun dalam pengamatan yang sekilas itu, mereka melihat para pengawal Tanah Perdikan itu bersiaga menghadapi setiap kemungkinan. Namun keduanya sependapat, bahwa jumlah pengawal Tanah Perdikan itu tidak terlalu banyak. TETAPI para petugas sandi itu juga melihat bukan saja anak-anak muda yang bersiaga. Namun mereka juga melihat laki-laki yang umurnya mendekati pertengahan abad nampaknya juga ikut dalam kesiagaan itu. Bahkan petugas sandi yang sempat berjalan-jalan di padukuhan induk itu melihat kelompok-kelompok pasukan yang jumlahnya memang tidak banyak, yang terdiri dari anak-anak muda dan orang-orang yang sudah lebih tua.

“Bukan main,” berkata seorang di antara keduanya. “Ternyata para pemimpin Tanah Perdikan ini mampu menggugah jiwa rakyatnya untuk mempertahankan kedudukannya.

Mungkin dengan cara yang baik, tetapi mungkin juga dengan cara yang licik dan tidak jujur.”

“Bagaimanapun juga, pertahanan di Tanah Perdikan ini tidak dapat diabaikan. Jika terjadi sesuatu, agaknya rakyat Tanah Perdikan ini, khususnya setiap orang

laki-laki berapapun umurnya, akan melibatkan diri,” sahut yang lain.

“Tetapi seberapa kemampuan orang-orang tua itu untuk dapat bertahan. Nafas mereka akan segera memburu di lubang hidung mereka. Jika keringat telah membasahi punggung tua mereka, maka mereka akan pingsan dengan sendirinya. Bahkan jika maut terpaksa menerkam mereka, itu adalah tanggung jawab para pemimpin di Tanah Perdikan ini,” berkata pula orang yang pertama.

“Yang penting bukan kemampuan dan ketahanan nafas mereka. Atau ketrampilan mereka menggerak-kan senjata. Tetapi mereka adalah ayah dari anak-anak muda Tanah Perdikan. Jika di antara mereka adalah orang tua anak-anak muda yang berada di lingkungan kita, maka persoalannya akan lain. Bukan persoalan kewadagan dan olah kanuragan, tetapi persoalannya akan menyangkut kejiwaan anak-anak muda itu. Betapapun keras dan kuatnya jiwa mereka telah ditempa oleh para prajurit Jipang, namun jiwa mereka tentu akan goyah jika mereka menjumpai

orang-orang tua mereka yang sudah berambut putih itu memegang senjata dan berada di pasukan lawan,” berkata yang lain.

Kawannya mengangguk-angguk. Katanya, “Kau benar. Hal itu harus mendapat perhatian Ki Wiradana yang pandai berbicara dan pandai mempengaruhi anak-anak mudanya itu tentu akan dapat membantu mengatasi persoalan.”

“Tetapi yang kita lihat tentang orang-orang tua itu justru akan dapat menjadi laporan penting. Sedangkan jumlah yang sebenarnya dari anak-anak muda itu tidak begitu banyak, dibandingkan dengan kekuatan kita,” jawab yang lain.

“Agaknya kita memang lebih baik cepat bergerak sebelum ada perubahan,” berkata yang pertama.

“Perubahan apa?” bertanya kawannya.

“Misalnya kedudukan pasukan Pajang,” jawab yang pertama.

Kawannya mengangguk-angguk. Sambil memandang kejauhan ia berkata, “Kita harus cepat bertindak dan cepat mempersiapkan diri menghadapi langkah terakhir kita

ini, setelah terjadi bencana yang paling pahit bagi Jipang.”

Demikianlah, maka mereka pun telah meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan dan kembali kepada induk pasukannya. Kepada Panglima pasukannya ia telah melaporkan apa yang dilihatnya di Tanah Perdikan itu.

“Kita harus bertindak tegas,” berkata Ki Rangga Gupita. “Orang-orang tua atau pun anak-anak yang berkhianat harus kita singkirkan.”

“Yang kita perhitungkan adalah pengaruhnya terhadap anak-anak muda yang berpihak kepada kita,” jawab Panglima pasukan itu, yang ternyata masih sempat membuat perhitungan-perhitungan yang cermat.

Ki Rangga Gupita termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Kita harus mengajarkan kepada anak-anak itu, siapapun yang menentang kita dan berkhianat terhadap penguasa yang sah atas Tanah Perdikan Sembojan harus dihancurkan. Siapapun mereka. Termasuk ayah, kakak, dan siapa saja.”

“Tetapi apakah kita yakin bahwa kita akan dapat menanamkan keyakinan itu kepada anak-anak muda Tanah Perdikan sehingga pada saatnya tidak akan terjadi malapetaka bagi pasukan kita?”

“Kita akan menyerahkannya kepada Ki Wiradana,” jawab Rangga Gupita. “Jika ia masih ingin menjadi Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan, maka ia harus dapat mengatasinya, karena kuasa yang sah atas Tanah Perdikan itu memang ada padanya.”

PANGLIMA pasukan Jipang yang sudah kehilangan induknya itu termangu-mangu. Pasukannya memang cukup kuat. Jika anak-anak muda Tanah Perdikan itu sendiri benar-benar dapat dipercaya, maka ia pun yakin, bahwa Tanah Perdikan Sembojan bukan merupakan kekuatan yang akan dapat menahan arus pasukannya.

Karena itu, maka segala sesuatunya akan tergantung terhadap penilaian Ki

Wiradana atas anak-anak mudanya. Apakah mereka benar-benar dapat dipercaya atau tidak. Jika Ki Wiradana menganggap bahwa anak-anak muda yang ada di dalam lingkungan pasukan Jipang itu memang dapat dipercaya, maka kepada mereka, pasukan Jipang itu akan dapat saja memasuki Tanah Perdikan Sembojan. Karena itulah, maka Panglima itu pun kemudian telah memanggil para pemimpin Tanah Perdikan yang ada di antaranya. Dengan tegas Panglima itu berkata kepada Ki Wiradana, “Penilaian terakhir ada padamu.”

Wajah Ki Wiradana menjadi tegang. Namun ia pun kemudian sadar, bahwa ia adalah Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Justru karena jabatannya itulah maka agaknya ia masih diperlukan. Bahkan Ki Wiradana pun sadar, jika jabatan itu tidak lagi mampu mengikat anak-anak muda Tanah Perdikan dan

kemungkinan-kemungkinan mendatang di Tanah Perdikan yang akan mereka masuki, ia tentu sudah disingkirkan. Mungkin oleh Ki Rangga Gupita yang nampak akrab sekali dengan istrinya. Tetapi mungkin justru oleh Warsi sendiri.

Karena itu, untuk memperpanjang umurnya, ia masih harus dapat menunjukkan bahwa ia, sebagai Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan, masih dibutuhkan. Baik sebelum mereka memasuki Tanah Perdikan maupun setelah mereka berada di Tanah Perdikan, karena hanya ialah yang berhak menentukan dan mengatur Tanah Perdikan itu berdasarkan atas kedudukan turun temurun, yang diakui oleh orang-orang Tanah Perdikan Sembojan.

Dengan demikian maka Ki Wiradanalah yang harus berhadapan lagi dengan anak-anak muda Tanah Perdikan sebagaimana telah dilakukannya beberapa kali. Ia harus meyakinkan, bahwa siapa yang menentang pemimpin yang sah, adalah pengkhianat.

Kepada anak-anak muda yang dikumpulkannya ia berkata, “Kita akan memasuki kembali kampung halaman. Kita akan kembali ke Tanah Perdikan kita, kembali ke padukuhan dan sanak kadang. Tetapi kita harus mengetahui, bahwa telah terjadi perubahan-perubahan di Tanah Perdikan sejak kita meninggalkannya. Justru pada saat kita berjuang untuk menegakkan kejayaan Jipang yang berarti kejayaan Tanah Perdikan ini pula, maka beberapa orang yang sakit hati telah memberontak. Mereka adalah pengkhianat yang harus kita hancurkan. Siapapun mereka. Memang mungkin pengkhianat itu justru adalah sanak kadang kita sendiri. Tetapi sebagaimana juga Jaka Tingkir telah membunuh kadangnya sendiri, Arya Penangsang karena sikapnya yang berbeda, kita pun harus dapat berbuat sebagaimana dilakukan oleh Jaka Tingkir itu, meskipun sebenarnya yang berhak atas tahta di Demak adalah justru Arya Penangsang. Apalagi kita. Akulah yang berhak atas Tanah Perdikan itu. Bukan orang lain. Aku pun berjanji, siapa yang membantu aku menegakkan kewibawaan pimpinan Tanah Perdikan, maka mereka akan ikut berkuasa nanti.”

ANAK-anak muda Tanah Perdikan mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Beberapa orang mengangguk-angguk dengan gelora yang menghentak-hentak di dadanya. Rasa-rasanya mereka ingin meloncat memasuki Tanah Perdikan saat itu juga dan membersihkan Tanah Perdikan itu dari setiap pengkhianatan. Kemudian ia akan menjadi seorang Bekel yang berkuasa di sebelah padukuhan, tentu saja padukuhan tempat mereka dilahirkan.

“Jika ayah tidak sependapat dengan sikapku, apaboleh buat,” ia menggeram di dalam hatinya.

Tetapi seorang anak muda yang lain telah menggamit kawannya yang duduk disebelahnya. Mereka tidak mengucapkan sepatah kata pun, namun sorot mata mereka seakan-akan berbicara dan sepakat untuk menganggap kata-kata Ki Wiradana itu sebagai satu sikap putus asa.

Namun seorang anak muda yang lain lagi, justru telah berbisik ditelinga kawannya yang paling akrab, “Apakah Ki Wiradana tidak dapat belajar dari pengalaman selama ini?”

Kawannya itu mengangguk kecil. Bisiknya, “Kita akan ditelan oleh orang-orang Jipang yang telah kehilangan ikatan itu.”

“Ya. Apakah Ki Wiradana tidak dapat memperhitungkan kemungkinan bahwa jika kita sudah berada di Tanah Perdikan maka Ki Wiradana tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi selain mematuhi segala perintah Warsi itu? Perempuan itulah yang sebenarnya telah membawa malapetaka bagi Tanah Perdikan ini,” desis anak muda yang pertama.

Tetapi mereka tidak berbicara lebih lanjut karena seorang pengawal yang tidak mereka ketahui sikapnya berpaling kearah mereka.

Dalam pada itu Ki Wiradana masih banyak memberikan pesan dan janji-janji kepada anak-anak muda itu, agar mereka tetap berada dalam garis perjuangan mereka. Jika mereka pada suatu saat berhasil, maka mereka akan menjadi pahlawan yang akan tetap dihormati oleh Tanah Perdikan Sembojan untuk selamanya.

“Kalian telah membebaskan Tanah Perdikan Sembojan dari tangan orang-orang yang tidak berhak,” berkata Ki Wiradana. “Bahkan Tanah Perdikan itu akan dapat alas perjuangan yang lebih besar. Meskipun Jipang telah dikalahkan oleh Pajang sekarang ini, tetapi gejolak perjuangannya tidak akan berhenti. Pada satu saat

akan bangkit seseorang yang akan dapat memimpin Jipang untuk merebut kembali, bukan saja kedudukannya di Jipang, namun kekuasaan Demak akan berada ditangannya.” Ternyata keterangan Ki Wiradana itu masih tetap diterima dengan kadar yang tidak sama. Bahkan ada yang menganggap bahwa Ki Wiradana benar-benar telah kehilangan dirinya sendiri dan berputus asa, sehingga ia tidak tahu lagi apa yang

dikatakannya. Namun ada pula yang dengan gelora didalam dadanya bertekad untuk melaksanakannya.

Para pemimpin Tanah Perdikan yang lain, serta para perrwira dari pasukan Jipang memperhatikan sikap anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan. Mereka tidak tahu pasti apakah yang bergejolak di dalam hati anak-anak muda itu. Tetapi dibagian terdepan dari anak-anak muda itu menunjukkan wajah yang bersungguh-sungguh dan tekad yang menyala di dalam dada mereka.

Jika mereka melihat ada satu dua orang yang saling berbisik, maka mereka tidak

dapat menebak, apakah yang sedang mereka bicarakan. Tetapi sebagaimana kenyataan yang ada di dalam pasukan anak-anak muda Tanah Perdikan itu, bahwa sebagian besar dari mereka yang mengalami tempaan yang paling berat dari prajurit Jipang dengan sungguh-sungguh memang bertekad untuk melaksanakannya.

Ki Rangga Gupita pun mempunyai tanggapan yang serupa. Sebagai seorang petugas sandi ia memang mempunyai penggraita yang tajam, sehingga karena itu, ia memang dapat merasakan keragu-raguan di antara beberapa orang bahkan beberapa kelompok kecil anak-anak muda Tanah Perdikan itu. Namun ia pun masih tetap yakin, bahwa kepandaian Ki Wiradana berbicara telah menggelorakan hasrat perjuangan anak-anak muda itu.

Karena itu, maka Ki Rangga Gupita itu pun berbisik di telinga Panglima pasukan Jipang itu, “Bagaimana menurut pengamatanmu?”

“Mungkin anak-anak itu memang masih dapat dipergunakan dengan baik. Aku senang melihat cara Ki Wiradana berbicara,” jawab Panglima itu.

“Tetapi ia lebih dungu dari seekor kerbau,” sahut Ki Rangga yang tidak senang mendengar pujian itu. “Ia tidak pantas memimpin Tanah Perdikan. Ia sama sekali tidak berilmu.”

“Ia memang tidak memiliki ilmu kanuragan yang tinggi. Tetapi ia memiliki pengaruh yang besar. Lihat, bagaimana anak-anak muda itu meresapi kata demi kata,” jawab Panglima itu. “Aku tidak menolak bahwa ada di antara mereka memang bersikap ragu. Jika aku tidak memperhatikan mereka, maka mungkin aku akan terjebak. Tetapi berapa bagian di antara mereka yang mulai ragu itu? Bahkan dengan keterangan-keterangan yang meyakinkan, maka anak-anak itu akan dapat bangkit kembali.”

“Tetapi bagaimana mungkin seseorang yang tidak memiliki kemampuan apapun akan memimpin sebuah Tanah Perdikan,” geram Ki Rangga Gupita.

“Jadi bagaimana menurut pengamatanmu?” bertanya Panglima itu.

Ki Rangga termangu-mangu. Sebenarnya ia sependapat dengan Panglima itu. Tetapi ia tidak mau mendengar Ki Wiradana itu mendapat pujian dari segi apapun juga.

Karena Ki Rangga tidak segera menjawab, maka Panglima itu pun berkata pula, “Ki Rangga. Bagaimanapun juga kita tidak akan dapat ingkar dari satu kenyataan,

bahwa yang berhak mewarisi kekuasaan atas Tanah Perdikan itu adalah Ki Wiradana. Tanpa Ki Wiradana kita tidak akan dapat berbuat apa-apa di Tanah Perdikan itu.

Meskipun kita dapat merencanakan, tetapi Ki Wiradanalah yang harus tampil ke depan dengan julukan Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan.”

Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Aku mengerti. Tetapi kita tidak boleh menempatkannya pada kedudukan yang berlebihan. Ia memang kita perlukan untuk sementara.”

“Hanya untuk sementara?” bertanya Panglima itu.

“Sudah ada orang lain yang berhak,” jawab Ki Rangga Gupita. “Siapa?” bertanya Panglima itu.

“Anak Warsi,” jawab Ki Rangga. “Anak itu berhak mewarisi kedudukan ayahnya jika ayahnya tidak dapat melakukan tugasnya, atau meninggal.”

Wajah Panglima itu menjadi tegang. Namun kemudian katanya, “Ia harus tetap dalam kedudukannya. Aku tidak akan mau berbuat apapun bagi satu usaha untuk membangunkan alas perjuangan di Tanah Perdikan Sembojan tanpa Ki Wiradana. Jika ada persoalan pribadi antara kau dan Ki Wiradana, maka itu bukan persoalanku.

Aku tidak mau persoalan pribadimu itu akan dapat mengganggu rencana besar kita, justru sekarang kita berada dalam kedudukan yang sangat lemah. Kita memerlukan semua kekuatan yang dapat kita kerahkan untuk membangun satu kedudukan yang kuat sebelum kita dapat menghubungi pasukan Jipang yang semula berada disebelah Barat Pajang itu.”

Ki Rangga termangu-mangu sejenak. Tetapi ia tidak mau bertengkar dengan Panglima yang mulai menjadi tegang itu.

Karena itu, maka pembicaraan mereka untuk sementara terputus. Sementara Ki Wiradana pun telah menyelesaikan sesorahnya dihadapan anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang ada di antara pasukan Jipang itu. Seperti biasanya, Panglima pasukan Jipang itu pun telah ikut pula berbicara. Mengancam, menakut-nakuti dan bayangan tentang hukuman yang berat bagi mereka yang berkhianat.

Sebenarnyalah bahwa harapan-harapan yang diberikan oleh Ki Wiradana berupa janji-janji, dibayangi oleh ancaman-ancaman dari Panglima pasukan Jipang itu memang membuat sebagian anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan itu semakin kuat

sikapnya. Namun demikian ada juga sebagian di antara mereka yang menjadi semakin muak dan bahkan mendendam kepada para pemimpin pasukan Jipang yang menguasai dan

mempergunakan mereka itu.

Dalam pada itu, maka pemimpin pasukan Jipang itu pun berkata, “Kita harus mempersiapkan diri sejak sekarang. Dalam waktu yang sangat singkat kita akan memasuki Tanah Perdikan Sembojan.”

Demikianlah, maka perintah itu pun telah menjadi pegangan. Semua orang di dalam pasukan itu pun segera mempersiapkan diri. Sementara itu Ki Rangga Gupita dan Warsi rasa-rasanya hampir tidak sabar lagi menunggu persiapan-persiapan yang masih saja dilakukan.

“Seharusnya kita sudah berangkat. Hari ini kita menuju Tanah Perdikan itu, maka hari ini juga kita sudah memasukinya pula, sehingga kita akan sempat

beristirahat untuk beberapa saat dalam keadaan yang jauh lebih baik dari keadaan kita sekarang,” gumam Warsi. “Pasukanpun telah dalam kesiagaan tertinggi,” jawab Ki Rangga. “Tetapi Panglima itu memang seorang yang lamban, ragu-ragu dan sedikit malas, sehingga gerakan pasukan ini menjadi lamban.”

“Ya. Seharusnya kita sudah berada di Tanah Perdikan. Menghirup udara segar dan tidur disebuah bilik yang bersih dengan persediaan makan dan minum yang memenuhi selera. Tetapi sekarang kita masih berada ditempat yang selalu dibayangi oleh kecemasan, seadanya dan apalagi makan dan minum yang tidak teratur.”

“Kita memang harus saling mendesak dan memperingatkan Panglima yang malas itu agar lebih cepat bertindak,” berkata Ki Rangga.

Namun sebenarnyalah bahwa pasukan Jipang memang sudah bersiap sepenuhnya.

Mereka

tinggal mengayunkan langkah terakhir menuju ke Tanah Perdikan Sembojan. Sementara itu, Panglima pasukan Jipang itu pun telah merencanakannya. Mereka akan bergerak di malam hari. Menjelang dini hari mereka akan memasuki Tanah Perdikan Sembojan.

“Kita mungkin akan mengalami pertempuran sebelum matahari terbit. Memang tidak biasa dilakukan, karena perang baru dapat dimulai setelah matahari mulai

bangkit. Tetapi dalam keadaan seperti kita ini, kita tidak lagi terikat pada paugeran perang yang berlaku. Kita dapat berbuat apa saja menurut kehendak kita

dan menguntungkan kita,” berkata Panglima itu kepada para pemimpin pasukannya dan pasukan anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan, “Mengenai medan tidak perlu kita cemaskan. Anak-anak muda Tanah Perdikan itu mengenali kampung halamannya dengan baik, sehingga mereka akan dapat membawa kita ke tempat-tempat dan ke sasaran-sasaran yang menentukan. Sementara itu, dari petugas sandi yang sudah melihat-lihat Tanah Perdikan itu akan dapat memberikan beberapa keterangan

tentang kesiagaan Tanah Perdikan.”

Sementara itu, dua orang pengawas khusus yang dipasang oleh para pemimpin dari Tanah Perdikan Sembojan, sempat melihat suasana yang menegangkan itu. Mereka mendapat keterangan dari orang-orang yang digelisahkan oleh hadirnya satu pasukan yang besar di lingkungan Kademangan mereka. Pasukan yang kemudian dikenal sebagai pasukan Jipang. Apalagi pasukan itu telah memaksa para penghuni padukuhan yang ditempatinya untuk membantu menyediakan bahan makanan bagi mereka.

Meskipun keterangan itu tidak merupakan keterangan yang pasti, namun dua orang pengawas itu dapat memperhitungkan kemungkinan yang dapat terjadi.

Karena itu, maka mereka pun segera menyampaikan laporan itu kepada para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan.

“Ternyata perhitungan kita benar,” berkata Iswari. “Mereka mengambil arah sebagaimana kita duga. Karena itu, maka persiapanpun harus diperkuat. Kerangka gelar itu harus diisi sepenuhnya sehingga dalam keadaan yang bagaimanapun juga, kita tidak akan lengah.”

Dengan laporan itu, maka semuanya pun telah bersiaga sepenuhnya. Yang tidak diduga oleh orang-orang Jipang dan para pemimpin Tanah Perdikan itu adalah kesediaan beberapa Kademangan untuk dengan berani melibatkan diri. Apalagi

ketika mereka mengerti bahwa Jipang memang sudah dikalahkan, sehingga kekuasaan Demak akan segera berada ditangan Adipati Pajang. Bahkan mungkin pusat pemerintahan Demak pun akan segera berpindah ke Pajang pula. Akhirnya hari yang ditentukan oleh para pemimpin pasukan Jipang itu pun sampai juga pada saatnya. Menjelang malam turun, pasukan Jipang itu telah mendapat perintah untuk bersiaga. Mereka harus menyiapkan semua bekal yang akan mereka bawa ke Tanah Perdikan Sembojan. Karena menurut perhitungan mereka, maka memasuki Tanah Perdikan Sembojan akan sama mudahnya dengan memasuki rumah sendiri, apalagi bersama dengan prajurit-prajurit Jipang yang kuat.