-->

Suramnya Bayang-Bayang Jilid 13

Jilid 13

Sementara itu ketika Wiradana sampai di rumahnya, Warsi sudah berada kembali di biliknya seperti biasanya. Namun nampak betapa cemas wajahnya ketika ia melihat Wiradana memasuki bilik itu pula.

"Apa yang terjadi kakang?" bertanya Warsi.

"Seperti yang kau katakan, perempuan itu sudah pergi," jawab Wiradana.

Warsi menarik nafas dalam-dalam. Ia berusaha untuk memberikan kesan bahwa ia tidak mengetahui akan hal itu.

Namun dalam pada itu, Warsi pun harus mulai berpikir, jika pada suatu saat perempuan itu berkhianat, maka apakah yang sebaiknya harus dilakukannya. Persoalan itu pun dihubungkannya dengan serombongan penari yang telah menggelisahkan Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan Warsi berpikir lebih jauh lagi, bahwa telah terjadi satu permainan yang sangat rumit yang masih belum dapat dipecahkannya.

Warsi memang tidak begitu percaya kepada kecerdasan berpikir suaminya. Ia memang mencintai suaminya, tetapi baginya suaminya tidak lebih dari seorang laki-laki

yang tampan, yang manarik hati perempuan. Tetapi yang otaknya tumpul dan tidak mempunyai pengamatan yang jauh ke depan.

Bahwa Wiradana terlalu mempercayainya, adalah bukti yang tidak dapat diingkari oleh Warsi sendiri, bahwa suaminya terlalu mudah untuk ditipu. Sehingga justru karena itu, maka Warsi pun mempunyai pendapat seperti itu terhadap suaminya, dalam hubungannya dengan orang-orang lain.

"Mungkin sekali Wiradana juga ditipu oleh iblis betina itu," berkata Warsi di

dalam hatinya. "Bahkan mungkin Iswari itu tidak dibunuhnya dan penari itu memang Iswari itu sendiri."

Wajah Warsi menjadi tegang. Tetapi ia bukan perempuan yang cukup menyerah kepada kebingungan dan putus asa. Ia adalah seorang yang mempunyai tekad yang menyala

di dalam dadanya.

Karena itu, maka ia pun sudah bertekad, bahwa pada suatu ketika ia tidak akan dapat bersembunyi lagi. Ia harus menunjukkan dirinya yang sebenarnya, sementara suaminya harus tunduk kepadanya. Dengan cerdik Warsi memperhitungkan saat-saat yang paling tepat untuk bertindak. Ia harus membiarkan suaminya tersudut dan sulit untuk keluar dari persoalan yang membelitnya. Pada saat yang demikian ia akan tampil untuk menyelamatkannya dan sekaligus memaksa suaminya itu untuk mencium kakinya.

"Ia harus bersedia menjadi laki-laki yang dapat menjadi suami tetapi juga bersedia menjadi budak," berkata Warsi di dalam hatinya. Sementara itu, ia sama sekali tidak ingin melepaskan Tanah Perdikan Sembojan dari tangannya atau keturunannya.

Dalam keadaan yang demikian, maka laki-laki yang disebutnya ayahnya itu sangat diperlukannya. Ia harus dapat bertindak cepat dalam keadaan yang sangat mendesak.

Di luar pengetahuan Wiradana maka pada satu saat laki-laki yang disebut ayahnya

itu dipanggilnya. Dengan sungguh-sungguh Warsi mengatakan keadaan yang mungkin akan dapat menjadi gawat.

“Kau harus pulang menghadap ayah,” berkata Warsi. “Ayah harus mempersiapkan kekuatan yang kami perlukan. Cari semua orang kita yang pada saat tertentu akan dapat kita pergunakan. Kumpulkan mereka dan siapkan mereka untuk tugas-tugas yang mungkin akan cukup berat. Bahkan mungkin akan terpaksa terjadi pertumpahan darah.”

Orang yang diakunya sebagai ayahnya itu mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Apakah aku harus berangkat sekarang?”

“Kau memang sangat dungu,” bentak Warsi. Hampir saja ia menampar mulut orang itu.

“Jangan berbuat sesuatu yang dapat menimbulkan pertanyaan dan kecurigaan. Jika kau tiba-tiba saja minta diri untuk pulang, maka Wiradana akan berpikir.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Baru kemudian ia bertanya, “Jadi bagaimana?”

“Nanti malam kita akan mencari kesempatan. Kita dapat berbicara tentang apa saja. Baru kemudian kau mengatakan, bahwa kau sudah terlalu lama berada disini. Karena itu, maka kau ingin menengok rumah,” jawab Warsi.

Laki-laki itu mengangguk-angguk. Ia harus melakukan peranannya sebaik-baiknya. Jika ia gagal, maka kemungkinan yang terjadi adalah bahwa kepalanya akan dapat dipenggal oleh perempuan yang berwatak seribu itu. Demikianlah, maka ketika mereka duduk mengelilingi makan malam di amben besar di ruang dalam, mereka pun bercakap-cakap tentang banyak hal yang terjadi di Tanah Perdikan Sembojan. Namun agaknya Wiradana dengan sengaja tidak mengatakan tentang kegelisahannya kepada laki-laki yang disangkanya adalah mertuanya. Ia berharap bahwa laki-laki itu dapat tinggal di Tanah Perdikan Sembojan dengan

tenang dan merasa damai.

Dalam kesempatan itulah, maka laki-laki itu pun kemudian menyatakan keinginannya untuk kembal ke rumahnya.

“Sudah lama aku tidak menengok keluarga,” berkata laki-laki itu. “Sudah waktunya aku minta diri.”

“Begitu tergesa-gesa?” bertanya Wiradana.

“Bukankah aku sudah lama berada disini?” sahut laki-laki itu. Kemudian, “Namun dalam pada itu, aku pun tidak akan terlalu lama meninggalkan Warsi. Pada suatu saat yang pendek, aku akan segera datang kembali menengok kalian.”

Wiradana mengangguk-angguk. Jawabnya, “Sebenarnya aku ingin ayah berada di Tanah Perdikan ini lebih lama lagi.”

“Terima kasih. Bukankah aku akan sering datang berkunjung?” berkata laki-laki itu pula.

Wiradana tidak mencegahnya. Bahkan ia pun merasa lapang, jika laki-laki itu tidak berada di Tanah Perdikan justru pada saat Tanah Perdikan itu bergolak.

Karena itu, maka katanya kemudian, “Jika demikian ayah, maka silakan. Tetapi sudah tentu dengan pengertian, bahwa setiap saat kami menunggu kedatangan ayah.”

“Aku tidak akan sampai hati meninggalkan kalian terlalu lama,” jawab laki-laki itu. “Warsi masih terlalu muda. Bukan umurnya tetapi pengalamannya sehinga ia

memerlukan bimbingan yang terus menerus. Mungkin dari suaminya, mungkin dari ayahnya.”

Wiradana mengangguk-angguk. Tetapi Warsi sendiri mengumpat di dalam hati. Meskipun demikian kesan itu sama sekali tidak nampak di wajahnya. Bahkan wajahnya yang nampak luruh itu menunduk dalam-dalam.

Wiradana tidak berusaha untuk menahan lebih lanjut. Ketika matahari kemudian terbit di keesokan harinya, maka Wiradana telah mempersiapkan segala sesuatunya yang akan dibawa oleh ayahnya. Bahkan ia telah menawarkan seekor kuda yang tegar untuk dipergunakan. “Jika ayah ingin mempergunakan seekor kuda, maka kuda yang tegar yang merupakan kuda pilihan bagi Tanah Perdikan ini, dapat ayah pergunakan. Dengan demikian

maka setiap kali ayah dapat menempuh perjalanan dengan waktu yang lebih singkat.”

“Kuda itu memang sangat menarik,” berkata laki-laki itu. “Nampaknya aku akan sangat berterima kasih jika aku berkesempatan untuk mempergunakannya.” Ternyata bahwa laki-laki itu kemudian memang mempergunakan seekor kuda yang tegar dan kuat. Sudah lama ia menginginkan kuda yang demikian. Karena itu maka tawaran Wiradana merupakan satu kebetulan yang sangat menyenangkan.

Sejenak kemudian maka laki-laki itu pun telah berpacu meninggalkan Tanah Perdikan. Segala sesuatunya yang didengarnya dari Warsi memang harus segera disampaikan kepada ayah perempuan itu. Jika terlambat, maka segala impian Warsi akan lenyap ditiup oleh keadaan yang tidak diperhitungkannya sebelumnya.

Perjalanan laki-laki yang disebut ayah Warsi itu memang jauh. Tetapi berkuda maka jarak itu terasa menjadi pendek. Karena itu, maka ia merasa begitu cepat sampai ke padukuhannya meskipun ia telah menempuh perjalanan hampir sehari semalam. Hanya pada saat-saat kudanya terasa letih sajalah ia berhenti untuk memberi kesempatan kudanya minum dan makan rerumputan segar di perjalanan.

Tanpa beristirahat, maka laki-laki yang disebut ayah oleh Warsi itu pun kemudian telah mencari ayah Warsi yang sebenarnya. Nampak pada wajah dan sikapnya, bahwa ada sesuatu yang menggelisahkannya. Karena itu, maka ayah Warsi pun menjadi berdebar-debar pula.

“Apa yang telah terjadi?” bertanya ayah Warsi yang sebenarnya kepada laki-laki itu.

Laki-laki itu pun menceriterakan apa yang telah dialami oleh Warsi. Kegelisahan dan keadaan yang tidak menentu. Setiap saat keadaan di Tanah Perdikan itu akan dapat bergolak.

“Kenapa bergolak,” bertanya ayah Warsi. “Bukankah segala keputusan ada di tangan Wiradana? Seandainya perempuan yang disebut Serigala Betina itu membuka rahasia Wiradana, maka Wiradana akan dapat menangkapnya dengan tuduhan bahwa perempuan

itu telah memfitnahnya.”

“Tetapi bagaimana jika Iswari itu memang masih hidup?” laki-laki itulah yang kemudian bertanya. Ayah Warsi menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar ia bertanya, “Bagaimana menurut Warsi?”

“Warsi tidak mempunyai jalan lain kecuali mempergunakan kekuatan. Jika rahasia itu terbongkar, maka tidak ada pilihan lain kecuali memaksa Wiradana untuk bersikap keras. Tetapi juga mendukungnya dengan kekuatan yang akan dapat melindunginya,” jawab laki-laki itu.

Ayah Warsi mengangguk-angguk. Katanya, “Warsi sudah benar. Tetapi ia tidak perlu merasa terlalu cemas menghadapi keadaan ini. Jika rahasia itu terbongkar, maka Wiradana dapat menakut-nakuti rakyatnya dengan tindakan kekerasan.”

“Itulah yang dimaksud oleh Warsi,” jawab laki-laki itu.

“Aku mengerti. Dan aku sudah membenarkannya. Karena langkah itu meyakinkan, maka

Warsi tidak perlu menjadi gelisah atau ketakutan. Segalanya akan teratasi. Jika perlu harus jatuh korban untuk menunjukkan bahwa Wiradana dan Warsi tidak main-main,” berkata ayah Warsi.

Kemudian hubungan antara Warsi dan Wiradana pun akan berubah. Jika sampai saat ini Warsi adalah seorang perempuan yang manja dan lembut hati, bahkan agak cengeng, maka pada suatu saat ia akan menjadi perempuan yang garang. Dan Wiradana harus menerima kenyataan ini,” berkata laki-laki itu.

Ayah Warsi mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Hal itu tidak dapat diingkari. Biarlah yang akan terjadi itu terjadi. Bukankah Warsi menghendaki atau menyiapkan kekuatan yang setiap saat diperlukan?”

Laki-laki itu mengangguk.

“Baiklah. Mulai besok aku akan bekerja keras. Aku memang menghendaki Warsi tidak menjadi korban dalam keadaan apapun. Karena itu, maka kita harus dapat memenuhi kebutuhannya. Juga menyangkut kekuatan,” berkata ayah Warsi.

Laki-laki itu masih mengangguk-angguk. Ternyata ayah Warsi tahu tepat apa yang diperlukan anak perempuannya. Dengan demikian laki-laki itu tidak akan banyak mengalami kesulitan di dalam tugasnya. Sementara itu Warsi memang sudah berpesan, bahwa jika kekuatan yang diperlukan itu sudah siap, maka laki-laki

yang disebut sebagai ayah Warsi itu harus datang lagi ke Tanah Perdikan Sembojan untuk memberitahukan hal itu kepada Warsi. Sehingga dengan demikian maka Warsi akan dapat mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengatasi persoalan yang mungkin akan memuncak di Tanah Perdikan itu. Dalam pada itu, sebenarnya bahwa ayah Warsi telah bekerja dengan cepat. Ia telah menghubungi beberapa orang pengikutnya dan mereka yang pernah disebut sebagai keluarga Kalamerta. Dengan kesetiaan yang tinggi, maka mereka telah menyatakan untuk tetap berada dalam lingkungan keluarga Kalamerta.

Beberapa orang kemudian telah terkumpul. Orang-orang yang mempunyai kekuatan yang akan dapat membantu Warsi dalam keadaan yang sangat diperlukan. Bahkan orang-orang itu masih saja dibayangi pula oleh dendam karena kematian Kalamerta oleh Ki Gede Sembojan.

“Tetapi kalian tidak akan dapat mendendam kepada Wiradana,” berkata ayah Warsi. “Wiradana sekarang sudah menjadi suami anakku. Bagaimanapun juga Warsi mencintainya dan lebih daripada itu, keturunan Warsi kelak akan dapat menggantikannya menjadi seorang Kepala Tanah Perdikan. Jika ia tidak mempunyai seorang anak laki-laki, maka menantunyalah yang akan menjadi Kepala Tanah Perdikan.”

Tetapi orang-orang itu sudah merasa puas, ketika mereka telah mendengar bahwa Ki Gede Sembojan sendiri sudah terbunuh. Sehingga sasaran dendam yang sebenarnya sudah terselesaikan. Justru oleh Warsi sendiri.

Sementara itu ayah Warsi pun kemudian berkata kepada bekas pengendang Warsi, “Agaknya aku sudah melakukan sebagaimana dikehendaki oleh anakku. Jika diperlukan, maka mereka akan dapat segera datang ke Tanah Perdikan Sembojan kapan saja untuk keperluan apa saja.”

“Baiklah,” berkata orang yang disebut ayah Warsi di Tanah Perdikan Sembojan itu. “Aku akan segera kembali. Tetapi tentu tidak akan terlalu cepat, agar tidak

justru menimbulkan pertanyaan. Namun meskipun demikian, kita wajib mengamati keadaan. Sebaiknya salah seorang dari kita, berada di sekitar Tanah Perdikan

itu. Mungkin kita dapat menemui Warsi jika sekali-kali ia pergi berbelanja meskipun hal ini jarang sekali dilakukan. Namun pada suatu saat, Warsi juga pergi ke pasar. Mungkin Warsi memerlukan sesuatu.”

“Jika demikian kenapa bukan kau sajalah yang pergi?” bertanya ayah Warsi. “Aku sudah banyak dikenal di Tanah Perdikan Sembojan,” jawab orang itu. Ayah Warsi menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba saja ia berkata, “Aku sendiri akan pergi ke Tanah Perdikan itu.”

“Tetapi ingat, ayah Warsi adalah aku,” berkata bekas pengendang itu.

“Ya. Aku akan selalu ingat hal itu. Aku pinjam kudamu. Kuda yang besar dan tegar. Lebih baik dari kuda yang manapun yang kita miliki,” berkata ayah Warsi. “Sebenarnya aku tidak berkeberatan. Tetapi kuda itu adalah pemberian Wiradana. Jika orang-orang Tanah Perdikan itu mengenalinya, mungkin akan timbul persoalan lain tentang kuda itu,” jawab bekas pengendang itu.

“Gila kau,” geram ayah Warsi. “Kau memang kikir sekali.”

“Bukan aku yang kikir,” jawab bekas pengendang itu. “Tetapi terserah kepadamu. Kau tahu darimana aku mendapatkan kuda itu.”

“Persetan dengan kudamu. Aku akan pergi berjalan kaki. Aku akan membawa seorang kawan di perjalanan,” berkata ayah Warsi kemudian.

Dengan demikian, maka sudah menjadi keputusan, bahwa ayah Warsi akan pergi ke Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi ia tidak akan langsung pergi ke rumah Warsi.

Tetapi ia akan mencari kesempatan untuk dapat bertemu dengan Warsi, kemudian menentukan tempat untuk setiap kali dapat berbicara tentang persoalan-persoalan yang menyangkut Warsi, suaminya dan Tanah Perdikan Sembojan.

Sementara itu, di padepokan Tlaga Kembang, Kiai Badra dan kawan-kawannya telah berkumpul. Ternyata mereka memang singgah di padepokan Kiai Badra untuk beberapa saat. Baru kemudian mereka pergi ke padepokan Kiai Soka.

Ketika Iswari yang datang bersama Kiai Badra dan kawan-kawannya melihat perempuan yang disebut Serigala Betina itu, ia terkejut. Namun kemudian hampir di luar sadarnya, Iswari telah berlari dan memeluknya.

“Kapan kau datang Nyai?” bertanya Iswari ketika ia kemudian melepaskan pelukannya.

Wajah perempuan itu menjadi tegang. Terasa pelupuknya menjadi panas. Tetapi ia adalah perempuan yang hidupnya telah ditempa oleh keadaan yang sangat keras, sehingga ia pun kemudian berhasil menguasai perasaannya.

“Aku datang ke padepokan ini bersama Nyai Soka,” jawab perempuan itu. “Syukurlah,” berkata Iswari. “Kami memang mencemaskan keadaan Nyai.” “Nyai Soka tentu akan dapat menceriterakan peristiwa yang mungkin sangat menarik,” berkata perempuan itu.

Nyai Soka tersenyum. Jawabnya, “Sebagaimana juga Iswari tentu akan dapat membuat ceritera yang lebih menarik lagi tentang perjalanannya.”

Iswari mengerutkan keningnya. Namun ia pun tersenyum juga.

Sejenak kemudian mereka pun telah duduk di pendapa padepokan Tlaga Kembang. Beberapa orang laki-laki ada di antara mereka. Laki-laki yang pada umumnya sudah terhitung tua. Termasuk Kiai Badra dan Kiai Soka. Dua orang yang tubuhnya masih nampak kekar dan kuat, yang justru mendebarkan hati perempuan itu. Kedua orang itu sudah dikenal oleh perempuan yang disebut Serigala Betina itu.

“Kau sudah berada disini pula?” berkata salah seorang di antara kedua orang itu. “Ya Kiai,” jawab Serigala Betina itu. “Ternyata Kiai juga berada disini.”

Yang tua, yang bernama Sambi Wulung itu pun bertanya pula, “Kenapa kau tiba-tiba saja berada disini?”

“Sudah aku katakan kepada Nyai Wiradana, aku datang bersama Nyai Soka,” jawab Serigala Betina itu.

“Panggil aku Iswari,” potong Iswari.

“O,” perempuan itu mengangguk. “Aku belum terbiasa memanggil seperti itu. “Mulailah. Kau akan terbiasa mengucapkannya,” berkata Iswari kemudian.

Perempuan yang disebut Serigala Betina itu pun menarik sesuatu yang penting. Mereka berbicara tentang padepokan, tentang musim dan tentang tanaman.

Karena itu, maka Nyai Soka pun kemudian telah mengajak perempuan yang disebut Serigala Betina itu dan Iswari untuk pergi ke belakang.

“Tenaga kami akan lebih berarti di belakang daripada disini,” berkata Nyai Soka. “Mungkin kami dapat membantu masak atau mencuci mangkuk.”

“Silakan,” jawab Kiai Soka. “Kami masih ingin berbicara tentang apa saja.”

Nyai Soka dan kedua perempuan yang lain itu pun telah meninggalkan pendapa. Tetapi ternyata Nyai Soka tidak membawa mereka ke dapur, tetapi mereka masuk ke ruang dalam.

“Nyai,” berkata Nyai Soka kemudian, “Ada yang ingin aku tunjukkan. Bukankah Nyai pernah mempertanyakan tentang penari yang di Tanah Perdikan Sembojan di ributkan mirip dengan Iswari?”

Perempuan itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun mengangguk sambil menjawab, “Ya. Aku memang pernah mempertanyakan hal itu.”

“Bungkusan itu adalah bungkusan yang dibawa oleh salah seorang pembantu kakang Badra. Cobalah lihat, apa isinya,” berkata Nyai Soka.

Perempuan itu termangu-mangu. Namun kemudian ia pun telah membuka bungkusan itu.

Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Aku sudah mengira. Karena itu, aku tidak terlalu terkejut karenanya. Apalagi aku tahu pasti, bahwa Nyai Iswari memang masih hidup.”

Nyai Soka mengangguk-angguk. Iswari sendiri berdiri saja bagaikan membeku. Bungkusan itu adalah bungkusan pakaian seorang penari.

“Nyai,” berkata perempuan itu. “Sebenarnya aku ingin orang-orang Tanah Perdikan Sembojan seluruhnya sempat melihat sendiri, bahwa ada seorang penari yang mirip dengan Nyai Wiradana. Dengan demikian persoalannya akan cepat diselesaikan.

Karena aku yakin, bahwa orang-orang Tanah Perdikan Sembojan tentu sempat berpikir dan mengurai apa yang sebenarnya terjadi. Aku bersedia menjadi saksi

dan memaparkan persoalan yang sesungguhnya itu kepada orang-orang Tanah Perdikan Sembojan.

Iswari tidak segera menjawab. Tetapi matanya justru menjadi redup. Sementara itu, Nyai Sokalah yang menjawab, “Ada banyak pertimbangan pada hati Iswari.”

Perempuan yang disebut Serigala Betina itu mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti perasaan Iswari yang sebenarnya lembut sebagaimana sikapnya. Meskipun suaminya telah berniat dan bahkan telah melakukan usaha untuk membunuhnya, tetapi agaknya sikap Iswari terhadap suaminya tidak akan mungkin sekeras sikap suaminya.

Meskipun demikian, bukan berarti bahwa Iswari harus berdiam diri menghadapi sikap suaminya.

Sebenarnyalah bahwa Nyai Soka pun memberikan beberapa pertimbangan kepada Iswari. Ia dapat saja memaafkan suaminya dan sama sekali tidak ingin membalas dendam. Tetapi ia tidak boleh mengorbankan Tanah Perdikan Sembojan. Mungkin Iswari memang tidak begitu berkepentingan dengan Sembojan, karena Iswari memang bukan orang Perdikan itu. Tetapi anak laki-lakinya adalah pewaris Tanah Perdikan

itu. Seandainya Wiradana mempunyai anak laki-laki yang lain, maka anak laki-laki Iswari adalah anaknya yang pertama. Ia adalah orang yang paling berhak mewarisi Tanah Perdikan itu kelak.

Sementara itu, perempuan yang juga disebut Serigala Betina itu pun kemudian mengetahui selengkapnya tentang rombongan penari yang penarinya mirip sekali dengan Iswari, karena penarinya memang Iswari itu sendiri. Sementara pengiringnya adalah orang-orang tua yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Di samping dari perguruan Guntur Geni itupun telah menggabungkan diri pula bersama

mereka, ditambah dua orang Puthut yang dianggap sudah memiliki kemampuan yang memadai dari perguruan Tlaga Kembang.

Karena itulah, maka rombongan penari yang satu ini sudah barang tentu akan merupakan rombongan penari yang tidak biasa sebagaimana rombongan-rombongan yang

lain. Dalam keadaan tertentu rombongan penari ini akan dapat menghadapi kekuatan yang betapapun besarnya.

Dalam pada itu, orang-orang yang berada di pendapa ternyata telah membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang akan dapat terjadi. Ketika kemudian Iswari keluar sambil menggendong anaknya, maka Kiai Soka pun telah memanggilnya. “Duduklah,” berkata Kiai Soka. “Bukankah anakmu tidak menangis?”

“Tidak kakek,” jawab Iswari.

“Baiklah, dengarlah,” berkata Kiai Soka. “Rasa-rasanya kami bersepakat untuk meneruskan permainan kami sampai seluruh Tanah Perdikan yakin, bahwa kau masih tetap hidup.”

Wajah Iswari menunduk. Ia sama sekali tidak menjawab.

“Iswari,” berkata Kiai Soka. “Menurut Gandar, perempuan yang kemudian menjadi istri Wiradana itu adalah perempuan yang tentu memiliki ilmu yang sangat tinggi. Kau yang baru mulai, masih akan terpaut banyak. Jika kita tidak mulai sekarang maka semakin lama kedudukannya tentu akan semakin kuat. Ia tentu tidak berdiri sendiri, karena ia mempunyai kekuatan ilmu Kalamerta. Karena itu, bukankah lebih baik jika kita mulai seawal mungkin?”

Iswari mengangkat wajahnya sejenak. Namun kemudian kembali wajah itu menunduk. Tidak ada yang dapat dikatakannya kepada Kiai Soka.

Sementara itu, Kiai Badra sendiri hanya dapat memandangi cucunya tanpa berkata sepatah kata pun. Ia sependapat dengan Kiai Soka. Tetapi ia juga mengerti perasaan cucunya.

Karena itu, maka ia menunggu perkembangan keadaan yang mungkin terjadi. Dalam pada itu, Kiai Soka pun kemudian berkata, "Baiklah Iswari. Meskipun kita harus bekerja cepat, tetapi kita masih mempunyai waktu pada saat ilmumu akan dapat menyusul ilmu perempuan iblis yang telah membunuh Ki Gede itu. Nenekmu mempunyai sejenis air yang dapat mempercepat putaran kejadian. Air yang didapatkannya dari tempat yang paling sulit dicapai. Jika ia berkenan, maka ia

akan dapat mempercepat putaran kejadian, termasuk usahamu memperdalam ilmumu." Iswari tidak menjawab. Meskipun demikian ia juga tidak menolak.

Demikianlah, maka ketika Iswari telah meninggalkan mereka maka orang-orang tua itu telah menyusun rencana mereka sendiri. Setiap saat rencana itu akan dapat dimanfaatkan. Meskipun demikian mereka tidak dapat meninggalkan kesediaan Iswari sendiri.

Namun agaknya Kiai Soka telah berbicara kepada Nyai Soka tentang air yang dikatakannya. Air yang dapat mempercepat putaran kejadian, yang disebutnya sebagai Banyu Gege.

Ternyata bahwa Nyai Soka telah memanggil Iswari seorang diri ketika anaknya sudah tidur nyenyak, ditunggi oleh seorang endang yang biasa melayaninya. Bahkan anak itu tidak akan rewel meskipun ditinggal ibunya sampai berhari-hari.

"Iswari," berkata Nyai Soka kemudian. "Apakah kakekmu, Kiai Soka pernah menyinggung tentang Banyu Gege, semacam air yang dapat mempercepat putaran kejadian?"

"Ya nenek. Kakek bermaksud agar aku dapat meningkatkan ilmuku dengan cepat," jawab Iswari.

Tetapi Nyai Soka itu tersenyum. Katanya, "Kakekmu memang benar Iswari. Tetapi yang dimaksud tentu bukan sejenis air yang dapat diminum atau dapat dipergunakan untuk mandi yang kemudian dengan sendirinya segala putaran peristiwa peristiwa akan berlangsung dengan cepat. Kau akan dengan tiba-tiba memiliki ilmu yang tinggi, atau peristiwa-peristiwa seperti itu."

Iswari mengerutkan keningnya. Ia memang menjadi bingung, karena ia kurang mengerti maksud neneknya.

Sementara itu, Nyai Soka berbicara terus, "Iswari. Yang dimaksud tentu satu usaha yang terus menerus, mengalir tanpa henti seperti mengalirnya air. Dengan usaha yang demikian, maka kau akan menjadi semakin meningkat."

Iswari mengangguk kecil. Katanya, "Apapun yang harus aku lakukan, aku tidak akan ingkar nenek. Bukankah selama ini juga aku patuh kepada nenek?"

"Ya. Tetapi untuk mempercepat kemajuanmu, maka segala sesuatunya harus dilakukan berlipat ganda. Kau harus menempuh laku yang sangat berat. Ada dua tugas yang saling bertentangan yang harus kau lakukan. Kau harus memeras tenagamu untuk melakukan latihan-latihan, namun sementara itu, jenis makanan yang boleh kau makan harus dikurangi. Anakmu sudah menjadi semakin besar, sehingga sudah sering kau tinggalkan dan tidak kau susui lagi. Ia sudah tumbuh dan berkembang dengan baik. Karena itu, maka kau dapat meninggalkan beberapa jenis makanan yang selama ini kau makan, apalagi pada saat-saat kau menyusui," Nyai Soka berhenti sejenak, lalu.

“Tetapi kau sekarang sudah dapat menentukan bagi dirimu sendiri. Kau harus mengurangi makan nasi dan rangkaiannya. Kau harus mulai dari sedikit makan empon-empon. Kau harus mengurangi tidur dan kau harus lebih banyak berada di sanggar untuk memusatkan nalar budi. Laku itu harus kau jalani beberapa pekan sebelum pada satu saat, kau akan berpuasa empat puluh hari empat puluh malam. Jenis makanan yang boleh kau makan menjadi semakin me-nyempit. Setelah itu, maka tiga hari kemudian kau harus pati geni. Jika kau kuat melakukannya, maka kau

akan kuat mulai dengan mempelajari satu ilmu yang nggegirisi. Ingat, setelah laku itu, kau baru akan mulai dengan satu latihan dari ilmu itu. Bukan karena laku itu maka kau telah memiliki ilmu itu.”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Dengan demikian maka ia benar-benar akan terjun ke dalam dunia olah kanuragan.

Namun dalam pada itu, neneknya itu pun telah mendesaknya, “Bagaimana pendapatmu Iswari? Apakah kau akan mampu melakukannya? Me-mang dengan laku itu, seakan- akan

berhasil mendalami satu ilmu dengan cara yang lebih cepat dari jalan yang biasa sebagaimana kau tempuh sekarang. Tetapi sebelum kau mulai, kau harus

memikirkannya masak-masak, agar kau tidak akan membuang banyak waktu dan tenaga.

Karena jika berhenti ditengah, maka yang sudah kau korbankan itu akan terhapus dan tidak akan mempunyai nilai apapun juga.”

Iswari berpikir sejenak. Namun bagaimanapun juga, ada juga perasaan yang asing didasar hati-nya terhadap perempuan yang kemudian menjadi Nyai Wiradana. Apalagi anak laki-lakinya pada suatu saat tentu memerlukan perlindungannya, karena anak

itu telah terlepas dari perlindungan ayahnya. Bahkan ayahnya telah sampai hati untuk melenyapkannya bersama ibunya sekaligus.

“Akulah yang harus melindunginya. Aku adalah ibunya sekaligus ayahnya. Padahal perempuan yang kemudian menjadi Nyai Wiradana dan yang tidak mustahil telah membunuh Ki Gede dengan cara yang sangat licik itu adalah perempuan yang memiliki ilmu yang sangat tinggi,” berkata Iswari di dalam hatinya.

Karena itu, maka akhirnya Nyai Wiradana yang telah dianggap terbunuh itu pun mengangguk. Ia lebih banyak berpikir bagi anaknya. Jika ia tidak memiliki ilmu

yang memadai, maka apakah ia akan dapat melindungi anaknya dari tangan Wiradana dan istrinya itu. Namun dengan demikian, maka rencana Kiai Soka untuk mulai lagi dengan permainan rombongan penarinya harus ditunda. Tetapi karena mesu raga itu penting sekali

bagi Iswari, maka tidak ada seorang pun yang berkeberatan. Bahkan murid-murid Guntur Geni itu sudah menyatakan, bahwa untuk sementara mereka tidak akan kembali ke perguruannya, karena beberapa orang sudah mampu untuk melakukan tugasnya, karena perguruannya itu pada dasarnya tidak mempunyai persoalan dengan perguruan yang lain.

Dalam pada itu, maka di hari yang sudah ditentukan, maka Iswari pun telah mandi keramas dengan air landha merang. Kemudian mempersi-apkan diri lahir dan batinnya, untuk memasuki satu masa perjuangan yang sangat berat.

Sehari semalam Iswari berada di dalam sanggarnya dalam doa. Ia telah mendekatkan diri kepada Yang Maha Agung. Dengan tulus ia mohon tuntunan, perlindungan dan kemampuan untuk menyelesaikan usahanya, menempuh laku lahir dan batin.

Ternyata bahwa Iswari benar-benar bertekad mantap. Dengan demikian maka dihari berikutnya, Iswari sudah memasuki masa perjuangannya. Meskipun nampaknya ia tetap melakukan tugasnya sehari-hari, namun waktunya memasuki sanggar menjadi berlipat. Sementara itu ia telah mengurangi jenis makannya sebagaimana biasanya. Ia mulai makan empon-empon sebagaimana dimaksud oleh neneknya.

Namun dalam pada itu, bukan hanya Iswari sajalah yang harus bekerja berat. Tetapi Nyai Soka dan Kiai Soka pun telah bekerja berat pula untuk mewariskan ilmunya kepada cucunya itu.

Dari hari ke hari Iswari berada di dalam sanggar, berlatih dan menambah ilmunya setapak demi setapak. Namun yang dipelajarinya adalah semata-mata ketrampilan wadagnya dan meningkatkan kekuatannya. Usaha untuk membangun tenaga cadangan yang memiliki kekuatan berlipat dari kekuatan wajarnya. Mempertajam inderanya, terutama penglihatan dan pendengarannya, serta mempercerdas daya tangkap dan daya cerna pikirannya.

Dengan sungguh-sungguh dan tidak mengenal lelah Iswari melakukannya. Meskipun demikian kadang-kadang timbul satu pertanyaan dihatinya, bahwa menurut neneknya segalanya baru akan dimulai setelah ia selesai dengan laku yang terakhir, pati

geni.

Tetapi Iswari tidak bertanya. Ia melakukan apa saja yang diajarkan oleh neneknya. Apalagi dalam ujud wadag yang kasat mata dan dapat ditirukan. Jika terjadi kesalahan, maka neneknya atau kakeknya masih dapat membetulkannya. Namun demikian, Iswari masih tetap memikirkan satu masa setelah ia selesai dengan pati geni. Latihan-latihan apa lagi yang harus dilakukan. Jika yang dilakukan itu masih belum dianggap mulai, maka ia tidak dapat membayangkan apa yang harus dilakukan kemudian.

Sementara itu, selagi Iswari berada didalam sanggarnya, hampir disetiap saat,

maka di Tanah Perdikan Sembojan, Wiradana telah mengambil langkah-langkah yang dianggap perlu. Ternyata jalan pikiran Wiradana sesuai dengan jalan pikiran

Warsi, meskipun sebelumnya ia tidak pernah membicarakannya lebih dahulu. Agaknya Wiradana menganggap jika keadaan memaksa, maka sandaran yang paling baik baginya untuk mempertahankan kekuasaannya adalah kekuatan.

Karena itu, maka Wiradana pun telah dengan sungguh-sungguh membangun satu kekuatan untuk memagari kekuasaannya.

“Apakah yang sebenarnya kakang lakukan akhir-akhir ini?” bertanya Warsi yang pura-pura tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh suaminya, “Nampaknya kakang menjadi sibuk sekali.”

Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kepergian perempuan iblis yang disebut Serigala Betina itu membuat aku selalu gelisah. Karena itu, maka aku

ingin meyakinkan diri, bahwa aku mempunyai sandaran kekuatan di Tanah Perdikan ini.”

“O,” Warsi mengerutkan keningnya. “Apakah yang kakang maksudkan? Apakah dengan demikian berarti akan terjadi benturan kekuatan di Tanah Perdikan ini?”

“Mudah-mudahan tidak Warsi,” jawab Wiradana. “Tetapi aku masih selalu cemas bahwa Serigala Betina itu pada suatu saat akan berkhianat. Jika ia membuka rahasiaku, maka mungkin sekali orang-orang Tanah Perdikan ini akan kehilangan

kepercayaan kepadaku. Bahkan mungkin orang-orang yang tidak mempunyai nalar akan dengan cepat mengambil sikap yang dapat menjerumuskan Tanah Perdikan ini ke dalam satu peperangan. Maka untuk mencegah hal itu terjadi, aku harus mempunyai landasan kekuatan. Dengan demikian maka tidak akan ada orang yang berani menentangku dalam keadaan apapun juga.”

Warsi menarik nafas dalam-dalam. Pikiran itu sesuai sekali dengan jalan pikirannya. Tetapi ia masih berpura-pura berkata, “Tetapi aku mohon kakang, jangan sampai terjadi kekerasan lagi. Sepeninggalan Ki Gede, maka rasa-rasanya kekerasan hanya akan menambah korban yang tidak berarti.”

“Aku akan berusaha Warsi. Tetapi jalan yang aku tempuh adalah dengan menyusun kekuatan. Mungkin kau kurang memahami jalan pikiranku. Tetapi hal itu adalah jalan yang sebaik-baiknya yang dapat aku lakukan sekarang ini,” berkata Wiradana.

Warsi tidak menjawab lagi. Wajahnya menunduk, sementara matanya menjadi buram. Namun dalam pada itu, hatinya bergejolak dan berkata, “Aku juga telah menyusun satu kekuatan. Kekuatan itu harus dapat mengatasi semua persoalan. Tetapi

terhadap diri kita masing-masing maka kekuatanmu tidak akan dapat mengimbangi kekuatanku, sehingga kedalam, pada suatu saat kau harus tunduk kepadaku.” Wiradana sama sekali tidak dapat membaca perasaan istrinya. Ia hanya melihat istrinya itu menundukkan wajahnya. Menurut dugaannya istrinya menjadi cemas, bahwa sesuatu akan terjadi di atas Tanah Perdikan Sembojan.

Dalam pada itu, maka Wiradana pun telah melakukan usahanya dengan tidak mengenal lelah. Ia memperkuat pengawal-pengawal yang setia kepadanya. Ia memberikan sesuatu yang lebih banyak kepada mereka. Di setiap padukuhan Wiradana telah menyusun kekuatan pengawal yang khusus akan dapat menjalani perintahnya dengan cepat tanpa mempersoalkan benar atau salah, buruk atau baik.

“Setiap saat aku akan berbicara dengan ayah,” berkata Warsi. “Tetapi kenapa ayah tidak datang ke rumahku.”

“Aku datang sebagai apa?” bertanya ayah Warsi. “Aku tidak akan dapat mengatakan bahwa aku adalah ayahmu.”

Warsi mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Ayah datang sebagai pedagang emas berlian. Apakah aku akan membeli atau tidak, tetapi ayah dapat menawarkannya sekadar untuk datang ke rumahku.”

Ayah Warsi itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baik, aku akan datang.” “Tetapi apakah ayah seorang diri di Tanah Perdikan ini?” bertanya Warsi. “Tidak. Aku datang bersama seorang keluarga kita,” jawab ayahnya. “Siapa?” bertanya Warsi.

“Dampa,” jawab ayahnya.

Warsi menarik nafas. Dampa adalah seorang yang cukup unik untuk mengawali ayahnya, karena menurut pengertian Warsi, Dampa adalah seorang yang memiliki ilmu yang termasuk paling baik di antara kawan-kawannya.

“Baik ayah,” berkata Warsi kemudian. “Aku menunggu kedatangan ayah Sementara itu, dalam satu kesempatan, ayah akan dapat berceritera tentang kekuatan yang sudah ayah siapkan.” Warsi pun kemudian berpisah dari ayahnya. Sambil menjinjing kampil kecil, ayahnya menyusup di antara orang-orang sibuk di dalam pasar.

Namun ternyata bahwa baik Warsi maupun ayahnya sama sekali tidak mengetahui, bahwa di antara mereka yang ada di pasar itu, seseorang tengah memperhatikan mereka dengan seksama.

Ketika Warsi berpisah dengan ayahnya, maka orang itu pun telah bangkit pula dari tempatnya, duduk bersila di antara orang-orang yang sedang memilih alat-alat untuk bekerja di sawah yang dijajakan dekat dengan pintu masuk pasar yang hanya ramai sepekan sekali itu, sambil menjinjing sebuah linggis untuk mengupas

kelapa.

“Mudah-mudahan linggis ini tidak cepat tumpul,” berkata orang itu.

“Aku tanggung,” berkata penjualnya. “Jika kelak menjadi tumpul bawa kemari.” “Untuk apa?” bertanya pembeli linggis itu. “Akan diganti yang lebih baik?” “Tidak. Hanya untuk melihat apakah benar linggis itu menjadi tumpul,” jawab penjual linggis itu sambil tertawa.

Orang yang membeli linggis itu tertawa pula. Tetapi ia bergumam, “Awas, jika linggis itu tumpul, aku minta uang kembali.”

Warsi lewat di belakang orang itu. Tetapi Warsi tidak memperhatikannya. Sementara orang itu sempat pula berpaling dan memandanginya.

“Cantik sekali,” desis orang itu.

“He, jangan mencoba mengganggunya jika kepalamu tidak ingin tembus oleh linggismu sendiri,” sahut penjual linggis itu.

“Aku tahu, bukankah perempuan itu Nyai Wiradana,” sahut orang yang membeli linggis itu. “Dan bukankah aku hanya sekadar memujinya.”

Penjual linggis itu mengumpat. Tetapi pembelinya tidak mendengarnya. Sejenak kemudian pembeli linggis itu pun telah meninggalkan tempat itu. Ia berjalan di antara orang-orang yang sibuk berada di pasar dengan kepentingan mereka masing-masing. Namun demikian ketajaman penglihatannya masih

me-mungkinkannya untuk melihat arah perjalanan orang yang baru saja berbicara dengan Nyai Wiradana.

Di sudut pasar ternyata telah menunggu seorang kawannya yang disebut Dampa itu. Kemudian berdua mereka keluar dari pasar dan berjalan menyusuri jalan dimuka pasar itu. Mereka berjalan perlahan-lahan saja, tanpa memperhatikan orang-orang yang masih berjejalan di dalam pasar. Namun ternyata orang itu tidak lepas dari pengamatan orang yang membeli linggis.

Meskipun ia tidak mengikutinya, tetapi di sore hari orang yang membeli linggis itu telah duduk di dalam sebuah kedai yang besar di ujung jalan. Sambil membeli beberapa jenis makanan ber-sama seorang kawannya, maka ia bertanya, “Apakah saudagar intan berlian itu masih ber-malam di sini?”

Pemilik kedai itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Kenapa dengan saudagar itu?”

“Tidak apa-apa. Aku tidak tahu bahwa ia ada disini malam ini sehingga aku tidak mengajak istriku,” berkata orang itu

“Kenapa dengan istrimu?” bertanya pemilik warung.

“Ia memerlukan sepasang giwang untuk anaknya yang tiga hari lagi akan dibawa suaminya ke Pajang,” berkata orang itu.

“Sekarang kau dapat menemuinya,” berkata pemilik warung, “Ia di dalam.” “Biarlah. Besok aku akan datang dengan istriku,” berkata orang itu.

Sejenak kemudian, maka kedua orang itu pun telah meninggalkan warung itu. Seolah-olah tidak ada persoalan yang terselip di dalam pertanyaan-pertanyaannya tentang saudagar intan berlian itu.

Dalam pada itu, pemilik kedai itu pun tidak lagi menghiraukan apa yang dikatakan oleh kedua orang yang pernah membeli makanan di warungnya. Ia pun tidak menghiraukan ketika hari berikutnya orang itu pun tidak datang lagi, apalagi dengan istrinya.

Sementara itu, sebagaimana dikatakan, maka di sore hari berikutnya ayah Warsi bersama seorang kawannya telah ke rumah Ki Wiradana. Keduanya diterima sebagaimana mereka menerima orang asing yang belum pernah dikenalnya. Sikap Warsi pun cukup meyakinkan bahwa ia belum mengerti orang yang baru datang itu. Namun dengan bahasa yang tersusun, orang itu pun kemudian berhasil meyakinkan kepada Ki Wiradana, bahwa ia datang untuk menawarkan beberapa jenis perhiasan yang dibawanya. Intan berlian dan emas.

“Kami mohon maaf Ki Wiradana, mungkin kedatangan kami terlalu tiba-tiba dan tidak memberitahukan sebelumnya. Tetapi bukankah kami tidak terlalu mengganggu.

Segalanya terserah. Kami adalah pedagang-pedagang yang menawarkan kepada mereka yang kami anggap mempunyai kemungkinan untuk membeli. Seandainya tidak dapat dibayar sekaligus, maka kami tidak berkeberatan untuk menerima pembayarannya dalam tahap-tahap, karena kami yakin bahwa Ki Wiradana tentu akan dapat memenuhinya pada saat-saat yang dijanjikannya,” berkata ayah Warsi yang mengaku sebagai pedagang intan berlian itu.

Wiradana memandang istrinya, Katanya, “Segala sesuatunya terserah kepada istriku. Jika ia menyenangi salah satu dari perhiasan yang Ki Sanak bawa, serta harga yang kau tawarkan wajar, maka mungkin sekali kami akan membelinya.”

“Tentu,” berkata saudagar itu, “Kami tidak pernah menawarkan harga barang-barang kami dengan berlebih-lebihan. Kami akan mengambil keuntungan yang

sekecil-kecilnya, namun jika barang kami sering laku maka yang kecil itu pun akan menjadi besar.”

Wiradana memang menyerahkan segalanya kepada istrinya. Ada beberapa barang perhiasan yang dilihat oleh Warsi. Tetapi Warsi masih belum memutuskan untuk mengambil yang mana di antara barang-barang itu.

“Apakah Ki Sanak besok masih ada disini?” bertanya Warsi.

“Ya. Aku masih berada disini untuk beberapa hari. Aku ingin datang ke rumah beberapa orang kaya di Tanah Perdikan ini. Mungkin Ki Wiradana dapat membantu kami, sekadar menunjukkan kepada siapa kami harus menawarkan barang-barangku. Bukan dengan satu kepastian untuk dibeli. Hanya sekadar menawarkan saja,” jawab orang itu.

“Jika demikian Ki Sanak,” berkata Nyai Wiradana. “Datanglah besok kemari. Aku akan memikirkannya dan memilih. Apakah Ki Sanak tidak berkeberatan untuk meninggalkan beberapa macam perhiasan itu disini?”

“Tentu,” jawab pedagang itu, “Aku tidak akan mencurigai Nyai Wiradana, istri pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi sudah tentu hanya satu atau dua saja, sebab yang lain harus aku tawarkan kepada orang lain lagi.

Warsi pun kemudian memilih dua macam perhiasan. Seuntai kalung dan sepasang giwang. Katanya, “Mungkin aku akan membeli salah satu di antara keduanya. Bukan kedua-duanya.”

Dengan demikian maka kesengajaan Warsi untuk memberi kesempatan ayahnya datang ke rumahnya itu dimengerti oleh ayahnya. Karena itu, maka ia pun benar-benar

telah meninggalkan dua macam perhiasan di rumah Warsi.

Ketika keduanya kembali ke penginapan, maka ayah Warsi itu pun berkata,

“Ternyata aku mendapat kesempatan lebih baik untuk berhubungan dengan Warsi dari sekadar mencegatnya di pasar. Besok aku akan datang dan mudah-mudahan persoalannya tidak cepat sekali, sehingga aku akan mendapat kesempatan untuk hilir mudik.”

Dampa tersenyum. Katanya, “Warsi memang seorang yang cerdik. Nampaknya suaminya

sangat sayang kepadanya.”

“Ia adalah anakku. Ia mewarisi kecerdikan, kepandaian dan kemampuan olah kanuragan seperti aku juga,” berkata ayah Warsi sambil tertawa.

Dampa itu pun tertawa pula. Sebenarnya bahwa Warsi memang seorang perempuan yang

pandai mempergunakan segala kesempatan.

Ayah Warsi itu kembali ke kedai tempat ia menginap telah malam mulai turun. Ia memasuki kedai yang sudah memasang lampu. Demikian ia bersama kawannya selesai makan malam, maka keduanya telah memasuki bilik yang disediakan bagi mereka.

Tetapi ternyata telah terjadi sesuatu yang tidak terduga sebelumnya. Malam itu, dua orang dengan diam-diam telah mendekati kedai tempat saudagar intan berlian itu menginap.

“Kita akan menunggu sampai tengah malam,” berkata seorang dari kedua orang itu. Kawannya mengangguk-angguk. Namun agaknya tengah malam sudah tidak terlalu jauh lagi.

Malam itu, udara terasa sejuk. Meskipun langit berawan tipis, tetapi angin semilir bertiup di antara dedaunan.

Pada lewat tengah malam, dua orang telah dengan diam-diam memasuki kedai tempat saudagar intan berlian itu menginap. Mereka dengan hati-hati telah merusak pintu dan masuk ke dalamnya. Meskipun tidak ada lampu sama sekali di dalam kedai itu, namun kedua orang yang memasuki pintu itu ternyata dapat melihat meskipun tidak sejelas dalam sinar lampu minyak.

Di bagian belakang kedai itu, terdapat sebuah pintu. Jika mereka mamasuki pintu itu terdapat sebuah ruang yang luas dengan amben-amben yang besar. Beberapa orang pedagang bermalam disitu dan tidur berjajar di amben besar itu. Sebuah amben besar buat laki-laki dan sebuah amben besar buat perempuan.

Tetapi agaknya pedagang intan berlian itu tidak mau tidur dalam keadaan demikian. Ia dan seorang kawannya telah minta disediakan secara khusus sebuah bilik.

Meskipun bilik itu sempit, tetapi cukup memadai bagi dua orang yang mengaku saudagar intan berlian itu, karena dengan demikian mereka tidak harus tidur berhimpitan dengan orang-orang yang tidak dikenalnya.

Kedua orang yang memasuki kedai dengan diam-diam itu telah berusaha membuka pintu itu. Perlahan-lahan sekali, agar deritnya tidak membangunkan orang-orang yang sedang tidur nyenyak.

Demikian pintu terbuka, maka keduanya tertegun. Mereka mendengar dengkur yang keras di antara orang-orang yang menginap di ruang yang besar itu. Namun agaknya hari itu, yang menginap di bilik itu tidak cukup banyak sebagaimana hari-hari pasaran.

Dengan hati-hati kedua orang itu mendekati orang-orang yang sedang tidur

nyenyak. Namun ternyata mereka tidak menemukan pedagang intan berlian, sehingga kedua orang itu kemudian menduga bahwa keduanya telah ditempatkan ditempat yang lain.

Karena itu, maka mereka pun telah mencari pintu lain yang menghubungkan ruang yang besar itu dengan ruang yang lain. Ketika mereka menemukan pintu itu, maka mereka pun kemudian berusaha untuk membukanya.

Tetapi kedua orang itu menyadari bahwa kedua orang mengaku pedagang intan berlian itu orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Apalagi orang yang mencoba mendengarkan percakapan orang itu dengan Nyai Wiradana, melihat sikap Nyai Wiradana yang cukup hormat dan sebutan terhadap orang itu, bahwa orang itu adalah ayahnya. Bahkan ayah yang sesungguhnya.

"Kita harus berhati-hati," desis yang seorang. "Kita tidak boleh gagal. Sudah berhari-hari kita mengamati Nyai Wiradana dan yang kemudian kita berhasil

menemukan pertemuannya dengan ayahnya yang mengaku saudagar ini. Kita harus memanfaatkan keadaan ini."

Kawannya mengangguk. Namun dengan demikian keduanya telah bersiaga sepenuhnya menghadapi keadaan yang mungkin akan berkembang dengan cepat.

Perlahan-lahan pintu itu didorong ke samping. Sedikit demi sedikit pintu itu

terbuka. Namun mereka tidak dapat menghindari sepenuhnya derit pintu yang sedang dibuka itu.

Karena itu, maka bunyi pintu itu telah membangunkan kedua orang yang berada di dalamnya. Seandainya keduanya bukan orang-orang berilmu yang memiliki indera yang tajam, maka derit pintu itu tidak akan membangunkannya. Tetapi karena keduanya adalah orang-orang yang berilmu tinggi, maka ternyata bahwa keduanya telah terbangun. Ketika kedua orang itu melihat pintu terbuka dan ada orang yang berusaha memasuki bilik itu, maka keduanya pun segera bersiaga.

Ayah Warsi yang kemudian berdiri didepan itu pun bertanya, "Ki Sanak. Apa maksudmu malam-malam begini memasuki bilik tidurku."

"Jelas," jawab orang itu. "Aku datang untuk mengambil perhiasan-perhiasan yang kau bawa. Apakah kau berkeberatan?"

"Jangan gila," geram ayah Warsi. "Barang-barang itu adalah barang daganganku." "Apapun yang kau katakan, kami datang untuk mengambilnya," jawab orang itu.

"Kau sangka kau dapat menakut-nakuti kami? Agaknya kau memang belum mengenal kami. Nasibmu kali ini ternyata sangat buruk, bahwa kalian telah merampok kami," berkata ayah Warsi.

"Kami telah marampok puluhan orang dan berhasil dengan baik. Kali ini pun kami akan berhasil merampok perhiasan yang kau bawa dengan hasil yang baik pula," berkata orang yang memasuki bilik itu.

"Perampok yang malang," desis ayah Warsi. "Aku peringatkan sekali lagi, bahwa aku bukan pedagang kebanyakan. Jika kau tidak ingin mati, pergilah. Aku tidak akan mengganggumu."

"Jangan banyak bicara," geram orang yang memasuki bilik itu. "Serahkan semua perhiasanmu. Aku tidak mempunyai banyak waktu."

Keributan itu agaknya telah membangunkan pula orang-orang yang tidur di ruang yang besar itu. Mereka berloncatan turun dari pembaringan. Ada di antara mereka yang segera menghadapi apa yang terjadi, namun ada yang masih bertanya-tanya. Sementara itu, ada orang yang merasa dirinya wajib ikut menangkap orang yang akan merampok itu, sementara ada yang menjadi ketakutan.

Namun dalam pada itu, ayah Warsi itu pun berkata, "Lihatlah. Orang-orang itu

sudah terbangun. Apa yang dapat kau lakukan kemudian? Mereka akan beramai-ramai menangkapmu dan kemudian menyeretmu ke Ki Wiradana, pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan di Sembojan ini."

"Jangan banyak cakap. Serahkan, atau kau berdua akan mati disini," geram orang yang ingin merampok itu.

Ayah Warsi bukan orang yang sabar. Karena itu, ketika orang yang dianggapnya

akan merampok itu membentaknya, maka ia pun membentak pula sambil melangkah maju. Disambarnya pedang yang berada dibawah tikar tempat ia tidur. "Aku memang ingin membunuhmu dan membuktikan kepada orang-orang Sembojan, bahwa

semua kejahatan di Sembojan akan dapat dilawan dan dibinasakan," geram ayah Warsi itu.

Kedua perampok itu pun bergeser surut. Orang-orang yang semula berada di luar pintu pun telah menyibak. Sementara itu ayah Warsi dan Dampa telah melangkah maju pula.

"Di sini tempatnya agak luas," berkata orang yang disangka perampok itu. "Kami

akan membunuh kalian berdua kemudian mengambil barang-barang yang kalian bawa," orang itu terdiam sejenak. Kemudian sambil berpaling kepada orang-orang yang ada disekitarnya di dalam bilik yang luas itu, ia berkata, "Siapa yang akan ikut

campur?

Aku menasihatkan kepada kalian untuk tidak mencampuri persoalan kami. Aku akan merampok barang-barangnya. Bukan barang-barang kalian. Karena itu, kalian tidak usah melibatkan diri, karena melibatkan diri dalam pertempuran bersenjata akan dapat berakibat maut. Selebihnya, kami akan dapat mendendam kepada orang-orang yang membantu menggagalkan usaha kami.

Wajah orang-orang yang berada di ruang itu pun menjadi tegang. Namun ayah Warsi pun berkata, "Baiklah. Aku sependapat. Jangan turut campur. Persoalan ini adalah persoalan kami. Orang-orang itu akan merampok barang-barangku. Karena itu, maka aku berhak untuk membunuh mereka," lalu katanya kepada kawannya, "Marilah Dampa, kita selesaikan saja mereka. Baru nanti kita akan melaporkan kepada Ki Wiradana bahwa kita terpaksa membunuh untuk mempertahankan barang-barang milik kita yang akan dirampok."

Kedua orang yang ingin merampok barang-barang saudagar emas itu pun telah bersiap pula. Ketika mereka berpencar, maka orang-orang yang ada di ruang itu pun menyibak. Bahkan perempuan-perempuan telah saling berdesakan disudut ruangan.

Dalam pada itu, dua orang yang ingin merampas barang-barang milik saudagar itu masih berkata, "He, apakah kalian tidak memanggil para pengawal Tanah Perdikan jika kalian takut menghadapi kami berdua."

"Persetan," geram ayah Warsi, "Bersiaplah untuk mati."

Sebelum orang yang akan merampas barang-barang itu sempat menjawab, ayah Warsi telah mencabut pedangnya. Agaknya ia tidak ingin berlama-lama bertempur. Ia ingin segera membunuh perampok itu dan menyerahkan mayatnya kepada Wiradana. Dengan demikian, maka dengan tidak langsung ia telah menunjukkan kepada anak perempuannya, bahwa ia telah siap untuk membantu apapun yang terjadi di Tanah Perdikan Sembojan.

Sejenak kemudian pertempuran telah terjadi di dua lingkaran. Ayah Warsi dan

Dampa masing-masing melawan seorang dari kedua orang yang akan merampok mereka itu.

Dengan demikian, maka orang-orang yang berada di dalam bilik itu pun menjadi ketakutan. Mereka melihat ilmu pedang yang tidak mereka mengerti. Benturan senjata dan teriakan-teriakan nyaring.

Pertempuran itu semakin lama menjadi semakin cepat. Ternyata bahwa ayah Warsi, keluarga Kalamerta, memang memiliki ilmu yang nggegirisi. Pedangnya berputar seperti baling-baling. Sekali-kali mematuk dengan cepat mengarah ke jantung lawan.

Dengan demikian, maka perampok yang melawannya itu pun harus mengerahkan segenap

kemampuannya. Dengan ilmu pedang yang jarang ada bandingnya ia melawan ayah Warsi itu. Pedangnya mampu berputar cepat sekali. Bahkan kemudian bagaikan kabut putih yang melingkari tubuhnya, sehingga sulit bagi lawannya untuk menembus perisai putaran pedang itu.

Sementara itu, Dampa telah mempergunakan senjatanya pula. Ia tidak terbiasa mempergunakan pedang. Tetapi ia lebih senang mempergunakan sepasang tongkat baja yang dirangkaikan dengan seutas rantai. Dengan kemampuan yang sangat tinggi,

maka senjata itu benar-benar merupakan senjata yang sulit untuk dilawan. Kedua tongkat itu kadang-kadang berputar. Namun kadang-kadang mematuk kepala dengan kerasnya. Bahkan sebelah tongkat baja itu dapat bagaikan terbang menyambar lawannya.

Salah seorang di antara kedua orang yang akan merampok perhiasan itu menempatkan diri menjadi lawannya. Senjatanya adalah sepasang trisula bertangkai pendek.

Dengan demikian maka pertempuran itu pun memerlukan tempat yang semakin luas, karena ayunan senjata yang semakin panjang menjangkau loncatan-loncatan lawannya. Tongkat bertangkai itu dapat digenggam untuk bertempur pada jarak jangkauannya, tetapi dapat pula berputar sepanjang rantai yang mengikatnya.

Agaknya orang yang ingin merampok itu merasa, ruangan itu terlalu sempit untuk menghadapi senjata lawannya yang menggetarkan, sehingga karena itu, maka ia pun telah bergeser ke pintu.

Ketika ia mendapat kesempatan, maka ia pun telah meloncat dan membuka pintu itu. Kemudian meloncat turun ke halaman.

Dengan demikian, maka dua lingkaran pertempuran itu terjadi di dua bagian penginapan itu. Yang satu berada di dalam dan yang lain berada di luar.

Pertempuran itu benar-benar merupakan pertempuran yang menggetarkan. Di ruang depan penginapan itu, dua orang yang memiliki ilmu pedang yang matang telah mengerahkan kemampuan masing-masing. Bahkan ayah Warsi merasa beruntung, bahwa

ada orang yang berusaha untuk merampoknya.

Dengan demikian ia dapat menunjukkan kepada anaknya dan juga kepada Ki Wiradana yang tidak mengenalnya sebagai mertuanya, bahwa ia telah berjasa bagi Tanah Perdikan Sembojan. Dengan demikian maka ia akan mendapat kepercayaan yang lebih besar dari Ki Wiradana. Ia akan dapat mondar-mandir di Tanah Perdikan itu tanpa dicurigai dan bahkan ia akan mendapat kesempatan ikut berkuasa karena kemampuannya.

"Jika aku menunjukkan bahwa aku mempunyai kekuatan, maka aku tentu akan ikut mendapatkan kekuasaan. Apalagi apabila pada suatu saat Warsi berhasil mendorong Wiradana untuk mengeterapkan kekuatan untuk memperkuat kekuasaannya apabila persoalan-persoalan yang pernah dilakukan itu akhirnya diketahui oleh orang banyak," berkata ayah Warsi di dalam hatinya.

Karena itu, maka ia pun telah berusaha untuk dalam waktu singkat melumpuhkan perampok itu dan kemudian baru memberitahukan kepada Ki Wiradana.

Orang-orang yang ketakutan di penginapan itu sama sekali tidak berani berbuat sesuatu. Mereka berdesakan di sudut ruang dengan wajah yang pucat. Sebelumnya mereka belum pernah mengalami perampokan seperti itu.

Sedangkan di halaman pertempuran antara Dampa dan seorang di antara kedua orang yang akan merampok itu menjadi semakin sengit. Ternyata keduanya telah mempercayakan diri kepada kekuatan mereka. Benturan-benturan yang keras telah terjadi, sehingga bunga-bunga api pun berloncatan di udara memercik seperti

bintang-bintang kecil yang berhamburan mengoyak gelapnya malam.

Demikian pertempuran di dua lingkaran itu benar-benar merupakan benturan ilmu yang tinggi. Namun kemudian mulai nampak geseran keseimbangan dalam pertempuran itu. Baik di dalam, maupun diluar.

Ternyata bahwa kedua perampok itu memiliki ilmu yang lebih baik dari ayah Warsi dan kawannya. Perlahan-lahan keduanya mulai terdesak. Bahkan Dampa mulai kehilangan pengamatan atas senjatanya, ketika ujung senjata lawannya mulai menyentuh tubuhnya.

"Gila," Dampa sedikit berteriak. Sementara perampok yang melawannya itu tertawa. Katanya, "Ayo Ki Sanak. Apakah yang sebenarnya kau banggakan?"

Tongkat baja itu pun kemudian berputaran semakin cepat memagari tubuhnya. Tetapi benturan yang terjadi telah merusakkan putaran senjatanya itu. Bahkan dalam

usaha untuk memperbaiki keadaan, maka lawannya telah mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya untuk menyerang.

Sambil menyeringai kesakitan, Dampa meloncat surut. Namun ternyata darah telah mengalir dari tubuhnya.

Dengan demikian, kemarahan yang membakar jantungnya bagaikan telah mendidihkan darahnya. Tetapi ia tidak dapat ingkar dari kenyataan, bahwa lawannya telah

berhasil melukainya.

Pertempuran semakin lama menjadi semakin kasar. Dampa yang berusaha untuk bertempur dengan cara yang lebih baik dari kebiasaannya, dalam keadaan terdesak, tidak lagi dapat menyembunyikannya watak dan sifatnya. Sebagai pengikut Kalamerta yang hidup dalam dunia yang hitam, maka ia adalah orang yang kasar dan adalah menjadi kebiasaannya untuk bertempur dengan kasar pula.

Tetapi lawannya sama sekali tidak terkejut ketika ia melihat perkembangan ilmu lawannya. Namun demikian ada yang mulai dipikirkannya. Dampa bertempur sambil berteriak-teriak. Mengumpat dengan kasar dan mengaum bagai serigala.

Orang-orang yang berada di dalam penginapan itu menjadi semakin ngeri. Karena mereka tidak melihat, maka yang mereka sangka berteriak menggetarkan jantung itu adalah justru salah satu dari kedua perampok itu.

Namun kawan perampok itu sendiri dan sebagaimana juga ayah Warsi, mengerti bahwa yang berteriak-teriak kasar itu adalah Dampa.

Dengan nada rendah salah seorang yang akan merampok ayah Warsi dan sedang bertempur melawannya itu berkata, Nah kau dengar, kawanmu bukan seorang yang bertabiat lembut. Ia justru jauh lebih kasar dari kawanku. Seorang perampok. He, apakah memang demikian kebiasaan para saudagar? Namun dengan cerdik ayah Warsi menjawab, Aku tidak peduli. Aku bawa orang itu untuk mengawalku siapapun dia. Tetapi selama ini aku mempercayainya karena kesetiaannya.

Tetapi Ki Sanak, berkata lawan ayah Warsi. Ada satu hal yang harus aku pertimbangkan. Kawanmu telah berteriak-teriak seperti orang kesurupan. Dengan demikian maka ada satu kemungkinan bahwa kawanmu telah menarik perhatian orang lain yang akan melaporkannya kepada para pengawal.

Persetan dengan para pengawal. Aku tidak memerlukan para pengawal. Justru aku akan menyerahkan mayat kalian kepada para pengawal Tanah Perdikan Sembojan, jawab ayah Warsi.

Mungkin kau berpendirian begitu, jawab lawannya. Tetapi orang lain yang tidak tahu menahu tentang keinginan itu, akan dapat mengambil sikap. Mereka melihat perkelahian di halaman itu. Kemudian dengan tidak menghiraukan sikapmu, mereka berlari-lari melaporkan para pengawal.

Tetapi jika para pengawal itu datang, aku akan minta kepada mereka untuk menjadi saksi, bahwa malam ini aku telah membunuh perampok di Tanah Perdikan Sembojan, Tanah yang biasanya tenang dan tentram, jawab ayah Warsi.

Lawannya tertawa. Katanya, Agaknya memang sudah sampai waktunya kita mengakhiri permainan ini.

Ya. Permainan ini akan segera berakhir dengan kematianmu, geram ayah Warsi. Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Tiba-tiba saja kemampuan lawan ayah Warsi itu masih juga mampu meningkat. Bahkan sejenak kemudian, ayah Warsi seolah-olah telah kehilangan kemampuan untuk mengikuti kecepatan gerak lawannya yang membingungkan.

Dengan demikian, maka seperti Dampa yang bertempur di halaman, maka ujung senjata orang yang akan merampok itu telah mulai menyentuh tubuh ayah Warsi. Segores luka telah menyilang di dadanya, sehingga darahnya pun telah mengalir pula membasahi pakaiannya.

Dalam pada itu, sebenarnyalah pertempuran itu memang telah menarik perhatian orang-orang disekitar penginapan itu. Teriakan-teriakan Dampa memang sudah membangunkan orang-orang yang tinggal tidak terlalu jauh dari warung itu. Karena itu, dengan berbagai pertanyaan di dalam diri mereka, maka mereka pun telah keluar dari rumahnya untuk melihat apa yang telah terjadi.

Orang-orang itu terkejut ketika mereka melihat perkelahian di halaman penginapan itu. Ada di antara orang-orang itu yang justru menjadi ketakutan dan kembali masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintu rapat-rapat. Tetapi ada pula yang menghubungi tetangganya sambil berkata, "Kita harus melaporkannya." Berbeda dengan orang-orang yang terjebak di dalam penginapan itu, maka orang-orang yang tinggal disebelah menyebelah penginapan dan tidak begitu mengetahui persoalannya, mempunyai kesempatan untuk berbuat sesuatu.

Karena itu, dua orang telah berlari ke gardu di mulut padukuhan, sementara orang lain telah langsung pergi ke sebuah kentongan disudut rumahnya, telah menyambung isyarat itu dengan irama yang sama.

Dalam waktu yang singkat, maka Tanah Perdikan Sembojan telah menjadi ribut. Ketika para peronda di gardu mendengar laporan tentang peristiwa yang terjadi di penginapan itu, maka mereka pun dengan segera berlari-lari menuju ke tempat kejadian. Namun demikian ketika mereka menjadi semakin dekat, merekapun menjadi ragu-ragu.

"Dimana para pengawal," anak-anak muda itu saling bertanya.

Namun mereka tidak menunggu terlalu lama. Beberapa orang pengawal yang tinggal di padukuhan itu pun segera berada di sekitar penginapan itu. Meskipun mereka belum mengambil satu tindakan, namun dua orang di antara mereka telah berpacu untuk menyampaikan laporan kepada Ki Wiradana.

Demikian dua ekor kuda berderap dengan kencangnya, maka para pengawal pun telah mengepung penginapan itu bersama anak-anak muda yang sedang meronda. Namun, sebenarnyalah hati mereka menjadi berdebar-debar.

Satu dua orang pengawal yang berani telah mendekati pintu gerbang halaman dan dengan sangat hati-hati membuka pintu gerbang itu. Tetapi ternyata mereka sudah tidak melihat sesuatu. Tidak ada perkelahian di halaman dan tidak ada suara apapun juga.

Dalam keragu-raguan itu, para pengawal mendengar derap kaki kuda mendekat. Beberapa orang pengawal telah datang bersama dengan Ki Wiradana sendiri. "Apa yang telah terjadi?" bertanya Wiradana.

"Kami baru menyelidiki," jawab seorang pengawal. "Tetapi seseorang telah melihat perkelahian di halaman ini. Perkelahian yang sangat mengerikan. Seorang di antara mereka yang berkelahi itu berteriak-teriak dengan keras dan bahkan mengaum seperti serigala."

"Dan kalian tidak memasuki halaman penginapan itu?" bertanya Wiradana. "Kami memang akan memasukinya. Tetapi justru karena pertempuran itu sudah selesai, maka kami merasa harus berhati-hati," jawab pengawal itu.

"Pengecut," geram Wiradana. "Ikut aku."

Wiradanalah yang kemudian memasuki halaman itu pertama-tama. Meskipun demikian ia tidak meninggalkan kewaspadaan. Senjatanya telah terhunus dan teracu ke

depan. Siap untuk mematuk jantung.

Tetapi penginapan itu sudah menjadi sepi. Tidak ada lagi suara pertempuran. Bahkan seakan-akan penginapan itu telah menjadi sebuah rumah yang kosong dan tidak berpenghuni sama sekali.

Tetapi Wiradana terkejut ketika ia melihat sesosok tubuh yang berbaring di dalam kegelapan. Dengan serta merta ia telah mendekatinya. Selangkah dari tubuh itu Wiradana berhenti dan berkata kepada seorang pengawalnya, "Lihat, siapakah orang itu."

Para pengawal yang kemudian memperhatikan tubuh itu menggeleng sambil menjawab, "Aku belum mengenalnya."

Tetapi tiba-tiba saja seorang di antara mereka berkata, "Orang ini adalah salah seorang yang menginap di warung ini. Aku melihatnya ketika aku sedang makan di warung ini. Ia adalah kawan saudagar yang juga menginap di penginapan ini pula."

"He," Wiradana terkejut. "Apakah orang itu sudah meninggal?"

Pengawal itu menggeleng, jawabnya, "Ia masih hidup. Tetapi ia berada dalam keadaan yang parah."

"Panggil seseorang yang dapat mengobatinya. Cepat," berkata Wiradana. Sementara Wiradana sendiri yang menjadi cemas tentang saudagar emas berlian itu sudah berlari memasuki penginapan yang pintunya sudah terbuka.

Tetapi penginapan itu nampaknya sepi. Tidak ada seorang pun yang kelihatan. Namun pendengaran Ki Wiradana yang tajam, mendengar desah nafas yang saling memburu di dalam sebuah bilik di belakang rumah itu. Dengan cepat ia menuju ke pintu bilik itu. Sejenak ia mendengarkan. Kemudian ia melangkah selangkah surut sambil berteriak, Ayo keluar. Siapa yang ada di dalam? Aku Wiradana pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan ini, memerintahkan kepada kalian.

Sejenak tidak terdengar jawaban. Namun kemudian terdengar lagi deru nafas yang saling memburu.

Cepat, teriak Wiradana. Baru kemudian terdengar jawaban dari dalam, Pintunya diselerak dari luar.

Ki Wiradana mengerutkan keningnya. Baru kemudian ia melihat bahwa pintu bilik itu memang diselarak dari luar. Karena itu, maka dengan serta merta ia berteriak kepada para pengawal, Buka pintu itu.

Seorang pengawal telah melangkah maju dengan senjata telanjang di tangan. Perlahan-lahan ia membuka selarak pintu, sementara kawannya telah bersiaga sepenuhnya untuk menghadapi segala kemungkinan.

Namun ketika pintu itu terbuka, ia melihat beberapa orang yang berdiri berdesakan di dalam bilik itu. Laki-laki dan perempuan.

Apa yang terjadi atas kalian? bertanya Ki Wiradana.

Beberapa orang mencoba menjelaskan. Tetapi karena mereka berbicara bersama dan tidak berurutan, maka sulit untuk diketahui maksudnya.

Jangan berbicara beramai-ramai. Seorang saja di antara kalian, bentak Ki Wiradana.

Seorang yang berambut mulai beruban maju selangkah. Tetapi yang dikatakan pertama kali, Saudagar itu terluka parah. Barang-barangnya telah dirampok orang.

Wiradana menjadi tegang. Tiba-tiba saja ia telah menyibakkan orang-orang itu. Ketika ia memasuki bilik yang tidak begitu luas itu ia melihat saudagar yang terluka itu terbaring di pembaringannya.

Wiradana memandangi tubuh yang terbaring itu. Dari lukanya masih mengalir darah. Karena itu, maka ia pun kemudian berteriak kepada pengawal-pengawalnya, Beri saudagar ini pertolongan. Setidak-tidaknya usahakan agar darahnya tidak terlalu banyak mengalir sambil menunggu orang yang akan dapat mengobatinya.

Dua orang pengawal segera mendekatinya. Dengan sekadar pengalaman, maka keduanya

telah berusaha untuk mengurangi darah yang mengalir.

Tetapi lukanya sebenarnya tidak terlalu parah, berkata salah seorang di antara kedua pengawal itu.

Tetapi ia pingsan, jawab Ki Wiradana.

Mungkin oleh sebab lain. Selain luka senjata, mungkin lawannya telah menyerangnya tanpa senjata. Agaknya bukan lukanya yang menyebabkan ia pingsan, jawab pengawal itu.

Rawat orang itu sebaik-baiknya, berkata Wiradana kemudian. Sementara itu Wiradana pun telah membawa orang yang rambutnya mulai ubanan itu ke ruang dalam. Katanya, Coba ceritakan apa yang telah terjadi?

Orang itu pun kemudian menceritakan apa yang diketahuinya. Dua orang datang untuk merampok. Nampaknya semula saudagar itu merasa dirinya mampu mempertahankan miliknya, namun ternyata ia dapat dikalahkan. Pada saat terakhir, saudagar yang pingsan itu telah diangkat oleh perampoknya dan dibaringkannya di pembaringan, sementara orang-orang yang ada di penginapan itu dipaksanya untuk masuk dan berdesakan di dalam bilik yang diselaraknya dari luar.

Gila, geram Wiradana. Tetapi apakah orang itu benar-benar berhasil merampok barang-barang saudagar itu?

Kami kurang jelas. Tetapi kampil saudagar itu dibawanya. Mungkin barang-barang saudagar itu ada di dalam kampil itu, jawab orang yang berambut ubanan itu.

Ki Wiradana mengumpat. Namun tiba-tiba saja ia mendengar seorang pengawal berkata, Saudagar itu telah sadarkan diri. Dengan tergesa-gesa Wiradana kembali masuk ke dalam bilik sambil berkata, Cari air.

Ketika Wiradana berdiri disisi pembaringan, saudagar ini memang sudah membuka matanya. Ketika dilihatnya Wiradana yang mula-mula nampak kabur, namun yang kemudian menjadi jelas bahwa yang berdiri itu benar-benar Wiradana, saudagar itu mengeluh.

Keparat itu telah lari, geramnya.

Ki Sanak telah pingsan, berkata Ki Wiradana.

Orang itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia mengangguk sambil berdesis, Ya. Aku telah pingsan.

Apakah usaha orang itu merampok Ki Sanak berhasil? bertanya Wiradana kemudian. Ayah Warsi yang mengaku saudagar itu termangu-mangu. Namun kemudian ia justru bertanya, Apakah kampilku masih ada di bawah tikar?

Ki Wiradana memandang orang yang rambutnya sudah ubanan, yang mengatakan bahwa

kampil saudagar itu telah dibawa oleh perampok yang melukainya itu.

Orang yang berambut ubanan itu kemudian maju mendekat sambil berkata, Ki Sanak. Kampil itu telah dibawanya.

Gila, ayah Warsi tersentak bangun. Seolah-olah mendapat tenaga baru, maka ia pun kemudian bangkit berdiri. Ternyata kampilnya yang berisi barang-barang yang dikatakan dagangannya itu telah tidak ada. Wajah ayah Warsi itu menegang. Namun kemudian ia pun tertunduk dengan lemahnya. Luka-lukanya masih terasa pedih, sementara tengkuknya terasa bagaikan membengkak. Namun ketika ia meraba tengkuk itu, ternyata tidak apa-apa.

Orang itu tentu memukul tengkukku sehingga aku pingsan, berkata ayah Warsi itu di dalam hatinya.

Namun barang-barangnya yang hilang itu membuat ayah Warsi menjadi sangat marah. Tetapi ia harus menahan kemarahannya itu di dalam dadanya. Orang yang mengaku perampok itu ternyata memang memiliki ilmu yang lebih baik dari padanya,

sehingga ia dapat dikalahkan. Sementara itu agaknya Dampa pun tidak berdaya menghadapi lawannya.

Perampokan yang berani itu segera terdengar oleh semua orang di Tanah Perdikan. Ketika Wiradana kemudian pulang ke rumahnya, maka berita itu pun sangat mengejutkan Warsi.

Jadi saudagar itu telah dirampok? bertanya Warsi dengan gugup.

Ya. Saudagar itu dan kawannya mengalami luka-luka agak parah. Kampil yang dibawanya telah dirampas oleh perampok-perampok itu. Ketika kami datang karena suara kenthongan, ternyata perampok-perampoknya telah meloloskan diri meskipun saat itu para pengawal sudah mengepung penginapan itu, berkata Wiradana.

Bagaimana hal itu mungkin terjadi? suara Warsi agak meninggi. Bukankah para pengawal sudah mengepungnya?

Ya. Tetapi ternyata kedua perampok itu memiliki ilmu yang tinggi. Saudagar yang merasa dirinya dibekali ilmu itu, ternyata tidak mampu bertahan, sehingga ia dan kawannya menjadi pingsan dan terluka parah, jawab Wiradana.

Jantung Warsi terasa bagaikan terlepas dari tangkainya. Jika perampok itu mampu mengalahkan ayahnya, maka perampok itu tentu bukan orang kebanyakan.

Terasa tangan Warsi menjadi gemetar. Seandainya ia mendapat kesempatan, maka perampok-perampok itu tentu akan dibunuhnya.

Pada suatu saat aku tidak boleh menyembunyikan kemampuanku lagi, berkata Warsi di dalam hatinya. Namun Warsi tidak akan dapat dengan segera berbuat demikian.

Ia harus menjaga keadaan badannya, karena ternyata Warsi pun telah mulai mengandung.

Sekilas Warsi merasa bahwa kandungannya itu ternyata telah mengganggunya. Namun ketika kemudian ia merenung, maka ia pun menyadari, bahwa ia harus melahirkan anak, karena dengan demikian maka ia akan melahirkan seseorang yang kelak akan dapat menggantikan kedudukan Wiradana.

Wiradana kemudian tidak menjadi penting lagi bagiku. Aku memang mencintainya sebagai seorang suami. Tetapi ia tidak boleh menjadi penghalang anakku kelak yang harus menggantikannya, berkata Warsi di dalam hati.

Namun dalam pada itu, ia harus menaruh perhatian terhadap ayahnya yang terluka. Karena itu, maka ia pun bertanya, Tetapi bagaimana dengan saudagar yang terluka itu? Apakah ia sudah mendapat perawatan?

Ya. Seorang yang ahli di dalam hal obat-obatan telah dipanggil untuk mengobati saudagar itu serta kawannya. Aku berjanji kepadanya untuk segera datang kembali mengurusi barang-barangnya yang hilang setelah ia selesai mendapat perawatan, berkata Wiradana.

Warsi mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, Kakang Wiradana, jika kakang setuju tetapi segalanya tergantung kepada kakang. Aku mengusulkan agar saudagar yang terluka itu biarlah bermalam di rumah ini. Bukankah keduanya dapat bermalam di gandok? Dengan demikian kita akan dapat mengawasi perkembangan kesehatannya. Adalah kebetulan bahwa kedua orang itu menjadi tamu kita sehingga kita pun ikut bertanggung jawab atas keselamatannya. Namun demikian, terserah kepada kakang Wiradana.

Wiradana mengerutkan keningnya. Bahkan kemudian ia berkata, Kenapa kau tidak mengambil sikap seperti itu sebelum terjadi sesuatu atas orang itu. Jika sejak semula kita memperlakukannya demikian, dengan memberikan tempat bermalam di gandok, maka tidak akan terjadi hal seperti itu.

Tetapi bukankah kita tidak tahu, bahwa hal seperti itu akan terjadi? sahut

Warsi. Semula kita menganggap bahwa Tanah Perdikan ini cukup aman. Sementara itu, menilik sikapnya, Ki Saudagar itu pun agaknya cukup percaya kepada diri sendiri.

Ki Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, Ya. Agaknya memang demikian. Tetapi baiklah nanti aku akan kembali ke penginapan itu dengan membawa pedati. Agaknya Ki Saudagar itu tidak akan dapat menempuh perjalanan dengan berjalan kaki atau naik kuda karena keadaannya.

Jika demikian, maka biarlah gandok sebelah kanan itu disiapkan bagi penginapan kedua orang itu. Mudah-mudahan kita akan segera dapat memecahkan teka-teki perampokan itu, berkata Warsi.

Tentu orang-orang dari keluarga Kalamerta, berkata Wiradana. Jantung Warsi berdesir. Hampir di luar sadarnya ia menjawab, Jangan terpancang kepada keluarga Kalamerta. Dengan demikian kita akan dapat lengah. Jika ternyata ada pihak lain yang memanfaatkan tebaran pandangan kita yang sempit, maka kita akan mengalami kesulitan.

Ki Wiradana mengerutkan keningnya. Sikap Warsi terasa agak lain. Biasanya ia tidak pernah menentukan sikap apapun. Apalagi memotong pendapatnya seperti itu. Namun agaknya Warsi menyadari. Karena itu, dengan serta merta ia pun berkata, Tetapi tentu kakang lebih mengetahui. Mungkin kakang tidak senang melihat sikapku kali ini. Tetapi sebenarnyalah bahwa aku sedang bingung. Justru pada

saat orang itu berkepentingan dengan aku, karena aku ingin membeli salah satu di antara barang-barangnya.

Sudahlah, berkata Wiradana. Jangan bingung, nanti aku akan pergi ke penginapan itu dengan membawa sebuah pedati. Sekarang agaknya saudagar dan kawannya itu sedang dirawat.

Seterusnya mereka akan dapat dirawat disini, berkata Warsi. Ya. Seterusnya ia akan dirawat disini, sahut Wiradana.

Demikianlah, maka Wiradana pun telah menyiapkan sebuah pedati, sementara Warsi menyuruh seorang pelayannya untuk membersihkan gandok. Di gandok itu nanti ayahnya yang disebut sebagai saudagar permata itu akan bermalam dan mendapatkan perawatan sampai sembuh.

Mungkin orang yang merampoknya itu ingin membunuhnya pula. Tetapi karena tergesa-gesa setelah para pengawal mengetahuinya dan dengan pertanda kentongan pula, maka niat itu belum dapat dilakukannya, berkata Wrasi di dalam hatinya.

Namun yang penting bagi Warsi kemudian adalah siapapun orang yang ingin membunuh

ayahnya itu. Atau jika ia sekadar perampok biasa, maka siapa pula mereka.

Perampok yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Biasanya perampok-perampok itu memang mempunyai sekadar ilmu. Tetapi tidak akan mungkin dapat mengimbangi ilmu ayahnya.

Tetapi untuk sementara Warsi harus menyimpan persoalan-persoalan itu di dalam hatinya. Seandainya ia tidak sedang mengandung, maka mungkin sekali ia tidak dapat lagi menahan diri. Mungkin ia sendiri akan menangani persoalan itu.

Namun seandainya demikian, maka ia pun tidak akan mudah menentukan arah lari para perampok itu. Demikianlah, maka malam berikutnya, saudagar dan seorang temannya telah berada di rumah Ki Wiradana. Ternyata saudagar itu selama di Tanah Perdikan Sembojan telah kehilangan semua barang dagangannya, kecuali yang justru berada di tangan Warsi.

Ketika Warsi sempat berbicara dengan ayahnya itu tanpa Ki Wiradana, ia mendapat penjelasan terperinci tentang orang-orang yang merampoknya. Tetapi meskipun demikian Warsi tidak segera dapat menduga siapa yang melakukannya.

“Sudahlah ayah,” berkata Warsi. “Bukankah barang-barang itu juga barang-barang yang ayah ambil dari orang lain. Relakan saja ayah. Besok ayah dapat mengambil gantinya.”

“Bukan saja tentang barang-barangnya yang hilang itu Warsi,” jawab ayahnya. “Tetapi bahwa ada juga perampok yang mampu mengalahkan anggota keluarga Kalamerta. Apakah dengan demikian berarti bahwa ada gerombolan yang tersusun rapi dan dapat menggantikan kedudukan gerombolan Kalamerta?”

Warsi mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Aku sependapat ayah. Kita harus bergerak cepat. Gerombolan itu harus kita singkirkan. Tetapi persoalannya bukan saja perampokan yang baru saja terjadi, tetapi bahwa ada sekelompok orang yang membentuk serombongan pertunjukan jalanan dengan seorang penari yang mirip sekali dengan Nyai Wiradana yang telah terbunuh itu pun merupakan satu

teka-teki. Apalagi ternyata bahwa perempuan yang telah membunuh Iswari itu nampaknya sekarang berani menentang kakang Wiradana. Semua itu merupakan satu pertanda bahwa kita memang bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.”

“Apa yang sudah dilakukan oleh Wiradana?” bertanya ayahnya.

“Kakang Wiradana telah menyusun satu kekuatan. Jika pada suatu saat sikap

orang-orang Tanah Perdikan Sembojan ini menjadi lain karena langkah-langkah yang diambil kakang Wiradana tidak sesuai dengan nurani mereka, maka kakang Wiradana sudah mempunyai kekuatan,” berkata Warsi.

“Kau sendiri merupakan kekuatan yang tidak akan terlawan jika pada suatu saat kau menyatakan pribadimu,” berkata ayahnya.

“Ya. Ayah. Tetapi aku harus menunggu untuk waktu tujuh atau delapan bulan mendatang,” berkata Warsi.

“Kenapa?” bertanya ayahnya.

“Aku sedang mulai mengandung,” jawab Warsi.

Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Ya. Kau harus menunggu selama itu. Bayi yang kau kandung adalah calon pewaris Tanah Perdikan ini. Karena itu, maka bayi itu harus kau jaga baik-baik.”

“Kakang Wiradana belum mengetahuinya. Aku belum mengatakan kepadanya. Tetapi dalam waktu dekat aku tidak dapat menyembunyikannya lagi. Rasa-rasanya perut ini mulai menjadi mual dan terdorong untuk muntah,” berkata Warsi.

“Kenapa tidak segera kau katakan?” bertanya ayahnya. “Hal itu penting baginya. Ia akan merasa bahwa ia akan mendapat keturunan.”

“Aku akan segera mengatakannya,” jawab Warsi. Namun kemudian, “Tetapi sementara itu, Tanah Perdikan ini harus mempunyai kekuatan yang dapat dipercaya. Nampaknya mulai terasa gejolak di antara rakyat Sembojan sejak timbul ceritera tentang

seorang penari yang mirip sekali dengan Nyai Wiradana yang telah disingkirkan itu.”

Sebenarnyalah bahwa beberapa orang di Tanah Perdikan Sembojan mulai

bertanya-tanya tentang keadaan yang kemudian berkembang di Tanah Perdikan itu. Sikap Wiradana ternyata jauh berbeda dengan sikap ayahnya. Wiradana bukan saja terlalu mementingkan dirinya sendiri dan istrinya, tetapi ia juga kadang-kadang bersikap kasar dan keras.

Kehadiran penari yang dianggap mirip sekali dengan Iswari itu memang banyak menimbulkan pertanyaan dihati orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Apalagi ketika ternyata kemudian Tanah Perdikan itu sudah mulai dijamah oleh

tangan-tangan perampok yang berani, yang melakukan perampokan dihadapan hidung para pengawal. Ternyata para pengawal yang mengepung penginapan itu sama sekali tidak berdaya menangkap dua orang perampok yang berhasil membawa barang-barang yang nilainya sangat mahal dari saudagar emas berlian itu.

Dalam pada itu, seperti yang dinasihatkan oleh ayahnya, maka Warsi pun kemudian telah mengatakan kepada Wiradana, bahwa dirinya sudah mulai mengandung. “Karena itu kakang,” berkata Warsi. “Jika tingkah lakuku menjadi agak berbeda, aku mohon kakang dapat mengerti.”