-->

Suramnya Bayang-Bayang Jilid 17

Jilid 17

“Kau harus segera menyampaikan laporan kepada Ki Patih Mantahun. Yang perlu segera dilakukan adalah mengirimkan beberapa orang perwira yang akan melatih anak-anak muda Tanah Perdikan ini, agar pada saatnya dapat dipersiapkan untuk menghadapi Pajang, di samping prajurit Jipang yang akan dikirim kelak. Namun dengan kekuatan Tanah Perdikan ini, maka Jipang akan dapat menghemat prajuritnya, karena Jipang tentu akan menghadapi kekuatan-kekuatan lain,” berkata Ki Randukeling.

“Tetapi kekuatan yang paling besar adalah kekuatan Pajang,” sahut Rangga Gupita. Ki Randukeling mengangguk-angguk. Namun katanya, “Tanah Perdikan ini juga akan dapat memberikan dukungan kekuatan menghadapi Pajang.”

Rangga Gupita mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sependapat dengan Ki Randukeling. Dan aku akan segera melakukannya. Tetapi apakah aku perlu singgah di rumah Ki Wiradana?”

“Kau belum mengenalnya. Kau perlu berkenalan dengan pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan itu,” berkata Ki Randukeling. “Tetapi sebagai cantrikku. Cantrik seorang pertama di Gunung Kukusan.”

“Baiklah. Aku akan berkenalan dengan Ki Wiradana. Tetapi kenapa aku harus diebut sebagai cantrik Gunung Kukusan? Apakah ada salahnya jika aku menyebut diriku seorang prajurit dari Jipang? Atau barangkali lebih lengkap lagi bahwa aku

berada disini dalam tugas sandi?” berkata Rangga Gupita.

“Kita masih belum yakin akan sikap Ki Wiradana. Nampaknya memang masih belum mantap. Tetapi untuk sementara kau dapat menyebut dirimu cantrik Gunung Kukusan. Pada saatnya nanti kau akan mengatakan yang sebenarnya,” jawab Ki Randukeling. “Jika demikian, maka aku harus menyesuaikan sikapku dan barangkali pakaianku?” bertanya Rangga Gupita.

“Bagaimana dengan pakaianmu? Kau sudah memakai pakaian seorang petani. Apalagi?

Apakah pakaian cantrik itu harus lain dan barangkali lebih buruk dari pakaian seorang petani seperti yang kau pakai?” berkata Ki Randukeling.

“Memang kesannya, seorang cantrik adalah seseorang yang hidup dalam dunia tersendiri. Disebuah padepokan tanpa menghiraukan kehidupan di luar lingkungannya,” berkata Rangga Gupita.

“Aku adalah seorang pertapa. Tetapi jika aku keluar dari padepokan, maka aku

akan menyesuaikan diri dengan tujuanku sehingga aku akan dapat menempatkan diri dimanapun dalam hubungan antar manusia,” berkata Ki Randukeling.

"Tetapi aku pernah melihat seorang pertapa dalam pakaian kusut yang sekadar dililitkan ditubuhnya berada di jalan-jalan raya di Jipang," berkata Rangga Gupita.

"Ah, tentu tidak. Tetapi mungkin juga, bahwa pertapa yang demikian benar-benar telah melepaskan diri dari hubungan lahiriah dengan dunia ini," berkata Ki Randukeling. "Itulah bedanya antara mereka dengan aku. Aku masih menganggap diriku yang pertapa ini, sebagian dari lingkunganku. Aku masih berpikir tentang Tanah Perdikan Sembojan agar menjadi bagian dari Jipang dan melepaskan diri dari Pajang. Aku masih mempunyai pilihan bahwa kekuasaan Demak sebaiknya kembali saja kepada keturunan Sekar Seda Lepen, dan tidak jatuh ke tangan keturunan

Trenggana," jawab Ki Randukeling.

Rangga Gupita mengangguk-angguk. Katanya kemudian, "Aku mengerti. Dan kini Ki Randukeling justru sedang sibuk melibatkan diri dalam persoalan besar yang

terjadi di Jipang."

"Ya. Demikianlah memang yang terjadi," jawab Ki Randukeling. Rangga Gupita tersenyum. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu.

Demikianlah keduanya pun kemudian berbelok dan melingkar lewat jalan sempit kembali ke padukuhan induk. Ketika mereka mamasuki halaman rumah Ki Wiradana, maka orang-orang yang melihatnya menjadi heran, bahwa pertapa itu datang dengan seseorang.

Namun Ki Randukeling kemudian menjelaskan, bahwa orang itu adalah salah seorang cantriknya yang menyusulnya.

"Namanya Gupita," berkata Ki Randukeling kepada Ki Wiradana.

Gupita pun diterima dengan baik, sementara Ki Randukeling pun kemudian memanggil Ki Wiradana, Warsi dan laki-laki yang disebut sebagai ayah Warsi, sementara ia

pun menyuruh memanggil saudagar emas berlian yang sedang berada di penginapannya dalam usahanya untuk menjebak dua orang perampok.

"Dua orang sedang pergi ke penginapan itu," Ki Wiradana memberitahukan kepada kakeknya ketika mereka sudah berkumpul di ruang tengah.

"Kita menunggu sejenak," berkata Ki Randukeling.

Sementara itu Warsi telah menghidangkan minuman hangat dan makanan. Namun sebenarnyalah bahwa ia telah mengerti apa yang akan dikatakan oleh kakeknya itu. Sejenak kemudian, maka saudagar emas berlian yang menginap di penginapan itu pun telah datang pula dan duduk di antara mereka. Dengan kerut didahinya ia

bertanya, "Apakah ada sesuatu yang penting dan harus segera ditangani?"

"Tidak terlalu penting Ki Saudagar," jawab Ki Randukeling. Bahkan ia pun masih sempat bertanya, "Bagaimana dengan perampok itu?"

"Mereka sama sekali tidak menampakkan dirinya," jawab Ki Saudagar itu. "Ternyata mereka pun mempunyai perhitungan," berkata Ki Randukeling. Lalu, "Tetapi baiklah. Aku akan mengatakan kepentinganku kali ini," kakek Warsi itu berhenti sejenak, lalu katanya, "Seorang cantrik dari padepokan telah menyusul. Mereka menganggap bahwa aku telah pergi terlalu lama." "Jadi kakek akan kembali?" bertanya Ki Wiradana.

"Ya. Aku akan kembali ke Gunung Kukusan. Tetapi aku pun akan langsung berhubungan dengan Jipang. Aku akan menyampaikan keputusan kalian. Namun aku berpesan, jangan melakukan sesuatu yang dapat menarik perhatian. Jangan membocorkan rahasia ini," jawab pertapa dari Kukusan itu.

"Lalu apakah yang dapat aku kerjakan disini?" bertanya Ki Wiradana.

Ki Randukeling mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, "Kau tetap dapat meningkatkan latihan-latihan bagi pengawalmu menurut kemampuan tenaga yang ada. Agaknya hanya kau sendirilah yang akan mampu memberikan latihan-latihan itu."

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Jawabnya, "Ya kakek. Aku disini seolah-olah hanya seorang diri. Aku harus melakukan semuanya."

"Apakah ayah cucu juga melakukan sebagaimana kau lakukan sekarang?" bertanya Ki Randukeling.

"Ya kakek. Ayah juga berbuat segala sesuatunya sendiri. Ada beberapa pengawal kepercayaannya. Tetapi kemampuan dan ilmunya tidak lebih baik dari yang kita lihat sekarang," jawab Ki Wiradana.

Dalam pada itu, tiba-tiba saja saudagar emas dan berlian itu berkata, ”Ki

Wiradana. Jika Ki Wiradana tidak berkeberatan, aku bersedia membantu. Bukankah aku juga akan menjadi penghuni Tanah Perdikan ini jika aku sudah mendapatkan sebidang tanah disini? Bukankah juga menjadi kewajibanku untuk ikut serta berbuat sesuatu bagi Tanah Perdikannya?”

Ki Wiradana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, ”Terima kasih Ki Saudagar. Aku sangat berterima kasih. Dengan demikian maka tugasku akan menjadi sedikit ringan.”

Laki-laki yang disebut ayah Warsi itu pun hampir saja ikut pula menyediakan diri. Tetapi Warsi menggamitnya, sehingga orang itu mengurungkan niatnya.

Namun dalam pada itu, kakek Warsi itu pun berkata, ”Wiradana. Jika aku berhasil berhubungan dengan Jipang, maka aku akan minta beberapa orang untuk melatih para pengawal di sini. Mereka adalah perwira-perwira prajurit Jipang yang memang mempunyai wewenang untuk menempa para prajurit. Dengan demikian maka para pengawal Tanah Perdikan ini akan mempunyai kemampuan seorang prajurit yang pilih tanding. Dalam keadaan yang demikian dibantu oleh sekelompok prajurit Jipang

yang sebenarnya, maka Pajang tidak akan dapat berbuat apa-apa atas Tanah Perdikan ini, sementara pasukan Jipang yang lain mengancam Pajang dari arah Barat.”

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Ia berharap bahwa segala sesuatunya dapat berjalan dengan baik sehingga Tanah Perdikan Sembojan akan benar-benar mampu tegak di luar kekuasaan Pajang yang penilaian Ki Wiradana, tidak banyak menghiraukan kepentingan Tanah Perdikan itu, selain dengan tekanan telah memungut pajak yang besar.

Demikianlah, maka kakek Warsi itu pun telah menentukan, bahwa di pagi hari berikutnya ia akan meninggalkan Tanah Perdikan itu kembali ke Gunung Kukusan dan apabila mungkin akan berhubungan dengan Jipang untuk menyampaikan maksudnya. Namun sebelum meninggalkan Tanah Perdikan, kakek Warsi itu sempat memberikan pesan-pesan yang sangat berarti bagi Ki Wiradana untuk menyusun latihan-latihan bagi para pengawalnya.

Bahkan Ki Randukeling itu telah memberikan petunjuk tentang tataran para pengawal.

”Ada tiga tataran,” berkata Ki Randukeling. ”Tataran pertama, adalah mereka yang memang menyatakan diri sebagai pengawal. Jumlahnya memang tidak terlalu banyak. Tetapi mereka adalah pusat kekuatan Tanah Perdikan ini. Mereka harus tidak merangkap pekerjaan lain, kecuali mengkhususkan diri dalam tugasnya sebagai pengawal. Bahkan sawah ladang mereka pun harus mereka serahkan untuk digarap orang lain. Kepada mereka Ki Wiradana dapat memberikan penghasilan tetap bagi hidup mereka dan jika sudah berkeluarga, bagi keluarga mereka. Tataran kedua adalah anak-anak muda yang menyatakan diri bersedia menjadi pengawal di padukuhan masing-masing. Tetapi mereka tidak mengkhususkan diri. Mereka masih tetap dalam kerja mereka sehari-hari. Mereka harus bekerja di sawah dan ladang

bagi hidup mereka dan keluarga mereka. Namun pada saat tertentu mereka mendapat tugas-tugas pengawalan, sebagai kewajiban mereka terhadap Tanah Perdikan. Mereka pun harus mendapat latihan-latihan yang baik sebagaimana seorang prajurit meskipun tidak akan sejajar dengan para pengawal khusus. Sedangkan tataran yang ketiga adalah semua laki-laki di Tanah Perdikan ini. Semua orang akan mendapat kewajiban untuk berbuat sebagaimana para pengawal jika Tanah Perdikan ini terancam bahaya. Tegasnya jika Tanah Perdikan ini diserang dari luar.”

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, ”Terima kasih kakek. Aku akan mencoba menyusun tataran pengawal di Tanah Perdikan ini sebagaimana kakek katakan. Mudah-mudahan aku berhasil.”

”Latihan-latihan harus segera kau mulai. Kau tidak perlu menunggu kedatangan para perwira. Justru dengan demikian, maka tidak akan nampak perubahan yang serta merta dalam latihan-latihan para pengawal di Tanah Perdikan ini,” berkata kakek Warsi kemudian.

Pesan ini ternyata sangat berarti bagi Ki Wiradana. Bahkan telah menumbuhkan gejolak di dalam dadanya, mendorong tekadnya untuk membuat Tanah Perdikan Sembojan sebagai Tanah Perdikan yang kuat dan tidak tergoyahkan. Bukan saja menghadapi Pajang, tetapi juga menghadapi orang-orang Sembojan sendiri yang nampaknya ada beberapa pihak yang tidak dengan ikhlas melakukan

perintah-perintahnya dan bahkan menunjukkan gejala untuk menentangnya. Sepeninggal kakek Warsi di saat yang telah direncanakan maka Ki Wiradanapun segera berkemas. Namun ia merasa sedikit heran, bahwa ternyata kakek Warsi adalah orang yang agaknya memiliki pengetahuan dan pengalaman yang luas. Ia

bukan seorang pertama yang berpandangan sesempit padepokannya. Bahkan menurut pendapat Ki Wiradana, ayah Warsi pun bukan seorang yang terlalu bodoh meskipun ia tidak lebih dari seorang penggendang.

“Nampaknya Warsi benar-benar tersesat ketika ia menjadi penari jalanan. Bagaimanakah pendapat kakeknya jika ia melihat bahwa Warsi berjalan beriringan dalam pakaian penari disepanjang jalan di malam hari, kemudian menanggapi kekasaran laki-laki dalam janggrung yang dibaui oleh tuak?” berkata Ki Wiradana di dalam hatinya.

Tetapi Ki Wiradana tidak mengatakan kepada siapapun juga pertanyaan yang terbersit di dalam hatinya itu.

Dalam pada itu, sepeninggalan kakek Warsi, Wiradana dan Ki Saudagar benar-benar telah bersiap untuk menyusun pasukan pengawal Tanah Perdikan dalam tataran sebagaimana dikatakan oleh kakek Warsi. Meskipun yang ada sebenarnya di Tanah Perdikan Sembojan sudah mirip sebagaimana dikatakan oleh Ki Randukeling, namun Wiradana harus menegaskan, yang manakah pengawal khusus dan yang manakah pengawal dalam tataran yang lebih luas.

Sementara itu, Warsi yang berbicara dengan laki-laki yang disebut ayahnya telah mengeram, “Kau jangan ikut-ikutan. Hampir saja aku lupa menampar mulutmu. Kau adalah seorang pengendang. Jangan merasa dirimu memiliki ilmu untuk ikut melatih para pengawal di Tanah Perdikan ini.” Laki-laki itu hanya mengangguk saja.

“Nah, hati-hatilah menempatkan dirimu sebagaimana aku harus sangat berhati-hati menempatkan diriku,” berkata Warsi kemudian.

“Berpura-pura untuk waktu yang sangat lama kadang-kadang terlupa juga,” gumam laki-laki itu.

“Jika kau merusakkan permainan ini, aku bunuh kau,” geram Warsi.

Laki-laki itu tidak menjawab. Tidak ada gunanya berbantah dengan Warsi. Bahkan mungkin Warsi benar-benar akan menampar mulutku.

Demikianlah, Ki Wiradana telah bekerja keras untuk memperbaiki susunan tataran pengawalnya. Ia memang tidak terlalu banyak harus membuat perubahan-perubahan. Para pengawal yang ditunjuk untuk menjadi alas kekuatannya itulah yang kemudian dianggapnya sebagai pengawal khusus. Mereka sejak sebelumnya memang sudah menerima hadiah dan pemberian dari Ki Wiradana lebih banyak dari para pengawal yang lain dengan harapan bahwa mereka akan patuh dan selalu melakukan perintahnya.

“Jika mungkin, mereka sebaiknya ditempatkan di barak-barak tertentu. Meskipun tidak semua dari para pengawal khusus itu. Tetapi inti dari pasukan khusus yang mampu bergerak setiap saat dengan cepat. Katakanlah, mereka adalah pasukan pengawal berkuda dari Tanah Perdikan ini.”

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Namun dengan demikian, ia akan memerlukan anggaran yang banyak untuk kepentingan para pengawalnya.

“Pajak di Tanah Perdikan ini terlalu rendah,” berkata Ki Saudagar itu kepada Ki Wiradana. “Maksudku bagi mereka yang berkecukupan, pajak dapat dinaikkan serba sedikit. Ki Wiradana jangan menyebut bahwa mereka dikenakan pajak lebih banyak, tetapi mereka harus membayar iuran bagi peningkatan kesejahteraan Tanah Perdikan ini, termasuk segi keamanannya. Ki Wiradana dapat sedikit memberikan gambaran apa yang terjadi di Demak, sehingga dalam keadaan yang tidak menentu ini,

mungkin terjadi kekisruhan,” Ki Saudagar itu berhenti sejenak.

Selanjutnya, “Orang-orang jahat, akan dapat memanfaatkan keadaan ini untuk kepentingan diri mereka sendiri. Apalagi jika perhatian para Adipati tertuju kepada pengisian tahta yang kosong itu. Tetapi lebih parah lagi jika terjadi benturan pendapat dan bahkan mungkin peperangan. Tetapi sekali lagi aku

peringatkan pesan Ki Randukeling, bahwa Ki Wiradana untuk berpihak kepada Jipang adalah merupakan satu keputusan yang masih sangat rahasia. Hanya orang-orang di dalam rumah Ki Wiradana sajalah yang boleh mengetahui. Pengawal yang paling dipercaya pun sebaiknya belum mendengar tentang keputusan ini.”

“Ya Ki Saudagar. Aku memang belum mengatakan kepada siapapun juga,” jawab Ki Wiradana.

“Bagus,” jawab saudagar itu. “Sementara itu Ki Wiradana dapat mengatur para pengawal sebaik-baiknya. Aku akan membantu memberikan latihan-latihan bersama seorang kawanku itu.”

“Terima kasih. Kita memang harus segera mulai,” berkata Ki Wiradana.

“Semakin cepat semakin baik. Aku yakin bahwa Ki Randukeling akan bergerak dengan cepat. Kita harus sudah siap dengan susunan tataran para pengawal sebelum beberapa orang perwira dari Jipang itu datang.”

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, “Dalam waktu sebulan aku akan sudah siap dengan susunan tataran para pengawal sebagaimana dikehendaki oleh kakek dari Gunung Kukusan. Aku tidak terlalu banyak membuat perubahan-perubahan. Yang penting bagiku adalah justru penegasan, nama-nama dari pasukan khusus dan

nama-nama dari para pengawal yang lain.”

Dengan demikian, maka Ki Wiradana telah memanggil beberapa orang kepercayaannya.

Dengan singkat ia menguraikan keadaan yang mereka hadapi pada saat-saat terakhir, dengan kosongnya tahta di Demak, maka mungkin akan terjadi persoalan-persoalan yang tidak dikehendaki. Tetapi seperti yang dipesankan Ki

Randukeling dan Ki Saudagar, persoalan hubungan antara Jipang dan Tanah Perdikan itu sama sekali tidak disinggungnya.

Demikianlah, maka dalam waktu yang terhitung singkat, Ki Wiradana telah menyiapkan susunan tataran pada pengawal. Ia telah membuat suatu barak yang akan menjadi barak para pengawal khusus dari pasukan berkuda Tanah Perdikan Sembojan.

Dalam waktu yang singkat pula, setiap padukuhan harus sudah mengirim nama-nama para pengawalnya.

Ki Saudagar ternyata mengagumi gerak Ki Wiradana yang cepat itu. Sebagaimana dikatakannya, dalam waktu satu bulan hanya lebih beberapa hari, semuanya telah tersusun rapi. Meskipun barak yang khusus bagi pengawal berkuda masih belum selesai sepenuhnya, tetapi sebagian dari pengawal berkuda yang pada umumnya terdiri dari anak-anak muda yang belum berkeluarga itu telah dapat mempergunakannya. “Bagi mereka yang sudah berkeluarga akan tetap tinggal pada keluarga

masing-masing,” berkata Ki Wiradana. “Tetapi mereka harus mampu bergerak cepat dan berada di barak pasukan pengawal berkuda dalam waktu pendek. Kecuali jika ada perintah lain,” berkata Ki Wiradana kepada para pengawal itu.

Dengan para pemimpin pengawal, Ki Wiradana telah membicarakan cara yang akan ditempuh untuk memberikan latihan-latihan yang lebih baik bagi mereka.

“Untuk sementara, aku dan Ki Saudagar akan menempa mereka dari pasukan pengawal yang tinggal di barak dan mereka yang termasuk pasukan pengawal khusus yang jumlahnya tidak terlalu banyak. Hanya dalam waktu sekali sepekan, para pengawal

di padukuhan-padukuhan akan mendapat latihan-latihan dari para pengawal khusus,” Ki Wiradana menegaskan.

Dengan demikian, maka Tanah Perdikan Sembojan itu nampaknya menjadi semakin hidup. Setiap hari mereka melihat latihan-latihan yang dilakukan oleh para pengawal khusus. Sedangkan sepekan sekali pasukan khusus itu justru mendapat waktu untuk beristirahat dari latihan-latihan mereka, tetapi mereka justru memberikan latihan-latihan kepada para pengawal yang lain di

padukuhan-padukuhan.

Tetapi di samping kegiatan para pengawal yang membuat Tanah Perdikan Sembojan itu nampak bertambah perkasa, terdengar di banyak sudut Tanah Perdikan orang yang mengeluh. Ternyata peningkatan beban anggaran Tanah Perdikan Sembojan itu harus dipikul oleh rakyat. Orang-orang yang dianggap berkecukupan harus

memberikan sumbangan khusus disamping pajak mereka. Bahkan kemudian bukan saja mereka yang berkecukupan. Pelaksanaannya ternyata telah menimbulkan

persoalan-persoalan tersendiri.

Batas antara mereka yang berkecukupan dan yang tidak termasuk berkecukupan memang sulit untuk ditentukan. Apalagi ada kesengajaan dari para petugas yang menentukan batas untuk mengaburkan batasan yang tidak jelas itu, sehingga dengan demikian maka sebagian besar dari orang-orang Tanah Perdikan Sembojan itu dianggap saja berkecukupan. Sedakan besar kecilnya sumbangan yang harus mereka berikan itu pun merupakan masalah yang kadang-kadang harus diatasi dengan kekerasan.

Namun dalam pada itu, rakyat kecil di Tanah Perdikan Sembojan tidak dapat menolak ketentuan yang dipaksakan kepada mereka oleh Ki Wiradana, pengemban

tugas Kepala Tanah Perdikan yang mempergunakan para pengawal khusus sebagai alat untuk melaksanakan ketentuan itu. Yang dapat mereka lakukan tidak lebih dari mengeluh dan bergeremang di antara mereka.

Sementara itu, Rangga Gupita telah membawa berita tentang Tanah Perdikan Sembojan itu ke Jipang. Ketika ia langsung menyampaikan masalahnya kepada Ki Patih Mantahun, maka Ki Patih itu pun bertanya, "Apakah kau yakin bahwa Tanah Perdikan itu benar-benar dapat dipercaya."

"Pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan adalah cucu Ki Randukeling," jawab Rangga Gupita.

"Bawa Ki Randukeling kemari," berkata Ki Patih Mantahun.

"Ia berada di padepokannya, di Gunung Kukusan," jawab Rangga Gupita. "Ia ingin mempersiapkan segala sesuatunya, karena Ki Randukeling sendiri ternyata ingin tinggal untuk waktu yang agak lama di Tanah Perdikan Sembojan. Sehingga karena itu, maka ia harus mengatur padepokannya, agar selama ia tidak berada di padepokan, segala sesuatunya dapat berjalan lancar."

"Katakan, bahwa Mantahun ingin berbicara langsung. Aku kira ia akan menyediakan waktu, karena Ki Randukeling kadang-kadang mempunyai pikiran yang menarik, sebagaimana usahanya untuk menarik Tanah Perdikan Sembojan ke dalam lingkungan perjuangan Kanjeng Adipati Jipang. Justru karena kelak Sembojan yang menguntungkan dan tanahnya yang menurut pendengaranku sangat subur," berkata Ki Mantahun.

"Sebagian tanahnya memang sangat subur," jawab Rangga Gupita. "Tetapi baiklah. Aku akan menghubungi Ki Randukeling. Mudah-mudahan ia cepat selesai dengan padepokannya sendiri."

Sebenarnyalah, bahwa Ki Randukeling sama sekali tidak berkeberatan untuk pergi ke Jipang setelah ia selesai membenahi padepokan yang akan ditinggalkannya untuk waktu yang mungkin agak lama. Memang ada sesuatu yang ingin langsung

dibicarakannya dengan Ki Patih Mantahun tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan di Tanah Perdikan Sembojan.

Namun sambil menunggu kedatangan Ki Randukeling maka para pemimpin di Jipang telah dapat membicarakan rencana yang mapan bagi Tanah Perdikan Sembojan.

Dengan demikian, ketika Ki Randukeling benar-benar datang menemui Ki Patih Mantahun bersama Rangga Gupita, maka banyak persoalan yang sudah dapat disiapkan pemecahannya. Dengan demikian maka tidak banyak lagi masalah-masalah yang masih harus dipersoalkan. “Yang perlu,” berkata Ki Randukeling, “Jipang harus segera mengirimkan beberapa orang perwira untuk memberikan latihan-latihan kepada para pengawal di Tanah Perdikan. Dengan demikian Tanah Perdikan itu akan dapat dipersiapkan, bukan saja sebagai sumber persediaan makanan, tetapi sumber kekuatan. Ki Patih mungkin tidak dapat memperkirakan, berapa lama Kanjeng Adipati Arya Penangsang memerlukan waktu untuk menyelesaikan perjuangannya.”

“Kau benar Ki Randukeling,” jawab Ki Patih Mantahun. “Kita harus bersiap-siap untuk perjuangan yang lama.”

“Bukankah sampai saat ini masih belum jelas, apa yang akan terjadi?” bertanya Ki Randukeling.

“Para pemimpin di Demak, orang-orang tua yang berpengaruh dan para Adipati sedang berbicara tentang kemungkinan-kemungkinan yang paling baik bagi masa depan Tanah Perdikan ini. Tetapi pembicaraan itu tidak akan berkeputusan.

Kanjeng Adipati di Jipang harus berpegangan kepada jalur kekuasaan yang sebenarnya di Demak, karena terbunuhnya ayahanda Adipati di Jipang telah menggeser jalur kedudukan Sultan di Demak, dari keturunan Sekar Seda Lepen kepada keturunan Trenggana,” berkata Patih Mantahun.

“Tetapi apakah Adipati Jipang mendapat cukup dukungan?” bertanya Ki Randukeling.

“Memang mungkin dukungan itu masih harus diperjuangkan. Tetapi itu merupakan bagian dari perjuangan Adipati Jipang dalam keseluruhan,” jawab Patih Mantahun. Namun kemudian, “Tetapi alat perjuangan terakhir adalah siap di Jipang. Kami, para pemimpin di Jipang sudah bertekad, bahwa alat perjuangan terakhir, yaitu

kekuatan senjata, telah cukup memadai untuk melawan semua kekuatan yang mungkin akan bergabung, termasuk Pajang. Apalagi para pengawal di Tanah Perdikan

Sembojan itu dapat dibina sebagaimana prajurit.”

“Sejak sebelumnya mereka sudah mendapat latihan-latihan yang tentu masih belum memadai. Tetapi setidaknya dapat merupakan pemanasan dari usaha berikutnya, menempa mereka menjadi prajurit-prajurit sebagaimana prajurit Jipang.”

Ki Patih mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan mengirim beberapa orang perwira segera.”

“Sesudah aku berangkat ke Tanah Perdikan,” berkata Ki Randukeling. “Kapan kau berangkat?” bertanya Ki Patih.

“Besok aku akan kembali ke padepokan. Hanya untuk satu malam. Kemudian aku akan langsung menuju ke Tanah Perdikan. Bersama Rangga Gupita,” jawab Ki Randukeling.

“Jika demikian, aku akan mengirimkan beberapa orang perwira tiga hari mendatang. Mereka akan langsung pergi ke Tanah Perdikan Sembojan,” berkata Ki Patih. “Perintahkan mereka menemui aku di Tanah Perdikan di rumah Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikannya,” pesan Ki Randukeling. “Tetapi ingat, jangan menarik perhatian orang-orang kebanyakan. Dalam kelompok-kelompok kecil, yang sebanyak-banyaknya terdiri dari tiga orang.”

“Baik. Aku akan menuruti petunjukmu. Sementara itu, persiapan yang lain pun telah dilakukan,” berkata Ki Patih Mantahun.

“Sebaiknya Ki Patih mempersiapkan satu pasukan yang dapat memancing perhatian orang-orang Pajang. Jika kekerasan itu tidak dapat dihindari, maka biarlah sepasukan Jipang berada disebelah barat Pajang untuk menarik perhatian mereka. Sementara itu, Sembojan dapat mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menyerang Pajang dari arah Selatan,” berkata Ki Randukeling.

“Kami akan sangat memperhatikan. Tetapi jika saatnya datang, aku akan menghubungi lagi Ki Randukeling sambil mengetahui sampai dimana persiapan yang dilakukan oleh Sembojan,” berkata Ki Patih.

Demikianlah, maka Ki Randukeling telah meninggalkan Jipang. Ia tidak merasa perlu berhubungan langsung dengan Arya Jipang, karena baginya Arya Jipang dan Ki Patih Mantahun tidak banyak bedanya. Meskipun Patih Mantahun telah cukup tua dilihat dari banyaknya umur, tetapi ia masih tetap seorang Patih yang pikirannya

sangat diperlukan oleh Arya Jipang. Bahkan dalam umurnya yang semakin tua, bukan saja pikirannya yang masih jernih, tetapi kemampuan ilmunya jarang ada duanya.

Sepeninggalan Ki Randukeling, Ki Patih Mantahun telah mempersiapkan beberapa orang perwira yang akan dikirim ke Tanah Perdikan Sembojan. Menurut perhitungannya maka agaknya duapuluh orang perwira yang berbobot akan dapat membentuk satu pasukan yang kuat dalam waktu yang singkat di Tanah Perdikan. Dengan demikian, maka Tanah Perdikan yang semula menjadi daerah kuasa Pajang itu justru akan dapat membayangi Pajang sendiri. Sementara pasukan Jipang yang sebenarnya akan berada di sebelah Barat Pajang.

“Memang hanya Pajang yang perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh,” berkata Mantahun di dalam hatinya.

Sebenarnyalah bahwa saingan yang terberat bagi Arya Penangsang adalah Adipati Pajang Hadiwijaya. Meskipun Hadiwijaya bukan menantu dari puteri tertua Sultan Trenggana, tetapi ia adalah orang yang dianggap memiliki kemampuan terbaik di antara keluarga Sultan Demak itu.

Meskipun demikian, Arya Penangsang tidak tanggung-tanggung menghadapi keturunan Trenggana yang dianggapnya telah merenggut tahta dari ayahnya. Sehingga dengan demikian, dalam kekuasaan yang wajar, ia tentu bukan salah seorang dari calon

yang akan menggantikan Sultan Trenggana.

Dalam pada itu, Ki Patih Mantahun yang telah mempersiapkan duapuluh orang perwira pilihan, telah melaporkannya pula kepada Arya Penangsang bahwa Tanah Perdikan Sembojan telah menyatakan diri berdiri dipihak mereka.

“Kau yakin?” bertanya Arya Penangsang.

“Hamba yakin Kanjeng Adipati,” jawab Mantahun, “Karena hamba telah bertemu langsung sahabat hamba yang bernama Ki Randukeling.”

“Ya. Aku mengenal orang itu,” potong Arya Penangsang.

“Nah, pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang kecewa terhadap Pajang itu adalah cucu Ki Randukeling,” jawab Patih Mantahun.

“Bagus,” jawab Arya Penangsang, “Kita harus menjadikan Tanah Perdikan itu, kecuali alas penyediaan makan bagi perjuangan jangka panjang, juga tenaga. Aku tidak berkeberatan atas rencanamu tentang Tanah Perdikan itu.”

“Hamba sudah menyiapkan duapuluh orang perwira terpilih,” berkata Mantahun. “Biarlah mereka pergi,” jawab Arya Penangsang. “Tetapi mereka harus bekerja cepat. Mereka harus selalu menyesuaikan diri dengan langkah-langkah yang akan aku ambil.”

“Rangga Gupita berada di Tanah Perdikan itu pula. Ia adalah seorang perwira dari pasukan sandi. Ialah yang akan mengatur segala hubungan antara Tanah Perdikan Sembojan dengan Jipang,” jawab Mantahun.

“Tetapi apakah kita mungkin dalam waktu dekat, sebelum kita sempat berbuat sesuatu. Pajang telah datang dengan pasukannya untuk memaksa Tanah Perdikan itu kembali tunduk kepada kuasa Pajang?” bertanya Arya Penangsang.

“Terhadap Pajang, Tanah Perdikan itu belum menyatakan sikap. Baru kemudian, jika Tanah Perdikan itu sudah kuat, maka barulah ia akan menyatakan dirinya berada dibawah perlindungan Jipang. Sementara itu, Jipang telah menempatkan pasukannya untuk membayangi Pajang dari arah Barat,” jawab Patih Mantahun.

Arya Jipang mengangguk-angguk, “Aku memang merasa perlu untuk menekan Pajang dengan menunjukkan kekuatan. Dengan demikian maka Pajang akan menjadi cemas, sehingga dalam pembicaraan-pembicaran yang akan berlangsung, Pajang tidak akan bersitegang untuk mempertahankan keturunan Trenggana memegang kendali pemerintahan di Demak,” Arya Penangsang itu berhenti sejenak, lalu, “Tetapi jika Tingkir itu tetap keras kepala, maka apaboleh buat. Pajang harus dihancurkan.” Dengan demikian, maka Arya Penangsang pun telah merestui rencana Patih Mantahun yang akan diterapkan di Tanah Perdikan Sembojan dan Arya Penangsangpun tidak berkeberatan untuk mengirimkan pasukannya ke sebelah Barat Pajang untuk memancing perhatian Pajang dan sekaligus memberikan tekanan dalam

pembicaraan-pembicaraan yang diadakan di Demak.

Dengan ijin dan bahkan restu itu, berangkatlah duapuluh orang perwira ke Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi seperti pesan Ki Randukeling, maka duapuluh orang itu tidak pergi bersama-sama dalam satu iring-iringan. Mereka terbagi dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari dua atau tiga orang dengan mengikuti jalan yang berbeda-beda, sehingga dengan demikian kepergian mereka ke Tanah Perdikan tidak menarik perhatian orang disepanjang jalan. Apalagi dalam kemelut yang sedang terjadi di Demak, maka setiap keadaan akan selalu menjadi arah pengamatan dari pihak yang lain.

Beberapa hari kemudian, Ki Randukeling yang telah berada di Tanah Perdikan Sembojan itu lebih dahulu. Ia datang bersama Rangga Gupita yang diakunya sebagai cantriknya.

Kedatangan Ki Randukeling memberikan harapan-harapan baru bagi masa depan Tanah Perdikan itu, meskipun harus dilalui melewati masa-masa ketegangan.

Demikian Ki Randukeling berada kembali di Tanah Perdikan, maka ia pun segera menyampaikan kepada Ki Wiradana bahwa hubungan dengan Jipang sudah terjalin. “Dalam waktu dekat, akan datang para perwira yang mendapat tugas untuk menyusun kekuatan di Tanah Perdikan ini. Orang-orang Jipang percaya, bahwa disini, di

Tanah Perdikan ini tersedia tenaga yang cukup. Jika terdapat beberapa orang yang dapat menyusunnya menjadi satu kekuatan yang teratur, maka kekuatan Tanah Perdikan ini harus diperhitungkan,” berkata Ki Randukeling kemudian.

“Terima kasih kakek,” jawab Ki Wiradana. “Waktunya memang menjadi semakin mendesak. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, Warsi akan melahirkan, sementara itu, sama sekali tidak ada kabar dari Pajang tentang wisuda itu. Sehingga dengan demikian maka keputusan untuk berpihak kepada Jipang akan aku tunjukkan kepada Pajang.”

“Tetapi jangan tergesa-gesa dan jangan bertindak sendiri. Kau harus menyesuaikan langkahmu dengan tahap-tahap yang dilakukan oleh Jipang menghadapi kemelut ini.”

Ki Wiradana mengangguk-angguk, katanya, “Aku mengerti kakek.”

“Nah, sejak sekarang kau dapat mempersiapkan orang-orangmu. Duapuluh orang akan datang. Tidak hanya satu atau dua orang. kau sadari jumlah itu? Duapuluh orang.

Satu kekuatan yang cukup besar bagi Tanah Perdikan ini. Dan mereka akan membantumu menyusun pasukan pengawal di Tanah Perdikan ini,” berkata Ki Randukeling. “Bukankah dengan demikian Tanah Perdikan ini akan menjadi Tanah Perdikan yang kuat?”

Ki Wiradana menjadi berdebar-debar. Namun ia pun merasa bahwa ternyata ia tidak harus bekerja sendiri sebagaimana dilakukan oleh ayahnya dahulu. Ia kini mempunyai beberapa orang kawan. Dan bahkan duapuluh orang perwira dari Jipang akan datang ke Tanah Perdikan ini.

Rencana kehadiran duapuluh orang perwira itu pun kemudian diberitahukan oleh Ki Wiradana dalam satu pertemuan tertutup para pemimpin pengawal Tanah Perdikan. Kepada mereka pun Wiradana belum mengatakan, bahwa orang-orang yang bakal datang

itu adalah orang-orang dari Kadipaten Jipang. Ki Wiradana hanya mengatakan, bahwa mereka adalah para sahabat kakeknya.

“Namun demikian, pada saatnya kalian memang harus mengetahui langkah-langkah yang akan kami ambil kemudian,” berkata Ki Wiradana.

Keterangan Ki Wiradana itu memang menjadi bahan pembicaraan para pemimpin pengawal. Mereka memang berpengharapan untuk mendapatkan ilmu yang lebih tinggi.

Tetapi mereka juga ingin tahu, siapakah sebenarnya duapuluh orang yang bakal datang.

“Jika orang-orang itu sudah pasti berada di Tanah Perdikan ini, maka barulah aku akan memberitahukan persoalan yang sebenarnya kepada kalian,” berkata Ki Wiradana kepada para pemimpin pengawal yang agaknya selalu dibayangi oleh berbagai macam pertanyaan itu.

Wiradana menjadi gelisah menunggu kedatangan para perwira seperti yang dikatakan oleh Ki Randukeling. Tetapi Ki Randukeling berkata, “Mereka pasti akan datang.

Mungkin hari ini. Mereka tidak akan berjarak lebih dari dua hari dari kedatanganku.”

Sebenarnyalah seperti yang dikatakan oleh Ki Randukeling, maka orang pertama dan kedua telah datang pada hari itu. Mereka langsung menuju ke rumah Ki Wiradana, disusul dengan orang-orang berikutnya.

Agar tidak menarik perhatian orang-orang Sembojan sendiri, maka sebagian dari kuda-kuda mereka pun telah dibawa langsung ke halaman belakang.

Ternyata dua puluh orang itu datang berurutan dalam jarak waktu yang tidak terlalu dekat. Mereka memang menempuh jalan yang berbeda atau kecepatan yang berselisih, sehingga tidak menimbulkan kesan, bahwa orang-orang berkuda dalam kelompok-kelompok kecil itu merupakan satu kesatuan.

Setelah kedua puluh orang itu lengkap berada di rumah Ki Wiradana, maka mereka pun telah diterima dengan resmi oleh Ki Randukeling. Kemudian Ki Randukeling menyerahkan keduapuluh orang itu kepada Ki Wiradana.

“Ki Wiradana dapat memanfaatkan keduapuluh orang perwira ini untuk membentuk satu pasukan yang kuat di Tanah Perdikan ini,” berkata Ki Randukeling. Lalu, “Segala sesuatunya terserah kepada Ki Wiradana. Tetapi keduapuluh orang ini mempunyai pengetahuan dan pengalaman. Meskipun demikian, keputusan terakhir tetap pada Ki Wiradana, karena pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan disini

adalah Ki Wiradana. Keduapuluh orang itu tidak mencampuri pemerintahan di Tanah Perdikan ini. Mereka datang untuk membantu Ki Wiradana. Tidak untuk menyaingi pemerintahan Ki Wiradana.”

Ki Wiradana pun kemudian menerima mereka dengan senang hati dan penuh dengan harapan bagi masa depan Tanah Perdikan itu. Untuk selanjutnya, keduapuluh orang itu akan ditempatkan di beberapa rumah yang sudah disediakan didekat barak yang sudah dibuat bagi para pengawal khusus.

Dengan kehadiran mereka, maka untuk selanjutnya Ki Wiradana tidak merasa perlu lagi untuk merahasiakan hubungan Tanah Perdikan itu dengan Jipang khusus terhadap para pemimpin pengawal. Namun demikian, para pemimpin pengawal itu harus merahasiakannya kepada orang-orang diluar lingkungan mereka karena Tanah Perdikan Sembojan tidak ingin Pajang segera melakukan tindakan seandainya mereka mengetahui. Jika berita tentang keduapuluh orang itu tersebar dan hubungan

antara Tanah Perdikan Sembojan dengan Jipang meluas diketahui, maka hal itu tentu akan segera sampai kepada orang-orang Pajang. Karena itu orang-orang Sembojan harus berusaha untuk menyimpan rahasia itu sejauh mungkin dan menyesuaikan langkah-langkah mereka dengan langkah-langkah yang diambil oleh Jipang menghadapi Demak dan Pajang.

Demikianlah dengan hati-hati, keduapuluh orang itu telah dirempatkan di

rumah-rumah yang sudah disediakan didekat barak pada pengawal khusus. Sementara itu, Ki Wiradana telah mengambil langkah-langkah selanjutnya.

“Kalian harus membantu aku,” berkata Ki Wiradana. “Karena itu maka kalian harus melakukan kewajiban kalian dengan sebaik-baiknya. Keduapuluh orangyang datang itu merupakan satu kesempatan yang sangat baik bagi Tanah Perdikan ini, karena dengan demikian Tanah Perdikan ini akan dapat menyusun satu pasukan pengawal yang kuat, melampaui kekuatan Tanah Perdikan manapun juga. Kalian tidak lagi berada pada tataran pengawal Tanah Perdikan sebagaimana para pengawal Tanah Perdikan yang lain, tetapi kalian adalah prajurit-prajurit pilihan yang berada

pada tataran prajurit Demak sendiri,” Ki Wiradana berhenti sejenak, lalu, “Namun demikian langkah-langkah yang aku ambil sekarang ini harus kalian rahasiakan.

Keduapuluh orang itu akan berbaur menjadi satu dengan kalian, sehingga tidak akan nampak dari luar, bahwa disini ada duapuluh orang perwira dari prajurit Jipang.”

Para pemimpin pengawal itu mengangguk-angguk. Mereka mendengarkan penjelasan Ki Wiradana yang panjang lebar dengan seksama, sehingga mereka pun mengerti dengan jelas segala maksud dan tujuannya.

Demikian, sejak saat itu, Ki Wiradana menyerahkan pasukan pengawalnya kepada para perwira itu untuk mendapatkan latihan-latihan yang sebaik-baiknya.

Pada hari-hari pertama, keduapuluh orang itu berusaha untuk mengetahui tingkat kemampuan para pengawal yang ada di barak yang akan menjadi alas ukuran untuk mulai dengan latihan-latihan berikutnya. Kemudian para perwira dari Jipang itu telah membagi para pengawal menjadi duapuluh kelompok kecil. Masing-masing sepuluh orang. Dengan demikian maka Tanah Perdikan Sembojan akan mempunyai duaratus orang yang akan menjadi inti kekuatan Tanah Perdikan itu.

Ternyata bahwa keduapuluh orang perwira itu pun telah menentukan waktu latihan sebagaimana ditentukan oleh Ki Wiradana sebelumnya.

“Kami akan memberikan satu hari dalam sepekan kepada kalian untuk melatih

kawan-kawan kalian di padukuhan-padukuhan, sehingga dengan demikian maka para pengawal di padukuhan-padukuhan itu pun pada saatnya akan dapat membantu kalian dengan sebaik-baiknya,” berkata para perwira itu kepada kelompoknya. Dengan demikian, maka mulailah Tanah Perdikan Sembojan dengan satu masa yang sangat sibuk. Para pengawal benar-benar harus menjalani latihan-latihan yang sangat berat, sebagaimana latihan-latihan yang dilakukan oleh prajurit. Apalagi para perwira itu menghadapi satu jumlah yang terhitung kecil bagi

latihan-latihan keprajuritan.

Namun demikian ternyata rahasia bagi kedatangan duapuluh orang Jipang itu tetap merupakan rahasia yang hanya diketahui oleh para pemimpin pengawal dan duaratus pengawal khusus yang mendapat latihan yang sangat berat itu. Mereka dengan rapat menyimpan rahasia itu sehingga para pengawal di padukuhanpun tidak mengetahui, bahwa dalam latihan-latihan pasukan pengawal khusus itu terdapat orang-orang Jipang.

Sementara itu, latihan-latihan bagi para pengawal khusus itu memang sangat

berat. Setiap pagi mereka menempa kemampuan jasmaniah mereka dengan berlari-lari menempuh jarak yang semakin lama semakin panjang. Memanjat lereng-lereng pegunungan atau meloncati bebatuan di sungai-sungai. Mereka mendapat

latihan-latihan dalam perkelahian pribadi maupun dalam kelompok. Sementara itu pada saat-saat tertentu, mereka bersama-sama berlatih dalam perang gelar yang mapan.

Mereka pun diajari berkelahi dengan mempergunakan bermacam-macam senjata. Senjata yang disediakan, bahkan senjata apapun yang mereka ketemukan ditempat perkelahian itu terjadi. Batu, potongan kayu, bambu dan bahkan lumpur dan pasir.

“Kalian harus menjadi seorang yang mampu mengatasi segala persoalan yang dapat timbul di peperangan,” berkata para perwira itu kepada para pengawal.

Namun dalam pada itu, betapapun berat latihan-latihan yang harus mereka jalani, mereka pun mendapat keseimbangan dengan pemberian yang cukup banyak dari Ki Wiradana. Mereka tidak perlu lagi memikirkan makan dan minum. Mereka juga tidak memikirkan karena semuanya itu sudah disediakan oleh Ki Wiradana. Bahkan mereka masih mendapat uang untuk keperluan mereka yang lain.

Tetapi dengan demikian, maka semakin lama semakin banyaklah rakyat yang mengeluh. Pasukan pengawal khusus itu merupakan beban yang berat bagi Tanah Perdikan Sembojan. Meskipun atas dasar beberapa pertimbangan Jipang justru telah memberikan bantuan atas terbinanya pasukan pengawal khusus itu bagi kepentingan Jipang, namun beban itu masih terasa sangat berat di pundak rakyat Tanah Perdikan itu.

Meskipun demikian, keluhan mereka sama sekali tidak didengar oleh para pemimpin di Tanah Perdikan. Apalagi yang kemudian memegang kendali pemerintahan di Sembojan bukan lagi Ki Wiradana dan para pembantu serta orang-orang tua di Tanah Perdikan itu, tetapi justru orang-orang yang tidak dikenal sebelumnya. Selain Ki Wiradana terdapat seorang pertapa yang disebut kakek Nyi Wiradana. Kemudian seorang saudagar emas dan berlian untuk menetap pula. Yang lain adalah seorang laki-laki yang disebut ayah Nyi Wiradana meskipun wajah mereka tidak mempunyai kemiripan sama sekali.

Sementara itu yang melaksanakan segala tugas di Tanah Perdikan itu memang sudah bergeser pula. Para Bekel di padukuhan-padukuhan tidak lagi bertugas apapun, karena semuanya telah dilaksanakan oleh para pemimpin pengawal yang bertanggung

jawab langsung kepada Ki Wiradana. Para pemimpin pengawal itu hanya menghubungi para bekel untuk menentukan besar kecilnya pajak tambahan. Itu pun akhirnya yang mengambil keputusan adalah para pemimpin pengawal itu sendiri. Dalam pelaksanaan pemungutannya dilakukan oleh para pemimpin pengawal itu.

Dengan demikian, maka tata pemerintahan di Tanah Perdikan Sembojan memang benar-benar telah bergeser.

Dalam pada itu, dari hari kehari, kandungan Warsi pun menjadi semakin besar.

Saat-saat kelahiranpun menjadi semakin dekat. Namun demikian Ki Wiradana sudah tidak lagi mempunyai keinginan untuk pergi ke Pajang menanyakan kemungkinan wisuda bagi pengukuhan jabatannya. Apalagi sampai sedemikian lama, Wiradana masih belum menemukan ciri kekuasaan di Tanah Perdikan Sembojan yang berupa sebuah bandul pada rantai yang terbuat dari emas dan bertatahkan lukisan kepala burung elang.

Demikianlah, pada saat-saat Tanah Perdikan Sembojan sedang sibuk meningkatkan kemampuannya di bidang kekuatan pasukannya serta menunggu kelahiran anak Warsi yang menjadi semakin dekat, maka di Demak telah terjadi satu kegemparan yang dengan cepat tersebar beritanya. Meskipun peristiwa itu sendiri tidak terjadi di Demak, namun peristiwa itu terjadi sebagai akibat kekosongan tahta di Demak.

Sunan Prawata, salah seorang putra Sultan Trenggana telah terbunuh.

Meskipun sulit untuk mengetahui bagaimana pembunuhan itu terjadi, namun didekat tubuh Sunan Prawata yang terbunuh bersama istrinya, terdapat mayat seorang yang diduga telah membunuh Sunan Prawata. Sementara itu, berita kematian Sunan Prawata itu telah dihubungkan dengan niat adipati Jipang untuk mengambil kembali tahta dari Demak ke Jipang.

Ki Wiradana yang mendengar berita itu kemudian telah bertanya kepada Ki Randukeling, “Bagaimana pendapat kakek tentang berita ini.”

“Aku mendengarnya dari para perwira Jipang yang mendapat berita dari penghubung mereka, bahwa Sunan Prawata seharusnya memang terbunuh,” jawab Ki Randukeling. “Kenapa?” bertanya Ki Wiradana.

“Menurut orang-orang Jipang. Sunan Prawatalah yang memerintahkan seseorang membunuh ayah Adipati Jipang. Seandainya ayah Adipati Jipang itu tidak terbunuh, maka ialah yang berhak menggantikan kedudukan ayahnya yang pada waktu itu memegang kekuasaan di Demak. Tetapi karena ayah Adipati Jipang itu terbunuh, maka tahta telah diwariskan kepada adiknya, Sultan Trenggana,” berkata Ki Randukeling.

"Tetapi apakah benar bahwa ayah Arya Penangsang dibunuh atas perintah Sunan Prawata?" bertanya Ki Wiradana.

Ki Randukeling mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, "Tidak ada seorang pun yang menghendaki kematiannya kecuali Sunan Prawata. Ia mengharap bahwa dengan demikian, maka tahta temurun kepada ayah Sunan Prawata. Pangeran Trenggana."

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Randukeling berkata, "Tidak ada yang dapat mengatakan yang sebenarnya. Baik kematian Sekar Seda Lepen, maupun kematian Sunan Prawata. Orang-orang yang membunuh mereka telah terbunuh pula ditempat kejadian, sehingga dengan demikian tidak ada seorang pun yang dapat menceriterakan, siapakah sebenarnya yang telah memerintah kepada orang-orang itu untuk melakukan pembunuhan. Namun yang sudah terjadi adalah Pengeran Sekar Seda Lepen terbunuh oleh orang yang kemudian dibunuh oleh para pengikut Pangeran

Sekar Seda Lepen ditempat itu juga. Sedangkan pembunuh Sunan Prawata telah mati juga ditempat pembunuhan terjadi. Menilik keadaannya, maka keris yang dipergunakannya untuk membunuh Sunan Prawata dengan menusuknya sampai tembus dari dada ke punggung, bahkan ujung keris itu telah menyentuh pula istri Sunan Prawata itu pulalah yang dipergunakan untuk membunuh pembunuh itu dengan melemparkannya dan langsung mengenai pembunuh itu. Karena itu, maka segala macam

kesimpulan dan dugaan semata-mata. Meskipun demikian, dugaan itu tentu mendekati kebenaran."

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Namun yang penting langkah-langkah ternyata sudah

mulai diambil dari pihak manapun juga. Justru langkah-langkah kekerasan. Yang terjadi adalah satu pembunuhan yang tentu akan mempunyai akibat berikutnya. Karena itu, maka Ki Wiradana menganggap peristiwa itu sebagai permulaan dari benturan-benturan mendatang. Termasuk di Tanah Perdikannya yang telah menentang Pajang Dengan peristiwa kematian Sunan Prawata itu, mungkin Pajang pun akan

mulai menggerakkan pasukannya untuk mengatasi keadaan.

Dengan demikian, maka Ki Wiradana telah berusaha untuk bekerja lebih keras. Ia ingin membuat Tanah Perdikannya menjadi kuat dan jika saatnya datang, maka Tanah Perdikan Sembojan tidak akan mengecewakan.

Karena itu, maka Ki Wiradana telah berusaha dengan segenap alat kekuasaannya yang ada untuk menambah pemasukan pajak yang disebutnya sebagai bebasan perjuangan bagi rakyat Tanah Perdikan. Dengan hasil pajak itu, Ki Wiradana telah membuat peralatan perang yang lebih baik dari yang telah ada. Ki Wiradana telah memerintahkan untuk membuat senjata, perisai dan alat-alat lain yang mungkin dipergunakan dalam peperangan.

Namun dengan demikian, maka rakyat Tanah Perdikan itulah yang merasa diri mereka menjadi semakin kering diperah oleh pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan itu.

Tetapi mereka sama sekali tidak berani mengelak. Apalagi setelah mereka melihat, bahwa pengawal Tanah Perdikan Sembojan menjadi semakin kuat dan semakin garang meskipun terhadap tetangga-tetangga mereka sendiri.

Tetapi ternyata tidak semua orang dalam lingkungan pasukan pengawal khusus serta para pemimpin pengawal menjadi seperti orang yang kehilangan kiblat. ternyata masih ada dua orang di antara mereka yang tetap menyadari, apa yang telah

terjadi di Tanah Perdikan mereka. Tetapi karena mereka tidak mempunyai kesempatan serta kekuatan untuk menentang, maka untuk sementara mereka merasa lebih baik mengikuti arus. Bahkan mereka telah berusaha untuk dapat ikut serta terpilih menjadi pengawal khusus yang tinggaldi barak dan mendapatkan

latihan-latihan yang sangat berat, namun yang kemudian telah membuat mereka benar-benar setataran dengan prajurit Demak.

Sebenarnyalah bahwa duaratus orang pengawal Tanah Perdikan Sembojan telah menjadi pengawal pilihan. Kemampuan mereka tidak kalah dengan prajurit Demak yang terpilih sekalipun. Namun demikian setiap dari mereka masih harus berlatih dengan keras untuk memelihara keadaan tubuh mereka dan meningkatkan kemampuan mereka. Baik secara pribadi maupun dalam kelompok-kelompok dan perang gelar yang lengkap.

Tetapi sebenarnyalah bahwa perkembangan Tanah Perdikan Sembojan bukannya tidak diamati oleh orang-orang diluar Tanah Perdikan itu. Tetapi bukan oleh Pajang,

karena Pajang benar-benar sedang sibuk dengan persoalan Demak. Apalagi ketika berita tentang kematian Sunan Prawata telah sampai ke Pajang. Maka Pajang pun menjadi gempar pula.

Namun dalam pada itu, Kanjeng Adipati di Pajang ternyata jarang sekali berada di istananya di Pajang. Sebagian besar waktunya telah dipergunakan untuk mencoba memecahkan persoalan yang rumit yang terjadi di Demak. Bahkan Adipati Hadiwijaya masih berusaha untuk melerai setiap pertengkaran yang mungkin terjadi.

Tetapi ketika agaknya arah penunjukkan pewaris Demak adalah dirinya, maka kemudian telah timbul kesulitan pada Adipati Hadiwijaya untuk dianggap tidak berpihak. Orang-orang lain, terutama Arya Penangsang tentu menuduh, bahwa langkah-langkah yang diambilnya adalah sekadar meratakan jalan untuk mengangkat dirinya sendiri menjadi Sultan. Mungkin di Demak, mungkin di Pajang sendiri.

Meskipun demikian, usaha Adipati Pajang itu masih juga dilanjutkannya, tanpa mengenal lelah.

Sementara itu, kekuatan Tanah Perdikan Sembojan pun telah menjadi semakin kuat. Pasukan pengawal khusus itu benar-benar merupakan pasukan yang luar biasa.

Keadaan di Tanah Perdikan itu telah membuat sekelompok orang menjadi berprihatin. Dengan cermat mereka telah mengamati perkembangan yang terjadi di Tanah Perdikan Sembojan. Mereka tidak yakin bahwa Tanah Perdikan itu akan dapat berkembang demikian pesatnya tanpa campur tangan orang lain.

Karena itu, maka dengan sangat hati-hati dua orang telah berada di Tanah Perdikan itu. Dengan cermat mereka mengamati keadaan. Sekali-sekali mereka melihat latihan-latihan yang telah diselenggarakan oleh para pengawal khusus. Meskipun tidak pernah mendengar di dalam pembicaraan dimanapun juga, namun dengan mangamati cara latihan yang dipergunakan maka kedua orang itu dapat menduga, bahwa para pengawal khusus itu telah mendapat tuntunan dari para prajurit Jipang.

"Latihan-latihan itu menunjukkan ciri yang sama dengan para prajurit di Jipang," berkata salah seorang di antara mereka.

Yang lain menarik nafas dalam-dalam. Tetapi mereka tidak dapat mengamati latihan-latihan itu terlalu lama, agar tidak ada seorang yang kemudian menjadi curiga.

Ketika keduanya meninggalkan tempat-tempat latihan maka yang seorang telah berkata, "Ya. Kita dapat memastikan. Jipang telah ikut campur di dalam persoalan ini."

"Bukankah Tanah Perdikan ini sebenarnya termasuk wilayah Pajang?" bertanya kawannya.

Yang lain mengangguk-angguk. Katanya, "Ya. Tanah Perdikan ini memang wilayah Pajang. Jika Jipang memasuki Tanah Perdikan ini tentu sudah dibicarakannya lebih dahulu dengan Ki Wiradana, sehingga dengan demikian maka Tanah Perdikan Sembojan

ternyata telah berusaha untuk melepaskan diri dari induknya dan berusaha menggabungkan diri dengan Jipang. Mungkin pergolakan yang terjadi di Demak dengan meninggalnya Sultan telah membuat Tanah Perdikan ini berubah sikap." Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Memang menarik untuk diketahui. Kita sebaiknya mengamati perkembangan ini dengan seksama. Kita biarkan saja saudagar emas itu di penginapannya. Agaknya ia memang dengan sengaja memancing kita untuk merampoknya sekali lagi."

Yang lain tersenyum. Katanya, "Tetapi aku justru ingin melakukannya. Aku ingin mengetahui sampai dimana tataran kemampuan para pengawal itu setelah mereka mendapat latihan-latihan dari orang-orang Jipang."

"Kita sudah dapat menduganya dengan melihat latihan-latihan yang sekadar dilakukan seperti anak-anak yang sedang bermain sembunyi-sembunyian dan kadang-kadang sedikit bermain senjata. Tetapi aku condong untuk sekadar mengganggu, agar Tanah Perdikan ini menyadari, bahwa mereka tidak dapat melakukan menurut kehendak hati mereka tanpa dinilai oleh orang lain," berkata yang seorang

"Bukankah dapat kita lakukan keduanya sekalipun?" jawab yang lain. "Menganggu dan sedikit menunjukkan kepada para pengawal yang terlalu berbangga dengan kemampuan itu, bahwa apa yang telah mereka miliki bukan berarti apa-apa bagi mereka yang bertualang di dunia kanuragan."

Kawannya mengangguk-angguk. Lalu, "Apa yang akan kita lakukan?" "Apakah sebaiknya kita membawa Iswari sekaligus dalam pakaian penarinya?" desis yang lain.

"Kita harus bertanya dahulu kepada Kiai Badra atau Kiai Soka," jawab kawannya. "Tetapi kita berbuat sesuatu sekarang ini."

Yang lain mengangguk-angguk. Lalu katanya, "Yang paling mudah adalah mencegat pengawal khusus yang sedang meronda di malam hari. Kita hentikan mereka dan kita rampas kudanya."

Kawannya mengangguk-angguk pula, "Aku sependapat," katanya.

"Tetapi apakah kita perlu meninggalkan pertanda perguruan Tidar Geni," desis yang seorang.

Tetapi kawannya menggeleng. Jawabnya, "Belum waktunya. Kita masih ingin membuat orang-orang Sembojan kebingungan."

Ternyata kedua orang itu benar-benar ingin melakukan apa yang mereka katakan. Mereka ingin menjajagi kemampuan para pengawal khusus, namun sekaligus mereka ingin menunjukkan, bahwa ada sesuatu yang harus diperhatikan oleh Tanah Perdikan Sembojan."

Sementara itu, karena sudah cukup lama tidak terjadi sesuatu di Tanah Perdikan Sembojan, maka para pemimpin pengawal dan para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan

itu tidak terlalu banyak memperhitungkan kemungkinan terjadinya kejahatan. Yang mereka pikirkan adalah peningkatan tataran para pengawal. Jika para pengawal menjadi kuat, maka tentu tidak ada orang yang berani mengganggu ketenangan Tanah Perdikan itu.

Namun yang terjadi ternyata berbeda dengan dugaan orang-orang Sembojan, bahwa sudah tidak ada lagi orang yang berani mengganggu ketenangan Tanah Perdikan itu. Karena itu, maka para pengawal tidak lagi banyak melakukan pengamatan di atas Tanah Perdikannya itu.

Meskipun demikian sekali-kali masih juga dilakukan perondaan yang melintasi

jalan-jalan yang menghubungkan padukuhan yang satu dengan padukuhan yang lain. Itu pun sebenarnya dalam rangka pemeliharaan kewibawaan Ki Wiradana dengan meragakan pasukan pengawal berkudanya.

Namun yang terjadi, pada satu malam adalah justru mengejutkan sekali. Ketika dua orang pengawal berkuda melintasi sebuah bulak panjang, maka tiba-tiba mereka telah dihentikan oleh dua orang yang tidak dikenal. Dua orang yang nampaknya kotor sekali, mengenakan caping bambu yang lebar dan bertelanjang dada. Salah seorang dari keduanya telah menyangkutkan ikat kepalanya dilehernya, sedangkan yang lain mengikatkan ikat kepalanya pada lambungnya.

Kedua orang pengawal yang merasa pernah ditempa oleh para perwira dari Jipang itu pun menghentikan kuda mereka. Dengan keyakinan yang kuat terhadap diri

sendiri, maka keduanyapun telah meloncat turun dan mengikatkan kuda mereka pada batang-batang perdu di pinggir jalan.

Sambil bertolak pinggang salah seorang dari keduanya itu pun bertanya, "He,

apakah kalian orang-orang yang sudah gila. Ujud kalian memang mirip dengan orang gila. Apalagi tingkah laku kalian."

"O, tentu tidak Ki Sanak," berkata salah seorang yang telah menghentikan peronda itu, "Kami hanya ingin bertanya."

"Tetapi caramu menghentikan kudaku bukanlah cara seseorang yang ingin sekadar bertanya. Tetapi seolah-olah kalian ingin merampok kami. He, apakah kalian tidak mengetahui, bahwa kami berdua adalah dua orang dari pasukan pengawal khusus?" bertanya pengawal itu.

"Aku tidak tahu Ki Sanak," jawab orang yang menghentikannya. "Aku hanya mengetahui bahwa Ki Sanak berdua adalah orang-orang berkuda yang melintas." Pengawal itu mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, "Kau akan bertanya apa?" Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian seorang di antara keduanya berkata, “Kami ingin bertanya, apakah jalan ini menuju ke padukuhan induk Tanah Perdikan?”

Kedua pengawal itu mengangguk-angguk. Kemudian yang seorang berkata, “Ya. Jalan ini menuju ke padukuhan induk. Apakah kau mempunyai keperluan di padukuhan induk?”

“Ya Ki Sanak,” jawab orang yang tidak berbaju itu. “Kami mempunyai kepentingan dengan seorang perempuan yang bernama Warsi. Bekas seorang penari jalanan yang tidak tahu diri. Kepada keluarganya dan tetangga-tetangganya ia mengaku menjadi istri Kepala Tanah Perdikan Sembojan. He, bukankah itu ngayawara? Bukankah itu hanya sebuah mimpi dan bahkan mungkin akan dapat mencemarkan nama baik Kepala Tanah Perdikan disini?”

Kedua pengawal itulah yang kemudian saling berpandangan. Sejenak kemudian salah seorang dari kedua pengawal itu berkata, “Siapakah kalian sebenarnya?”

Jawab orang yang tidak berbaju itu seakan-akan meyakinkan, “Aku adalah pamannya.”

“Kalau kau berhasil mencapai padukuhan induk, apa yang akan kau lakukan?” bertanya pengawal itu.

“Aku akan melaporkannya kepada Kepala Tanah Perdikan ini. Biarlah Kepala Tanah Perdikan ini menangkap perempuan jalanan yang menyebut dirinya istri Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu,” jawab orang berwajah kotor itu.

Seorang di antara pengawal itu pun kemudian bertanya, “Apakah kau mengetahui, bahwa Kepala Tanah Perdikan Sembojan sudah meninggal? Sekarang, pemangku jabatan

Kepala Tanah Perdikan itu adalah anaknya, Ki Wiradana.”

“O,” orang berwajah kotor itu menangguk-angguk. “Tetapi apakah benar bahwa pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan itu kawin dengan seorang penari jalanan?”

Pertanyaan itu terlalu sulit untuk dijawab. Karena itu maka salah seorang pengawal itu berkata, “Bukankah penari itu kemenakanmu?”

“Seandainya kemenakanmu itu benar-benar kawin dengan seorang pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan, apakah kau merasa bangga?” bertanya pengawal itu.

“Tidak. Sama sekali tidak. Jika terjadi demikian tentu ada yang tidak wajar.

Apalagi menurut pendengaranku dengan sombong kemenakanku yang penari jalanan itu mengatakan, bahwa ia berhasil merebut Kepala Tanah Perdikan itu dari istrinya, seorang perempuan yang baik, yang berasal dari padepokan. Yang bekerja dengan

jujur sebagai istri Kepala Tanah Perdikan bagi kesejahteraan Tanah Perdikan ini. Bahkan menurut pendengaranku, istri Kepala Tanah Perdikan yang lama itu telah dibunuh oleh suaminya sendiri hanya karena Kepala Tanah Perdikan, atau pemangkunya itu, ingin memperistri kemenakanku itu,” berkata orang berwajah kotor itu.

“Cukup,” tiba-tiba pengawal itu membentak. “Ingat kata-katamu dapat menyeretmu ke dalam kesulitan.”

“Tunggu Ki Sanak,” potong orang yang berwajah kotor itu. “Aku justru ingin melaporkannya kepada pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan itu, agar ia mengetahuinya. Dengan demikian maka ia akan dapat bertindak lebih baik menghadapi berita-berita yang dapat mencemarkan namanya.”

Kedua pengawal itu termangu-mangu. Namun kemudian seorang di antara mereka berkata, “Baiklah. Mari ikut kami. Kami akan mempertemukan kau dengan pemangku Kepala Tanah Perdikan ini.”

Kedua orang yang berwajah kotor itulah yang kemudian menjadi termangu-mangu. Mereka tidak menyangka bahwa para pengawal itu akan menawarkan niatnya yang demikian. Namun sudah barang tentu keduanya tidak bermaksud menghadap Ki Wiradana. Karena itu maka seorang di antara mereka berkata, ”Kami hanya ingin tahu, apakah jalan ini menuju ke padukuhan induk.”

”Ya. Jalan ini memang menuju ke padukuhan induk. Karena itu, marilah, kita berjalan bersama-sama. Aku akan menuntun kudaku dan bersama-sama pula menghadap

Ki Wiradana, pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan ini,” jawab salah seorang pengawal itu.

”Terima kasih,” jawab salah seorang dari kedua orang yang berwajah kotor itu. ”Kami akan pergi sendiri. Kami akan menghadap jika matahari telah terbit.

Bukankah menghadap pada saat sekarang ini sudah tidak waktunya lagi.”

”Tetapi kau dapat menunggu dan jika kau tidak pergi ke padukuhan induk sekarang, dimana kau akan bermalam?” bertanya salah seorang dari kedua pengawal itu. ”Kami dapat bermalam dimana saja. Mungkin di banjar padukuhan terdekat. Tetapi mungkin ditempat lain,” jawab orang yang menyangkutkan ikat kepala di lehernya. ”Tidak Ki Sanak,” berkata pengawal itu. ”Justru karena tingkah laku kalian yang aneh, maka sebaiknya kalian pergi ke padukuhan induk bersama kami.”

”Kami berkeberatan Ki Sanak,” jawab orang yang mengikatkan ikat kepala di lambungnya.

”Keberatan atau tidak keberatan,” jawab pengawal yang seorang. ”Tegasnya, kami akan menangkap kalian karena sangat mencurigakan.”

Tetapi kedua orang berwajah kotor itu menggeleng. Yang seorang berkata, ”Jangan memaksa Ki Sanak. Apalagi berusaha menangkap kami. Kami datang dengan maksud baik. Seharusnya kalian justru membantu kami,”orang itu berhenti sejenak, lalu

tiba-tiba saja ia berkata, ”Ki Sanak. Bukankah kalian tidak berkeberatan, bahwa untuk kepentingan kami selama berada di Tanah Perdikan ini, kalian meminjamkan kuda-kuda kalian? Nah, dengan demikian kalian telah membantu kami untuk membersihkan nama baik Kepala Tanah Perdikan kalian.”

Kedua pengawal itu menjadi tegang. Dengan demikian maka mereka pun pasti, bahwa kedua orang itu memang dengan sengaja ingin membuat persoalan.

Karena itu, maka kedua pengawal itu telah bersiap untuk menghadapinya sesuai dengan keadaan. Apalagi keduanya merasa bahwa mereka adalah pengawal khusus yang telah ditempa baik secara berkelompok maupun secara pribadi oleh para perwira

dari Jipang.

Salah seorang dari kedua pengawal itu pun berkata, ”Kami memang sudah menduga bahwa kalian memang ingin merampok kuda-kuda kami yang besar dan tegar. Tetapi kalian ternyata telah salah langkah. Kami adalah pengawal khusus Tanah Perdikan ini. Kami adalah orang-orang kepercayaan Kepala Tanah Perdikan ini untuk menghadapi setiap usaha kejahatan.”

”Kami bukan penjahat,” jawab salah seorang di antara kedua orang berwajah kotor itu.

”Kau dapat saja menyebut dirimu bukan penjahat, bahkan seorang penolong atau seorang apapun juga menurut keinginan lindahmu. Aku tidak akan berkeberatan. Tetapi bahwa kau ingin memiliki kuda kami itu adalah satu unsur kejahatan meskipun kau dapatmenyebut dalih apapun juga. Nah, sekarang kalian tidak usah banyak bicara. Menyerahlah. Sebab jika kami sudah mulai bertindak, akibatnya mungkin akan lain daripada jika kalian sekadar menyerah sebelum melakukan perlawanan,” berkata salah seorang dari kedua pengawal itu.

"Tidak terlalu penting Ki Saudagar," jawab Ki Randukeling. Bahkan ia pun masih sempat bertanya, "Bagaimana dengan perampok itu?"

"Mereka sama sekali tidak menampakkan dirinya," jawab Ki Saudagar itu. "Ternyata mereka pun mempunyai perhitungan," berkata Ki Randukeling. Lalu, "Tetapi baiklah. Aku akan mengatakan kepentinganku kali ini," kakek Warsi itu berhenti sejenak, lalu katanya, "Seorang cantrik dari padepokan telah menyusul. Mereka menganggap bahwa aku telah pergi terlalu lama."

"Jadi kakek akan kembali?" bertanya Ki Wiradana.

"Ya. Aku akan kembali ke Gunung Kukusan. Tetapi aku pun akan langsung berhubungan dengan Jipang. Aku akan menyampaikan keputusan kalian. Namun aku berpesan, jangan melakukan sesuatu yang dapat menarik perhatian. Jangan membocorkan rahasia ini," jawab pertapa dari Kukusan itu.

"Lalu apakah yang dapat aku kerjakan disini?" bertanya Ki Wiradana.

Ki Randukeling mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, "Kau tetap dapat meningkatkan latihan-latihan bagi pengawalmu menurut kemampuan tenaga yang ada. Agaknya hanya kau sendirilah yang akan mampu memberikan latihan-latihan itu."

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Jawabnya, "Ya kakek. Aku disini seolah-olah hanya seorang diri. Aku harus melakukan semuanya."

"Apakah ayah cucu juga melakukan sebagaimana kau lakukan sekarang?" bertanya Ki Randukeling.

"Ya kakek. Ayah juga berbuat segala sesuatunya sendiri. Ada beberapa pengawal kepercayaannya. Tetapi kemampuan dan ilmunya tidak lebih baik dari yang kita lihat sekarang," jawab Ki Wiradana.

Dalam pada itu, tiba-tiba saja saudagar emas dan berlian itu berkata, ”Ki

Wiradana. Jika Ki Wiradana tidak berkeberatan, aku bersedia membantu. Bukankah aku juga akan menjadi penghuni Tanah Perdikan ini jika aku sudah mendapatkan sebidang tanah disini? Bukankah juga menjadi kewajibanku untuk ikut serta berbuat sesuatu bagi Tanah Perdikannya?”

Ki Wiradana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, ”Terima kasih Ki Saudagar. Aku sangat berterima kasih. Dengan demikian maka tugasku akan menjadi sedikit ringan.”

Laki-laki yang disebut ayah Warsi itu pun hampir saja ikut pula menyediakan diri. Tetapi Warsi menggamitnya, sehingga orang itu mengurungkan niatnya.

Namun dalam pada itu, kakek Warsi itu pun berkata, ”Wiradana. Jika aku berhasil berhubungan dengan Jipang, maka aku akan minta beberapa orang untuk melatih para pengawal di sini. Mereka adalah perwira-perwira prajurit Jipang yang memang mempunyai wewenang untuk menempa para prajurit. Dengan demikian maka para pengawal Tanah Perdikan ini akan mempunyai kemampuan seorang prajurit yang pilih tanding. Dalam keadaan yang demikian dibantu oleh sekelompok prajurit Jipang

yang sebenarnya, maka Pajang tidak akan dapat berbuat apa-apa atas Tanah Perdikan ini, sementara pasukan Jipang yang lain mengancam Pajang dari arah Barat.”

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Ia berharap bahwa segala sesuatunya dapat berjalan dengan baik sehingga Tanah Perdikan Sembojan akan benar-benar mampu tegak di luar kekuasaan Pajang yang penilaian Ki Wiradana, tidak banyak menghiraukan kepentingan Tanah Perdikan itu, selain dengan tekanan telah memungut pajak yang besar.

Demikianlah, maka kakek Warsi itu pun telah menentukan, bahwa di pagi hari berikutnya ia akan meninggalkan Tanah Perdikan itu kembali ke Gunung Kukusan dan apabila mungkin akan berhubungan dengan Jipang untuk menyampaikan maksudnya. Namun sebelum meninggalkan Tanah Perdikan, kakek Warsi itu sempat memberikan pesan-pesan yang sangat berarti bagi Ki Wiradana untuk menyusun latihan-latihan bagi para pengawalnya.

Bahkan Ki Randukeling itu telah memberikan petunjuk tentang tataran para pengawal.

”Ada tiga tataran,” berkata Ki Randukeling. ”Tataran pertama, adalah mereka yang memang menyatakan diri sebagai pengawal. Jumlahnya memang tidak terlalu banyak. Tetapi mereka adalah pusat kekuatan Tanah Perdikan ini. Mereka harus tidak merangkap pekerjaan lain, kecuali mengkhususkan diri dalam tugasnya sebagai pengawal. Bahkan sawah ladang mereka pun harus mereka serahkan untuk digarap orang lain. Kepada mereka Ki Wiradana dapat memberikan penghasilan tetap bagi hidup mereka dan jika sudah berkeluarga, bagi keluarga mereka. Tataran kedua adalah anak-anak muda yang menyatakan diri bersedia menjadi pengawal di padukuhan masing-masing. Tetapi mereka tidak mengkhususkan diri. Mereka masih tetap dalam kerja mereka sehari-hari. Mereka harus bekerja di sawah dan ladang

bagi hidup mereka dan keluarga mereka. Namun pada saat tertentu mereka mendapat tugas-tugas pengawalan, sebagai kewajiban mereka terhadap Tanah Perdikan. Mereka pun harus mendapat latihan-latihan yang baik sebagaimana seorang prajurit meskipun tidak akan sejajar dengan para pengawal khusus. Sedangkan tataran yang ketiga adalah semua laki-laki di Tanah Perdikan ini. Semua orang akan mendapat kewajiban untuk berbuat sebagaimana para pengawal jika Tanah Perdikan ini terancam bahaya. Tegasnya jika Tanah Perdikan ini diserang dari luar.”

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, ”Terima kasih kakek. Aku akan mencoba menyusun tataran pengawal di Tanah Perdikan ini sebagaimana kakek katakan.

Mudah-mudahan aku berhasil.”

”Latihan-latihan harus segera kau mulai. Kau tidak perlu menunggu kedatangan para perwira. Justru dengan demikian, maka tidak akan nampak perubahan yang serta merta dalam latihan-latihan para pengawal di Tanah Perdikan ini,” berkata kakek Warsi kemudian.

Pesan ini ternyata sangat berarti bagi Ki Wiradana. Bahkan telah menumbuhkan gejolak di dalam dadanya, mendorong tekadnya untuk membuat Tanah Perdikan Sembojan sebagai Tanah Perdikan yang kuat dan tidak tergoyahkan. Bukan saja menghadapi Pajang, tetapi juga menghadapi orang-orang Sembojan sendiri yang nampaknya ada beberapa pihak yang tidak dengan ikhlas melakukan

perintah-perintahnya dan bahkan menunjukkan gejala untuk menentangnya. Sepeninggal kakek Warsi di saat yang telah direncanakan maka Ki Wiradanapun segera berkemas. Namun ia merasa sedikit heran, bahwa ternyata kakek Warsi adalah orang yang agaknya memiliki pengetahuan dan pengalaman yang luas. Ia

bukan seorang pertama yang berpandangan sesempit padepokannya. Bahkan menurut pendapat Ki Wiradana, ayah Warsi pun bukan seorang yang terlalu bodoh meskipun ia tidak lebih dari seorang penggendang.

“Nampaknya Warsi benar-benar tersesat ketika ia menjadi penari jalanan. Bagaimanakah pendapat kakeknya jika ia melihat bahwa Warsi berjalan beriringan dalam pakaian penari disepanjang jalan di malam hari, kemudian menanggapi kekasaran laki-laki dalam janggrung yang dibaui oleh tuak?” berkata Ki Wiradana di dalam hatinya.

Tetapi Ki Wiradana tidak mengatakan kepada siapapun juga pertanyaan yang terbersit di dalam hatinya itu.

Dalam pada itu, sepeninggalan kakek Warsi, Wiradana dan Ki Saudagar benar-benar telah bersiap untuk menyusun pasukan pengawal Tanah Perdikan dalam tataran sebagaimana dikatakan oleh kakek Warsi. Meskipun yang ada sebenarnya di Tanah Perdikan Sembojan sudah mirip sebagaimana dikatakan oleh Ki Randukeling, namun Wiradana harus menegaskan, yang manakah pengawal khusus dan yang manakah pengawal dalam tataran yang lebih luas.

Sementara itu, Warsi yang berbicara dengan laki-laki yang disebut ayahnya telah mengeram, “Kau jangan ikut-ikutan. Hampir saja aku lupa menampar mulutmu. Kau adalah seorang pengendang. Jangan merasa dirimu memiliki ilmu untuk ikut melatih para pengawal di Tanah Perdikan ini.”

Laki-laki itu hanya mengangguk saja.

“Nah, hati-hatilah menempatkan dirimu sebagaimana aku harus sangat berhati-hati menempatkan diriku,” berkata Warsi kemudian.

“Berpura-pura untuk waktu yang sangat lama kadang-kadang terlupa juga,” gumam laki-laki itu.

“Jika kau merusakkan permainan ini, aku bunuh kau,” geram Warsi.

Laki-laki itu tidak menjawab. Tidak ada gunanya berbantah dengan Warsi. Bahkan mungkin Warsi benar-benar akan menampar mulutku.

Demikianlah, Ki Wiradana telah bekerja keras untuk memperbaiki susunan tataran pengawalnya. Ia memang tidak terlalu banyak harus membuat perubahan-perubahan. Para pengawal yang ditunjuk untuk menjadi alas kekuatannya itulah yang kemudian dianggapnya sebagai pengawal khusus. Mereka sejak sebelumnya memang sudah menerima hadiah dan pemberian dari Ki Wiradana lebih banyak dari para pengawal yang lain dengan harapan bahwa mereka akan patuh dan selalu melakukan perintahnya.

“Jika mungkin, mereka sebaiknya ditempatkan di barak-barak tertentu. Meskipun tidak semua dari para pengawal khusus itu. Tetapi inti dari pasukan khusus yang mampu bergerak setiap saat dengan cepat. Katakanlah, mereka adalah pasukan pengawal berkuda dari Tanah Perdikan ini.”

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Namun dengan demikian, ia akan memerlukan anggaran yang banyak untuk kepentingan para pengawalnya.

“Pajak di Tanah Perdikan ini terlalu rendah,” berkata Ki Saudagar itu kepada Ki Wiradana. “Maksudku bagi mereka yang berkecukupan, pajak dapat dinaikkan serba sedikit. Ki Wiradana jangan menyebut bahwa mereka dikenakan pajak lebih banyak, tetapi mereka harus membayar iuran bagi peningkatan kesejahteraan Tanah Perdikan ini, termasuk segi keamanannya. Ki Wiradana dapat sedikit memberikan gambaran apa yang terjadi di Demak, sehingga dalam keadaan yang tidak menentu ini,

mungkin terjadi kekisruhan,” Ki Saudagar itu berhenti sejenak.

Selanjutnya, “Orang-orang jahat, akan dapat memanfaatkan keadaan ini untuk kepentingan diri mereka sendiri. Apalagi jika perhatian para Adipati tertuju kepada pengisian tahta yang kosong itu. Tetapi lebih parah lagi jika terjadi benturan pendapat dan bahkan mungkin peperangan. Tetapi sekali lagi aku

peringatkan pesan Ki Randukeling, bahwa Ki Wiradana untuk berpihak kepada Jipang adalah merupakan satu keputusan yang masih sangat rahasia. Hanya orang-orang di dalam rumah Ki Wiradana sajalah yang boleh mengetahui. Pengawal yang paling dipercaya pun sebaiknya belum mendengar tentang keputusan ini.”

“Ya Ki Saudagar. Aku memang belum mengatakan kepada siapapun juga,” jawab Ki Wiradana.

“Bagus,” jawab saudagar itu. “Sementara itu Ki Wiradana dapat mengatur para pengawal sebaik-baiknya. Aku akan membantu memberikan latihan-latihan bersama seorang kawanku itu.”

“Terima kasih. Kita memang harus segera mulai,” berkata Ki Wiradana.

“Semakin cepat semakin baik. Aku yakin bahwa Ki Randukeling akan bergerak dengan cepat. Kita harus sudah siap dengan susunan tataran para pengawal sebelum beberapa orang perwira dari Jipang itu datang.” Ki Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, “Dalam waktu sebulan aku akan sudah siap dengan susunan tataran para pengawal sebagaimana dikehendaki oleh kakek dari Gunung Kukusan. Aku tidak terlalu banyak membuat perubahan-perubahan. Yang penting bagiku adalah justru penegasan, nama-nama dari pasukan khusus dan

nama-nama dari para pengawal yang lain.”

Dengan demikian, maka Ki Wiradana telah memanggil beberapa orang kepercayaannya.

Dengan singkat ia menguraikan keadaan yang mereka hadapi pada saat-saat terakhir, dengan kosongnya tahta di Demak, maka mungkin akan terjadi persoalan-persoalan yang tidak dikehendaki. Tetapi seperti yang dipesankan Ki

Randukeling dan Ki Saudagar, persoalan hubungan antara Jipang dan Tanah Perdikan itu sama sekali tidak disinggungnya.

Demikianlah, maka dalam waktu yang terhitung singkat, Ki Wiradana telah menyiapkan susunan tataran pada pengawal. Ia telah membuat suatu barak yang akan menjadi barak para pengawal khusus dari pasukan berkuda Tanah Perdikan Sembojan.

Dalam waktu yang singkat pula, setiap padukuhan harus sudah mengirim nama-nama para pengawalnya.

Ki Saudagar ternyata mengagumi gerak Ki Wiradana yang cepat itu. Sebagaimana dikatakannya, dalam waktu satu bulan hanya lebih beberapa hari, semuanya telah tersusun rapi. Meskipun barak yang khusus bagi pengawal berkuda masih belum selesai sepenuhnya, tetapi sebagian dari pengawal berkuda yang pada umumnya terdiri dari anak-anak muda yang belum berkeluarga itu telah dapat mempergunakannya.

“Bagi mereka yang sudah berkeluarga akan tetap tinggal pada keluarga

masing-masing,” berkata Ki Wiradana. “Tetapi mereka harus mampu bergerak cepat dan berada di barak pasukan pengawal berkuda dalam waktu pendek. Kecuali jika ada perintah lain,” berkata Ki Wiradana kepada para pengawal itu.

Dengan para pemimpin pengawal, Ki Wiradana telah membicarakan cara yang akan ditempuh untuk memberikan latihan-latihan yang lebih baik bagi mereka.

“Untuk sementara, aku dan Ki Saudagar akan menempa mereka dari pasukan pengawal yang tinggal di barak dan mereka yang termasuk pasukan pengawal khusus yang jumlahnya tidak terlalu banyak. Hanya dalam waktu sekali sepekan, para pengawal

di padukuhan-padukuhan akan mendapat latihan-latihan dari para pengawal khusus,” Ki Wiradana menegaskan. Dengan demikian, maka Tanah Perdikan Sembojan itu nampaknya menjadi semakin hidup. Setiap hari mereka melihat latihan-latihan yang dilakukan oleh para pengawal khusus. Sedangkan sepekan sekali pasukan khusus itu justru mendapat waktu untuk beristirahat dari latihan-latihan mereka, tetapi mereka justru memberikan latihan-latihan kepada para pengawal yang lain di

padukuhan-padukuhan.

Tetapi di samping kegiatan para pengawal yang membuat Tanah Perdikan Sembojan itu nampak bertambah perkasa, terdengar di banyak sudut Tanah Perdikan orang yang mengeluh. Ternyata peningkatan beban anggaran Tanah Perdikan Sembojan itu harus dipikul oleh rakyat. Orang-orang yang dianggap berkecukupan harus

memberikan sumbangan khusus disamping pajak mereka. Bahkan kemudian bukan saja mereka yang berkecukupan. Pelaksanaannya ternyata telah menimbulkan

persoalan-persoalan tersendiri.

Batas antara mereka yang berkecukupan dan yang tidak termasuk berkecukupan memang sulit untuk ditentukan. Apalagi ada kesengajaan dari para petugas yang menentukan batas untuk mengaburkan batasan yang tidak jelas itu, sehingga dengan demikian maka sebagian besar dari orang-orang Tanah Perdikan Sembojan itu dianggap saja berkecukupan. Sedakan besar kecilnya sumbangan yang harus mereka berikan itu pun merupakan masalah yang kadang-kadang harus diatasi dengan kekerasan.

Namun dalam pada itu, rakyat kecil di Tanah Perdikan Sembojan tidak dapat menolak ketentuan yang dipaksakan kepada mereka oleh Ki Wiradana, pengemban

tugas Kepala Tanah Perdikan yang mempergunakan para pengawal khusus sebagai alat untuk melaksanakan ketentuan itu. Yang dapat mereka lakukan tidak lebih dari mengeluh dan bergeremang di antara mereka.

Sementara itu, Rangga Gupita telah membawa berita tentang Tanah Perdikan Sembojan itu ke Jipang. Ketika ia langsung menyampaikan masalahnya kepada Ki Patih Mantahun, maka Ki Patih itu pun bertanya, "Apakah kau yakin bahwa Tanah Perdikan itu benar-benar dapat dipercaya."

"Pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan adalah cucu Ki Randukeling," jawab Rangga Gupita.

"Bawa Ki Randukeling kemari," berkata Ki Patih Mantahun.

"Ia berada di padepokannya, di Gunung Kukusan," jawab Rangga Gupita. "Ia ingin mempersiapkan segala sesuatunya, karena Ki Randukeling sendiri ternyata ingin tinggal untuk waktu yang agak lama di Tanah Perdikan Sembojan. Sehingga karena itu, maka ia harus mengatur padepokannya, agar selama ia tidak berada di padepokan, segala sesuatunya dapat berjalan lancar."

"Katakan, bahwa Mantahun ingin berbicara langsung. Aku kira ia akan menyediakan waktu, karena Ki Randukeling kadang-kadang mempunyai pikiran yang menarik, sebagaimana usahanya untuk menarik Tanah Perdikan Sembojan ke dalam lingkungan perjuangan Kanjeng Adipati Jipang. Justru karena kelak Sembojan yang menguntungkan dan tanahnya yang menurut pendengaranku sangat subur," berkata Ki Mantahun.

"Sebagian tanahnya memang sangat subur," jawab Rangga Gupita. "Tetapi baiklah. Aku akan menghubungi Ki Randukeling. Mudah-mudahan ia cepat selesai dengan padepokannya sendiri."

Sebenarnyalah, bahwa Ki Randukeling sama sekali tidak berkeberatan untuk pergi ke Jipang setelah ia selesai membenahi padepokan yang akan ditinggalkannya untuk waktu yang mungkin agak lama. Memang ada sesuatu yang ingin langsung

dibicarakannya dengan Ki Patih Mantahun tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan di Tanah Perdikan Sembojan.

Namun sambil menunggu kedatangan Ki Randukeling maka para pemimpin di Jipang telah dapat membicarakan rencana yang mapan bagi Tanah Perdikan Sembojan.

Dengan demikian, ketika Ki Randukeling benar-benar datang menemui Ki Patih Mantahun bersama Rangga Gupita, maka banyak persoalan yang sudah dapat disiapkan pemecahannya. Dengan demikian maka tidak banyak lagi masalah-masalah yang masih harus dipersoalkan.

“Yang perlu,” berkata Ki Randukeling, “Jipang harus segera mengirimkan beberapa orang perwira untuk memberikan latihan-latihan kepada para pengawal di Tanah Perdikan. Dengan demikian Tanah Perdikan itu akan dapat dipersiapkan, bukan saja sebagai sumber persediaan makanan, tetapi sumber kekuatan. Ki Patih mungkin tidak dapat memperkirakan, berapa lama Kanjeng Adipati Arya Penangsang memerlukan waktu untuk menyelesaikan perjuangannya.”

“Kau benar Ki Randukeling,” jawab Ki Patih Mantahun. “Kita harus bersiap-siap untuk perjuangan yang lama.”

“Bukankah sampai saat ini masih belum jelas, apa yang akan terjadi?” bertanya Ki Randukeling.

“Para pemimpin di Demak, orang-orang tua yang berpengaruh dan para Adipati sedang berbicara tentang kemungkinan-kemungkinan yang paling baik bagi masa depan Tanah Perdikan ini. Tetapi pembicaraan itu tidak akan berkeputusan.

Kanjeng Adipati di Jipang harus berpegangan kepada jalur kekuasaan yang sebenarnya di Demak, karena terbunuhnya ayahanda Adipati di Jipang telah menggeser jalur kedudukan Sultan di Demak, dari keturunan Sekar Seda Lepen kepada keturunan Trenggana,” berkata Patih Mantahun.

“Tetapi apakah Adipati Jipang mendapat cukup dukungan?” bertanya Ki Randukeling.

“Memang mungkin dukungan itu masih harus diperjuangkan. Tetapi itu merupakan bagian dari perjuangan Adipati Jipang dalam keseluruhan,” jawab Patih Mantahun. Namun kemudian, “Tetapi alat perjuangan terakhir adalah siap di Jipang. Kami, para pemimpin di Jipang sudah bertekad, bahwa alat perjuangan terakhir, yaitu

kekuatan senjata, telah cukup memadai untuk melawan semua kekuatan yang mungkin akan bergabung, termasuk Pajang. Apalagi para pengawal di Tanah Perdikan

Sembojan itu dapat dibina sebagaimana prajurit.”

“Sejak sebelumnya mereka sudah mendapat latihan-latihan yang tentu masih belum memadai. Tetapi setidaknya dapat merupakan pemanasan dari usaha berikutnya, menempa mereka menjadi prajurit-prajurit sebagaimana prajurit Jipang.”

Ki Patih mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan mengirim beberapa orang perwira segera.”

“Sesudah aku berangkat ke Tanah Perdikan,” berkata Ki Randukeling. “Kapan kau berangkat?” bertanya Ki Patih.

“Besok aku akan kembali ke padepokan. Hanya untuk satu malam. Kemudian aku akan langsung menuju ke Tanah Perdikan. Bersama Rangga Gupita,” jawab Ki Randukeling.

“Jika demikian, aku akan mengirimkan beberapa orang perwira tiga hari mendatang. Mereka akan langsung pergi ke Tanah Perdikan Sembojan,” berkata Ki Patih. “Perintahkan mereka menemui aku di Tanah Perdikan di rumah Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikannya,” pesan Ki Randukeling. “Tetapi ingat, jangan menarik perhatian orang-orang kebanyakan. Dalam kelompok-kelompok kecil, yang sebanyak-banyaknya terdiri dari tiga orang.”

“Baik. Aku akan menuruti petunjukmu. Sementara itu, persiapan yang lain pun telah dilakukan,” berkata Ki Patih Mantahun.

“Sebaiknya Ki Patih mempersiapkan satu pasukan yang dapat memancing perhatian orang-orang Pajang. Jika kekerasan itu tidak dapat dihindari, maka biarlah sepasukan Jipang berada disebelah barat Pajang untuk menarik perhatian mereka. Sementara itu, Sembojan dapat mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menyerang Pajang dari arah Selatan,” berkata Ki Randukeling.

“Kami akan sangat memperhatikan. Tetapi jika saatnya datang, aku akan menghubungi lagi Ki Randukeling sambil mengetahui sampai dimana persiapan yang dilakukan oleh Sembojan,” berkata Ki Patih.

Demikianlah, maka Ki Randukeling telah meninggalkan Jipang. Ia tidak merasa perlu berhubungan langsung dengan Arya Jipang, karena baginya Arya Jipang dan Ki Patih Mantahun tidak banyak bedanya. Meskipun Patih Mantahun telah cukup tua dilihat dari banyaknya umur, tetapi ia masih tetap seorang Patih yang pikirannya