-->

Suramnya Bayang-Bayang Jilid 16

Jilid 16

aku dapat memberikan penjelasan, Kanjeng Adipati akan bersedia memikirkannya dan melakukan langkah-langkah darurat.”

Ki Tumenggung mengerutkan keningnya. Katanya, “Mungkin aku dapat mengusahakan agar kau menghadap. Tetapi akibatnya tentu tidak akan menguntungkan Ki Wiradana, justru karena pikiran Kanjeng Sultan yang sedang kusut.”

Ki Wiradana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku akan mohon belas kasihannya. Mungkin agak berbeda dengan jika ia berhadapan dengan Ki Tumenggung. Berhadapan dengan yang berkepentingan, mungkin hati Kanjeng Adipati akan menjadi luluh meskipun dalam keadaan yang kusut sekalipun.”

Ki Tumenggung Wirajaya menjadi ragu-ragu. Namun ia berusaha untuk sekali lagi memperingatkan, “Tetapi hal itu akan berakibat sebaliknya. Kanjeng Adipati akan merasa selalu terdesak justru dalam keadaan yang tidak menguntungkan.”

“Aku mohon dengan sangat Ki Tumenggung,” berkata Ki Wiradana. “Bukan berarti aku tidak percaya kepada Ki Tumenggung. Tetapi semata-mata dengan perhitungan, bahwa jika Kanjeng Adipati melihat langsung keadaannku, mungkin Kanjeng Adipati akan memberikan sedikit perhatian dalam kekalutannya itu.”

Ki Tumenggung menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah. Jika kau bersikeras hati untuk menghadap, aku akan berusaha.”

Sebenarnyalah Ki Tumenggung adalah orang yang sulit untuk menolak permintaan orang lain meskipun hal itu akan dapat menyulitkan dirinya sendiri. Jika Ki

Wiradana sempat menghadap maka persoalannya tidak akan menjadi semakin mudah dipecahkan. Namun ia tidak sampai hati untuk mengecewakan Ki Wiradana.

“Biarlah ia mendengar sendiri, apa yang dikatakan oleh Kanjeng Adipati,” berkata Ki Tumenggung di dalam hatinya.

Karena itu, maka katanya, “Jika demikian, baiklah Ki Wiradana harap menunggu satu dua hari. Mudah-mudahan kesempatan itu segera terbuka. Mungkin justru tidak dihari-hari paseban. Tetapi pada saat-saat khusus yang sering dipergunakan oleh Kanjeng Adipati untuk menerima persoalan-persoalan yang tidak perlu dibicarakan dalam sidang di paseban.”

“Terima kasih Ki Tumenggung. Aku akan menunggu sampai saatnya Ki Tumenggung memanggil aku. Aku berada di penginapan seperti yang pernah aku sebutkan,” sahut Ki Wiradana.

Dengan demikian, timbullah di hati Ki Wiradana harapan. Ia akan menjelaskan sebagaimana adanya. Jika Kanjeng Sultan menaruh belas kasihan atas anaknya yang akan lahir, maka Kanjeng Sultan akan dapat mengambil satu kebijaksanaan.

Namun Ki Tumenggunglah yang mengalami kesulitan. Ia menjadi ragu-ragu untuk menyampaikan permohonan Ki Wiradana kepada Kanjeng Adipati yang diketahuinya sedang dalam keadaan yang terlalu sibuk. Bukan saja secara wantah, tetapi juga kesibukan nalar dan budinya. Kanjeng Adipati memang menantu Kanjeng Sultan Demak yang paling muda. Namun beberapa pihak menganggap bahwa ia adalah salah seorang yang memiliki kelebihan dari menantu-menantu Kanjeng Sultan yang lain.

Tetapi Ki Tumenggung yang tidak dapat menolak permintaan Ki Wiradana itu, akhirnya dalam satu kesempatan memberanikan diri untuk menyampaikannya kepada Kanjeng Adipati.

“Ampun Kanjeng Adipati,” berkata Ki Tumenggung dengan suara bergetar, “Apakah hamba diperkenankan menyampaikan satu permohonan dari salah seorang hamba di Pajang?”

Adipati Pajang menurut kebiasaannya memang bukan orang yang garang. Ia banyak mendengarkan pendapat orang lain bahkan ia senang berbincang dalam waktu-waktu senggangnya dengan siapapun juga yang dianggapnya berguna baginya. Namun dalam kekalutan itu, Kanjeng Adipati bertanya, “Siapakah yang akan menghadap dan dalam persoalan apa?”

“Ampun Kanjeng Adipati. Yang akan menghadap Ki Wiradana, pemangku jabatan Kepala

Tanah Perdikan di Sembojan,” jawab Ki Tumenggung Wirajaya. ”Untuk apa?” wajah Kanjeng Adipati mulai berkerut.

“Sebenarnyalah hamba sudah menjelaskan tentang kedudukannya dalam hubungan permohonannya untuk diwisuda. Namun ia ingin menghadap langsung Kanjeng Adipati. Mungkin ia dapat memberikan penjelasan lebih banyak dan mungkin Kanjeng Adipati akan berbelas kasihan jika Kanjeng Adipati langsung dapat bertemu dengan orang

itu,” berkata Ki Tumenggung dengan ragu.

Wajah Kanjeng Adipati Hadiwijaya itu menjadi tegang. Dengan nada datar ia bertanya, “Bukankah aku sudah memberi jawaban atas hal itu kepadamu?” “Hamba Kanjeng Adipati. Tetapi seperti yang hamba katakan. Ki Wiradana ingin

menyampaikan persoalannya langsung kepada Kanjeng Adipati,” jawab Ki Tumenggung.

“Jika demikian, jika setiap orang yang mempunyai kepentingan dengan persoalan Tanah Perdikan akan menghadap aku langsung, maka aku tidak memerlukan kau lagi Ki Tumenggung. Aku mengangkatmu dalam jabatanmu adalah agar aku tidak harus mengurusi semua persoalan yang timbul di Kadipaten ini,” jawab Kanjeng Adipati.

Ki Tumenggung sudah mengira, bahwa ia akan mendapat jawaban yang demikian.

Tetapi ia memang tidak dapat berbuat lain justru karena ia ingin berbuat sebaik-baiknya.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Kanjeng Adipati berkata, “Tetapi baiklah suruhlah Wiradana itu menghadap. Nanti sore setelah matahari turun menjelang senja. Aku mempunyai waktu luang.”

Ki Tumenggung menjadi heran atas kesempatan yang tidak diduganya itu. Namun sebagaimana didengarnya, bahwa Ki Wiradana mendapat kesempatan untuk menghadap

menjelang senja.

Karena itu, maka Ki Tumenggung kemudian mohon diri untuk menyampaikan berita itu kepada Ki Wiradana.

Alangkah gembiranya hati Ki Wiradana. Ternyata demikian mudahnya ia mendapat kesempatan untuk menghadap. Tidak ada kesulitan apapun juga. Sekali Ki Tumenggung menyampaikan permohonannya, maka Kanjeng Adipati segera memberinya

kesempatan. Tidak besok, apalagi lusa. Tetapi nanti sore menjelang senja. Rasa-rasanya semuanya akan dengan cepat selesai. Besok ia akan pulang ke

Sembojan dengan kepastian, bahwa Kanjeng Adipati sudah menentukan hari wisuda baginya, jauh sebelum anaknya itu lahir. Dengan demikian, maka ia pun akan

segera dapat membenahi Tanah Perdikan Sembojan tanpa ragu-ragu lagi.

Ketika matahari mulai turun, Ki Wiradana telah berada di rumah Ki Tumenggung.

Rasa-rasanya ia tidak sabar lagi menunggu senja. Hari itu matahari menjadi

seakan-akan bergerak turun lambat. Namun akhirnya waktunya datang juga. Bersama Ki Tumenggung Wirajaya, Ki Wiradana pergi ke istana Adipati Hadiwijaya di

Pajang.

Seperti yang dikatakan, maka Adipati Pajang benar-benar telah menerima Ki Wiradana disebuah ruang yang khusus bagi Adipati Hadiwijaya untuk menerima orang-orang yang datang menghadap di luar paseban.

Ketika Kanjeng Adipati memasuki ruangan, maka Ki Wiradana menjadi

berdebar-debar. Bahkan Ki Tumenggung pun tidak kurang berdebar-debarnya pula. Dengan ketajaman penggraitanya, Ki Tumenggung merasakan sesuatu yang kurang wajar terhadap sikap Kanjeng Adipati yang sedang dalam suasana yang kalut karena kematian Sultan Trenggana di Demak.

Setelah beberapa saat Kanjeng Adipati duduk, barulah ia bertanya, “Apakah kau yang bernama Wiradana, pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan?”

Ki Wiradana menunduk sambil menyembah. Katanya, “Kanjeng Adipati. Hamba adalah Wiradana, pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan.”

“Apakah maksudmu mohon menghadap?” bertanya Kanjeng Adipati kemudian. “Mungkin Ki Tumenggung Wirajaya pernah menyampaikan permohonan hamba untuk mendapatkan wisuda, karena sebenarnyalah hamba dan istri hamba sangat berharap, agar hamba telah diwisuda sebelum anak hamba itu lahir setengah tahun

mendatang,” jawab Ki Wiradana.

“Jadi kau sudah menyampaikan persoalanmu kepada Ki Tumenggung Wirajaya?” bertanya Kanjeng Adipati.

“Hamba Kanjeng Adipati,” jawab Ki Wiradana.

“Lalu, apakah jawab Ki Tumenggung?” bertanya Adipati Pajang itu. Ki Wiradana mengerutkan keningnya. Ia mulai merasakan sesuatu yang menekan jantungnya. Namun ia harus menjawab pertanyaan Kanjeng Adipati itu.

Karena itu, maka Ki Wiradana itu pun terpaksa mengatakan apa yang pernah dikatakan oleh Ki Tumenggung Wirajaya. Ia tidak dapat mengurangi atau menambah, karena Ki Tumenggung itu hadir juga di ruang itu.

Ketika Ki Wiradana selesai menyampaikan jawaban yang pernah diberikan kepadanya oleh Ki Tumenggung, maka Adipati Pajang itupun bertanya, “Jika demikian, maka aku kira persoalannya telah ditangani dan ditanggapi oleh Ki Tumenggung yang memang mempunyai tugas untuk itu. Kenapa Ki Wiradana masih memerlukan waktu untuk menghadap aku?”

“Hamba ingin memohon belas kasihan,” sahut Ki Wiradana dengan nada memelas. “Ki Wiradana,” berkata Kanjeng Adipati Hadiwijaya, “Aku memang minta agar Ki Wiradana datang saat ini. Tetapi apa yang akan aku katakan tidak berbeda dengan apa yang sudah aku katakan kepada Ki Tumenggung Wirajaya. Sebagaimana kau ketahui, bahwa pikiranku sekarang sedang kalut. Karena itu, jangan menambah beban pada saat-saat yang begini. Ketahuilah, bahwa kau telah melakukan satu kesalahan. Untunglah bahwa Ki Tumenggung Wirajaya adalah orang yang baik hati. Jika kau berhadapan dengan orang lain, maka kau tentu sudah diusirnya dan bahkan persoalanmu akan menjadi berkepanjangan karena kau telah berusaha melangkahi

wewenangnya. Karena itu, kembalilah ke Tanah Perdikan Sembojan. Tunggulah sampai Ki Tumenggung memanggilmu untuk diwisuda. Kau harus belajar dari pengalamanmu agar kau menjadi dewasa. Bukan dalam hal umur, tetapi dalam hal tataran pemerintahan.”

Jantung Ki Wiradana terasa bagaikan berhenti berdentang. Tubuhnya menjadi lemas dan keringatnya mengalir di seluruh tubuhnya.

“Jangan cemas bahwa aku akan menghukummu dengan mempersulit persoalanmu,” berkata Kanjeng Adipati, “Tetapi ketahuilah, bahwa segala sesuatunya harus dilakukan sesuai dengan paugeran. Siapkan semua uba-rampe. Baru kemudian hari wisuda itu akan ditentukan. Dengan sedikit keterangan, bahwa aku masih harus menyelesaikan persoalan Demak yang bagiku lebih penting karena menyangkut lebih banyak lingkungan dan rakyat daripada Tanah Perdikan Sembojan.”

Semua harapan yang telah ditimbun di dalam dada Ki Wiradana itupun telah larut. Ternyata Adipati Pajang bukannya akan memberikan kesempatan kepadanya untuk mendapat wisuda sesuai dengan permohonannya, tetapi Adipati Pajang itu justru hanya sekadar ingin menunjukkan kesalahannya.

Karena itu, setelah pintu tertutup sama sekali baginya, maka ia pun bersama Ki Tumenggung mohon diri.

“Kau masih harus lebih banyak belajar,” berkata Adipati Hadiwijaya itu. “Kau

harus mengendapkan gejolak keinginanmu yang tidak terkendali itu. Karena dengan demikian, justru kau akan terjerumus ke dalam kesulitan.”

Betapa Ki Wiradana menyesali perbuatannya, namun sebenarnyalah bahwa Ki Tumenggung Wirajaya adalah orang yang baik. Ia sama sekali tidak ikut pula menyalahkan Ki Wiradana. Bahkan ia kemudian berusaha untuk meringankan beban perasaan Ki Wiradana. “Sudahlah. Jangan kau risaukan. Nanti jika persoalan

Kanjeng Adipati dengan Demak itu selesai, maka akulah yang akan menyampaikannya sekali lagi.”

“Tetapi kapan?” bertanya Ki Wiradana.

“Itulah yang tidak aku ketahui. Dan bahkan Kanjeng Adipati sendiri pun tidak mengetahuinya,” jawab Ki Tumenggung.

Ki Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya ia sudah tidak mempunyai harapan lagi untuk dapat memenuhi keinginannya, diwisuda sebelum anaknya lahir.

Ki Tumenggung yang melihat kekecewaan membayang di wajah Ki Wiradana itu pun berkata, “Sekali lagi aku ingin memperingatkanmu, Ki Wiradana. Bahwa kedudukanmu sekarang dengan sesudah diwisuda tidak akan jauh berbeda. Bagimu tidak akan ada orang yang mengganggumu dan merasa dirinya juga berhak atas Tanah Perdikan Sembojan sehingga sebenarnya kau tidak perlu merisaukannya.”

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Ia pun mencoba untuk mengurangi perasaan kecewanya dengan menekan pengertian seperti yang dikatakan oleh Ki Tumenggung itu.

Dengan demikian maka Ki Wiradana menganggap tidak perlu lagi untuk berada di Pajang lebih lama. Ia sudah menentukan, bahwa keesokan harinya, ia akan kembali ke Tanah Perdikan Sembojan.

Ketika ia menyampaikan hasil pertemuannya dengan Kanjeng Adipati, maka para pengawalnya pun menjadi kecewa. Mereka sebenarnya berdoa agar Ki Wiradana cepat diwisuda, karena dengan demikian, mereka pun akan menerima hadiah dari pemimpinnya yang masih terhitung muda itu. Namun ternyata bahwa keinginan itu akan tetap menjadi keinginan saja.

Namun dalam pada itu, pada hari-hari terakhir ia berada di Pajang, maka Ki Wiradana memang melihat beberapa kesibukan yang tidak dilihat sebelumnya. Ia melihat prajurit berkuda yang hilir mudik di jalan-jalan raya. Bahkan di penginapan-penginapan telah terjadi semacam pemeriksaan terhadap orang-orang

yang bermalam. Masing-masing mendapat beberapa pertanyaan yang harus dijawab dengan meyakinkan.

Ketika sekelompok peronda datang ke penginapan Ki Wiradana, maka mereka memang menjadi curiga melihat beberapa orang yang berasal dari Tanah Perdikan Sembojan bermalam. Namun Ki Wiradana yang langsung menghadapi para peronda itu berhasil meyakinkan tentang yang dikatakannya.

“Jika kalian meragukan keteranganku, kalian dapat bertemu dengan Ki Tumenggung Wirajaya atau bertanya langsung kepada Kanjeng Adipati,” berkata Ki Wiradana.

Para peronda itu ternyata mempercayainya sehingga mereka tidak mengganggu Ki Wiradana dengan tujuh orang pengawalnya.

Namun dalam pada itu, di bagian lain dari penginapan itu, justru pada bagian yang sering dipergunakan oleh para saudagar dan orang-orang yang mempunyai banyak bekal perjalanan, yaitu pada sebuah bilik, telah terjadi keributan.

Sekelompok peronda itu yang dipimpin oleh seorang lurah prajurit menemukan seseorang yang dianggap mencurigakan. Apalagi ternyata ketika salah seorang dari para prajurit itu justru telah dapat mengenalinya.

“He, bukankah kita pernah bertemu di Demak. Pada waktu aku bertugas mengawal Kanjeng Adipati Hadiwijaya di Pajang. Aku tidak pernah dapat melupakanmu karena kita waktu itu terlibat kedalam satu persoalan sehingga hampir saja terjadi bentrokan di antara kita di Demak. Di warung itu kau agaknya memang sedang

mabuk. Sehingga kau mengigau tentang kedudukan yang seharusnya berada di tangan Arya Penangsang,” berkata prajurit itu. “Sehingga ketika aku mencegah kau

membuat kerusakan di warung itu, kita terlibat dalam perselisihan. Untunglah pada waktu itu sekelompok peronda dari Demak telah melerai kita, sehingga persoalan yang hampir saja menyala menjadi benturan kekerasan itu dapat dihindarkan. Sementara kau waktu itu telah diserahkan kepada kawan-kawan yang kemudian datang. Para pengawal Adipati Jipang.”

Wajah orang itu menjadi tegang. Namun kemudian ia berkata, “Aku memang prajurit Jipang. Tetapi apa salahku di sini. Aku sedang dalam perjalanan menengok salah seorang saudaraku yang sedang sakit di sebuah padukuhan di sebelah Selatan Pajang.” “Di padukuhan mana?” bertanya prajurit itu.

“Kali Pancer,” jawab prajurit Jipang itu. “Jika kau tidak percaya, marilah, besok kita pergi ke Kali Pancer.”

Para prajurit peronda itu termangu-mangu sejenak menghadapi seorang prajurit Jipang itu. Namun akhirnya lurah prajurit itu berkata, “Baiklah Ki Sanak. Jika kau memang prajurit Jipang dan tidak berniat untuk berbuat sesuatu yang tidak kami inginkan di sini, maka kami ingin mempersilakan ki Sanak bermalam tidak disini.”

“Kenapa?” bertanya prajurit itu.

“Untuk kepentingan keamanan Ki Sanak sendiri. Marilah, ikut kami ke barak. Ki Sanak akan dapat bermalam disana. Besok Ki Sanak akan dengan leluasa melanjutkan perjalanan menuju ke Kali Pancer. Di sebelah Selatan Pajang memang ada sebuah padukuhan yang bernama Kali Pancer,” berkata lurah prajurit Pajang yang sedang meronda itu.

“Aku tidak mengerti maksdmu,” berkata prajurit Jipang itu. “Apakah itu berarti bahwa kalian ingin menangkapku?”

“Sama sekali tidak,” jawab lurah prajurit itu. “Tetapi kau tentu mengetahui suasana yang sekarang sedang kemelut ini.”

“Yang kemelut adalah persoalan orang-orang besar. Tetapi orang-orang kecil sekali seperti aku ini, tentu sama sekali tidak berkepentingan apapun juga,” berkata prajurit itu.

“Karena itu, marilah. Sebaiknya kau bermalam di barak saja,” berkata lurah prajurit Pajang.

“Kau aneh,” sahut prajurit Jipang. “Sebaiknya kau tidak perlu mengurusi aku. Biar saja aku bermalam dimanapun.”

Lurah prajurit itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Kau jangan berprasangka buruk. Prajurit Pajang bukan prajurit liar yang akan berbuat sekehendak sendiri. Tetapi kami berbuat di atas landasan paugeran. Karena itu, jangan cemas. Kami tidak ingin berbuat apa-apa. Kami hanya ingin agar tidak terjadi sesuatu atas kau di sini. Karena bagaimana pun juga, tentu ada orang yang akan dapat memancing di air keruh, justru pada saat kau berada di Pajang. Disebuah penginapan dengan gaya seorang perwira atau seorang saudagar yang kaya raya, karena kau telah memilih sebuah ruangan khusus yang mahal.”

Prajurit Jipang itu menjadi tegang. Ia memang pantas untuk dicurigai. Selain ia tidak mengenakan pakaian kelengkapan seorang prajurit Jipang, ia memang berada di tempat yang jarang dipergunakan bagi orang kebanyakan. Biasanya orang-orang yang tidak mempunyai banyak uang akan bermalam di tempat yang terbuka di penginapan itu.

Apalagi kebiasaan orang menempuh perjalanan biasa, yang kemalaman di jalan, tidak bermalam di penginapan. Tetapi di banjar-banjar padukuhan. Apalagi padukuhan yang disebut Kali Pancer adalah padukuhan yang sudah tidak jauh lagi dari penginapan itu sehingga apabila ia benar ingin pergi ke Kali Pancer, maka

ia tidak akan singgah di tempat ini.

Dalam pada itu, seorang prajurit Pajang yang lain telah mendapat keterangan dari pemilik penginapan itu bahwa orang itu sama sekali tidak mengaku sebagai orang Jipang. Ia membawa seekor kuda dan datang bersama dengan orang lain yang juga bermalam di tempat itu. Namun di tempat yang dipakai oleh kebanyakan orang. Di tempat yang terbuka. Tidak di dalam bilik seperti orang itu, yang mengaku

sebagai seorang saudagar.

Prajurit Pajang menjadi semakin curiga. Prajurit yang mendapat keterangan dari pemilik penginapan itu pun kemudian ikut pula menakan agar orang itu bersedia bermalam di barak para prajurit.

Orang Jipang itu akhirnya menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Apaboleh buat. Kalian, orang-orang Pajang, terlalu berprasangka buruk terhadap orang

lain. Sebenarnya aku tidak mempunyai sangkut paut dengan kemelut yang terjadi di Demak sekarang ini, karena aku tidak lebih dari seorang prajurit rendahan.”

“Di barak kau tidak perlu membayar seperti di penginapan ini Ki Sanak,” berkata lurah prajurit yang memimpin sekelompok kawan-kawan yang sedang meronda itu. “Orang Jipang itu tidak keluar dengan membawa barang banyak.”

Prajurit Jipang itu mengerutkan keningnya. Sementara itu lurah prajurit Pajang itu berkata selanjutnya, “Bayaran yang terlalu tinggi bagi seorang prajurit rendahan seperti Ki Sanak ini. Bahkan mungkin tidak akan terjangkau.”

Wajah prajurit Jipang itu menegang. Ia merasakan tajamnya sindiran lurah prajurit Pajang itu. Tetapi orang Jipang itu sama sekali tidak menanggapinya.

Bahkan ia berkata, “Baiklah. Aku akan mengikut kalian. Tetapi sewa bilik di hari

ini akan menjadi tanggungan kalian karena aku tidak mempergunakannya seutuhnya.” “Kami akan membicarakannya dengan pemilik penginapan ini,” berkata lurah prajurit Pajang. “Tentu ia tidak akan berkeberatan untuk membebaskanmu dari kewajiban membayar sewa bilik ini.”

“Tunggulah sejenak,” berkata prajurit Jipang itu. “Aku akan membenahi barang-barangku.”

Orang Jipang itu pun kemudian masuk ke dalam biliknya, sementara dua orang prajurit itu bergeser memperhatikan keadaan di ruangan terbuka dari penginapan itu.

Ki Wiradana dan para pengawalnya sama sekali tidak ikut campur dalam persoalan itu. Namun kesan yang mereka dapatkan adalah, bahwa persoalan antara Pajang dan Jipang dalam hubungannya dengan kekosongan di Demak menjadi agak meruncing. Meskipun Kanjeng Adipati Pajang tidak mengumumkan secara terbuka agar tidak menggelisahkan rakyatnya, tetapi para prajurit telah mendapat perintah untuk bersiaga sepenuhnya seperti dikatakan oleh Ki Tumenggung Wirajaya.

Sejenak kemudian, pintu bilik itu pun telah bergerak. Tetapi yang terjadi

benar-benar sangat mengejutkan. Ternyata orang Jipang itu tidak keluar dengan membawa barang-barangnya untuk pergi ke barak. Tetapi dengan tiba-tiba saja ia sudah menyerang prajurit Pajang yang berada di muka pintu biliknya.

Serangan itu demikian tiba-tiba sehingga kedua prajurit itu sama sekali tidak siap untuk melawan.

Demikian pedang terjulur dari bilik pintu, maka kedua prajurit itu berusaha untuk menghindar. Namun ujung pedang itu ternyata sempat memburunya dan mengoyak

kulit dagingnya.

Pada serangan pertama, kedua prajurit itu sudah terluka. Yang seorang lambungnya sobek melintang, sedang yang lain dadanya terpatuk ujung pedang melubangi dagingnya. Untunglah bahwa ujung pedang itu tidak memotong jantungnya.

Tetapi kedua prajurit itu pun telah terjatuh dan tidak berdaya lagi untuk melawannya.

Sementara itu, orang-orang yang menginap di penginapan itu pun telah menjerit hampir berbareng. Terutama perempuan-perempuan yang berjualan hasil bumi dan bermalam di penginapan itu.

Para peronda yang lain pun perhatiannya segera tertarik pula kepada peristiwa yang tiba-tiba itu. Karena itu, maka mereka pun dengan tangkasnya berloncatan dengan senjata yang sudah siap berada di tangan.

Sementara itu, prajurit Jipang telah melukai kedua prajurit Pajang sehingga keduanya tidak lagi mampu bangkit dengan darah yang membasahi lantai penginapan itu berdiri tegak dengan pedang yang telah menjadi merah oleh darah kedua orang korbannya.

Namun yang kemudian berada dihadapannya bukan lagi hanya dua orang, tetapi empat orang prajurit yang sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Namun yang terjadi kemudian sekali lagi telah membuat orang-orang yang ada di dalam bilik itu terkejut. Ternyata serangan berikutnya tidak datang dari orang yang berdiri di depan pintu itu. Seseorang yang berada di antara orang-orang yang berada di ruang terbuka penginapan itu telah menyergap orang-orang yang sudah siap menghadapi prajurit Jipang yang berada di depan pintu itu.

SERGAPAN yang tiba-tiba itu sekali lagi telah menelan korban. Dua orang terlempar dan jatuh berguling di lantai. Darah memancar dari luka tubuhnya.

Serangan yang tiba-tiba itu benar-benar telah berhasil dengan baik. Yang

kemudian bersiap menghadapi segala kemungkinan tinggal dua orang saja di antara para peronda itu.

Tetapi selanjutnya tidak terjadi pertempuran di antara mereka. Dua orang yang telah melukai prajurit Pajang itu tiba-tiba saja telah menghambur keluar dari penginapan itu, menyusup ke dalam gelap.

Kedua orang prajurit Pajang itu telah berusaha untuk memburunya. Namun yang terdengar kemudian adalah derap kaki-kaki kuda.

“Tahan mereka,” teriak kedua orang prajurit itu hampir bersamaan. Tetapi tidak seorang pun yang melakukannya.

Ketika salah seorang di antara dua orang prajurit itu siap turun ke halaman

untuk berlari ke arah kudanya, maka yang seorang di antara mereka, yang ternyata adalah lurah prajurit peronda itu menahannya sambil berkata, “Kau bunyikan saja tanda bahaya. Biarlah aku yang mencoba mengikutinya. Mungkin aku dapat mencapai mereka sebelum mereka keluar dari gerbang.”

Prajurit itu mengurungkan niatnya. Sementara itu lurah prajurit itulah yang kemudian meloncat ke atas punggung kudanya dan berusaha mengejar orang-orang yang melarikan itu.

Sejenak kemudian terdengar suara kentongan yang mengoyak sepinya malam. Suara kentongan yang kemudian disaut oleh suara kentongan yang lain, sehingga akhirnya bergema diseluruh Pajang.

Sementara itu kaki-kaki kuda telah berderap di jalan-jalan kota. Namun lurah prajurit yang mengejar dua orang prajurit Jipang itu ternyata telah kehilangan arah. Ketika ia berusaha menyusul dan berbelok di tikungan, ternyata keduanya bagaikan telah menghilang dihisap bumi.

Untuk beberapa lamanya lurah prajurit yang memimpin kelompok peronda itu termangu-mangu. Namun kemudian ia bergerak maju lagi. Mungkin kedua orang Jipang itu bersembunyi dicelah-celah bayangan. Sementara kudanya dibiarkan lari

menghilang, atau keduanya memang sudah berhasil lolos jauh dari pengamatannya. Ketika prajurit Pajang itu mendengar suara kuda berderap mendekat, ia pun segera bersiaga. Tetapi yang dilihatnya adalah justru prajurit Pajang pula.

“Aku kehilangan buruanku,” berkata lurah prajurit itu kepada dua orang prajurit Pajang yang mendekat.

“Mereka kemana?” bertanya salah seorang dari kedua prajurit itu.

“Mereka berbelok ke tikungan ini. Namun ketika aku berbelok juga, mereka sudah hilang. Aku tidak lagi mendengar derap kaki kuda,” jawab lurah prajurit itu. “Siapakah yang kau kejar?” bertanya salah seorang prajurit Pajang yang baru datang, “Kami memang mendengar isyarat kentongan. Dan karena itu kami sudah memencar. Tetapi kami tidak bertemu dengan orang yang mencurigakan.” “Tetapi mereka tentu masih berada di dalam kota,” jawab lurah prajurit itu. “Tentu mereka belum sempat keluar ketika isyarat kentongan itu berbunyi, sehingga dengan demikian, maka para petugas di regol-regol kota akan menghentikan orang-orang yang mereka curigai yang berusaha keluar dari kota.” Kedua orang prajurit yang baru datang itu mengangguk-angguk. Sejenak mereka berkeliling di tempat kedua orang Jipang itu hilang. Namun mereka tidak menjumpai sesuatu.

Tetapi beberapa saat kemudian, mereka telah mendengar ringkik kuda disebuah halaman yang luas tetapi nampak terlalu rimbun oleh gerumbul-gerumbul perdu. Karena itu, maka ketiga orang prajurit Pajang itu pun segera mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan.

Ketiganya yang kemudian turun dari kuda mereka, dengan hati-hati telah memasuki halaman itu. Pada jarak beberapa langkah di antara yang seorang dengan yang

lain, maka ketiganya menuju ke arah suara ringkik kuda dengan senjata telanjang di tangan. Beberapa langkah kemudian mereka berhenti. Mereka melihat gerak pada gerumbul-gerumbul perdu. Kemudian mereka melihat seekor kuda yang termangu- mangu

di dalam kegelapan.

Dengan isyarat, maka lurah prajurit itu memberitahukan kepada kawan-kawannya. Beberapa langkah mereka maju. Namun ternyata yang mereka ketemukan kemudian hanyalah seekor kuda. Bahkan kemudian beberapa langkah ditempat yang lebih dalam seekor kuda yang lain pun berdiri kebingungan.

Untuk beberapa saat lamanya ketiga orang prajurit itu masih tetap dalam kesiagaan tertinggi. Namun setelah beberapa saat mereka mengelilingi halaman itu

dan tidak menemukan orang-orang yang mereka cari, maka mereka pun menyadari, bahwa kedua orang itu tentu sudah melarikan diri dengan meninggalkan kuda mereka. Dengan tanpa menunggang kuda, mereka akan lebih mudah menyusup di antara

pepohonan di halaman-halaman, kebun-kebun dan daerah-daerah pepat yang lain. Jika mereka berhasil mencapai dinding kota, maka mereka akan dapat dengan mudah meloncat keluar, tanpa melalui pintu gerbang.

Namun dalam pada itu, kedua orang prajurit Pajang yang datang kemudian itu berkata, “Peronda sudah tersebar setelah terdengar suara isyarat kentongan.

Mudah-mudahan kedua orang itu dapat dijumpai para peronda sebelum mereka keluar dari kota.

Lurah prajurit itu mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Aku akan kembali ke penginapan itu. Empat orang kawanku terluka oleh serangan yang sangat licik.”

Ternyata bahwa kedua prajurit yang datang kemudian itu pun telah mengikuti pula ke penginapan. Agaknya di tempat itu telah terdapat beberapa orang peronda yang lain, dan orang-orang yang terluka itu telah mendapatkan pertolongan seperlunya. Namun ternyata bahwa luka mereka cukup parah. Sehingga mereka harus dibawa ke tempat perawatan bagi para prajurit yang terluka.

Malam itu, seluruh kota telah menjadi sibuk. Para prajurit berusaha untuk menemukan dua orang prajurit dari Jipang yang tentu dalam tugas sandi berada di Pajang. Tetapi ternyata kedua orang itu tidak dapat diketemukan. Keduanya seolah-olah telah lenyap tanpa bekas. Bahkan beberapa orang prajurit telah

memasuki beberapa rumah yang dicurigai. Tetapi mereka tidak menemukan keduanya. Dalam pada itu, di penginapan, lurah prajurit yang empat kawannya terluka, ternyata menyesali sikap Ki Wiradana. Dengan nada datar ia berkata, “Ki Sanak.

Sebenarnya kau dapat mengambil bagian dalam peristiwa seperti ini. Jika benar

kau adalah pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan, maka kau termasuk bagian dari Pajang.”

“Apa yang kau maksud Ki Sanak?” bertanya Ki Wiradana.

“Kau dapat memerintahkan pengawalmu untuk ikut menangkap orang-orang Jipang itu,” berkata lurah prajurit itu.

Ki Wiradana mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Peristiwa itu terjadi sedemikian tiba-tiba, sehingga aku tidak siap untuk berbuat sesuatu.

Ketika aku sadar, maka semuanya telah terjadi.”

Lurah prajurit itu menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat mengerti alasan itu.

Tetapi dengan demikian maka menurut penilaian lurah prajurit itu, Ki Wiradana ternyata tidak mempunyai kemampuan berbuat dan mengambil keputusan dengan cepat, pada saat-saat yang rumit. Jika ia mampu menyesuaikan dirinya, maka kedua orang Jipang itu tentu dapat ditangkap, karena Ki Wiradana itu membawa tujuh orang pengawal di samping Ki Wiradana sendiri.

Tetapi lurah prajurit itu tidak mau mempersoalkannya dengan Wiradana. Ia memang tidak mempunyai kekuasaan untuk itu.

Sementara itu, Ki Wiradana sendirilah yang merasa bahwa prajurit Pajang itu telah membuat penilaian atas dirinya. Namun segala sesuatunya telah terjadi. “Apakah hal seperti ini akan didengar oleh Ki Tumenggung Wirajaya atau bahkan Kanjeng Adipati sendiri?” pertanyaan itu terasa mulai mengganggu perasaannya. Karena jika demikian, maka Ki Wiradana mencemaskan bahwa akibatnya akan berpengaruh atas permohonan wisudanya.

Namun akhirnya Ki Wiradana itu menghibur dirinya sendiri, “Ki Tumenggung Wirajaya bukan kanak-kanak lagi. Ia tahu mana yang baik dilakukan dan mana yang tidak.”

Ternyata disisa malam itu, Ki Wiradana tidak dapat tidur dengan nyenyak. Ia selalu merasa gelisah. Angan-angannya selalu dibayangi oleh kegagalannya mohon

untuk segera diwisuda. Namun ia pun menjadi cemas bahwa akan datang orang-orang yang akan merampoknya.

“Apakah orang-orang yang merampok aku dan saudagar permata di Tanah Perdikan Sembojan itu juga orang-orang Jipang?” pertanyaan itu pun telah timbul di dalam hatinya. Tetapi ia sulit mencari hubungan antara Jipang dan perampokan. Sudah

tentu Jipang tidak akan mengumpulkan dana bagi perjuangannya memperebutkan tahta Demak dengan perampokan, karena Jipang adalah sebuah Kadipaten.

Karena Ki Wiradana tidak dapat tidur nyenyak, maka pagi-pagi benar ia sudah bangun. Para pengawalnya pun telah dibangunkannya pula.

“Kita akan berangkat sebelum matahari terbit,” berkata Ki Wiradana.

Seperti yang dikatakannya, setelah biaya penginapannya bersama tujuh pengawalnya diselesaikan, maka Ki Wiradana pun telah bersiap-siap meninggalkan penginapan itu. Penginapan yang nampaknya masih tidur nyenyak. Pedati-pedati yang berada di halaman milik orang-orang yang bermalam di penginapan itu berderet di antara

dinding sampai ke dinding. Lembu-lembunya yang dilepas dari pasangan ditambatkan di halaman samping. Sedangkan di sisi penginapan itu terdapat kandang kuda yang agak besar.

Agaknya orang-orang di penginapan itu kebanyakan akan terlambat bangun karena semalam mereka terganggu oleh peristiwa yang mendebarkan, yang telah membuat empat orang prajurit Pajang terluka parah.

Ketika Ki Wiradana keluar dari kota, beberapa kali ia harus berhenti untuk diperiksa. Di gerbang kota ia tertahan cukup lama. Namun akhirnya Ki Wiradana itu diperkenankan melanjutkan perjalanan karena jawaban-jawabannya atas pertanya-an prajurit yang berjaga-jaga dapat meyakinkan mereka.

Namun demikian, meskipun Ki Wiradana dan para pengawalnya sudah terlepas dari pintu gerbang, namun mereka masih juga merasa cemas. Karena itu, mereka selalu bersiaga menghadapi segala kemungkinan. Mungkin seperti dikatakan oleh Ki Wirajaya, bahwa ada orang-orang yang dengan sengaja mempergunakan kesempatan pada saat-saat kemelut itu untuk melakukan kejahatan.

Tetapi ternyata bahwa perjalanan Ki Wiradana dan para pengawalnya tidak mengalami hambatan. Mereka dengan selamat mencapai Tanah Perdikan Sembojan. Tanah Perdikan yang besar, yang subur di antara pegunungan yang tersebar, namun yang ngarainya tetap basah di segala musim.

Kedatangan Ki Wiradana dengan perasaan kecewa telah disambut oleh Warsi dan orang yang disangka ayahnya. Sebagaimana diperjalanan Wiradana yang selamat secara wadag, maka di Tanah Perdikan Sembojan pun tidak terdapat sesuatu yang dapat mengguncangkan ketenangannya.

Namun berita yang dibawa oleh Ki Wiradana benar-benar mengecewakan Warsi. Apalagi ketika dengan jantung yang berdeguban Wiradana mengatakan, bahwa wisuda itu tertunda untuk waktu yang tidak diketahui. Bahkan mungkin sampai saat

anaknya lahir.

Dengan singkat Wiradana menceriterakan apa yang telah terjadi di Pajang. Dengan demikian, maka Warsi akan mendapat gambaran, bahwa sebenarnyalah Pajang memang sedang kisruh.

Terasa isi dada Warsi bagaikan akan meledak. Ia ingin bertindak untuk mengatasi persoalan yang seakan-akan terputus itu. Jika ia mendapat kesempatan menghadap, maka ia tidak akan sedungu Wiradana. Ia tentu mempunyai cara untuk mengemukakan alasan-alasannya.

Tetapi Warsi tidak dapat melakukannya. Selama ini ia berperan sebagai seorang istri yang lembut, yang tidak bernafsu untuk memiliki dan menguasai sesuatu yang menyangkut kebendaan dan kepentingan lahiriah.

Untuk beberapa saat Warsi berusaha menahan dirinya. Baru kemudian ia berkata, “Sudahlah kakang. Jangan dirisaukan. Kakang memang dapat mengusahakan jalan yang manapun juga. Tetapi jangan terlalu memaksa diri.”

Ki Wiradana termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian menjawab, “Tetapi apakah aku dapat menunggu sampai waktu yang tidak ditentukan itu Warsi? Dan apakah aku harus menemukan benda yang menjadi syarat wisuda itu, sementara aku sudah mencari disegala sudut rumah ini, tetapi aku tidak menemukannya?”

“Kakang masih terlalu letih,” berkata Warsi. “Kita akan dapat memikirkannya kemudian. Sekarang sebaiknya kakang beristirahat dahulu. Selanjutnya, persoalan kakang jangan terpancang kepada hari wisuda itu saja. Tetapi pergolakan yang terjadi antara Demak dan Jipang itu ternyata telah bergema sampai ke Pajang.

Mungkin sebentar lagi akan menjalar ke Tanah Perdikan ini.”

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Sebagaimana biasa, ia menganggap bahwa istrinya benar-benar berniat baik. Istrinya berusaha untuk membuatnya menjadi tenang dari kegelisahannya.

Sementara itu orang yang disebut sebagai ayah Warsi itu pun berkata pula, “Bukankah kita masih mempunyai waktu? Kita akan dapat memikirkannya dengan tenang. Memang sebaiknya kau beristirahat saja dahulu. Agaknya persoalan yang akan kau hadapi di Tanah Perdikan ini akan berkembang menjadi semakin banyak. Kau masih harus memecahkan persoalan hari wisuda, sementara kau sudah membicarakan dengan seorang saudagar bahwa kau akan menjebak perampok- perampok

itu sebagaimana diceriterakan oleh Warsi. Sementara itu persoalan Pajang dalam hubungannya dengan Demak telah berkembang pula menyangkut Kadipaten Jipang. Karena itu, maka agaknya memerlukan waktu untuk memikirkannya dengan tenang.” “Ya ayah,” jawab Ki Wiradana. “Tetapi aku disini merasa sendiri. Tidak ada orang yang dapat aku ajak berbincang. Orang-orang tua di Tanah Perdikan ini

rasa-rasanya tidak mampu memberikan pendapat yang dapat membuka pikiranku. Bahkan sebagian dari mereka berpikir terlalu sempit. Mereka tidak lebih dari orang-orang yang merasa dirinya pandai tetapi dalam ruang lingkup yang sangat

sempit. Mereka tidak mengetahui persoalan-persoalan yang hidup dan berkembang di luar Tanah Perdikan ini. Pada masa ayah memerintah, ayah memang terlalu mumpuni, sehingga segala sesuatunya dipikirkan dan dilaksanakan oleh ayah sendiri.

Agaknya aku belum sampai pada tataran itu.”

“Agaknya memang demikian Ki Wiradana. Tetapi itu bukan berarti bahwa kau sendiri. Mungkin kau dapat berbincang dengan istrimu. Jika orang-orang tua itu pun mungkin mempunyai pikiran-pikiran yang baik bagi Tanah Perdikan ini, namun kau harus dapat menangkap maksudnya, meskipun masih harus kau kembangkan sehingga menjadi pikiran yang berharga,” berkata laki-laki yang mengaku sebagai ayah Warsi itu.

Ki Wiradana mengangguk-angguk kecil. Kemudian ia pun berdesis, “Baiklah ayah. Aku akan beristirahat lebih dahulu. Namun dalam waktu dekat, aku berjanji untuk menjebak kedua orang penjahat yang sering melakukan kejahatan di

penginapan-penginapan. Di Pajang kemarin kedua orang itu tidak dijumpai. Namun kekalutan terjadi karena ada kedua orang Jipang yang juga berada di penginapan itu pula.”

Demikianlah, Ki Wiradana pun telah berusaha melepaskan kerisauannya meskipun hanya sekejab-kejab. Kerisauannya itu selalu datang menggelitik hatinya,

sehingga dihari-hari berikutnya ia menjadi lebih banyak merenung.

Namun dalam pada itu, dalam kesempatan tersendiri, Warsi itu pun bergumam dihadapan orang yang disebut sebagai ayahnya itu, “Wiradana memang terlalu bodoh untuk melakukan tugasnya. Pada saat ayahnya masih ada, ia agaknya terlalu manja dan jarang sekali mendapat tugas-tugas penting yang harus dipertanggung jawabkannya. Sampai saatnya ia menggantikan ayahnya, ia masih saja seperti kanak-kanak yang harus dituntun di saat belajar berjalan.”

Laki-laki yang disebut ayahnya itu mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Tetapi benturan-benturan itu akan dapat menjadi pengalaman yang berharga baginya.

Mudah-mudahan ia akan segera menemukan sikap yang mantap.”

“Kau juga bodoh,” geram Warsi. “Akulah yang akan mengambil alih pimpinan di Tanah Perdikan ini. Biarlah ia dungu. Aku mengemudikan kelak,” suara Warsi tiba-tiba menurun. “Tetapi aku inginkan ia diwisuda lebih dahulu, baru aku akan

melakukannya. Sebelum itu, jika orang-orang Pajang mengetahuinya, bahwa Wiradana sebenarnya tidak memerintah, akan dapat timbul persoalan dengan wisudanya kelak. Bahkan mungkin akan ada langkah yang kurang menguntungkan yang diambil oleh Pajang.”

Laki-laki yang disebut ayah Warsi itu mengangguk-angguk. Namun ia tidak mengatakan sesuatu lagi. Ia sudah cukup mengenal watak dan sifat Warsi.

Dalam pada itu, maka hari-hari yang disepakati antara Ki Wiradana dengan saudagar emas permata untuk menjebak para perampok itu menjadi semakin dekat.

Dengan demikian, maka Ki Wiradana pun telah mempersiapkan orang-orang terbaiknya untuk mengawasi penginapan-penginapan, terutama yang akan dipergunakan oleh saudagar itu. Bahkan Wiradana telah memerintahkan kepada dua orang di antara

para pengawal untuk bermalam di penginapan itu juga nanti di malam yang sudah dibicarakannya. Bahkan sejak malam sebelumnya.

Semakin dekat dengan hari yang ditentukan, Ki Wiradana menjadi semakin berhati-hati. Ia tidak ingin salah langkah. Apalagi saudagar itu justru akan menjadi korban karena kekeliruannya menghitung hari.

Sebenarnyalah, pada hari yang ditentukan saudagar itu telah datang. Ia telah memesan sebuah bilik khusus bagi dirinya dan seorang pembantunya. Sementara itu, ia dengan sengaja telah berjalan hilir mudik di pasar dan kemudian mengunjungi

Ki Wiradana pada hari kedatangannya itu juga.

Kedatangannya telah disambut dengan gembira oleh Ki Wiradana sekeluarga. Bahkan saudagar itu pun telah diperkenalkan pula kepada laki-laki yang disebut sebagai

ayah Warsi itu.

“Kami sudah siap,” berkata Ki Wiradana. “Mungkin malam ini atau malam-malam berikutnya jika terjadi lagi perampokan itu, maka para pengawal tentu akan

berhasil menangkap mereka. Dengan demikian, maka akan terbuka rahasia perampokan itu. Apakah mereka benar-benar perampok atau orang-orang yang dengan sengaja membuat kekisruhan di Tanah Perdikan ini sebagaimana rombongan pengamen dengan penari yang mirip dengan Iswari atau mereka adalah orang-orang Jipang.”

“Orang-orang Jipang?” ayah Warsi yang mengaku sebagai saudagar itu terkejut. “Ya, orang-orang Jipang,” jawab Ki Wiradana.

Ternyata saudagar itu memang belum mendengar apa yang terjadi di Pajang tentang orang-orang Jipang itu. Karena itu, maka Ki Wiradana pun kemudian berceritera serba singkat tentang orang-orang Jipang itu.

Saudagar itu mengangguk-angguk. Sekilas teringat olehnya rencana pamannya di Gunung Kukusan yang segera akan berada di Tanah Perdikan itu pula. Pamannya itu akan berusaha untuk menyeret Tanah Perdikan Sembojan ke dalam sengketa antara Jipang dan Demak termasuk Pajang tentang warisan tahta Demak itu sendiri. “Ternyata asap dari api yang menyala di Jipang itu sudah sampai ke Pajang,” berkata ayah Warsi di dalam hatinya.

Tetapi ia tidak ingin mendahului keterangan pamannya tentang persoalan yang menyangkut hubungan Tanah Perdikan Sembojan dengan Jipang. Biarlah pamannya itu mengatakannya langsung kepada Ki Wiradana.

Namun dari Ki Wiradana pula ayah Warsi yang mengaku sebagai saudagar itu mendengar, bahwa kedudukannya masih belum dikukuhkan. Persoalannya berkait dengan kesibukan Adipati Pajang karena pergolakan yang terjadi di Demak. Apalagi kemudian meluas sampai ke Jipang.

“Tetapi pada suatu saat Ki Wiradana tentu akan menemukan satu jalan keluar yang barangkali memadai,” berkata ayah Warsi yang menyatakan dirinya sebagai seorang saudagar itu.

“Mudah-mudahan Ki Saudagar,” jawab Ki Wiraana. “Namun persoalan itu rasa-rasanya telah membuat hatiku menjadi pepat.”

“Sudah barang tentu. Namun karena Ki Wiradana sekarang sudah memangku jabatan Kepala Tanah Perdikan, maka seharusnya bahwa perhatian Ki Wiradana tidak boleh terampas hanya oleh satu persoalan saja,” berkata ayah Warsi itu. “Apalagi kita

sudah mempersiapkan sebuah jebakan dan aku sudah menyediakan diri menjadi umpannya. Mudah-mudahan jebakan itu akan berhasil.”

“Mudah-mudahan,” desis Ki Wiradana.

Namun sementara itu, ketika Ki Wiradana beberapa saat meninggalkan Warsi menemui Saudagar itu bersama orang yang mengaku sebagai ayahnya, maka ayah Warsi yang sebenarnya itu pun berkata, “Kakekmu akan bersedia datang.” “Syukur ayah,” jawab Warsi gembira. “Tetapi sampai saat ini kakek itu belum tampak. Bukankah kakek itu akan ayah persilakan datang mendahului ayah?” “Ternyata ia lebih suka datang kemudian setelah aku memberitahukannya kepadamu.

Mungkin ia memerlukan bantuanmu untuk mengatur orang-orang kita yang terlibat ke dalam permainan ini, agar kakekmu tidak salah sebut. Juga terhadap orang yang disebut sebagai ayahmu itu,” berkata ayah Warsi.

Warsi mengangguk-angguk. Desisnya, “Jadi kapan kakek akan datang?” “Mungkin besok atau lusa,” jawab ayah Warsi yang mengaku sebagai saudagar itu.

Namun kemudian katanya, “Tetapi di samping memenuhi undanganku, kakekmu juga mempunyai kepentingan tersendiri.”

“Kepentingan apa?” bertanya Warsi.

“Ia ternyata terlibat dalam kemelut antara Jipang dan Demak. Kakekmu adalah pengikut Arya Penangsang yang setia,” berkata ayah Warsi itu.

Warsi mengerutkan keningnya. Namun ketajaman penggraitanya telah menunjukkan kepadanya arah pembicaraannya dengan ayahnya itu. Bahkan hampir di luar sadarnya ia berkata, “Ayah, apakah kakek ingin melibatkan Sembojan dalam persoalan ini?” Ayahnya mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Biarlah kakekmu sendiri besok menjelaskannya.”

Warsi mengangguk-angguk. Desisnya, “Menarik sekali.

Nampaknya Pajang sudah tidak memperhatikan lagi keadaan Tanah Perdikan ini dengan mempersulit persoalan. Jika Pajang tidak mempersulit, apakah susahnya melakukan wisuda itu. Kami sendirilah yang mengadakan persiapan dan kemudian menyelenggarakan upacara. Semua biaya dan tenaga, kami sendirilah yang menanggungnya. Mereka, orang-orang Pajang itu tinggal datang dan mengucapkan beberapa kalimat pengukuhan saja. Tidak ada kesulitan meskipun Pajang sedang sibuk. Pengukuhan itu dapat berlangsung dalam waktu satu hari. Seandainya Adipati Pajang sendiri tidak dapat datang, maka ia dapat menugaskan salah seorang pemimpin pemerintahan, mungkin yang disebut Tumenggung Wirajaya itu untuk datang, asal ia membawa pertanda kuasa Adipati Pajang. Maka selesailah persoalannya.”

Ayah Warsi mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah, kau menunggu kakekmu. Hari ini atau besok aku masih menjadi umpan untuk memancing perampok itu.”

Hati-hatilah ayah. Meskipun kakang Wiradana sudah menyiapkan pengawal, tetapi mungkin terjadi sesuatu di luar perhitungan kita,” pesan Warsi. Untuk beberapa lama ayah Warsi yang dikenal oleh Wiradana sebagai saudagar itu masih berada di rumahnya. Namun beberapa lama kemudian ia pun minta diri untuk pergi ke penginapan.

Ki Wiradana yang kemudian menemuinya pula, telah mengantarkannya sampai ke regol halaman. Seperti Warsi ia berpesan, “Hati-hatilah Ki Saudagar. Mereka adalah

orang-orang yang licik dan tidak segan-segan mempergunakan segala cara untuk melakukan usahanya yang kotor itu.”

Ayah Warsi itu tersenyum. Katanya, “Aku tidak akan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya.”

Demikian orang itu meninggalkan rumahnya, maka lewat seorang pengawal Ki Wiradana telah memerintahkan mereka yang mendapat tugas khusus mengawasi penginapan yang terutama dipergunakan oleh saudagar itu untuk bersiaga.

“Satu atau dua orang harus mengawasi terus ke mana saudagar itu pergi. Siang apalagi malam. Karena perampok-perampk itu tidak memilih waktu,” berkata Ki Wiradana. Ternyata Ki Wiradana sendiri sudah mengalami di rampok di siang hari justru di jalan yang terhitung ramai.

Malam yang kemudian turun adalah malam yang tegang bagi Tanah Perdikan Sembojan, terutama di padukuhan induk. Beberapa pengawal tersembunyi, mengawasi penginapan yang dipergunakan oleh saudagar itu dengan seksama. Dua orang pengawal yang

tidak dalam sikap pengawal, berada di penginapan itu pula.

Namun ternyata malam yang tegang itu lewat tanpa terjadi sesuatu. Para pengawal yang berjaga-jaga semalam suntuk, mengumpat di dalam hati ketika mereka melihat langit menjadi terang.

“Gila,” geram salah seorang di antara mereka, “Perampok itu sama sekali tidak menampakkan ujung hidungnya.”

“Justru perampok yang cerdik,” jawab kawannya. “Ia tidak mau menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam kesulitan. Bahkan kemungkinan untuk tertangkap.” Pengawal yang pertama mengumpat. Tetapi kawannya yang lain segera menyahut. “Mungkin aku dapat menyebutnya dengan istilah lain agar kita merasa lebih berjasa daripada menyebutnya cerdik. Mereka agaknya ketakutan melihat kita mengawasi penginapan itu.”

“Persetan,” geram kawannya yang pertama membuka pembicaraan.

Para pengawal itu tidak saling berbicara lagi. Agaknya tugas mereka untuk malam itu telah berakhir. Beberapa orang pengawal yang lain akan mengambil alih tugas mereka di siang hari. Namun sebenarnyalah para pengawal itu menjadi kecewa bahwa mereka tidak mendapat kesempatan untuk menangkap perampok yang telah mengganggu

Tanah Perdikan mereka dan pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan itu.

Di hari yang baru itu, Warsilah yang dibebani oleh sebuah harapan akan kehadiran seorang tamu lagi. Kakeknya dari Gunung Kukusan sebagaimana dikatakan oleh pamannya. Kakeknya bukan saja akan dapat melindunginya yang sedang dalam keadaan mengandung itu, tetapi kakeknya juga membawa persoalan yang menyangkut hubungan antara Tanah Perdikan Sembojan dengan Jipang. Memang satu persoalan baru yang harus dipikirkannya. Tetapi Warsi agaknya sudah tidak tertarik lagi untuk tetap

berada dibawah kekuasaan Pajang yang dianggapnya mengabaikan kepentingan Tanah Perdikan Sembojan.

“Tetapi aku memang memerlukan penjelasan dari kakek,” berkata Warsi di dalam hatinya.

Ketika matahari naik sepenggalah, maka saudagar emas yang menginap di penginapan serta menyediakan diri untuk menjadi umpan itu telah berada di rumah Wiradana.

Dengan nada kesal ia berkata, “Semalam aku menunggu. Ternyata perampok licik itu tidak datang.”

“Aku pun hampir tidak tidur semalam,” sahut Ki Wiradana. “Aku selalu hilir mudik antara gardu di regol dan bilik pembaringan. Tetapi sampai hampir pagi aku tidak mendengar suara isyarat apapun juga.”

Saudagar itu mengangguk-angguk. Sementara itu pembicaraan mereka masih berkisar kepada usaha mereka menjebak perampok-perampok itu.

Namun dalam pada itu, seorang tamu telah da tang kerumah itu. Seorang yang rambutnya telah memutih dan wajahnya telah dipenuhi oleh garis-garis umur. Namun demikian tubuhnya masih nampak tegap kekar dalam ketuaannya.

“Kakek,” tiba-tiba saja Warsi berlari menghambur, lalu, “Silakan kakek.”

Orang tua itu mengangguk-angguk. Wajahnya nampak terang dan tatapan matanya bagaikan bersinar oleh nyala api kemauan yang membara di dalam dadanya.

“Ini rumahmu Warsi,” bertanya orang tua itu, “Bagus sekali.”

“Ya. Kakek. Marilah. Inilah kakang Wiradana, suamiku,” Warsi mempersilakan. Orang tua itu melangkah masuk. Wiradana pun kemudian menyambutnya dengan penuh

hormat, “Aku adalah Wiradana kakek.” “Kau adalah cucuku,” desis orang tua itu.

“Ini adalah kakekku kakang. Ayah dari ibuku,” Warsi memperkenalkan. “Marilah kakek, silakan,” Wiradana pun mempersilakan pula.

“Hari ini ayah juga berada disini kakek,” berkata Warsi.

“O, begitu. Kebetulan sekali. Sudah lama aku tidak bertemu dengan ayahmu,” jawab orang tua itu.

Sekilas orang tua itu memandang ayah Warsi yang mengaku sebagai saudagar itu. Tetapi ia sudah tahu, bahwa yang disebut ayah oleh Warsi itu justru orang lain.

Ketika Warsi datang bersama orang yang disebutnya ayahnya itu, kakeknya mengumpat di dalam hati.

“Orang seperti kadal ini diakunya sebagai ayahnya,” berkata kakek Warsi di dalam hatinya.

Namun ia pun menanggapi kehadirannya sebagai ia menanggapi kedatangan menantunya.

Pertemuan itu pun rasa-rasanya menjadi akrab. Bahkan saudagar itu pun telah terlibat pula dalam pembicaraan-pembicaraan yang berkepanjangan tentang diri mereka masing-masing.

Kedatangan orang yang mengaku sebagai kakek Warsi itu memberikan harapan baru bagi Ki Wiradana. Ia melihat pada wajah dan sorot matanya, bahwa orang itu memiliki kemampuan berpikir melampaui orang-orang Tanah Perdikan Sembojan sendiri. Dengan demikian ia berharap bahwa selain Ki Suadagar, ayah Warsi dan Warsi sendiri, ia akan mendapat kawan berbincang lebih banyak lagi.

Hari itu, kakek Warsi itu masih belum mengatakan sesuatu. Ia masih saja berbicara tentang keluarganya. Tentang kampung halaman dan tentang dongeng-dongeng yang lain yang menarik bagi Ki Wiradana.

Namun dalam pada itu, ketika senja mulai membayang di langit, Ki Wiradana dan Ki Saudagar telah mempersiapkan lagi satu jebakan sebagaimana malam sebelumnya. Mungkin perampok itu datang lagi setelah mereka tahu, bahwa saudagar emas permata itu berada lagi di Tanah Perdikan Sembojan dan bermalam di penginapan yang terdahulu.

Tetapi nampaknya kakek Warsi yang baru datang itu telah berusaha untuk menahan saudagar itu, agar malam itu ia tidur di rumah Ki Wiradana.

“Ada yang ingin aku katakan,” berkata orang yang mengaku sebagai kakek Warsi. “Kepada siapa?” bertanya saudagar itu, “Kepada Ki Wiradana dan istrinya atau kepadaku.”

“Kepada kalian semuanya,” berkata orang itu.

Dengan demikian maka Ki Saudagar itu pun untuk malam itu telah bermalam di rumah Wiradana. Orang yang mengaku kakek Warsi itu mempunyai persoalan yang akan dibicarakan dengan mereka. Namun ayah Warsi yang mengaku sebagai saudagar itu mengerti, apa yang akan dibicarakan oleh pertapa dari Gunung Kemukus itu.

Sebenarnyalah malam turun perlahan-lahan di atas Tanah Perdikan Sembojan. Orang tua yang diperkenalkan Warsi sebagai kakeknya yang bernama Ki Randukeling, telah memanggil orang-orang yang ingin diajaknya berbicara di ruang dalam termasuk Warsi sendiri.

Setelah orang-orang itu berkumpul, dan setelah mereka meneguk minuman panas, maka Ki Randukeling itu pun berkata, “Aku minta maaf, bahwa aku datang dengan membawa satu persoalan yang barangkali justru akan dapat mengganggu ketenangan Ki Wiradana.”

Ki Wiradana menjadi berdebar-debar. Namun serba sedikit Warsi sudah dapat menduga, bahwa yang akan dikatakan oleh Ki Randukeling adalah persoalan Tanah Perdikan Sembojan dalam hubungannya dengan Pajang dan Jipang.

Ki Wiradana yang sama sekali masih belum mengetahui apa yang akan dikatakannya telah mendengarkannya dengan sungguh-sungguh, sementara itu Ki Randukeling berkata selanjutnya, “Ki Wiradana, bukankah Ki Wiradana sudah mengetahui serba sedikit persoalan yang timbul antara Demak, Pajang dan Jipang yang barangkali juga akan menyangkut banyak pihak yang lain? Nah, agaknya aku perlu berbicara serba sedikit tentang hal itu sesuai dengan pengetahuanku. Jika ternyata aku

keliru, maka aku mohon dapat diluruskan.”

Ki Wiradana mengerutkan keningnya. Menilik sikap dan pembicaraannya, maka kakek Warsi itu benar-benar akan berarti baginya untuk membantunya memerintah Tanah Perdikan Sembojan yang terasa mulai bergejolak karena bermacam-macam sebab.

Dalam pada itu, Ki Randukeling melanjutkan, “Tetapi sebelumnya aku mohon Ki Wiradana dapat mempertimbangkan sebaik-baiknya. Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Aku tidak berkeberatan di dalam pertemuan ini hadir Ki Saudagar.

Mungkin Ki Saudagar yang menurut dugaanku sering melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang jauh akan dapat memberikan pertimbangan atas pendapatku.” Ki Wiradana menjadi semakin berdebar-debar. Dengan jantung yang terasa berdeguban semakin keras ia mendengarkan Ki Randukeling berkata selanjutnya. “Ki Wiradana. Aku sudah mendengar dari Warsi, apa yang terjadi atasmu dengan pengunduran saat-saat kau dikukuhkan karena Pajang sedang sibuk. Sebenarnya hal itu tidak perlu terjadi, karena persoalanmu tidak bersangkut paut dengan

persoalan yang terjadi di Demak. Adipati Pajang dapat saja melaksanakan

kewajibannya atas Demak dan sekaligus mengukuhkan kedudukanmu. Mungkin Adipati itu memang tidak dapat datang sendiri ke Tanah Perdikan ini. Tetapi ia dapat memerintahkan orang lain untuk melakukannya.”

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Jawabnya, “Ya kakek. Ternyata sikap orang-orang Pajang tidak menguntungkan bagiku.”

“Itu adalah ciri orang-orang Pajang,” berkata Ki Randukeling selanjutnya.

Ki Wiradana mengerutkan keningnya. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Ciri yang bagaimana kakek?”

“Orang-orang Pajang memang orang-orang yang bekerja sangat lamban. Bahkan lebih buruk dari itu, orang-orang Pajang termasuk Adipati Hadiwijaya, selalu

menunda-nunda pekerjaan yang sebenarnya dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Bahkan kadang-kadang ada-ada saja alasan yang sebenarnya tidak masuk akal untuk memperlambat pekerjaan mereka. Bukan sekadar karena orang-orang Pajang adalah orang-orang yang malas, tetapi ada perasaan dengki terhadap keberhasilan seseorang. Mereka lebih senang melihat Ki Wiradana dalam keadaan

terkatung-katung daripada Ki Wiradana dengan mantap menjadi seorang Kepala Tanah Perdikan,” berkata Ki Randukeling.

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, “Pantas. Ada saja alasan Ki Tumenggung Wirajaya. Nampaknya Ki Tumenggung adalah seorang yang ramah, dan dengan ikhlas ingin membantu mempermudah penyelesaian persoalan pengukuhan ini. Tetapi agaknya

benar juga pendapat kakek. Semua orang Pajang memang bekerja dengan lamban, berpura-pura dan tidak jujur.”

“Tepat,” jawab Ki Randukeling, “Coba, ingat-ingat apa saja yang pernah dilakukan oleh Ki Tumenggung itu.”

“Ia nampaknya baik sekali terhadapku kakek. Tetapi ia telah mempersulit pengukuhan ini dengan alasan yang agaknya memang dibuat-buat. Ia memaksa untuk menemukan sebuah bandul dan rantainya yang sampai saat ini hilang sepeninggalan ayah. Menurut keterangan Ki Tumenggung, bandul emas yang bertatahkan gambar kepala seekor burung elang itu merupakan syarat bagi wisudaku sebagai Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Karena itu, Ki Tumenggung minta aku mencarinya sambil menunggu kesempatan setelah persoalan Kanjeng Adipati Pajang dapat diselesaikan,” jawab Ki Wiradana.

“Nah, bukankah sudah nyata,” berkata Ki Randukeling, “Sebenarnya syarat itu tidak perlu sama sekali. Siapakah yang meragukan bahwa Ki Wiradana adalah anak Ki Gede Sembojan yang terbunuh itu? Jika orang-orang Pajang tidak ingin

mempersulit keadaan, maka pengukuhan itu dapat saja dilakukan tanpa pertanda itu dan tidak usah menunggu persoalan dengan Demak selesai.”

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Ia sependapat dengan Ki Randukeling. Karena itu, ia menjadi semakin kecewa terhadap sikap orang-orang Pajang. Bahkan Adipati Pajang sendiri. Karena ia pun telah langsung menghadapnya, namun ia tidak

berhasil mendapatkan ketetapan waktu sebelum anaknya lahir.

Namun demikian, apakah yang dapat diperbuatnya, karena Tanah Perdikan Sembojan termasuk daerah kekuasaan Adipati Pajang. Segala keputusan hanya dapat diberikan oleh Pajang bagaimana pun bunyinya.

Dalam pada itu, ayah Warsi yang menyebut dirinya sebagai saudagar emas permata itu pun berkata, “Ki Randukeling. Aku adalah seorang pedagang keliling yang pernah mendatangi berbagai kota, termasuk Jipang, Pajang dan Demak.

Sebenarnyalah pemerintahan di Pajang adalah pemerintahan yang paling buruk dibandingkan dengan Kadipaten lain. Terutama Jipang. Jipang memiliki seorang Adipati yang terampil terengginas. Cepat bertindak dan tidak terlalu memikirkan persoalan-persoalan kecil yang tidak berarti. Seandainya persoalan Ki Wiradana ini terjadi di Jipang, maka aku kira segala sesuatunya tentu sudah mendapat penyelesaian sewajarnya.”

“Ya,” sahut Ki Randukeling, “Agaknya tidak ada persoalan apapun juga yang dapat timbul hanya karena bandul dan karena kesibukan. Sebenarnya Adipati Pajang tidak usah menyibukkan diri untuk mengurusi Demak, karena sudah ada orang-orang tertentu, para pemimpin Demak, orang-orang tua serta para pemimpin agama yang memikirkan, bagaimana selanjutnya pemerintah di Demak sepeninggalan Kanjeng Sultan Trenggana.”

Ki Wiradana mengerutkan keningnya. Sementara itu Warsi pun bertanya, “Tetapi apakah kita boleh memilih kakek? Misalnya, kita ingin menempatkan Tanah Perdikan ini dibawah kuasa Jipang bukan Pajang.”

Ki Randukeling menarik nafas dalam-dalam. Pertanyaan Warsi benar-benar telah mengarah. Ternyata bahwa Warsi memang seorang yang memiliki ketajaman berpikir, sehingga ia dapat langsung membimbing pembicaraan itu ke sasaran tanpa disadari oleh Ki Wiradana.

Dipandanginya Warsi sejenak. Kemudian katanya kepada Ki Wiradana, “Sudah tentu kita tidak dapat memilih. Bukan kitalah yang menentukan, Tanah Perdikan ini berada dibawah kekuasaan siapa. Tetapi memang sudah ada ketentuan sebelumnya yang disetujui bersama antara para Adipati, bahwa satu lingkungan dinyatakan berada di wilayah Kadipaten tertentu. Karena itu, kita harus tunduk kepada satu ketentuan pembagian wilayah itu. Dan Pajang ternyata merupakan Kadipaten yang berhak memerintah Tanah Perdikan ini.”

“Tetapi ternyata Pajang tidak dapat berbuat sebaik-baiknya bagi kepentingan Tanah Perdikan ini kakek,” berkata Warsi pula.

Ki Randukeling termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Pertanyaanmu membuat aku berdebar-debar. Aku memang mempunyai persoalan yang dapat kita bicarakan malam ini dengan sungguh-sungguh. Langsung menyangkut hubungan antara Tanah Perdikan ini dengan Pajang.”

“Maksud kakek?” Warsi pulalah yang bertanya.

Ki Randukeling termenung sesaat. Ada semacam keragu-raguan membayang di wajahnya. Namun kemudian katanya, “Baiklah, aku tidak akan terlalu banyak memberikan alasan. Tetapi aku berharap bahwa kalian dapat memikirkan persoalan ini dengan sungguh-sungguh. Sebagaimana aku katakan, aku tidak akan memaksa satu keputusan. Tetapi hendaknya masalah ini dipikirkan baik-baik,” Ki Randukeling berhenti sejenak, sementara Ki Wiradana menjadi berdebar-debar.

Lalu katanya lebih lanjut, “Ki Wiradana. Nampaknya Pajang memang tidak begitu menghiraukan Tanah Perdikan yang tidak terlalu dekat dengan pusat pemerintahan Kadipaten Pajang, sehingga Adipati Pajang menganggap bahwa Tanah Perdikan ini sama sekali tidak penting, atau barangkali Adipati Pajang memang tidak ingin melihat ketidakpastian terjadi di atas Tanah Perdikan ini. Karena itu, sebagai

satu lingkungan yang hidup dan memiliki pertimbangan-pertimbangan tertentu, maka kita tidak akan dapat menentukan sikap terhadap Pajang. Pada saat Pajang berada

di dalam ketidakpastian. Karena Pajang adalah sebuah Kadipaten yang berada dibawah kekuasaan Demak, maka dalam kekalutan ini, diharapkan akan dapat terjadi pergeseran kekuatan dan kekuasaan dari keturunan Trenggana kembali ke keturunan Sekar Seda Lepen.” Wiradana mengerutkan keningnya. Keterangan Ki Randukeling telah membuatnya menjadi berdebar-debar. Sementara itu Ki Randukeling berkata selanjutnya, “Ki Wiradana. Jika Pajang memang tidak lagi menganggap Tanah Perdikan ini penting untuk digarap dan dibimbing menuju ke satu keadaan yang mantap, maka buat apa Tanah Perdikan ini masih tetap bersandar kepada Pajang. Kenapa kita tidak beralih kiblat dengan menempatkan diri kita dibawah kekuasaan Jipang. Jipang letaknya memang tidak jauh, tetapi jika yang lebih jauh itu mampu memberikan tempat yang lebih baik bagi Tanah Perdikan ini, apa salahnya?”

Ki Wiradana menjadi tegang. Pada saat-saat ia mengikuti pembicaraan Ki Randukeling, ia memang sudah menduga, bahwa pembicaraan itu akan sampai kesana.

Namun demikian, agaknya tawaran ini memang sangat menarik. Rasa-rasanya ia sudah tidak berpengharapan lagi untuk dapat dikukuhkan apalagi dalam waktu singkat karena beberapa alasan. Salah satu alasan adalah pertanda kuasa Tanah Perdikan Sembojan yang hilang itu.

“Memang mungkin hanya merupakan satu alasan saja,” berkata Ki Wiradana di dalam hatinya. “Tetapi sebenarnya Pajang atau justru Adipati Pajang ingin Tanah

Perdikan ini hapus dan menjadi daerah Pajang sebagaimana Kademangan-kademangan yang tidak mempunyai wewenang menentukan lingkungannya sendiri selain patuh dan tunduk segala perintah dan paugeran dari Pajang, terutama menyangkut pajak.” Namun dalam pada itu, Ki Wiradana tidak segera menjawab. Ada kebimbangan di dalam hatinya untuk menentukan pilihan, sehingga karena itu, maka untuk beberapa saat ia justru terdiam.

Karena Ki Wiradana justru termangu-mangu, maka Ki Randukeling itu pun berkata, “Kau tidak perlu gelisah dan memaksa diri untuk mengambil keputusan cucuku.

Berpikirlah. Karena kau mempunyai seorang istri, maka bicarakanlah persoalanmu dengan istrimu.”

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah kakek. Aku akan mencoba merenungkan. Mungkin dalam waktu singkat kami, maksudku aku dan istriku sudah akan dapat mengambil keputusan.”

“Pertimbangkan keputusanmu baik-baik, karena persoalannya menyangkut bukan saja kau berdua, tetapi seisi Tanah Perdikan ini,” berkata kakek itu pula. Lalu,

“Selebihnya Jipang letaknya lebih jauh dari Pajang. Karena itu dalam beberapa hal, Tanah Perdikan ini akan mendapat lebih banyak kebebasan. Jipang tidak akan

sempat membuat perhitungan sampai yang sekecil-kecilnya mengenai perkembangan Tanah Perdikan ini, juga dalam hal perhitungan pajak. Apalagi sampai saat ini adalah sebuah Kadipaten yang kaya raya, sehingga hal-hal seperti itu tidak akan banyak mendapat perhatian.

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Tetapi ia memang tidak ingin mengambil keputusan. Ia akan membuat pertimbangan-pertimbangan sesuai dengan keterangan-keterangan yang didengarnya dari kakek Warsi dan dari Ki Saudagar.

Dalam pada itu, ketika malam menjadi larut, maka orang-orang yang berbincang itu pun merasa telah cukup. Mereka pun kemudian dipersilakan beristirahat di

bilik-bilik yang sudah disediakan. Saudagar emas itu pun bermalam pula di rumah Ki Wi radana sebagaimana pernah dilakukannya sebelumnya.

Namun, ketika malam menjadi sepi, dan para tamu Ki Wiradana sudah berada dibalik bilik masing-masing, maka Ki Wiradana masih duduk di ruang dalam bersama istrinya.

“Warsi,” berkata Ki Wiradana kemudian, “Kita sudah mendengar keterangan kakek tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat kita lakukan. Bagaimana menurut pendapatmu?”

“Segalanya terserah saja kepada kakang,” berkata Warsi sambil menunduk, “Mana yang baik bagi kakang, aku merasa akan baik juga bagiku.”

“Tetapi persoalan ini adalah persoalan yang gawat Warsi. Bukan saja menyangkut aku dan kau. Tetapi menyangkut Tanah Perdikan ini. Jika aku mengambil keputusan untuk menghindari kekuasaan Pajang dan menyatukan diri dengan Jipang, maka ada

beberapa kemungkinan dapat terjadi. Mungkin Pajang akan datang untuk menghukum Tanah Perdikan ini. Menangkap aku dan bahkan mungkin keluargaku. Kemudian merampas Tanah Perdikan ini untuk selama-lamanya,” berkata Wiradana dengan sungguh-sungguh. “Tetapi jika kita tidak bergabung dengan Jipang seperti yang dikatakan oleh kakekmu itu, nasib Tanah Perdikan ini agaknya lambat laun juga

akan sama saja. Tetapi sudah barang tentu tidak akan terjadi kekerasan sebagaimana jika kita dengan serta merta memisahkan diri dari Pajang. Sebab dengan demikian kita akan dapat disebut sebagai pemberontak.”

Warsi menarik nafas dalam-dalam. Ia sendiri berada dalam kebimbangan. Selama ini ia adalah istri yang penurut, yang tidak banyak memberikan pendapat selain menurut saja, meskipun dengan cara lain, cara yang sangat lembut selalu memberikan tekanan yang tidak terlawan oleh Wiradana.

“Apakah aku dapat memberikan pendapatku dengan cara yang selama ini aku pergunakan? pertanyaan itu mulai bergetar di hatinya.

Namun Warsi masih akan mencobanya. Jika ia mengalami kesulitan dalam persoalan yang penting dan gawat ini, maka terpaksa ia akan mempergunakan cara lain. Ia sendiri sudah memutuskan, bahwa Wiradana memang harus menempatkan diri dibawah

kuasa Jipang.

Sementara itu karena Warsi tidak segera menjawab, maka Ki Wiradana pun telah mendesaknya, “Aku memerlukan pendapatmu Warsi.”

Warsi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku hanya seorang istri kakang. Segala sesuatunya memang terserah kepadamu. Apa yang baik bagimu, tentu akan baik juga bagiku. Karena itu, barangkali kakang dapat berbicara sekali lagi

dengan kakek. Kakang dapat minta pendapatnya. Apa yang sebaiknya kita lakukan di Tanah Perdikan ini. Namun sebenarnyalah aku kasihan melihat keadaanmu kaang. Meskipun aku kurang mengerti, tetapi rasa-rasanya orang-orang Pajang itu telah menganggap bahwa mereka dapat berbuat sesuka hatinya terhadapmu. Sebagai seorang istri aku hanya dapat merasakan sebagaimana kau rasakan. Sementara ini aku pun mengerti, bahwa kau tidak lagi menghormati Pajang sebagaimana sebelumnya. Namun segalanya terserah, manakah yang baik bagi kakang.”

Ki Wiradana mengerutkan keningnya. Seperti setiap kali terjadi, kata-kata istrinya yang dikatakannya tidak dalam nada pertimbangan selain sekadar pasrah

itu memberinya dorongan untuk mengambil keputusan. Namun demikian ia sependapat, bahwa sebaiknya ia berbicara sekali lagi dengan kakek Warsi. Tetapi rasa-rasanya

Ki Wiradana itu sudah mengerti bahwa Warsi sendiri agaknya tidak lagi menginginkannya untuk tetap berkiblat kepada Pajang, tetapi Warsi tidak berani mengatakannya dengan terus terang.

Tetapi Ki Wiradana tidak ingin mengganggu kakeknya yang sedang beristirahat. Karena itu maka segalanya yang menyumbat dadanya ditahankan sampai keesokan harinya.

Demikianlah, ketika Ki Wiradana dan tamu-tamunya duduk di sebuah amben besar di pagi harinya, menghadapi mangkuk-mangkuk minuman panas, rasa-rasanya ia tidak sabar lagi menunggu. Karena itu, maka Ki Wiradanalah yang kemudian membuka pembicaraan tentang kemungkinan untuk melepaskan diri dari Pajang dan bergabung dengan Jipang.

“Tetapi bagaimana jika Pajang itu datang dengan pasukan segelar sepapan?” bertanya Ki Wiradana.

Kakek Warsi itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Semuanya akan dapat diperhitungkan sebaik-baiknya. Sudah barang tentu cucu tidak akan dengan serta merta mengumumkan, bahwa Tanah Perdikan Sembojan tidak lagi berada dibawah kuasa

Adipati Pajang. Kita akan melakukannya dengan diam-diam seolah-olah tidak terjadi sesuatu. Namun sementara itu, kita membuat hubungan dengan Jipang. Baru setelah Jipang menyatakan siap melindungi Tanah Perdikan ini, maka baru kita akan menyatakannya secara terbuka. Sementara itu, antara Jipang dan Pajang sudah tidak ada lagi pengikatnya yang akan dapat mengambil keputusan. Pada saat Demak masih berdiri, maka persoalan yang timbul antara dua Kadipaten, akan dicari penyelesaiannya di Demak. Tetapi kini tidak ada lagi kekuasaan Demak itu.

Sedangkan siapakah yang akan menggantikannya, masih dalam persoalan. Bahkan mungkin kekuasaan Demak akan beralih ke Jipang karena Arya Penangsang memang berhak atas kekuasaan itu,” Kakek Warsi pun berhenti sejenak, sementara itu ayah Warsi yang mengaku sebagai saudagar itu pun berkata, “Aku mengerti. Jika aku diijinkan memberikan pendapatku, aku setuju dengan keterangan Ki Randukeling.

Tidak ada yang dapat diharapkan lagi dari Pajang. Apalagi ketika pada saat

terakhir aku sempat melihat Jipang meskipun hanya dalam waktu dua hari. Ternyata kekuatan Jipang jauh melampaui kekuatan Pajang. Jika terjadi sesuatu, maksudku jika terjadi pertentangan sehingga mengakibatkan perang maka tidak ada kekuatan yang akan dapat mengimbangi Jipang. Kecuali itu, Arya Penangsang adalah seseorang yang tidak ada duanya di Demak. Apalagi dibandingkan dengan Adipati Hadiwijaya dari Pajang. Karena itu, menurut pendapatku, jalan seperti yang dikatakan oleh Ki Randukeling itu akan dapat ditempuh oleh Tanah Perdikan ini, sementara itu, latihan-latihan bagi para pengawal Tanah Perdikan dapat ditingkatkan.”

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Hampir di luar sadarnya ia memandang laki-laki yang disebut ayah oleh Warsi, sehingga orang itu pun kemudian berdesis, “Agaknya memang tidak ada pilihan lain yang lebih baik.”

Pendapat orang-orang itu benar-benar telah menjeratnya. Namun demikian ia masih juga bertanya kepada Warsi, “Bagaimana pendapatmu Warsi. Kau lihat, orang-orang yang aku anggap mempunyai pengetahuan dan pengalaman ini berpendapat, bahwa sebaiknya kita meninggalkan Pajang dan berpihak kepada Jipang.” Warsi menundukkan kepalanya. Namun katanya, “Aku tidak dapat memberikan pertimbangan apapun kakang, karena aku memang tidak mengerti. Tetapi disini ada kakek dan ada ayah. Sementara itu Ki Saudagar itu pun memiliki pengetahuan dan pengalaman yang luas tentang Kadipaten-kadipaten yang berada di luar Pajang.

Mereka telah memberikan pertimbangan mereka, sehingga segala sesuatunya

kakanglah yang dapat memutuskannya. Bagiku, mana yang menguntungkan bagi kakang dan Tanah Perdikan ini adalah yang paling baik. Jika menurut kakang Jipang memberikan lebih banyak kemungkinan bagi kebaikan Tanah Perdikan ini, maka aku pun hanya mengikut saja.”

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Meskipun Warsi tidak menentukan, tetapi Ki Wiradana menjadi semakin mantap. Karena itu maka katanya, “Kakek. Jika pertimbangan kakek dan ayah demikian, diperkuat oleh keterangan Ki Saudagar, maka aku pun tidak mempunyai pilihan lain. Tetapi dengan keterangan, bahwa perpindahan kiblat itu tidak akan menimbulkan kesulitan bagi Tanah Perdikan ini jika Pajang menggunakan kekerasan.”

“Aku akan membantu cucu,” berkata Ki Randukeling. “Aku mempunyai hubungan dengan

orang-orang Jipang. Aku akan minta kepada mereka untuk melindungi Tanah Perdikan ini. Sementara itu para pengawal Tanah Perdikan ini sendiri harus mendapat

latihan-latihan yang sungguh-sungguh. Pada saatnya Pajang tidak akan berani mengirimkan pasukannya keluar, jika mereka merasa terancam oleh pasukan Jipang.”

“Tetapi Jipang letaknya cukup jauh kakek,” berkata Wiradana.

“Tetapi Jipang dapat mengirimkan pasukannya segelar sepapan mendekati Pajang. Maka Pajang akan selalu merasa terancam bahaya,” berkata kakeknya.

Wiradana mengangguk-angguk. Agaknya kakeknya tidak asal saja mengutarakan pendapatnya. Tetapi ia pun mempunyai pertimbangan-pertimbangan berdasarkan nalar. Sementara itu kakeknya berkata, “Jipang harus menempatkan pasukannya disebelah Barat Pajang agar perhatian mereka selalu tertuju ke Barat. Tidak ke Timur.”

Dengan demikian, pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu telah mengambil satu keputusan. Namun keputusan itu akan tetap merupakan rahasia sampai saatnya Tanah Perdikan Sembojan mampu menghadapi kemungkinan Pajang mempergunakan kekerasan, dengan bantuan Jipang. Baru kemudian Tanah Perdikan Sembojan akan menengadah wajahnya sambil berkata, “Pajang aku tidak memerlukan pengukuhanmu. Aku dapat berdiri tanpa Pajang.”

Dalam pada itu, kakek Warsi itu pun kemudian berkata, “Jika kau sudah bulat Wiradana, maka biarlah aku segera mulai dengan langkah-langkah berikutnya. Tetapi aku berpesan kepada semuanya yang mendengar keputusan ini untuk tetap merahasiakannya. Kau juga Warsi. Kau tidak boleh lupa membicarakannya jika kau sedang berkumpul dengan perempuan-perempuan lain. Tidak seorang pun boleh mengetahuinya.”

“Baik kakek,” jawab Warsi. “Aku akan selalu mengingatkannya.” “Sementara ini segalanya dapat berjalan sebagaimana biasanya. Tidak ada

perubahan-perubahan yang boleh nampak,” berkata Ki Randukeling selanjutnya. “Ya,” berkata Saudagar, “Aku pun akan melanjutkan usahaku menjebak perampok itu.”

“Tetapi bagaimana jika mereka justru orang-orang Jipang?” bertanya Wiradana. “Tidak apa-apa. Mereka harus ditangkap. Seperti aku katakan, sikap kalian tidak boleh berubah dengan serta merta,” sahut Ki Randukeling.

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Namun ia berharap bahwa keadaan Tanah Perdikan Sembojan akan mnejadi lebih baik. Menurut ingatannya, sejak ayahnya menjadi Kepala Tanah Perdikan di Sembojan, Pajang memang tidak pernah memberikan bimbingan apapun juga. Diserahkannya segala sesuatunya kepada ayahnya untuk mengerjakan. Namun pada saat-saat tertentu, Pajang menghendaki Tanah Perdikan Sembojan membayar pajak berwujud apa saja yang dapat diserahkan. Bukan saja

hasil bumi dan ternak. Tetapi juga uang. Sehingga dengan demikian, maka menurut penglihatan Ki Wiradana kemudian setelah ia mendapat keterangan dari kakek Warsi, Pajang hanya dapat memeras tanpa dapat memberikan apa-apa.

Ternyata keputusan Ki Wiradana itu ditanggapi dengan sungguh-sungguh oleh Ki Randukeling. Sebagai pengikut Arya Penangsang yang setia, maka ia tidak mau kehilangan kesempatan itu. Laporan tentang sikap Ki Wiradana itu harus segera sampai kepada para pimpinan di Jipang, terutama Patih Mantahun.

Namun sebelum kakek Warsi itu berada di Tanah Perdikan Sembojan, ia memang sudah berhubungan dengan petugas sandi dari Jipang. Orang itu harus berada pula di Sembojan dan pada suatu saat harus menemuinya.

Sebenarnyalah ketika Ki Randukeling itu pada satu pagi yang cerah berjalan-jalan di jalan bulak di antara tanaman padi yang subur, seseorang telah berjalan pula searah di belakangnya. Namun orang itu berjalan lebih cepat, sehingga semakin lama jarak di antara keduanya semakin dekat.

Ketika orang itu kemudian berada tiga langkah dibelakang Ki Randukeling, maka orang itu bergumam, “Apakah aku berbicara dengan Ki Randukeling?”

Ki Randukeling berpaling. Dilihatnya seorang laki-laki muda berwajah cerah. Laki-laki yang bertubuh tegap kekar, namun sama sekali tidak menunjukkan sifat dan tingkah laku yang garang.

Ki Randukeling menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau Rangga Gupita?”

Laki-laki muda itu tersenyum. Katanya, “Aku mengikuti Ki Randukeling dari ujung bulak ini.”

“Sejak kapan kau berada di Tanah Perdikan ini?” bertanya Ki Randukeling. “Sesuai dengan pesan Ki Randukeling,” jawab laki-laki yang disebut Rangga Gupita.

“Baiklah. Aku memang memerlukan kau segera,” berkata Ki Randukeling. “Kau akan bersamaku ke rumah Ki Wiradana. Dan aku akan menyebutmu sebagai cantrikku yang menyusul aku, karena seisi padepokanku di Gunung Kukusan sudah menungguku.” “Terserah saja kepada Ki Randukeling,” jawab Rangga Gupita.

“Untuk selanjutnya aku hanya akan menyebut namamu saja. Tidak dengan gelarmu,” berkata Ki Randukeling.

“Mana yang baik bagi kita di daerah yang masih belum aku kenal betul ini,” jawab Rangga Gupita.

“Baiklah,” jawab Ki Randukeling. Lalu katanya, “Sebenarnyalah usahaku ternyata

telah berhasil. Aku dapat membujuk Ki Wiradana untuk menempatkan dirinya dibawah pengaruh Jipang. Tanah Perdikan ini letaknya memang agak jauh dari Pajang.

Tetapi arahnya akan memberikan kemungkinan yang baik. Sementara itu, Jipang juga akan menempatkan pasukannya di sebelah barat Jipang.”