-->

Suramnya Bayang-Bayang Jilid 11

Jilid 11

Laki-laki yang disebut orang tua Warsi itu mengangguk-angguk. Kepada Warsi ia berkata, “Tentu angger Wiradana tidak akan salah langkah. Agaknya kau telah melakukan sesuatu yang benar, bahwa segalanya terserah kepada angger Wiradana.” “Ya ayah,” jawab Warsi sambil menunduk.

“Nah, jika demikian, maka kami tinggal menunggu segala perintah angger dalam hal ini,” berkata orang tua itu.

“Mumpung ayah ada disini, maka segala sesuatunya akan aku lakukan dengan segera. Aku akan berbicara dengan orang-orang tua di Tanah Perdikan ini, agar mereka mempersiapkan hari perkawinanku.

Sudah barang tentu, sebelum hari perkawinan itu berlangsung maka Warsi akan tinggal disalah seorang keluarga yang akan aku tunjuk kemudian,” berkata Wiradana yang sudah mulai mereka-reka, apa yang akan dikatakannya kepada orang-orang tua di Tanah Perdikan Sembojan.

Namun dalam pada itu, ada juga sesuatu yang membuat jantung Wiradana berdebar-debar. Semua orang Tanah Perdikan Sembojan mengetahui bahwa Warsi adalah seorang penari jalanan. Agak berbeda dengan Iswari, seorang gadis padepokan yang ternyata memiliki kecakapan melampaui gadis Tanah Perdikan Sembojan sendiri.

Memang rasa-rasanya Wiradana agak segan untuk menyebut perempuan yang akan dijadikannya istrinya menggantikan Iswari. Tetapi mau tidak mau, pada suatu

saat, semua orang akan mengetahuinya juga.

“Aku tidak peduli,” berkata Wiradana di dalam hatinya. “Tidak ada orang yang dapat menentang aku. Aku adalah Kepala Tanah Perdikan yang besar. Bahkan tidak akan ada seorang pun yang mampu melawan aku.”

Dengan demikian maka Wiradana telah bertekad untuk dengan segera melaksanakan hari perkawinannya. ia akan menunjuk seseorang yang akan mewakili ayahnya dalam upacara melamar Warsi yang dianggap belum pernah menjadi istrinya itu. Wiradana memang tidak akan berahasia lagi, meskipun sebelumnya sudah beberapa kali ia mengelak untuk menyebut, siapakah bakal istrinya itu.

Karena itu, maka di hari berikutnya, Wiradana benar-benar telah memanggil beberapa orang tua. Meskipun dengan hati yang berat dan keringat yang membasahi pakaiannya, akhirnya Wiradana berkata, “Aku akan minta salah seorang dari kalian untuk mewakil orang tuaku melamar gadis yang akan aku jadikan istriku.”

Orang-orang tua itu mengangguk-angguk. Tidak seorang pun yang akan merasa berkeberatan. Meskipun kadang-kadang mereka mempertanyakan sifat Wiradana yang berbeda dengan sifat ayahnya, namun mereka merasa berkewajiban untuk membantu anak muda itu, agar dengan demikian, maka ia akan dapat menemukan ketenangan di dalam tugas-tugasnya.

“Jika Wiradana sudah kawin, mungkin ia akan berubah. Ia akan benar-benar menjadi seorang Kepala Tanah Perdikan. Bukan hanya sekadar seseorang yang mencari kesenangannya sendiri saja,” berkata orang-orang tua itu di dalam hatinya.

Tetapi orang-orang tua itu tidak segera bertanya kepada Wiradana, gadis manakah yang akan diambilnya menjadi istrinya, karena beberapa kali hal itu dipertanyakan, Wiradana selalu mengelak.

“Biarlah ia menyebut sendiri siapakah perempuan yang dikehendakinya itu.” Wiradana pun untuk beberapa saat berdiam diri. Sebenarnya ia menunggu seseorang akan bertanya tentang perempuan yang dikehendakinya. Tetapi ternyata tidak seorang pun yang melakukannya. Bahkan orang-orang tua itu telah menundukkan kepala, seolah-olah mereka sedang memalingkan wajah-wajah mereka setelah mereka melihat Warsi, penari jalanan itu.

“Orang-orang gila,” geram Wiradana di dalam hatinya. “Apakah mereka sudah mengetahui rahasiaku bersama Warsi?”

Namun sekali lagi ia mencari kekuatan atas keinginannya itu dan bersandar kepada kekuasaannya. Karena itu, maka sejenak kemudian ia pun bertanya, “Kenapa kalian diam saja? Apakah kalian telah mengetahui gadis yang akan aku jadikan istriku itu?”

Orang-orang tua itu termangu-mangu. Tetapi seorang di antara mereka menjawab, “Sudah beberapa kali kami menanyakan siapakah gadis yang akan kau ambil menjadi istrimu itu. Tetapi kau tidak pernah memberikan jawabannya. Kau minta kami menunggu pada suatu saat, sehingga karena itu, maka kami tidak merasa perlu untuk bertanya tentang hal itu kepadamu.”

“Cukup,” tiba-tiba Wiradana membentak oleh dorongan kegelisahan di dalam hatinya.

Orang-orang tua itu terkejut. Mereka tidak terbiasa dibentak seperti itu oleh Ki

Gede Sembojan yang terbunuh itu. Meskipun kemudian mereka mengenali beberapa perbedaan sifat antara Ki Gede dan anak laki-lakinya tetapi orang-orang tua itu mengira, bahwa Wiradana tidak akan berbuat sekasar itu.

Tetapi orang-orang tua itu tidak berbuat apa-apa. Mereka menyadari, bahwa jika mereka salah langkah, maka Wiradana akan menjadi semakin marah. Sedangkan mereka

tahu, bahwa Wiradana adalah seorang anak muda yang memiliki ilmu yang tinggi.

Wiradana yang melihat orang-orang itu terdiam mematung ternyata telah menilai

sikap itu dengan sudut pandang yang buram. Wiradana menganggap bahwa orang-orang tua itu benar-benar menjadi ketakutan kepadanya, sehingga ia akan dapat

bertindak lebih leluasa lagi.

Karena itulah, maka Wiradana pun menjadi lebih mantap untuk mengatakan maksudnya, bahwa ia akan mengambil Warsi untuk dijadikan istrinya, siapapun orang yang bernama Warsi itu.

Meskipun demikian ada juga semacam keragu-raguan yang menahannya, sehingga keringatnya benar-benar bagaikan terperas dari tubuhnya.

Tetapi akhirnya ia berkata juga, “Para tetua di Tanah Perdikan ini. Aku memerlukan restu kalian selain aku akan menunjuk salah seorang di antara kalian untuk mewakili orangtuaku. Pada saat yang sudah ditentukan, aku akan membawa gadis yang akan menjadi istriku itu kemari dan menitipkannya kepada seseorang di

padukuhan ini. Kemudian orang yang mewakili orangtuaku akan datang dan diterima oleh ayah gadis itu. Selanjutnya aku akan segera melakukan perkawinan.

Selambat-lambatnya dua pekan mendatang.”

“Dua pekan?” hampir berbarengan beberapa orang bertanya.

“Ya, dua pekan. Kenapa?” bertanya Wiradana kepada orang-orang yang keheranan itu.

Untuk sesaat orang-orang tua itu terdiam. Namun kemudian seorang di antara mereka bertanya, “Hanya dalam waktu yang sangat singkat, Ki Wiradana akan melangsungkan perkawinan? Biasanya kami mempersiapkan saat-saat seperti itu dengan tenggang waktu yang cukup panjang. Mungkin setahun, mungkin enam bulan. Tetapi tidak akan lebih dekat dari tiga bulan.”

“Aku tidak peduli,” jawab Wiradana. “Aku ingin dalam waktu dua pekan, semuanya sudah dapat dilaksanakan. Aku ingin kawin dengan upacara yang tidak kalah baiknya dengan saat aku kawin dengan Iswari.”

“Tetapi waktu untuk mempersiapkan hal itu sangat pendek,” berkata salah seorang di antara orang-orang tua itu.

“Aku tidak tahu apakah waktu untuk persiapan kurang atau tidak. Tetapi aku ingin semuanya terlaksana dengan baik. Apapun yang harus kalian lakukan, lakukanlah agar keinginanku tersebut dapat terwujud,” berkata Wiradana.

Wajah orang-orang tua itu menjadi tegang. Namun ketegangan itu memuncak ketika Wiradana berkata, “Aku tidak mau mendengar alasan apapun juga, sehingga hal tersebut tidak dapat dilaksanakan. Semua harus terjadi sebagaimana diinginkan oleh Kepala Tanah Perdikan ini. Meskipun aku belum diwisuda, tetapi aku sudah melaksanakan tugas ini.”

Namun justru dengan demikian tidak ada seorang pun yang menjawab. Justru dalam ketegangan semua orang telah digetarkan oleh gejolak di dalam dada

masing-masing.

Orang-orang tua yang semula merasa sama sekali tidak berkeberatan untuk ditunjuk menjadi wakil orang tua Wiradana itu pun menjadi ragu-ragu. Bahkan beberapa orang di antara mereka berharap bahwa bukan merekalah yang sebaiknya datang melamar perempuan yang masih belum mereka ketahui itu.

Karena tidak ada seorang pun yang menjawab, maka Wiradana itu pun berkata, "Aku minta agar kalian bersiap-siap sejak sekarang. Besok aku akan membawa gadis yang akan menjadi istriku itu kemari. Aku minta agar baginya disediakan tempat untuk sementara menjelang hari perkawinan."

Tak ada lagi gairah untuk membicarakan masalah itu. Namun demikian seorang tua yang masih mampu mengendalikan perasaannya bertanya, "Dimanakah perempuan itu akan dititipkan Wiradana?"

Wiradana mengerutkan keningnya. Kemudian ia pun berkata, "Rumah siapakah yang paling pantas untuk menitipkan calon istriku itu? Rumah yang cukup baik tetapi tidak jauh dari rumahku ini."

"Rumah sebelah," jawab orang tua itu. "Bukankah rumah sebelah cukup besar." Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, "Ya. Rumah sebelah. Aku nanti akan datang ke rumah sebelah untuk meminjamnya selama-lamanya dua pekan, karena dalam dua pekan ini segala persiapan sudah selesai bagaimanapun caranya."

"Tetapi," orang tua itu pun memberanikan diri. "Apakah kau masih belum bersedia menyebut, siapakah perempuan itu."

"Besok aku akan membawa perempuan itu ke rumah sebelah. Pada malam harinya, seorang gadis yang akan aku tunjuk akan datang melamarnya. Nah, dengan demikian, maka kalian akan mengetahui, siapakah perempuan itu. "Ternyata Wiradana masih ragu-ragu juga untuk menyebutnya.

Orang tua yang memberanikan diri untuk bertanya itu terdiam. Wiradana masih belum menyebut namanya. Tetapi dalam waktu yang dekat, mereka akhirnya akan mengetahui juga.

Pada pertemuan itu, ternyata Wiradana telah membagi pekerjaan di antara orang-orang tua itu. Namun kemudian katanya, "Terserah kepada kalian untuk menunjuk anak-anak muda yang akan membantu kalian di dalam tugas kalian masing-masing."

Orang-orang tua itu termangu-mangu. Tetapi mereka tidak dapat membantah. Bagaimanapun juga, mereka harus berusaha, agar perkawinan Wiradana itu dapat berlangsung sebagaimana dikehendaki. Dua pekan mendatang.

Ketika kemudian pertemuan itu berakhir, maka Wiradana pun masih juga berpesan, "Aku tidak mau mendengar keberatan apapun juga dalam pelaksanaan hari perkawinan ini. Jangan mengada-ada. Sedangkan keramaian yang akan berlangsung harus seimbang dengan yang pernah terjadi, saat aku kawin dengan Iswari."

Beberapa orang tua yang meninggalkan rumah Wiradana itu pun tidak habis-habisnya membicarakan sikap Wiradana yang kurang mereka mengerti. Tetapi mereka harus melakukan sebagaimana dikehendakinya.

"Apaboleh buat," desis seseorang. "Kita harus bekerja keras. Jika kita

mengecewakan anak muda itu, maka akibatnya akan sangat pahit bagi Tanah Perdikan ini. Mungkin Wiradana yang kecewa itu akan berbuat apa saja menurut kehendaknya sendiri.

Karena kita dianggapnya tidak mau membantunya dalam saat perkawinannya, maka ia pun akan memperlakukan Tanah Perdikan ini sedemikian pula. Tanah Perdikan ini bukannya merupakan asuhan yang harus dipertanggungjawabkan, tetapi saingan yang harus ditundukkannya."

Yang lain mengangguk-angguk. Tetapi mereka sependapat, bahwa mereka harus bekerja keras, melaksanakan keramaian sebagaimana dikehendaki oleh Ki Wiradana. "Tetapi aku menjadi penasaran. Besok aku akan menunggu Ki Wiradana membawa perempuan yang akan dititipkan di rumah Ki Padma. Siapakah sebenarnya perempuan yang nampaknya dirahasiakannya itu?" desis salah seorang di antara mereka. "Agaknya Ki Wiradana mencemburuimu," jawab yang lain.

“AH,” sahut orang itu. “Seandainya gigiku masih tersisa, mungkin aku juga akan melamarnya. Untunglah bahwa gigiku telah habis, sementara rambutku telah menjadi separuh kapas.”

“He, justru rambut seputih kapas akan merupakan daya tarik tersendiri,” berkata yang lain lagi.

“Mungkin. Mungkin hantu-hantu di kuburan akan sangat tertarik melihat rambut seputih kapas,” jawab orang itu.

Yang lain tertawa betapapun masamnya. Sifat dan sikap Ki Wiradana benar-benar kurang dapat dimengerti. Tetapi sebagian dari mereka masih menunggu, apakah sifat dan sikap yang demikian itu suatu saat akan dapat berubah terutama jika ia sudah beristri lagi.

“Jika istrinya memiliki kemanisan budi seperti Iswari, maka aku kira sikap hidup Ki Wiradana akan berubah. Ia akan dapat kembali menelusuri jalan sebagaimana dilalui oleh Ki Gede almarhum,” berkata salah seorang dari orang-orang tua itu. Sementara itu, Wiradana merasa kedudukannya menjadi semakin kuat. Ketika ia membentak orang-orang tua itu, dan ternyata mereka menjadi semakin tunduk, Wiradana merasa bahwa jalannya akan menjadi semakin licin.

Malam berikutnya, Wiradana telah merundingkan segala sesuatunya dengan istrinya dan laki-laki yang disangkanya ayah mertuanya.

“Besok kau akan aku bawa memasuki Tanah Perdikan Sembojan. Kau akan aku tempatkan pada seseorang yang mempunyai rumah yang pantas dan terletak disisi rumahku,” berkata Ki Wiradana.

Warsi menunduk dalam-dalam. Bahkan kemudian terdengar suaranya sendat, “Aku tidak menyangka bahwa akhirnya hal ini akan terjadi. Tetapi kesan yang akan timbul mungkin akan dapat menyiksaku. Seolah-olah aku berada di rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan setelah rumah itu ditaburi tumbal yang sangat berharga. Istri kakang yang pertama.”

“Jangan terlalu mudah tersentuh perasaanmu,” berkata Ki Wiradana. “Kau tidak mempunyai sangkut paut dengan Iswari. Kau datang dengan caramu sendiri. Aku menghendaki demikian. Dan hal ini terjadi setelah Iswari tidak ada lagi.” “Tetapi bukankah kita mengetahui, apa yang telah terjadi dengan istri kakang yang pertama itu? Bukankah kita mengetahui bahwa Iswari telah hilang dan tidak dapat diketemukan kembali?” desis Warsi.

“Akulah yang bertanggung jawab,” berkata Wiradana. “Kau tidak usah memikirkan apapun juga. Besok kau pergi bersamaku ke rumah Ki Padma yang rumahnya bersebelahan dengan rumahku. Kau akan tinggal disana untuk selama-lamanya dua pekan, sementara orang-orang tua mempersiapkan keramaian untuk merayakan hari perkawinan kita.”

Warsi mengangguk kecil. Jawabnya sebagaimana yang sering dikatakan, “Semuanya terserah kepada kakang.”

Ki Wradana mengangguk-angguk. Lalu katanya kepada laki-laki yang dianggapnya ayah mertuanya. “Ayah. Seseorang dengan upacara yang akan datang untuk melamar Warsi. Ayah dapat menerimanya sebagaimana seharusnya. Kemudian kita akan merundingkan upacara perkawinan itu sebagaimana lazimnya pembicaraan tentang hal seperti itu.”

“Baiklah ngger. Aku akan berusaha untuk menyesuaikan diri,” jawab laki-laki itu.

Seperti yang dikatakan oleh Wiradana, maka di hari berikutnya Warsi telah dibawanya ke rumah Ki Padma. Tetapi adalah di luar dugaan, bahwa Ki Wiradana membawa Warsi justru di malam hari, pada saat yang sama sekali tidak diperkirakan oleh orang-orang Tanah Perdikan Sembojan.

Karena itu, tidak banyak orang yang melihat kedatangannya. Namun yang sedikit itu ternyata telah membuat padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan bergejolak. Dua orang anak muda yang berada di gardu yang masih belum terisi penuh melihat

Ki Wiradana bersama seorang perempuan dan seorang laki-laki. Anak-anak muda itu tidak bertanya, siapakah perempuan itu, karena mereka sudah mendengar bahwa Wiradana akan membawa calon istrinya memasuki padukuhan induk sebelum dalam waktu dua pekan mendatang akan dilangsungkan hari

Perkawinannya.

“Rasa-rasanya aku pernah melihat perempuan itu,” berkata salah seorang di antara anak-anak muda itu.

“Ya. Rasa-rasanya akupun pernah melihat. Tetapi dimana dan kapan?” sahut yang lain.

Kedua anak muda itu pun segera mengingat-ingat. Dimana saja mereka pernah melihat perempuan itu.

Dalam pada itu salah seorang di antara mereka tiba-tiba berkata lantang, “Aku tahu, aku sudah dapat mengingat-ingatnya.”

Kawannya termangu-mangu. Dengan ragu-ragu ia berkata, “Siapa perempuan itu?” “He, kau pernah melihat penari keliling yang pernah datang di Tanah Perdikan ini?” bertanya anak muda yang pertama.

“Penari jalanan itu?” sahut yang lain.

“Ya. Yang bermalam di Banjar” sambung yang pertama.

Anak muda yang lain mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba saja ia pun hampir berteriak, “Ya. Aku sependapat. Aku ingat sekarang bahwa perempuan itu memang penari yang kau katakan.

Selagi keduanya sibuk menebak, maka dua orang anak muda yang lain telah datang pula. Dengan heran keduanya bertanya, apa yang sedang dipercakapkan oleh kedua orang yang terdahulu.

Dengan suara yang keras kedua anak itu berebut bercerita tentang perempuan yang datang bersama Wiradana. Perempuan yang akan dijadikan istrinya itu.

“Bodoh kau,” tiba-tiba salah seorang anak muda yang datang itu membentak, “Tentu bukan perempuan itu yang akan dijadikan istrinya. Jika ia membawa perempuan itu mungkin Wiradana akan menyelenggarakan pertunjukan tari pada hari perkawinannya. Karena itu, maka penari itu telah dibawa kemari untuk membicarakan kemungkinan itu serta sudah barang tentu biaya untuk penyelenggaraan itu.”

Dua orang yang terdahulu ada di gardu terma-ngu-mangu. Memang mungkin masuk akal

bahwa penari itu datang untuk membicarakan kemungkinan diselenggarakannya pertunjukan tari dengan cara yang lebih baik daripada menari disudut padukuhan. Tetapi bukan hanya kedua orang anak muda itu sajalah yang telah menduga, bahwa Wiradana membawa bakal istrinya yang sudah banyak dikenal oleh orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Apalagi ketika Wiradana tidak membawa perempuan itu ke rumahnya, tetapi Wiradana langsung membawa perempuan itu ke rumah Ki Padma.

Maka sambungmenyambung, anak-anak muda di Tanah Perdikan Sembojan itu pun telah

mempercakapkan perempuan yang datang bersama Wiradana itu. Bukan hanya dua orang

yang berada di gardu itu sajalah yang melihat. Tetapi se-orang anak muda yang kebetulan lewat jalan di dalam padukuhan induk telah berpapasan pula. Yang lain melihat perempuan itu memasuki regol halaman rumah Ki Padma. Dan yang melihat dengan jelas adalah anak Ki Padma sendiri. Perempuan yang dibawa ke rumahnya itu memang penari jalanan yang beberapa waktu yang lampau pernah berada di Tanah Perdikan itu dan bermalan di banjar.

Anak muda anak Ki Padma itu dengan diam-diam telah keluar dari halaman rumahnya menuju ke gardu. Meskipun belum banyak anak muda yang ada di gardu, tetapi pembicaraan tentang perempuan itu memang sangat menarik. Dengan demikian maka berita itu telah menjalar dari gardu ke gardu dan dari mulut ke mulut sehingga tersebar ke seluruh padukuhan induk dan bahkan padukuhan-padukuhan lain, karena ketika Wiradana lewat di padukuhan-padukuhan lain itu, beberapa orang telah melihatnya pula.

Hal itu sudah diperhitungkan oleh Wiradana. Tetapi ia sudah bertekad untuk melakukannya meskipun ia masih juga berusaha untuk membatasi kemungkinan itu sekecil-kecilnya, sehingga karena itu maka ia datang di malam hari. Menurut keterangannya kepada orang-orang tua di Tanah Perdikan Sembojan, tidak ada

apapun yang dapat merintanginya. Perkawinannya harus berlangsung dalam waktu dua pekan.

Tetapi bahwa perempuan yang dibawanya itu adalah seorang penari jalanan, maka seisi Tanah Perdikan telah mempertanyakannya.

Sebenarnyalah bahwa Wiradana sama sekali tidak menghiraukan mereka. Ia sudah bersiap-siap menghadapi keadaan yang demikian. Karena itu, maka Wiradana telah memanggil pula sepuluh orang

kepercayaannya.

“Aku bekali kalian dengan uang. Tetapi sumbat mulut orang-orang yang mengejek aku,” geram Wiradana.

Sepuluh orang itu termangu-mangu. Tetapi mereka pun sudah mendengar bahwa yang dibawa oleh Wiradana adalah perempuan yang pernah berada di Tanah Perdikan sebagai penari.

“Kenapa mengejek?” tiba-tiba salah seorang di antara sepuluh kepercayaan Wiradana itu bertanya.

Pertanyaan itu membingungkan Wiradana. Tetapi ia pun kemudian berkata terus terang, “Perempuan yang akan aku jadikan istriku adalah Warsi, penari yang cantik itu. Jika ada di antara rakyat Tanah Perdikan yang tidak setuju atau bahkan mengejek aku, maka kau harus menyumbat mulutnya dengan tangkai pedangmu, mengerti? Atau kau akan segera aku lempar dan aku gantikan dengan orang-orang

lain yang lebih berarti bagiku.”

“Baiklah Wiradana,” jawab yang tertua di antara anak-anak muda itu, “Kami akan melakukannya dengan sebaik-baiknya.”

Wiradana memandang orang itu dengan tatapan mata yang tajam sekali. Seakan-akan ia ingin melihat langsung sampai jantungnya untuk mengetahui, apakah yang dikatakannya itu sesuai dengan apa yang akan dilakukannya.

“Pergilah,” berkata Wiradana kemudian. “Kau tahu apa tugasmu.”

“Ya,” jawab yang tertua di antara kepercayaannya itu, “Kami akan ke gardu-gardu

dan berbincang-bincang dengan anak-anak muda untuk mengetahui sikap mereka. Aku yakin bahwa sebagian besar dari mereka sudah mengetahui siapakah perempuan yang telah kau bawa masuk ke Tanah Perdikan ini.”

Wiradana tidak menjawab lagi. Dipandanginya saja anak-anak muda yang kemudian meninggalkannya.

Sebenarnyalah bahwa anak-anak muda itu memang pergi ke gardu terdekat di ujung jalan di padukuhan induk itu. Di gardu di dekat pintu gerbang itu memang

terdapat anak-anak muda yang menjadi semakin banyak berkumpul. Mereka memang berbicara tentang perempuan yang bernama Warsi, penari jalanan yang pernah mengadakan pertunjukan keliling di Tanah Perdikan Sembojan.

Anak-anak muda yang menjadi kepercayaan Wiradana itu termangu-mangu sejenak. Namun yang tertua di antara mereka ternyata tidak berbuat apapun juga, sehingga kawan-kawannya yang lain pun menjadi ragu-ragu.

Bahkan yang tertua di antara mereka itu berkata di antara anak-anak muda di gardu itu, “He, apakah kalian tahu, tugas apakah yang harus aku lakukan sekarang ini?”

Anak-anak muda di gardu itu termangu-mangu. Namun seorang di antara mereka menjawab, “Tentu tidak tahu.”

Orang tertua di antara kepercayaan Wiradana itu pun berkata selanjutnya, “Kami mendapat tugas untuk menyumbat setiap mulut yang berani menyebut atau apalagi mengejek kehadiran perempuan yang akan dijadikan istri Wiradana itu.”

“O,” anak-anak muda di gardu itu menjadi tegang. Mereka pun segera menyadari, bahwa anak-anak muda yang datang bersepuluh itu adalah kepercayaan Wiradana yang sering melakukan tugas-tugas khusus. Menurut pengenalan anak-anak muda yang di gardu itu, maka sepuluh orang anak muda itu adalah orang-orang pilihan yang mempunyai kelebihan dari kawan-kawannya yang lain.

Tetapi di luar dugaan mereka, bahwa orang itu kemudian justru berkata, “Memang aneh sekali. Bukanlah dengan perintah itu Wiradana sudah merasa, bahwa perempuan itu tidak pantas untuk dijadikan istrinya.”

Anak-anak muda di gardu itu termangu-mangu. Mereka tidak segera meyakini sikap anak muda yang tertua di antara sepuluh orang kepercayaan Wiradana itu. Namun anak muda itu pun kemudian berkata. “Tetapi ia telah memaksa rakyat Tanah Perdikan itu untuk menerimanya.”

Anak-anak muda itu pun mengangguk-angguk. Namun salah seorang di antara mereka telah bertanya, “Bagaimana pendapatmu sendiri?”

Orang tertua di antara sepuluh orang itu berkata, “Jika kau bertanya tentang pendapatku, maka sudah terang aku tidak setuju. Apa artinya penari jalanan itu. Sedangkan istrinya yang dahulu, gadis padepokan itu pun telah menumbuhkan beberapa pertanyaan di antara kami. Namun pada waktu itu agaknya Ki Gede Sembojan dapat meyakinkan kepada orang-orang tua, bahwa mereka sebaiknya menerima Iswari. Bahkan setelah perkawinan itu terjadi ternyata Iswari dapat melakukan tugasnya sebagai istri Wiradana dengan baik. Bahkan karena sudah tidak ada lagi istri Kepala Tanah Perdikan, maka kita semuanya menganggap seolah-olah Iswari adalah istri Kepala Tanah Perdikan.”

“Tetapi,” berkata salah seorang di antara anak-anak muda itu. “Apakah kita pasti, bahwa Warsi tidak akan dapat menjadi seorang perempuan yang memiliki kemampuan seperti Iswari?”

Orang tertua itu pun menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kita memang tidak dapat menebak kemampuan seseorang. Mungkin seorang yang dalam ujudnya tidak meyakinkan namun memiliki banyak kelebihan dari orang lain. Sebagaimana penari jalanan itu mungkin sesuatu yang dapat membuat Wiradana tergila-gila kepadanya. Mudah-mudahan sesuatu tu bermanfaat kiranya bagi Tanah Perdikan ini.”

“Yang pasti,” sahut anak muda yang lain, “Perempuan itu memiliki kelebihan kecantikan dari gadis-gadis Tanah Perdikan ini, di tambah lagi penari itu selalu bersolek secantik-cantiknya dalam setiap penampilannya, sehingga dengan demikian maka ia menjadi semakin cantik saja.”

“Kecantikan lahiriah akan berbeda dengan kecantikan batiniah,” tiba-tiba saja anak muda yang berdiam diri di sudut gardu itu sempat juga menyahut. “Kami mengerti,” sahut anak muda yang lain. “Tetapi jika hati kita sedang

menjadi buram, maka kita tidak akan sempat menilai seperti itu. Apa yang nampak itulah yang lebih banyak mempengaruhi sikap kita.”

Namun dalam pada itu, seorang di antara mereka yang berkerumun itu berkata, “Tetapi hal ini sudah dikehendaki oleh Wiradana. Kita memang tidak dapat berbuat apa-apa. Malam ini ia memerintahkan sepuluh orang kepercayaannya untuk membungkam setiap mulut yang berani menentang sikapnya, mungkin besok atau lusa jumlah itu akan bertambah lagi, sehingga akhirnya kita semua mendapat tugas

untuk mengamankan keinginan Wiradana itu.”

Kawan-kawannya menarik nafas dalam-dalam. Hal itu memang mungkin saja terjadi. Berita tentang datangnya Warsi ke Tanah Perdikan Sembojan sebagai calon istri Wiradana itu benar-benar telah menggemparkan. Apalagi di pagi hari kemudian, maka setiap telinga orang Sembojan pun telah mendengarnya pula.

Namun sepuluh orang kepercayaan Wiradana yang harus menyumbat mulut orang- orang

yang mengejek Warsi itu dengan tangkai pedang telah mempergunakan cara lain. Kepada orang-orang Tanah Perdikan Sembojan mereka berkata terus terang, “Tolong, jika kalian memperbincangkan Warsi, jangan sampai Wiradana atau

penjilat-penjilatnya tahu bahwa sebenarnya kalian telah melakukannya. Karena jika hal itu diketahui oleh Ki Wiradana, maka kami sepuluh orang inilah yang akan menanggung akibatnya.”

Ternyata orang-orang Sembojan pun dapat mengerti. Mereka berusaha menyembunyikan

perasaan tidak senang mereka terhadap orang yang akan menjadi istri pengganti Kepala Tanah Sembojan.

Karena itulah, Wiradana memang sudah tidak mempedulikan lagi sikap orang lain. Ia mencintai Warsi. Karena itu, maka Wiradana ingin mengawininya. Habis perkara.

Orang-orang tua di Tanah Perdikan Sembojan itu pun terkejut pula. Namun mereka juga tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka menerima kehadiran Warsi setelah beberapa lama mereka berteka-teki tentang bakal istri Wiradana itu.

“Pantas,” berkata salah seorang tua kepada kawannya, “Itulah agaknya maka ia telah merahasiakan nama perempuan itu.” Kawannya mengangguk-angguk sambil menjawab, “Satu pilihan yang tidak nalar. Tetapi jika hal itu memang dikehendaki apaboleh buat. Kita tinggal melihat perkembangan apakah yang akan terjadi. Mungkin justru sebaliknya dari yang kita duga. Mungkin perempuan itu akan dapat memberikan angin baru bagi Tanah Perdikan ini.”

“Angin apa?” bertanya kawannya. “Aku sama sekali tidak berkeberatan dengan ketrampilan seseorang untuk menari. Tetapi bukan penari yang ngamen di sepanjang jalan seperti Warsi. yang melayani tari-tarian kasar laki-laki yang ingin

ngibing.”

“Agaknya memang harus terjadi seperti itu,” berkata orang lain, “Kita tidak akan dapat menolaknya.”

Dalam pada itu, seperti yang direncanakan semula oleh Wiradana, maka salah seorang dari orang-orang tua di Tanah Perdikan Sembojan itu akan mewakili orang tuanya melamar Warsi. Ketika ia menunjuk seseorang, maka orang itu tidak dapat menolak, meskipun ia mengumpat di dalam hati, “Aku harus melamar penari jalanan itu bagi seorang Kepala Tanah Perdikan. Sungguh satu hal yang tidak aku

mengerti. Meskipun demikian, apaboleh buat. Wiradana agaknya benar-benar tergila-gila kepada perempuan itu.”

Tetapi orang itu mempersiapkan juga perlengkapan bagi upacara melamar perempuan yang untuk sementara dititipkan pada Ki Padma yang tinggal di sebelah rumah Ki Wiradana.

Namun ketika ia berbincang dengan istrinya, maka istri orang tua itu berkata, “Jangan merendahkan siapapun juga kakang. Meskipun ia penari jalanan, tetapi siapa tahu kalau hatinya bersih. Ia melakukan pekerjaan itu sekadar untuk mengatasi kesulitan hidupnya. Mungkin sekali ia melakukannya dengan perasaan yang sangat pahit. Atau barangkali ia dengan sadar melakukannya karena ia yakin bahwa pekerjaan menari di sepanjang jalan mengharapkan pemberian orang lain. Ia tidak mencuri, merampok atau merampas milik orang lain dengan kekerasan atau dengan diam-diam.”

Orang tua itu mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia berkata, “Mudah-mudahan orang itu bukan orang yang harus kita tolak untuk selanjutnya. Mudah-mudahan setelah menjadi istri Wiradana ia dapat menempatkan dirinya sesuai dengan kedudukannya.”

Dengan demikian maka orang tua itu pun bersama beberapa orang lainnya, pada malam hari yang ditentukan telah pergi ke rumah Ki Padma sambil membawa kelengkapan yang seharusnya bagi seseorang yang datang melamar.

Pembicaraan pun kemudian berjalan dengan lancar. Wiradana sendiri ikut hadir dan mendengarkan semua yang diucapkankan oleh kedua belah pihak yang setiap katanya sebenarnya adalah kata-kata yang sudah terbiasa diucapkan bagi kepentingan

serupa itu.

Laki-laki yang disebut ayah Warsi itu pun dengan senang hati menerima lamaran itu dan menyatakan bahwa anak gadisnya sama sekali tidak berkeberatan untuk menjadi istri Wiradana.

Dengan demikian maka segala sesuatunya telah menjadi jelas. Mereka pun membicarakan hari yang paling baik untuk melangsungkan perkawinan antara Wiradana dengan Warsi.

Memang seperti yang direncanakan oleh Wiradana, maka perkawinan itu akan dilangsungkan dalam dua pekan mendatang. Segala persiapan akan dilakukan dan dibiayai oleh Wiradana dan orang-orang tua di Tanah Perdikan Sembojan.

Sejak hari itu, maka Sembojan telah menjadi sibuk. Semua orang seakan-akan telah dibebani tugas masing-masing yang harus mereka lakukan dengan cepat. Rumah Wiradana pun telah dipersiapkan sebaik-baiknya. Keramaian perkawinan itu harus tidak kalah dengan keramaian pada saat Wiradana kawin dengan Iswari.

Karena Wiradana tidak segan-segan mengeluarkan biaya untuk hari perkawinannya itu, maka meskipun dengan tergesa-gesa, ternyata bahwa orang-orang Tanah Perdikan itu mampu juga untuk mempersiapkan sebagaimana dikehendaki oleh Wiradana dalam waktu yang dekat.

Di kandang di rumah Wiradana, dua ekor lembu telah terikat. Pada saatnya kedua ekor lembu itu, bersama beberapa ekor kambing dan berpuluh-puluh ekor ayam akan disembelih.

Demikianlah pada saatnya, perkawinan Wiradana memang menjadi sangat meriah. Keramaiannya benar-benar tidak kalah, bahkan melampaui saat ia kawin dengan Iswari.

Karena Ki Gede Sembojan sudah tidak ada, maka segala sesuatunya sangat tergantung kepada Wiradana sendiri. Apapun yang dikehendakinya, tidak seorang pun yang dapat melarangnya.

Sementara itu, biaya perkawinan itu dapat diambil beberapa saja dikehendaki oleh Wiradana. Ayahnya yang termasuk orang hemat, tetapi bukannya kikir, mempunyai simpanan yang cukup. Simpanan yang ternyata dapat dipergunakan oleh Wiradana sesuai dengan keinginannya juga tanpa ada orang yang mencegahnya.

Dengan demikian maka Tanah Perdikan Sembojan benar-benar menjadi sangat meriah. Bukan saja di padukuhan induk. Tetapi di padukuhan-padukuhan yang lainpun terasa suasana keramaian perkawinan Wiradana dengan seorang gadis yang sangat cantik.

Di gardu-gardu anak-anak muda yang terpaksa tidak dapat melihat keramaian di padukuhan induk karena mendapat giliran bertugas telah mendapat kiriman makanan dan minuman. Meskipun mereka tetap berada di tugas masing-masing namun mereka telah ikut pula menikmati hidangan dari padukuhan induk.

Kegembiraan benar-benar telah meluap di padukuhan induk. Wiradana dengan sengaja telah memberikan kesempatan yang sangat luas kepada anak-anak muda untuk merayakan hari perkawinannya itu.

Agak berbeda dengan Ki Gede Sembojan yang telah meninggal, maka Wiradana sama sekali tidak melarang ketika beberapa orang telah mencoba-coba untuk bermain dengan taruhan. Meskipun mula-mula hanya sekadar untuk mengisi waktu, namun agaknya semakin lama hari menjadi semakin panas, sehingga mereka telah

benar-benar tenggelam dalam permainan dengan taruhan yang semakin banyak. Keramaian di Tanah Perdikan Sembojan ternyata tidak hanya berlangsung semalam.

Tetapi lebih dari tiga malam berturut-turut. Bahkan setelah itu pun ternyata masih ada juga beberapa orang yang telah tenggelam dalam kebiasaan baru. Berjudi. Kebiasaan yang sudah agak lama ditinggalkan oleh orang-orang Tanah

Perdikan Sembojan. Jika masih ada juga orang yang bermain-main dengan dadu atau permainan semacamnya, dilakukan dengan sembunyi-sembunyi karena Ki Gede Sembojan

yang sudah tidak ada lagi telah melarangnya dengan keras.

Dalam pada itu, selagi orang-orang Tanah Perdikan Sembojan tenggelam dalam

suasana keramaian, maka Warsi yang kemudian berada di rumah Ki Gede merasa bahwa pengunjungnya telah sampai pada satu tataran yang menentukan. Ia sudah berada di rumah seorang yang paling berkuasa di Sembojan setelah ia berhasil membalaskan dendam kematian pamannya.

Wiradana yang sangat mencintai istrinya yang cantik itu pun merasa satu tugas yang maha besar telah diselesaikannya. Ia berhasil memecahkan dinding penyekat antara istrinya dengan Tanah Perdikan. Setelah istrinya itu berada di rumahnya, maka segala sesuatunya akan dapat berjalan sesuai dengan keinginannya. Semua orang Tanah Perdikan Sembojan harus menganggap Warsi sebagaimana mereka bersikap

terhadap Iswari.

Di hari-hari pertama Warsi berada di rumah Wiradana, nampak betapa wajahnya justru menjadi murung. Setiap kali ia mengeluh, bahwa ia merasa bersalah terhadap Iswari. Apapun sebabnya, namun ia berada di rumah itu setelah Iswari hilang dari Tanah Perdikan Sembojan.

“Hilangnya Iswari bukan tanggung jawabmu,” berkata Wiradana. “Aku yang akan mempertanggungjawabkannya. Yang harus kita lakukan sekarang adalah membangun masa depan yang lebih baik bagi diri kita berdua dan bagi Tanah Perdikan ini.” “Tetapi aku merasa diriku terlalu tidak berharga di mata orang-orang Sembojan kakang,” jawab Warsi. “Semua orang Sembojan tahu, bahwa aku adalah seorang pengamen yang menelusuri jalan-jalan untuk mendapat sesuap nasi. Dan kini

tiba-tiba aku berada di rumah ini. Rumah seorang yang paling berkuasa di Tanah Perdikan ini.”

“Jangan menyakiti hatimu sendiri,” jawab Wiradana. “Yang penting bagimu adalah, bahwa kau harus berusaha menyesuaikan dirimu, bahwa kau adalah istri orang yang paling berkuasa di Tanah Perdikan ini.”

“Itulah yang aku cemaskan kakang. Apakah aku akan dapat melakukannya?” bertanya Warsi.

“Aku akan menuntunmu. Aku yakin bahwa kau akan dapat melakukannya,” jawab Wiradana.

Warsi tidak menyahut lagi. Tetapi setiap kali kepalanya menunduk dan wajahnya menjadi basah. Sementara itu, maka laki-laki yang dianggap ayah Warsi itu pun berada di Tanah Perdikan Sembojan untuk beberapa waktu lamanya, sampai sepasang pengantin itu melampaui upacara sepasaran. Baru kemudian orang yang dianggap ayah Warsi itu akan meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan.

Namun dalam pada itu, selagi orang-orang Sembojan masih dibayangi oleh keramaian hari perkawinan Wiradana, maka di beberapa padukuhan telah terjadi pula kegemparan. Selagi orang-orang Tanah Perdikan itu masih berbicara tentang Warsi, istri Wiradana yang baru itu, bahwa ia adalah bekas seorang pengamen yang menari sepanjang jalan untuk menyambung hidupnya, ternyata di beberapa padukuhan

tiba-tiba saja telah muncul pula sekelompok pengamen dengan seorang penari yang masih muda dan cantik. Dengan merias diri sebaik-baiknya, penari itu memiliki kecantikan yang seakan-akan bercahaya.

Ketika kelompok itu berhenti di sudut padukuhan dan kebar untuk beberapa lamanya, maka orang-orang padukuhan yang menyaksikan penari itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Seorang laki-laki muda yang berikat pinggang selebar telapak tangan berdesis, “Ada juga orang secantik itu. Jika beberapa

saat yang lalu seorang penari cantik telah menggemparkan Tanah Perdikan ini dan kemudian telah diambil oleh Ki Wiradana, maka sekarang ada lagi seorang perempuan cantik yang berkeliling menelusuri jalan-jalan sebagaimana dilakukan oleh Warsi.”

Namun ketika laki-laki itu menyatakan untuk minta agar rombongan itu bermain di halaman rumahnya dengan imbalan uang yang cukup banyak, pengendangnya, yang mewakili kelompok itu menyatakan berkeberatan.

“Maaf Ki Sanak. Belum hari ini. Kami baru sekadar memperkenalkan diri. Mungkin pekan mendatang, kami akan kembali dan silakan untuk memanggil rombongan ini. Kami akan melayani dengan senang hati.”

Laki-laki muda itu menjadi heran. Tetapi ia tidak memaksa. Bersama-sama dengan beberapa orang lain ia menyaksikan saja rombongan penari itu kebar di sudut padukuhannya.

Dua malam berturut-turut rombongan itu nampak kebar di dua padukuhan yang termasuk tlatah Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi seperti dahulu, maka rombongan itu masih belum bersedia untuk menerima tawaran bermain di halaman seseorang. Apalagi untuk kepentingan tayub dan janggrung.

Namun yang dua malam itu ternyata telah menimbulkan berbagai macam persoalan. Orang-orang dari kedua padukuhan itu telah ramai membicarakan hadirnya serombongan penari yang kemudian telah menghilang lagi.

“Sepekan lagi rombongan itu akan datang,” berkata laki-laki yang pernah memanggil rombongan itu untuk bermain di halaman rumahnya tetapi ditolak. Tetapi ternyata sepekan kemudian rombongan itu tidak muncul lagi sebagaimana dijanjikan.

Namun dalam pada itu, beberapa orang telah mengindap pertanyaan di dalam hati mereka. Rasa-rasanya mereka pernah melihat wajah penari yang sangat cantik itu, meskipun dalam ujud yang lebih sederhana.

“Mirip sekali dengan Nyai Wiradana yang hilang itu,” desis seseorang.

Wajah kawannya tegang. Tetapi dengan tersendat-sendat ia berkata, “Memang mirip. Tetapi tentu bukan.”

“Tentu bukan,” ulang kawannya yang pertama. “Kita semuanya tahu, kalau Nyai Wiradana itu hilang bagaikan ditelan hantu.”

“Ya. Tetapi memang mirip sekali, Nyai Wiradana itu bersolek sebagaimana penari itu, maka aku kira ia pun akan menjadi secantik penari itu pula. Tetapi Nyai Wiradana terlalu sederhana. Ia jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah nampak merias diri dengan cara apapun juga,” sahut kawannya.

Tetapi sebenarnyalah, yang menganggap bahwa penari yang mirip sekali dengan Nyai Wiradana bukan hanya kedua orang itu. Beberapa orang yang lain ternyata menyebutnya demikian pula. Penari yang cantik itu mirip sekali dengan Nyai Wiradana.

Namun demikian, ada juga yang bertanya, “Tetapi apakah salah seorang penabuhnya ada yang mirip dengan Kiai Badra, kakek Nyai Wiradana yang pernah mengobati Ki Gede dan Wiradana sendiri? Atau barangkali Gandar, pembantu Kiai Badra yang dikatakannya ma-sih kadangnya sendiri.”

Orang-orang itu mulai mengingat-ingat. Tetapi mereka tidak mengenal para penabuh itu dengan baik, karena mereka tidak berada di cahaya obor sepenuhnya.

Karena itu, maka orang-orang itu pun menggeleng. Salah seorang di antara mereka menya-hut, “Aku tidak dapat melihat para penabuh dengan jelas.”

Demikianlah berita tentang sekelompok pengamen itu telah terdengar bukan saja di kedua padukuhan itu. Tetapi kemudian telah menyebar di padukuhan-padukuhan yang lain. Bahkan sampai di padukuhan induk.

Ketika Wiradana mendengar berita itu, maka jantungnya berdegup semakin cepat. Namun kemudian ia berusaha untuk mempergunakan nalarnya. Katanya di dalam hati, “Iswari sudah mati. Memang mungkin ada rombongan penari jalanan yang lain. Dan tidak aneh pula bahwa seseorang dapat mirip dengan orang lain. Tetapi jika

keduanya didekatkan, buru nampak perbedaan di antara mereka. Demikian juga agaknya dengan penari jalanan itu.”

Namun demikian pendengarannya tentang penari jalanan itu telah mempengaruhi perasaannya. Apalagi ujud kehadiran rombongan itu di Tanah Perdikan Sembojan. Demikian mereka muncul untuk dua malam berturut-turut, dengan menolak tawaran untuk bermain di rumah orang-orang yang ingin menikmati tarian seorang perempuan cantik yang kemudian telah menghilang dan tidak kembali lagi.”

Yang lebih menggelisahkan adalah pendapat beberapa orang yang seakan-akan pasti, bahwa perempuan itu adalah Nyai Wiradana yang tua.

“Iswari tidak dapat menari,” geram Wiradana. Lalu, “Jika ia masih hidup, maka ia tentu akan kembali ke rumahku.”

Memang tidak ada yang membantah. Tidak seorang pun yang tahu dengan pasti, bahwa perempuan itu memang Nyai Wiradana. Bahkan mereka pun kemudian telah mencoba memberikan jawaban sebagaimana Wiradana menjelaskan kepada dirinya sendiri, bahwa mungkin saja dua orang mempunyai wajah yang sangat mirip.

Namun dengan demikian, maka penari yang muncul dengan tiba-tiba dan hilang dengan tiba-tiba itu benar-benar telah menarik perhatian bukan saja mereka yang pernah melihatnya, tetapi mereka yang belum pernah melihatnya pun telah membicarakannya pula.

“Jika rombongan itu kembali, kapanpun juga, tolong beritahukan hal itu kepada kami,” pesan orang-orang dari padukuhan yang ingin sekali melihat wajah penari yang mirip sekali dengan wajah Iswari itu.

Tetapi pembicaraan yang berkepanjangan tentang penari itu telah membuat Wiradana pening. Dengan nada marah maka ia berbicara dengan orang-orang dari

padukuhan-padukuhan yang pernah didatangi oleh penari itu serta melihat barang sekilas, “Kalian yang menjadi cengeng. Orang yang sudah mati tidak akan pernah kembali. Meskipun demikian untuk meyakinkan kalian semuanya, bahwa orang itu sama sekali bukan Nyai Wiradana, biarlah aku sendiri akan menemuinya. Karena itu, jika benar rombongan itu datang, maka jangan takut-takut. Kalian harus menangkap mereka. Mungkin mereka tidak bersalah sama sekali dan kemudian dilepaskan. Tetapi keributan kalian tentang wajah penari yang mirip dengan

Iswari itu perlu dijernihkan.”

Orang-orang padukuhan itu hanya mengiyakan saja. Tetapi kata-kata Wiradana adalah perintah. Jika rombongan itu kembali, kapanpun juga, maka mereka harus ditangkap.

“Apakah salah mereka,” bertanya seseorang. Tetapi ia tidak berani menyampaikan kepada Ki Wiradana kecuali kepada kawan-kawannya sendiri.

“Jangan berpikir lagi. Begitu perintah itu datang, kita langsung saja melakukannya. Tanpa melihat baik dan buruknya.

Kawannya tidak menyahut. Hanya kepalanya sajalah terangguk kecil.

Tetapi setelah orang-orang di padukuhan itu bersiaga rombongan itu tidak muncul lagi. Bukan saja untuk memenuhi janji mereka seperti yang mereka katakan beberapa saat yang lalu, tetapi barangkali mereka memerlukan uang upah yang cukup.

Dengan demikian maka rombongan penari yang penarinya mirip sekali dengan Nyai Wiradana itu tetap teka-teki orang-orang di Tanah Perdikan Sembojan.

Dalam pada itu, Warsi yang juga mendengar kehadiran serombongan penari yang aneh itu, telah menjadi berdebar-debar pula. Meskipun seperti orang-orang lain ia

berpikir bahwa orang yang sudah mati tidak akan kembali, namun rerasan tentang penari itu telah membuatnya gelisah. Bahkan ketika Wiradana sedang pergi secara khusus ia telah berbicara dengan orang yang disebutnya sebagai ayahnya itu, “Bagaimana pendapatmu?” bertanya Warsi.

“Tidak lebih dari omong kosong,” jawab laki-laki itu.

“Tetapi jika rombongan itu sekali lagi datang, maka adalah tugasmu untuk membuktikan, bahwa orang itu benar-benar bukan Nyai Wiradana.”

“Kau memang aneh. Seharusnya kau tidak usah menjadi gelisah, karena tidak mungkin hal seperti kau cemaskan itu terjadi,” berkata laki-laki itu.

“Kita hanya meyakinkan saja,” jawab Warsi.

“Apakah agaknya kau telah mulai benar-benar menjadi cengeng,? bertanya laki-laki.

“Tutup mulutmu,” bentak Warsi. “Kau kira aku tidak dapat menyumbat mulutmu dengan terompah. Aku perintahkan kau untuk membuktikannya. Jangan membantah. Jika kau masih membantah, maka aku bunuh kau dan aku kubur kau di bawah amben pembaringanmu. Tidak akan ada orang yang akan mencarimu selama-lamanya.”

Laki-laki itu tidak menjawab. Ia tahu sifat-sifat Warsi sebaik-baiknya. Karena itu, maka ia pun hanya mengangguk saja tanpa mengucapkan jawaban.

Dalam pada itu, selagi Tanah Perdikan sedang sibuk berbicara tentang penari yang mirip dengan Nyai Wiradana, maka Wiradana sendiri telah disibukkan dengan satu keinginan untuk segera berhubungan dengan Pajang.

“Sudah cukup waktunya untuk mengangkat seorang Kepala Tanah Perdikan yang baru,” berkata Wiradana kepada orang-orang tua di Tanah Perdikan Sembojan.

“Ya Wiradana,” jawab salah seorang dari orang-orang tua itu, “Nampaknya memang demikian.”

“Apakah tidak sebaiknya aku menghadap ke Pajang untuk memohon agar aku segera diwisuda? Bukankah kita sudah cukup lama memberikan laporan tentang kematian ayah?” berkata Wiradana kemudian. “Ya. Sudah cukup lama. Meskipun demikian, hendaknya kau bersabar barang sebulan lagi. Jika Pajang menganggap waktunya sudah datang, kau tentu akan dipanggil untuk membicarakan persoalan itu,” berkata salah seorang dari orang-orang tua

itu.

“Tetapi aku sudah terlalu lama menunggu,” berkata Wiradana. “Bahkan mungkin orang-orang Pajang itu sudah lupa, bahwa mereka mempunyai daerah yang disebut Tanah Perdikan Sembojan.”

“Tentu tidak,” jawab orang tua itu. “Tetapi jika mendesak para pemimpin di Pajang, maka mungkin sekali mereka merasa tersinggung oleh ketidaksabaranmu. Apalagi meninggalnya Ki Gede masih terhitung belum terlalu lama.”

Wiradana ternyata mendengarkan petunjuk. Ia menunda kepergian ke Pajang untuk menanyakan, kapan ia akan diwisuda. Meskipun yang akan terjadi sesudah wisuda itu tidak akan berbeda dengan sebelumnya bagi dirinya dan bagi Tanah Perdikan Sembojan, namun wisuda itu sendiri akan mempunyai arti yang penting. Dengan wisuda maka kedudukannya benar-benar telah dikukuhkan oleh Pajang sehingga apa yang dilakukannya, benar-benar atas nama kekuasaan Pajang itu sendiri.

Namun, sementara Ki Wiradana menunggu, maka beberapa hal telah dilakukannya. Wiradana ternyata tidak banyak memperhatikan perubahan yang terjadi di Tanah Perdikannya, tetapi ia lebih banyak berbicara tetang perubahan-perubahan atas rumah tempat tinggalnya. Meskipun perubahan-perubahan itu sebagian adalah karena permintaan istrinya yang baru, Warsi.

Dalam kewajibannya sehari-hari, Warsi telah berusaha untuk mendapat tempat

dihati para pembantu rumahnya. Ia sudah berhubungan dengan perempuan-perempuan yang ada di dapur setiap hari. Dengan orang-orang yang sering membersihkan

ruangan-ruangan di dalam rumah dan orang-orang lain yang sering berhubungan dengan dirinya, di dalam rumah itu.

Tetapi ternyata bahwa sikap orang-orang itu kadang-kadang sangat menyakitkan hatinya. Hampir setiap saat Warsi mendengar orang-orang itu memuji kebaikan hati, ketrampilan dan kerendahan hati Iswari, istri Ki Wiradana yang terdahulu. Ketika Warsi mengatur ruang tidurnya, dan memanggil dua orang perempuan untuk membantunya, maka kedua orang itu rasa-rasanya sangat segan melayaninya. “Tempat ini di atur sendiri oleh Nyai Wiradana,” berkata salah seorang perempuan itu, “Aku tidak senang melihat perubahan-perubahan yang terjadi. Nyai Wiradana telah mengaturnya dengan cermat.” Wajah Warsi menjadi merah membara. Hampir saja tangannya terlontar ke wajah perempuan itu. Untunglah ia segera menyadari kedudukannya, sehingga karena itu, maka ia berusaha untuk menahan diri.

Dengan sabar ia berusaha menjelaskan, “Aku mengerti bibi bahwa bilik ini telah diatur dengan rapi sekali oleh Nyai Wiradana yang terdahulu. Tetapi sekarang, agaknya akulah yang harus menempatinya, sehingga aku dapat mengaturnya sesuai dengan keinginanku. Namun jika kemudian ternyata bahwa yang aku lakukan itu menjadi kurang baik, maka aku akan dengan senang hati mengembalikannya kepada wajah yang sekarang.”

Tetapi perempuan itu menjawab, “Bagi kami, apa yang dilakukan oleh Nyai Wiradana adalah yang sebaik-baiknya.”

“Mungkin demikian bibi,” jawab Warsi sareh, meskipun jantungnya rasa-rasanya bagaikan terbakar, “Yang aku lakukan adalah sekadar mencoba saja.”

Perempuan-perempuan itu termangu-mangu sejenak. Tetapi mereka pun menyadari, bahwa yang berkuasa saat ini adalah Nyai Wiradana yang baru, sehingga mereka pun tidak dapat menolak untuk melakukan perintahnya.

Dengan demikian, maka beberapa perabot rumah pun telah diubah susunannya. Bahkan dalam saat yang pendek dihari-hari terakhir, Wiradana telah memerintahkan

orang-orangnya untuk membuat atau membeli perabot-perabot rumah yang baru dengan

membuang perabot-perabot rumah yang lama yang tidak sesuai dengan seleranya. Tingkah laku Nyai Wiradana itu telah menumbuhkan sikap yang kadang-kadang tidak menyenangkan bagi Wiradana itu sendiri. Tetapi Nyai Wiradana yang baru itu agaknya tidak menghiraukannya.

Kepada Wiradana, Warsi kadang-kadang telah menyebut beberapa hal tentang rumahnya itu, yang menurut pendapatnya agak kurang dapat memberikan ketenangan. “Apa artinya bekas tangan Warsi itu?” bertanya Wiradana. “Memang tidak apa-apa kakang. Tetapi setiap kali aku teringat kepada istri kakang itu, maka hatiku

menjadi berdebar-debar. Aku masih saja selalu merasa bersalah kakang,” jawab Warsi.

“Kau memang aneh,” berkata Wiradana. “Kesalahan yang tidak pernah ada itu selalu saja membayangimu. Aku yang bertanggung jawab atas hal itu, tidak pernah

dikejar-kejar oleh perasaan bersalah itu.”

“Mungkin memang lain kakang. Kau seorang laki-laki dan aku adalah seorang perempuan. Apalagi aku adalah perempuan yang harus menggantikan kedudukan istrimu yang sudah tidak ada itu,” jawab Warsi.

“Jangan hiraukan. Tetapi aku tidak menolak bahwa kau ingin mengadakan perubahan-perubahan atas rumah ini,” berkata Wiradana kemudian.

Dengan demikian, maka beberapa perubahan telah dilakukan oleh Wiradana atas rumah yang sebenarnya sudah memiliki bentuk yang mapan.

Wiradana telah memerintahkan untuk mengubah sungging pada tiang-tiang di pendapa dan pringgitan rumahnya. Kemudian juga pada gebyok senthong tengah dan kedua senthong sebelah menyebelah. Isi senthong tengah pun telah disingkirkan dan

diganti dengan yang baru.

Dengan demikian maka Wiradana menjadi sibuk. Tetapi kesibukannya sama sekali tidak memberikan pengaruh apapun kepada Tanah Perdikan Sembojan, karena kesibukannya sebagian besar adalah untuk memperbaiki, mengubah dan membuat rumahnya menjadi lebih baik.

Beberapa pihak di Tanah Perdikan Sembojan mulai melontarkan beberapa pertanyaan di antara mereka. Dalam waktu yang terhitung singkat, Wiradana sudah menumbuhkan kesan yang kurang dapat dimengerti oleh rakyat Tanah Perdikannya. Bahkan perempuan-perempuan yang berada di rumah Ki Wiradana sebagai pembantu rumahnya,

telah merasakan perbedaan yang sangat besar antara Iswari yang bagi mereka sangat baik itu dengan Warsi yang lebih mementingkan dirinya sendiri, cengeng dan terlalu manja.

“Tetapi itu adalah pencerminan dari kehalusan budinya,” berkata seorang perempuan tua yang menjadi juru masak di rumah Ki Wiradana itu.

Kawan-kawannya mengerutkan keningnya, sementara perempuan itu meneruskan, “Setiap kali Nyai Wiradana itu merasa tersinggung, maka ia pun telah menangis dihadapan suaminya. Baru kemudian suaminyalah yang mengambil langkah untuk mengatasinya. Kesannya memang sangat cengeng dan manja. Tetapi orang-orang yang berpapasan sangat lembut akan bersikap seperti itu.”

Keterangan itu agaknya memang kurang dapat dimengerti. Tetapi kawan-kawannya sama sekali tidak membantah. Mereka berusaha untuk mengerti, bahwa perempuan yang menggantikan kedudukan Iswari itu adalah perempuan yang hatinya lembut sekali.

“Tetapi perempuan itu malas sekali,” bisik seorang perempuan muda. “Aku belum pernah melihat ia bekerja mengenai sesuatu kewajibannya sebagai seorang istri.

Ia tidak pernah membersihkan biliknya jika bukan kita yang melakukan. Ia tidak pernah turun ke dapur dan langsung memasak. Ia juga tidak pernah berbuat apa-apa selain duduk-duduk sambil berbincang dengan Ki Wiradana. Kemudian berteriak memanggil salah seorang di antara kita untuk memberikan beberapa perintah.”

“Ia belum terlalu lama disini,” jawab perempuan tua yang menjadi juru masak itu, “Pada saatnya ia akan berbuat baik. Kini belum waktunya kita memberikan penilaian tentang perempuan itu.”

Yang lain pun telah terdiam kembali. Namun jantung mereka tetap bergejolak di dalam dada mereka masing-masing.

Pada saat-saat yang demikian, maka Wiradana mulai merasakan suatu kelainan sikap beberapa pihak di Tanah Perdikan itu. Tetapi untuk sementara itu tidak terlalu menghiraukannya. Ia masih sibuk dengan istrinya yang baru, yang mempunyai beberapa permintaan tentang ujud dan susunan rumahnya.

Dalam pada itu, ternyata Warsi masih menahan laki-laki yang disebutnya sebagai ayahnya untuk tetap berada di Tanah Perdikan itu dengan berbagai alasan.

Wiradana sendiri sama sekali tidak merasa berkeberatan. Bahkan ia merasa kehadiran laki-laki itu dapat dijadikannya bukan saja sebagai ayah mertuanya, tetapi juga kawan berbincang, karena rumahnya yang seakan-akan telah menjadi kosong sepeninggalan ayahnya.

Namun bagi Warsi kehadiran laki-laki itu akan dapat menjadi orang yang setiap saat siap menghubungkannya dengan ayahnya yang sebenarnya jika ia memerlukan. Terlebih-lebih lagi ketika Tanah Perdikan itu mulai digemparkan dengan kehadiran serombongan penari yang penarinya mirip sekali dengan Iswari.

Untuk menanggapi sikap beberapa pihak yang nampaknya kurang menguntungkannya, maka Wiradana telah mengambil langkah-langkah tertentu. Ia telah memanggil beberapa orang anak muda yang kemudian ditempanya menjadi sekelompok anak-anak muda yang dapat dipercaya dan siap melakukan tugas-tugas apa saja yang dibebankannya kepada mereka.

Mula-mula anak-anak muda itu memang merasa janggal bahwa mereka telah diperlakukan agak berbeda dengan kawan-kawan mereka. Tetapi lambat laun mereka menjadi terbiasa mendapat perlakuan yang demikian dari Wiradana. Kebutuhan mereka sangat diperhatikan, bahwa kepada mereka diberikan pakaian yang khusus dan mereka mendapat penghasilan dari tugas-tugas mereka. Anak-anak muda itu mula-mula menyangka bahwa mereka akan mendapat tugas sebagai

pengawal khusus sebagaimana pernah dilakukan oleh Ki Gede. Namun pada masa Ki Gede memerintah, pengawal khusus itu tidak mendapat perlakuan yang berlebihan.

Justru mereka mendapat latihan-latihan yang berat serta mengalami ujian

bertingkat-tingkat. Sedangkan sekelompok anak-anak muda yang mendapat perlakuan khusus dari Wiradana justru mendapat penghasilan yang dapat memberikan kesenangan kepada mereka.

Tetapi anak-anak muda yang mendapat kepercayaan dari Wiradana itu semakin lama semakin nampak terjadi perubahan-perubahan pada sifat-sifat mereka. Mereka seakan-akan telah terpisah dari pergaulan kawan-kawan mereka. Tetapi anak-anak muda itu telah berada dalam satu kelompok tersendiri yang mempunyai tugas-tugas yang memang khusus pula.

Yang mengherankan bagi anak-anak muda Tanah Perdikan itu yang lain, anak-anak muda yang menjadi kepercayaan Wiradana merasa diri mereka berkuasa sebagai Wiradana sendiri. Mereka selalu menjalankan perintah Wiradana dengan patuh dan bersikap aneh terhadap kawan-kawan mereka sendiri yang sebelumnya merupakan kawan yang akrab.

Dengan demikian, maka di Tanah Perdikan Sembojan telah tersusun satu kekuatan yang dipagari oleh sekelompok anak-anak muda yang telah di susun untuk keperluan itu. Anak-anak muda yang kemudian seakan-akan telah kehilangan kepribadian mereka sendiri dan melakukan apa saja yang diperintahkan oleh Wiradana.

Dengan pasukan khusus itulah maka Wiradana telah memperkuat kedudukannya, sehingga ia benar-benar ditakuti oleh rakyatnya. Tetapi ketakutan rakyat kepada Wiradana jauh berbeda dengan perasaan takut rakyat Tanah Perdikan Sembojan takut kepada Ki Gede. Anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan takut kepada Ki gede sebagaimana mereka takut kepada ayah mereka. Tetapi kepada Wiradana mereka merasa takut sebagaimana seorang budak merasa takut kepada tuannya yang garang. Dalam suasana yang demikian, maka Wiradana memerintah Tanah Perdikan Sembojan didampingi oleh istrinya yang cantik. Warsi yang mula-mula dianggap sebagai perempuan yang lembut, bahkan terlalu lembut, agak cengeng dan manja telah berubah pula. Ia bukan lagi seorang perempuan yang lembut, tetapi yang nampak padanya kemudian adalah kemanjaan saja. Merengek, menangis dan dengan merajuk minta disediakan berbagai macam keperluan yang sebelumnya tidak pernah dikenal di Tanah Perdikan Sembojan.

Demikianlah, maka beberapa hal telah berubah di Tanah Perdikan Sembojan. Tata kehidupan, kebiasaan dan tingkah laku anak-anak mudanya. Anak-anak muda yang mendapat tugas khusus dari Wiradana kadang-kadang telah melakukan tindakan yang justru menyakiti hati kawan-kawan mereka sendiri.

Yang kemudian disebut penertiban pajak, ternyata adalah beban yang menjadi terlalu berat bagi sebagian rakyat Tanah Perdikan Sembojan. Sedangkan pemeliharaan kepentingan rakyat banyak, termasuk parit, jalan dan bendungan agaknya terabaikan.

Dengan gayanya yang khusus Warsi benar-benar telah berhasil mengendalikan Wiradana. Tata pemerintahan yang dilakukan, adalah hasil pikiran Warsi yang diungkapkan dengan sikap kepura-puraan yang untuk sekian lama berhasil membelenggu Wiradana.

Selagi Tanah Perdikan Sembojan mulai dibayangi oleh geseran beberapa tata nilai yang berlaku, maka sekali lagi Tanah Perdikan itu digemparkan oleh kehadiran serombongan penari yang berkeliling di salah satu padukuhan. Kehadiran rombongan itu telah mengejutkan seisi padukuhan itu. Mereka telah mendapat perintah, jika rombongan penari itu datang lagi, maka mereka harus ditangkap.

Namun dalam pada itu, beberapa orang yang sebelumnya belum pernah melihat rombongan itu, justru telah memerlukan untuk melihat, apakah benar bahwa penari dari rombongan itu mirip sekali dengan Iswari, istri Wiradana yang pernah hilang beberapa saat yang lalu dan tidak pernah diketemukan lagi.

Beberapa orang memang tidak percaya bahwa penari itu ada hubungannya dengan Iswari. Tetapi mereka hanya ingin melihat, seseorang yang mirip sekali dengan orang yang pernah menjadi keluarga yang akrab di Tanah Perdikan itu.

Ketika rombongan itu kebar di sudut padukuhan dengan lampu yang remang-remang, maka sebenarnyalah semua orang yang menyaksikan sepakat bahwa penari itu memang mirip sekali dengan Iswari.

“Tetapi Nyai Wiradana tidak pernah merias wajahnya seperti itu,” berkata salah seorang di antara mereka yang menonton kebar itu.

“Aku tahu,” jawab yang lain. “Orang itu tentu bukan Nyai Wiradana. Jika ia Nyai Wiradana kenapa ia harus menjadi penari jalanan seperti istri Wiradana yang sekarang?”

Yang lain hanya mengangguk-angguk saja. Namun seorang laki-laki yang rambutnya sudah berwarna dua mulai berpikir. Katanya di dalam hati, “Kenapa perempuan yang mirip sekali dengan Nyai Wiradana itu telah melakukan satu pertunjukan keliling

di Tanah Perdikan ini? Apakah orang itu dengan sengaja telah menyindir istri Wiradana yang sekarang?”

Terlepas dari segala dugaan, ternyata bahwa penari yang cantik itu memang mampu menari dengan lembut. Wajahnya yang cantik serta senyumnya yang luruh membuat orang-orang yang menyaksi- kan menjadi sangat tertarik kepadanya.

Tetapi ternyata kemudian tidak ada seorang pun yang berani mengganggu penari itu. Tidak ada seorang pun yang berniat buruk. Bahkan tidak ada seorang pun yang

akan memanggil dan mengupah penari itu untuk menyelenggarakan tayub dan apalagi janggrung, karena yang terbayang di mata mereka bahwa penari itu adalah Nyai Wiradana sendiri. Sehingga mereka tidak sampai hati memperlakukan Nyai Wiradana sebagaimana terhadap penari-penari jalanan yang lain.

Namun dalam pada itu, kecemasan telah mencengkam jantung orang-orang yang menyaksikan kebar itu. Mereka sadar, bahwa mereka harus berusaha menangkap. Tetapi ternyata bahwa mereka tidak dapat melakukannya. Rasa-rasanya penari itu memang benar Nyai Wiradana, meskipun dengan nalar, mereka tidak dapat menerimanya.

Untuk beberapa saat orang-orang padukuhan itu menjadi bingung. Apakah mereka akan mengikuti perintah Ki Wiradana untuk menangkap penari itu untuk meyakinkan bahwa perempuan itu bukan Nyai Wiradana untuk kemudian dilepaskan lagi, atau mereka tidak akan melakukannya. Namun dengan demikian Wiradana akan menjadi sangat marah kepada mereka.

Selagi orang-orang itu kebingungan, maka tiba-tiba saja seorang di antara

mereka, seorang rambutnya sudah berwarna dua itu bergeser mendekati para penabuh di belakang alat-alat tetabuhan mereka. Perlahan-lahan ia berbisik di telinga

salah seorang di antara mereka, “Silakan berhenti Ki Sanak. Ada sesuatu yang ingin aku beritahukan.”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian membisikkannya kepada seorang kawannya. Demikian pula kawannya telah membisikkan kepada pengendangnya.

Pengendang itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun telah menghentikan pertunjukan itu.

Beberapa orang justru menjadi lega. Mereka tidak ingin melihat rombongan itu ditangkap. Karena itu, sebagian dari mereka justru berharap agar rombongan itu dengan cepat meninggalkan padukuhan mereka.

Namun dalam pada itu, pengendangnya yang belum mengetahui apa yang akan dikatakan oleh orang yang rambutnya sudah berwarna dua itu telah mendekatinya sambil bertanya, “Ada apa Ki Sanak?”

Orang yang rambutnya telah berwarna dua itu termangu-mangu. Sejenak ia memandang berkeliling. Namun karena yang ada disekitar arena itu hanyalah orang-orang dari padukuhan itu saja, maka ia pun telah berkata kepada pengendangnya itu, “Ki

Sanak. Bukan maksud kami mengusir Ki Sanak. Tetapi kami minta kalian meninggalkan padukuhan ini.”

Pengendang itu termangu-mangu sejenak. Kemudian dengan suara yang datar ia berkata, “Kenapa kami harus pergi? Apakah kami dianggap membuat kerusuhan disini? Atau barangkali dengan kehadiran kami akan dapat menumbuhkan kemungkinan-kemungkinan buruk bagi keluarga.”

“Tidak,” jawab orang yang rambutnya sudah berwarna dua itu, “Jika aku mengatakan demikian maka semuanya itu belum terbukti.”

“Jika demikian, lalu apa kesalahan kami,” bertanya pengendang itu.

“Ki Sanak,” jawab orang berambut berwarna dua. “Mungkin Ki Sanak sama sekali tidak dapat mengerti. Tetapi sebenarnyalah bahwa Ki Wiradana, pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan kami disini telah mengeluarkan perintah, jika rombongan ini datang lagi di Tanah Perdikan, maka rombongan ini harus ditangkap.” “Ditangkap?” pengendang itu terkejut.

“Memang mengejutkan bagi Ki Sanak,” jawab orang yang rambutnya berwarna dua. “Tetapi sebenarnya memang demikian. Ketahuilah, bahwa penarimu ternyata adalah seorang perempuan muda yang mirip sekali dengan bekas istri pemangku Kepala Tanah Perdikan ini. Orang-orang di Tanah Perdikan ini telah membicarakannya dan karena itu maka timbul berbagai macam tafsiran tentang penarimu itu. Karena itu, maka Kepala Tanah Perdikan ini memerintahkan untuk menangkap kalian. Kalian memang tidak bersalah. Tetapi Kepala Tanah Perdikan kami hanya ingin menjernihkan keadaan, anggapan tentang penari yang mirip sekali dengan istri Kepala Tanah Perdikan kami yang telah hilang beberapa waktu lalu.”

“Tetapi kami tidak mempuny ai sangkut paut dengan orang yang hilang itu,” desis pengendang itu.

“Ada. Karena penarimu mirip sekali dengan bekas istrinya,” jawab laki-laki berambut dua itu.

Pengendang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jika demikian baiklah. Kami akan meninggalkan padukuhan ini.”

“Silakan Ki Sanak,” berkata laki-laki yang rambutnya berwarna dua itu. “Kami tidak akan sampai hati menangkap kalian, meskipun pada saatnya nanti akan dilepaskannya lagi. Karena itu, daripada kami menangkap kalian, maka lebih baik bagi kami untu Pengendang itu mengangguk-angguk. Jawabnya kemudian, “Kami mengucapkan terima kasih atas peringatan ini. Jika demikian, maka biarlah kami minta diri.”

“Silakan,” sahut laki-laki itu.

Pengendang itu pun kemudian membisikkan sesuatu ke telinga penari cantik yang termangu-mangu itu. Namun akhirnya penari itu mengangguk-angguk.

Pengendang itu kemudian berdiri di tengah-tengah arena untuk mohon diri dan mohon maaf kepada orang-orang padukuhan itu.

“Sebenarnya kami masih ingin menghibur kalian,” berkata pengendang itu. “Tetapi apaboleh buat. Kami mengucapkan terima kasih bahwa kalian masih memberi kebebasan kepada kami dengan peringatan ini. Agaknya kalian masih mempunyai belas kasihan kepada kami.”

Dengan demikian maka rombongan penari itu pun segera mengemasi barang-barang mereka termasuk seperangkat gamelan yang sederhana, yang mereka bawa dengan pikulan. Tertatih-tatih mereka meninggalkan padukuhan itu, menyusuri jalan bulak yang gelap. Namun orang-orang padukuhan itu merasa lega, bahwa rombongan itu telah pergi. Dengan demikian maka mereka tidak harus menangkap orang-orang yang tidak bersalah sama sekali ini.

Tetapi adalah satu kesepakatan di antara orang-orang padukuhan itu, bahwa penarinya mirip sekali dengan Iswari yang telah dinyatakan hilang dan tidak pernah kembali itu.

“Sungguh satu keajaiban,” berkata salah seorang di antara orang-orang padukuhan itu. “Kemiripan yang hampir tepat. Seandainya Nyai Wiradana masih hidup, maka jika keduanya dijajarkan, maka keduanya tentu disangka dua orang saudara kembar.”

Tidak ada orang yang membantah. Keduanya memang mirip sekali. Namun orang-orang padukuhan itu yakin, bahwa yang dihadapinya memang satu keajaiban. Bukan

sekali-kali Nyai Wiradana yang hilang itu telah kembali dalam ujud seorang penari.

Namun dalam pada itu, ketika orang-orang padukuhan itu kembali ke rumahnya, demikian mereka menutup pintu-pintu regol, maka mereka telah mendengar derap kaki beberapa ekor kuda. Satu dua orang yang menjengukkan kepalanya melihat dibawah cahaya obor di regol rumahnya, bahwa sekelompok pengawal khusus Tanah Perdikan itu telah lewat. Mereka adalah anak-anak muda yang merupakan kekuatan yang mendukung Wiradana dalam kedudukannya dan dalam menjalankan pemerintahannya.

Orang-orang padukuhan itu termangu-mangu. Namun mereka telah menutup kembali pintu-pintu regol mereka dengan berbagai pertanyaan di dalam hati.

Sekelompok orang-orang berkuda itu ternyata telah langsung pergi ke banjar. Mereka berloncatan turun di halaman banjar yang sepi. Namun ada beberapa orang anak muda yang berada di gardu di regol halaman banjar.

Pemimpin sekelompok anak-anak muda dalam pakaian dan sikap yang khusus itu telah melangkah ke gardu. Dengan suara lantang ia bertanya, “Siapa meronda malam ini?”

Anak-anak muda di gardu itu mengerutkan keningnya. Mereka agak kurang senang terhadap anak-anak muda yang dengan khusus melakukan segala tugas yang dibebankan oleh Wiradana tanpa pertimbangan sama sekali. Bukan hanya anak-anak muda saja, tetapi juga orang-orang tua, karena anak-anak muda yang tergabung dalam kelompok khusus itu kadang-kadang bersikap berlebih-lebihan.

“Siapa?” ulang pemimpin kelompok itu.

Seorang anak muda turun dari gardu itu sambil berkata, “Kami, empat orang. Tetapi orang yang lain berbaik hati menemani kami meronda di banjar ini.” Pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Lalu katanya dengan nada berat, “Dimana

rombongan penari itu?”

Anak-anak muda yang meronda itu terkejut. Sejenak mereka terdiam, sementara beberapa orang yang lain dengan serta merta, di luar kesadaran mereka telah berloncatan turun.

“Kenapa kalian menjadi bingung? Kami telah menerima laporan bahwa rombongan penari itu telah datang lagi. Sesuai dengan perintah Ki Wiradana, maka kalian

dan seisi padukuhan ini tentu telah menangkap rombongan itu. Dimana rombongan itu kalian simpan sekarang?” Anak-anak muda itu benar-benar bingung. Tetapi ternyata bahwa ada juga di antara mereka yang mampu menguasai diri. Meskipun dengan jantung berdebaran anak muda itu menjawab, “Penari itu telah pergi. Kami telah mengusir penari itu bersama rombongannya.”

“Di usir? He, apakah aku tidak salah dengar,” bentak pemimpin kelompok itu. “Ya. Kami telah mengusirnya. Tidak menangkapnya, karena kami tidak dapat

menunjukkan kesalahan mereka. Jika yang dimaksud adalah karena penarinya mirip dengan Nyai Wiradana yang terdahulu, ternyata tidak. Memang ada kemiripan.

Tetapi setelah kami memperhatikannya dengan sungguh-sungguh justru setelah timbul persoalan, maka kami mengambil kesimpulan, bahwa ada beberapa perbedaan pada wajahnya. Penari itu memang mempunyai sepasang mata bulat, hidung yang mancung dan bibir tipis. Agak berbeda dengan Nyai Wiradana. Perbedaan lain yang jelas adalah bahwa kening penari itu nampak menonjol,” berkata anak muda itu.

“Mungkin bagi kami yang sempat memperhatikan. Tetapi Ki Wiradana ingin menangkap mereka dan membawanya ke padukuhan induk. Ki Wiradana akan memperlihatkan kepada

Rakyat Perdikan ini di semua padukuhan bahwa dongeng mengenai Nyai Wiradana itu adalah dongeng yang tidak masuk akal,” geram pemimpin pengawal itu.

“Aku setuju,” jawab anak muda di gardu itu. “Bahkan aku sudah meyakinkan. Perempuan itu sama sekali berbeda jika kita sempat memperhatikan.”

“Kesempatan itulah yang ingin diberikan oleh Ki Wiradana kepada semua orang. He kau benar-benar dungu dan tidak mengerti maksudku. Kita tangkap perempuan itu dan kita bawa berkeliling padukuhan. Semua orang harus memperhatikan dengan sungguh-sungguh untuk melihat perbedaan-perbedaan seperti yang kau katakan,” pemimpin pengawal itu hampir berteriak.

Anak muda itu mengerutkan keningnya. Baru kemudian ia mengangguk-angguk sambil berdesis, “O, jadi begitu maksudmu. Satu hal yang tidak pernah aku pikirkan.”

“Tidak pernah kau pikirkan? Bukankah perintah itu sudah diberikan oleh Ki Wiradana?” bertanya pemimpin kelompok itu dengan suara keras.

“Jangan membentak-bentak begitu,”berkata anak muda itu. “Bukankah lebih baik jika kita berbicara sebagaimana kita selalu melakukannya. Sambil bergurau atau kadang-kadang diiringi oleh suara tawa yang riuh di antara kita.”

“Tutup mulutmu,” bentak pemimpin kelompok itu. “Aku sedang melakukan tugas. Kau jangan mencoba untuk membujukku. Sekarang tunjukkan dimana rombongan penari itu.”

“Sudah pergi. Kami telah mengusir mereka agar mereka tidak menimbulkan persoalan lagi disini,” jawab anak muda itu.

“Gila, Kalian telah melanggar perintah Ki Wiradana,” geram pemimpin kelompok itu.

“Mungkin. Tetapi bukankah lebih baik perempuan yang diributkan mirip dengan Nyai Wiradana itu pergi daripada harus diarak keliling Tanah Perdikan untuk menunjukkan perbedaan-perbedaan dengan Nyai Wiradana. Bukankah perempuan itu dengan demikian akan merasa tersiksa dan dihinakan justru sama sekali tidak bersalah. Kau dapat membayangkan, betapa malunya perempuan itu dibawa berkeliling. Semua orang diminta untuk mengamati wajahnya sedangkan pada pengiringnya dengan berlebih-lebihan akan menunjukkan keningnya, matanya, hidungnya, bibirnya dan bagian-bagian lain dari tubuhnya yang menunjukkan perbedaan itu,” berkata anak muda itu.

“Kau jangan membuat persoalan dengan kami,” suara pemimpin kelompok itu menjadi kian garang. “Aku dapat berbuat jauh lebih banyak dari yang pernah aku lakukan.”

Anak muda yang di gardu itu menjadi tegang. Tetapi ia sama sekali tidak menjawab lagi. Anak muda itu memang tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diharapkan, apalagi dengan anak-anak muda dalam kesatuan khusus itu.”

Karena anak muda itu tidak menjawab, maka pemimpin kelompok itu kemudian membentak lagi, “Tunjukkan, kemana rombongan itu pergi.”

Anak muda itu termangu-mangu. Sejenak ia memandang kawan-kawannya yang agaknya

juga menjadi ragu-ragu.

“Cepat,” teriak pemimpin kelompok itu. “Jika aku kehilangan rombongan itu karena mereka sudah memasuki tlatah lain di luar Tanah Perdikan ini, kau akan dapat membayangkan, apa yang akan terjadi atas padukuhan ini.”

Anak muda itu menjadi cemas juga. Rasa-rasanya jantungnya berdegup semakin keras oleh gejolak perasaannya. Ia mengerti, bahwa orang itu tidak hanya sekadar mengancamnya.

Namun rasa-rasanya hatinya berat juga untuk menunjukkan kemana rombongan itu pergi, karena ia tahu apa yang akan dilakukan oleh Wiradana atas penari cantik yang memang sangat mirip dengan Nyai Wiradana itu. Karena anak muda itu tidak segera menjawab, maka tiba-tiba pemimpin kelompok orang berkuda itu dengan serta merta telah meraba lehernya sambil berdesis, “Kau jangan mengorbankan dirimu untuk kepentingan perempuan yang tidak kau kenal itu he?”

Anak muda itu tidak dapat mengelak lagi. Karena itu, maka ia pun telah menunjukkan arah perjalanan rombongan penari yang wajahnya mirip sekali dengan wajah Iswari itu.

“Jika kau bohongi kami, maka kau akan tahu sendiri akibatnya,” geram pemimpin rombongan itu.

Anak muda itu sama sekali tidak menjawab. Ia hanya dapat memandang beberapa ekor kuda yang berderap menjauh, menyusul rombongan penari yang telah lebih dahulu meninggalkan Tanah Perdikan itu.

“Mudah-mudahan rombongan itu telah mengambil jalan memintas atau pergi ke padukuhan yang lain,” berkata anak muda itu kepada kawannya yang berada disekitar gardu itu.

“Mudah-mudahan mereka selamat,” desis yang lain. “Aku tidak akan sampai hati melihat perempuan itu di arak keliling Tanah Perdikan tanpa melakukan kesalahan apapun sebelumnya, sekadar untuk diamat-amati oleh orang-orang Tanah Perdikan Sembojan.”

Dalam kegelapan malam, derap kaki-kaki kuda telah mengoyak sepi. Sekelompok anak-anak muda telah berusaha menyusul rombongan penari yang berjalan beriring meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan.

Ternyata sekelompok anak-anak muda yang berkuda itu mampu mengikuti jejak rombongan penari jalanan itu. Dari kejauhan kelompok itu sudah melihat sepasang obor yang bergerak, terombang-ambing oleh angin. Nampaknya rombongan itu sama sekali tidak berusaha untuk menghindari beberapa orang yang mungkin melihat.

Karena itu, maka pemimpin kelompok itu pun telah memperbesar kecepatan kuda mereka. Rasa-rasanya mereka sudah tidak sabar menyusul rombongan penari yang katanya memang mirip sekali dengan Nyai Wiradana.

Ketika mereka hampir menyusul rombongan para penari itu di tengah-tengah bulak, maka pemimpin kelompok itu pun berteriak, “Berhenti. Kami memang sedang mengikuti kalian, pengamen.”

Rombongan penari itu terkejut. Mereka sebelumnya tidak memikirkan, bahwa akan terjadi kesulitan seperti yang mereka hadapi saat itu. Tetapi segalanya sudah lewat. Yang akan terjadi adalah mereka telah disusul oleh sekelompok anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan.

Orang tertua di antara para penabuh gamelan itu pun telah berkata kepada orang-orangnya. “Berhati-hatilah. Anak-anak muda itu telah dibius oleh Ki Wiradana sehingga mereka seakan-akan telah kehilangan kepribadian mereka sendiri.”

“Apakah benar mereka akan menangkap kita?” bertanya penari yang cantik itu. “Nampaknya memang begitu. Bukankah orang-orang padukuhan tadi sudah memperingatkan kepada kita akan bahaya itu? Bahkan orang-orang padukuhan itu pun mendapat perintah untuk menangkap kita jika kita memasuki padukuhan itu,” jawab pengendangnya.

Ternyata mereka tidak sempat untuk berbicara lebih panjang lagi. Sejenak kemudian kelompok orang-orang berkuda itu benar-benar telah menyusul mereka. “Berhenti,” perintah pemimpin kelompok itu.

Tidak ada pilihan lain bagi rombongan penari jalanan itu. Mereka pun kemudian berhenti sambil meletakkan barang-barang yang mereka bawa termasuk seperangkat gamelan yang sangat sederhana, sambil menunggu dengan termangu-mangu.

Pemimpin pengawal Wiradana itu pun segera meloncat turun. Diikuti oleh

kawan-kawannya. Mereka segera mengepung rombongan pengamen itu tanpa kecuali. Dengan lantang pemimpin anak-anak muda itu pun kemudian memberikan aba-aba, “Kalian adalah tawanan kami.”

Sejenak orang-orang yang sedang dikepung itu membeku. Namun sejenak kemudian orang tua pemukul gendang itu pun melangkah maju sambil bertanya, “Apakah kesalahan kami?”

“Aku tidak tahu. Aku hanya mendapat perintah untuk membawa kalian kembali,” jawab pemimpin rombongan itu.

“Ki Sanak,” berkata pengendangnya itu kemudian, “Sebaiknya Ki Sanak menyampaikan sikap kami. Kami bukan orang-orang berdosa yang akan dapat membuat Tanah Perdikan ini dikutuk karena perbuatan kami. Karena itu, kami mohon disampaikan kepada Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan, kami menyatakan berkeberatan. Itu kalau yang memerintahkan kalian Kepala Tanah Perdikan

Sembojan, sedangkan apabila yang memerintah pihak lain, maka sikap kami pun akan serupa.” Wajah pemimpin kelompok yang mengejar mereka itu pun menjadi tegang. Tetapi ia tidak segera memberikan jawaban. Ia tidak mengira bahwa pada suatu saat ia akan bertemu dengan orang tua yang dengan tegas berani menentang perintah pengawal khusus Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Namun justru karena itu, maka pemimpin pengawal khusus itu mematung. Sementara itu, maka orang tua yang memimpin rombongan penari itu pun berkata selanjutnya, “Karena itu, maka biarlah kami meninggalkan Tanah Perdikan ini dengan kesan yang damai. Dengan kesan bahwa Tanah Perdikan Sembojan adalah Tanah yang penuh pengertian, tenggang rasa dan saling menghormati di antara sesama.”

“Tutup mulutmu,” pemimpin pengawal khusus itu tiba-tiba menjadi sangat muak dan suaranya bagaikan meledak, “Apakah kau tahu, dengan siapa kau berhadapan?”

“Aku berhadapan dengan para pengawal Tanah Perdikan ini,” jawab orang tua itu. Lalu katanya, “Karena itu maka kami berani berkata terus terang, karena para pengawal tentu mendapat tuntunan untuk bersikap sebaik-baiknya kepada

orang-orang kecil seperti aku. Aku tidak akan berani berbuat seperti ini jika

aku berhadapan dengan anak-anak muda kebanyakan yang akan dapat berbuat sesuatu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.”

“Diam orang gila,” pemimpin pengawal itu menjadi semakin marah, sehingga tubuhnya telah menjadi gemetar, “Sekali lagi aku peringatkan, ikut kami menghadap Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan kami.”

“Ki Sanak, sekali lagi aku bertanya, apakah kesalahanku dan barangkali kesalahan kawan-kawanku. Jika Ki Sanak dapat memberikan penjelasan, maka mungkin kami akan

dapat mengambil sikap.”

Tetapi pemimpin kelompok yang sudah menjadi marah itu sama sekali tidak menghiraukannya. Katanya, “Dengar sekali lagi. Ikut aku menghadap Ki Wiradana. Merasa bersalah atau tidak merasa bersalah. Kesabaranku sudah habis dan kami membawa wewenang untuk mengambil sikap tertentu terhadap orang-orang yang keras kepala seperti kalian ini.”

Namun ternyata sikap orang tua itu pun di luar dugaan sama sekali. Orang tua itu pun berkata dengan tegas, “Kami menolak perintah yang tidak kami ketahui ujung dan pangkalnya itu.”

Kemarahan yang membakar jantung pemimpin pengawal khusus itu membuatnya bergetar. Sejenak ia terpukau oleh sikap yang tidak diduganya itu. Baru kemudian ia mengangkat tangannya memberikan isyarat kepada kawan-kawannya untuk mulai bertindak.

“Tangkap mereka dan giring mereka menghadap Ki Wiradana,” geram pemimpin pengawal itu.

Namun sekali lagi jantungnya bergetar. Rombongan penari jalanan itu sama sekali tidak menjadi ketakutan. Mereka justru telah bergeser mengambil jarak yang satu dengan yang lain, sementara penarinya yang cantik itu berdiri di tengah-tengah dilindungi oleh orang tua yang telah memimpin rombongan itu dan bertindak sebagai pengendang.

Menilik sikap orang-orang dalam rombongan pengamen itu pemimpin kelompok itu menjadi semakin marah. Dengan suara yang mengguntur ia berteriak, “Jadi kalian berani melawan kami?”

“Kami disudutkan kepada satu sikap yang tidak dapat kami elakkan,” berkata orang tua itu.

“Kalian benar-benar telah gila. Kami adalah pengawal khusus dari pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan. Sekali lagi aku peringatkan, bahwa kalian jangan mempersulit keadaan kalian sendiri. Kami mendapat wewenang untuk bertindak apa

saja sesuai dengan tugas yang dibebankan kepada kami,” berkata pemimpin pengawal itu.

Namun pengendang yang tua itu menjawab, “Ki Sanak. Meskipun kami adalah rombongan pengamen. Tetapi kami masih mempunyai harga diri. Karena itu, apapun yang akan terjadi, maka kami tidak akan merendahkan martabat kami. Biarlah kami mengalami perlakuan yang bagaimanapun, tetapi kami sudah bertindak atas landasan martabat kami itu.”

“Baiklah,” pemimpin pengawal itu berkata, “Jangan beri mereka kesempatan. Ternyata mereka benar-benar tidak tahu diri.”

Tetapi para pengamen itu tidak menyerah. Mereka pun telah bersiap untuk berkelahi. Karena itu ketika orang-orang Tanah Perdikan Sembojan itu melangkah maju semakin dekat, maka para pengamen itu justru mulai menyerang.

Pemimpin pengawal itu mengumpat-umpat. Mereka merasa mempunyai pengalaman yang