-->

Suramnya Bayang-Bayang Jilid 30

Jilid 30

“Pasukan itu tentu akan bergabung dengan induk pasukan Jipang disisi Timur Pajang,” berkata seorang Senapati Pajang.

“Kenapa kita tidak menghancurkan pasukan itu selagi masih terpisah dan lemah?” berkata Senapati yang lain. “Bukankah dengan demikian pekerjaan kita tidak akan menjadi berat, karena jika pasukan itu telah bergabung dengan induk pasukannya, maka kekuatan mereka pun akan menyatu.”

Senapati yang pertama menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kita masih memperhitungkan siapakah sebenarnya lawan kita. Yang datang itu, menurut keterangan dari penghubung kita di Tanah Perdikan Sembojan, sebagian besar adalah anak-anak muda Sembojan. Hanya beberapa orang pemimpinnya memang dipengaruhi oleh Jipang dan berkiblat pada Jipang. Jika kita menghancurkan pasukan itu, maka anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojanlah yang akan menjadi korban. Bukan orang-orang Jipang.”

“Apakah bedanya?” bertanya Senapati yang lain. “Tanah Perdikan Sembojan telah memilih Jipang sebagai kiblatnya. Bukankah dengan demikian berarti bahwa Tanah Perdikan Sembojan telah menempatkan dirinya sebagai lawan kita? Bahkan dengan kasar Tanah Perdikan Sembojan dapat disebut memberontak.”

“Kau benar adi,” jawab Senapati yang pertama. “Tetapi hal itu bukan dilakukan

atas kesadaran seluruh rakyat Tanah Perdikan Sembojan. Jika kita mempelajari apa yang telah terjadi di Tanah Perdikan Sembojan, maka kita menjadi jelas, bahwa

kita tidak akan dapat memusuhi rakyat Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan kita akan menjadi kasihan terhadap mereka.”

Senapati yang lain itu pun menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnyalah bahwa ia pun telah mendengar serba sedikit tentang susunan pasukan Tanah Perdikan Sembojan yang datang dengan panji-panji kebesaran pasukan Jipang.

Namun baginya, siapapun juga, tetapi jika ia datang atas nama Jipang, maka ia pun harus dihancurkannya pula.

Tetapi segala sesuatunya tergantung atas perintah yang diterimanya menghadapi pasukan lawan yang semakin terdesak itu.

Meskipun demikian Pajang masih tetap memperhitungkan kehadiran pasukan Jipang itu, sehingga Pajang tidak dapat mengirimkan pasukan yang kuat menyusul pasukan yang dipimpin langsung oleh Adipati Pajang untuk menghadapi pasukan Jipang yang dipimpin langsung oleh Adipati Jipang.

Dengan demikian maka pasukan Pajang telah tertahan untuk tidak mengambil langkah-langkah yang keras terhadap pasukan Jipang yang terdiri dari anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan.

Karena itulah maka di hari berikutnya pasukan kecil dari Tanah Perdikan Sembojan itu tidak dapat gangguan sama sekali dari orang-orang Pajang.

Namun satu hal yang dipahami oleh orang-orang Pajang bahwa di antara pasukan kecil itu terdapat sedikitnya dua orang yang berilmu tinggi, sehingga para pemimpin Pajang harus memperhatikannya. Hari itu dilalui oleh pasukan Tanah

Perdikan Sembojan dengan ketegangan yang mencengkam. Para pengamatnya dengan waspada mengamati padang perdu diluar hutan.

Tetapi ternyata mereka tidak pernah melihat sesuatu yang mencurigakan.

Sementara itu, para pengamat dan petugas sandi dari Pajang memperhatikan pasukan itu dari kejauhan. Namun mereka mendapat perintah untuk tidak berbuat sesuatu atas pasukan itu atau memancing keadaan, sehingga timbul kegelisahan yang akan dapat mengubah kedudukan pasukan yang sudah diketahui tempatnya itu.

Ketika kemudian malam turun, maka para petugas sandi pun telah memperketat pengamatan mereka. Bukan saja pada pasukan kecil di hutan itu. Tetapi juga pada pasukan induk dari kekuatan Jipang yang berada di sisi Timur itu.

Dengan cermat mereka memperhatikan, apa yang terjadi dan apa yang telah dilakukan oleh kedua bagian dari pasukan Jipang itu. Kemudian atas hasil pengamatan mereka setelah lewat senja, maka para petugas sandi dari Pajang memperhitungkan, bahwa kedua pasukan itu akan melakukan satu gerakan bersama pada malam itu.

“Apakah mereka akan menyerang?” bertanya salah seorang di antara para petugas sandi.

“Kita siapkan pasukan Pajang untuk menahan mereka jika benar mereka akan menyerang. Tetapi semuanya masih harus diperhitungkan,” jawab yang lain. Karena itu, maka laporannya telah sampai kepada para pemimpin prajurit Pajang tentang gerakan-gerakan dari kedua pasukan Jipang itu.

Memang ada beberapa dugaan. Di antaranya adalah, bahwa kedua pasukan itu sedang berusaha untuk menemukan jalan agar mereka dapat menggabungkan diri.

“Mereka tidak akan dengan serta merta menyerang dari dua alas yang berbeda. Apalagi nampaknya pasukan yang datang kemudian itu belum mapan,” berkata salah seorang Senapati setelah mengurai semua laporan yang sampai kepadanya dari segala pihak.

Beberapa orang Senapati sependapat. Nampaknya kedua pasukan yang bersiap-siap itu sekadar mencari jalan untuk saling bergabung.

Meskipun demikian, pasukan Pajang tidak ingin mengalami akibat yang buruk dari kelengahannya. Pasukan Jipang itu dapat saja melakukan sesuatu yang tidak

terduga atau yang tidak diperhitungkan sebelumnya. Menyerang dengan pasukan yang kurang mampu alas berpijaknya di malam hari.

Karena itu, maka semua kubu pertahanan Pajang pun telah dipersiapkan. Pasukan berkuda yang meskipun tidak begitu besar telah siap menjelajahi daerah perbatasan. Jika benar pasukan Jipang itu menyerang disisi yang mana pun, pasukan Pajang telah siap untuk menghadapinya.

Dengan tegang para petugas sandi mengamati gerak pasukan Jipang. Mereka mengikuti dengan cermat apa yang telah ditugaskan untuk menilai keadaan mengambil kesimpulan bahwa pasukan Jipang itu tidak akan menyerang. “Seperti yang sudah kita duga sebelumnya,” berkata seorang petugas sandi.

“Pasukan Jipang itu sekadar menjemput kawan-kawannya yang terlalu kecil untuk berjalan sendiri di daerah lawan seperti ini,” sahut yang lain.

“Kita akan melakukan hal yang sama jika kita mengalami keadaan seperti itu,” berkata yang lain lagi.

Namun para petugas sandi itu tidak meninggalkan sasaran pengamatan mereka sehingga pasukan yang bergabung itu kembali ke landasan pertahanan mereka semula.

Seorang petugas sandi menarik nafas dalam-dalam. Dengan tegang ia mengikuti gerak pasukan Jipang itu. Namun demikian ia masih juga sempat bergumam, “Satu gerakan yang manis. Gelar yang dipasang pada saat-saat yang gawat merupakan gelar yang sangat mapan, sehingga seandainya pasukan Pajang menyerang, mereka akan sempat menemukan jalan keluar.” Kawannya mengangguk-angguk. Katanya, “Sejak semula kita menyadari, bahwa para Senapati Jipang adalah orang-orang yang memiliki kemampuan yang tinggi. Bukankah dalam tata keprajuritan Pajang dan Jipang mempunyai sumber yang sama, sehingga banyak kesamaan di dalam tata gerak kita dengan mereka?”

Petugas yang pertama mengangguk-angguk. Namun ia pun berdesis, “Tetapi ingat, mereka tidak terdiri dari para prajurit Jipang. Tetapi mereka terdiri dari

orang-orang Tanah Perdikan Sembojan.”

“Tetapi pelatih-pelatih mereka dan sekarang yang memegang kendali atas mereka adalah orang-orang Jipang,” jawab kawannya.

Petugas sandi yang pertama mengangguk-angguk. Desisnya, “Ya. Yang memegang kendali atas mereka adalah orang-orang Jipang.”

Karena itulah, maka pasukan Pajang kemudian mendapat laporan bahwa meskipun sebagian dari pasukan Jipang itu adalah anak-anak muda dari Tanah Perdikan, namun mereka memiliki kemampuan sebagaimana prajurit Jipang.

“Tetapi bagaimanapun juga kita mendapat perintah untuk memperlakukan mereka tidak sebagaimana kita memperlakukan prajurit Jipang itu sendiri,” berkata salah seorang Senapati.

Tetapi perintah itu memang sangat berat untuk dapat dilakukan dengan seksama. Dalam pertempuran yang sebenarnya, apabila orang-orang Tanah Perdikan Sembojan bergabung dengan para prajurit Jipang, para prajurit Pajang tentu sulit untuk memilih dan memperlakukan mereka dengan cara yang berbeda.

Dalam pada itu, pasukan Tanah Perdikan Sembojan yang dipimpin oleh Ki Wiradana memang telah bergabung dengan pasukan Jipang yang sebagian mereka juga terdiri dari anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan. Kedatangan mereka telah disambut dengan gembira oleh anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan. Pada saat pasukan Jipang itu menjemput mereka, maka anak-anak Sembojan itu tidak sempat menyatakan kegembiraan mereka atas kedatangan kawan-kawan mereka yang menyusul kemudian itu.

Baru setelah mereka berada di rumah-rumah yang mereka pergunakan sebagai

barak-barak pasukan Jipang disisi Timur Pajang itu, maka mereka dapat menyatakan perasaan mereka. Anak-anak muda yang telah lebih dahulu berada di Pajang itu

merasa seolah-olah mereka mendapat kesempatan untuk melihat kampung halamannya di Tanah Perdikan Sembojan.

Namun dalam pada itu, pada kesempatan yang mereka dapatkan kemudian untuk berbicara agak panjang, anak-anak muda yang datang kemudian menjadi berdebar-debar. Kesempatan menempa diri anak-anak muda itu tidak seluas kawan-kawan mereka yang terdahulu. Karena itu ketahanan tubuh mereka agak berbeda.

Namun seorang di antara anak-anak Tanah Perdikan Sembojan yang telah berada lebih dahulu di Pajang itu pun berkata, “Tetapi dengan demikian kita telah mendapatkan satu pengalaman yang dahsyat di dalam hidup kita. Pada satu saat, jika kita mendapat kesempatan kembali ke Tanah Perdikan Sembojan, kita akan membuat Tanah Perdikan Sembojan menjadi satu Tanah Perdikan yag luar biasa kuatnya.”

“Jika kesempatan itu tidak dapat kita dapatkan?” bertanya kawannya.

“Kita gugur dalam perjuangan yang suci untuk menegakkan garis keturunan tahta di Tanah ini,” jawab kawannya.

Bagaimanapun juga, terasa kulit anak muda yang datang kemudian itu meremang. Gambaran-gambaran yang didapatkannya dari kawan-kawannya memang menggetarkan.

Karena itu memang ada beberapa tanggapan atas ceritera tentang

pertempuran-pertempuran yang pernah terjadi di Pajang. Ada di antara anak-anak muda itu yang menjadi bangga, bahwa mereka telah mendapat kesempatan untuk melakukan satu kerja dan tugas besar. Tetapi ada di antara mereka yang menjadi berdebar-debar karena kerja yang terbentang dihadapan mereka benar-benar kerja yang harus dilakukan dengan mempertaruhkan nyawa. Sementara itu mereka tidak tahu dan tidak yakin, apakah yang disebut perjuangan itu benar-benar mempunyai nilai seperti yang dikatakan.

“Siapakah yang sebenarnya berhak atas tahta Demak?” bertanya beberapa orang di antara mereka. Tetapi tidak seorang pun yang dapat menjawab dengan mantap.

Kecuali jika mereka bertanya kepada para prajurit Jipang.

Sementara itu, Ki Randukeling dan Ki Rangga Gupita tengah berbicara dengan para pemimpin pasukan Jipang. Ki Randukeling berusaha untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi Tanah Perdikan lebih dahulu dengan dukungan prajurit Jipang yang ada di Pajang.

“Kami berkeberatan Ki Randukeling,” jawab Panglima prajurit Jipang, “Kami mendapat tugas disini. Kami memerlukan bantuan segala pihak untuk tugas ini. Bukan sebaliknya, meskipun kami berjanji bahwa jika tugas kami disini sudah selesai, kami akan pergi ke Tanah Perdikan Sembojan, mengantar kembali anak-anak muda yang telah dengan gagah berani membantu kami dalam perjuangan ini.

Merekalah yang tentu akan dapat menyelesaikan persoalan Tanah Perdikan mereka tanpa campur tangan orang lain. Tetapi jika keadaan memaksa maka kami pun tidak akan segan-segan turun tangan. Aku yakin, bahwa tugas itu akan selesai dalam

satu hari.”

“Benar Ki Sanak,” jawab Ki Randukeling. “Jika dikerjakan maka kerja itu akan selesai dalam satu hari. Tetapi untuk sampai ke hari yang satu itu, kita harus menunggu berapa bulan atau barangkali lebih lama lagi.”

“Aku tidak dapat melanggar tugas dan wewenang yang diberikan kepadaku oleh Ki Patih Mantahun,” jawab Panglima itu. “Karena itu, jika memang keadaan memaksa, maka aku akan mengirimkan utusan untuk berbicara dengan Patih Mantahun tentang permintaan Ki Randukeling.”

Ki Randukeling termangu-mangu. Namun ia dapat membayangkan, bahwa berhubungan

dengan pemimpin Kadipaten Jipang memerlukan waktu yang lama. Namun demikian Ki Randukeling tidak dapat memaksakan kehendaknya.

Sementara itu Ki Wiradana yang mendengarkan pembicaraan itu mencoba untuk menyambung, “Terima kasih atas segala kesediaan Ki Sanak. Sebagai pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan, maka aku sangat mengharapkan bantuan itu, sebagaimana kami telah membantu pasukan Jipang disini. Namun apabila mungkin, kami memang mengharapkan segala sesuatunya terjadi lebih cepat, seperti yang diminta oleh Ki Randukeling.”

Tetapi Ki Wiradana itu terdiam ketika Warsi menggamitnya dengan kasar meskipun tersembunyi. Namun Ki Wiradana segera menyadari bahwa Warsi tidak sependapat dengan kata-katanya itu.

Tetapi Panglima itu menjawab, “Aku mengerti. Tetapi aku pun minta kalian mengerti batas-batas tugasku dan persoalan yang besar yang sedang dihadapi oleh Jipang. Sudah tentu aku tidak dapat melupakan bantuan yang besar dari Tanah Perdikan. Bahkan Jipang pun akan segera mendengar apa yang telah kalian lakukan disini.”

Ki Wiradana hanya menarik nafas saja, sementara Warsilah yang menjawab. “Kami serahkan segala kebijaksanaan kepada Ki Sanak. Kami memang sudah bertekad untuk membantu sebagaimana kami katakan kepada Ki Rangga. Karena itu, maka seharusnya kami justru tidak membuat pasukan Jipang disini dibebani dengan persoalan-persoalan yang terjadi di Tanah Perdikan Sembojan.”

Panglima pasukan Jipang itu tersenyum. Katanya, “Terima kasih. Jipang akan memberikan imbalan sesuai bahkan melampaui apa yang telah diberikan oleh Tanah Perdikan Sembojan. Jika Pajang telah hancur, dan kekuasaan berada di tangan Jipang, maka Jipang akan menata kembali pemerintahan yang tersebar dari ujung Demak sampai ke ujung lainnya. Dari ujung Barat sampai ke ujung Timur, dari pesisir Utara sampai ke pesisir Selatan.”

Yang mendengarkan mengangguk-angguk. Ki Rangga Gupita yang tersenyum berkata, “Masa depan itulah yang mendorong Tanah Perdikan Sembojan bersedia melakukan apa saja. Aku tahu pasti, bahwa Tanah Perdikan Sembojan merupakan bagian kekuatan Jipang disisi Selatan, yang dalam masa yang mendatang akan dapat dipergunakan sebagai landasan kekuatan Jipang di lingkungan ini.”

Ki Randukeling menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat Panglima pasukan Jipang dan Warsi tersenyum. Namun wajah Wiradanalah yang menjadi buram. Tetapi Ki Randukeling tidak mengatakan sesuatu.

Dengan demikian, maka ada dua hal yang akan dilakukan oleh Panglima pasukan Jipang. Tetap membayangi pasukan Pajang di perbatasan dengan kekuatan yang sudah bertambah betapapun kecilnya, serta mengirimkan utusan kepada Ki Patih Mantahun untuk mohon pertimbangan, apakah tugasnya di Pajang dapat ditinggalkan barang sepekan untuk menyelesaikan persoalan Tanah Perdikan Sembojan.

Namun ketika pertemuan itu kemudian diakhiri, maka Warsi telah berkata kepada kakeknya, “Kakek terlalu tergesa-gesa. Kenapa kita harus mempersoalkan Tanah Perdikan itu? Seandainya kita dapat merebutnya kembali, apakah kita akan dapat mempertahankannya jika anak-anak kita harus kembali ke Pajang untuk berjuang bersama-sama pasukan Jipang disini?”

Ki Randukeling menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Biarlah kita menunggu utusan yang pergi ke Jipang. Mungkin para pemimpin Jipang dapat memberikan petunjuk yang justru kita anggap lebih baik dari pendapat kita

disini. Namun bagiku kedudukan para prajurit Jipang dan anak-anak dari Tanah Perdikan disini tanpa alas. Jika perjuangan ini berlangsung lama, maka dari mana anak-anak mendapat dukungan bagi makan mereka dan sumber kebutuhan-kebutuhan yang lain. Kita tidak akan dapat menggantungkannya dari Jipang yang jauh, karena mungkin di antara Jipang dan Pajang ini pasukan Pajang akan sempat memotong segala hubungan antara pasukan Jipang yang berada disini dan di Kadipaten atau di pesangrahan sebelah Bengawan Sore. Kita juga tidak dapat menggantungkan

kemungkinan untuk memeras rakyat Pajang sendiri agar selalu memberikan berasnya kepada kita. Padahal kebutuhan beras itu semakin lama menjadi semakin banyak.

Bahkan mungkin juga kebutuhan-kebutuhan yang lain. Kita memerlukan lauk pauk dan kebutuhan-kebutuhan lain yang sulit dihindari.”

Warsi termangu-mangu sejenak. Ia dapat mengerti keterangan kakeknya. Namun ia tidak begitu tertarik untuk melakukan sebagaimana dikatakan oleh kakeknya untuk membentuk landasan perjuangan di Tanah Perdikan Sembojan.

“Perang ini tidak akan terlalu lama,” berkata Warsi di dalam hatinya. “Menurut pendengaranku dari Ki Rangga Gupita, berdasarkan perhitungan yang

sungguh-sungguh, maka pasukan Jipang di tepi Bengawan Sore akan dengan cepat menghancurkan pasukan Pajang, asal Pajang tidak sempat mengirimkan bantuan kepada pasukan Pajang yang berhadapan dengan pasukan Jipang itu.”

Dengan demikian maka untuk sementara pasukan Jipang di Pajang sebelah Timur tidak mengubah kebijaksanaan mereka untuk tetap membayangi Pajang agar Pajang tidak melepaskan pasukan untuk membantu pasukannya yang dipimpin langsung oleh Adipati Pajang.

Namun dalam pada itu, pertentangan antara Jipang dan Pajang itu telah berkembang semakin jauh. Usaha beberapa pihak untuk menyelesaikan persoalan Jipang dan Pajang itu dengan damai, tidak dapat tanggapan yang baik dari kedua belah pihak yang sudah terlanjur dibakar oleh permusuhan.

Ketika seseorang yang mempunyai pengaruh yang besar atas kedua Adipati itu berusaha untuk mencari penyelesaian dengan mempertemukan kedua Adipati itu langsung, justru hampir saja menimbulkan perang tanding.

Betapapun segannya, kedua orang Adipati itu memenuhi permintaan orang yang mereka hormati itu untuk datang. Namun ketika keduanya benar-benar telah duduk berhadapan, selagi orang yang berusaha untuk mempertemukan mereka belum hadir, telah terjadi sesuatu yang sangat menegangkan.

Sebenarnya orang yang memiliki pengaruh yang besar itu ingin melihat kedua orang Adipati yang memiliki banyak kelebihan dari orang kebanyakan itu mampu menemukan satu pemecahan yang lebih baik dari perang. Namun yang terjadi bukanlah yang dikehendaki. Ketika kedua orang yang bermusuhan itu hadir, mereka telah dibekali dengan sikap curiga dan bahkan kebencian. Arya Penangsang yang duduk berhadapan dengan Adipati Pajang itu tiba-tiba justru tertarik kepada keris Adipati Hadiwijaya. Dalam ruang yang hening tegang itu,

tiba-tiba saja Arya Penangsang bertanya kepada Adipati Hadiwijaya,” Adimas, nampaknya keris adimas itu memancarkan cahaya tuah yang luar biasa besarnya. Apakah adimas memiliki keris yang baru?”

“Bukan kakangmas,” jawab Hadiwijaya,” Ini adalah kerisku yang dahulu.”

“Sambil menunggu, apakah aku diperkenankan meminjam keris adimas. Aku tertarik sekali karena nampaknya aku belum pernah melihat keris adimas yang satu ini.” Adipati Hadiwijaya menjadi ragu-ragu. Dipandanginya wajah Arya Penangsang. Namun yang dilihatnya adalah senyum dibibirnya yang hampir tertutup oleh kumisnya yang tebal.

“Apakah aku terlalu berprasangka,” bertanya Adipati Hadiwijaya di dalam hatinya. “Mungkin kakangmas Arya Penangsang benar-benar sekadar ingin mengisi kekakuan suasana yang menegangkan ini. Tetapi satu-satunya cara adalah demikian.”

Karena itu, maka akhirnya Adipati Hadiwijaya itu telah menjawab, “Keris ini bukan keris yang baik kakangmas. Jika sekilas keris ini nampak lebih baik dari yang lain, itu hanya ujud luarnya saja.

“Ah,” desis Arya Penangsang. “Jangan merendahkan diri begitu. Aku tahu bahwa adimas memiliki ketajaman penglihatan atas jenis-jenis pusaka dan benda-benda bertuah. Karena itu, biarlah aku melihat keris itu barang sebentar.”

Adipati Hadiwijaya masih ragu-ragu. Ia melihat Arya Penangsang itu juga membawa keris sendiri. Jika ia bermaksud buruk, maka ia tidak perlu meminjam kerisnya yang belum tentu memiliki daya kekuatan sebagaimana keris Arya Penangsang yang terkenal itu. Adipati Hadiwijaya mengenali keris Arya Penangsang itu sejak lama.

Keris yang diberi nama Kiai Setan Kober itu merupakan keris yang sulit dicari duanya diseluruh Demak.

Karena itu, akhirnya Adipati Pajang itu pun menarik nafas dalam-dalam. Katanya di dalam hatinya, “Aku terlalu berprasangka.”

Dengan demikian, maka Hadiwijaya itu pun menjawab, “Baiklah kakangmas. Tetapi kakangmas jangan mentertawakan keris itu. Keris yang barangkali tidak berarti dibandingkan dengan Kiai Setan Kober yang kakangmas bawa itu.”

Adipati Jipang itu tersenyum. Namun keningnya berkerut ketika ia melihat Adipati Hadiwijaya itu benar-benar menarik kerisnya yang diselipkannya di punggungnya. Dengan gerak naluriah Adipati Pajang itu justru bangkit berdiri dan bergeser surut.

Adipati Hadiwijaya tertegun sejenak. Namun kemudian katanya, “Nah, bukankah keris ini tidak berarti apa-apa bagi kakangmas.”

Arya Penangsang memandangi keris itu sejenak. Namun kemudian ia pun bergeser pula untuk menerima keris itu, meskipun ia tetap berhati-hati.

Sejenak Adipati Jipang itu mengamati keris Adipati Hadiwijaya yang berada ditangannya. Namun tiba-tiba wajah Arya Penangsang itu berubah. Senyumnya tiba-tiba saja telah lenyap dari bibirnya. Pandangan matanya pun telah berubah

pula seakan-akan memancarkan api kemarahan yang sudah lama tertahan di dadanya.

Dengan nada berat Arya Penangsang itu berkata, “Keris seorang Adipati tentu keris yang bertuah. Karena itu, aku ingin mencoba, apakah benar dengan keris ini aku akan dapat mengakhiri pertentangan antara Pajang dan Jipang. Bukan dengan satu tusukan di dada menembus jantung, tetapi dengan goresan kecil di lengan

atau bahkan di ujung jari. Keris seorang Adipati akan mampu membunuh seseorang yang betapapun saktinya hanya dengan goresan kecil yang tidak lebih dari

sentuhan ujung duri.”

Wajah Adipati Hadiwijaya menegang. Ternyata bahwa kecurigaannya bukannya berlebihan. Bukan sekadar prasangka atau bahkan mimpi buruk.

Apalagi ketika tiba-tiba saja Adipati Jipang itu telah bersikap. “Apa artinya kakangmas?” bertanya Adipati Hadiwijaya. “Kita adalah laki-laki,” jawab Arya Penangsang. “Selama ini kita telah mengorbankan berpuluh bahkan beratus orang yang tidak berkepentingan langsung dengan persoalan kita. Karena itu, marilah persoalan kita ini kita selesaikan sendiri. Kita selamatkan para prajurit bahkan orang-orang yang tidak bersenjata di padukuhan-padukuhan.”

Wajah Adipati Hadiwijaya menjadi tegang. Namun sebagai seorang Adipati maka Hadiwijaya tidak akan ingkar. Ketika pada mulanya ia mencoba untuk berlaku sebaik-baiknya dihadapan orang yang sama-sama mereka hormati, maka sikap Arya

Penangsang itu benar-benar telah menggelapkan hatinya dan hilanglah segala macam unggah-ungguh yang harus dilakukannya.

Karena itu, maka Adipati Pajang itu pun mundur selangkah. Ia pun tiba-tiba telah menyingkapkan bajunya yang panjang. Dengan suara bergetar ia berkata, “Inilah pusakaku yang sebenarnya kakangmas. Kakangmas tentu mengenal Kiai Crubuk. Meskipun ujudnya sangat sederhana, namun aku yakin bahwa pusakaku ini akan dapat menyelesaikan persoalan.” “Bagus,” geram Arya Penangsang. “Ternyata kau jantan juga adimas.”

Adipati Pajang pun telah bersiap sepenuhnya menghadapi segala kemungkinan. Sementara itu Arya Penangsang menjadi ragu-ragu, justru karena Adipati Pajang telah menggenggam pusakanya yang memang sudah dikenalnya lebih dahulu dari Crubuk.

Meskipun demikian Adipati Jipang itu ingin mencobanya, jika keris yang dipinjamnya dari Adipati Pajang itu tidak dapat membunuh pemiliknya sendiri, maka ia masih membawa kerisnya yang disegani oleh setiap orang diseluruh Demak, Kiai Setan Kober.

Namun dalam pada itu, pada saat-saat gejolak perasaan kedua Adipati itu

memuncak, orang yang sama-sama mereka hormati itu telah memasuki ruangan. Betapa terkejutnya orang itu. Namun kedua Adipati itu pun ternyata telah mengurungkan niatnya untuk berperang tanding.

“Inikah yang akan terjadi?” bertanya orang yang telah memanggil keduanya. Kedua Adipati itu tertegun. Mereka mulai menyadari betapa dorongan perasaan mereka tidak terkendali, justru pada saat-saat seorang yang berpengaruh atas mereka keduanya berusaha ingin mendapatkan penyelesaian yang lebih baik dari perang.

Tetapi dengan demikian maka pembicaraan tidak akan dapat berlangsung dengan baik, sehingga orang yang berpengaruh atas keduanya itu berkata, “Aku sangat kecewa atas peristiwa ini. Ternyata Kanjeng Adipati berdua adalah anak-anak ingusan yang belum dewasa menanggapi persoalan yang ingin aku ketengahkan. Karena itu, biarlah aku menunda pertemuan ini sampai saat-saat yang akan aku usulkan kemudian.”

Kedua Adipati itu dipersilakan kembali ke pesanggrahan masing-masing. Namun dengan pesan, “Aku mohon Kanjeng Adipati berdua menetapi kedudukan kalian sebagai kesatria. Silakan kembali ke pesanggrahan masing-masing. Kalian tidak akan berlaku seperti dua orang gembala yang berkelahi di padang karena berebut sebutir telur burung puyuh.”

Kedua Adipati itu pun kemudian mohon diri setelah keduanya memohon maaf atas tingkah laku mereka, serta Adipati Jipang mengembalikan keris Adipati Pajang yang dipinjamnya, dan yang hampir saja dipergunakan untuk mengakhiri hidup

pemiliknya. Namun ternyata bahwa Adipati Pajang pun telah siap menghadapi segala kemungkinan. Di luar, kedua kelompok pengawal masing-masing menunggu dengan tegang. Sebenarnyalah mereka masing-masing telah bersiap sepenuhnya menghadapi segala kemungkinan. Bagaimanapun juga mereka tidak dapat lepas dari perasaan saling mencurigai.

Namun kemudian kedua Adipati yang mereka sertai itu telah keluar bersama-sama diiringi orang yang telah mengundang mereka untuk satu pembicaraan yang seharusnya dapat mengurangi ketegangan, namun yang hasilnya justru sebaliknya. Tetapi diperjalanan kembali ke pesanggrahan masing-masing tidak terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. Keduanya telah menempuh jalan yang berbeda.

Namun bagaimana pun juga, peristiwa itu telah membuat keduanya menjadi saling membenci dan mendendam. Kedua Adipati yang masih mempunyai saluran kekeluargaan

itu benar-benar telah dibakar oleh permusuhan yang sulit untuk dapat bertaut kembali.

Sementera itu, perang masih berlangsung terus meskipun tidak merupakan perang gelar yang menentukan. Tetapi dibeberapa tempat, pasukan-pasukan yang berkelompok dari kedua belah pihak, kadang-kadang telah berbenturan dan korban pun berjatuhan.

Di Pajang pasukan Jipang yang merasa tidak mampu memecahkan kekuatan Pajang memang tidak berusaha untuk memasang gelar. Tetapi pasukan Jipang itu selalu

saja mengganggu agar Pajang tidak sempat mengirimkan pasukan untuk memperkuat kedudukan pasukannya yang berada di bawah pimpinan langsung Adipati Pajang di tepi Bengawan Sore.

Dengan demikian, maka usaha Ki Randukeling untuk memperkuat kedudukan landasan di Tanah Perdikan Sembojan pun menjadi semakin sulit. Namun Ki Randukeling kemudian dapat mengerti, meskipun ia telah berpendirian bahwa cara itulah yang

lebih baik. Dalam pertempuran yang lama dukungan makanan dan perlengkapan itu sangat dipentingkan.

Namun sementara itu, para Senapati di Pajang pun selalu mengganggu kedudukan pasukan Jipang di Pajang. Apalagi pasukan Jipang disisi Timur. Senapati itu masih saja selalu melakukan hubungan dengan para pemimpin di Tanah Perdikan Sembojan.

“Sembojan sedang berusaha membenahi diri dengan tenaga yang sangat terbatas,” pesan Iswari kepada para Senapati di Pajang, “Karena itu, mohon dijaga agar pasukan Jipang tetap berada dalam pengamatan Pajang.”

Para Senapati di Pajang pun telah berusaha memenuhi pesan itu. Mereka pun berkepentingan agar Sembojan tidak menjadi landasan kekuatan pasukan Jipang di daerah Pajang itu. Karena itulah maka Pajang selalu berusaha mengganggu pasukan Jipang. Dengan demikian, maka pasukan Jipang itu tidak akan pernah sempat berbuat lain dari mempertahankan dirinya.

Dalam setiap pembicaraan, maka Panglima pasukan Jipang disisi Timur itu selalu mengatakan, bahwa kekuatan Jipang itu tidak akan dapat dikurangi. Mereka pun tidak akan dapat meninggalkan kedudukan mereka, agar jika terjadi sesuatu perubahan keseimbangan pasukan Pajang dan Jipang pada kekuatan induk mereka, pasukan itu tidak dibebani tanggung jawab.

Di Tanah Perdikan Sembojan, Iswari telah bekerja keras dibantu oleh para Bekel dan bebahu Tanah Perdikan yang sebelumnya seakan-akan telah kehilangan kedudukannya.

Tetapi Sembojan telah menjadi sebuah Tanah Perdikan yang lemah. Sebagian besar anak-anak mudanya telah berada di Pajang bersama pasukan Jipang. Sementara itu, yang masih tinggal di Sembojan harus bekerja keras melakukan tugas-tugas yang seharusnya dilakukan oleh tenaga yang jauh lebih banyak.

Namun demikian tidak ada kesempatan untuk mengeluh bagi para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan yang menggeser kedudukan Ki Wiradana itu. Yang terbentang dihadapan mereka adalah tugas dan tanggung jawab yang sangat berat.

Meskipun demikian, betapapun berat tugas yang harus mereka lakukan, namun orang-orang Sembojan merasa sempat menarik nafas dalam-dalam. Selama ini nafas mereka merasa sesak dikejar-kejar oleh seribu macam kewajiban tanpa mengerti hak mereka yang sebenarnya.

Yang kemudian tampil dalam tugas-tugas yang biasanya dilakukan oleh anak-anak muda, adalah semua orang laki-laki yang sudah dewasa sampai batas mereka yang masih mempunyai kekuatan yang cukup untuk bekerja. Sementara itu para remaja telah mendapat tugas mereka masing-masing. Bahkan anak-anak pun telah melakukan

apa yang paling sesuai bagi mereka. Sedangkan perempuan-perempuan Tanah Perdikan pun tidak mau tinggal diam. Meskipun tenaga mereka tidak sekuat tenaga

laki-laki, namun dengan kemauan yang keras, maka mereka pun dapat menghasilkan kerja yang besar bagi padukuhan mereka masing-masing.

Di samping kerja keras untuk memperbaiki kesejahteraan dan tata kehidupan, maka Tanah Perdikan Sembojan pun mencoba untuk menyusun kekuatan yang tersisa. mohon maaf lagi. kalau ada yg bisa melengkapi, saya sangat

berterima-kasih.....

“Jadi apa artinya kita berada disini? Jika pasukan Pajang tidak juga

menyeberangi Bengawan itu, apakah kita akan berada disini sampai tua?” bertanya

Arya Penangsang. “Hamba memang sudah tua Kanjeng,” jawab Patih Mantahun. “Tetapi kita harus sedikit tenang menghadapi Adipati Pajang yang mempunyai perhitungan yang cermat. Kedua panglimanya yang memiliki perhitungan yang tajam itu, menjadikan pasukan Pajang memiliki landasan yang kuat diseberang sebagaimana pasukan kita disini. Pemanahan dan Penjawi adalah dua orang Panglima yang jarang ada bandingnya. Karena itu, maka aku mohon sekali lagi Kanjeng Adipati memperhitungkan setiap langkah yang akan diambil.” “Aku tidak sabar,” jawab

Adipati Jipang.

“Kelemahan itulah yang akan dipergunakan oleh orang-orang Pajang untuk menjebak Kanjeng Adipati. Karena itu, Kanjeng Adipati harus menyadarinya. Mungkin pada suatu saat kita akan mempergunakan cara yang dapat mengejutkan orang-orang Pajang,” berkata Patih Mantahun.

“Bagaimana jika kita mengambil jalan melingkar. Kita akan menyeberangi Bengawan ini tetapi tidak dihadapan pasukan Pajang. Kita menempuh perjalanan menyusuri Bengawan ini beberapa ratus tonggak, kemudian kita menyeberang. Baru setelah kita berada di seberang kita menyerang kedudukan Adipati Pajang dari lambung,” berkata Arya Penangsang.

“Mungkin cara itu dapat ditempuh. Tetapi sudah tentu dengan perhitungan yang teliti, karena pengamat dari Pajang yang melihat perjalanan pasukan ini, akan memberikan isyarat, sehingga pasukan Pajang pun akan mengikuti perjalanan pasukan kita menelusuri sungai,” jawab Mantahun.

“Kita memang sudah pikun,” geram Arya Penangsang. “Jika demikian, kita pindahkan saja pusat pemerintahan Demak disini. Kita memerintah Demak dari tempat ini sambil menunggui Hadiwijaya yang terkantuk-kantuk di pesanggrahannya.”

Ki Patih Mantahun menarik nafas dalam-dalam. Ia mengenal sifat dan watak Arya Penangsang seperti mengenal sifat dan wataknya sendiri. Hatinya yang mudah terbakar dan darahnya yang cepat mendidih kadang-kadang merugikan kedudukannya. Apalagi jika mereka sudah berada di medan perang.

Karena itu, maka menunda keinginan Arya Penangsang untuk segera selesai dengan persoalannya, kalah atau menang, maka Patih Mantahun itu pun berkata, “Kanjeng, sebenarnya ada jalan lain yang dapat ditempuh.”

“Jalan apa? Menyerah?” geram Adipati Jipang.

“Tentu saja tidak,” jawab Patih Mantahun. “Untuk mengurangi korban dari antara mereka yang tidak bersalah dan tidak tahu-menahu persoalannya, maka sebenarnya ada jalan lain yang dapat Kanjeng lakukan?”

“Bagus,” sahut Adipati Jipang. “Aku memang sudah berpikir untuk menantang Adipati Pajang itu berperang tanding. Jika kau sependapat, maka aku akan menantangnya. Di darat atau ditengah Bengawan Sore. Dihadapan saksi-saksi dari orang-orang yang berpengaruh di Demak serta para Panglima dari kedua belah pihak. Siapa yang tinggal hidup, ialah yang berhak menjadi Sultan Demak menggantikan paman Trenggana.”

“O, bukan itu yang hamba maksud,” Patih Mantahun telah memotong dengan serta merta.

Arya Penangsang mengerutkan keningnya. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Jika bukan cara itu, lalu cara yang mana?”

“Ampun Kanjeng Adipati,” jawab Patih Mantahun. “Hamba justru ingin mengusulkan satu cara yang lain.”

“Cara apa?” bertanya Adipati Jipang tidak sabar.

“Satu cara yang dapat kita lakukan untuk mencapai maksud kita tanpa banyak korban dikedua belah pihak. Bagaimana pertimbangan Kanjeng Adipati jika kita memerintahkan beberapa orang yang kita anggap memiliki kelebihan untuk berusaha memasuki pesanggrahan Adipati Pajang?” bertanya Ki Patih Mantahun.

“Untuk apa?” bertanya Arya Penangsang pula.

“Membunuh Adipati Pajang. Jika Adipati Pajang terbunuh, maka perang untuk seterusnya akan berhenti. Di Pajang tidak akan ada orang yang dapat menggantikan kedudukannya dan berani melawan Kanjeng Adipati,” jawab Patih Mantahun. “Gila,” geram Arya Penangsang. “Kau ajari aku berlaku licik he? Kau ajari aku bertindak sebagai seorang pencuri yang licik dan pengecut. Tidak akan menantangnya berperang tanding.”

“Jangan Kanjeng,” sahut Patih Mantahun. “Cobalah Kanjeng dengar. Bukankah ayahanda Arya Penangsang juga dibunuh dengan cara yang licik? Dan bukankah kita juga pernah menempuh cara yang sama untuk membunuh Kanjeng Sunan Prawata dan Adipati Kalinyamat?” Wajah Arya Penangsang menegang. Namun kemudian ia menggeram, “Jika kita membunuh

dengan cara yang sama itu bukannya karena aku takut berhadapan dengan mereka dalam perang tanding. Tetapi bagiku mereka tidak mempunyai bobot yang pantas untuk melakukan perang tanding melawanku. Karena itu, maka lebih baik mereka diselesaikan dengan cara tersendiri tanpa menitikkan keringatku. Tetapi berbeda dengan Adipati Pajang. Hadiwijaya adalah seorang yang menurut pendengaranku memiliki ilmu yang sangat tinggi. Karena itu, aku menganggap bahwa ia pantas untuk turun kegelanggang dalam perang tanding melawanku. Jika aku menang, maka orang akan melihat betapa tinggi kemampuan Arya Penangsang, tetapi jika aku kalah, namaku tidak akan tercemar karena aku telah berperang tanding dengan orang yang memiliki tingkat kedudukan dan ilmu yang setataran.”

“Tetapi bagaimanapun ada juga bedanya,” jawab Patih Mantahun. “Kanjeng Adipati memiliki darah keturunan langsung dari Demak. Lalu siapakah Adipati Pajang yang pada masa mudanya disebut Mas Karebet itu atau yang juga dipanggil Jaka Tingkir?”

Arya Penangsang termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Ia menantu paman Sultan Trenggana.”

“Ya. Ia memang menantu. Tetapi bukankah Kanjeng Adipati mengetahui, betapa liciknya cara yang ditempuhnya, sehingga ia dapat memasuki lingkaran keluarga pamanda Sultan Trenggana?” berkata Mantahun. “Anak itu hanya mengandalkan modal ujud lahiriahnya. Ia memang seorang anak muda yang tampan pada waktu ia mengabdi di istana Sultan Trenggana. Dengan modal itulah ia dapat mencuri hati salah

seorang putri Sultan Trenggana. Nah, betapa nistanya ceritera yang selanjutnya, terjadi sehingga Kanjeng Sultan Trenggana tidak dapat lagi menghindari kenyataan itu, jika ia tidak ingin kehilangan putrinya yang sangat dikasihinya.”

“Bagaimana dengan Kebo Danu di hutan Prawata? Bukankah karena kesaktian Karebet maka ia berhak kembali ke istana?” bertanya Arya Penangsang.

“Semua itu tidak lebih dari satu permainan yang sudah disusun oleh Karebet itu sendiri, dibantu oleh beberapa orang pendukungnya, sehingga seakan-akan yang terjadi itu benar-benar satu kelebihan dari Karebet yang juga disebut Jaka Tingkir itu,” berkata Mantahun. “Karena itu, hamba persilakan Kanjeng mendengarkan pendapat hamba. Mengirimkan beberapa orang untuk memasuki pesanggrahan dan membunuh Jaka Tingkir itu.” Arya Penangsang mengerutkan keningnya. Untuk beberapa saat ia berdiam diri memikirkan pendapat Patih Mantahun itu. Namun kemudian katanya, “Ada juga baiknya untuk dicoba sambil menunggu kemungkinan lain yang dapat terjadi dengan pasukan yang saling membeku ini. Mungkin dengan langkah itu akan timbul satu gejolak yang dapat menggerakkan kedudukan kita disini.”

Dengan demikian maka Arya Penangsang telah menyerahkan sepenuhnya persoalan kepada Ki Patih Mantahun. Dengan nada datar ia berkata, “Terserah kepadamu Mantahun. Aku tidak begitu tertarik meskipun aku tidak berkeberatan. Yang penting bagiku, Hadiwijaya akan terbangun dan berbuat sesuatu sehingga

seakan-akan tidak sekadar membuang waktu tak berarti menunggu Bengawan Sore ini.

“Ia akan mati dan tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi,” jawab Mantahun. “Semua pengikutnya akan ketakutan dan akhirnya Pajang akan menyerah.”

Arya Penangsang tidak mendengarkan lagi mimpi Mantahun itu. Bahkan ia pun segera meninggalkan tempat itu untuk melihat kudanya yang bernama Gagak Rimang.

Sementara itu, Patih Mantahun yang telah mendapat izin untuk berusaha membunuh Adipati Pajang itu pun telah memanggil seorang kepercayaannya untuk menghadap. “Ampun Ki Patih,” berkata orang itu. “Apakah ada tugas yang penting yang harus hamba lakukan?” Ki Patih Mantahun itu mengangguk-angguk. Katanya, “Ada tugas yang sangat berat yang harus kau lakukan. Nyawamu akan menjadi taruhan.” “Hamba tidak pernah berkeberatan,” jawab orang itu. “Mati dalam melakukan tugas bagi hamba justru merasa lebih baik dari pada mati terbaring di amben karena diterkam oleh penyakit.”

“Tetapi tugasmu kali ini benar-benar tugas yang sulit untuk dapat kau lakukan,” berkata Patih Mantahun.

“Tugas apapun tidak akan pernah menggetarkan jantung hamba,” jawab orang itu. Patih Mantahun mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Dengarlah. Kau harus membunuh seseorang.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun tertawa. Jawabnya, “Satu permainan yang menyenangkan. Apakah tugas itu termasuk berat bagi hamba Ki Patih tahu, bahwa hamba adalah seorang yang memiliki bekal yang cukup untuk melakukannya.”

“Mungkin kau memiliki bekal yang cukup jika aku memerintahkanmu untuk membunuh penghuni rumah disudut padukuhan itu,” jawab Mantahun. “Tetapi kali ini kau harus membunuh seorang prajurit linuwih.”

Orang itu terpaksa mengerutkan keningnya. Dengan nada rendah ia bertanya, “Siapa yang harus aku bunuh? Bukankah Ki Patih Mantahun mengetahui, bahwa aku pernah berguru kepada lebih dari tiga orang pertapa yang memiliki ilmu yang tuntas?” “Jangan membual,” jawab Mantahun. “Aku tahu ketiga orang gurumu itu.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian menundukkan kepalanya. Ia tidak dapat menyombongkan diri dihadapan Ki Patih Mantahun, karena ia tahu benar bahwa Patih Mantahun memiliki ilmu melampaui guru-gurunya.

Namun dalam pada itu, Patih Mantahun itu pun berkata selanjutnya, “Tetapi ada satu yang menarik padamu. Salah seorang gurumu menguasai ilmu sirep. Aku pun tahu bahwa kau juga sudah mewarisi ilmu sirep itu, sehingga dengan ilmu itu kau akan dapat melakukan tugasmu. Tentu saja kau tidak akan sendiri. Kau akan pergi bersama tiga orang lain yang juga memiliki tataran ilmu seperti tataran ilmumu.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Namun ia masih bertanya, “Siapakah yang harus hamba bunuh? Sebenarnya hamba lebih senang bekerja sendiri. Orang lain agaknya akan justru dapat mengganggu tugas-tugas hamba.”

“Jangan terlalu sombong,” desis Ki Patih Mantahun. “Besok aku pertemukan kau dengan tiga orang yang akan pergi bersamamu itu.”

“Tetapi Ki Patih Mantahun memberitahukan, siapakah yang harus hamba bunuh,” berkata orang itu.

“Besok aku akan memberitahukan kepada kalian dalam waktu yang bersamaan,” jawab Ki Patih Mantahun. Lalu, “Namun aku ingin menunjukmu sebagai pemimpin kelompok yang terdiri atas empat orang itu. Namun dengan keterangan, jika tidak seorang

pun di antara tiga orang yang akan pergi bersamamu itu memiliki kelebihan darimu. Jika ternyata salah seorang di antara ketiga orang itu memiliki ilmu yang lebih tinggi darimu, maka ialah yang akan menjadi pemimpin di antara kalian.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Dengan nada datar ia berkata, “Hamba tidak gelisah karena tiga orang itu. Hamba yakin, bahwa tidak seorang pun di antara mereka yang memiliki kelebihan dari hamba. Tetapi yang menggelisahkan hamba adalah justru karena Patih Mantahun tidak menyebut nama orang yang harus hamba bunuh itu. Sebenarnya, jika hamba tahu pasti, maka hamba akan dapat mengatakan, bahwa hamba tidak memerlukan seorang kawanpun.” “Jangan membual,” bentak Patih Mantahun. “Aku mengenalmu. Mengenal guru-gurumu. Aku tahu takaran kemampuanmu.”

Orang itu terdiam. Sebenarnya Patih Mantahun mengetahui segala-galanya. Karena itu, maka orang itu pun mohon diri ketika Ki Patih Mantahun berkata, “Kau boleh pergi sekarang. Yang sangat aku perlukan padamu adalah kemampuanmu menyebarkan sirep.”

“Baik Ki Patih,” jawab orang itu. “Hamba akan menunggu perintah selanjutnya.

Sepeninggalan orang itu, maka Patih Mantahun pun telah mempersiapkan

segala-galanya. Seperti yang dikatakannya, maka ia pun menghubungi ketiga orang yang lain. Orang yang menurut pendapat Patih Mantahun memiliki kemampuan yang tinggi dan sesuai untuk tugas yang sangat berat itu.

Sementara Patih Mantahun mempersiapkan rencananya, maka telah datang utusan dari Panglima pasukan Jipang di Pajang. Utusan itu menghadap Ki Patih dengan membawa persoalan yang menyangkut pasukan Jipang di sisi Timur Pajang.

Patih Mantahun memang memikirkan pernyataan utusan itu. Sebagaimana dikatakan oleh utusan itu, bahwa Ki Randukeling mempunyai pertimbangan tersendiri tantang pasukan Jipang di Pajang.

“Aku dapat mengerti,” berkata Patih Mantahun. “Tetapi aku berharap bahwa perang antara Jipang dan Pajang itu tidak akan berkepanjangan. Sementara itu, Jipang sedang mempersiapkan satu gempuran terakhir terhadap pasukan induk Pajang yang ada disini. Karena itu, untuk sementara pasukan itu harus tetap berada ditempat, agar Pajang tidak sempat mengirimkan bantuannya kepada pasukannya yang ada disini.”

“Panglima pasukan Jipang disisi Timur juga sudah mengambil keputusan yang demikian,” jawab utusan itu. “Tetapi keputusan Ki Patih akan memantapkan keputusan itu, sementara Ki Randukeling akan merasa puas pula karena ia tidak merasa seakan-akan pendapatnya sekadar dipotong oleh Panglima pasukan Jipang di Pajang itu.”

“Ia berhak mengambil keputusan,” berkata Patih Mantahun. “Ia adalah seorang Panglima yang diangkat oleh Kanjeng Adipati Arya Penangsang.”

“Tetapi orang itu mengenal Ki Randukeling sebagai seorang yang dekat dengan Ki Patih,” jawab utusan itu.

“Baiklah. Katakan kepada Ki Randukeling, bahwa untuk sementara aku tidak dapat menyetujuinya. Mungkin dalam perkembangan berikutnya aku dapat mempertimbangkannya lagi,” berkata Ki Patih.

Dengan keputusan itulah utusan itu kemudian kembali ke Pajang untuk menyampaikannya kepada Panglimanya dan Ki Randukeling yang sebenarnya sudah tidak terlalu mendesak lagi. Apalagi ketika Ki Randukeling melihat dari dekat, bahwa pasukan Pajang selalu saja mengganggu pasukan Jipang itu meskipun tidak dengan serangan yang menentukan.

Pada saat-saat yang demikian, Tanah Perdikan Sembojan benar-benar telah berusaha menyusun dirinya. Beberapa Kademangan di sekitarnya telah bangkit pula. Mereka memiliki anak-anak muda yang justru jauh lebih banyak dibandingkan dengan Tanah Perdikan Sembojan sendiri, yang sebagian dari anak-anak mudanya telah berada di Pajang.

Tata kehidupan pun telah berubah pula perlahan-lahan. Namun terasa oleh setiap penghuni Tanah Perdikan Sembojan. Sementara hubungan dengan tetangga Kademangan

pun rasa-rasanya menjadi semakin akrab. Bahkan dalam tata kehidupan sehari-hari rasa-rasanya Kademangan-kademangan itu tidak terpisah oleh batas dengan Tanah Perdikan Sembojan.

Meskipun Tanah Perdikan Sembojan menjadi lemah karena kehilangan banyak anak-anak mudanya, namun Tanah Perdikan Sembojan tetap mempunyai pengaruh yang

besar terhadap lingkungan di sekitarnya. Kademangan-kademangan

disebelah-menyebelah Tanah Perdikan itu masih tetap menghormati Tanah Perdikan dan bahkan seakan-akan justru berkiblat kepadanya, karena beberapa orang yang dikirim oleh Tanah Perdikan Sembojan benar-benar dapat memberikan bimbingan dan tuntunan kepada anak-anak muda di Kademangan-kademangan itu dalam olah kanuragan.

Sembojan telah dengan sengaja memamerkan kelebihannya untuk tetap mempertahankan

pengaruhnya. Karena itulah, maka orang-orang yang dikirim ke

Kademangan-kademangan telah dengan sengaja meskipun terkendali menunjukkan kelebihan mereka.

Bahkan Sambi Wulung dan Jati Wulung pun telah memamerkan ketrampilannya. Ditanamnya patok-patok bambu yang tidak sama tingginya disebuah tanah yang cukup lapang. Kemudian dengan kecepatan gerak dan ketangkasannya mempertahankan keseimbangan, keduanya seakan-akan telah berloncatan dan menari-nari diatas tonggak-tonggak bambu itu.

Kemudian mereka pun telah menunjukkan kemampuan mereka mempermainkan senjata.

Pada saat keduanya berada di atas patok-patok bambu maka keduanya telah menunjukkan satu permainan senjata yang mengagumkan.

Di tempat lain Kiai Soka sendiri juga bermain-main bersama Kiai Badra.

Orang-orang tua itu mempunyai cara tersendiri untuk memancing minat orang-orang di Kademangan sebelah untuk bekerja keras mempelajari kemungkinan dengan senjata.

Ternyata bahwa usaha mereka itu pun berhasil. Beberapa anak muda terpilih dengan mengikuti latihan-latihan khusus. Sementara itu kemampuan mereka harus disebarkan kepada kawan-kawan mereka.

Di samping orang-orang tua yang berilmu tinggi, itu maka anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang tersisa, yang pernah ditempa oleh para perwira Jipang dapat juga membantu memberikan latihan kepada anak-anak muda di Kademangan-kademangan itu.

Dengan demikian, maka dalam waktu yang terhitung singkat, di

Kademangan-kademangan itu telah terdapat kesibukan yang luar biasa. Sementara anak-anak mudanya pun mulai mengenali bagaimana caranya memegang senjata. Ternyata bahwa kemauan anak-anak muda itu demikian besarnya sehingga mereka seakan-akan tidak mengenal waktu. Mereka berlatih kapan saja disela-sela kewajiban mereka disawah dan kewajiban-kewajiban yang lain, di samping

latihan-latihan pada waktu yang memang sudah ditentukan, dua hari sekali. Dalam pada itu, di pesanggrahan Patih Mantahun, dipinggir Bengawan Sore, telah terjadi satu pendadaran bagi mereka yang akan menjalankan tugas yang diberikan oleh Patih Mantahun. Di tempat yang tersembunyi dari penglihatan orang lain,

Patih Mantahun telah berusaha untuk melihat kemampuan dari keempat orang itu. Mereka harus melakukan sebagaimana diperintahkan oleh Patih Mantahun untuk mendapatkan penilaian, siapakah di antara mereka yang paling pantas untuk memimpin kawan-kawan mereka dalam tugas yang sangat berat itu.

“Dalam keadaan terpaksa, maka kalian harus menghindarkan diri dari kemungkinan yang paling buruk. Karena itu, maka aku ingin melihat, apakah kalian memiliki kemampuan berlari. Meskipun yang lain dapat berlari cepat, tetapi jika seorang di antara mereka tertangkap maka kerahasiaan tugas kalian akan terancam,” berkata Patih Mantahun.

Keempat orang itu mengumpat. Seorang di antaranya berkata, “Kami adalah orang-orang yang memiliki nama yang besar. Untuk apa kami harus berlomba lari seperti anak-anak.”

“Tutup mulutmu,” bentak Patih Mantahun, “Jika kau tidak berani melakukannya, pergi saja dari sini.”

Orang itu tidak berani bertanya lebih lanjut. Ia menyadari watak Patih Mantahun yang tua itu. Dalam usianya yang semakin banyak, maka kekerasan hati dan sikapnya tidak juga berkurang.

“Kalian tidak akan mendapat upah apapun juga selain kepemimpinan. Siapa yang menang akan menjadi bahan pertimbangan, karena masih ada beberapa pertarungan lagi di antara kalian,” berkata Patih Mantahun.

Orang itu tidak mengelak. Mereka berempat harus berlari menuju sebatang pohon yang sangat besar. Setelah melingkari pohon itu maka mereka harus kembali ke Patih Mantahun. “Kalian tidak hanya lari secepatnya saja. Tetapi kalian boleh saling menghalangi. Sedikit kekerasan memang akan terjadi. Tetapi harus tetap mengendalikan diri, bahwa kalian sedang dalam pendadaran, sehingga siapa yang mencederai yang lain sampai parah, ia justru dianggap kalah,” berkata Patih Mantahun. “Gila,” geram mereka di dalam hati. Tetapi tidak seorang pun yang berani menolak rencana Ki Patih Mantahun itu.

Sementara itu, mereka pun segera mempersiapkan diri. Ki Patih Mantahun pun kemudian membagikan masing-masing seutas tali sepanjang satu depa. Katanya, “Ini adalah satu-satunya senjata kalian. Kalian dapat mempergunakan sepanjang tidak membunuh yang lain.”

Keempat orang itu termangu-mangu. Namun mereka pun menyadari, bahwa derajat kepemimpinan itu ternyata harus mereka tebus dengan permainan yang keras dan bahkan mungkin kasar.

Tetapi mereka adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi dan merasa bahwa yang satu tidak akan kalah dari yang lain. Karena itulah, maka tidak seorang pun

di antara mereka yang merasa gentar menghadapi pendadaran itu. Bahkan mereka merasa justru saling dipermainkan oleh Ki Patih Mantahun.

Tetapi sebenarnya Ki Patih ingin melihat bukan saja siapakah yang paling tangkas dan berkemampuan tertinggi, tetapi ia juga ingin melihat apakah keempat orang itu memiliki keseimbangan untuk melakukan satu tugas tertentu.

Sejenak kemudian Ki Patih Mantahun pun telah memberikan isyarat untuk bersiap. Kemudian ia pun mulai menghitung, “Satu, dua, tiga.”

Keempat orang itu pun segera meloncat berlari. Mereka telah mengerahkan bukan saja kemampuan wadag mereka, tetapi didorong oleh tenaga cadangan yang kuat di dalam hati mereka, maka mereka pun telah berlari seperti anak panah yang terlepas dari busurnya.

Namun agaknya mereka masih belum berniat untuk saling menghalangi. Mereka masih berusaha untuk lebih dahulu sampai ke pohon besar yang harus mereka putari.

Ternyata keempat orang itu memiliki kecepatan berlari yang hampir sama. Dorongan kekuatan yang melampaui kekuatan orang kebanyakan memang memberikan kelebihan atas keempat orang itu.

Namun demikian, Ki Patih Mantahun masih menunggu, apa yang terjadi kemudian jika keempat orang itu mencoba saling menghalangi.

Ketika keempat orang itu hampir bersamaan mencapai pohon besar yang harus mereka putari, maka mulailah mereka saling menghalangi. Seorang di antara mereka telah mencoba menyentuh kaki yang lain yang sebelumnya menjadi agak lengah justru karena ia mendapat kesempatan berada paling depan. Ternyata bahwa sentuhan pada kakinya itu telah membuatnya kehilangan keseimbangan, sehingga ia pun telah

jatuh terguling di tanah. Seorang yang hampir saja menginjaknya telah meloncat dengan tangkasnya. Bahkan demikian orang Itu menjejak tanah, tiba-tiba tangannya telah menangkap lengan orang yang lain. Dengan satu hentakan maka orang itu pun telah terdorong menyamping. Seperti yang terjatuh itu, maka ia pun kehilangan keseimbangan.

Tetapi yang lain pun tidak tinggal diam. Bahkan seorang di antara mereka telah menyekap yang lain dan membantingnya ditanah. Sementara itu, yang membanting kawannya itupun tidak sempat berlari lebih jauh, karena seorang telah mendekap kakinya.

Semula keempat orang itu masih dibatasi oleh keseganan mereka untuk berbuat

lebih keras. Namun semakin lama keseganan itupun menjadi semakin kabur, sehingga akhirnya, mereka pun mulai saling mendorong, saling menyekap dan bahkan benturan-benturan kekerasan sulit untuk dihindari lagi.

Itulah yang ingin dilihat oleh Patih Mantahun. Satu perkelahian segi empat yang membingungkan.

Namun ketajaman penglihatan Patih Mantahun dapat mengamati dengan cermat, keempat orang yang dihadapinya itu. Apalagi ketika kemudian mereka menjadi saling memukul dan menghindar. Mendorong dan mendera.

Untuk beberapa saat perkelahian yang aneh itupun terjadi. Jika semula mereka

hanya sekadar mempergunakan tenaga wadag mereka, maka semakin lama merekapun telah merambah kepada kemampuan ilmu mereka.

Dengan seksama Ki Patih Mantahun mengamati tali yang ada di tangan masing-masing. Untuk beberapa saat tali itu rasa-rasanya justru mengganggu.

Namun ketika mereka sudah sampai kepada saat-saat yang menentukan, maka tali itu pun mulai dipergunakan. Seorang di antara mereka telah menghentakkan tali itu sehingga terdengar ledakan melampaui kerasnya ledakan cambuk.

Namun seorang di antara mereka, telah mengerahkan kemampuan ilmunya, sehingga tali tiba-tiba telah berubah menjadi sebuah tongkat yang kuat bagaikan baja.

Namun sebelum ia dapat mempergunakannya, seutas tali telah membelit pergelangannya, seakan-akan seekor ular yang buas yang menyerang begitu tiba-tiba.

Tetapi tali yang membelit pergelangan tangan itu tidak mampu merenggut tongkat yang digenggamnya erat-erat. Sementara itu telah terdengar lagi ledakan yang seakan-akan memecahkan selaput telinga.

Ki Patih Mantahun menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak merasa kecewa terhadap keempat orang itu. Mereka memiliki ilmu yang seimbang sehingga dalam keadaan tertentu tidak ada di antara mereka yang akan menjadi sebab kegagalan tugas mereka, kecuali jika mereka berempat bersama-sama kehilangan kesempatan untuk melakukan tugas mereka.

Dalam benturan ilmu segi empat itu sekaligus Ki Patih Mantahun dapat memperbandingkan setiap kemampuan mereka dengan langsung sehingga ia tidak memerlukan waktu yang terpisah-pisah.

Namun dengan demikian, maka keempat orang itu bergeser lambat sekali. Tidak ada kemajuan yang mendekatkan mereka kepada garis awal yang akan juga menjadi garis akhir. Bahkan sekali-kali seseorang di antara mereka harus terdorong mundur satu dua langkah. Namun ia pun dengan serta merta telah meloncat mendahului yang lain. Tetapi tiba-tiba saja seutas tali telah menjerat kakinya, dan satu

hentakan telah menariknya mundur pula. Ki Patih Mantahun menunggu dengan sabar permainan yang kemudian telah mengasyikkan itu. Ia harus menilai dengan cermat kemampuan yang tersimpan disetiap orang yang sedang bertanding. Justru karena kemampuan mereka seimbang,

maka agak sulit bagi Ki Patih Mantahun untuk menentukan urutan kemampuan mereka.

Sebenarnyalah keempat orang itu sudah menjadi kehilangan kendali diri. Itulah sebabnya mereka benar-benar saling menyerang dengan garangnya. Namun ketahanan tubuh mereka melampaui ketahanan tubuh orang kebanyakan sehingga karena itu maka mereka masing-masing masih mampu untuk bertahan.

Namun dalam pada itu, bagaimana pun lambatnya, mereka telah berkisar pula setapak demi setapak mendekati garis batas. Sementara itu Ki Patih menunggu dengan telaten, namun dengan pengamatan yang cermat untuk menilai kemampuan mereka. Bahkan dengan nada dalam ia bergumam bagi dirinya sendiri, “Siapa yang lemah dan memiliki kemampuan yang tidak seimbang, tentu akan digilas oleh pendadaran yang berat itu.”

Sebenarnyalah jika ada di antara mereka yang ilmunya terpaut banyak dari yang lain, akan mengalami kesulitan untuk tetap bertahan. Bahkan mungkin jika yang demikian, ia tidak akan mampu lagi untuk bangkit.

Dengan demikian maka Ki Patih Mantahun tidak perlu lagi menyisihkannya, karena dengan sendirinya ia akan tersisih.

Tetapi betapapun lambatnya mereka maju, namun keempat orang itu mampu mendekati garis batas. Namun dalam keadaan yang sangat gawat, seorang di antara mereka mencoba melenting mencapai garis yang ditentukan oleh Ki Patih Mantahun. Namun seutas tali telah menjeratnya sehingga ia pun telah tertahan karenanya. Bahkan

tiba-tiba saja sebuah lecutan yang keras terasa memukul punggungnya, sehingga karena itu, maka ia pun telah menggeliat.

Pada saat itu seorang yang lain telah berusaha untuk meloncatinya. Tetapi kakinya bagaikan terantuk tongkat besi. Namun dengan tangkasnya ia berusaha memperbaiki keseimbangannya agar ia tetap tegak.

Tetapi pada saat yang demikian, seorang justru telah berguling seperti gumpalan asap tertiup angin. Demikian ringannya melintasi garis batas. Ketika orang yang

lain menerkamnya, maka orang yang berguling itu sempat menggeliat menghindarkan dirinya.

Sejenak kemudian orang itu pun telah melenting berdiri. Kemudian dengan suara lantang ia berkata, “Akulah yang pertama memasuki perbatasan.”

Kawan-kawannya pun telah tegak pula berdiri. Mereka semua sudah melintasi garis, hampir bersamaan. Selisih waktunya tidak lebih dari sekejap.

Patih Mantahun menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku telah melihat semuanya. Aku telah menyaksikan bagaimana kalian memperebutkan tanggung jawab. Karena seorang pemimpin justru harus bertanggung jawab sepenuhnya.”

Keempat orang itu termangu-mangu. Namun dalam pada itu, terasa tubuhnya mereka menjadi sangat letih. Tulang-tulang mereka bagaikan retak-retak di dalam

tubuhnya. Perasaan nyeri dan pedih terasa dari ujung rambut sampai keujung ibu jari kaki mereka.

Sementara itu, mereka masih menunggu pendadaran berikutnya.

Tetapi Ki Patih Mantahun itu pun berkata, “Aku tidak akan melakukan pendadaran lagi. Aku menganggap bahwa yang kalian lakukan sudah cukup, sehingga aku sudah menjadi yakin, siapakah yang sebaiknya menjadi pemimpin di antara kalian.” Keempat orang itu menjadi tegang. Tetapi mereka sama sekali tidak menjawab.

Mereka menunggu, apa yang akan dikatakan oleh Ki Patih Mantahun tentang mereka. Meskipun demikian keempat orang itu sudah dapat menduga, bahwa orang yang pertama melintasi batas itulah yang akan ditetapkan menjadi pemimpin mereka.

Dalam pada itu, maka Ki Patih Mantahun pun berkata, “Dengarlah. Menurut penilaianku, kalian memiliki kesempatan yang sama karena kalian telah menunjukkan kemampuan yang sama. Tetapi ada satu kelebihan pada seorang di antara kalian, yaitu kemampuan menguasai dan menyebarkan ilmu sirep.”

Orang-orang itu mengerutkan keningnya. Sementara Ki Patih berkata selanjutnya, “Karena itu, maka aku menetapkannya untuk menjadi pemimpin di antara keempat orang yang akan aku bekali dengan tugas-tugas yang sangat berat.”

Orang yang memiliki ilmu sirep dan yang kebetulan mampu berguling melintasi batas mendahului kawan-kawannya meskipun hanya sekejap itu pun mengangguk hormat

sambil berkata, “Terima kasih atas kepercayaan Ki Patih. Hamba akan mencoba melakukan tugasku sebaik-baiknya.”

“Sebenarnya bagiku yang paling penting bukan siapakah yang akan menjadi pemimpin. Tetapi aku ingin melihat tataran kemampuan kalian.

Agaknya kemampuan kalian yang satu dengan yang lain tidak terpaut terlalu banyak, sehingga dengan demikian maka kalian akan dapat bekerja bersama dengan baik. Saling mengisi dalam tugas yang sangat berat ini,” berkata Patih Mantahun. Lalu tiba-tiba saja ia berkata, “Siapakah yang merasa berkeberatan atas keputusanku ini?”

Tidak seorang pun yang menjawab. Sehingga dengan demikian maka Patih Mantahun pun berkata selanjutnya. “Baik. Jika demikian maka kalian akan mendapat kesempatan untuk melakukan tugas yang mungkin tidak pernah kalian duga sebelumnya.”

“Siapakah yang harus kami bunuh?” bertanya orang yang memiliki ilmu sirep dan yang diangkat menjadi pemimpin di antara keempat orang itu. “Sampai saat ini Ki Patih belum menyebutnya. Bahkan setiap kali Ki Patih hanya membuat kami menjadi berdebar-debar saja.”

Ki Patih mengangguk-angguk. Katanya, “Aku baru akan mengatakannya setelah aku yakin, bahwa kalian akan dapat menyelesaikan tugas ini. Yang akan kau bunuh adalah orang yang memiliki ilmu melampaui setiap orang di antara kalian. Karena itu, hanya dengan saling mengisi, maka kalian akan dapat mengatasi persoalan.” “Ya, tetapi siapakah yang menjadi sasaran?” desak orang yang telah dipercaya untuk memegang pimpinan itu dengan tidak sabar.

Ki Patih Mantahun memandang orang itu dengan tajamnya. Namun kemudian bibirnya bergerak menyebut sebuah nama, “Hadiwijaya.”

Setiap mata terbelalak karenanya. Orang yang diangkat menjadi pimpinan itu bergerak setapak maju sambil berdesis, “Hadiwijaya. Adipati Pajang maksud Ki Patih.”

“Ya. Adipati Pajang,” sahut Ki Patih Mantahun.

Keempat orang itu saling berpandangan sejenak. Sementara itu terdengar Ki Patih menggeram, “Apakah kalian merasa takut? Jika kalian merasa takut, sebaiknya kalian katakan sekarang, karena aku tidak akan memaksakan perintah kepada para pengecut. Jika sebenarnya kalian takut, namun terpaksa dalam melakukan perintah ini, maka akibatnya akan tidak baik. Dengan demikian maka aku ingin mendapat ketegasan. Berani atau tidak. Jika kalian menyatakan tidak berani, maka tentu tidak ada orang lain yang harus melakukan kecuali aku sendiri.”

“Jangan Ki Patih,” cegah pimpinan dari keempat orang itu. “Ki Patih jangan tergesa-gesa mengambil sikap seperti itu. Biarlah kami berempat akan menyatakan

kesediaan kami. Namun kami mohon petunjuk dan kesempatan untuk mempelajari keadaan.” “Aku merasa mampu untuk melakukan sendiri. Jika aku minta kalian melakukannya, semata-mata untuk menghindari kesan bahwa Jipang telah berusaha memotong perang yang sedang berlangsung dengan satu pembunuhan. Meskipun akhirnya mereka pun tentu akan menduga seperti itu, tetapi mereka tidak akan dapat berkata

semena-mena tanpa bukti. Karena itu, kalian harus tetap menjaga rahasia yang akan kalian emban bersama dengan tugas yang berat itu. Apakah kalian mengerti maksudku?”

“Hamba mengerti Ki Patih,” jawab pimpinan kelompok yang terdiri dari empat orang itu. “Seandainya kami, atau salah seorang dari kami tertangkap, maka kami mati bersama rahasia itu.”

Ki Patih Mantahun mengangguk-angguk. Katanya, “Bagus. Aku percaya kepada kalian.

Jika salah seorang di antara kalian atau lebih bahkan semuanya saja tertangkap atau mati dalam tugas itu, maka keluarga kalian akan menjadi tanggung jawab kami. Keluarga kalian akan mendapat hadiah yang tidak ternilai harganya.” “Terima kasih,” jawab pimpinan dari keempat orang itu. “Sekali hamba mohon petunjuk dan sedikit waktu barang dua tiga hari untuk mengamati keadaan.” “Aku tidak berkeberatan,” jawab Patih Mantahun. “Tetapi dalam waktu dua tiga hari atau selama-lamanya sepekan jika kalian tidak berhasil maka leher kalian akan menjadi taruhan. Hanya ada dua pilihan bagi kalian. Berhasil atau mati.” Keempat orang itu mengangguk-angguk.

“Katakan, apakah kalian bersedia atau tidak,” desak Mantahun.

Tidak ada jawaban lain yang mereka ucapkan kecuali bersedia. Perintah sudah telanjur diucapkan. Jika seorang di antara mereka menolak, maka untuk menjaga keutuhan rahasia, maka yang menolak itu tentu akan dibinasakan, bagaimanapun caranya.

“Malam nanti aku akan memberikan beberapa petunjuk,” gumam Patih Mantahun. Demikianlah, ketika malam tiba, keempat orang itu telah menghadap Patih Mantahun di pesanggrahannya. Mereka mendapat beberapa petunjuk tentang tugas mereka dan sedikit keterangan tentang orang yang bernama Hadiwijaya.

“Hadiwijaya memiliki seribu macam ilmu. Pada masa mudanya ia adala pengembara, bahkan petualang yang menyusuri hutan, lereng-lereng pegunungan, memasuki

gua-gua dan berguru pada para pertapa,” berkata Patih Mantahun.

Keempat orang itu mendengarkan dengan cermat. Mereka memang merasa bahwa tugas mereka saat ini adalah tugas yang sangat berat. Hadiwijaya adalah seorang Adipati yang berada di pesanggrahan dalam suasana perang. Ia adalah Panglima pasukannya dan karena itu penjagaan atas dirinya tentu dilakukan sangat kuat. Tetapi keempat orang itu merasa bahwa mereka pun memiliki ilmu linuwih. Ki Patih Mantahun yang juga memiliki ilmu yang sangat tinggi itu tentu mampu menilai, apakah mereka berempat akan dapat atau setidak-tidaknya pantas melakukan tugas itu atau tidak.

Namun beberapa pesan Patih Mantahun sangat berarti bagi mereka berempat. Menurut keterangan yang didengar oleh Patih Mantahun, Adipati Pajang itu memiliki ilmu

yang kebal.

“Ilmu itu tentu hanya diterapkan jika ia turun ke medan atau dalam perang tanding. Tetapi tidak jika ia sedang tidur lelap di pesanggrahannya. Apalagi jika ia merasa aman di bawah pengawalan pasukannya yang kuat dan tangguh,”

berkata Ki Patih Mantahun. “Karena itu, maka kau harus menemukannya dalam keadaan tidur. Kau harus cepat bertindak, sebelum orang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi itu terbangun dan apalagi mampu dan sempat mengeterapkan ilmu kebalnya. Jika demikian, maka kau tentu akan gagal.”

“Baiklah Ki Patih,” jawab pimpinan dari keempat orang itu. “Hamba dan kawan mohon restu, mudah-mudahan hamba dan kawan-kawan mampu menjunjung kepercayaan Ki

Patih untuk melakukan tugas ini”

“Lakukanlah dengan sebaik-baiknya. Aku yakin kalian akan berhasil. Apalagi seorang di antara kalian memiliki kemampuan melepaskan ilmu sirep, sehingga akan banyak menolong tugas-tugas kalian memasuki pesanggrahan yang tentu tidak akan sekuat istana Pajang sendiri,” pesan Patih Mantahun pula.

Demikianlah keempat orang itu pun kemudian mohon diri. Mereka akan mempersiapkan

diri lahir dan batin untuk melakukan tugas yang sangat berat itu. Mereka

benar-benar harus bertaruh nyawa, karena mereka akan memasuki pesanggrahan perang. Bukan pesanggrahan pada saat-saat Hadiwijaya bercengkerama di pinggir-pinggir hutan sambil berburu kijang.

“Selama-lamanya sepekan kalian harus sudah selesai dengan tugas ini,” berkata Patih Mantahun.

“Hamba Ki Patih,” jawab pemimpin dari keempat orang itu. “Kami akan mencoba melakukan sebaik-baiknya. Di hari-hari pertama kami masih mencoba untuk mengamati keadaan pesanggrahan itu. Mungkin kami mempunyai cara yang akan mempermudah tugas-tugas kami.”

“Lakukanlah apa yang baik menurut kalian,” berkata Ki Patih Mantahun kemudian. Keempat orang itu pun kemudian mohon diri. Di luar pesanggrahan mereka membicarakan apa yang akan mereka lakukan untuk melaksanakan tugas yang sangat berat itu.

Keempat orang itu pun kemudian telah membagi tugas. Dua orang di antara mereka akan berupaya untuk dapat mendekati pesanggrahan Pajang dengan dalih apapun juga. Tetapi mereka tidak akan bersama-sama. Mereka akan menempuh cara mereka masing-masing.

Dengan demikian di hari berikutnya, keempat orang itu pun telah berpencar. Mereka menyeberangi Bengawan Sore ditempat yang berbeda dan tidak berada dihadapan pesanggrahan Pajang maupun Jipang.

Di hari pertama orang-orang itu mengamati pesanggrahan hanya dari kejauhan. Dua orang yang memang bertugas untuk mendekati pesanggrahan itu melihat, bahwa di antara orang-orang yang lewat didekat pesanggrahan itu adalah orang-orang yang menjajakan beberapa jenis makanan dan buah-buahan.

Orang-orang itu mencoba menghubungi penjual buah-buahan itu ketika para penjual meninggalkan pesanggrahan. Dari mereka orang-orang itu mendapat beberapa keterangan bahwa para prajurit Pajang yang berada di pesanggrahan itu sering membeli dari mereka buah-buahan dan makanan.

“Apakah mereka tidak dilarang membeli dari orang-orang yang sebelumnya tidak mereka kenal seperti kalian?” bertanya orang yang ingin berusaha mendekati itu. “Sebagian dari mereka membeli juga,” jawab para penjual. “Aku tidak tahu, apakah sebenarnya mereka dilarang atau tidak. Namun selama ini kami tidak pernah diusir jika kami menjajakan makanan dan buah-buahan. Bahkan orang-orang tertentu mendapat pesanan untuk menyerahkan sayur-sayuran ke dapur dalam jumlah yang cukup banyak, karena di dapur itu telah dimasak makan dan lauk pauknya bagi semua prajurit yang ada di pesanggrahan itu. Orang yang ingin mengamati pesanggrahan itu mengangguk-angguk. Hari itu mereka berusaha keras untuk dapat menentukan satu langkah. Akhirnya mereka pun berhasil menghubungi para penjual makanan bahkan para penjual sayur-sayuran.

Ketika salah seorang di antara mereka yang ingin mendekati pesanggrahan itu menyatakan ingin ikut berjualan sayur-sayuran, maka para penjual itu merasa keberatan.

“Kau dapat menyaingi kami,” berkata salah seorang di antara para penjual itu. “Hak itu sudah kami dapat sejak semula mereka berada disini.”

Tetapi orang itu berkata, “Tidak. Sama sekali tidak. Aku tidak akan mengurangi hak kalian. Aku hanya akan menjualnya kepada kalian sehingga dengan demikian kalian masih akan mendapat keuntungan. Jika aku menyerahkan sayur-sayuran ke dapur, tentu atas nama kalian. Dan aku tidak mau, berapa kalian mendapat uang dari mereka, asal kalian sudah membayar aku sesuai dengan pembicaraan.” Sebenarnyalah orang-orang yang mendapat tugas dari Patih Mantahun itu sama sekali tidak memperhitungkan untung atau rugi. Mereka dapat menjual

sayur-sayuran dengan harga yang lebih rendah dari penjual yang manapun juga. Bahkan bersedia mengirim sayur-sayuran itu langsung ke dalam pesanggrahan tanpa minta upah tambahan.

Dengan memecahkan beberapa kesulitan maka akhirnya dua orang di antara keempat orang itu berhasil mendekati barak. Yang seorang sebagai pedagang buah-buahan tanpa banyak persoalan dengan pedagang-pedagang yang lain, yang seorang baru pada hari keempat berhasil memasuki pesanggrahan dengan membawa sayur-sayuran yang dijualnya cukup murah kepada orang-orang yang biasanya mengirimkan

sayur-sayuran ke pesanggrahan itu.

Namun dengan demikian, maka pada hari keempat itu pula, keempat orang itu bertemu dan berbicara tentang rencana mereka memasuki pesanggrahan. Beberapa bagian dari pesanggrahan itu sempat dilihat dan dikenali oleh kedua orang yang sempat memasukinya.

“Waktu kita tinggal sehari,” berkata pemimpin kelompok itu, “Apakah malam ini kita akan melakukannya?”

Seorang di antara mereka berkata, “Hari ini kita belum mempersiapkan diri. Mungkin secara lahir kita memang sudah siap sejak kita berangkat.”

Pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sependapat. Kita harus bersiap lahir dan batin. Secara badani dan jiwani.”

Akhirnya kelompok itu memutuskan bahwa mereka akan memasuki pesanggrahan itu besok malam. Malam itu, dan sehari sebelumnya mereka akan mempersiapkan diri sebaik-baiknya lahir dan batin. Bahkan bila mungkin mereka akan mengadakan semacam latihan untuk memasuki pesanggrahan itu, setidak-tidaknya mengenali pesanggrahan itu di malam hari, dan mencoba untuk mengetahui dimanakah para penjaga dan para peronda berada.

Demikianlah, ketika malam menjadi semakin kelam pada hari keempat itu, maka keempat orang itu pun telah dengan sangat berhati-hati mendekati pesanggrahan. “Kau coba untuk menebarkan ilmu sirep,” berkata salah seorang di antara keempat orang itu.

“Tidak sekarang,” jawab pemimpin kelompok itu. “Dengan demikian dapat menarik perhatian dan menimbulkan kecurigaan, sehingga karena itu, mereka justru akan bersiaga di malam berikutnya.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Dengan demikian, maka mereka harus sangat berhati-hati.

Dengan kemampuan yang tinggi, maka keempat orang itu berhasil mendekati pesanggrahan. Mereka seakan-akan merangkak dan bahkan kadang-kadang merayap seperti seekor ular dibelakang gerumbul-gerumbul perdu.

Dari tempat mereka, maka mereka dapat melihat para prajurit Pajang yang berjaga-jaga. Dua orang berada diregol pesanggrahan dengan senjata siap di tangan, sementara setiap kali, dua orang yang lain berjalan mengelilingi pesanggrahan itu.

“Tentu ada juga para penjaga lain di dalam lingkungan pesanggrahan,” berkata orang yang sempat memasuki pesanggrahan itu. “Di dalam pesanggrahan terdapat barak-barak yang berpencar. Nampaknya barak-barak itu dibangun dengan tergesa-gesa disekitar rumah aslinya. Namun cukup rapat dan kuat.”

“Apakah kau tahu dimanakah Hadiwijaya tinggal di dalam barak itu?” bertanya pemimpin kelompok itu.

“Ya. Dari orang-orang yang berada didapur, aku mendapat keterangan bahwa Hadiwijaya ada disebuah barak kecil ditengah-tengah barak-barak yang lain, justru dibelakang rumah yang sebenarnya yang dipergunakan untuk pesanggrahan

itu. Barak itu pun adalah bangunan susulan. Bukan bangunan yang menjadi bagian dari rumah yang dipergunakan untuk barak itu,” jawab kawannya yang berhasil menjadi penjual sayur dan mengantarkan langsung ke dapur meskipun baru pada hari keempat.

Keempat orang itu pun kemudian mengelilingi pesanggrahan itu untuk memperhitungkan, bagian manakah yang paling lemah dari pesanggrahan Hadiwijaya itu. Dari tempat itulah mereka akan mencoba memasuki pesanggrahan besok malam. “Mudah-mudahan ilmu sirepku cukup tajam untuk membius semua prajurit yang bertugas pada malam besok,” berkata pemimpin kelompok itu. “Jika tidak, maka aku harap sebagian besar dari mereka akan tertidur, sementara kita akan dapat memasuki pesanggrahan.

Ternyata bahwa malam itu, keempat orang itu mendapatkan banyak bahan yang akan dapat mereka pergunakan dimalam berikutnya, memasuki pesanggrahan untuk membunuh

Adipati Hadiwijaya.

Namun dihari berikutnya, salah seorang di antara mereka yang sudah telanjur menyanggupi menyerahkan sayur-sayuran harus masih bekerja keras. Tetapi orang itu telah menghubungi beberapa penjual sayur-sayuran dan membayarnya dengan harga yang lebih tinggi dari para pembeli yang lain meskipun orang itu akan menjadi rugi.

Tetapi pekerjaan itu dapat diselesaikannya sebelum matahari sepenggalah, sehingga ia masih akan mempunyai waktu untuk mempersiapkan diri sebagaimana kawan-kawannya.

Bahkan satu keuntungan yang didapatkannya, bahwa hari itu ia sempat melihat Ki Pemanahan dan Panjawi berjalan-jalan melihat-lihat keadaan di dapur. Semula mereka tidak mengenali kedua orang yang nampaknya memiliki wibawa yang tinggi itu. Baru kemudian dari para petugas di dapur ia mengetahui, bahwa kedua orang itu adalah Ki Pemanahan dan Ki Panjawi. Dua orang panglima yang disegani oleh kawan maupun lawan.

“Menilik cahaya wajah mereka dan sikap mereka, keduanya memang orang-orang yang berjiwa besar dan memiliki ilmu yang sangat tinggi,” berkata orang yang sempat bertemu dengan Pemanahan dan Panjawi itu.

“Kau cemas tentang mereka?” bertanya pemimpin kelompoknya.

“Jika aku berkata jujur, agaknya memang demikian,” jawab orang yang melaporkannya. “Tetapi aku harus mempunyai perhitungan nalar. Keduanya tentu tidak akan meronda di malam hari karena tugas-tugas itu tentu dilakukan oleh para prajurit. Hanya dalam keadaan tertentu saja mereka akan keluar dari bilik mereka.”

“Sebaiknya kau memantapkan sikapmu lebih dahulu,” berkata pemimpin kelompok itu. “Ki Patih Mantahun tentu sudah mengenal kedua orang itu dengan baik, sebagaimana ia mengenal Hadiwijaya. Pada saat Demak masih tegak, maka mereka tentu sering

berhubungan dan mungkin mereka pernah bersama-sama berada di satu medan. Karena itu, kau dan kita semua harus yakin, bahwa menurut penilaian Ki Patih Mantahun, kita pantas untuk melakukan tugas ini.”

“Ya. Aku menyadari,” jawab orang lain.

“Yang kau lihat itu barulah ujud lahiriahnya saja. Apakah ujud lahiriahnya itu akan menentukan tataran kemampuan mereka?” sahut pemimpin kelompok itu.

Orang yang melihat Ki Pemanahan dan Ki Panjawi itu pun mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Mungkin saja jiwani aku memang belum siap sekarang. Tetapi masih ada waktu. Kita dapat menyiapkan diri sampai saatnya menjelang senja.”

Demikianlah, maka mereka berempatpun telah berusaha untuk menempa perasaan masing-masing. Dengan demikian maka keempat orang itu berusaha untuk memasuki gelanggang dalam keadaan yang benar-benar telah siap apapun yang terjadi. Bahkan seandainya mereka harus diterkam oleh maut sekalipun.

Ketika matahari mulai menjadi semburat kuning, maka keempat orang itu pun telah membenahi dirinya. Mereka sempat makan bekal yang mereka persiapkan. Kemudian bersiap-siap sepenuhnya. Senjata mereka pun telah mereka lihat, sehingga mereka yakin bahwa senjata itu tidak akan mengecewakan mereka.

Betapapun tabahnya hati mereka, namun ketika gelap mulai turun, mereka pun menjadi berdebar-debar juga. Bahkan dengan jujur pemimpin kelompok itu berkata, “Kita harus menemukan ketenangan hati. Aku merasa gelisah oleh tugas yang sangat berat ini, meskipun aku adalah orang yang tidak pernah tergetar jantungku

melihat tanganku bergelimang darah. Tetapi kali ini kita mengemban tugas yang memang sangat berat dan sulit. Kita harus mengakui, agar dengan demikian kita dapat melangkah di atas tanah yang mapan, bukan sekadar dalam kebanggaan mimpi. Kawan-kawannya hanya mengangguk-angguk saja. Mereka menyadari sepenuhnya betapa

beratnya tugas mereka. Memasuki sebuah pesanggrahan perang seorang Adipati yang sedang memimpin pasukannya, siap untuk bertempur. Apalagi seorang Adipati yang memiliki ilmu yang sangat tinggi.

Demikianlah ketika malam mulai turun, maka keempat orang itu pun benar-benar telah bersiap lahir dan batin. Dengan kepala tengadah mereka memandang pesanggrahan yang telah diselubungi oleh kegelapan. Pesanggrahan yang terletak disebuah padukuhan dipinggir Bengawan Sore.

Sejenak kemudian maka mereka pun mulai melangkahkan kaki mereka mendekati pesanggrahan itu. Perlahan-lahan dan sangat berhati-hati. Tidak mustahil bahwa mereka akan dapat bertemu dengan sekelompok prajurit yang sedang mengamati keadaan di sekitar pesanggrahan itu.

“Penjagaan yang paling kuat adalah pada wajah pesanggrahan itu yang menghadap ke Bengawan Sore,” berkata pemimpin kelompok itu. “Sebagaimana pernah kita bicarakan, kita akan memasuki lingkungan pesanggrahan lewat lambung sebelah

kiri. Bukan begitu?”

“Ya,” jawab kawannya yang pernah memasuki pesanggrahan itu, “Jika kita berhasil masuk, maka aku telah melihat arah yang harus kita tuju di dalam pesanggrahan.” Pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Sementara itu, semakin dekat mereka dengan pesanggrahan, mereka pun menjadi semakin berhati-hati. Bahkan untuk beberapa saat mereka harus menunggu, karena malam masih terlalu dangkal untuk melakukan tugas mereka. Namun akhirnya saat yang mereka tunggu, yang menurut perhitungan mereka paling tepat untuk melakukan tugas itu telah datang juga.

Beberapa saat menjelang tengah malam.

Dengan hati-hati mereka telah merayap mendekati pesanggrahan dari lambung kiri. Kemudian mereka mencari tempat yang terlindung untuk mulai dengan usaha mereka memasuki pesanggrahan itu.

“Kita harus melakukan bersama-sama,” berkata pemimpin kelompok itu. “Aku akan melepaskan ilmu sirep. Aku minta kalian membantuku dengan cara apapun juga yang dapat kalian lakukan. Dengan demikian maka ilmu sirep itu akan menjadi semakin tajam. Jika saatnya sampai, maka para prajurit tentu akan tertidur nyenyak.” Meskipun ketiga orang kawannya tidak memiliki ilmu yang dapat melepaskan ilmu sirep, namun mereka dapat membantu dengan cara mereka masing-masing untuk mendorong kemampuan ilmu sirep itu agar menjadi lebih tajam. Udara malam yang sejuk terasa menjadi semakin sejuk. Angin yang sumilir menyentuh dedaunan, mengusap tubuh-tubuh para prajurit yang sedang bertugas.

Beberapa orang prajurit yang duduk di dalam regol gardu pesanggrahan itu masih sibuk berbincang tentang tugas-tugas mereka. Dua orang di antara mereka mencoba

melawan perasaan kantuk dengan permainan macanan. Permainan yang memang sering mereka lakukan jika mereka bertugas.

Sementara itu, dua orang di antara mereka bertugas di regol dengan senjata telanjang. Mereka berjalan hilir mudik dengan tegapnya. Sedangkan di sela-sela longkangan, di antara bangunan-bangunan yang ada di pesanggrahan itu, beberapa orang prajurit sedang berjaga-jaga pula. Di sudut belakang pesanggrahan itu dua orang prajurit juga berjalan hilir mudik, silang menyilang. Sedangkan disudut lain, dua orang prajurit berdiri tegak memandang kegelapan.

Sebenarnyalah bahwa penjagaan di dalam pesanggrahan itu cukup kuat. Hampir setiap sudut pesanggrahan itu dapat dijangkau oleh pengamatan para prajurit bertugas.

Di luar pesanggrahan, empat orang sedang dengan tekun menyebarkan satu kekuatan yang dapat mempengaruhi ketahanan para prajurit yang bertugas. Dengan ilmu sirep maka para prajurit itu akan di-serang oleh perasaan kantuk yang tidak terlawan.

Untuk beberapa saat, terjadi benturan kekuatan antara para prajurit yang bertugas dengan ilmu sirep yang mulai menyelubungi pesanggrahan itu. Para perwira tertinggi di pesanggrahan itu memang sudah tertidur sejak menjelang tengah malam. Mereka mempercayakan penjagaan dan pengamatan kepada para prajurit

yang sedang bertugas. Sehingga dengan demikian mereka tidak sempat menyadari apa yang telah terjadi. Bahkan mereka pun bagaikan telah dibius sehingga pada saat mereka tidur, terasa tidur itu menjadi semakin nyenyak.

Dua orang yang sedang bermain macananpun telah tidak sanggup lagi berpikir. Mereka sekali-kali masih melihat batu kerikil yang mereka pergunakan sebagai biji-biji permainan. Namun sekali-kali batu-batu kerikil itu menjadi kabur dan tidak lagi dapat mereka lihat karena mata mereka mulai terpejam.

Seorang prajurit yang bertugas malam itu sebagai penanggung jawab penjagaan dan pengamatan berusaha untuk menyadari apa yang telah terjadi. Ada niatnya untuk bangkit dan melihat berkeliling. Namun niatnya itu tidak pernah dilakukannya. Ia memang turun dari gardu. Dengan sisa kesadarannya ia melihat obor yang terpancang di atas regol. Namun kemudian ia telah duduk kembali dibibir gardu.