-->

Suramnya Bayang-Bayang Jilid 32

Jilid 32

“ANAK itu tidak akan kita perlakukan sebagai tawanan,” berkata seorang pemimpin kelompok kepada prajurit-prajuritnya yang bertugas menjaga orang-orang yang terluka, “Ia lebih dekat kita anggap sebagai kawan baru yang akan membantu

kita.” Namun demikian ada juga di antara orang Pajang yang bertanya, “Tetapi bukankah ia berada di medan? Siapa tahu, bahwa dalam pertempuran ia pernah membunuh seorang prajurit Pajang?”

“Pada saat itu ia tidak tahu apa yang dilakukannya,” jawab pemimpin kelompok itu. “Jika kau sempat berbicara dengan anak itu, maka kau akan tahu, bahwa ia adalah korban dari kedunguan dan kelemahan pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikannya.”

Para prajurit Pajang itu mengangguk-angguk. Mereka memang pernah mendengar ceritera tentang kegagalan pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan untuk minta pengukuhan dan wisuda sebagai Kepala Tanah Perdikan. Sebenarnya permohonannya tidak ditolak, tetapi sekadar menunggu persoalan Pajang dan Jipang selesai, sementara itu ia harus menemukan pertanda kekuasaan Tanah Perdikan Sembojan. Sebuah bandul emas yang bertatahkan lukisan burung.

Namun dalam kekecewaan itu datanglah pengaruh tentang Jipang dan janji hari depan yang lebih baik bagi Tanah Perdikan Sembojan. Dan yang lebih parah lagi, bahwa di Tanah Perdikan Sembojan telah ada Warsi, kekuatan yang bersumber dari dendam Kalamerta yang terbunuh oleh Ki Gede Sembojan.

Dalam pada itu, Kiai Soka dan Gandar pun telah berbicara dengan para perwira Pajang, bahwa pada satu saat, anak muda yang mereka pungut dari medan pertempuran itu akan mereka bawa untuk meronda di daerah gawat yang berhadapan dengan padukuhan-padukuhan yang dipergunakan oleh pasukan Jipang. Mereka sengaja

menarik perhatian para petugas sandi Jipang agar mereka melihat, bahwa seorang anak muda Tanah Perdikan ada di antara mereka.

“Jika ia sudah dapat bangkit dan duduk di atas punggung kuda, maka kita akan membawanya,” berkata perwira Pajang itu.

Ternyata para perwira Pajang, Kiai Soka dan Gandar tidak perlu menunggu sampai berhari-hari. Di hari berikutnya anak muda itu sudah mampu bangkit dan berjalan ke pakiwan. Sementara luka-lukanya telah berangsur menjadi sembuh.

“Besok aku sudah dapat berkuda,” berkata anak muda itu.

Kiai Soka mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi apakah kau menyadari sepenuhnya maksud kami memperlakukan kau seperti itu?”

“Aku tahu,” jawab anak muda itu. “Karena itu, aku tidak merasa diperalat. Bahkan aku merasa dengan demikian aku sudah membantu meletakkan pengertian anak-anak muda Tanah Perdikan pada kedudukan yang seharusnya.”

“Bagus,” berkata Kiai Soka. “Mudah-mudahan sikapmu mempunyai pengaruh atas anak-anak muda itu.”

“Jika aku sudah sembuh benar, beri aku kesempatan untuk memasuki barak kawan-kawanku dari Tanah Perdikan,” berkata anak itu.

“Jangan,” sahut Kiai Soka. “Itu tentu akan sangat berbahaya. Mungkin kau dapat dianggap telah lari dari kewajibanmu.” “Aku dapat menyebut seribu macam alasan,” berkata anak muda itu. “Tetapi jika kau berbuat demikian, maka jiwamu

benar-benar akan terancam. Kita tidak tahu tanggapan prajurit Jipang atas kepergianmu,” berkata Kiai Soka.

“Agaknya aku sudah harus mati pada saat aku diketemukan oleh prajurit Pajang.

Hidupku yang sekarang adalah kelebihan saja yang harus aku manfaatkan

sebaik-baiknya, terutama bagi kepentingan Tanah Perdikan. Kesadaran ini bukan tiba-tiba saja tumbuh di dalam hatiku, tetapi sebenarnya aku sudah memikirkannya sejak aku masih harus berada di barak-barak para pengawal yang berpihak kepada Jipang, bahwa pada suatu saat anak-anak muda Tanah Perdikan harus bersikap lain,” jawab anak muda itu.

Kiai Soka menarik nafas dalam-dalam. Namun Gandarlah yang menyahut, “Kita harus memikirkannya masak-masak. Kau tidak sepantasnya dengan sengaja menyurukkan nyawamu ketajamnya pedang para prajurit Jipang. Tetapi mungkin ada jalan lain yang dapat ditempuh. Bahkan mungkin aku dapat mengantarkanmu memasuki

barak-barak para pengawal di Tanah Perdikan itu di malam hari, atau dengan cara lain yang mungkin akan dapat kita ketemukan kemudian.”

Anak muda itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Tetapi yang pasti, besok aku akan dapat ikut berkuda berkeliling daerah perbatasan kekuatan pasukan Pajang dan Jipang.”

Hari itu anak muda Tanah Perdikan itu pun telah beristirahat dan mendapatkan pengobatan sebaik-baiknya, agar besok ia akan dapat ikut serta mengadakan pengamatan keliling di perbatasan itu.

Di hari itu, baik pasukan Pajang maupun pasukan Jipang tidak mengadakan gerakan-gerakan yang berarti. Orang-orang Jipang sibuk dengan usaha mereka menakut-nakuti anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan agar mereka tidak berkhianat. Sementara pasukan Pajang pun sedang beristirahat meskipun kedua belah pihak tidak melepaskan kewaspadaan.

Di hari berikutnya, para petugas sandi Pajang melaporkan bahwa mereka tidak melihat gerakan pasukan Jipang yang mencurigakan, sebagaimana para petugas sandi

Jipang pun memberikan laporan, bahwa Pajang tidak mengambil langkah-langkah yang penting. Karena itulah, maka Pajang pun kemudian telah menentukan untuk mengirim sekelompok kecil pasukan berkuda untuk mengamati medan. Di antara mereka yang ada di dalam kelompok kecil itu adalah justru para perwira terpilih, Kiai Soka, Gandar dan salah seorang pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang ada di antara prajurit Pajang dan yang dianggap hampir pasti oleh Jipang sebagai seorang pengkhianat.

Dengan sengaja para prajurit Pajang yang sekelompok itu memancing perhatian para petugas sandi dari Jipang. Dengan berani mereka melihatasi daerah yang paling rawan di antara kekuatan Pajang dan Jipang. Jalan di bulak panjang di antara

tanah persawahan yang tidak ditanami karena para petani telah pergi mengungsi dari lingkungan ajang perang yang mengerikan itu.

Di tengah-tengah bulak sekelompok kecil pasukan berkuda itu justru berhenti. “Beri kami penjelasan tentang kedudukan pasukan Jipang,” berkata Kiai Soka kepada anak muda itu. “Para perwira Pajang tentu akan sangat berterima kasih tentang keteranganmu itu.”

Anak muda itu termangu-mangu sejenak. Tetapi Kiai Soka sama sekali tidak memaksanya.

Namun agaknya anak muda itu memang tidak berniat untuk menyimpan rahasia.

Karena

itu, maka ia pun telah menceriterakan apa yang diketahuinya tentang pasukan Jipang. Anak muda itu menunjuk beberapa padukuhan yang dipergunakan oleh prajurit-prajurit Jipang dan para pengawal Tanah Perdikan. Ia pun dapat

memberikan keterangan meskipun kurang pasti, jumlah pasukan Jipang dan pengawal Tanah Perdikan yang ada di padukuhan-padukuhan itu.

Para perwira Pajang itu pun mengangguk-angguk. Seorang di antara mereka berkata, “Keterangan ini memang sangat berguna. Kita akan dapat membuat perhitungan yang lebih cermat jika kita berniat untuk mengganggu orang-orang Jipang.”

mohon maaf....terpotong sebagian...

Wajah Warsi bagaikan disentuh bara api. Betapa panasnya. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa atas kakeknya. Kecuali kakeknya sangat diperlukan, maka kakeknya memiliki ilmu yang tidak ada bandingnya. Ki Randukeling yang melihat Warsi menundukkan kepalanya dalam-dalam, betapapun jantungnya bergejolak, kemudian berkata, “Aku akan berada di halaman.”

Sepeninggalan Ki Randukeling terdengar gemeretak gigi Ki Rangga Gupita. Namun perwira Jipang yang ada di ruangan itu berkata, “Sebaiknya kau pertimbangkan pesan itu baik-baik. Ki Randukeling adalah orang yang memiliki ilmu dan pengalaman yang sangat luas.”

Ki Rangga tidak menyahut. Tetapi ia pun kemudian meninggalkan ruang itu pula bersama Warsi.

Diluar, keduanya berhenti sejenak. Terdengar Ki Rangga berkata, “Jika orang menyangka bahwa kita telah berhubungan tidak saja bagi kepentingan perang ini, tetapi lebih condong kepada hubungan pribadi, apa salahnya kita akan melakukannya benar-benar.”

Warsi mengerutkan keningnya. Tetapi ia pun kemudian berkata dengan nada lembut, “Apakah sampai sekarang kita tidak dalam keadaan yang demikian?”

Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam. Sementara Warsi pun berkata, “Aku hanya memerlukan Wiradana sampai wisudanya. Kemudian aku harus menyingkirkannya. Kematiannya akan mewariskan kedudukan itu kepada anakku.”

Ki Rangga pun mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan segalanya akan cepat selesai. Jipang yang meningkatkan kegiatan pasukannya dimana-mana akan semakin cepat menghancurkan pasukan Pajang. Terutama di pesanggrahan itu sendiri.” Sebenarnya kegiatan pasukan Jipang disemua medan telah meningkat. Perintah Ki Patih Mantahun ternyata mendapat tanggapan yang menyala dihati para prajurit Jipang dan pengawal-pengawal yang dikerahkannya dari beberapa Tanah Perdikan dan Kademangan. Hampir semua pasukan Jipang yang tersebar, telah memanfaatkan

anak-anak muda dari Tanah Perdikan dan Kademangan yang berada dibawah pengaruhnya. Bahkan bagi Tanah Perdikan dan Kademangan yang memang berada dibawah perintah Jipang, maka pengerahan tenaga anak-anak muda masih terus dilakukan. Tetapi hal itu tidak dapat dilakukan oleh pasukan Jipang disisi

sebelah Timur Pajang, karena di Tanah Perdikan Sembojan yang berhasil dipengaruhinya itu telah terjadi pergolakan tersendiri.

Usaha Jipang untuk menggetarkan pertahanan Pajang dimana-mana itu nampaknya berpengaruh juga. Keberanian prajurit Jipang yang bergelora memang telah membuat para panglima Pajang di daerah pertempuran yang tersebar menjadi berdebar-debar.

Pasukan Pajang di Pajang sendiri, baik disisi Barat maupun disisi Timur nampaknya tidak banyak mengalami kesulitan.

Bahkan kadang-kadang pasukan Pajang masih sempat melakukan langkah-langkah pertama dalam benturan kekuatan antara keduanya. Namun imbangan kekuatan di medan yang lain sering kali menggelisahkan para perwira Pajang.

Karena itulah, maka Pajang pun telah melakukan hal yang sama dengan prajurit-prajurit Jipang. Mereka berusaha mengerahkan anak-anak muda dari lingkungan mereka. Namun ternyata Jipang telah mengadakan persiapan lebih dahulu. Sebelum segalanya terjadi, beberapa lingkungan anak-anak muda telah

mendapat latihan-latihan yang mapan. Sementara Pajang tidak berbuat demikian, sehingga anak-anak muda yang dibawanya ke medan, bakalnya tidak sebanyak anak-anak muda yang berada di lingkungan prajurit Jipang.

Hal itu disadari oleh para pemimpin Pajang. Baik yang ada di Pajang, maupun yang berada di pesanggrahan ditepi Bengawan Sore. Karena itu, maka Pajang telah dengan sungguh-sungguh memperhatikan perkembangan keadaan.

Dalam satu pertemuan antara Kanjeng Adipati Pajang bersama para panglima pasukannya, maka Kanjeng Adipati itu pun dengan terbuka telah memberikan keterangan tentang keadaan pasukan Pajang.

mohon maaf....terpotong sebagian...

Kanjeng Adipati Pajang yang menganggap bahwa Ki Pemanahan dan Ki Penjawi adalah saudara tuanya itu pun menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah. Tetapi

jangan terlalu lama. Aku tidak akan dapat memenangkan lomba kesabaran itu.” “Seharusnya Kanjeng Adipati memiliki kesabaran yang lebih besar dibandingkan dengan Adipati Jipang,” berkata Ki Penjawi.

“Mungkin aku secara pribadi,” jawab Adipati Pajang. “Tetapi bagaimana dengan keadaan pasukan kita diseluruh medan yang tersebar. Bagaimana kedudukan Pajang sendiri yang dihadapkan kepada pasukan yang kuat disisi Barat dan Timur. Jika semuanya itu masih harus menunggu terlalu lama, maka mungkin Pajang akan mengalami kesulitan.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja putera angkat Adipati Pajang, yang

sebenarnya adalah putera Ki Pemanahan itu pun memotong pembicaraan, “Hamba akan bersedia mengemban perintah apapun juga berhadapan dengan pasukan Arya Penangsang.”

Kanjeng Adipati Pajang mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tersenyum sambil berkata, “Kau masih terlalu muda Sutawijaya. Mungkin beberapa tahun lagi kau akan mampu mengemban tugas-tugas yang tidak kalah beratnya.”

Tetapi anak yang masih terlalu muda itu menyahut, “Tetapi hamba sudah cukup dewasa untuk melawan pamanda Arya Penangsang. Mungkin pamanda Arya Penangsang

memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak dari hamba. Tetapi hamba memiliki kemudaan, tekad dan barangkali kesempatan.”

Kanjeng Adipati Hadiwijaya dari Pajang itu tertawa. Katanya, “Aku senang

mendengar permintaanmu. Dengan demikian maka kau adalah anak yang menunjukkan kebesaran tekad dan keberanianmu. Tetapi masih ada yang harus kau perhatikan.

Kenyataan yang harus kau hadapi.”

Sutawijaya memandang ayahanda angkatnya dengan kecewa. Tetapi ia tidak dapat memaksakan kehendaknya. Bahkan Kanjeng Adipati itu pun kemudian berkata, “Kita harus membuat perhitungan yang cermat sebagaimana kakang Pemanahan dan kakang Penjawi sarankan. Tetapi jangan terlalu lama. Bukan aku tidak bersabar, tetapi tuntutan keadaan memaksa kita bergerak agak cepat.”

Dengan demikian maka Ki Pemanahan dan Ki Penjawi beserta beberapa Senapati yang lain pun meninggalkan penghadapan di pesanggrahan. Mereka memang harus membuat perhitungan yang cermat, tetapi mereka pun harus memperhitungkan keadaan yang berkembang setelah jatuh perintah Ki Patih Mantahun.

Di luar balai penghadapan di pesanggrahan itu, Ki Pemanahan dan Ki Penjawi telah memanggil Raden Sutawijaya. Dengan wajah yang keras Ki Pemanahan bertanya kepada anandanya yang telah diambil angkat oleh Adipati Hadiwijaya, “Kenapa kau berani menyombongkan dirimu, bersedia melawan Arya Penangsang. Meskipun kau belum pernah melihat bagaimana Arya Penangsang turun ke medan tetapi kau tentu pernah mendengarnya.”

“Ya, aku pernah mendengarnya ayah,” jawab Sutawijaya. “Tetapi aku pun bukannya tidak pernah menempa diri. Aku adalah murid Pemanahan dan sekaligus murid Karebet anak dari Tingkir itu.”

“Kau terlalu kanak-kanak untuk mengerti, apa yang sebenarnya sedang kita hadapi sekarang ini,” berkata Ki Penjawi. “Untunglah bahwa Kanjeng Adipati menganggap tawaranmu itu hanya sebagai kelakar yang segera dilupakannya.”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Namun ia berdesis, “Justru aku menyesal bahwa ayahanda Adipati tidak menghiraukan permohonanku.”

“Kau harus mempergunakan nalarmu. Kau menjadi semakin dewasa, sehingga seharusnya kau tahu apa yang baik kaulakukan dan yang mana yang tidak baik,” berkata Ki Pemanahan. “Seandainya Sultan tidak mengasihimu seperti anak kandungnya sendiri, maka ia akan dapat menjadi marah, karena persoalan yang gawat ini kau anggap sekadar sebagai satu arena permainan. Berperang melawan Arya Penangsang tidak sekadar seperti kau bermain sembunyi-sembunyian atau bermain jirak dengan miri.”

“Aku tahu ayah,” jawab Raden Sutawijaya. “Aku memiliki pengetahuan olah kanuragan. Jika aku harus bertempur melawan pamanda Arya Penangsang di atas punggung kuda, maka aku yakin, bahwa aku akan dapat mengimbanginya.”

PEMANAHAN menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku percaya bahwa kau memiliki kemampuan menunggang kuda. Tetapi perang bukan sekadar berpacu dengan kuda atau sekadar keterampilan berkuda.” Sementara itu, selagi Ki Pemanahan dan Ki Penjawi memberikan beberapa petunjuk kepada Raden Sutawijaya, maka saudara seperguruan Ki Pemanahan dan Ki Penjawi yang kebetulan lebih tua dari mereka dalam tataran perguruan dan yang sudah beberapa hari berada di pesanggrahan, telah hadir pula dalam pembicaraan itu. Ketika ia memasuki ruangan, maka dilihatnya Pemanahan dan Penjawi berbicara sungguh-sungguh, sementara Raden Sutawijaya nampak merenungi setiap kata-kata ayah dan pamannya itu.

“Apakah ada persoalan yang sangat penting yang sedang kalian bicarakan,” bertanya Ki Juru Martani, saudara seperguruan Ki Pemanahan dan Ki Penjawi.

Ki Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Setelah mempersilakan Ki Juru duduk, maka Ki Pemanahan pun telah menceriterakan sikap Raden Sutawijaya dihadapan ayahanda angkatnya.

“Bukankah itu satu sikap deksura?” bertanya Ki Pemanahan.

Ki Juru tersenyum. Katanya, “Anak-anak muda kadang-kadang memang kurang memikirkan tingkah lakunya. Tetapi biarlah Sutawijaya merenungi kata-katanya.

Nah, beristirahatlah. Mungkin sambil berbaring kau akan mengetahui, kenapa ayah dan pamanmu Penjawi bahkan Kanjeng Adipati pun berkeberatan, meskipun mungkin kau akan mendapat tugas yang berat pula dikesempatan lain.”

Raden Sutawijaya termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian meninggalkan pertemuan itu. Dengan wajah muram Raden Sutawijaya telah pergi ke kandang kudanya mengamati seekor kudanya yang paling disukainya. Besar dan tegar. Namun nampak pada sorot matanya bahwa ia menjadi sangat kecewa bahwa permohonannya sama sekali tidak dipertimbangkan. Bahkan seakan-akan hanya sekadar kelakuan yang tidak berarti.

Namun dalam pada itu, ternyata Ki Juru mempunyai tanggapan yang lain. Bahkan dengan senyum di bibir, Ki Juru berkata, “Kau harus memanfaatkan keberanian anak laki-lakimu dalam keadaan seperti ini. Arya Penangsang memang seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Jarang sekali ada orang yang dapat mengimbangi kemampuannya. Kulitnya bagaikan menjadi kebal segala macam senjata. Bahkan menurut keterangan yang aku dengar, Arya Penangsang tidak akan dapat mati jika tubuhnya tidak tergores oleh pusakanya sendiri. Kiai Setan Kober, kerisnya yang nggegirisi itu.”

“Apalagi jika hal itu benar,” berkata Ki Pemanahan. “Apa daya Sutawijaya. Bukankah lebih baik aku atau adi Penjawi yang harus turun ke medan perang. Kami, orang-orang tua ini agaknya telah mempunyai bekal yang cukup, betapapun tingginya ilmu yang ada di dalam diri Arya Penangsang. Kami masing-masing telah cukup lama mengabdikan diri di dalam lingkungan keprajuritan, sehingga

pengalaman kami pun agaknya sudah cukup luas untuk menghadapi Arya Penangsang.” Ki Juru Martani mengangguk-angguk. Senyumnya masih nampak di bibirnya. Katanya, “Aku percaya. Aku pun percaya bahwa kalian tidak akan gentar menghadapi Arya Penangsang, bahkan dalam perang tanding sekalipun. Tetapi dalam persoalan ini,

kita harus meyakinkan diri, bahwa kalian akan dapat menyelesaikan persoalan.” “Masalah yang sebenarnya terletak pada Bengawan Sore. Tidak pada kemampuan perseorangan. Arya Penangsang sendiri meskipun ia berilmu tinggi, namun satu dua orang Pajang akan dapat menghadapinya. Bahkan aku yakin bahwa dalam keadaan yang memaksa kedua Adipati Pajang dan Jipang berhadapan langsung, maka Adipati Pajang akan dapat memenangkannya. Namun bagaimanapun juga, keadaan pasukan dari kedua belah pihak akan menentukan. Siapa yang berani menyeberangi Bengawan Sore, maka pasukannya akan hancur di tengah-tengah Bengawan.”

Ki Juru Martani mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Marilah kita pikirkan dengan tenang dan bersungguh-sungguh. Kita akan dapat membicarakannya tidak hanya pada hari ini. Mungkin malam nanti kita akan dapat menemukan satu cara yang paling baik. Tetapi berilah kesempatan aku berbicara dengan anakku Raden Sutawijaya. Mungkin aku dapat membantu memecahkan persoalan ini.”

mohon maaf....terpotong lagi...memang dari sono-nya begitu...

“JANGAN membual,” bentak Ki Rangga. “Semula tidak ada orang yang tahu bahwa kau dibawa oleh orang-orang Pajang. Kami hanya dapat menduga demikian. Tidak ada orang yang melihat kau dibawa oleh orang-orang Pajang itu. Karena itu, maka kami dapat saja menduga bahwa kau memang ingin berkhianat dengan menyeberang kepada orang-orang Pajang.”

“Ki Rangga,” anak muda itu memotong pembicaraan. Dengan serta merta ia berusaha untuk bangkit dari pembaringannya. Namun iapun kemudian menyeringai menahan sakit. Dengan lemahnya ia kembali berbaring.

Pemimpin kelompoknyalah yang kemudian mendekatinya sambil berdesis, “Jangan bangkit. Kau harus masih banyak beristirahat. Kau tidak boleh terlalu letih dan terlalu banyak berbicara, apalagi berpikir.”

Tetapi Ki Rangga memotong, “Untuk kepentingan keprajuritan, sepantasnya ia menjawab semua pertanyaan. Ia harus lebih banyak berusaha memberikan arti dari hidupnya bagi perjuangan. Jangan terlalu mementingkan diri sendiri.”

“Aku berharap bahwa ia segera dapat sembuh,” berkata pemimpin kelompoknya. “Keterangan yang diketahuinya akan dapat diberikan kemudian, apabila keadaannya sudah menjadi lebih baik.”

“Sementara itu barak kita sudah digulung oleh para prajurit Pajang,” jawab Ki Rangga.

Dalam pada itu, Ki Wiradana berusaha untuk menengahinya. Dengan nada berat ia bertanya kepada anak muda yang terluka itu, “Apakah kau sudah memberikan terlalu banyak keterangan kepada orang-orang Pajang?”

Anak muda itu menggeleng. Katanya, “Aku mencoba bertahan. Karena itu keadaanku menjadi seperti ini.”

“Kau sudah dibawa oleh para prajurit Pajang keperbatasan. Dan kau agaknya telah menunjuk beberapa kelemahan dari pertahanan kita disini,” desak Ki Rangga. “Aku belum gila,” jawab anak itu. “Aku dapat mengatakan yang bukan sebenarnya. Jika aku tidak mengatakan sesuatu, mungkin aku sudah mati.”

“Sudahlah,” berkata pemimpin kelompok itu ketika ia melihat wajah anak itu menjadi tegang, “Kau berhak untuk beristirahat.”

“Hak apa?” Warsilah yang bertanya, “Siapakah yang memberikan hak itu kepadanya?”

“Aku,” jawab pemimpin kelompok itu. “Dasarnya adalah perikemanusiaan.”

“Gila kau,” geram Ki Rangga. “Kau berani menyombongkan dirimu seperti itu? Kau kira kau ini siapa he?” Anak muda yang menjadi pemimpin kelompok itumenjadi berdebar-debar. Apalagi ketika Ki Rangga itu berkata, “Apakah kau menganggap bahwa pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikanmu akan dapat melindungimu?”

Anak muda itu termangu-mangu. Namun yang menjawab adalah Ki Randukeling, “Tidak. Ki Wiradana tidak akan dapat melindunginya. Lalu apa yang akan kau lakukan?”

Wajah Ki Rangga menegang. Sementara itu Warsilah yang berkata, “Kita harus membenahi diri. Kita harus memperbaharui pengertian kita tentang hak dan kewajiban kita masing-masing. Anak itu telah kehilangan kesetiaannya kepada hak dan kewajibannya, apalagi ia adalah seorang pemimpin kelompok.”

YANG menjawab adalah Ki Randukeling. “Aku sependapat dengan Warsi. Kita harus kembali kepada hak dan kewajiban kita masing-masing. Nah, apakah kata kalian dengan sikap kalian?”

Wajah-wajah pun menjadi semakin tegang. Namun Ki Randukeling pun kemudian berkata, “Baiklah. Beristirahatlah. Namun kami masih ingin sedikit mendengarkan darimu. Jika ada yang kau anggap penting untuk segera kami ketahui. Katakanlah.”

Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Aku tidak dapat mengetahui sesuatu yang ada di dalam barak mereka dan apalagi rencana mereka. Yang dapat aku lihat adalah kesibukan mereka yang luar biasa. Aku tidak tahu, apakah arti dari kesibukan itu, karena aku pun sibuk mengalami tekanan yang hampir tidak tertahankan. Untunglah aku masih mampu membendung semua keterangan di mulutku betapapun aku menderita.”

Ki Randukeling mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Baiklah. Kau wajar sekali jika tidak mengetahui sesuatu dari rencana mereka. Tetapi bagaimana kau dapat melepaskan diri?”

Anak itu mengerutkan keningnya. Sementara itu Ki Randukelingpun tersenyum sambil berkata, “Baiklah. Jika kau masih ingin beristirahat, beristirahatlah. Tetapi

jika kau teringat sesuatu yang pantas segera kau beritahukan, maka kau harus melaporkannya kepada pemimpin kelompokmu.”

Anak itu mengangguk kecil. Katanya, “Baiklah Ki Randukeling. Aku akan mencoba mengingat- ingat. Ki Randukelingpun kemudian berkisar dari tempatnya dan keluar dari ruang itu tanpa menghiraukan orang lain. Sementara itu Ki Rangga dan Warsipun telah bersiap-siap untuk pergi pula. Namun Ki Rangga masih sempat berkata. “Kalian anak-anak Tanah Perdikan, kalian harus tetap menyadari bahwa kalian merupakan bagian dari pasukan Jipang. Dan aku adalah perwira dari prajurit sandi Jipang”.

Pemimpin kelompok itu memandangi Ki Wiradana yang berdiri tegak. Tetapi Ki Wiradana tidak menyahut sama sekali. Ia hanya memandangi saja. Ki Rangga dan Warsi yang meninggalkan tempat itu.

Ki Wiradana memang masih belum ingin meninggalkan tempat itu. Bahkan iapun kemudian menunggui anak muda yang terluka itu. Kepada pemimpin kelompok ia berkata, “Biarlah anak ini berada di sini untuk seterusnya. Ia memang harus disisihkan dari mereka yang terluka di Banjar. Keadaan anak ini agak khusus”.

“Ya Ki Wiradana, jawab pemimpin kelompok itu, akupun akan meminta kepada petugas yang merawat orang-orang sakit, agar merekalah yang bersedia datang kemari,

khusus untuk merawat anak muda yang terluka secara khusus ini pula”.

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Sementara itu matahari telah naik ke kaki langit. Para petugas di padukuhan itupun telah menjadi sibuk. Bergantian mereka menjaga padukuhan itu dan bergantian pula mereka melakukan pengamanan ke arah kekuatan Jipang yang menghadapi mereka.

Setelah mendapat pengobatan, maka anak muda yang telah menyakiti dirinya sendiri itupun merasa berangsur menjadi baik. Darahnya rasa-rasanya telah mengalir

wajar, meskipun karena sebagian dari darahnya telah mengalir melalui luka, maka tubuhnyapun terasa masih terlalu lemah.

Ia sadar, bahwa pada saatnya ia akan menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang lebih mendalam. Karena itu, selama ia masih sempat, maka ia pun telah menganyam angan-angan. Ia harus menemukan satu urut-urutan peristiwa yang dikarangnya, namun harus menjadi satu kenyataan di dalam dirinya sehingga ia tidak akan salah jawab apabila ia menerima berbagai macam pertanyaan.

Ketika matahari lewat puncak langit, serta setelah ia mendapat ransum makan siang, yang diperhitungkannya itu pun terjadilah. Yang kemudian datang kepadanya bukan hanya Ki Rangga, Warsi dan Ki Randukeling, tetapi ada di antara mereka para perwira dari prajurit Jipang. Sementara itu Ki Wiradana masih tetap berada

di rumah itu.

Namun anak muda itu telah siap. Ia telah menempatkan dirinya pengalaman yang sangat pahit ketika ia berada di tangan para prajurit Pajang.

Karena itu, ketika orang-orang yang datang itu mengajukan berbagai pertanyaan, maka jawabannya pun ajeg. Ia tidak terumbang-ambing oleh pertanyaan yang kadang-kadang berputar balik. Ia telah mengatakan apa adanya, sesuai dengan kenyataan yang terjadi di angan-angannya yang disusunnya dengan matang. ‘Aku terluka parah,” ia mulai dengan ceritanya. “Memang ada niat untuk menyingkir dari medan. Tetapi aku tidak mampu lagi. Mungkin orang lain yang

tidak mengalaminya, masih juga menganggap bahwa aku seharusnya dapat menepi dan meloncati dinding padukuhan. Tetapi aku benar-benar tidak dapat bergerak. Mataku berkunang-kunang dan tulang-tulangku bagaikan sudah terlepas dari tubuhku.” Demikian, ceritera yang terjadi di dalam angan-angan itupun telah diuraikan terperinci. Bagaimana ia dibawa oleh para prajurit Pajang atas permintaan

Gandar. Kemudian ia memang mengalami pengobatan. Namun setelah keadaannya berangsur baik, maka mulailah penderitaan yang hampir tidak tertanggungkan.

“Di tangan para perwira keadaannku memang lebih baik. Tetapi di tangan para prajurit, terutama anak-anak muda yang ditariknya dari padukuhan-padukuhan, terlebih-lebih lagi ditangan Gandar, rasa-rasanya aku ingin membunuh diri,” berkata anak muda itu selanjutnya. Ia pun kemudian menceriterakan bagaimana ia berusaha untuk melarikan diri. Karena orang-orang Pajang mengiranya bahwa ia sudah tidak bertenaga sama sekali, maka penjagaan pun menjadi lengah. Ia pun berpura-pura seakan-akan ia tidak mampu lagi menggerakkan jari-jarinya, sehingga orang-orang Pajang mengira bahwa ia tidak akan mungkin dapat berbuat apa-apa lagi. Namun dalam keadaan demikian itulah, maka ia berhasil merayap ke luar melintasi jarak yang cukup panjang bagi seseorang yang dalam keadaan lemah dan memaksa diri memasuki padukuhan itu.

“Aku tidak tahu apa yang kemudian terjadi setelah aku melihat gardu penjagaan bagi kelompokku,” berkata anak muda itu.

“Kau pingsan sebelum kau sempat mencapai gardu itu,” peminpin kelompoknya meneruskan.

Orang-orang yang mendengarkannya mengangguk-angguk. Satu dua di antara mereka masih mengajukan beberapa pertanyaan. Namun jawabnya cukup meyakinkan, sehingga akhirnya seorang perwira telah berkata, “ia memang tidak berniat untuk

berkhianat. Mudah-mudahan yang dialaminya itu dapat menjadi petunjuk bagi siapapun yang ingin mencoba memasuki lingkungan orang-orang Pajang. Mereka akan mengalami perlakuan yang sama. Mereka akan menjadi permainan yang sangat menyakitkan tubuh serta hati.”

Ternyata anak muda itu mampu meyakinkan orang-orang Jipang dan para pemimpin Tanah Perdikannya, sehingga mereka tidak lagi mencurigainya. Namun keyakinan mereka itu harus ditebus dengan penderitaan, karena seluruh tubuhnya terasa menjadi sakit, pedih dan nyeri. Sementara darahnya mengalir dari lukanya, sehingga tubuhnya menjadi lemah sekali.

Pada hari-hari pertama ternyata kebencian kawan-kawannya terhadap orang-orang Pajang dan Gandar menjadi semakin besar. Mereka seakan-akan ikut merasa disakiti lahir dan batinnya. Sekali-kali anak muda itu mendengar kawan-kawannya mengumpat dan bahkan mendendam.

“Jika saja aku dapat menangkap salah seorang diantara mereka,” berkata seorang kawannya.

Anak muda itu sama sekali tidak memberikan tanggapan. Ia masih saja berbaring dengan lemahnya. Sekali-kali terdengar ia berdesis menahan sakit.

Di pasukan yang berseberangan, Kiai Soka dan Gandar masih saja merasa cemas, bahwa anak muda yang telah menyakiti dirinya itu akan mengalami kesulitan.

Bahkan seorang perwira Pajang pun berkata, “Mudah-mudahan anak itu selamat, meskipun ia telah mengorbankan citra prajurit Pajang. Dengan caranya maka akan terdapat kesan, bahwa prajurit Pajang telah memperlakukannya diluar batas perikemanusiaan.”

“Kesan itu tentu akan timbul pada mulanya,” berkata Gandar. “Tetapi jika ia berhasil, maka ia akan dapat mempengaruhi setidak-tidaknya beberapa orang kawannya yang terdekat dan yang paling dipercaya.”

“Kita akan menunggu dua tiga hari. Mungkin ada sesuatu yang terjadi yang dapat ditangkap oleh para petugas sandi atau anak itu telah tenggelam lagi ke dalam dunianya yang lama tanpa menumbuhkan perubahan apapun juga.”

Kiai Soka dan Gandar itu pun mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja Gandar berkata, “Apakah aku dapat mengambil tiga atau empat orang anak-anak muda Tanah Perdikan Kiai?”

mohon maaf....terpotong sedikit aja...

“Kakang,” berkata Ki Penjawi. “Sudahlah. Biarlah aku yang menyatakan diri untuk maju ke medan perang jika sudah kita ketemukan cara untuk mengatasi kesulitan pasukan pada saat menyeberangi Bengawan Sore. Aku akan menghadapi Adipati Jipang apapun yang akan terjadi. Biarlah Kanjeng Adipati Hadiwijaya duduk tenang dipesanggrahan, karena masih ada para Senapatinya yang akan mampu mengatasi kemampuan ilmu Arya Penangsang.” “Aku percaya Adi Penjawi,” jawab KI Juru Martani. “Bahwa kau memiliki keberanian yang cukup untuk menghadapi Arya Penangsang. Tetapi kau masih belum meyakinkan, bahwa kau akan dapat mengalahkannya. Apakah kau mempunyai sejenis pusaka yang akan dapat kau pergunakan untuk menembus ilmu kebal Arya Penangsang? Atau mungkin lambaran ilmu lain yang memiliki kemampuan seperti itu?”

“Kakang. Aku, kakang Pemanahan dan kakang Juru adalah saudara seperguruan

Adipati Pajang. Kita mempunyai kemampuan yang serupa. Aji Tameng Waja dan bahkan Lembu Sekilan,” jawab Ki Penjawi.

Ki Juru Martani tersenyum. Katanya, “Aku percaya. Kita sudah saling mengetahui.

Tetapi kita pun tidak akan dapat ingkar jika kita menyebut tataran kemampuan

kita atas ilmu yang sama. Kemampuan kita mengetrapkan ilmu yang sama-sama kita sadap itu berada pada tataran yang berbeda. Sudah barang tentu, Adipati Hadiwijaya memiliki kemampuan yang tertinggi. Baru kemudian kita berturut-turut.

Namun aku masih belum yakin bahwa dengan ilmu itu kita akan mampu mengimbangi tataran kemampuan Arya Penangsang.”

“Jika demikian, kenapa kakang justru menunjuk Sutawijaya untuk menandingi Arya Penangsang jika kita yang tua-tua ini masih belum meyakinkan,” berkata Ki Pemanahan.

Ki Juru Martani menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Anakmu adalah seorang anak muda yang memiliki ketangkasan berkuda luar biasa. Berbeda dengan ilmu kanuragan, maka tidak seorang pun di antara kita yang akan dapat menyamai ketrampilan naik kuda sebagaimana anakmu itu.

“Sudah aku katakan kakang. Perang berbeda dengan adu ketangkasan naik kuda,” berkata Ki Pemanahan.

“Aku mengerti,” jawab Ki Juru. “Tetapi cobalah menyampaikan hal ini kepada Kanjeng Adipati. Katakan bahwa kau berdualah yang akan mengatur pasukan untuk melawan pasukan Jipang tanpa menyeberangi Bengawan Sore. Kalian berdua merasa cukup kuat untuk menandingi Arya Penangsang, sehingga Kanjeng Adipati tidak perlu menyingsingkan lengan bajunya menghadapi Adipati Pajang itu.”

“Aku mengerti,” berkata Ki Pemanahan. “Jika demikian, kenapa kita berbicara tentang Sutawijaya. Biarlah aku dan Adi Penjawi. Kanjeng Adipati tentu lebih percaya, karena Kanjeng Adipati mengetahui siapa aku dan Adi Penjawi itu.” “Dalam pembicaraan itu, Sutawijaya harus hadir. Biarlah ia memaksa diri untuk ikut ke medan. Sekadar ikut ke medan. Itu saja,” berkata Ki Juru. “Aku tidak mengerti,” desis Ki Pemanahan. “Kakang justru bergurau pada saat kita benar-benar pening menghadapi kebekuan ini, justru karena Bengawan Sore.” “Aku tidak bermain-main. Cobalah kau katakan hal itu kepada Kanjeng Adipati,” berkata Ki Juru. “Segala sesuatunya akan kita atur kemudian. Jika kita menghadapi kesulitan, maka kita akan mengubah cara yang kita tempuh.”

Ki Pemanahan masih belum tahu pasti, apakah yang akan terjadi. Ki Penjawi justru memijit keningnya sambil berkata, “Kakang membuat kami kebingungan.”

“Masih ada beberapa kemungkinan. Kita akan memilih satu di antaranya. Jika

urung, maka kita masih mempunyai kemungkinan-kemungkinan yang lain,” berkata Ki Juru.

Ki Pemanahan dan Ki Penjawi masih saja termangu-mangu. Meskipun mereka pun yakin, bahwa Ki Juru bukannya tidak mempunyai perhitungan atau bahkan bermain-main dengan nyawa anak muda itu.

Dalam pada itu, maka Ki Juru pun berkata, “Cobalah menyampaikannya kepada Kanjeng Adipati bahwa kalian berdua akan memimpin pasukan untuk melawan Arya Penangsang. Kemudian suruhlah anakmu memaksa untuk ikut bersamamu.”

mohon maaf....terpotong sedikit lagi...

“KAMI berdua akan mencoba memecahkannya. Tetapi kami berdua mohon izin untuk mempergunakan segala kekuatan yang ada di pesanggrahan ini,” mohon Ki Pemanahan.

Kanjeng Adipati merenung sejenak. Lalu katanya, “Kenapa hanya kalian berdua, sementara itu aku duduk dengan tenang tanpa berbuat sesuatu di pesanggrahan justru pada saat kalian mempertaruhkan nyawa kalian? Sebaiknya tidak begitu kakang. Kita bertiga akan berada di medan. Jika kakangmas Arya Penangsang ingin berperang tanding, biarlah ia memilih. Kau, kakang Penjawi atau aku. Kita

sama-sama mempunyai bekal dari sebuah perguruan yang sama. Meskipun mungkin dalam perkembangannya kita mempunyai jalur yang berbeda, tetapi pada dasarnya kita mempunyai bekal yang sama. Karena itu, maka kita masing-masing akan dapat menghadapinya dalam perang tanding.”

“Tidak Kanjeng Adipati. Kanjeng Adipati adalah seseorang yang diharapkan untuk dapat menjadi pengikat Tanah ini, agar kebesaran Demak tidak menjadi surut.

Sedangkan kami berdua adalah Senapati yang memang bertugas di medan perang. Karena itu, maka biarlah kami berdua menjalankan tugas kami. Jika kami gagal, segalanya terserah kepada Kanjeng Adipati,” sahut Ki Pemanahan. Kanjeng Adipati merenung sejenak. Namun sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Aku tidak dapat menolaknya, kakang Pemanahan. Tetapi aku minta kakang memperhitungkan segala sesuatunya sebagaimana yang selalu kakang katakan kepadaku. Misalnya tentang Bengawan Sore.”

“Kami akan selalu memperhatikan segalanya yang mungkin mempengaruhi perang yang akan datang Kanjeng,” jawab Ki Pemanahan.

Kanjeng Adipati mengangguk-angguk. Suaranya menjadi datar. “Berhati-hatilah. Kakangmas Arya Penangsang adalah seorang yang memiliki ilmu dan kemampuan yang sangat tinggi.”

Ki Pemanahan mengangguk hormat. Katanya, “Kami berdua sudah mempertimbangkan masak-masak, apa yang mungkin kami lakukan.”

“Baiklah,” berkata Kanjeng Adipati. “Segala sesuatunya terserah kepada Ki Pemanahan. Tetapi setiap langkah, aku minta dihubungi. Beberapa orang penghubung khusus aku minta selalu memberikan gambaran tentang perang yang akan terjadi.

Karena mungkin aku tidak menunggu keadaan menjadi terlambat. Aku dapat saja turun ke medan setiap saat.”

“Kanjeng jangan gelisah,” berkata Ki Pemanahan. “Jika kami berdua sudah tidak ada lagi, terserahlah. Tetapi kami mohon Kanjeng Adipati percaya sepenuhnya kepada kami berdua.”

“Kakang,” berkata Kanjeng Adipati. “Bukan aku tidak percaya. Tetapi banyak kemungkinan dapat terjadi. Jika aku anggap perlu untuk turun ke medan, maka tidak seorang pun yang dapat mencegah aku. Apalagi jika keadaan prajurit Pajang menjadi parah menghadapi prajurit Jipang, maka kehadiranku akan sangat berpengaruh. Karena jika aku turun ke medan berarti bukan aku sendiri. Tetapi pasukan pengawal khusus itu pun akan beserta aku pula memasuki medan pertempuran.”

Ki Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Memang tidak ada seorang pun yang berhak mencegah jika hal itu memang sudah dikehendaki oleh Kanjeng Sultan. Namun Ki Pemanahan masih berharap bahwa dengan rencana yang akan disusun bersama Ki Juru, ia dan Ki Penjawi akan dapat menyelesaikan persoalan antara Pajang dan Jipang.

Namun dalam pada itu, sebagaimana dipesankan kepada Sutawijaya yang bergelar Ngabei Loring Pasar sebelumnya, maka tiba-tiba saja ia pun berkata, “Ampun ayahanda Adipati. Hamba mohon, agar hamba diperkenankan ikut dalam pertempuran itu bersama ayah Pemanahan dan paman Penjawi.” Adipati Pajang mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tersenyum sambil berkata, “Jangan nakal Sutawijaya. Kau tinggal bersamaku di pesanggrahan. Besok, jika datang waktunya, maka kita akan pergi bersama-sama.”

“Ayahanda, hamba sudah cukup dewasa. Hamba sudah waktunya untuk turun ke medan. Apalagi akan berada di medan pula ayah Pemanahan dan paman Penjawi,” desak Sutawijaya.

“Tunggulah jika saat itu datang,” jawab Adipati Hadiwijaya. mohon maaf....terpotong lagi...

“KEMARILAH Sutawijaya,” panggil Kanjeng Adipati. Sutawijaya itu pun kemudian mendekat sambili berjalan jongkok. Dengan nada yang penuh dengan ucapan terima kasih, Sutawijaya menerima pusaka yang sangat berharga baginya itu, apalagi jika

ia kelak memasuki medan perang melawan pasukan Jipang.

Hampir tidak dapat keluar dari kerongkongannya ketika ia kemudian mengucapkan, “Terima kasih ayahanda.”

Kanjeng Adipati menepuk pundaknya sambil berkata, “Berhati-hatilah. Tombak ini adalah tombak pusaka terbesar yang aku miliki. Pergunakanlah sebagaimana anggapanmu atas dirimu sendiri, bahwa kau telah dewasa. Seorang yang dewasa akan memilih keadaan yang paling tepat untuk mempergunakan sebuah pusaka besar sebagaimana Kanjeng Kiai Pleret. Kau tidak dapat mempergunakannya untuk sekadar bersombong diri, apalagi untuk kepentingan yang bertentangan dengan watak seorang kesatria.”

“Hamba ayahanda,” jawab Sutawijaya. Sebenarnya masih banyak yang ingin dikatakannya. Tetapi kata-katanya seakan-akan telah tersangkut dikerongkongan. Demikianlah, maka sejenak kemudian Ki Pemanahan, Ki Penjawi dan Sutawijaya sekali lagi mohon diri meninggalkan penghadapan di pesanggrahan itu. Dengan restu Kanjeng Adipati mereka harus mempersiapkan diri, membuka medan yang menentukan menghadapi pasukan Jipang di seberang Bengawan Sore.

Ketika mereka sampai di pondok dilingkungan pesanggrahan, maka mereka pun segera ditemui oleh Ki Juru Martani.

Dengan singkat Ki Pemanahan telah menceriterakan apa yang terjadi pada saat mereka menghadap Kanjeng Adipati.

“Angger Sutawijaya telah diperkenankan untuk ikut ke medan. Nah, apa yang harus kami lakukan bagi langkah berikutnya?” bertanya Ki Pemanahan.

Ki Juru mengerutkan keningnya. Dengan nada dalam ia bertanya, “Apakah Kanjeng Adipati tidak berpesan apapun kepada Sutawijaya ketika Kanjeng mengijinkannya pergi bersamamu, adi?”

“Ya. Kanjeng Adipati telah berpesan serta memberikan petunjuk-petunjuk kepada angger Sutawijaya,” jawab Ki Pemanahan.

“Dimana Sutawijaya sekarang?” bertanya Ki Juru.

“Anak itu berada di dalam bilikku. Ia sedang mempersiapkan dirinya lahir dan batinnya,” jawab Ki Pemanahan.

Ki Juru mengangguk-angguk. Namun ia pun bertanya, “Apakah Kanjeng Adipati tidak memberikan lebih dari pesan dan nasihat-nasihat?”

Ki Pemanahan dan Ki Penjawi mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba Ki Pemanahan berkata sambil mengangguk-angguk, “Aku baru mengerti kakang. Apakah kau menyadari adi Penjawi?”

Ki Penjawi pun mengangguk-angguk pula. Jawabnya, “Ya. Ternyata kakang Juru Martani mempunyai perhitungan yang jauh. Jadi kakang Juru sudah melihat kemungkinan bahwa Kanjeng Adipati akan memberikan Kanjeng Kiai Pleret kepada angger Sutawijaya?”

Ki Juru Martani tersenyum. Katanya, “Pada langkah pertama perhitunganku tepat. Tanpa angger Sutawijaya, Kanjeng Adipati tidak akan memberikan pusaka terbesarnya itu. Sementara itu, setiap orang mengetahui, bahwa Arya Penangsang adalah orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Tanpa pusaka bernilai tinggi pula, maka tidak seorang pun akan mampu mengalahkannya.”

“Baiklah kakang,” berkata Ki Pemanahan. “Tetapi apakah mungkin aku atau adi Penjawilah yang kemudian membawa tombak pusaka terbesar itu di medan. Jika demikian, apabila terjadi sesuatu dengan Sutawijaya, alangkah murkanya Kanjeng Adipati, justru karena pusaka yang diberikan kepada anak angkatnya itu berada ditangan orang lain.”

“Jangan kau minta pusaka itu,” jawab Ki Juru. “Jugan jangan adi Penjawi. Biarkan Sutawijaya sendiri yang membawanya ke medan. Karena seperti yang kau katakan, jika terjadi sesuatu dengan anak itu sementara pusaka itu berada ditangan orang lain, maka orang yang membawa pusaka itu tentu akan digantungnya.”

“Jadi menurut kakang, Sutawijaya benar-benar harus menghadapi Kanjeng Adipati Jipang?” bertanya Ki Pemanahan.

Ki Juru menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya dengan nada dalam, “Agaknya yang terjadi harus demikian.” “Kakang tidak bergurau?” bertanya Ki Penjawi. Ki Juru termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah, segala sesuatunya kita rencanakan dengan cermat. Kita akan membicarakannya jika kalian setuju. Jika tidak kita akan mencari upaya lain.”

Ki Pemanahan dan Ki Penjawi saling berpandangan sejenak. Sementara itu Ki Juru Martani berkata selanjutnya, “Tetapi satu hal yang perlu diingat. Kalian sudah menyanggupi untuk turun ke medan lebih dahulu sebelum Kanjeng Adipati itu sendiri. Sebagai Panglima yang dipercaya, kalian hanya mempunyai dua pilihan.

Berhasil membunuh Arya Penangsang atau tidak keluar lagi dari medan jika kalian gagal.”

“Kami menyadari,” jawab Ki Pemanahan. “Dalam pertempuran ini, maka taruhannya adalah nyawa kami. Seperti yang kakang katakan. Hanya ada dua pilihan. Membunuh atau dibunuh oleh Arya Penangsang. Kemudian keadaan pasukan yang seimbang akan ditentukan oleh keadaan itu. Jika kami yang dibunuh, maka pasukan Pajang akan dikoyak oleh pasukan Jipang sampai saatnya Kanjeng Adipati sendiri turun ke

medan. Tetapi jika Arya Penangsang terbunuh, maka pasukan Jipanglah yang akan pecah bercerai berai.”

“Jangan lengah,” Ki Juru mengingatkan. “Masih ada Patih Mantahun. Bahkan mungkin pada benturan pertama, yang akan kalian jumpai di medan adalah Patih Mantahun.

Baru kemudian Arya Penangsang akan menyusul.”

“Kami akan menurut saja petunjuk kakang Juru jika mungkin kami lakukan menurut pertimbangan keprajuritan,” berkata Ki Pemanahan kemudian.

“Baiklah,” berkata Ki Juru. “Besok kita akan melihat-lihat tepian Bengawan Sore sekaligus merencanakan, apa yang sebaiknya kita lakukan kemudian.” Demikianlah, sebagaimana dikatakan oleh Ki Juru, dihari berikutnya, mereka bertiga telah berada di tepian Bengawan Sore. Mereka tidak hadir ditepian dengan

sepasukan prajurit yang lengkap untuk siap menyeberangi Bengawan. Tetapi mereka sekadar melihat-lihat, untuk menentukan langkah-langkah yang paling baik menghadapi pasukan Jipang diseberang.

Ki Pemanahan dan Ki Penjawi hanya membawa sekelompok kecil pengawal, sementara para prajurit yang memang bertugas ditepian untuk mengawasi gerak-gerik pasukan Jipang telah menyambut kehadiran mereka.

Untuk beberapa saat mereka bertiga hanya mondar-mandir ditepian. Mereka kadang-kadang berdiri sambil mengamati keadaan diseberang. Dari tempat mereka, ketiga orang itu melihat kesiagaan para pengawas dari Jipang ditepian sebelah. “Kita tidak akan dapat menyeberangi Bengawan ini tanpa diketahui oleh prajurit Jipang ,” berkata Ki Pemanahan.

Ki Juru mengangguk-angguk. Katanya, “Kita harus berusaha memancing mereka untuk menyeberang.”

“Mereka mengerti sebagaimana kita mengerti, bahwa menyeberangi Bengawan mengandung bahaya yang bahkan dapat menentukan,” jawab Ki Pemanahan. Ki Juru pun menyahut, “Aku mengerti.”

KI PEMANAHAN termangu-mangu. Namun ia pun tidak mengatakan sesuatu lagi. Ki Pemanahan dan Ki Penjawi pun kemudian mengikuti saja langkah-langkah Ki Juru Martani. Sekali-kali Ki Juru telah menunjuk ke arah para prajurit Jipang.

Kemudian berjalan lagi hilir mudik. Bahkan kemudian Ki Juru pun telah mengambil batu dan melontarkannya ketengah-tengah Bengawan. “Agaknya tidak terlalu dalam di musim kering begini,” berkata Ki Juru. “Meskipun demikian, aku sependapat

bahwa kita tidak akan menyerang.” Ki Pemanahan dan Ki Penjawi mengangguk-angguk. Kata-kata itu sudah diucapkannya beberapa kali.

Namun dalam pada itu, Ki Juru pun tertegun ketika ia melihat seseorang yang sedang menyabit rumput. Hanya seorang diri, sementara itu, para pekatik dari Pajang agaknya tidak akan menyabit rumput ditempat itu, karena disebelah pesanggrahan terdapat lingkungan yang rumputnya subur dan terdapat disebuah ara-ara yang cukup luas, disambung dengan padang perdu sebelum mencapai tepi

sebuah hutan kecil yang mulai dibuka untuk tanah persawahan. Namun agaknya usaha itu terhenti ketika perang mulai membakar Demak.

“Aku tertarik melihat orang menyabit rumput itu,” berkata Ki Juru. “Tentu bukan seorang petani kebanyakan menilik dari pakaiannya. Keranjangnya pun sebuah keranjang yang lebih baik dari keranjang orang kebanyakan.”

“Apa yang menarik pada orang itu?” bertanya Ki Penjawi.

Ki Juru hanya tersenyum saja. Namun ia pun telah mendekati orang itu dan kemudian bertanya, “Ki Sanak. Untuk apa Ki Sanak menyabit rumput?”

Orang itu berpaling ke arah Ki Juru sambil mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun menjawab, “Sudah tentu untuk memberi makan kuda.”

“O,” Ki Juru mengangguk-angguk. “Jadi kau tidak menyabit rumput untuk seekor kambing misalnya.”

“Untuk memberi makan kambing aku tidak perlu menyabit rumput disini,” jawab orang itu. “Itulah yang ingin aku tanyakan,” berkata Ki Juru. “Kenapa Ki Sanak menyabit rumput disini? Apakah Ki Sanak anak orang Pajang atau orang Jipang?”

“Aku bukan orang Pajang,” jawab orang itu tanpa merasa takut. “Jadi kau orang Jipang?” bertanya Ki Juru.

“Ya. Aku orang Jipang. Aku menyabit rumput khusus bagi kuda Kanjeng Adipati. Hanya rumput ditempat inilah yang sangat digemari oleh kuda yang disebut Gagak Rimang itu,” orang itu justru berbangga.

“Kenapa kau tidak merasa takut, bahwa kau akan ditangkap oleh para prajurit Pajang? Bukankah kau sadari, bahwa Pajang dan Jipang kini sedang berperang?” bertanya Ki Juru

“Aku mengerti,” jawab orang itu. “Tetapi bukankah orang-orang Pajang bukannya pengecut? Jika aku seorang prajruit, mungkin aku akan ditangkap. Tetapi aku

hanya seorang pekatik. Buat apa orang-orang Pajang menangkapku? Selain tidak ada artinya, maka mereka pun tidak akan melakukannya sebagaimana dikatakan oleh para prajurit Jipang, bahwa prajurit Pajang tidak akan merendahkan dirinya menangkap seorang pekatik.”

Ki Juru mengangguk-angguk. Katanya, “Benar Ki Sanak. Kami memang tidak akan mengganggu seorang pekatik. Silakan. Disini rumputnya memang subur dan khusus.” Pekatik itu mengangguk-angguk. Tetapi tangannya sama sekali tidak berhenti menyabit rumput.

Ketika Ki Juru kemudian meninggalkan tempat itu, maka ia pun berdesis, “Nampaknya diseberang sungai tanahnya tidak sesubur di daerah ini, sehingga khusus bagi kuda Arya Penangsang yang bernama Gagak Rimang itu telah dicarikan rumput secara khusus pula.”

“Apa orang itu bukan seorang petugas sandi?” bertanya Ki Pemanahan.

“Memang mungkin. Tetapi dari tempatnya menyabit rumput, ia tidak akan mendapat keterangan apapun juga tentang prajurit Pajang di pesanggrahan,” jawab Ki Juru. “Tetapi ia dapat berhubungan dengan seseorang yang mungkin berhasil menyusupkan dirinya ke dalam lingkungan prajurit Pajang,” jawab Ki Pemanahan.

mohon maaf....terpotong sebagian...

ORANG-ORANG Tanah Perdikan itu tidak lagi merasa terlalu berat dibebani oleh pajak yang tidak mereka ketahui untuk apa. Beberapa orang dengan bersembunyi telah memperkaitkaan pajak pada waktu Ki Wiradana berkuasa, bahwa pajak itu telah dihisap untuk kepentingan pribadi istri Ki Wiradana dan biaya bagi para pengawal yang manja, namun yang ternyata telah menjadi alat untuk memeras dan bahkan kemudian terseret ke dalam pertentangan antara Pajang dan Jipang. Justru berpihak kepada Jipang.

Namun setelah Ki Wiradana dan orang-orang yang mempengaruhinya tersisih dari Tanah Perdikan, maka pajakpun telah diatur dan ditertibkan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Sementara itu, kedudukan para pengawalnya mapan kembali

pada tugas-tugas pengawal yang sebagaimana diatur oleh Ki Gede Sembojan semasa hidupnya. Para Bekel pun telah menyandang kewajiban mereka tanpa dibayangi oleh para pengawal.

Tetapi dalam pada itu, dalam keseluruhan, maka rakyat Sembojan telah berusaha bekerja keras untuk meningkatkan kesejahteraan hidup mereka serta ketertiban di Tanah Perdikannya. Justru pada saat perang antara Pajang dan Jipang semakin berkecamuk, maka rakyat Sembojan pun menjadi semakin meningkatkan kerja mereka, karena pada satu saat perang itu mungkin akan terjadi pula di Tanah Perdikan

mereka, karena mereka pun menduga, bahwa Ki Wiradana dan orang-rang yang mempengaruhinya tentu akan kembali. Sementara itu anak-anak Sembojan sendiri sebagian justru berdiri di pihak Ki Wiradana.

“Bahkan tidak mustahil bahwa Jipang akan ikut campur. Jika Jipang menang, maka kita harus berjuang mati-matian untuk tidak membiarkan Tanah Perdikan ini menjadi landasan serta sumber bahan makan bagi mereka,” berkata Iswari.

“Tetapi tanpa Pajang apabila Pajang kalah, kita bukan apa-apa,” berkata salah seorang Bekel.

“Mungkin Pajang dapat ditaklukkan. Tetapi tentu akan berjuang terus.

Mudah-mudahan kita mendapat teman untuk itu. Aku yakin bahwa mereka akan berhimpun dan tetap mengadakan perlawanan terhadap Jipang.”

“Jika Jipang kalah?” bertanya seorang Bekel yang lain. “Apakah berarti bahwa

kita sudah tidak mempunyai kerja lagi? Kita akan dapat tegak sebagaimana masa Ki Gede dahulu?”

“Tidak Ki Bekel,” jawab Iswari. “Jika Jipang kalah kita pun masih dihadapkan pada satu perjuangan yang berat. Pecahan prajurit Jipang dan kekuatan Kalamerta

akan selalu membayangi kekuasaan di Tanah Perdikan ini. Namun dalam keadaan yang demikian, ada kemungkinan, baru satu kemungkinan, bahwa Pajang akan dapat membantu kita.” Para Bekel di Tanah Perdikan Sembojan itupun mengangguk-angguk. Namun seorang di antara para Bekel itu berkata, “Kita sudah membuat hubungan yang sangat baik

dengan tetangga-tetangga kita. Hubungan yang seakan-akan terputus untuk beberapa saat, pada waktu Ki Wiradana masih berkuasa dibawah bayangan pengaruh istrinya yang muda itu, telah merenggangkan hubungan kita dengan mereka. Kekuasaan yang mendesak semua paugeran telah membuat tetangga-tetangga kita lebih baik membuat jarak karena mereka tidak mau terlibat, kini telah berpaut kembali. Bahkan

anak-anak muda di Kademangan-kademangan itu pun telah bersiap untuk membantu jika terjadi sesuatu dengan kesediaan timbal balik.”

Iswari mengangguk-angguk. Katanya, “Beberapa orang di antara kita telah berada di tengah-tengah mereka untuk memberikan tuntunan dalam olah kanuragan.

Peningkatan kemampuan mereka, akan sangat berarti bagi kita semuanya.”

Para Bekel itu pun mengiakannya. Namun yang terpenting adalah peringatan Iswari kemudian, “Tetapi segala sesuatunya tergantung kepada diri kita sendiri. Sikap mereka mungkin akan dapat berubah. Karena itu, betapa kecilnya kekuatan yang ada di Tanah Perdikan ini harus digalang sebaik-baiknya.”

Sebenarnyalah, bahwa Tanah Perdikan Sembojan tidak pernah sepi dari usaha peningkatan kemampuan bukan saja anak-anak mudanya. Tetapi setiap laki-laki yang masih mampu menggenggam senjata telah ikut serta. Mereka yang memiliki pengalaman menjadi prajurit dan pengawal di masa mudanya, telah mengenakan pakaian mereka kembali serta memberikan tuntunan kepada orang-orang disekitarnya. Sementara anak-anak mudanya telah menempa diri dengan tekun dan bersungguh-sungguh.

DALAM pada itu, Gandar yang membawa sepuluh orang anak muda Tanah Perdikan Sembojan telah mendekati Pajang. Namun seperti yang dikatakan oleh para Senapati di Pajang, bahwa jalan yang ditempuhnya adalah jalan yang berbahaya. Jalan yang berada dibawah pengawasan kedua belah pihak yang sedang berperang di Pajang sebelah Timur. Pada satu saat, pasukan Jipanglah yang lewat meronda, namun pada saat yang lain pasukan Pajanglah yang berada di tempat itu.

Namun Gandar ternyata telah memilih kemungkinan yang paling kecil untuk berjumpa dengan salah satu pihak, agar tidak terjadi benturan. Meskipun ia sudah dibekali dengan istilah-istilah sandi dari pasukan Pajang, tetapi kesalahpahaman mungkin masih dapat terjadi. Apalagi apabila ia bertemu dengan pasukan Jipang.

Meskipun perjalanan mereka menjadi bertambah panjang, tetapi mereka sampai ditujuan tanpa terganggu sama sekali. Dengan utuh mereka telah menggabungkan diri pasukan Pajang disisi sebelah Timur.

Dari perhitungan kekuatan sepuluh orang itu tidak banyak berarti. Tetapi kehadiran mereka akan memberikan pengaruh yang lain dari sekadar imbangan kekuatan.

Sementara itu, anak muda yang pernah dibawa oleh Gandar dan dengan cara yang khusus telah kembali kelingkungannya, mulai dengan sangat hati-hati menceriterakan apa yang sebenarnya terjadi. Semula ia hanya mengatakan kepada saudaranya yang juga berada di lingkungan anak-anak muda Sembojan yang ikut dengan pasukan Jipang.

“Kau gila,” geram saudara laki-lakinya. “Jadi kau benar-benar telah berkhianat sebagaimana disebut-sebut oleh beberapa orang kawan kita.”

“Terserah sebutan apa yang dapat diberikan kepadaku,” jawab anak muda itu. “Tetapi aku ingin menceriterakan apa yang sebenarnya terjadi. Jika kau

menganggap aku berkhianat, maka kau dapat melaporkan aku kepada para pemimpin kita. Tetapi jika kau dapat mengerti keteranganku, sebaiknya kau membantu aku, meskipun dengan sangat berhati-hati dan kemungkinan untuk dianggap sebagai pengkhianat. Tetapi aku tidak berkeberatan jika orang-orang Jipanglah yang menyebut aku berkhianat, karena sebenarnyalah bahwa Sembojan bukan merupakan wilayah kesatuan Jipang pada mulanya dan sebagaimana sekarang ini.”

Saudara laki-lakinya termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Kau lebih baik berdiam diri. Jangan kau sebarkan cerita bohongmu itu.”

“Jangan berpura-pura,” jawab anak muda itu. “Kau sendiri tentu meyakini bahwa aku tidak berbohong. Sementara itu aku telah melihat sendiri, bahwa kekuatan Pajang tidak akan dapat diimbangi oleh pasukan Jipang, terutama di daerah ini.

Pajang kini sedang memberikan latihan-latihan dasar kepada anak-anak muda yang sempat dihimpunnya dari padukuhan-padukuhan. Mereka pada suatu saat akan turun ke arena. Meskipun dasar ilmu mereka belum memadai, tetapi jumlah mereka akan sangat berpengaruh.”

Saudara laki-lakinya menggeram. Dengan nada berat ia berkata, “Kau telah membakar jantungku. Aku tidak tahu apa yang sedang bergejolak di dalam diriku. Lebih baik kau sekarang diam dan tinggalkan aku.”

mohon maaf....terpotong sebagian...

DISEBUAH halaman rumah yang luas, beberapa orang telah terlibat ke dalam satu pertempuran yang seru. Sementara itu, seorang prajurit Jipang telah bertempur dengan seorang prajurit Pajang disebuah kebun yang penuh dengan pepohonan sehingga mereka pun seakan-akan harus berkejaran saling memburu di antara batang-batang pohon itu. Bahkan sesekali senjata-senjata mereka telah mengenai kekayuan, dahan dan ranting-ranting, sehingga daun pun telah berguguran di tanah.

Dua orang yang telah bertempur dengan sengitnya telah terperosok ke kebun salak. Dalam pertempuran yang telah merampas segala pemusatan nalar budi itu, mereka tidak begitu memperhatikan duri-duri yang tajam yang telah menusuki kulit mereka.

Namun akhirnya prajurit Pajang itu pun merasa bahwa duri salak itu telah mengoyak kulitnya, sehingga ia pun berkata, “Tunggu. Berhenti sebentar.” Prajurit Jipang itu pun terkejut. Namun ia pun telah bergeser surut. “Kenapa berhenti?” ia bertanya, “Apakah kau tidak akan menyerah?” “Tidak. Tubuhku tidak terluka oleh senjatamu, tetapi oleh duri salak itu,” berkata prajurit Pajang.

“Lalu apa maumu?” bertanya prajurit Jipang.

“Kita mencari tempat yang lebih baik, agar kita benar-benar dapat menguji kemampuan kita,” berkata prajurit Pajang itu.

Prajurit Jipang itu berpikir sejenak. Namun ia pun telah merasa betapa pedihnya ujung duri pohon salak itu mengenai kulitnya. Sehingga karena itu, maka ia pun kemudian menjawab, “Baik. Kita bergeser ke halaman sebelah.”

“Kita loncati dinding pagar halaman itu,” berkata prajurit Pajang.

Tetapi prajurit Jipang itu menjawab, “Jangan kesebelah dinding itu. Disitu ada parit yang kotor.”

“Kau takut kotor dalam pertempuran seperti ini?” bertanya prajurit Pajang. “Bukan begitu. Tetapi bukankah lebih baik jika kita tidak terperosok ke dalam parit yang kotor?” sahut prajurit Jipang itu.

“Baik. Terserah kepadamu. Kaulah yang memilih tempat,” berkata prajurit Pajang. Prajurit Jipang itu termangu-mangu sejenak. Lalu katanya, “Kita pergi ke halaman depan rumah sebelah.”

“Marilah,” jawab prajurit Pajang. “Tetapi jangan lari.”

“Tidak. Aku kira kau adalah lawan yang sesuai bagiku. Aku tidak akan memilih lawan yang lain,” jawab prajurit Jipang itu. “Kenapa sesuai?” bertanya prajurit Pajang.

“Kau memegang senjatamu dengan tangan kiri,” jawab prajurit Jipang itu. “Lalu kenapa?” bertanya prajurit Pajang itu pula.

“Aku juga,” jawab prajurit Jipang.

Keduanya sempat tersenyum betapapun kecutnya.

Keduanya pun kemudian berjalan bersama-sama menuju ke halaman di depan rumah sebelah. Namun mereka tertegun ketika mereka melihat dua orang sedang bertempur di halaman itu.

“Tempat itu sudah dipakai,” desis prajurit Jipang. “Tempat itu cukup luas,” jawab prajurit Pajang.

“Aku tidak senang dilihat orang lain, apalagi oleh orang Pajang,” jawab prajurit Jipang itu.

“Kenapa?” bertanya prajurit Pajang.

“KAWAN-KAWANKU sering mengejek bahwa aku kidal,” jawab prajurit Jipang itu. “Aku akan membabat lehernya sampai putus jika ada orang mengejekku,” geram prajurit Pajang itu. “Tetapi bukankah aku tidak mengejekmu?” bertanya prajurit Jipang

itu. “Tidak. Kau tidak mengejekku, karena kau juga kidal,” jawab prajurit Pajang itu. Namun tiba-tiba saja ia berkata “Tetapi bukankah kau prajurit Jipang. Aku akan membabat lehermu bukan karena kau mengejekku. Tetapi karena kau prajurit Jipang.”

“O, bagus jika kau mampu. Aku pun berniat untuk menikam dadamu sampai tembus,” geram prajurit Jipang itu.

Keduanya pun tiba-tiba telah bersiap untuk bertempur. Namun prajurit Jipang itu masih bertanya, “Dimana kita bertempur?”

“Disini. Disini tidak ada duri pohon salak,” jawab prajurit Pajang. “Kita akan menentukan siapakah yang akan sempat keluar hidup-hidup dari tempat ini.” “Kita turun ke halaman,” berkata prajurit Pajang. “Jika salah seorang di antara kita mati, maka mayat akan cepat dilihat orang sebelum dikoyak-koyak

anjing-anjing liar.”

“Baiklah. Kaulah yang tadi berkeberatan,” jawab prajurit Jipang.

Keduanya pun kemudian telah meloncati dinding halaman rumah itu. Sekilas kedua orang yang telah bertempur dihalaman itu sempat melihat siapa yang datang. Namun keduanya pun tidak lagi menghiraukannya, karena dua orang yang datang itu adalah prajurit Jipang dan Pajang. Kedua orang itu kemudian telah mempersiapkan diri mereka untuk bertempur. Sejenak mereka mengacukan senjata mereka. Namun sejenak kemudian, mereka telah saling menyerang. Semakin lama semakin seru, sehingga kemudian mereka pun telah berloncatan dengan garangnya.

Sementara itu, ditempat-tempat yang lain pun pertempuran telah menyala dengan sengitnya. Dimana-mana terdengar teriakan-teriakan yang seram, dentang senjata beradu dan sekali-kali terdengar aba-aba atau para pemimpin kelompok yang memberikan peringatan kepada prajurit-prajuritnya yang bertempur dekat dengan mereka.

Di antara para prajurit Jipang itu memang terdapat para pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Ketika Senapati Pajang melihat mereka, maka ia pun segera menghubungi Gandar.

“Bawa anak-anak muda itu kesebelah simpang empat. Aku melihat beberapa orang anak muda Tanah Perdikan Sembojan disana. Tetapi mereka ternyata mempunyai kemampuan seperti prajurit Jipang. Karena itu berhati-hatilah. Sementara itu,

aku tidak melihat orang-orang berilmu tinggi dari Tanah Perdikan Sembojan itu yang hadir dipeperangan ini,” berkata Senapati itu.

Gandar pun mengangguk-angguk sambil berkata, “Bagus. Aku akan pergi kesana.” “Aku pergi bersamamu Gandar,” berkata Kiai Soka. “Tetapi jangan lepas dari kendali. Kita sedang berusaha membujuk mereka untuk menyadari keadaan mereka, bukan untuk menghancurkan mereka.”

Gandar mengerutkan keningnya. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Aku mengerti Kiai.”

“Marilah,” berkata Kiai Soka kemudian.

Gandar pun telah memberikan isyarat kepada anak-anak Tanah Perdikan Sembojan itu untuk mengikutinya. Gandarlah yang berada di paling depan. Kemudian anak-anak Tanah Perdikan Sembojan mengikuti dibelakang diantar oleh beberapa prajurit Pajang. Di paling belakang adalah Kiai Soka yang mengawasi mereka semua,

termasuk Gandar yang kadang-kadang masih saja menuruti perasaannya.

Ketika mereka menelusuri kebun-kebun yang pepat dan halaman-halaman rumah, kadang-kadang mereka pun mendapat serangan-serangan yang tiba-tiba. Tetapi serangan-serangan itu segera dapat dihalaunya. Apalagi mereka masih tetap berada di dalam kelompok yang agak besar.

Sementara itu, para prajurit Jipang justru kadang-kadang telah dikejutkan oleh anak-anak muda Sembojan itu. Mereka tidak ubahnya sebagai anak-anak Sembojan yang ada dilingkungan prajurit Jipang. Tetapi mereka berada di antara

orang-orang Pajang.

SEORANG prajurit Jipang yang sempat menjadi bingung bertanya kepada kawannya, “Siapakah mereka? Apakah mereka anak-anak Sembojan yang menyerah. Aku melihat pertanda kain putih dileher mereka.” “Mereka bukan orang-orang yang menyerah.

Mereka masih memegang senjata,” jawab kawannya. “Aku ragu-ragu menyerang mereka,” berkata yang lain.

“Memang membingungkan,” berkata yang pertama. “Mungkin satu usaha untuk membuat

kita ragu-ragu.”

“Kita akan menunggu, apa yang akan mereka lakukan,” berkata kawannya.

Namun prajurit-prajurit Jipang itu tidak sempat berbincang terlalu lama. Mereka harus segera turun pula ke dalam pertempuran yang semakin sengit. Sementara itu, sekelompok anak-anak Tanah Perdikan Sembojan bersama Gandar dan Kiai Soka menuju

ketempat yang ditunjuk oleh Senapati Pajang yang memimpin pasukan itu. Mereka menyusup di antara pertempuran yang berkobar. Namun mereka seakan-akan tidak menghiraukannya karena mereka mempunyai sasaran tersendiri.

Ketika mereka menjadi semakin dekat, maka Gandar pun memberikan isyarat agar anak-anak muda Tanah Perdikan itu menjadi semakin berhati-hati.

Menurut petunjuk perwira pasukan Pajang, maka jika mereka melintasi kebun yang banyak ditanami pohon sirih, maka mereka akan sampai ke lingkungan pertempuran yang dimaksud. Di antara pasukan Jipang terdapat anak-anak Tanah Perdikan Sembojan.

Dengan penuh kewaspadaan Gandar membawa anak-anak Tanah Perdikan yang berpihak

kepada Pajang itu melintasi kebun sirih itu. Namun sebelum mereka mencapai simpang empat, maka beberapa orang telah melihat mereka dan sekelompok kecil prajurit Jipang telah datang menyerang.

Pertempuran tidak dapat dihindarkan lagi. Namun untuk sesaat orang-orang Jipang itu memang menjadi heran, bahwa mereka berhadapan dengan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan.

Tetapi mereka tidak sempat berpikir terlalu lama. Para pengawal Tanah Perdikan itu telah datang menyerangnya. Namun Gandar dan para prajurit Pajang telah berpesan, bahwa mereka harus bertempur berpasangan.

“Kalian harus mengakui, bahwa kalian seorang demi seorang masih belum memiliki kemampuan yang sama dengan prajurit Jipang maupun Pajang,” berkata Gandar.

Karena itulah, maka mereka pun telah bertempur dalam satu lingkungan dan berpasangan.

Namun kehadiran mereka di medan memang telah menimbulkan semacam teka-teki bagi

prajurit-prajurit Jipang.

“Prajurit Pajang memang licik,” geram salah seorang prajurit Jipang. “Mereka berusaha mengaburkan batas antara kawan dan lawan. Ternyata di antara mereka ada yang berpakaian seperti para pengawal Tanah Perdikan Sembojan.”

Namun ketika seorang pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang berpihak kepada Jipang memasuki lingkungan pertempuran itu, maka pengawal itu pun menjadi sangat terkejut.

Seorang prajurit Jipang mendesaknya dan berkata, “Jangan ragu-ragu. Itu adalah akal licik orang-orang Pajang.”

Tetapi anak muda Tanah Perdikan Sembojan itu menjawab, “Aku mengenal mereka.” “Apakah mereka benar-benar anak muda dari Tanah Perdikan Sembojan?” bertanya prajurit Jipang itu.

“Ya,” jawab anak Tanah Perdikan Sembojan.

Prajurit Jipang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Jika demikian adalah kewajiban kalian untuk menyelesaikan mereka. Mereka tentu sekelompok pengkhianat dari Tanah Perdikanmu.”

Anak muda Sembojan itu menggeram. Namun kemudian katanya di antara gemeretak giginya, “Pengkhianat”

Dengan wajah yang tegang anak muda Sembojan yang berpihak kepada Jipang itu pun menyusup di antara prajurit Jipang dan menyerang sekelompok anak-anak muda Sembojan yang berpihak kepada Pajang.

TERNYATA anak-anak muda Sembojan yang berpihak kepada Pajang itu pun segera dapat mengenalinya. Karena itu, maka seorang di antara anak-anak muda yang berpihak kepada Pajang itu pun telah menyapanya meskipun pedangnya tetap teracu.

“Kau berada disini?” bertanya anak muda yang berpihak kepada Pajang itu. “Kau telah berkhianat,” geram anak muda yang berpihak Jipang. “Kenapa?” bertanya kawannya yang berpihak Pajang.

“Kenapa kau berada di lingkungan prajurit Pajang?” bertanya yang berpihak kepada Jipang itu pula.

“Bukankah Tanah Perdikan Sembojan memang termasuk di dalam lingkungan keluarga Kadipaten Pajang? Renungkan. Siapakah yang telah berkhianat?” anak muda yang berpihak Pjang itu pun ganti bertanya.

“Pimpinan Tanah Perdikan Sembojan telah menentukan untuk berpihak kepada Jipang. Karena itu, maka semua orang Sembojan harus tunduk kepada keputusan itu. Siapa yang menentang adalah pengkhianat,” jawab anak muda yang berpihak kepada Jipang.

“Jika Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan itu sesat karena pengaruh penari jalanan itu, apakah kita semuanya harus sesat pula? Sekarang Tanah Perdikan Sembojan dipimpin oleh Iswari atas nama cucu Ki Gede Sembojan yang memiliki pertanda kekuasaan atas Tanah Perdikan itu. Nah, siapakah yang telah berkhianat?” bertanya anak muda yang berpihak kepada Pajang itu pula.

Pengawal Sembojan yang berpihak kepada Jipang itu termangu-mangu. Namun ia tidak mau berpikir terlalu jauh. Suasana pertempuran itu telah mendesaknya untuk

segera ikut bertempur pula. Karena itu maka katanya, “Aku adalah anak Sembojan. Aku malu mempunyai seorang kawan yang berkhianat. Karena itu, maka kau memang harus dibinasakan agar Tanah Perdikan Sembojan tidak tercemar.”

Tetapi kawannya itu menjawab, “Aku berpendirian lain. Aku tidak ingin membinasakanmu meskipun kau telah berkhianat. Masih ada kesempatan bagimu untuk menempatkan diri ke dalam barisan yang berpanji-panji kebenaran.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Namun sekali lagi ia menghentakkan diri sambil berkata, “Cukup. Sebentar lagi kau akan mati. Dan biarlah aku kelak mempertanggungjawabkannya kepada orang tuamu karena kau berkhianat.”

“Jika kau sebut aku berkhianat, maka orang tuaku pun telah berkhianat pula karena orang tuaku merestui sikapku berpihak kepada Pajang,” jawab anak muda yang berpihak kepada Pajang itu.

Anak muda yang berpihak kepada Jipang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian

ia pun menggeram, “Jika demikian orang tuamupun harus dihukum pula.”

Tetapi anak muda yang berpihak kepada Pajang itu masih menyahut, “Bukan hanya aku dan orang tuaku. Tetapi juga orang-orang tua dari kawan-kawanku dan

orang-orang tua dari kawan-kawan kita yang berpihak kepada Jipang. Sebenarnyalah semua orang yang kini masih tinggal di Tanah Perdikan Sembojan menyadari apakah yang harus mereka lakukan untuk kepentingan Sembojan. Mereka menyadari bahwa yang terjadi dalam waktu yang pendek, selama Tanah Perdikan Sembojan dipimpin oleh Pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang dibayangi oleh penari jalanan itu merupakan masa-masa yang paling buruk di dalam sejarah perkembangan Tanah Perdikan Sembojan. Namun kini semuanya sudah lampau. Iswari memerintah atas nama anaknya yang mendapat restu dari Pajang karena ia telah mendapat pertanda kekuasaan Pajang, sebuah tunggul serta pertanda kekuasaan Tanah Perdikan Sembojan sendiri.”

“Omong kosong,” teriak anak muda yang berpihak kepada Jipang. “Aku tidak mempunyai waktu untuk mendengarkan ceritamu yang palsu itu.”

“Terserah kepadamu,” jawab anak muda yang berpihak kepada Pajang. “Satu ketika kau akan melihat kenyataan itu jika kau masih tetap hidup setelah perang antara Pajang dan Jipang berakhir.

ANAK MUDA yang berpihak kepada Jipang itu telah menghentakkan perasaannya untuk melemparkan segala macam keragu-raguannya. Dengan serta merta ia pun telah meloncat menyerang dengan garangnya.

Namun anak muda yang berpihak kepada Pajang itu benar-benar telah siap. Karena itu, maka ia pun telah meloncat menghindar. Bahkan ketika kemudian terjadi pertempuran di antara keduanya, maka ternyata anak muda yang berpihak kepada

Pajang itu mampu mengimbangi kemampuan anak muda yang berpihak kepada Jipang, karena anak muda yang berpihak kepada Jipang itu bukan termasuk anak muda yang terbaik yang pernah mendapat latihan dari para perwira Jipang yang pertama kali.

Gandar yang melihat pertempuran itu, membiarkannya saja. Setelah ia melihat keseimbangan kemampuan di antara mereka. Bahkan anak muda yang berpihak kepada Pajang, yang telah mendapat tuntunannya secara khusus itu memiliki kelengkapan

tata gerak yang lebih banyak dari kawannya yang berpihak kepada Jipang, sehingga dengan demikan Gandar mengharap, bahwa anak muda yang berpihak kepada Pajang itu

akan dapat mengatasinya. Namun mereka yang harus bertempur melawan para prajurit Jipang memang bertempur

berpasangan. Dengan demikian maka keselamatan mereka akan lebih terjamin. Gandar dan Kiai Soka lebih banyak mengamati pertempuran itu daripada ikut bertempur. Jika sekali-kali mereka diserang, maka mereka pun dengan cepat mengelak dan mendesak lawannya. Kemudian berusaha melepaskan diri dari pertempuran itu, setelah membuat lawannya bingung dan ragu-ragu untuk memburunya.

Dalam pertempuran itu, ternyata anak-anak muda yang berpihak kepada Pajang itu lebih banyak berbicara daripada orang lain. Apalagi mereka yang bertemu dengan anak-anak Sembojan pula yang berpihak kepada Jipang.

Meskipun dalam pertempuran itu, anak-anak yang berpihak kepada Jipang

seakan-akan sama sekali tidak menghiraukannya, tetapi sebagaimana dikatakan oleh Kiai Soka, bahwa hal itu tentu akan direnungkannya kemudian.

Demikianlah, maka pertempuran itu pun semakin lama menjadi semakin seru. Namun ternyata bahwa kemampuan orang-orang Jipang dan orang-orang Pajang tidak terpaut banyak di dalam pengertian kemampuan secara pribadi. Dalam pertempuran di antara lorong-lorong kecil, halaman-halaman dan kebun-kebun, ternyata tidak segera nampak siapakah di antara kedua belah pihak yang terdesak. Mereka saling menyerang, saling mendesak dan saling memburu. Senjata mereka beradu di antara teriakan-teriakan kemarahan dan bentak-bentakan yang garang.

Namun satu hal yang menggelisahkan orang-orang Jipang bahwa jumlah orang-orang Pajang agak lebih banyak. Dengan demikian maka jumlah itu pun terasa semakin lama semakin berpengaruh pula.

Senapati yang memimpin pasukan Jipang itu pun akhirnya menyadari. Sementara itu ia tidak ingin korban berjatuhan semakin banyak di antara prajurit-prajuritnya.

Karena itu, maka Senapati Jipang itu pun telah berbicara dengan beberapa orang perwira pembantunya diberbagai tempat di arena pertempuran itu, sehingga ia pun telah mengambil kesimpulan untuk menarik saja pasukannya.

“Usaha untuk mendapatkan dukungan persediaan bahan makanan dapat dilakukan pada kesempatan lain,” berkata Senapati itu di dalam hatinya. “Namun aku tidak boleh mengorbankan terlalu banyak prajurit-prajurit yang justru semakin dibutuhkan.” Karena itu, maka sejenak kemudian ia pun telah memerintahkan seorang penghubung untuk membunyikan isyarat, menarik pasukan Jipang yang berada di dalam padukuhan itu.

Isyarat itu ternyata telah menimbulkan gerak yang khusus dalam pertempuran itu. Namun ternyata bahwa pasukan Jipang memang memiliki kemampuan yang tinggi dalam

gerak kesatuannya.

Pada waktu singkat, seluruh pasukan pun telah berhasil ditarik dalam satu kesatuan, sehingga ujud pertempuran pun telah berubah. Sementara itu pasukan Jipang itu pun telah menerima aba-aba untuk ditarik ke luar dari padukuhan itu dan dalam kesatuan yang utuh, mereka telah menarik diri.

Untuk beberapa puluh langkah, pasukan Pajang berusaha untuk mengikuti gerak mundur itu. Namun ketika pasukan itu menjadi semakin jauh, Senapati Pajang pun telah mengambil kebijaksanaan untuk tidak mengejarnya lebih lanjut.

PASUKAN Pajang itu pun kemudian telah kembali ke padukuhan untuk mengadakan pengamatan terhadap para prajuritnya. Mereka dengan tekun telah mencari

kawan-kawan mereka yang mungkin terluka atau bahkan gugur dalam pertempuran itu. Setiap kelompok telah dikumpulkan, dihitung dan menyusun laporan. Mereka harus menemukan orang-orang yang tidak sempat berkumpul lagi, karena orang itu tentu mengalami kesulitan.

Di samping mengumpulkan kawan-kawan sendiri, maka para prajurit Pajang harus juga mengumpulkan orang-orang Jipang yang tidak sempat dibawa oleh

kawan-kawannya. Orang Jipang yang terluka parah, maupun yang gugur pula. Meskipun jumlahnya tidak banyak, namun mereka pun harus mendapat perawatan. Bahkan ada di antara mereka yang tidak sempat disingkirkan oleh para prajurit Jipang atau anak-anak muda Sembojan yang berpihak kepada Jipang, adalah

anak-anak muda Sembojan itu sendiri.

Dua orang anak muda Sembojan yang terluka, yang tidak sempat dibawa oleh kawan-kawannya, sehingga mereka telah dirawat oleh para prajurit Pajang. Namun khusus bagi mereka, Gandar telah minta agar anak-anak Sembojan itu biarlah dirawat oleh kawan-kawannya yang juga berasal dari Sembojan.

Meskipun hubungan di antara mereka pada mulanya masih dibatasi oleh sifat permusuhan, namun lambat laun batas itu pun menjadi semakin kabur. Apalagi anak-anak Sembojan yang berpihak kepada Pajang telah banyak mendapat petunjuk-petunjuk untuk apa sebenarnya mereka berada di medan itu.

Ketika pasukan Pajang itu telah kembali ke barak mereka, maka para tawanan pun mulai ditempatkan di tempat yang khusus. Terutama bagi mereka yang masih harus mengalami perawatan. Namun atas permintaan Gandar, maka dua orang anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang terluka dan tertinggal itu pun telah berada di

antara kawan-kawannya yang berpihak kepada Pajang.

“Kalian merawat kami sekadar untuk dapat menghinakan kami?” geram salah seorang di antara kedua orang anak muda Sembojan yang dirawat itu.

“Kalian memang terlalu berprasangka,” jawab seorang kawannya yang berpihak kepada Pajang. “Kedatangan kami sebenarnya untuk memberikan keterangan yang sebenarnya tentang keadaan Tanah Perdikan Sembojan sekarang. Kalian yang sudah terlalu lama berada di lingkungan orang-orang Jipang serta dibawah pengaruh para

pemimpin palsu dari Tanah Perdikan Sembojan tentu menginginkan melihat kenyataan yang ada sekarang.”

“Aku jangan kau bujuk seperti membujuk anak-anak,” berkata anak Sembojan yang terluka itu. “Kalian memang dapat membawa kami dan memperlakukan kami dengan sewenang-wenang. Tetapi itu tidak akan menolong keadaan kalian. Pemberontakan yang terjadi di Tanah Perdikan Sembojan tentu akan dapat dihancurkan. Cepat atau lambat. Para pemberontak yang kini merasa mendapatkan kemenangan, itu hanyalah satu keadaan semu. Para pemberontak memang mampu memperhitungkan keadaan dengan

tepat. Justru pada saat kita menghadapi persoalan besar antara Pajang dan Jipang, maka mereka telah melakukan perebutan kekuasaan di Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi siapa yang menanam akan memetik hasilnya dan siapa yang menggali lubang akan terperosok ke dalamnya.”

ANAK muda Sembojan yang berpihak kepada Pajang itu menarik nafas dalam-dalam. Ternyata pengaruh para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan yang dibayangi oleh pengaruh Warsi itu telah menyusup dalam-dalam di hati anak-anak mudanya yang telah meninggalkan Tanah Perdikannya itu.

Tetapi anak-anak muda yang berpihak kepada Pajang itu tidak menjadi jemu karenanya. Mereka tidak memaksa anak-anak muda yang terpengaruh oleh Jipang itu untuk dengan serta merta mempercayainya. Namun mereka yakin, bahwa

kawan-kawannya itu tentu akan merenungi kata-katanya.

Sementara itu, anak muda Sembojan yang semula berpihak kepada Jipang, namun yang berada di lingkungan prajurit Pajang dan menyusup kembali di antara

kawan-kawannya pun telah menyebarkan satu sikap yang dapat mempengaruhi kawan-kawannya. Tetapi ia harus melakukannya dengan sangat berhati-hati, karena mungkin sekali ia akan terjerat kedalam jaring-jaring pengamatan orang-orang Jipang atau pengikut Warsi yang setia.

Di samping anak muda itu, ternyata anak-anak muda yang bertemu dengan kawan-kawannya yang berpihak kepada Pajang dipertempuran yang terjadi di

padukuhan yang akan menjadi sumber bahan makanan itu pun mulai merenung pula. Mereka mulai menilai apa yang telah terjadi atas dirinya dan atas kawan-kawannya yang lain.

Hilangnya dua orang di antara anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan memang tidak menimbulkan persoalan sebagaimana yang terjadi dahulu, karena kemungkinan bahwa anak muda itu tertinggal di medan lebih banyak, meskipun juga mendapat perhatian dari para pemimpin yang mengaku pemimpin dari Tanah Perdikan Sembojan itu.

“Dalam pertempuran yang rumit, kami tidak sempat mencari dengan teliti, kawan-kawan kami yang terluka dan yang gugur,” berkata Senapati Jipang yang

memimpin penyerbuan itu, “Apalagi mereka hanya berjumlah dua orang. Aku kira tidak akan banyak berpengaruh.”

“Mereka agak berbeda dengan prajurit-prajurit Jipang sendiri,” berkata Ki Rangga Gupita.

“Apakah keluarganya atau pimpinan pengawal itu mempersoalkan mereka?” bertanya Senapati itu. “Biarlah aku mempertanggungjawabkannya. Pertempuran bukan arena bermain kejar-kejaran. Mati adalah akibat yang wajar sekali.”

“Jika mereka tidak mati?” bertanya Ki Rangga Gupita.

“Tertawan pun merupakan hal yang biasa sekali,” jawab Senapati Jipang itu.

“Aku mengerti,” berkata Rangga Gupita. “Tetapi dalam keadaan seperti ini mungkin terjadi hal yang berbeda. Mungkin anak Sembojan itu tidak mati dan tidak tertawan. Tetapi sengaja berkhianat,” berkata Ki Rangga.

“Tidak ada yang berkhianat,” berkata Senapati itu. “Di dalam pasukan Pajang memang ada anak-anak Sembojan. Tetapi mereka memang pengkhianat sejak mereka

memasuki pertempuran. Sementara anak-anak Sembojan yang ada di dalam pasukanku telah berjuang sebagai laki-laki sejati. Para pemimpin kelompok telah menjadi

saksi.”