-->

Suramnya Bayang-Bayang Jilid 26

Jilid 26

Meskipun demikian, anak-anak muda itu telah dilambari dengan satu keyakinan sehingga pendirian mereka tidak akan mudah menjadi goyah. Keadaan Tanah Perdikannya yang disaksikannya dari hari kehari, telah menempa tekad mereka untuk mengadakan perubahan.

“Meskipun jumlah kita sedikit, tetapi kawan-kawan kita yang ada di barak itu juga tidak terlalu banyak. Kecuali jika kawan-kawan kita yang ada di Pajang akan ditarik,” berkata salah seorang di antara mereka.

“Kita sudah bertekad,” jawab kawannya. “Aku kira seluruh Tanah Perdikan ini seakan-akan sudah digenangi minyak. Jika ada yang berani menyalakan api, maka seluruh Tanah Perdikan akan menyala.”

Dalam pada itu, pertempuran yang terjadi di Pajang pun semakin lama menjadi semakin sengit. Ketika kedua belah pihak telah menjadi basah oleh keringat, maka mereka menjadi semakin garang. Apalagi mereka yang melihat kawannya telah mengalirkan darah dari lukanya. Bahkan jika seorang sahabatnya telah terbunuh oleh ujung senjata lawan.

Dengan demikian maka benturan-benturan senjata pun menjadi semakin cepat susul menyusul. Bunga api pun berloncatan dan suara erang kesakitan tenggelam dalam sorak yang gemuruh hampir diseluruh medan.

Kedua pasukan itu pun berusaha saling menekan. Kedua belah pihak telah melepaskan kemampuan tertinggi. Para prajurit Jipang telah menghentakkan kemampuannya di antara anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan untuk dapat memecahkan pasukan Pajang.

Tetapi para prajurit Pajang adalah prajurit-prajurit yang terlatih matang.

Karena itu, maka mereka pun mampu mengatasi setiap tekanan. Bahkan dengan ketajaman pengamatan mereka, maka telah melihat kelemahan pada pasukan Jipang.

Para prajurit-prajurit Pajang mengetahui bahwa sebagian dari pasukan Jipang

adalah para pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Meskipun anak-anak muda itu pernah mendapat latihan-latihan yang sangat berat, tetapi mereka belum mempunyai pengalaman yang memadai untuk bertempur melawan para prajurit Pajang yang telah mengenyam banyak sekali pahit getirnya peperangan.

Karena itulah, maka lubang-lubang tertentu dari gelar Sapit Urang dari pasukan Jipang itu pun terdapat kelemahan-kelemahan. Dengan kemampuan mengurai medan, maka pasukan Pajang telah berusaha menyusup pada lubang-lubang kelemahan itu.

Ketika matahari semakin tinggi dan mencapai puncak langit, maka pasukan Pajang telah menemukan beberapa kemajuan. Bahkan disayap kiri pasukan Jipang, para prajurit Pajang berhasil menyusup cukup dalam, justru pada leher sayap, sehingga jalur pasukan Jipang ke ujung sayap menjadi agak terganggu.

Senapati yang berada di ujung sayap itu cepat bertindak. Kekuatan gelar Sapit Urang sebenarnya ada di ujung Sapitnya yang akan menjepit kekuatan lawan dari dua arah, ujung dan ujung. Namun Senapati itu tidak membiarkan tangkai kekuatan itu patah ditengah. Karena itu, maka ia pun segera memerintahkan sekelompok prajurit dan sekelompok pengawal Tanah Perdikan untuk bergeser, menyelamatkan leher sayap yang hampir patah itu.

Usaha Senapati itu berhasil. Namun demikian, dalam keseluruhan ternyata pasukan Pajang mempunyai kelebihan. Perlahan-lahan pasukan Pajang yang mengerahkan segenap kekuatannya, telah mendesak maju. Apalagi ketika matahari telah mulai turun ke Barat. Betapapun juga, keringat anak-anak muda Sembojan yang terkuras telah menurunkan kemampuan mereka menggerakkan senjata.

BAGAIMANAPUN juga orang-orang Jipang berusaha untuk membuat imbangan dengan kemampuan mereka, namun pasukan Pajang benar-benar telah memberikan tekanan yang

sangat berat. Setapak demi setapak pasukan Jipang itu terdesak. Tetapi pasukan Jipang masih tetap berpegang pada gelarnya yang utuh, sehingga karena itu, maka pertempuran gelar itu masih tetap berlangsung dengan sengitnya. Pasukan Pajang

yang berhasil mendesak pasukan lawan berusaha untuk benar-benar memecahkan gelar lawannya dan mengkoyak pertahanan mereka. Namun ternyata gelar Sapit Urang itu telalu liat untuk dapat dipatahkan. Semakin lama matahari pun menjadi semakin rendah. Betapapun juga pasukan Pajang berusaha, namun sampai saatnya matahari turun ke punggung bukit, pasukan Pajang masih tetap terikat dalam gelarnya, meskipun gelar itu telah terdorong mundur dan terdesak.

Bagaimana pun juga, maka ketika malam turun, Pajang harus menghentikan pertempuran. Beberapa orang perwira sempat bergeremang. Ternyata kegelapan masih sempat menyelamatkan pasukan Jipang.

Ketika terdengar isyarat di kedua belah pihak, maka masing-masing telah menarik diri ke kubu mereka. Dengan letih kedua pasukan itu kembali ke barak-barak sementara, yang mereka bangun dan mereka ambil dari para penghuni padukuhan. Pada saat gelap mulai merata, maka yang kemudian turun ke medan adalah petugas-petugas yang lain. Petugas-petugas kemanusiaan yang harus menolong dan merawat orang-orang yang terluka dan mengumpulkan mereka yang terbunuh.

Di siang hari kedua belah pihak berjuang untuk saling membunuh dan melukai. Sementara di malam hari, beberapa orang harus bekerja keras untuk menolong mereka.

Malam itu Ki Rangga Gupita telah berbicara dengan para Senapati dari pasukan

Jipang yang terdesak. Dengan ketajaman penglihatannya maka Ki Rangga menganggap bahwa sulit bagi pasukan Jipang untuk dapat menahan kekuatan pasukan Pajang.

Tetapi Panglima pasukan Jipang yang berada disisi Timur Pajang itu menjawab, “Aku masih belum berputus asa. Aku masih mempunyai kekuatan cadangan. Bahkan aku

akan dapat mengerahkan semua orang. Aku tidak akan meninggalkan seorang pun meskipun mereka adalah juru masak. Mungkin aku telah menempuh satu langkah yang berbahaya. Tetapi aku yakin, bahwa dengan mengerahkan pasukan cadangan dan semua orang yang ada, maka kita akan dapat memecahkan pasukan Pajang. Dengan demikian, maka kita akan dapat menyelesaikan pertempuran besok dan mengatur kembali tata susunan tugas dalam pasukan ini.”

“Justru itu adalah langkah putus asa,” berkata Ki Rangga Gupita. “Jika kau

gagal, maka pasukan akan hancur mutlak. Pasukanmu akan dikoyak-koyak dan tidak akan berbekas lagi, karena tidak ada landasan yang tersisa sama sekali untuk

dapat tegak kembali.

Senapati yang menjadi Panglima pasukan Jipang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Tetapi menurut perhitunganku pasukan Pajang akan hancur besok jika aku kerahkan semua orang yang ada tanpa kecuali.”

Ki Rangga Gupita menggeleng. Katanya dengan kerut didahinya. “Jangan berkhayal.

Marilah kita membuat penilaian yang wajar dalam pertarungan seperti ini. Kita

harus mengakui, bahwa pasukan Pajang benar-benar pasukan yang tangguh. Memang ada kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari anak-anak muda pengawal padukuhan di sekitar kota. Tetapi jumlah mereka sangat kecil dibandingkan dengan jumlah seluruh kekuatan Pajang, sehingga keadaan itu tidak banyak berpengaruh. Agak berbeda dengan pasukan kita yang terdiri sebagian dari pasukan pengawal Tanah Perdikan Sembojan.”

“Jadi bagaimana menurut tanggapan Ki Rangga?” bertanya Panglima itu.

“Kita tarik mundur pasukan kita malam ini. Kita mencari kedudukan yang baru, yang tidak akan diserang dalam waktu dekat oleh pasukan Pajang. Kita mengirimkan

utusan ke Tanah Perdikan Sembojan untuk membawa pasukan pengawal lebih banyak lagi. Semua kekuatan yang ada dapat dikerahkan. Sementara itu, Tanah Perdikan Sembojan harus mengerahkan lagi anak-anak muda yang sebelumnya dianggap masih terlalu muda. Ambil anak-anak remaja yang sudah berumur enambelas tahun. Tidak usah menunggu sampai delapan belas,” berkata Ki Rangga.

“ANAK-ANAK berumur enam belas justru sedang dalam tataran yang paling buas jika kita berhasil menggelitiknya. Setelah mereka mendapat latihan sekadarnya maka mereka pun harus segera dikirim kemari. Dengan kekuatan itu maka barulah kita akan dapat meyakinkan diri bahwa kita akan dapat memecahkan pasukan Pajang. Itu pun yang berada di luar dinding kota. Jika mereka menarik diri memasuki gerbang maka kita harus membuat perhitungan-perhitungan baru. Atau kita memang tidak mempunyai rencana dengan tergesa-gesa memasuki kota. Mungkin kita menunggu perkembangan pasukan Pajang dan Jipang yang berada di seberang-menyeberang Bengawan Sore. Jika Kanjeng Adipati Jipang berhasil menghancurkan Hadiwijaya, maka segalanya akan dapat dianggap selesai. Untuk menghancurkan kota ini maka kita tidak akan lebih sulit dari memijat ranti masak.”

Senapati yang menjadi Panglima pasukan Jipang di Pajang itu mengangguk-angguk. Sebenarnya rasa-rasanya agak segan untuk mengakui kelebihan Pajang yang hanya berselisih selapis tipis itu. Namun kemudian ia pun menjawab, “Jika pertimbangan Ki Rangga demikian, aku pun tidak akan berkeberatan. Tetapi bagaimana dengan anak-anak muda dari Tanah Perdikan Sembojan? Apakah tidak akan ada kesulitan untuk mengambilnya lebih banyak lagi? Mungkin Kepala Tanah Perdikan itu akan merasa berkeberatan karena sebagian besar dari anak-anak mudanya telah berada di sini.”

Tetapi Ki Rangga tersenyum, katanya, “Jangan takut. Bertanyalah kepada Ki Randukeling.”

Senapati itu memandang Ki Randukeling yang ikut mendengarkan pembicaraan.

Dengan

suara sendat dan ragu ia bertanya, “Bagaimana pendapat Ki Randukeling?”

Ki Randukeling menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mungkin aku dapat membantu, memanggil anak-anak muda itu, karena Kepala Tanah Perdikan Sembojan adalah cucuku. Tetapi sekali lagi aku ingin memperingatkan, bahwa anak-anak Sembojan

itu bukannya prajurit-prajurit yang telah masak. Mungkin sebagian dari mereka

yang pernah mendapat latihan-latihan yang baik dan bersungguh-sungguh tidak akan banyak mengecewakan meskipun mereka belum berpengalaman. Namun sebagian yang lain, adalah anak-anak muda yang masih belum mapan. Bukan saja ilmunya, tetapi untuk bertempur sehari penuh seperti prajurit, mereka akan kelelahan. Meskipun demikian, aku kira pertimbangan yang diberikan oleh Ki Rangga Gupita menurut pendapatku agak lebih baik daripada pertimbangan untuk besok pagi mengerahkan semua orang. Dalam pertempuran seperti ini, kita masing-masing tidak boleh

tergesa-gesa sehingga akan dapat menjerumuskan banyak korban yang tidak perlu hanya karena dibakar oleh gejolak perasaan dan barangkali sedikit harga diri.” Panglima pasukan Jipang disisi Timur Pajang itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah jika demikian. Aku akan menarik pasukan ini untuk menunggu kedatangan anak-anak muda dari Tanah Perdikan Sembojan. Dengan bantuan itu, serta mengerahkan semua orang yang ada, kita akan menghancurkan pasukan Pajang.” “Jika demikian, maka kita akan mengirimkan utusan ke Tanah Perdikan Sembojan,” berkata Ki Rangga Gupita.

“Siapa?” bertanya Senapati itu. “Ki Randukeling,” jawab Ki Rangga Gupita. “Ia akan dapat memaksa cucunya untuk tidak dapat menolak permintaannya. Bahkan untuk mempersiapkan para remaja yang dapat memberikan sedikit pengertian tentang

perang dalam waktu satu dua pekan sebelum mereka dibawa kemari.” “Baiklah,” jawab Ki Randukeling. “Aku akan pergi ke Sembojan. Tetapi apakah tidak lebih baik jika aku pergi bersama Ki Rangga Gupita?” “Aku tidak berkeberatan,” jawab

Ki Rangga. “Rasa-rasanya memang sudah terlalu lama tidak bertemu dengan Warsi.” Ki Randukeling mengerutkan keningnya. Namun Ki Rangga Gupita itu tertawa sambil berkata, “Jangan takut. Aku tidak akan berbuat apa-apa.”

“Seandainya Ki Rangga akan berbuat apa-apa aku tidak akan mencegahnya. Itu sama sekali bukan persoalanku lagi,” sahut Ki Randukeling.

Ki Rangga tertawa semakin keras, sementara Panglima pasukan Jipang itu menjadi termangu-mangu. Ia tidak mengerti, apa yang dikatakan oleh Ki Rangga itu.

Karena itu, maka Ki Rangga pun berkata kepada Panglima itu, “Yang terakhir memang bukan persoalan prajurit Jipang. Tetapi persoalan pribadiku.” Ternyata Panglima itu tanggap. Katanya, “Itulah agaknya maka Ki Rangga mengusulkan untuk menambah pasukan lagi.”

Ki Rangga masih tertawa. Tetapi ia menjawab, “Jangan kau baurkan kepentingan Jipang dengan kepentingan sendiri.”

Panglima itu pun tertawa. Katanya, “Ki Rangga akan mendapat kedua-duanya.”

Ki Rangga yang masih tertawa itu tidak menjawab lagi. Ia pun kemudian minta diri untuk bersiap-siap. Sementara Panglima itu pun berkata, “Jika demikian maka aku pun akan segera mengambil langkah. Pasukan ini untuk sementara memang harus menjauh. Jika para petugas yang mengumpulkan kawan-kawan kami yang terluka dan yang terbunuh itu sudah kembali, maka kita akan segera meninggalkan tempat ini.”

“Baiklah,” jawab Ki Rangga yang menjadi bersungguh-sungguh. “Untuk keselamatan pasukan ini, maka keputusanmu cukup baik. Bukankah kita tidak dibatasi waktu, sehingga kita tidak harus dengan tergesa-gesa mengorbankan orang kita?”

Panglima itu mengangguk-angguk, sementara Ki Rangga dan Ki Randukeling pun telah meninggalkan mereka.

Dalam pada itu, malam itu juga pasukan Jipang telah ditarik mundur melampaui beberapa bulak. Satu gerak yang telah menimbulkan banyak tanggapan. Sebagian dari para prajurit Jipang tidak dapat mengerti kenapa keputusan yang demikian diambil. Namun sebagian yang lain sependapat dengan sikap itu, karena mereka tidak dapat ingkar dari kenyataan, bahwa setidak-tidaknya pasukan Jipang tidak akan berhasil memecahkan pasukan Pajang. Bahkan mereka yang langsung berada di pertempuran akan dapat merasakan, kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam pasukan Jipang memang berbahaya bagi kesatuan gelar.

Namun harga diri para prajurit Jipang kadang-kadang telah mencegah mereka mempergunakan nalar. Mereka tidak mau melihat kenyataan yang terjadi, karena orang-orang Jipang harus dianggap sebagai prajurit yang tidak terkalahkan.

Ki Rangga dan Ki Randukeling yang telah bersiap-siap pula sempat mengikuti gerak mundur itu pula. Setelah mereka melihat dimana pasukan Jipang itu kemudian membangun sebuah pertahanan, maka mereka pun segera bersiap untuk pergi ke Tanah Perdikan Sembojan.

“Kita akan berangkat setelah hari terang tanah,” berkata Ki Randukeling. “Baiklah,” jawab Ki Rangga Gupita. “Sementara ini kita sempat beristirahat.”

Demikianlah pasukan Jipang telah mengambil beberapa buah rumah dan banjar padukuhan bagi kepentingan mereka tanpa menghiraukan keluhan para penghuninya yang harus mengungsi ke rumah sanak kadang tetangga-tetangganya.

Malam itu dengan ketangkasan prajurit, Jipang telah berhasil membangun pertahanan yang kuat, disebuah padukuhan. Sementara itu, Ki Rangga dan Ki Randukeling ternyata masih sempat beristirahat sejenak sambil menunggu hari terang tanah.

Ketika saatnya tiba, maka Ki Rangga Gupita dan Ki Randukeling pun telah minta diri kepada Panglima pasukan Jipang disisi Timur Pajang. Mereka akan berusaha untuk membawa sepasukan anak-anak muda dari Tanah Perdikan Sembojan. “Mudah-mudahan kami kelak tidak menjumpai kesulitan diperjalanan,” berkata Ki

Rangga Gupita. Demikianlah, maka sejenak kemudian sebelum matahari terbit, kedua orang itu sudah meninggalkan landasan pasukan Jipang yang baru. Keduanya pun telah memacu kuda mereka agar mereka dapat mencapai Tanah Perdikan Sembojan tanpa bermalam di perjalanan meskipun mungkin jauh malam mereka baru akan memasuki Tanah Perdikan itu.

Sementara itu, Kiai Badra dan Gandar telah memenuhi janjinya. Sebelum matahari terbit, bersama Gandar ia telah berada kembali di Tanah Perdikan Sembojan sambil membawa tunggul yang menjadi pertanda bahwa mereka tengah mengemban tugas dari Kanjeng Adipati di Pajang.

Kedatangan Kiai Badra di rumah Ki Bekel telah disambut dengan kebanggaan oleh sekelompok anak-anak muda padukuhan itu yang ternyata telah membulatkan niatnya untuk berbuat sesuatu bagi kepentingan Tanah Perdikannya. Apalagi ketika mereka melihat tunggul itu. Maka jantung mereka pun rasa-rasanya telah ikut mengembang. Dua orang anak muda dari padukuhan sebelah pun telah melihat pula tunggul itu, karena mereka berdua semalam berada di rumah Ki Bekel.

Anak-anak muda yang menyaksikan tunggul itu pun telah saling berjanji, bahwa mereka akan berusaha mempengaruhi kawan-kawannya di padukuhan yang lain lagi. Sehingga dengan demikian maka kedudukan mereka tentu akan menjadi bertambah kuat.

Ketika matahari terbit, ternyata rombongan penari yang agak besar itu pun telah bersiap. Iswari telah berniat untuk memancing persoalan meskipun ia masih membuat beberapa pertimbangan agar masih belum terjadi benturan langsung. Dengan kelengkapan rombongan penari jalanan, maka Iswari telah membawa rombongannya ke sebuah pasar. Pasar itu memang terletak disebuah padukuhan besar disebelah padukuhan tempat ia tinggal, sementara Ki Bekel dan anak-anak mudanya telah sepakat untuk berdiri dipihaknya, namun Iswari berharap bahwa di pasar itu akan datang orang-orang dari padukuhan lain dan bahkan anak-anak muda atau

laki-laki dari padukuhan lain yang datang untuk membeli berbagai macam perkakas dan peralatan dari besi, karena di pasar itu ada tiga kelompok pandai besi.

“Mataku mengantuk,” berkata Kiai Badra. “Jika aku mendengar suara pesinden kita, maka rasa-rasanya aku ingin tidur dimana pun juga.”

“Ah, kau selalu mengejek kakang,” jawab Nyai Soka. “Tetapi jika kau mengantuk karena semalaman kau menempuh perjalanan, maka sebaiknya kau tidak memukul gendang. Biarlah Kiai Soka saja yang menjadi pengendangnya kali ini.”

“Aku juga pengendang yang baik di padukuhanku,” sahut Jati Wulung.

Kiai Badra tertawa. Katanya, “Tentu bukan hanya aku. Dan bukan karena perjalananku bersama Gandar semalam. Tetapi semua, siapapun yang menjadi pengendang tentu akan mengantuk mendengar suara pesinden yang bagaikan gemerciknya arus bengawan.”

“Jika kakang mengejek terus, aku tidak mau jadi pesinden. Biarlah aku menari saja dan perempuan gemuk itu yang menjadi pesinden,” geram Nyai Soka.

Kiai Badra tertawa. Yang lain pun tertawa pula.

Sementara itu, rombongan itu pun telah berhenti disebelah pasar. Di tempat yang agak lapang. Sejenak kemudian, tanpa menghiraukan bahwa waktunya masih terlalu pagi, rombongan penari itu telah kebar.

“Gila,” geram seorang penjual sayur. “Apakah mereka sudah kelaparan. Sepagi ini mereka sudah kebar didekat pasar.”

Yang lain pun mengumpat. Tetapi ternyata bahwa rombongan penari itu telah banyak menarik perhatian. Orang-orang yang pergi berbelanja telah meninggalkan para penjual untuk sekadar melihat seorang penari yang disertai dengan penari lainnya yang lebih banyak untuk memberikan kesegaran, karena penari yang seorang yang bertubuh gemuk itu tidak dapat menari dengan baik kecuali hanya sekadar

meliuk-liuk.

Namun sejenak kemudian telah terjadi kegemparan. Ternyata beberapa orang telah mulai membicarakan penari yang mereka anggap mirip sekali dengan Nyi Wiradana. Beberapa orang yang memang sudah mengerti persoalannya tidak terkejut lagi.

Tetapi mereka yang datang dari padukuhan-padukuhan lain menyaksikan kehadiran penari yang sudah agak lama tidak terdengar itu dengan jantung yang berdebaran. “Tidak salah lagi,” desis seseorang. “Ternyata tidak di malam hari pun kita

melihat dengan jelas, bahwa perempuan itu adalah Nyi Wiradana.”

“Demikian cantiknya perempuan itu,” berkata seseorang perempuan tua. “Ia pernah datang ke rumahku, ketika cucuku yang pertama lahir. Dengan tulus ia memijat

kaki anakku yang melahirkan itu. O, betapa jauh bedanya dengan Nyi Wiradana yang sekarang.”

“Tetapi belum tentu bahwa perempuan itu adalah Nyi Wiradana,” desis orang yang berdiri disebelahnya.

“Uh, aku yakin,” jawab perempuan tua itu. “Ia adalah seorang yang cantik. Bukan saja wajahnya tetapi juga hatinya. Sementara Nyi Wiradana yang sekarang tidak lebih hanya seorang yang cantik wajahnya saja. Tetapi ia adalah perempuan yang banyak mempunyai cacat di dalam dirinya.”

Orang yang berdiri disebelahnya termangu-mangu. Namun tiba-tiba saja perempuan itu menjadi gemetar ketika ia merasa bahwa pembicaraannya telah didengarkan oleh seorang anak muda dalam pakaian seorang pengawal.

Apalagi ketika anak muda itu kemudian bertanya kepadanya, “Apakah yang kalian bicarakan?”

“O, tidak apa-apa anak muda,” jawab perempuan tua itu. “Kami tidak berbicara apa-apa.”

“Kenapa kalian lebih senang melihat pertunjukan itu daripada berbelanja? Bukankah kalian datang untuk berbelanja?” bertanya anak muda itu.

“Ya, ya anak muda,” jawab perempuan tua itu sambil beringsut, “Kami memang sedang berbelanja.”

Tetapi apakah kau tertarik kepada Nyi Wiradana yang sedang menari itu? Jika kau pernah melihatnya dahulu sebagai seorang istri pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan, maka ia sekarang adalah seorang penari. Memang dalam kedudukan yang terbalik dengan Nyi Wiradana yang sekarang, yang justru dahulu adalah seorang penari,” berkata anak muda itu.

“Ah,” perempuan tua itu mengerutkan keningnya. “Apakah benar perempuan itu Nyi Wiradana?”

“Apakah kau sudah menjadi pikun meskipun nampaknya kau belum tua sekali? Agaknya kau hanya dapat mengenali keping-keping uang saja daripada wajah dan tingkahlaku bahkan suara seseorang,” berkata anak muda itu.

Orang tua itu termangu-mangu. Namun ia merasa ragu-ragu bahwa anak muda itu sekadar ingin menjebaknya. Karena itu, maka ia pun kemudian berkata, “Ah, siapapun penarinya, biarlah ia menari. Jika benar ia Nyi Wiradana, maka itu adalah persoalan Ki Wiradana.”

Anak muda itu pun tidak menanggapinya lagi. Tetapi ia sudah mengatakan dan setidak-tidaknya memberikan kesan, bahwa perempuan itu adalah Nyi Wiradana. Dalam pada itu, ternyata para pengawal dari kedua padukuhan yang telah menemukan kesepakatan itu banyak yang berada di pasar itu. Mereka tidak berbuat apa-apa kecuali mengawasi keadaan. Bagaimanapun juga mereka tiba-tiba saja merasa wajib untuk ikut mengamankan rombongan penari yang aneh itu.

Namun rombongan itu tidak terlalu lama berada di pasar. Iswari hanya ingin menyebarkan berita kehadirannya, sehingga para pemimpin Tanah Perdikan itu mulai membicarakannya lagi sebagai gangguan keamanan bagi Tanah Perdikan Sembojan.

Beberapa saat kemudian, maka rombongan penari itu telah menghentikan permainan merek dan bersiap-siap untuk meninggalkan pasar yang semakin ramai itu. Ketika Iswari melihat beberapa orang pe- ngawal berada disekitar tempat ia bermain,

maka ia pu tersenyum.

“Maaf saudara-saudara,” berkata Iswari kepada para penonton yang mengerumuninya, “Aku hanya sempat bermain sebentar, sekadar untuk memelihara hubungan di antara kita, karena sudah lama aku tidak berkunjung ke Tanah Perdikan ini. Pagi ini aku tergesa-gesa mengemban tugas yang harus aku jalani pada hari ini.” “Kenapa hanya sebentar?” tiba-tiba terdengar suara di antara mereka yang berkerumun. “Aku tidak berani terlalu lama berada di satu tempat,” jawab Iswari. “Kenapa?” bertanya suara yang lain. “Pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan ini tidak senang terhadap rombongan kami, karena itu pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan ini memerintahkan untuk menangkap kami,” jawab Iswari. “Para pengawal tidak berbuat apa-apa,” yang lain lagi menyahut. “Bermainlah. Kita semuanya akan mencegah jika para pengawal akan menangkap kalian.” Iswari hanya tersenyum saja. Tetapi ia pun kemudian berkata, “Aku menyesal Ki Sanak. Aku sudah terlanjur menerima permintaan seseorang untuk menari.” “Sepagi ini?” bertanya seseorang. “Ya. Pagi-pagi seperti ini,” jawab Iswari. Sejenak kemudian, maka rombongan itu benar-benar telah meninggalkan pasar. Tetapi rombongan itu tidak pergi

kemana-mana lagi, tetapi kembali ke rumah Ki Bekel.

Ternyata permainan yang sejenak itu benar-benar telah mencapai maksudnya. Setiap orang yang ada di pasar itu mulai berbicara lagi tentang penari yang mirip

dengan Nyi Wiradana. Ketika orang-orang yang berada di pasar itu kembali ke rumah masing-masing, maka mereka pun telah berceritera tentang kehadiran rombongan penari itu. “Mereka datang di siang hari,” berkata seorang laki-laki separo baya. “Mereka tidak lagi melintasi Tanah Perdikan ini di malam hari ternyata di siang hari, orang semakin pasti bahwa penari itu memang Nyi

Wiradana.” Yang mendengarkan ceritera itu hanya mengangguk-angguk saja. Meskipun demikian terbersit di dasar jantung mereka satu harapan, bahwa kehadiran Nyi Wiradana akan merupakan satu pertanda, bahwa keadaan Tanah Perdikan akan mengalami perubahan. Pajak tidak akan lagi mencekik leher sebagaimana pada saat Nyi Wiradana itu masih berada di Tanah Perdikan. Dan anak-anak mereka yang

tersisa tidak akan dikirim ke Pajang lagi untuk disurukkan ke dalam api peperangan. Kehadiran rombongan penari itu ternyata sudah terdengar pula oleh

orang-orang di induk padukuhan Tanah Perdikan Sembojan. Meskipun orang-orang di induk padukuhan Tanah Perdikan itu biasanya pergi ke pasar yang lain, yang

berada di induk padukuhan itu sendiri, namun ada di antara orang-orang yang saling berhubungan dengan para pedagang di pasar yang telah dikunjungi oleh Nyi Wiradana, sehingga berita kehadirannya itu pun segera tersebar. Ternyata seorang pembantu Ki Wiradana telah mendengar ceritera tentang rombongan penari itu.

Karena itu, maka dengan tergesa-gesa telah menyampaikannya kepada Ki Wiradana. “Gila,” geram Ki Wiradana. “Jadi rombongan penari itu telah datang lagi?” “Ya,” jawab pembantunya. “Banyak orang yang melihatnya, karena rombongan itu kebar di dekat pasar.” “Bagaimana sikap para pengawal?” bertanya Ki Wiradana. “Para pengawal harus pergi ke pasar itu,” geram Ki Wiradana. Pembantunya

mengangguk-angguk. Katanya, “Semakin cepat semakin baik.” Ki Wiradana pun dengan tergesa-gesa telah memanggil pemimpin pasukan pengawal yang tersisa, selain yang berada di barak latihan. Dengan nada berat diperintahkannya para pengawal untuk pergi ke pasar di padukuhan pada bagian pinggir Tanah Perdikan itu. Nyi Wiradana yang mendengar perintah itu pun telah mendekatinya sambil bertanya, “Ada apa?” “Rombongan penari itu nampak bermain di pasar,” berkata Ki Wiradana. “Lalu?” bertanya Nyi Wiradana. “Aku perintahkan pengawal itu untuk datang dan

bersama-sama dengan pengawal setempat menangkap seluruh rombongan itu,” jawab Ki Wiradana. “Pemalas,” bisik Nyi Wiradana. “Lalu apa kerjaanmu he? Kau harus pergi sendiri. Jika ternyata penari itu adalah istrimu, maka kau dapat mengambilnya

dan membawanya kemari. Aku ingin bertemu dan berbicara.” Ki Wiradana mengerutkan keningnya. Terasa jantungnya berdebaran. Namun Nyi Wiradana agaknya masih menghargainya, karena perintahnya tidak diucapkan langsung sehingga para

pengawal mendengarnya. Nyi Wiradana masih mengekang diri dan berusaha agar para pengawal tidak mendengar kata-katanya.

Karena itu Wiradana tidak membantah. Jika ia berkeberatan, maka mungkin istrinya akan berteriak dan para pengawal itu justru akan mendengar dan mengetahui bahwa ia telah dibentak-bentak oleh istrinya.

Betapapun beratnya, maka Ki Wiradana itu pun telah mempersiapkan diri. Kepada para pengawal ia berkata, “Biarlah aku pergi sendiri agar kita tidak usah mengulangi usaha penangkapan ini, “Siapkan kudaku.”

Para pengawal menjadi lebih mantap jika mereka pergi bersama Ki Wiradana sendiri. Dengan demikian maka mereka akan dapat mengambil sikap yang penting tanpa menunggu perintah berikutnya.

Sejenak kemudian maka Ki Wiradana dan beberapa orang pengawal telah berderap di jalan-jalan padukuhan. Beberapa kali mereka melintasi bulak-bulak persawahan dan pategalan.

Kedatangan sekelompok orang-orang berkuda telah mengejutkan seisi pasar. Tetapi karena matahari telah menjadi semakin tinggi, maka pasar itu pun telah menjadi tidak terlalu ramai sebagaimana saat Iswari dan rombongannya berada di pasar

itu. Ki Wiradana dan para pengawalnya segera berloncatan turun. Dengan sikap yang garang mereka telah memasuki pasar yang mulai berkurang isinya itu, sementara dua orang pengawal berada di depan pasar mengamati keadaan sambil menunggu kuda-kuda mereka yang tertambat pada patok-patok bambu.

“Apakah benar tadi ada serombongan penari yang kebar didekat pasar ini?” bertanya Ki Wiradana kepada seorang penjual gerabah.

“Ya Ki Wiradana,” jawab penjual gerabah itu dengan jantung yang berdebaran, “Tetapi aku tidak tahu apa-apa. Aku tetap berada dibelakang daganganku.” “Siapa yang tahu, kemana rombongan itu melarikan diri?” bertanya Ki Wiradana kemudian.

“Aku tidak tahu,” jawab penjual gerabah itu. “Mungkin para pengawal.”

Ki Wiradana menggeram. Sementara itu para pengawal yang lain pun telah berusaha bertanya pula kepada orang-orang yang masih ada di pasar itu. Namun mereka tidak tahu, kemana rombongan itu pergi.

“Ya aku tahu, mereka pergi ke Utara,” jawab seorang pande besi yang masih sibuk menyelesaikan sebuah pesanan, kajen bajak.

Namun dalam pada itu, salah seorang pengawal telah melihat tiga orang pengawal dari padukuhan itu melintas. Dengan serta merta maka ketiga orang pengawal itu pun telah dipanggilnya.

Ketiga pengawal padukuhan itu termangu-mangu. Namun mereka pun kemudian telah datang mendekat. Sementara Ki Wiradana pun telah mendekati pula.

“Apa kalian tidak tahu, bahwa disini baru saja ada serombongan penari yang kebar?” bertanya Ki Wiradana.

Pengawal itu ternyata bersikap sangat tenang karena keyakinan yang telah mengendap dihatinya. Jawabnya, “Ya. Aku mendengar Ki Wiradana.”

“Dan kalian tidak berbuat apa-apa? Bukankah kalian akan dapat menangkap mereka?” bertanya Ki Wiradana.

“Kami memang berusaha untuk secepatnya datang ketika kami mendengar laporan bahwa rombongan itu adalah rombongan yang mengiringi Nyi Wiradana menari,” jawab pengawal itu.

“APA yang kau lakukan?” bentak Ki Wiradana. Pengawal itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata, “Maksudku penarinya yang disebut mirip dengan Nyi Wiradana.” “Jangan mencelakai dirimu sendiri,” geram Ki Wiradana. “Lalu kenapa kalian tidak berusaha menyusulnya?” “Tidak seorang pun yang dapat menunjukkan arah kepergian mereka kecuali sekadar ke arah Utara,” jawab pengawal itu. “Kau memang dungu,” bentak pemimpin pengawal yang menyertai Ki Wiradana itu. “Kenapa kau harus menunggu sampai ada orang lain yang memberitahukan kepadamu tentang rombongan penari itu? Bukankah kau juga dapat mendengar suara gemalannya?”

“Ya. Tetapi semula aku tidak mengira bahwa suara gemelan itu mengiring penari yang oleh orang banyak dikatakan mirip sekali dengan Nyi Wiradana itu,” jawab pengawal itu.

“Sadari kebodohanmu,” pengawal itu membentak pula. Wajahnya menjadi merah oleh kemarahan, “Kau tahu apa artinya kesalahan bagi seorang pengawal?”

“Ya,” jawab pengawal itu. Namun ia masih tetap bersikap tenang.

“Karena itu, untuk menebus kebodohanmu, cari rombongan itu sampai dapat. Bawa mereka kemari. Jangan ada yang terlampaui,” berkata pemimpin pengawal itu.

“Kalian dapat mempergunakan kuda kami. Tetapi dengan syarat bahwa nyawa kuda itu sama dengan nyawa kalian. Seekor dari kuda itu hilang, maka seorang di antara

kalian akan dihukum gantung,” bentak pemimpin pengawal itu.

Wajah para pengawal itu menegang sejenak. Tetapi pengawal yang lain telah bertanya, “Jika mereka telah keluar dari Tanah Perdikan ini, bukankah tidak ada wewenang kami untuk membawanya kemari?”

“Bodoh, dungu dan agaknya kalian memang sudah gila,” geram pemimpin pengawal. “Yang sudah seharusnya kau ketahui tidak usah kau tanyakan. Tetapi jika rombongan itu telah terlepas dari lingkungan Tanah Perdikan ini, maka itu pun karena kebodohan kalian.”

Ketiga orang pengawal dari padukuhan itu mengangguk-angguk. Seorang di antaranya berkata, “Kami akan mencoba.”

Namun dalam pada itu Ki Wiradana memerintahkan kepada beberapa orang pengawal, “Ikut mereka. Aku dan yang lain akan menunggu disini. Kalian tidak boleh gagal

kali ini jika kalian menemukannya.

Beberapa orang pengawal pun telah bersiap untuk meloncat ke punggung kuda. Namun tiba-tiba mereka terkejut ketika mereka mendengar beberapa orang tertawa.

Serentak mereka berpaling. Mereka pun telah melihat beberapa orang yang berdiri berjajar beberapa langkah di sebelah mereka.

Tiga orang pengawal padukuhan itu terkejut. Orang-orang itu adalah orang-orang dari rombongan penari jalanan yang ternyata adalah Nyi Wiradana itu.

“Empat orang di antara mereka,” desis salah seorang dari ketiga orang pengawal itu. “Dan penari yang gagah itu.”

Ki Wiradana pun terkejut bukan buatan. Yang dilihatnya ternyata adalah

orang-orang yang di antaranya sudah dikenalnya. Bahkan hampir di luar sadarnya ia berdesis,” Serigala Betina itu.”

Perempuan yang ada di antara keempat orang laki-laki itu tersenyum. Katanya, “Kau masih mengenal aku Ki Wiradana?”

“Persetan,” geramnya.

“Dan laki-laki ini pun tentu pernah kau kenal pula. “Gandar,” sambung perempuan yang disebut Serigala Betina itu.

Wajah Ki Wiradana menjadi merah padam. Namun dengan jantung yang berdegupan semakin keras itu melangkah mendekat diikuti oleh para pengawalnya, “Apa yang kalian lakukan disini?”

“Sekali-sekali aku ingin juga berbelanja Ki Wiradana,” jawab Serigala Betina itu.

“Persetan,” wajah Ki Wiradana menjadi semakin tegang. “Apakah kehadiranmu disini ada hubungannya dengan rombongan penari itu?”

“Ya. Keempat orang laki-laki itu adalah sebagian dari para penabuhnya. Dan aku adalah penarinya itu. Maksudku, salah seorang dari dua penari yang dikenal itu.”

“Dimana penari yang ingin memanfaatkan kepergian Iswari itu?” bertanya Ki Wiradana. “Apa maksudmu?” bertanya Serigala Betina.

“SEORANG perempuan yang mengaku dirinya Iswari atau setidak-tidaknya membuat kesan, agar ia disangka Iswari. Dengan demikian maka ia akan mendapat warisan bagi anaknya. Anak yang akan disebutnya dikandung sejak kepergiannya dari Tanah Perdikan Sembojan,” berkata Ki Wiradana.

“O,” Serigala Betina itu mengerutkan keningnya. “Jadi menurut perhitunganmu, kami telah melakukan satu usaha penipuan dengan menampilkan orang yang mirip dengan Iswari untuk sekadar mendapatkan warisan?”

“Tujuan kalian tentu satu pemerasan,” jawab Ki Wiradana lantang.

“Jadi menurut Ki Wiradana, perempuan yang namanya Iswari itu pasti sudah tidak ada lagi. Jika ada itu palsu atau dipalsukan sekadar untuk mendapatkan warisan. Tentu dalam nilai uang. Begitu?” bertanya Serigala Betina itu.

“Ya,” jawab Wiradana yang diwarnai oleh nada kebimbangan.

“Ki Wiradana,” berkata Serigala Betina itu. “Kau dapat menipu siapa saja. Tetapi kau tidak akan dapat menipu aku. Kau dapat berkata apa saja kepada orang lain, tetapi apakah kau akan dapat berkata seperti itu kepadaku? Ki Wiradana. Jangan berusaha menipu diri sendiri.”

“Cukup,” bentak Ki Wiradana. “Kau tentu bagian dari alat untuk memeras itu. Tetapi kebetulan bahwa kita dapat bertemu disini. Menyerahlah. Kalian adalah tawanan kami.”

“Tunggu,” berkata Serigala Betina itu. “Apakah sebenarnya dugaan Ki Wiradana tentang kami dan kecemasan Ki Wiradana itu sudah terbukti? Kami tidak melakukan apa-apa selain menari sebagaimana rombongan penari yang lain. Sebelumnya Ki Wiradana tidak pernah berusaha untuk menangkap rombongan penari yang penarinya adalah Warsi. Sedangkan apa yang dilakukan oleh Iswari tidak lebih buruk

daripada apa yang dilakukan oleh Warsi.”

“Tutup mulutmu,” Ki Wiradana berteriak. “Kau tahu bahwa aku dapat membunuhmu disini. Aku membawa saksi bahwa mulutmu telah berceloteh sehingga kau pantas untuk dibunuh ditempat.”

“O, kau akan membunuhku?” bertanya Serigala Betina. “Apakah kau tidak menyadari, bahwa kau tidak akan mampu melakukannya?”

“Kenapa aku tidak mampu melakukannya?” mata Ki Wiradana terbelalak. “Kau sudah ditakdirkan kalah dari perempuan. Kau kalah dari Warsi. Kau juga pernah aku kalahkan meskipun aku dalam keadaan sakit. Dan kau pun akan dikalahkan oleh penari dari rombonganku ini jika pada suatu saat kau bertemu langsung dengannya.”

Wajah Ki Wiradana menjadi merah padam. Ia pun telah memberi isyarat kepada para pengawalnya untuk mendekat.

Para pengawal yang sudah siap untuk mencari rombongan penari itu pun telah mengikat kuda-kuda mereka kembali. Dengan tegang mereka pun telah mengepung keempat laki-laki dan seorang perempuan yang ternyata merupakan bagian dari rombongan penari itu.

Tiga orang pengawal padukuhan itulah yang menjadi ragu-ragu. Namun mereka masih belum menentang perintah Ki Wiradana dengan terbuka. Karena itu, maka mereka pun masih juga ikut mengepung keempat orang laki-laki dan seorang perempuan yang

akan ditangkap oleh Ki Wiradana itu.

“Kau akan berbuat apa Ki Wiradana?” bertanya Serigala Betina itu.

“Aku akan menangkap kalian dan memaksa kalian untuk menunjukkan dimana kawan-kawan kalian,” jawab Ki Wiradana.

“Jika mereka berada di luar Tanah Perdikan, apakah kau juga berhak melakukan tindakan atas mereka?” bertanya Serigala Betina itu.

“Persetan. Jika sekarang yang ada adalah kalian, maka kalianlah yang akan aku tangkap,” jawab Ki Wiradana.

“Baiklah. Marilah. Mungkin kawan-kawanku akan melayani para pengawal. Tetapi aku sendiri ingin membuktikan bahwa sudah ditakdirkan bahwa kau akan selalu dikalahkan oleh perempuan,” jawab Serigala Betina.

Hati Ki Wiradana terasa sangat sakit mendengar ejekan itu. Tetapi ia pun tidak dapat mengingkari satu peristiwa di rumah Serigala Betina itu. Justru pada saat perempuan itu sedang sakit, ia tidak berhasil mengalahkannya.

Tetapi Ki Wiradana tidak pernah mengetahui bahwa perempuan yang disangkanya Serigala Betina yang sedang sakit itu adalah sebenarnya Nyai Soka sendiri.

NAMUN kemudian Serigala Betina itu telah menjadi murid Nyai Soka pula. Dengan janji bahwa ia tidak akan melakukan kejahatan lagi, maka Nyai Soka telah menurunkan ilmu kepadanya, sehingga Serigala Betina yang memang sudah memiliki dasar kemampuan olah kanuragan itu kemudian mampu menyerap ilmu yang diturunkan

oleh Nyai Soka dan menjadi seorang yang benar-benar berilmu tinggi, meskipun apa yang diberikan kepada Serigala Betina itu masih berada jauh dibawah tataran kemampuan Iswari yang telah menyelesaikan segala macam laku dan mulai mengembangkan ilmunya seluas-luasnya.

Dalam pada itu, Wiradana yang merasa tersinggung sekali itu telah berdiri berhadapan dengan Serigala Begina yang garang itu. Sedangkan para pengawal yang lain, telah mengepung arena dan mereka tidak akan membiarkan seorang pun di antara mereka lolos.

Sementara itu, pasar yang memang sudah berkurang isinya itu menjadi bubar. Orang-orang yang berada disekitar tempat yang akan menjadi arena itu telah berlari-larian menjauh. Orang-orang yang masih duduk di belakang barang-barang jualannya dengan cepat telah mengemasinya dan menyimpannya. Sementara

kedai-kedai pun telah ditutup. Para pande besi telah memadamkan perapian mereka dan berkemas pula serta menyimpan semua peralatan mereka.

“Menyerahlah,” geram Ki Wiradana.

Tetapi jawaban Serigala Betina memang sangat menyakitkan hati, “Bukankah aku memiliki kelebihan dari padamu? Kenapa justru aku yang harus menyerah.”

Ki Wiradana tidak sabar lagi. Ia pun segera meloncat menyerang dengan garangnya.

Namun hal itu sudah diduga oleh Serigala Betina, karena ia memang berusaha untuk memancing kemarahan Ki Wiradana. Karena itu, maka ia pun dengan cepat menghindarinya. Bahkan tiba-tiba saja tangannya telah dikibaskannya mendatar ke arah lambung.

Tetapi Ki Wiradana sempat pula menggeliat, sehingga tangan perempuan itu tidak menyentuhnya. Dengan kaki kanannya, maka Ki Wiradana pun kemudian telah berganti menyerang menyamping. Tetapi ketika ia sadar, bahwa perempuan itu siap untuk menangkisnya dengan sikunya, maka ia menarik serangan kaki kanannya, tetapi kaki kirilah yang diputarnya setengah lingkaran. Serangannya sekali lagi menyambar lambung.

Namun Serigala Betina itu sempat bergeser mundur, sehingga tumit Ki Wiradana tidak menyentuhnya.

Pertempuran antara keduanya itu pun semakin lama menjadi semakin sengit. Sebenarnyalah bahwa penyerapan ilmu dari Nyi Soka oleh Serigala Betina itu benar-benar sangat berarti baginya. Dengan demikian, maka ternyata bahwa kemampuan Ki Wiradana yang sudah dikerahkan itu tidak mampu melampaui kemampuan

Serigala Betina.

Sementara itu, keempat laki-laki yang lain, yang tidak lain adalah Gandar, Kiai Soka sendiri, Jati Wulung dan Sambil Wulung, telah bertempur melawan beberapa

orang pengawal. Kemampuan mereka memang tidak seimbang. Keempat laki-laki itu memiliki ilmu yang tinggi dan matang, sementara para pengawal adalah anak-anak muda yang mempelajari olah kanuragan pada kulitnya saja.

Apalagi tiga orang di antara para pengawal itu tidak berkelahi dengan

sungguh-sungguh. Para pengawal padukuhan itu memang nampaknya ikut bertempur melawan keempat orang laki-laki itu. Tetapi seorang di antaranya berbisik

ditelinga Gandar, “Maaf, aku terpaksa ikut permainan ini.” Gandar tersenyum. Tetapi ia tahu maksud pengawal itu.

Sejenak kemudian maka pertempuran itu pun menjadi semakin sengit. Para pengawal, kecuali yang tiga orang itu, telah bertempur dengan mengerahkan kemampuan mereka. Namun ternyata bahwa mereka tidak memiliki bekal yang cukup untuk menghadapi keempat orang itu meskipun jumlah mereka jauh lebih banyak.

Setiap orang dari keempat orang itu memang harus bertempur melawan empat orang. Namun empat orang pengawal itu bagi Sambi Wulung dan Jati Wulung, apalagi Gandar dan Kiai Soka, tidak terlalu sulit untuk mengatasinya.

Yang bertempur dengan sengitnya adalah Ki Wiradana dan Serigala Betina yang sudah meningkatkan ilmunya. Perlahan-lahan namun pasti, orang-orang yang sekilas sempat melihat pertempuran itu terutama keempat orang yang datang bersama Serigala Betina itu, segera yakin bahwa perempuan itu akan dengan segera menyelesaikan pekerjaannya.

Sebenarnyalah bahwa sejenak kemudian Serigala Betina itu telah berhasil mendesak Ki Wiradana. Betapapun juga Ki Wiradana mengerahkan kemampuannya, namun ia tidak

mampu mengatasi ilmu Serigala Betina itu.

Kemarahan Ki Wiradana sudah tidak tertahankan lagi. Karena itu, maka ia pun

telah mencabut pedangnya sambil menggeram, “Perempuan iblis. Jika kau tidak mau mendengar kata-kataku, maka bukan salahku jika kau akan terbunuh dalam perkelahian ini.”

Wajah Serigala Betina itu berkerut sejenak. Namun kemudian katanya, “Jadi kau bersungguh-sungguh Ki Wiradana? Kau benar-benar ingin membunuhku?”

“Ya. Kematianmu akan membawa ketenangan bukan saja bagiku. Tetapi bagi Tanah Perdikan Sembojan.”

“Karena menurut perhitunganmu, aku tentu tidak akan dapat berbicara lagi tentang Iswari. Begitu?”

Ki Wiradana tidak menyahut. Tetapi ia telah menggerakkan ujung pedangnya yang teracu. Di antara desah nafasnya terdengar giginya yang gemeretak menahan kemarahan yang melonjak-lonjak di dalam dadanya

Untuk beberapa saat perempuan yang disebut Serigala Betina itu masih belum melawannya dengan senjata. Ia hanya berloncatan menghindari serangan-serangan Ki Wiradana yang semakin lama menjadi semakin cepat. Namun kemudian Serigala Betina itu mengalami kesulitan apabila ia harus sekadar berloncatan menghindari

serangan yang datang memburu.

Karena itu, maka akhirnya Serigala Betina itu pun telah mengurai senjatanya pula. Sehelai selendang yang anyamannya terdapat jalur-jalur janget pilihan. Dikedua ujungnya terdapat rumbai timah yang cukup berat. Dengan selendangnya Serigala Betina itu melawan pedang Ki Wiradana. Ternyata selendang itu merupakan senjata yang memadai bagi perempuan itu.

Selendang itu mampu menangkis serangan pedang dengan merentangnya. Jika pedang itu menyentuh selendang itu, maka rentangannya dikendorkannya, sehingga terjadi benturan yang lunak.

Namun jika tiba-tiba rentangan itu dihentakkannya, maka pedang itu bagaikan dilontarkannya. Sementara itu, dengan kedua ujungnya yang berumbai, Serigala Betina itu menyerang lawannya. Rumbai-rumbai timah itu akan mampu menyakiti lawannya jika mengenainya. Bahkan jika Serigala Betina itu mengerahkan kemampuan dan ilmunya, maka rumbai-rumbai itu akan dapat meretakkan tulang-tulang lawannya.

Dengan demikian maka pertempuran antara kedua orang itu menjadi semakin meningkat. Keduanya memiliki kelebihannya masing-masing dengan jenis senjata yang berbeda ditangan. Ternyata bahwa Ki Wiradana memang memiliki ilmu pedang memadai. Tetapi Serigala Betina yang telah ditempa di padepokan Tlaga Kembang itu pun telah meningkat ilmunya. Ia tidak lagi sekadar sebagai serigala betina,

tetapi perempuan itu justru telah menjadi harimau betina.

Sementara itu keempat laki-laki yang menyertai Serigala Betina itu masih bertempur dengan para pengawal. Meskipun sebenarnya mereka tidak menemui

kesulitan apapun, namun mereka tidak dengan serta merta mengalahkan lawan-lawan mereka.

Namun ketika keempat lawan mereka pada masing-masing orang itu mencabut pedangnya, maka mereka masing-masing telah berusaha untuk merampas sebuah pedang

daripada pedang-pedang itu.

Dengan demikian, maka kemudian Sambi Wulung, Jati Wulung, Kiai Soka yang tua dan Gandar, telah bersenjata pula, sehingga pertempuran menjadi semakin sengit.

Keempat orang yang datang bersama Serigala Betina itu memang dengan sengaja membiarkan lawan-lawan mereka mengerahkan segenap kemampuan dan tenaga, sehingga

mereka tentu akan menjadi kelelahan.

Pasar itu sendiri telah menjadi sepi. Tetapi beberapa orang masih ada yang mencoba dengan sembunyi-sembunyi menyaksikan pertempuran itu dari kejauhan. Mereka sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Yang mereka ketahui hanyalah, bahwa beberapa orang pengawal dibawah pimpinan Ki Wiradana sendiri telah bertempur melawan sekelompok orang yang ingin mereka tangkap. Namun ada juga di antara mereka yang dapat mengenali, bahwa orang-orang yang akan ditangkap itu adalah orang-orang yang baru saja datang ke pasar bersama serombongan pengamen dengan penari yang mirip sekali dengan Nyi Wiradana yang terdahulu.

Sementara itu pertempuran antara Ki Wiradana melawan Serigala Betina itu menjadi semakin sengit. Keduanya telah sampai kepada puncak kemampuannya. Namun Serigala Betina memang mempunyai kelebihan dari Ki Wiradana setelah ia menyadap ilmu di padepokan Tlaga Kembang. Jika sebelum ia mendapat perintah untuk membunuh Nyi Wiradana, Serigala itu bukan apa-apa bagi Ki Wiradana, maka ternyata kemudian

bahwa kemampuannya telah melejit melampaui kemampuan Ki Wiradana itu. Terasa jantung Ki Wiradana bagaikan meledak bukan saja oleh kemarahan. Tetapi juga oleh satu kenyataan bahwa sulit baginya mengatasi senjata perempuan yang disebut Serigala Betina itu. Pedangnya yang berputar semakin cepat, sama sekali tidak dapat menyentuh sasaran. Bahkan kadang-kadang Wiradana menjadi bingung karena gerak lawannya yang seakan-akan menjadi semakin cepat.

“Gila,” geram Ki Wiradana. “Jika kau tidak menyerah, maka kau akan benar-benar terbunuh di peperangan ini.”

“Jangan terlalu bernafsu untuk membunuh,” sahut perempuan itu. “Meskipun dengan demikian rahasiamu akan terkubur bersamaku. Tetapi untuk membunuhku agaknya tidak begitu mudah.”

“Tutup mulutmu,” bentak Ki Wiradana sambil menyerang.

Serigala Betina itu mengelak. Namun ia masih sempat menjawab, “Ki Wiradana. Baiklah kita tidak berpura-pura lagi. Akuilah bahwa perempuan yang disebut mirip dengan Iswari itu memang Iswari. Ternyata Iswari adalah seorang penari yang sangat baik. Jauh lebih baik dari penari jalanan yang tamak yang bernama Warsi itu.”

“Gila,” Ki Wiradana berteriak, “Aku koyak mulutmu.”

“Kau hanya berteriak-teriak saja. Tetapi tidak pernah kau lakukan sebagaimana kau katakan,” jawab perempuan itu. “Tetapi aku masih ingin berceritera bahwa Iswari telah melahirkan anaknya. Laki-laki sebagaimana anak Warsi. Tetapi ketahuilah, bahwa yang berhak untuk kemudian menggantikan kelak adalah anak Iswari. Bukan anak Warsi. Nah, kau dengar?” “Pengkhianat,” geram Wiradana. “Aku sudah menduga bahwa kau akan berkhianat. Sekarang kau harus dibunuh.”

“Bukankah kau pernah juga mencobanya tetapi gagal? Waktu itu aku sedang sakit. Apalagi sekarang, aku segar bugar. Baru saja aku menari di pasar ini bersama Iswari. Besok lain kali, Iswari sudah mengatakan, bahwa ia akan mengajak anaknya

yang tumbuh dengan suburnya. Orang-orang Tanah Perdikan ini harus tahu, siapakah yang kelak akan menjadi Kepala Tanah Perdikan.”

“Tutup mulutmu. Aku bunuh kau,” Ki Wiradana mengumpat. Tetapi seperti dikatakan oleh perempuan itu, bahwa tidak mudah untuk membunuhnya.

Dengan demikian maka keduanya telah bertempur semakin keras. Ternyata bahwa Serigala Betina itu bukan saja mampu bergerak cepat, tetapi ia pun mampu membangkitkan tenaga cadangan di dalam dirinya sehingga kekuatannya menjadi bagaikan berlipat.

Sementara itu, para pengawal benar-benar telah mengerahkan segenap tenaganya. Namun usaha mereka untuk mengalahkan lawan mereka sama sekali tidak berhasil. Bahkan mereka harus bekerja dengan memeras segenap tenaga dan kemampuannya, agar

mereka tidak justru menjadi sasaran senjata lawan-lawannya yang telah dirampas dari antara mereka sendiri.

Sementara itu, keempat orang yang menemani Serigala Betina itu dengan sengaja

telah memancing agar lawan-lawan mereka mengerahkan segenap kemampuan mereka. Sekali-kali ujung pedang yang berhasil mereka rampas itu memang benar-benar menyentuh kulit. Meskipun hanya segores kecil, namun luka itu telah menitikkan darah. Ketika keringat membasahi kulit yang terluka itu, maka terasa menjadi

pedih.

Namun ternyata bahwa setiap pengawal telah terluka oleh senjata yang dirampas dari antara mereka sendiri. Tidak seorang pun yang luput dari sengatan ujung sejata. Lengan, siku, pundak, bahkan lambung dan dada. Ada juga di antara mereka yang telah terluka punggungnya.

Hanya tiga orang pengawal yang tidak bertempur dengan bersungguh-sungguh itu sajalah yang tidak mendapat cubitan ujung pedang.

Seperti yang dikehendaki oleh kawan-kawan Serigala Betina itu, maka lambat laun, para pengawal yang telah terluka betapapun kecilnya itu tenaganya telah menjadi susut. Setelah mengerahkan segenap tenaga dan kemampuan yang ada pada mereka, maka yang tersisa pun semakin lama menjadi semakin sedikit.

Dalam pada itu Sambi Wulunglah yang sempat mentertawakan lawan-lawannya.

Dengan

nada tinggi ia berkata, “He, bukankah kalian masih muda? Seharusnya tenaga kalian masih lebih baik dari kami yang tua-tua. Apalagi lihat orang berambut putih itu. Ia masih mampu bertempur dengan wajah yang cerah dan senyum dibibirnya. Tetapi kalian, anak-anak muda yang pernah mendapat latihan yang berat, ternyata tidak memiliki tenaga yang cukup untuk mempertahankan diri. Apalagi kalian bertempur bersama-sama dalam kelompok-kelompok kecil.” “Persetan,” geram salah seorang di antara para pengawal. “Jangan menyesal jika kau akan mati disini.”

Tetapi Sambi Wulung tertawa semakin keras. Katanya, “Jangan berceloteh. Atau bahkan kau sedang mengigau. Hanya orang-orang sakit panas sajalah yang mengigau.”

Para pengawal itu menjadi semakin marah. Tetapi betapapun mereka mengerahkan kemampuan mereka, namun segala usaha ternyata sia-sia. Tidak seorang pun dari keempat orang kawan Serigala Betina itu yang dapat dikuasai oleh lawan-lawannya. Bahkan semakin lama luka-luka dutubuh para pengawal itu menjadi semakin banyak. Sementara itu, Wiradana yang mengerahkan kemampuannya tidak juga berhasil menguasai lawannya. Bahkan sebaliknya, Serigala Betina itu pun kemudian

benar-benar telah mendesak Ki Wiradana.

“Kita sudah terlalu lama bertempur,” berkata Serigala Betina itu. “Sudah

waktunya kita menentukan, siapakah yang kalah dan siapakah yang menang di antara kita.”

Ki Wiradana tidak menjawab. Tetapi ia menyerang semakin garang.

Namun Serigala Betina itu benar-benar telah berniat untuk menghentikan pertempuran. Karena itu, maka ia pun menjadi lebih bersungguh-sungguh, sehingga ketika Ki Wiradana kehilangan pengamatannya atas senjata lawannya, meskipun hanya sekejap, maka rumbai-rumbai selendang Serigala Betina itu telah menyentuh pundaknya.

Serigala Betina itu memang tidak ingin mematahkan tulang di pundak Ki Wiradana. Karena itu sentuhannya itu pun hanya menyakitinya.

Ki Wiradana yang merasa pundaknya bagaikan menjadi lumpuh, menggeram dengan marahnya. Perasaan sakit yang sangat mencengkamnya sampai ke pusat jantung. Namun demikian ia terpaksa beringsut surut untuk memperbaiki keadaannya. Serigala Betina sengaja tidak memburunya. Bahkan ia berkata, “Aku beri kesempatan kau mengatasi perasaan sakitmu.”

“Gila,” Ki Wiradana yang tersinggung itu meloncat menyerang dengan pedang terjulur. Tetapi ia terkejut ketika tiba-tiba saja selendang Serigala Betina itu telah membelit pergelangan tangannya.

Dengan serta merta Ki Wiradana merenggut tangannya. Tetapi dengan demikian belitan selendang itu seakan-akan justru menjadi semakin keras. Apalagi ternyata bahwa kekuatan Serigala Betina itu ternyata telah besar dari kekuatan Ki Wiradana, karena Serigala Betina itu lebih melepaskan tenaga cadangannya pula. “Jangan tergesa-gesa,” berkata Serigala Betina itu. “Jika kau sekali-kali

dibelit oleh selendang seorang perempuan lain maka hal itu adalah wajar sekali

bagimu. Warsi harus menyadari bahwa sebagaimana ia datang, kemungkinan yang sama akan terjadi pada saat lain.”

“Gila. Kau sudah menjadi gila,” teriak Ki Wiradana.

Serigala Betina itu terawa. Katanya, “Isterimu tidak ada di sini. Ia tidak akan menjadi marah.”

“Tutup mulutmu. Tutup mulutmu perempuan jalanan,” Ki Wiradana berteriak semakin keras.

“Yang perempuan jalanan bukan aku. Tetapi Warsi, istrimu. Ia benar-benar perempuan jalanan yang berhasil merenggutmu dari kedudukanmu yang baik menjadi tidak lebih dari seorang laki-laki yang tidak berharga. Tetapi kini perempuan

jalanan itu justru telah mendapat kekuasaan yang tertinggi di Tanah Perdikan ini, karena kau benar-benar sudah dikuasainya. Lahir dan batin.”

“Diam. Diam,” teriak Ki Wiradana semakin keras sambil merenggut tangannya. Tetapi selendang Serigala Betina itu melilit semakin kuat.

“Jangan berusaha melepaskan tanganmu dengan cara itu,” berkata Serigala Betina itu. “Lakukan perlahan-lahan. Urai dengan tangan kirimu. Jangan tergesa-gesa.” Ki Wiradana seakan-akan telah kehilangan pendiriannya. Ia menurut saja sebagaimana dikatakan oleh Serigala Betina itu. Perlahan-lahan ia melepaskan belitan selendang itu dengan tangan kirinya. Tidak tergesa-gesa dan tidak menghentak-hentak.

Akhirnya selendang itu memang dapat dilepaskannya. demikian selendang itu terlepas, maka seolah-olah Ki Wiradana itu telah terlepas pula dari ketidak sadarannya atas dirinya. Bahkan dengan serta merta ia telah mengayunkan pedangnya menebas ke arah Serigala Betina.

Hampir saja perut Serigala Betina itu berhasil dikoyaknya. Untunglah perempuan itu dengan cepat telah meloncat surut, sehingga ujung pedang Ki Wiradana berdesing kurang dari sejengkal dari kulitnya.

“Uh. Hampir saja isi perutku tumpah,” berkata Serigala Betina itu. “Kau ternyata tidak tahu diri. Aku sudah bermurah hati memberitahukan cara yang baik untuk melepaskan selendang itu. Tiba-tiba kau telah menyerang dengan serta merta.” “Kau memang harus mati,” geram Ki Wiradana.

Pertempuran telah terjadi lagi. Namun Serigala Betina itu kemudian berkata, “Satu kali aku ingin membelitmu. Tidak pada tanganmu, tetapi pada lehermu.” Ki Wiradana tidak menjawab. Tetapi ia menyerang dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada.

Sementara itu, keadaan para pengawal menjadi semakin payah. Mereka menjadi semakin lemah dan kehabisan tenaga. Sementara ketiga anak muda yang tidak bertempur dengan sungguh-sungguh itu pun akhirnya dilukainya juga. Tetapi luka-luka yang tidak berarti, sekadar untuk menghilangkan kecurigaan. Meskipun demikian, ternyata bahwa pakaian mereka telah membekas darah pula.

Semakin lama mereka bertempur, maka tenaga mereka benar-benar telah terhisap habis. Mereka yang kehilangan senjata mereka dan berusaha membantu

kawan-kawannya tanpa senjata, telah mengambil alih senjata kawannya yang benar-benar telah kehabisan tenaga. Tetapi yang dilakukannya itu pun sama sekali tidak berarti apa-apa.

Namun dalam pada itu, keempat orang yang menyertai Serigala Betina itu masih saja berusaha agar para pengawal itu bertempur terus dan mengerahkan tenaga mereka. Jika para pengawal yang menjadi letih itu termangu-mangu, maka keempat orang itulah yang menyerang, sehingga para pengawal itu terpaksa menghindari, karena bagaimanapun juga serangan keempat orang itu dapat mengoyak kulit dagingnya.

Namun pada saat-saat tertentu orang-orang itu membuat dirinya seakan-akan terdesak, sehingga lawan-lawannya dengan penuh harap telah berusaha untuk semakin menguasainya. Namun pada saat tertentu, tiba-tiba saja keadaan menjadi berbalik. Orang-orang itulah yang kemudian mendesak dan mengancam perlawanan para pengawal. Dalam keadaan yang demikian, maka para pengawal itu benar-benar telah kehilangan kemampuan untuk mengamati diri mereka masing-masing. Karena itu, maka tenaga mereka benar-benar telah terkuras habis. Para pengawal itu kemudian rasa-rasanya tidak lagi mampu berdiri tegak. Setiap kali mereka terhuyung-huyung karena keseimbangan yang sudah terguncang. Nafas mereka pun bagaikan bekejaran di kerongkongan. Sedang keringat mereka telah membasahi seluruh tubuh mereka.

Seorang di antara para pengawal itu, ketika dengan pedangnya menyerang Kiai Soka yang tua itu, telah kehilangan sasaran karena orang itu telah meloncat

menghindar. Ayunan pedangnya justru telah menyeretnya sehingga pengawal itu telah kehilangan keseimbangannya. Namun ketika ia hampir saja roboh, ternyata Kiai Soka telah meloncat menahannya, sehingga pengawal itu tetap berdiri. Tetapi sekejap kemudian, Kiai Soka itu pun telah meloncat pula menyingkir ketika pengawal yang lain berusaha untuk menyerang pula.

Namun hampir saja terjadi kecelakaan di antara para pengawal. Ketika Kiai Soka

itu sudah meloncat menjauhi anak muda yang ditahannya agar tetap berdiri, sebuah ayunan mendatar telah menyambarnya. Pengawal itu mengira bahwa Kiai Soka akan mencelakai lawannya. Karena itu, maka dengan sisa tenaganya ia telah menebas ke arah lambung orang tua itu, justru pada saat Kiai Soka meloncat menjauh.

Kiai Soka yang melihat ayunan senjata itu menjadi berdebar-debar. Sementara pengawal yang mengayunkan senjata itu telah kehilangan kemampuan untuk menghentikan serangannya, sedangkan pengawal yang baru saja dilepaskan oleh Kiai Soka itu sama sekali tidak mampu menghindari lagi.

Dalam keadaan yang demikian, maka sekali lagi Kiai Soka melenting dengan kecepatan yang tidak dapat diikuti oleh mata wadag. Dengan pedang yang rampasnya, maka ia telah menangkis serangan itu.

Tetapi pengawal yang mengayunkan pedangnya itu pun telah merasa terlalu letih.

Karena itu, ketika pedangnya itu membentur pedang Kiai Soka yang agak tergesa-gesa dan kurang memperhitungkan kekuatannya, maka pedang ditangan pengawal itu telah meloncat dan jatuh ditanah.

Pengawal itu terkejut. Tetapi perasaan lain telah berbaur di dalam hatinya. Ia bersyukur, bahwa pedangnya tidak mengenai kawannya sendiri. Tetapi ia kecewa bahwa pedang itu telah terlepas dari tangannya.

Sementara itu, kawannya yang hampir saja tertebas oleh pedang pengawal itu pun merasakan sesuatu yang aneh di dalam dirinya. Orang tua itu justru telah berusaha untuk menyelamatkannya. Satu langkah yang tentu tidak akan diambil oleh orang kebanyakan yang hanya tahu bermusuhan dan bahkan dengan penuh nafsu berusaha menghabisi musuh-musuhnya.

Justru karena perasaan-perasaan aneh itu, maka beberapa orang pengawal menjadi termangu-mangu. Apalagi tubuh mereka hampir kehilangan segenap kekuatan yang ada, karena mereka telah mengerahkan semuanya yang mereka miliki sampai

benar-benar habis.

Sementara itu, para pengawal yang lain pun keadaannya tidak jauh berbeda. Mereka sudah tidak dapat berbuat banyak. Bahkan untuk tetap tegak pun rasa-rasanya mereka sudah tidak mampu lagi.

Sambi Wulung memang selalu berbuat sesuatu yang lain. Dalam keadaan demikian ia masih sempat juga dengan sengaja melepaskan setiap senjata dari tangan

lawan-lawannya, sehingga para pengawal itu menjadi sangat berdebar-debar. Disamping kelelahan yang sangat, mereka sama sekali tidak mempunyai senjata untuk melindungi diri mereka sendiri.

KETIKA para pengawal itu dicengkam oleh kegelisahan, maka Sambi Wulung itu sempat berkata, “Nah, dalam keadaan seperti ini kalian dapat membayangkan apa yang terjadi dengan kawan-kawanmu yang dibawa oleh orang-orang Jipang ke Pajang. Bayangkan bahwa aku adalah prajurit Pajang. Karena sebenarnyalah bahwa aku adalah tataran prajurit Pajang. Padahal mereka benar-benar berada di dalam pertempuran, sehingga kesempatan untuk mengekang diri tidak ada lagi. Jika

sekarang aku dan kawan-kawanku sempat menilai dengan siapa aku berhadapan, maka dipeperangan para prajurit Pajang tidak dapat melakukannya, sehingga yang

terjadi adalah kematian-kematian yang tidak berarti, sebagaimana jika aku inginkan terhadap kalian.”

Wajah para pengawal itu menjadi tegang. Tetapi mereka sempat juga membayangkan, jika keempat orang itu benar-benar ingin membunuh, maka mereka tentu sudah mati di depan pasar itu.

Tetapi ternyata bahwa keempat orang itu tidak melakukannya. Bahkan seorang di antara para pengawal itu telah diselamatkan dari ujung senjata kawan sendiri.

“Nah,” berkata Sambi Wulung kemudian “Sekarang jika kalian memang sudah menjadi sangat baik, beristirahatlah. Biarlah Ki Wiradana melanjutkan usahanya untuk mempertahankan diri dari kawan kami itu. Jika kalian telah tidak kelelahan lagi,

maka kita meneruskan perkelahian ini. Sementara ini kalian dapat mengobati luka-luka ditubuh kalian. Kami sengaja tidak melukai kalian lebih parah lagi, karena kami tidak sampai hati melakukannya.”

Memang satu dua di antara para pengawal itu justru tersinggung mendengar kata-kata Sambi Wulung itu. Tetapi sebagian besar di antara mereka mengakui,

bahwa mereka memang tidak dapat berbuat banyak. Bahkan sikap aneh dari keempat orang itu telah menimbulkan pertanyaan-pertanyaan di dalam diri para pengawal

itu. Kecuali tiga orang diantara mereka yang berasal dari padukuhan itu. Namun demikian, ketiga orang pengawal itu pun telah terluka pula, meskipun hanya goresan-goresan kecil. Namun goresan-goresan itu telah menitikkan darah dari kulit mereka.

Dalam pada itu, Ki Wiradana masih bertempur dengan mengerahkan segenap kemampuannya. Sementara Serigala Betina itu pun mampu sekali-sekali membuat Ki Wiradana kebingungan. Selendangnya memang kadang-kadang membelit tangan, namun

sekali selendang itu membelit lambung. Ketika Serigala Betina itu menarik selendangnya, maka Ki Wiradana seolah-olah telah diputar dengan garangnya. “Ki Wiradana,” berkata Serigala Betina itu. “Para pengawalmu telah kehabisan

tenaga. Mereka sudah tidak mampu bertempur lagi. Seandainya keempat kawanku ingin membunuhnya, maka mereka akan mati dan tubuhnya terkapar di pasar ini. Kau sadari, bahwa kau pun akan dapat mati jika kami menghendaki. Seandainya aku sendiri tidak mampu membunuhmu, maka kawan-kawanku yang telah kehilangan lawan-lawan mereka itu akan mampu membantuku. Mengepungmu dan memperlakukanmu

apa saja menurut kehendak kami.” “Persetan,” geram Ki Wiradana.

Tetapi kata-katanya terputus, karena rumbai-rumbai selendang Serigala Betina yang terbuat dari bandul-bandul timah kecil itu menyambar pipinya.

Perasaan sakit yang sangat telah membuat Ki Wiradana itu meloncat surut sambil menyeringai. Namun Serigala Betina itu memburunya. Katanya, “Menyerahlah.” “Kaulah yang akan aku bunuh,” teriak Ki Wiradana. Tetapi ia sudah bersiaga jika selendang itu menyambar pipinya lagi.

Tetapi perempuan itu tidak mengulangi serangannya. Namun ia masih menjawab, “Kesabaran seseorang akan dapat sampai kebatas. Nah, apakah kau memang menunggu.” Wiradana tidak menjawab. Tetapi ia meloncat menyerang dengan garangnya.

Serigala Betina dan orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu memang menjadi heran. Ternyata bahwa Ki Wiradana adalah seorang yang tidak mengenal putus asa. “Ia bertempur sebagai seorang laki-laki,” desis Jati Wulung. “Ia hanya akan mengakhiri pertempuran jika ia sudah tidak mampu berbuat apa-apa lagi.”

Tetapi Sambi Wulung tertawa. Jawabnya, "Tidak. Aku tidak berpendapat demikian." Jati Wulung mengerutkan keningnya. Namun kemudian diluar dugaan Sambi Wulung justru bertanya kepada para pengawal, "Apakah benar begitu? Apakah benar bahwa Ki Wiradana bertempur tanpa mengenal menyerah karena ia seorang laki-laki

sejati?"

Para pengawal yang kelelahan itu tidak menjawab. Sementara itu Sambi Wulung tertawa semakin keras. Katanya, "Kalian salah. Ki Wiradana tidak bertempur sebagai seorang laki-laki yang tidak mengenal menyerah.

Tetapi ia berbuat demikian justru karena ia merasa ketakutan kepada istrinya. Kepada Warsi. Jika ia kalah dan tidak berhasil menangkap lawannya itu, maka ia akan mengalami perlakuan yang pahit di rumah."

Orang yang mendengar keterangan Sambi Wulung itu termangu-mangu sejenak. Namun Gandar pun kemudian ikut tertawa pula sambil menyahut, "Aku percaya. Aku percaya kepada keterangan itu.

Jati Wulung dan Kiai Soka sempat juga tersenyum, sementara para pengawal itu pun merenungi kata-kata Sambi Wulung itu.

Meskipun nampaknya kata-kata itu dilontarkan begitu saja justru sebagai kelakar, tetapi rasa-rasanya yang dikatakan itu memang mengandung kebenaran.

Karena tidak seorang pun di antara para pengawal itu yang menjawab, maka Sambi Wulung itu pun mengulangi. "He, bukankah yang aku katakan itu benar?"

Diluar sadarnya, para pengawal itu mengangguk-angguk.

"Nah, kalain mulai jujur menilai keadaan," berkata Sambi Wulung. "Sekarang mulailah menilai dirimu sendiri. Mulailah menilai keadaan kawan-kawanmu yang dikirim ke Pajang dalam kesatuan pasukan Jipang.

Dan nilailah keadaan Tanah Perdikan ini dalam keseluruhan.

Para pengawal itu tidak menyahut. Sementara Sambi Wulung berkata lebih lanjut, "Jika kalian tidak melihat sesuatu yang memerlukan pembaharuan, maka kalian benar-benar sudah ketinggalan. Nalar budi kalian telah tertutup dan tidak mampu menilai sesuatu yang wajar. Bahwa Tanah Perdikan Sembojan telah berpaling kepada Jipang ini pun memerlukan penilaian yang khusus.

Sementara itu, ada dua Nyi Wiradana di Tanah Perdikan ini sekarang yang

masing-masing melahirkan anak laki-laki dan tentu masing-masing merasa berhak atas kedudukan Kepala Tanah Perdikan ini," Sambi Wulung berhenti sejenak, lalu. "Kalianlah yang harus menilai. Kalian tentu belum melupakan Nyi Wiradana yang dahulu, yang disebut hilang itu.

Susunan pemerintahan pada masa itu dan sikap keibuannya bagi seisi Tanah Perdikan ini. Sementara itu apakah yang dapat kalian temukan pada Nyi Wiradana yang sekarang?"

Para pengawal itu tidak menjawab. Tetapi mereka memang sedang merenungi keadaan.

Gandarlah yang kemudian berbisik ditelinga Sambi Wulung, "Tahu juga kau apa yang terjadi pada masa itu?"

"Katanya," sahut Sambi Wulung sambil tersenyum.

Gandar juga tersenyum. Tetapi ia tidak berkata apa-apa lagi.

Dalam pada itu, pertempuran antara Ki Wiradana dengan Serigala Betina itu sudah mencapai puncaknya. Serigala Betina telah benar-benar mengerahkan kemampuannya untuk menghentikan perlawanan Ki Wiradana. Ilmu yang disadapnya dari Nyai Soka ternyata memang melampaui kemampuan Ki Wiradana, betapapun Ki Wiradana berusaha

untuk menumpahkan segenap kemampuannya.

Dengan meningkatkan kecepatannya, maka rumbai-rumbai Serigala Betina itu menjadi semakin sering menyentuh tubuh Ki Wiradana. Pada pundak, lengan, punggung dan bahkan dadanya. Perasaan sakit telah menyengat-nyengat diseluruh tubuhnya. Bukan saja yang dikenai oleh rumbai-rumbai lawannya, tetapi perasaan sakit itu

seakan-akan telah menjalari tubuhya bersama aliran darahnya

Bukan saja perasaan sakit yang terasa mengganggu Ki Wiradana. Tetapi gangguan yang lain itu datang dari dirinya sendiri. Kelelahan mulai menghambat

gerakan-gerakannya. Rasa-rasanya pedangnya menjadi semakin berat dan kakinya pun bagaikan dihisap oleh tanah.

Namun akhirnya, Ki Wiradana tidak mampu bertahan lebih lama lagi. Sekali-sekali ia terhuyung-huyung oleh kelelahan yang tidak dapat diatasinya. Namun perasaan sakitnya pun benar-benar telah menghujam sampai ke tulang sungsum.

Serigala Betina yang melihat keadaan Ki Wiradana yang menjadi semakin sulit itu pun kemudian telah menghentakkan kemampuannya untuk mengakhiri pertempuran. Dengan kecepatan yang mengejutkan, Serigala Betina itu telah menyerang Ki Wiradana dengan selendangnya membelit lambungnya. Kemudian dihentakkannya selendang itu dengan sepenuh kekuatannya, sehingga Ki Wiradana terputar seperti gasing. Demikian besarnya hentakkan kekuatan Serigala Betina itu, sehingga Ki Wiradana tidak mampu menahan diri dari putaran yang cepat dan kuat. Apalagi kekuatan Ki Wiradana telah susut hampir sampai kedasar.

Untuk beberapa saat Ki Wiradana terputar, sehingga ia benar-benar telah kehilangan keseimbangannya. Karena itu, maka sebelum putaran itu berhenti, maka Ki Wiradana telah benar-benar tidak mampu berdiri lagi. Ia pun kemudian telah terbanting jatuh ditanah.

Ki Wiradana masih berniat untuk meloncat bangkit. Tetapi ternyata ia pun sekali lagi terhuyung-huyung dan jatuh pula terbaring. Kepalanya bagaikan ikut berputar dan dunia disekelilingnya pun seolah-olah ikut berputar pula.

Ki Wiradana benar-benar merasa pening disamping perasaan sakit yang menyengat-nyengat. Bahkan perutnya pun menjadi mual dan seluruh tenaga dan kemampuannya bagaikan terhisap habis sama sekali.

Untuk beberapa saat Ki Wiradana masih terbaring. Setiap ia berusaha untuk bangkit, maka rasa-rasanya kepalanya masih saja berputar seperti gasing.

Keempat orang yang menyertai Serigala Betina itu pun kemudian mendekatinya. Namun Sambi Wulung sempat berkata kepada para pengawal, “Lihat, apa yang terjadi dengan Ki Wiradana. Mendekatlah. Dan tolonglah.”

Para pengawal itu termangu-mangu. Namun Sambi Wulung itu berkata selanjutnya, “Jangan takut. Perempuan itu tidak akan berbuat apa-apa atasmu.”

Para pengawal itu pun dengan ragu-ragu mendekati Ki Wiradana yang terbaring diam. Sementara itu, Serigala Betina itu pun berjongkok disampingnya sambil berkata, “Ki Wiradana. Bukankah kau sudah tidak berdaya? Bagaimana jika kau yang sudah tidak berdaya ini aku bawa ke rumahku?”

“Gila. Perempuan liar. Kubunuh kau,” geram Ki Wiradana yang jantungnya bagaikan meledak.

Serigala Betina itu tertawa. Katanya, “Apakah kira-kira Warsi akan mencarimu.” Kemarahan yang tidak tertahankan menghentak-hentak dada Ki Wiradana. Namun dengan demikian, ia justru tidak dapat mengucapkan perasaan yang bergejolak di dalam dadanya.

Para pengawal yang telah mendekati Ki Wiradana itu menjadi termangu-mangu. Namun Serigala Betina itu pun kemudian berdiri melangkah menjauh, “Baiklah. Tolonglah pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikanmu ini. Bawalah ia kembali kepada perempan jalanan yang telah menjadi istrinya itu. Katakan, bahwa Ki Wiradana telah

dikalahkan oleh seorang perempuan. Tetapi bukan Iswari. Perempuan itu adalah emban Iswari. Pemomong Iswari yang memiliki kemampuan tidak ada sekuku ireng dibanding dengan kemampuan Iswari.”

Para pengawal itu pun termangu-mangu. Tidak ada seorang pun yang menyahut, sementara ketiga orang pengawal dari padukuhan itu, masih juga berada di antara kawan-kawannya tanpa menimbulkan kecurigaan, karena mereka mampu menyesuaikan

diri.

Sejenak kemudian, maka Kiai Soka, mewakili kawan-kawannya berkata kepada Ki Wiradana, “Sudahlah Ki Wiradana. Kami minta diri. Kami sama sekali tidak ingin menentang kekuasaan di Tanah Perdikan, selama kekuasaan di Tanah Perdikan ini tidak menyimpang dari kebenaran. Karena itu, renungkanlah, apakah kau sudah menyimpang dari kebenaran. Kebenaran di dalam lingkungan keluargamu, dan kebenaran tentang hubungan antara Tanah Peridkan ini dengan Pajang dan Jipang.” Ki Wiradana yang tidak berdaya itu hanya dapat mengumpat-umpat saja. Ketika para pengawal mendekatinya dan berusaha menolongnya. Ki Wiradana masih dapat membentak, “Jangan sentuh aku. Aku tidak memerlukan pertolongan. Aku tidak

apa-apa. Jika perempuan itu tidak pergi, aku akan membunuhnya nanti.”

Serigala Betina itu pun tertawa. Katanya, “Kau benar-benar sudah kehilangan

akal. Setiap orang tahu, bahwa aku sudah mengalahkanmu. Tetapi aku masih berbaik hati tidak membunuhmu, sebagaimana aku tidak membunuh Iswari pada saat itu, meskipun alasannya berbeda.”

“Cukup, tutup mulutmu,” teriak Ki Wiradana.

Suara tertawa Serigala Betina itu bagaikan mengumandang. Namun kemudian katanya, “Marilah. Kita tinggalkan pemimpin buruk itu. Ia adalah laki-laki pengecut yang

tidak ada duanya di Tanah Perdikan ini. Ia sudah meruntuhkan kebesaran nama ayahnya dan meruntuhkan nilai-nilai yang ada di Tanah Perdikan ini. Biarlah pada saatnya ia memikul tanggung jawab. Sekarang, biarlah kita tidak menakut-nakuti orang-orang yang masih tersisa di pasar ini.”

Kiai Soka yang sempat berdiri disamping Ki Wiradana berkata dengan nada lembut, “Pikirkanlah anakmas. Kau masih muda. Bayangkan kebesaran Ki Gede pada saat ia memerintahkan Tanah Perdikan ini. Kenapa kau tidak dapat melakukannya? Bukankah kau anaknya dan sekaligus muridnya? Meskipun anak dan murid yang manja, sehingga ilmu yang kau sadap ternyata baru dasar-dasarnya yang masih sangat dangkal.

Sebenarnya aku heran juga bahwa anak dan murid Ki Gede Sembojan sama sekali

tidak mampu mengimbangi kemampuan seorang perempuan seperti perempuan gemuk yang

mengaku juga penari itu. Juga tidak dapat mengimbangi ilmu Warsi yang cantik namun yang telah menjerumuskan kau ke dalam langkah-langkah yang hitam itu.” “Diam. Diam kau kambing tua,” bentak Wiradana.

Kiai Soka menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah. Aku akan diam. Tetapi aku harap para pengawal sempat merenungi peristiwa yang telah terjadi disini. Persoalannya akan menyangkut hari depan Tanah Perdikan ini.”

Ki Wiradana masih akan berteriak. Tetapi tenaganya rasa-rasanya telah terhisap habis oleh perasaan sakit dan letih yang tidak tertahankan lagi. Karena itu, maka suaranya bagaikan terpotong dikerongkongan, “Tutup mulutmu.”

Kiai Soka dan kawan-kawannya kemudian berpaling kepada para pengawal dan berkata, “Sudahlah. Kami minta diri. Renungkan apa yang telah terjadi. Sementara kawam-kawanmu menjadi korban pertempuran di Pajang tanpa memberikan arti apa- apa

bagi Tanah Perdikan ini.”

Kiai Soka tidak menunggu jawaban. Mereka pun kemudian beringsut dan meninggalkan Ki Wiradana yang lemah, namun dadanya bagaikan menyala oleh kemarahan, kekesalan dan kesakitan.

Dalam pada itu, ketika orang-orang itu telah pergi, maka sekali lagi para pengawal berusaha untuk menolong Ki Wiradana. Tetapi sekali lagi Wiradana itu membentak, “Jangan sentuh aku, kalian dengar. Aku tidak apa-apa. Sudah aku katakan, jika perempuan itu tidak pergi, aku akan membunuhnya.”

Para pengawal beringsut surut. Sementara itu dengan susah payah Wiradana berusaha untuk bangkit.

Dengan menghentakkan sisa kekuatannya, maka Ki Wiradana itu pun berusaha untuk berdiri. Meskipun tertatih-tatih namun ia berhasil juga untuk berdiri di atas kedua kakinya. Sekali-kali nampak mulutnya menyeringai menahan kesakitan yang mencengkam seluruh tubuhnya. Namun kepalanya sudah tidak begitu pening. Langit seakan-akan sudah berhenti berputar.

Namun ternyata suara Wiradana sudah menjadi lantang lagi, "Kita kejar orang-orang itu."

Para pengawal saling berpandangan. Tetapi seakan-akan terngiang ditelinga mereka, kata-kata orang-orang yang telah datang kepada mereka sambil bergurau, "Ki Wiradana tidak bertempur sebagai orang laki-laki yang tidak mengenal menyerah. Tetapi ia berbuat demikian justru karena ia merasa ketakutan kepada istrinya."

Tetapi untuk sejenak para pengawal itu hanya berdiam diri saja. Sementara Ki Wiradana sendiri rasa-rasanya masih belum mampu berdiri dengan tegak. Apalagi ketika ia akan melangkah, maka hampir saja ia jatuh terjerembab. Namun ketika be berapa orang pengawal bersamaan melangkah mendekat untuk membantunya, maka sekali lagi ia membentak, "Aku tidak apa-apa? Sebagaimana kalian lihat. Atau

mata kalian sudah menjadi buta?"

Dalam kebingungan, maka seorang pengawal yang lebih tua dari kawan-kawannya akhirnya berkata, "Mereka sudah melarikan diri Ki Wiradana. Agaknya mereka menyusup jalan-jalan sempit, sehingga sulit untuk dapat menemukannya."

"Siapa di antara kalian yang mempunyai kemampuan mengenali jejak? He, bukankah dalam penempaan diri kalian mendapat latihan untuk menelusuri jejak?" "Bersamaan dengan masa pasar bubar seperti ini, sulit sekali untuk mengikuti

jejak kaki di jalan-jalan yang memang banyak dilalui orang Ki Wiradana," jawab pengawal itu.

Ki Wiradana menjadi terengah-engah. Namun katanya, "Tetapi bukan karena aku kalah melawan perempuan gila itu. Bukan karena kalah. Tetapi mereka dengan licik telah melarikan diri dari arena pertempuran."

Para pengawal tidak menjawab. Tetapi sebenarnyalah mereka tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa mereka memang kalah. Namun hal itu memang menguatkan pendapat orang-orang yang telah meninggalkan mereka itu, bahwa Ki Wiradana benar-benar merasa ketakutan apabila kenyataan ini didengar oleh istrinya.

Sejenak kemudian, maka Ki Wiradana dan para pengawalnya itu pun telah berbenah diri. Kepada ketiga orang pengawal yang berasal dari padukuhan itu, Ki Wiradana berpesan, "Kumpulkan kawan-kawanmu. Cari mereka sampai ketemu. Jangan takut. Jika perlu bunyikan isyarat sehingga aku akan datang sendiri untuk menangkap mereka."

Ketiga pengawal itu mengangguk bersama-sama. Seorang diantara mereka pun menjawab, "Baik Ki Wiradana. Kami akan mencoba melakukannya."

"Bagus," desis Ki Wiradana. "Kalian adalah pengawal Tanah Perdikan ini. Karena itu, kalian harus menjunjung nama baik Tanah Perdikan ini dengan mengorbankan apa saja yang dapat kalian korbankan."

"Ya Ki Wiradana," jawab pengawal itu. "Kami akan melakukannya."

Ki Wiradana pun kemudian meninggalkan pasar itu dengan jantung yang berdebaran. Bukan saja karena ia ternyata dikalahkan oleh Serigala Betina lagi, tetapi lebih mendebarkan baginya, bagaimana ia harus menjawab jika Warsi nanti bertanya."

Hampir diluar sadarnya tiba-tiba saja ia bergumam, "Orang-orang itu memang licik. Mereka tidak berani bertempur beradu dada. Dalam kesempatan yang memungkinkan mereka selalu melarikan diri."

Para pengawal termangu-mangu sejenak. Mereka merasakan kepahitan perasaan Ki Wiradana. Namun para pengawal itu merasa tidak dapat berbuat apa-apa. Jika Ki Wiradana saja bagi orang-orang itu tidak lebih sebagai bahan kelakar, maka apa yang dapat mereka lakukan diarena benturan kekerasan.

Dalam pada itu, semakin dekat dengan padukuhan induk Ki Wiradana pun menjadi semakin termangu-mangu. Sebenarnyalah didalam jantungnya bergejolak kegelisahan yang sangat. Apa kata istrinya jika ia mengetahui bahwa Ki Wiradana pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan telah dikalahkan oleh seorang pemomong penari jalanan.

Karena kegelisahannya yang hampir meledakkan dadanya itu, tiba-tiba saja ia membentak, "He, apakah kalian tidak dengar. Orang-orang itu adalah orang-orang yang licik, yang tidak mau bertempur beradu dada. Mereka selalu melarikan diri dalam setiap kesempatan. He, kalian dengar?"

Namun ternyata suara Wiradana sudah menjadi lantang lagi, "Kita kejar orang-orang itu."

Para pengawal saling berpandangan. Tetapi seakan-akan terngiang ditelinga mereka, kata-kata orang-orang yang telah datang kepada mereka sambil bergurau, "Ki Wiradana tidak bertempur sebagai orang laki-laki yang tidak mengenal menyerah. Tetapi ia berbuat demikian justru karena ia merasa ketakutan kepada istrinya."