-->

Suramnya Bayang-Bayang Jilid 22

Jilid 22

“Jadi Pajang justru memberikan perintah itu?” bertanya Kiai Badra. “Ya,” jawab Ki Tumenggung.

“Terima kasih Ki Tumenggung. Tetapi jangan kepadaku. Berikan perintah itu kepada Iswari, cucuku,” berkata Kiai Badra.

“Kamilah yang memberikan perintah itu. Sekarang Kiai memerintahkan kepadaku,” jawab Ki Tumenggung

“O, maaf Ki Tumenggung. Perasaanku terlalu bergejolak. Aku mohon maaf,” desis Kiai Badra.

Ki Tumenggung tersenyum. Katanya, “Tetapi baiklah. Usul itu dapat aku terima. Pajang memberikan perintah kepada Iswari, cucu Kiai Badra untuk atas nama anak laki-lakinya merebut kembali Pajang dari pengaruh Jipang.”

“Terima kasih Ki Tumenggung. Terima kasih,” berkata Kiai Badra.

“Sebagai kelengkapan perintah itu, maka Kiai Badra akan mendapat tunggul pertanda dari Pajang,” berkata Ki Tumenggung kemudian.

Dada Kiai Badra rasa-rasanya telah bergejolak. Dengan nada dalam ia berkata,”Kami akan menjalankan perintah itu sebaik-baiknya dengan taruhan yang paling berharga yang dapat kami berikan.”

Ki Tumenggung Wirajaya kemudian berkata, “Kiai. Aku akan memberikan tunggul itu kepada Kiai sekarang. Apakah Kiai akan dapat membawanya ke padepokan Kiai. Atau tunggul itu akan Kiai titipkan disini sampai saatnya Kiai dapat mengambil?”

“Aku akan membawanya,” berkata Kiai Badra. “Dengan demikian maka semua gerakan kami menjadi sah. Atas nama Pajang dan bagi masa depan Tanah Perdikan Sembojan.” Tetapi sahabat Kiai Badra itu berdesis, “Bagi masa depan Sembojan atau bagi masa depan cicit Kiai itu?”

Wajah Kiai Badra menegang sejenak. Namun ia pun kemudian tersenyum. Katanya, “Bukankah pada awal pembicaraan ini aku sudah mengatakan bahwa aku pun telah membawa pamrih pribadi?”

Ki Tumenggung Wirajayalah yang kemudian menengahi, “Tidak ada salahnya dengan pamrih pribadi, asal pamrih pribadi itu dilandasi dengan niat yang baik dan

berjalan di jalur kebenaran. Bukan sekadar kebenaran bagi kepentingan diri sendiri. Tetapi kebenaran dalam pengertian hubungan antara sesama, meskipun hal itu belum tentu berarti kebenaran yang mutlak.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Tumenggung berkata, “Tunggulah. Aku akan mengambil tunggul itu. Tetapi aku berpesan, agar Kiai membawanya dengan hati-hati. Kiai tidak perlu lagi melihat pasukan Tanah Perdikan Sembojan yang cukup besar yang bergabung dengan pasukan Jipang yang jumlahnya hanya sedikit itu untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan buruk yang dapat terjadi.”

“Ya Ki Tumenggung. Karena aku membawa tunggul Kadipaten, maka aku akan mencari jalan yang paling aman. Agar tunggul itu dapat sampai ketangan orang yang berhak melaksanakan perintah Pajang,” jawab Kiai Badra.

Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Katanya, “Aku berharap perintah itu dapat dilakukan sebaik-baiknya. Kami, yang telah memberanikan diri mendahului perintah Kanjeng Adipati, akan mempertanggung jawabkannya di tataran pemerintahan Pajang jika kalian benar-benar melakukanya dengan jujur.

Tetapi jika ternyata ada langkah-langkah yang miring dari persoalan ini, maka mungkin sekali akulah yang akan digantung oleh Kanjeng Adipati.”

“Kami akan menjunjung perintah ini sebaik-baiknya,” jawab Kiai Badra.

“Berpegang kepada pertanda pemerintahan di Tanah Perdikan Sembojan, maka anak Wiradana itu akan mendapat perhatian justru lebih besar dari Wiradana sendiri,” berkata Ki Tumenggung. “Namun segalanya akan dapat diatur kemudian setelah tugas kalian selesai. Demikian pula, setelah persoalan Demak dapat diselesaikan pula, sehingga Kanjeng Adipati mendapat kesempatan yang cukup.”

Kiai Badra justru menjadi berdebar-debar. Rasa-rasanya ia sudah tidak sabar lagi untuk mengambil langkah-langkah yang sesuai dengan perintah dari Pajang itu, bahwa atas nama anaknya, Iswari harus merebut kembali Tanah Perdikan Sembojan dari pengaruh Jipang serta menyingkirkan orang-orang yang telah membayangi kekuasaan Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu.

Namun tugas itu memberikan harapan kepadanya, bahwa masa depan Tanah Perdikan itu sendiri akan semakin baik.

Dengan demikian maka Kiai Badra pun segera mohon diri. Beberapa pesan masih disampaikan oleh Ki Tumenggung Wirajaya yang bertanggung jawab atas perintah yang disampaikan kepada Iswari lewat Kiai Badra itu terhadap Kanjeng Adipati kelak.

“Kami akan melakukannya sejauh kemampuan yang ada pada kami,” berkata Kiai Badra kemudian.

Sejenak kemudian maka Kiai Badra dan Gandar pun telah berada di rumah sahabat Kiai Badra itu. Mereka masih akan berada di rumah itu untuk semalam lagi. Besok sebelum matahari terbit mereka akan kembali ke padepokan kecil mereka. “Barhati-hatilah,” pesan sahabat Kiai Badra. “Perjalananmu dibayangi tugas yang sangat berat bagi Tanah Perdikan Sembojan. Tunggul itu tidak boleh terlepas dari tanganmu jika kau tidak ingin digantung oleh Ki Tumenggung Wirajaya.”

“Jika tunggul ini terlepas dari tanganku, Pajang tidak akan sempat menggantungku,” jawab Kiai Badra.

“Kenapa?” bertanya sahabatnya.

“Lepasnya tunggul ini akan berbareng dengan pecatnya nyawaku,” jawab Kiai Badra. Lalu, “Sudah tentu Pajang tidak akan menggantung tubuhku.”

Sahabatnya tersenyum. Namun katanya, “Siapa tahu tubuhmu akan dijadikan pengawen-awen.”

“Dan kau akan mengerahkan rakyat Pajang untuk menyaksikannya,” sahut Kiai Badra. Sahabatnya tertawa. Namun kemudian Kiai Badra dan Gandar pun tertawa pula.

Dalam pada itu, ketika malam tiba, Kiai Badra dan Gandar berusaha untuk beristirahat sebaik-baiknya. Sebagaimana mereka rencanakan, maka sebelum fajar, mereka telah meninggalkan rumah sahabat mereka di Pajang, untuk menempuh perjalanan kembali. Perjalanan yang menyandang pesan bagi masa depan Tanah Perdikan Sembojan.

Karena itu, maka Kiai Badra dan Gandar justru telah mencari jalan yang paling aman. Mereka menempuh jalan-jalan simpang yang tidak begitu banyak dilalui orang, sehingga tunggul yang mereka bawa dibawah selongsong kain putih, tidak banyak menarik perhatian.

Meskipun demikian, satu dua orang yang berpapasan, serta jika mereka terpaksa melewati pedukuhan-pedukuhan kecil yang tidak dapat mereka hindari, ada saja orang yang bertanya, apa yang mereka bawa itu.

“Tombak,” jawab Kiai Badra. “Untuk apa?” bertanya seseorang.

“Tombak ini ternyata tidak memberikan tuah yang baik bagi keluarga kami,” jawab Kiai Badra. “Menurut pendapat seorang tua, tombak ini harus dilarung.”

“Dilarung dimana?” bertanya orang itu. “Di goa Karang Ludes,” jawab Kiai Badra.

“Goa itu terletak dimana?” orang itu masih bertanya.

“Dibawah permukaan air laut di Lautan Selatan. Pada saat air surut, maka goa itu baru kelihatan,” jawab Kiai Badra.

“Sayang,” desis orang itu. “Tombak dibalik selongsong itu tentu tombak yang sangat baik ujudnya menilik pangkal landasannya yang agaknya dibuat dari logam yang mahal.”

Kiai Badra mengerutkan keningnya. Ia sama sekali tidak menduga bahwa orang itu telah memperhatikan pangkal pandean tombak yang dibalut oleh logam yang berwarna kuning keemasan.

Namun untuk meyakinkan orang itu, maka Kiai Badra berkata, “Jika kau tertarik akan tombak ini, apakah kau mau mengambilnya? Tetapi jika terjadi sesuatu dengan keluargamu, bukan tanggung jawabku.”

“Terjadi apa?” bertanya orang itu. “Entahlah. Apa saja,” jawab Kiai Badra.

Tetapi orang itu menggeleng. Katanya, “Jika tombak itu memang harus dilarung, biarlah dilarung, agar tidak menimbulkan persoalan dihari kemudian.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Namun setelah mereka membelakangi orang itu Gandar tersenyum sambil berkata, “dapat juga Kiai berbohong.”

Kiai Badra tersenyum juga. Jawabnya, “Satu-satunya cara yang tidak menimbulkan persoalan.”

“Ya Kiai. Meskipun berbohong tetapi dengan meyakinkan, maka orang lain pun akan percaya,” desis Gandar sambil tertawa.

Kiai Badra pun tertawa juga sambil berkata, “Jawaban yang dapat diulangi setiap ada orang yang bertanya.”

Gandar mengangguk-angguk. Namun ia berkata, “Tetapi mungkin ada juga seseorang yang menjawab lain.”

“Apa maksudmu?” bertanya Kiai Badra.

“Jika Kiai menawarkan tunggul itu, dan orang yang Kiai tawari itu menjawab ya, apa yang akan Kiai lakukan?” bertanya Gandar.

“Membawanya lari,” jawab Kiai Badra sambil tertawa.

Gandar pun tertawa juga. Tetapi ia tidak bertanya lebih jauh. Menurut pendapatnya, orang-orang yang akan mempertanyakan tunggul itu akan puas mendengar jawaban Kiai Badra.

Ternyata karena perjalanan mereka yang melingkar-lingkar, mereka telah menempuh perjalanan yang semakin panjang. Mereka harus bermalam diperjalanan pada jarak yang masih cukup jauh.

Tetapi bermalam disembarang tempat bukan merupakan persoalan bagi Kiai Badra dan Gandar. Namun demikian, di luar sadar kedua orang itu, ternyata ada juga orang yang menaruh perhatian terhadap tunggul yang dibawa oleh Kiai Badra itu. Justru bukan orang kebanyakan yang dengan terbuka telah bertanya tentang benda yang dibawa itu. Tetapi ternyata empat orang yang berpapasan dengan Kiai Badra dan Gandar menjelang sore hari, sangat memperhatikan tunggul yang berada dibawah selongsong putih itu.

“Kau lihat, apa yang dibawa oleh orang tua itu?” bertanya salah seorang di antara mereka.

“Mungkin sebangsa tombak,” jawab kawannya. “Apakah kau memperhatikannya?” “Ya,” jawab yang lain. “Aku melihatnya. Selongsongnya tidak menutup seluruh landeannya. Aku melihat pangkal landean yang mencuat ke luar dari selongsongnya.”

“Menarik sekali,” jawab seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi besar dan berjambang lebat, “Jika demikian apakah perjalanan kita tunda?”

“Aku setuju,” desis kawannya. “Kita masih akan dapat merampoknya besok. Orang itu tidak akan tergesa-gesa berpindah rumah. Bahkan jika usaha kita mendapatkan tombak itu cepat selesai, kita masih mempunyai waktu.”

“Tidak. Kita akan merampasnya nanti jika malam turun. Kita tidak akan sempat lagi pergi ke sasaran kita semula. Biarlah besok saja kita mengambil isi rumah itu. Bukankah tidak ada batas waktu dan tidak ada perhitungan hari?” berkata yang lain.

“Tidak ada perhitungan hari. Tetapi kita harus memperhitungkan waktu bagi

hari-hari tertentu. Malam ini kita mempunyai waktu menjelang saat tengah malam. Tetapi jika kita melakukannya besok, kita harus membuat perhitungan lagi.

Mungkin kita baru boleh melakukannya setelah tengah malam, atau justru pada saat ayam berkokok untuk kedua kalinya,” sahut kawannya.

Ternyata keempat orang itu bersepakat untuk mengurungkan pekerjaan yang akan dilakukannya. Mereka lebih tertarik kepada tombak yang berada di dalam selongsong itu. Menilik ujud pangkal landeannya, tombak itu tentu merupakan benda yang sangat berharga.

ini ada lanjutan dari rekan JLeeDoe, thanks banget ...

Dengan demikian maka keempat orang itu pun telah berhenti. Mereka berbalik dan mengikuti perjalanan Kiai Badra bersama Gandar yang membawa menurut dugaan mereka adalah sebatang tombak yang sangat berharga. Bahkan mungkin landean tombak itu diselut dengan emas dan tretes berlian. “Kita menunggu malam,” berkata salah seorang di antara mereka.

“Kenapa menunggu malam,” sahut yang lain. “Jika mereka berada di bulak panjang yang melintasi sungai itu, maka kita akan dapat melakukannya, sementara langit menjadi semakin suram. Tidak akan ada lagi orang yang lewat jalan bulak itu.” Kawannya menengadahkan kepalanya memandang langit yang buram pada saat senja turun. Cahaya kemerah-merahan masih tersangkut di bibir mega, namun yang kemudian menjadi kelam.

Keempat orang itu masih berjalan beberapa puluh langkah dibelakang Kiai Badra dan Gandar. Ketika mereka memasuki bulak yang panjang, maka senja pun menjadi semakin gelap.

“Beberapa saat lagi jalan ini akan melintasi sungai. Pada saat mereka menuruni tebing, maka kita akan dapat melakukannya,” berkata orang yang bertubuh tinggi dan berjambang lebat.

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka berjalan semakin cepat, sehingga jarak antara mereka dengan Kiai Badra pun menjadi semakin dekat.

Dalam pada itu, Kiai Badra dan Gandar sebenarnyalah sudah mengetahuhi bahwa dibelakang mereka ada empat orang yang mengikutinya. Dengan nada datar Gandar bergumam, “Orang-orang itu nampaknya mempunyai maksud tertentu.”

“Ya,” jawab Kiai Badra, “Bukan maksud kita mencari perkara. Tetapi kita harus mempertahankan tunggul ini. Taruhan dari tunggul ini adalah leher kita.” “Apakah Kiai tidak akan berusaha untuk berbohong lagi? Mungkin Kiai harus mempergunakan kata-kata yang lebih meyakinkan bagi empat orang itu,” berkata Gandar.

“Ah, kau ada-ada saja,” desis Kiai Badra. “Empat orang itu tentu tidak mudah percaya sebagaimana orang-orang yang pernah kita jumpai sebelumnya.” “Apa boleh buat,” berkata Gandar.

Kiai Badra tidak menyahut lagi. Tetapi ia mempercepat langkahnya menyeberangi bulak panjang.

Ketika mereka melihat sungai melintas dihadapan mereka maka Kiai Badra itu pun berkata, “Gandar. Kita akan segera menuruni tebing. Senja sudah menjadi semakin kelam, sehingga aku mempunyai perhitungan, jika orang-orang itu berniat buruk, maka mereka mempunyai kesempatan melakukannya dibawah tebing itu.” Gandar mengangguk-angguk. Katanya, “Ya Kiai. Nampaknya mereka juga mempercepat langkah mereka.”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam ia bergumam, “Dalam kemelut yang melibat Pajang, Jipang dan Demak sekarang ini, masih ada juga orang yang mencari keuntungan dengan cara yang tidak wajar.”

“Justru ketika para prajurit terikat dalam pertentangan seperti sekarang ini, mereka mendapat kesempatan yang lebih luas untuk melakukannya, Kiai,” jawab Gandar.

<BR><BR>

KIAI Badra mengangguk-angguk. Hampir di luar sadarnya ia berpaling. Ternyata keempat orang yang mengikutinya itu menjadi semakin dekat. Karena itu, maka Kiai Badra pun yakin bahwa keempat orang itu akan menghentikannya ditepian setelah mereka menuruni tebing. Di tepian mereka tidak akan diganggu oleh siapapun.

Biasanya jika ada petani yang pergi ke sawah mereka hanya menyusuri air di parit. Biasanya mereka tidak turun ke sungai, kecuali justru anak-anak yang membuka pliridan. Itu pun biasanya dilakukan didekat padukuhan-padukuhan. Tetapi Kiai Badra dan Gandar pun tidak lagi berbicara. Mereka berjalan semakin cepat. Sementara itu langit pun menjadi bertambah hitam.

Sejenak kemudian, maka jalan yang akan mereka lalui itu pun telah memotong sebuah sungai yang tidak mempunyai jembatan. Karena itu maka Kiai Badra dan Gandar harus menuruni tebing dan menyeberangi sungai yang airnya memang tidak terlalu banyak itu.

Ternyata seperti yang diperhitungkan oleh Kiai Badra. Demikian mereka menuruni tebing, maka keempat orang itu sudah berada beberapa langkah saja dibelakangnya. “Gandar, berhati-hatilah. Kita tidak tahu siapakah mereka. Apakah mereka sekadar perampok-perampok dan penyamun-penyamun biasa, atau mereka justru orang-orang Jipang yang berkeliaran di daerah ini dan mempunyai tugas tertentu sehingga

mereka tertarik melihat tunggul di dalam selongsong ini,” berkata Kiai Badra. Gandar tidak menyahut. Tetapi ia memang sudah mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan.

Dalam pada itu, ketika Kiai Badra dan Gandar sudah menuruni tebing dan berada ditepian, maka keempat orang itupun telah menyusul mereka. Orang yang bertubuh tinggi besar dan berjambang lebat itu berkata, “Tunggu Ki Sanak. Ada sesuatu

yang ingin kami tanyakan.” Kiai Badra dan Gandar memang harus berhenti. Mereka kemudian berdiri menghadap keempat orang yang berjajar beberapa langkah dihadapannya.

“Apa yang Ki Sanak tanyakan?” bertanya Kiai Badra.

Orang itu memandang tunggul di tangan Kiai Badra. Kemudian ia pun bertanya, “Apakah yang kau bawa itu Ki Sanak?”

Kiai Badra ternyata tidak ingin berbohong kepada orang-orang itu, karena ia menyadari bahwa hal itu tidak akan ada gunanya. Karena itu, maka ia pun menjawab, “Aku membawa tunggul.”

Keempat orang itu termangu-mangu sejenak. Namun orang yang bertubuh tinggi dan besar itu bertanya, “Tunggul siapa?”

“Tunggul bagi Tanah Perdikan Sembojan,” jawab Kiai Badra tanpa berusaha untuk menyembunyikan ujud benda yang dibawanya dibawah selongsong itu.

“Apakah aku dapat melihat?” orang bertubuh tinggi itu bertanya pula.

“Maaf Ki Sanak. Tunggul ini harus aku sampaikan kepada pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan,” jawab Kiai Badra.

“Aku tidak mengenal pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Yang ada sekarang adalah tunggul yang kalian bawa. Maaf, aku ingin melihatnya,” ulang

orang itu.

“Aku juga minta maaf Ki Sanak. Aku tidak dapat menyerahkannya. Tunggul ini merupakan benda yang sangat berharga, meskipun bendanya sendiri mungkin tidak mempunyai nilai dalam arti uang. Tetapi nilai jiwani dari benda ini sangat

tinggi bagi Tanah Perdikan Sembojan,” jawab Kiai Badra.

“Aku hanya ingin melihatnya,” berkata orang bertubuh tinggi itu. “Sekali lagi aku minta maaf,” sahut Kiai Badra.

“Ki Sanak,” berkata orang bertubuh tinggi besar itu sambil bergeser selangkah maju, “Sikapmu tidak menyenangkan aku. Aku tidak biasa membiarkan orang lain yang menentang kehendakku.”

Wajah Kiai Badra menegang sejenak. Namun jawabannya ternyata sangat mengejutkan orang yang bertubuh tinggi besar itu. Katanya, “Maaf Ki Sanak. Aku memang tidak sedang berusaha membuatmu senang. Tetapi ketahuilah, bahwa akupun tidak biasa membiarkan diriku diperintah orang lain.”

Terdengar orang bertubuh tinggi itu mengumpat kasar. Setapak lagi ia maju. Dipandanginya Kiai Badra di dalam keremangan ujung malam, Katanya, “Kau sudah tua Ki Sanak. Kau jangan terlalu banyak tingkah. Kesombonganmu itu akan dapat menyeretmu ke dalam kesulitan.”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Tetapi katanya, “Bukan maksudku menyombongkan diri Ki Sanak. Tetapi sebenarnyalah aku tidak akan dapat menyerahkan benda ini kepada siapapun juga meskipun hanya sekejap. Benda ini tidak boleh berpisah dari tanganku, karena taruhannya adalah leherku dan leher anakku ini.” <br><br>

“Ternyata kalian adalah orang yang paling malang. Kau berdiri disimpang jalan

yang kedua-duanya menuju ke kematian. Jika kau serahkan benda itu, maka kau akan dipenggal lehermu. Tetapi jika tidak, maka kau pun akan mati ditanganku,

sementara benda itu akan jatuh ke tanganku juga.”

Kiai Badra mengerutkan keningnya. Dengan nada datar ia bertanya, “Apa maumu sebenarnya Ki Sanak, dan siapakah kau dan kawan-kawanmu?”

“Siapa aku sama sekali tidak penting bagimu kakek tua. Yang penting kau serahkan benda itu. Aku tidak akan mengusikmu. Jika kemudian karena tanggung jawabmu atas benda itu kau dipenggal lehermu itu bukan salahku,” jawab orang bertubuh tinggi

dan berjambang lebat itu.

“Jadi jelasnya, kau ingin merampok benda yang kami anggap sangat berharga ini meskipun ujudnya tidak seberapa?” berkata Kiai Badra.

“Ya. Begitulah,” jawab orang itu.

“Nah, dengan demikian sikapku akan jelas,” berkata Kiai Badra. “Aku tentu akan bersikap lain terhadap seorang perampok dengan orang yang ingin merampas benda ini karena memiliki pengertian akan arti dan nilai jiwani dari benda mati ini.”

Wajah orang bertubuh tinggi itu menjadi tegang. Ia tidak menyangka bahwa orang tua itu akan menghadapinya dengan tenang sekali. Seakan-akan keempat orang itu tidak akan dapat meruntuhkan selembar rambutnya pun.

Karena itu dengan nada kasar orang bertubuh tinggi besar itu berkata lantang,

“Kakek tua. Yang paling mencelakakanmu akhirnya adalah kesombonganmu. Jika kau tidak terlalu sombong aku kira kami masih akan dapat membuat

pertimbangan-pertimbangan atas langkah-langkah yang akan kami ambil. Tetapi memperlakukan kalian berdua dengan cara yang paling buruk.”

“Apapun yang kalian katakan, akan sama saja artinya bagi kami berdua. Kecuali jika kalian berniat untuk mengurungkan rencana kalian merampas benda ini, maka kami akan sangat berterima kasih dan tidak akan melupakan jasa dan kebaikan hati kalian,” berkata Kiai Badra. “Apakah kau mulai merajuk?” bertanya orang yang akan merampok tunggul itu. “Merajuk?” bertanya Kiai Badra. “Tidak Ki Sanak. Kami berterima kasih karena kalian telah membebaskan kami dari keharusan untuk setidak-tidaknya menyakiti kalian.”

“Tutup mulutmu,” orang bertubuh tinggi besar itu berteriak, “Kalian memang harus dibunuh. Benda yang kalian bawa itu akan merupakan alat yang paling baik untuk membunuh kalian.”

“O,” Kiai Badra mengerutkan keningnya. Namun adalah di luar dugaan, bahwa Kiai Badra justru telah membuka selongsong tunggul yang dibawanya, kemudian mengikatkan selongsongnya pada lengannya sambil berkata, “Inilah tunggul yang aku bawa Ki Sanak.”

Wajah keempat orang itu menjadi tegang ketika terpandang olehnya tunggul yang dibawa oleh Kiai Badra. Tunggul yang merupakan sebentuk lingkaran bergerigi dan seakan-akan bercahaya keemasan.

“Ini adalah bentuk Cakra. Hanya bentuknya saja. Sudah tentu bukan benar-benar Cakra ciri kekuasaan Raja Dwarawati dalam ceritera pewayangan,” berkata Kiai Badra sebagaimana seorang kakek berceritera kepada cucunya saja.

Sejenak orang yang bertubuh tinggi besar itu termangu-mangu. Dalam keremangan ujung malam, mereka tidak dapat melihat landean itu dengan jelas. Tetapi bentuk cakra itu sendiri memang seolah-olah bercahaya memantulkan sinar bintang-bintang dilangit.

“Nah Ki Sanak,” berkata Kiai Badra kemudian. “Apakah kalian masih berniat untuk merampas benda ini?”

Orang bertubuh tinggi besar itu bagaikan terbangun dari mimpinya. Namun dengan gagap ia menyahut, “Tentu. Tentu Ki Sanak. Justru setelah aku melihat bahwa tunggul itu nampakya dibuat dari emas. Mungkin tunggul itu dihiasai dengan permata dan logam-logam berharga lainnya.”

“Memang” berkata Kiai Badra. “Pada lingkaran karahnya terdapat beberapa permata sebesar biji jagung melingkar. Nah, bukankah untuk mendapatkan benda ini kalian sudah sepantasnya mengorbankan nyawa kalian."

Kata-kata Kiai Badra itu benar-benar menusuk perasaan keempat orang itu, sementara Kiai Badra merasa berhasil membuat orang-orang itu marah sehingga mereka tidak akan mampu mempergunakan nalar mereka dengan baik. Dengan demikian, seandainya mereka berilmu tinggi, maka perasaan mereka akan berada di depan mendesak nalar mereka. dengan demikian maka satu tapak kemenangan telah dapat digapainya meskipun untuk selanjutnya masih juga belum dapat dijajaginya.

Orang bertubuh tinggi itu menggeram. Sementara kawannya mengumpat kasar. Sambil melangkah maju ia berkata, “Jangan beri kesempatan lagi orang itu untuk

mengigau. Kita dapat membunuhnya dengan segera.”

“Ya,” jawab yang bertubuh tinggi besar. “Kita dapat membunuhnya dan melemparkan bangkainya ke sungai itu. Kita tidak peduli siapakah keduanya dan dari manakah mereka mendapatkan tunggul itu.”

Dengan demikian maka kawan-kawannya telah bersiap pula, mereka justru telah merenggang. Agaknya mereka menyadari bahwa orang yang membawa tunggul itu bukan

orang kebanyakan, sehingga dengan demikian maka mereka pun telah mempersiapkan senjata mereka.

Kiai Badra pun telah bersiap pula. Dengan nada datar dan sikap yang tidak menunjukkan kegelisahan sama sekali ia berkata kepada Gandar, “He, kau akan mempergunakan senjata apa?” <br><br>

Dan jawab Gandar pun ternyata mampu menyesuaikan diri dengan sikap Kiai Badra, “Aku dapat mempergunakan senjata apa saja. Juga batu-batu ditepian ini, atau aku akan meminjam salah satu di antara senjata keempat orang itu.”

“Bagus,” sahut Kiai Badra. Tiba-tiba saja tunggul itu pun telah merunduk.

Katanya, “Tunggul adalah tempat untuk menyangkutkan dan memaparkan kelebet. Tetapi agaknya akan dapat juga dipergunakan sebagai senjata, karena di medan perang, dalam kedaan terpaksa mereka yang membawa tunggul, rontek dan

panji-panji dapat mempergunakannya untuk mempersenjatai diri.” “Gila,” teriak salah seorang dari keempat orang itu. “Kesombongan kalian

benar-benar merupakan satu kegilaan yang belum pernah aku temui sebelumnya dari orang manapun juga.”

“Sekali lagi aku katakan, “jawab Kiai Badra. “Kami bukannya ingin menyombongkan diri. Tetapi kami memang orang-orang yang memiliki kemampuan yang memadai untuk mempertahankan tunggul itu.”

Keempat orang itu telah benar-benar dibakar oleh kemarahan. Mereka tidak lagi mengekang diri. Dengan tiba-tiba saja seorang di antara mereka telah meloncat menyerang Kiai Badra yang membawa tunggul yang diterimanya dari Pajang. Ketajaman penglihatan Kiai Badra menangkap gerak orang itu. Ternyata orang itu memang tidak dapat diabaikan. Dorongan kekuatan di dalam dirinya tentu cukup besar.

Karena itu, maka Kiai Badra pun telah berusaha mengelak. Ia tidak ingin

benar-benar mempergunakan tunggul itu. Ia tidak ingin menangkis serangan parang lawannya yang besar dengan landean tunggul itu. Jika landean tunggul yang

terbuat dari kayu berlian itu menjadi cacat, maka Ki Tumenggung Wirajaya tentu akan mempertanyakannya.

Namun demikian, Kiai Badra akan dapat mempergunakan pangkal landeannya. Jika ia berhasil mengetuk dahi lawannya dengan pangkal landean yang disalut dengan logam yang keras sebangsa perunggu itu, maka dahi lawannya itu tentu akan retak.

Serangan itu telah menggerakkan ketiga orang yang lain untuk bertempur bersama-sama melawan dua orang yang mereka anggap sangat sombong dan menyakitkan

hati itu.

Gandar melihat pula tata gerak lawannya. Betapapun mereka di dorong oleh perasaannya, namun ternyata bahwa keempat orang itu memang memiliki bekal dalam olah kanuragan.

Karena itu bagaimanapun juga Gandar harus berhati-hati. Tetapi sebagaimana dikatakannya, ia memang mampu mempergunakan senjata apa saja. Juga ikat pinggangnya yang terbuat dari kulit yang tebal itu pun dapat dipergunakannya sebagai senjata.

Yang dilakukan oleh Gandar itu membuat keempat orang yang ingin menyamun tunggul itu menjadi semakin geram. Gandar benar-benar melepaskan ikat pinggangnya dan mempergunakannya sebagai senjata. Kain panjangnya kemudian hanya diikatkannya saja dipinggangnya.

“Gila,” geram salah seorang dari keempat orang yang ingin memiliki tunggul itu. “Kau adalah orang yang tidak tahu diri. Kesombonganmu melampaui ukuran orang biasa.”

“Aku memang bukan orang biasa,” jawab Gandar sambil memutar ikat pinggangnya. Orang-orang yang ingin menyamun tunggul itu benar-benar tidak dapat menahan diri lagi. Mereka pun kemudian telah melibatkan diri ke dalam perkelahian yang

sengit. Dua orang melawan Kiai Badra sedang dua yang lain melawan Gandar.

Ternyata Kiai Badra dan Gandar pun kemudian merasa bahwa lawan-lawannya ternyata memiliki bekal ilmu kanuragan pula. Sehingga dengan demikian mereka harus berhati-hati. Namun gejolak perasaan lawannya telah mempengaruhi sikap mereka. Kemarahan mereka membuat mereka lebih banyak bertindak atas dasar perasaannya, bukan penalaran atas ilmu yang dihadapinya.

Kiai Badra bertempur dengan mempergunakan tunggul yang dibawanya itu sebagai senjatanya. Tetapi ia tidak ingin membenturkan tunggul itu bahkan landeannya pun tidak, agar ia tidak membuat tunggul itu menjadi cacat.

Meskipun demikian, kecepatan gerak Kiai Badra telah membuat kedua lawannya menjadi berdebar-debar. Kemarahan yang menghentak-hentak di dadanya, membuat keduanya semakin kabur menghadapi putaran tunggul di tangan Kiai Badra.

Tetapi sebenarnyalah bahwa Kiai Badra menyerang lawannya justru dengan pangkal landeannya yang disalut dengan logam sejenis perunggu. Ketika pada satu kesempatan terbuka, landean tombak itu berhasil menyusup disela-sela putaran parang lawannya yang besar mengenai pundaknya, maka terdengar orang itu mengumpat kasar. Namun orang itu telah terdorong beberapa langkah surut. Terasa pundaknya menjadi sakit sekali, seakan-akan tulang-tulangnya telah menjadi retak karenanya.

Namun ternyata ia memiliki daya tahan yang cukup besar, sehingga karena itu, maka ia pun kemudian telah meloncat kembali memasuki arena.

Tetapi demikian ia kembali memasuki arena, kawannyalah yang terdorong jatuh. Landean tunggul itu ternyata telah menyambar pahanya, sehingga rasa-rasanya kakinya telah patah.

Namun demikian ia jatuh, maka ia pun segera melenting berdiri dan siap kembali memasuki arena pertempuran itu.

Di lingkaran pertempuran yang lain, Gandar telah menunjukkan kelebihannya dengan caranya. Kedua lawannya benar-benar tergetar hatinya melihat cara Gandar bermain dengan senjatanya yang aneh. Ikat pinggangnya itu kadang-kadang dihentakkannya sebagaimana ujung cambuk yang berjurai panjang. Namun tiba-tiba ikat pinggang Gandar yang dialiri getaran ilmunya telah berubah menjadi semacam kepingan baja yang kokoh dan kuat.

Meskipun demikian kedua orang lawan Gandar itu adalah orang-orang yang telah berpengalaman dalam petualangan mereka menjelajahi dunia kelam. Tangannya telah dilumuri dengan darah dan berpuluh-puluh orang yang kadang-kadang tidak berdaya sama sekali untuk menghadapinya. Namun, saat itu mereka ternyata telah membentur kekuatan yang membuat mereka menjadi gentar juga.

Sementara itu Gandar dengan sengaja telah berusaha untuk setiap kali mengejutkan lawannya. Ketika lawannya menjulurkan senjatanya maka tiba-tiba saja ikat pinggang Gandar telah membelitnya. Satu hentakan telah membuat senjata lawannya itu terlepas dari tangannya.

Dengan jantung berdentangan orang itu berusaha untuk meloncat surut, menghindari serangan Gandar yang akan menyusul. Namun dalam pada itu, kawannya berusaha untuk membantunya dengan meloncat maju sambil mengayunkan senjatanya menebas ke

arah leher Gandar.

Tetapi betapa orang itu terkejut. Ikat pinggang yang baru saja membelit dan menghentakkan senjata lawannya itu telah dipergunakannya menangkis serangan pedangnya.

Yang terjadi kemudian adalah satu benturan yang mengejutkan. Senjata orang itu ternyata telah membentur ikat pinggang Gandar bagaikan membentur daun pedang yang terbuat dari baja pilihan. <br>

“Gila,” teriak orang itu sambil meloncat surut. Namun sementara itu, kawannya telah sempat meloncat untuk memungut senjatanya yang terlepas.

Gandar tertawa. Dengan nada rendah ia berkata, “Marilah Ki Sanak. Kita teruskan permainan ini.”

Kedua orang lawannya yang marah itu segera bersiap. Mereka berada di dua arah. Dengan serentak mereka telah berloncatan menyerang.

Namun Gandar bergerak lebih cepat. Ternyata serangan keduanya tidak mengenai sasarannya. Sementara itu Gandar telah meloncat dan justru sambil mengayunkan ikat pinggangnya.

Yang terdengar seorang di antara kedua lawannya itu mengaduh. Ikat pinggang Gandar itu mengenai punggungnya. Terasa betapa nyerinya.

Namun yang terasa di punggung lawannya itu memang tidak lebih dari sentuhan selembar kulit sebagaimana yang dilihatnya. Ikat pinggang yang mengenai punggungnya itu tidak melukainya sebagaiman sebilah pedang. Tidak pula meretakkan tulangnya sebagai sepotong besi. Tetapi ikat pinggang itu telah membuat kulit punggungnya merah melintang selebar ikat pinggang itu sendiri. Orang yang dikenai ikat pinggang Gandar itu mengumpat. Di dalam hatinya ia bertanya, “Apakah orang ini tukang sulap yang dapat mengelabuhi mataku, atau mungkin perasaannku, seolah-olah ikat pinggangnya dapat menjadi sekeping besi atau sebilah pedang? Ternyata ketika ikat pinggang itu mengenaiku, maka sentuhan itu tidak lebih dari sentuhan sebuah ikat pinggang kulit meskipun terasa pedih juga.”

Tetapi orang itu tidak sempat banyak berpikir. Sementara itu ikat pinggang

Gandar telah berputar lagi menyambar-nyambar sehingga kedua orang lawannya harus berloncatan menghindari sambil mengayun-ayunkan senjata mereka.

Namun senjata mereka ternyata menjadi tidak banyak berguna. Jika mereka menyerang dan kemudian mendekati Gandar sampai jarak jangkau ujung parang mereka, maka justru ujung ikat pinggang Gandarlah yang mematuk mereka lebih dahulu. Meskipun tidak menimbulkan luka yang menganga, tetapi sentuhan ujung ikat pinggang itu terasa sakit sekali. Bahkan kadang-kadang rasa-rasanya dada mereka telah ditusuk dengan sebatang linggis. Atau seakan-akan dikenai dan

dikoyak oleh ujung pedang. Namun yang membekas ditubuh mereka adalah noda-noda merah kebiru-biruan tanpa menitikkan darah.

Meskipun demikian, darah dibawah kuit daging mereka seakan-akan telah menjadi bergumpal-gumpal. Biru kehitaman dan kulit pun membengkak.

Kedua orang lawan Gandar itu berganti-ganti mengaduh tertahan. Tubuh mereka telah dikenai ikat pinggang kulit itu sehingga rasa-rasanya tidak ada lagi yang terlampaui, kecuali pada wajah mereka.

Sementara itu, lawan Kiai Badra pun menjadi semakin terdesak pula. Pangkal landean tunggul itu ternyata mematuk terlalu cepat untuk dihindari atau ditangkis dengan senjata. Setiap kali terasa pangkal landean tunggul itu

bagaikan memecahkan tulang. Sekali mematuk pundak, lengan, punggung, kemudian menyambar rusuk dan bahkan seorang di antara lawan Kiai Badra telah kehilangan ikat kepalanya tersentuh pangkal landean tunggul itu. Untunglah bahwa Kiai Badra memang tidak ingin memecahkan tulang kepalanya.

Dengan demikian maka keempat orang yang ingin merampas tunggul itu pun akhirnya telah kehilangan harapan. Dengan putus asa mereka berkelahi. Namun mereka sama sekali tidak dapat menghindari sentuhan-sentuhan pangkal landean tunggul di

tangan Kiai Badra dan ikat pinggang kulit Gandar. Semakin lama maka

sentuhan-sentuhan itu pun menjadi semakin sering, sehingga tubuh keempat orang yang berkelahi melawan Kiai Badra dan Gandar itu pun menjadi semakin kesakitan. Orang yang bertubuh tinggi besar dan berjambang lebat itu pun tidak melihat lagi kemungkinan apalagi untuk memenangkan perkelahian itu, merampas tunggul dan kemudian membunuh pembawanya, sedangkan untuk mempertahankan diri pun keempat

orang itu sudah merasa bahwa tidak mungkin untuk melakukannya.

Karena itu, bagi orang berjambang lebat itu tidak ada pilihan lain yang dapat dilakukan kecuali melarikan diri. Karena itu, maka ia pun segera mempersiapkan diri untuk melakukannya.

Untuk mengacaukan kedua orang pembawa tunggul itu maka keempat orang itu harus bersama-sama melarikan diri ke arah yang berbeda. Untuk itu orang bertubuh

tinggi besar itu tidak perlu memberitahukannya. Mereka sudah mengerti, apa yang harus mereka lakukan jika mereka terpaksa melarikan diri.

Dengan demikian, maka sejenak kemudian, orang bertubuh tinggi besar itu pun telah memberikan isyarat. Dari mulutnya terdengar semacam suitan nyaring, sehingga ketiga orang kawannya pun segera menyadari, bahwa tidak ada pilihan lain bagi mereka daripada melarikan diri.

Dalam sekejap maka keempat orang itu pun telah melakukan ancang-ancang. Demikian cepat, sehingga sejenak kemudian mereka telah berloncatan ke arah yang berbeda untuk menguji nasib mereka masing-masing. Siapa yang selamat dan dapat tetap

hidup adalah orang yang bernasib baik, sementara yang bernasib buruk tentu akan diburu dan harus mati ditepian itu.

Namun perhitungan mereka ternyata keliru. Ternyata keempat orang itu tidak

sempat meninggalkan arena. Demikian mereka meloncat lari, maka punggung mereka pun bagaikan terasa patah. Dua orang yang berkelahi melawan Gandar, terasa hentakan yang luar biasa kuatnya pada punggung mereka. Seleret kekuatan yang mengenai punggungnya membuat keduanya terpelenting dan jatuh di pasir tepian.

Ketika mereka berusaha untuk bangkit, maka yang terdengar adalah keduanya menyeringai kesakitan.

Sementara itu, dua orang yang lain, yang bertempur melawan Kiai Badra pun tidak sempat melarikan diri. Rasa-rasanya seorang di antara mereka telah terpatuk

tulang punggungnya sehingga bagaikan patah. Sedangkan yang lain, pangkal landean tunggul itu justru telah mengetuk tengkuknya sehingga orang itu terjerembab

jatuh menelungkup di pasir tepian. Wajahnya menyuruk ke dalam pasir sementara tengkuknya bagaikan membengkak sebesar genggaman tangan. Ternyata bahwa orang itu pun tidak mampu lagi untuk bangkit dan berdiri sehingga dengan demikian maka keempat orang itu pun kehilangan kemungkinan untuk melepaskan diri dari tangan kedua orang yang membawa tunggul itu.

Sejenak kemudian Kiai Badra dan Gandar berdiri termangu-mangu. Keempat orang yang akan merampas tunggul itu sama sekali tidak berdaya. Karena itu, maka mereka dengan lemahnya menjadi pasrah atas perlakuan yang akan mereka terima dari kedua orang yang akan dirampoknya itu.

“Marilah,” berkata Kiai Badra. “Jika kalian memang laki-laki pilihan, berusahalah untuk merampas tunggul ini. Tunggul ini memang sangat berharga. Bukan hanya karena tunggul ini mengandung emas dan berlian, tetapi dengan tunggul ini kalian akan dapat mengalahkan siapapun juga, karena orang yang

membawa tunggul ini tidak akan terkalahkan siapapun lawannya. Karena itulah aku memastikan bahwa kami berdua tentu akan dapat mengalahkan kalian berempat.

Jangankan berempat, melawan sepuluh orang pun kami tidak akan gentar, karena batas kemenangan tunggul ini memang selupuh orang.”

Keempat orang itu sama sekali tidak menjawab. Namun mereka berusaha untuk dapat bangkit dan duduk di atas pasir tepian betapapun tubuh mereka merasa

sakit.

“Jika kalian sudah tidak mau melawan, maka sampailah saatnya kami memberikan pertanda kemenangan kami,” berkata Kiai Badra. Keempat orang itu termangu-mangu.

Bahkan yang seorang di antara mereka bertanya, “Apakah pertanda kemenangan itu.”. “Bagi seorang laki-laki pertanda kemenangan dalam perkelahian adalah kematian lawannya. Karena itu bersiaplah, kami akan membunuh kalian,” berkata Kiai Badra.

“O,” ternyata seorang yang lain memohon, “Kami mohon ampun.”

Tetapi Kiai Badra tertawa. Katanya, “Kau minta ampun,? Apakah kau tahu artinya, bahwa seorang laki-laki minta ampun?”

Orang itu menggeleng. Sementara Kiai Badra menyahut, “Pengecut. Laki-laki yang mengelakkan diri dari kematian dalam pertempuran adalah pengecut.”

Keempat orang itu menjadi bingung. Mereka benar-benar putus asa dan tidak berpengharapan lagi. Apalagi ketika Gandar melangkah maju mendekati mereka. Dengan nada berat ia berkata, “Aku meminjam parang kalian. Yang manakah yang paling tajam dan yang manakah yang kira-kira dapat dipergunakan untuk sekaligus memenggal leher kalian agar kalian tidak terlalu tersiksa menjelang kematian kalian.”

Keempat orang itu menjadi gemetar. Namun karena itu, maka Kiai Badra dan Gandar dapat menebak, bahwa mereka benar-benar perampok. Mereka bukan prajurit Jipang yang berpura-pura menjadi perampok, karena prajurit Jipang tidak akan bersikap demikian.

Karena itu, maka dengan nada tinggi Kiai Badra bertanya, “He, apakah benar-benar kalian minta ampun.”

Keempat orang itu saling berpandangan. Seorang di antara mereka menjawab, “Ya Ki Sanak. Kami minta ampun.”

“Jadi kalian minta tidak dibunuh?” bertanya Kiai Badra. “Ya. Kami mohon,” jawab seorang di antara mereka.

Kiai Badra pun kemudian mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Tetapi yang kami cemaskan adalah bahwa dengan menghidupi kalian, kami masih akan memberi kesempatan kepada kalian untuk merampok. Mungkin orang lainlah yang akan menjadi korban. Jika aku menghindarkan diri dari membunuh empat orang sekarang ini

disini, mungkin pada kesempatan-kesempatan lain kau akan membunuh jauh lebih banyak dari empat orang.”

“Tidak. Kami berjanji,” desis orang yang bertubuh tinggi besar. “Apa artinya janji bagi kalian,” geram Kiai Badra.

Keempat orang itu menjadi bingung. Tetapi mereka tidak dapat menyalahkan, bahwa mereka sudah tidak dapat lagi mendapat kepercayaan dari siapapun juga karena tingkah laku mereka.

Meskipun demikian orang itu masih berusaha, “Kami bersumpah.”

“Bagaimana mungkin kami dapat mempercayai kalian,” berkata Kiai Badra. Namun kemudian, “Tetapi baiklah. Kami akan mencoba mempercayai kalian. Tetapi kami harus pernah melihat rumah kalian. Keluarga kalian dan cara hidup kalian.”

Wajah keempat orang itu menegang. Namun sementara itu Kiai Badra berkata, “Jika kalian berkeberatan, maka biarlah kalian kami selesaikan. Persoalannya tidak

akan berkepanjangan, dan kalian tidak akan memungut korban lagi. Baik harta benda dan apalagi nyawa.”

Dengan demikian, maka keempat orang itu tidak dapat menolak. Orang yang membawa tunggul itu akan melihat rumah mereka.

Setelah menutup kembali tunggul yang dibawanya dengan selongsongnya, maka Kiai Badra dan Gandar telah mengikuti keempat orang yang masih sangat lemah itu. Tulang-tulang mereka terasa terlepas dari sendi-sendinya.

“Kita pergi ke rumahmu,” desis Kiai Badra kepada orang yang bertubuh tinggi besar itu.

Wajah orang itu menjadi sangat tegang. Katanya, “Rumahku adalah yang paling jauh. Kenapa tidak ke rumah kawanku ini?”

“Tidak,” jawab Kiai Badra. “Kami berdua ingin pergi ke rumahmu.”

Orang itu menjadi bingung. Tetapi Kiai Badra berkata, “Jika kau menolak, itu berarti bahwa kau tidak berkata dengan jujur, sehingga aku tidak yakin bahwa kau benar-benar tidak akan melakukan lagi. Karena itu, maka bagi kami lebih baik membunuh kalian.”

Wajah orang itu menjadi pucat.

“JAWAB,” geram Gandar. “Kau bersedia membawa kami ke rumahmu atau tidak?” Orang itu tidak dapat mengelak. Karena itu, maka mereka pun kemudian berjalan menuju ke rumah orang yang bertubuh tinggi besar itu.

Nampak keragu-raguan sekali telah mengekang perjalanan orang itu. Tetapi dengan demikian Kiai Badra justru ingin tahu, kenapa orang itu berkeberatan jika ia

pergi ke rumahnya. Tentu bukan karena orang itu tidak ingin diketahui rumahnya, tetapi agaknya ada sebab lain.

Ketika mereka memasuki padukuhan tempat tinggal orang itu, padukuhan itu telah sepi. Cahaya obor disana-sini nampak menerangi regol. Tetapi pada umumnya jalan-jalan di padukuhan itu nampak gelap.

Keempat orang itu berjalan dengan langkah yang tertegun-tegun diikuti oleh Kiai Badra dan Gandar. Namun mereka ternyata tidak dapat berbuat lain kecuali membawa kedua orang itu ke rumah orang yang bertubuh tinggi besar dan berjambang lebat

itu.

Sejenak kemudian, orang yang bertubuh tinggi besar itu pun berhenti. Ia nampak gelisah. Kemudian katanya kepada Kiai Badra, “Ki Sanak. Apakah kalian cukup melihat rumahku dari luar?”

“Tidak,” jawab Kiai Badra. “Aku ingin menjadi tamumu. Aku ingin berbicara dengan anak istrimu.”

Wajah orang bertubuh tinggi besar itu menjadi semakin tegang. Namun Kiai Badra yang menjadi semakin ingin tahu itu pun berkata, “Jika kau keberatan, maka seperti yang telah aku katakan. Kita kembali ke tepian, dan kalian tidak akan pernah pulang.” Orang bertubuh tinggi besar itu menarik nafas dalam-dalam. Kawan-kawannya memandanginya dengan perasaan yang aneh di wajah mereka.

Namun Kiai Badra dan Gandar justru semakin ingin mengetahui, apakah sebabnya orang itu menjadi gelisah.

Orang yang bertubuh tinggi besar itu benar-benar tidak dapat mengelak. Selangkah demi selangkah, akhirnya mereka pun sampai ke regol sebuah halaman yang luas. Dengan ragu-ragu orang itu berkata, “Inilah rumahku.”

Kiai Badra dan Gandar termangu-mangu. Sementara itu orang yang bertubuh tinggi besar itu perlahan-lahan dengan penuh keseganan membuka pintu regol yang tidak diselarak.

Kiai Badra dan Gandar terkejut. Ternyata disebelah halaman yang luas itu berdiri sebuah rumah yang besar dan nampak kokoh dan kuat. Terbuat dari kayu pilihan dengan garapan yang sangat bagus.

Orang bertubuh tinggi besar itu termangu-mangu. Namun akhirnya ia mengangguk sambil menjawab, “Ya. Ini rumahku.”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Di edarkan pandangan matanya ke sekelilingnya. Dilihatnya kandang di halaman samping agak ke belakang. Menilik besarnya, maka tentu ada beberapa ekor ternak di dalam kandang itu. Sementara itu terdengar pula ringkik kuda disebelahnya.

“Aku tak mengira,” desis Kiai Badra. Namun kemudian ia berkata, “Tetapi jangan mencoba menipu kami. Kau tahu, bahwa kami berdua dapat berbuat jauh lebih banyak dari yang telah kami lakukan.”

“Sama sekali tidak,” berkata orang bertubuh tinggi besar itu. “Kami sama sekali tidak akan menjebakmu. Bahkan seandainya kalian mengurungkan niat kalian untuk masuk ke dalam rumahku, aku sangat berterima kasih.”

“Sikapmu justru mendorong aku untuk semakin ingin memasuki rumahmu yang besar ini. Aku memang hampir tidak percaya bahwa rumah ini adalah rumah seorang penyamun. Sepantasnya rumah ini adalah rumah seorang Kepala Tanah Perdikan sebagaimana rumah Kepala Perdikan di Sembojan,” berkata Kiai Badra.

Orang bertubuh tinggi besar itu tidak menjawab. Namun kemudian dengan terpaksa sekali ia membawa Kiai Badra dan Gandar naik ke pendapa.

“Silakan duduk,” berkata orang bertubuh tinggi besar itu.

Tetapi Kiai Badra justru menjadi sangat berhati-hati menghadapi orang yang bertubuh tinggi besar itu. Karena itu, maka katanya kepada Gandar, “Kau duduk disini bersama ketiga orang kawannya. Aku akan ikut ke ruang dalam.”

WAJAH orang bertubuh tinggi itu menjadi semakin tegang. Tetapi dengan pangkal landean tombaknya, Kiai Badra menyentuh punggungnya sambil berkata, "Kau tahu, bahwa selama ini aku hanya mempergunakan pangkalnya. Meskipun tunggul pada dasarnya bukan senjata, tetapi kau sudah melihat bahwa ujung dari tunggul ini berbentuk cakra. Dengan kemampuan tersendiri, maka cakra ini akan dapat memenggal lehermu dengan sekali sentuh, tanpa membuka selongsongnya lebih dahulu, meskipun demikian aku harus mengganti selongsongnya dengan yang baru. Wajah orang bertubuh tinggi itu menjadi pucat. Di bawah cahaya lampu minyak, maka nampak betapa keringat membasahi keningnya.

"Marilah," berkata Kiai Badra.

Orang itu tidak dapat berbuat lain. Ia pun kemudian perlahan-lahan mengetuk pintu rumahnya. <br><br>

Namun sebelum pintu itu dibuka, maka orang itu pun berdesis, "Ki Sanak. Apakah aku boleh mengajukan satu permohonan?"

"Apa?" bertanya Kiai Badra.

Orang itu memandang ketiga orang kawannya yang duduk bersama Gandar di pendapa itu. Lalu katanya, "Jangan sebut-sebut apa yang telah aku lakukan."

Kiai Badra mengerutkan keningnya. Lalu dengan nada tinggi ia bertanya, "Kenapa?" "Aku mohon Ki Sanak jangan mengatakan kepada istriku, apa yang telah aku lakukan dan sebagaimana kau ketahui, apa kerjaku selama ini," wajah orang itu

benar-benar menjadi memelas.

"Aku kurang mengerti," berkata Kiai Badra.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, "Ki Sanak. Baiklah aku berterus terang. Selama ini istriku tidak mengetahui siapakah aku sebenarnya. Ia menganggap aku seorang pedagang yang sangat berpengaruh. Ia menganggap aku menjadi kaya karena pekerjaanku itu.

Bukan sebagai seorang perampok. Ia berbangga dengan aku sebagai suaminya, karena aku adalah seorang pedagang yang bekerja keras tetapi yang dianggapnya dengan jujur. Hasil yang aku peroleh ini pun telah memberikan kebanggaan kepadanya.

Bukan saja istriku, tetapi juga mertuaku berbangga atas kerjaku. Mertuaku adalah Demang di Kademangan ini. Kau dapat membayangkan, apa yang akan terjadi atasku jika istriku akhirnya mengetahui bahwa aku adalah seorang perampok."

Wajah Kiai Badra menegang sejenak. Lalu katanya, "Bukan main. Jadi ternyata kau adalah ular berwajah rangkap."

"Aku mohon Ki Sanak dapat mengerti," desis orang itu.

Kiai Badra tidak menjawab. Tetapi ialah yang kemudian justru mengetuk pintu semakin lama semakin keras.

Sejenak kemudian terdengar suara seorang perempuan di dalam, "Siapa itu?" "Jawab," desis Kiai Badra.

Orang bertubuh tinggi besar itu ragu-ragu. Namun kemudian ia pun menjawab, "Aku."

Perempuan di dalam rumah itu sudah mengenal betul suara suaminya. Karena itu, maka ia pun tidak bertanya lebih lanjut. Yang kemudian terdengar dari luar adalah langkah perempuan mendekati pintu.

Sejenak kemudian maka pintu itu pun terbuka. Seorang perempuan berdiri termangu-mangu di pintu. Sekali-sekali ia menatap suaminya namun kemudian ditatapnya wajah Kiai Badra, orang yang belum pernah dikenalnya.

"Ini tamuku," suaminya itu mencoba tersenyum.

"O," istrinya mengangguk-angguk. Tetapi ia merasa heran, biasanya tamu-tamu suaminya dipersilakannya duduk di pendapa.

Namun ketika ia menjenguk pendapa, dilihatnya beberapa orang sudah duduk di atas tikar pandan yang putih.

Istrinya justru menjadi ragu-ragu, apakah yang harus dilakukan. Namun suaminyalah yang kemudian berkata, "Tamuku yang seorang ini membawa dagangan yang khusus. Aku ingin mempersilakannya duduk di dalam."

"O," istrinya kemudian bergeser, "Silakan."

"Terima kasih," jawab Kiai Badra yang kemudian melangkah masuk.

Keduanya pun kemudian duduk di ruang dalam, sementara istrinya meninggalkan mereka dan kembali ke dalam biliknya.

"Ia sedang menyusui. Anak kami yang kedua baru berumur lima bulan,” berkata orang bertubuh tinggi besar itu.

“Untunglah, ia tidak melihat wajahmu yang bernoda kebiru-biruan itu,” berkata Kiai Badra.Orang itu hanya menundukkan kepalanya saja. Di wajahnya terbayang

gejolak perasaannya yang melonjak-lonjak. Bahkan kemudian dengan nada penyesalan yang sangat dalam ia berkata, “Aku mohon Ki Sanak. Barangkali lebih baik aku kau bunuh saja ditepian tetapi dengan kesan yang lain dari kematian seorang perampok.”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ki Sanak. Kau telah melakukan satu kesalahan. Kesalahan yang sangat besar. Seharusnya kau dihukum sangat berat karena kau telah melakukan perampokan dan barangkali kau telah pernah melakukan pembunuhan.”

“Tidak Ki Sanak,” jawab orang itu dengan serta merta. “Aku tidak melakukan pembunuhan. Biasanya orang-orang yang aku datangi menjadi ketakutan dan dengan begitu saja menyerahkan segala yang aku minta.”

“Apakah kau berkata sebenarnya?” bertanya Kiai Badra.

“Aku berkata sebenarnya,” jawab orang itu. Bahkan kemudian katanya, “Ki Sanak.

Aku mempunyai banyak simpanan. Yang sudah diketahui maupun yang belum diketahui oleh istriku. Jika Ki Sanak memerlukan, bawa barang-barang itu. Apalagi yang

belum diketahui oleh istriku.”

“Jadi kau telah memberikan barang-barang hasil rampokan itu kepada istrimu?” bertanya Kiai Badra.

“Tidak. Yang diketahui oleh istriku tentu barang-barang yang aku beli. Tetapi uangnyalah yang aku dapat dari hasil kerja ini,”jawab orang itu. “Sedangkan barang-barang yang aku dapatkan itulah yang aku simpan tanpa sepengetahuan istriku.”

“Ki Sanak,” berkata Kiai Badra. “Jika kau menyesali perbuatanmu, aku tidak akan mengatakan pekerjaanmu ini kepada istrimu. Tetapi jika ternyata masih terjadi perampokan di daerah ini, siapapun yang melakukannya, maka aku akan mengambil langkah-langkah untuk mempersoalkannya dengan istrimu dan dengan mertuamu. Demang di daerah ini.”

“Aku berjanji Ki Sanak. Aku akan menyesali perbuatanku dan untuk selanjutnya aku akan berhenti melakukannya,” jawab orang itu.

“Lalu barang-barang yang kau sembunyikan?” bertanya Kiai Badra.

“Aku tidak mengerti. Barang-barang itu sebaiknya diapakan,” desis orang itu. “Sejauh dapat dikenali pemiliknya, barang itu sebaiknya dikembalikan,” berkata Kiai Badra.

“Tetapi dengan cara bagaimana agar tidak justru menjerat leherku sendiri,” berkata orang itu.

“Kau dapat mencari cara. Sementara itu kau dapat menyembunyikannya. Pada suatu saat, jika kau mendapatkan jalan yang paling baik, lakukanlah,” berkata Kiai Badra.

“Jadi Kiai tidak akan mengatakan pekerjaanku sekarang kepada istriku, apalagi kepada mertuaku?” bertanya orang itu.

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam ia berkata, “Bagaimanapun juga kau harus mendapat hukuman. Tetapi baiklah. Untuk sementara aku tidak akan mengatakannya. Meskipun demikian seperti yang kau sudah aku katakan, jika di daerah ini masih terjadi perampokan, maka yang pertama-tama

akan aku datangi adalah kau.

<b>“BAIKLAH.</b> Aku berjanji. Aku akan berbicara dengan kawan-kawanku,” berkata

orang itu.

“Nah, baiklah,” berkata Kiai Badra. “Mudah-mudahan kau menepati janjimu agar aku tidak perlu berbuat sesuatu lagi.”“Baiklah Ki Sanak,” orang itu termangu-mangu. “Untuk kebaikan hatimu aku mengucapkan terima kasih. Tetapi siapakah sebenarnya Ki Sanak yang membawa tunggul ini?”

“Siapa pun aku. Tetapi tunggul ini adalah tunggul Kadipaten Pajang,” berkata Kiai Badra. “Justru dalam kemelut seperti ini kau telah melakukan perbuatan tercela. Apakah kau tidak mendengar bahwa prajurit Jipang sudah ada

diperbatasan? Sementara prajurit Pajang mempersiapkan diri menghadapinya, maka kau dan kawan-kawanmu berbuat kejahatan. Memang dalam keadaan seperti ini kau mendapat kesempatan yang lebih leluasa karena para prajurit memusatkan perhatiannya kepada persoalan yang timbul antara Pajang dan Jipang. Namun justru dalam keadaan seperti ini kau harus membantu memecahkan persoalan.”

Orang itu mengangguk-angguk.

“Nah, renungkan. Apakah yang dapat kau berikan kepada Pajang untuk menegakkannya, justru ketika Pajang dikepung oleh Jipang. Bukan sebaliknya,” berkata Kiai Badra.

Orang bertubuh tinggi besar itu merenung. Tetapi nampak keragu-raguan membayangi wajahnya. Agaknya ada sesuatu yang ingin dikatakannya. Namun ditahankannya ditengah tenggorokan.

“Ki Sanak,” berkata Kiai Badra yang menangkap keragu-raguan itu, “Apakah masih ada yang ingin kau katakan?”

Orang bertubuh tinggi besar itu tidak segera menjawab. Karena itu, maka Kiai Badra mendesaknya, “Katakanlah jika masih ada persoalan. Apapun juga. Baik atau tidak baik. Menguntungkan atau tidak. Justru dengan mengenali persoalannya kita akan dapat mencari jalan pemecahan.”

Orang itu memandang ke arah pintu. Dengan nada berat ia berkata, “Ki Sanak. Sebenarnya satu di antara kawan-kawanku memang berhubungan dengan orang-orang Jipang.”

“He!” Kiai Badra terkejut, “Dalam hal apa?”

“Orang-orang Jipanglah yang mendorongnya untuk melakukan pekerjaan seperti ini di tlatah Pajang. Memang alasannya agak berbeda dengan alasanku. Namun akhirnya kami dapat bekerja bersama,” jawab orang itu.

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “Siapakah yang lebih berpengaruh di antara kalian. Kau atau orang itu?”

Orang yang bertubuh tinggi besar itu berkata, “Kawan-kawanku yang lebih percaya kepadaku.”

“Tetapi kawan-kawanmu yang lain apakah juga mengetahui bahwa kawanmu yang seorang itu berhubungan dengan orang-orang Jipang?” berkata Kiai Badra.

“Ya, mereka mengetahui. Dan mereka pun menyadari bahwa justru dalam kemelut seperti ini, kami dapat melakukan pekerjaan kami dengan lebih baik,” jawab orang itu.

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “Agaknya bukan hanya kawanmu itu. Di daerah lain tentu ada juga kelompok-kelompok yang dibujuknya untuk membuat kekalutan di daerah Pajang. Karena dengan demikian, maka mereka akan dapat memperlemah kedudukan Pajang dalam satu segi. Nah, karena itu terserah kepadamu. Jika kau benar-benar ingin menyesali kesalahanmu dan agar aku tidak berhubungan dengan Ki Demang, maka kau harus dapat menghentikan pokal kalian. Apalagi jika

hal itu ada hubungannya dengan orang-orang Jipang. Jika kau tidak dapat melakukannya, maka kau tentu akan menyesal.”

“Baiklah. Aku akan berusaha,” jawab orang itu.

“Jika demikian, kali ini aku tidak akan mengatakannya kepada istrimu dan mertuamu. Kau masih dapat mempertahankan wibawamu. Tetapi sementara itu kau harus mencari jalan pemecahan tentang barang-barang yang sudah telanjur kau sim- pan. Sementara itu kau pun harus dapat mengendalikan kawan-kawanmu. Jika tidak maka barang-barang yang tentu dipunyai juga oleh kawan-kawanmu itu dapat membahayakan kedudukanmu. Jika seorang saja di antara kawan-kawanmu yang

tertangkap, maka orang itu tentu akan menyebut namamu. Maka hancurlah martabatmu dihadapan Ki Demang dan dihadapan orang-orang Kademangan ini,” berkata Kiai Badra.

<b>ORANG</b> itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun mengangguk- angguk.

Katanya, “Aku mengerti. Meskipun baru sekarang hal ini terpikirkan olehku.” “Baiklah. Biarlah aku meneruskan perjalanan kali ini,” berkata Kiai Badra.“Ki

Sanak. Hari sudah terlalu malam untuk melanjutkan perjalanan. Sebaiknya Ki Sanak bermalam disini saja,” berkata orang itu. “Biarlah aku berbicara dengan

kawan-kawanku.”

Kiai Badra termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Terima kasih. Aku terima tawaranmu.”

“Marilah. Biarlah Ki Sanak beristirahat di gandok bersama kawan Ki Sanak itu,” berkata orang bertubuh tinggi besar itu. “Aku akan menjelaskan persoalannya kepada kawan-kawanku. Mudah-mudahan mereka dapat mengerti.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih atas kesempatan ini.” Orang bertubuh tinggi besar itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun mempersilakan Kiai Badra untuk ke luar pendapa.

Kiai Badra pun kemudian duduk bersama Gandar dan tiga orang kawan orang bertubuh tinggi besar itu. Sementara itu, pemilik rumah itu telah berkata kepada

istrinya, bahwa dua orang tamunya akan bermalam di rumah itu.

“Suruhlah seseorang merebus air untuk mereka malam ini. Jika masih ada nasi, suguhilah mereka makan. Agaknya mereka memang belum makan malam,” berkata orang

yang bertubuh tinggi itu.

Istrinya pun kemudian pergi ke dapur. Dibangunkannya seorang pelayannya dan disuruhnya memanasi air.

Orang yang besar itu pun kemudian mempersilakan Kiai Badra dan Gandar bermalam di gandok, sementara ia minta kawan-kawannya untuk tinggal.

Sepeninggalan Kiai Badra yang membawa tunggulnya ke bilik yang disediakan untuknya bersama Gandar, maka pemilik rumah itu pun telah berbincang dengan ketiga orang tamunya yang lain, kawan-kawannya melakukan tugas-tugas rahasianya. “Ternyata keduanya bukan orang-orang kasar dan apalagi pembunuh,” berkata orang yang bertubuh tinggi itu. “Ternyata kita mendapat kesempatan untuk hidup meskipun kita sudah mengancam untuk membunuh mereka. Kawannya mengangguk-angguk. Seorang di antara mereka bergumam,” Kita wajib berterima kasih.”

“Ya. Kita wajib berterima kasih. Selebihnya ternyata ia sudah berbuat lebih baik daripada sekadar tidak membunuh. Ia telah memenuhi permintaanku untuk tidak mengatakan kepada istri dan mertuaku, apa kerja kita sebenarnya,” berkata pemilik rumah itu.

“Jadi ia tetap berdiam diri?” bertanya kawannya.

“Ya. Ia bersedia untuk memenuhi permintaanku, meskipun dengan syarat,” jawab orang bertubuh tinggi itu.

Ketiga orang kawannya itu menjadi semakin bersungguh-sungguh. Salah seorang di antaranya bertanya, “Syaratnya apa?”

“Aku harus menghentikan kerja ini. Jika aku masih melakukannya maka rahasiaku akan diberitahukannya kepada istri dan lebih-lebih lagi kepada mertuaku,” jawab orang bertubuh tinggi itu.

Kawan-kawannya mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Jadi kau harus berhenti dengan kerja ini?”

“Bukan hanya aku, tetapi kita,” jawab pemilik rumah itu.

Kawan-kawannya termangu-mangu sejenak. Namun seorang di antara mereka menyahut,

“Kerja ini sudah memberikan kenikmatan kepada kita meskipun kau sendiri belum terlalu lama terlibat di dalamnya. Tetapi sama sekali tidak terpikir olehku

untuk menghentikannya.”

“Jika kita tidak mau berjanji untuk menghentikan kerja ini, maka kedua orang itulah yang akan menghentikannya,” jawab orang bertubuh tinggi itu. “Bagaimana ia menghentikan kerja kita,” bertanya kawannya.

“Tidak terlalu sulit bagi mereka. Membunuh kita,” jawab orang bertubuh tinggi besar itu. Lalu katanya, “Bukankah tubuh kita sekarang sudah babak belur? Jika

kau sempat memperhatikan tubuhmu, maka kau akan melihat bahwa dengan mudah sebenarnya mereka dapat membunuh kita.”

<b>“KITA</b> mengiakannya saja,” berkata seorang di antara mereka, “Tetapi jika mereka telah pergi maka mereka tidak akan menghalangi lagi kerja yang menarik ini. Sekadar menakut-nakuti orang dan kita akan mendapat hasil yang banyak sekali, meskipun sekali-kali kita juga kecewa, karena yang dimiliki seseorang

tidak sebanyak yang kita duga. Apalagi saat seperti ini. Para prajurit tidak sempat memperhatikan polah tingkah kita, karena mereka sedang berhadapan di perbatasan.”“Tidak,” jawab orang yang bertubuh tinggi besar itu. “Aku sudah berjanji. Dan sebenarnyalah aku menjadi sadar apa arti kerja kita selama ini, justru pada saat Pajang sedang berada dalam bahaya.”

Tetapi kawannya justru tertawa. Katanya, “Sejak kapan kau ingat jadi pahlawan. He, bukankah dengan kerja yang selama ini kita lakukan, kau dan kita semuanya dapat menyimpan harta benda yang akan dapat kita pergunakan untuk menghidupi anak cucu kita?”

“Aku tidak ingin jadi pahlawan. Tetapi ayah mertuaku adalah seorang Demang yang berada di bawah perintah Pajang. Karena itu, biarlah aku menghentikan kerja ini.

Tidak usah menjadi pahlawan dan tidak perlu pula mencampuri persoalan Pajang dan Demak termasuk Jipang,” berkata orang bertubuh tinggi besar itu.”

Namun kawannya itu pun menjawab, “Tidak mungkin bagiku. Aku sudah berjanji untuk bekerja bersama dengan dua orang saudaraku yang menjadi prajurit Jipang.

Bukankah hal ini sudah kau ketahui? Kedua saudaraku adalah perwira pada pasukan Jipang yang kini bergabung dengan pasukan Tanah Perdikan Sembojan. Bukankah aku pernah menceriterakannya kepadamu?”

“Ya. Tetapi bukankan kita dapat mengakhirinya?” sahut orang bertubuh tinggi besar itu. “Katakan kepada kedua orang perwira itu pada suatu saat jika kau bertemu, bahwa kau terpaksa menghentikan kerja itu karena kau merasa tidak sanggup lagi. Atau katakan bahwa kau sedang sakit atau alasan-alasan lain.”

Tetapi orang itu menggeleng. Katanya, “Aku tidak ingin melakukannya. Apalagi kedua orang saudaraku itu sekarang ada disini. Ia dapat menengokku selagi mereka masih sempat. Jika pertempuran itu mulai, maka mereka tidak akan sempat datang berkunjung dan mengambil hadiah yang dapat aku berikan kepada mereka dari hasil kerja ini. Bahkan kedua saudaraku itu datang bersama seorang kawannya, perwira yang lebih tinggi pangkatnya.”

Wajah orang bertubuh tinggi itu menjadi tegang. Katanya, “Jangan begitu. Aku harap kau dapat mengerti. Bukankah nyawa kita sekarang ini seakan-akan hanya nyawa pinjaman?”

“Kenapa nyawa pinjaman?” bertanya kawannya.

“Jika orang itu berniat membunuh kita, maka kita tentu sudah mati. Dan dengan demikian kita memang tidak akan dapat melanjutkan kerja kita yang binal ini,” jawab orang yang bertubuh tinggi besar itu. Tetapi kawannya justru tertawa. Katanya, “bukan salah kita jika mereka tidak membunuh kita. Nah, aku minta kepadamu, jangan berpaling dari kerja ini.”

Tetapi orang bertubuh tinggi besar itu berkata keras, “Kau tahu siapa aku? Kau

tahu batas kemampuan yang ada pada diri kita masing-masing? Dan karena itu, maka jika bukan kedua orang itu, maka aku dapat membunuhmu.”

Wajah orang itu menjadi tegang. Namun kemudian katanya, “Kau akan berbuat demikian?”

“Jika perlu aku dapat berbuat seperti itu,” jawab orang bertubuh tinggi besar itu.

Kawannya mengerutkan keningnya. Dipandanginya kedua orang kawan yang lain yang ada di pendapa itu pula. Namun nampaknya mereka sedang dalam kebimbangan juga. “Pikirkan,” berkata orang bertubuh tinggi besar itu. “Agaknya masih ada waktu.

Besok atau lusa, aku ingin mendengar keputusanmu.”

Orang itu tidak menjawab. Tetapi tiba-tiba saja ia berkata, “Baiklah. Sekarang aku akan pulang. Aku akan memikirkannya.”

Ketiga orang kawannya itu pun kemudian minta diri. Ketika mereka bangkit berdiri, maka masih terasa tulang-tulang mereka yang seakan-akan berpatahan.

Sambil menyeringai menahan nyeri maka ketiga orang itu meninggalkan rumah kawannya yang sedang menerima dua orang tamu yang gagal mereka rampok di tepian.

<b>DEMIKIAN</b> ketiganya ke luar dari regol halaman rumah itu, orang yang berhubungan dengan perwira Jipang itu berkata, “Persetan dengan igauan orang itu. Aku akan dapat mengacaukannya, jika ia berhenti dari kerja ini, aku justru akan melaporkannya kepada mertuanya, Ki Demang.”Seorang di antara mereka

mengangguk-angguk. Jawabannya, “Kau benar. Kita dapat mengancamnya. Dan orang itu tidak akan berani menolak lagi rencana kita.”

“Tetapi mungkin ia mengambil langkah-langkah lain,” jawab kawannya yang lain. “Apa?” bertanya orang yang berhubungan dengan Jipang itu.

“Membunuh kita. Karena aku yakin orang itu memang akan mampu melakukannya. Kita mengenalnya dan mengenal ilmunya. Meskipun dihadapa orang yang membawa tunggul itu, ia pun tidak banyak dapat berbuat apa-apa,” jawab kawannya yang lain.

Orang yang berhubungan dengan Jipang itu menggeram, “Persetan. Tetapi orang itu memang akan dapat membunuh kita. Ia tidak akan dapat melakukannya lagi jika ia sudah mati.”

Kedua kawannya serentak berpaling kepadanya. Seorang di antara mereka bertanya, “Apa maksudmu?”

Orang yang berhubungan dengan Jipang itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya,

“Tidak ada pilihan lain dalam keadaan seperti ini. Hatinya ternyata mudah goyah. Kekalahannya oleh orang-orang yang tidak dikenal itu membuatnya kehilangan pegangan dan dengan mudah berpaling dari permainan yang menyenangkan ini.” “Ya,” seorang di antara kawannya menyahut, “Orang itu memang tidak mempunyai pendirian.”

“Bukan tidak mempunyai pendirian,” berkata yang lain. “Tetapi itu adalah perkembangan sikap seseorang yang memang mungkin saja terjadi.” “Persetan,” geram orang yang berhubungan dengan orang Jipang itu. “Aku akan menentangnya. Bagaimana dengan kalian?”

“Aku setuju,” sahut yang seorang dengan serta merta.

“Bagaimana dengan kau? bertanya orang yang berhubungan dengan Jipang itu kepada kawannya yang seorang lagi, seorang yang agak gemuk, tetapi berkepala kecil. “Tentukan sikap. Kau berpihak kepadaku atau kepada orang bingung itu.”

Sejenak orang gemuk itu termangu-mangu. Namun akhirnya ia berkata, “Aku berpihak kepadamu. Tetapi tolong, beritahu aku jika kau akan mengambil langkah-langkah, agar aku dapat mempersiapkan diri.”

“Bagus,” jawab orang yang berhubungan dengan Jipang. “Pada saatnya kita akan bertindak.”

Orang bertubuh gemuk itu mengangguk-angguk. Namun ia kemudian tidak terlalu lama berjalan bersama dengan kedua orang kawannya. Ketika mereka sampai disimpang empat di sebuah bulak yang tidak begitu panjang, orang bertubuh gemuk itu

berkata, “Aku akan pulang.”

“Ya,” jawab kawannya. “Kita masing-masing akan pulang. Kita tidak akan berbuat apa-apa malam ini.”

Dengan demikian maka orang bertubuh gemuk itu pun telah mengambil jalan yang berbelok ke kiri. Kawan-kawannya pun mengetahui, bahwa jalan itu adalah jalan yang menuju ke rumahnya.

Namun beberapa langkah kemudian, orang yang berhubungan dengan Jipang itu berkata kepada kawannya, “Aku curiga kepada si Kepala Kecil itu.”

“Nampaknya ia pun ragu-ragu,” jawab kawannya.

“Karena itu, kita tidak akan memberi tahukan langkah-langkah kita kepadanya. Mungkin ia akan berkhianat. Biarlah ia dalam keadaannya,” berkata orang yang berpihak kepada Jipang itu.

Kawannya mengangguk-angguk. Namun keduanya pun kemudian bersepakat untuk berbuat

sesuatu.

“Kita harus mendahuluinya daripada kita didahuluinya,” geram orang yang berhubungan dengan perwira-perwira Jipang itu.

Sementara itu, orang yang bertubuh gemuk dan berkepala kecil itu ternyata tidak langsung pulang ke rumahnya. Hatinya terasa gelisah karena sikap kedua orang kawannya.

Karena itu, maka dengan diam-diam ia telah mengambil jalan setapak dan tidak

lagi menuju ke rumahnya, tetapi ia pergi kembali ke rumah kawannya yang bertubuh tinggi besar, menantu Ki Demang.

<b>Kedatangannya mengejutkan pemilik rumah</b> yang sedang menjamu makan tamu-tamunya yang bermalam di rumahnya.

“He, kau,” orang bertubuh tinggi itu menyapa.Orang gemuk itu pun kemudian ikut pula duduk di antara mereka.

“Makanlah,” orang bertubuh tinggi itu mempersilakan.

Orang bertubuh gemuk itu pun ternyata tidak menolak. Ia pun ikut pula makan

bersama mereka. Namun kemudian katanya, “Sambil makan, aku akan memberitahukan sesuatu kepadamu.”

Orang yang bertubuh tinggi itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Tetapi jangan rusak nafsu makan kita.”

“Tidak. Bahkan mungkin akan mendorong kita untuk makan lebih banyak,” berkata orang bertubuh gemuk itu.

“Katakanlah,” jawab pemilik rumah itu.

Orang bertubuh gemuk itu pun kemudian menceriterakan apa yang didengarnya dari pembicaraannya dengan kedua kawannya yang lain. Sambil menyuapi mulutnya ia kemudian berkata, “Nah, bukankah dengan demikian kau banyak makan sekarang sebelum mungkin kau akan diselesaikan oleh mereka?”

“Gila,” geram orang bertubuh tinggi besar itu, “Biarlah mereka berdua

bersama-sama mengeroyokku. Justru akulah yang akan membunuh mereka berdua.” Tetapi orang bertubuh kecil itu memperingatkannya, katanya, “Ketika aku duduk di pendapa, bukankah ia mengatakan bahwa sekarang saudara-saudaranya yang menjadi perwira prajurit Jipang itu ada disini?”

Orang bertubuh tinggi besar itu mengangguk-angguk. Katanya, “Kepalamu kecil, tetapi kau cedik juga. Aku mengerti maksudmu. Mungkin orang itu akan memperalat para perwira itu.

“Ya, mungkin begitu,” jawab orang berkepala kecil itu.

“Apa boleh buat. Jika kita harus bertempur menghadapi mereka, maka kita akan bertempur. He, bagaimana dengan kau?” bertanya orang bertubuh tinggi besar itu. “Tentu aku berpihak kepadamu. Aku tidak akan pulang malam ini, Aku berada disini,” jawab orang gemuk berkepala kecil itu.

Orang bertubuh tinggi dan menjadi menantu Ki Demang itu pun kemudian berkata kepada Kiai Badra, “Ki Sanak. Aku minta maaf jika mungkin istirahat Ki Sanak agak terganggu. Tetapi jangan gelisah. Biarlah aku menyelesaikan persoalanku sendiri dengan kawan-kawanku yang tidak mau menyadari kekeliruannya.

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “Kawanmu itu agaknya tidak mau mempergunakan pertimbangan nalar sama sekali. Tetapi aku pun ingin memperingatkanku.

Hati-hatilah. Mungkin para perwira dari Jipang itu ikut campur. Dan kita tahu, bahwa para perwira dari Jipang, sebagaimana para perwira Pajang, memiliki kemampuan yang tinggi.”

Orang bertubuh tinggi besar itu berkata, “Mungkin Ki Sanak. Tetapi apaboleh buat jika memang harus terjadi demikian. Tetapi dalam keadaan yang demikian, aku berada dalam keadaan yang mapan. Aku tidak berkelahi sebagai perampok. Jika aku terbunuh, maka orang-orang justru akan menganggap bahwa akulah yang sedang dirampok.

<b>Kiai Badra mengangguk-angguk.</b> Dengan nada ragu ia berkata, “Apakah ada peronda di Kademangan ini. Anak-anak mudanya atau katakanlah pengawal Kademangan?”Ada, meskipun tidak cukup baik. Tetapi dalam perselisihan ini aku tidak akan dapat mempergunakan mereka. Mungkin kawanku yang berhubungan dengan

orang Jipang itu akan bertindak licik justru karena ia mengetahui kelemahan kedudukanku,” jawab orang bertubuh tinggi itu.

Kiai Badra mengangguk-angguk. Menantu Ki Demang itu memang mempunyai kelemahan.

Agaknya ia tidak ingin mempersoalkannya dengan kawan-kawannya itu dicampuri oleh terlalu banyak orang yang mungkin akan dapat membuka rahasianya.

Karena itu, maka menantu Ki Demang itu bertekad untuk menghadapi kawan-kawannya dengan kemampuannya sendiri.

Ketika kemudian mereka telah selesai dengan makan malam yang terlambat itu, mereka pun segera mengatur diri. Menantu Ki Demang itu mempersilakan Kiai Badra dan Gandar kembali ke gandok sementara itu, ia menempatkan kawannya dibilik kanan di dalam rumahnya.

Tetapi menantu Ki Demang itu dengan diam-diam telah pergi ke bagian belakang rumahnya. Di sebelah longkangan terdapat beberapa orang laki-laki. Seorang

gamel, seorang pekatik dan dua orang anak muda yang menantunya bekerja di sawah. Dengan hati-hati orang itu membangunkan mereka dan berpesan, “Jika terjadi sesuatu di rumah ini, kalian jangan tergesa-gesa membunyikan isyarat.”

“Apa yang akan terjadi?” bertanya orang-orang itu.

“Mungkin. Ada seseorang kawan yang memberitahukan bahwa ada orang-orang jahat yang akan merampok rumah ini. Tetapi biarlah kita menyelesaikan persoalan itu sendiri. Jangan memanggil para pengawal dengan isyarat,” berkata menantu Ki Demang itu.

Para pembantu di rumah itu pun mengangguk-angguk. Sementara itu menantu Ki Demang itu pun berkata lebih jauh, “Kalian pun jangan dengan serta merta melibatkan diri. Hati-hatilah, yang akan berbenturan jika itu terjadi adalah

orang-orang berilmu. Jika kalian melihat kesempatan yang baik terserah. Tetapi jika kalian tidak mengerti apa yang kalian hadapi, maka kalian lebih baik menyingkir saja.”

Para pembantu menantu Ki Demang itu pun termangu-mangu. Seorang di antara mereka

pun berkata, “Bukankah kami laki-laki juga, maka kenapa kami harus sekadar menyingkir?”

“Mereka adalah orang-orang berilmu. Karena itu, kau tidak akan dapat melawanmu hanya sekadar dengan keberanian dan kekuatan wadagmu saja,” berkata menantu Ki Demang.

Para pembantunya tidak menjawab lagi. Tetapi bagaimana pun juga mereka merasa ikut bertanggung jawab atas isi rumah itu, karena mereka bekerja dan tinggal di rumah itu pula.

Sejenak kemudian, maka menantu Ki Demang itu pun telah berada di dalam biliknya. Dipandanginya kedua anaknya yang sedang tidur lelap dibawah cahaya lampu minyak.

Pada wajah anak-anak yang sedang tidur itu terbayang kebeningan budi yang seakan-akan belum ternoda sama sekali. Dengan mata yang terpejam, wajah itu memancarkan cahaya kedamaian dan ketenangan.

Menantu Ki Demang itu menarik nafas dalam-dalam.

“Kau tidak tidur?” bertanya istrinya yang berbaring disebelah anakya yang masih menyusu.

“Sebentar lagi,” jawab suaminya yang kemudian duduk dibibir pembaringan, “Rasa-rasanya aku belum mengantuk.”

“Bukankah hari sudah jauh malam?” bertanya istrinya pula.

“Tidurlah,” berkata menantu Ki Demang itu. Lalu, “Aku masih memikirkan pembicaraanku dengan orang tua yang ingin menjual barangnya kepadaku.” Istrinya tidak bertanya lebih jauh. Suaminya yang menurut pengertiannya adalah seorang pedagang yang berhasil itu, kadang-kadang memang berbuat sesuatu yang tidak diketahuinya. Dan ia tidak ingin bertanya terlalu jauh tentang pekerjaan

suaminya itu, karena agaknya suaminya tidak begitu senang jika ia mempertanyakan sesuatu yang menyangkut pekerjaan suaminya itu

<b>Sebenarnyalah </b> bahwa menantu Ki Demang itu memang sedang dicengkam oleh