-->

Suramnya Bayang-Bayang Jilid 33

Jilid 33

Ki Rangga mengangguk-angguk. Ia pun tidak bertanya lagi tentang kedua orang pengawal yang hilang di peperangan itu, meskipun masih ada juga dugaan bahwa kedua orang itu memang dengan sengaja ingin berkhianat dan berpihak kepada Pajang.

Sementara itu kedua orang anak muda yang berada di antara kawan-kawannya itu pun telah sempat berbicara semakin banyak. Kedua orang anak muda Sembojan yang terluka itu menjadi semakin mengerti maksud kawan-kawannya.

Meskipun demikian, mereka masih juga tidak segera mengakui kesesatan langkah mereka. Bagaimanapun juga, mereka masih berusaha untuk mencari-cari alasan kenapa mereka telah melakukan satu pilihan.

“Apakah waktu itu kau sempat memberikan pilihan,” bertanya salah seorang kawannya yang berpihak kepada Pajang.

Kedua orang kawannya yang berpihak Jipang itu termenung. Namun bagaimanapun juga, di dalam hati mereka mulai mengakui, bahwa mereka telah terseret oleh keadaan yang tidak menguntungkan. Bukan saja bagi mereka, tetapi bagi Tanah Perdikan Sembojan.

SEORANG di antara mereka pun mulai menilai sikap kawannya yang pernah hilang dan kembali lagi dalam keadaan yang payah. Namun setelah keadaannya pulih kembali, kata-katanya mulai miring dan menimbulkan persoalan-persoalan yang harus direnungkan. Sedang seorang yang lain yang belum pernah mendengar kata-kata kawannya yang pernah berada dilingkungan prajurit Pajang itu, telah merenungi keadaan yang sedang dihadapinya itu.

Namun usaha sepuluh orang anak-anak Tanah Perdikan Sembojan untuk memberikan penjelasan tentang kenyataan yang terjadi di Sembojan itu agaknya tidak sia-sia.

Dalam pada itu, dilingkungan anak-anak muda Sembojan yang berada di dalam pasukan Jipang pun telah timbul pembicaraan karena hadirnya orang-orang yang mengenakan pakaian seragam pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan di antara mereka berkata, “Aku mengenal mereka.”

“Tentu pokal Gandar gila itu,” geram seorang di antara pengawal Tanah Perdikan Sembojan.

Meskipun kawan-kawannya mengangguk-angguk, tetapi kehadiran anak-anak muda Sembojan itu memang sempat menimbulkan persoalan di hati mereka.

Apalagi ketika seorang di antara mereka yang sempat berada di lingkungan prajurit Pajang beberapa saat dan kembali ke kesatuannya, ikut memberikan pernyataan tentang sikap yang sebenarnya dari para prajurit Pajang dan keadaan Tanah Perdikan Sembojan sebagaimana didengarnya dari Gandar.

Perlahan-lahan dilingkungan anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan itu telah mulai tersebar pengaruh sikap anak muda yang pernah berada di lingkungan prajurit Pajang itu. Ia berhasil memanfaatkan pertanyaan-pertanyaan yang muncul di antara kawan-kawannya tentang para pengawal Sembojan yang ikut bertempur di antara prajurit-prajurit Pajang.

“Mereka justru telah memilih jalan yang sebenarnya harus ditempuh oleh Sembojan, karena Sembojan itu pada mulanya termasuk lingkungan keluarga besar Pajang,” berkata anak muda itu.

Namun dalam pada itu, persoalan anak-anak muda Sembojan yang berada di lingkungan prajurit Pajang, serta hilangnya dua orang pengawal itu pun telah menjadi pembicaraan mereka yang mengaku sebagai para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan.

Warsi merasa bahwa hal itu lambat laun tentu akan dapat menimbulkan persoalan di antara anak-anak muda Sembojan yang mereka pimpin di dalam lingkungan pasukan Pajang.

“Kita harus berbuat sesuatu,” berkata Warsi.

“Ya, secepatnya,” sahut Ki Rangga. “Ki Wiradana harus mengambil satu sikap yang tegas. Kita tidak boleh menutup mata, bahwa di antara anak-anak Sembojan itu

telah mulai timbul pembicaraan tentang kehadiran kawan-kawan mereka dari daerah asal yang sama tetapi berpihak kepada Pajang.”

“Pengkhianat-pengkhianat itu harus kita hancurkan,” geram Warsi. “Jika aku tahu bahwa ada di antara mereka para pengkhianat, maka aku akan ikut di dalam pasukan itu dan membunuh mereka semuanya.”

Ki Wiradana mulai berkeringat. Namun Ki Randukelinglah yang menyahut, “Anak-anak itu ditemani oleh Gandar dan iblis tua itu. Apa yang dapat kau lakukan atas

Gandar. Sementara aku tidak mampu mengatasi setan tua itu dalam waktu yang pendek. Bahkan mungkin juga dalam waktu yang panjang.”

“Jadi, apakah kita tidak akan berbuat sesua-tu?” bertanya Warsi. “Tentu,” jawab Ki Randukeling. “Tetapi kita harus membuat perhitungan

berdasarkan kenya-ptaan. Tanpa melihat kenyataan, maka rencana kita adalah ngayawara saja. Bahkan mungkin kita akan terjebak sendiri oleh rencana itu.” Warsi menjadi tegang. Tetapi ia tidak dapat menyalahkan pendapat kakeknya itu.

Namun kemudian ia melepaskan kejengkelannya kepada suaminya, “Kakang. Berbuatlah sesuatu. Jangan termenung seperti orang yang kebingungan.”

Ki Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku akan mengumpulkan

para pemimpin pasukan dan pemimpin kelompok.”

“Lakukan secepatnya,” berkata Warsi. “Agar kebimbangan dan pengkhianatan tidak berkembang.

KI WIRADANA mengangguk-angguk sambil menjawab, “Nanti menjelang malam aku akan

melakukannya. Aku akan menghubungi Panglima pasukan Jipang untuk mendapatkan ijinnya.” “Kita akan hadir dalam pertemuan itu,” berkata Warsi kepada Ki Rangga Gupita. “Sementara itu, Ki Rangga juga dapat minta Panglima atau orang yang ditunjuk untuk hadir pula.” “Aku akan mengusahakannya,” berkata Ki Rangga.

Namun sementara itu Ki Randukelinglah yang berkata, “Jangan salah mengerti bahwa aku selalu berbeda pendapat atau bahkan memperkecil arti pendapat dan sikap kalian. Tetapi ini adalah salah satu akibat, bahwa Tanah Perdikan Sembojan itu

telah kita lepaskan. Selain kita kehilangan sumber bahan makan dan kelengkapan yang lain pun, kita pun tidak dapat lagi menguasai anak-anak muda yang tertinggal. Hal inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh Pajang atau oleh

orang-orang yang kemudian memimpin Tanah Perdikan Sembojan. Mereka ternyata tidak hanya mempercayakan langkah-langkah mereka pada kemampuan ilmu dan olah kanuragan, tetapi mereka lebih banyak mempergunakan otaknya.”

Wajah Warsi dan Ki Rangga Gupita menjadi semakin tegang. Tetapi mereka tidak menyahut.

Karena tidak seorang pun yang berbicara, kemudian Ki Randukeling berkata pula, “Baiklah. Malam nanti kita akan berbicara dengan para pemimpin kelompok. Jika perlu besok kita akan berbicara langsung dengan semua pangawal Tanah Perdikan Sembojan yang ada di pasukan ini. Kita memang masih perlu memberi ketebalan tekad untuk meneruskan perjuangan ini. Bahkan mungkin dengan menakut-nakuti, mengancam dan sekali-kali memuji kesetiaan mereka.”

“Segalanya tergantung kepadamu kakang,” geram Warsi kemudian kepada Ki Wiradana.

Ki Wiradana tidak menjawab. Tetapi ia memang harus melakukannya. Bagaimanapun juga ia telah terperosok semakin dalam ke dalam lumpur pengkhianatan. Kesadaran yang mulai tumbuh tidak akan mampu mengangkatnya dan melepaskannya dari lilitan lumpur yang mengental. Bayangan yang suram disekitarnya itu menjadi semakin suram.

Dengan demikian, maka pertempuran yang tidak begitu besar yang terjadi di padukuhan yang subur itu, dari segi keprajuritan tidak terlalu besar pengaruhnya. Jipang memang kehilangan beberapa orang prajurit dan dua orang pengawal dari Sembojan yang dinilai tidak akan mengganggu kekuatan Jipang, karena di antara mereka yang tertawan itu tidak terdapat orang-orang yang memiliki ilmu yang harus diperhitungkan.

Tetapi diperhitungkan dari segi lain, terutama bagi anak-anak muda Sembojan yang berpihak kepada Jipang, pertempuran itu mempunyai pengaruh yang besar atas jiwa mereka. Anak-anak muda Sembojan yang ikut dalam pertempuran yang tidak terlalu besar itu, telah memperluas cerita tentang kehadiran anak-anak dari kampung halaman mereka, tetapi yang ternyata harus berdiri berseberangan dalam medan pertempuran. Sementara itu, telah berkembang pula penilaian yang berbeda dari penilaian mereka sebelumnya terhadap Tanah Perdikan Sembojan dan sikap terhadap Jipang dan Pajang.

Dengan demikian, maka telah terjadi benturan-benturan perasaan di antara

anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang berada di antara prajurit Jipang. Hanya sebagian saja di antara mereka yang tetap pada sikap mereka sejak semula mereka berangkat dari Tanah Perdikan. Mereka yang mendapa tempaan khusus dari para perwira Jipang memang merupakan pengawal-pengawal yang tangguh lahir dan batinnya. Tetapi kawan-kawan mereka yang menyusul kemudian sikapnya memang mulai

goyah.

Seperti yang dikatakan oleh Ki Wiradana, maka menjelang malam, atas persetujuan Panglima pasukan Jipang, maka para pemimpin pasukan dan pemimpin kelompok dari para pengawal Tanah Perdikan Sembojan itu pun telah dikumpulkan.

Betapapun kegoncangan itu telah terjadi di dalam hatinya sendiri, tetapi

dihadapan Warsi dan Ki Rangga Gupita, Ki Wiradana telah memberikan penjelasan yang panjang lebar tentang keadaan di medan perang sesuai dengan laporan yang diterimanya.

“MEMANG ada beberapa orang pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang terlibat dan berada di antara para prajurit Pajang, tetapi secara keprajuritan, jumlah mereka

sama sekali tidak berarti. Namun yang perlu aku peringatkan adalah keringkihan jiwa mereka. Mereka benar-benar telah kehilangan sifat-sifat jantan anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan. Dengan mudah mereka telah terbujuk oleh orang-orang yang telah menodai kesetiaan jiwa anak-anak muda kita dan

menyurukkan mereka ke dalam lembah pengkhianatan,” berkata Ki Wiradana dengan geram. Namun yang tidak mendasar sampai ke pusat jantungnya.

Kalimat-kalimat yang kemudian meluncur dari mulutnya adalah kalimat-kalimat yang sudah disusunnya dan di hapalkannya sehingga mampu mengalir deras seperti

banjir. Tetapi kata-katanya itu sama sekali tidak mempunyai kekuatan sebagai ungkapan jiwanya sendiri.

Semakin panjang dan semakin tandas ia mengucapkan kata-katanya, maka keragu-raguan pun semakin mencengkam jiwanya sendiri.

Tetapi dengan demikian ia telah berhasil mengelabui orang-orang yang membayangi kepemimpinannya.

Malam itu bukan saja Ki Wiradana yang memberi pesan kepada para pemimpin pasukan dan pemimpin kelompok dari Tanah Perdikan Sembojan, tetapi beberapa orang lain, bahkan dengan gejolak perasaan yang sulit dikendalikan telah mengancam dan

menakut-nakuti mereka.

“Kita berada di medan perang,” berkata seorang Senapati dari Jipang, “Karena itu, paugeran yang berlaku adalah paugeran perang.”

Sementara itu Ki Rangga Gupita telah berbicara tidak kalah seramnya dengan para pemimpin yang lain. Katanya, “Hukuman yang paling pantas bagi seorang pengkhianat adalah hukuman picis dan dibiarkan hidup untuk dua hari dua malam.” Pesan-pesan itu benar-benar telah membuat segenap bulu tubuh meremang. Para pengawal Tanah Perdikan Sembojan itu memang benar-benar menjadi ketakutan.

Apalagi ketika Warsi berkata lantang, “Jika seorang di antara mereka yang ada di dalam kelompok kalian berkhianat, maka para pemimpin kelompok pun akan ikut bertanggung jawab. Mereka tidak akan terlepas dari hukuman yang paling berat karena kelengahannya sehingga seorang di antara kelompoknya ada yang berkhianat.

Pertemuan itu kemudian ditutup oleh Ki Wiradana dengan perintah agar semua pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang ada di dalam pasukan itu besok pagi-pagi berkumpul di pategalan disebelah padukuhan itu. Pategalan yang sudah tidak terpelihara lagi karena pengaruh peperangan.

Ketika para pemimpin anak-anak muda Tanah Perdikan meninggalkan pertemuan itu, maka mereka pun baru menyadari bahwa tubuh mereka telah basah oleh keringat, seolah-olah mereka baru saja mandi beserta dengan seluruh pakaian mereka. “Gila,” tiba-tiba seorang di antara mereka bergumam.

“Apa yang gila?” bertanya kawannya.

Orang yang pertama itu tergagap. Namun dengan terbata-bata ia menjawab, “Mereka yang berkhianat itu. Dalam keadaan seperti ini ada juga orang yang sampai hati berkhianat.”

Kawannya mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menyahut lagi. Keduanya pun kemudian justru berjalan bersama-sama tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Ketika mereka sampai di barak masing-masing, yang terpencar di beberapa rumah di padukuhan itu, maka perintah untuk berkumpul di keesokan harinya itu pun telah sampai kepada semua orang di dalam kelompok masing-masing.

Dengan demikian maka malam itu merupakan malam yang tegang bagi para pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Mereka sudah dapat menduga apa yang akan mereka dengar esok pagi dari mulut para pemimpin mereka.

Sebenarnyalah maka yang disampaikan oleh para pemimpin mereka kepada para pengawal tidak jauh berbeda dengan apa yang telah mereka sampaikan kepada para pemimpin mereka. Ancaman, perintah dan menakut-nakuti.

Ketika pasukan pengawal itu kemudian dibubarkan untuk kembali ke barak

masing-masing, seorang Senapati Jipang masih mengancam, “Ingat segala perintah yang kalian dengar, agar kalian tidak mati diujung senjata kawan sendiri.”

KETIKA para pengawal itu kembali ke barak mereka, seorang di antara para pengawal itu berkata, “Aku yang mendengarnya menjadi jemu. Mereka yang mengucapkannya tidak merasa jemu. Sudah berapa kali kalimat-kalimat itu mereka ucapkan dengan cara yang bermacam-macam.” “Jangan lantang mulutmu,” desis kawannya. “Untunglah hanya aku yang mendengarnya. Jika kata-kata itu didengar oleh Warsi, maka kau akan dicekiknya sampai mati.”

“Huh, perempuan jalanan itu tidak akan membunuh seorang yang tampan seperti aku. Kau mengerti, bahwa Warsi itu selalu haus akan anak-anak muda yang tampan?” sahut pengawal yang pertama.

“Kau memang gila,” geram kawannya. “Agaknya kau sudah jemu hidup. Bukankah kau tahu, bahwa Warsi sekarang hampir tidak pernah berpisah dengan Ki Rangga Gupita?”

“Selagi Ki Rangga ada didekatnya,” berkata orang yang pertama, “Jika Ki Rangga kembali ke Jipang, maka ia akan mencari orang lain disamping Ki Wiradana.” “Mulutmu memang harus dikoyak,” kawannya menggeretakkan gigi.

“Jangan berpura-pura begitu,” berkata orang pertama. “Kita sudah berbicara tentang orang-orang Jipang dan orang-orang Pajang. Kita sudah mendengar keterangan kawan kita yang pernah ditangkap prajurit Pajang dan berpura-pura melarikan diri dengan punggung dan dada yang bergaris-garis merah biru. Bahkan pingsan didekat gardu. Tetapi sebenarnyalah permainannya merupakan permainan yang sangat bagus. Dan ia berhasil mempengaruhi aku dan jangan ingkar, kau sendiri. Mungkin banyak orang yang mempercayainya, tetapi tidak berani mengungkapkannya.”

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak menyahut lagi. Apalagi ketika seorang lagi pengawal Tanah Perdikan bergabung dengan mereka.

Namun keduanya menjadi bimbang ketika kawannya yang baru itu bertanya, “Bagaimana menurut pendapatmu, peringatan-peringatan dan pesan-pesan yang diberikan oleh para pemimpin kita?”

Kedua orang pengawal itu saling berpandangan. Namun kemudian seorang di antara mereka menjawab, “Baik sekali. Peringatan-peringatan yang akan mengekang

niat-niat buruk yang mungkin timbul di dalam hati.”

“Apakah kadang-kadang timbul dihatimu keinginan untuk berkhianat?” bertanya pengawal yang baru bergabung dengan mereka berdua.

Kedua pengawal yang sudah bersama-sama terdahulu itu terkejut mendengar pertanyaan itu. Seorang di antara mereka tiba-tiba saja menjawab dengan nada tajam, “Kau jangan asal berbicara saja. Hal itu adalah hal yang sangat peka pada saat ini. Apakah kau memang sengaja memancing persoalan?”

“Jangan marah,” sahut pengawal itu. “Aku hanya bertanya tanpa maksud apa-apa.”

Pengawal itu tidak menunggu jawaban lagi. Tetapi ia justru tertawa

berkepanjangan sambil meninggalkan kedua kawannya yang terheran-heran melihat sikapnya.

“Anak itu sudah menjadi gila,” desis salah seorang di antara kedua pengawal itu.

“Gila atau justru sedang mencari perkara,” sahut yang lain.

KEDUANYA tidak berbicara lagi. Namun mereka tertegun ketika mereka melihat kawannya, seorang pengawal yang pernah ditangkap oleh orang Pajang, telah mendahului duduk di tangga pendapa rumah yang dipergunakan sebagai barak. “Kalian sudah puas?” bertanya anak muda itu. “Puas apanya?” bertanya salah seorang dari kedua pengawal itu. “Ancaman, pesan, peringatan, menakut-nakuti dan

apalagi?” desisnya. Kedua pengawal itu memandanginya sejenak. Namun keduanyapun kemudian melangkah pergi.

Anak muda yang duduk di tangga pendapa itu pun tertawa pula. Berkepanjangan seperti pengawal yang telah meninggalkan mereka. Meskipun kesannya berbeda, tetapi sikap itu pun sangat menjengkelkan.

Karena itu, maka salah seorang di antara kedua orang itu membentak, “He, kenapa kau tertawa seperti itu?”

Pengawal itu terdiam. Jawabannya, “Tidak apa-apa. Aku menjadi geli melihat

tingkah lakumu dan sebagian besar dari kawan-kawan kita. Betapa mereka dicengkam oleh keragu-raguan dan kebingungan tanpa dapat mengambil sikap yang tegas.” “Persetan,” geram pengawal yang seorang. “Apakah kau dapat mengambil sikap yang demikian?”

“Tentu tidak. Termasuk aku memang,” jawabnya.

“Gila,” lalu ia menggamit kawannya. “Kita tinggalkan saja orang-orang gila itu.”

“Ya. Sebentar lagi kita semua memang akan menjadi gila,” berkata pengawal yang duduk di tangga itu.

Kedua orang pengawal itu tidak menghiraukannya lagi. Dengan langkah panjang mereka pun telah pergi menjauhinya.

Beberapa orang pengawal yang lain pun telah lewat pula. Beberapa kali terlibat pembicaraan antara anak muda yang duduk di tangga pendapa itu. Namun setiap kali kawan-kawannya tidak menghiraukannya lagi.

Namun sebenarnyalah, bahwa di dalam tubuh pasukan pengawal Tanah Perdikan Sembojan telah terjadi keretakan. Meskipun pada ujud luar mereka tetap pada

sikap dan kedudukan mereka, namun sebenarnyalah bahwa sebagian dari mereka telah dihinggapi keragu-raguan. Tetapi keragu-raguan itu telah disembunyikan

dalam-dalam karena mereka selalu diancam, ditakut-takuti dan dibayangi oleh kekuasaan yang sewenang-wenang.

Meskipun demikian, ada juga di antara para pengawal yang benar-benar yakin akan kebenaran perjuangan mereka dalam lingkungan prajurit Jipang. Menurut pendapat mereka, sebenarnyalah bahwa Adipati Jipanglah yang berhak atas tahta Demak yang diperebutkan itu. Sehingga dengan demikian maka wajarlah jika Adipati Jipang telah berjuang untuk menuntut haknya.

Karena itulah, maka tanpa disadari, maka keragu-raguan itu telah memperlemah kedudukan pasukan Jipang. Para pengawal Tanah Perdikan Sembojan tidak lagi secara utuh dengan darah yang bergelora turun ke medan perang. Tetapi setiap kali mereka selalu dibayangi oleh pertanyaan, untuk apa sebenarnya mereka berperang.

Kemunduran jiwani pada pasukan pengawal Tanah Perdikan itu memang tidak segera tampak oleh para pemimpin pasukan Sembojan di Pajang yang bergabung dengan prajurit-prajurit Jipang. Karena itu, maka mereka pun tidak segera menyadari apa yang sebenarnya terjadi.

Namun dalam pertempuran-pertempuran yang kemudian terjadi antara pasukan Jipang dan Pajang, siapapun yang memulainya, pasukan Jipang agaknya terlalu cepat

terdesak oleh kekuatan Pajang yang nampaknya justru menjadi semakin kokoh. Tetapi pasukan Jipang justru berusaha untuk bergerak lebih banyak sesuai dengan perintah yang dijatuhkan oleh Ki Patih Mantahun yang berada di pesanggrahan.

Dalam pada itu, di pesanggrahan itu sendiri, kedua belah pihak telah disibukkan dengan persiapan-persiapan perang dan kesiagaan yang semakin tinggi. Prajurit Pajang yang bersiap-siap untuk perang, telah memancing pasukan Jipang untuk melakukan hal yang sama. Namun ternyata bahwa Pajang tidak segera mengerahkan pasukannya untuk menyeberangi Bengawan Sore.

mohon maaf....terpotong sedikit aja...

KETIKA malam turun, serta keadaan sudah menjadi semakin sepi, maka sesudah nganglang Ki Pemanahan dan Ki Penjawi telah duduk di dalam bilik mereka. Dengan nada dalam Ki Juru berkata kepada Ki Pemanahan dan Ki Penjawi, “Besok kita akan melakukan tugas besar. Sutawijaya harus siap lahir dan batinnya. Ia akan mempergunakan seekor kuda betina dengan membawa tombak Kanjeng Kiai Pleret. Sementara itu, adi Pemanahan dan adi Penjawi harus selalu membayanginya sehingga anak itu tidak mengalami cidera sama sekali.”

“Tetapi bagaimana pasukan Pajang dapat bertemu dengan pasukan Jipang sementara kedua belah pihak tidak mau menyeberangi Bengawan Sore?” desak Ki Pemanahan. “Besok akan kita pecahkan jika berhasil,” jawab Ki Juru.

Malam itu Ki Pemanahan dan Ki Penjawi hampir tidak dapat tidur sama sekali. Mereka dibayangi oleh satu gerakan yang kurang dimengertinya.

Namun keduanya mempunyai kepercayaan yang utuh kepada Ki Juru Martani. Itulah sebabnya, betapapun sulit dan kurang dimengerti, tetapi satu pilihan akan selalu dilakukan oleh Ki Pemanahan dan Ki Penjawi itu.

Menjelang fajar, maka seluruh pasukan Pajang telah bersiap, tetapi masih dibalik pesanggrahan, sehingga tidak semata-mata nampak oleh pasukan Jipang. Meskipun pasukan Jipang tetap bersiaga, tetapi mereka pun memperhitungkan, bahwa pasukan Pajang tidak akan menyeberangi Bengawan Sore.

Yang kemudian pergi ke tepian adalah justru Ki Pemanahan, Ki Penjawi dan Ki Juru Martani. Untuk beberapa saat mereka menunggu. Baru ketika matahari mulai naik, seseorang nampak dengan susah payah menyeberangi Bengawan Sore.

Ki Juru yang mengamati keadaan dengan seksama berdesis, “Itulah pekatik itu. Suruhlah Angger Sutawijaya mempersiapkan kuda yang manakah yang akan dipergunakannya.”

Ki Pemanahan dan Ki Penjawi saling berpandangan sejenak. Namun nampaknya Ki Juru berkata dengan bersungguh-sungguh. “Persiapkan Sutawijaya. Kemudian seluruh pasukan Pajang pun harus bersiap pula. Mudah-mudahan rencanaku berhasil.”

Ki Pemanahan dan Ki Penjawi kemudian telah menuju ke pasukan Pajang yang bersiaga. Pasukan yang gelisah karena mereka harus menunggu tanpa mengetahui kapan mereka harus bertempur dan melawan siapa.

Meskipun dengan ragu-ragu, namun Ki Pemanahan telah memerintahkan seluruh pasukan bersiaga. Sementara itu, maka khusus kepada Sutawijaya, Ki Pemanahan pun telah memerintahkan untuk bersiaga lahir dan batin.

Sebagaimana pesan Ki Juru Martani, maka setelah menjatuhkan perintah, maka bersama Ki Penjawi, Ki Pemanahan telah kembali ke tepian.

“Semuanya sudah siap kakang,” Ki Pemanahan memberikan laporan betapapun hatinya ragu.

Ki Juru tersenyum. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Bagus. Kita akan segera mulai. Aku telah mempersiapkan sehelai surat bagi Adipati Arya Penangsang.” “Surat apa?” bertanya Ki Pemanahan dan Ki Penjawi hampir berbareng.

“Surat tantangan,” jawab Ki Juru. “Kita akan menantangnya dan menunggu diseberang Bengawan Sore.”

“Ah,” keluh Ki Pemanahan. “Jika Adipati Arya Penangsang bersedia menyerang, maka hal itu tentu sudah dilakukannya. Kakang jangan bermain-main. Kecuali Kanjeng Adipati, maka seluruh pasukan Pajang tentu akan kecewa. Adalah berbahaya sekali jika para prajurit itu kecewa dan kehilangan kepercayaan. Mungkin mereka akan bertindak sendiri-sendiri atau bahkan tidak lagi mematuhi perintah-perintah berikutnya.”

“Mudah-mudahan tidak terjadi hal yang demikian,” berkata Ki Juru. “Marilah kita lihat, apakah kita berhasil atau tidak.”

“Kakang akan memerintahkan seorang penghubung untuk menyeberang dan menyampaikan

surat tantangan itu?” bertanya Ki Penjawi, “Agaknya akan sia-sia saja kakang. Apalagi jika surat itu jatuh ke tangan Mantahun yang cerdik. Rasa-rasanya kerja kita dan setelah menunggu sepekan dengan berdebar-debar, akan sia-sia.” SEBELUM Ki Juru menjawab, Ki Pemanahan telah menyambung, “Jika tahu hanya begini

rencana kakang, maka aku sudah menarik diri sejak semula. Bukan karena aku takut kepada Arya Penangsang, tetapi karena justru kita tidak akan dapat bertemu

dengan orang itu jika kita hanya mengirimkan surat tantangan.”

“Bersabarlah sedikit,” berkata Ki Juru. “Kita tidak akan mengirimkan surat ini

lewat seorang penghubung. Tetapi kalian harus menghubungkan rencana ini dengan perhitungan kita atas datangnya pekatik itu ke padang rumput.”

“Bagaimana dengan pekatik itu? Apakah kita akan menyuruhnya untuk membawa surat itu kepada Adipati Arya Penangsang?” bertanya Ki Pemanahan.

“Ya. Kita akan menitipkan surat itu kepadanya?” jawab Ki Juru.

Ki Pemanahan dan Ki Penjawi menjadi semakin bingung. Dengan nada sedikit kecewa Ki Pemanahan berkata, “Bagaimana kakang dapat menyusun rencana seperti ini?

Bahkan seandainya kita memerintahkan sekelompok prajurit yang dengan resmi menyampaikan surat tantangan ini. Arya Penangsang tidak akan menyeberangi Bengawan, apalagi menitipkan surat ini kepada pekatik itu.”

“Jangan tergesa-gesa mengambil kesimpulan. Marilah kita buktikan. Aku kira saatnya tiba. Matahari sudah menjadi semakin tinggi, sementara pasukan Pajang pun telah menunggu,” berkata Ki Juru. “Marilah kita menitipkan surat ini kepada pekatik itu.”

Ki Pemanahan dan Ki Penjawi benar-benar merasa kecewa. Tetapi mereka mengikuti saja Ki Juru yang melangkah ke arah pekatik Jipang yang sedang sibuk menyabit rumput.

“Selamat bertemu pekatik,” sapa Ki Juru.

Pekatik itu pun tersenyum sambil mengangguk, “Selamat Ki Sanak. Aku sudah hampir kehabisan rumput. Makanan lain kecuali rumput dari tempat ini tidak begitu menarik selera Kiai Gagak Rimang. Hanya karena terpaksa saja Gagak Rimang mau makan yang lain.”

“Kau dapat mengambil rumput sesukamu disini,” berkata Ki Juru. Tetapi kemudian, “Namun pada satu saat kau harus membayar pajak Ki Sanak.”

“Pajak apa?” bertanya pekatik itu.

Ki Juru tersenyum. Katanya, “Kau mengambil rumput di daerah kuasa prajurit-prajurit Pajang. Karena itu, kau harus membayar pajaknya.”

“Tetapi daerah ini bukan milik Pajang. Daerah ini adalah daerah tidak bertuan. Pajang dan Jipang disini sekadar tinggal di pesanggrahan yang pada saatnya tentu akan ditinggalkan,” berkata pekatik itu. “Hal ini sudah dijelaskan oleh Ki Patih Mantahun.”

“Ki Patih Mantahun benar,” jawab Ki Juru. “Tetapi selama ini Pajang telah berada di daerah ini, sementara diseberang lain Jipang telah membangun pesanggrahan pula. Dengan demikian maka seakan-akan kita sudah membagi lingkungan.” “Tetapi itu bukan kedudukan yang sebenarnya,” berkata pekatik itu. Namun kemudian, “Meskipun demikian, tetapi karena kuasa Pajang disini, maka kami tidak akan berkeberatan. Ki Patih Mantahun tentu akan menyediakan pajak itu secukupnya, karena Kiai Gagak Rimang memilih rumput dari daerah ini daripada dari tempat lain.”

“Terima kasih,” sahut Ki Juru. “Tetapi kau tidak usah berbicara dengan Ki Patih Mantahun. Kau sendiri akan dapat memutuskannya, apakah kau setuju atau tidak.” “Darimana aku harus membayar pajak?” bertanya pekatik itu. “Aku harus menyampaikan kepada Ki Patih.”

“Kau mempunyainya jika kau mau,” berkata Ki Juru. “Apa? Sabit atau keranjang ini?” bertanya pekatik itu. “Tidak. Tetapi telingamu,” jawab Ki Juru.

Pekatik itu terkejut. Tetapi ia pun kemudian tersenyum sambil berdesis, “Ah, jangan main-main Ki Sanak. Telingaku hanya dua. Jika kau ambil telinga itu tidak akan tumbuh lagi.”

“Tidak apa-apa Ki Sanak. Apa salahnya jika kau tidak mempunyai telinga sebelah,” berkata Ki Juru.

Pekatik itu termangu-mangu sejenak. Namun ternyata wajah Ki Juru nampak bersungguh-sungguh. Apalagi ketika Ki Juru kemudian menarik sebuah pisau belati yang sangat tajam sambil berkata, “Ki Sanak, maaf bahwa aku minta pajak yang mungkin terlalu mahal. Tetapi sampaikan kepada Arya Penangsang, jangan patih Mantahun, bahwa orang-orang Pajang sudah jemu menunggu. Jika Arya Penangsang memang jantan sebagaimana selalu dikatakan dimana-mana, maka saatnya sudah tepat untuk bertempur pada hari ini.”

“KI SANAK,” berkata pekatik yang mulai menjadi cemas. “Kau jangan menyeret aku ke dalam persoalan perang antara Jipang dan Pajang.” “Kau adalah pekatik Arya Penangsang,” jawab Ki Juru. Lalu katanya kepada Ki Pemanahan dan Ki Penjawi. “Bantu aku memotong telinga orang ini. Aku tidak akan mempergunakan keris, karena jika ia tergores kerisku meskipun hanya seujung rambut ia akan mati. Aku akan mempergunakan pisau ini saja.”

“Jangan gila,” pekatik itu hampir berteriak. Namun ia pun segera bangkit. Bagaimanapun juga ia tidak akan menyerahkan telinganya begitu saja. Karena itu, maka ia pun telah siap untuk mempertahankan telinganya dengan sabit yang berada ditangannya.

Tetapi yang dihadapi adalah Ki Juru, Ki Pemanahan dan Ki Penjawi. Karena itu, maka perlawanannya pun sia-sia.

Dalam waktu yang pendek, maka Ki Pemanahan dan Ki Penjawi telah menguasai pekatik itu. Sementara itu, maka dengan tangan yang agak gemetaran Ki Juru telah memotong sedikit daun telinga pekatik itu, dan kemudian menggantungkan sehelai surat di telinga yang sedikit terpotong itu. Surat tantangan yang sengaja

sedikit menyinggung perasaan.

Ketika pekatik itu kemudian dilepaskannya, maka ia pun segera bangkit sambil meraung kesakitan, menyeberangi bengawan, kembali ke pesanggrahan orang-orang Jipang.

“Kita akan menunggu, apakah kita berhasil,” berkata Ki Juru.

Ki Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia berpaling dilihatnya di jarak beberapa puluh langkah, prajurit Pajang sedang bertugas.

“Kami baru mengerti,” berkata Ki Pemanahan. Lalu, “Kita siapkan pasukan.”

Ki Juru tersenyum. Namun ia pun kemudian berkata dengan sungguh-sungguh. “Jika kita berhasil, maka hari ini adalah hari yang menentukan.”

“Ya,” jawab Ki Pemanahan. “Tetapi itu lebih baik daripada kita harus menunggu tanpa akhir.”

Dalam pada itu, maka Ki Pemanahan pun segera memanggil prajurit yang bertugas dan memerintahkan untuk mengamati keadaan. Sementara itu, bersama Ki Penjawi ia akan menyiapkan pasukannya dan membawa mereka ke tepi Bengawan dalam gelar yang

utuh.

Tetapi pesan Ki Juru, “Bawa sebagian kecil dahulu. Namun yang lain tetap siap untuk bergerak. Sementara biarlah mereka berada dibalik pesanggrahan.

Karena itulah, maka Ki Pemanahan dan Ki Penjawi telah menempatkan seorang senapati pilihan pada pasukan kecil yang harus pergi ke tepian dan Senapati yang terpercaya lainnya untuk memimpin pasukan yang tinggal.

“Demikian kau dengar isyarat, maka pasukan yang tinggal itu pun harus segera menyusul ke tepian,” perintah Ki Pemanahan.

Sejenak kemudian, maka sebagian dari pasukan Pajang telah berada di tepi Bengawan. Mereka siap menerima kedatangan pasukan Jipang apabila usaha Ki Juru berhasil. Sedangkan pusat perhatian Ki Pemanahan dan Ki Penjawi adalah anak muda yang dipersiapkan untuk langsung berhadapan dengan Arya Penangsang, Sutawijaya yang membawa pusaka terbesar Pajang, Kanjeng Kiai Pleret.

SEMENTARA itu, pekatik yang telinganya dipotong sedikit oleh Ki Juru telah berlari ke pesanggrahan. Para prajurit yang terkejut tidak sempat menahannya, sehingga pekatik itu telah mencapai gerbang pesanggrahan sambil berteriak dan meraung-raung kesakitan dan mengumpat-umpat. Namun di pintu gerbang prajurit

yang bertugas sempat menghentikannya sambil bertanya, "Kau kenapa?" "Aku pekatik khusus kuda Adipati Jipang. Arya Penangsang," teriak pekatik itu.

"Ya. Aku tahu. Tetapi kau kenapa?" bertanya prajurit itu.

"Orang Pajang menjadi gila," geram pekatik itu. "Telingaku telah dipotong dan sesobek surat diikat pada telingaku. Surat bagi Kanjeng Adipati."

"Surat apa?" bertanya prajurit itu.

"Aku tidak tahu, tetapi aku harus menunjukkan penghinaan ini kepada Kanjeng Adipati," jawab pekatik yang sulit untuk dikekang lagi. Teriakan-teriakannya ternyata telah memasuki pesanggrahan dan terdengar oleh Arya Penangsang yang kebetulan sedang bersantap.

"Suara apa itu?" bertanya Arya Penangsang kepada Patih Mantahun Yang menemaninya makan.

"Entahlah Kanjeng Adipati," jawab Ki Patih. "Perkenankan hamba menengoknya." Tetapi Ki Patih Mantahun tidak sempat pergi ke luar pesanggrahan. Pekatik yang kesakitan itu tiba-tiba saja telah berlari menyusup di antara prajurit yang bertugas tanpa disangka-sangka, sehingga prajurit yang bertugas di luar tidak sempat menghentikannya.

Tetapi pekatik itu akhirnya terhenti juga diluar pintu ruang yang dipergunakan oleh Kanjeng Adipati Arya Penangsang untuk bersantap. Seorang pengawal khusus telah menghentikannya, sehingga pekatik itu justru telah berteriak-teriak.

"Siapa yang menjadi gila itu," bentak Ki Patih Mantahun.

Sementara itu pekatik itu berteriak, "Hamba harus menghadap Kanjeng Adipati. Satu penghinaan orang-orang Pajang atas Kanjeng Adipati harus ditebus dengan penghinaan yang lebih berat."

Ternyata Kanjeng Adipati Arya Penangsang mendengar suara pekatik itu. Dengan jantung yang mulai berdebaran, Adipati Pajang itulah yang kemudian berteriak, "Bawa orang itu kemari."

Tidak ada yang dapat menahannya lagi. Pengawal khusus yang ada di muka pintu itu pun kemudian membawa pekatik yang telinganya berlumuran darah itu memasuki ruangan.

"Dungu," geram Ki Patih. "Seharusnya kau menunggu diluar." "Aku memanggilnya," potong Arya Penangsang.

Dengan wajah yang tegang Arya Penangsang memandangi pekatik yang dibasahi oleh titik-titik darah dari telinganya.

"Kau pekatik," sapa Arya Penangsang yang mengenal pekatiknya dengan baik. Pekatik yang telah menyediakan makan bagi kudanya yang paling baik, Gagak Rimang.

Tanpa menghiraukan Ki Patih dan para pengawal khusus pekatik itu berkata tersendat-sendat, "Satu penghinaan dari orang-orang Pajang Kanjeng Adipati. Telinga hamba telah dipotong dan pada sisa telinga hamba telah diikat sepucuk surat yang katanya bagi Kanjeng Adipati."

Wajah Kanjeng Adipati Jipang itu pun menjadi semakin tegang. Dengan suara latang ia berkata, "Mendekatlah."

Ki Patih Mantahun pun menjadi sangat berdebar-debar. Dengan seksama ia mengikuti apa yang terjadi. Sementara Arya Penangsang telah mengambil sendiri surat yang tergantung ditelinga pekatik yang malang itu.

"Biarlah hamba membacanya," mohon Ki Patih.

"Kau sangka aku tidak dapat membaca sendiri?" bentak Arya Penangsang. Ki Patih Mantahun tidak dapat memaksanya. Tetapi ia telah mendapat satu firasat yang kurang baik.

Dengan tangan gemetar Arya Penangsang pun membuka surat yang telah terpercik oleh noda-noda darah. Sebagaimana Arya Penangsang sendiri yang pada dasarnya cepat menjadi marah, maka titik-titik darah dilembaran kertas itu bagaikan bara yang membakar jantungnya.

Pengaruh bercak-bercak merah itu ternyata sangat besar pada perasaan Arya Penangsang, meskipun ia belum membaca isi surat itu.

DENGAN pandangan mata yang menyala Arya Penangsang mengikuti huruf-huruf yang terdapat di lembaran surat itu. Huruf-huruf yang ditulis dengan cermat, tertib

dan jelas, suku wulu dan taling-tarungnya. Darah Ki Patih Mantahun bagaikan semakin cepat mengalir pada saat-saat ia mengikuti gerak wajah Arya Penangsang. Ia sudah dapat menduga isi dari surat orang-orang Pajang itu.

Arya Penangsang yang membawa surat itu merasa dadanya telah diguncang. Penghinaan yang sangat menyakitkan hati. Bahkan kata penutup surat tantangan itu berbunyi, “Kanjeng Adipati Arya Penangsang. Kami menunggu dengan pasukan yang ada pada kami. Jika Arya Penangsang tidak berani keluar ke arena oleh surat tantangan kami yang terakhir ini, maka kami tidak lagi menghargai Kanjeng

Adipati sebagaimana sebelumnya, karena Kanjeng Adipati tidak lebih dari seorang perempuan yang hanya berani berlindung dibalik tungku dapur.”

Darah Arya Penangsang benar-benar telah mendidih. Pikirannya menjadi kacau oleh kemarahan yang menghentak-hentak didadanya. Darah pada helai-helai surat itu, pekatik yang merintih kesakitan, kejemuannya menunggu di pesanggrahan itu, yang seolah-olah tidak berkeputusan dan berbagai macam goncangan-goncangan perasaan serta kebenciannya yang memuncak kepada Adipati Pajang, telah menjadikan nalar Arya Penangsang itu pun bagaikan menjadi buram. Dengan kemarahan yang membakar jantung, maka Arya Penangsang itu pun telah meloncat berdiri. Mangkuk-mangkuk yang berada dihadapannya dihentakkannya sehingga terlempar dan pecah berserakan.

“Cepat, siapkan Gagak Rimang,” perintah Arya Penangsang kepada pekatik yang telinganya terpotong sedikit itu.

“Tunggu,” teriak Ki Patih Mantahun.

Tetapi pekatik itu tidak mempunyai perhitungan lain. Ia justru merasa senang bahwa Arya Penangsang menjadi marah dan siap untuk membalaskan sakit hatinya. Karena itu, maka ia pun segera berlari keluar untuk menyiapkan kuda Arya Penangsang.

Sementara itu, Ki Patih Mantahun telah berusaha menahan Arya Penangsang yang marah. Sambil memeluk kakinya Kanjeng Adipati Ki Patih berkata, “Hamba mohon Kanjeng. Hamba mohon untuk menenangkan perasaan. Hamba akan menyelesaikan persoalan ini.”

“Persetan,” geram Arya Penangsang. “Aku sudah jemu dengan keadaan yang membeku sekarang ini. Perselisihan ini berlangsung tanpa berkesudahan. Sekarang aku akan menyelesaikannya sampai tuntas. Mati atau mukti. Itu adalah kelengkapan seorang kesatria. Aku akan menghadapi Adipati Pajang sebagai laki-laki jantan.”

“Kanjeng Adipati memang bersikap kesatria. Tetapi apakah Pajang juga bersikap demikian?” bertanya Patih Mantahun.

“Aku tidak mau kau hambat lagi dengan otak tuamu Mantahun,” geram Adipati Jipang.

Tetapi Patih Mantahun masih memegangi kaki Adipati Jipang itu. Katanya tersendat, “Baiklah. Kita akan dengan segera menyelesaikannya. Kita akan melakukannya hari ini. Tetapi beri kesempatan hamba menyiapkan pasukan lengkap yang akan menyertai Kanjeng Adipati.”

Arya Penangsang menggeram. Namun katanya, “Kau dapat menyusul dengan pasukanmu.

Aku akan menantang Adipati Pajang untuk berperang tanding.”

“Mereka tidak akan berbuat demikian Kanjeng,” desis Ki Patih Mantahun dengan nafas terengah-engah.

Tetapi Arya Penangsang mengibaskan kakinya sambil membentak, “Lepaskan aku.” “Jangan pergi dengan tanpa kesiagaan seperti ini,” jawab Patih Mantahun tanpa melepaskan pegangannya.

Arya Penangsang yang marah itu memang tidak dapat ditahan lagi. Sekali lagi ia mengibaskan kakinya. Namun tangan Mantahun itu bagiakan melekat di kakinya. Ketika Arya Penangsang menghentakkan kakinya dengan seluruh kekuatan cadangan yang ada di dalam dirinya, maka Ki Patih Mantahun pun melakukannya pula, sehingga kekuatannya pun menjadi berlipat.

Namun kemarahan Arya Penangsang justru bagaikan telah disiram api. Tiba-tiba saja ia telah menarik kerisnya yang sangat ditakuti oleh siapapun juga, yang seakan-akan tidak pernah terpisah dari tubuhnya, Kanjeng Kiai Setan Kober. MELIHAT keris itu, barulah Patih Mantahun bergeser sambil melepaskan kaki Kanjeng Adipati Jipang. Namun ia masih juga berkata, “Kanjeng adalah Adipati Jipang. Soal hidup dan mati Kanjeng akan berpengaruh atas seluruh kadipaten. Dengan demikian maka hidup mati Kanjeng adalah juga milik kadipaten Jipang.” Tetapi Arya Penangsang tidak mau mendengarnya lagi. Ia pun kemudian meloncat ke luar dengan kemarahan yang menghentak-hentak. Apalagi ketika ia kemudian melihat kudanya, Gagak Rimang sudah siap untuk pergi berperang.

Dengan serta merta Kanjeng Adipati meloncat ke arah kudanya dan melarikannya ke arah Bengawan Sore.

Para pengawal khususnya menjadi bingung. Namun dengan suara lantang Patih Mantahun yang tua itu berteriak, “Cepat, susul Kanjeng Adipati Arya Penangsang. Bawa kelengkapan perang dan bunyikan tengara.”

Pasukan pengawal khusus yang termangu-mangu itu pun bagaikan orang terbangun dari mimpi. Mereka pun telah berlari-larian mengambil kuda masing-masing yang siap di dalam waktu yang cepat, sebagaimana ketrampilan seorang dari pasukan khusus pengawal pribadi Adipati Jipang.

Sementara itu, isyarat pun telah berbunyi. Ki Patih Mantahun langsung mengatur para prajurit Jipang. Pengalaman dan ketrampilan para prajurit Jipang serta kesiagaan yang tinggi telah membuat mereka cepat bersiap dan menyusul Adipati Jipang. Pasukan berkuda telah lebih dahulu berangkat, kemudian pasukan yang lain pun telah dengan tergesa-gesa menyusul pula. Sementara itu, para petugas yang lain pun telah mendapat perintah untuk bersiap dan menyesuaikan diri. Para juru madaran, pekatik dan para pande besi harus bersiap pula. Demikian pula mereka yang bertugas dibidang pengobatan dan dukungan kejiwaan pasukan Jipang.

Patih Mantahun yang tidak berhasil menahan kemarahan Arya Penangsang itu tidak dapat berbuat lain kecuali mengerahkan segenap kekuatan yang ada di pesanggrahan itu. Bahkan Ki Patih pun telah memerintah pasukan cadangan untuk berangkat pula.

“Dalam keadaan seperti ini, kita tidak memerlukan pasukan cadangan,” berkata Ki Patih. “Kita akan membenturkan seluruh kekuatan yang ada. Kita akan menang atau kalah hari ini juga. Kita akan hancur atau jaya tanpa tenggang waktu. Kanjeng Adipati telah terpancing oleh cara licik dari orang-orang Pajang.”

Dengan demikian, maka Senapati yang memimpin pasukan cadangan itu pun telah mengerahkan semua prajurit yang ada untuk bersama-sama dengan pasukan yang lain menyeberangi Bengawan Sore.

Bengawan Sore memang tidak sedang naik. Airnya di musim kering tidak terlalu besar dan tidak terlalu dalam. Meskipun demikian air itu memang merupakan hambatan yang harus diperhitungkan oleh setiap pasukan yang menyeberang.

Dalam pada itu, Arya Penangsang sendiri sudah mulai turun ke Bengawan. Beberapa puluh langkah dibelakangnya adalah para prajurit dari pasukan khusus, prajurit yang terpilih. Sebagaimana Arya Penangsang sendiri, maka para prajurit dari pasukan khusus itu sama sekali tidak gentar menghadapi segala kemungkinan.

Demikian kuda mereka turun ke air, maka pedang mereka pun telah teracu. Pengalaman serta naluri mereka telah mengatakan kepada mereka, bahwa selagi mereka menyeberang, maka mereka akan mendapat serangan dari pasukan Pajang yang berada di seberang.

Arya Penangsang dan pasukan khusus itu sama sekali tidak memperlambat laju mereka, karena pasukan Pajang yang mereka lihat diseberang pun tidak terlalu besar, sehingga mereka yakin bahwa mereka akan dapat mengatasinya.

Dengan demikian, maka pasukan Jipang itu berturut-turut menyeberangi Bengawan Sore. Satu perjalanan pasukan yang tidak menguntungkan. Namun Mantahun yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang bertimbun di dalam dirinya itu tidak dapat berbuat banyak. Justru karena sikap Adipati Jipang sendiri yang kurang dapat menguasai diri. Sifat dan watak yang dikenal betul oleh orang-orang Pajang itu agaknya telah dipergunakannya sebaik-baiknya.

Dalam pada itu, pasukan Pajang pun telah bersiap. Tetapi seperti yang direncanakan, maka yang nampak di tepian Bengawan Sore itu hanyalah sebagian saja dari seluruh pasukan Pajang yang ada di pesanggrahan itu.

KI JURU MARTANI, Ki Pemanahan dan Ki Penjawi menjadi berdebar-debar juga melihat

apa yang akan terjadi. Mereka melihat seorang berkuda dipaling depan. Mereka pun segera mengetahui, bahwa orang berkuda itu adalah Arya Penangsang sendiri. “Kita berhasil adi,” berkata Ki Juru. “Sekarang siapkan Sutawijaya sebaik-baiknya. Ia adalah seorang laki-laki. Ditangannya tergenggam satu-satunya kemungkinan untuk mengalahkan Arya Penangsang, Kanjeng Kiai Pleret. Dengan tombak itu

mudah-mudahan kulit Arya Penangsang yang disebut kebal itu dapat terluka.”

Ki Pemanahan menjadi semakin gelisah. Sutawijaya masih terlalu muda. Tetapi ia memang memiliki ketrampilan mempermainkan kuda. Sejak kecil anak itu bagaikan lekat dengan punggung kuda. Sementara itu ia telah membawa pusaka terbesar Pajang, Kanjeng Kiai Pleret. Jika Kanjeng Kiai Pleret tidak berhasil mengenai

dan melukai Arya Penangsang, maka agaknya memang tidak ada senjata yang akan dapat melukainya.

Tetapi Ki Juru Martani tidak saja membekali Sutawijaya dengan Kanjeng Kiai Pleret, tetapi Ki Juru telah menyediakan seekor kuda betina bagi Sutawijaya.

Dalam pada itu, para prajurit Pajang telah siap dipinggir Bengawan. Mereka harus menghancurkan para prajurit Jipang yang menyeberang dibelakang Arya Penangsang. Pasukan pengawal khusus yang berusaha untuk menyusul Arya Penangsang memang berhasil mendekatinya dari belakang. Tetapi yang akan mencapai tepian pertama

kali memang Arya Penangsang.

Ketika pasukan Jipang seluruhnya telah berada di dalam air, maka Ki Pemanahan dan Ki Penjawi telah menurunkan perintah, agar pasukan yang masih berada dibelakang pesanggrahan segera turun ke tepian.

Sejenak kemudian, maka pasukan yang besar telah keluar dari balik pesanggrahan dan dengan tergesa-gesa pergi ke tepian yang tidak terlalu jauh. Dengan tengara bende maka pasukan itu pun berjalan rampak dalam gelar yang melebar.

Kehadiran pasukan yang besar itu memang menghentakkan perhatian para prajurit Jipang. Mereka memang menjadi berdebar-debar melihat pasukan yang datang itu. Agaknya mereka baru keluar setelah yakin pertempuran akan terjadi.

“Mereka telah memancing Kanjeng Adipati dengan berbagai cara,” berkata Patih Mantahun yang menyu-sul Kanjeng Adipati Jipang, “Mereka membuat Kanjeng Adipati marah dan mereka menunjukkan seolah-olah pasukan mereka kecil dan lemah, sehingga Kanjeng Adipati telah benar-benar terpancing.”

Seorang Senapati yang mendampingi Ki Patih Mantahun itu pun menyahut, “Tetapi mereka akan kita hancurkan hari ini.”

“Saat-saat yang paling berbahaya adalah saat-saat kita naik ke tepian,” berkata Ki Patih Mantahun.

Senapati itu mengangguk. Namun ia percaya kepada pasukan khusus pengawal pribadi Arya Penangsang yang memiliki kemampuan yang tinggi.

Ternyata pasukan Jipang itu memerlukan waktu yang agak panjang untuk menyeberangi Bengawan Sore yang meskipun tidak terlalu dalam tetapi cukup lebar. Arya Penangsang yang berada di paling depan telah mendekati tepian dan jangkauan anak panah dari pasukan Pajang. Namun Ki Juru pun berkata kepada Panglima pasukan Pajang, “Apapun yang kalian lemparkan kepada Arya Penangsang tidak akan melukai kulitnya. Tetapi kalian harus siap menghadapi pengawal khususnya yang telah menyusulnya.

Panglima Pajang itu pun menyadari, betapa besarnya kemampuan pasukan pengawal pribadi Arya Penangsang. Namun pasukan khusus Pajang pun tidak kalah garangnya dengan pasukan Jipang, meskipun mereka tidak sekeras pasukan Jipang.

Demikian Arya Penangsang memasuki jangkauan anak panah dan bandil dari gelar pasukan Pajang yang berada di tepian, perintah pun segera jatuh. Pasukan Pajang itu pun mendengar tengara bende yang sahut menyahut. Sehingga dengan demikian maka mereka pun dengan serta merta telah melepaskan anak panah dan bandil.

Tetapi setiap prajurit Pajang mengetahui, bahwa anak panah dan bandil itu tidak akan berarti bagi Arya Penangsang yang telah mendekati tepian.

NAMUN jika kudanya naik ketepian bukan berarti tanah tempat kakinya berpijak rata dan lancar. Tetapi kudanya akan memasuki lingkungan pasir tepian yang akan menghambat lari kudanya. Karena itu, maka meskipun orang pertama dari Jipang itu yang diikuti oleh pasukannya pada saatnya naik dan melepaskan diri dari air Bengawan, namun mereka masih harus mengatasi hambatan pasir tepian.

Anak panah, bandil dan kemudian lembing yang dilontarkan oleh pasukan Pajang memang sudah diperhitungkan oleh setiap prajurit Jipang. Arya Penangsang sendiri memang tidak menghiraukan anak panah dan batu-batu bandil. Bahkan kudanya yang bernama Gagak Rimang itu pun seakan-akan tidak terpengaruh juga oleh hujan anak panah dan batu bandil.

Namun demikian, anak panah dan batu-batu bandil itu memang mulai menghambat pasukan pengawal pribadi Arya Penangsang. Namun sebagian besar dari mereka memang memiliki kemampuan menangkis anak panah dan batu-batu. Mereka ternyata juga tidak terluka oleh ujung anak panah yang mengenainya.

“Bukan main,” desis Panglima prajurit Pajang, “Pasukan Jipang memang pasukan yang nggegirisi, terutama pasukan pengawal pribadi Adipati Jipang.”

“Siapkan pasukanmu yang seimbang,” perintah Ki Pemanahan.

Pasukan khusus Pajang pun kemudian telah siap ditepian untuk menyambut pasukan Jipang yang akan naik di belakang Arya Penangsang.

Dalam pada itu, maka Ki Pemanahan pun telah memerintahkan pasukan Pajang untuk menyusun gelar Jurang Grawah. Dengan demikian maka pasukan Pajang harus mampu membangunkan sekat antara pasukan khusus Jipang dengan pasukannya yang lain. Sejenak kemudian maka tibalah saat-saat yang menegangkan. Ki Juru Martani, Ki Pemanahan dan Ki Penjawi telah memiliki pengalaman yang luas dalam pertempuran-pertempuran yang pernah terjadi, menjadi tegang juga melihat

kehadiran pasukan Arya Penangsang yang bergelombang menyeberangi Bengawan Sore.

Pada saat Arya Penangsang sendiri telah berada di atas pasir tepian, maka mulailah babak pertama dari perang yang sangat mendebarkan itu.

Sesuai dengan rencana, maka yang pertama-tama dilepaskan oleh pasukan Pajang adalah Raden Sutawijaya yang berada di punggung seekor kuda betina dengan menggenggam tombak Kanjeng Kiai Pleret ditangannya. Dengan kencang kuda Raden Sutawijaya itu melintas beberapa puluh langkah dihadapan Arya Penangsang yang sedang marah.

Arya Penangsang memang terkejut melihat kehadiran Raden Sutawijaya yang masih sangat muda itu dipeperangan.

Tetapi ia pun kemudian tidak menghiraukannya. Raden Sutawijaya bagi Arya Penangsang tidak lebih dari kanak-kanak yang sedang bermain-main meskipun ditempat yang berbahaya.

Namun yang terjadi ternyata tidak sebagaimana dikehendaki oleh Arya Penangsang. Betapa akrabnya hubungan antara Arya Penangsang dengan kudanya yang bernama Gagak Rimang itu, namun pada suatu saat maka telah terjadi salah paham di antara mereka.

MELIHAT seekor kuda betina yang melintas dihadapannya, maka Gagak Rimang ternyata telah tertarik olehnya. Karena itu, maka meskipun tidak dikehendaki

oleh Arya Penangsang maka Gagak Rimang justru telah berusaha untuk mengejar kuda betina yang dipergunakan oleh Raden Sutawijaya. “Rimang, apakah kau menjadi

gila,” geram Arya Penangsang yang berusaha menguasai kudanya. Arya Penangsang telah bertekad untuk menyerang langsung ke induk pasukan Pajang yang siap dengan gelarnya. Menurut perhitungan Arya Penangsang, pimpinan tertinggi pasukan Jipang tentu berada di induk pasukannya. Bahkan Arya Penangsang berharap bahwa Adipati Pajang sendirilah yang memegang kendali pasukannya.

Namun Gagak Rimang tiba-tiba menjadi sulit untuk dikuasainya.

Pada saat Arya Penangsang masih berusaha untuk mengendalikan Gagak Rimang, maka ternyata Raden Sutawijaya telah memutar kudanya, dan sekali lagi melintas lebih

dekat dihadapan Arya Penangsang.

Dengan demikian maka kuda Arya Penangsang itu pun semakin liar dan berusaha untuk mengejar kuda Raden Sutawijaya.

Arya Penangsang yang sedang dibakar oleh kemarahan itu tiba-tiba telah berteriak, “Sutawijaya, jika kau main-main dengan kuda, jangan di dekat medan yang garang ini. Pergilah, kudaku menjadi liar karena kuda betinamu.”

Tetapi jawaban Sutawijaya sungguh diluar dugaan Arya Penangsang. Katanya,

“Paman, sejak pagi aku menunggu kehadiran paman di medan perang. Akulah Senapati Pajang yang mendapat tugas untuk menghadapi paman hari ini.”

“Gila,” teriak Arya Penangsang sambil menarik kekang kudanya. “Kau sangka aku siapa Sutawijaya? Apakah kau tidak pernah mendengar dari ayahmu atau ayah angkatmu tentang Arya Penangsang?”

“Sudah paman,” sekali lagi Sutawijaya memutar kudanya, “Cerita tentang paman itulah yang mendorong aku untuk membuktikan, apakah benar paman tidak terkalahkan.”

Kemarahan Arya Penangsang tidak terbendung lagi. Ia pun tidak lagi berusaha untuk menguasai Gagak Rimang, tetapi ia justru berusaha mengejarnya.

Namun sebenarnyalah Sutawijaya memang memiliki kemampuan berkuda yang sangat tinggi. Ia dengan lincah mempermainkan kudanya dan justru memancing Arya Penangsang untuk memasuki lingkungan pasukan Pajang.

Tetapi Arya Penangsang tidak menjadi gentar. Ia pun telah menyuruk memasuki pertahanan Pajang yang merupakan gelar yang menebar. Kerisnya yang nggegirisi masih tetap ditangannya, sehingga seakan-akan ditangan Arya Penangsang itu telah memancar cahaya yang kemerah-merahan menyilaukan.

Semua orang menjadi berdebar-debar melihat keris ditangan Arya Penangsang itu. Apalagi ketika mereka melihat Arya Penangsang memburu Raden Sutawijaya dengan kemarahan yang memuncak.

Demikian Arya Penangsang memasuki garis pertahanan pasukan Pajang, maka beberapa ujung tombak telah menyongsongnya.

Tetapi tidak satu pun dari antara ujung tombak itu yang melukainya. Bahkan

ayunan keris Setan Kober di tangan Arya Penangsang telah menyibakkan ujung-ujung tombak yang bagaikan batang ilalang. Beberapa orang yang tergores oleh ujung

keris itu pun telah bergeser surut, keluar dari pasukannya dan menempatkan dirinya untuk menerima kematiannya. Meskipun goresan itu hanya seujung rambut.

Tidak ada obat yang mampu menawarkan ketajaman nafas maut pada ujung keris Setan Kober. Sementara itu, ujung tombak para prajurit Pajang itu tidak mampu menggores kulit Adipati Jipang yang marah itu.

Karena itu, maka tidak seorang pun yang mampu menahan Arya Penangsang yang memacu kudanya mengejar Raden Sutawijaya. Apalagi kuda Arya Penangsang sendiri memang berusaha untuk mengejar kuda betina itu.

Sementara itu, orang-orang yang memiliki ilmu tertinggi dari Pajang pada waktu itu, Ki Juru Martani, Ki Pemanahan dan Ki Penjawi dengan sengaja tidak

menghalangi Arya Penangsang. Mereka telah mempertaruhkan Raden Sutawijaya untuk melawan Arya Penangsang yang memilik ilmu yang jarang ada bandingnya.

SEMENTARA itu, di belakang Arya Penangsang pasukan pengawal khususnya telah menyusul. Pasukan Pajang telah bersiap sebaik-baiknya untuk menyambut mereka dengan gelar Jurang Grawah.

Ketika pasukan khusus Jipang itu membentur pertahanan pasukan Pajang, maka pasukan Pajang itu pun terdesak mundur. Seperti yang diperintahkan oleh Ki Pemanahan, maka yang harus dihadapi pasukan khusus Jipang itu harus pasukan khusus pula, sehingga kekuatan mereka akan seimbang. Dengan demikian, di pihak Pajang tidak akan timbul korban yang tidak terhitung jumlahnya.

Ketika pasukan Jipang melihat pasukan Pajang mundur, maka mereka pun segera mendesak. Pasukan berkuda itu tidak sempat memikirkan gelar yang dipasang oleh pasukan Pajang. Apalagi pasukan Jipang itu memang sudah dibakar oleh gejolak perasaannya. Bukan saja karena Arya Penangsang sudah mendahului mereka dengan kemarahan yang tidak tertahan, namun satu dua di antara kawan-kawan mereka ada yang sudah jatuh pada saat mereka menyeberang serta ketika mereka berusaha mengatasi hambatan lunaknya pasir ditepian.

Tetapi pasukan Pajang memang sudah siap dengan gelar Jurang Grawah. Demikian benturan antara kedua pasukan khusus itu terjadi, maka pasukan Pajang pun telah mundur dan memancing pasukan lawan untuk mendesak mereka.

Namun demikian pasukan lawan itu memasuki lekuk yang cukup dalam pada gelar pasukan Pajang, maka gelar itupun kemudian telah menutup kembali. Dengan demikian telah terjadi sekat antara pasukan khusus Jipang dengan pasukan yang datang kemudian.

Sementara itu, dengan ketrampilan yang masak, pasukan Pajang telah merapat dan menempatkan diri di sebelah tepian berpasir. Mereka telah mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya pada saat pasukan Jipang dibawah pimpinan Ki Patih Mantahun sendiri mendekati tepian dan kemudian naik ke dataran pasir di tepi Bengawan Sore yang agak luas.

Ki Patih Mantahun memang sudah memperhitungkannya. Ia sendiri mampu menembus hujan anak panah dan lembing serta bandil. Seperti Arya Penangsang ia memiliki kekebalan serta ilmu yang sangat tinggi.

Namun Ki Juru Martani, Ki Pemanahan dan Ki Penjawi yang masih harus mengamati kemungkinan yang dapat terjadi dengan Raden Sutawijaya telah mempercayakan beberapa orang perwira yang memiliki ilmu yang cukup untuk menahan Ki Patih Mantahun.

Sebenarnyalah, pasukan Jipang yang datang kemudian itu telah mengalami kesulitan untuk maju. Ki Patih sendiri memang tidak tergores oleh ujung senjata.

Tetapi para prajuritnya telah terhambat oleh tajamnya bedor, lembing dan kerasnya batu-batu bandil. Beberapa orang mulai roboh dan tidak dapat melanjutkan tugas mereka. Bahkan ada di antara mereka yang jatuh dan hanyut di arus sungai yang sebenarnya tidak terlalu deras. Satu demi satu jumlah prajurit Jipang mulai susut. Sementara itu, sambil bersorak-sorak prajurit Pajang terus saja menghujani mereka dengan anak panah, lembing dan batu-batu bandil.

Korban pun mulai berjatuhan. Tetapi Ki Patih Mantahun yang telah menjadi marah pula tidak terkejut mengalami keadaan seperti itu. Baik para pemimpin Jipang maupun Pajang telah mengetahui bahwa akibat seperti itu akan terjadi bagi mereka yang berani menyeberangi Bengawan Sore.

Ternyata perhitungan dan cara yang ditempuh oleh Ki Juru berjalan sebagaimana diharapkan. Dengan sorak yang gemuruh para prajurit Pajang melihat korban yang berjatuhan dari pasukan Jipang. Namun prajurit-prajurit Jipang adalah

prajurit-prajurit yang dilatih dengan keras dan ditempa dengan kuat. Itulah sebabnya, maka arus serangan mereka pun sama sekali tidak nampak susut. Ketika gelar pasukan Pajang menyurut kembali setelah para prajurit dari pasukan khusus Jipang mendesak pasukan khusus Pajang, maka para perwira dari pasukan khusus Jipang itu pun menyadari gelar yang dipergunakan oleh pasukan Pajang.

Namun mereka terlambat untuk mengubah gelar yang mereka pergunakan. Gelar yang hanya dapat menyesuaikan dengan gerak Adipati Jipang yang marah dan tidak terkendali Gelar Emprit Neba.

SEKAT yang kemudian dibuat oleh prajurit Pajang telah memisahkan pasukan khusus Jipang dan pasukannya yang lain. Namun hal itu sama sekali tidak mengubah tata gerak pasukan itu. Keras dan garang. Sekelompok kecil pasukan khusus Jipang itu memang berusaha untuk memecahkan sekat yang memisahkan mereka dengan pasukan Jipang yang lain yang bakal datang. Namun usaha mereka tidak segera dapat

berhasil. Pasukan Pajang telah berusaha untuk mengimbangi kemampuan pasukan khusus Jipang bukan saja dalam gelar, tetapi juga secara pribadi.

Dengan korban yang cukup banyak, maka pasukan Jipang yang dipimpin langsung oleh Ki Patih Mantahun itu pun akhirnya mampu mencapai gelar pasukan Pajang. Mereka pun menyadari, bahwa prajurit Pajang itu telah mempergunakan gelar Jurang

Grawah, sehingga pasukan khusus telah tertelan kedalam gelar pasukan Pajang. Namun Ki Patih terlalu yakin akan kekuatan dan kemampuan pasukan khususnya sehingga ia tidak menjadi cemas karenanya.

Beberapa orang perwira Pajang memang mendapat tugas khusus untuk menghadapi Ki Patih Mantahun. Dengan senjata yang berputaran mereka telah mengepung Patih tua itu, sementara kedua pasukan itu pun telah berbenturan dengan kerasnya.

Dalam pada itu, kuda Arya Penangsang bagaikan menjadi gila. Tanpa dapat dikendalikan lagi, Gagak Rimang telah mengejar kuda Raden Sutawijaya. Sedangkan Raden Sutawijaya benar-benar seorang anak muda yang memiliki kemampuan untuk mengendarai kuda. Ternyata kuda betina yang dipergunakannya telah membuat Arya Penangsang kesulitan menguasai Gagak Rimang.

Karena itulah, maka Arya Penangsang telah menyarungkan kerisnya. Kedua tangannya telah dipergunakannya untuk mengendalikan kudanya yang sulit dikuasainya. “Kenapa kau tiba-tiba menjadi gila Gagak Rimang?” geram Arya Penangsang.

Biasanya Arya Penangsang bersikap manis terhadap kudanya. Tetapi kemarahannya yang membakar jantungnya membuatnya berbuat kasar. Tetapi justru karena itu, maka Gagak Rimang pun menjadi semakin gila.

Sutawijaya telah membawa kudanya berlari-lari ditepian. Melingkar-lingkar. Bahkan di luar lingkungan medan pertempuran.

“Jangan jadi pengecut anak Pemanahan,” teriak Arya Penangsang. “Jika kau memang berniat melawan aku, ayo, lawanlah aku. Aku memang akan mencincangmu sebelum aku

mencincang ayah angkatmu.”

“Tangkap aku paman,” Sutawijaya pun berteriak.

Arya Penangsang menggeram. Tetapi ia tidak dapat memaksa Gagak Rimang untuk memotong arah kuda Sutawijaya. Gagak Rimang condong mengikuti saja kemana kuda betina yang dipergunakan oleh Sutawijaya itu berlari. Melingkar, menyilang dan kadang-kadang melintas dekat dibelakang garis pertempuran.

Pada puncak kesulitan Arya Penangsang mengendalikan Gagak Rimang, maka Sutawijaya pun mulai memperhitungkan langkahnya sebagaimana dipesankan kepadanya.

Raden Sutawijaya harus mempergunakan tombak pusaka terbesar dari Pajang, Kanjeng Kiai Pleret.

Pada saat Arya Penangsang masih memburu Raden Sutawijaya, maka pertempuran antara pasukan Pajang dan Jipang pun telah membakar tepian. Kedua belah pihak telah mengerahkan segenap kekuatan yang ada pada pasukan masing-masing. Pasukan Jipang yang bergerak dengan serta merta, karena kemarahan Arya Penangsang itu

pun telah berusaha untuk menggilas pasukan yang menahan geraknya. Namun jumlah mereka telah banyak berkurang. Gelar Jurang Grawah yang dipasang pasukan Pajang ternyata memang sangat menguntungkan. Pasukan khusus Jipang benar-benar telah menemukan lawan yang seimbang. Pasukan khusus dari Pajang pun ternyata memiliki kelebihan dari pasukannya yang lain, sebagaimana pasukan Jipang.

Karena itulah, maka pertempuran antara kedua pasukan itu merupakan pertempuran yang sangat dahsyat. Secara pribadi para prajurit dari pasukan khusus Pajang dan Jipang itu memiliki ilmu yang setingkat.

Meskipun nampaknya orang-orang Jipang lebih garang, tetapi ketika mereka terlambat di dalam pertempuran yang terpisah, maka ternyata bahwa orang-orang Pajang pun telah menjadi garang pula. Ketika orang-orang Jipang bertempur dengan keras dan bahkan kasar, maka orang-orang Pajang pun menjadi keras dan kasar pula.

DENGAN demikian, maka pasukan khusus Jipang yang dipisahkan dari keseluruhan pasukan Jipang benar-benar telah menemukan lawannya yang tidak dapat didesak lagi, sebagaimana terjadi pada saat-saat kedua pasukan itu bertemu. Di bagian

lain, maka pasukan Pajang telah bertempur dengan pasukan Jipang yang menyerang pertahanan Pajang dengan gelar Emprit Neba. Gelar yang tidak perlu disusun sebagaimana gelar yang lain. Pasukan Jipang datang seperti sekelompok burung emprit yang turun dari langit di atas batang-batang padi yang buahnya mulai menguning.

Tetapi karena jumlah pasukan Jipang itu sudah jauh berkurang, maka pasukan itu tidak segera dapat mendesak pasukan Pajang yang kecuali lebih banyak, ternyata juga lebih mapan. Dalam pertempuran itu, Ki Patih Mantahun harus bertempur melawan beberapa orang perwira terpilih dari Pajang. Meskipun Ki Patih Mantahun memiliki ilmu yang

tinggi, namun berhadapan dengan beberapa orang perwira terpilih, Ki Patih harus juga mengerahkan kemampuannya.

Dengan mempergunakan sebatang tombak pendek, Ki Patih melawan beberapa ujung pedang yang mengepungnya. Bahkan para perwira itu telah membawa perisai pula untuk membantu melindungi tubuh masing-masing dari ujung senjata Ki Patih yang masih mampu bergerak sangat cepat.

Ki Pemanahan menjadi bimbang melihat pertempuran itu. Meskipun ia harus mengawasi pertempuran antara Raden Sutawijaya dengan Arya Penangsang, namun ia memikirkan juga kemungkinan yang dapat dilakukan oleh Ki Patih Mantahun. Namun ketika ia mengatakan kepada Ki Juru, maka Ki Juru pun berdesis, “Kau tunggui dahulu pertempuran antara anakmu dan Arya Penangsang itu. Kau harus siap bertindak jika perlu.”

Ki Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang ke arah Penjawi, maka Ki Penjawi pun menjadi gelisah pula.

Dalam pertempuran yang semakin dahsyat, maka para perwira yang bertempur melawan

Ki Patih Mantahun telah mempergunakan cara sebagaimana dianjurkan oleh Ki Juru. Mereka tidak bertempur tangguh tanggon. Tetapi setiap kali seorang perwira mendapat serangan, maka ia pun meloncat surut, sementara yang lainlah yang datang menyerang. Karena itu, maka para perwira itu telah memancing agar Ki

Patih bergerak terlalu banyak di dalam kepungan beberapa orang perwira pilihan itu.

“Jangan licik,” geram Ki Patih. “Marilah kita bertempur dengaN jantan.”

Para perwira itu justru tertawa. Seorang di antara mereka berkata, “Sejak kapan

Ki Patih mengenal kejantanan? Kami dahulu memang pernah mengagumi Ki Patih. Tetapi ketika kami mengetahui serba sedikit tentang Ki Patih, maka kami menjadi sangat kecewa.”

“Apa yang kau ketahui tentang aku?” bertanya Patih Mantahun sambil bertempur. “Satu usaha untuk membunuh Kanjeng Adipati Pajang adalah salah satu usaha yang sangat kotor. Kami semua yakin bahwa rencana itu tentu tidak akan timbul dari Arya Penangsang yang kami memang mengakuinya sebagai laki-laki sejati,” jawab perwira itu. “Persetan,” geram Ki Patih Mantahun. Serangan-serangan menjadi semakin cepat dan kuat. Namun para perwira itu pun telah mengerahkan segenap kemampuannya pula. Seorang demi seorang mereka menyerang, namun kemudian dengan loncataN panjang mereka telah bergantian menghindar.

Dengan demikian maka Ki Patih Mantahun yang berilmu sangat tinggi itu telah terpancing untuk bertempur dengan cara yang keras dan jarak yang panjang dari satu lawaN ke lawan yang lain. Meskipun para perwira itu tidak memiliki kemampuan ilmu setingkat dengan Ki Patih, tetapi dalam jumlah yang cukup banyak mereka dapat memaksa Ki Patih mengerahkan tenaganya.

Para perwira yang mendapat petunjuk dari Ki Juru Martani itu, akhirnya memang melihat, betapapun tinggi ilmu Ki Patih Mantahun yang kebal itu, namun ia tidak mampu melawan perkembangan umurnya sendiri. Dalam usianya yang tua itu, maka pernafasannya pun mulai terpengaruh. Meskipu tingkat ilmunya tidak susut dihari tuanya, justru menjadi semakin masak, namun ketuaannyalah yang membuatnya berdebar-debar. Ki Patih tidak dapat mengingkari pengaruh usianYa atas kemampuannya. Sementara itu Ki Patih pun sadar sepenuhnya, bahwa tidak ada seorang pun yang mampu menghindarkan diri dari bertambahnya usia tua.

NAMUN justru kesadaran itu telah membuat Ki Patih semakin memperhitungkan tata geraknya. Ia pun menjadi sadar bahwa para perwira Pajang itu telah dengan

sengaja memancingnya, agar ia bergerak terlalu banyak. Tetapi Ki Patih memang tidak dapat menghindarinya. Serangan demi serangan datang dari arah yang berbeda-beda. Meskipun ia berusaha membatasi diri, namun setiap kali ia memang harus menghindar dan meloncat menyerang.

Betapa terampilnya tangan tua itu memutar tombaknya, ia harus melawan beberapa ujung senjata, tetapi tidak segorespun luka terdapat ditubuhnya. Apalagi Ki

Patih itu memang memiliki ilmu kebal. Meskipun demikian Ki Patih tidak sepenuhnya mempercayakan diri kepada ilmunya itu. Ia masih memperhitungkan kemungkinan satu dua di antara ujung pedang dari orang-orang yang mengeroyoknya itu akan mampu menembus perisai ilmu kebalnya.

Tetapi ternyata, setelah pertempuran itu berlangsung beberapa lama, kulit Ki Patih Mantahun masih tetap utuh tanpa segores luka betapapun kecilnya. Namun yang sudah terasa mengganggu adalah justru pernafasannya.

Ki Patih menyadari sepenuhnya tentang hal itu. Karena itu, maka ia pun telah mempercayakan perlindungan tubuhnya tidak pada usahanya menghindari dan menangkis serangan lawan-lawannya, tetapi Ki Patih lebih mempercayakannya kepada ilmu kebalnya. Dengan demikian maka ia pun telah banyak mengurangi

langkah-langkah yang cepat dan panjang.

Para perwira yang bertempur melawannya melihat perubahan tata gerak Ki Patih. Karena itu, maka mereka pun telah menyusun cara yang lain untuk memancing agar Ki Patih tetap bergerak lebih banyak. Satu dua orang di antara mereka yang memiliki kemampuan yang melampaui kawan-kawannya telah berusaha untuk mengerahkan segenap kemampuan mereka. Pada saat-saat tertentu mereka telah meloncat menyerang dengan sepenuh tenaga dan kemampuan ilmunya.

Kulit Ki Patih memang tidak terluka. Tetapi Ki Patih mulai merasa, bahwa daging dibawah kulitnya telah terpengaruh oleh serangan-serangan itu. Karena itu, betapapun juga, maka Ki Patih masih tetap harus memperhitungkan setiap kemungkinan yang dapat terjadi atas dirinya.

Sementara itu, pertempuran menjadi semakin dahsyat. Namun para prajurit Jipang yang sejak pada benturan pertama telah banyak berkurang itu, semakin mengalami kesulitan. Meskipun pasukan khususnya masih tetap bertahan, namun pasukannya yang lain mulai terdesak mundur. Dengan demikian maka sekat antara pasukan khusus Jipang dan pasukannya yang lain pun menjadi semakin tebal.

Dalam pada itu, Raden Sutawijaya pun telah sampai pada puncak usahanya untuk melumpuhkan Arya Penangsang. Beberapa kali Sutawijaya masih memutar kudanya di atas tepian berpasir, sementara kuda Arya Penangsang menjadi semakin liar,

sehingga Arya Penangsang bertambah marah. Ketika dengan kendali Arya Penangsang memukul leher Gagak Rimang, maka kuda itu pun melonjak sambil berteriak marah pula. Hanya karena keterampilannya sajalah maka Arya Penangsang masih tetap melekat di punggungnya.

NAMUN pada saat-saat Gagak Rimang kehilangan kendali itulah merupakan saat yang paling baik bagi Raden Sutawijaya. Dengan tangkasnya Raden Sutawijaya memutar kudanya. Cepat kuda itu meloncat di samping Arya Penangsang yang masih berusaha menguasai kudanya. Pada saat yang demikian itulah tombak pusaka tertinggi Pajang telah terjulur lurus ke arah lambung Arya Penangsang.

Betapapun kebalnya kulit Arya Penangsang dilapisi ilmunya yang tinggi. Namun pusaka Pajang itu tidak dapat dibentengi sekadar dengan ilmu kebalnya.

Justru pada saat kedudukan Arya Penangsang dalam kesulitan, maka tombak pusaka itu benar-benar telah tergores dilambungnya. Arya Penangsang menyeringai menahan sakit. Kulitnya tidak sekadar tergores oleh tombak Kanjeng Kiai Pleret itu, tetapi kulitnya benar-benar telah dikoyaknya.

Pada saat yang demikian, kudanya Gagak Rimang telah melonjak lagi. Justru pada saat kuda betina yang dipergunakan oleh Raden Sutawijaya itu melintas disebelahnya.

Arya Penangsang yang terluka itu tidak mampu bertahan di atas punggung kudanya. Tangannya terlepas dari kendali dan kakinya tidak lagi melekat pada sangga wedinya. Karena itu, maka Arya Penangsang yang memiliki ilmu yang seakan-akan tidak terbatas itu telah terlempar jatuh dari punggung kudanya yang bagaikan menjadi gila.

Tidak banyak orang yang menyaksikan peristiwa itu. Pasukan khususnya sedang bertempur dengan mengerahkan segenap kemampuannya. Sementara itu pasukannya yang

lain telah terdesak mundur ke arah Bengawan Sore. Sedangkan para prajurit Pajang pun sedang memusatkan perhatiannya kepada lawan-lawannya.

Namun yang menyaksikannya dengan jelas peristiwa itu adalah justru Ki Pemanahan,

Ki Penjawi dan Ki Juru Martani. Mereka melihat dari jarak yang tidak terlalu

dekat, bagaimana ujung tombak Raden Sutawijaya mengenai lambung Arya Penangsang. Mereka pun melihat bagaimana kuda Arya Penangsang itu melonjak dan melemparkannya jatuh ke tanah.

Tetapi Ki Pemanahan dan Ki Penjawi masih harus menahan diri. Mereka masih harus menyaksikan perkembangan keadaan Arya Penangsang dari jarak yang tidak terlalu dekat itu. Ketika mereka siap untuk mendekat, Ki Juru menahannya. Katanya, “Kita tunggu, apa yang akan terjadi kemudian.”

Tidak ada sorak yang mengguruh. Tidak ada teriakan-teriakan kemenangan, karena yang terjadi itu justru diluar lingkungan pertempuran yang dahsyat, dimana

setiap orang harus bertahan mati-matian untuk tetap hidup dan keluar dari pertempuran itu bukan hanya sekadar namanya saja.

Sementara itu, Sutawijaya yang melihat Arya Penangsang, tiba-tiba saja tergerak hatinya untuk melihat keadaannya. Ia pun kemudian meloncat dari kudanya dan melepaskan kuda itu berlari tanpa kendali diikuti oleh kuda Arya Penangsang yang telah terlepas pula dari tangan penunggangnya.

Dengan hati-hati Sutawijaya berjalan mendekati Arya Penangsang yang sedang bergulat dengan maut. Lukanya mengangga dilambungnya, sehingga ternyata bahwa ususnya telah keluar lewat luka itu. Tetapi Arya Penangsang itu tidak gugur

karena ujung tombak Kiai Pleret. Bahkan ia masih sempat menyangkutkan ususnya itu pada wrangka kerisnya.

Ki Juru Martani, Ki Pemanahan dan Ki Penjawi yang melihat keadaan Arya Penangsang itu menjadi saksi, bahwa tombak pusaka terbesar Pajang telah mampu menembus perisai ilmu kebal Arya Penangsang.

Namun mereka masih ragu-ragu apakah yang akan terjadi selanjutnya. Mereka telah mendengar sebelumnya, bahwa tidak ada senjata, bahkan pusaka apapun juga yang akan dapat membunuh Arya Penangsang kecuali kerisnya sendiri, yang dinamainya Kanjeng Kiai Setan Kober.

Dalam keadaan yang demikian, maka Ki Juru, Ki Pemanahan dan Ki Penjawi melihat Raden Sutawijaya melangkah mendekati Arya Penangsang. Karena itu, maka mereka pun menjadi sangat cemas. Bahkan Ki Pemanahan tidak dapat tertahan lagi. Ia pun segera berlari mendekati anaknya, disusul oleh Ki Penjawi dan Ki Juru.

TETAPI agaknya mereka telah terlambat. Raden Sutawijaya yang benar-benar merasa iba melihat keadaan pamannya. Karena itu, dengan nada rendah ia berdesis, “Paman?”

Arya Penangsang yang masih memegangi lukanya serta menyangkutkan ususnya pada wrangka kerisnya, sempat berpaling. Dengan mata yang menyorotkan kemarahan ia memandang Raden Sutawijaya yang berdiri termangu-mangu membawa tombak Kanjeng

Kiai Pleret yang pada ujungnya terdapat titik-titik darah Arya Penangsang. Kemarahan yang sudah membakar jantung Arya Penangsang itu pun bagaikan disiram api. Meskipun lukanya terlalu parah, namun Arya Penangsang itu pun tiba-tiba

telah bangkit berdiri. Dengan satu loncatan panjang maka ia pun dapat menangkap Sutawijaya yang masih berdiri tegak. Anak muda itu sama sekali tidak menyangka bahwa Arya Penangsang masih mampu melakukannya.

Karena itu, maka ia tidak bersiaga dan sama sekali tidak mengangkat tombaknya. Ketika Ki Gede Pemanahan berteriak memperingatkannya maka Sutawijaya sudah tidak mendapat kesempatan untuk bergerak. Ia merasa satu sentuhan yang sangat menyakitkan tangannya, sehingga tombak Kanjeng Kiai Pleret telah terlepas dari genggamannya. Sebelum ia sempat meloncat, maka tangan Arya Penangsang yang kuat telah menekannya, memilin tangannya dan Sutawijaya benar-benar telah

dikuasainya. Sutawijaya berusaha untuk meronta. Betapapun tinggi ilmunya, tetapi ia tidak

dapat melawan kekuatan tangan Arya Penangsang meskipun Arya Penangsang sudah terluka.

Pemanahan berhenti beberapa langkah dihadapan Arya Penangsang. Dengan suara bergetar ia berkata, “Kanjeng Adipati. Anak itu memang bukan lawanmu. Aku, Pemanahan akan berhadapan dengan Arya Penangsang sebagai dua orang yang telah menyadap berbagai macam ilmu dari berbagai perguruan serta mematangkannya dalam diri kita masing-masing.”

“Persetan kau Pemanahan,” geram Arya Penangsang. “Kau pancing aku dengan cara yang licik dan pengecut. Kau lukai pekatikku dan kau buat kudaku menjadi gila, karena anak ini mempergunakan kuda betina.”

“Kita sama-sama telah berbuat licik,” sahut Ki Pemanahan. “Kau kirim

orang-orangmu untuk membunuh Kanjeng Adipati Pajang. Kemudian kau jebak Kanjeng

Adipati pada satu pertemuan yang seharusnya dipergunakan untuk mencari jalan yang lebih baik bagi penyelesaian persoalan Jipang dan Pajang.”

“Gila,” geram Arya Penangsang sambil menggeretakkan giginya. “Semuanya bohong. Aku tidak menjebaknya. Jika perasaan berbicara pada saat itu, kedudukanku dan Adimas Adipati Pajang sama,” Arya Penangsang berhenti sejenak. Ketika Ki

Pemanahan maju selangkah maka Arya Penangsang itu pun berkata, “Jangan mendekat. Anakmu akan lebih cepat mati.”

“Lepaskan anak itu. Kita akan membuat perhitungan,” berkata Ki Pemanahan. “Aku tidak gila,” sahut Arya Penangsang. Kemudian suaranya meninggi, “Anak ini sudah mengoyak perutku. Aku tidak akan melepaskannya. Aku pun akan mengoyak perutnya. Jika ia mampu bertahan untuk hidup, biarlah ia hidup.”

“Jangan anak itu,” minta Ki Pemanahan. “Lakukanlah atasku.”

Ki Juru dan Ki Penjawi yang berdiri dibelakang Ki Pemanahan menjadi

berdebar-debar pula. Namun mereka masih sempat mempergunakan nalar mereka lebih baik dari Ki Pemanahan yang kebingungan melihat keadaan anaknya. Karena itu,

maka baik Ki Juru maupun Ki Penjawi telah memeprsiapkan ilmu mereka pada tataran puncaknya.

“Pemanahan,” berkata Arya Penangsang. “Tombak Kiai Pleret itu memang berhasil menembus ilmu kebalku. Tetapi tombak itu tidak akan dapat membunuhku. Karena itu, maka biarlah aku mengoyak perut anak ini, baru kemudian kita akan menyelesaikan persoalan kita.

Meskipun aku sudah terluka parah, tetapi kau, Penjawi dan Juru Martani itu akan aku bunuh disini bersama-sama.”

Ki Pemanahan tidak dapat menjawab. Tetapi ia tidak ingin anaknya menjadi korban. Karena itu, maka ia pun telah bergerak mendekat.

Namun pada saat yang demikian, Arya Penangsang berteriak, “Jangan maju lagi.” KI PEMANAHAN tertahan sekejap. Tetapi dorongan perasaannya tidak dapat membendungnya. Ia pun telah bergerak lagi mengayunkan kakinya mendekat. pada saat yang demikian itulah Arya Penangsang tidak lagi menahan diri. Sutawijaya yang meronta ditangannya justru telah ditekannya pada tubuhnya. Kemudian satu tangannya telah bergerak dengan cepat menarik kerisnya dari wrangkanya.

Namun ternyata Arya Penangsang telah melupakan ususnya yang disangkutkannya pada wrangka kerisnya. Karena itulah, maka tajam keris Arya Penangsang sendiri yang bernama Kanjeng Kiai Setan Kober itu telah menggores dan memutuskan ususnya.

Arya Penangsang terkejut. Tetapi ia terlambat. Ususnya telah putus karena tajam kerisnya sendiri.

Sesaat Arya Penangsang terhenyak. Wajahnya nampak menahan sakit pada lukanya dan goresan kerisnya sendiri.

Sutawijaya memang merasakan tangan Arya Penangsang menjadi kendor. Dengan sekuat

tenaganya ia meronta, sehingga ia pun telah terlepas dari tangan Arya Penangsang.

Pada saat yang demikian, Ki Juru telah mempergunakan senjatanya yang khusus untuk menyerang Arya Penangsang dari jarak beberapa langkah. Sebuah patrem kecil telah lepas dari tangannya. Bukan saja patrem itu merupakan senjata pusaka yang sangat diandalkannya, namun dorongan ilmu Ki Juru sendiri memang tidak dapat diabaikannya. Ki Juru adalah seorang yang berilmu tinggi, sebagaimana Ki Pemanahan dan Ki Penjawi, meskipun belum selapis dengan Kanjeng Adipati Pajang.

Pada saat yang demikian, pertahanan Arya Penangsang memang sudah menjadi lemah. Karena itu, maka patrem kecil itu pun telah menembus pula ilmu kebalnya mengenai tubuhnya. Tetapi patrem itu tidak menusuk dada, karena pada saat yang demikian Arya Penangsang memang sudah terhuyung dan jatuh ditanah. Sementara itu patrem itu hanya tergores dipundaknya.

Pada saat Arya Penangsang jatuh, maka Ki Juru, Ki Pemanahan dan Ki Penjawi telah berlari mendekat. Mereka telah berusaha untuk meng-angkat kepala Arya Penangsang yang tertelung-kup dan membalikkannya.

Mata Arya Penangsang masih menyala. Na-mun tubuhnya telah menjadi lemah sekali. Dengan suara terputus-putus ia berkata, “Kalian berhasil memperdayai aku. Tetapi jangan menyangka bahwa kalian mampu membunuh aku. Aku memang tidak akan mati oleh pusaka apapun juga kecuali kerisku sendiri. Dan aku telah terjebak melawan

anak itu. Ususku yang tersangkut di wrangka kerisku agaknya telah tergores oleh kerisku sendiri. Itulah sebab kematianku.”

“Kanjeng,” desis Ki Pemanahan. “Maafkan cara yang kami tempuh. Kami sudah tidak dapat menahan kejemuan kami tinggal di pesanggrahan ini. Sementara itu, kami pun tahu, bahwa kami tidak akan dapat menyeberangi Bengawan menyerang Kanjeng Adipati.”

Arya Penangsang termangu-mangu mendengarnya. Namun kemudian katanya, “Dimana anak itu.”

Pemanahan menjadi ragu-ragu. Tetapi Arya Penangsang berkata, “Aku ingin berbicara dengan Sutawijaya. Aku sudah mengaku kalah.”

Ki Jurulah yang kemudian telah memanggil Sutawijaya. Meskipun agak ragu, namun Suta-wijaya telah mendekatinya dengan Kiai Pleret yang telah dipungutnya di

dalam genggamannya.

Dengan sisa tenaganya, Arya Penangsang memberi isyarat agar Sutawijaya itu pun men-dekat.