-->

Suramnya Bayang-Bayang Jilid 31

Jilid 31

Rasa-rasanya badannya menjadi sangat berat untuk turun lagi dan berjalan berkeliling.

Pada saat yang demikian, kawan-kawannya yang berada digardu itu pun telah mulai tertidur pula. Bahkan ada di antara mereka yang justru mulai mendengkur.

“He, siapa tertidur itu?” geram pemimpin kelompok yang bertugas itu.

Tidak ada jawaban. Prajurit yang bertanggung jawab itu berpaling. Tetapi yang dilihatnya sekadar bayangan-bayangan kabur yang tidak jelas. Bahkan kemudian prajurit itu pun telah tersandar dinding gardu pula. Sementara matanya mulai terpejam. Angin malam yang sejuk mengusap wajahnya. Matanya yang terpejam menjadi semakin rapat.

Prajurit yang bertugas memimpin kelompok itu tidak sempat melihat bahwa dua orang diregol itu pun telah tertidur pula. Bahkan prajurit-prajurit yang

bertugas di sudut-sudut belakang dan di long-kangan.

Demikian, maka pesanggrahan itu benar-benar telah menjadi lengang. Yang ada hanyalah tarikan-tarikan nafas yang teratur karena para petugas malam itu sudah tertidur.

Dalam pada itu, pemimpin dari empat orang yang mendapat tugas dari Ki Patih Mantahun telah mencapai puncak ilmunya. Ketika ia kemudian mengangkat wajahnya, maka ia pun berdesis dengan penuh keyakinan, “Ilmuku sudah mencengkam seluruh isi pesanggrahan.”

Kawan-kawannya pun telah mulai bangkit pula dari usaha mereka untuk membantu dengan cara mereka masing-masing. Berarti atau tidak berarti, karena mereka pun yakin, tanpa bantuan mereka, sirep itu pun akan dapat mencengkamnya.

“Marilah,” berkata pemimpin dari keempat orang itu, “Kita memasuki pesanggrahan. Meskipun aku yakin bahwa sirepku telah mempengaruhi seisi pesanggrahan, namun kita harus tetap berhati-hati. Mungkin ada satu dua orang yang terlepas dari pengaruh sirepku.”

“Bagaimana dengan barak-barak lain di luar lingkungan itu?” bertanya seorang di antara keempat orang itu.

“Mereka tidak tahu apa yang terjadi di induk pesanggrahan ini,” jawab pemimpinnya. “Tetapi sekali lagi, kita memang harus berhati-hati. Kita tahu bahwa beberapa puluh tonggak dari tempat ini terdapat juga barak-barak para prajurit Pajang. Bahkan tidak hanya di satu tempat. Tetapi jarak itu cukup memisahkan persoalan yang akan terjadi malam ini di pesanggrahan Adipati Hadiwijaya ini.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak menjawab.

Demikianlah maka mereka berempat pun telah menuju ke tempat yang mereka anggap paling baik. Mereka akan memasuki pesanggrahan Adipati Hadiwijaya itu dari lambung kiri.

Untuk beberapa saat lamanya, keempat orang itu berusaha untuk meyakinkan bahwa di dalam halaman pesanggrahan tidak terdapat lagi para prajurit yang

berjaga-jaga atau berjalan mengelilingi halaman. Mereka memang tidak mendengar sesuatu. Mereka tidak mendengar gemeremang atau langkah yang berdesir. Bahkan mereka tidak mendengar tarikan nafas di balik

dinding halaman itu.

“Aku akan melihatnya,” desis salah seorang dari keempat orang itu.

Pemimpinnya tidak berkeberatan. Dibiarkannya seorang kawannya meloncat dengan sangat hati-hati ke atas dinding.

Orang itu pun kemudian menelungkup melekat dinding halaman itu sambil memperhatikan isi halaman pesanggrahan.

Untuk beberapa saat orang itu berdiam diri. Namun ternyata bahwa ia sama sekali tidak mendengar apapun juga dan tidak melihat sesuatu yang bergerak. Suasana di pesanggrahan itu bagaikan menjadi beku.

Orang itu pun memberikan isyarat kepada kawan-kawannya. Karena itu maka sejenak kemudian, ketiga orang yang lain pun telah berloncatan pula.

Setelah menunggu sejenak diatas dinding, maka hampir berbareng mereka meluncur turun ke dalam lingkungan halaman pesanggrahan itu dan untuk beberapa saat mereka berusaha bersembunyi dibalik perdu.

Namun tiba-tiba seorang di antara mereka berdesis sambil menunjuk ke arah sesuatu.

“Apa?” bertanya kawannya.

Namun akhirnya mereka berempat sempat melihat. Dua orang prajurit yang tertidur nyenyak, terbaring ditanah dibawah bayangan tanaman hias yang tumbuh di halaman samping. Tanaman yang nampaknya kurang terpelihara, karena para prajurit agaknya lebih memperhatikan senjata mereka daripada tanaman hias yang tumbuh di halaman.

“Mari kita lihat,” desis pemimpin kelompok itu.

Dengan hati-hati pula mereka berempat pun berusaha mendekati kedua orang yang tertidur itu. Ketika mereka menyentuh tubuh itu, maka agaknya keduanya tertidur sangat nyenyak.

“Marilah,” berkata pemimpin kelompok, “Kita sudah berhasil membuat mereka dan tentu juga seisi pesanggrahan ini tidur.”

“Kemana kita sekarang?” bertanya salah seorang di antara mereka.

“Jangan membuang waktu,” jawab pemimpinnya. “Kita langsung menuju ke bilik Adipati Hadiwijaya. Kita harus menemukannya dalam keadaan tidur.”

“Ikut aku,” berkata orang yang pernah mengenali isi pesanggrahan itu. Ia sudah mengetahui sebagaimana dikatakan oleh orang-orang yang bekerja didapur, bahwa Adipati Hadiwijaya ada di dalam sebuah barak khusus yang dibangun kemudian.

Bukan berada di dalam rumah induk yang memang sudah ada sebelumnya.

Seperti pada saat mereka masuk, maka dengan hati-hati sekali mereka mendekati barak itu. Dikelokan longkangan mereka menemukan dua lagi prajurit yang tertidur nyenyak. Meskipun demikian, keempat orang itu masih juga berdebar-debar.

Rasa-rasanya mereka akan memasuki sebuah kandang harimau putih yang paling garang, mempunyai kulit yang kebal sebagaimana pernah mereka dengar dalam ceritera-ceritera. Bahkan menurut ceritera Ki Patih Mantahun, bahwa salah satu kekuatan aji Adipati Pajang adalah aji Macan Putih, disamping aji Lembu Sekilan dan Tameng Waja yang diwarisinya dari mertuanya, Kanjeng Sultan Trenggana. Namun keempat orang itu berharap bahwa dalam keadaan tidur, semua aji itu tidak diterapkannya, karena ia merasa bahwa barak itu telah dijaga dengan kuatnya.

Sejenak kemudian, maka keempat orang itu pun telah merayap sejengkal demi sejengkal mendekati pintu. Mereka harus meyakinkan tentang kedua orang prajurit yang tertidur itu.

Demikianlah seorang di antara keempat orang itu pun telah merangkak mendekati kedua orang prajurit yang tidur tersandar dinding. Kedua tombak dari kedua prajurit tersandar pula.

Dengan mendengarkan pernafasannya dan bahkan kemudian meraba tubuhnya, maka orang yang mendekatinya itu pun yakin bahwa keduanya tertidur tanpa mungkin bangun dalam waktu dekat.

Pemimpin kelompok itu pun mengangguk-angguk ketika ia mendapat isyarat dari orang yang sudah berada di depan pintu itu.

Keempat orang itu pun kemudian telah berada didepan pintu pula. Mereka tidak mematikan obor yang terpancang di atas pintu, agar jika masih juga ada orang yang terbangun dan melihat dari kejauhan tidak menjadi curiga karenanya. “Kita akan masuk?” berkata pemimpin kelompok itu.

“Ya. Kita akan masuk,” desis yang lain.

Mereka pun perlahan-lahan mencoba membuka pintu. Ternyata pintu diselerak dari dalam.

“Apakah kita akan memecahkan pintu?” bertanya salah seorang dari keempat orang itu.

“Tidak,” jawab pemimpin kelompok. “Dengan demikian kita akan membuat kisruh. Keretak selarak pintu yang patah mungkin akan dapat membangunkan Adipati Pajang itu sendiri.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Namun seorang di antara mereka bertanya, “Lalu apakah yang akan kita lakukan?”

“Kau dapat berlaku seperti pencuri. Kau masuk ke dalam barak dengan menggali bebatur di bawah dinding,” berkata pemimpinnya.

Kawannya tidak membantah. Ia sadar, bahwa dalam keadaan yang demikian, mereka harus bekerja sama sebaik-baiknya. Waktu mereka tidak terlalu banyak.

Sejenak kemudian, maka seorang di antara mereka telah menggali tanah dibawah dinding bambu sebuah bangunan baru yang ternyata adalah barak kecil yang dipergunakan oleh Adipati Pajang itu sendiri.

Untuk menggali itu memang diperlukan waktu. Tetapi karena hal itu sudah sering dilakukannya pada saat orang itu masih melakukan pencurian dahulu, maka pekerjaan itu termasuk cepat pula selesai. Apalagi tanah memang tidak begitu keras.

Dari lubang itulah maka orang yang menggali itu masuk. Sejenak kemudian, maka selarak pintu pun telah terangkat dan pintu itu sudah terbuka.

“Terima kasih,” berkata pemimpin kelompok. “Mari jangan membuang waktu.” Keempat orang itu pun kemudian memasuki barak kecil itu, sementara pintu pun telah ditutup kembali dari dalam.

Sejenak keempat orang itu termangu-mangu. Mereka berdiri disebuah ruang yang sempit. Sementara itu, mereka menghadapi sebuah pintu lagi yang tertutup.

Seorang di antara keempat orang itu telah meraba pintu yang tertutup itu. Kemudian ia pun berdesis, “Sebuah pintu lereg.”

“Apakah pintu itu juga diselarak?” bertanya pemimpin kelompoknya.

Orang itu meraba pintu itu mencoba untuk mendorongnya, karena pintu itu harus digeser menyamping jika hendak dibuka.

Ternyata pintu itu tidak diselarak. Karena itu, maka dengan sangat hati-hati pintu itu pun telah dibuka. mohon maaf lagi....memang begitu dapatnya...

Keempat orang itu mengangkat wajahnya ketika mereka mendengar suara kentongan di kejauhan. Seorang di antara mereka berbisik, “Kentongan manakah yang berbunyi

itu?”

“Cukup jauh,” jawab pemimpin kelompoknya. “Jangan hiraukan.” Kawannya tidak menjawab lagi. Sementara itu, maka kedua orang yang sudah ditentukan termasuk pemimpin kelompok itu pun telah mendekati pintu. Mereka masing-masing telah menggengam keris telanjang di tangannya, sementara dua orang yang lain akan menjaga di luar pintu. Mereka pun telah menggenggam keris pula di tangan masing-masing.

Pemimpin kelompok itu telah mulai meraba pintu. Dicobanya untuk mendorong ke samping. Namun orang itu menarik nafas dalam-dalam. Pintu itu pun tidak diselarak dari dalam.

Tetapi justru demikian itu, ketika pintu mulai bergerak tangannya pun menjadi gemetar. Karena itu, maka pintu itu pun dilepaskannya sambil menarik nafas dalam-dalam.

Kawan-kawannya hanya termangu-mangu saja memperhatikan pemimpin kelompok yang nampaknya memang menjadi sangat tegang itu. Mereka menyadari apa yang bergejolak di dalam jantungnya, sebagaimana di dalam jantung mereka masing-masing Dalam pada itu, suara bajangkerek rasa-rasanya menjadi semakin keras. Semakin hening suasana malam, maka suara itu menjadi semakin jelas dan bahkan semakin ngelangut. Apalagi bagi mereka yang pernah mendengar ceritera tentang terjadinya bajangkerek itu.

Untuk beberapa saat orang-orang di dalam kelompok itu yang menjadi utusan Ki Patih Mantahun itu bagaikan membeku. Namun pemimpin kelompok itu segera menyadari apa yang terjadi. Karena itu, maka tiba-tiba ia pun berdesis, “Marilah. Tabahkan hati kalian, sebagaimana harus aku lakukan.”

Sekali lagi orang itu memegang daun pintu lereg. Tetapi tangan itu sudah tidak bergetar lagi.

Perlahan-lahan orang itu mendorong pintu ke samping. Ketika celah-celah pintu itu menjadi semakin lebar, maka jantungnya memang bergejolak semakin keras.

Mereka berempat kemudian melihat Adipati Hadiwijaya itu tidur dengan berselimut kain panjang. Justru membelakangi pintu yang sudah terbuka itu.

Untuk beberapa saat lamanya keempat orang itu berusaha menenangkan gejolak jantung mereka. Baru kemudian pemimpin kelompok serta seorang lagi yang ditugaskannya untuk memasuki bilik itu bersamanya mulai melangkah masuk. Perlahan-lahan dan sangat berhati-hati.

Adipati Hadiwijaya itu tidak boleh terbangun dan apalagi sempat membangunkan aji Macan Putihnya atau ajinya yang lain yang dapat membuatnya kebal.

Beberapa langkah dibelakang Adipati Pajang yang membelakangi pintu itu, kedua orang itu berhenti. Mereka pun telah membuat ancang-ancang dan mengeterapkan semua ilmu dan kemampuan yang ada pada mereka. Keris ditangan mereka mulai bergetar. Bahkan seakan-akan keris itu mulai membara. Keris yang seolah-olah merasa sangat kehausan itu pun kemudian telah siap menerkam mangsanya serta menghisap darahnya.

Sejenak kemudian berdiri tegak. Namun sejenak kemudian maka keduanyapun telah meloncat menerkam dengan ujung keris masing-masing.

Suara bajangkrek diluar menjadi semakin keras. Seakan-akan menjerit kesakitan meskipun tikaman keris itu mengenai Adipati Pajang dan sama sekali tidak menyentuh bajangkrek itu.

Namun kedua orang itu menjadi heran dan bahkan kemudian menjadi berdebar-debar dan kebingungan. Ujung keris mereka sama sekali tidak mampu menembus kulit Adipati Pajang itu.

Namun keduanya tidak putus asa. Dengan mengerahkan segenap kekuatan dan tenaga mereka mengulangi lagi, menghujamkan keris di tangan mereka ke tubuh Adipati Pajang yang nampaknya tertidur lelap itu.

Tetapi keris itu pun sama sekali tidak berhasil melukai kulit Adipati Pajang. Bahkan ternyata hiruk pikuk itu justru telah membangunkannya.

Ketika Adipati Pajang menyingkapkan selimutnya dan ujung kain panjangnya mengenai kedua orang yang sedang berusaha membunuhnya itu, maka rasa-rasanya kedua orang itu telah tertimpa setumpuk batu padas yang runtuh dari tebing pegunungan.

Karena itu, maka keduanya telah terlempar dan terbanting jatuh sampai ke depan pintu bilik itu. Kedua kawannya yang berada diluar, ketika mendengar kedua kawannya jatuh terguling dilantai, telah meloncat pula menjenguknya. Namun yang mereka lihat adalah, kedua kawannya itu telah terkapar dilantai. Dengan susah payah keduanya berusaha untuk bangkit berdiri, sementara keduanya justru telah mendorong kawan-kawannya yang datang membantunya itu untuk keluar dari dalam bilik itu.

Kedua kawannya yang sedang menolong itu pun menyadari keadaan ketika mereka melihat Adipati Pajang itu bangkit dari tidurnya dan kemudian duduk dibibir pembaringannya itu.

Karena itu maka dengan tergesa-gesa mereka keluar dari bilik itu dan berusaha untuk berlari ke pintu keluar.

Namun sekali lagi mereka terkejut. Ketika mereka berada di ruang tengah, maka dihadapan mereka telah berdiri dua orang dengan tangan bersilang didada. Hampir di luar sadarnya, salah seorang di antara keempat orang itu berdesis, “Ki Pemanahan dan Ki Penjawi.”

“Kau mengenal aku?” bertanya Ki Pemanahan.

“Ya. Aku mengenal tuan berdua,” suara orang itu mulai gemetar.

Namun pemimpin kelompok kecil itu dengan cepat menguasai diri sambil menggeram, “Jangan mencoba menghalangi kami.”

Tetapi Ki Pemanahan dan Ki Penjawi itu tertawa. Sementara Ki Pemanahan itu pun bertanya, “Apakah kalian berhasil membunuh Kanjeng Adipati?”

Pemimpin kelompok itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian terdengar jawabannya, “Minggir, atau kerisku akan menghisap darah kalian.”

“Jangan keras kepala,” sahut Ki Penjawi. “Kalian telah terkepung. Seandainya kalian lolos dari pintu ini, maka diluar, prajurit Pajang telah siap untuk menghujani kalian dengan ujung senjata.”

“Aku tidak peduli,” jawab orang itu.

“Tenanglah. Lihatlah dibelakangmu. Kanjeng Adipati telah turun dari peraduan. Kalian hampir pingsan terkena ujung kain panjangnya, apalagi jika Kanjeng Adipati dengan sengaja berbuat sesutau atas kalian.”

Wajah keempat orang itu menjadi semakin tegang. Mereka menyadari dengan siapa mereka berhadapan. Ki Pemanahan dan Ki Penjawi adalah dua orang Panglima yang sangat disegani oleh siapapun juga. Mereka memiliki kemampuan yang sangat tinggi pula. Apalagi Kanjeng Adipati Hadiwijaya itu pun telah berada dibelakangnya pula. “Nah,” bertanya Ki Pemanahan. “Apakah kalian masih akan melawan?”

Pemimpin kelompok kecil utusan Ki Patih Mantahun yang akan membunuh Kanjeng Adipati itu pun memandangi wajah kawan-kawannya. Nampaknya wajah-wajah itu telah diwarnai dengan keputusasaan. Apakah yang akan mereka lakukan tidak akan memberikan arti apa-apa. Mereka memang sudah merasakan, ujung kain panjang Adipati Pajang itu telah mendorong mereka sehingga mereka jatuh terbanting

dilantai.

Sementara itu terdengar Adipati Pajang berkata, “Sudahlah. Jangan kau risaukan apa yang telah terjadi. Duduklah. mohon maaf....terpotong sebagian...

Ki Rangga tersenyum. Katanya, “Setelah hari ini lewat, kita akan memperbanyak gelombang serangan-serangan. Kitalah yang akan menentukan, kapan kita bertempur dan kapan kita beristirahat. Kita pula yang akan menghitung berapa orang di satu hari telah kita bunuh di antara prajurit Pajang, sehingga akhirnya prajurit

Pajang itu akan habis sendirinya, dan kita akan menduduki Pajang. Jika terjadi demikian, maka pasukan Pajang di tepi Bengawan Sore akan terkejut dan kehilangan gairahnya untuk bertempur, sehingga Jipang akan dengan mudah menumpas mereka, seperti memijit buah ranti.” Sementara itu Ki Randukeling berkata, “Tugas kita

belum selesai seandainya Pajang pecah. Kita masih harus merebut kembali Tanah Perdikan Sembojan.”

“O,” Ki Rangga tertawa. “Apakah artinya Sembojan? Tidak ada sepenginang Sembojan akan dapat kita selesaikan.”

Ki Randukeling mengerutkan keningnya. Katanya, “Ki Rangga ternyata tidak mempunyai gambaran yang benar tentang Tanah Perdikan Sembojan.” “Ah,” Ki Rangga mengerutkan keningnya. “Bertanyalah kepada Warsi, isteri

pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan atau bertanyalah kepada Ki Wiradana sendiri.”

Ki Randukeling tidak menjawab langsung. Tetapi ia pun kemudian berdesis, “Kita akan melihat, apa yang kelak terjadi jika kalian tidak mau melihat kenyataan.” Warsi pun kemudian menyahut, “Kakek benar-benar telah menjadi orang tua.”

Ki Randukeling memandang Warsi dengan tajamnya. Kemudian katanya, “Jadi buat apa kau libatkan aku ke dalam persoalan ini jika kau anggap aku sudah terlalu tua?”

Wajah Warsi tiba-tiba menjadi tegang. Namun kemudian katanya, “Maafkan aku kakek. Aku tidak bermaksud menyakiti hati kakek. Agaknya aku terlalu percaya kepada kekuatan yang ada pada kita sekarang, sehingga aku terlalu yakin akan dapat berbuat apapun juga atas Tanah Perdikan Sembojan yang sudah tidak mempunyai kekuatan lagi. Apalagi dengan bantuan kekuatan Jipang.” “Kebanggaan diri yang berlebihan akan merugikan diri sendiri,” berkata Ki

Randukeling. “Tetapi sudahlah. Kita akan membicarakannya kemudian. Kita sekarang sedang menunggu kehadiran pasukan Pajang.”

Senapati Jipang yang memimpin prajurit-prajurit Jipang di padukuhan itu pun kemudian berkata, “Persoalan Tanah Perdikan Sembojan adalah persoalan yang kecil dibandingkan dengan persoalan yang kita hadapi sekarang.” “Ya. Tetapi Jipang harus mempunyai landasan di daerah Selatan. Bahkan seandainya Pajang telah diduduki, namun aku tidak yakin jika Pajang menyerah bersama seluruh rakyatnya,” jawab Ki Randukeling. Namun kemudian, “Tetapi sudahlah.

Pasukan Pajang sudah mulai bergerak mendekati padukuhan ini.”

Senapati itu pun kemudian bergeser selangkah mendekati dinding padukuhan. Diamatinya gerak pasukan Pajang dalam gelar yang mendekati padukuhan itu. “Bunyikan isyarat,” perintah Senapati itu.

Sejenak kemudian telah terdengar isyarat kentongan kecil dengan irama dua-dua ganda. Sementara itu, pasukan Pajang dalam gelar telah menjadi semakin dekat. Namun pasukan Pajang saat itu tidak melengkapi gelarnya dengan pertanda-pertanda kebesaran. Tanpa rontek dan umbul-umbul, kecuali tunggul pertanda pasukannya dengan panji-panjinya.

Pasukan Pajang itu pun juga mendengar isyarat yang dibunyikan oleh pasukan Jipang. Tetapi pasukan Pajang itu memang sudah mengira, jika kehadirannya sudah diketahui oleh pasukan Jipang. Karena itu suara isyarat itu tidak

mengejutkannya.

Beberapa saat, pasukan Pajang itu kemudian telah memasang pelindung di baris paling depan. Mereka yang membawa perisai akan berada di barisan pertama. Jipang akan menyambut mereka dengan anak panah dan lembing yang dilontarkan dari balik dinding padukuhan yang tidak begitu tinggi dan dari balik pepohonan dan

rumpun-rumpun bambu.

Ketika pasukan Pajang itu hanya tinggal beberapa langkah saja dari dinding padukuhan, maka terdengar isyarat titir yang memanjang.

Satu isyarat yang menggantikan bunyi bende tiga kali berturut-turut. Isyarat

bahwa pasukan Jipang harus segera mulai menyambut kedatangan pasukan Pajang itu.

Dengan isyarat itu, maka sebagaimana diperhitungkan oleh pasukan Pajang, anak panah dan lembing pun mulai meluncur dari balik dinding dan pepohonan. Karena itu, maka pasukan Pajang itu pun telah berlindung dibalik perisai yang tersusun rapat. Sehingga dengan demikian maka pasukan Pajang itu seakan-akan tidak terhambat sama sekali.

Meskipun demikian, ada juga lembing dan anak panah yang sempat menyusup dibawah perisai dan mengenai kaki prajurit Pajang.

Tiga orang prajurit Pajang yang belum mencapai batas pertempuran harus sudah keluar dari gelar. Mereka segera mendapat perawatan. Ujung anak panah dan lembing telah melukai kaki mereka sehingga seakan-akan mereka tidak lagi mampu melangkah terus.

Tetapi setelah mendapat sedikit pengobatan dan darahpun menjadi pampat, maka mereka telah bangkit sambil berkata, “Aku akan menyusul pasukan itu.” “Tunggu,” sahut yang merawat.

“Biarlah darahmu tidak keluar lagi dari luka. Kalian harus beristirahat barang sejenak. Pertempuran itu tidak akan segera berakhir. Bahkan mungkin akan memerlukan waktu lama sehingga saatnya matahari terbenam.”

Ketiga orang itu tidak memaksa. Tetapi rasa-rasanya mereka tidak sabar menunggu sampai saat yang diperkenankan oleh orang yang mendapat tugas merawat mereka. Dalam pada itu, pasukan Pajang telah mencapai dinding padukuhan. Dengan demikian, maka anak panah pun tidak lagi dapat dipergunakan dengan baik. Karena itu, maka para prajurit Jipang dan anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang membawa busur telah diletakkannya. Mereka telah mencabut pedangnya dan dengan tangkasnya mereka menyambut kedatangan pasukan Pajang.

Sejenak kemudian pertempuran pun berlangsung dengan sengitnya. Pasukan dari kedua belah pihak telah bertempur di batas dinding padukuhan. Pasukan Pajang

memang telah mendapat pesan dari para Senapati dan pemimpin kelompok agar mereka tidak terlalu dalam terlibat ke dalam pertempuran di dalam dinding padukuhan.

Mereka justru harus berusaha memancing orang-orang Jipang untuk keluar dari padukuhan.

Bahkan sesuai dengan rencana, maka gelar pasukan Pajang itu telah bergerak justru surut beberapa langkah. Ketika tunggul pasukannya terangkat dan

panji-panjipun terayun-ayun, terdengar isyarat dari mulut para pemimpin kelompok agar pasukan Pajang itu mundur.

Gerak itu ternyata telah berhasil memancing pasukan Jipang keluar dari dinding padukuhan. Mereka berloncatan menyerang dan berusaha mendesak pasukan Pajang lebih jauh.

Tetapi ternyata beberapa langkah dari dinding padukuhan, Pasukan Pajang itu berhenti. Gerak mundurnya tidak lagi dilanjutkannya. Bahkan pasukan itu seakan-akan telah menemukan tempat untuk bertumpu dengan kuatnya.

Kedua belah pihak pun kemudian telah meningkatkan kemampuan mereka. Namun mereka masih mengekang diri, karena mereka menyadari bahwa pertempuran itu akan berlangsung cukup lama.

Sementara itu beberapa orang perwira Pajang memang sudah berada di dalam kelompok-kelompok kecil. Tetapi mereka belum mulai bergerak karena mereka belum menemukan tekanan yang berat dari Ki Randukeling dan para pemimpin dari Tanah Perdikan Sembojan yang lain, namun yang tidak diakuinya di Sembojan sendiri.

Namun dalam pada itu, ternyata orang-orang dari Tanah Perdikan Sembojan telah menentukan sikapnya yang lain. Ki Randukeling telah berada di dalam satu

kelompok bersama Ki Rangga Gupita, Warsi, ayah Warsi, Ki Wiradana dan orang yang pernah diaku sebagai ayah Warsi itu. Sementara itu, anak-anak muda yang telah memiliki kemampuan sebagaimana seorang prajurit telah bertempur dengan tangkasnya pula.

Ternyata Ki Randukeling dan para pemimpin dari anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang berpihak kepada Jipang itu melakukan sebagaiman dikatakan. Mereka sama sekali tidak mengekang diri lagi. Ketika mereka membentur pasukan Pajang maka mereka pun telah bersiap untuk membunuh.

Kelompok yang terdiri dari raksasa-raksasa di dalam olah kanuragan itu mengikuti gerak maju pasukan Jipang yang terpancing keluar dari padukuhan. Ketika pasukan Pajang mulai memantapkan garis pertempuran, maka Ki Randukeling pun berkata, “Kita akan mulai. Tidak ada lagi keragu-raguan.”

“Ya,” sahut Ki Rangga, “Tidak ada belas kasihan dan pengekangan diri. Tetapi harus berlaku juga bagi Ki Randukeling.”

Ki Randukeling mengangguk-angguk kecil. Namun kebesarannya sebagai seorang pertapa memang telah membuatnya ragu-ragu meskipun ia telah menyatakan tidak ada keragu-raguan. Sebagai seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi, apakah ia

akan membunuh para prajurit kebanyakan yang berlandaskan pada ilmu keprajuritannya tanpa ilmu yang lain.

Namun terdengar Ki Rangga berkata, “Marilah Ki Randukeling. Kita akan berada di medan.”

“Marilah kakek,” Warsi mengajaknya pula. “Seperti yang kakek katakan. Tidak ada keragu-raguan.”

Ki Randukeling mengangguk-angguk. Katanya, “Marilah, mulailah.” “Baiklah,” berkata Ki Rangga. “Aku akan mulai.”

Ki Rangga pun kemudian telah menarik tangan Warsi sambil berkata, “Marilah. Kita merupakan pasangan yang paling menakutkan di medan perang.”

Dengan gerak naluriah Warsi berpaling kepada Ki Wiradana. Bagaimanapun juga, laki-laki itu adalah suaminya. namun ia pun segera meninggalkannya dan memasuki medan bersama Ki Rangga.”

Wiradana termangu-mangu. Namun tiba-tiba sepasang tangan telah mendorongnya sambil berkata, “Marilah. Kau tidak usah sakit hati melihat istrimu berpasangan dengan orang yang memiliki ilmu yang seimbang dengannya di peperangan. Tidak di dalam bilik. Majulah sesuai dengan rencana. Kita akan berada di dalam satu kelompok.”

Ki Wiradana bagaikan terbangun dari mimpinya. Dipandanginya wajah ayah Warsi dengan jantung yang berdenyut semakin cepat.

“Apalagi yang kau pikirkan,” bentak ayah Warsi.

Namun dalam pada itu terdengar suara lain, “Ia adalah pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan.”

Ki Wiradana dan ayah Warsi itu berpaling. Ki Randukeling berdiri tegak sambil memandang ayah Warsi itu dengan tajamnya.

Ayah Warsi itu tidak menjawab. Tetapi iapun kemudian melangkah menyusul Warsi ke medan.

“Marilah,” ajak Ki Randukeling kemudian. “Kita akan melakukan satu permainan yang mengejutkan bagi Pajang.”

Ki Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Jawabannya bagaikan tidak sadar, “Marilah kakek. Aku sudah siap.”

Keduanya pun kemudian telah melangkah pula memasuki medan. Mereka harus berada dalam satu kelompok sebagaimana sudah direncanakan.

Namun dalam pada itu, ternyata Rangga Gupita dan Warsi telah lebih dahulu menyerang para prajurit Pajang. Tetapi seorang pemimpin kelompok yang telah melihat kehadirannya telah memerintahkan seorang penghubung memberikan isyarat bahwa di tempat itu terdapat orang-orang Jipang yang memerlukan perhatian.

Sementara itu, maka sekelompok prajurit telah berusaha membatasi gerak Ki Rangga dan Warsi. Tetapi keduanya teryata benar-benar telah mengamuk seperti serigala yang kelaparan.

Para prajurit Pajang memang mengalami kesulitan. Kedua orang itu ternyata benar-benar memiliki ilmu yang sangat tinggi bagi para prajurit kebanyakan. Karena itulah, maka dalam waktu yang singkat, maka seorang prajurit Pajang telah terluka lengannya. Bahkan sekejap kemudian yang lain pun telah menyeraingai pula menahan pedih di pundaknya.

Namun dalam pada itu, isyarat yang diberikan oleh penghubung itu pun segera ditangkap oleh Senapati yang memerintahkan para perwira yang memiliki landasan ilmu yang lebih baik dari para prajurit untuk mendekati medan yang dianggap berbahaya itu.

“Isyarat itu tidak mengatakan bahwa yang datang adalah Ki Randukeling,” berkata Senapati itu kepada Kiai Soka dan Gandar.

mohon maaf....terpotong sebagian...

“Itu tidak menentukan Ki Sanak,” berkata Kiai Soka. “Kalamerta mampu dikalahkan oleh Ki Gede Sembojan, tetapi anak Ki Gede yang bernama Wiradana itu sama sekali tidak mampu menunjukkan kemampuan ilmu warisan ayahnya. Karena itu, maka ia telah menjadi budak keturunan Kalamerta yang membalas dendam. Semula oleh senyuman, tetapi kemudian benar-benar oleh ilmunya.” Ki Randukeling mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Sekarang apa yang akan kita lakukan?” “Terserah kepada Ki Sanak,” jawab Kiai Soka. “Kita sudah berada dipeperangan,” berkata Ki Randukeling. Kiai Soka mengangguk kecil. Katanya, “Aku siap berbuat apa saja sekarang.”

“Kita akan bertempur. Tetapi aku setuju bahwa semuanya akan ditentukan kemudian di Tanah Perdikan Sembojan,” jawab Ki Randukeling.

Demikianlah, maka keduanya pun telah bersiap. Namun agaknya Ki Rangga Gupita yang melihat Ki Randukeling lebih banyak berbicara itu berteriak, “Marilah Ki Randukeling. Tanpa keragu-raguan dan tanpa belas kasihan.”

Ki Randukeling tidak menjawab. Tetapi teriakan itu mendorong untuk bertempur. Meskipun demikian, maka Ki Randukeling memang tidak berharap untuk dapat membunuh Kiai Soka dan sebaliknya.

Meskipun demikian keduanya memang telah berusaha untuk saling menjajagi. Keduanya mulai melepaskan ilmu-ilmu mereka meskipun tidak sampai ke puncak. Dengan demikian maka keseimbangan pertempuran itu pun memang berubah. Ki Rangga

Gupita tidak lagi mempunyai kawan yang dapat mengimbanginya dalam sebuah kelompok. Meskipun ayah Warsi juga bertempur dengan garang, tetapi tanpa Warsi, Ki Rangga menjadi kecewa.

Meskipun demikian ia benar-benar telah bertempur sebagaimana direncanakan. Tanpa ragu-ragu. Namun kemudian ia lebih suka bertempur sendiri.

Dengan demikian, maka perwira dari Pajang menjadi lebih mudah menghadapinya. Demikian juga menghadapi ayah Warsi, Ki Wiradana dan orang-orang lainnya yang memiliki kelebihan dari prajurit kebanyakan.

Dalam pada itu, pertempuran itu masih berlangsung terus. Ditempat-tempat tertentu, pasukan Pajang masih terus menekan pasukan Jipang, karena pasukan Pajang memang lebih banyak jumlahnya. Sementara itu, para pemimpin dari pasukan

Tanah Perdikan Sembojan seakan-akan telah berkumpul menjadi satu kelompok yang ternyata tidak dapat melakukan rencana mereka, karena kehadiran Kiai Soka dan Gandar.

Namun demikian pasukan Pajang menekan semakin kuat lawannya, maka bantuan dari padukuhan sebelah pun telah datang. Sepasukan prajurit Jipang yang diantaranya

juga terdiri dari anak-anak muda dari Tanah Perdikan Sembojan telah memasuki arena pertempuran.

Tetapi Senapati Pajang yang memimpin gelombang penyerangan itu tidak menjadi cemas. Ia sudah mendapat laporan tentang medan dalam keseluruhan, sehingga dengan demikian maka ia dapat membuat perhitungan-perhitungan tertentu.

Meskipun demikian tetapi kehadiran kekuatan baru pada pasukan Jipang telah memberikan perubahan atas keseluruhan perang gelar itu. Dengan demikian maka para pemimpin kelompok dari para prajurit Pajang harus memberikan aba-aba untuk menentukan imbangan kekuatan dari pasukannya dihadapan para prajurit Jipang.

Dalam pada itu, karena Ki Randukeling dan Warsi telah menemukan lawan masing-masing, maka sebagian dari para perwira Jipang yang dipersiapkan telah

mendapat kesempatan untuk berada ditempat itu. Bahkan mereka pun berusaha untuk menebar dan berada di antara para prajurit.

Ki Rangga Gupita lah yang mengumpat-umpat tidak habis-habisnya. Dengan mengerahkan kemampuan dan ilmunya ia memang berusaha untuk membunuh sebanyak-banyaknya.

Namun tiga orang prajurit terpilih Pajang menghadapinya dengan keberanian yang mengagumkan.

Ketiga orang Prajurit Pajang itu menyadari, bahwa Ki Rangga memiliki ilmu yang mendebarkan. Lewat sentuhan senjata ia mampu mengalirkan ilmunya, merambat dan menyengat telapak tangan lawannya.

mohon maaf....terpotong lagi... “Lihat,” berkata Kiai Soka, “Pertahananmu bergeser mendekati padukuhan. Bukankah hal itu berarti bahwa Jipang terdesak?” Ki Randukeling tidak segera menjawab. Ia memang merasakan bahwa benturan gelar kedua pasukan itu bergeser mendekati padukuhan. Ketika Ki Randukeling menebarkan pandangannya ia berkata, “Apakah kau cukup berjiwa besar untuk memberi kesempatan kepadaku melihat medan?” “Silakan,” berkata Kiai Soka. “Aku tidak akan mengganggumu.” Sebenarnyalah ketika Ki Randukeling menyaksikan medan, maka ia melihat bahwa pasukan Pajang telah berhasil mendesak lagi pasukan Jipang, meskipun pasukan Jipang sudah dibantu

oleh pasukan yang datang dari padukuhan sebelah.

“Namun pasukan Jipang ini belum seluruhnya Kiai,” berkata Ki Randukeling. “Di padukuhan yang lain masih ada pasukan Jipang.”

“Ki Sanak jangan berpura-pura tidak tahu. Bukankah pasukan Pajang juga belum mengerahkan seluruh kekuatannya, hanya untuk sisi sebelah Timur?” bertanya Kiai Soka.

Ki Randukeling menarik nafas dalam-dalam. Namun sebenarnyalah penempatan kekuatan yang tepat telah mengguncang pertahanan pasukan Jipang. Namun yang terjadi itu belum merupakan ketentuan terakhir. Para perwira Jipang tidak membiarkan pasukannya terdesak. Karena itu, mereka pun berusaha untuk menilai, apa yang sebenarnya telah terjadi di medan yang menebar itu.

Beberapa orang penghubung sibuk mengumpulkan kenyataan-kenyataan yang terjadi di medan. Kenyataan yang sepenuhnya tanpa ditambah dan dikurangi. Dengan demikian maka para perwira Jipang akan dapat menentukan sikapnya menghadapi pasukan Pajang yang kuat itu, apalagi dengan perhitungan yang sangat cermat dan

menentukan.

Sebenarnya bahwa pasukan Jipang tidak akan dapat bertahan terlalu lama. Pasukan Pajang dengan kuat telah menekan pasukan Jipang itu, sehingga semakin lama menjadi semakin mendekati dinding padukuhan.

Senapati Jipang yang memimpin pasukan itu tidak dapat berbuat lain kecuali memberikan isyarat, agar pasukan Jipang memasuki padukuhan dan bertahan dibelakang dinding. Sementara itu pasukan yang khusus harus meloncat lebih dahulu, menyediakan lembing dan tombak panjang untuk menghalau orang-orang Pajang seandainya mereka akan mengejar dan mendesak pasukan Jipang dengan memasuki padukuhan itu.

Sementara itu Kiai Soka dan Ki Randukeling yang masih saling menjajagi itu masih sempat pula berbincang. Dengan nada datar Ki Randukeling berdesis, “Sudahlah Kiai. Pasukan Jipang memang harus ditarik. Agaknya Senapati Jipang sudah memberikan isyarat.”

“Silakan,” jawab Kiai Soka. “Pada suatu saat kita akan bertemu lagi. Mungkin aku memanggil kekuatan dari Tanah Perdikan Sembojan untuk menghancurkan pemberontak

di Tanah Perdikan itu disini, atau kami harus menunggu pemberontak itu datang kembali ke Tanah Perdikan dalam ujud yang bagaimanapun juga, karena kami menyadari, bahwa di samping kemungkinan bantuan orang-orang Jipang, maka kalian mempunyai kekuatan gerombolan Kalamerta yang tersisa, yang jika perlu akan dapat kalian himpun kembali.”

“Syukurlah jika kalian dapat membayangkan kekuatan yang akan dapat menghantui Tanah Perdikan itu,” berkata Ki Randukeling. “Tetapi baiklah aku akan mentaati perintah Senapati pasukan Jipang itu.”

Dalam pada itu, maka sekelompok orang yang khusus telah berada di dalam dinding padukuhan dengan tombak-tombak dan lembing-lembing yang panjang. Dalam keadaan yang gelisah, maka isyarat telah diberikan kepada pasukan Jipang untuk menarik

diri ke dalam dinding padukuhan.

Warsi mengumpat sejadi-jadinya. Ia belum berhasil membunuh Gandar. Namun Warsi pun tidak dapat ingkar, bahwa untuk membunuh Gandar bukanlah pekerjaan yang dapat dilakukan sebagaimana direncanakannya sendiri, karena Gandar ternyata memiliki kemampuan yang sangat tinggi pula.

Dalam pada itu, pasukan Jipang perlahan-lahan telah ditarik ke dalam dinding padukuhan. Para perwira Jipang mulai menyadari bahwa mereka agaknya telah terpancing keluar yang ternyata pertempuran yang kemudian terjadi sama sekali tidak menguntungkan mereka.

Sementara itu, Gandar pun harus menahan diri, agar ia tidak terlibat ke dalam pertempuran antara hidup dan mati dengan Warsi. Karena itu, maka Gandar pun tidak memburunya. Dilepaskannya Warsi surut ke belakang sebagaimana gelar pasukan Jipang. Sekelompok demi sekelompok pasukan Jipang itu telah meloncati dan memasuki dinding padukuhan, sementara itu, sekelompok di antara mereka yang telah mendahului, telah siap dengan lembing dan tombak ditangan.

Senapati yang memimpin pasukan Pajang pun telah memberikan isyarat pula agar pasukan Pajang tidak memasuki dinding padukuhan. Tugas mereka memang tidak harus mengusir pasukan Jipang dari padukuhan itu. Tetapi pasukan Pajang itu hanya sekadar menunjukkan bahwa Pajang masih tetap memiliki kemampuan yang tinggi untuk mengatasi kehadiran pasukan Jipang di Pajang.

Namun dalam pada itu, Gandar masih sempat berteriak dengan suara yang menggetarkan udara, “Anak-anak dari Tanah Perdikan Sembojan. Masih ada kesempatan bagi kalian. Siapa yang menyadari kesalahannya dalam langkah ini dan kembali kepada kesadaran diri, maka kalian akan diampuni. Ayah dan ibu kalian di Tanah Perdikan telah menyerahkan persoalan kalain kepada kami. Tetapi ketahuilah bahwa mereka telah meratapi kalian yang sesat siang dan malam. Jika air mata ibu kalian menjadi kering, maka mereka pun telah kehilangan harapan untuk dapat bertemu lagi dengan kalian, karena kalian akan menjadi mayat di medan pertempuran ini yang sebenarnya tidak kalian mengerti maknanya.”

“Tutup mulutmu orang gila,” bentak Warsi.

Namun Gandar masih juga berteriak, “Sadari. Apa yang sebenarnya terjadi atas kalian di bawah kekuasan perempuan yang tidak lebih dan tidak kurang adalah penari jalanan. Tidak semua penari jalanan bernilai rendah seperti perempuan itu. Tetapi perempuan itu adalah penari jalanan yang tidak bermartabat.”

Suara Gandar terputus. Sebuah lembing meluncur hampir saja menyambar dadanya. Karena itu, maka ia pun harus bergeser selangkah ke samping.

Ketika ia memperhatikan arah lembing itu, maka ia pun melihat Ki Rangga Gupita berdiri di atas dinding padukuhan dengan wajah yang merah membara.

Gandar justru tertawa. Tetapi ia pun terikat kepada perintah Senapati pasukan Pajang yang memberi isyarat agar Pajang pun mulai menarik pasukannya.

Sementara Pajang bersiap-siap, maka Kiai Soka melihat Ki Randukeling pun duduk di atas dinding padukuhan. Orang tua itu tersenyum sambil melontarkan suaranya yang tidak terlalu keras, tetapi menggetarkan selaput telinga Kiai Soka. “Sampai disini pertempuan kita hari ini Kiai. Bukankah kita sudah saling dapat mengenali lebih banyak lagi daripada pertemuan kita di Tanah Perdikan Sembojan waktu itu?”

“Ya,” jawab Kiai Soka dengan cara yang sama. “Pertemuan kita mendatanglah yang akan menentukan.”

Ki Randukeling dan Kiai Soka tertawa. Namun mereka tidak berbicara lagi. Demikianlah, pasukan Pajang memang tidak berusaha untuk memasuki padukuhan. Mereka menyadari bahwa pada dinding padukuhan itu terdapat ujung tombak yang memagarinya, sehingga pada saat pasukan itu meloncati dinding, maka terdapat kelemahan yang akan berakibat buruk bagi pasukan Pajang jika mereka memaksa untuk mendesak musuh.

Karena itulah, maka beberapa saat kemudian, pasukan Pajang telah menarik diri

dari medan. Namun mereka sempat mencari dan merawat kawan-kawan mereka yang terluka dan bahkan ada di antara mereka yang ternyata telah gugur di

pertempuran.

Para prajurit Pajang itu sama sekali tidak mengganggu para prajurit Jipang yang terluka. Namun ketika Gandar menemukan seorang anak muda Tanah Perdikan yang terbaring karena luka-luka yang parah, maka ia pun bertanya, “Siapa namamu?” Anak muda itu memandanginya dengan penuh kebencian. Tetapi Kiai Soka yang kemudian berdiri disebelahnya bersama seorang perwira dari Pajang berkata, “Kami tidak akan berbuat apa-apa atasmu. Kami tahu bahwa kau tidak mampu berbuat lain daripada yang kau lakukan sekarang. Tetapi ketahuilah bahwa Tanah Perdikan Sembojan sekarang sudah bangkit dibawah pimpinan Iswari, istri Ki Wiradana yang tua, yang pernah dianggap hilang dari Tanah Perdikan, atas nama anak Ki Wiradana itu sendiri, yang kecuali lahir dari istri yang tua, saat kelahirannya pun lebih

dahulu dari anak Warsi itu.”

Anak muda itu tidak menjawab. Tetapi sorot matanya masih saja menunjukkan sikap hatinya yang diwarnai oleh pengaruh para perwira dari Jipang.

Tetapi dengan sabar Kiai Soka masih berkata, “Baiklah. Kau masih mempunyai kesempatan untuk memikirkannya. Perbincangan dengan kawan-kawanmu, mungkin kalian menemukan satu sikap yang benar.”

Anak muda itu sama sekali tidak menjawab. Sementara itu Kiai Soka berkata, “Baiklah. Kami minta diri. Sebentar lagi kawan-kawanmu akan datang untuk mengambilmu dan merawatmu.”

Kiai Soka dan Gandar pun kemudian meninggalkan anak muda itu. Namun ketika mereka bertemu lagi dengan seorang anak muda Tanah Perdikan yang terluka, mereka mempunyai kesan yang berbeda.

“Kau menangis?” bertanya Gandar kepada anak muda yang terbaring diam itu. Anak muda itu tidak menjawab. Tetapi memang nampak dari matanya menitik ungkapan

perasaannya.

“Marilah, ikut kami,” berkata Gandar. “Aku tidak dapat bangkit,” desis anak muda itu.

Perwira Pajang yang bersamanya itu pun telah memerintahkan membawa anak muda itu bersama orang-orang Pajang yang terluka.

“Mungkin anak itu akan berarti bagi kita,” berkata perwira Pajang itu. Tertanya anak muda itu tidak menolak.

Demikianlah, maka pasukan Pajang itu pun telah ditarik dari medan. Sebagaimana perintah yang diemban, maka pasukan itu memang tidak harus mendesak kedudukan Jipang. Tetapi mereka hanya sekadar mengguncang pasukan Jipang dan mengimbangi perintah Patih Kadipaten Jipang untuk meningkatkan kegiatan di semua medan.

Ternyata bahwa yang dilakukan oleh para prajurit Pajang itu memberikan kesan

yang khusus bagi orang-orang Jipang dan anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan. Terutama atas kehadiran dua orang keluarga Iswari, istri Ki Wiradana yang tua.

Dalam pada itu, ketika pasukan Pajang sudah menjadi semakin menjauh, maka para prajurit Jipang pun telah mengirimkan petugas-petugasnya untuk merawat para prajurit Jipang dan anak-anak muda tanah Perdikan Sembojan yang terluka dan tidak mampu meninggalkan medan. Sebagaimana orang-orang Pajang, maka ada di antara prajurit Jipang dan anak-anak Tanah Perdikan Sembojan yang gugur pula di peperangan.

Pada saat para petugas itu sibuk mengangkat para korban, maka disebuah serambi rumah di padukuhan itu Ki Rangga Gupita mengumpat-umpat sejadi-jadinya. Sambil mengawasi gerak para prajurit, Ki Rangga berkata, “Iblis dari Tanah Perdikan itu memang harus dibinasakan. Sebenarnya aku ingin mendapat kesempatan itu.”

“Aku lebih berhak membunuhnya,” sahut Warsi. “Tetapi kesempatan yang hampir aku dapatkan itu lenyap bersama perintah pasukan Jipang menarik diri.”

Namun Ki Randukeling pun menyahut, “Jangan berkata begitu. Aku melihat apa yang terjadi. Tidak seorang pun di antara kalian berdua yang dapat membunuh Gandar

itu. Ia memiliki kemampuan menurut pengamatanku setidak-tidaknya seimbang dengan kemampuan kalian sebagaimana aku dengan orang tua itu. Sebenarnya aku juga ingin membunuhnya. Tetapi sangat sulit aku lakukan, dan bahkan tidak mungkin untuk seperti sekarang ini.”

“Tetapi jika aku mendapat kesempatan, aku yakin dapat membunuhnya,” berkata Warsi. “Aku memiliki kemampuan Kalamerta.”

“Kau kira tidak ada kemampuan yang melampaui kemampuan Kalamerta? Marilah kita dengan jujur menilai sikap dan keadaan kita, agar kita dapat membuat perhitungan yang wajar dan justru akan memberikan hasil yang pasti. Seandainya Kalamerta itu tidak terkalahkan, maka ia tidak akan mati di tangan Ki Gede Sembojan yang kemudian telah dibunuh dengan licik,” berkata Ki Randukeling.

“Bukan dengan licik,” jawab Warsi. “Aku tidak dapat mengatakannya begitu, meskipun pembunuh itu tidak datang dan menantangnya perang tanding.” Wiradana mendengarkan pembicaraan itu. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ki Randukeling menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kemudian katanya, “Baiklah.

Semuanya akan menjadi pengalaman bagi kita. Namun aku berharap bahwa kita tidak mengingkari kenyataan tentang diri dan kemampuan orang-orang yang akan berhadapan dengan kita sehingga dengan demikian kita akan dapat membuat perhitungan-perhitungan yang benar. Jika kita terlalu berbangga akan diri kita sendiri, maka kita akan terjerumus ke dalam kesulitan.”

Warsi tidak menjawab. Betapa tidak senangnya Ki Rangga Gupita mendengar penjelasan Ki Randukeling yang selalu menunjuk kelemahan diri sendiri, namun Ki Rangga Gupita itu pun terdiam pula.

Sementara itu, beberapa orang prajurit Pajang masih sibuk untuk merawat kawan-kawan mereka yang terluka dan membawanya ke banjar padukuhan untuk

mendapat pertolongan yang lebih baik. Sementara itu, mereka pun harus mengubur kawan-kawan mereka yang telah terbunuh di peperangan itu.

Sementara itu, langit pun telah mulai menjadi buram. Matahari telah tenggelam di balik pegunungan. Lampu-lampu minyak mulai dipasang. Namun di lingkungan prajurit Pajang maka lampu-lampu pun mengalami penghematan. Tidak semua rumah yang dipergunakan oleh para prajurit Jipang dibeberapa padukuhan memerlukan lampu. Bahkan di antara para prajurit itu lebih senang untuk tidur saja di luar

rumah. Mereka membawa amben-amben bambu atau tikar-tikar pandan ke luar dan dibentangkan di sepanjang serambi atau bahkan di bawah pepohonan.

Udara yang kadang-kadang terasa panas di dalam rumah dan ruangan yang gelap membuat nafas mereka serasa sesak. Sehingga dengan demikian mereka merasa lebih lapang tidur di luar rumah. Bahkan dalam keadaan yang tergesa-gesa mereka akan dapat dengan cepat menyesuaikan diri dengan keadaan.

Namun demikian, di regol-regol padukuhan, masih juga terdapat obor-obor yang cukup terang. Di gardu para penjaga dan di tempat-tempat para perwira yang bertugas, lampu minyak menyala terang benderang.

Sementara itu, di tempat-tempat yang khusus, anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan sedang beristirahat di antara mereka. Ada yang berbaring dibentangan tikar pandan diserambi, ada yang berada di ruang dalam dengan lampu dlupak yang redup dan bahkan ada yang berkeliaran di halaman.

Namun hampir semua orang digelitik oleh peristiwa yang telah terjadi di medan pertempuran yang terjadi sebelumnya. Meskipun demikian jarang di antara

anak-anak muda itu yang dengan terbuka membicarakannya. Apalagi jika di antara mereka terdapat prajurit-prajurit Jipang.

Meskipun demikian, ada juga sekelompok kecil anak-anak muda yang tidak dapat menahan diri untuk berbicara tentang kehadiran Gandar dan Kiai Soka. “Aku telah melihat mereka di antara kawan-kawan kita yang terluka di banjar,” berkata salah seorang dari anak-anak muda Tanah Perdikan itu mulai dengan pembicaraannya. “Seorang di antara mereka sempat berbicara dengan Kiai Soka.” “Bagaimana mungkin ia mendapat kesempatan itu?” bertanya seorang kawannya.

“Ketika pasukan Pajang ditarik mundur, maka orang-orang kita yang terluka sama sekali tidak diusiknya. Di antaranya seorang kawan kita telah ditemui oleh

orang-orang yang mengaku keluarga Iswari itu,” sahut anak muda yang pertama. Nampaknya beberapa orang di dalam kelompok itu tertarik kepada ceritera itu. Seorang di antara mereka bertanya, “Apa yang dikatakannya?”

“Seperti yang diteriakkan oleh Gandar,” jawab anak muda yang pertama.

Kawan-kawannya termangu-mangu. Namun kemudian seorang di antara mereka bertanya,

“Apa kalian mulai terpengaruh?”

Pertanyaan itu memang mendebarkan. Tetapi anak muda yang pertama kemudian menjawab, “Aku hanya ingin mendengar cerita tentang Tanah Perdikan kita, tentang orang tua kita dan tentang apakah yang sebenarnya telah terjadi. Kawan-kawan

kita yang datang kemudian telah mengabarkan tentang kehadiran kembali Iswari dan bahkan kekuasaan seakan-akan telah berpindah tangan. Sebagaimana dikatakan oleh Gandar, bahwa Iswarilah yang kini memegang pemerintahan di Tanah Perdikan. Namun mereka tetap berkiblat kepada Pajang.”

“Pada saatnya, kita akan kembali dan menyelesaikan persoalannya,” desis seorang anak muda yang bertubuh tinggi. “Apalagi setelah Pajang dapat dihancurkan. Jika tidak di Kota Raja mungkin kehancuran itu akan dimulai dari pesanggrahan di tepi Bengawan Sore.”

Beberapa orang yang lain mengangguk-angguk. Seorang yang bertubuh kecil menyambung,” Bukan masalah yang rumit. Kita akan dapat menganggapnya sebagai gigitan nyamuk pada saat kita sedang terkantuk-kantuk. Memang terasa mengganggu. Tetapi tidak akan banyak berarti.”

Anak muda yang pertama menjadi termangu-mangu. Tetapi ia pun kemudian bertanya, “Bagaimana sikap orang tua dan saudara-saudara kita yang masih berada di Tanah Perdikan sekarang? Bukankah kita sadari, bahwa Iswari yang dianggap hilang itu adalah istri pertama Ki Wiradana dan anaknya adalah anak Wiradana yang lebih tua meskipun mungkin hanya berselisih bulan dari anak Warsi?”

“Itu bukan soal,” desis yang bertubuh tinggi. “Jika kita datang dengan kekuatan, maka semuanya akan selesai.”

Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Namun sebenarnyalah telah terjadi pergolakan di dalam hati mereka.

Sementara itu, para petugas yang merawat prajurit yang terluka pun tidak lagi sibuk dengan tugas-tugasnya. Beberapa orang yang terluka sudah mulai tenang dan bahkan beberapa orang telah dapat tidur meskipun tidak terlalu nyenyak. Mereka sering terbangun dan merintih karena pedih pada luka-lukanya. Namun dengan pengobatan yang baik, perasaan pedih itu pun terasa berkurang.

Dalam pada itu, ketika sekelompok anak-anak muda Tanah Perdikan yang berbincang itu mulai membaringkan diri, tiba-tiba seorang kawannya yang lain telah menghampiri mereka.

“He, apakah kau mendengar tentang kawan kita yang hilang itu?” desis anak muda itu.

“Hilang bagaimana?” bertanya salah seorang di antara mereka yang sudah berbaring itu sambil bangkit dan duduk.

“Di antara yang gugur dan yang terluka nampaknya sudah berhasil diketahui semuanya dengan pasti, dari kelompok berapa dibawah pimpinan siapa. Sebagaimana kita tahu, seorang di antara kelompok kita terluka meskipun tidak terlalu parah

dan seorang lagi terkilir kakinya disamping beberapa orang yang terluka tetapi

tidak mengganggu sebagaimana hampir kita alami semuanya,” jawab anak muda yang baru datang itu. Lalu katanya, “Tetapi masih ada seorang yang tidak terdapat di antara mereka yang gugur, tetapi juga tidak terdapat di antara mereka yang

terluka.”

mohon maaf....terpotong sebagian...

Wajah Ki Wiradana menjadi merah. Gejolak perasaannya bagaikan meretakkan dadanya. Namun kemudian dipaksakannya menjawab meskipun dengan jantung yang berdebaran. “Belum tentu anak itu berkhianat. Mungkin ia dibawa dengan paksa

oleh orang-orang Pajang sehingga dalam keadaan terluka tanpa dapat melawan, ia harus ikut bersama mereka.” “Omong kosong,” teriak Warsi. “Jika demikian mungkin sekali tidak ada seorang pun anak muda Sembojan yang tertinggal.” “Dengan dungu kau mencoba membela dirimu,” geram Rangga Gupita pula.

Namun sementara itu Ki Randukeling berkata, “Sudahlah. Tidak ada gunanya kita mencari siapakah yang bersalah. Kita lebih baik melihat kemungkinan atas anak itu. Seandainya ia sengaja dibawa, anak itu tidak akan banyak memberikan arti

bagi orang-orang Pajang. Anak itu tidak akan dapat memberikan keterangan apapun juga tentang pasukan Jipang ini dalam keseluruhan, apalagi rencana yang disusun oleh para pemimpin dari Jipang. Tetapi aku condong untuk menyangka demikian.

Anak itu tidak sengaja berkhianat sebagaimana dikatakan oleh Ki Wiradana.” “Tetapi yang penting peristiwa itu dapat menimbulkan sikap yang merugikan,” desis Ki Rangga Gupita.

“Itu sama-sama kita tahu,” desis Ki Randukeling. “Karena itu apakah yang dapat kita lakukan kemudian atas anak-anak kita yang masih ada. Mungkin kita perlu memberikan penjelasan atau keterangan yang lain yang dapat mencegah peristiwa seperti yang kita cemaskan itu terjadi.”

“Mungkin kita memang perlu menakut-nakuti mereka,” berkata Warsi. “Kita dapat mengambil langkah yang lebih pasti,” berkata Ki Rangga Gupita.

“Orang-orang Sembojan yang terluka dan tidak dapat kita seret kembali ke induk pasukan, lebih baik dibinasakan saja.”

“Tidak,” tiba-tiba saja Ki Wiradana berteriak. Meskipun kemudian keringatnya membasahi seluruh tubuhnya ketika ia memandang mata Ki Rangga Gupita dan Warsi yang bagaikan menyala. Untunglah bahwa Ki Randukeling pun kemudian berkata dengan suara berat, “Aku adalah seorang pertapa. Meskipun aku masih dipengaruhi oleh nafsu lahiriah sebagaimana keinginanku melihat Jipang menghancurkan Pajang, serta melihat cicitku berhasil menguasai sepenuhnya Tanah Perdikan Sembojan, namun cara yang keras dan keji itu tidak dapat aku setujui. Mungkin aku termasuk salah seorang yang hidup dalam bayangan yang kelam, apalagi jika aku disebut seorang pertapa. Namun aku masih mempunyai pertimbangan yang mencegah perlakuan

seperti itu.” Wajah Warsi menjadi semakin tegang. Tetapi ternyata ia pun tidak berani membantah kata-kata kakeknya ketika ia melihat wajah kakeknya yang bersungguh-sungguh.

Ki Rangga Gupita menarik nafas dalam-dalam. Tetapi baginya cara itu akan mengurangi usaha pengkhianatan terhadap para pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang telah berada didalam pasukan Jipang.

Untuk beberapa saat mereka pun tidak berbincang lagi. Ki Randukeling bahkan telah meninggalkan ruangan itu. Sedangkan Ki Wiradana pun merasa lebih baik menyingkir daripada terlibat lagi dalam pembicaraan yang mungkin akan menjadi keras. Tanpa hadirnya Ki Randukeling maka segalanya tentu akan mengikuti saja jalan pikiran Warsi dan Ki Rangga Gupita.

“Pikiran yang cengeng,” desis Ki Rangga Gupita ketika Ki Randukeling telah meninggalkan ruang itu.

“Sebenarnya segala sesuatunya tergantung kepada kita,” berkata Warsi. “Jalan

pikiran Ki Rangga sebenarnya dapat membantu Jipang dan Tanah Perdikan Sembojan sendiri untuk tidak digoncangkan oleh sikap-sikap kerdil dari anak-anak mudanya.

Tetapi kakek terlalu berperasaan.”

“Pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu pun cengeng juga. Ialah yang mula- mula menyatakan penolakannya,” berkata Ki Rangga Gupita.

“Ia hanya bermanfaat namanya saja,” berkata Warsi. “Kita tidak dapat menyingkirkannya sebelum kita kembali dan menguasai Sembojan. Bahkan mendapat ketetapan dari Jipang, bahwa Wiradanalah yang menjadi pemimpin Tanah Perdikan itu,” berkata Warsi. “Setelah itu, ia tidak kita perlukan lagi.”

Ki Rangga Gupita menggeram, katanya, “Rasa-rasanya aku tidak sabar lagi menunggu.” Warsi memandang Ki Rangga sejenak. Namun kemudian katanya, “Udara panas sekali disini.” Kedua orang itu pun kemudian meninggalkan tempat itu.

Mereka tidak menghiraukan seorang yang duduk di serambi samping dalam kegelapan. Jantung orang itu bagaikan bergejolak ketika ia melihat Warsi dan Ki Rangga meninggalkan halaman rumah itu.

Dengan diam-diam orang itu mengikutinya sambil berlindung bayangan pepohonan. Namun darahnya justru bagaikan mendidih ketika melihat keduanya telah turun ke jalan dan hilang dalam kegelapan. Orang itu, Ki Wiradana, hanya dapat menggeretakkan giginya. Tetapi ia tidak dapat mencegah apapun yang akan dilakukan oleh istrinya dan Ki Wiradana itu. Keduanya memiliki kemampuan yang jauh lebih tinggi dari kemampuannya.

Ki Wiradana itu pun kemudian melangkah kembali keserambi. Dengan lemahnya ia duduk lagi di kegelapan sebagaimana hatinya yang gelap. Langkahnya yang sesat telah membawanya semakin dalam menukik ke liang kehancuran.

Namun Wiradana tidak melihat jalan yang dapat membawanya ke luar dari bencana itu. Bukan saja bagi dirinya sendiri, tetapi bagi Tanah Perdikan Sembojan.

Dalam kegelisahan Wiradana sempat merenungi langkahnya yang pertama menuju ke kesesatan. Pada saat ia mula-mula melihat Warsi, yang membuat dirinya sebagai seorang penari jalanan.

Namun segalanya itu hanya dapat disesali saja oleh Ki Wiradana. Apalagi jika teringat olehnya istrinya yang pertama, yang hampir saja binasa karena sikapnya.

“Ternyata Tuhan menghendaki lain,” berkata Ki Wiradana itu di dalam hatinya. Wiradana itu pun kemudian bangkit dari tempat duduknya ketika ia melihat dua orang pengawal yang lewat di halaman, menggantikan dua orang yang berada di gardu bersama dengan dua orang dari kelompok yang lain.

Dua orang yang digantikan itu tentu melihat istrinya dan Ki Rangga keluar dari halaman rumah itu. Tetapi para pengawal itu pun tidak ada yang berani mengganggunya, sementara suaminya sendiri tidak berbuat apa-apa.

Hampir di luar sadarnya maka Ki Wiradana pun telah pergi ke bagian belakang rumah itu. Sesaat ia berdiri dimuka bilik yang tertutup. Namun ia mendengar suara anaknya yang merengek.

Ketika anaknya terdiam, yang didengarnya adalah isak tangis yang tertahan. Ki Wiradana tahu pasti, bahwa pemomong anaknyalah yang telah menangis itu. Namun juga karena perasaan takut yang mencekam. Sementara Warsi jarang sekali menengoknya dan apalagi memberikan sedikit ketenangan di hatinya.

Tetapi Ki Wiradana tidak mengetuk pintu bilik anaknya itu. Ia pun kemudian berjalan ke ruang depan. Ternyata ruangan itu telah sepi. Semua orang telah pergi ke biliknya masing-masing atau kemana saja yang mereka kehendaki.

Wiradana pun kemudian berbaring di amben bambu yang besar yang terdapat di ruangan itu sendiri. Sementara lampun pun menjadi semakin redup. Ketika kemudian lampu padam, maka Ki Wiradana berusaha untuk dapat tidur barang sejenak. Ia

tidak tahu apa yang akan terjadi esok. Apakah pasukan Pajang akan datang menyerang atau datang perintah dari Panglima pasukan Jipang di Pajang untuk berganti menyerang atau membuat gerakan-gerakan yang lain.

Betapa pun sulitnya, namun akhirnya Ki Wiradana itu sempat juga tidur barang sejenak.

Dalam pada itu, pasukan Pajang yang menarik diri dari medan itu pun tengah beristirahat pula. Beberapa orang yang terluka telah mendapat perawatan sebagaimana seharusnya.

Di antara mereka terdapat seorang anak muda dari Tanah Perdikan Sembojan yang ditunggui oleh Gandar, Kiai Soka dan seorang perwira dari Pajang.

Dalam malam yang semakin lengang, anak muda itu merasa bahwa keadaannya menjadi semakin baik oleh pengobatan yang lebih baik.

“Tidurlah, sebentar lagi hari akan menjadi pagi,” berkata Kiai Soka. Anak itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi katanya, “Disini aku merasa lebih tenang daripada jika aku berada di antara orang-orang Jipang.” “Kenapa?” bertanya perwira dari Jipang

“Aku tidak tahu,” jawab anak muda itu. “Mungkin karena disini ada Kiai Soka dan Gandar yang akan dapat membawa aku kembali ke Tanah Perdikan Sembojan, atau justru aku harus menjalani hukuman mati, karena aku adalah seorang di antara mereka yang telah melawan Pajang.”

“Jangan berpikir yang aneh-aneh,” berkata Kiai Soka. “Tenanglah. Kau berada ditempat yang lebih baik sebagaimana perasaanmu mengatakannya.”

Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Di sebelahnya terbaring para prajurit Pajang yang terluka. Bahkan anak muda Tanah Perdikan Sembojan itu tahu, bahwa ada di antara prajurit Pajang yang gugur di pertempuran.

Para prajurit yang terluka itu menurut perasaan anak muda Tanah Perdikan itu, selalu memandangnya dengan penuh kebencian. Tetapi para perwira memperlakukannya

dengan baik. Apalagi Kiai Soka dan Gandar. Karena itu, maka anak muda itu merasa bahwa orang-orang Pajang itu tidak akan berbuat apa-apa atasnya.

Dalam pada itu, maka Gandar pun berkata, “Tidurlah. Aku akan menungguimu disini.”

Anak muda itu tidak menjawab. Ia berusaha untuk dapat tidur barang sejenak. Apalagi luka-lukanya sudah menjadi lebih baik dan tidak lagi digigit oleh perasan padih.

Ketika anak muda itu memejamkan matanya, maka Kiai Soka pun telah dipersilakan oleh perwira Pajang itu untuk beristirahat pula, sementara Gandar minta untuk tetap berada ditempat itu menunggui anak muda yang sedang berusaha untuk tidur itu.

“Aku akan membantunya jika ia memerlukan sesuatu,” berkata Gandar.

“Biarlah ia menungguinya,” berkata Kiai Soka kemudian sambil meninggalkan tempat itu bersama perwira Pajang yang mempersilakannya.

Sepeninggalan mereka, Gandar pun telah duduk bersandar dinding disisi anak muda yang terluka itu. Sementara seorang prajurit Pajang yang bertugas telah mendatanginya pula.

Gandar pun kemudian bergeser sambil mempersilakan prajurit itu untuk duduk bersamanya. Katanya, “Marilah. Duduklah.”

“Terima kasih,” sahut prajurit Pajang itu. “Aku bertugas diregol.” “O,” Gandar mengangguk-angguk.

“Bagaimana keadaannya?” bertanya prajurit Pajang itu. “Ia sudah berangsur baik,” jawab Gandar.

Prajurit Pajang itu mengangguk-angguk. Namun ia pun telah bertanya pula, “Bagaimana sikap kawan-kawannya yang lain? Apakah mereka masih tetap dipengaruhi oleh para prajurit Jipang dan memusuhi Pajang?”

Gandar menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Kita harus berusaha melepaskan mereka dari cengkaman pengaruh beberapa orang yang mengaku pimpinan Tanah Perdikan Sembojan. Merekalah sebenarnya yang telah menyesatkan anak-anak muda dari Tanah Perdikan Sembojan itu, yang kini ternyata telah terpecah. Anak-anak muda yang masih berada di Tanah Perdikan sendiri telah menyadari kesalahan langkah mereka dan mereka telah kembali berpegang kepada sikap Sembojan yang seharusnya, dibawah pimpinan Iswari, istri pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan yang sekarang. Namun sayang bahwa pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu sendiri berada di antara orang-orang Jipang.

Prajurit Pajang itu mengangguk-angguk. Katanya, “Satu persoalan yang agaknya sangat rumit telah terjadi di Tanah Perdikan Sembojan. Para perwira disini pun harus memberikan banyak sekali keterangan kepada para prajurit, apalagi yang terluka, tentang anak muda Sembojan ini. Untunglah bahwa mereka dapat dikendalikan dan tidak mendendam kepada anak muda ini.”

“Ya,” jawab Gandar. “Hal itu dapat dimengerti. Tetapi nampaknya para prajurti Pajang, terutama yang terluka sudah dapat mengerti dan dapat menerimanya berada di antara mereka. Aku yakin anak muda ini pada saat ia sembuh, tidak akan lagi beranjak dari antara prajurit-prajurit Pajang.”

“Jika ia bersedia hadir dipeperangan, maka hal itu akan memberikan keuntungan kepada pasukan Pajang. Sebagaimana kehadiranmu bersama Kiai Soka,” berkata prajurit itu. “Karena kehadirannya di medan di antara prajurit Pajang akan dapat mendorong anak-anak muda Pajang itu berpikir.”

“Ia sudah menyatakan sikap seperti itu,” jawab Gandar.

Prajurit Pajang itu mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Sudahlah, biarlah ia berusaha untuk beristirahat barang sejenak menjelang pagi. Agaknya besok pasukan ini tidak akan bergerak. Tetapi jika pasukan Jipang datang menyerang maka kita akan dipaksa untuk bertempur lagi.”

“Aku kira pasukan Jipang tidak akan bergerak,” sahut Gandar. “Mereka harus membenahi diri.”

Prajurti Pajang itu mengangguk. Katanya, “Aku sependapat. Tetapi kadang-kadang memang terjadi yang diluar perhitungan. Meskipun demikian, kita tidak perlu gelisah. Ada petugas sandi yang tentu akan dapat dengan cepat memberikan isyarat, sementara itu pasukan yang terdiri dari beberapa kelompok telah bersiap

untuk bertempur kapanpun juga, di samping sekelompok pasukan berkuda yang dapat bergerak dengan cepat ketempat-tempat yang memerlukannya.”

“Baiklah,” berkata Gandar. “Aku pun akan beristirahat.”

Prajurit itu pun kemudian meninggalkan Gandar yang masih tetap menunggui anak yang terluka itu. Bagaimanapun juga, ada sedikit kegelisahan di dalam hatinya, bahwa ada juga orang Pajang yang dungu dan tidak dapat mengekang diri.

Namun agaknya tempat itu semakin lama menjadi semakin tenang. Hampir semua orang

sudah tertidur, meskipun ada juga di antara mereka yang lukanya agak parah, sulit untuk dapat memejamkan matanya.

Tetapi anak muda Tanah Perdikan Sembojan itu ternyata sempat juga tertidur di ujung malam sebagaimana Gandar juga tertidur sambil duduk di lantai bersandar dinding.

Ketika matahari kemudian terbit, anak muda Tanah Perdikan Sembojan itu pun terbangun. Keadaan tubuhnya sudah menjadi semakin baik. Lukanya tidak lagi terasa pedih sekali.

Gandarlah yang kemudian telah pergi ke pakiwan. Kemudian membasahi muka ikat kepalanya dan dipergunakannya untuk mengusap tubuh anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang belum dapat bangkit dan pergi ke pakiwan sendiri.

“Berbaring sajalah dahulu,” berkata Gandar. “Nanti siang aku bantu kau ke pakiwan, jika tubuhnya sudah terasa semakin segar.”

Anak muda itu tidak membantah. Ketika tubuhnya diusap dengan ikat kepala Gandar yang basah, tubuhnya itu benar-benar terasa segar meskipun jika ikat kepala itu menyentuh bagian dari lukanya itu masih terasa pedih.

Ketika Kiai Soka kemudian datang menengoknya, maka anak muda itu telah dapat tersenyum dan wajahnya sudah menjadi agak kemerahan.

“Kau sudah tidak terlalu pucat lagi,” berkata Kiai Soka.

Sementara anak muda itu berangsur baik, maka di padukuhan, pesanggrahan pasukan Jipang di sebelah Timur Pajang, Wiradana telah mengumpulkan anak-anak muda Tanah Perdikan yang ada di antara pasukan Jipang. Beberapa orang perwira Jipang menungguinya disamping Ki Rangga Gupita, seorang perwira dari Prajurit Sandi

Jipang yang memang ditugaskan di Pajang, Warsi, Ki Randukeling dan beberapa orang keluarga dari Warsi yang ada di padukuhan itu.

“KATAKAN,” geram Warsi di telinga Ki Wiradana. “Agar mereka mengerti, bahwa seorang di antara mereka telah hilang. Dan itu diketahui dengan pasti, sehingga mereka merasa setiap orang mendapat pengawasan sepenuhnya.”

Ki Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun berdiri dihadapan

anak-anak muda Tanah Perdikan yang berbaris dalam susunan pasukan yang lengkap, sebagaimana mereka akan memasuki medan perang.

Dengan suara lantang Ki Wiradana pun kemudian memberitahukan apa yang telah terjadi pada saat pasukan Pajang menyerang.

“Memang telah jatuh korban di antara kita, sebagaimana terjadi atas pasukan Jipang dan juga pasukan Pajang,” berkata Ki Wiradana kemudian, “Memang adalah menjadi watak dari setiap peperangan, bahwa perang akan menelan korban.”

Warsi menghentakkan kakinya. Ia tidak sabar mendengarkan pembicaraan Wiradana yang berbelit-belit.

Sementara itu Ki Wiradana pun berkata selanjutnya, “Di antara korban yang jatuh di antara kita, maka seorang telah hilang. Seorang yang mungkin terluka, namun yang kemudian tidak kembali lagi ke pasukannya. Orang yang demikian itu perlu mendapat penilaian secara khusus apa yang telah dilakukannya.”

Anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan itu pun semuanya terdiam. Dalam pada itu terdengar Ki Wiradana melanjutkan, “Kami mengetahui setiap orang di dalam pasukan kita. Mungkin anak itu benar-benar hilang. Tetapi jika ada usaha untuk melarikan diri atau melakukan satu langkah yang bertentangan dengan jiwa kesatria anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan, maka ia akan mendapatkan

hukuman yang seimbang dengan kesalahan yang telah dilakukannya. Satu peringatan bagi kalian, dimanapun anak itu berada, maka ia tidak akan luput dari tangan

kami. Kami akan menilai, dan kemudian mengambil kesimpulan, apakah ia akan kita serahkan kembali ke dalam pasukannya, atau anak itu harus digantung dihadapan kalian.”

Suasana pun menjadi semakin tegang. Anak-anak muda Tanah Perdikan itu merasa dicengkam oleh kecemasan. Bahkan Ki Wiradana telah berbicara dan mengancam mereka dengan suara yang keras yang jarang sekali dilakukan sebelumnya.

“Nah, siapakah di antara kalian yang dapat memberikan keterangan tentang anak itu? Siapakah yang telah melihat pada saat-saat terakhir dari peperangan yang berlangsung kemarin?” bertanya Ki Wiradana.

Beberapa orang anak muda saling berpandangan, sementara semua mata dari para pemimpin pasukan Tanah Perdikan dan para perwira Jipang itu tertuju ke kelompok anak yang hilang itu.

“Apa katamu?” bertanya Ki Wiradana kepada pemimpin kelompok itu.

Pemimpin kelompok itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Seorang di antara

kami melihat anak itu terluka. Tetapi menurut perhitungan kami ia masih sempat menarik diri ke belakang garis pertempuran atau bahkan kebalik dinding padukuhan.”

Ki Wiradana memandanginya dengan tegang. Kemudian dengan lantang ia membentak, “Tetapi yang terjadi tidak demikian. Anak itu tidak ada di padukuhan dan tidak

kembali ke kelompoknya.”

“Itu berada di luar pengetahuan kami,” jawab pemimpin kelompok itu. Lalu katanya, “Tetapi mungkin salah seorang di antara anak-anak dalam kelompok itu melihatnya dan bersedia memberikan keterangan.”

Ki Wiradana mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Nah, siapakah di antara kalian yang ingin memberikan penjelasan?”

Untuk beberapa saat tidak terdengar jawaban. Karena itu, maka Ki Wiradana itu pun kemudian berkata lantang, “Jika demikian, maka kesimpulan kita adalah, anak itu telah berkhianat. Sebenarnya ia mempunyai kesempatan untuk menyingkir dari medan, tetapi ia tidak melakukannya.”

Anak-anak muda Tanah Perdikan itu pun menjadi berdebar-debar. Wajah mereka menjadi tegang. Sementara di antara mereka, tidak dapat menerima kesimpulan yang diambil dengan serta merta itu. Tetapi sebagian yang lain mengangguk-angguk mengiakan. Terutama anak-anak muda yang pertama berangkat dari Tanah Perdikan Sembojan. Anak-anak muda yang mendapat tempaan yang paling lengkap dan paling baik di antara anak-anak muda Tanah Perdikan yang lain.

Ketegangan itu menjadi semakin memuncak ketika Ki Wiradana kemudian berkata, “Nah, kita akan menentukan hukuman apakah yang akan kita berikan kepada pengkhianat itu. Juga kepada pengkhianat-pengkhianat yang mungkin akan timbul pula di antara kalian.”

Anak-anak muda itu terdiam. Namun dalam pada itu Warsi tidak puas dengan ancaman yang diucapkan oleh Ki Wiradana. Karena itu maka ia pun telah berteriak pula,

“Kalian dengar? Kita akan menentukan hukuman itu. Dan menurut paugeran seorang prajurit, hukuman bagi seorang pengkhianat adalah hukuman mati. Yang akan kita tentukan bukannya kemungkinan untuk mengubah hukuman mati itu. Tetapi cara yang paling tepat untuk melaksanakan hukuman mati itu.

Suara Warsi bagaikan melengking berputaran di atas padukuhan dan di dalam setiap dada anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan itu. Cara untuk melaksanakan hukuman

mati adalah ancaman yang sangat mengerikan.

Sementara itu Ki Rangga Gupita menyambung pula, “Seorang prajurit akan merasa dirinya direndahkan dan kehilangan martabatnya jika ia dilepas dari kedudukannya. Tetapi martabat seorang prajurit yang dihukum mati karena berkhianat adalah jauh lebih rendah daripada itu. Pengkhianatan tidak ubahnya seperti tingkah laku seekor anjing yang menjilat kaki seekor babi hutan yang

harus diburunya. Karena itu, jika kalian terpaksa harus mati, matilah sebagai seorang pahlawan. Jangan mati sebagai seorang pengkhianat di tiang gantungan, atau terikat dan terluka arang keranjang karena dihukum picis.”

Tengkuk anak-anak muda Tanah Perdikan itu meremang membayangkan hukuman yang

sangat keji akan dilakukan atas seorang pengkhianat.

Namun demikian ada juga di antara anak-anak muda itu yang memiliki keberanian bertanya kepada diri sendiri, “Tetapi jika di antara para pengkhianat itu sudah

jatuh ketangan Pajang atau para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan dari seberang yang lain itu, apakah Ki Wiradana, Warsi dan Ki Rangga yang sombong itu akan dapat menghukumnya?”

Tetapi tidak seorang pun yang berani mempersoalkannya. Wajah-wajah tegang itu membuat anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan bagaikan dihadapkan kepada pengadilan yang berlambang pedang yang menyala tanpa keseimbangan. Karena yang berbicara adalah gelora kebencian, bukan tuntutan keadilan.

Untuk beberapa saat lamanya, anak-anak muda Tanah Perdikan itu masih mendengar ancaman-ancaman. Panglima yang memegang pimpinan pasukan Jipang di daerah Timur

Pajang itu pun ikut mengancam. Bahkan dengan bentakan-bentakan yang dapat meruntuhkan jantung.

“Hukuman dapat diberikan bukan saja yang melakukan pengkhianatan. Tetapi kelompoknya akan dapat menjadi sasaran hukuman yang tidak kalah beratnya. Karena itu, maka mereka yang berada di satu kelompok seharusnya saling mengawasi yang satu atas yang lain,” berkata perwira Jipang itu.

Sementara itu, Ki Rangga Gupita pun berkata, “Kalian dengar? Jadi kalian harus lebih mantap melihat kawan kalian mati di peperangan daripada berkhianat.”

Ki Randukeling memandanginya dengan wajah yang tegang. Meskipun dengan istilah lain, agaknya Ki Rangga masih saja bersikap kasar terhadap anak-anak Tanah Perdikan Sembojan. Baginya seseorang yang terluka akan lebih baik mati saja daripada ada kemungkinan untuk menyerahkan diri kepada lawan.

Ketika setiap dada anak-anak Tanah Perdikan Sembojan itu telah penuh dengan ancaman, celaan, perintah dan bentakan-bentakan, maka mereka pun diperkenankan kembali ke barak mereka masing-masing di padukuhan yang mereka pergunakan sebagai tempat kedudukan itu.

Wajah-wajah pun menjadi murung. Rara-rasanya mereka berada dalam satu bayangan yang suram dan penuh dengan kecurigaan. Satu orang di antara mereka hilang. Dan mereka pun merasa kehilangan kebebasan mereka yang masih tersisa. Apalagi bagi anak-anak muda yang datang kemudian.

Mula-mula tidak ada seorang pun di antara mereka yang membicarakan perkembangan keadaan itu. Mereka saling mencurigai dan tidak percaya bahwa mereka tidak akan dilaporkan. Namun melalui peraturan-peraturan yang panjang, akhirnya ada juga anak-anak muda itu yang mulai membicarakannya.

Meskipun mula-mula sekadar keluhan, bahwa hilangnya seorang di antara kawan mereka, maka hari-hari bagi anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan itu pun menjadi semakin gelap. “Anak itu memang harus dihukum,” desis seorang anak muda. “Ia sudah mencekik leher kita semuanya yang tertinggal.” “Jadi karena itukah ia

harus dihukum? Bukan karena pengkhianatannya?” bertanya yang lain.

Anak muda yang pertama merasa ragu untuk berbicara lebih panjang, namun yang lain itulah yang justru berkata selanjutnya, “Ia harus dihukum karena pengkhianatan. Itu jika benar ia melakukannya. Ketika ia terluka, pemimpin

kelompoknya mengatakan, bahwa anak itu masih mungkin meninggalkan medan. Jika penglihatan itu keliru dan anak yang terluka itu justru mati di medan, apakah

itu juga satu pengkhianatan? Seandainya ia tidak mati, tetapi ia dibawa tidak atas kehendaknya sendiri, apakah itu juga satu pengkhianatan?”

Anak muda yang pertama memandang kawannya dengan tajamnya. Namun tiba-tiba ia berdesis, “Anak itu adik sepupumu bukan?”

Kawannya menjadi tegang. Tetapi ia pun tidak ingkar, “Ya. Anak yang disebut pengkhianat itu adalah adik sepupuku. Ia anak seorang janda miskin yang semula berbangga karena anaknya menjadi seorang pengawal. Aku tidak tahu apakah sekarang ia akan menangisi anaknya yang hilang itu atau tidak.”

Anak muda yang pertama itu pun mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba diluar dugaan, seorang anak muda yang lain, yang sejak semula hanya mendengarkan saja pembicaraan itu menyahut, “Aku juga tidak tahu, apakah ibuku akan menangis atau tertawa jika ia melihat keadaanku.”

Kawan-kawannya yang berbicara lebih dahulu itu pun terdiam sejenak. Anak muda itu pun adalah anak seorang janda yang miskin. Yang semula juga merasa berbangga bahwa anaknya menjadi seorang pengawal yang terpilih dan mendapat uang yang cukup sehingga anak itu tidak lagi selalu minta uang kepada ibunya yang janda

itu.

Mereka terdiam ketika mereka melihat seorang prajurit Jipang yang lewat. Dan bahkan kemudian mendekati anak-anak muda itu sambil berkata, “He, apakah kalian sedang berbicara tentang pengkhianat itu? Seharusnya kalian menjadi gelisah

justru hanya karena tingkah laku seorang saja di antara kalian yang banyak ini.” “Kami sedang membicarakan diri kami,” jawab salah seorang pengawal Tanah Perdikan.

“Kenapa dengan diri kalian?” bertanya prajurit itu.

“Kami tidak boleh terperosok kedalam sikap seperti kawan kami yang hilang itu seandainya ia benar-benar berkhianat,” jawab anak muda itu.

“Bukankah sudah pasti bahwa ia berkhianat?” bertanya prajurit Jipang itu.

Anak-anak muda itu ragu-ragu. Namun akhirnya mereka mengangguk. Seorang di antara mereka menjawab, “Ya. Anak itu memang berkhianat. Itulah sebabnya kami harus mengerti benar-benar, apakah yang sebenarnya terjadi sekarang di tempat

ini agar kami, khususnya anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan tidak kehilangan kiblat.”

“Bagus,” berkata prajurit Jipang itu. “Dengan demikian maka kalian telah benar-benar berjiwa seorang prajurit.”

Namun ketika prajurit Jipang itu pergi, hampir berbareng tiga orang anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Sementara seorang yang lain lagi berdesis, “Sudahlah. Kita berbicara tentang yang lain.”

Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Tetapi seorang di antara mereka semapt juga berkata, “Kita sudah tidak berhak lagi berbicara tentang diri kita

sendiri.”

Kawan-kawannya memandanginya. Namun tidak seorang pun yang menyahut.

Meskipun

demikian, ternyata mereka pun mengiakannya di dalam hati.

Pada hari itu, anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang berada di antara orang-orang Pajang sudah menjadi semakin segar, meskipun ia masih tetap

berbaring di tempatnya. Ia memang merasa lebih tenang berada di dekat Gandar dan Kiai Soka meskipun anak muda itu belum mengenal mereka terlalu rapat. Sementara itu, para prajurit Pajang pun telah mendapat penjelasan tentang anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang ada di antara mereka.