-->

Suramnya Bayang-Bayang Jilid 21

Jilid 21

Namun ketika orang itu juga melepaskan ikat kepalanya, sehingga rambutnya yang panjang terurai di punggungnya maka orang-orang di pinggir gelanggang pun menjadi pasti, sebagaimana Ki Wiradana.

Ternyata orang itu adalah seorang perempuan. “Aku kakang,” desis orang itu.

“Warsi,” Ki Wiradana menyebut nama itu dengan bibir yang gemetar, “Bagaimana mungkin hal ini dapat terjadi?”

Warsi yang telah memenangkan permainan itu, bahkan dengan sangat mengejutkan, setelah mengalahkan empat orang pengawal sekaligus, maka ia pun telah mengalahkan Ki Wiradana pula.

Dengan dada tengadah Warsi pun telah meloncat dari punggung kudanya. Sekali lagi ia memandang berkeliling sambil mengangkat tangannya.

Tetapi dahinya pun kemudian berkerut. Tidak seorang pun yang bertepuk tangan. Tidak seorang pun yang menerikkan sorak kebanggaan. Dan tidak seorang pun yang dengan lantang menyanjunginya.

Namun Warsi pun kemudian tidak menghiraukannya. Sementara itu Ki Randukeling berkata, “Permainan kita telah berakhir hari ini Wiradana. Kita dapat

menampilkan acara yang terakhir sebagaimana direncanakan.”

Wiradana tergagap. Jawabnya, “Ya, ya kakek. Semua acara memang sudah diselesaikan.”

“Perintahkan para pengawal itu menutup permainan mereka. Kita dapat pulang. Kita sudah sehari berada di sini dan kehidupan di Tanah Perdikan ini pun bagaikan

telah terhenti karena semua orang berkumpul disini,” berkata Ki Randukeling.

Ki Wiradana mengangguk. Tetapi perasaannya masih belum mapan karena kejutan yang sama sekali tidak disangkanya. Bagaimana mungkin Warsi dapat berbuat seperti

itu.

Ki Randukeling agaknya dapat meraba perasaan Ki Wiradana. Karena itu, maka katanya, “Persoalan Warsi nanti dapat aku jelaskan setelah kita berada dirumah.”

“Baiklah kakek,” jawab Ki Wiradana.

Betapapun jantungnya masih berdegupan, maka ia pun kemudian memerintahkan para pemimpin pengawal untuk mengakhiri acara permainan yang sudah sehari penuh itu. Sementara itu, Ki Randukeling sempat berbicara dengan Ki Rangga, “Ki Rangga.

Cepat atasi gejolak yang mungkin terjadi di perasaan para pengawal. Para perwira Jipang harus dengan cepat menanganinya, sehingga mereka tidak menjadi bimbang. Para perwira harus dapat menjelaskan, bahwa dengan demikian, maka Tanah Perdikan akan menjadi semakin kuat. Karena ternyata Nyai Wiradana akan dapat membuat suaminya bukan saja sekadar mendorong secara jiwani, tetapi secara kewadagan

Nyai Wiradana juga akan mampu membantu suaminya menghadapi persoalan- persoalan yang mungkin akan menjadi gawat.”

Ki Rangga mengangguk-angguk. Ia mengerti sepenuhya kecemasan Ki Randukeling tentang para pengawal. Sementara itu Ki Randukeling melanjutkan, “Karena itu, maka para pengawal tidak usah cemas jika mereka harus meninggalkan Tanah Perdikannya menuju ke Pajang, karena Ki Wiradana dan Nyai Wiradana akan menjadi pasangan yang siap melindungi Tanah Perdikan ini.”

Ki Rangga tersenyum. Katanya, “Baiklah Ki Randukeling. Ki Randukeling jangan terlalu mencemaskan para pengawal. Mereka akan tunduk dan taat kepada para pelatihnya, sementara Ki Wiradana akan segera berada dibawah pengaruh istrinya yang cantik itu.”

Ki Randukeling tersenyum pula.

Sementara itu, acara yang terakhir sudah mulai berlangsung. Pasukan berkuda sekali lagi mengadakan pameran berkeliling gelanggang.

Namun sambutan para penonton tidak lagi bergelora sebagaimana pada saat permainan itu baru dimulai. Mereka lebih banyak dicengkam oleh kebingungan melihat kekalahan Ki Wiradana dari istrinya, Warsi yang lebih banyak dikenal sebagai seorang penari jalanan daripada seorang yang memiliki kemampuan dalam olah kanuragan. Bahkan menurut pengenalan mereka, Warsi tidak lebih dari seorang perempuan yang manja dan cengeng.

Tetapi ternyata bahwa Warsi telah mengejutkan seisi Tanah Perdikan dan para perwira dari Jipang.

Demikianlah, maka permainan itu pun berakhir. Namun sementara itu dua orang suami istri yang telah berusia melampaui pertengahan abad dengan susah payah tengah membujuk seorang perempuan untuk tidak mencampuri permainan di gelanggang

itu.

“Meskipun aku belum pernah melakukannya, tetapi aku merasa mampu melakukannya,” berkata perempuan itu.

Tetapi perempuan yang sudah berambut memutih itu menjawab, “Jangan. Tidak ada gunanya. Belum waktunya kau tampil dalam arena. Apalagi arena seperti ini.” Perempuan itu menarik nafas dalam-dalam. Ia harus menahan kekecewaannya. Tetapi ia tidak dapat melanggar pesan dua orang suami istri itu.

“Marilah, sebelum ada orang yang mengenalimu,” berkata laki-laki dan istrinya yang sudah menjelang hari-hari tuanya itu. Perempuan itu akhirnya menurut. Sambil menutup kepalanya dengan selendang untuk melindungi terik matahari meskipun sudah mulai berkurang karena matahari yang menjadi semakin condong, namun juga untuk menutup sebagian dari wajahnya agar wajah itu tidak dikenali oleh orang-orang yang sedang menonton permainan yang mendebarkan itu.

Ternyata tidak seorang pun yang dapat mengenali perempuan itu, meskipun ia pernah hidup di antara rakyat Tanah Perdikan Sembojan, karena perempuan itu adalah Iswari.

Betapa kecewanya ketika ternyata kakek dan neneknya yang juga gurunya melarangnya untuk memasuki gelanggang melawan perempuan yang ternyata adalah Warsi itu. Setelah ia menjalani laku yang sangat berat, maka Iswari merasa bahwa

ia sudah menyimpan bekal di dalam dirinya untuk mengimbangi kemampuan perempuan

yang berilmu iblis dari keluarga Kalamerta.

Namun dalam pada itu, peristiwa yang mengejutkan di gelanggang itu telah menjadi bahan pembicaraan disegala tempat. Orang-orang Tanah Perdikan Sembojan memperbincangkannya. Para pengawal pun dengan nada yang berbeda-beda telah mempercakapkannya pula.

“Bagaimana mungkin hal itu dapat terjadi,” berkata seorang pengawal. “Memang sesuatu yang mungkin di luar jangkauan nalar. Tetapi adalah satu

kenyataan bahwa Nyai Wiradana berhasil mengalahkan Ki Wiradana. Kenyataan itu tidak dapat kita ingkari,” berkata yang lain.

Kawannya mengangguk-angguk sambil bergumam, “Memang satu hal yang tidak masuk akal. Tetapi Warsi memang seorang perempuan yang diselubungi oleh rahasia.”

Tetapi para pengawal tidak terlalu banyak mendapat kesempatan untuk berbincang. Sebagaimana dikehendaki oleh Ki Randukeling, maka dengan cepat Ki Rangga sempat memberikan beberapa petunjuk kepada para perwira Jipang di Tanah Perdikan.

Mereka harus dengan cepat dan tepat menanggapi gejolak perasaan yang tentu timbul di antara para pengawal.

Demikianlah, dengan pesan dan penjelasan dari Ki Rangga, para perwira itu pun telah memberikan keterangan kepada para pengawal. Di samping menjelaskan persoalannya sebagaimana dikehendaki oleh Ki Randukeling lewat Ki Rangga Gupita, sehingga tanggapan para pengawal itu pun menjadi terarah karenanya. Sebagian besar dari para pengawal memang tidak mempersoalkan lebih lanjut. Mereka menerima pikiran, bahwa justru dengan demikian Tanah Perdikan ini akan menjadi semakin kuat. Jika sebagian besar para pengawal akan pergi ke Jipang, maka Tanah Perdikan Sembojan tidak akan mencemaskan, karena di Tanah Perdikan ini ada Ki Wiradana dan istrinya yang ternyata akan mampu membantu suaminya dengan baik dan meyakinkan.

Namun demikian ada juga beberapa di antara mereka yang masih saja selalu bertanya-tanya di dalam hati. Siapakah sebenarnya Warsi itu. Apakah ia memang seorang penari jalanan, atau ada latar belakang lain dari kehidupannya, sehingga ia memiliki kemampuan melampaui kemampuan Ki Wiradana.

Dalam pada itu, di rumah Ki Wiradana pun telah terjadi pembicaraan yang tegang.

Ki Wiradana memang menuntut penjelasan tentang istrinya yang tiba-tiba saja mempunyai kemampuan yang mengejutkan dan bahkan telah mengalahkannya di arena yang disaksikan oleh rakyat Sembojan.

“Ada dua masalah yang timbul,” berkata Ki Wiradana. “Yang pertama, bagaimana mungkin kau tiba-tiba saja telah memiliki ilmu yang mampu mengalahkan aku. Dan yang kedua harga diriku dihadapan rakyatku telah menjadi kabur.”

Warsi tertawa mendengar persoalan yang dikemukakan oleh suaminya. Tetapi sebelum ia menjawab, Ki Randukeling telah mendahuluinya. “Jangan menanggapi dengan cara yang salah Wiradana. Dengan demikian, maka kau akan dapat melihat keadaan ini dalam suasana yang baik.”

“Tetapi peristiwa itu membuat aku menjadi sangat sulit,” jawab Ki Wiradana. “Namun aku pun ingin tahu keadaan Warsi yang sebenarnya. Ternyata selama ini ia telah berpura-pura dan bukankah dengan demikian ia sudah mempermainkan aku. Ternyata dengan puncak dari permainannya itu ia telah mencemarkan namaku di hadapan rakyatku.”

“Sudahlah,” berkata Ki Randukeling. “Ki Wiradana harus menerima kenyataan ini.

Warsi adalah istri Ki Wiradana dan bahkan telah mendapatkan seorang anak

laki-laki. Siapapun Warsi tidak sepantasnya dipersoalkan sekarang. Seharusnya Ki Wiradana berusaha untuk mengetahui sejak Ki Wiradana ingin mengambilnya sebagai seorang istri.”

Wajah Ki Wiradana menjadi kemerah-merahan. Terasa jantungnya berdentang semakin keras. Namun ia memang harus menahan diri, karena ia merasa dirinya menjadi

sangat kecil. Sementara itu, Warsi justru telah berkata, “Kakang. Jangan marah. Selama ini aku memang berpura-pura. Aku ingin agar kakang tidak berkecil hati. Aku mencintai kakang sehingga aku telah mengekang diri selama ini. Karena aku yakin, jika

kakang mengetahui bahwa aku memiliki kemampuan dalam olah kanuragan, kakang tidak akan mengambil aku untuk kau jadikan sebagai istrimu.”

“Tetapi kenapa kau tiba-tiba saja sampai hati untuk menjatuhkan namaku dihadapan banyak orang? Kenapa kau tidak berterus terang saja mengatakan kepadaku,

siapakah kau sebenarnya. Jika kau memang memiliki kemampuan, maka aku tentu akan mengakuinya tanpa kau tunjukkan dihadapan saksi yang terlalu banyak itu,” geram

Ki Wiradana.

“Kau tersinggung?” bertanya Warsi.

“Ya. Aku memang tersinggung,” jawab Ki Wiradana.

“Lalu, apa yang akan kau lakukan jika kau merasa tersinggung?” bertanya Warsi. “Aku Pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan disini,” jawab Ki Wiradana. “Tetapi kau tidak mempunyai kekuasaan apapun disini kakang,” jawab Warsi. “Para pengawal telah berada ditangan para pelatihnya, para perwira dari Jipang. Mereka akan segera berangkat ke Pajang.”

“Aku akan mencegah pemberangkatan itu,” berkata Ki Wiradana.

Tetapi Warsi dan Ki Randukeling tertawa bersama. Bahkan Warsi sempat memegangi perutnya yang terguncang.

“Sudahlah Wiradana,” berkata Ki Randukeling, “Jangan menjadi gelisah. Tidak ada apa-apa. Lakukan kewajibanmu sebagaimana biasa. Tetapi jangan mencoba mencegah pasukan pengawalmu yang akan berangkat. Mereka sudah siap. Dari duaratus orang pengawal khususmu, akan ditinggalkan duapuluh lima orang. Sementara itu, para pengawal terpilih dari padukuhan-padukuhan pun akan dibawa pula oleh para perwira Jipang ke Pajang”

“Aku berhak mencegahnya,” jawab Ki Wiradana lantang.

“Apakah artinya hak yang kau maksud itu?” bertanya Nyai Wiradana. “Kami dapat memaksamu untuk melakukan sesuatu atas kehendak kami. Antara lain, memaksamu untuk melepaskan para pengawal itu pergi ke Pajang. Jika kau menolak, maka kami dapat berbuat apa saja atasmu tanpa diketahui oleh rakyamu. Karena

sebenarnyalah, sudah disiapkan seorang penggantimu yang sah jika kau menentang kehendak kami.”

“Pengganti?” wajah Ki Wiradana menjadi sangat tegang. “Ya. Anak itu,” jawab Warsi.

“Tentu tidak mungkin,” berkata Ki Wiradana. “Ia akan menggantikan aku setelah aku tidak ada.

“Bukankah ketidaaanmu dapat dipercepat,” jawab Warsi.

Ki Randukeling yang mendengarnya tertawa berkepanjangan. Sementara Warsi meneruskan. “Kakang. Sebenarnyalah aku tetap seorang istri. Tetapi dalam keadaan yang memaksa, maka kau akan dapat lenyap seperti lenyapnya Nyai Wiradana yang pertama. Tanpa bekas. Para pengawal akan mencari di segenap sudut Tanah Perdikan ini bahkan diluarnya. Tetapi tidak seorang pun yang menemukannya.

“Para pengawal akan mencurigai kalian,” geram Ki Wiradana.

“Mereka berada dibawah pengaruh para perwira Jipang. Apa katamu?” sahut Warsi dengan wajah yang tiba-tiba telah berubah. Bukan wajah yang lembut kemanjaan. Tetapi sorot matanya menjadi tajam menyala.

Jantung Ki Wiradana serasa akan meledak menghadapi kenyataan itu. Tetapi ia merasa bahwa ia memang tidak akan dapat berbuat apa-apa dihadapan Warsi dan Ki Randukeling. Menurut penilaiannya, Ki Randukeling tentu memiliki ilmu yang luar biasa. Jauh lebih tinggi dari ilmu yang dimiliki Warsi.

Karena itu, maka Ki Wiradana pun merasa bahwa ia telah terjebak ke dalam satu keadaan yang tidak dapat dihindarinya. Ia telah terjerumus ke dalam satu kubangan lumpur yang menjeratnya tanpa dapat dilepaskannya.

Tetapi semuanya itu sudah telanjur. Sementara Warsi masih juga berkata sekali lagi,

“Kakang, jika kau bersikap baik terhadapku, maka aku masih tetap istrimu. Jangan cemas bahwa aku dan kakek akan melakukan satu tindakan yang mengancam keselamatanmu.”

Ki Wiradana hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi penyesalan betapapun menghentak-hentak di dadanya, namun ia telah berada di dalam wuwu yang dipasang dengan umpan seorang penari yang cantik.

Di luar sadarnya Ki Wiradana teringat kepada Iswari. Seorang perempuan yang benar-benar lembut hati, yang telah dikorbankannya untuk memanjakan nafsunya. Adalah diluar sadarnya pula, tiba-tiba saja ia berharap bahwa Iswari benar-benar masih belum mati sebagaimana terdengar beberapa bisikan yang tidak pasti di antara orang-orang Tanah Perdikan Sembojan sendiri.

Dalam pada itu, maka rencana para perwira Jipang di Tanah Perdikan itu pun berjalan sebagaimana mereka kehendaki. Para perwira Jipang yang memimpin para pengawal Tanah Perdikan itu pun nampak menjadi semakin garang. Sebagaimana sikap prajurit yang keras, maka mereka telah menyiapkan sepasukan yang cukup besar

yang terdiri dari para pengawal khusus dan para pengawal dipadukuhan-padukuhan, namun yang terpilih.

Demikianlah, maka hari pemberangkatan pun telah tiba. Pasukan yang besar itu memang memberikan kebanggaan. Bukan saja setelah mereka mampu menunjukkan ketrampilan mereka mempergunakan senjata, namun tanda-tanda kebesaran pasukan itu pun menunjukkan seakan-akan Tanah Perdikan Sembojan adalah satu lingkungan pemerintahan yang memiliki kekuatan tiada taranya.

Pasukan Tanah Perdikan itu sudah dilengkapi dengan pertanda-pertanda kebesaran. Tunggul dan panji-panji. Rontek dan kelebet. Sementara itu, telah dibawa pula beberapa buah pedati untuk memuat perlengkapan dan makanan bagi para prajurit.

Mereka harus mempunyai persediaan sebelum mereka dapat merapatkan diri dihadapan Pajang.

Semua laporan terperinci telah sampai di Jipang. Jipang memang sudah menyediakan sekelompok kecil prajurit yang akan menunggu di satu tempat yang ditentukan.

Pasukan itu akan bergabung dan bersama dengan seratus tujuhpuluh lima pengawal khusus dari Tanah Perdikan Menoreh beserta para perwira pelatih, akan menjadi inti kekuatan dari pasukan itu.

Rakyat Tanah Perdikan Sembojan melepas pasukan itu dengan perasaan yang bercampur baur. Antara kebanggaan, kegelisahan dan kecemasan. Sementara masih ada perasaan yang tersangkut dihati tentang Nyai Wiradana yang tiba-tiba saja mampu menunjukkan sebagai seorang terbaik dalam permainan sodoran di ara-ara. Beberapa orang perempuan menitikkan air mata mereka, karena anak laki-laki kebanggaan keluarga mereka, suami yang baru beberapa bulan kawin, kekasih, kakak atau adik yang ikut dalam pasukan yang akan diumpankan pada para prajurit Pajang yang gemblengan. Meskipun ada di antara pasukan itu para perwira dari Jipang

dibawah pengamatan Ki Rangga Gupita, namun orang-orang Tanah Perdikan Sembojan yang untuk waktu yang lama sampai masa jabatan Ki Gede Sembojan yang terbunuh adalah termasuk kawula Pajang, mereka pun pernah mendengar nama-nama besar seperti Ki Gede Pemanahan, Ki Penjawi, Ki Wira, Ki Wuragil dan beberapa nama Senopati Pajang pilihan yang lain, kawan-kawan bermain dan saudara-saudara seperguruan dengan Kanjeng Adipati Hadiwijaya sendiri. Tetapi tidak seorang pun dapat mencegah. Para pengawal sendiri nampaknya berbangga telah mendapat tugas untuk pergi ke Pajang. Para perwira telah menganjurkan kepada para pengawal untuk berjuang menegakkan kedudukan Tanah Perdikan Sembojan yang oleh Pajang sangat diperkecil artinya.

“Pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan kalian mendapat kesulitan untuk menuntut pengakuan dari Pajang,” berkata para perwira Jipang kepada para pengawal.

“Karena sebenarnyalah Pajang akan menghapuskan semua Tanah Perdikan. Baik yang ditetapkan oleh Pajang sendiri dan surat Kekancingan, maupun yang sudah ditetapkan sebelumnya oleh Demak. Karena itu, berjuanglah untuk menuntut keadilan, bahwa hak Tanah Perdikan Sembojan harus tetap dihormati oleh Pajang.” Dengan demikian, maka para pengawal itu telah dibekali suatu perasaan yang dapat menyalakan tekad di dalam dada mereka. Sementara itu para perwira Jipang pun berkata selanjutnya kepada mereka, “Adalah kesempatan yang sangat baik bagi

Tanah Perdikan ini bahwa para pengawalnya dapat berjuang bersama-sama dengan Jipang yang akan membantu hak Tanah Perdikan Sembojan.”

Karena itulah, maka para pengawal telah berangkat dengan dada tengadah ketika mereka kemudian berjalan menyusuri jalan-jalan padukuhan.

Ki Wiradana, istrinya dan beberapa orang melepas pasukan itu tidak di depan rumahnya atau di banjar Tanah Perdikan, tetapi mereka berada disebuah bulak di luar padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan.

“Mereka memerlukan waktu yang lama untuk mencapai tujuan. Tempat yang sudah ditentukan dan sudah disiapkan disebelah Timur Pajang. Sementara pasukan yang datang dari Jipang akan berada di sebelah Barat Pajang. Dengan demikian Pajang

akan merasa terkepung dan menjadi cemas akan nasibnya, sementara pasukannya yang besar berada di hadapan pasukan Jipang seberang menyeberang Bengawan,” berkata Ki Rangga Gupita.

“Namun demikian mereka akan berada di tempat itu dengan mapan, karena mereka sudah siap dengan bekal yang mereka perlukan. Meskipun pedati-pedati itu

rasa-rasanya menghambat perjalanan, tetapi pada saatnya akan ikut menentukan. Jika pasukan ini kehabisan bekal sebelum mapan di tempat yang dituju, maka akan dapat menumbuhkan persoalan tersendiri. Sedangkan sekelompok prajurit Jipang yang akan bergabung dengan pasukan ini agaknya sudah menunggu sebagaimana keterangan yang aku dapatkan dari Jipang.” Ki Wiradana tidak banyak memberikan tanggapan. Dipandanginya pasukan pengawalnya

yang memang dapat memberikan kebanggaan. Tetapi pasukan itu akan pergi untuk bertempur bagi kepentingan Jipang.

Karena itu, Ki Wiradana memandangi pasukannya dengan tatapan mata yang buram, sebagaimana buramnya Tanah Perdikan Sembojan itu sendiri.

Dalam pada itu, Warsi memang tampil dengan sikap yang jauh berbeda dengan sikapnya dihari-hari yang lewat. Meskipun ia mengenakan pakaian yang biasanya dipakainya sehari-hari sebagai istri Wiradana, tetapi wajahnya tidak lagi menunduk. Suaranya tidak lagi tertahan penuh dengan keragu-raguan serta seakan-akan membebankan setiap persoalan dalam perasaannya.

Bahkan ketika pasukannya lewat, Warsi sempat berbicara panjang dengan Ki Rangga Gupita. Keduanya nampak gembira dan sekali-kali keduanya tertawa.

Di sebelah Ki Wiradana, Ki Randukeling sekali-kali mengamatinya. Namun ia pun kemudian tersenyum sambil berkata, “Kau sudah sampai pada saat dimana kau tidak mungkin kembali. Pasukanmu telah terlibat dalam pertempuran melawan Pajang.

Karena itu, maka kau harus menggantungkan dirimu kepada Jipang.”

Ki Wiradana berpaling ke arah Ki Randukeling. Namun di luar kehendaknya, ia justru melihat Warsi, istrinya mencubit lengan Ki Rangga Gupita.

Jantung Ki Wiradana berdesir. Tetapi ia harus menahan dirinya. Di sekitarnya berdiri orang-orang yang memiliki kelebihan. Bukan saja dari orang kebanyakan, tetapi juga dari dirinya sendiri.

Karena itu, maka Ki Wiradana pun tiba-tiba merasa bahwa dirinya memang tidak berharga. Disebelahnya berdiri Ki Randukeling. Kemudian istrinya dan Ki Rangga Gupita. Pedagang emas berlian dan orang yang disebut sebagai ayah Warsi. Menurut pendapat Ki Wiradana, orang itu tentu dipersiapkan oleh Ki Randukeling untuk membatasi dirinya

Dengan demikian maka Ki Wiradana hanya dapat berdiri memantung sambil menunggu pasukannya lewat ke ujung ekornya. Beberapa pedati yang berisi perbekalan dan dibelakangnya beberapa orang pengawal bersenjata mengawasi perbekalan yang ada

di dalam pedati itu.

Ketika iring-iringan pasukan pengawal Tanah Perdikan Sembojan itu sudah lewat, maka terasa Tanah Perdikan memang menjadi kosong, sebagaimana hati pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikannya. Dengan kepala tunduk, Ki Wiradana berjalan meninggalkan bulan yang berdebu memasuki padukuhannya. Istrinya berada disampingnya sedangkan Ki Rangga Gupita berjalan disebelah Ki Randukeling dibelakangnya.

Dibelakang mereka berjalan saudagar emas berlian dan orang yang mengaku ayah Warsi bersama beberapa orang pemimpin Tanah Perdikan yang lain. Beberapa orang bebahu padukuhan induk dan para pemimpin pengawal yang tinggal.

Ki Wiradana seakan-akan tidak mampu untuk menyatakan sesuatu selama

iring-iringan itu memasuki padukuhan induk. Dadanya terasa sesak. Apalagi setiap kali ia mendengar Ki Rangga berbicara dengan istrinya yang selalu berpaling dan memperlambat jalannya.

Namun demikian sesaknya dada Ki Wiradana sehingga tiba-tiba saja diluar kekang nalarnya ia bertanya, “Kapan Ki Rangga berangkat ke Pajang?”

“O,” Ki Rangga tersenyum, “Aku tidak tergesa-gesa. Aku bukan termasuk pasukan yang harus bertempur di medan antara Jipang dan Pajang. Tetapi aku mempunyai wewenang untuk mengatur pasukan dari Tanah Perdikan ini. Karena itu, maka aku baru akan menyusul dua hari lagi, karena pasukan itu tentu berjalan sangat lamban. Aku pun tidak perlu berada dan menunggui pasukan itu. Jika segala sesuatunya sudah teratur baik, serta kesiagaan pasukan itu sudah memadai untuk menghadapi pasukan Pajang, maka aku dapat saja kembali.”

“Kembali ke Jipang?” bertanya Ki Wiradana.

“Aku dapat kembali ke Jipang. Tetapi dapat juga kembali ke Tanah Perdikan ini, karena aku adalah seorang Putut dari seorang pertapa yang bernama Ki Randukeling,” jawab Ki Rangga sambil tertawa.

Suara tertawa itu terasa gemuruh dijantung Ki Wiradana. Apalagi ketika beberapa orang telah tertawa pula. Warsi pun tertawa seperti Ki Randukeling dan beberapa orang lain.

Suara tertawa yang gemuruh itu bagaikan memecahkan seluruh isi dadanya. Menurut perasaannya, orang-orang itu telah mentertawakan kedunguannya selama ini. Bahkan istrinya yang dianggapnya sebagai perempuan yang dapat menjadi ilham segala langkah-langkah yang diambilnya itu ternyata bukan seorang perempuan yang mulai sebagaimana diduganya.

“Penari iblis itu telah mempermainkan aku,” geram Ki Wiradana. Namun ia tidak dapat mengatakannya kepada siapapun juga.

Demikianlah pada saat-saat berikutnya Ki Wiradana tidak lagi mempunyai gairah di dalam kerja. Tanah Perdikannya menjadi sepi dan hatinya pun tidak lagi bergejolak. Ia kadang-kadang masih juga teringat kepada bandul yang disyaratkan bagi wisudanya. Tetapi sudah tidak ada minat lagi untuk mencarinya.

Sikap Warsi di rumah pun telah berubah pula. Perempuan itu menjadi garang dan setiap kali membentaknya. Bahkan adalah di luar dugaan Wiradana, ketika Warsi

itu berbicara kepada Ki Randukeling, seolah-olah membicarakan sebuah mainan yang sangat mengasyikkan, “Kakek, aku sebenarnya telah meminjamkan nyawa kepada kakang Wiradana.”

“He, bagaimana mungkin kau meminjamkan nyawa kepada seseorang?” bertanya Ki Randukeling.

“Sebenarnya aku telah siap membunuhnya. Kami terlibat kedalam perkelahian karena kakang Wiradana menyerangku. Ia sudah tidak berdaya sama sekali untuk melawan. Tetapi aku ternyata memang mencintainya, sehingga aku tidak membunuhnya,” berkata Warsi.

“O,” Ki Randukeling tertawa. Tertawa lepas sebagaimana menertawakan sesuatu yang lucu. Seakan-akan ia tidak sedang berbicara tentang jiwa seseorang.

Wiradana pun kemudian teringat. Dari pembicaraan Warsi selanjutnya dengan kakeknya, ia dapat membayangkan kembali saat-saat ia bertempur dengan seseorang yang tidak dikenalnya, namun yang sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ternyata orang itu adalah Warsi. Perempuan yang kemudian menjadi istrinya. Seorang istri yang dianggapnya bersikap sebagaimana seorang perempuan yang berhati bening, kemanjaan dan luruh. Ternyata perempuan itu adalah perempuan yang memang hampir saja membunuhnya.

Martabat Ki Wiradana benar-benar terasa direndahkan. Namun ia tidak mempunyai kesempatan untuk mempertahankannya.

Namun dengan demikian, Ki Wiradana menyadari sepenuhnya apa yang telah terjadi atas dirinya. Ia dapat menggambarkan kembali urut-urutan peristiawa yang dialaminya. Justru pada saat-saat ia sudah berada dibawah bayang-bayang yang suram dari satu kehidupan yang kelam. Ia dapat melihat cahaya yang cerah diluar jangkauannya.

Tetapi segala sesuatunya yang cerah itu tinggal dapat dialaminya dalam suatu mimpi, karena yang telah terjadi itu tidak akan dapat diulanginya dalam susunan lakon yang berbeda.

Semakin jelas bayangan urutan peristiwa itu tergambar di dalam angannya, maka semakin dalam pula penyesalan di dalam dadanya, mengorek, menghujam sampai ke pusat jantungnya.

Sementara itu, pasukan pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang sedang dalam perjalanan ke Pajang, sama sekali tidak membayangkan bahwa di dalam diri pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikannya tengah terjadi pergolakan. Lebih dahsyat dari pergolakan yang terjadi secara kewadagan di Tanah Perdikan Sembojan itu.

Dengan gembira pasukan pengawal Tanah Perdikan Sembojan itu melintasi

jalan-jalan bulak. Memasuki kademangan demi kademangan dan menembus padukuhan demi padukuhan.

Munculnya sepasukan pengawal yang disangka sepasukan prajurit oleh orang-orang padukuhan yang dilaluinya memang mengejutkan. Pertanda kebesaran dan kelengkapan senjata untuk menunjukkan bahwa pasukan itu memang sudah siap untuk berperang, membuat daerah-daerah dilaluinya bertanya-tanya.

Bahkan ketika mereka memasuki sebuah kademangan yang besar, Ki Demang yang memiliki keberanian, bersama beberapa orang bebahu dan pengawal telah

bersiap-siap untuk menyongsongnya. Demikian mereka mendapat laporan tentang sebuah pasukan yang akan lewat, maka Ki Demang pun telah mempersiapkan dirinya ditepi jalan yang dilalui oleh pasukan itu.

Pasukan pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang dipimpin oleh para perwira dari Jipang itu melihat, bahwa sekelompok orang berdiri seberang menyeberang jalan yang akan dilaluinya. Tetapi mereka sama sekali tidak merasa terganggu karenanya. Sekelompok orang yang berdiri disebelah menyebelah jalan itu terlalu sedikit untuk berbuat sesuatu atas padukuhan yang kuat itu.

Meskipun demikian, Ki Demang telah memberikan isyarat agar pasukan itu berhenti. Perwira Jipang yang memimpin pasukan itu pun ternyata tidak ingin membuat persoalan di perjalanan. Karena itu, maka ia pun telah memberikan isyarat pula kepada para perwira yang lain agar pasukan itu berhenti.

“Kami mohon maaf,” berkata Ki Demang sambil membungkuk dalam-dalam dan penuh hormat. “Apakah aku diperkenankan untuk mengetahui, pasukan yang manakah yang lewat sekarang ini? Kami tidak dengan cepat dapat membaca pertanda, umbul-umbul, rontek dan kelebet yang menandai kebesaran pasukan ini.”

Perwira itu tersenyum. Sambil menepuk bahu Ki Demang ia berkata, “Jangan risaukan kami. Kami adalah sepasukan prajurit yang menginginkan satu suasana yang dapat memberikan ketenangan bagi rakyat. Bukan sebaliknya. Karena itu, maka kami harus mencegah kesewenangan, ketamakan dan ketidak adilan.”

“Benar Ki Sanak,” jawab Ki Demang. “Tetapi siapakah yang Ki Sanak maksudkan dengan mereka yang melakukan ketidakadilan itu, sehingga Ki Sanak telah membawa sepasukan prajurit untuk mencegahnya?” Perwira itu justru tertawa. Sekali lagi

ia menepuk bahu Ki Demang, katanya, “Pada saatnya kau akan mengetahuinya. He, apakah kau pemimpin daerah ini?”

“Aku demang di Kademangan ini,” jawab Ki Demang.

“Sudahlah Ki demang. Jangan persoalkan kami. Jangan tanyakan kami datang darimana dan untuk apa,” jawab perwira Jipang itu.

Tetapi Ki Demang itu menjawab “apakah salahnya jika kami mengetahuinya ? “ “Memang tidak ada salahnya,” jawab perwira itu. “Tetapi juga tidak ada salahnya jika Ki Demang tidak mengetahuinya.”

Ki Demang masih akan bertanya lagi. Tetapi perwira itu pun segera melangkah

sambil berputar menghadap ke pasukannya. Ia pun kemudian memberikan isyarat agar pasukannya itu pun melanjutkan perjalanan menuju ke Pajang dari sisi sebelah Timur.”

Ki Demang tidak dapat berbuat apa-apa. Iring-iringan itu pun kemudian lewat.

Jika Ki Demang memaksa agar pasukan itu berhenti, tentu akan terjadi benturan kekerasan. Dalam keadaan yang demikian Ki Demang merasa, bahwa Kademangannya tidak mempunyai kekuatan sebesar pasukan yang lewat itu.

Karena itu, dengan dada yang berdegupan, Ki Demang terpaksa membiarkan iring-iringan itu berjalan.

Ketika Ki Demang melihat bagian belakang dari pasukan itu, yang terdiri dari beberapa buah pedati dengan berbagai macam perlengkapan dan bekal, maka Ki Demang pun menjadi semakin gelisah. Rasa-rasanya pasukan itu merupakan pertanda bahwa perang memang sudah berada di ambang pintu, karena Ki Demang pun telah mengetahui persoalan yang tumbuh di Demak, Pajang dan Jipang.

Untuk beberapa saat lamanya Ki Demang termangu-mangu. Beberapa orang bebahu dan pengawal Kademangan itu pun memandangi debu yang berhamburan dengan hati yang berdebar-debar.

Namun dalam pada itu, ketika pasukan itu menjadi semakin jauh dan Ki Demang sudah bermaksud untuk kembali memasuki regol halaman banjar, seorang dalam pakaian petani yang sederhana telah mendekatinya. Sambil tersenyum ia berkata kepada Ki Demang, “Maaf Ki demang. Mungkin aku mengganggu.”

Ki Demang memperhatikan orang itu sejenak. Kemudian ia pun berpaling kepada seorang bebahu, “Apakah orang ini orang Kademangan ini? Rasa-rasanya aku belum pernah melihatnya.”

Bebahu itu berdesis, “Aku juga belum mengenalnya. Ki Demang dapat bertanya kepadanya.”

Ki Demang memandang orang itu dengan ragu. Namun orang itulah yang mendahuluinya, “Aku memang bukan orang Kademangan ini. Karena itu, maka sikapku mungkin mengganggu Ki Demang.”

“Apa maksudmu?” bertanya Ki Demang.

“Ki Demang,” berkata orang itu, “Aku hanya ingin sekadar memberitahukan kepada Ki Demang. Bukankah tadi Ki Demang bertanya kepada pemimpin pasukan itu, tetapi pemimpin pasukan itu tidak bersedia menjelaskan, pasukan manakah yang telah melewati Kademangan ini?”

Ki Demang termangu-mangu. Tetapi ia tidak menjawab.

“Ki Demang. Mungkin aku tahu jawabannya,” berkata petani itu. “Pasukan itu adalah pasukan Tanah Perdikan Sembojan.”

Ki Demang memandang petani itu dengan tajamnya. Ia melihat sesuatu yang lain pada orang itu, sehingga Ki Demang itu pun menjadi curiga karenanya.

“Kenapa Ki Demang memandang aku seperti itu?” bertanya petani itu. “Siapakah kau sebenarnya?” bertanya Ki Demang.

“Kenapa Ki Demang tidak justru bertanya tentang pasukan itu lebih banyak lagi?” petani itu justru bertanya.

Ki Demang berpaling ke arah debu yang sudah dihanyutkan angin sehingga tidak ada apapun lagi yang nampak oleh Ki Demang.

“Pasukan itu adalah pasukan Sembojan, tetapi yang sudah menjadi bagian dari kekuatan Jipang,” berkata orang yang dalam ujud petani itu.

“Maksudmu Jipang atau Pajang?” bertanya Ki Demang.

“Pasukan Sembojan itu menjadi bagian dari pasukan Jipang untuk memerangi Pajang. Jelas? Mereka berlindung kepada kebesaran nama Arya Penangsang dan memusuhi Adipati Hadiwijaya. Bukankah aku tidak sekadar keliru menyebutkannya?” jawab orang berpakaian seperti petani kebanyakan itu.

“Siapa kau?” sekali lagi Ki Demang bertanya.

Aku adalah petugas sandi dari Pajang,” jawab petani itu. Lalu, “Aku nasehatkan agar Kademangan yang besar ini mengerahkan kekuatan untuk menghadapi Jipang yang sudah mendekati Pajang dari dua arah. Itu jika kalian masih tetap merasa bagian

dari Pajang. Bukan justru berpaling kepada Jipang. “Kami adalah bagian dari Pajang,” jawab Ki Demang.

“Jika demikian siapkan pengawalmu. Berikan latihan pada tingkat

setinggi-tingginya yang mungkin kalian capai. Meskipun tidak akan setingkat dengan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang dilatih oleh para perwira dari Jipang namun Pajang akan sangat memerlukan anak-anak muda dalam jumlah yang besar,” berkata petani itu.

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih atas keterangan ini.” “Baiklah. Aku akan mengikuti pasukan itu,” berkata orang dalam pakaian petani itu.

“Sudah jauh,” desis Ki Demang.

“Mereka maju lamban sekali karena justru mereka membawa beberapa pedati. Aku akan segera menyusulnya. Bersiaplah dan hubungi kademangan-kademangan terdekat. Kerahkan semua kekuatan yang ada. Mungkin di Kademangan ini ada bekas prajurit yang sudah mengundurkan diri karena umurnya atau siapapun yang akan dapat menjadi pelatih dari para pengawal itu,” berkata orang dalam pakaian petani itu.

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih. Kami akan melaksanakan. Tetapi siapakah nama Ki Sanak?”

Orang dalam pakaian petani itu tersenyum. Katanya, “Yakinlah bahwa aku adalah seorang petugas dari Pajang.”

Ki Demang tidak memaksanya. Tetapi ia percaya bahwa orang itu memang petugas sandi dari Pajang. Namun demikian Ki Demang masih harus memastikan kebenaran keterangan itu.

Namun dalam pada itu, Ki Demang pun berkata, “Pilih dua orang terbaik di antara para pengawal. Biarlah mereka pergi ke Sembojan untuk mendengarkan pembicaraan orang-orang Sembojan sendiri. Mungkin di pasar-pasar. Mungkin di warung-warung. Dengan demikian kita akan menjadi yakin akan langkah-langkah yang kita ambil.

Para bebahu pun mengangguk-angguk. Ki Jagabayalah yang kemudian akan mengatur tugas-tugas bagi anak-anak muda Kademangan itu.

Sementara itu, pasukan Tanah Perdikan Sembojan itu pun berjalan menyusuri jalan-jalan padukuhan dan jalan-jalan bulak. Umbul-umbul, rontek, kelebet dan tunggul yang mereka bawa memberikan dorongan gairah perjuangan yang membara dihati para pengawal yang merasa dirinya memiliki kemampuan seorang prajurit.

Karena itulah, maka jika mereka melihat anak-anak muda di padukuhan-padukuhan yang mereka lalui, maka dengan wajah tengadah mereka seakan-akan berkata, “Inilah pengawal terpilih yang akan mampu menyelesaikan tugas-tugasnya dengan tuntas.”

Namun perjalanan pasukan itu memang lamban. Di lewat tengah hari pasukan itu berhenti beberapa saat. Kemudian dibawah terik matahari yang membakar, pasukan itu melanjutkan perjalanan. Namun oleh latihan-latihan yang berat para pengawal itu sama sekali tidak merasakan keletihan dan kelelahan.

Baru ketika matahari turun ke punggung perbukitan, pasukan itu mencari tempat untuk bermalam. Sebuah hutan kecil merupakan tempat yang paling baik bagi mereka. Sementara sebuah sungai mengalir di pinggir hutan kecil itu.

“Kita bermalam disini,” berkata perwira Jipang yang memimpin pasukan itu. Setelah mendapat perintah dari para pemimpin kelompok masing-masing, maka pasukan itu pun telah menyebar, mencari tempat sendiri-sendiri untuk bermalam.

Namun tidak ada masalah bagi para pengawal itu. Dimanapun mereka dapat berhenti untuk beristirahat dan tidur nyenyak.

Yang kemudian menjadi sibuk adalah para petugas yang menyediakan makan dan minum

bagi pasukan itu. Mereka harus menyalakan api untuk menanak nasi dan merebus air.

“Hati-hati,” pesan para perwira Jipang. “Api yang kalian nyalakan jangan menjadi sebab hutan ini terbakar. Jika kalian telah selesai masak, maka api itu harus kalian padamkan. Jika kalian meninggalkan sepercik bara, mungkin bara itu akan dapat menjadi sebab, seluruh hutan ini menjadi abu.”

Orang-orang yang bertugas menyiapkan makan dan minum itu mengangguk-angguk. Karena itu, maka kemudian mereka pun telah memilih tempat yang paling lapang.

Apalagi mendekati sungai sehingga mereka akan dapat mengambil air dari belik di pinggir sungai itu.

Ketika kemudian malam turun, maka dibeberapa tempat telah dipersiapkan tempat-tempat untuk berjaga-jaga. Beberapa orang bergantian bertugas

ditempat-tempat itu. Bagaimana pun juga mereka harus berhati-hati, karena mereka merasa bahwa mereka telah melibatkan diri ke dalam satu pertentangan antara kekuatan-kekuatan yang besar.

Sementara itu, ketika malam menjadi semakin malam, terasa hutan kecil itu menjadi semakin gelap. Namun dijantung hutan itu mulai terdengar suara-suara

binatang hutan yang kadang-kadang memang mendirikan bulu tengkuk. Aum harimau yang lapar disahut oleh suara anjing hutan dalam kelompok-kelompok yang cukup besar.

Seorang pengawal yang bertugas berjaga-jaga merasa ngeri juga mendengar suara-suara malam ditengah-tengah hutan yang lebat itu.

“Anjing hutan itu biasanya datang tidak seekor demi seekor,” katanya.

“Ya. Dalam kelompok-kelompok. Mereka menyerang bersama-sama,” jawab kawannya. “Ngeri juga mendengar suaranya. Tiga atau empat ekor di antara sekelompok anjing hutan itu menggonggong,” berkata yang pertama.

Kawannya mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Kita juga tidak seorang demi seorang menghadapi anjing hutan itu jika mereka datang berkelompok. Kita akan menghadapi mereka dalam kelompok pula.”

Pengawal yang pertama itu mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tersenyum

sambil menjawab, “Kita memang berkelompok sebagaimana anjing hutan itu.” Keduanya kemudian terdiam. Yang terdengar adalah suara-suara yang asing. Namun rasa-rasanya memang mengerikan.

Namun dalam pada itu, para penjaga itu telah mendengar suara yang lain. Bukan suara-suara malam di hutan kecil itu. Bukan aum harimau lapar. Bukan pekik kera yang terkejut di malam hari. Bukan pula gonggongan anjing hutan. Tetapi derap beberapa ekor kuda.

Pengawal yang sedang berjaga-jaga itu pun segera bangkit. Dua orang di antara mereka dengan senjata telanjang mengamati suara itu dengan seksama. “Benar, derap kaki kuda,” desisnya.

“Siapkan semua kawan-kawan yang bertugas,” sahut kawannya, “Kita harus memberikan laporan secepatnya.

Para pengawal pun segera bersiap. Lima orang dengan senjata di tangan

masing-masing merunduk ketepi hutan itu dan seorang kawannya telah melaporkannya ke induk pasukan.

Tetapi ketika pengawal yang berjaga-jaga itu sampai ke tempat para perwira Jipang beristirahat, ternyata mereka juga telah mendengar derap kaki kuda. “Beri isyarat, agar semua orang di dalam pasukan ini bersiap,” perintah para perwira itu.

Sesaat kemudian perintah itu pun telah menjalar. Sebagaimana sikap prajurit, maka dalam waktu yang singkat, semuanya sudah siap menghadapi segala kemungkinan.

Tetapi derap kaki kuda itu semakin lama terdengar menjadi semakin jauh. Bahkan kemudian telah hilang dari pendengaran para pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Para perwira dari Jipang itu sempat berbicara tentang derap kaki kuda itu.

Agaknya mereka menganggap bahwa derap kaki kuda itu merupakan satu persoalan yang harus mereka tanggapi dengan sungguh-sungguh.

“Perkuat penjagaan,” berkata pemimpin pasukan itu.

Para pemimpin pengawal telah mengatur penjagaan menjadi duakali lipat. Sementara yang lain pun kembali beristirahat.

Namun ada juga di antara mereka yang mengumpat-umpat. “Derap kuda itu hanya mengganggu saja.”

“Jangan abaikan,” sahut kawannya. “Mungkin mereka, penunggang kuda yang agaknya lebih dari satu itu petugas-petugas sandi dari Pajang.”

“Tetapi mungkin juga perampok-perampok yang melarikan hasil rampokannya,” sahut yang pertama.

Kawannya mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian mengangguk sambil menjawab, “Memang mungkin.” Keduanya pun tidak berbicara lagi. Mereka berusaha untuk dapat tidur sebaik-baiknya karena mereka masih harus menempuh perjalanan yang panjang dikeesokan harinya.

Sementara itu, para pengawal yang bertugas berjaga-jaga pun harus berganti pada saat-saat tertentu agar setiap orang mendapat kesempatan untuk beristirahat.

Namun agaknya para perwira dari Jipang tidak sempat untuk berbuat demikian, karena mereka menganggap bahwa derap kaki kuda itu merupakan satu persoalan yang tidak dapat diabaikannya. Meskipun ada juga di antara mereka yang sempat

tertidur satu dua kejap, namun para perwira itu merasakan sesuatu yang harus ditanggapi dengan sungguh-sungguh.

Tetapi agaknya tidak ada persoalan yang timbul yang merupakan kelanjutan dari derap kaki kuda semalam. Ketika cahaya fajar nampak dilangit, maka setiap orang dalam pasukan itu telah mempersiapkan diri. Mereka sempat pergi ke sungai untuk mandi sebelum mereka mendapat rangsum makan pagi.

Pada saat matahari terbit, maka pasukan itu sudah siap untuk meneruskan perjalanan. Sebagaimana dihari sebelumnya, maka pasukan itu dengan sengaja telah memasang rontek, umbul-umbul dan kelebet pada tunggul-tunggul yang didapatnya dari Jipang.

Tetapi sekali lagi pasukan itu dikejutkan oleh kehadiran pihak yang tidak mereka kehendaki. Ketika pasukan itu sudah siap untuk berangkat, tiba-tiba saja mereka telah dikejutkan pula oleh derap kaki kuda. Dari balik gerumbul disebelah lapangan perdu di luar hutan kecil itu, dua ekor kuda telah berlari kencang meninggalkan pasukan yang termangu-mangu itu.

“Kami akan mengejarnya,” desis pemimpin pasukan berkuda yang ada di antara para pengawal.

Tetapi perwira Jipang yang memimpin pasukan itu menggeleng, “Tidak perlu. Hanya akan memperlambat perjalanan kita. Apalagi belum tentu kalian dapat menyusul kedua penunggang kuda yang mendapat kesempatan lebih dahulu untuk berlari itu.” Pemimpin pasukan berkuda itu pun menarik nafas dalam-dalam seakan-akan ingin mengendapkan gejolak perasaannya.

Sejenak kemudian maka pasukan itu pun mulai bergerak. Seperti dihari sebelumnya, maka para pengawal telah berjalan dengan dada tengadah. Meskipun perjalanan mereka cukup lamban, namun tidak mengurangi kesigapan seluruh pasukan.

Dalam pada itu, dua ekor kuda telah berlari membawa penunggangnya mendahului pasukan yang keluar dari hutan kecil itu. Mereka sadar, bahwa mereka tidak dikejar oleh para pengawal, sehingga karena itu, maka mereka tidak terlalu

tergesa-gesa.

Seorang di antaranya kemudian berkata, “Bagaimana pendapat Ki Tumenggung?” “Agaknya Wiradana benar-benar menjadi sakit hati,” berkata orang yang disebut Ki Tumenggung itu.

“Dan Ki Tumenggung telah menyaksikan sendiri,” desis pengawalnya.

“Ya. Aku sekarang percaya,” jawabnya. “Ketika aku mendapat laporan tentang pemberontakan yang dilakukan oleh Tanah Perdikan Sembojan apalagi dengan menerima para perwira dari Jipang aku kurang percaya. Ki Wiradana telah menemui aku untuk membicarakan kedudukannya sebagai Kepala Tanah Perdikan. Tetapi aku tidak dapat memenuhinya dengan segera karena persoalan yang timbul antara Pajang dan Jipang. Meskipun demikian aku sudah menyanggupinya untuk menyelesaikan persoalannya jika keadaan telah memungkinkan. Tetapi agaknya ia telah memilih langkah yang salah.”

“Bagaimana laporan tentang istrinya yang bernama Warsi?” bertanya pengawalnya. “Ya. Semuanya sudah kita ketahui. Petugas sandi kita telah mendapat banyak keterangan,” berkata Ki Tumenggung. “Tetapi agaknya kita memang terlambat. Kita baru mengandalkan pengamatan yang luas setelah kita melihat kehadiran

orang-orang Jipang di Tanah Perdikan Sembojan,” jawab Ki Tumenggung. “Tetapi kita memang tidak menduga sama sekali, bahwa hal itu akan terjadi di Tanah Perdikan Sembojan.”

“Sepeninggalan Ki Gede, Sembojan benar-benar menjadi rusak,” berkata pengawalnya kemudian.

“Tetapi nampaknya Wiradana masih juga harus memikirkan kemungkinan- kemungkinan

yang dapat terjadi di Tanah Perdikan itu. Aku tidak yakin bahwa semua orang Tanah Perdikan itu menerima sikap Ki Wiradana, terutama untuk berdiri di belakang Jipang,” berkata Ki Tumenggung. “Karena agaknya Wiradana hanya ingin

untuk segera mendapatkan kedudukannya sebagai kepala Tanah Perdikan sepenuhnya. Agaknya Jipang menyanggupinya dan sekaligus untuk melindunginya.”

“Ki Tumenggung,” bertanya pengawalnya. “Kenapa pada saat ia menghadap Ki Tumenggung tidak segera menyelesaikan saja persoalannya sehingga kemungkinan Tanah Perdikan itu dipengaruhi oleh Jipang dapat diperkecil.”

“Sudah aku katakan. Kanjeng Adipati sedang sibuk. Bahkan nampaknya perkembangannya menjadi semakin buruk. Sementara Ki Wiradana juga belum menemukan pertanda kekuasaan Tanah Perdikannya. Meskipun aku juga sudah menyanggupinya, seandainya tanda itu tidak diketemukan, aku akan berusaha memecahkan persoalannya karena semua orang mengetahui, bahwa Wiradana memang anak laki-laki satu-satunya dari Ki Gede Sembojan,” jawab Ki Tumenggung.

Pengawalnya mengangguk-angguk. Nampaknya Ki Tumenggung memang sudah berusaha

untuk berbuat sebaik-baiknya. Tetapi ternyata Wiradana tidak mau menerima keadaan itu. Ia justru tergesa-gesa berpaling kepada Jipang.

Meskipun demikian Ki Tumenggung masih juga berkata,

“Memang mungkin sekali Ki Wiradana berada dibawah pengaruh istrinya yang ternyata mampu mengalahkannya di permainan sodoran sebagaimana aku mendengar laporan tentang hal itu.”

Pengawalnya mengangguk-angguk, sementara Ki Tumenggung Wirajaya kemudian justru

memacu kudanya semakin cepat. Namun tidak seorang pun yang akan mengetahuinya, bahwa ia adalah seorang Tumenggung dalam pakaian sederhana yang dikenakannya.

Sementara itu pasukan Tanah Perdikan Sembojan merambat dengan lamban mendekati tujuan. Tetapi tujuan itu masih cukup jauh.

Di Tanah Perdikan Sembojan, maka atas permintaan Warsi, Ki Wiradana telah menghimpun anak-anak muda yang masih ada. Pengawal-pengawal padukuhan yang tersisa itu pun telah mendapatkan latihan-latihan yang keras. Duapuluh lima

orang pengawal khusus yang ditinggalkan di Tanah Perdikan Sembojan telah mengumpulkan anak-anak muda dari padukuhan-padukuhan untuk ditempa menjadi pengawal yang baik.

“Mungkin pasukan kita dihadapan Pajang memerlukan bantuan,” berkata Warsi. “Aku tidak akan mengirimkan pengawal lagi ke luar Tanah Perdikan,” berkata Ki Wiradana.

Tetapi Warsi tertawa. Katanya, “Kau tidak dapat menentang kehendak kami. Disini ada aku, ada kakek Randukeling, ada ayah yang sebenarnya dan ada orang yang aku sebut sebagai ayahku, tukang gendang itu. Dan disini juga ada Ki Rangga Gupita.”

Wajah Wiradana menjadi tegang. Tetapi sebenarnyalah bahwa disekitarnya terdapat orang-orang yang dapat memaksanya untuk berbuat apa saja. Bahkan seandainya yang ada hanya Warsi sendiri pun, ia tidak akan dapat menentang kehendaknya, karena

ia sadar, bahwa ia tidak akan mampu mengimbangi ilmu istrinya yang cantik itu. Selain latihan-latihan yang berat, maka pajak pun terasa terlalu menekan. Tetapi

Tanah Perdikan Sembojan memerlukan dana bagi perjuangannya. Meskipun Jipang juga memberikan dana bagi pasukan yang berangkat ke Pajang, tetapi Tanah Perdikan itu sendiri masih harus menutup kekurangannya dan membiayai para pengawal yang ada

di Tanah Perdikannya sendiri.

Ki Wiradana yang untuk beberapa lama telah menutup mata dan telinganya atas keadaan rakyatnya, justru mulai melihat dan mendengar, betapa rakyatnya menjadi semakin mengalami banyak kesulitan untuk memenuhi kewajiban mereka membayar pajak yang semakin tinggi. Dalam pada itu, Ki Rangga Gupita yang akan menyusul pasukan ke Pajang itu ternyata masih juga belum berangkat. Namun yang bagi ki Wiradana merupakan duri di dalam dagingnya. Selain Ki Rangga itu membayangi pemerintahan yang dilakukannya di atas Tanah Perdikan Sembojan bersama beberapa orang yang lain, nampaknya Ki Rangga Gupita itu pun menjadi semakin akrab dengan istrinya.

Namun semuanya itu harus tetap disimpannya saja di dalam hatinya. Perasaannya yang terasa sangat pahit, serta penyesalan yang tidak berkeputusan.

Bahkan ia masih harus menjalankan semua perintah orang-orang yang ada disekitarnya atas namanya sendiri meskipun bertentangan dengan perasaannya. Dalam pada itu, Ki Wiradana sedang berbicara dengan para pengawal khusus yang ditinggalkan, ia sempat bertanya kepada Ki Rangga, “Apakah Ki Rangga tidak ingin melihat keadaan pasukan kita yang berada di hadapan Pajang. Bukankah menurut perhitungan kita, pasukan itu sudah berada di sana?”

“Tentu sudah,” jawab Ki Rangga. “Sebenarnya aku ingin juga pergi ke Pajang. Tetapi aku masih harus menunggu, apakah Tanah Perdikan ini akan dapat menjaga dirinya dalam keadaan seperti ini.”

“Tetapi bukankah kita berkepentingan untuk melihat keadaan pasukan kita yang berada di Pajang?” bertanya Ki Wiradana.

“Tentu,” jawab Ki Rangga. “Tetapi aku sudah mendapat laporan bahwa mereka telah berada ditempat tujuan. Mereka telah bergabung dengan pasukan kecil prajurit Jipang yang akan berbaur dengan mereka, agar pasukan itu menjadi semakin kuat. Nah, bukankah dengan demikian, aku tidak perlu tergesa-gesa pergi ke Pajang?

Apalagi menurut pengamatan sandi, prajurit Pajang memang belum bergerak.” Wiradana hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat mengusir Ki Rangga, karena Ki Rangga mempunyai kedudukan yang kuat di antara orang-orang yang berada disekitarnya. Bahkan Ki Rangga adalah orang yang mendapat kepercayaan yang besar dari pada pemimpin di Jipang.

Pada saat-saat Ki Wiradana berada di antara duapuluh lima orang pengawal khususnya yang terlatih, kadang-kadang memang timbul niat Ki Wiradana untuk menentukan sikap. Bersama keduapuluh lima orang itu, ia berhadap akan dapat menghadapi orang-orang yang mengelilinginya dengan sikap yang sangat menyakitkan hati. Ditambah dengan para pengawal di padukuhan-padukuhan yang sedang mengadakan latihan-latihan yang keras.

Namun Ki Wiradana tidak berani untuk memulainya. Para pengawal itu bersikap asing terhadapnya. Mereka justru lebih akrab dengan Ki Rangga Gupita. Bahkan setiap kali para pengawal itu selalu menyebut dan memuji para perwira Jipang yang pernah menjadi pelatih mereka.

Tetapi ternyata bahwa Ki Wiradana tidak cukup cermat mengamati keadaan pasukan khususnya yang tinggal duapuluh lima orang itu. Di antara mereka terdapat

orang-orang yang meragukan sikap Tanah Perdikan Sembojan. Meskipun demikian, perasaan itu seakan-akan hanya disimpannya saja didalam hati.

Karena itu, maka selanjutnya, Wiradana harus menjalani satu kehidupan yang sangat pahit. Meskipun dimata orang-orang Tanah Perdikan Sembojan ia adalah seorang pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan, namun sebenarnyalah yang dilakukan tidak lebih dari menjalankan perintah Warsi, penari jalanan yang

berhasil menyusup memasuki rumahnya dan bahkan menginjak-injak harga diri dan martabatnya.

Dengan demikian, maka yang selanjutnya mengatur Tanah Perdikan yang sebenarnya adalah Warsi atas nasihat dan petunjuk dari kakeknya, ayahnya dan Ki Rangga Gupita.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Tanah Perdikan Sembojan digelisahkan oleh kedatangan seorang penghubung dari Jipang yang bertugas di Pajang. Dengan tergesa-gesa orang itu berusaha untuk dapat bertemu dengan Ki Rangga Gupita dan Ki Wiradana.

“Ada apa?” tanya Ki Randukeling ketika mereka sudah duduk di pendapa. “Agaknya Pajang mulai bergerak,” berkata penghubung itu. “Ki Rangga dimohon untuk dapat datang ke Pajang. Mereka memerlukan pertimbangan Ki Rangga.” “Seandainya Pajang mulai bergerak, apa yang dilakukan?” bertanya Ki Rangga. “Mereka menyusun kekuatan di hadapan pasukan Jipang dan Tanah Perdikan Sembojan,” jawab penghubung itu.

“Apakah kau sudah menghubungi pasukan Jipang yang berada disebelah Barat Pajang?” bertanya Ki Rangga.

“Sudah ada penghubung yang pergi ke sebelah Barat Pajang. Tetapi agaknya pasukan Pajang memang menggerakan pasukkannya untuk menghadapi kedua kekuatan Jipang,” jawab penghubung itu.

“Apakah pasukan Pajang yang berada dihadapan pasukan Jipang disebelah-menyebelah Bengawan sudah ditarik?” bertanya Ki Randukeling.

“Belum,” jawab penghubung itu. “Tetapi ternyata bahwa Pajang masih menyimpan kekuatan untuk melindungi Kota Rajanya.”

Ki Rangga termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Aku akan pergi ke Pajang bersama Ki Wiradana. Mudah-mudahan ia dapat memantapkan tekad para pengawal Tanah Perdikan.

“Biarlah ia berada disini menunggui anaknya,” sahut Ki Randukeling. “Akulah yang akan ikut bersamamu.”

Ki Rangga mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Jika demikian kita akan berangkat bersama.”

Sebagai seorang perajurit maka Ki Rangga tidak perlu menunggu esok. Ia pun segera berkemas untuk bersama-sama Ki Randukeling dan penghubung itu pergi ke Pajang. Sementara itu Warsi, ayahnya dan orang yang diaku sebagai ayahnya itu akan menunggui Tanah Perdikan Sembojan bersama Ki Wiradana.

Namun sebenarnyalah bahwa kepergian Ki Rangga dan Ki Randukeling itu tidak lepas dari pengamatan seseorang. Petugas sandi dari Pajang masih belum tahu, tentang

dua orang yang akan dapat memberikan pertimbangan-pertimbangan bagi pasukan Jipang dan Tanah Perdikan Sembojan yang berada dihadapan Pajang. Tetapi pihak lain ternyata melihat keduanya meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan bersama seorang penghubung yang mereka anggap sebagai seorang pengawal.

Karena itu, maka padepokan kecil yang agak jauh dari padukuhan induk Tanah Perdikan pun segera mengetahuinya pula.

"Jadi Randukeling tidak ada ditempat?" bertanya Kiai Soka.

"Mereka pergi yang mungkin sekali ke arah pasukannya yang berada di Pajang," jawab Sambi Wulung yang lebih banyak berada di Tanah Perdikan Sembojan daripada di padepokan kecil itu, karena ia adalah orang yang tidak dikenal di Tanah

Perdikan Sembojan.

Kiai Soka mengangguk-angguk. Katanya, "Kita mendapat peluang untuk bermain-main di Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi di samping itu, kita sudah sepantasnya

membuat hubungan dengan Pajang. Agaknya memang sudah waktunya, sehingga kita akan dapat menyesuaikan diri dengan langkah-langkah yang diambil Pajang."

Sambi Wulung mengangguk pula. Tetapi ia masih bertanya, "Apakah kita akan pergi ke Pajang?"

"Salah seorang di antara kita akan pergi ke Pajang," jawab Kiai Soka. "Kita

dapat membicarakan banyak hal. Antara lain tentang Tanah Perdikan Sembojan. Anak Wiradana yang lahir dari Iswari itu pun berhak atas Sembojan. Apalagi ia mempunyai pertanda kebesaran Tanah Perdikan Sembojan." "Siapakah di antara kita yang akan pergi?" bertanya Sambi Wulung.

"Biarlah kakek buyutnya. Mungkin Kiai Badra masih dapat mengenali kembali sahabat-sahabatnya pada masa lampau yang sekarang berada di Pajang," berkata Kiai Soka.

Kiai Badra yang sedang berada di padepokan adik perempuannya itu pun menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Aku menurut saja keputusan kalian. Jika aku yang harus pergi, maka aku akan pergi."

"Kiai Badra tentu akan sampai ke Pajang," berkata Kiai Soka kemudian. "Meskipun seandainya ia bertemu dengan pasukan Jipang dan Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan dengan Ki Randukeling sekalipun."

Kiai Badra hanya tersenyum saja. Katanya, "Doakan agar aku selamat sampai ke tujuan." Kiai Badra berhenti sejenak, lalu, "Tetapi aku akan membawa Gandar bersamaku."

"Silakan," jawab Kiai Soka. "Sementara itu kami yang tinggal akan menyiapkan rombongan penari yang sudah beberapa lama tidak hadir di Tanah Perdikan Sembojan.

"Tetapi tunggu aku kembali dari Pajang," jawab Kiai Badra.

"Tentu. Siapakah pengendangnya jika kau tidak ikut bersama dengan rombongan itu," sahut Kiai Soka.

"Bukankah kau juga seorang pengendang yang baik?" bertanya Kiai Badra. "Tetapi kakanglah yang lebih sesuai dengan penarinya," Nyai Soka ikut memotong pembicaraan itu.

Kiai Badra tertawa. Namun katanya kemudian, "Besok aku akan pergi ke Pajang. Aku akan melihat pasukan Tanah Perdikan Sembojan itu."

Seperti yang dikatakannya, maka di keesokan harinya, Kiai Badra dan Gandar pergi ke Pajang untuk membuat hubungan dengan beberapa orang Pajang tentang Tanah Perdikan Sembojan yang sudah jelas berpihak kepada Jipang.

Untuk mempermudah perjalanannya, maka Kiai Badra dan Gandar sengaja tidak membawa kuda. Mereka berjalan kaki saja menyusuri jalan-jalan setapak yang memintas menuju ke Pajang.

Tetapi seperti yang dikatakan oleh Kiai Badra, ia ingin melihat pasukan Tanah Perdikan Sembojan yang berada dibawah pimpinan orang-orang Jipang. "Randukeling ada disana," berkata Gandar. "Karena itu, kita harus berhati-hati," jawab Kiai Badra.

Namun Kiai Badra dan Gandar adalah orang-orang yang memiliki ilmu linuwih. Dengan kelebihan yang ada pada mereka, maka mereka berusaha untuk melakukan rencana mereka sebaik-baiknya.

Keduanya yang tidak langsung ke Pajang itu, ternyata berhasil mendekati pasukan Tanah Perdikan Sembojan yang membuat pesanggrahan disebuah padukuhan kecil namun

memiliki pagar yang cukup baik dipergunakan sebagai benteng pertahanan. Tanpa menghiraukan penghuni padukuhan itu, pasukan yang telah bergabung dengan orang-orang Jipang yang dikirim langsung ke tempat itu, tinggal sekehendak hati. Bukan saja rumah Ki Bekel padukuhan itu dan banjarnya, tetapi juga rumah-rumah orang yang terhitung kecukupan telah mereka pergunakan. Bahkan mereka tidak saja

mengambil beras dari persediaan yang mereka bawa dengan pedati-pedati dari Tanah Perdikan Sembojan, tetapi mereka telah mengambil pula dari lumbung-lumbung rakyat padukuhan itu.

Kecuali langsung mengadakan pengamatan ke dalam padukuhan itu di malam hari,

Kiai Badra juga berusaha untuk dapat membuat hubungan dengan penghuni padukuhan itu ketika mereka berada di sawah. Dengan demikian, maka Kiai Badra dan Gandar mendapat gambaran yang cukup tentang pasukan Tanah Perdikan Sembojan itu.

Dengan tambahan bekal itulah, maka Kiai Badra telah pergi meneruskan perjalanannya memasuki Pajang.

Tetapi yang pertama-tama ditemui oleh Kiai Badra adalah seorang yang pernah dikenalnya dengan baik. Kemudian oleh orang itu Kiai Badra akan dibawa langsung menghadap Ki Tumenggung Wirajaya.

“Jika kau ingin berbicara tentang Tanah Perdikan, berbicaralah dengan Ki Tumenggung Wirajaya. Menurut pengetahuanku, ia mendapat tugas untuk mengurusi beberapa Tanah Perdikan yang ada di lingkungan Kadipaten Pajang,” berkata

sahabat Kiai Badra itu.

“Terima kasih,” sahut Kiai Badra yang sudah agak lama tidak saling bertemu. “Tetapi dengan syarat,” berkata orang itu. “Jika kau minta aku mengantarmu, maka nanti malam kau harus bermalam dirumahku.”

Kiai Badra tersenyum. Katanya, “Sebenarnya aku ingin minta kepadamu untuk diijinkan bermalam. Tetapi aku takut mengucapkannya. Tiba-tiba kau menawarkannya kepadaku. Nah, apakah aku akan menolaknya.” Kawannya yang sudah setua Kiai Badra itu tertawa. Katanya, “Kau masih sama dengan yang beberapa tahun yang lalu.”

“Aku tidak akan berubah. Tetapi kau harus mengetahui, bahwa perjalananku kali ini adalah perjalanan yang tersembunyi,” berkata Kiai Badra.

“O,” orang itu tertawa berkepanjangan. “Kau agaknya membawa tugas rahasia. He, apakah kau sekarang justru menjadi petugas sandi Tanah Perdikan Sembojan? Justru setelah kau menjadi setua itu.”

“Ah, kau ini ada-ada saja. Tugasku adalah tugas pribadi. Tetapi apakah tidak mungkin ada rahasia bagi pribadi yang khusus?” bertanya Kiai Badra.

“Kau memang seorang pribadi yang aneh. Agaknya rahasia itu adalah rahasia kehidupanmu selama ini. Kau mengaku sebagai seorang pertapa. Tetapi mungkin terjadi sesuatu atasmu sehingga kau harus berhubungan dengan Ki Wirajaya,” berkata sahabatnya itu.

“Apapun yang kau katakan. Tetapi jika kau tidak berjanji untuk merahasiakan persoalan pribadi ini, aku tidak mau bermalam di rumahmu,” berkata Kiai Badra. Orang itu tertawa. Namun katanya kemudian, “Mari aku antar kau menghadap Ki Tumenggung Wirajaya.”

Demikianlah, maka Kiai Badra dan Gandar pun telah di antar menghadap Ki Tumenggung Wirajaya. Ternyata sahabat Kiai Badra adalah seorang yang telah mengenal baik Ki Tumenggung, sehingga dengan demikian, maka ia tidak mengalami kesulitan untuk mendapatkan waktu menghadap.

Ki Tumenggung Wirajaya menerima tamu-tamunya dengan ramah, sebagaimana kebiasaannya. Betapapun ia berhati-hati menghadapi seseorang, tetapi ia tetap seorang yang ramah.

Sabahat Kiai Badra itu pun kemudian memperkenalkannya kepada Ki Tumenggung Wirajaya serta mengutarakan maksudnya untuk menghadap. “Terserah kepada Ki Tumenggung. Bagaimana Ki Tumenggung menanggapi maksud Kiai Badra itu.

KI TUMENGGUNG Wirajaya mengangguk-angguk. Namun ia masih bertanya, “Jadi Kiai mempunyai keterangan tentang Tanah Perdikan Sembojan.”

“Ya Ki Tumenggung, meskipun barangkali Ki Tumenggung sudah mengetahuinya,” jawab

Kiai Badra.

“Sebagian dari persoalan yang menyangkut Tanah Perdikan itu memang sudah aku ketahui. Bahkan aku telah melihat sendiri pasukan Tanah Perdikan Sembojan yang kini berada di hadapan Pajang disisi Timur,” berkata Ki Tumenggung.

Kiai Badra mengangguk. Tetapi ia pun kemudian berkata, “Ya Ki Tumenggung. Bahkan saat ini dua orang terpenting dari Tanah Perdikan Sembojan dan Jipang telah

berada di antara mereka.”

“Siapa?” bertanya Ki Tumenggung.

“Ki Rangga Gupita dan Ki Randukeling,” jawab Kiai Badra.

“Rangga Gupita,” Ki Tumenggung Wirajaya mengulangi. “Aku mengenal Rangga Gupita. Ia memang seorang yang memiliki ilmu yang luar biasa. Tetapi aku belum mengenal orang yang bernama Ki Randukeling.”

“Ki Randukeling adalah seorang pertapa. Ia adalah orang keluarga Kalamerta yang termasuk dalam tataran tertinggi di samping Kalamerta sendiri. Ia adalah paman Kalamerta itu,” jawab Kiai Badra.

Ki Tumenggung Wirajaya mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian, maka Pajang tidak boleh bermain-main dengan pasukan Tanah Perdikan itu. Sementara itu Pajang memang sudah bergerak dan menempatkan pasukan untuk menghadapi pasukan gabungan

antara pasukan Jipang dan Tanah Perdikan Sembojan itu. Tetapi agaknya Pajang harus menempatkan orang-orang yang memiliki ilmu yang cukup tinggi, agar pasukan Pajang tidak menjadi rusak oleh Ki Rangga Gupita dan Ki Randukeling. Jika ada

dua orang meskipun ilmunya tidak setingkat Ki Rangga dan Ki Randukeling, namum mempunyai bekal yang cukup, maka bersama-sama dalam kelompok kecil, mereka akan dapat menahan kedua orang itu di samping para perwira yang lain.”

Kiai Badra yang sependapat dengan Ki Tumenggung menyahut, “Agaknya Pajang memang

harus bersungguh-sungguh menghadapi pasukan itu. Meskipun pasukan itu datang dari Tanah Perdikan, tetapi sebagian besar dari mereka telah mempunyai bekal

yang memang dipersiapkan dengan sungguh-sungguh oleh para perwira Jipang yang berpengalaman.”

Ki Tumenggung dengan nada datar menyahut, “Pajang mencoba untuk menghimpun para

pengawal dari Kademangan-kademangan di sekitar Kota Raja. Tetapi mereka tentu hanya dapat dipergunakan sebagai pelengkap saja. Di antara mereka harus ada kekuatan yang sebenarnya. Dan kekuatan yang sebenarnya itu harus diperhitungkan sungguh-sungguh dalam keadaan seperti itu.” Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “Sebagian besar kekuatan Pajang ditarik untuk menghadapi Jipang di seberang Bengawan Sore. Tetapi pasukan Jipang pun sebagian besar ada disana pula.

Ki Tumenggung mengerutkan keningnya. Hampir diluar sadarnya ia berpaling kepada sahabat Kiai Badra yang membawanya menghadap Ki Tumenggung.

Agaknya sahabat Kiai Badra itu mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Ki Tumenggung sehingga kemudian ia berkata, “Orang ini dapat dipercaya Ki Tumenggung.”

Ki Tumenggung tersenyum. Katanya, “Sejak aku melihatnya, maka aku pun telah berpendapat, bahwa Kiai Badra adalah seorang yang dapat dipercaya.”

“Mudah-mudahan Ki Tumenggung,” berkata Kiai Badra, “Namun demikian, kedatanganmu

menghadap Ki Tumenggung bukannya tanpa pamrih pribadi.”

Ki Tumenggung memandang Kiai Badra dengan tajamnya. Dengan nada datar ia bertanya, “Apakah yang kau maksudkan?”

“Aku adalah seorang yang berkepentingan dengan jabatan Kepala Tanah Perdikan,” berkata Kiai Badra.

“Tanah Perdikan?” bertanya Ki Tumenggung, “Bukankah satu-satunya orang yang berhak menjadi Kepala Tanah Perdikan Sembojan seharusnya adalah Ki Wiradana?”

“YA Ki Tumenggung. Yang pantas menjadi Kepala Tanah Perdikan Sembojan seharusnya adalah Ki Wiradana. Tetapi ternyata bahwa Ki Wiradana telah berpihak kepada

Jipang,” berkata Kiai Badra.

“O, itu persoalan lain. Itu adalah pemberontakan yang harus diselesaikan dengan cara yang wajar bagi sebuah pemberontakan,” jawab Ki Tumenggung.

“Namun dengan demikian, ada satu kemungkinan bahwa Tanah Perdikan Sembojan akan

dihapuskan atau jatuh ketangan yang bukan keturunan Ki Gede Sembojan,” berkata Kiai Badra.

Ki Tumenggung Wirajaya mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Wiradana

memang pernah datang kepadaku untuk menyelesaikan persoalan jabatannya. Tetapi pada saat ia datang, Pajang sedang sibuk menghadapi persoalan Demak. Apalagi

Jipang telah menyatakan diri untuk mengambil kepemimpinan Demak, karena menurut Jipang, jalur yang benar adalah jalur Jipang. Dengan demikian, maka aku minta Ki Wiradana bersabar sambil mencari pertanda kebesaran Tanah Perdikan Sembojan yang katanya hilang.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Nampaknya jalan telah terbuka untuk menyampaikan niat kedatangannya yang sebenarnya. Karena itu, maka ia pun kemudian berkata,

“Ki Tumenggung. Jika diperkenankan, aku ingin menyampaikan persoalan jalur kekuasaan Tanah Perdikan itu, selagi belum jatuh keputusan Pajang atas Tanah Perdikan itu, justru karena Ki Wiradana dapat dianggap memberontak melawan Pajang.”

“Apa yang ingin kau sampaikan?” bertanya Ki Tumenggung.

Kiai Badra termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Tanda kebesaran Tanah Perdikan Sembojan ada padaku.”

“Pada Kiai Badra?” Ki Tumenggung memandanginya dengan heran.

“Ya Ki Tumenggung. Mungkin memang sudah menjadi garis yang dikehendaki oleh Yang Maha Adil, maka tanda yang berupa sebuah bandul itu ada padaku,” jawab Kiai

Badra.

Ki Tumenggung memandang wajah Kiai Badra dengan tajamnya. Dengan nada datar ia berkata, “Bandul dengan lukisan kepala seekor burung?”

“Ya Ki Tumenggung,” jawab Kiai Badra. Ia tidak ingin sekadar menyebutnya. Tetapi ia pun kemudian mengambil dari kantong ikat pinggangnya. Bandul yang merupakan pertanda jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Untuk beberapa saat Ki Tumenggung Wirajaya termangu-mangu. Tetapi sejenak kemudian Ki Tumenggung itu pun bertanya, “Ki Wiradana pernah mengatakan bahwa bandul itu telah hilang. Bagaimana mungkin bandul itu sampai ke tangan Kiai?” Apakah Kiai menemukannya atau merampasnya dari Ki Gede Sembojan?”

“Aku memang menunggu pertanyaan Ki Tumenggung itu,” sahut Kiai Badra. Kiai Badra pun menceriterakan apa yang sesungguhnya pernah terjadi di Tanah

Perdikan Sembojan. Tentang cucunya yang tersingkir, bahkan hampir saja menjadi korban pembunuhan, seandainya tidak terjadi satu keajaiban karena kasih Yang Maha Agung, yang telah menyelamatkan dengan langsung menggerakkan hati perempuan

yang disebut Serigala Betina itu. Kemudian lahir cicitnya laki-laki dan setelah itu lahir pula anak laki-laki Ki Wiradana dari istrinya yang kedua, Warsi yang ternyata adalah keluarga Kalamerta.

Ki Tumenggung mendengarkan keterangan Kiai Badra dengan seksama. Sekali-kali ia mengerutkan keningnya. Sekali-kali mengangguk-angguk. Bahkan kadang-kadang wajahnya menjadi tegang dan bersungguh-sungguh.

Demikian Kiai Badra selesai bercerita, maka Ki Tumenggung itu pun berdesis, “Aku dapat melihat persoalan ini dengan gamblang Kiai. Terima kasih atas keterangan yang Kiai berikan. Bukankah dengan demikian berarti bahwa Ki Wiradana telah berusaha melakukan pembunuhan terhadap istrinya yang sedang mengandung?

Kemudian

menyerahkan Tanah Perdikan itu dibawah pengaruh Jipang, sehingga ia dapat diartikan telah melakukan pemberontakan. Namun agaknya sekarang Ki Wiradana itu merupakan golek yang sekadar merupakan bayangan yang suram dari kekuasaan istrinya.”

“Benar Ki Tumenggung. Namun demikian, bukankah anak Wiradana yang lahir dari istrinya yang pertama tidak terpercik noda kesalahannya?” bertanya Kiai Badra.

Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Katanya, "Menurut pengamatanku sekilas, anak itu memang tidak bersalah."

"Dan anak itu mempunyai pertanda jabatan Kepala Tanah Perdikan," berkata Kiai Badra.Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Katanya, "Aku mengerti maksudmu. Baiklah,

hal ini telah aku dengar sebelum terlambat. Karena itu, pada saatnya, setelah persoalan yang lebih besar dapat diselesaikan, maka aku akan menyelesaikan persoalan Tanah Perdikan ini."

"Ki Tumenggung," berkata Kiai Badra. "Jika Ki Tumenggung tidak berkeberatan untuk memberikan izin, apakah anak Wiradana itu sebaiknya merebut kekuasaan

Tanah Perdikan dari ayahnya dan menempatkan Tanah Perdikan itu kembali ke dalam garis pemerintahan yang berkiblat kepada Pajang?"

Wajah Ki Tumenggung memancarkan keheranan yang bergejolak di dalam hatinya. Dengan nada tinggi ia bertanya, "Apakah yang akan dilakukan oleh anak Wiradana itu?"

"Sudah aku katakan, merebut kekuasaan atas izin Pajang. Bahkan mungkin perintah dari Pajang," jawab Kiai Badra. Ki Tumenggung masih termangu-mangu.

Sekali-sekali ia memandang ke arah sahabat Kiai Badra, yang membawanya menghadap. Seolah-olah Ki Tumenggung minta pertimbangannya.

"Maaf Ki Tumenggung," berkata sahabat Kiai Badra, "Aku bukan orang pemerintahan. Tetapi aku ingin menyampaikan sedikit pendapatku." "Apa?" bertanya Ki Tumenggung.

"Ki Tumenggung," berkata sahabat Kiai Badra. "Sekarang justru datang waktunya untuk menguji kesetiaan anak Wiradana itu terhadap Pajang. Jika ia berhasil

merebut kekuasaan dan mengarahkan kembali Tanah Perdikan itu kepada Pajang, maka anak itu akan berhak menjadi Kepala Tanah Perdikan Sembojan kelak. Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Katanya, "Aku mengerti. Yang akan mengalami pendadaran tentu bukan termasuk kakeknya. Tetapi pikiran itu memang menarik,"

Ki Tumenggung berhenti sejenak. Namun kemudian katanya, "Tetapi bukan aku pemimpin tertinggi Kadipaten Pajang. Namun karena Kanjeng Adipati berada di pesangrahan menghadapi pasukan Arya Penangsang, Adipati Jipang, maka aku akan berbicara dengan beberapa orang pemimpin yang ada sehingga keputusannya akan menjadi tanggung jawab bersama. Jika saatnya Kanjeng Adipati Hadiwijaya kembali, maka kami, bersama-sama akan menyampaikan pertanggung jawaban itu."

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, "Baiklah Ki Tumenggung. Tetapi sampai kapan kami harus menunggu?"

"Hari ini persoalannya akan aku bicarakan. Besok kau akan mendapat keterangan," jawab Ki Tumenggung.

Kiai Badra mengangguk-angguk. Ternyata bahwa Ki Tumenggung Wirajaya bergerak cepat, sehingga persoalannya tidak akan menjadi terlambat. Sementara itu sahabat Kiai Badra itu pun berkata, "Dengan demikian akan di dapat keuntungan timbal balik. Tanah Perdikan Sembojan akan bergolak, sehingga Tanah Perdikan yang besar itu tidak akan dapat mengirimkan pasukan bantuan kepada pasukannya yang ada

dihadapan Pajang. Bahkan sebaliknya, Tanah Perdikan Sembojan justru akan menarik sebagian dari para pengawalnya untuk mengatasi kemelut di Tanah Perdikan

sendiri."

Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Besok bawalah Kiai Badra ini kembali kepadaku.”

Demikianlah, maka Kiai Badra pun kemudian mohon diri bersama Gandar dan sahabatnya, orang Pajang itu. Dengan penuh harapan Kiai Badra harus menunggu sampai esok.

“Nah, aku menagih janji,” berkata sahabatnya. “Apa?” bertanya Kiai Badra.

“Kau memang sudah pikun,” jawab sahabatnya itu. “Bukankah kau berjanji untuk tinggal di rumahku ini? He orang di rumah tentu sudah menyembelih tiga ekor ayam hari ini.”

“Tiga?” ulang Kiai Badra.

“Ya. Kami ingin menjamu kalian,” berkata sahabatnya itu. “Tetapi tiga ekor,” desis Kiai Badra.

“Bukankah biasanya kau sendiri menghabiskan seekor ayam?” bertanya sahabat Kiai Badra itu.

Kiai Badra tertawa. Gandar pun ikut tertawa. Tetapi dengan nada rendah sahabat Kiai Badra berkata, “Memang tiga ekor. Tetapi ayam kemanggang.”

“Uh,” desis Gandar. “Ketiganya aku sanggup menghabiskannya. Ketiga orang itu tertawa.

Malam itu Kiai Badra dan Gandar bermalam di rumah sahabatnya. Ternyata bahwa sahabat Kiai Badra itu juga menaruh minat atas keadaan Tanah Perdikan Sembojan, sehingga karena itu, maka ia pun akan ikut berusaha untuk meyakinkan, agar pajang menyetujui rencana Kiai Badra. Atas nama cicitnya, merebut kembali Tanah

Perdikan Sembojan dari kekuasaan orang-orang yang tidak bertanggung jawab, yang justru adalah keluarga Kalamerta. Bahkan Gandar pun berkata, “Satu kemungkinan, bahwa kematian Ki Gede Sembojan pun telah direncanakan dari dalam.”

“Aku memastikannya,” desis sahabat Kiai Badra.

Dengan demikian, maka Kiai Badra telah memantapkan tekadnya untuk berbuat sebagaimana dikatakannya. Merebut kembali, jika perlu dengan kekerasan.

Kesempatan yang ada justru memberikan peluang yang seluas-luasnya karena kekuatan Tanah Perdikan Sembojan berada di Pajang.

Malam rasa-rasanya berjalan lamban sekali. Kiai Badra ingin segera bertemu

kembali dengan Ki Tumenggung Wirajaya untuk mendapat keterangan, apakah pajang setuju jika Kiai Badra akan mengambil alih pemerintahan di Sembojan dengan kekerasan.

Namun akhirnya malam pun berakhir. Meskipun rasa-rasanya matahari malas sekali naik ke atas punggung pegunungan, tetapi Kiai Badra sudah merasa tenang, bahwa sebentar lagi ia akan mendengar kepastian itu dari Tumenggung Wirajaya.

Memang agak tergesa-gesa bahwa sebelum matahari memanjat sepenggalah, keduanya telah pergi ke rumah Ki Tumenggung Wirajaya, diikuti oleh Gandar.

Kedatangan mereka disambut dengan senyum sebagaimana yang selalu tampak dibibir Ki Tumenggung yang ramah itu. Kemudian ketiganya dipersilakan menunggu di ruang dalam. Demikian Ki Tumenggung menemui mereka, maka dengan serta merta Kiai Badra pun bertanya, “Maaf Ki Tumenggung”. Rasa-rasanya seperti kanak-kanak yang menunggu oleh-oleh dari ibunya yang pergi ke pasar. “Seakan-akan aku tidak sabar lagi.

Karena perkenanlah aku mendengar keputusan yang telah diambil?”

Ki Tumenggung tersenyum, katanya, “Baiklah Kiai. Aku mengerti kegelisahan yang selama ini bergejolak di dalam dada Kiai. Langkah yang salah yang diambil oleh

Ki Wiradana memang akan dapat berakibat kurang baik bagi anaknya. Apalagi sekarang Ki Wiradana mempunyai dua orang anak laki-laki. Yang seorang adalah anak laki-laki yang sehari-harinya dikenal sebagai anaknya yang akan berhak menggantikan kedudukannya, sementara yang seorang meskipun tidak dikenal oleh orang-orang Sembojan, namun justru mempunyai pertanda jabatan Kepala Tanah Perdikan.”

“Ya Ki Tumenggung,” jawab Kiai Badra. “Tetapi kami mohon satu keputusan yang adil. Karena meskipun tidak dikenal, tetapi anak Iswari itu adalah juga anak Wiradana.”

“Ya. Ya. Aku mengerti Kiai Badra,” jawab Ki Tumenggung. “Bahkan menurut urutan kelahiran, maka anak cucu Kiai telah lahir lebih dahulu dari seorang istri yang masih dapat dianggap sah, karena Iswari masih belum diceraikan. Justru karena ia dianggap mati.”

“Jadi, bagaimanakah keputusan Ki Tumenggung?” desak Kiai Badra.

Ki Tumenggung Wirajaya tertawa. Katanya, “Baiklah Kiai. Persoalan yang Kiai bawa telah aku sampaikan dalam satu pertemuan terbatas antara para pemimpin Pajang yang tidak ikut Kanjeng Adipati Hadiwijaya.”

“Dan hasilnya?” Kiai Badra tidak sabar.

Ki Tumenggung Wirajaya tertawa lebih keras, sementara Kiai Badra berkata, “Ki Tumenggung sengaja membuat jantungku rontok.”

“Baiklah Kiai. Aku akan mengabarkan hasil pembicaraanku,” berkata Ki Tumenggung. Lalu, “Sebenarnyalah persoalan yang Kiai Badra kemukakan itu sangat menarik.

Sebagian dari para pemimpin dengan serta merta menanggapi rencana Kiai dengan baik. Bahkan akhirnya kami memutuskan mendahului keputusan Kanjeng Adipati, bahwa Kiai bukan saja dibenarkan untuk merebut kembali Tanah Perdikan Sembojan dari tangan-tangan orang yang sekarang ini membayangi kekuasaan Ki Wiradana, tetapi Kiai mendapat perintah untuk melakukannya.”