-->

Suramnya Bayang-Bayang Jilid 14

Jilid 14

Wiradana merasa gembira sekali, bahwa ia akan mendapat keturunan. Sekilas ia teringat kepada Iswari yang telah disingkirkannya pada saat ia sedang mengandung.

Justru pada saat Warsi mulai mengandung, Wiradana telah merenungi kembali apa yang sudah terjadi itu. Pada saat ia membunuh Iswari dengan tangan orang lain berarti bahwa ia telah membunuh keturunannya sendiri.

“Kenapa aku sekarang merasa sangat gembira, bahwa aku akan mendapat keturunan?” pertanyaan itu tiba-tiba saja telah menggelitik hati Wiradana.

Tetapi ia tidak memperlihatkan kegelisahan itu kepada istrinya. Yang dilihat oleh Warsi adalah kegembiraan yang membayang di wajah Wiradana. “Mudah-mudahan anakmu laki-laki,” berkata Wiradana.

“Kenapa laki-laki?” bertanya Warsi.

“Ia akan menjadi penggantiku,” jawab Wiradana.

“Apakah jika ia perempuan menurut ketentuan Tanah Perdikan ini, ia tidak berhak mewarisi kedudukan ayahnya?” bertanya Warsi.

“Jika anak itu perempuan, maka yang akan memerintah Tanah Perdikan ini kelak adalah suaminya, meskipun atas namanya. Tetapi bagiku agak berbeda. Tentu akan lebih mantap bagi kita, bahwa yang memegang kendali pemerintahan itu adalah anak kita sendiri. Bukan menantu kita.”

Warsi tersenyum. Tetapi ia dapat mengerti sikap Wiradana. Karena itu maka katanya, “Bagiku apakah ia laki-laki atau perempuan akan sama saja. Jika ia perempuan maka tugas kita memang akan bertambah berat. Namun jika kita tepat memilih menantu, maka pemerintahan di Tanah Perdikan ini akan berjalan dengan baik.”

Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, “Agaknya memang begitu. Kita memang tidak boleh menganggap apakah ia laki-laki atau perempuan sebagai satu hal yang

berbeda. Kesemuanya itu adalah anak kita. Apapun yang akan lahir, adalah karunia dari Yang Maha Agung.”

“Ya. Kita wajib menerima dengan hati yang lapang,” jawab Warsi.

Wiradana mengangguk-angguk. Namun dari dasar hatinya yang paling dalam telah terungkat pertanyaan, “Kenapa kau binasakan karunia yang akan kau terima lewat istrimu yang bernama Iswari?”

Rasa-rasanya jantung Wiradana tersentuh ujung duri. Tetapi dengan cepat ia berhasil menyingkirkan perasaan itu. Bahkan kemudian ia berkata kepada diri sendiri, “Semua kenangan atas Iswari harus dilenyapkan. Juga penari yang mirip dengan Iswari itu, pada satu kesempatan harus dibinasakan.”

Sebenarnyalah karena sikap perempuan yang disebut Serigala Betina itu. Wiradana memang menjadi ragu-ragu, bahwa Iswari benar-benar telah terbunuh. Karena itu, maka ia pun dengan keras dan bersungguh-sungguh telah berusaha untuk menyusun kekuatan. Semakin lama semakin kuat. Apalagi ketika dua orang saudagar emas pertama telah dirampok di tlatah Tanah Perdikan Sembojan. Maka ia merasa bahwa kekuatan akan dapat mendukungnya mempertahankan kedudukannya.

“Jika benar Iswari belum mati dan pada suatu saat ia datang kembali, maka ia

tidak mempunyai wewenang apa-apa atas Tanah Perdikan ini,” berkata Wiradana di dalam hatinya. “Ia pun tidak dapat menuntut bahwa aku telah mencoba membunuhnya. Aku dapat mengatakan bahwa itu merupakan fitnah yang paling besar. Iswari melarikan diri, mungkin dengan seorang laki-laki, namun kemudian ia membuat ceritera yang ingin menjerumuskan aku, pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan

ini ke dalam kesulitan.”

Meskipun demikian Ki Wiradana selalu dibayangi oleh kemungkinan kehadiran kembali Iswari. Bahkan ia pun mulai ragu, apakah Iswari dengan sengaja telah mengganggunya dengan menjadikan dirinya penari jalanan sebagaimana pernah dilakukan Warsi. Apalagi jika ternyata Iswari melahirkan dengan selamat, sehingga ada seorang anak yang lain kecuali anak Warsi yang merasa berhak pula atas Tanah Perdikan Sembojan.

Karena itulah, maka untuk mengatasi kegelisahan itu sementara Wiradana harus menyusun kekuatan. Kemudian pada waktunya ia dapat memerintahkan satu dua orang terpilih untuk menyelidiki, apakah Iswari memang masih hidup.

“Satu-satunya tempat tinggal baginya adalah padepokan Kiai Badra,” berkata di dalam hatinya.

Sementara itu, ayah Warsi yang mengaku sebagai saudagar emas dan permata itu sudah berangsur sembuh. Demikian pula Dampa. Keduanya telah dapat melakukan pekerjaan bagi kepentingan mereka masing-masing. Mereka hanya memerlukan waktu untuk memulihkan kekuatan mereka seperti sediakala.

Namun dalam pada itu, ayah Warsi yang merasa terhina oleh tingkah laku kedua perampok itu telah menyatakan diri untuk membantu Tanah Perdikan Sembojan. “Rasa-rasanya aku telah mendendam kepada para perampok itu,” berkata ayah Warsi yang mengaku sebagai saudagar itu. “Karena itu, maka aku dengan suka rela akan membantu mengamankan Tanah Perdikan ini. Mungkin aku akan lebih banyak berada di

Tanah Perdikan ini dalam perjalanan dagangku. Sekali-kali aku memang pergi ke tempat yang jauh. Mungkin ke Pajang, Jipang bahkan ke Demak. Tetapi dalam waktu-waktu luang dari perjalanan itu, aku akan berada disini.” “Terima kasih,” berkata Ki Wiradana. “Niat Ki Sanak itu akan sangat menguntungkan Tanah Perdikan ini.”

“Kita akan saling menguntungkan,” berkata saudagar itu. Lalu tiba-tiba saja ia berkata, “Bahkan aku ingin membeli sebidang tanah di Tanah Perdikan ini.

Rasa-rasanya aku akan kerasan tinggal disini. Di hari tuaku, aku akan menetap di daerah yang paling sesuai dengan keinginanku. Di Tanah Perdikan ini terdapat bukit, hutan yang masih lebat yang akan dapat menjadi sasaran berburu yang menyenangkan, danau yang meskipun tidak begitu luas tetapi mengasyikkan sampai menjangkau pantai disisi Selatan negeri ini.”

Ki Wiradana mengerutkan keningnya. Katanya, “Jika Ki Sanak menghendaki sebidang tanah disini, maka aku akan menyediakannya. Ki Sanak tidak usah membelinya.”

“Ah, bukan begitu Ki Wiradana,” berkata ayah Warsi. “Rasa-rasanya kurang mapan bagiku. Karena itu biarlah aku menempuh cara yang sewajarnya. Aku akan membeli sebidang tanah disini. Dengan demikian aku akan menjadi penghuni Tanah Perdikan ini dan aku akan merasa ikut berkewajiban untuk menjaga keamanan di daerah ini.”

“Baiklah,” jawab Ki Wiradana. “Aku tidak ingin memaksa. Jika Ki Sanak ingin menempuh cara yang wajar, maka biarlah orang-orangku mencarikan sebidang tanah yang akan dapat Ki Sanak beli dengan harga yang wajar. Ki Sanak akan dapat membangun rumah dan kemudian menjadi warga Tanah Perdikan ini.”

"Ya Ki Wiradana. Jika mungkin aku ingin membeli tanah di padukuhan induk ini, agar aku tinggal dekat dengan ki Wiradana. Selebihnya, aku akan dapat membantu para pengawal di padukuhan induk ini."

"Jangan cemas," jawab Wiradana. "Orang-orangku tentu akan mendapatkannya. Sebidang tanah yang cukup untuk membangun sebuah tempat tinggal yang sedang. Bukankah begitu?"

"Ya, ya Ki Wiradana. Untuk membangun sebuah rumah yang sedang," jawab saudagar itu.

Pembicaraan yang didengar oleh Warsi itu benar-benar membesarkan hatinya. Jika ayahnya tinggal dekat dengan rumahnya, maka ia akan merasa lebih tenang. Ia akan dapat meminta orang yang diakunya sebagai ayahnya untuk berada di Tanah Perdikan itu pula, sehingga pada suatu saat, jika waktunya tiba, maka Wiradana akan

terkejut dan ia akan kehilangan kesempatan untuk mengelakkan sebuah kekuasaan yang selalu membayanginya. Namun agaknya hal itu masih akan menunggu sampai anak di dalam kandungannya itu dilahirkan.

Sementara itu, maka yang dilakukan oleh Wiradana adalah mengukuhkan kedudukannya. Ia telah menempa pengawal-pengawalnya dan memberikan kedudukan yang lebih baik dari orang-orang lain, sehingga dengan demikian ia mengharapkan bahwa pengawal-pengawalnya akan merupakan pengawal yang setia kepadanya.

Namun sementara itu, Warsi yang sedang mengandung itu tiba-tiba seakan-akan diluar kehendaknya sendiri telah bertanya kepada suaminya, "Kakang kapankah kira-kira kakang akan diwisuda?"

Pertanyaan itu membuat jantung Wiradana berdegup. Sebenarnya ia sendiri juga menginginkan, agar ia secepatnya diwisuda menjadi Kepala Tanah Perdikan. Bukan sekadar pemangku jabatan seperti kedudukannya saat itu. Ia merasa sudah terlalu lama menunggu. Namun ternyata masih belum ada berita apapun dari Pajang, meskipun semua laporan tentang keadaan Tanah Perdikan itu sudah disampaikan. Karena Wiradana tidak segera menjawab, maka Warsi pun berkata selanjutnya, "Kakang, sebenarnya bukan maksudku untuk mendesak kakang, karena bagiku apapun kedudukan kakang, tidak ada bedanya. Saat ini aku sudah merasa berada dalam kedudukan yang tidak pernah aku duga sebelumnya, karena aku hanyalah sekadar penari jalanan. Tetapi dalam keadaan mengandung rasa-rasanya aku didesak oleh

satu keinginan bahwa anakku kelak lahir setelah ayahnya diwisuda menjadi seorang Kepala Tanah Perdikan."

Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia mengerti keinginan istrinya. Apalagi Warsi pernah berkata, dalam keadaan mengandung kadang-kadang ia melakukan sesuatu diluar kehendaknya sendiri.

Namun wisuda itu bagi Wiradana juga merupakan sesuatu yang penting. Dalam keadaan yang goyah itu, ia akan dapat memantapkan kedudukannya, sehingga apapun yang dilakukannya, tidak lagi sekadar dilakukan sebagai pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan. Tetapi benar-benar sudah sebagai Kepala Tanah Per- dikan.

Karena itu, maka katanya kemudian, "Warsi, Aku akan mempersoalkan hal ini dengan para pejabat di Pajang. Aku tahu kepada siapa aku harus mengadukan. Karena itu, maka biarlah dalam satu kesempatan aku akan segera pergi ke Pajang."

Warsi mengerutkan keningnya. Katanya, "Bukan maksudku untuk berbuat dengan tergesa-gesa kakang. Bukankah aku masih mempunyai waktu cukup lama. Aku baru akan melahirkan kira-kira tujuh bulan lagi." "Tujuh bulan memang lama Warsi," jawab Ki Wiradana. "Tetapi jika kita tidak memulainya, maka pada suatu saat kita akan disusul oleh waktu. Tiba-tiba saja waktu yang tujuh bulan itu sudah lewat."

Warsi tidak menjawab. Tetapi sebenarnyalah baginya, semakin cepat pelaksanaan itu akan menjadi semakin baik. Semakin cepat Wiradana di wisuda menjadi Kepala Tanah Perdikan, maka kedudukannya pun akan menjadi semakin kuat.

Keinginan Wiradana untuk menyelesaikan wisudanya itu menjadi semakin mendesak, ketika ia mendengar bahwa beberapa orang berpengaruh di Tanah Perdikan Sembojan mulai menunjukkan sikap kurang senang mereka. Sikap itu mula-mula terasa oleh para pengawal. Orang-orang itu seakan-akan telah mengabaikan para pengawal dan seolah-olah para pengawal itu tidak berhak untuk melakukan tugas mereka,

mengatur tata kehidupan di Tanah Perdikan Sembojan.

Seseorang yang berpengaruh di Tanah Perdikan itu, pada suatu saat berkata kepada seorang pengawal yang memerintahkan orang-orang padukuhannya untuk memperbaiki bendungan, karena sebuah bendungan yang terletak dekat dengan padukuhan itu

mulai rusak,katanya, "Kau sebaiknya berjaga-jaga saja di malam hari. Tugasmu adalah menjaga keamanan. Daripada kau mengurusi bendungan, maka agaknya lebih

baik bagimu untuk menahan kemungkinan terjadinya perampokan seperti yang pernah terjadi di penginapan itu."

"Tetapi bendungan itu perlu diperbaiki," berkata pengawal itu.

"Aku sudah tahu. Kita akan melakukannya tanpa perintahmu. Justru perintahmu yang kasar itu membuat kami menjadi segan melakukannya. Sudah sejak tiga hari kami bersiap-siap untuk memperbaiki bendungan itu. Kami sudah menyiapkan beberapa brujung untuk menyulam brunjung yang rusak. Kami sudah menyediakan batu dan tali ijuk. Tetapi justru dengan kasar kau memerintahkan kami, maka kami akan menunda kerja itu sampai kau menyadari, bahwa kami bukan budak yang hanya bekerja atas dasar perintah," jawab orang itu.

"Kau menentang perintah Ki Wiradana?" bertanya pengawal itu.

"Apakah kau mendapat perintah dari Ki Wiradana?" orang itu justru bertanya. Pengawal itu menjadi ragu-ragu. Tetapi kemudian ia menjawab, "Ya. Aku mendapat perintah Ki Wiradana untuk mengatur segala sesuatu yang kurang mapan. Termasuk bendungan, jalan-jalan dan parit. Aku adalah pengawal yang mengemban tugas apa saja bagi kepentingan Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan sejak pekan mendatang, aku juga diberi wewenang untuk menagih pajak?" "Apa? Pajak? Kau sudah mengigau. Pajak adalah tugas para Bekel di padukuhan-padukuhan," jawab orang itu.

"Tetapi semuanya berjalan terlalu lamban," jawab pengawal itu dengan dada tengadah. "Karena itu, maka segala sesuatunya kelak, tugas-tugas yang penting dan menentukan, akan dilimpahkan kepada para pengawal."

"Omong kosong," jawab orang itu. "Sudah ada yang mengatur sesuai dengan tata pemerintahan. Jika Ki Wiradana mengangkat para pengawal, maka tugasnya tentu hanya di bidang pengamanan Tanah Perdikan ini. Kau tidak berhak memerintah kami isi padukuhan ini. Sudah ada jalur perintah Ki Wiradana atas kami. Yaitu Ki

Bekel dan para bebahunya, termasuk urusan bendungan. Apalagi persoalan pajak. Karena itu, pergilah. Jangan membuat kami semakin muak melihat sikapmu yang berlebih-lebihan itu."

Pengawal itu menjadi marah. Tetapi ia masih belum mendapat kekuasaan untuk bertindak lebih jauh. Karena itu, maka ia masih harus menunggu perintah Ki Wiradana itu diumumkan meluas.

Ternyata sikap pengawal itu telah menjadi bahan pembicaraan. Jika para pengawal kemudian mempunyai wewenang untuk memerintah orang-orang padukuhan, maka jalur

perintah Ki Wiradana akan bergeser. Bekel-bekel yang selama ini menjadi jalur perintah Kepala Tanah Perdikan akan terputus. Sementara itu para pengawal akan

mendapat kedudukan yang lebih kuat. Mereka bukan sekadar mengawal Tanah Perdikan itu dari kemungkinan-kemungkinan buruk, tetapi para pengawal sudah mempunyai kekuasaan untuk memerintah orang-orang padukuhan, bahkan untuk menarik pajak.

Karena itu, maka beberapa orang yang berpengaruh langsung menyatakan sikap mereka. Jika rencana itu benar akan dilakukan oleh Ki Wiradana, maka orang-orang yang mempunyai pengaruh di dalam kehidupan sehari-hari di Tanah Perdikan itu, meskipun mereka tidak memiliki jabatan apapun juga akan menyatakan sikap mereka, bahwa mereka akan menolaknya. Mereka tetap mengakui jalur pemerintahan sebagaimana dilakukan oleh ayah Ki Wiradana dan bahkan sejak Kepala Tanah Perdikan sebelumnya.

Tetapi Ki Wiradana memang mempunyai rencana yang demikian. Untuk memberikan kekuasaan lebih besar kepada para pengawal, dan untuk menjaga kewibawaannya, maka Ki Wiradana akan mempergunakan para pengawal untuk menjadi jalur pemerintahannya di padukuhan-padukuhan. Ia mulai mengumpulkan bahan-bahan yang

penting untuk menunjuk orang-orang yang akan memegang jalur pemerintahan di setiap padukuhan, dengan dibantu oleh sekelompok pengawal yang mempunyai wewenang untuk mengatur dengan kekerasan. Meskipun Ki Wiradana tidak melepaskan jabatan para Bekel, namun para Bekel itu pun harus tunduk kepada kekuasaan pengawal yang akan ditentukannya memegang kekuasaan dan para pembantunya.

Namun ternyata bahwa orang-orang yang mempunyai pengaruh di dalam hidup bebrayan

di Tanah Perdikan telah mempertanyakannya. Meskipun agaknya para Bekel sendiri tidak langsung berani menentang rencana itu, tetapi mereka benar-benar merasa tersinggung karenanya.

Tetapi ternyata bahwa langkah pertama yang dilakukan oleh Ki Wiradana dalam menyusun kekuasaannya itu agaknya akan berhasil, justru terhadap para Bekel yang masih merasa segan jika tanah plungguh mereka akan diambil oleh Ki Wiradana.

Bahkan ada Bekel yang justru menjadi acuh tak acuh. Siapa saja yang akan melakukan pekerjaan itu, asal kedudukan mereka tidak diambil termasuk tanah plungguh mereka.

Agak berbeda dengan para Bekel, orang-orang yang berpengaruh di lingkungan bebrayan Tanah Perdikan itulah yang telah menunjukkan sikap mereka.

Untuk memberikan tekanan atas rencana itu, maka Ki Wiradana berusaha agar secepatnya ia diwisuda menjadi Kepala Tanah Perdikan di Sembojan. Di samping kenyataan jabatan itu, maka ia pun telah menyusun satu jaringan kekuasaan yang rapat dan tersebar diseluruh Ta-nah Perdikan Sembojan.

Dalam pada itu, maka untuk menyatakan sikapnya beberapa orang tua yang sejak masa pemerintahan ayah Wiradana selalu menjadi sasaran untuk memberikan

pertimbangan dan keputusan-keputusan penting yang akan diambil, telah memerlukan bertemu dengan Ki Wiradana. Mereka mempertanyakan rencana sebagaimana yang mereka dengar, bahwa jalur pemerintahan memang akan bergeser.

“Hanya untuk sementara saja,” jawab Ki Wiradana. “Selama Tanah Perdikan ini masih dibayangi oleh ketidakpastian. Bersama dengan itu aku akan menemui para pejabat di Pajang yang bertanggung jawab atas Tanah Perdikan yang terdapat di Kadipaten ini untuk mempersoalkan masa wisuda bagiku.”

“Tetapi apakah hal itu tidak akan menimbulkan kegoncangan-kegoncangan baru?” bertanya salah seorang di antara mereka, “Apakah tidak sebaiknya, bahwa jalur pemerintahan itu tetap sebagaimana sekarang, namun dari segi pengamanan Tanah Perdikan ini, agar tidak terjadi lagi perampokan atau semacam itu, para pengawal digerakkan di setiap padukuhan?”

“Aku telah mengambil keputusan,” berkata Ki Wiradana. “Aku bukan saja merencanakan. Sebentar lagi peraturan tentang hal itu akan segera berlaku.” Orang-orang tua yang berpengaruh itu tidak dapat berbuat apa-apa lagi dihadapan

Wiradana. Tetapi bukan berarti bahwa mereka memang tidak dapat berbuat apa-apa sama sekali.

Karena itu, maka Wiradana pun sangat memperhatikan mereka. Dengan tangan-tangan para pengawalnya ia dapat selalu mengawasi orang-orang yang berpengaruh itu agar mereka tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kepentingan Wiradana.

Sampai langkah-langkah itu, Warsi sesuai dengan pendirian suaminya. Bahkan ia telah mendorong dengan lembut, sehingga tidak menimbulkan persoalan di hati Wiradana sendiri.

Dalam pada itu, seperti yang dikatakannya, maka Wiradana telah bersiap-siap pergi ke Kadipaten Pajang. Ia ingin dengan cepat menyelesaikan masalahnya,

sehingga ia akan dapat diangkat dan diwisuda menjadi Kepala Tanah Perdikan yang sah. Bukan sekadar seorang pemangku.

“Biarlah Ki Sanak berada disini sampai keadaan Ki Sanak pulih kembali,” berkata Wiradana kepada saudagar permata itu.

“Terima kasih Ki Wiradana,” berkata orang itu. “Kebaikan hati Ki Wiradana tidak akan dilupakan. Jika saat-saatnya aku kembali, maka aku akan segera datang lagi ke Tanah Perdikan ini untuk membeli tanah sebagaimana aku katakan.” “Baiklah. Tetapi sebaiknya kalian menunggu sampai keadaan kalian benar-benar

baik sehingga kalian akan dapat meninggalkan Tanah Perdikan ini dengan tenang dan dapat menjaga diri jika terjadi lagi sesuatu di perjalanan,” berkata Ki Wiradana.

Namun dengan demikian, rasa-rasanya Ki Wiradana tenang juga meninggalkan istrinya yang baru muai mengandung. Meskipun dua orang saudagar itu belum pulih sepenuhnya, namun dalam keadaan yang sangat penting mereka tentu akan dapat melindungi istrinya di samping para pengawal yang bertugas.

Pada hari yang direncanakan, maka Ki Wiradana pun telah bersiap bersama empat orang pengawalnya yang paling baik. Mereka akan pergi ke Pajang, menghadap Ki Tumenggung Wirajaya, seorang Tumenggung yang bertugas untuk mengurus tanah- tanah

perdikan dan daerah yang terpencil dilingkungan Kadipaten Pajang.

Pada pagi hari yang ditentukan, maka Ki Wiradana pun telah siap. Ketika mereka sudah berada dihalaman, maka Warsi pun mengantar mereka bersama dua orang yang mendapat perawatan di rumahnya.

“Berhati-hatilah kakang,” berkata Warsi. “Kakang akan menempuh perjalanan yang cukup panjang. Mudah-mudahan segalanya dapat diselesaikan dengan baik tanpa kesulitan, sehingga keinginan bayi di dalam kandungan ini, agar pada saat ia

lahir, kakang sudah diwisuda akan dapat terwujud.”

“Baiklah Warsi,” berkata Ki Wiradana. “Aku akan berusaha sebaik-baiknya. Mudah-mudahan aku berhasil.”

Demikianlah, maka sejenak kemudian lima ekor kuda telah berderap meninggalkan regol rumah Ki Wiradana berpacu menuju ke Pajang.

Ayah Warsi yang mengaku sebagai saudagar emas berlian itu memandang debu yang dilemparkan di belakang kaki-kaki kuda itu sampai iring-iringan itu hilang di

kelok jalan. Baru kemudian ia menarik nafas sambil berkata, “Kita berdoa Warsi, mudah-mudahan usaha Ki Wiradana berhasil. Jika ia sudah diwisuda maka kedudukannya akan menjadi semakin kuat. Orang-orang yang menentangnya akan dengan mudah disingkirkan dengan dalih apapun juga. Ia sudah Kepala Perdikan, yang wewenangnya lebih luas dari seorang Demang yang memimpin sebuah Kademangan.”

Warsi mengangguk-angguk. Desisnya, “Kakang Wiradana tentu akan bekerja keras. Aku katakan kepadanya, bahwa jabang bayi di dalam kandungan ini ingin agar pada saat ia lahir, ayahnya sudah diwisuda menjadi seorang Kepala Tanah Perdikan yang sah.

Dalam pada itu, maka Ki Wiradana yang menempuh perjalanan yang cukup panjang itu berusaha untuk segera sampai. Jika ia harus bermalam di Pajang atau karena pembicaraan yang mungkin memerlukan waktu, maka ia berharap untuk tidak terlalu lama meninggalkan Tanah Perdikannya yang rasa-rasanya memang sedang diliputi oleh mendung.

Kepada pengawalnya ia berkata, “Jika aku pulang dengan membawa satu kepastian tentang saat-saat wisuda itu, maka kalian tentu akan mendapat kesempatan yang lebih baik. Aku sudah memutuskan untuk menempatkan para pengawal di padukuhan-padukuhan untuk mengambil alih tugas para Bekel dan bebahunya yang bekerja sangat lamban. Biar mereka masih tetap dalam kedudukannya dan menikmati tanah pelungguhnya. Tetapi mereka tidak lagi menjalankan tugas mereka. Terutama bagi kepentingan ketenangan sikap orang-orang Tanah Perdikan. Dalam keadaan yang gawat, maka para pengawal akan lebih cepat mengambil sikap.”

Para pengawal itu mengangguk-angguk. Mereka memang sudah merasakan kelebihan perhatian dari Ki Wiradana atas mereka daripada kepada pihak yang manapun juga di Tanah Perdikan Sembojan.

Sementara itu kuda-kuda mereka berpacu terus menuju ke Pajang. Sekali-kali

mereka harus berhenti untuk memberi kesempatan kuda mereka beristirahat. Namun pada satu saat, maka para penunggangnyalah yang memerlukan singgah disebuah kedai untuk sekadar minum dan makan.

Namun ketika mereka berada disebuah kedai, maka mereka telah mendengar satu berita yang mendebarkan. Seorang yang berada di kedai itu bersama dua orang kawannya telah berbicara tentang satu peristiwa yang gawat di pusat pemerintahan Demak.

“Mungkin hal itu masih dirahasiakan,” berkata orang itu. “Tetapi para saudagar yang datang dari Demak mengatakan, bahwa Sultan Trenggana telah terbunuh di peperangan, meskipun yang membunuh adalah abdi kinasihnya sendiri.”

“Aku masih meragukan kebenarannya,” jawab yang seorang. “Tetapi kita dapat menunggu. Jika hal itu benar, maka Adipati Pajang sebagai menantu Sultan tentu sudah mendengarnya. Tentu ada utusan khusus yang datang ke Pajang. Tetapi semuanya masih akan berkembang.”

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Namun ia berdesis, “Semuanya masih merupakan

desas-desus. Aku kurang yakin apakah para saudagar itu benar-benar mengerti persoalannya.”

Mereka kemudian tidak melanjutkan pembicaraan mereka tentang Sultan Demak ketika pesanan mereka telah berada dihadapan mereka.

Namun pembicaraan itu memang sangat menarik perhatian Ki Wiradana. Meskipun demikian, karena ia tidak mengenal orang-orang yang membicarakan kematian Sultan Demak itu, maka ia tidak bertanya kepada mereka.

“Jika benar yang mereka katakan, maka aku akan mendapat keterangan dari orang-orang di Pajang nanti,” berkata Wiradana di dalam hatinya. Karena itu, maka Wiradana seakan-akan tidak memperhatikan persoalan yang dibicarakan oleh orang-orang itu meskipun ia menjadi agak berdebar-debar juga. Jika ada persoalan yang penting di Pajang, maka mungkin sekali persoalan tentang dirinya akan tersisih. Baru kemudian setelah keadaan menjadi lapang, orang-orang Pajang sempat membicarakan tentang kedudukannya.

Namun segalanya masih harus dibuktikan. Mungkin orang-orang itu berbicara tentang desas-desus yang memang dilontarkan untuk kepentingan tertentu, sebagaimana desas-desus tentang seorang penari di Tanah Perdikannya yang mirip sekali dan bahkan ada yang menganggap bahwa orang itu adalah memang Nyai Wiradana yang telah hilang itu.

Karena itu, maka ketika Wiradana dan para pengawalnya telah selesai makan dan minum, maka mereka pun segera meninggalkan kedai itu. Ternyata orang-orang yang membicarakan tentang kematian Sultan di Demak itu, masih tetap didalam kedai itu sambil berbincang lebih panjang lagi.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, maka Ki Wiradana dan para pengawal pun telah memasuki Pajang yang menjadi semakin ramai. Perjalanan Wiradana ke Pajang bukannya perjalanannya untuk yang pertama kali. Ia sudah beberapa kali pergi ke Pajang bersama ayahnya. Dan ia pun pernah menghadap Ki Tumenggung Wirajaya.

Karena itu, maka Wiradana tidak menjadi seperti orang bingung ketika ia berada di kota. Ia langsung pergi ke sebuah kedai yang besar, yang menyediakan tempat bagi mereka yang ingin menginap. Meskipun tempat itu sangat sederhana, karena orang-orang yang menginap dipersilakan untuk tidur di amben-amben yang besar dalam sebuah ruangan yang besar pula.

Hanya orang-orang yang mau membayar dengan mahal sajalah yang mendapat tempat sebuah bilik yang sempit, tetapi tersendiri.

Ternyata Wiradana tidak memilih bilik yang sempit itu. Ia bermalam sebagaimana orang-orang lain bersama dengan empat orang pengawalnya. Selain bayarannya lebih murah, maka segala sesuatunya tidak akan menarik perhatian, seakan kehadirannya di Pajang membawa masalah yang sangat penting karena caranya bermalam di kedai itu.

Malam itu Wiradana benar-benar beristirahat bersama para pengawalnya. Sementara itu mereka dapat mengupah seorang untuk memelihara kuda-kuda mereka sementara mereka berada di Pajang. Baru pagi harinya, setelah mereka membenahi diri, maka mereka pun telah pergi ke rumah Ki Tumenggung Wirajaya. Tetapi agar kedatangannya tidak terasa mengganggu, maka hanya seorang saja dari para pengawalnya yang dibawanya.

Adalah kebetulan bahwa hari itu bukannya hari penghadapan, sehingga Ki Tumenggung berada dirumahnya.

Setelah mengutarakan maksudnya dengan para petugas di rumah Ki Tumenggung dan yang kemudian menyampaikannya kepada Ki Tumenggung, barulah Ki Wiradana mendapat

kesempatan untuk naik ke pendapa bersama seorang pengawalnya.

Ternyata Ki Tumenggung Wirajaya adalah seorang yang ramah, sebagaimana pernah dikenalnya sebelumnya ketika ia menghadap bersama ayahnya.

“Semua laporan telah aku terima,” berkata Ki Tumenggung kepada Ki Wiradana. “Ya Ki Tumenggung,” sahut Ki Wiradana kemudian, “Kedatanganku kemari adalah untuk sekadar mempertanyakan, apakah waktu yang terhitung dekat wisuda dapat diselenggarakan.”

Ki Tumenggung tertawa pendek. Katanya, “Kau begitu tergesa-gesa anak muda. Bukankah waktumu masih panjang?”

“Ki Tumenggung,” berkata Wiradana berterus terang. “Sebenarnya aku memang tidak tergesa-gesa. Tetapi sekarang istriku sedang mengandung. Sebagaimana kebiasaan orang yang sedang mengandung maka kadang-kadang ia mempunyai permintaan.

Bahkan

kadang-kadang yang aneh-aneh.”

“Dan istrimu yang mengandung minta agar kau segera diwisuda menjadi Kepala Tanah Perdikan Sembojan sepeninggalan ayahmu?” bertanya Ki Tumenggung.

Ki Wiradana tersenyum, sementara Ki Tumenggung berkata seterusnya, “Satu permintaan yang bagus sekali.”

“Ya Ki Tumenggung. Menurut istriku, yang meminta bukannya istriku itu sendiri,” berkata Ki Wiradana.

Ki Tumenggung tertawa. Katanya, “Yang meminta adalah bayi yang ada di dalam kandungan. Begitu?”

Ki Wiradana mengangguk kecil sambil menyahut. “Ya Ki Tumenggung. Menurut istriku adalah demikian.”

Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Katanya, “Aku dapat mengerti. Tetapi segala sesuatunya terserah kepada Kanjeng Adipati Pajang. Aku akan menyiapkan segala sesuatunya yang menyangkut persiapan dan kemungkinan-kemungkinannya, untuk kemudian mengusulkan kepada Kanjeng Adipati.”

“Terima kasih Ki Tumenggung. Kami, keluargaku dan seisi Tanah Perdikan berharap agar wisuda itu dapat diselenggarakan sebelum anakku itu lahir kira-kira tujuh bulan lagi.”

Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Katanya, “Jadi masih ada waktu tujuh bulan lagi.”

“Ya Ki Tumenggung. Seandainya wisuda itu dapat diselenggarakan secepatnya, maka istriku tentu akan bergembira sekali, sehingga pengaruhnya akan terasa pada bayi yang dikandungnya,” berkata Ki Wiradana.

Ki Tumenggung Wirajaya mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan semuanya berjalan lancar. Tetapi ketahuilah, mungkin ada sesuatu yang akan dapat menjadi penghambat, meskipun aku kira tidak akan memerlukan waktu sampai tujuh bulan.

Dalam satu dua bulan ini Kanjeng Adipati Hadiwijaya tentu akan sibuk sekali.” Wajah Ki Wiradana menegang. Lalu tiba-tiba saja ia bertanya, “Apa yang membuat Kanjeng Adipati sibuk dalam satu bulan ini?” bertanya Ki Wiradana.

“Ada utusan khusus dari Demak yang memberitahukan bahwa Kanjeng Sultan Demak, ayah mertua Kanjeng Adipati di Pajang telah gugur di medan perang.”

"Gugur?" ulang Ki Wiradana.

"Ya. Berita ini baru kemarin sampai meskipun peristiwa itu terjadi tiga hari

yang lalu. Namun nampaknya para pemimpin di Demak berusaha untuk merahasiakan meskipun akhirnya berita itu harus disampaikan kepada keluarga terdekat,"

berkata Tumenggung. Lalu, "Dan kemarin pula Kanjeng Adipati sudah berangkat ke Demak."

"Jadi Kanjeng Adipati sekarang tidak ada?" bertanya Ki Wiradana dengan kecewa. "Untuk beberapa hari Kanjeng Adipati akan berada di Demak," jawab Ki Tumenggung. "Bahkan seandainya Kanjeng Adipati adapun segalanya tidak akan dapat diputuskan sekarang."

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Lalu katanya, "Jadi beberapa hari lagi aku akan mendapat kepastian itu Ki Tumenggung."

"Jangan dihitung hari. Tetapi hitunglah dengan hitungan bulan. Tetapi aku kira tidak akan lebih dari tujuh bulan jika segala sesuatunya sudah lengkap," jawab Ki Tumenggung.

"Apa yang dimaksudkan lengkap Ki Tumenggung? Bukankah sudah pasti, bahwa aku berhak atas warisan jabatan yang ditinggalkan ayah itu," jawab Ki Wiradana. "Ya. Tentu," jawab Ki Tumenggung. "Tetapi bukankah kebiasaan setiap Tanah Perdikan adalah, bahwa setiap wisuda akan diselenggarakan upacara."

"Tentu Ki Tumenggung. Tanah Perdikan Sembojan juga akan mengadakan upacara besar-besaran," jawab Ki Wiradana.

"Aku tentu akan berkesempatan hadir. Kau tentu akan menyembelih sepuluh ekor lembu," berkata Ki Tumenggung. "Tetapi yang penting bukan itu. Setiap Tanah Perdikan mempunyai lambang kekuasaannya masing-masing. Ada beberapa Tanah Perdikan yang mengikatkan diri dengan Kadipaten Pajang. Misalnya Tanah Perdikan Menoreh dengan lambang kekuasaan sebuah tombak. Tanah Perdikan Karang Turi dengan lambang kekuasaan sebuah topeng berlapis emas. Dan bukankah Tanah Perdikan Sembojan juga mempunyai lambang temurunnya kekuasaan? Seingatku, seperti yang dikatakan ayahnya dan barangkali aku dapat menanyakan kepada Ki Tumenggung Pancasanti yang menjabat jabatan ini sebelum aku gantikan, Tanah Perdikan Sembojan mempunyai lambang kekuasaan sebuah bandul beserta rantainya yang terbuat dari emas. Bahkan aku pernah melihat bahwa bandul itu mempunyai ciri yang meyakinkan. Namun jika Ki Tumenggung Pancasanti juga meragukan, aku akan dapat melihatnya dalam kitab yang memuat segala ketentuan bagi Tanah Perdikan yang ada di dalam lingkungan Kadipaten Pajang."

Wajah Ki Wiradana menjadi tegang. Dengan suara sendat ia berkata, "Ayah meninggal dalam keadaan yang tidak wajar. Karena itu, ayah tidak sempat memberikan hal itu kepadaku."

"Tetapi apakah sebelumnya ayahmu pernah menunjukkan bandul itu kepadamu?" bertanya Ki Tumenggung.

Wiradana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berdesis dengan nada ragu, "Agaknya memang sudah Ki Tumenggung. Aku pernah melihat sebuah bandul pada

seuntai rantai yang terbuat dari emas dan memang pada bandul itu bertatahkan lukisan kepala seekor burung elang."

"Kau tidak tahu dimana benda itu sekarang?" bertanya Ki Tumenggung.

"Tidak Ki Tumenggung. Tetapi aku kira aku akan dapat mencarinya. Ayah tidak pernah terpisah dari benda itu. Tetapi pada saat meninggalnya ayah tidak membawanya. Mungkin bandul itu disimpannya di dalam peti simpanannya atau dimana saja," Ki Wiradana menjadi gelisah. "Tetapi bagaimana jika benda itu tidak dapat diketamukan?"

Ki Tumenggung termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, "Segala sesuatunya

tentu dapat dicari jalan pemecahannya. Bukankah setiap orang tahu, bahwa kau adalah anak laki-lakinya. Bahkan anaknya memang hanya kau seorang saja. Karena itu, pada saatnya jika benda itu tidak dapat diketemukan, aku akan ikut berusaha memecahkan persoalannya. Tetapi sekali lagi aku beritahukan, bahwa untuk waktu satu dua bulan ini, agaknya Kanjeng Adipati akan menghadapi kesibukan yang luar biasa."

Wajah Ki Wiradana menjadi semakin tegang. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa.

Adalah kebetulan sekali bahwa Adipati Pajang sedang mengalami satu peristiwa

yang akan dapat menggoncangkan kedudukan Demak, karena gugurnya Sultan di medan perang.

Karena itu, maka agaknya Ki Wiradana tidak akan dapat melanjutkan pembicaraan. Sebenarnya ia ingin menyelesaikan persoalan sampai tuntas. Bahkan ia pun akan bersedia jika ia harus menghadap Kanjeng Adipati. Ia sudah memperkirakan bahwa ia akan bermalam di Pajang sekitar tiga atau empat hari.

Namun agaknya pembicaraan telah terputus sampai sekian. Ki Tumenggung tentu tidak akan dapat mengambil keputusan apapun juga. Kesediaannya untuk membantu memecahkan persoalan yang mungkin timbul, merupakan satu kebaikan hati yang sangat menguntungkannya. Jika ia memaksa persoalan itu untuk dibicarakan lebih cepat, dan membuatnya kecewa, maka mungkin sekali Ki Tumenggung akan berubah sikap.

Karena itu, maka dengan menyesal, Ki Wiradana pun menghentikan pembicaraan tentang permohonannya untuk segera diwisuda. Namun ia masih berkesempatan untuk berbicara tentang beberapa hal dengan Ki Wirajaya sambil meneguk hidangan yang telah disajikan.

"Kematian Sultan Demak di medan itu merupakan satu peristiwa yang sangat pahit," berkata Tumenggung.

"Kenapa?" bertanya Ki Wiradana.

"Kanjeng Sultan telah dibunuh oleh hambanya yang terdekat. Seorang anak yang masih sangat muda, yang biasanya menyediakan sadak kinang bagi Kanjeng Sultan," berkata Ki Tumenggung. "Jadi hal itu merupakan satu pengkhianatan?" bertanya Ki Wiradana. "Jika yang terjadi benar seperti yang aku dengar, memang telah terjadi

pengkhianatan. Tetapi alasan pengkhianatan itu masih belum jelas. Nampaknya kita di Pajang masih harus menunggu kejelasan peristiwa itu. Mungkin sesudah Kanjeng Adipati kembali dari Demak, kita baru dapat mendengar dengan pasti, apa yang telah terjadi," berkata Ki Tumenggung itu kemudian.

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Namun yang membelit hatinya adalah persoalan yang

menyangkut dirinya sendiri.

Dalam pada itu, setelah minum minuman dan makan makanan yang dihidangkan, maka Ki Wiradana pun telah minta diri.

"Ki Wiradana akan kembali ke Sembojan sekarang?" bertanya Ki Tumenggung. "Tidak Ki Tumenggung. Kami bermalam di sini. Bahkan aku sudah bersiap-siap untuk bermalam barang tiga atau empat malam. Aku berharap bahwa aku akan dapat membicarakan masalah ini sampai tuntas. Tetapi ternyata bahwa Kanjeng Adipati sedang tidak ada di Kadipaten," jawab Ki Wiradana.

"Dimana Ki Wiradana bermalam?" bertanya Ki Tumenggung.

Ki Wiradana agak ragu. Tetapi akhirnya ia menjawab, "Di sebuah kedai makanan itu Ki Tumenggung. Di penginapan untuk orang banyak."

"Ah, bersama para penjual hasil bumi yang kemalaman di Pajang ini?" bertanya Ki Tumenggung.

"Ya Ki Tumenggung," jawab Ki Wiradana.

“Ki Wiradana menyewa sebuah bilik tersendiri di kedai itu?" bertanya Ki Tumenggung pula.

"Tidak Ki Tumenggung. Aku bermalam bersama orang banyak agar tidak nampak seperti orang kaya. Hanya saudagar-saudagar yang kaya saja yang bermalam di bilik-bilik tersendiri," jawab Ki Wiradana.

Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Ki Wiradana. Jika Ki Wiradana masih ingin berada di Pajang untuk waktu yang lebih lama lagi, biarlah

Ki Wiradana bermalam di rumahku. Mungkin Ki Wiradana akan mendapat tempat yang setidak-tidaknya tidak bercampur dengan terlalu banyak orang.”

Ki Wiradana mengerutkan keningnya. Namun ia merasa bahwa ia tidak mempunyai persoalan lagi yang akan dibicarakannya di Pajang karena Kanjeng Adipati tidak ada ditempat. Karena itu, maka katanya kemudian, “Terima kasih Ki Tumenggung. Mungkin lain kali aku akan datang lagi untuk menghadap. Pada kesempatan itu aku akan bermalam disini. Namun sebelumnya aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Sedangkan saat ini aku tidak akan berada di Pajang lebih lama lagi, karena tidak ada persoalan yang dapat aku bicarakan sesuai dengan penjelasan Ki Tumenggung itu.”

Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Tetapi aku akan berusaha untuk secepatnya dapat menyelesaikan persoalan ini. Karena bagiku setiap persoalan yang dapat diselesaikan dengan cepat, akan semakin baik. Dengan demikian persoalan-persoalan itu tidak akan tertimbun dengan persoalan-persoalan yang lain.”

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Sikap Ki Tumenggung cukup baik. Agaknya ia benar-benar ingin membantu. Hanya karena keadaan, maka segalanya memang harus tertunda.

Demikianlah, maka Ki Wiradana pun segera minta diri.

“Pada kesempatan lain aku akan menghadap lagi,” katanya. “Mungkin pada permulaan bulan depan. Meskipun mungkin Kanjeng Adipati masih sibuk, tetapi aku berharap bahwa ada waktu yang dapat dipergunakan untuk membicarakan persoalan Tanah Perdikan Sembojan.”

“Baiklah,” berkata Ki Tumenggung. “Ki Wiradana dapat datang pada permulaan bulan depan. Mudah-mudahan tidak terjadi kesibukan yang berkepanjangan. Karena jika benar Kanjeng Sultan terbunuh, maka tentu akan dipilih di antara para keluarga siapakah yang akan menggantikan kedudukannya, oleh para sesepuh di Demak. Tetapi karena Adipati Pajang adalah menantu wuragil, maka kesibukannya hanya terbatas pada keadaan yang tiba-tiba saja berubah ini.”

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Namun dalam pada itu, maka ia pun telah minta diri dan pada keesokan harinya akan langsung kembali ke Tanah Perdikan Sembojan.

Dengan demikian maka ternyata perjalanan Ki Wiradana itu sama sekali tidak membawa hasil. Tetapi bukan karena Ki Tumenggung yang bertanggung jawab tentang persoalan itu mempersulit persoalannya, tetapi karena akhirnya ia masih harus menunggu kedatangan Kanjeng Sultan yang akan mengambil segala keputusan. “Tetapi sebelum aku kembali menghadap, agaknya Ki Tumenggung tentu sudah menyampaikan persoalannya kepada Kanjeng Adipati,” berkata Ki Wiradana di dalam hatinya. “Selanjutnya segala sesuatunya akan berjalan lancar dan cepat.” Namun dalam pada itu, ada sesuatu yang terasa selalu mengganggu pikirannya.

Sebelumnya ia tidak pernah memikirkan tentang sebuah bandul yang tersangkut pada seutas rantai yang semuanya terbuat dari emas. Pada bandul itu terdapat ukiran kepala burung elang.

Menurut Ki Tumenggung, bandul itu menjadi pertanda pewarisan kekuasaan Kepala Tanah Perdikan Sembojan dari satu tataran kepada tataran berikutnya.

“Aku melupakannya,” berkata Wiradana kepada dirinya sendiri. “Tetapi aku harus menemukannya. Mungkin pada saat terakhir ayah tidak sempat mengatakan apapun juga karena kemarahannya kepada orang yang membunuhnya dengan licik itu.”

Di penginapan, Ki Wiradana sempat membicarakan dengan para pengawalnya. Namun mereka tidak dapat berbuat sesuatu selain menunggu sampai bulan depan.

“Di permulaan bulan depan aku akan datang lagi kemari,” berkata Ki Wiradana. “Tetapi Ki Tumenggung yang baik hati itu memberi kesempatan kepadaku untuk bermalam di rumahnya. Bahkan sekarang pun jika aku mau, kita dapat berpindah ke rumah Ki Tumenggung itu. Tetapi tidak banyak gunanya.

Besok kita sudah kembali ke Sembojan karena kita memang tidak dapat melangkah lebih jauh saat ini. Segala persoalannya sudah di tangan Ki Tumenggung. Namun keputusan terakhir tentang wisuda itu memang berada di tangan Kanjeng Adipati. Meskipun demikian, Kanjeng Adipati tentu tidak dapat melihat masalahnya sampai persoalan yang sekecil-kecilnya sehingga apa yang menurut Ki Tumenggung sudah benar, Kanjeng Adipati tentu akan membenarkannya juga.”

Para pengawalnya mengangguk-angguk. Tetapi mereka pun sebenarnya telah menjadi kecewa pula. Jika Ki Wiradana segera diwisuda, maka mereka pun akan segera mendapat kedudukan yang lebih baik pula.

Tetapi Ki Wiradana seakan-akan melihat gejolak di dalam hati orang-orang itu. Karena itu, maka ia pun berkata, “Tetapi jangan kecewa. Biarlah yang kecewa aku saja. Meskipun aku belum diwisuda menjadi Kepala Tanah Perdikan, tetapi aku sudah mempunyai wewenang untuk berbuat sesuatu di atas Tanah Perdikan warisan orang tuaku, apalagi aku adalah satu-satunya anaknya sehingga pewarisan kedudukan itu tidak ada masalah lagi.”

Para pengawalnya mengangguk-angguk. Tetapi mereka percaya kepada Ki Wiradana. Bahkan sebelum mereka pergi ke Pajang, para pengawal sudah mendapat kedudukan yang jauh lebih baik dari orang-orang lain di Tanah Perdikan Sembojan, sehingga para pengawal itu telah merupakan satu kelompok orang-orang yang dimanjakan oleh Ki Wiradana. Namun yang daripadanya, Ki Wiradana akan menyandarkan kekekuasaannya di Tanah Perdikan Sembojan.

Demikianlah, maka Ki Wiradana dan keempat pengawalnya masih bermalam satu malam

lagi di Pajang. Pagi-pagi benar mereka berniat untuk kembali ke Tanah Perdikan Sembojan, karena tidak ada persoalan lagi yang mungkin dibicarakannya lagi di Pajang.

Ketika malam tiba, maka Wiradana dan keempat pengawalnya telah berada di dalam sebuah ruangan yang besar dari sebuah penginapan. Beberapa orang telah berbaring di sebuah amben besar. Mereka yang menginap akan tidur berrjajar di amben-amben besar yang terdapat di ruang itu. Mereka adalah pedagang-pedagang hasil bumi

yang kepayahan setelah sehari penuh mengurusi barang-barang dagangannya. Sementara itu, di sebuah amben yang lain, yang diperuntukkan bagi orang perempuan, terdapat juga satu dua orang pedagang kain yang agaknya masih menyimpan beberapa lembar dagangannya yang masih belum laku.

Sementara Ki Wiradana dan para pengawalnya masih duduk disebuah lincak bambu sambil memesan minuman panas, dengan wajah yang mengandung teka-teki, mereka melihat di antara mereka yang menginap ada dua orang yang nampaknya selalu mengawasinya.

Ternyata bukan Ki Wiradana sendiri yang merasa selalu diawasi oleh kedua orang itu. Para pengawalnya pun merasa pula, bahwa kedua orang itu setiap kali menatap mereka dengan tatapan yang seolah menyelidik.

“Jangan pedulikan,” berkata Ki Wiradana. “Jika orang-orang itu berniat buruk, maka aku akan menghancurkannya sama sekali disini dihadapan para saksi bahwa kita tidak bersalah. Dengan demikian maka kita tidak akan dapat dituntut telah melakukan kejahatan. Orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu di penginapan ini akan mengatakan peristiwa yang terjadi sebagaimana sebenarnya. Tetapi mudah-mudahan orang itu tidak bertingkah, sehingga aku tidak perlu berbuat

apa-apa. Karena setiap tindakanku akan dapat berakibat kurang baik jika Ki Tumenggung Wirajaya menganggap aku berbuat kesalahan.”

Para pengawalnya sekali-kali juga berusaha mengamati kedua orang itu. Salah seorang di antara mereka pun kemudian berkata, “Ki Wiradana tidak usah berbuat apa-apa. Biarlah aku saja yang menyelesaikan mereka jika mereka berbuat sesuatu atas kita. dengan kawan-kawan aku kira kami akan dapat menyelesaikan kedua orang itu,”

Ki Wiradana menarik nafas dalam-dalam, kemudian katanya, “Agaknya keduanya juga bermalam di penginapan ini. Karena itu berhati-hatilah. Sebaiknya kalian nanti malam tidak tidur bersama-sama, meskipun tidak perlu diperhatikan kepada

orang-orang yang menginap di penginapan ini. Apalagi terhadap kedua orang itu. Kalian dapat tidur berganti-ganti. Jika seseorang sudah tidak tahan lagi untuk tetap berjaga-jaga, maka ia akan dapat membangunkan kawannya yang ada di sampingnya dengan tidak mengejutkan orang lain. Sehingga semalam suntuk di antara kita harus ada yang tetap berjaga-jaga.”

Para pengawal mengangguk-angguk. Mereka sependapat, bahwa mereka tidak boleh tidur bersama-sama karena kedua orang itu nampaknya memang mencurigakan.

Wiradana teringat kepada dua orang yang telah merampok saudagar emas permata di sebuah penginapan di Tanah Perdikan Sembojan. Mungkin dua orang ini adalah juga perampok yang mengira, bahwa Ki Wiradana membawa harta benda atau barangkali disangkanya juga seorang saudagar. Atau bahkan mungkin kedua orang ini jugalah yang telah merampok saudagar di Tanah Perdikan Sembojan itu.

“Jika demikian, maka keduanya adalah memang dua orang perampok yang pekerjaannya

merampok orang-orang yang dianggapnya membawa harta benda di penginapan,” berkata Ki Wiradana di dalam hatinya.

Namun ia tidak perlu cemas. Ia sendiri akan dapat membunuh kedua orang itu. Tetapi jika belum tersudut, ia sependapat dengan pengawalnya, bahwa biar pengawalnya sajalah yang bertindak atas kedua orang itu, sehingga tidak akan menimbulkan kesan buruk padanya. Apalagi jika penilaian itu diberikan Ki Tumenggung Wirajaya.

Untuk beberapa saat lamanya, Ki Wiradana masih duduk berbincang di sebuah lincak bambu. Sekali-kali ia meneguk minuman panas yang dipesannya. Demikian juga para pengawalnya, sehingga akhirnya mereka mulai mengantuk pula.

“Aku akan tidur. Mungkin masih ada di antara kalian yang akan tetap duduk sambil minum? Tetapi ingat, jangan tertidur semuanya. Jika kalian memang merasa letih, bangunkan aku,” berkata Ki Wiradana.

Dua orang pengawalnya ternyata masih ingin tetap duduk sambil menghabiskan minumannya. Sementara Ki Wiradana dan pengawalnya yang lain pun telah pergi ke sebuah amben besar. Beberapa orang telah terbaring diam. Bahkan ada di antara mereka yang mendengkur keras sekali, sehingga terasa mengganggu kawan-kawannya. Tetapi tidak seorang pun yang dapat menegurnya. Meskipun beberapa orang harus menutup telinganya dengan bantal.

Ternyata malam itu tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Kedua orang yang dicurigai itu justru telah tidur semalam suntuk tanpa terbangun sama sekali.

Bahkan ketika matahari telah terbit dan semua orang telah berbenah diri, kedua orang itu masih saja tidur dengan nyenyaknya.

Ki Wiradana mengumpat melihat kedua orang itu mendengkur. Lalu katanya kepada pengawalnya, “Ternyata mereka adalah orang-orang dungu yang sekadar ingin tahu melihat kita berlima.”

Demikianlah, setelah Ki Wiradana menyelesaikan biaya selama ia bermalam di penginapan itu, maka ia pun telah meninggalkan Pajang bersama para pengawalnya. Dengan hati yang kecewa Ki Wiradana berpacu kembali ke Tanah Perdikannya. Namun kepada istrinya, ia tidak dapat berceritera tentang hasil perjalanannya. Bahkan

yang akan didengar oleh istrinya adalah sekadar perasaan kecewa saja.

Meski demikian, sikap Ki Tumenggung Wirajaya telah memberikan sedikit ketenangan hatinya. Ki Tumenggung yang bertanggung jawab tentang Tanah Perdikan itu telah bersedia membantunya dan memecahkan persoalan yang timbul bila ternyata masih belum menemukan sebuah bandul yang menjadi pertanda kekuasaan Kepala Tanah Perdikan di Sembojan.

Seperti pada saat mereka berangkat, maka mereka pun berpacu melewati jalan yang cukup jauh. Bulak-bulak yang panjang harus mereka lintasi dan kadang-kadang sungai yang tidak terlalu dalam harus mereka seberangi.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja diluar kehendaknya, maka salah seorang dari keempat orang pengawal itu telah berpaling. Pengawal itu menjadi terkejut ketika ia melihat dua orang berkuda dijarak yang agak jauh.

“Ki Wiradana,” desis salah satu pengawalnya, “Apakah kedua orang yang berkuda di belakang itu dua orang yang kita jumpai di penginapan?”

Ki Wiradana mengerutkan keningnya. Ketika ia pun berpaling, maka jantungnya pun menjadi berdebar-debar. Dua orang itu menurut penglihatannya memang dua orang yang berada di penginapan itu.

“Setan,” geramnya. “Dua orang itu lagi.”

“Jangan hiraukan,” berkata salah seorang pengawalnya. “Bahkan kita akan menunggu apa yang akan mereka lakukan. Jika benar mereka berniat berbuat buruk, maka bukan salah kita jika keduanya akan terbunuh di tengah-tengah bulak panjang. Kita tidak bertanggung jawab atas mayatnya, karena bukan salah kita.”

Ki Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Dalam perjalanan

ini sebenarnya aku tidak ingin berbuat sesuatu yang dapat memberikan kesan kurang baik. Memang ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Mungkin yang kita lakukan nanti tidak dilihat oleh seorang pun sehingga tidak akan memberikan kemungkinan untuk diketahui oleh para pejabat di Pajang. Namun jika timbul persoalan karenanya, dan para pejabat di Pajang akhirnya mengetahui bahwa kita yang melakukannya, sementara itu tidak ada saksi yang dapat memberikan keterangan bahwa kita tidak bersalah, maka akan dapat timbul kesulitan.”

“Kami adalah saksi,” berkata pengawalnya.

“Tidak akan ada orang yang percaya karena kalian adalah pengawalku,” jawab Ki Wiradana.

Pengawal itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Tetapi kita tidak akan dapat berdiam diri jika mereka benar-benar akan menyerang kita.”

“Ya, aku sadar,” jawab Ki Wiradana.

Pengawal itu tidak berbicara lagi. Ketika ia berpaling, maka dilihatnya kedua ekor kuda itu masih mengikutinya pada jarak yang sama.

Wiradana yang merasa terganggu oleh kedua orang itu ternyata kemudian menggeretakkan giginya sambil berkata, “Persetan. Aku tidak peduli.”

Wiradana pun kemudian berusaha untuk tidak terpengaruh oleh kedua orang berkuda yang mengikutinya. Pada jarak yang cukup jauh maka ia pun bertanya kepada pengawalnya, “Apakah kuda-kuda kita sudah waktunya beristirahat?”

“Ya.” jawab pengawalnya. “Kecuali kuda kita memang harus beristirahat, kita akan dapat menunggu, apakah yang akan dilakukan oleh kedua orang itu.”

Ki Wiradana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku sependapat. Kita akan beristirahat.”

Dengan demikian maka Ki Wiradana dan para pengawalnya pun telah berhenti ditepi sebatang sungai. Mereka memberikan kesempatan kepada kuda mereka untuk minum dan

sekadar makan rerumputan segar.

Namun dada Ki Wiradana terasa hampir meledak ketika ternyata kedua orang mengikutinya itu juga berhenti pada jarak yang sama. “Gila,” seorang pengawalnya menggeram.

“Jangan hiraukan,” Ki Wiradana hampir berteriak. Tetapi di dalam nada suaranya terkandung kegelisahan yang menggigit jantungnya.

Karena itu, maka iring-iringan itu tidak dapat beristirahat dengan tenang.

Sebelum kudanya puas dan menjadi segar kembali, Ki Wiradana sudah memerintahkan kepada para pengawalnya untuk melanjutkan perjalanan.

Tetapi ternyata Ki Wiradana sudah mempunyai rencana lain. Ia ingin berhenti disebuah kedai, sehingga dengan demikian ia akan mendapat kesempatan untuk menjajagi niat kedua orang itu. Apakah keduanya akan menunggu pada jarak yang tetap, atau keduanya akan ikut masuk ke dalam kedai itu juga. Seandainya

keduanya akan menunggu di luar, ia akan mendapat kesempatan untuk berlama-lama di kedai itu sehingga kedua orang itu menjadi tidak sabar.

Karena itu, ketika perjalanan Ki Wiradana sampai ke sebuah kedai yang cukup besar, maka ia pun berkata kepada para pengawalnya. “Kita berhenti di kedai itu. Kita akan melihat, apa yang dilakukan oleh orang-orang itu. Mudah-mudahan di dalam kedai itu terdapat orang lain. Jika terjadi sesuatu, maka akan ada saksi

yang dapat membebaskan kita dari segala macam tuntutan. Jika keduanya menunggu diluar, biarlah kita habiskan waktu kita di kedai itu sampai keduanya kehilangan kesabaran.”

Para pengawalnya pun mengerti maksudnya. Apalagi perut mereka memang sudah merasa lapar.

Ki Wiradana dan para pengawalnya pun kemudian berhenti di depan kedai itu. Mengikat kudanya pada patok-patok yang sudah disediakan dan kemudian memasuki kedai yang di dalamnya sudah terdapat beberapa orang yang sedang makan dan minum.

Namun jantung Ki Wiradana berdesis ketika demikian ia dan para pengawalnya mulai duduk, dua orang yang mengikutinya itu telah berhenti pula di depan kedai itu.

Mengikat kudanya dan sejenak kemudian keduanya telah masuk pula.

Sejenak keduanya berhenti di muka pintu sambil berdiri tegak, dipandanginya orang yang sudah ada di dalam kedai itu termasuk Ki Wiradana sambil tersenyum. Kemudian keduanya duduk pula disudut sambil saling berbisik. Tiba-tiba saja keduanya tertawa.

Sikap keduanya sangat menjengkelkan Ki Wiradana. Tetapi Ki Wiradana masih menahan diri. Ia tidak mau menjadi penyebab jika terjadi keributan di dalam kedai itu.

Karena itu, Ki Wiradana dan para pengawalnya seakan-akan sama sekali tidak menghiraukan kedua orang itu. Mereka memesan makanan dan minuman seolah-olah mereka tidak sedang merasa terganggu oleh kehadiran kedua orang itu.

Tetapi para pengawal Ki Wiradana yang memang sudah merasa lapar, benar-benar lebih memperhatikan makanan mereka daripada kedua orang itu. Apalagi para pengawal itu merasa bahwa mereka berada dalam kedudukan yang lebih kuat karena jumlah mereka yang lebih banyak. Agaknya hanya Ki Wiradana sendirilah yang merasa gelisah, karena ia menghubungkan kedua orang itu dengan kedua orang yang telah merampok saudagar permata di Tanah Perdikan Sembojan.

Dalam pada itu, sikap kedua orang itu memang terasa sangat menjemukan bagi Ki Wiradana. Setiap kali keduanya memperhatikannya, kemudian seakan-akan mentertawakannya. Dengan demikian, maka gejolak di dalam jantung Wiradana pun terasa semakin lama semakin panas.

Tiba-tiba saja Ki Wiradana itu menggamit seorang pengawalnya yang sedang sibuk makan, “He, kau lihat sikap orang itu?”

Pengawalnya terkejut. Namun kemudian katanya, “Maaf Ki Wiradana ternyata aku benar-benar sedang sibuk makan, sehingga aku tidak banyak memperhatikannya.” “Perhatikan sejenak sekarang. Aku menjadi muak. Rasa-rasanya aku ingin mencekiknya,” berkata Ki Wiradana.

Pengawalnya mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Apakah kita akan memulainya?” Ki Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab.

Sementara itu, sikap kedua orang itu benar-benar memuakkan bagi Ki Wiradana. Setiap kali keduanya tertawa. Bahkan keras-keras. Seolah-olah di dalam kedai itu tidak terdapat orang lain.

Tetapi ternyata yang merasa tersinggung atas sikap itu bukan saja Ki Wiradana. Adalah satu kebentulan bahwa di dalam kedai itu juga terdapat seorang yang bertubuh tinggi tegap dan berkumis lebat, yang duduk bersama dengan seorang yang bertubuh tinggi agak ke kurus-kurusan. Keduanya mengenakan pakaian serba hitam dengan ikat kepala hitam pula.

Ketika kedua orang berkuda yang mengikuti Ki Wiradana itu kemudian tertawa lagi keras-keras, maka orang berkumis lebat itu tiba-tiba saja membentak, “He, tutup mulutmu. Kau mengganggu kami. Bahkan seisi kedai ini.” Kedua orang itu terkejut. Dan serta merta keduanya pun terdiam.

“Jika kau tertawa lagi maka aku lemparkan kau keluar dari kedai ini,” geram orang berkumis itu.

Kedua orang itu saling berpandangan. Namun salah seorang di antara mereka kemudian berkata, “Maaf Ki Sanak. Kami tidak berniat untuk mengganggu kalian.” Demikian orang-orang itu melangkahi pintu, maka Ki Wiradana pun berkata, "Bukan kita yang ternyata terlibat. Tetapi agaknya sasaran mereka sebenarnya adalah

kita seperti yang dikatakannya, bahwa yang terjadi adalah meleset."

Seorang pengawal mengangguk-angguk masih sambil mengunyah makanannya.

Kemudian

katanya setelah ia menelan makanannya itu, "Agaknya kita tidak dapat berdiam diri. Sasaran mereka memang kita. Karena itu, jika kedua orang itu sudah diselesaikan, maka mereka akan berpindah kepada kita. Karena itu, kita memang harus bersiap-siap."

"Ya," berkata Ki Wiradana. "Agaknya keduanya terlalu percaya kepada diri mereka sendiri. Terhadap kedua orang itu pun mereka sama sekali tidak tergetar meskipun sikap kedua orang itu cukup kasar. Menurut penglihatanku, agaknya kedua orang berkuda itu akan dapat mengalahkan kedua orang yang sudah lebih dahulu ada di kedai ini."

Pengawalnya tidak menyahut. Namun Wiradana berkata kemudian, "Selesaikan sehingga perutmu menjadi kenyang, agar kau mampu bertempur sebaik-baiknya." Para pengawalnya itu pun memang dengan cepat menyelesaikan makan dan minum mereka. Kemudian sambil mengusap perut mereka dengan tangan kanan, maka tangan kiri mereka telah meraba hulu pedang mereka yang tergantung di pinggang.

Sementara itu, Wiradana sempat memperhatikan dua orang lain yang berada di kedai itu. Nampaknya keduanya justru menjadi ketakutan sebagaimana pemilik kedai itu sendiri. Sehingga dengan demikian maka Wiradana dapat mengambil kesimpulan, bahwa kedua orang itu tentu tidak akan ikut campur.

Setelah selesai makan dan minum, maka Wiradana sempat menjulurkan kepalanya untuk melihat apa yang terjadi diluar. Nampaknya keempat orang itu sudah bersiap untuk bertempur.

Wiradana sempat mendekati pemilik kedai itu dan menghitung makanan dan minuman yang telah dihabiskannya bersama para pengawalnya. Kemudian membayarnya dan sambil menarik nafas dalam-dalam Ki Wiradana pun melangkah ke luar, diikuti oleh para pengawalnya.

Demikian Wiradana berada diluar pintu, maka ia telah mendengar orang berkumis lebat itu menggeram sambil melangkah semakin dekat, "Kau akan yakin, bahwa kau tidak dapat berbuat sekehendakmu di daerah ini."

"Aku sudah siap," tiba-tiba saja orang berkuda itu menjawab dengan nada datar. "Gila," orang berkumis itu mengumpat, "Kau memang ingin lehermu aku pilin sampai patah."

Orang berkuda itu tidak menjawab. Tetapi ia sudah bersiap menghadapi lawannya, orang bertubuh kekar dan berkumis lebat itu. Sedangkan kawannya telah berhadapan pula dengan orang bertubuh tinggi kekurus-kurusan yang agaknya lebih cepat menjadi marah dan bahkan telah menyiram wajah orang berkuda yang seorang itu dengan minuman hangat.

Wiradana termangu-mangu. Sekilas orang berkuda yang melawan orang berkumis itu berpaling kepadanya. Wajahnya nampak tegang. Namun sejenak kemudian ia pun telah kembali memperhatikan lawannya yang sudah bersiap untuk mulai dengan

serangan-serangannya.

Sebenarnya, bahwa sejenak kemudian orang berkumis itulah yang telah mulai menyerang. Dengan gerak yang mantap ia meloncat sambil mengayunkan mendatar. Tetapi lawannya benar-benar telah bersiap menghadapi kemungkinan itu, sehingga karena itu, ia pun telah meloncat menghindar.

Dengan demikian, maka pertempuran itupun telah mulai. Di depan kedai itu telah terjadi dua lingkaran pertempuran. Orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan melawan seorang di antara dua orang berkuda yang wajahnya telah disiramnya dengan minuman hangat, dan yang seorang telah bertempur melawan orang yang bertubuh kekar dan berkumis lebat.

Ki Wiradana dan para pengawalnya berdiri termangu-mangu menyaksikan pertempuran itu. Ada terbersit niatnya untuk menghindari saja pertentangan dengan kedua

orang berkuda itu dengan meninggalkan tempat itu selagi mereka bertempur. Tetapi harga dirinya ternyata telah mengekangnya, sehingga Wiradana akhirnya tetap berdiri ditempatnya. Ia tidak mau disebut sebagai pengecut yang meninggalkan lawannya karena ketakutan.

DENGAN tegang Wiradana dengan para pengawalnya telah menyaksikan pertempuran yang semakin lama menjadi semakin garang dan keras. Namun sejenak kemudian Ki Wiradana pun melihat, bahwa orang-orang yang garang yang lebih dahulu dikedai itu, tidak mempunyai kemampuan yang cukup untuk mengimbangi la-wannya, orang-orang berkuda itu.

Dengan demikian maka Ki Wiradana pun telah menggamit pengawalnya sambil berdesis, “Ternyata orang-orang berpakaian garang dan bersikap kasar itu sama sekali tidak mempunyai ilmu yang cukup mendukung kegarangannya.”

Para pengawalnya mengangguk-angguk. Agaknya dua orang itu adalah dua orang yang merasa dirinya disegani oleh tetangga-tetangganya dengan sedikit ilmu. Namun ia sama sekali tidak mengetahui keadaan diluar lingkungannya, bahwa ilmunya dibanding dengan orang-orang yang benar-benar mendalami ulah kanuragan, sama sekali tidak ada artinya.

Ternyata dua orang penunggang kuda yang mengikuti Ki Wiradana itu justru terkejut melihat perlawanan kedua orang yang garang itu. Bahkan orang yang telah menyiram wajah salah seorang penunggang kuda itu, sama sekali tidak mampu

mengelak ketika lawannya menyerangnya dengan loncatan yang menghentak dan tangan yang terjulur lurus.

Demikian dadanya tersentuh serangan itu, maka ia pun telah terdorong beberapa langkah surut dan jatuh berguling di tanah.

“O,” penunggang kuda itu berdiri termangu-mangu, “Apakah kau benar-benar telah jatuh?”

Orang itu berusaha meloncat berdiri. Wajahnya menyala bagaikan bara api. Namun kemarahannya itu tidak banyak memberikan arti kepada perlawanannya. Karena ketika ia kemudian menyerang, maka serangannya itu sama sekali tidak menyentuh lawannya. Bahkan ketika lawannya itu bergeser dan menjulurkan kakinya, maka kakinya itulah yang telah menyentuh lambung orang bertubuh tinggi

kekurus-kurusan itu.

Sekali lagi orang itu terhuyung-huyung dan jatuh berguling. Dengan tergesa-gesa ia berusaha untuk bangkit. Tetapi ternyata bahwa lambungnya terasa bagaikan ditindih batu segumpal.

Namun dengan susah payah akhirnya orang itu berhasil berdiri. Tetapi sakit dilambungnya tidak segera berkurang.

Sementara itu, kawannya yang berkumis tebal itu pun tidak dapat berbuat banyak atas lawannya. Bahkan ia justru telah terdesak dan kehilangan kesempatan untuk melawan. Tetapi agaknya lawannya tidak ingin menyakitinya. Ketika orang yang berkumis tebal itu tersudut sehingga punggungnya melekat dinding halaman kedai yang tidak begitu luas itu, maka lawannya justru menghentikan serangannya. Dengan nada berat ia berkata, “Ki Sanak. Apakah aku harus mencabuti kumismu?”

“Persetan,” geram orang berkumis lebat itu, “Kau sangka aku sudah menyerah?” “Lalu kau mau apa?” bertanya lawannya.

Orang berkumis lebat itu pun kemudian menggeram. Tiba-tiba saja ia mencabut sebilah golok yang terselip pada wrangkanya di pinggangnya.

“Aku dapat membunuhmu,” berkata orang berkumis lebat itu.

Lawannya mengerutkan keningnya. Namun ia pun justru tersenyum. Katanya, “Jangan main-main dengan senjata. Senjata itu akan dapat mengerat lehermu sendiri.

Nampaknya golokmu cukup tajam untuk memotong kepalamu.”

Wajah orang berkumis lebat itu menjadi tegang. Namun kemudian katanya, “Kau jangan menakut-nakuti aku seperti menakut-nakuti anak-anak. Kau kira dengan kata-katamu yang kasar itu, kau mampu menggetarkan jantungku.”

“Baiklah,” berkata lawannya. “Jika demikian maka aku memang ingin membuktikan. Marilah berikan golok itu kepadaku.”

Orang berkumis itu menjadi bingung. Namun kemudian ia membentak, “Apakah kau memang benar-benar sudah gila. Senjata ini adalah senjataku. Senjata yang akan aku pergunakan untuk membunuhmu.”

“Ada dua cara untuk memiliki senjata itu. Kau berikan kepadaku atau aku harus merampasnya,” berkata orang itu.

“Persetan. Kau memang sombong sekali. Jika kau terbunuh disini jangan menyesal,” berkata orang berkumis itu sambil memutar goloknya.

Lawannya, orang berkuda itu melangkah surut. Dengan demikian seakan-akan ia memberi kesempatan kepada orang berkumis lebat itu untuk bergerak. Karena itu, maka orang berkumis itu pun bergeser pula maju.

ORANG berkuda yang melihat golok lawannya itu berputaran menjadi sangat berhati-hati. Bagaimanapun juga golok itu akan dapat melukainya.

Namun sejenak kemudian, pertempuran antara orang berkumis lebat dan orang berkuda itu pun meningkat semakin cepat. Orang berkuda itu mampu bergerak bagaikan burung sikatan. Untuk beberapa saat ia berhasil membuat lawannya menjadi bingung karena kehilangan arah. Bahkan sejenak kemudian, orang berkuda itu justru telah dapat mengenainya dengan serangan-serangan kakinya, meskipun orang berkumis itu bersenjata.

Terdengar orang berkumis itu mengumpat. Tetapi ia tidak dapat mengingkari kenyataan. Bahkan kemudian, serangan lawannya menjadi semakin sering menyentuhnya.

Orang berkumis lebat itu memaki dengan kasar ketika terasa pergelangan tangannya dicengkam oleh kekuatan yang tidak dapat dilawannya. Sebelum ia sempat berbuat apa-apa, maka tangannya itu sudah terpilin kebelakang. Dengan satu bentakan maka goloknya sudah terlepas dari tangannya.

Belum lagi jantungnya berkerut, tubuh orang itu bagaikan didorong oleh kekuatan raksasa sehingga orang bertubuh kekar dan berkumis lebat itu terdorong beberapa langkah dan kemudian jatuh terjerembab.

Lawannya kemudian mendekatinya. Ketika orang bertubuh kekar dan berkumis lebat itu berusaha untuk bangkit, maka goloknya sendiri telah teracu tepat didadanya. “Jika kau bangkit, maka ujung golokmu sendiri akan menghisap darah dari lubang didadamu yang akan terkoyak.”

Orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan masih juga bertempur melawan salah seorang dari orang berkuda yang mengikuti Ki Wiradana, dan yang sudah disiram dengan air panas di wajahnya. Namun seperti orang bertubuh kekar dan berkumis lebat itu, ia tidak banyak dapat memberikan perlawanan. Bahkan ia sama sekali tidak sempat mempergunakan senjatanya, karena demikian ia mencabut goloknya, maka terasa pergelangan tangannya telah didera oleh suatu kekuatan yang sangat besar sehingga goloknya telah terlepas dari tangannya sebelum ia dapat berbuat apa-apa.

Demikianlah kedua orang yang sebelumnya telah berada lebih dahulu di warung itu sama sekali tidak berdaya. Dua orang berkuda yang mengikuti Ki Wiradana itu ternyata memiliki kemampuan jauh di atas kemampuan kedua orang itu.

Karena itu, maka sejenak kemudian keduanya benar-benar telah dikuasai oleh kedua orang berkuda itu.

“Nah, apa yang akan kau lakukan?” bertanya orang berkuda yang wajahnya telah disiram dengan minuman hangat itu, “Aku dapat membalasmu, mengguyur wajahmu dengan air yang sedang mendidih.”

“Jangan,” minta orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu, “Jangan lakukan.”

Orang berkuda itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berpaling ke keadaan sekelilingnya. Ketika terpaandang olehnya wajah Ki Wiradana, maka ia pun tersenyum sambil berkata, “Bagaimana menurut pendapatmu Ki Sanak? Bukankan permainan kami cukup menarik?”

Wiradana terkejut mendapat pertanyaan itu. Namun kemudian ia pun sadar, bahwa orang itu tentu akan memancing persoalan, karena sebenarnyalah bahwa dirinyalah yang menjadi sasaran bersama keempat pengawalnya.

Tetapi Wiradana merasa bahwa dirinya bukan sekadar orang yang sedikit mempunyai ilmu dan pengalaman sebagaimana kedua orang yang dapat dikalahkan oleh

orang-orang berkuda itu. Apalagi ia membawa empat orang pengawalnya yang terpilih, yang pernah diajarinya bertempur dan mempergunakan segala macam senjata. Namun yang lebih diperdalam adalah ilmu pedang, karena mereka kemudian bersenjata pedang.

Karena itu, dengan tidak gentar Wiradana melangkah maju sambil berkata, “Benar Ki Sanak. Permainanmu memang sangat menarik. Kau mampu mempertunjukkan ilmumu

yang kasar dan tidak bernilai apapun juga. Baik dari segi kemampuan maupun dari segi ketrampilan.”

“AH jangan begitu Ki Sanak,” jawab orang berkuda itu. “Bukankah dengan bangga

aku dapat mengatakan, bahwa aku telah memenangkan pertarungan ini? Demikian pula kawanku itu, sehingga orang berkumis itu menjadi tidak berdaya sama sekali. Ia terbaring diam dengan ujung goloknya sendiri siap mematuk dadanya menembus jantung. Apakah hal itu bukan merupakan satu kebanggaan bagiku dan bagi

kawanku.”

“Mungkin kalian dapat berbangga,” jawab Ki Wiradana. “Tetapi silakan. Aku tidak mempunyai sangkut paut dengan kalian.”

“He, kau tidak mampunyai sangkut paut? Kau menyaksikan apa yang telah terjadi. Apakah kau bukan kawan kedua orang ini?” bertanya orang berkuda itu.

“Jangan berpura-pura. Atau kau memang benar-benar dungu seperti seekor kerbau,” jawab Ki Wiradana. “Bukankah kau mengikuti kami sejak dari Pajang. Kau tentu sudah mengetahui jumlah kawan-kawan kami. Kenapa kalian bertanya tentang kedua orang itu seolah-olah mereka adalah kawan-kawanku.”

Kedua orang berkuda itu mengerutkan keningnya. Tetapi orang yang wajahnya tersiram minuman panas itu kemudian justru tertawa, katanya, “Kau benar. Tetapi siapa tahu, dua orang itu memang telah menunggumu disini untuk bersama-sama mengeroyokku.”

“Kau jangan mencari-cari persoalan,” berkata Ki Wiradana. “Kami mengerti, sejak di penginapan di Pajang kalian berdua selalu memperhatikan kami. Kemudian mengikuti kami sampai ditempat ini. Tentu kau mempunyai maksud tertentu. Nah, sekarang katakan saja apa maksudmu. Dengan demikian dihadapan beberapa orang saksi, maka kita akan dapat membuat penyelesaian. Karena aku sadar, bahwa segala tingkah lakumu yang memuakkan itu sebenarnya kau tujukan untuk memancing persoalan dengan aku dan kawan-kawanku. Tidak dengan kedua orang itu. Adalah kebetulan saja bahwa kedua orang itu pun menjadi muak melihat tingkah lakumu, sehingga persoalannya telah bergeser dari sasaran.”

Kedua orang berkuda itu saling berpandangan. Kemudian mereka pun telah melepaskan lawan masing-masing. Sambil mendorong lawannya orang yang tersiram minuman panas di wajahnya itu berkata, “Pergilah. Kau tidak mempunyai persoalan dengan kami.”

Orang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu terdorong beberapa langkah. Ia masih sempat berpaling dengan wajah yang penuh dibayangi oleh kebimbangan.

Sementara itu kawannya yang berkumis tebal itu pun mendapat kesempatan untuk bangkit pula, setelah lawannya melepaskan goloknya dan berkata, “Kau juga mendapat kesempatan untuk pergi. Atau barangkali kau akan tetap berada di halaman ini? Sebaiknya kau menjadi saksi apa yang akan terjadi.”

Orang itu termangu-mangu. Namun ia pun kemudian bergeser menepi dan kemudian berdiri di samping kawannya yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu.

Dalam pada itu, kedua orang yang mengikuti Ki Wiradana itu perhatiannya kemudian sepenuhnya tertuju kepada Ki Wiradana. Namun ketika mereka sempat memandang disekelilingnya, ternyata ada beberapa orang yang menonton peristiwa itu. Ada

yang dari dalam kedai, ada yang diluar halaman dan kedua orang yang baru saja dikalahkan oleh kedua orang berkuda itu, berada di pinggir halaman itu juga.

TETAPI kedua orang berkuda itu tidak begitu menghiraukan mereka. Jarak antara tempat itu dengan Pajang sudah cukup jauh, sehingga para prajurit Pajang yang meronda tidak akan sampai ke tempat itu. Apalagi keadaan daerah itu biasanya memang tidak memerlukan kehadiran para peronda dari Pajang karena orang-orang yang dianggap memiliki kemampuan merupakan pengawal-pengawal padukuhan yang disegani. Namun yang ternyata ilmunya masih belum berarti dibandingkan dengan orang-orang yang memang bertualang di dunia olah kanuragan. Dalam pada itu, kedua orang itu pun kemudian melangkah mendekati Ki Wiradana, sementara Ki Wiradana pun maju pula.

“Bukankah aku berhadapan dengan Ki Wiradana, pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan di Sembojan?” bertanya salah seorang dari kedua orang itu.

Ki Wiradana mengerutkan keningnya. Namun ia pun menyadari, bahwa agaknya kedua orang itu memang dengan sengaja mencari keterangan tentang dirinya dan para pengawalnya.

Karena itu, maka jawab Ki Wiradana, “Ya. Aku adalah Wiradana, pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Dimana kau tahu tentang aku?”

Kedua orang itu tersenyum. Katanya, “Aku tahu banyak tentang kau Ki Wiradana.” “Tentu saja aku mempunyai kepentingan lain. Aku tahu bahwa kau menghadap Ki Tumenggung Wirajaya untuk mengurus kemungkinan wisudamu menjadi Kepala Tanah Perdikan, karena Ki Tumenggung adalah seorang pejabat yang mengurusi tentang Tanah Perdikan dan orang-orang yang memimpinnya. Dengan demikian maka kau tentu membawa pertanda kekuasaan Tanah Perdikan Sembojan sebagai kelengkapan wisuda yang kau minta. Nah, Ki Wiradana. Aku tidak menginginkan apapun juga kecuali

bandul emas dengan rantainya yang terbuat dari emas itu. Bandul dan rantainya itu tentu berharga sangat mahal.”

Wajah Ki Wiradana menjadi merah padam. Dengan suara gemetar oleh kemarahannya ia

berkata, “Kau mengigau seperti orang kesurupan. Aku tidak membawa bandul itu. Barang yang sangat berharga itu tentu tidak akan aku bawa kemanapun juga.” “Jangan bohong Ki Wiradana. Tanpa bandul itu Ki Tumenggung Wirajaya tidak akan memperhatikan permohonanmu. Hanya orang-orang yang mempunyai kelengkapan yang

dapat menjadi Kepala Tanah Perdikan. Orang itu harus anak langsung atau menantu laki-laki langsung dari seorang Kepala Tanah Perdikan. Jika seorang Kepala Tanah Perdikan tidak mempunyai anak sama sekali, maka salah seorang kemanakannya yang ditunjuk oleh Kepala Tanah Perdikan yang bersangkutan. Namun yang kesemuanya itu dibuktikan dengan pertanda kebesaran yang ada di Tanah Perdikannya

masing-masing. Ada yang berupa senjata, ada yang berupa tongkat, ada yang berupa topeng, dan adalah kebetulan sekali bahwa Tanah Perdikan Sembojan tanda kekausaan itu berupa sebuah bandul dengan rantainya yang terbuat dari emas,” berkata orang itu. “Barang itu tidak aku bawa,” bentak Ki Wiradana. “Tetapi seandainya barang itu

ada padaku sekarang, maka apa artinya permintaanmu itu? Kau ingin menggagalkan wisudaku menjadi Kepala Tanah Perdikan atau kau ingin memiliki barang itu karena nilainya yang sangat tinggi? Namun kau pun tentu tahu jawabanku seandainya barang itu ada padaku sekarang.”

“Kau akan berkeberatan?” desis orang berkuda itu.

“Bukan hanya berkeberatan. Tetapi aku akan dapat membunuh orang yang telah

berani mencoba merampas pertanda kekuasaan Tanah Perdikan Sembojan itu,” berkata Ki Wiradana.

“O,” desis orang itu. “Jadi kau akan membunuh orang yang telah berani mencoba merampas pertanda itu? Lalu orang yang berhasil merampas akan kau apakan jika yang sedang mencoba saja sudah kau bunuh?”

Dada Ki Wiradana tergetar mendengar pertanyaan itu. Tetapi ia menyadari, bahwa ia tidak boleh terpancing untuk menjadi marah dan kehilangan perhitungan. Karena itu maka katanya, “Jangan main-main Ki Sanak. Berbuatlah sewajarnya. Jika kau memang ingin membuat perkara, aku tidak akan mengelak. Meskipun aku tidak mencari musuh dalam perjalananku ke Pajang, tetapi jika aku dihadap kan kepada persoalan seperti ini, maka apa boleh buat”

ORANG berkuda itu tersenyum. Katanya, “Kau memang sudah menjadi lebih dewasa sekarang Ki Wiradana. Mendekati wisuda kau akan menemukan kepribadianmu yang sebenarnya. Tetapi baiklah, aku kembali kepada persoalanku semula. Berikan

bandul itu kepadaku.”

“Aku tidak membawanya,” jawab Wiradana. “Terserah kepadamu. Percaya atau tidak percaya.”

Wajah orang itu mulai menegang. Senyumnya telah tidak membayang lagi di wajahnya. Katanya, “Jadi kau berkeras untuk mempertahankan bandul itu?”

“Aku tidak membawanya. Apakah kau tuli?” Ki Wiradana mulai menjadi tidak sabar. Orang itu mengangguk-angguk. Katanya, “Maaf Ki Wiradana, aku akan menggeledahmu. Aku akan melihat di kantong-kantong ikat pinggangmu, atau kau masukkan ke dalam kampil yang kau bawa di bawah pelana kudamu.”

“Kalau kau ingin berkelahi, marilah kita berkelahi. Habis perkara,” potong Ki Wiradana. Lalu, “Sebaiknya kau tidak perlu membuat terlalu banyak alasan. Kau tahu apa jawabanku, jika kau menggeledahku. Bukankah tujuan akhirmu sebuah perkelahian?” Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Kata-nya, “Baiklah. Kita akan berkelahi.”

Ki Wiradana memandang orang-orang yang ada di sekitar tempat itu. Kepada kedua orang yang dikalahkan oleh dua orang penunggang kuda itu ia berkata, “Kalian menjadi saksi. Bukan kamilah yang telah memulianya. Tetapi mereka. Jika terjadi sesuatu dengan mereka, maka kami tidak akan dapat disalahkan. Kami sudah berusaha untuk menghindari perkelahian, tetapi keduanya benar-benar memaksakan sebuah perkelahian.”

Kedua orang berkuda itu termangu-mangu. Seorang di antaranya berkata, “Kami tidak perlu saksi.”

“Memang tidak,” sahut Ki Wiradana. “Hanya yang tinggal hidup sajalah yang memerlukan saksi.”

Orang berkuda itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya, “Bukan main. Kau ternyata masih saja terlalu sombong. Bertanyalah kepada para pengawalmu, apakah kau terlalu sombong atau tidak.”

Wajah Ki Wiradana menjadi merah. Tetapi ia masih tetap sadar, bahwa ia tidak boleh menjadi kehilangan akal sehingga tingkah lakunya kemudian hanya sekadar dikemudikan oleh perasaan. Jika demikian maka ia akan kehilangan sebagian dari kemungkinan untuk menang dalam perkelahian yang agaknya benar-benar akan terjadi, karena jika ia kehilangan akal maka perhitungannya dalam perkelahian akan menjadi kabur.

Karena itu, Ki Wiradana justru tidak menjawab lagi. Semakin banyak mereka berkesempatan untuk berbicara, maka jantungnya menjadi semakin menggelepar di dalam dadanya sehingga kemarahannya pun menjadi semakin terungkat.

Karena Ki Wiradana tidak menjawab, maka orang itu bertanya, “He, kenapa kau diam saja? Apakah di dalam hatimu, kau mengakuinya sehingga kau mulai memikirkan kebenaran kata-kataku?”

Wiradana masih tetap berdiam diri. Namun ia sudah bersiap untuk berbuat sesuatu jika lawannya mulai menyerang.

Dalam pada itu, para pengawalnya pun telah bersiap pula. Bahkan seorang di antara merekalah yang kemudian menjawab, “Aku menjadi muak mendengar kata- katamu

Ki Sanak.”

“Baiklah,” berkata orang itu. “Aku akan bertempur melawan Ki Wiradana. Kalian minggirlah dan jadilah saksi bahwa Ki Wiradana mati disini karena kesombongannya. Hanya yang akan tinggal hidup sajalah yang memerlukan saksi.” Ki Wiradana tidak dapat menahan kemarahannya lagi. Tetapi ia masih tetap menyadari bahwa ia tidak boleh kehilangan akal dan tetap berpegang kepada nalarnya.

Namun justru karena itu, maka ia pun berusaha untuk menutup mulut lawannya dengan menyerangnya. Jika perkelahian itu segera terjadi, maka orang itu tidak akan berbicara lagi berkepanjangan dan sengaja untuk membuatnya marah.

Atas dasar pertimbangan itulah, maka Ki Wiradana pun telah melangkah mendekati salah seorang di antara mereka. Dengan tangannya ia mulai menyerang, menampar wajah orang yang masih saja akan berbicara itu.

"UH," orang itu bergeser surut, "Kaulah yang mulai."

Ki Wiradana tidak menjawab. Kakinyalah yang kemudian terjulur mengejar orang itu. Tetapi sekali lagi orang itu meloncat surut.

"Jika aku tidak segera mulai, maka mulutmulah yang akan terus menerus membuat hatiku panas. Meskipun aku yang memulainya, tetapi para saksi tahu, bahwa kau berusaha untuk merampok aku," Ki Wiradanalah yang berbicara.

Tetapi ketika lawannya akan menjawab, maka serangan Ki Wiradana menjadi semakin cepat. Ia meloncat mendekat dan sekaligus kakinya telah berputar menyerang lambung.

Orang itu terpaksa bergeser lagi, sementara kawannya masih saja berdiri termangu-mangu.

Dengan demikian, maka pertempuran antara Ki Wiradana dengan salah seorang dari dua orang yang telah mengikutinya sejak dari Pajang itu pun semakin lama menjadi semakin cepat. Ki Wiradana dengan sangat cermat berusaha untuk tidak membuat kesalahan-kesalahan yang berakibat pahit baginya. Ia sadar, bahwa lawannya itu tentu bukan orang kebanyakan. Bahkan ia menduga bahwa dua orang itu pulalah yang telah merampok saudagar emas permata di penginapan di Tanah Perdikan Sembojan dan mengalahkan saudagar itu.

Dalam pada itu, seorang lagi di antara kedua orang itu nampaknya masih belum berbuat sesuatu. Ia masih mengawasi saja kawannya yang sedang bertempur melawan Ki Wiradana.