-->

Suramnya Bayang-Bayang Jilid 20

Jilid 20

Bagaimana pun juga perwira dari Jipang itu menjadi berdebar-debar. Ia sadar, bahwa orang yang berpakaian lusuh itu mempunyai kelebihan daripadanya. Karena itu, maka untuk selanjutnya ia harus mengerahkan segenap tenaga dan kemampuan. Namun perwira dari Jipang itu tidak akan undur selangkah pun. Ia telah bertekad untuk menangkap orang itu. Apapun yang terjadi ia harus bertempur terus sebagaimana diajarkan pada jajaran prajurit Jipang.

Tetapi ternyata bahwa Sambi Wulung pun tidak ingin pertempuran itu menjadi berkepanjangan. Jika datang lagi sekelompok pengawal yang lebih besar, atau satu di antara mereka sempat membunyikan isyarat kentongan yang terdapat disetiap gardu, maka akibatnya akan menjadi semakin sulit. Karena itu, maka ia pun telah mengerahkan kemampuannya bermain pedang meskipun ia tidak mempergunakan pedangnya sendiri.

Pedang pendek yang merupakan ciri para pengawal di Tanah Perdikan Sembojan itu pun telah dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Putarannya berdesing

menyambar-nyambar. Semakin lama semakin cepat, sehingga perwira dari Jipang yang kemampuannya mulai susut itu menjadi semakin gelisah, karena arah serangan Sambi Wulung yang semakin membingungkan.

Sementara Sambi Wulung berusaha untuk segera mengakhiri pertempuran itu, maka Gandar dan Jati Wulung telah kehilangan lawan-lawannya. Para pengawal Tanah Perdikan Sembojan itu sama sekali sudah tidak mampu melawan lagi. Ada di antara mereka yang berusaha untuk mencapai kudanya agar dapat memberikan isyarat kepada kawan-kawannya, tetapi bandul timah yang hanya sekecil buah kemiri itu telah mengenai mata kakinya, sehingga rasa-rasanya kakinya telah menjadi lumpuh.

Keempat pengawal yang sudah tidak berdaya lagi itu hanya dapat menyaksikan pertempuran antara perwira Jipang dengan Sambi Wulung dengan jantung yang berdebar-debar. Mereka mengharap bahwa perwira Jipang itu akan dapat memenangkan

pertempuran itu dan kemudian mampu mengalahkan kedua orang pengembara yang lain.

Namun perwira Jipang itu pun tidak berpengharapan lagi ketika tubuhnya mulai terluka. Meskipun darah yang menitik dari tubuhnya itu menjadikannya semakin garang, tetapi kekuatannya pun menjadi semakin cepat susut.

Sementara itu, Gandar yang berdiri di antara kedua lawannya yang sudah tidak berdaya itu pun kemudian berkata, “Ada keinginan untuk sekali-kali membunuh pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi jika aku melakukannya, agaknya sangat kurang bijaksana. Karena itu, maka biarlah kalian tetap hidup untuk menjadi

saksi dari satu kenyataan, bahwa kalian bukan apa-apa. Perwira dari Jipang itu pun bukan apa-apa.”

Pengawal itu menggeram. Namun mereka benar-benar sudah tidak berdaya. Tulang-tulangnya bagaikan terlepas sendi-sendinya, sementara luka-lukanya yang kecil tetapi tersebar diseluruh tubuhnya itu terasa menjadi sangat pedih terkena oleh keringat mereka sendiri.

Sementara itu, lawan Jati Wulung yang seorang telah menjadi pingsan, sementara yang lain terbaring dengan kaki yang bagaikan lumpuh.

Pada saat-saat terakhir, maka pedang Sambi Wulung telah beberapa mengoyak tubuh perwira Jipang itu. Darah pun semakin banyak mengalir. Namun perwira itu sama sekali tidak menghentikan perlawanannya.

“Gila,” geram Sambi Wulung. Namun demikian sebenarnyalah bahwa ia tidak ingin membunuh. Yang dilakukannya hanya sekadar melukai lawannya untuk menghentikan perlawanannya.

Betapa garangnya perwira dari Jipang itu, namun ternyata bahwa pada satu saat,

batas kemampuannya itu pun telah dilampauinya. Karena itu, maka tubuhnya semakin lama menjadi semakin lemah. Selain karena perwira itu telah menitikkan banyak darah, ia pun benar-benar telah mengerahkan segenap tenaga dan kemampuannya sehingga pada saatnya telah terperas habis.

Dengan demikian, maka pada saatnya, orang Jipang itu seakan-akan sudah tidak mampu lagi mengayunkan pedangnya.

Pada saat yang demikian, maka Sambi Wulung pun telah melepaskan lawannya. Beberapa langkah ia mundur sambil memandangi perwira Jipang yang terhuyung-huyung itu.

Namun dengan garangnya perwira Jipang itu menggeram, “Akhir dari pertempuran adalah kematian. Aku masih hidup sehingga aku masih akan sanggup melawan dan bahkan membunuhmu.”

Tetapi Sambi Wulung menjawab, “Semua orang yang menyaksikan perkelahian ini akan dapat mengatakan, siapa yang kalah dan siapa yang menang. Kesombongan yang demikian sama sekali tidak ada harganya. Tetapi jika kau ingin mati, kau dapat membunuh dirimu sendiri, karena kau juga menggenggam pedang. Kau dapat menusuk tenggorokanmu atau kau dapat menusuk ke arah jantungmu.”

“Gila,” geram perwira dari Jipang itu. “Pengecut. Jika kau prajurit, kau harus berani melihat darah dan melihat lawanmu mati terkapar di tanah.”

“Aku bukan prajurit. Aku mencari kemenakanku. Tidak lebih,” berkata Sambi

Wulung. Namun kemudian katanya, “Tetapi aku memang berbohong. Aku tidak sedang mencari Iswari, tetapi aku ingin mengabarkan bahwa Iswari masih hidup.”

“Aku tidak peduli. Aku tidak berkepentingan dengan perempuan cengeng itu. Tetapi aku berkepentingan dengan kekuatan yang tersimpan di Tanah Perdikan ini,” teriak perwira Jipang itu.

“Tetapi kalian telah gagal untuk menempa mereka. Lihat keempat pengawal itu tidak berarti sama sekali menghadapi kawan-kawanku. Itukah hasil dari kerjamu disini? Dengan orang-orang semacam itukah kalian akan pergi ke Pajang, menghadapi prajuritnya Adipati Hadiwijaya? Sebutlah nama kakek nenekmu. Kau hanya akan mengirimkan tubuh-tubuh yang akan menjadi mayat di Pajang kelak. Sementara tenaga anak-anak muda ini sangat dibutuhkan bagi tanah Perdikannya.” “Tutup mulutmu,” teriak orang Jipang itu.

Sambi Wulung tidak menjawab. Tetapi dipandanginya Gandar sambil berkata, “Marilah. Kita tinggalkan tempat ini.”

Gandar mengangguk sambil menjawab, “Baiklah. Kita sudah terlalu lama berada di Tanah Perdikan Sembojan.”

“He, apakah kalian orang Pajang?” berteriak orang Jipang itu pula.

“Kami sama sekali tidak ada hubungannya dengan Pajang,” berkata Sambi Wulung. Lalu, “Maaf Ki Sanak. Kami terpaksa membawa kuda kalian. Kami memerlukannya. Tetapi yang lebih penting, kami akan dapat meninggalkan tempat ini dengan bebas tanpa diburu oleh isyarat yang akan kalian bunyikan.”

“Tidak,” teriak perwira dari Jipang itu. “Kalian tidak akan dapat meninggalkan tempat ini.”

Sambi Wulung berpaling ke arahnya. Tetapi perwira itu justru terhuyung-huyung. Pandangannya mulai berkunang-kunang.

Tetapi perwira itu masih tetap bertahan. Sorot matanya yang kabur itu masih tetap menyalakan kebencian. Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya kepada Gandar dan adik seperguruannya, “Marilah. Kita tinggalkan tempat ini.”

Ketiga orang itu pun kemudian melangkah menuju ke kuda-kuda yang tertambat. Sementara itu perwira dari Jipang itu berteriak kepada kedua orang petani yang berdiri termangu-mangu. “Cegah mereka. Cegah mereka. Cepat, pengecut.”

Tetapi kedua orang petani yang menyaksikan perkelahian itu dengan jantung yang berdegupan sama sekali tidak beringsut.

Dengan langkah-langkah yang tenang ketiga orang yang telah melawan para pengawal dan seorang perwira Jipang itu pun menuju dan kemudian meloncat ke

punggung-punggung kuda. Mereka memerlukan tiga ekor kuda. Tetapi dua ekor kuda yang lain pun ternyata tidak mereka tinggalkan.

“Aku terpaksa membawanya pula,” berkata Sambi Wulung.

Sejenak kemudian kuda-kuda itu pun mulai bergerak. Sementara perwira dari Jipang itu berteriak, “Tangkap mereka.”

Tetapi suaranya hilang ditelan angin yang bertiup semakin kencang di bulak itu. Yang kemudian terdengar adalah derap kaki-kaki kuda. Sedangkan pandangan mata perwira Jipang yang terluka itu menjadi semakin kabur, sehingga akhirnya perwira itu telah jatuh berlutut, dan bahkan kemudian jatuh terguling di tanah. Ternyata

ia pun telah menjadi pingsan.

Dalam pada itu, seorang pengawal yang kakinya bagaikan lumpuh, namun masih memiliki kesadaran sepenuhnya itu pun berteriak kepada para petani itu. “Cepat lari ke padukuhan terdekat. Panggil para pengawal yang bertugas dan bunyikan isyarat, agar semua pengawal bersiap. Perwira itu memerlukan pertolongan dengan cepat. Demikian juga kawan-kawan yang lain.”

Petani itu masih termangu-mangu. Namun pengawal itu sekali lagi membentak, “Lakukan. Atau kalian harus dianggap menentang para pengawal?”

Kedua orang petani itu menyadari, apa yang harus dilakukannya. Karena itu, maka mereka pun segera berlari ke padukuhan terdekat.

S

ejenak kemudian telah terdengar isyarat kentongan dalam nada titir. Suaranya merambat dari satu padukuhan ke padukuhan lain. Sehingga dengan demikian, maka para pengawal di semua padukuhan telah bersiap-siap karenanya menghadapi segala kemungkinan. Namun mereka masih belum jelas, apakah yang sebenarnya telah terjadi di Tanah Perdikan Sembojan. Namun sementara itu, ketiga orang yang telah berhasil mengganggu para pengawal itu telah memacu kuda-kuda yang berhasil mereka rampas menuju ke jalan keluar dari Tanah Perdikan Sembojan. Namun mereka telah memilih jalan-jalan sempit yang tidak mendapat pengawasan langsung dari para pengawal Tanah Perdikan yang tentu telah bersiaga karena suara kentongan yang telah bergema diseluruh Tanah

Perdikan.

Karena itu, ketika sekelompok pemimpin Tanah Perdikan Sembojan dan beberapa orang perwira Jipang berderap melintasi jalan-jalan bulak menuju ketempat kejadian, maka Sambi Wulung dan kawannya telah meninggalkan Tanah Perdikan. Yang terjadi kemudian adalah kesibukan yang luar biasa di Tanah Perdikan itu.

Dengan tergesa-gesa maka perwira Jipang yang terluka itu telah dibawa ke banjar padukuhan terdekat untuk mendapat perawatan yang lebih baik.

Sementara itu wajah Ki Rangga Gupita menjadi gelap. Ki Randukeling pun merasa sangat terhina karena peristiwa yang baru saja terjadi itu.

Para pengawal Tanah Perdikan itu tidak dapat berbohong tentang apa yang telah terjadi, karena ada dua orang petani yang menyaksikan peristiwa itu. Sementara kedua orang petani itu sudah memberikan keterangan lebih dahulu tentang peristiwa yang sebenarnya terjadi. Bahkan perwira Jipang yang terluka agak parah itu pun ternyata telah memberikan laporan yang sebenarnya pula ketika ia telah menyadari tentang apa yang terjadi atas dirinya.

“Kita tidak perlu menyembunyikan kenyataan ini,” berkata perwira Jipang itu. “Aku kira orang-orang ini pulalah yang telah merampas kuda dua orang pengawal sebelumnya. Tetapi sudah tentu mereka tidak perlu datang dengan sekelompok

orang. Ternyata seorang di antara mereka mampu mengalahkan dua orang pengawal tanpa mengalami kesulitan apapun juga dengan senjata yang sangat sederhana.” Keempat pengawal yang tidak berdaya menghadapi dua orang di antara ketiga orang yang tidak dikenal itu hanya dapat menundukkan kepala mereka. Perwira Jipang itu dengan gamblang menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi, sehingga keterangannya tidak berbeda dengan keterangan yang telah diberikan oleh para petani yang menjadi saksi dari peristiwa itu.

“Jadi orang itu memiliki kemampuan melampaui kemampuan para perwira dari Jipang?” bertanya Rangga Gupita.

“Ya,” jawab perwira itu dengan jujur. “Bahkan agaknya orang itu masih mampu meningkatkan kemampuannya.” “Apakah orang-orang itu para perwira dari Pajang?” bertanya Rangga Gupita. “Aku kira tidak. Aku mengenal para perwira Pajang. Ketiga orang itu bertempur dengan cara mereka sendiri yang tidak mirip dengan sikap dan tata gerak para perwira Pajang,” jawab perwira itu.

“Mungkin mereka adalah petugas sandi dari Pajang yang mempunyai cara sendiri dalam melaksanakan tugas mereka, termasuk ciri-ciri mereka,” berkata Rangga Gupita.

“Mungkin. Sebagaimana kau yang mungkin mempunyai gaya yang jauh berbeda dengan prajurit Jipang pada umumnya,” berkata perwira yang terluka parah itu.

Namun kemudian katanya, “Tetapi satu hal yang bagiku aneh. Orang-orang itu tidak mau membunuh seorang pun di antara kami. Dalam keadaan yang tidak berdaya, kami telah mereka tinggalkan. Apakah hal itu mungkin dilakukan oleh orang-orang Pajang?”

Rangga Gupita mengerutkan keningnya. Katanya, “Jika orang itu orang Pajang, mungkin ia tidak akan membunuh para pengawal. Tetapi kau yang dikenalnya sebagai seorang perwira Jipang tentu tidak akan mendapat kesempatan untuk tetap hidup.

Bahkan mungkin dengan cara yang mengejutkan.”

Perwira Jipang itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam ia bergumam, “Aku sependapat. Jika orang itu orang Pajang mungkin aku sudah dicincangnya,” perwira itu terdiam sejenak, lalu, “Ada segi yang lain yang harus mendapat perhatian yang sungguh-sungguh di Tanah Perdikan ini.”

Rangga Gupita mengerutkan keningnya, “Apa itu?” ia bertanya.

Perwira Jipang itu menjadi ragu-ragu. Tetapi karena tidak ada orang lain yang berada di dekat Rangga Gupita yang menungguinya, ia pun berkata perlahan-lahan, “Agaknya persoalan keluarga Ki Wiradana telah mengundang pertentangan di Tanah Perdikan ini. Ki Wiradana telah melakukan satu kesalahan atas keluarganya, sehingga ada pihak yang merasa tersisih dari lingkungan keluarga pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan ini.

Orang-orang itu telah menyebut-nyebut nama Iswari. Istri Ki Wiradana yang tua. Sedang mereka telah mengutuk Nyai Wiradana yang sekarang. Mereka menyebut-nyebutnya sebagai penari janggrung.”

Rangga Gupita mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia justru tersenyum. Katanya, “Itu adalah persoalan Ki Wiradana. Tetapi istrinya yang sekarang memang sangat cantik, meskipun barangkali ia adalah bekas penari jalanan. Tetapi ia bukan penari sebagaimana penari jalanan kebanyakan.”

Perwira Jipang itu memandang Ki Rangga Guptita dengan tajamnya. Hampir diluar sadarnya ia bertanya, “Bukan penari jalanan kebanyakan yang bagaimana yang kau maksud?”

” Sudahlah, kita tidak usah membicarakan persoalan di keluarga lain,” potong Rangga Gupita.

“Aku tidak membicarakan urusan keluarga orang lain jika hal ini tidak menyangkut tugas kita di Tanah Perdikan ini. He, kau lihat salah satu akibatnya telah

terjadi atasku dan barangkali masih akan terjadi beberapa peristiwa yang lebih

besar lagi. Menilik sikap dan kemampuan mereka, maka mereka akan dapat melakukan langkah-langkah yang lebih besar dari yang sudah dilakukan sambil bergurau ini,” jawab perwira itu.

“Jangan cemas. Persoalan keluarga itu akan segera teratasi. Kau lihat disini ada

Ki Randukeling. Apakah kau belum pernah mendengar bahwa Ki Randukeling adalah orang yang sulit untuk dicari duanya. Ia memiliki kemampuan sebagaimana Patih Mantahun. Serahkan persoalan keluarga itu kepadanya dan kepada saudagar emas berlian yang juga berada di sini.”

“Saudagar yang pernah dirampok dan tidak mampu mempertahankan miliknya itu? Kau kira bahwa perampok itu tidak ada hubungannya dengan ketiga orang yang aku

jumpai itu? Juga yang telah merampas kedua ekor kuda pengawal yang terdahulu? Bahkan aku mengira, bahwa serombongan pengamen dengan penari yang mirip dengan Nyai Wiradana itu bukan satu kebetulan. Dan bahwa penari itu mungkin Nyai Wiradana itu sendiri,” berkata perwira itu.

“He, kenapa kau telah memasuki persoalan keluarga Ki Wiradana terlalu dalam? Sudahlah. Jangan kau pikirkan. Aku tidak menyalahkan Ki Wiradana dan siapapun juga dalam persoalan keluarga itu. Tetapi yang penting, kita harus menyiapkan sepasukan pengawal yang kuat menuju ke Pajang. Prajurit Jipang yang berangkat langsung ke Pajang sudah ada di tempat yang ditentukan. Sementara Pajang sekarang telah lemah karena sepasukan yang kuat telah meninggalkan Pajang untuk

ditempatkan disebelah Barat Bengawan Sore berhadapan dengan pasukan Jipang yang membayangi Demak,” berkata Rangga Gupita.

Perwira Jipang yang terluka itu termangu-mangu. Tetapi ia tidak sependapat, bahwa persoalan keluarga Ki Wiradana diabaikan dari persoalan Tanah Perdikan itu dalam keseluruhan. Karena ternyata bahwa persoalan keluarga itu pada akhirnya akan menjadi sangat mengganggu.

Ki Rangga Gupita melihat keragu-raguan membayang di wajah perwira yang terluka itu berkata hampir berbisik, “Dengar. Kau tidak boleh terseret oleh arus perasaanmu. Yang penting kita berhasil menyusun satu pasukan untuk menyerang Pajang. Jangan hiraukan apa yang kemudian terjadi di Tanah Perdikan ini. Itu bukan persoalanmu, bahkan seandainya Tanah Perdikan ini akan hancur karena persoalan keluarga Ki Wiradana itu, asal pasukan yang kita perlukan sudah berangkat menuju Pajang. Satu langkah yang harus cepat kita lakukan sebelum terlambat.”

Perwira itu menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk kecil ia berkata, “Aku mengerti.”

“Serahkan persoalan kecil itu kepada Ki Wiradana, Warsi dan Ki Randukeling sendiri,” desis Ki Rangga Gupita.

Perwira itu mengerutkan keningnya. Namun ia tidak mengatakan sesuatu lagi.

Yang kemudian sibuk mempersoalkan ketiga orang yang tidak dikenal itu adalah keempat pengawal yang telah dikalahkan oleh dua orang di antara orang-orang yang tidak dikenal itu. Mereka pun merasa heran, bahwa orang-orang itu telah meninggalkan mereka justru ketika mereka sudah tidak berdaya. Seperti yang pernah terjadi, orang-orang itu sama sekali tidak membunuh. Demikian juga orang yang telah merampas kuda para pengawal yang terdahulu.

Ketika dua orang pengawal yang lebih dahulu pernah kehilangan kudanya itu mengunjungi keempat kawannya yang terluka itu maka diluar sadar mereka telah berbincang tentang perisitiwa yang pernah terjadi sebelumnya.

“Apakah benar waktu kalian telah dirampok oleh sekelompok orang yang terdiri dari banyak orang?” bertanya salah seorang dari para pengawal yang terluka itu.

Kedua orang pengawal itu saling berpandangan. Namun kemudian seorang di antara mereka berkata, “Tidak. Sebenarnya hanya dua orang sajalah yang mencegat kami dan merampas kuda-kuda kami. Waktu itu kami merasa malu, bahwa kami, pengawal yang sudah terlatih secara khusus masih dikalahkan oleh orang-orang tidak

dikenal. Tetapi setelah seorang di antara para perwira Jipang itu juga

dikalahkan, maka aku baru yakin, bahwa orang-orang itu memang memiliki ilmu yang bukan tandingan kami.”

Keempat orang yang terluka itu mengangguk-angguk. Bahkan kemudian pembicaraan mereka pun telah merembet pada pengertian-pengertian yang sengaja dilontarkan oleh orang-orang yang selalu mengganggu ketertiban di Tanah Perdikan itu.

“Aku semakin yakin, bahwa mereka mempunyai hubungan dengan Nyai Wiradana yang hilang itu. Ada semacam dendam yang tersirat di hati mereka kepada Nyai Wiradana yang sekarang,” tiba-tiba seorang di antara para pengawal itu berdesis.

“Aku sudah lama tertarik kepada persoalan ini,” berkata pengawal yang lain. “Jika sekali lagi aku bertemu dengan mereka, aku ingin berbicara. Tidak berkelahi.”

Para pengawal yang lain agaknya sependapat dengan kawannya itu. Namun mereka tidak mengucapkannya.

Dalam pada itu, peristiwa yang telah terjadi dengan seorang perwira Jipang dan empat orang pengawal itu benar-benar telah menarik perhatian. Beberapa orang pengawal mulai memikirkan sebagaimana dikatakan oleh orang-orang yang tidak dikenal itu. Apakah cukup besar manfaatnya jika mereka pergi ke Pajang bersama dengan sepasukan pengawal yang kuat. Apakah kepergiannya itu akan dapat memberikan arti bagi Tanah Perdikan Sembojan.

Namun tidak seorang pun di antara mereka yang berani mempertanyakannya, meskipun ada juga yang berani membisikkan ketelinga kawan-kawannya terdekat.

Yang kemudian menjadi pusat perhatian tetangga-tetangganya adalah kedua orang petani yang melihat sendiri apa yang telah terjadi di bulak di siang hari itu.

Satu perkelahian yang membuat mereka menjadi pening.

“Tetapi ternyata orang-orang yang tidak dikenal itu memenangkan perkelahian,” berkata salah seorang dari mereka.

“Tetapi yang menarik adalah kata-kata mereka pada saat-saat terakhir,” berkata yang lain. “Menurut orang-orang itu, maka mereka meyakini bahwa Nyai Wiradana itu masih hidup.”

“Itu tentu benar,” tiba-tiba seorang di antaranya menyahut. “Penari itu tentu Nyai Wiradana.”

“Kau sudah melihatnya?” bertanya petani yang menyaksikan perkelahian di tengah bulak itu.

“Sudah. Kami, hampir seisi padukuhan ini pernah melihat perempuan yang mirip Nyai Wiradana itu. Sebagai seorang penari ia nampak sangat cantik. Lebih cantik dari Warsi,” berkata tetangganya itu. Bahkan ia pun bertanya, “Apakah kau belum pernah melihatnya? Aku kira kau pun pernah ikut berkerumun di pojok padukuhan itu ketika rombongan itu kebar. Bahkan ketika rombongan itu diminta untuk melakukan pertunjukan di rumah Ki Saenu, kau juga ada disana.”

“Ya. Aku juga pernah melihatnya,” jawab petani itu. “Dan aku pun sependapat, bahwa penari itu adalah Nyai Wiradana. Tidak lain. Seandainya ia tidak mengaku maka itu tentu sekadar satu langkah yang kurang kita mengerti. Tetapi bahwa ia berada di jalan-jalan sambil menari itu tentu dengan satu maksud tertentu yang lebih jauh dari sekadar menyindir.”

Orang-orang yang mendengarkan keterangan itu mengangguk-angguk. Agaknya orang-orang di padukuhan itu dapat saling mendekatkan pendapat mereka tentang penari yang mirip dengan Nyai Wiradana itu.

Adalah diluar kehendak mereka, bahwa telah terbersit di dalam hati mereka, mengharapkan penari itu datang kembali ke padukuhan itu.

“Tetapi jika rombongan itu berani mendekati padukuhan, maka mereka tentu akan di tangkap?” orang-orang itu pun merasakan kecemasan pula tentang rombongan itu.

Namun kedua petani yang melihat ketiga orang yang tidak dikenal itu bertempur,

maka mereka menduga, bahwa ketiga orang itu merupakan sebagian dari para penabuh gamelan yang mengiringi penari yang mirip dengan Nyai Wiradana itu.

“Tentu sulit untuk menangkap mereka,” berkata petani itu di dalam hatinya. Tetapi mereka pun sadar, jika dikerahkan duaratus orang pengawal khusus dan duapuluh orang perwira dari Jipang, maka mereka mungkin akan dapat ditangkap.

Namun dengan demikian, maka rasa-rasanya hubungan perasaan Nyai Wiradana yang hilang itu tidak terputus lagi karena mereka tidak begitu banyak berhubungan

dengan Nyai Wiradana yang sekarang, karena Nyai Wiradana jarang sekali berada di antara rakyat Tanah Perdikan Sembojan sebagaimana Ki Wiradana yang hanya berada di dalam lingkungan tertentu saja. Yang nampak pada rakyatnya adalah bahwa Tanah Perdikan Sembojan kemudian menjadi Tanah Perdikan yang kuat, yang mampunyai pasukan pengawal yang terlatih baik, tidak ubahnya para prajurit Pajang dan

Jipang. Namun untuk membiayai pengawal yang sekian banyaknya itu, rakyat Tanah Perdikan Sembojan harus memeras keringat dan bekerja keras.

Tetapi sementara itu, peristiwa yang terjadi di bulak itu bagi para perwira

Jipang merupakan satu dorongan untuk segera menentukan langkah-langkah yang cepat.

“Kita tidak perlu memikirkan keadaan Tanah Perdikan ini,” berkata Ki Rangga Gupita.

“Aku memang pernah berkata kepada Ki Wiradana agar sebelum kita berangkat ke Pajang tanah ini harus dibersihkan dahulu. Tetapi sudah tentu kita tidak akan mengorbankan kepentingan Jipang. Jika keadaan Tanah Perdikan ini justru menjadi semakin kalut, maka biarlah kita menyerahkannya kepada Ki Wiradana sepeninggalan kita. Ki Randukeling tentu tidak akan berkeberatan, karena Ki Randukeling juga

lebih memperhatikan kepentingan Jipang daripada Tanah Perdikan ini. Namun kita akan memberikan beberapa pesan seolah-olah kita benar-benar memikirkan keadaan Tanah Perdikan ini. Seolah-olah dengan prihatin kita berangkat dan membagi perhatian kita untuk Pajang dan untuk Tanah Perdikan ini.”

Beberapa orang perwira yang tertua yang diajak berbicara Ki Rangga itu mengangguk-angguk. Agaknya mereka sependapat, bahwa mereka tidak boleh terlalu lama membiarkan pasukan Jipang yang mendekati Pajang dari arah yang lain

menunggu dan tidak berbuat apa-apa. Dalam kejemuan para prajurit yang sudah siap untuk bertempur akan dapat berbuat hal-hal yang aneh-aneh di luar perhitungan para pemimpin mereka.

Dengan demikian, maka Ki Rangga Gupita dan para perwira tertua telah mempersiapkan pasukannya. Duaratus orang pengawal khusus telah disiapkan hampir semuanya, meskipun untuk mengelabuhi Ki Wiradana agar mereka dianggap memperhatikan semua kepentingan, telah diputuskan untuk ditinggalkan sebanyak duapuluh lima orang yang akan memimpin para pengawal di padukuhan-padukuhan. Di samping mereka akan diberangkatkan juga pengawal yang dipilih dari para pengawal yang terdapat di padukuhan-padukuhan. Justru dalam jumlah berlipat ganda dari para pengawal khusus itu.

Namun para pengawal dari padukuhan-padukuhan itu telah pernah mendapat latihan-latihan pula dari kawan-kawan mereka yang termasuk para pengawal khusus,

sehingga mereka pun akan mampu menyesuaikan diri dengan medan yang akan mereka hadapi, di samping kesediaan para pemimpin pasukan Jipang untuk membaur sekelompok pasukan mereka di antara para pengawal Tanah Perdikan Sembojan itu.

Ki Wiradana sudah tidak dapat berbuat lain daripada menyerahkan anak-anak muda terbaik Tanah Perdikan itu kepada Jipang. Pada saat-saat ia ragu-ragu, maka

Warsi pun telah menekankan kepadanya, bahwa pasukan itu harus berangkat ke Pajang. Mereka harus menghancurkan Pajang di tempat mereka sendiri. Bukan Tanah Perdikan itulah yang akan menjadi ajang pertempuran yang mengerikan.

Namun dalam pada itu, sebelum pasukan yang disusun itu berangkat meninggalkan Tanah Perdikan, maka Ki Rangga menganggap perlu untuk meningkatkan kesiapan jiwani dari pasukan, baik yang berangkat ke Pajang, maupun yang akan tinggal di Tanah Perdikan.

“Satu pertanggungjawaban,” berkata Ki Wiradana kepada para pemimpin Tanah Perdikan. “Kami telah menggunakan uang yang kami pungut dari rakyat, karena itu biarlah mereka menyaksikan kekuatan yang dibangun dengan mempergunakan uang mereka itu. Dengan demikian mereka mengerti, bahwa pajak yang mereka bayar ternyata tidak sia-sia.”

Demikianlah, pada hari yang ditentukan, disebuah arena yang cukup luas di luar padukuhan induk Tanah Perdikan telah diselenggarakan permainan yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Permainan yang hanya dilakukan di alun-alun Pajang, Jipang dan Kadipaten-kadipaten lain dan yang lebih besar lagi di Demak.

“Sodoran dan beberapa permainan ketangkasan dari pada pengawal,” berkata orang-orang Tanah Perdikan yang menjadi ramai.

Sejak matahari terbit di tempat yang sudah dipasang gawar berkeliling itu, menjadi ramai dikunjungi oleh orang-orang Tanah Perdikan. Laki-laki perempuan,

tua muda, bahkan hampir semua orang dari padukuhan induk dan sebagian besar dari penghuni Tanah Perdikan itu.

Mereka berkumpul di ara-ara yang luas, yang biasanya menjadi tempat anak-anak Tanah Perdikan itu menggembala kambing, lembu dan kerbau, untuk menyaksikan suatu pertunjukan yang belum pernah mereka lihat.

Bahkan kesempatan itu merupakan kesempatan yang baik pula bagi orang-orang Tanah Perdikan itu yang berjualan makanan. Jauh sebelum matahari terbit, mereka sudah mencari tempat yang dianggap paling baik untuk menjajakan jualannya, karena menurut pendengaran mereka, permainan ketangkasan para pengawal itu akan berlangsung sampai sore.

Satu di antara pertunjukan yang akan menjadi paling menarik adalah pertunjukan membunuh seekor harimau yang dilakukan hanya oleh tiga orang pengawal bersenjata pedang pendek.

Seorang anak yang sedang mulai tumbuh berkata kepada temannya, “Kenapa pengawal itu mesti bertiga? Apakah tidak dapat diselenggarakan permainan yang lebih

baik?”

Kawannya yang sebaya bertanya, “Lebih baik bagaimana?” “Tidak tiga orang, tetapi satu orang,” jawab anak itu.

Kawannya mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Itu sangat berbahaya. Bagaimana jika yang mati bukan harimaunya?”

“He, apakah kau sudah melihat harimau yang dikurung di banjar itu?” “Sudah,” jawab kawannya.

“Tidak terlalu besar,” berkata anak itu. “Aku pernah melihat harimau yang lebih besar yang dibunuh beramai-ramai oleh orang-orang padukuhan, ketika harimau itu keluar dari hutan dan berusaha mencari kambing. Sudah ada dua ekor kambing yang hilang, sehingga orang-orang padukuhan bersiap-siap menjebaknya.”

Kawannya hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi ia tidak menjawab. Sementara itu, ketika matahari mulai naik, maka ara-ara itu rasa-rasanya sudah tidak muat lagi orang-orang yang berdatangan. Bahkan ada beberapa orang dari

luar Tanah Perdikan Sembojan yang ingin ikut menyaksikan pertunjukan yang tentu sangat menarik itu.

Ketika panas matahari mulai terasa gatal dikulit, maka persiapan-persiapan pun telah selesai dilakukan. Ara-ara itu menjadi gemuruh ketika para pengawal mulai memasuki lingkungan yang sudah ditentukan. Sekelompok pasukan berkuda telah memasuki ara-ara itu lebih dahulu. Dengan kuda-kuda yang tegar mereka berderap mengelilingi arena yang sudah dipersiapkan dan dipagari dengan gawar lawe dan di tandai dengan janur-janur yang berwarna kekuning-kuningan.

Perasaan kagum memang telah menyentuh hati orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Mereka telah mengira, bahwa anak-anak mereka mampu mempertunjukkan satu permainan berkuda yang mengasyikkan. Berlari-lari berkeliling kemudian berderap dengan langkah-langkah kecil, nyirik dan kemudian kembali nyongklang dengan langkah-langkah panjang.

Anak-anak yang menyaksikan permainan itu dengan tanpa mengingat

persoalan-persoalan lain yang menyangkut kehidupan para pengawal serta biaya yang mendukungnya, telah dengan serta merta bertepuk tangan sambil berteriak-teriak mengaguminya.

Namun orang-orang tua mereka ternyata disamping kekagumannya, masih juga dibayangi oleh besarnya pajak yang harus mereka pikul untuk membiayai pasukan pengawal yang mengagumkan itu. Namun yang akhirnya, Kadipaten Jipanglah yang akan mempergunakan mereka justru untuk memerangi Pajang, Kadipaten yang seharusnya menjadi kiblat pemerintahan Tanah Perdikan Sembojan.

Demikian pasukan berkuda itu selesai dengan permainan mereka, ternyata sebagian dari mereka tidak keluar arena. Mereka justru berpencar untuk mengamati dan menjaga agar orang-orang yang menonton permainan ketangkasan itu tidak memasuki arena.

Permainan berikutnya masih permainan kelompok-kelompok pengawal. Mereka menunjukkan kemampuan mereka untuk memasang gelar. Meskipun hanya oleh beberapa

puluh orang pengawal, tetapi orang-orang Tanah Perdikan dapat melihat beberapa macam gelar yang dipertunjukkan oleh pasukan itu. Dengan satu jenis gelar, pasukan itu berarak dari Utara ke Selatan. Kemudian kembali ke Utara dengan perubahan gelar yang lain. Dari Garuda Nglayang yang berubah menjadi Supit Urang.

Kemudian berubah menjadi Dirada Meta dan kemudian Cakra Byuha, Wulan Panunggal dan Gedong Minep. Mereka juga memperagakan bagaimana mereka dapat menjebak lawan

mereka dengan gelar Jurang Grawah dan yang kemudian melanda pasukan lawan dengan

Gelar Samodra Rob.

Anak-anak Tanah Perdikan Sembojan yang menyaksikan pertunjukan itu tidak henti-hentinya berteriak-teriak kekaguman. Apalagi yang di dalam permainan itu ikut serta kakak-kakak mereka. Maka rasa-rasanya tali suara mereka dileher akan terputus karenanya.

Namun sementara itu, maka orang-orang yang memanfaatkan peristiwa itu dengan berjualan makanan dan minuman, ternyata telah menjadi sangat laku. Anak-anak yang kelelahan berrteriak-teriak dan kepanasan oleh sinar matahari yang naik semakin tinggi di langit telah mengerumuni mereka dan membeli berbagai macam makanan dan minuman.

Ara-ara itu menjadi bagaikan meledak, ketika pertunjukan di arena mulai berubah dengan permainan kelompok-kelompok yang lebih kecil, yang dimulai dengan permainan yang mendebarkan. Tiga orang pengawal akan membunuh seekor harimau yang garang yang akan dilepas ditengah-tengah arena itu.

Untuk beberapa saat telah diadakan persiapan-persiapan. Sebuah kerangkeng telah dibawa ke arena di atas pedati. Lembu yang menarik pedati itu menjadi sangat gelisah, karena setiap kali terdengar harimau itu menggeram dengan penuh kemarahan.

Ketika harimau itu sudah berada ditengah-tengah arena, maka sekelompok pengawal dengan senjata tombak telah menebar memagari arena, sementara itu tiga orang pengawal terpilih memasuki arena dengan pedang pendek ditangan.

Suara gemuruh bagaikan meruntuhkan langit. Kebanggaan memang telah mencengkam orang-orang Tanah Perdikan. Untuk beberapa saat mereka melupakan beban mereka harus memeras keringat untuk membayar pajak.

Ketika para pengawal yang memagari arena dengan tombak di tangan itu sudah siap dan ketiga orang pengawal yang akan membunuh harimau itu dengan pedang pendeknya

juga sudah siap, maka seorang pemimpin pengawal telah maju mendekati kerangkeng yang berada di atas pedati, menghadap ke belakang. Dibantu oleh beberapa orang pengawal, maka pemimpin pengawal itu telah memberikan aba-aba dan kemudian dengan hati-hati menarik pintu kerangkeng.

Sejenak kemudian harimau yang marah karena kebebasannya yang dibatasi oleh kerangkeng yang sempit itu tiba-tiba saja mengaum dengan dahsyatnya sambil meloncat keluar dari kerangkengnya.

Ketegangan telah mencengkam bukan saja ketiga orang pengawal yang harus membunuhnya dan para pengawal yang memagari arena itu dengan jarak dua langkah dengan tombak ditangan yang mulai merunduk, tetapi para penonton pun menjadi tegang pula.

Di tempat yang sudah disiapkan sebelumnya, para pemimpin Tanah Perdikan serta para pelatih yang datang dari Jipang menyaksikan permainan itu dengan tegang pula. Bagaimana pun juga, seekor harimau adalah seekor binatang buas yang sulit diajak bermain-main. Apalagi untuk dibunuh. Sementara kemarahan telah bergejolak karena perlakuan yang tidak sewajarnya.

Beberapa saat kemudian, ketiga orang pengawal yang berdiri berpencar di tengah-tengah arena itu mulai bergerak.

Dengan pedang teracu mereka setapak demi setapak melangkah mendekati harimau yang berdiri dengan garangnya memandang berkeliling arena.

Namun kemarahan pun menjadi semakin memuncak ketika mereka melihat tiga orang yang datang mendekatinya untuk mengusiknya. Karena itu, maka harimau itu pun menggeram. Kemudian berputar setengah lingkaran. Namun tiba-tiba ia mulai merunduk sambil mengawasi salah seorang dari ketiga pengawal itu dengan matanya yang bagaikan memancarkan cahaya kehijauan.

Pengawal yang menjadi sasaran itu berhenti. Dengan jantung yang berdebar-debar ia menunggu harimau itu menerkamnya dengan pedang teracu, sementara kedua orang kawannya telah melangkah mendekat. Mereka harus berbuat sesuatu untuk membantu kawannya yang menjadi sasaran serangan harimau yang marah itu, serta membuat harimau itu menjadi bingung.

Namun agaknya harimau yang marah itu tidak menghiraukan mereka. Sejenak kemudian, maka terdengar harimau itu mengaum sambil meloncat menerkam.

Demikian

cepatnya, sehingga beberapa orang yang menyaksikan telah terpekik tanpa disadari.

Pengawal yang menjadi sasaran serangan harimau itu berusaha untuk menghindar. Tetapi harimau itu mampu bergerak cepat pula. Seolah-olah harimau itu telah menggeliat ketika sasarannya bergerak. Tangannyalah yang kemudian menggapai dengan cepatnya.

Pengawal itu tangkas pula. Ia sempat bergeser. Namun ternyata bahwa kuku-kuku harimau yang tajam itu sempat menyentuhnya sehingga ujung kuku-kuku itu telah mengoyak bukan saja pakaiannya, tetapi juga kulitnya.

Namun hampir berbareng dua orang pengawal yang lain telah meloncat menerkam harimau itu dengan ujung pedang mereka. Namun karena harimau itu pun kemudian bergeser, maka ujung-ujung pedang itu tidak langsung dapat menikam punggung dan lambung harimau itu, tetapi sekadar menyentuh kulitnya meskipun berhasil melukainya.

Perasaan sakit itu membuat harimau yang marah itu semakin marah. Dengan garangnya maka harimau itu pun telah menerkam seorang di antara mereka tanpa merunduk lebih dahulu. Namun pengawal itu pun berusaha untuk menghindar pula, meskipun ternyata bahwa seperti pengawal yang pertama, tubuhnya tidak luput dari goresan kuku-kuku harimau yang tajam itu, sehingga darah pun mulai mengalir.

Tetapi dalam kesempatan itu, seorang pengawal yang lain sempat menyerang harimau itu dan menikam pada lehernya. Tetapi agaknya ujung pedangnya tidak tepat mengenai sasarannya, karena harimau itu melenting sambil menggapai dengan tangannya. Ujung pedang itu hanya menggores punggung dan melukainya agak dalam. Pada saat yang bersamaan dua orang pengawal yang lain pun telah menyerang bersama-sama. Para pengawal yang terlukapun menjadi marah. Karena itu maka mereka pun menjadi lebih garang menghadapi kemarahan harimau itu.

Dengan demikian, maka perkelahian itu pun menjadi semakin seru. Para pengawal yang memagari arena itu justru telah berlutut pada sebelah kakinya, namun tetap bersiaga denga tombaknya, untuk memberi kesempatan kepada orang-orang yang berada di belakang mereka menyaksikan perkelahian itu, serta para pengawal berkuda yang jumlahnya telah berkurang itu pun berusaha untuk selalu bergeser agar kesempatan melihat pun merata di antara orang-orang yang berdiri di luar gawar.

Ketika perkelahian menjadi semakin menegangkan, maka orang-orang Tanah Perdikan Sembojan tidak dapat lagi menahan diri. Jika seorang pengawal berhasil

menusukkan pedangnya maka yang terdengar adalah sorak yang membahana bagaikan meruntuhkan langit. Bukan hanya anak-anak dan remaja. Tetapi orang-orang tua bahkan perempuan-perempuan pun telah berteriak-teriak pula sekuat-kuatnya.

Hiruk pikuk itu ternyata telah membuat mereka yang bertempur itu bagaikan kehilangan nalar. Mereka seolah-olah menjadi mabuk dan bingung. Bukan saja harimau yang telah menjadi merah oleh darahnya yang meleleh dari luka-lukanya. Tetapi ketiga orang pengawal itu pun seakan-akan menjadi wuru pula. Para pemimpin pengawal yang melihat perkelahian itu menjadi berdebar-debar. Seorang di antara mereka telah melangkah mendekati diikuti oleh beberapa orang pengawal, sementara harimau yang terluka itu menjadi seperti gila. Tetapi oleh darahnya

yang semakin deras mengalir, maka tubuh harimau itu pun menjadi semakin lemah. Namun demikian tidak ada jalan untuk lari. Harimau itu sama sekali bukannya bertempur karena harga dirinya sehingga meskipun tubuhnya menjadi kesakitan dan kehilangan tenaganya tetapi tidak mau meninggalkan arena. Namun harimau itu memang tidak melihat jalan keluar dari arena itu. Dia putar arena, para pengawal yang berlutut pada sebelah kakinya, telah menyiapkan tombak masing-masing sehingga jika harimau itu berniat untuk lari, maka ujung-ujung tombak para pengawal yang akan menyongsongnya.

Untuk beberapa saat harimau itu masih bertempur. Kukunya masih juga sempat mengoyak pundak salah seorang lawannya, sehingga ketiga orang pengawal yang berkelahi melawan harimau itu semuanya telah terluka. Namun ketiganya masih sanggup berdiri tegak dengan pedang teracu.

Ketika perasaan sakit tidak lagi dapat ditahankannya maka harimau itu

benar-benar menjadi gila. Dengan marahnya ia menggeram. Namun tiba-tiba saja harimau itu telah meloncat berlari meninggalkan arena pertempuran.

Para pengawal yang melingkari arena itu terkejut. Di arah harimau itu lari, maka para pengawal segera bangkit dan mengacukan tombak mereka. Tetapi tiba-tiba saja harimau yang berlumuran darah itu berbelok dan demikian cepatnya meloncati para pengawal yang masih belum bersiap.

Tetapi para pengawal pun dengan sigapnya menyongsong pula. Beberapa ujung tombak bersama-sama telah menerima harimau itu, bagaikan memetiknya di udara dengan ujung-ujung tombak. Tetapi harimau itu cukup berat, dan dorongan loncatannya

cukup keras sehingga harimau itu bagaikan terlempar ke luar arena dengan beberapa ujung tombak tertancap ditubuhnya.

Yang terdengar adalah suara auman yang dahsyat sekali. Orang-orang yang berdiri di luar arena menjerit-jerit ketakutan. Mereka menyangka bahwa harimau itu berhasil lolos dari kepungan sehingga mereka telah berdesakan berlari-lari meninggalkan tempatnya. Sambil memekik-mekik mereka saling mendorong, saling mendesak dan bahkan ada yang terjatuh dan terinjak-injak.

Tetapi kekacauan itu tidak berlangsung lama. Beberapa orang kemudian sempat melihat harimau itu jatuh, menggeliat sambil menggeram penuh kemarahan, tetapi kekuatannya sudah surut sampai kebatas.

Meskipun demikian, ada beberapa orang yang terpaksa dibawa menyingkir, karena terinjak-injak orang-orang yang berjejal-jejal berusaha menjauh, karena mereka menyangka bahwa harimau yang garang itu terlepas.

Dalam pada itu, para pengawal pun telah mengerumuni harimau yang terbaring diam. Harimau itu telah mati dibunuh oleh para pengawal dengan luka arang keranjang.

Luka yang menganga hampir diseluruh tubuhnya.

Tidak terdengar sorak yang bagaikan memecahkan langit karena orang-orang yang menonton pertarungan itu masih dicengkam oleh ketegangan. Namun setelah mereka menjadi tenang kembali, maka mereka pun memandang dengan penuh kekaguman. Bagaimanapun juga orang-orang Tanah Perdikan itu berbangga karena anak-anak muda mereka memiliki ketangkasan yang tinggi sebagaimana ketangkasan seorang

prajurit.

Namun seorang laki-laki tua justru telah meninggalkan gelanggang itu berteduh dibawah sebatang pohon di pinggir arena itu sambil terpekur.

Disebelahnya seorang penjual minuman bertanya, “Sudah letih Wakne?” Laki-laki tua itu berpaling. Dengan kerut di dahinya ia justru menyapa, “Kau nDuk. Kau juga berjualan?”

“Mumpung ada keramaian Wakne,” jawab perempuan penjual minuman itu. Laki-laki itu menarik nafas dalam-dalam. Sementara penjual minuman itu bertanya,

“Bukankah kakang ikut dalam permainan itu?”

“Ya. Kakangmu ikut. Ia menunjukkan ketangkasannya melawan seekor harimau. Tiga orang pengawal mampu memenangkan pertarungan melawan seekor harimau yang sangat

garang,” jawab laki-laki tua itu.

“Wakne berbangga?” bertanya perempuan itu. “Sebenarnya aku berbangga,” jawab laki-laki tua itu.

“Kenapa, sebenarnya?” bertanya perempuan penjual minuman itu pula.

Laki-laki tua itu menarik nafas dalam-dalam. Ada semacam penyesalan yang memancar di wajahnya. Dengan nada datar ia pun kemudian berkata, “Aku berbangga karena anakku memiliki kemampuan seorang prajurit. Adalah sulit dipercaya bahwa anakku, hanya anak seorang laki-laki dungu pada suatu saat memiliki kemampuan yang tinggi.”

“Seharusnya Wakne bersyukur,” desis perempuan itu.

“Aku memang bersyukur,” jawab laki-laki itu. “Tetapi aku tidak ikhlas jika anakku besok harus berangkat ke Pajang untuk memusuhi Kadipaten itu. Selama ini Tanah Perdikan Sembojan merupakan daerah perdikan yang berada dibawah perlindungan Pajang.

Bukan Jipang. Tiba-tiba kini Ki Wiradana berpaling dan bahkan sekaligus ikut memerangi Pajang.”

Perempuan itu mengerutkan keningnya. Ia tidak begitu mengerti persoalan yang dikatakan oleh laki-laki itu. Tetapi ia mengerti bahwa laki-laki itu tidak mengikhlaskan anaknya yang menjadi pengawal itu pergi ke Pajang sebagai prajurit yang berpihak pada Jipang.

Namun karena itu, maka perempuan penjual minuman itu tidak menjawab. Tetapi ia menuang semangkuk minuman dan memberikannya kepada laki-laki tua itu sambil berkata, “Minumlah Wakne.”

Laki-laki tua itu mengangkat wajahnya. Sambil menerima minuman itu ia berkata, “Terima kasih nduk. Berapa?”

“Ah, hanya minuman dingin. Tidak usah Wakne,” jawab perempuan itu. “Tetapi bukankah minuman ini kau jual?” bertanya laki-laki itu.

“Biar sajalah. Untuk Wakne aku tidak menjualnya,” jawab perempuan itu. Laki-laki itu tidak menjawab. Dipandanginya perempuan itu sejenak. Namun tiba-tiba ia tertarik kepada sorak yang menggelegar. Tentu ada sesuatu yang menarik orang-orang yang menyaksikan arena itu.

“Permainan apa lagi?” desis laki-laki tua itu.

“Permainan yang tentu sangat menarik,” jawab perempuan itu. “Wakne aku titip daganganku. Aku akan melihat sebentar.”

Perempuan itu tidak menunggu jawaban laki-laki tua yang masih memegangi mangkuk yang belum diminumnya itu. Namun kemudian ia pun meneguknya sambil beringsut mendekati dagangan yang ditinggalkan itu, karena perempuan penjual minuman itu menitipkannya kepadanya.

Sorak yang riuh masih terdengar memenuhi ara-ara itu. Bergelombang susul menyusul.

Beberapa orang pengawal akan menunjukkan ketangkasan mereka mempergunakan busur dan anak panah. Sasaran yang dibawa berlari di atas punggung kuda harus mereka kenai. Sebuah jeruk bali yang ditancapkan di atas ujung tombak.

Sejenak kemudian beberapa orang pengawal dengan busur dan anak panah telah bersiap di arena. Dengan tidak sabar orang-orang yang menyaksikan permainan itu menunggu.

Namun sejenak kemudian, beberapa orang berkuda telah bersiap dengan sasaran yang harus dikenai oleh para pengawal yang akan menunjukkan ketangkasan mereka memanah.

Ketika terdengar aba-aba , maka semuanya segera bersiap. Penonton pun menjadi kehilangan kesabaran, sehingga mereka telah berdesak-desakan.

Ketika terdengar suara bende maka lepaslah tiga ekor kuda yang penunggangnya masing-masing membawa sasaran. Ketiga ekor kuda itu berlari-lari berputar

beberapa saat. Baru kemudian mereka memasuki daerah sasaran anak panah yang akan dilepaskan oleh para pengawal yang memegang busur dan endong di punggung yang berisi anak panah.

Ketiga ekor kuda itu mengambil jarak. Sesaat kemudian kuda yang pertamalah yang berlari melintasi sederet pengawal yang telah siap menarik busurnya.

Demikian kuda itu lewat dengan penunggang yang membawa jeruk bali di ujung tombaknya yang terangkat, maka beberapa anak panah telah terlepas dari busurnya.

Sorak yang gemuruh telah terdengar lagi. Anak panah yang terlepas dari busur-busur itu telah hinggap pada buah jeruk bali yang dibawa berlari di atas punggung kuda itu.

Belum lagi sorak itu mereda, maka sasaran kedua pun telah melintas. Dengan sigapnya para pengawal menarik anak panah dari endongnya di punggung serta seakan-akan tanpa membidik, maka anak panah itu pun telah mengejar sasarannya. Sorak para penonton pun bagaikan meruntuhkan langit. Anak panah yang terlepas itu telah menancap pada sasaran kedua

Sekejap kemudian telah disusul dengan sasaran ketiga. Lebih cepat, karena jarak kedua ekor kuda itu lebih pendek dari yang terdahulu. Namun para pengawal cukup sikap menyiapkan busur dan anak panahnya, sehingga ketika kuda yang membawa sasaran itu berlari beberapa puluh langkah dihadapan para penonton pun telah meledak pula.

Anak panah-anak panah yang meluncur itu mengejar sasaran yang berlari kencang dan kemudian hinggap pada buah jeruk di ujung tombak itu. Satu demi satu. “Luar biasa,” desis seorang laki-laki separo baya. “Jika aku masih muda, aku

ingin ikut pula menjadi pengawal seperti itu”

Namun diluar dugaan orang yang berdiri di sebelahnya menyahut, “Dan kemudian dibawa ke Pajang untuk bertempur melawan prajurit Pajang.”

Laki-laki separo baya itu mengerutkan keningnya. Ketika ia berpaling, maka dilihatnya seseorang berdiri tegak tanpa berpaling kepadanya. Orang itu

mengamati permainan para pengawal dengan kerut didahinya. Tetapi orang itu belum dikenalnya.

“Apakah kau bukan orang Tanah Perdikan Sembojan,” bertanya laki-laki separo baya itu.

Tanpa berpaling orang itu menjawab, “Bukan. Aku berasal dari Kademangan Randusari.”

Laki-laki separo baya itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak berbicara

lebih lanjut. Orang yang mengaku dari Kademangan Randusari itu nampaknya justru tidak begitu senang melihat para pengawal Tanah Perdikan menjadi trampil.

Tetapi adalah diluar dugaan, bahwa seorang yang bertubuh pendek yang berdiri dekat dengan kedua orang itu pun menyahut, “Seorang di antara para pengawal yang membawa busur itu adalah adikku. Aku juga menyesal atas sikap Ki Wiradana yang telah mengijinkan anak-anak Tanah Perdikan itu untuk dikirim ke Pajang dan bertempur melawan Pajang. Apakah keuntungannya berpihak kepada Jipang dalam keadaan seperti sekarang ini?”

Orang yang mengaku dari Randusari itu menyambung. “Kau benar. Seperti Randusari, Tanah Perdikan ini berpaling kepada Pajang seharusnya. Tidak kepada Jipang.” “Tidak,” sahut laki-laki separo baya. “Jipang lebih berhak atas tahta di Demak daripada Pajang. Para penasehat dan tetua di Demak pun condong untuk mengembalikan tahta pada jalur yang sebenarnya.”

“Apa yang dimaksud dengan jalur yang sebenarnya?” bertanya orang yang mengaku dari Kademangan Randusari itu.

“Jalur Sekar Seda Lepen. Bukan Jalur Trenggana,” jawab laki-laki separo baya itu.

“Omong kosong. Ceritera tentang pembunuhan Sekar Seda Lepen oleh Sunan Prawata itu tidak lebih dari isapan jempol. Nah, karena itu, maka pembunuh Sunan Prawata baru-baru ini dan bahkan Pangeran Hadiri harus ditangkap dan diadili,” jawab

orang yang mengaku dari Kademangan Randusari. Lalu, “Padahal tidak terlalu sulit untuk menunjuk hidungnya yang digantungi kumis yang tebal, siapakah yang membunuh mereka atau memerintahkan membunuh mereka.”

“Kau menuduh Arya Penangsang?” geram laki-laki separo baya itu.

“Siapa yang mengatakan Arya Penangsang?” orang Randusari itu justru bertanya. “Kau sebut orang itu berkumis?” desak laki-laki separo baya.

“Apakah yang berkumis hanya Arya Penangsang? Aku menduga orang yang memerintahkan membunuh itu berkumis. Tetapi belum tentu Arya Penangsang.

Memang

mungkin yang melakukan adalah Arya Penangsang,” jawab orang Randusari itu. “Kau memang menuduh,” geram laki-laki separo baya itu dengan wajah merah. Tetapi orang bertubuh pendek itu pun berkata, “Jangan ribut. Kita disini berbangga mempunyai pengawal yang kuat, tangkas dan trampil. Tetapi kita akan

menyesal bahwa kemampuan itu tidak dipergunakan bagi kepentingan Tanah Perdikan ini sendiri. Apalagi jika kemampuan itu akhirnya hanya akan digilas di

peperangan oleh kemampuan yang lebih baik dari Pajang. Adikku itu adalah anak yang paling disayangi oleh seluruh keluarga. Kami berbangga akan kemampuannya. Tetapi kami meratapi kepergiannya ke Pajang.”

“Bagaimana dengan sikap adikmu sendiri?” bertanya laki-laki separo baya itu. “Ia berbangga atas dirinya sendiri,” jawab laki-laki bertubuh pendek itu.

“ Nah, kenapa kalian ribut dengan persoalan yang tidak genah. Anak muda itu sendiri berbangga akan dirinya dan bersedia untuk berangkat,” berkata laki-laki separo baya itu

Orang Randusari itu tidak menjawab. Orang bertubuh pendek itu pun kemudian terdiam.

Namun agaknya laki-laki separo baya itu menjadi curiga, bahwa orang yang mengaku dari Kademangan Randusari itu justru petugas sandi dari Pajang. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia bermaksud melaporkan kepada para pengawal, bahwa seseorang pantas dicurigai.

Sejenak ia menunggu, agar orang yang akan dilaporkannya itu tidak justru mencurigainya lebih dahulu. Baru kemudian ia beringsut dari tempatnya. Namun ternyata laki-laki separo baya itu kecewa. Laki-laki yang mengaku dari Kademangan Randusari itu sudah tidak ada di tempatnya.

“Licik,” ia berdesis.

Laki-laki yang bertubuh pendek itu berpaling ke arahnya. Dengan heran ia bertanya,

“Siapa yang licik?”

“Laki-laki dari Randusari itu,” jawabnya.

Orang bertubuh pendek itu tidak menyahut. Ia menyaksikan pameran kemampuan mempergunakan anak panah dalam berbagai keadaan dengan sasaran bergerak.

Kemudian justru pemanah-pemanahnyalah yang bergerak dengan sasaran diam. Bahkan kemudian pemanah-pemanah itu bergerak dengan sasaran bergerak pula.

Sorak yang gemuruh terdengar berkali-kali. Kebanggaan telah menggelegak memenuhi rongga dada orang-orang Tanah Perdikan Sembojan.

Karena itulah, maka orang-orang Tanah Perdikan itu tidak menyadari betapa mereka sudah terlalu lama berdiri disepanjang arena. Mereka tidak menyadari bahwa matahari telah condong ke Barat.

Namun masih ada yang akan sangat menarik untuk ditonton. Anak-anak yang lapar dapat membeli makanan. Yang haus dapat membeli minuman. Kemudian mereka kembali

lagi mengitari arena, berdesakan untuk menyaksikan pameran kekuatan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan.

Ketika matahari menjadi semakin condong, maka sampailah pameran itu pada acara yang paling menegangkan. Para pengawal di perkenankan memasuki gelanggang untuk bermain sodoran. Mereka memasuki arena di atas punggung kuda dengan landean tombak panjang yang ujungnya tidak dipasang mata tombaknya, tetapi justru dibalut dengan lapisan batang pisang yang sudah kering sehingga menjadi sebuah bulatan yang lunak, diikat dengan tali rami yang kuat. Mereka saling menyerang dengan senjata yang tumpul itu untuk saling menjatuhkan dari punggung kuda.

Siapa yang mampu bertahan sampai permainan berakhir, maka ia adalah pemenangnya.

Setelah beristirahat sejenak, maka para pengawal itu pun telah memasuki satu permainan yang sangat menarik. Memang tidak semua pengawal ingin ikut dalam permainan itu meskipun diperkenankan. Tetapi banyak juga di antara mereka yang ingin ikut.

Demikianlah maka arena itu telah terbagi menjadi beberapa bagian. Permainan itu akan membujur dari Selatan ke Utara, sehingga tidak ada yang merasa dirugikan karena silau oleh cahaya matahari yang masih condong.

Sejenak kemudian beberapa pasang penunggang kuda dengan senjata panjang mereka telah bersiap. Mereka saling berhadapan pada jarak dari ujung arena sampai ke

ujung yang lain.

Ketika mereka mendengar suara bende yang pertama, maka mereka telah berada di jalur masing-masing. Ketika bende kedua berbunyi mereka pun segera mempersiapkan diri dan mempersiapkan kuda-kuda mereka. Dan ketika terdengar suara bende yang ketiga maka kuda-kuda itu pun segera terpacu. Setiap pasang berhadapan di atas punggung kuda yang berdiri ke arah yang berlawanan.

Sorak para penonton tidak terkirakan. Rasa-rasanya langit memang akan runtuh. Matahari yang tergantung dilangit seakan-akan telah bergetar karenanya dan awan yang tipis telah terhalau ke arah laut.

Sejenak kemudian, maka hampir ditengah arena, kedua orang dalam pasangan permainan itu bertemu. Mereka segera merundukkan tombak-tombak tumpul mereka, sehingga sejenak kemudian telah terjadi benturan yang sangat menegangkan.

Separo dari para penunggang kuda itu telah berjatuhan di tanah, sementara yang separo masih tetap di punggung kuda sambil mengangkat tombak mereka

tinggi-tinggi sebagai pertanda kemenangan mereka.

Namun sejenak kemudian beberapa orang penunggang kuda telah memasuki arena untuk melakukan permainan yang sama. Mereka yang telah memenangkan permainan pertama

mendapat kesempatan untuk beristirahat. Pada saatnya para pemenang akan bertemu satu sama lain sehingga akhirnya di antara meraka akan terpilih seorang yang

paling baik dalam ketangkasan sodoran sambil menunggang kuda.

Demikianlah permainan itu berlangsung dengan sangat serunya. Para pengawal ternyata benar-benar mampu menunjukkan, bahwa mereka adalah kekuatan yang terlatih baik, sehingga mereka tidak akan terlalu mengecewakan jika mereka diturunkan di arena pertempuran melawan prajurit Pajang.

Setiap kali beberapa orang telah tersisih dari arena hingga akhirnya permainan itu telah sampai kepada empat orang terbaik. Di antara mereka akan dipilih, siapakah yang memiliki ketangkasan dan ketrampilan tertinggi dalam permainan sodoran.

Karena itu, empat orang itu akan bersama-sama memasuki arena. Sepasang di antara mereka akan bertanding disisi Barat, sementara yang lain disisi Timur. Dua pemenang terakhir akan turun lagi ke gelanggang. Pemenangnya adalah orang yang paling baik di antara para pengawal dalam permainan sodoran yang menegangkan itu.

Namun dalam pada itu, ketika empat orang terbaik sudah siap untuk mulai dengan permainan mereka, tiba-tiba saja telah terdengar panah senderan yang bersuit di udara.

Semua orang terkejut mendengar suara itu. Tidak ada seorang pun yang tahu, siapakah yang telah melontarkan anak panah itu, karena perhatian semua orang terikat kepada empat orang penunggang kuda yang telah berada di arena.

Selagi orang-orang yang berada di arena maupun di sebelahnya menebak-nebak apa yang telah terjadi, maka tiba-tiba saja mereka telah mendengar derap kuda

berpacu. Justru di luar arena.

Orang-orang yang berada di luar arena itu menjadi gelisah. Apalagi ketika disatu sisi para penonton permainan itu melihat seorang di atas punggung kudanya

berpacu dengan membawa ladean tombak yang ujungnya terbalut sebagaimana yang dipergunakan oleh para pengawal di tengah-tengah arena.

Dengan tergesa-gesa orang-orang itu telah menyibak. Sementara itu penunggang kuda itu pun dengan serta merta telah memasuki arena sambil menengadahkan dadanya. Semua orang memandanginya dengan tegang. Namun tidak seorang pun di antara mereka yang mengetahui, siapakah penunggang kuda itu.

Sebenarnyalah penunggang kuda itu memang dengan sengaja menyembunyikan kenyataan

tentang dirinya. Dengan sehelai kain orang itu menutup wajahnya, sehingga hanya mata sajalah yang nampak.

Para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan pun menjadi berdebar-debar pula. Tetapi sebelum mereka sempat berbuat sesuatu, maka orang itu telah memberikan isyarat kepada keempat penunggang kuda yang telah berada di arena untuk bersiap menghadapinya.

Dengan kepala terangkat dan sikap yang penuh keyakinan, orang itu mengacungkan jari telunjuknya. Kemudian mengangkat empat jarinya pula.

Satu isyarat, bahwa orang itu telah menantang keempat orang yang masih berada di arena itu. Justru empat orang terbaik.

Para pengawal itu benar-benar telah merasa direndahkan oleh seorang yang tidak dikenalnya. Sejenak mereka menjadi ragu-ragu. Tetapi sekali lagi penunggang kuda yang menutup wajahnya dengan sehelai kain itu memberikan isyarat. Mengangkat satu jarinya, kemudian empat jari.

Seorang di antara empat orang pengawal terbaik di gelanggang sodoran itu ternyata tidak dapat menahan perasaan lagi. Itulah yang pertama-tama memacu

kudanya ke arah orang yang menutup wajahnya itu. Penunggang kuda yang memasuki gelanggang itu telah menyongsong pula. Demikian mereka berpapasan, maka pengawal yang menyerangnya itu pun telah menundukkan senjatanya setinggi dada.

Namun yang terjadi kemudian berbeda dengan yang dibayangkan oleh para penonton. Keduanya sama sekali tidak terjatuh dari kudanya. Penunggang kuda yang menutup wajahnya itu tidak merundukkan senjatanya, tetapi ia bergeser di atas punggung kudanya. Satu permainan yang benar-benar mengagumkan. Namun ujung senjata lawannya yang berbentuk bulatan kulit batang pisang kering itu tidak

mengenainya. Pengawal yang gagal mengenai lawannya itulah yang justru hampir saja terjatuh karena senjatanya tidak mengenai sasaran. Untunglah bahwa ia sempat memperbaiki keseimbangannya sambil mengendalikan kudanya.

Kawan-kawannya justru termangu-mangu untuk sesaat. Namun bagaikan terbangun dari

mimpi, maka mereka pun serentak telah bersiap. Sejenak kemudian telah terjadi satu permainan yang tidak pernah direncanakan lebih dahulu. Penunggang kuda itu telah bertanding melawan empat orang, pengawal terbaik dalam permainan sodoran.

Para penonton untuk beberapa saat telah tercekam oleh satu peristiwa yang mengejutkan, sehingga mereka justru berdiri tegak mematung menyaksikan pertandingan yang sangat menegangkan. Namun perlahan-lahan mereka mulai menyadari, apa yang sedang mereka saksikan itu.

Ternyata orang yang memasuki arena itu mempunyai ketangkasan yang sulit dibayangkan. Ia dapat menghindari serangan dari dua orang pengawal sekaligus. Bahkan dua pengawal yang lain yang menyilang arah lari kudanya pun tidak berhasil menjatuhkannya.

Para penonton yang telah menyadari apa yang mereka saksikan telah kembali dengan kegembiraan mereka. Mereka mulai bersorak-sorak lagi. Bertepuk tangan dan berteriak-teriak. Penunggang kuda yang melawan empat orang itu benar-benar telah menunjukkan sesuatu yang luar biasa. Yang tidak dapat dimengerti oleh kebanyakan orang-orang Tanah Perdikan Sembojan.

Beberapa orang perwira dari Jipang yang telah melatih para pengawal pun merasa heran, bahwa seseorang telah dengan tiba-tiba saja memasuki arena. Bahkan sekaligus melawan empat orang pengawal diluar acara yang telah ditentukan.

Ketika beberapa orang perwira itu berdiri dan bergeser dari tempatnya. Mereka

pun melihat para pemimpin pengawal yang mengatur permainan itu telah melangkah ke arena pula. Namun agaknya mereka tidak segera bermaksud menghentikan permainan itu. Agaknya mereka justru tertarik untuk menyaksikan permainan yang tidak direncanakan lebih dahulu itu.

Empat orang pengawal itu dengan tangkasnya berganti-ganti memacu kuda mereka menyambar penunggang kuda yang telah menantang mereka berempat. Keempat orang pengawal itu berniat untuk menjatuhkan orang itu lebih dahulu.

Baru kemudian mereka akan saling memperebutkan kedudukan sebagai pengawal terbaik dalam permainan sodoran.

Tetapi ternyata menjatuhkan orang itu bukannya suatu pekerjaan yang mudah. Beberapa saat mereka telah bertanding. Namun orang berkuda itu masih saja menguasai dirinya sepenuhnya. Ujung tombak tumpulpun itu justru menjadi semakin berbahaya bagi keempat orang lawannya bermain.

Bahkan sejenak kemudian telah terjadi sesuatu yang tidak terduga. Meskipun orang itu harus menghadapi empat orang pengawal, namun pada suatu saat, justru seorang dari para pengawal itu telah terdorong ujung tombak yang tumpul itu sehingga ia benar-benar telah kehilangan keseimbangannya dan jatuh berguling di tanah.

Orang itu mengumpat oleh kekecewaan yang menghentak di dadanya. Tetapi sebagaimana ketentuan dalam permainan itu, siapa yang telah jatuh dari punggung kudanya, maka ia tidak lagi berhak untuk ikut serta dalam permainan berikutnya. Karena itu, maka setelah berdiri tegak sambil mengibaskan pakaiannya, pengawal yang seorang itu telah menuntun kudanya menepi, sementara ketiga orang kawannya masih melanjutkan permainan yang menjadi semakin sengit itu.

Tetapi justru karena itu para pengawal yang masih berada di punggung kudanya mulai dijalari oleh hentakan-hentakan perasaan. Seorang kawannya yang terjatuh dari punggung kuda membuat jantung mereka menjadi panas menghadapi orang yang tidak mereka kenal itu.

Ketiga ekor kuda para pengawal itu pun kemudian menyambar-nyambar dengan garangnya. Mengitari ara-ara, kemudian memotong menyilang menyerang penunggang kuda yang tidak dikenal itu.

Rangga Gupita mengerutkan keningnya. Namun ia pun mengangguk mengiakan. Dengan demikian maka Ki Wiradana lewat para pemimpin pengawal telah memerintahkan para pengawal mengepung arena agar orang berkuda itu tidak dapat meloloskan diri dari arena, siapapun orang itu. Bahkan Ki Wiradana menghubungkan kehadiran orang yang sombong itu dengan orang-orang yang sering melakukan perampokan di Tanah Perdikan, meskipun ia ragu-ragu apakah mereka berani melakukan hal itu.

Karena itu, maka sejenak kemudian, beberapa orang pengawal telah berlari-lari di pinggir gelanggang dan menebar sebagaimana mereka lakukan pada saat tiga orang pengawal berkelahi melawan seekor harimau. Ki Wiradana pun telah menyiapkan pula beberapa orang pengawal berkuda, tidak dengan tombak yang tumpul, tetapi

benar-benar dengan senjata yang berujung tajam.

Bahkan beberapa orang perwira Jipang telah mempersiapkan diri. Seakan-akan penunggang kuda yang tidak dikenal itu telah menantang mereka pula.

Sejenak kemudian pertandingan itu menjadi semakin seru. Sorak para penonton pun rasa-rasanya menjadi semakin gemuruh. Mereka menyaksikan sesuatu yang selama hidup mereka belum pernah mereka lihat. Satu permainan berkuda yang luar biasa. Seluruh gelanggang rasa-rasanya telah dipenuhi oleh empat ekor kuda yang terlibat dalam permainan itu.

Beberapa saat kemudian, bumi bagaikan terguncang oleh sorak yang meledak tanpa disadari. Namun kemudian penonton itu menjadi berdebar-debar, justru karena mereka melihat bahwa seorang pengawal telah terlempar lagi dari punggung kudanya. Dan tanpa sadar mereka telah menyorakinya.

Para pemimpin Tanah Perdikan pun menjadi berdebar-debar pula. Ki Wiradana benar-benar menjadi gelisah, sementara wajah Ki Rangga Gupita pun menjadi semakin tegang.

"Kita harus bertindak," tiba-tiba Ki Wiradana menggeram.

Ki Rangga Gupita termangu-mangu sejenak. Namun dalam waktu yang singkat, telah terjadi guncangan perasaan pada para pemimpin pengawal dan bahkan Ki Wiradana dan para perwira Jipang yang berada diseputar arena. Hampir berbareng dua orang pengawal yang tersisa telah terlempar pula dari kudanya dan jatuh terpelanting.

Bahkan seorang di antara para pengawal itu agaknya kurang dapat menguasai tubuhnya pula saat ia jatuh dari kudanya sehingga karena itu, maka puggungnya terasa menjadi sangat sakit dan bagaikan akan patah.

Orang-orang Tanah Perdikan Sembojan menjadi ragu-ragu untuk bersorak. Ternyata para pengawal kebanggaan mereka telah dikalahkan oleh seorang penunggang kuda yang tidak mereka kenal.

Dalam pada itu, hampir berbareng beberapa orang perwira Jipang yang melatih para pengawal itu telah bergerak maju. Seakan-akan berebut mereka berkata kepada Ki Rangga Gupita, "Biarlah aku membuatnya jera."

Tetapi Ki Rangga yang memiliki pengamatan yang sangat tajam atas kemampuan seseorang telah berkata, "Orang itu bukan lawanmu."

"Jadi, kita akan membiarkannya saja dan membuat hati para pengawal susut sebesar biji kemangi?" bertanya seorang perwira.

"Jika kau yang memasuki gelanggang, justru hanya akan menambah kegelisahan saja. Menilik kemampuannya, maka kau tidak akan dapat mengalahkannya," jawab Rangga Gupita.

"Jadi bagaimana?" bertanya perwira yang lain.

Ki Rangga menengadahkan wajahnya. Dipandanginya penunggang kuda yang mengangkat

tombaknya tinggi-tinggi sebagai pertanda kemenangan itu. Namun para penonton tidak lagi bersorak dengan gemuruh. Mereka menjadi ragu-ragu dan bahkan mereka menjadi cemas. Kebanggaan yang telah menyesak di dalam dada mereka menjadi kabur.

Dalam pada itu, terdengar suara Ki Rangga Gupita berat dalam nada datar, "Akulah yang akan menyelesaikannya."

Para perwira terdiam. Mereka mengerti, bahwa Ki Rangga Gupita adalah seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Karena itu, ketika Ki Rangga Gupita menyatakan bahwa ia sendiri yang akan memasuki arena, para perwira itu pun tidak ada yang mendesak lagi untuk turun ke gelanggang.

Namun ketika Ki Rangga Gupita itu melangkah selangkah maju, maka rasa-rasanya tiba-tiba saja Ki Randukeling telah berdiri disebelahnya sambil berkata, "Apakah kau sendiri yang akan turun ke arena?"

"Ya. Menurut pengamatanku, orang itu memiliki ilmu yang melampaui ilmu para perwira," jawab Ki Rangga Gupita.

Tetapi tanggapan Ki Randukeling terasa aneh sekali. Bahkan ia tersenyum dengan lontaran perasaan yang sulit dijajagi.

“Kenapa Ki Randukeling tersenyum?” bertanya Ki Rangga Gupita.

“Orang itu memang memiliki ilmu melampaui para perwira. Sebenarnya aku ingin Ki Wiradana yang tampil lebih dahulu. Tetapi agaknya ia sudah didahului oleh para perwira. Bahkan Ki Rangga Gupita, seorang perwira dari petugas sandi di Jipang yang memiliki ilmu yang tinggi, sudah siap untuk turun sendiri di arena,” jawab

Ki Randukeling.

“Aku tidak mengerti Ki Randukeling,” jawab Ki Rangga Gupita.

“Nah, jika kau kehendaki masuklah ke gelanggang. Kau akan mengetahui apa yang telah terjadi?” jawab Ki Randukeling.

Wajah Ki Rangga Gupita menjadi tegang. Sekali lagi diamatinya penunggang kuda yang masih saja mengangkat tombaknya sambil berkeliling arena. Namun tidak terdengar lagi sorak yang gegap gempita di antara para penonton permainan itu. Namun tiba-tiba Ki Rangga Gupita pun tersenyum. Katanya, “Aku mengerti Ki Randukeling. Memang sebaiknya Ki Wiradanalah yang tampil.”

Hampir di luar sadarnya, Ki Rangga telah berpaling ke arah Ki Wiradana.

Sementara itu Ki Wiradana dan beberapa orang pemimpin pengawal menjadi tegang. Selangkah demi selangkah Ki Rangga Gupita mendekati Ki Wiradana dengan tatapan mata yang mengandung maksud tertentu. Selangkah dihadapan Ki Wiradana, Ki Rangga berhenti sambil berkata, “Apakah kita akan membiarkannya tetap mengangkat tombaknya di arena, sehingga setiap orang menganggap bahwa orang itu tidak terkalahkan di Tanah Perdikan ini?”

Ki Wiradana termangu-mangu. Namun kemudian seperti yang diharapkan ia berkata, “Aku sendiri yang akan melawannya.”

Ki Rangga Gupita mengangguk-angguk. Katanya, “Agaknya memang lebih sesuai jika Ki Wiradana yang tampil. Ki Wiradana tentu memiliki kemampuan melampaui para perwira dari Jipang. Hampir saja aku terdorong oleh perasaan marahku, sehingga aku sendiri akan turun ke gelanggang sebelum aku mendapat ijin dari Ki Wiradana. Namun ternyata bahwa Ki Wiradana sendiri akan melakukannya.”

“Ya. Aku akan melakukannya,” geram Ki Wiradana.

Ki Randukeling menarik nafas dalam-dalam. Sekilas ia memandang wajah Ki Rangga, namun kemudian ia pun mengangguk kecil.

Demikianlah maka Ki Wiradana pun telah mempersiapkan diri. Dengan seekor kuda yang tegar maka ia telah menggenggam tombak yang berujung tumpul untuk terjun ke gelanggang sodoran.

Demikian Ki Wiradana memasuki arena di atas kudanya sambil menjinjing tombak berujung tumpulnya, maka gemuruh rakyat Tanah Perdikan bagaikan menggetarkan bumi.

Orang berkuda yang masih berada di tengah-tengah arena ketika melihat Ki Wiradana memasuki gelanggang, telah memutar kudanya menghadap ke arah pemangku

jabatan Kepala Tanah Perdikan itu.

Untuk beberapa saat keduanya berputar di tengah-tengah arena, sementara beberapa orang pengawal masih tetap mengepung arena itu. Mereka mendapat perintah untuk menjaga, agar orang berkuda itu tidak ke luar dari lingkungan arena

pertandingan.

Sementara itu, Ki Rangga Gupita dan Ki Randukeling telah berada di punggung kuda pula. Mereka telah memasuki gelanggang meskipun mereka tidak akan bertanding. Tetapi seakan-akan mereka akan menjadi saksi dari pertandingan yang akan terjadi kemudian.

Orang-orang Tanah Perdikan Sembojan itu menjadi tegang. Ki Wiradana pun nampaknya telah menjadi tegang pula.

Namun ternyata bukan hanya mereka saja yang menjadi tegang. Tetapi orang yang berada di punggung kuda dan memasuki arena itu dengan cara yang tidak wajar, nampaknya telah menjadi tegang pula.

Beberapa saat kemudian, Ki Rangga Gupita pun telah memberikan isyarat untuk membunyikan bende sebagai pertanda bahwa permainan itu akan dimulai, sehingga dengan demikian permainan itu seakan-akan adalah permainan yang memang disiapkan sebagaimana permainan-permainan sebelumnya, kecuali ketika orang yang memasuki gelanggang itu bertanding melawan empat orang sekaligus.

Demikian terdengar suara bende, maka kedua orang yang telah berada di gelanggang itu bersiap. Ketika bende berbunyi sekali keduanya memperbaiki dan membenahi diri dipunggung kuda masing-masing. Ketika bende berbunyi dua kali maka mereka telah bersiap di arah masing-masing. Tanpa ada yang mengatur, keduanya telah berada di ujung-ujung arena.

Ketika benda berbunyi tiga kali, maka kedua ekor kuda dengan penunggangnya masing-masing lepas berlari seperti anak panah yang dilontarkan dari busurnya.

Dalam pada itu, kedua senjata ditangan kedua orang yang berpacu di atas punggung kuda itu sudah merunduk, siap untuk mendorong lawan masing-masing dari punggung kuda mereka.

Namun ternyata keduanya memiliki ketangkasan yang tinggi. Dalam benturan yang terjadi kemudian, Ki Wiradana memang hampir saja terlempar dari kudanya. Tetapi ternyata ia masih mampu bertahan. Sementara penunggang kuda yang lain bergeser sedikit di atas pelana kudanya. Namun keduanya masih mampu mempertahankan keseimbangan masing-masing.

Pertandingan selanjutnya, keduanya tidak terikat lagi pada arah. Mereka mendapat kebebasan untuk menyerang dan menghindar, sehingga kedua orang itu telah bertanding sambar menyambar.

Dengan demikian, maka pertandingan sodoran itu pun kemudian berlangsung semakin lama semakin sengit. Debu yang dilemparkan oleh kaki kuda mereka pun semakin lama menjadi semakin banyak, sementara kedua ekor kuda itu berlari-lari memenuhi ara-ara yang disediakan sebagai gelanggang pertandingan.

Namun dalam beberapa hal, Ki Rangga Gupita dan Ki Randukeling melihat

keragu-raguan pada tata gerak orang berkuda yang bertanding melawan Ki Wiradana. Senjatanya yang merunduk tepat mengenai dada, kadang-kadang telah bergeser justru pada saat benturan hampir terjadi, sehingga ujungnya yang tumpul itu

hanya menyentuh pundaknya saja. Namun sementara itu, Ki Wiradana telah berjuang sejauh dapat dilakukan. Ia telah mengerahkan semua kemampuan yang ada padanya, serta ketrampilan berkuda. Tidak ada lagi yang tersisa padanya.

Namun demikian ia tidak mampu menjatuhkan orang berkuda yang memakai tutup pada

wajahnya.

Karena itulah maka pertandingan itu pun berlangsung agak lama. Ki Wiradana telah memeras segenap kemampuan, ketangkasan dan ketrampilannya untuk berusaha mengimbangi penunggang kuda yang tidak dikenal itu. Tetapi ternyata bahwa bagaimanapun juga ia berusaha, namun kemampuannya memang tidak akan dapat mencapai tataran yang setingkat dengan lawannya.

Karena perbedaan kemampuan serta ketangkasan bermain kuda itulah, maka pada suatu saat, Ki Wiradana lebih banyak menjadi sasaran serangan lawannya daripada menyerang. Tangannya yang memegang senjatanya tidak lagi mampu mengangkat dan merundukkan ujungnya tanpa gemetar oleh kelelahan. Sementara lawannya masih juga dengan tangkasnya menyambar-nyambar.

Dengan demikian maka beberapa saat kemudian, baik Ki Wiradana sendiri, maupun orang-orang yang menyaksikannya, terutama pera perwira dari jipang dan para pengawal, melihat bahwa orang berkuda yang tidak dikenal itu benar-benar telah menguasai arena. Ki Wiradana tidak lagi berdaya untuk mempertahankan diri ketika serangan yang keras pun datang menyambarnya. Orang berkuda yang tidak dikenal itu telah menggertakkan giginya untuk melenyapkan keragu-raguan yang terasa mewarnai jantungnya.

Benturan yang kemudian terjadi, benar-benar telah menentukan. Ki Wiradana tidak mampu untuk menangkis serangan itu dengan senjatanya. Karena itu, maka ujung senjata lawannya yang tumpul itu telah mengenai sasarannya.

Dada Ki Wiradana telah terdorong oleh kekuatan yang tidak terlawan. Karena itu, maka ia pun kemudian telah terlempar dari punggung kudanya. Tangannya yang memegang kendali kudanya pun telah terlepas sehingga dengan demikian maka kudanya pun telah berlari tanpa penunggang mengelilingi arena.

Orang-orang Tanah Perdikan Sembojan tidak lagi bersorak-sorak. Jantung mereka tercengkam oleh ketegangan. Ki Wiradana, pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang dianggap sebagai seorang yang memiliki kelebihan di antara

orang-orang Tanah Perdikan itu telah dijatuhkan oleh orang yang tidak dikenal. Suasana diseputar gelanggang itu justru menjadi tegang. Wajah-wajah menunjukkan kerisauan dan kegelisahan. Ki Rangga Gupita menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak berbuat apa-apa. Ia tidak bersiap untuk turun ke gelanggang sebagaimana pernah dikatakannya.

Beberapa orang perwira Jipang telah datang mendekatinya dengan wajah yang memancarkan kemarahan yang menghentak di dadanya.

“Ki Rangga. Apa yang akan kita perbuat?” bertanya salah seorang perwira itu.

Ki Rangga justru tersenyum. Katanya, “Kita sedang menyaksikan satu permainan yang mengejutkan di antara orang-orang Tanah Perdikan Sembojan.

“Apa yang Ki Rangga maksudkan?” bertanya perwira yang lain.

Sementara itu, Ki Wiradana yang terjatuh dari punggung kudanya itu pun telah berdiri dan berjalan dengan gejolak perasaan yang menghentak-hentak mendekati Ki Randukeling dan Ki Rangga Gupita.

“Ki Wiradana ternyata tidak mampu melawannya,” berkata Ki Rangga.

Ki Wiradana mengangguk. Ia tidak dapat mengingkari kenyataan yang disaksikan oleh sebagian orang-orang Tanah Perdikan di sebuah gelanggang yang terbuka, bahwa ia telah terjatuh dari punggung kuda dalam sebuah permainan yang keras. Namun dalam pada itu, Ki Wiradana pun telah menjawab, “Aku tidak pernah melakukan permainan seperti ini.”

“Tetapi apakah lawanmu itu juga sering melakukannya?” bertanya Ki Rangga. Ki Wiradana berpaling ke arah penunggang kuda yang tidak dikenal yang masih duduk di atas kudanya sambil memegangi senjatanya.

“Aku tidak tahu,” jawab Ki Wiradana. “Aku tidak mengenalnya. Apakah Ki Rangga dapat mengenali orang itu?”

“Soalnya bukan pernah atau tidak pernah. Tetapi ketangkasan dan kenal ilmu yang ada di dalam diri para pemain dari pertandingan ini akan ikut menentukan,” berkata Ki Rangga.

“Tetapi siapakah orang itu?” bertanya Ki Wiradana. “Bertanyalah kepada Ki Randukeling,” jawab Ki Rangga.

Ki Wiradana terdiam sejenak. Sementara itu orang-orang Tanah Perdikan Sembojan itu, menyaksikan pertandingan itu bagaikan mematung. Beberapa orang yang sempit berpikir merasa sangat kecewa atas kekalahan Ki Wiradana. Mereka menganggap Ki Wiradana tidak sebagaimana ayahnya yang pernah membunuh Kalamerta, namun yang kemudian terbunuh dengan cara yang sangat licik.

Dalam pada itu, Ki Wiradana memandang Ki Randukeling yang tersenyum. Dengan penuh keragu-raguan ia bertanya, “Kakek, apakah kakek dapat menyebutkan, siapakah orang yang memakai tutup di wajahnya itu?”

“Wiradana,” berkata Ki Randukeling. “Cobalah mengatur perasaanmu. Kau jangan terkejut. Tidak ada maksud buruk sama sekali dalam permainan ini. Namun sebenarnyalah orang itu hanya ingin memperkenalkan dirinya karena selama ini ia telah dianggap dan diperlakukan tidak sebagaimana adanya.”

“Aku tidak mengerti, kakek,” jawab Ki Wiradana. “Sebentar lagi, kau akan mengerti,” jawab Ki Randukeling.

Ki Wiradana termangu-mangu. Sementara itu Ki Randukeling yang masih berada di punggung kudanya telah mendekati orang berkuda yang tidak dikenal itu. Beberapa langkah dihadapannya ia berhenti. Katanya, “Sudah waktunya kau menyatakan dirimu sendiri.”

Orang itu termenung sejenak. Namun kemudian bersama Ki Randukeling ia telah mendekati Ki Wiradana yang berdiri tegak dengan jantung yang berdebaran.

Dihadapan Ki Wiradana orang berkuda yang memakai tutup diwajahnya itu tiba-tiba telah mengangkat senjatanya yang bertangkai panjang dan berujung tumpul.

Seolah-olah ia ingin menyatakan sekali lagi kemenangannya atas Ki Wiradana. Namun orang-orang Tanah Perdikan masih tetap berdiri diam dengan ketegangan perasaan.

Sejenak kemudian Ki Randukeling itu pun berkata, “Bukalah tutup wajahmu. Nyatakanlah kepada Ki Wiradana dan orang-orang Tanah Perdikan ini, siapakah kau sebenarnya.”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun telah menyerahkan senjatanya kepada Ki Randukeling. Kemudian perlahan-lahan ia telah membuka tutup wajahnya.

Ki Wiradana terkejut bukan kepalang. Sementara itu, orang-orang Tanah Perdikan sembojan yang berdiri di paling depan dapat melihat siapakah orang itu, meskipun masih dengan penuh keragu-raguan karena jarak di antara mereka dengan orang berkuda di tengah gelanggang itu.