-->

Suramnya Bayang-Bayang Jilid 25

Jilid 25

Dalam pada itu, pertempuran antara Ki Tumenggung Wirajaya dan Ki Rangga Gupita pun rasa-rasanya tidak akan berkesudahan. Keduanya memiliki kemampuannya masing-masing yang dapat saling mengatasi dan saling mengimbangi meskipun dalam ujud yang berbeda. Langit pun semakin lama menjadi semakin merah. Matahari perlahan-lahan telah turun dan memasuki sarangnya di ujung Barat, sehingga senja pun telah datang. Pada saat yang demikian, maka terdengar isyarat dari kedua

belah pihak untuk menghentikan pertempuran. Sebagaimana saat pertempuran itu akan dimulai, maka suara bende pun telah mengumandang dan menggelepar di udara. Sementara di pihak lain terdengar suara sangkakala meneriakkan aba-aba untuk menghentikan pertempuran itu pula. Bagaimana pun juga kedua belah pihak adalah prajurit-prajurit yang terlatih dan berpengalaman. Keduanya memiliki beberapa

sifat yang hampir sama, meskipun prajurit Jipang pada umumnya memiliki watak yang lebih keras. Namun prajurit Pajang tidak kalah niatnya menghadapi keadaan yang betapapun sulitnya. Meskipun sekali-kali prajurit Pajang itu mengalami tekanan yang berat dan beruntun, namun garis pertahanan pasukan Pajang tidak patah atau terputus. Seperti tali busur yang terdesak melentur, namun kemudian menghentak lurus kembali. Demikianlah ketika pertempuran itu beristirahat, maka

para pemimpin Pajang telah sepakat untuk menurunkan pasukan cadangannya. Dengan cepat, maka para Senapati telah memanggil sebagian dari para prajurit yang bertugas untuk mengamankan keamanan lingkungan di dalam kota. Sementara itu menyerahkan keadaan dalam kota kepada anak-anak muda yang masih ada serta laki-laki yang masih belum terlalu tua dan masih memiliki kekuatan dan tenaga untuk melakukannya. Sedangkan untuk menjaga segala kemungkinan, maka para prajurit yang tersisa didalam kota telah diperlengkapi dengan kuda, agar jika

diperlukan mereka dapat mencapai tempat-tempat tertentu dengan cepat. Sementara sebagian dari mereka telah diturunkan pula ke medan esok pagi. Dengan hati-hati dan tidak menimbulkan kecurigaan, seorang demi seorang dari prajurit cadangan

itu telah pergi ke gelar pasukan Pajang diluar kota menghadapi pasukan Jipang. Namun sementara itu, seorang pengamat dengan tergesa-gesa menemui panglima pasukan Pajang yang ada di kota itu untuk menyampaikan laporan, “Kami melihat

dua penghubung berkuda pasukan Jipang menuju ke Barat. Panglima itu pun kemudian mengurai persoalannya bersama para Senapati yang lain. Mungkin kedua penghubung itu memberitahukan keadaan disisi Timur. Hanya sekadar sebagai pemberitahuan.

Namun agaknya Pasukan Jipang itu mengharapkan bantuan.

NAMUN agaknya pasukan Jipang yang masih sedang menyusun pertahanan di daerah yang dipergunakannya untuk menyusun pertahanan barunya itu, sulit untuk dapat memenuhinya. Selain itu maka jarak antara dua pemusatan pasukan Jipang itu cukup jauh. Kemungkinan yang lain adalah, pasukan disisi Timur memberitahukan bahwa pasukan Pajang sebagian terbesar ada disisi Timur itu, sehingga apabila pasukan Jipang disisi Barat akan menyerang, maka pertahanan disisi Barat tentu sedikit melemah.

“Kita harus berhati-hati menanggapi sikap prajurit Jipang yang ternyata mempunyai kemampuan yang sangat besar,” berkata Tumenggung Wirajaya. “Ya. Hal itu kami sadari sepenuhnya,” jawab Panglima prajurit Pajang itu. Lalu, “Karena itu, maka kita harus segera mengambil sikap. Aku akan memerintahkan pasukan disisi Barat bersiaga sepenuhnya menghadapi segala kemungkinan.

Sementara itu, aku tetap berniat untuk menghancurkan pasukan Jipang, atau setidak-tidaknya mendesaknya menjauh seperti disisi Barat.”

Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Dengan pasukan cadangan itu kita berharap akan dapat memecahkan pasukan lawan esok pagi,” Ki Tumenggung berhenti sejenak, lalu, “Tetapi harus diingat, bahwa pasukan Jipang itu pun

memiliki tenaga cadangan meskipun hanya sedikit.” “Ya. Tetapi pasukan cadangan kita lebih banyak,” jawab Panglima pasukan Pajang itu.

Malam itu, pasukan Pajang akan dilengkapi dengan tenaga-tenaga cadangan, sementara kawan-kawan mereka yang terluka dan terbunuh telah dikumpulkan dari medan dan dibawa memasuki regol. Mereka telah dibawa ke banjar terdekat dengan pintu gerbang kota untuk mendapat perawatan dan pelayanan sebagaimana seharusnya.

Malam itu ternyata bahwa pasukan kedua belah pihak tidak segera dapat beristirahat. Namun para perwira dikedua belah pihak pun telah berusaha agar para prajurit itu mendapat kesempatan beristirahat sebanyak-banyaknya.

Pekerjaan-pekerjaan lain diserahkan kepada mereka yang tidak turun ke medan perang.

Beberapa orang prajurit telah melumuri kaki dan tangan mereka dengan param yang memang sudah disediakan. Dengan demikian, terasa urat nadi mereka menjadi hangat, dan darah pun mengalir dengan lancar. Karena itu, maka perasaan letih

dan penat pun menjadi segera berkurang.

Tetapi seorang prajurit Pajang yang masih muda berkata kepada kawannya, “Kau sudah seperti seorang kakek-kakek. Baru sehari kau bertempur, kau sudah harus memerami kaki, tangan bahkan punggung dan perutmu.”

“Jangan sombong,” sahut kawannya. “Soalnya bukan kakek-kakek atau bukan. Tetapi tubuh ini terasa segar kembali setelah sehari kita bertempur.”

“Aku cukup dengan sedikit lama membenamkan diri disungai,” jawab prajurit muda itu. “Tubuhku telah segar kembali seperti pada saat aku datang kemari.”

“Mungkin kau cukup dengan mandi semalam suntuk. Tetapi bagiku param ini sangat berarti bagi urat-uratku yang hampir kejang,” jawab kawannya.

Keduanya tidak berbantah lagi. Masing-masing mempunyai kebiasaannya sendiri-sendiri, sehingga karena itu, maka mereka melakukan apa yang sesuai dengan kebiasaan mereka masing-masing.

Namun satu hal yang harus mereka lakukan, sebagaimana diperintahkan oleh para pemimpin mereka, adalah beristirahat sebanyak-banyaknya dapat mereka lakukan. “Besok kalian masih harus bertempur penuh. Soalnya adalah menyangkut masalah hidup dan mati. Karena itu, beristirahatlah. Jika kalian dengan sombong merasa tidak memerlukan waktu untuk beristirahat sebaik-baiknya, maka mungkin sekali besok kau akan keluar dari medan di atas pundak orang-orang yang mengusungmu,” berkata seorang perwira kepada kelompok yang dipimpinnya.

Dengan demikian maka para prajurit pun telah berusaha sebanyak-banyaknya untuk beristirahat setelah mereka makan malam, sementara mereka yang terluka kecil

oleh goresan-goresan senjata, namun masih mampu untuk bertempur, telah mengobati luka-luka mereka lebih dahulu sebelum mereka pergi tidur. Hanya sekelompok kecil sajalah yang bertugas bergantian mengamati keadaan.

“Kita harus berhati-hati menanggapi sikap prajurit Jipang yang ternyata mempunyai kemampuan yang sangat besar,” berkata Tumenggung Wirajaya. “Ya. Hal itu kami sadari sepenuhnya,” jawab Panglima prajurit Pajang itu. Lalu, “Karena itu, maka kita harus segera mengambil sikap. Aku akan memerintahkan pasukan disisi Barat bersiaga sepenuhnya menghadapi segala kemungkinan.

Sementara itu, aku tetap berniat untuk menghancurkan pasukan Jipang, atau setidak-tidaknya mendesaknya menjauh seperti disisi Barat.”

Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Dengan pasukan cadangan itu kita berharap akan dapat memecahkan pasukan lawan esok pagi,” Ki Tumenggung berhenti sejenak, lalu, “Tetapi harus diingat, bahwa pasukan Jipang itu pun

memiliki tenaga cadangan meskipun hanya sedikit.”

“Ya. Tetapi pasukan cadangan kita lebih banyak,” jawab Panglima pasukan Pajang itu.

Malam itu, pasukan Pajang akan dilengkapi dengan tenaga-tenaga cadangan, sementara kawan-kawan mereka yang terluka dan terbunuh telah dikumpulkan dari medan dan dibawa memasuki regol. Mereka telah dibawa ke banjar terdekat dengan pintu gerbang kota untuk mendapat perawatan dan pelayanan sebagaimana seharusnya.

Malam itu ternyata bahwa pasukan kedua belah pihak tidak segera dapat beristirahat. Namun para perwira dikedua belah pihak pun telah berusaha agar para prajurit itu mendapat kesempatan beristirahat sebanyak-banyaknya.

Pekerjaan-pekerjaan lain diserahkan kepada mereka yang tidak turun ke medan perang.

Beberapa orang prajurit telah melumuri kaki dan tangan mereka dengan param yang memang sudah disediakan. Dengan demikian, terasa urat nadi mereka menjadi hangat, dan darah pun mengalir dengan lancar. Karena itu, maka perasaan letih

dan penat pun menjadi segera berkurang.

Tetapi seorang prajurit Pajang yang masih muda berkata kepada kawannya, “Kau sudah seperti seorang kakek-kakek. Baru sehari kau bertempur, kau sudah harus memerami kaki, tangan bahkan punggung dan perutmu.”

“Jangan sombong,” sahut kawannya. “Soalnya bukan kakek-kakek atau bukan. Tetapi tubuh ini terasa segar kembali setelah sehari kita bertempur.”

“Aku cukup dengan sedikit lama membenamkan diri disungai,” jawab prajurit muda itu. “Tubuhku telah segar kembali seperti pada saat aku datang kemari.”

“Mungkin kau cukup dengan mandi semalam suntuk. Tetapi bagiku param ini sangat berarti bagi urat-uratku yang hampir kejang,” jawab kawannya.

Keduanya tidak berbantah lagi. Masing-masing mempunyai kebiasaannya sendiri-sendiri, sehingga karena itu, maka mereka melakukan apa yang sesuai dengan kebiasaan mereka masing-masing.

Namun satu hal yang harus mereka lakukan, sebagaimana diperintahkan oleh para pemimpin mereka, adalah beristirahat sebanyak-banyaknya dapat mereka lakukan. “Besok kalian masih harus bertempur penuh. Soalnya adalah menyangkut masalah hidup dan mati. Karena itu, beristirahatlah. Jika kalian dengan sombong merasa tidak memerlukan waktu untuk beristirahat sebaik-baiknya, maka mungkin sekali besok kau akan keluar dari medan di atas pundak orang-orang yang mengusungmu,” berkata seorang perwira kepada kelompok yang dipimpinnya.

Dengan demikian maka para prajurit pun telah berusaha sebanyak-banyaknya untuk beristirahat setelah mereka makan malam, sementara mereka yang terluka kecil

oleh goresan-goresan senjata, namun masih mampu untuk bertempur, telah mengobati luka-luka mereka lebih dahulu sebelum mereka pergi tidur. Hanya sekelompok kecil sajalah yang bertugas bergantian mengamati keadaan.

NAMUN dalam keadaan yang demikian, seorang demi seorang pasukan Pajang telah bertambah.

Malam yang kemudian menjadi kelam, telah menyelubungi medan dengan kesenyapan. Tetapi tak banyak ada gerak di kedua belah pihak. Para prajurit tertidur silang melintang dengan dengkur yang tersendat-sendat.

Pada malam itu, di Tanah Perdikan Sembojan, serombongan pengamen telah memasuki padukuhan. Di ujung lorong, Kiai Badra yang memim-pin rombongan itu bersama Kiai Soka berkata, “kita sudah dapat mulai sebagaimana dikehendaki oleh Ki Tumenggung Wirajaya. Aku yakin bahwa di Pajang, Ki Tumenggung pun sudah mulai pula mengusik orang-orang Jipang.”

“Ya,” jawab Kiai Soka. “Kita memang sudah mulai dengan rancangan kita. Jika mungkin maka kita akan menghindari benturan-benturan pada langkah-langkah pertama.”

“Mudah-mudahan,” jawab Kiai Badra. “Kita akan mengadakan pendekatan dengan orang-orang yang mungkin dapat kita ajak berbicara.”

Yang lain pun mengangguk-angguk. Namun mereka telah mempunyai bekal tertentu sehingga mereka tidak lagi ragu-ragu untuk menyatakan niat mereka yang sebenarnya.

Ketika rombongan itu mengadakan pertunjukan tanpa diminta oleh siapapun, maka orang-orang padukuhan itu pun telah banyak yang berkerumun. Namun, mereka terkejut ketika mereka melihat penarinya sama sekali tidak mengenakan pakaian sebagaimana mereka lihat. Penari yang ikut dalam rombongan itu memakai pakaian sehari-hari seperti yang dikenakan oleh perempuan-perempuan Tanah Perdikan Sembojan.

Namun dengan demikian, maka orang-orang yang menyaksikannya menjadi semakin tersentuh hatinya. Perempuan itu pasti Nyai Wiradana yang hilang.

Ketika orang-orang padukuhan itu sudah berkumpul karena mendengar suara gamelan, maka penarinya yang tidak mengenakan pakaian penari selain sehelai selendang

yang diikatkan di lambung itu pun mulai bangkit dan berdiri di tengah-tengah arena, dikelilingi oleh orang-orang padukuhan itu yang melihat penari itu dengan heran.

Namun dalam pada itu, gamelan pun justu telah berhenti.

Orang-orang yang mengerumuni arena itu menjadi semakin heran. Namun mereka menunggu apa yang akan terjadi kemudian.

Dalam pada itu, maka penari yang tidak mengenakan pakaian penari itu pun kemudian melangkah mengelilingi arena sambil memandang orang-orang yang mengerumuninya. Sejenak kemudian tiba-tiba saja ia berkata, “Ki Sanak,

orang-orang Sembojan yang baik hati. Aku minta maaf, bahwa kali ini aku tidak dapat menari bagi kalian karena sesuatu hal. Aku tidak sempat merias diri di pondokanku karena aku telah diusir oleh orang yang untuk sementara memberikan tempat kepada kami untuk tinggal, sementara di malam hari dan kadang-kadang disiang hari, kami mengadakan pertunjukan keliling seperti ini.

Orang-orang Sembojan itu pun mendengarkan keterangan penari yang tidak dalam pakaian tari itu dengan seksama. Sementara itu perempuan itu pun berkata lebih lanjut. “KARENA itu, maka sejak saat ini kami tidak lagi mempunyai tempat untuk berteduh. Memang ada dua pilihan yang dapat kami lakukan. Kembali ke tempat asal kami, namun untuk datang kembali ketempat ini jaraknya terlalu jauh, sehingga mungkin akan dapat kami lakukan dalam waktu tiga atau empat bulan seperti pada saat kami pulang beberapa waktu yang lalu, atau kami mohon belas kasihan seseorang untuk memberikan tempat yang baru bagi kami. Sekadar untuk dapat tidur dan menempatkan peralatan kami yang tidak berarti.”

Orang-orang padukuhan itu termangu-mangu. Mereka merasa kasihan kepada perempuan

yang mirip dengan Ki Wiradana itu, yang bahkan ada yang sudah menyebutkan bahwa perempuan itu adalah Nyai Wiradana itu sendiri.

Tetapi mereka tidak berani memberikan tempat kepada rombongan itu, karena mereka takut kepada Ki Wiradana yang telah menyatakan bahwa rombongan penari itu harus ditangkap jika mereka kembali ke Tanah Perdikan.

Karena orang-orang Tanah Perdikan di padukuhan itu nampak ragu-ragu, maka Nyai Wiradana yang menumbuhkan teka-teki itu pun berkata, “Ki Sanak, apakah Ki Sanak masih dibayangi kecemasan, bahwa pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan ini akan marah?”

Tidak ada jawaban. Tetapi beberapa orang mengangguk mengiakan.

“Baiklah. Jika demikian kami tidak akan memaksa. Agaknya Nyai Wiradana lah yang sebenarnya berkeberatan, karena Nyai Wiradana tidak ingin peristiwa yang pernah terjadi itu terulang. He, apakah bukan hanya sekadar fitnah saja bahwa Nyai Wiradana dahulu juga seorang penari seperti aku?” bertanya Iswari.

“Ya,” hampir berbareng beberapa orang telah menjawab.

“Tetapi menurut pendengaranku, sebelum Ki Wiradana kawin dengan penari itu, bukankah ia sudah beristri?” bertanya Iswari itu pula.

“Ya,” jawab beberapa orang yang semakin banyak jumlahnya.

“Dan istrinya itu kini sudah tidak ada lagi di Sembojan,” desak Iswari pula. Semakin banyak orang yang menjawab, “Ya,” bahkan seorang telah berteriak. “Istrinya telah pergi.”

“Baiklah,” berkata Iswari. “Bagaimana pendapat kalian tentang istri Ki Wiradana yang telah pergi itu dengan istrinya yang sekarang?”

Tidak seorang pun menjawab. Jawaban yang sudah ada dikerongkongan pun telah ditelannya kembali. Namun sementara itu Iswari itu berkata, “Ki Sanak. Menurut pendengaranku, pada saat istri Ki Wiradana itu pergi, ia baru mengandung. Apakah kalian juga mengetahuinya?”

Beberapa orang dengan ragu mulai menjawab lagi, “Ya.”

“Nah, jika demikian, maka anak itu sekarang tentu sudah lahir,” berkata Iswari. “Sementara itu anak Warsi, juga seorang penari jalanan itu sudah lahir pula.

Tetapi siapakah yang lebih berhak untuk menjadi Kepala Tanah Perdikan kelak. Anak Iswari atau anak Warsi.”

Orang-orang yang mengerumuni arena itu termangu-mangu. Namun ada juga yang menjawab, “Anak Iswari. Ia lebih berhak atas kedudukan Kepala Tanah Perdikan ini daripada anak Warsi yang tamak itu.”

Kawan-kawannya berpaling ke arah orang itu. Bagaimanapun juga mereka merasa cemas akan kata-kata yang dilontarkan oleh salah seorang daripadanya. Jika yang dikatakan itu sampai terdengar oleh Ki Wiradana, maka ia tentu akan mendapat hukuman yang berat. Apalagi jika Warsi sendiri mendengarnya, maka nasib orang itu tentu akan buruk.”

Sementara itu, Iswari yang berada di tengah-tengah kerumunan orang banyak itu pun telah tersentuh hatinya mendengar jawaban itu. Ternyata bahwa paling tidak seorang di antara orang-orang Sembojan masih menganggapnya sebagai ibu dari seorang anak yang akan dengan sah memegang kedudukan Kepala Tanah Perdikan. Karena itu, di luar kendali perasaannya, maka muncullah dipermukaan, sifat perempuannya. Dengan susah payah ia telah menahan agar air mata yang memanasi pelupuknya itu tidak menitik jatuh.

Namun ternyata bahwa air mata itu masih juga meleleh dipipinya.

TETAPI cahaya lampu minyak yang tidak begitu terang tidak sempat menunjukkan butir-butir air yang menitik kulit pipinya itu.

Sementara itu, Iswari telah menghentakkan perasaannya sambil berkata, “Jika demikian, maka pada suatu saat, anak itu akan datang kepada Ki Sanak semuanya.” Kata-kata Iswari itu ternyata merupakan satu isyarat, bahwa ia telah mengakui tentang dirinya sendiri. Bahwa ia bukan sekadar perempuan yang mirip dengan Nyai Wiradana. Tetapi dengan kata-katanya yang dilontarkan itu, serta ujudnya dalam pakaian sehari-hari, ternyata perempuan itu memang Iswari.

Karena itu, maka Ki Bekel yang kebetulan juga menyaksikannya, telah menyibak orang yang berkerumun itu. Ketika ia muncul di arena maka katanya, “Nyai, aku adalah bekel dari padukuhan ini. Bekel yang seakan-akan sudah dilupakan, karena semua tugasku sudah diambil alih oleh anak-anak muda yang disebut pengawal padukuhan yang langsung dipimpin oleh Ki Wiradana,” orang itu berhenti sejenak, lalu katanya, “Ada kecenderungan aku memberontak karenanya. Tetapi aku tidak

akan mampu berbuat apa-apa. Meskipun demikian, setelah aku mendengar keterangan Nyai, maka aku telah mengambil satu kesimpulan tentang Nyai dan rombongan ini.

Karena itu, aku akan mempersilakan rombongan ini untuk berada di rumahku. Apapun yang akan terjadi, aku akan menerimanya dengan senang hati.”

Iswari memandang Ki Bekel dengan tajamnya. Namun kemudian ia pun bertanya, “Kesimpulan apakah yang telah kau ambil tentang kami?”

“Semua orang yang berkerumun disini akan mengerti maksudku,” jawab Ki Bekel. “Marilah, singgah dan tinggal di rumahku. Aku tahu bahwa hal ini akan menjadi persoalan. Tetapi aku tidak berkeberatan.”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Di luar sadarnya ia memandang Kiai Badra dan

Kiai Soka yang ada di dalam temaramnya lampu minyak untuk mendapat pertimbangan.

Sementara itu, terdengar suara Kiai badra, “Baiklah ngger. Terimalah tawaran yang sangat berharga ini.”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Ki Bekel. Kami sangat berterima kasih atas kesempatan ini.”

“Marilah. Jika kau masih ingin mendapat kesempatan untuk menari malam ini, kau dapat merias dirimu di rumahku. Tetapi jika kau anggap sudah terlalu malam sekarang, maka kau dapat melakukannya besok,” berkata Ki Bekel.

Iswari pun kemudian berkata, “Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih. Dengan senang hati kami akan ikut bersama Ki Bekel,” Lalu katanya kepada orang-orang yang berkerumun itu, “Ki Sanak semuanya, aku minta maaf bahwa kali ini aku tidak dapat menari untuk kalian. Tetapi aku berjanji, besok aku akan menari di halaman rumah Ki Bekel, sebagaimana yang telah sering aku lakukan.”

Orang-orang yang berkerumun itu tidak menjawab. Tetapi sesuatu telah meyakinkan mereka dengan siapa mereka sebenarnya berhadapan.

Sejenak kemudian, maka iring-iringan kecil itu pun telah meninggalkan tempat itu menuju ke rumah Ki Bekel. Rumah yang cukup besar dan terhitung cukup baik dibandingkan dengan rumah disekitarnya. Agaknya Ki Bekel termasuk orang yang berkecukupan. Orang-orang yang berkerumun itu pun telah bubar pula. Tetapi ternyata mereka

tidak memencar kembali ke rumah mereka masing-masing. Sebagian besar dari mereka telah berkerumun dan berbincang tentang kata-kata penari yang tidak dalam

pakaian tari itu.

“Ternyata akhirnya kita benar,” berkata seorang laki-laki yang bertubuh tinggi. “Perempuan itu adalah Nyai Wiradana sendiri.”

“Ya,” sahut kawannya. “Tanpa menyebut dengan jelas, kita semuanya sudah mengetahui, bahwa yang dikatakan itu adalah satu pengakuan.”

“Tetapi ternyata Ki Bekel telah mengambil sikap yang sangat berani. Dengan menampung orang-orang itu, apakah tidak berarti bahwa Ki Bekel dengan

terang-terangan telah menentang kekuasaan Ki Wiradana? Bukan saja kegarangan dan kekerasan Wiradana yang harus diperhitungkan, tetapi kekerasan perempuan yang dipungutnya dari jalanan itulah yang harus diperhitungkan. Ternyata bahwa perempuan itu memiliki kemampuan melampaui kemampuan Ki Wiradana sendiri,” desis

orang yang pertama.

“Ki Bekel sudah tidak dapat menahan hati lagi. Sementara ini ia seolah-olah sudah tidak berarti lagi. Apapun juga dipadukuhan ini telah dilakukan oleh

anak-anak muda yang dipercaya oleh Ki Wiradana. Sampai memungut pajak pun telah mereka lakukan dan menyerahkan langsung kepada Ki Wiradana,” sahut kawannya. “Tetapi bagaimana dengan kita?” bertanya orang yang pertama. “Jika benar terjadi pertentangan yang mengarah kepada kekerasan? Apakah rombongan kecil itu akan dapat berbuat banyak menghadapi kekuasaan dan kekuatan Ki Wiradana?”

“Tanah Perdikan ini dalam keadaan lemah,” jawab kawannya. “Sebagian besar kekuatan Tanah Perdikan ini berada di Pajang.”

“Bukankah masih ada sekelompok anak-anak muda yang sekarang berada di barak itu untuk ditempa menjadi anak-anak yang perkasa sebagaimana yang telah diberangkatkan ke Pajang itu?” bertanya yang lain pula.

Kawannya mengerutkan keningnya. Tetapi katanya, “Yang ada di barak itu tidak lebih dari sisa-sisa yang tinggal di Tanah Perdikan ini. Mereka tidak dianggap cukup kuat untuk pemilihan yang pertama. Namun akhirnya mereka dipungut juga dari padukuhan masing-masing.”

Yang lain mengangguk-angguk. Namun seorang di antara mereka berkata, “Marilah, kita berbicara dengan para pengawal. Bukankah para pengawal padukuhan ini yang tersisa anak-anak kita sendiri yang akan dapat kita ajak untuk berbincang?” “Hanya ada dua tiga orang yang masih ada. Mereka pun akan segera ditarik ke dalam barak mengganti kelompok yang terdahulu,” jawab kawannya.

“Biar dua atau seorang sekalipun, namun kita wajib berbicara dengan pengawal itu.”

Demikianlah mereka pun telah pergi ke gardu di sisi yang lain dari padukuhan itu.

Dua orang anak muda duduk dengan lesu di dalam gardu itu. Ketika beberapa orang datang kepadanya, maka telah terkejut karenanya. Bahkan mereka pun telah berloncatan turun dari gardunya. Dengan tergesa-gesa mereka bertanya, “Ada apa?”

Seorang di antara mereka yang datang itu pun maju mendekat sambil berkata, “Apakah kalian mendengar suara gamelan?”

“Ya. Kami mendengar. Tetapi kemudian berhenti,” jawab salah seorang pengawal itu.

“Apakah kalian tidak berniat untuk mengambil tindakan? Bukankah sudah diumumkan oleh Ki Wiradana, bahwa jika serombongan pengamen itu datang ke padukuhan ini, maka mereka harus ditangkap.”

Anak-anak muda yang berada di gardu itu termangu-mangu. Namun salah seorang di antara mereka menjawab, “Tetapi bukankah tidak berlaku bagi semua rombongan pengamen? Bukankah hanya yang penarinya mirip dengan Nyai Wiradana itu saja yang harus dicegah untuk bermain di Tanah Perdikan ini?”

Laki-laki yang berdiri di hadapan anak-anak muda itu justru bertanya, “Kenapa jika rombongan pengamen yang penarinya seperti Nyai Wiradana itu harus dilarang?”

“Jangan bertanya kepadaku,” sahut anak muda itu. “Bertanyalah kepada Ki Wiradana.”

“Baiklah,” berkata laki-laki itu. Lalu, “Ternyata bahwa rombongan yang datang itu adalah rombongan dengan penari yang mirip sekali dengan Nyai Wiradana.”

Kedua pengawal itu saling berpandangan. Sebenarnyalah mereka memang sudah mendengar suara gamelan. Ada hasrat mereka untuk menengok, apakah rombongan itu termasuk rombongan yang menurut Ki Wiradana harus ditangkap. Tetapi keduanya merasa segan. Bahkan seorang di antara kedua pengawal itu pernah mendengar ceritera kawan-kawannya, yang mendapat kesempatan berlatih dengan cara yang lebih baik, bahwa mereka pernah gagal menangkap orang-orang yang menjadi pengiring dari penari yang mirip Nyai Wiradana itu. Karena itu, jika benar rombongan itu ada di padukuhan mereka, maka pengawal itu dihadapkan kepada satu persoalan yang amat pelik.

Karena para pengawal itu tidak segera menyahut, maka laki-laki itu kemudian berkata, “Apakah kalian juga akan menangkap mereka?”

Tiba-tiba saja salah seorang di antara kedua pengawal itu menjawab, “Kami hanya berdua.”

“Kenapa jika berdua? Apakah jika berdua kalian dapat mengingkari tugas kalian?” bertanya laki-laki itu.

Para pengawal itu menjadi kebingungan. Sementara seorang laki-laki yang lain, yang kebetulan adalah paman salah seorang dari para pengawal itu berkata, “Marilah. Kita temui rombongan itu yang sekarang berada di rumah Ki Bekel.” “Di rumah Ki Bekel paman,” ulang salah seorang pengawal itu. “Tetapi, apakah

kami berdua akan dapat menangkap mereka. Kecuali jika paman dan kita semuanya ikut melakukannya.”

“Marilah, kita melihat apa yang ada di rumah Ki Bekel. Baru kemudian kita mengambil sikap,” berkata pamannya.

Kedua pengawal itu tidak dapat ingkar. Mereka pun terpaksa ikut bersama orang-orang padukuhan itu menuju kerumah Ki Bekel.

Sementara itu malam pun menjadi semakin dalam. Padukuhan yang biasanya sudah tidur itu ternyata masih disibukkan dengan beberapa orang yang berjalan

menyusuri jalan-jalan padukuhan. Namun gardu-gardu di dalam padukuhan itu sudah menjadi sepi dan tidak lagi terisi oleh gelaknya anak-anak muda yang meronda.

Anak-anak muda di Tanah Perdikan sebagian seakan-akan telah terhisap ke dalam pasukan Jipang yang dikirim ke Pajang dan yang lain masuk ke dalam barak-barak. Beberapa saat kemudian iring-iringan itu telah sampai ke regol halaman rumah Ki Bekel. Beberapa orang menjadi termangu-mangu sebagaimana kedua orang pengawal itu. Namun salah seorang di antara mereka, yang kebetulan adalah paman dari

salah seorang di antara kedua orang pengawal itu berkata, “Marilah. Kita memasuki regol halaman.”

Orang itu justru ada di paling depan. Di belakangnya adalah dua orang pengawal yang ragu-ragu. Suara desah dan pembicaraan yang tertahan-tahan, serta kemudian langkah kaki mereka di halaman, telah memberikan gambaran kepada setiap orang di dalam rumah itu, apa yang terjadi di halaman.

“Banyak orang datang kerumah ini Ki Bekel,” desis Kiai Soka.

“Aku akan berbicara dengan mereka,” berkata Ki Bekel. “Mereka tentu orang-orang yang kebingungan untuk menentukan sikap. Mereka tentu didorong oleh perasaan takut kepada Ki Wiradana dan istrinya yang memerintahkan untuk menangkap kalian jika kalian datang ke padukuhan ini.”

Wajah Iswari menjadi buram. Dengan nada rendah ia berdesis, “Apakah kehadiranku tidak akan dapat diterima lagi oleh orang-orang padukuhan ini?”

“Ah,” desis Kiai Badra, “Tiba-tiba saja kau menjadi seorang perajuk. Diterima atau tidak diterima, tetapi kau mempunyai hak yang harus kau perjuangkan.” Iswari mengangguk. Sementara Ki Bekel berkata, “Aku akan menemui mereka.” Ki Bekel pun kemudian telah membenahi dirinya. Dengan menyelipkan keris dipinggangnya ia membuka selarak pintu dan melangkah keluar diikuti oleh Kiai

Badra dan bahkan kemudian Iswari sambil berdesis, “Aku harus berhadapan langsung dengan mereka.”

Kiai Badra mengerutkan keningnya. Katanya, “Kau akan berbicara dengan orang-orang itu.”

“Terserah kepada Ki Bekel,” jawab Iswari.

Ki Bekel tertegun sejenak. Namun ia pun tidak menjawab. Tetapi ia langsung menyeberangi pendapa dan berdiri di bibir tangga menghadap kepada orang-orang yang sudah berada di halaman.

Ki Bekel itu pun memandang orang-orang padukuhan yang berkerumun itu,

seolah-olah ingin mengenali seorang demi seorang. Meskipun cahaya lampu minyak

di pendapa hanya menyentuh mereka dengan lemahnya, tetapi karena wajah-wajah itu sudah sangat dikenalnya, maka Ki Bekel pun dapat mengenal seorang demi seorang

di antara mereka.

Baru kemudian dengan suara lantang Ki Bekel bertanya, “Kenapa kalian kemari?”

Adalah diluar dugaan kedua orang pengawal itu, ketika seorang di antara

orang-orang yang mengikuti mereka itu berkata, “Kami hanya mengikuti kedua orang pengawal itu.”

Kedua orang pengawal itu menjadi tegang. Dipandanginya orang yang berbicara itu dengan sorot mata penuh kebimbangan.

Ki Bekel mengamati kedua orang pengawal itu. Kemudian ia pun bertanya pula, “Anak-anak muda, apakah keperluan kalian datang kemari?” Kedua orang anak muda itu menjadi bingung. Untuk beberapa saat mereka berdiam diri. Bahkan jantung mereka terasa berdebar semakin cepat.

“Apakah kalian ingin menemui aku?” bertanya Ki Bekel.

Kedua orang pengawal itu masih termangu-mangu. Ki Bekel yang sudah agak lama tidak pernah mereka hiraukan lagi, tiba-tiba saja kini berdiri dihadapan mereka dengan wibawanya yang tidak dapat diatasinya.

Namun dalam pada itu, meskipun dengan agak gagap salah seorang di antara kedua pengawal itu menjawab, “Kami mendapat laporan, bahwa disini ada serombongan pengamen yang dinyatakan dilarang oleh pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan.”

“O,” Ki Bekel mengangguk-angguk. “Apakah memang ada larangan seperti itu? Aku tidak tahu menahu. Sudah lama aku tidak berada dalam tugasku meskipun kedudukanku masih tetap. Aku Bekel di padukuhan ini. Karena itu, maka aku tidak tahu, yang manakah yang dilarang dan yang manakah yang diperkenankan. Tetapi di rumah ini memang ada serombongan pengamen yang akan bermalam. Di antaranya adalah kedua orang ini.”

Pengawal-pengawal itu memandang Kiai Badra dan Iswari yang kemudian melangkah ke depan dengan mata yang hampir tidak berkedip. Ternyata perempuan itu memang

mirip sekali dengan Nyai Wiradana. Bahkan tiba-tiba saja seorang di antara orang-orang yang mengikuti kedua pengawal itu berkata, “Mereka adalah orang-orang yang sudah kita kenal di Tanah Perdikan ini.”

“Apa yang akan kau lakukan?” bertanya yang lain.

Kedua orang pengawal itu menjadi semakin bingung. Bahkan seorang di antara mereka berdesis, “Bukankah kalian yang mengajak kami kemari?”

“Ya, lalu apa yang akan kalian lakukan setelah berada disini?” bertanya yang

lain lagi. Kedua orang pengawal itu menjadi semakin bingung. Sementara Ki Bekel itu pun bertanya, “Orang-orang padukuhan ini, apakah yang sebenarnya kalian inginkan? Apakah kalian memang akan menangkap penari beserta para pengiringnya atau apa?”

Seorang yang berambut putih tiba-tiba saja melangkah maju sambil berkata, “Kami hanya ingin meyakinkan, bagaimana pendapat para pengawal itu sebenarnya.”

Kedua pengawal itu menjadi bertambah bingung. Namun orang-orang yang berkerumun di halaman itu pun termangu-mangu mendengar kata-kata itu. Beberapa orang tidak mengerti ujung pangkal dari sikap mereka bersama. Namun orang berambut putih itu agaknya telah menentukan sikapnya. Katanya, “Kami ingin meyakinkan para pengawal, dengan siapa sebenarnya mereka berhadapan.”

Laki-laki yang kebetulan paman dari salah seorang di antara kedua orang pengawal itu pun maju pula sambil berkata, “Kita sudah berkumpul disini. Meskipun hanya ada dua orang pengawal, tetapi keduanya akan dapat menjadi wakil dari sikap yang sebenarnya dari para pengawal.”

“Kita akan mengambil sikap disini,” berkata orang yang berambut putih itu. “Bukankah ketika kita berangkat ke rumah ini, kita berniat untuk mengambil satu sikap.”

“Sikap apa?” bertanya Ki Bekel.

“Sikap kita semuanya tentang penari itu,” jawab orang berambut putih.

Iswari menjadi berdebar-debar. Namun kemudian Ki Bekellah yang bertanya lagi. “Sikap yang akan kalian tentukan, akan menentukan sikap kami. Maksudku, rombongan pengamen yang kau maksud dan aku, karena aku sudah bertekad untuk berada di antara mereka setelah aku yakin, siapakah penari itu sebenarnya.”

Orang berambut putih itu mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Aku berada dipihak Ki Bekel.”

Pernyataan yang tiba-tiba itu telah membuat jantung Iswari berdegup semakin keras. Dipandanginya wajah-wajah tegang dari orang-orang yang berada di halaman. Sementara itu, laki-laki yang kebetulan adalah paman dari salah seorang pengawal itu pun menyahut, “Aku juga.”

Sejenak halaman rumah Ki Bekel itu dicengkam oleh ketegangan. Kedua pengawal itu benar-benar kehilangan akal. Justru karena itu untuk beberapa saat mereka diam membeku.

Orang-orang yang semula kurang mengerti tentang keadaan yang mereka hadapi itu pun seakan-akan telah terbangun dari sebuah mimpi. Beberapa orang di antara mereka berkata, “Kami berada bersama Ki Bekel.”

Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Iswari pun kemudian menundukkan kepalanya. Ternyata orang-orang padukuhan itu telah mengambil sikap yang hampir saja meruntuhkan air matanya. Tetapi seperti yang pernah terjadi, Iswari tidak ingin menunjukkan kelemahannya. Ia berusaha untuk bertahan, meskipun matanya terasa menjadi panas.

“Terima kasih,” berkata Ki Bekel. “Dengan demikian aku yakin bahwa seisi padukuhan ini akan bersikap seperti kalian, karena menurut penglihatanku, kalian adalah orang-orang yang paling berpengaruh di padukuhan ini. Seterusnya, terserah kepada kalian para pengawal. Sikap yang manakah yang akan kalian ambil.”

Kedua orang pengawal itu menjadi semakin bingung. Namun dalam keadaan yang demikian, Ki Bekel pun bertanya, “Anak-anak muda. Sebenarnya untuk apa kalian bekerja sekarang ini? Beberapa orang kawan-kawanmu yang dianggap lebih baik dari kalian telah dibawa ke Pajang. Mereka akan bertempur bersama-sama orang Jipang, yang selama ini tidak pernah bersangkut paut dengan Tanah Perdikan ini karena Tanah Perdikan ini merupakan bagian dari kesatuan Pajang. Namun dalam pertentangan antara Pajang dan Jipang justru anak-anak kita telah berpihak

kepada Jipang.”

Kedua orang pengawal itu tidak menjawab. Tetapi mereka mencoba melihat ke dalam diri mereka sendiri.

“Nah, renungkan,” berkata Ki Bekel. Lalu, “Kalian tidak perlu mengambil

keputusan sekarang. Kausudah melihat penari yang harus kau tangkap. Kau pun tahu siapakah penari itu sebenarnya?”

Kedua pengawal itu masih terdiam. Sementara itu Ki Bekel berkata seterusnya, “Bertanyalah kepada kawan-kawanmu yang masih ada. Suruh mereka juga merenungi keadaannya,” Ki Bekel itu pun berhenti sejenak, lalu, “Nah Ki Sanak. Aku kira

kalian sebaiknya pulang ke rumah masing-masing. Kita pun akan merenung sebagaimana kedua pengawal itu. Kemudian mengambil keputusan, apakah kita masing-masing akan melaporkan keadaan ini kepada Ki Wiradana atau tidak. Jika seorang saja di antara kalian tidak senang melihat sikapku dan sikap kita bersama, maka orang itu tentu akan dengan segera melapor kepada Ki Wiradana, sehingga ia akan mengirimkan beberapa orang pengawal untuk datang. Tetapi jika demikian maka tentu akan terjadi perkelahian karena aku dan beberapa orang

padukuhan ini sudah menyatakan tekad. Meskipun kita tidak mempunyai kemampuan apa-apa tetapi kita dilandasi oleh satu keyakinan akan kebenaran sikap kita.

Selebihnya, kalian anak-anak muda, meskipun kalian adalah para pengawal-pengawal yang ditunjuk, tetapi kalian adalah anak-anak muda dari padukuhan ini.”

Kedua anak muda itu semakin terbungkam. Sementara itu, sekali lagi Ki Bekel berkata, “Nah, sudahlah. Silakan kembali ke rumah masing-masing. Kita akan beristirahat.

Besok kita akan bekerja sebagaimana kita lakukan sehari-hari. Namun sikap terhadap Tanah Perdikan ini harus mengalami perubahan, apapun yang akan terjadi atas diri kita kemudian.”

ORANG-ORANG yang ada di halaman itu mengangguk-angguk. Meskipun tidak terucapkan

namun seakan-akan mereka telah berjanji di dalam diri sendiri, bahwa mereka telah menentukan satu sikap. Mereka merasa dihadapkan kepada satu pilihan, anak

Warsi atau anak Iswari. Pilihan mereka tentu akan mengandung akibat yang mungkin tidak menyenangkan. Meskipun demikian, rasa-rasanya nurani mereka tidak akan ingkar dari kebenaran menurut penilaian atas kedua orang anak itu.

Sejenak kemudian, maka orang-orang yang ada di halaman rumah itu pun

perlahan-lahan mulai bergerak. Mereka meninggalkan rumah Ki Bekel dengan tekad yang bulat di dalam hati. Mereka sudah terlalu lama mengalami tekanan yang menghimpit. Namun tidak seorang pun yang berani menyatakan perasaannya karena sikap Ki Bekel dan orang-orang yang mempengaruhinya. Orang-orang yang menentukan sikap kepemimpinan di Tanah Perdikan Sembojan, justru bukan orang Sembojan sendiri.

Orang-orang itu pun sadar, bahwa Iswari juga bukan orang Sembojan. Tetapi ia pernah menjadi istri pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan dan menjadi istri pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan dan mempunyai seorang anak dengan suaminya itu. Sikapnya baik dan perempuan yang meskipun masih muda itu mampu menempatkan dirinya sebagai ibu bagi rakyat Tanah Perdikan Sembojan.

Dalam pada itu, kedua orang pengawal itu pun telah kembali ke dalam gardu

mereka. Tengah malam dua orang pengawal yang lain baru akan datang menggantikan mereka.

Ketika kedua orang pengawal yang lain datang ternyata kedua orang pengawal yang bertugas sebelumnya tidak segera meninggalkan gardu. Mereka masih bercakap-cakap sejenak. Pembicaran mereka berkisar pada keadaan padukuhan mereka.

“Kawan-kawan kita rasa-rasanya sudah menjadi semakin habis,” berkata pengawal yang bertugas di bagian pertama tengah malam itu.

“Ya. Apalagi ketika orang-orang yang tersisa harus masuk pula ke dalam barak. Jika mereka keluar dari latihan-latihan yang berat itu, maka kitalah yang akan segera masuk,” jawab kawannya.

“Gardu-gardu sekarang rasa-rasanya semakin sepi. Jika dahulu anak-anak muda yang tidak sedang bertugas pun berkumpul di gardu-gardu, sekarang yang bertugas pun rasanya malas untuk pergi ke gadu,” berkata anak muda yang pertama. Kawannya tidak menjawab. Tetapi ia pun mengaku didalam hati, bahwa suasana padukuhan dan bahkan seluruh Tanah Perdikan Sembojan telah berubah.

Karena kawannya tidak menjawab, maka anak muda yang pertama itu pun bertanya, “he, sebelum kau keluar dan datang ke gardu ini, apakah tadi kau mendengar gamelan?”

“Tadi kapan?” bertanya kawannya. “Masih agak sore,” jawab kawannya.

Kedua anak muda yang bertugas dilewat tengah malam itu saling berpandangan. Namun salah seorang di antara mereka pun menarik nafas sambil berkata, “Kami memang mendengar. Tetapi kami tidak berbuat apa-apa. Ketika orang-orang keluar dari rumah dan pergi menonton, kami justru bersembunyi di dalam rumah kami.

Bukankah rombongan itu termasuk rombongan yang oleh Ki Wiradana tidak dikehendaki berada di Tanah Perdikan ini.”

“Kenapa kalian tidak keluar dan menangkap mereka?” bertanya anak muda yang pertama.

“Kau ini aneh,” jawab kawannya. “Bukankah kau yang sedang bertugas saat itu?” “Ya,” jawab pengawal yang bertugas dibagian pertama dari tengah malam itu, “Akulah yang bertugas. Dan aku memang sudah berusaha untuk datang ke tempat rombongan itu menginap.”

“Dimana?” bertanya yang akan menggantikannya.

“Di rumah Ki Bekel,” jawab yang pertama. “Aku sudah bertemu dengan rombongan itu. Rombongan yang penarinya mirip sekali dengan Nyai Wiradana.”

“O,” kawannya mengangguk-angguk. “Dan kau menangkapnya?” “Aku tidak dapat melakukannya,” jawab pengawal yang pertama. “Kenapa?” bertanya yang datang kemudian.

“Penari itu ternyata memang Nyi Wiradana. Setiap orang di padukuhan ini sekarang sudah mengetahuinya. Dan bahkan sebagaimana Ki Bekel, maka setiap orang di padukuhan ini justru berusaha melindunginya,” jawab anak muda yang datang terdahulu.

“MELINDUNGI bagaimana?” bertanya kawannya. “Mereka berpihak kepada rombongan itu. Dan bahkan Ki Bekel minta agar kita tidak melaporkannya kepada Ki Wiradana

atau para pengawal yang lain,” jawab pengawal yang pertama yang kemudian menceriterakan apa yang dilihatnya di rumah Ki Bekel. Bahkan kemudian katanya, “Ternyata bahwa aku pun sependapat dengan mereka. Perempuan itu adalah Nyai Wiradana sendiri. Tentu bukan sekadar pengakuan seseorang yang ingin memanfaatkan keadaan karena ia mirip dengan Nyai Wiradana.”

“Tetapi kemungkinan itu ada,” jawab pengawal yang datang kemudian. “Karena kita sudah agak lama tidak melihat Nyi Wiradana, maka seseorang yang mirip dengan Nyi Wiradana kita anggap bahwa orang itu benar-benar Nyi Wiradana hanya berdasarkan pengakuan saja.”

“Tidak,” jawab pengawal yang pertama. “Meskipun kita sudah agak lama tidak melihatnya, tetapi bagi orang-orang padukuhan ini, Nyi Wiradana masih tetap dikenang ujud dan polah tingkahnya. Sehingga kita tidak akan salah mengenalinya.”

Kedua pengawal yang datang kemudian itu pun mengangguk-angguk. Namun dalam pembicaraan selanjutnya kedua pengawal yang datang kemudian itu pun sependapat dengan kedua kawannya, bahwa sebaiknya harus terjadi perubahan di Tanah Perdikan itu.

“Sikap Ki Bekel memberikan kemungkinan untuk mengadakan perubahan itu. Justru pada saat Tanah Perdikan ini lemah,” berkata salah seorang pengawal yang datang terdahulu.

“Betapapun lemahnya, tetapi apakah artinya kekuatan yang ada di padukuhan ini,” sahut kawannya.

“Bukankah Ki Bekel akan dapat berhubungan dengan padukuhan-padukuhan lain? Tentu

Ki Bekel akan melakukannya dengan sangat berhati-hati. Jika setiap laki-laki di padukuhan ini dan padukuhan sebelah benar-benar bertekad bulat, maka kita tentu akan dapat mengimbangi kekuatan para pengawal yang jumlahnya sudah tidak cukup banyak. Apalagi jika para pengawal itu mendapat petunjuk dan kekangan dari orang tua mereka masing-masing karena orang tua mereka sejalan dengan sikap Ki Bekel.”

Kawannya mengangguk-angguk. Sementara pengawal yang datang terdahulu itu berkata, “Baiklah. Aku akan pulang. Sebaiknya besok kau pergi ke rumah Ki Bekel

dan bertemu dengan rombongan itu. Beberapa orang pengawal yang ada di padukuhan ini akan aku temui dan aku harap mereka pun sependapat dengan kita.”

“Ada satu hal yang perlu kita perhatikan,” berkata kawannya. “Mungkin kita akan dapat menyusun kekuatan mengimbangi kekuatan para pengawal yang ada di luar padukuhan ini dan barangkali satu dua padukuhan lagi yang mungkin sependapat dengan sikap Ki Bekel. Tetapi bagaimana dengan Ki Wiradana dan Nyi Wiradana yang sekarang, yang ternyata memiliki kemampuan yang sangat tinggi, serta beberapa orang yang ada disekeliling Ki Wiradana?”

Pengawal yang datang terdahulu itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau pernah mendengar ceritera tentang para pengawal yang pernah mencoba menangkap orang-orang di dalam rombongan itu?”

“Semacam desas-desus. Tetapi apakah memang benar seperti itu?” kawannya menyahut.

“Aku percaya bahwa terjadinya memang seperti desas-desus itu. Sehingga jika

benar-benar terjadi semacam benturan, maka orang-orang dalam rombongan itu tentu akan ikut serta bersama kita,” pengawal itu berhenti sejanak.

Namun kemudian sambil bangkit dan bergeser ia berkata, “Aku tidak ingin dikirimkan ke Pajang sebagai pengikut orang-orang Jipang. Jika kami mati disana, maka kematian itu adalah kematian yang sia-sia saja. Lebih baik aku mati dalam usaha untuk mengadakan perubahan di Tanah Perdikan ini sendiri.”

Kawannya hanya mengangguk-angguk. Pengawal yang datang terdahulu itu bersama seorang yang lain telah meninggalkan gardu itu dan pulang ke rumah mereka masing-masing.

Sementara dua orang kawannya yang menggantikannya bertugas duduk termangu- mangu.

Rasa-rasanya gardu ini memang sepi. Orang-orang yang tidak bertugas tidak mau lagi berada di gardu sekadar untuk berkelakar atau ikut berjaga-jaga.

TERNYATA kedua orang yang bertugas kemudian itu pun sependapat dengan kedua kawannya yang terdahulu. Memang harus ada perubahan di Tanah Perdikan itu.

Menurut pengamatannya, semakin lama keadaan di Tanah Perdikan itu tidak menjadi semakin baik, tetapi justru sebaliknya. Rakyat semakin terhimpit oleh beban

pajak yang berat dan bahkan hampir tidak tertanggungkan lagi. Ki Wiradana memerintah berdasarkan atas kebijakan orang-orang baru yang tidak banyak dikenal sebelumnya di Tanah Perdikan Sembojan. Anak-anak mudanya yang ditempa dengan latihan-latihan berat yang ternyata telah dikirim ke Pajang untuk berperang

justru melawan Pajang bagi kepentingan Jipang.

“Besok dari gardu ini kita langsung pergi ke rumah Ki Bekel,” berkata salah seorang dari kedua orang pengawal itu. “Ya. Dari rumah Ki Bekel kita temui beberapa orang kawan kita yang tersisa,”

jawab kawannya. “Meskipun hanya tinggal beberapa orang saja yang tinggal, namun kita akan dapat berbincang dengan mereka. Satu hal yang perlu kita ingat, bahwa sikap kita ternyata hampir sama. Tidak seorang pun di antara kita yang berusaha berbuat sesuatu meskipun kita mendengar suara gamelan. Bahkan mungkin ada satu dua orang di antara kita yang justru menonton pertunjukan itu.”

Yang seorang mengangguk-angguk sambil bergumam, “Tanah Perdikan ini harus menemukan kembali masa-masanya yang baik sebagaimana masa Ki Gede Sembojan memerintah.”

Keduanya mengangguk-angguk. Namun agaknya keduanya merasa udara dingin semakin

mencengkam, sehingga mereka lebih senang membenamkan diri di dalam gardu yang sedikit memberikan kehangatan daripada mondar-mandir di jalan-jalan padukuhan. Malam itu rasa-rasanya terlalu panjang bagi kedua anak muda yang bertugas itu.

Mereka menunggu dengan kesabaran yang dipaksakan. Ketika mereka mendengar ayam jantan berkokok, maka mereka pun mengharap langit akan menjadi merah dan sebentar kemudian mereka akan meninggalkan gardu itu untuk pergi ke rumah Ki Bekel.

“He, kenapa kita harus menunggu sampai pagi,” tiba-tiba saja salah seorang di antara keduanya berdesis.

“Maksudmu?” bertanya kawannya.

“Kenapa kita tidak bergerak saja sejak sekarang? Kita dapat meninggalkan gardu ini. Untuk apa kita berada disini sampai pagi, sementara kita sudah menentukan

tekad untuk mengadakan perubahan di Tanah Perdikan ini?” anak muda yang pertama itu justru bertanya pula.

“Kita memang dapat meninggalkan gardu ini tanpa takut dianggap bersalah jika

kita memang sudah bertekad untuk menentang kebijakan Ki Wiradana. Tetapi apakah kita akan mengetuk pintu rumah Ki Bekel malam-malam begini? Atau mungkin membangunkan kawan-kawan kita? Biarlah kita menunggu sampai pagi. Kita akan dapat bekerja dengan lebih wajar dan tidak menimbulkan kegelisahan sebelum kita sebenarnya mulai dengan langkah-langkah yang berarti,” sahut kawannya.

Yang lain mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menyahut lagi. Dicobanya untuk memejamkan matanya sambil bersandar dinding. Katanya, “Aku akan tidur. Aku merasa tertekan dengan menunggu sampai pagi tanpa berbuat sesuatu. Karena itu, aku akan berusaha untuk tidur saja disisa malam ini.”

“Tidurlah. Aku yakin kau tidak akan dapat melakukannya,” jawab kawannya pula. “Jantungmu sudah dicengkam oleh kegelisahan. Tetapi ada baiknya untuk dicoba.” Yang sudah memejamkan matanya itu tidak menjawab. Tetapi sebenarnyalah bahwa ia tidak dapat tidur barang sekejap pun, karena kegelisahannya yang mencengkam.

Namun kedua orang pengawal itu pun kemudian menyadari, bahwa sisa malam tinggal sedikit, sehingga mereka akan segera dapat meninggalkan gardu itu untuk menemui

Ki Bekel.

Sementara itu, di Pajang, ketika langit mulai dibayangi oleh warna merah, pasukan Pajang dan Jipang pun telah mulai bersiap-siap. Mereka membenahi diri dan ketika nasi sudah masak, maka mereka telah menyuapi mulut masing-masing hingga sekenyang-kenyangnya. Kemudian, para prajurit itu pun telah mengamati

senjata masing-masing, sehingga jangan sampai mengecewakan apabila mereka sudah berada di medan. Sebagian dari prajurit Pajang telah melengkapi dirinya dengan sebuah pisau belati di samping senjata masing-masing.

PARA Senapati pun kemudian telah siap pada pasukannya masing-masing. Seperti di hari sebelumnya, maka pasukan Jipang lah yang bergerak lebih dahulu. Merekalah yang kemudian datang menyerang pasukan Pajang yang berada di luar dinding. Namun pasukan Pajang pun telah bersiap sepenuhnya. Karena itu ketika

mereka melihat pasukan Jipang mulai bergerak, maka dengan cepat pasukan Pajang pun menyongsongnya.

Sambil bergerak maju, maka prajurit Pajang yang terlatih diperkuat oleh para pengawal dari padukuhan diseputar kota, telah menyusun gelar. Sebagaimana Jipang

yang mempergunakan gelar yang melebar, maka Pajang pun mempergunakan gelar yang lebar pula. Pagi itu Pajang nampak memasuki medan perang dengan gelar Garuda Nglayang. Gelar yang memiliki bagian-bagian yang diperkuat. Selain di ujung

tengah yang merupakan paruh kekuatan gelar itu, maka disebelah menyebelah dibawah pimpinan Senapati pengapit, kekuatan pasukan Pajang bagaikan kuku-kuku yang tajam yang siap menerkam lawan. Di ujung sayap, terdapat pula

kekuatan-kekuatan yang dipimpin oleh para Senapati yang menjadi pusat sayap sebelah-menyebelah.

Sementara itu, ternyata pasukan Jipang telah mempergunakan gelar Sapit Urang.

Juga sebuah gelar yang melebar dengan pemusatan beberapa kekuatan yang merupakan kepala dari gelar itu dengan sapit di ujung-ujung gelar sebelah-menyebelah. Selangkah demi selangkah kedua kekuatan itu maju mendekat. Pasukan Jipang yang kemudian berlari-lari kecil siap menerkam pasukan Pajang yang ternyata telah bertambah jumlahnya, karena pasukan cadangan yang telah ditarik pula ke medan bukan saja dapat menggantikan mereka yang terluka dan terbunuh di peperangan.

Tetapi lebih daripada itu.

Sejenak kemudian, maka kedua pasukan yang kuat itu benar-benar telah berbenturan. Dengan tenaga yang masih segar maka kedua belah pihak telah

menghentakkan kekuatan dan kemampuan mereka masing-masing. Kedua belah pihak tidak mau menjadi santapan ujung senjata justru pada saat pertempuran baru

mulai. Yang terdengar kemudian adalah senjata yang berdentangan. Tombak yang mematuk perisai, pedang yang saling membentur, trisula yang berputar berdesingan. Ujung tombak panjang yang menyambar-nyambar.

Dalam pada itu, ternyata bahwa dengan tenaga cadangan yang memasuki arena, serta pasukan Jipang yang telah susut karena terbunuh dan terluka dihari pertama, maka jumlah pasukan dikedua belah pihak menjadi seimbang.

Dengan demikian, maka kedua gelar itu pun mempunyai kekuatan yang pada benturan pertama nampak seimbang pula.

Tetapi para Senapati di kedua belah pihak mulai berusaha mengenali kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi. Pasukan Pajang maupun pasukan Jipang

tidak semuanya terdiri dari prajurit-prajurit yang sebenarnya. Keduanya telah

menarik anak-anak muda para pengawal padukuhan untuk memperkuat masing-masing pihak. Namun ternyata bahwa prajurit Jipang telah mempergunakan tenaga para pengawal Tanah Perdikan Sembojan lebih banyak daripada anak-anak muda yang dipergunakan oleh Pajang.

MESKIPUN demikian para perwira dari Jipang yakin, bahwa secara pribadi mereka mempunyai prajurit-prajurit terpilih yang akan dapat menjadi imbangan kekurangan pada para pengawal Tanah Perdikan Sembojan.

Ketika kedua pasukan itu bertempur semakin sengit, maka di Tanah Perdikan Sembojan dua orang pengawal sedang berbincang dengan Ki Bekel. Sementara itu, Iswari menunggui pembicaraan itu dan mengikutinya dengan sungguh-sungguh. “Baiklah Ki Bekel,” kedua orang pengawal itu mengangguk-angguk. “Aku menjadi semakin jelas. Semalam kedua kawanku telah mengatakan serba sedikit. Dan sekarang aku menjadi pasti.” “Nah, Nyai Wiradana sudah tidak bersembunyi di balik wajah penari lagi sekarang,” berkata Ki Bekel. “Tergantung kepada kita. Tetapi kita sudah

mengetahui bahwa yang sebenarnya berhak atas Tanah Perdikan ini, tentu anak Nyi Wiradana yang tua. Bukan anak penari jalanan itu.”

“Aku juga penari jalanan,” potong Iswari.

“Tetapi tentu bukan penari yang sesungguhnya,” jawab Ki Bekel.

“Aku pun yakin, bahwa Nyi Wiradana yang sekarang itu pun bukan penari yang sesungguhnya,” berkata Iswari kemudian.

Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin sekali. Aku pun berpikir demikian. Sehingga dengan demikian, maka yang dilakukannya itu sudah dipertimbangkannya masak-masak. Diperhitungkan dan dengan hati-hati dilaksanakan.”

Kedua pengawal itu mengangguk-angguk. Sementara itu salah seorang di antara mereka berkata, “Ki Bekel. Kami akan berusaha bekerja dengan hati-hati dan tidak memancing kegelisahan pada saat-saat sekarang ini.”

“Terserah kepada cara yang akan kalian tempuh,” berkata Ki Bekel. “Aku akan berhubungan dengan setiap laki-laki yang meskipun sudah setengah umur, tetapi yang masih sanggup memegang senjata akan menjadi kekuatan kita.”

“Meskipun sedikit, di padukuhan ini masih juga ada anak-anak muda yang sudah memiliki dasar-dasar keprajuritan. Aku yakin, bahwa kita akan sependapat,” berkata kedua pengawal itu.

Ki Bekel tersenyum. Setelah beberapa lamanya, terbentang tanggul pemisah di antara dirinya dan anak-anak muda yang langsung dikuasai oleh Ki Wiradana, maka kini Ki Bekel sudah berhasil berhubungan kembali dengan anak-anak muda padukuhannya.

Bahkan ternyata mereka telah menemukan alas berpijak yang sama untuk mengadakan perubahan di Tanah Perdikan Sembojan.

Sementara itu kedua pengawal itu pun telah minta diri. Dengan tekad yang mantap keduanya berniat untuk benar-benar berbuat sesuatu bagi Tanah Perdikannya yang pada saat-saat terakhir benar-benar mengalami keadaan yang terasa sangat pahit. Sepeninggalan kedua orang anak muda itu, maka Ki Bekel pun kemudian berkata kepada Iswari, “Nyi, apapun yang terjadi, kita memang harus segera mulai.

Nilai-nilai kehidupan di Tanah Perdikan ini semakin lama menjadi semakin buram.” “Baiklah Ki Bekel. Kami pun sudah siap. Bahkan ada keinginanku untuk menunjukkan kepada Ki Bekel, pegangan yang dapat meyakinkan kepercayaan Ki Bekel tetang aku dan orang-orang yang datang bersamaku.”

Ki Bekel mengerutkan keningnya.

“Aku ingin menghindari keragu-raguan yang betapapun kecilnya. Memang dapat terjadi, orang yang memiliki kemiripan dengan Iswari kemudian menyatakan dirinya sebagai Iswari karena ia tahu pasti, bahwa anaknya berhak atas Tanah Perdikan

ini. Dengan dukungan kekuatan yang dianggapnya akan dapat mengimbangi kekuatan Ki Wiradana, ia tampil memasuki putaran pertentangan di Tanah Perdikan ini,” berkata Iswari.

Ki Bekel mengerutkan keningnya. Namun kemudian jawabnya, “Tidak ada keraguan selembar rambut pun. Tetapi jika Nyi Wiradana ingin menunjukkan pegangan yang dapat mempertebal kepercayaan kami, maka kami pun akan menjadi semakin bangga atas perjuangan kami.”

Iswari pun kemudian menunjukkan kepada Ki Bekel, bandul pertanda kekuasaan Tanah Perdikan Sembojan, yang diterimanya dari kakeknya.

KI BEKEL mengerutkan keningnya. Dengan nada dalam ia berkata, “Semuanya menjadi semakin pasti. Apakah Ki Gede sebelum meninggal telah memberikan pertanda ini?” “Ya. Pada saat meninggal,” jawab Iswari. “Pertanda ini dititipkan kepada Gandar

yang pada saat meninggalnya Ki Gede ia menungguinya.”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Diamatinya bandul emas dengan rantainya. Pada bandul itu bertahtakan lukisan kepala seekor burung. Pertanda yang dikenal oleh hampir setiap orang yang menjadi bebahu di Tanah Perdikan Sembojan, karena Ki Gede memang pernah menunjukkan kepada mereka pertanda yang diterima turun temurun bagi Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Sambil menyerahkan kembali bandul itu maka ia pun bergumam, “Sekarang kita tidak mempunyai pilihan lain kecuali mengambil kembali kedudukan yang sudah dibayangi oleh kelahiran anak penari jalanan itu. Yang harus memimpin Tanah Perdikan itu sudah tentu harus anak Nyi Wiradana yang tua. Seandainya dalam keadaan wajar pun

anak Nyi Wiradana yang akan menggantikan kedudukan Kepala Tanah Perdikan, karena anak Nyi Wiradana telah lahir lebih dahulu. Apalagi setelah ternyata bahwa anak

Nyi Wiradanalah yang telah mendapatkan pertanda untuk menggantikan kedudukan Kepala Tanah Perdikan ini.”

“Terima kasih atas kepastian Ki Bekel tentang aku dan nanti anakku. Mudah-mudahan kita tidak berdiri sendiri,” berkata Iswari. “Aku yakin. Aku akan dapat berhubungan dengan padukuhan-padukuhan terdekat. Sehingga dengan demikian maka lingkungan kita akan menjadi semakin luas,” berkata Ki Bekel.

Sebenarnyalah apa yang dikatakan oleh Ki Bekel itu dilakukannya. Orang-orang padukuhan itu, dihari itu telah melakukan pekerjaan mereka sehari-hari. Mereka tidak memberikan kesan apapun tentang peristiwa semalam dirumah Ki Bekel.

Seakan-akan di padukuhan itu tidak pernah terjadi sesuatu meskipun sebenarnya satu langkah yang sangat penting telah diambil. Satu langkah yang akan dapat mengubah wajah seluruh Tanah Perdikan Sembojan.

Dengan penuh keyakinan di hati, maka Ki Bekel pun kemudian telah pergi menemui Ki Bekel di padukuhan sebelah. Diuraikannya apa yang telah terjadi di

padukuhannya. Dikatakannya bahwa perempuan yang mirip dengan Nyi Wiradana yang hilang yang datang kembali ke padukuhan itu sebagai penari memang Nyi Wiradana yang sebenarnya. Dikatakan pula tentang bandul pertanda kekuasaan Tanah Perdikan Sembojan yang ada di tangan Iswari itu.

Ki Bekel dipadukuhan sebelah mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya dengan suara lemah, “Aku sudah tidak mempunyai kuasa apapun juga di sini. Semuanya

sudah diambil alih oleh para pengawal yang dipimpin langsung oleh Ki Wiradana, yang kini dikendalikan oleh orang-orang yang tidak kita kenal sebelumnya. Orang

tua yang bernama Ki Randukeling itu agaknya mempunyai pengaruh yang sangat besar atas diri Ki Wiradana.”

“Orang itu adalah kakek Nyi Wiradana yang sekarang,” jawab Ki Bekel dari padukuhan yang dikunjungi Iswari. Lalu katanya, “Tetapi ternyata anak-anak muda itu kini dapat diajak bicara di padukuhanku. Aku tidak tahu, bagaimana suasana

di padukuhan ini.”

“Sulit sekali, jawab Ki Bekel di padukuhan itu. “Aku tidak yakin bahwa aku akan dapat membujuk mereka sebagaimana kau lakukan.”

“Jika demikian, maka sebaiknya kau menunggu. Biarlah para pengawal dari padukuhanku yang menjajagi kemungkinan yang dapat terjadi di sini. Nanti aku akan datang lagi untuk memberitahukan kepadamu. Tetapi aku ingin kepastian sikapmu,” berkata Ki Bekel yang datang itu. “Nah, bagaimana sikapmu sendiri?” “Jika yang kau katakan itu benar, maka aku berpihak kepadamu,” jawabnya. “Marilah datang ke rumahku. Kau akan menjadi yakin,” berkata Ki Bekel yang datang berkunjung itu. Ternyata Ki Bekel dari padukuhan itu tidak berkeberatan. Ia pun telah pergi bersama tamunya untuk membuktikan kata-katanya.

Ketika Ki Bekel itu bertemu langsung dengan Iswari dan melihat sendiri bandul pertanda kuasa Tanah Perdikan Sembojan, maka ia pun menjadi yakin dan pasti. “TETAPI persoalannya tergantung kepada para pengawal,” berkata Ki Bekel dari padukuhan sebelah.

“Biarlah anak-anak muda dari padukuhan ini cepat menghubungi anak-anak muda di padukuhanmu.”

Ki Bekel di padukuhan sebelah itu pun segera minta diri. Tetapi seperti Ki Bekel yang memberikan tempat bagi Iswari itu, ia pun telah meyakinkan dirinya sendiri.

“Aku akan berbicara dengan orang-orang tua. Mudah-mudahan mereka dapat meyakinkan anak-anak mereka,” berkata Ki Bekel itu di dalam hatinya.

Sebenarnyalah Ki Bekel yang memberi tempat bagi Iswari itu telah menemui para pengawal. Ia minta agar para pengawal dapat berhubungan dengan kawan-kawannya di padukuhan sebelah.

“Tetapi berhati-hatilah,” berkata Ki Bekel. “Mungkin ada satu dua orang yang sulit mengerti.”

“Baiklah Ki Bekel. Aku akan menemui mereka. Aku mengenal watak dan tabiat kawan-kawanku di padukuhan sebelah. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu yang dapat mengaburkan keinginan kita.”

Ternyata untuk memanfaatkan tekad anak-anak muda itu, Ki Bekel telah minta agar Iswari menunjukkan pertanda kuasa Tanah Perdikan itu. Dan ternyata bahwa dengan demikian, maka anak-anak muda itu menjadi semakin mantap. Mereka benar-benar menghendaki satu perubahan terjadi di padukuhan mereka.

Meskipun mereka masih terhitung muda, tetapi mereka tidak meninggalkan perhitungan. Mereka pun telah membicarakan dengan orang-orang tua, sikap apakah yang harus mereka ambil jika para pengawal yang berada di Pajang itu kembali bersama para prajurit Jipang.

“Kita akan membicarakan dengan orang-orang dalam rombongan penari itu,” berkata Ki Bekel. “Namun agaknya hal itu dapat kalian bicarakan di antara kalian lebih dahulu, sebelum kita mendapat bahan-bahan dari pihak lain.”

Demikianlah, anak-anak muda itu pun telah berusaha untuk dapat menjalankan tugas mereka dengan sebaik-baiknya. Mereka sadar bahwa mereka harus melakukannya dengan sangat berhati-hati. Mereka harus memilih kesempatan dan suasana untuk menyatakan sikap mereka.

Dalam pada itu, ternyata seseorang telah mencari rombongan penari jalanan yang sedang berada di rumah Ki Bekel itu. Ketika Iswari melihat orang itu, maka dipersilakannya orang itu naik ke pendapa.

Yang kemudian menemuinya bukan saja Iswari sendiri, tetapi juga Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka. Bahkan Ki Bekel pun telah di minta untuk ikut serta menemuinya.

“Kau membawa berita apa?” bertanya Kiai Soka.

“Kiai,” berkata orang itu. “Dua orang penghubung dari Pajang telah datang ke kaki Gunung Prapat.

“O,” Kiai Soka mengangguk-angguk, “Berita apa yang mereka bawa?”

“Pasukan Pajang telah bergerak. Pasukan Jipang yang disisi Barat telah didesak. Kemudian gerakan dilanjutkan ke sisi Timur,” berkata orang itu.

“Bagaimana hasilnya?” bertanya Kiai Soka.

“Gerakan baru dimulai ketika penghubung itu berangkat. Mudah-mudahan mereka berhasil,” jawab orang itu.

Kiai Soka menarik nafas dalam-dalam. Katanya kepada Kiai Badra, “Ini tentu satu isyarat bahwa kitapun harus segera mulai. Jika pasukan Jipang dan anak-anak Tanah Perdikan ini terdesak, maka mungkin sekali mereka akan memanggil lagi beberapa orang anak muda di Tanah Perdikan ini untuk membantu, karena mendatangkan pasukan dari Jipang tentu memerlukan waktu yang panjang.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian meskipun tidak dengan serta merta, maka kita pun harus memberi kesan, bahwa Tanah Perdikan ini memerlukan anak-anak muda bagi kepentingan sendiri. Jika Tanah Perdikan ini menjadi tidak tenang, maka Ki Wiradana tentu tidak akan melepaskan anak-anak mudanya untuk di kirim ke Jipang. Sementara itu, selagi pertempuran antara Pajang dan Jipang masih berlangsung, para pengawal itu tidak akan dikirim kembali ke Tanah Perdikan Sembojan.

KIAI SOKA berpaling kepada Ki Bekel sambil berkata, “Itulah Ki Bekel. Pertempuran di Pajang telah berlangsung kemarin dan hari ini, karena penghubung itu tentu berangkat kemarin dari Pajang.”

“Ya,” jawab orang yang baru datang. “Orang itu berangkat kemarin menjelang pagi, pada saat pasukan Pajang siap bergerak.” “Baiklah,” berkata Kiai Soka, “Kami akan mempertimbangkan langkah-langkah yang akan kami ambil.”

“Jika demikian, maka apakah aku sudah diperkenankan untuk kembali ke Gunung Prapat?” bertanya orang yang datang itu.

“Ah, tentu saja tidak sekarang,” sahut Ki Bekel. “Ki Sanak dapat beristirahat sejenak. Baru setelah tidak letih dan tidak haus lagi, Ki Sanak akan kembali.” Orang itu termangu-mangu. Namun Kiai Soka pun tersenyum sambil mengangguk. Ketika orang itu kemudian dipersilakan pergi ke gandok, maka Kiai Soka pun berkata sekali lagi kepada Kiai Badra. “Ini adalah pertanda bahwa kita akan mulai.”

“Ya,” jawab Kiai Badra. “Jika demikian maka aku harus mengambil tunggul yang disimpan di padepokan itu. Dengan tunggul itu, maka segala sesuatunya dapat dilakukan atas nama Pajang, sementara dengan pertanda kekuasaan Tanah Perdikan, hak atas Tanah Perdikan ini berada di tangan Iswari pula atas nama anaknya.”

Kiai Soka mengangguk-angguk. Katanya, “Bekal yang sudah lengkap. Hak atas Tanah Perdikan ini serta wewenang atas nama Pajang yang berhak memerintahkan Tanah Perdikan ini dengan sah.”

“Baiklah,” berkata Kiai Badra. “Aku harus segera mengambil tunggul itu. Sebelum fajar esok pagi, aku tentu sudah berada ditempat ini kembali. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu disaat aku tidak ada, meskipun aku yakin, bahwa Kiai Badra dan Nyai Soka akan dapat mengatasinya meskipun seandainya orang yang bernama Randukeling itu sendiri yang mengambil langkah-langkah disini apabila ia kembali dari Pajang lebih cepat dari kedatanganku.”

“Agaknya tidak akan ada persoalan yang timbul dalam waktu dekat. Hari ini dan malam nanti. Entahlah jika esok pagi, karena kita harus cepat memancing persoalan untuk mencegah pengiriman anak-anak muda itu ke Pajang jika orang-orang Jipang itu memerlukannya,” jawab Kiai Soka. “Karena itu, jika Kiai ingin pergi, silakan. Tetapi besok sebelum fajar, Kiai harus benar-benar telah datang di tempat ini.”

“Semoga Yang Maha Agung mengijinkannya,” sahut Kiai Badra. “Agaknya semakin aku cepat berangkat, akan semakin baik. Aku akan membawa Gandar bersamaku.”

Dengan demikian maka Kiai Badra pun segera bersiap-siap. Ternyata Ki Bekel mengusulkan agar mereka pergi saja berkuda.

“Bukan apa-apa. Tetapi dengan demikian kalian akan menghemat waktu dan tenaga,” katanya.

Kiai Badra dan Gandar setuju untuk mempergunakan kuda dalam perjalanan mereka mengambil tunggul yang mereka simpan baik-baik dan tersembunyi di padepokan.

Sejenak kemudian, justru Kiai Badra lah yang berangkat lebih dahulu dari orang yang datang melaporkan kedatangan dua orang penghubung dari Pajang di Gunung Prapat. Bersama Gandar Kiai Badra berkuda di antara jalan-jalan padukuhan. Agar tidak terlalu menarik perhatian, maka mereka tidak berpacu terlalu cepat. Hanya apabila mereka berada di bulak-bulak panjang yang sepi, maka mereka telah mempercepat derap kaki kuda mereka.

Sementara itu, anak-anak muda dari padukuhan yang memberikan tempat kepada rombongan Iswari, telah berusaha berhubungan dengan anak-anak muda dari padukuhan sebelah, padukuhan yang bekelnya telah dihubungi lebih dahulu. Namun para pengawal itu pun bersikap cukup berhati-hati sehingga mereka tidak dengan serta merta menawarkan perubahan bagi Tanah Perdikan Sembojan.

Namun ternyata keluhan-keluhan anak-anak muda yang sedang menjajagi sikap kawan-kawannya itu mendapat tanggapan. Ternyata anak-anak muda di padukuhan sebelah itu pun merasa tidak puas terhadap kenyataan yang dihadapinya, apalagi sepeninggal anak-anak muda yang dianggap terbaik dari Tanah Perdikan Sembojan.

“AKU tidak tahu, apakah keadaan ini dapat bertahan,” berkata salah seorang anak muda dari padukuhan sebelah.

“Maksudmu?” bertanya anak muda yang sedang menjajagi itu.

“Semakin lama pemerintahan di Tanah Perdikan ini menjadi semakin kabur. Beberapa orang di antara kawan-kawan kita yang tinggal sedikit ini sekarang berada di

dalam barak latihan. Tetapi agaknya mereka pun akan segera dikirim ke Pajang untuk disurukkan ke dalam api peperangan. Sementara itu pajak di Tanah Perdikan ini menjadi semakin mencekik. Kami yang memungut pajak itu pun kadang-kadang merasa betapa beratnya beban orang-orang Tanah Perdikan ini. Meskipun beberapa

orang kaya masih dapat juga berpangku tangan sambil meneguk minuman panas pada saat-saat menunggu panennya yang akan memenuhi lumbung-lumbung. Tetapi sebagian besar dari penghuni padukuhanku merasa keberatan atas kebijakan Ki Wiradana sekarang. Dua orang pamanku merasa tercekik. Sementara ayahku merasa sedikit bernafas karena aku adalah seorang pengawal. Tetapi seandainya aku mati di pertempuran bagi kepentingan Jipang, apakah ayahku masih juga mendapat perlindungan seperti sekarang ini?”

Pengawal yang sengaja menjajagi kawan-kawannya itu pun tiba-tiba saja bertanya, “Jadi maksudmu di Tanah Perdikan ini harus ada perubahan?”

Kawannya itu pun terkejut mendengar pertanyaan itu. Namun pengawal yang sedang menjajagi itu cepat berkata. “Maksudku, apakah kita mohon agar Ki Wiradana mengubah kebijaksanaannya?”

Kawan-kawannya dari padukuhan sebelah mengerutkan keningnya. Namun salah seorang

di antara mereka berkata, “Apakah hal itu mungkin? Jika kebijaksanaan itu datangnya dari Ki Wiradana sendiri aku kira memang mungkin. Tetapi kita tidak dapat menutup mata bahwa orang-orang diseputar Ki Wiradana itu mempunyai pengaruh yang sangat besar. Nyi Wiradana ternyata seorang perempuan yang keras hati. Bukan seorang perempuan yang lemah lembut sebagaimana kita duga sebelumnya. Saudagar emas dan permata itu tiba-tiba saja telah mendapat tempat disisi Ki Wiradana. Bahkan ayah Warsi itu pun sekarang ikut-ikutan menentukan perintah-perintah. Apalagi jika kelak Ki Randukeling dan Ki Rangga Gupita itu datang.

Anak muda yang sedang menjajagi itu mengangguk-angguk. Tetapi ia masih berkata, “Bagaimana jika kita coba mengutamakan persoalan yang sebenarnya. Mungkin Ki Wiradana tidak tahu bahwa keadaan rakyatnya sekarang sudah sangat parah, karena ia jarang sekali berkesempatan untuk melihat padukuhan-padukuhan.”

Tetapi kawannya dari padukuhan sebelah itu menggeleng. Katanya, “Sulit sekali. Yang menentukan sekarang bukan Ki Wiradana. Tetapi orang lain.” “Ah,” desis anak muda yang menjajaginya, “Pada suatu saat Ki Wiradana harus mengambil sikap sebagai pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan ini.”

“Kita tidak dapat mengharapkannya,” jawab kawannya.

“Jadi, apakah kita akan membiarkan keadaan ini berkembang semakin parah?” KAWAN-KAWANNYA dari padukuhan sebelah menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada

dalam salah seorang di antara mereka berkata, “Kita tidak akan dapat berbuat apa-apa.”

Pengawal yang sedang menjajagi kawan-kawannya itu berdesis, “Seandainya Nyi Wiradana itu masih Nyi Wiradana yang lama.”

“Ya,” sahut kawannya dengan serta merta. “Mungkin keadaannya akan jauh berbeda. Perubahan-perubahan yang suram ini baru mulai setelah Nyi Wiradana hilang dan kemudian Ki Gede Sembojan terbunuh.”

“Bencana yang datang berurutan,” desis pengawal yang sedang menjajagi sikap kawan-kawannya itu.

“Mungkin memang bencana yang datang berurutan. Tetapi mungkin yang terjadi itu adalah satu rangkaian peristiwa yang direncanakan,” berkata salah seorang kawannya.

“He?” pengawal itu bertanya.

Kawannya tiba-tiba menjadi pucat. Ternyata telah terloncat dari mulutnya sesuatu yang akan dapat mencelakakan dirinya. Bahkan keringatnya pun telah mengalir dari keningnya.

Bukan saja anak muda itu yang menjadi sangat gelisah. Tetapi kawan-kawannya menjadi gelisah pula.

Untuk beberapa saat suasana justru menjadi tegang. Pengawal yang sengaja menjajagi kawan-kawannya itu tidak segera menanggapinya.

Namun justru karena pengawal itu tidak segera menyahut, maka terasa ketegangan menjadi semakin mencengkam.

Bahkan pengawal yang memang sedang menjajaginya itu kemudian berkata, “Bukan maksudku. Tetapi, ada orang yang mengira demikian.”

“Siapakah orang itu?” bertanya pengawal itu pula.

Anak muda itu benar-benar terdiam. Mulutnya ternyata telah telanjur mengatakan sesuatu yang tidak dapat ditariknya kembali. Ia tidak ingin menyebut orang-orang lain yang tidak tahu menahu persoalannya. Karena itu, maka apapun yang akan terjadi, tidak ada orang yang akan dapat memikulnya kecuali dirinya sendiri.

Namun ternyata pengawal yang menjajaginya itu justru melemparkan pertanyaan yang aneh, “Bagaimana pendapatmu jika Nyi Wiradana yang lama itu ada disini?”

Anak muda itu tidak segera menjawab. Ia menjadi sangat berhati-hati. Apakah maksud pertanyaan pengawal itu.

Sementara pengawal itu berkata selanjutnya, “Bukankah menurut pendapatmu, jika Nyi Wiradana itu masih Nyi Wiradana yang lama, maka keadaan tentu akan berbeda. Nah, ternyata bahwa Nyi Wiradana yang lama itu masih ada dan kini berada di Tanah Perdikan ini pula.”

Anak-anak muda itu menjadi bimbang. Seorang di antara mereka bertanya, “Aku tidak mengerti maksudmu sebenarnya. Apakah kau ingin memancing kekeruhan, atau kau memang ingin menjerumuskan kami ke dalam kesulitan atau maksud-maksud yang lain yang tidak aku ketahui?”

Pengawal yang sedang menjajagi kawan-kawannya itu pun akhirnya berkata, “Baiklah aku berkata terus terang. Mungkin hal ini akan membawa akibat yang kurang baik bagi kita. Tetapi setelah mendengar pendapat kalian, yang tentu keluar dari hati nurani kalian, maka aku ingin memberitahukan, bahwa penari perempuan yang sering mengadakan pertunjukan keliling dan dikatakan mirip dengan Nyi Wiradana itu memang Nyi Wiradana.”

“Darimana kau tahu?” bertanya kawannya.

“Penari itu sekarang berada di rumah Ki Bekel padukuhanku,” jawab pengawal itu. “Apakah kau berkata sebenarnya?” kawan-kawannya masih bertanya.

“Yakinkanlah dirimu, bahwa aku bermaksud baik. Aku juga menginginkan perubahan itu,” jawab pengawal itu. “Karena itu, jika kalian tidak berkeberatan, marilah

satu atau dua orang di antara kalian pergi ke padukuhanku. Kalian akan bertemu dengan Nyi Wiradana. Kalian akan dapat berbicara apa saja bagi kepentingan Tanah Perdikan ini. Dan kalian akan dapat melihat bukti tentu Nyi Wiradana itu, bahwa

ia bukan hanya seorang yang mengaku dirinya Nyi Wiradana karena kemiripan wajahnya dan menuntut hak atas tanah ini atas nama anaknya.”

“Bagaimana ia dapat membuktikan dirinya, bahwa ia benar-benar Nyi Wiradana?” bertanya kawannya.

“MARILAH. Dua di antara kalian pergi bersamaku,” berkata pengawal itu. Sebenarnyalah dua di antara anak-anak muda itu telah pergi ke padukuhan sebelah untuk bertemu dengan Nyi Wiradana. Nyi Wiradana sendiri sama sekali tidak berkeberatan untuk menerima mereka. Bahkan sebagaimana diinginkan oleh anak-anak muda itu, Nyi Wiradana memang menunjukkan pertanda kuasa Tanah Perdikan Sembojan.

“Kami menjadi yakin sekarang,” berkata kedua orang anak muda itu. “Kami akan menghimpun kawan-kawan kami yang tinggal.”

“Bertemulah dengan Ki Bekel di padukuhanmu,” berkata pengawal yang telah datang menemuinya pertama kali.

“Apakah Ki Bekel akan dapat mengerti sikap kami?” bertanya salah seorang dari kedua anak muda itu.

“Justru Ki Bekel sudah lebih dahulu meyakini sikap ini,” berkata pengawal itu.

Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan menemui Ki Bekel. Sudah lama aku tidak berhubungan dengan Ki Bekel. Mungkin Ki Bekel tidak begitu senang terhadap kedatangan kami. Kami, para pengawal telah mengambil alih semua tugas-tugasnya atas perintah Ki Wiradana, sehingga Ki Bekel, aku kira

bukan saja di padukuhanku, mereka tidak senang terhadap para pengawal.” “Tetapi para bekel itu pun mengetahui, bahwa sebab dari keadaan itu bukanlah kami, para pengawal. Tetapi Ki Wiradana sendiri. Para bekel yang sempat merenungi keadaan yang sebenarnya akan melihat bahwa kami pun hanya sekadar menjadi alat. Semuanya adalah untuk kepentingan Ki Wiradana dan istrinya yang sekarang,” berkata pengawal itu.

“Pajak yang dipungut diseluruh Tanah Perdikan ini tentu bukan semuanya untuk membiayai perang di Pajang, karena sebagian besar dari biaya perang itu

ditanggung oleh Jipang yang memang memiliki kekayaan yang besar. Sebagian besar dari pajak yang dipungut tidak mengenal waktu, sebagian besar tentu menjadi

miliki Nyi Wiradana yang agaknya memang seorang perempuan yang tamak.”

Anak-anak muda dari padukuhan sebelah yang memerlukan menemui Nyi Wiradana itu pun kemudian minta diri. Mereka akan bekerja keras untuk ikut mengadakan perubahan-perubahan di Tanah Perdikan Sembojan.

“Dua padukuhan sudah menentukan sikap,” berkata pengawal yang menemui anak-anak muda itu. “Mudah-mudahan ada juga padukuhan yang lain yang bersedia membantu kita.”

“Kita akan berusaha,” berkata anak-anak muda dari padukuhan sebelah. Demikianlah, anak-anak muda itu kembali ke padukuhannya maka mereka pun telah mengadakan perubahan di antara mereka meskipun dengan sangat berhati-hati dan

tidak menarik perhatian orang banyak. Ternyata bahwa anak-anak muda di padukuhan itu sependapat bahwa memang sudah sampai saatnya, di Tanah Perdikan Sembojan diadakan perubahan tatanan.

“Marilah, kita bertemu dengan Ki Bekel,” berkata salah seorang di antara mereka.

“Kita tidak perlu bersama-sama pergi ke rumahnya. Dua di antara kita sudah cukup,” berkata yang lain.

Ternyata mereka memutuskan untuk mengirimkan dua orang di antara mereka, yang telah langsung dapat bertemu dengan Nyi Wiradana, untuk menemui Ki Bekel.

Sebagaimana sudah dikatakan oleh anak muda dari padukuhan sebelah, sebenarnyaah Ki Bekel dari padukuhan itu telah lebih dahulu menentukan sikap. Karena itu ketika anak-anak muda itu datang kepadanya, maka pembicaraan pun menjadi lancar.

“Kami mohon maaf Ki Bekel, bahwa selama ini kami telah melanggar hak dan wewenang Ki Bekel,” berkata salah seorang dari anak-anak muda itu.

“Itu bukan salahmu,” berkata Ki Bekel.

“Kalian hanya menjalankan perintah Ki Wiradana saja. Namun pada saat akhirnya kalian telah menentukan kebenaran di dalam diri tentang Tanah Perdikan ini.

Dengan keyakinan akan kebenaran itu, maka kita akan berbuat sejauh dapat kita lakukan dengan akibat apapun juga.”

“Baik Ki Bekel,” jawab anak-anak muda itu.

“NAH, jika demikian, marilah kita membenahi diri. Aku akan mengerahkan

orang-orang tua yang masih mampu berbuat sesuatu dan kalian menyiapkan anak-anak muda. Mungkin kalian akan berhadapan dengan kawan-kawan kalian yang justru telah mendapat latihan yang lebih berat, tetapi anak-anak muda yang akan melihat ayah mereka berada di pihak kita, maka mereka tentu akan berpikir dua kali untuk melakukan kekerasan terhadap kita,” berkata Ki Bekel.

Demikianlah maka anak-anak muda itu pun kemudian telah melakukan persiapan apa saja yang dapat mereka lakukan. Tetapi jumlah mereka memang terlalu sedikit.