-->

Suramnya Bayang-Bayang Jilid 10

Jilid 10

Ketika keduanya tidak sabar lagi, maka mereka telah memanggil seorang cantrik yang kebetulan lewat. Ketika cantrik itu mendekat seorang di antara mereka bertanya, “Dimana Kiai Soka, he?”

Cantrik itu menjadi berdebar-debar. Tetapi ia menjawab, “Kiai dan Nyai Soka tidak ada di padepokan.”

“He,” kedua orang itu terkejut. “Mereka pergi katamu?” “Ya Ki Sanak. Keduanya telah pergi,” jawab cantrik itu. “Kemana?” bertanya salah seorang dari tamunya.

“Aku tidak tahu Ki Sanak. Kiai dan Nyai Soka hanya mengatakan bahwa untuk sementara mereka tidak akan berada di padepokan,” jawab cantrik itu.

“Aneh,” geram seorang yang lain. “Bukankah ia melihat pertanda di pintu regol itu? Aku sudah mengabarkan, bahwa malam ini aku akan datang. Tetapi kenapa ia justru pergi?”

“Aku kurang tahu Ki Sanak. Kiai dan Nyai sama sekali tidak berpesan apapun. Menurut pendapat kami keduanya akan melakukan pengembaraan seperti yang sering mereka lakukan untuk barang sepuluh, lima belas hari,” jawab cantrik itu.

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Kemudian salah seorang di antara mereka bertanya, “Kau tahu, arah mereka pergi? Mungkin mereka mempunyai kebiasaan dalam pengembaraan mereka pergi ke satu tempat yang mereka hormati.” Cantrik itu menggeleng, katanya, “Tidak Ki Sanak. Aku tidak pernah tahu, kemana saja Kiai dan Nyai Soka pergi jika mereka meninggalkan padepokan. Mereka tidak pernah mengatakannya, dan agaknya mereka tidak mengunjungi satu tempat saja jika mereka pergi.”

“Hal ini bukan satu kebiasaan Kiai dan Nyai Soka dahulu,” berkata salah seorang

di antara mereka. “Aku sudah memberi tanda akan kehadiranku malam ini. Apakah selama ini telah terjadi satu perubahan di dalam cara hidup mereka? Sehingga mereka tidak lagi menghormati harga diri?”

Cantrik itu sama sekali tidak menyahut. Ia duduk saja sambil menundukkan kepalanya.

“Ki Sanak,” berkata salah seorang dari kedua orang itu, “Apakah kau benar-benar tidak tahu kemana suami istri itu pergi, atau kau memang mendapat pesan untuk tidak mengatakannya.”

“Kami, para cantrik memang tidak pernah diberi tahu,” jawab cantrik itu. “Bagaimana seandainya aku menangkapmu dan memaksamu untuk berbicara?” bertanya

salah seorang di antara tamu-tamu itu.

Wajah cantrik itu menjadi tegang. Namun kemudian ia menjawab, “Seandainya Ki Sanak memaksa, mungkin aku akan mengucapkan satu arah perjalanan, tetapi aku sendiri tidak tahu apakah yang aku katakan itu benar atau tidak, karena yang aku lakukan sekadar untuk memenuhi tekanan. Karena itu aku tentu akan menjawab apa saja.”

“Kau cerdik cantrik,” jawab orang itu. “Tetapi jangan menganggap bahwa aku

menjadi yakin, bahwa kau dan kawan-kawanmu tidak mengetahui. Tetapi kami berdua memang merasa tidak ada perlunya untuk memaksa kalian. Kiai dan Nyai Soka pun tahu, bahwa kami berdua tidak akan memaksa seorang cantrik pun untuk mengatakan apa yang sebenarnya memang mereka ketahui. Karena itu, kedua suami istri itu

tidak menyuruh kalian menyingkir pula.”

Cantrik itu menarik nafas dalam-dalam. Agaknya kedua orang ini bukan sejenis orang yang sangat garang dan menakutkan.

Namun karena itu, maka para cantrik itu pun menjadi heran, bahwa orang-orang itu telah menaruh dendam kepada Kiai dan Nyai Soka. Apakah persoalan yang telah terjadi berpuluh tahun itu tiba-tiba telah terangkat kembali, dan api dendam itu kemudian menyala di hati mereka.

Sejenak kedua orang itu saling berdiam diri. Nampak kemudian salah seorang di antara mereka bertanya, “Kapan kedua orang suami istri itu berangkat?” “Dua hari yang lalu,” jawab cantrik itu.

“Jadi mereka sudah melihat pertanda di pintu gerbang itu. Karena aku menempelkan pertanda itu tiga hari yang lalu. Karena itu agaknya mereka memang menghindari kehadiran kami di sini,” gumam yang lain.

Cantrik itu mengerutkan keningnya. Hampir di luar sadarnya ia bertanya, “Apakah arti pertanda di pintu gerbang itu? Kami juga melihat pertanda itu.”

“Itu adalah bahwa kami yang sudah dikenal oleh kedua suami istri itu akan datang pada malam ini,” jawab salah seorang dari keduanya.

Cantrik itu mengangguk-angguk. Ia memang melihat sebuah pisau belati kecil yang tertancap di regol padepokan. Pada pisau belati itu tergantung sebuah jambe yang sudah terbelah dua. Kemudian terdapat tiga goresan pisau di atas pisau belati

yang tertancap di pintu gerbang padepokan itu.

Tetapi Kiai dan Nya Soka tidak mengatakan apa-apa. Mereka hanya berpesan bahwa padepokan itu akan mereka tinggalkan dan untuk beberapa hari mereka berada di Tlaga Kuning, karena seorang akan da-tang dengan maksud buruk malam ini.

“Ki Sanak,” tiba-tiba saja salah seorang dari kedua orang itu berkata, “Jadi kalian yakin bahwa Kiai dan Nyai Soka telah melihat pertanda itu?”

“Ya. Kami para cantrik yakin. Kiai dan Nyai Soka telah mengamati pertanda yang berada di regol itu,” jawab cantrik itu.

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Namun tiba-tiba salah seorang di antara mereka berkata, “Baiklah, Ki Sanak, kumpulkan kawan-kawanmu aku minta semua cantrik berada di halaman. Aku ingin berbicara dengan kalian.”

Cantrik itu termangu-mangu. Namun orang itu mendesak, “Cepat. Lakukan.” Cantrik itu terkejut. Ketika ia memandang wajah orang itu, maka wajah itu seakan-akan telah berubah. Dari sorot mata orang itu seakan-akan mulai memancarkan cahaya api yang dapat membakar jantung.

Karena itu, maka cantrik itu tidak menjawab lagi. Ia pun kemudian meninggalkan kedua orang itu untuk menemui kawan-kawannya.

“Kita semua harus berkumpul di halaman,” berkata cantrik itu. “Untuk apa?” bertanya yang lain.

“Aku tidak tahu. Tetapi kedua orang itu memerintahkan, agar kita semua berkumpul di halaman padepokan.”

Meskipun di dalam setiap hati timbul pertanyaan, namun para cantrik itu pun

mulai bergerak dan berkumpul di halaman. Dalam keremangan cahaya lampu minyak di pendapa, nampak wajah-wajah mereka yang tegang memancarkan kegelisahan. Sejenak kemudian, maka kedua orang yang berada di pendapa itu pun bangkit dari duduknya dan melangkah ke tengah. Dipandanginya para cantrik yang ada di halaman itu. Dengan suara lantang salah seorang di antara kedua orang itu bertanya

sekali lagi kepada para cantrik, “Jadi kalian tidak tahu ke mana Kiai dan Nyai Soka pergi?”

Seorang cantrik yang tertua di antara mereka itu pun menjawab, “Ki Sanak. Kiai dan Nyai Soka tidak pernah mengatakan kepada kami ke mana saja mereka akan pergi.”

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Namun kemudian seorang di antara mereka maju selangkah sambil berkata, “Baiklah. Jika demikian maka kalian tidak mempunyai arti lagi bagi kami. Karena itu, maka seorang demi seorang dari kalian akan kami bunuh. Kami akan berhenti pada saat seorang di antara kalian bersedia mengatakan di mana Kiai Soka dan Nyai Soka berada.”

Wajah para cantrik itu menjadi tegang. Sementara itu, cantrik yang tertua pun berkata, “Ki Sanak. Apakah langkah yang akan Ki Sanak ambil itu telah kalian pikirkan?”

“Aku sudah memikirkannya berulang balik. Akhirnya aku memang sampai pada satu kesimpulan, bahwa kalian memang tidak ada gunanya lagi. Orang-orang yang sudah tidak hanya sekadar menghabiskan makanan dan minuman,” jawab salah seorang di antara mereka.

Para cantrik menjadi bertambah tegang. Namun seorang di antara para cantrik itu tiba-tiba saja telah melangkah maju sambil berkata, “Ki Sanak. Jika kalian

datang untuk membalas dendam kepada Kiai dan Nyai Soka, maka kalian tentu orang-orang yang pilih tanding. Namun demikian, tidak ada orang yang dengan suka

rela menyerahkan lehernya untuk ditebas dengan pedang betapapun tajamnya. Karena itu, Ki Sanak, bukan berarti kami tidak menghormati tamu-tamu kami. Tetapi kami memang berniat untuk mempertahankan hidup kami.”

Tiba-tiba saja kedua orang itu tertawa. Seorang di antaranya berkata, “Apakah kalian sudah gila. Kalian akan melawan kami?”

“Kami tidak akan melawan. Tetapi kami akan sekadar mempertahankan hidup kami. Hanya itu. Meskipun kami tahu, bahwa kemudian kami juga akan mati, tetapi kematian kami adalah kematian seorang laki-laki yang terhormat. Bukan kematian seekor kelinci yang menyerahkan lehernya untuk disembelih,” jawab cantrik itu. Kedua orang itu masih tertawa. Seorang di antaranya berkata, “Baiklah. Marilah. Matilah sebagai laki-laki. Bagi kami kematian cara apapun yang kalian pilih tidak akan banyak bedanya. Kalian akan mati. Itu yang penting bagi kami, agar

dengan demikian orang-orang yang tidak berguna seperti kalian akan lenyap dari muka bumi ini.”

Cantrik-cantrik itu pun tiba-tiba berdiri meregang. Bagaimana pun juga mereka adalah cantrik dari sebuah padepokan yang dipimpin oleh dua orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Sehingga karena itu, maka para cantrik itu pun serba sedikit

juga memiliki bekal dalam olah kanuragan.

Kedua orang itu mengamati para cantrik itu sejenak. Namun kemudian ditebarkannya pandangan matanya ke dinding padepokan yang dibayangi oleh kegelapan.

Tetapi kedua orang itu tidak melihat sesuatu.

Dalam pada itu, para cantrik pun telah menebar semakin luas. Bahkan mereka telah berada di seputar pendapa padepokan kecil itu.

Namun kedua orang itu sama sekali masih belum bergerak. Bahkan seorang di antara mereka berkata, “Kalian ternyata terlalu cepat dibakar oleh perasaan kalian

tanpa pertimbangan nalar. Karena itu, coba pikirkan, apakah kalian ingin melawan kami berdua tanpa senjata? dengan senjata kalian tidak akan dapat berbuat banyak. Apalagi dengan sombong kalian bersiap melawan kami tanpa senjata sama sekali.”

Para cantrik itu saling berpandangan di antara mereka, sementara orang itu berkata selanjutnya, “Pergilah. Ambillah senjata kalian. Apa saja yang kalian

miliki dan kalian kuasai. Kami berdua akan mempergunakan senjata yang telah kami bawa. Kami masing-masing akan mempergunakan pedang kami.”

Para cantrik itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian orang tertua di antara mereka berkata, “Baiklah Ki Sanak. Agaknya kalian memang terlalu yakin akan kemampuan kalian. Karena itu, maka biarlah kami mengambil senjata kami masing-masing.”

Cantrik itu tidak menunggu jawaban. Ia pun kemudian melangkah ke dalam baraknya diikuti oleh para cantrik yang lain untuk mengambil senjata masing-masing.

Sementara para cantrik itu pergi, seorang di antara kedua orang itu pun berkata, “Aku yakin, kedua orang itu ada disini. Jika kita memaksa para cantrik itu untuk bertempur maka kedua orang itu tentu akan hadir.”

“Jika tidak?” bertanya yang lain. “Kita akan meninggalkan arena. Biarlah para cantrik itu merasa diri mereka menang,” jawab yang pertama.

Kawannya mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak berkata apapun lagi.

Dalam pada itu, maka para cantrik pun kemudian telah kembali dengan senjata masing-masing.

Sejenak kemudian para cantrik itu pun telah bersiap untuk bertempur. Senjata mereka telah teracu. Mereka benar-benar ingin bertempur, karena mereka tidak akan membiarkan diri mereka dibantai tanpa berbuat sesuatu.

Kedua orang itu pun kemudian melangkah turun dari tangga pendapa. sejenak mereka berdiri tegak memandang berkeliling. Namun keduanya kemudian telah bergeser saling menjauh. Agaknya mereka tidak akan bertempur berpasangan. Tetapi mereka akan bertempur seorang-seorang melawan sekelompok kecil para cantrik di padepokan itu.

Namun kedua orang itu memang nampak gelisah. Setiap kali mereka memperhatikan dinding halaman padepokan itu, atau sudut-sudut yang gelap disekitar halaman.

Tetapi mereka tidak melihat seseorang. Bahkan dengan ketajaman indera mereka, sama sekali tidak menangkap isyarat bahwa di sekitar mereka ada seseorang yang bersembunyi atau mengamati keadaan di halaman itu.

Karena itu, maka mereka tidak dapat menunggu lebih lama lagi, karena justru para cantriklah yang mulai bergerak mendekat dengan senjata yang mulai bergetar.

Kedua orang itu segera mempersiapkan diri. Mereka pun telah mencabut pedang mereka dan mulai berputar di tangan mereka. Selangkah keduanya bergeser semakin menjauh dan agaknya mereka pun sudah siap untuk bertempur.

Dengan demikian, maka sejenak kemudian telah terjadi pertempuran antara kedua orang itu dengan para cantrik. Ternyata kedua orang itu memang mampu bergerak dengan kecepatan yang sangat mengagumkan. Mereka berloncatan sambil memutar pedang mereka. Setiap sentuhan senjata terasa, tangan para cantrik itu menjadih pedih. Agaknya kekuatan kedua orang itu pun jauh melampaui kekuatan orang kebanyakan.

Untuk beberapa saat pertempuran itu berlangsung. Namun senjata mereka dari kedua belah pihak sama sekali masih belum menyentuh kulit dan tubuh. Meskipun kedua orang itu mampu bergerak dengan kecepatan yang tinggi, namun seakan-akan mereka tidak dapat menembus pertahanan para cantrik.

Dalam pada itu, selagi pertempuran di halaman itu terjadi, dua sosok tubuh telah dengan sangat hati-hati mendekat dinding halaman padepokan itu. Keduanya terkejut ketika mereka mendengar dentang senjata beradu. Menilik derap dan hentakan-hentakan senjata, maka agaknya telah terjadi pertempuran dari sekelompok orang.

“Apa yang terjadi?” desis yang seseorang. “Pertempuran,” jawab yang lain.

Keduanya menjadi tegang. Yang pertama kemudian berdesis, “Tentu para cantrik.

Jika Kiai dan Nyai Soka tidak ada, maka akibatnya tentu akan sangat parah bagi

para cantrik itu. Bukankah dua orang yang berniat untuk membalas dendam terhadap Kiai dan Nyai Soka itu tentu orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi?”

Sejenak keduanya termangu-mangu. Namun kemudian yang seorang berkata, “Kita tidak dapat tinggal diam. Apaboleh buat.”

Hampir serentak keduanya pun telah meloncat ke atas dinding padepokan. Yang mereka lihat sebagaimana mereka duga, di halaman itu telah terjadi pertempuran antara dua orang melawan para cantrik.

Kedua orang itu pun kemudian telah meloncat turun kehalaman. Sementara itu, dua orang yang bertempur melawan para cantrik itu pun segera melihat kedua orang

yang meloncat masuk. Sejenak mereka berharap. Namun kemudian keduanya menjadi kecewa, bahwa ternyata kedua orang itu bukan Kiai dan Nyai Soka.

Dalam pada itu, kedua orang itu yang meloncat masuk itu pun kemudian dengan cepat mendekati arena. Salah seorang di antara mereka berkata, “Inilah yang

kalian lakukan? Menurut pendengaranku kalian ingin membuat perhitungan dengan Kiai Soka. Tetapi ternyata bahwa kalian telah melakukan sesuatu yang kurang terpuji. Apakah kebanggaan kalian seandainya kalian dapat memenangkan pertempuran melawan para cantrik ini?”

Semua mata telah memandang kedua orang itu. Dengan nada yang tinggi beberapa cantrik berdesis, “Kiai Badra.”

Ternyata kedua orang itu pun telah mengenal pula kedua orang yang datang itu. Katanya, “Selamat datang Kiai Badra dan Gandar.”

“KALIAN telah mengenal kami?” bertanya Kiai Badra.

“Ya. Kami telah mengenal kalian berdua. Bahkan kami pun telah mengetahui hubungan kalian dengan Kiai Soka. Bukankah kau saudara tua Nyai Soka? Dan bukankah cucu perempuanmu yang bernama Iswari kau titipkan disini, karena menurut ceriteranya cucumu itu sudah mati.” Wajah Kiai Badra menjadi tegang. Namun Gandarlah yang menyahut, “Aku tidak tahu persoalan apakah sebenarnya yang telah terjadi antara kau dan Kiai Soka. Mungkin benar kata seorang cantrik bahwa kau ingin membalas dendam atas kematian ayahmu beberapa puluh tahun yang lalu. Tetapi aku tidak peduli. Tingkah laku kalian

berdua telah menggelitik hati kami. Apalagi karena kalian mengetahui rahasia yang selama ini kami pegang teguh.”

“Marilah,” berkata salah seorang di antara kedua orang itu, “Kita berbicara tentang persoalan yang kita hadapi.”

“Kami tidak mempunyai persoalan dengan kalian. Tetapi kami harus mencegah kalian berbuat sewenang-wenang atas para cantrik, karena persoalan kalian tidak dengan para cantrik, tetapi dengan Kiai Soka,” jawab Gandar.

“Karena itu, kita dapat membicarakannya,” jawab orang itu.

“Sebaiknya kalian menyerah kepada kami,” geram Gandar yang menjadi tidak sabar. “Jangan membuat persoalan Ki Sanak,” berkata salah seorang di antara kedua orang itu. “Jika sampai saat ini tidak ada persoalan di antara kita, sebaiknya kita

tetap pada keadaan seperti itu. Sekali lagi aku minta, kita dapat membicarakannya”, berkata orang itu.

“Tetapi bukannya tidak ada persoalan yang sebenarnya,” jawab Gandar. “Kalian telah menyebut nama Iswari. Jika kalian tidak berkepentingan dengan anak itu, kalian tentu tidak akan menyelidiki sampai tempat tinggalnya yang terakhir.

Menyerahlah. Kita akan berbicara kemudian,” geram Gandar. “Kau sudah mulai dengan kesombonganmu, menakut-nakuti para cantrik. Karena itu, letakkan senjatamu.”

“Kau jangan terlalu kasar Ki Sanak,” sahut salah seorang dari kedua orang itu, “Kami tidak mau kau perlakukan seperti itu.”

Tetapi Gandar memang sudah mempunyai prasangka buruk terhadap kedua orang itu. Mula-mula ia mendapat keterangan bahwa orang itu mungkin akan membalas dendam sakit hatinya karena kematian ayahnya. Kemudian orang itu ternyata mengetahui bahwa Iswari ada di padepokan Tlaga Kembang, sehingga endapan-endapan yang ada di dalam dada Gandar itu pun bagaikan terungkat. Adalah di luar sadarnya bahwa

tiba-tiba saja ia telah menghubungkan orang-orang ini dengan keluarga Kalamerta yang sedang memburu Iswari yang bagi mereka harus dibinasakan.

Karena itu, maka pikiran Gandar tidak lagi dapat dipergunakannya dengan jernih. Dalam pada itu, Kiai Badra sendiri ternyata dihinggapi oleh keragu-raguan. Sikap kedua orang itu memang bukan sikap yang kasar yang biasa ditunjukkan oleh kelompok-kelompok dunia hitam.

Namun selagi orang tua itu masih membuat pertimbangan-pertimbangan di dalam hatinya, terdengar seorang cantrik berteriak,” Kiai, kedua orang itu berniat membunuh kami semua. Seorang demi seorang sampai ada di antara kami yang mengatakan dimana Kiai dan Nyai Soka berada.

“Gila,” geram Gandar. “Itukah perbuatan seorang yang mengaku tidak mempunyai persoalan dengan kami sekarang ini? Yang kalian lakukan adalah perbuatan di luar peradaban manusia. Karena itu, maka segera lepaskan senjata kalian atau kami akan bertindak lebih tegas.”

Wajah kedua orang itu menjadi semakin tegang. Sementara itu seorang cantrik yang lain berkata pula, “Mereka memang datang untuk membunuh.”

Gandar tidak dapat menahan hatinya lagi. Ia pun kemudian maju beberapa langkah. Namun Kiai Badra menggamitnya sambil berdesis. “Kita akan berbicara Gandar.” Gandar berpaling. Tetapi ia tidak menghiraukan kata-kata Kiai Badra. Satu sikap yang tidak pernah dilakukannya sebelumnya. Namun karena nalarnya sedang gelap karena kedua orang itu dianggapnya sedang memburu Iswari sebagai tujuan utamanya, sedangkan alasan untuk membalas dendam itu hanyalah sekadar

dicari-cari, maka ia tidak dapat berbuat lain kecuali menghadapi orang-orang itu dengan kekerasan.

Kedua orang itu menjadi tegang. Apalagi ketika beberapa orang cantrik yang lain pun berteriak-teriak pula mengadu. Darah Gandar menjadi semakin panas.

Ternyata kedua orang itu pun tidak mau berbicara terlalu banyak. Mereka benar-benar telah tersinggung, sehingga karena itu, maka keduanya pun telah mempersiapkan diri.

Namun sejenak Gandar termangu-mangu. Karena itu sama sekali tidak bersikap untuk melakukan hal yang semacam itu, maka Gandar memang tidak menyiapkan senjata.

Karena itu, maka tiba-tiba ia pun berkata kepada seorang cantrik, “Berikan senjatamu. Aku akan membela kalian dari kelaliman orang-orang ini.”

Seorang cantrik yang terdekat menjadi ragu-ragu sejenak. Namun ia pun kemudian menyerahkan tombak pendek yang digenggamnya.

Dengan demikian maka Gandar pun telah bersiap dengan tombak ditangannya. Selangkah demi selangkah ia mendekat. Tombaknya mulai merunduk dan bergetar. Memang tidak ada kemungkinan lain dari benturan senjata. Salah seorang dari kedua orang yang membawa pedang itu pun telah mendekat pula menghadapi Gandar. Keduanya yang telah bersiap sepenuhnya itu akhirnya mulai menggerakkan senjata mereka menyerang lawan.

Meskipun serangan yang bermula-mula bukanlah serangan yang sangat berbahaya, namun sejenak kemudian, maka mereka pun telah bergerak semakin cepat menghadapi keadaan yang sama sekali tidak mereka duga sebelumnya.

Ternyata orang yang datang untuk membuat perhitungan dengan Kiai Soka ini memang seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Meskipun orang itu masih belum mengerahkan segenap kemampuannya, namun orang itu ternyata sudah menunjukkan ketangkasannya yang membuat para cantrik menjadi bingung. Selama orang itu bertempur melawan mereka maka cantrik itu tidak melihat kemampuan yang hampir di luar nalar itu.

Namun lawannya adalah Gandar. Seorang yang untuk beberapa lamanya telah meletakkan senjatanya dan hidup dengan damai di sebuah padepokan kecil. Tetapi peristiwa demi peristiwa telah menggelitiknya, sehingga ia pun terpaksa mempergunakan lagi kekerasan untuk mempertahankan satu sikap dan pendirian. Sejak Iswari berada di Tanah Perdikan Sembojan, sebenarnyalah hati Gandar telah terguncang. Tapi ia masih mampu dengan susah payah mempertahankan keseimbangan nalar dan perasaannya. Tetapi ketika Iswari itu kemudian hilang, maka

kadang-kadang Gandar tidak mampu lagi mengekang dirinya. Sekali-kali ia berusaha melepaskan gejolak perasaannya dengan melakukan sesuatu tanpa dilihat orang lain. Ia telah menghantam batu-batu padas sehingga pecah berserakkan dengan sisi

telapak tangannya. Ia pun telah mengguncang dan merobohkan sebatang pohon yang besar dengan kekuatan cadangannya di tengah-tengah hutan. Bahkan ketika Gandar kehilangan pengamatan dirinya, maka Gandar telah membunuh seekor harimau yang tidak bersalah, meskipun harimau itu hendak menerkamnya. Tetapi yang dilakukan oleh harimau itu semata-mata tidak nalurinya tanpa sikap memusuhinya.

Dan kini Gandar berhadapan dengan seorang yang dianggapnya keluarga Kalamerta yang sedang memburu Iswari sekaligus akan membalas dendam kepada Kiai Soka dan istrinya yang kebetulan adalah adik Kiai Badra itu sendiri.

Karena itu, maka Gandar benar-benar telah berniat untuk menghancurkan lawannya tanpa ragu-ragu lagi.

Lawannya yang semula berusaha untuk sekadar menjajagi kemampuan Gandar, ternyata terkejut sekali dengan serangan-serangan Gandar yang langsung pada tataran tertinggi dari ilmunya.

Untunglah bahwa orang itu masih mempunyai kesempatan menghindar dan kemudian membangunkan puncak kemampuannya, sehingga dengan demikian ia tidak tergilas oleh gejolak perasaan Gandar yang tidak terkekang.

Dengan demikian, maka pertempuran antara kedua orang itu pun telah menjadi semakin sengit. Keduanya langsung sampai pada ting-kat kemampuan mereka yang tertinggi.

Dalam pada itu, maka pedang orang yang datang untuk mencari Kiai Soka itu berputaran dengan kecepatan baling-baling. Kemudian menebas mendatar setinggi lambung. Namun tiba-tiba telah mematuk ke arah jantung.

Tetapi sementara itu, tombak di tangan Gandar pun bergerak dengan cepat pula. Sekali menyilang di depan wajahnya namun kemudian berputar menangkis serangan pedang lawan. Tetapi sejenak kemudian serangan Gandar pun datang bagaikan prahara. Ujung tombaknya bagaikan ujung lidah api di langit yang menukik menyambar sasarannya.

Lawannya yang menyadari bahwa tombak Gandar adalah sekadar tombak kebanyakan yang dipinjamnya dari seorang cantrik berusaha untuk membenturkan pedangnya pada tombak itu. Karena itu, maka dengan cerdik orang itu telah memancing Gandar

untuk menikam dengan ujung tombaknya ke arah lambung. Tetapi orang itu sempat mengelak, karena memang serangan yang demikian yang diharapkannya. Demikian tombak Gandar mematuk, maka dengan sekuat tenaganya orang itu mengayunkan pedangnya menebas leher.

Seperti yang diharapkan, Gandar tidak sempat mengelak telah menyilangkan landean tombaknya untuk melindungi lehernya itu.

Sejenak kemudian telah terjadi benturan senjata yang dahsyat sekali. Lawan Gandar telah mengerahkan segenap kekuatan dan kemampuan tenaga cadangannya untuk

menghantam tangkai tombak di tangan Gandar. Karena tombak itu tombak kebanyakan, bukan sebatang tombak pusaka, maka orang itu memastikan, bahwa kekuatan dan kemampuannya akan mampu mematahkan landean tombak itu.

Demikianlah, benturan yang dahsyat itu terjadi. Gandar terdorong dua langkah surut. Namun dalam pada itu, lawannya pun telah mengalami kesulitan yang mengganggu. Pedangnya memang membentur landean tombak lawannya. Namun adalah diluar dugaannya, bahwa landean tombak itu sama sekali tidak patah. Karena itu,

maka kekuatannya sendiri yang menghantam kekuatan bertahan Gandar telah menolak kekuatan itu dan justru telah melemparkannya beberapa langkah surut.

Sebenarnyalah, bahwa landean tombak Gandar tidak patah. Hal itu ternyata juga dilihat seorang yang lain yang datang untuk mencari Kiai dan Nyai Soka itu, yang berdiri termangu-mangu di dekat Kiai Badra.

“Luar biasa,” desis orang itu.

Kiai Badra berpaling. Namun menilik sikapnya orang itu tidak akan menyerangnya. Bahkan kemudian katanya, “Kawanmu memang luar biasa Kiai Badra. Dengan demikian aku mengerti, bahwa kau tentu memiliki ilmu yang lebih tinggi dari orang itu.”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab.

Sementara itu, orang yang berdiri di samping Kiai Badra itu berdesis, “Bagaimana mungkin landean tombak itu tidak patah.

Tombak itu adalah tombak kebanyakan yang diambilnya dari seorang cantrik. Sedangkan pedang kawanku, sebagaimana pedangku adalah pedang yang terbuat dari baja pilihan. Menurut perhitungan nalar, maka tangkai tombak itu tentu akan

patah pada benturan, karena tenaga kawanku itu melampaui tenaga seekor kerbau jantan.”

Kiai Badra masih tetap berdiam diri.

Karena Kiai Badra tidak menyahut, maka orang itu berkata selanjutnya, “Kai. Mungkin pertempuran antara keduanya akan berlanjut untuk waktu yang lama. Tetapi jika kawanku kemudian terdesak, sudah barang tentu aku tidak akan tinggal diam.”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Tetapi jika orang yang berdiri disampingnya itu benar-benar akan turun ke medan, apakah ia akan tinggal diam.

Dalam pada itu, Gandar yang didasari dengan kebencian yang mendalam, telah bertempur dengan mengerahkan segenap ilmunya. Bukan saja landean tombaknya yang tidak dapat dipatahkan oleh lawannya, namun kemudian kecepatan gerak Gandar pun seakan-akan menjadi semakin tinggi.

Dengan kemampuan ilmunya, Gandar memang telah mengalirkan tenaga yang dapat dibangunkan oleh ilmunya itu seakan-akan menyusuri senjatanya, sehingga senjata yang ada di tangannya itu pun menjadi senjata yang kekuatannya melampaui kekuatan senjata kebanyakan sebagaimana senjata itu sendiri.

Dengan mengerahkan ilmunya, maka Gandar pun semakin lama menjadi semakin mendesak lawannya. Meskipun lawannya juga memiliki ilmu yang tinggi, tetapi ternyata bahwa Gandar masih memiliki kelebihan dari lawannya itu.

Kekuatan dan kecepatan geraknya, merupakan kelebihan yang sulit untuk diimbangi oleh lawannya. Meskipun lawannya memiliki ilmu pedang yang hampir sempurna, namun ternyata ia tidak mampu mengatasi putaran senjata Gandar.

Dengan demikian, maka perlahan-lahan Gandar berhasil mendesak lawannya. Semakin lama menjadi semakin jelas, bahwa kemampuan Gandar benar-benar sulit untuk diimbangi.

Karena itu, maka orang yang berdiri di samping Kiai Badra itu menjadi cemas. Dengan suara bergetar ia berkata, “Luar biasa. Memang luar biasa. Tetapi aku tidak dapat membiarkan adik seperguruan itu akan benar-benar menjadi korban dalam permainan ini.”

Kiai Badra menjadi berdebar-debar. Jika orang itu melibatkan diri dan bertempur berpasangan, maka Gandar sulit untuk dapat bertahan. Apalagi orang yang belum melibatkan diri itu adalah saudara tua seperguruan dengan orang yang sedang bertempur melawan Gandar.

Karena itu, maka Kiai Badra pun berkata, “Ki Sanak. Sebaiknya kau tidak usah ikut campur. Gandar hanya menghendaki kalian menyerah. Kemudian segala sesuatunya akan dibicarakan dengan Kiai dan Nyai Soka.”

“Kau aneh Kiai. Sudah tentu kami tidak akan menyerah,” jawab orang itu. Lalu, “Sebenarnya kami tidak berkeberatan untuk berbicara tentang persoalan kami, tetapi Gandar tidak mau mendengarkannya.”

“Ia juga ingin bicara,” jawab Kiai Badra.

“Tetapi dengan syarat yang gila. Kami harus menyerah dahulu. Itu sangat menyinggung harga diri kami,” jawab orang itu.

“Itulah permohonannya,” berkata Kiai Badra. “Agaknya Gandar melakukan hal itu bukannya tidak beralasan.”

“Apapun alasannya, tetapi kami tidak dapat mengorbankan harga diri kami. Karena itu, aku akan ikut campur dalam pertempuran ini,” berkata orang itu.

“JANGAN Ki Sanak,” berkata Kai Badra.

Tetapi orang itu bergeser melangkah mendekati arena. Sementara itu pertempuran antara Gandar dan lawannya itu pun menjadi semakin sengit. Dengan puncak kemampuannya lawan Gandar itu berusaha bertahan. Pedangnya berputar seperti prahara. Sekali-kali masih juga ia sempat melibat Gandar dalam serangan yang dahsyat. Tetapi Gandar memiliki kemampuan yang luar biasa. Tombaknya bukan saja mematuk seperti seekor ular, tetapi kadang-kadang terayun dengan cepat kemudian berputar dan satu serangan yang mendebarkan mengarah ke kepala lawannya tidak dengan ujungnya, tetapi dengan pangkal landeannya.

Dalam pada itu, dalam setiap benturan kekuatan, ternyata bahwa kekuatan Gandar mampu mendesak lawannya pula. Sekali-kali terasa tangan lawannya yang menggenggam pedang itu menjadi pedih. Sementara itu, landean tombak itu ternyata tidak juga mau patah.

“Ki Sanak,” panggil Kiai Badra ketika yang seorang lagi menjadi semakin mendekati arena, “Aku persilakan, jangan.”

“Aku menyadari Kiai, bahwa kau akan mencegah aku. Itulah yang sebenarnya aku tunggu,” jawab orang itu. “Mudah-mudahan aku dapat mengimbangi kemampuan Kiai untuk kemudian dapat membantu saudara seperguruanku. Ternyata bahwa Gandar, pembantu Kiai itu memiliki ilmu yang luar biasa. Aku sadar, bahwa dengan

demikian Kiai sendiri tentu memiliki ilmu melampaui ilmu Gandar itu. Tetapi apaboleh buat. Kami tidak akan dapat Kiai paksa untuk menyerah.”

Kiai Badra termangu-mangu sejenak. Jika orang itu memaksa untuk memasuki arena, maka ia memang tidak dapat berbuat lain, kecuali mencegahnya.

Sejenak Kiai Badra berdiri bagaikan membeku. Ketika orang itu bergeser semakin dekat dengan arena, maka Kiai Badra pun telah menarik nafas dalam-dalam. “Apa boleh buat,” desisnya.

Sekilas ia memandang para cantrik yang menyaksikan pertempuran antara Gandar dengan lawannya. Mereka berdiri membeku ditempatnya. Pertempuran itu benar-benar pertempuran yang sulit mereka mengerti.

Dalam pada itu, terngiang di telinga Kiai Badra keluh para cantrik itu. Bahwa kedua orang itu sudah berniat untuk membunuh para cantrik itu seorang demi seorang sampai salah seorang di antara mereka mengatakan dimana Kiai dan Nyai Soka berada.

“Ki Sanak,” berkata Kiai Badra kemudian, “Aku adalah orang tua yang barangkali lebih tua dari Ki Sanak. Sebenarnya sudah tidak pantas bagiku untuk bermain-main seperti anak-anak muda. Juga Ki Sanak sebaiknya sudah tidak lagi melakukannya.” “Tetapi apakah aku harus membiarkan adik seperguruanku itu mengalami kesulitan?” bertanya orang itu.

“Biarlah adik seperguruan Ki Sanak itu menyerah. Gandar tidak akan melakukan satu perbuatan yang tidak wajar menghadapi orang yang sudah menyerah,” berkata Kiai Badra.

“Kiai,” jawab orang itu. “Sudah berapa kali aku mengatakan, bahwa aku dan adikku sama sekali tidak ingin menyerah. Apapun yang akan terjadi. Memang pertemuan kami dengan Kiai dan Gandar adalah di luar dugaan. Juga kemampuan Gandar dan tentu kemampuan Kiai dalam olah kanuragan juga di luar dugaan kami. Tetapi semisal orang yang menyeberangi sungai, kami sudah ada di tengah. Kembali pun kami sudah basah sebagaimana jika kami melanjutkannya sampai ke seberang.” “Jadi Ki Sanak sudah tidak mempunyai jalan lain?” bertanya Kiai Badra. “Seharusnya kamilah yang bertanya demikian, bukan Kiai,” jawab orang itu.

Kiai Badra mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Nyai Soka adalah adikku. Jika benar kau akan membalas dendam atau jika benar kau memiliki persoalan dengan iswari, cucuku itu, serta jika benar kalian akan membunuh para cantrik itu satu demi

satu, maka agaknya aku yang tua ini tidak dapat berbuat lain kecuali berusaha mencegahnya.”

Orang itu kemudian bergeser sambil menghadap Kiai Badra. Sejenak ia berpaling. Namun ia masih berharap bahwa adik seperguruannya itu akan mampu bertahan untuk beberapa saat. Sementara itu, ia ingin mencoba kemampuan Kiai Badra, yang tentu lebih baik dari Gandar.

Tetapi orang itu pun merasa, bahwa ia pun memiliki ilmu yang lebih luas dan lebih mapan dari adik seperguruannya. Karena itu, maka dengan tatag ia tetap bersiap menghadapi Kiai Badra.

Tetapi Kiai Badra masih juga berkata, “Ki Sanak. Aku adalah orang tua. Aku bukan saja mempunyai seorang cucu, tetapi aku sudah mempunyai seorang cicit.

Seharusnya orang setua aku ini tidak lagi berbuat aneh-aneh seperti anak-anak muda.”

“Tetapi Kiai sekarang berdiri disimpang jalan,” berkata orang itu. “Sudahlah. Jangan berpura-pura menjadi seorang yang sudah tidak berkepentingan lagi dengan dunia ini dan segala macam seluk-beluknya termasuk kekerasan. Aku sudah siap.

Dan aku memang berharap Kiai mencegah aku karena aku akan membantu adik seperguruanku. Bukankah Kiai sudah mengatakan, bahwa Kiai tidak dapat berbuat lain kecuali berusaha mencegahku. Nah, sekarang sampai saatnya Kiai melakukannya.”

Kiai Badra memang tidak dapat mengelak lagi. Orang itulah yang kemudian mengacukan senjata ke arah orang tua itu.

“Marilah Kiai. Sebagaimana Gandar telah bersungguh-sungguh, maka aku pun akan bersungguh-sungguh. Biarlah kita menyelesaikan persoalan yang sebenarnya tidak pernah ada di antara kita dengan cara yang telah dipilih oleh Gandar,” berkata orang itu.

Kiai Badra memandang orang itu dengan tajamnya. Namun terasa di dalam hatinya, bahwa sebenarnyalah mereka dapat mengambil jalan lain untuk mencari penyelesaian. Tetapi semuanya sudah tertutup. Yang kini dihadapi adalah ujung pedang lawannya itu.

“Kiai,” berkata orang itu. “Jika kau ingin meminjam sepucuk senjata, silakan sebagaimana dilakukan oleh Gandar. Aku pun tahu bahwa senjata yang betapapun jeleknya, di tangan Kiai akan menjadi senjata yang tidak ada duanya.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah Ki Sanak. Aku akan meminjam senjata. Sebenarnyalah ketika kami berangkat dari padepokan kami, sama sekali tidak terlintas di hati kami, bahwa akan terjadi peristiwa seperti ini. Karena

itu, kami sama sekali tidak membawa sepucuk senjatapun. Apalagi memang sudah lama kami melepaskan senjata kami dan menyimpannya di dalam gledeg di bilik tidur kami. Demikian juga Gandar. Ia pun tidak mempersiapkan diri menghadapi peristiwa ini. Dan sebagaimana aku, ia pun tidak membawa senjata dari padepokan karena kedatangan kami ke padepokan ini adalah untuk menengok saudara dan cucu serta cicit.”

“Tetapi sekarang Kiai tidak akan dapat mengelak, “ jawab orang itu.

Kiai Badra tidak menjawab. Sementara itu ia mendekati seorang cantrik yang menggenggam sebilah pedang.

“Aku meminjam pedangmu. Karena lawanku juga bersenjata pedang, maka aku pun akan mempergunakan senjata serupa,” berkata Kiai Badra.

Cantrik itu tidak menjawab. Tetapi ia menyerahkan pedangnya kepada Kiai Badra. Sebilah pedang yang tidak lebih dari pedang kebanyakan yang dibuat oleh pande besi di sudut pasar.

Orang yang siap melawan Kiai Badra itu menarik nafas dalam-dalam. Di luar sadarnya ia memandang pedangnya sendiri. Pedang yang memiliki banyak kelebihan dari pedang biasa, sebagaimana yang dipegang oleh Kiai Badra itu. Pedang yang tidak lebih dari parang membelah kayu, karena yang dapat disebut pedang hanyalah bentuknya. Tetapi pedangnya sendiri adalah pedang yang terbuat dari baja pilihan. Pedang yang tajamnya melampaui tajamnya welat pring wulung, namun mempunyai kekuatan melampaui batang linggis sebesar lengan.

Sejenak orang itu termangu-mangu. Namun katanya dalam hati, “Kiai Badra harus menyadari, bahwa aku bukannya adik seperguruanku.”

Karena itu, maka yang akan dilakukan oleh orang itu pertama-tama adalah mengejutkan Kiai Badra. Pedang di tangan Kiai Badra harus dipatahkannya. Karena itu, ketika kemudian Kiai Badra sudah siap, maka orang itu pun mulai menyerangnya. Dengan cepat ia menjulurkan pedangnya mengarah ke dada. Kiai Badra bergeser selangkah. Pedang lawannya itu tidak dapat menggapainya. Namun lawannya itu meloncat maju sambil mengayunkan pedangnya mendatar. Sekali lagi Kiai Badra menghindar.

Namun orang itu sampai pada rencananya pada permulaan pertempuran itu. Demikian Kiai Badra meloncat, maka dengan kecepatan yang tidak tampak oleh mata wadag orang itu telah mengayunkan pedangnya dengan segenap kemampuan ilmunya. Tenaga cadangan yang ada di dalam dirinya telah dikerahkannya didorong oleh kekuatan ilmu yang sangat tinggi, tersalur pada ayunan pedang yang terbuat dari baja pilihan itu.

Karena itu, maka sebagaimana dilakukan oleh Gandar. Kekuatan ilmu Kiai Badra yang seakan-akan dihisapnya dari bumi lewat sentuhan kakinya, mengalir ke daun pedang yang dalam keadaan wajarnya tidak lebih dari parang pembelah kayu itu.

Bahkan melampaui kemampuan Gandar, Kiai Badra telah memanfaatkan kekuatan api di dalam dirinya.

“Aku tidak bermaksud menyombongkan diri Ki Sanak,” berkata Kiai Badra di dalam hatinya. “Tetapi aku ingin pertempuran ini cepat selesai.”

Demikianlah, maka telah terjadi satu benturan yang sangat dahsyat. Kiai Badra memang menyilangkan pedangnya untuk menangkis serangan lawannya, sebagaimana dikehendaki oleh lawannya itu. Sementara itu lawannya memang telah mengerahkan segenap kemampuannya serta kekuatan ilmu yang ada pada dirinya.

Namun ternyata pedang di tangan Kiai Badra itu memang tidak patah. Ayunan pedang lawannya terasa bagaikan membentur bukit baja yang tidak terguyahkan. Bahkan dari benturan itu telah memercik bunga api bagaikan menyembur keudara.

Benar-benar satu hal yang tidak terduga sama sekali oleh lawannya. Dengan serta merta ia telah meloncat menjauh, menghindari bunga api yang bagaikan dengan sengaja ditaburkan ke arahnya. Ketika sepercik kecil menyentuh kulitnya, maka terasa kulitnya menjadi hangus dan sangat pedih.

“Gila,” geram orang itu.

Kiai Badra masih berdiri tegak ditempatnya. Ia sama sekali tidak berusaha memburunya. “Luar biasa Kiai,” desis lawannya.

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sudahlah. Menyerahlah. Maksudku, kau harus mengurungkan niatmu untuk membalas dendam terhadap Kiai dan Nyai Soka. Kau juga harus memberikan keterangan tentang usahamu menyelidiki Iswari sehingga kau menemukannya sendiri.”

“Sayang Kiai,” jawab orang itu. “Aku tidak dapat menyerah. Aku masih mempunyai kemungkinan untuk menghancurkan kesombongan Kiai dengan ilmuku yang lain.” Kiai Badra memandang orang itu dengan tatapan mata yang redup. Ternyata ia sudah terpancing untuk bertempur dalam tataran ilmu yang tinggi.

Tetapi ia memang tidak dapat mengelak.

Dalam pada itu, lawannya itu pun berdiri tegak sambil menggenggam pedangnya yang bersilang di dadanya. Sejenak kemudian memang terjadi satu keajaiban. Di dalam keremangan malam, Kiai Badra melihat pedang lawannya itu bagaikan membara. Daun pedang itu menjadi kemerah-merahan memancarkan kekuatan ilmu yang tiada taranya. Sejenak kemudian, orang itu pun menarik nafas dalam-dalam. Kemudian mulai menggerakkan pedang yang membara itu.

“Kiai sudah menunjukkan kelebihan Kiai dengan memercikkan bunga api pada benturan senjata. Sekarang giliranku untuk melakukannya. Pedangku akan mampu membakar Kiai, bukan saja dengan percikan api,” geram orang itu yang agaknya mulai benar-benar menjai marah.

Kiai Badra bergeser setapak. Ia melihat orang itu memusatkan nalar budinya. Kemudian tiba-tiba saja ia meloncat dengan ayunan pedangnya yang membara. Kiai Badra yang belum mengenal kekuatan ilmu lawannya itu tidak menangkis. Tetapi ia bergeser menghindar.

Namun ketika pedang itu terayun sejengkal di sisinya, terasa sambaran udara panas membakar tubuhnya. Hanya karena Kiai Badra dengan cepat mengerahkan daya tahan tubuhnya sambil meloncat menjauh sajalah, maka ia tidak menjadi lemas dan kehilangan tenaga.

Tetapi yang terjadi itu pun membuat lawannya menggeretakkan giginya sambil menggeram, “Kau memang orang luar biasa Kiai. Kau mampu bertahan atas panasnya api yang dipancarkan oleh pedangku atas alas ilmuku. Namun jika aku berhasil menyentuh tubuhmu dengan pedangku yang membara ini Kiai, maka aku kira aku tidak perlu mengulangi seranganku.

Kiai Badra tidak menjawab. Tetapi ia sudah dapat menjajagi kemampuan puncak ilmu lawannya. Panas yang dilontarkan oleh serangan pedang atas alas ilmunya itu

memang luar biasa. Tetapi Kiai Badra adalah orang yang memiliki pengalaman yang luas, serta menyimpan ilmu yang mapan dalam dirinya.

Karena itu, maka ia pun kemudian menimang pedangnya. Meskipun pedang itu pedang kebanyakan, tetapi Kiai Badra akan mampu mempergunakannya melawan pedang lawannya yang memiliki kekuatan yang nggegirisi.

Ternyata bahwa Kiai Badra juga mampu melepaskan ilmu sebagaimana dilakukan lawannya. Bahkan agaknya Kiai Badra memiliki daya lontar dari ilmunya lebih baik dari lawannya. Karena itu, maka sebagaimana diinginkannya, ia pun berusaha untuk dengan cepat menyelesaikan pertempuran.

Ketika kemudian lawannya menyerangnya bagaikan deru badai yang menyemburkan putaran angin yang panas, maka Kiai Badra pun telah mengimbanginya dengan caranya. Ia sama sekali tidak perlu menjadikan pedangnya membara. Tetapi justru berdiri tegak sambil mengacukan pedangnya ke arah lawan. Kemudian memutarnya perlahan-lahan sambil mengerahkan ilmunya.

Lawannya terkejut bukan kepalang. Dari putaran pedang Kiai Badra yang perlahan- lahan itu telah memancarkan panas yang melampaui panasnya bara api pada pedang lawannya. Bahkan panas yang dilontarkan oleh ilmu Kiai Badra itu bagaikan berembus mengejarnya kemana saja ia meloncat.

Ternyata lawannya itu benar-benar mengalami kesulitan. Meskipun ia berusaha untuk membangunkan daya tahan di dalam dirinya, namun udara yang panas itu bagaikan menerkamnya tanpa dapat diuraikannya.

Bagaimana pun juga, orang itu harus mengakui, bahwa ilmu Kiai Badra berada di atas tingkat ilmunya. Ia harus mampu melakukannya sampai pada batas mengimbangi kekuatan ilmu Kiai Badra.

Namun demikian, agaknya orang itu bukan orang yang lemah hati. Meskipun tubuhnya bagaikan di rebus dalam uap air yang mendidih namun sama sekali tidak ada niatnya untuk menyerah.

Karena itu, dengan sisa kekuatan yang ada padanya, orang itu justru melangkah tertatih-tatih mendekat sambil berusaha mengacukan pedangnya. Wajahnya masih memancarkan tekadnya yang membara sebagaimana daun pedangnya membara. “Menyerahlah,” desis Kiai Badra.

Tetapi orang itu tidak menghiraukannya. Ia masih saja melangkah mendekat, seolah-olah dengan sengaja menyongsong maut.

“Berhentilah,” teriak Kiai Badra. “Jangan mendekat lagi.”

Tetapi orang itu tidak menghiraukannya. Ia justru melangkah semakin dekat dengan pedangnya yang membara itu teracu ke arah lawannya.

Tetapi pengaruh panas pedang itu masih belum mencapai lawannya, justru ia sendiri seakan-akan telah terbakar oleh panas ilmu lawannya itu.

“Berhenti,” sekali lagi Kiai Badra memperingatkan.

Namun peringatan itu tidak pernah dihiraukannya. Orang itu masih melangkah terus mendekati lawannya. Meskipun langkahnya semakin lemah dan bahkan

terhuyung-huyung dan hampir kehilangan keseimbangannya.

Kiai Badralah yang kemudian harus melangkah. Perlahan dilepaskannya ilmunya yang luar biasa itu, sehingga udara panaspun semakin lama menjadi semakin berkurang.

Bahkan akhirnya lenyap sama sekali.

Lawannya merasakan kesejukan udara mengusap tubuhnya. Karena itu ia justru menjadi heran. Tubuhnya yang hampir terjatuh kemudian mampu untuk tegak kembali. Ketika ia mengangkat wajahnya dan memandang kearah Kiai Badra, maka dilihatnya orang tua itu justru telah melemparkan pedangnya sambil berkata, “Aku tidak dapat membunuh seseorang yang tidak mempunyai persoalan yang jelas.”

“Kenapa?” bertanya orang itu.

Kiai Badra termangu-mangu. Sementara itu lawannya pun maju selangkah demi selangkah. Namun bagaimanapun juga lawannya masih tetap ragu-ragu untuk mendekat. Mungkin Kiai Badra hanya sekadar memancangnya dengan sikapnya itu untuk dengan serta merta melepaskan ilmunya yang lebih dahsyat, yang sekaligus akan dapat menghancurkan tubuhnya menjadi debu.

Tetapi Kiai Badra itu menarik nafas dalam-dalam sambil memutar tubuhnya menghadap ke arena pertempuran antara Gandar dan lawannya. Ternyata Gandar telah semakin meyakinkan bahwa sebentar lagi ia pun akan dapat menyelesaikan pertempuran itu.

Namun dalam pada itu, dalam keragu-raguan, orang-orang yang ada di halaman telah mendengar tepuk tangan dalam kegelapan di halaman samping.

Tepuk tangan itu telah menarik perhatian semua orang yang mendengarnya. Ketika mereka berpaling, dilihatnya dua orang suami istri yang telah menjelang

hari-hari tuanya berdiri sambil memandangi arena. Selangkah demi selangkah mereka maju mendekati arena.

Gandar yang hampir sampai pada saat terakhir dari pertempuran itu pun merasa terganggu. Namun ternyata yang datang itu adalah Kiai dan Nyai Soka.

Karena itu, maka betapapun juga gejolak mendera perasaannya, namun ia berusaha untuk menahan dirinya.

“Kau Soka,” berkata orang yang baru saja bertempur melawan Kiai Badra. Nafasnya masih terengah-engah. Sementara tubuhnya masih merasa lemah dan sakit di segala sendi-sendinya.

Kiai dan Nyai Soka yang kemudian telah berdiri di tangga pendapa kemudian menebarkan pandangannya ke seluruh halaman. Dengan suara yang ramah, Kiai Soka kemudian berkata, “Marilah. Aku mempersilakan semuanya naik ke pendapa.

Sementara itu biarlah para cantrik menyiapkan makan malam buat kita semuanya.” Gandar melihat sikap Kiai dan Nyai Soka dengan heran. Seakan-akan tidak ada sesuatu yang telah terjadi di halaman padepokannya itu.

Kiai Soka agaknya melihat sikap Gandar yang ragu-ragu. Karena itu maka kemudian katanya, “Marilah Gandar. Aku persilakan kau naik bersama tamu-tamu kita yang lain.”

Tetapi Gandar masih dicengkam oleh gejolak perasaannya. Karena itu, maka sambil menjinjing tombak pendeknya ia melangkah maju mendekati Kiai Soka sambil berkata, “Kiai, apakah Kiai tidak menyadari, bahwa kedua orang inilah yang telah mencari Kiai. Dan bukankah Kiai dan Nyai Soka telah menyingkir untuk menghindarkan diri dari pertumpahan darah.”

“Benar Gandar. Kami memang telah berusaha untuk menghindar. Tetapi justru di halaman ini terjadi pertempuran juga yang hampir saja me-renggut jiwa. Tetapi sebenarnya, kita masih sempat untuk berbicara,” berkata Kiai Soka.

“Aku akan berbicara jika mereka menyatakan menyerah. Mereka adalah orang-orang yang akan membalas dendam terhadap Kiai dan Nyai Soka, satu hal yang sudah Kiai dan Nyai ketahui. Selebihnya keduanya tahu pasti, bahwa Iswari ada disini.

Karena itu, aku berkesimpulan, bahwa tujuan mereka yang sebenarnya bukannya membalas dendam dari peristiwa yang sudah terjadi puluhan tahun yang lalu, yang tiba-tiba saja terangkat kembali. Tetapi mereka tentu mempunyai hubungan dengan Kalamerta. Mereka tentu berusaha untuk menemukan Iswari yang ternyata mereka ketahui, bahwa ia masih hidup. Karena itu, aku berkesimpulan bahwa mereka adalah termasuk keluarga Kalamerta yang sedang memburu Iswari.”

Kiai dan Nyai Soka memandang kedua orang itu dengan kerut merut di kening. Garis-garis umurnya yang mewarnai kulitnya seolah-olah menjadi semakin dalam. "Ki Sanak," bertanya Kiai Soka kemudian, "Jadi kalian tahu bahwa Iswari ada disini?"

"Ya," jawab orang yang baru saja bertempur melawan Kiai Badra.

"Dan kalian memang sedang memburunya?" bertanya Kiai Soka kemudian.

"Aku sudah menawarkan kesempatan untuk berbicara. Tetapi Gandar sama sekali tidak menghiraukannya. Bahkan ia memaksa kami berdua untuk menyerah."

Wajah Kiai Soka berkerut pada dahinya. Namun kemudian katanya, "Marilah. Kita akan berbicara. Nampaknya persoalannya memang menjadi lebih rumit daripada yang aku duga, sehingga aku masih sempat melihat pertarungan ilmu yang luar biasa.

"Aku tidak akan membiarkan dariku menjadi korban kelicikan keluarga Kalamerta," berkata Gandar. "Aku harus berhati-hati. Mereka mempergunakan segala cara untuk mencapai maksudnya. Karena itu, maka syarat dari sebuah pembicaraan adalah mereka harus menyerah dan meletakkan senjata mereka. Sikap menyerah itu akan menjadi landasan dari satu usaha untuk menghindarkan diri dari langkah-langkah licik-nya."

Tiba-tiba salah seorang di antara para cantrik itu pun berteriak, "Kedua orang

itu akan membunuh kami seorang demi seorang sampai saatnya kami mengatakan dimana Kiai dan Nyai berada."

"Tidak," berkata Kiai Soka, "Mereka tidak akan melakukannya."

"Kiai," Gandarlah yang menyahut. "Ketika aku mendekati halaman padepokan ini, pertempuran antara keduanya dan para cantrik sudah terjadi. Cantrik itu tidak sekadar mengada-ada."

Kiai Soka mengangguk-angguk. Namun sebelum ia mengatakan sesuatu, maka Nyai Sokalah yang berkata, "Memang ternyata yang harus kita bicarakan lebih banyak dari yang kami duga. Tetapi marilah kita naik ke pendapa. Sebaiknya Gandar tidak terlalu bercuriga terhadap kedua orang ini. Biarlah aku yang bertanggung jawab bahwa keduanya tidak akan berbuat licik."

Gandar menjadi semakin bingung melihat sikap kedua orang itu. Bahkan Kiai Badra pun tidak segera mengerti persoalan yang dihadapinya.

Namun dalam pada itu, maka Kiai Badra pun kemudian berkata kepada Gandar, "Marilah Gandar. Biarlah Kiai dan Nyai Soka mempertanggung jawabkan, apa yang mungkin terjadi disini. Bahkan seandainya orang-orang ini menjadi licik."

"Aku tidak dapat mempercayainya sama sekali Kiai," jawab Gandar.

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Gandar tidak pernah membantahnya. Tetapi saat itu, Gandar ternyata telah menunjukkan satu sikap yang lain.

"Kiai," berkata Gandar. "Aku tidak akan dapat melupakan sikap seorang perempuan yang dengan sangat licik berhasil mendapat tempat sebagai istri anak Ki Gede Sembojan. Kemudian dengan licik pula mereka menyingkirkan Iswari. Dan terakhir dengan sangat licik dan pengecut mereka telah membunuh Ki Gede. Bahkan mung-kin salah seorang dari kedua orang inilah yang telah melakukannya."

"Gila," geram orang yang bertempur melawan Kiai Badra, "Apa sebenarnya yang kau katakan itu? Jadi menurut dugaanmu Ki Gede Sembojan telah dibunuh oleh keluarga Kalamerta?"

"Jangan berpura-pura. Bukankah kau memang sedang memburu Iswari yang ternyata masih hidup?" potong Gandar.

Wajah orang itu menjadi merah. Tetapi dihadapannya berdiri Kiai Badra dan bahkan telah hadir pula Kiai dan Nyai Soka. Karena itu maka ia harus menahan diri.

Namun demikian ia berkata, "Kau jangan asal saja dapat mengucap kata-kata. Kau dapat saja menuduh seseorang sesuka hatimu. Tetapi sikapmu itu sangat menyakitkan hati."

"Aku tidak peduli apakah kau menjadi sakit hati atau tidak. Aku merasa hatiku sudah disakiti oleh keluarga Kalamerta. Bahkan telah jatuh korban Ki Gede di Sembojan dan seandainya tidak karena satu perlindungan dari Tuhan Yang Maha Perkasa, maka Iswari pun telah menjadi makanan buaya kerdil. Bukan saja Iswari, tetapi dengan anaknya yang waktu itu masih di dalam kandungan," sahut Gandar.

Kiai Sokalah yang kemudian menengahi, “Baiklah. Ternyata memang ada masalah yang sisip di antara kita. Tetapi apakah kepentingan kalian berdua dengan Iswari?

Seandainya kalian merasa bukan keluarga Kalamerta.”

Kedua orang itu termangu-mangu. Salah seorang kemudian berkata kepada Kiai dan Nyai Soka, “Jadi beginikah sikapmu sekarang terhadap seorang sahabat?” “Sebenarnya kami memang meragukan persahabatan kita,” jawab Nyai Soka. “Kau pernah merasa bahwa ada persoalan di antara kita. Kau pernah mengatakan bahwa pada satu saat kita akan bertemu lagi, tanpa memberikan kesempatan kepada kami untuk memberikan penjelasan.” “Tetapi bukankah kami tidak berbuat apa-apa selama ini?” bertanya salah seorang dari kedua orang yang datang itu.

“Selama ini memang tidak. Tetapi beberapa hari yang lalu kau datang dengan pertanda yang kau tinggalkan. Masih seperrti dahulu, sehingga kami telah menghubungkan kedatangan kalian dengan persoalan yang pernah ada di antara kita,” jawab Nyai Soka.

“Tetapi apakah menjadi kebiasaan Kiai dan Nyai Soka untuk meninggalkan tempatnya jika seseorang ingin menemuinya dengan niat apapun juga?” bertanya salah seorang dari kedua orang itu.

“Justru disini ada Iswari. Aku ingin menyingkirkan Iswari. Tetapi ternyata bahwa kau sudah mengetahui bahwa Iswari ada disini. Sehingga justru karena itu, maka timbul pertanyaan di dalam hati ini, kenapa kau tahu pasti tentang tempat tinggal Iswari jika kau tidak berkepentingan sebagaimana dipertanyakan oleh Gandar.”

“Baiklah,” berkata orang itu. “Jadi kita akan berbicara dengan cara ini? Bukan cara seorang sahabat?”

“Kau akan memanfaatkan persahabatan untuk berbuat licik,” potong Gandar. “Setan kau,” geram orang itu. “Kau memang terlalu kasar.”

“Ternyata bahwa aku merasa perlu untuk berbuat kasar terhadap keluarga Kalamerta,” jawab Gandar.

Wajah orang itu menjadi semakin tegang. Dipandanginya Gandar dengan tatapan mata yang tajam. Kemudian dengan suara bergetar orang itu berkata, “Beberapa kali kau menyebut nama Kalamerta. Apa sebenarnya maksudmu dengan menyebut nama itu?” “Kau akui bahwa kau adalah keluarganya?” bertanya Gandar.

“Gila. Aku memang pernah mendengar nama Kalamerta. Tetapi aku adalah orang-orang dari perguruan yang berbeda,” orang itu hampir berteriak.

Gandar mengerutkan keningnya. Dipandanginya Kiai Badra sekilas. Sementara itu Kiai Badra bergeser setapak sambil menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara datar ia berkata, “Mungkin memang ada yang sisip. Karena itu,

agaknya aku condong untuk mengekang segala prasangka buruk. Kita memang dapat duduk sambil berbicara.”

Kiai dan Nyai Soka pun mengangguk-angguk. Dengan nada datar Kiai Soka pun kemudian mempersilakan. “Marilah. Kita akan tetap saling menghormati.”

Gandar mengerutkan keningnya. Tetapi Kiai Badra telah mendahului, “Gandar. Kau harus dapat mengendalikan dirimu sebagaimana kau lakukan selama ini.”

Gandar termangu-mangu. Namun terasa suara Kiai Badra tekanan yang tidak dapat dielakkan oleh Gandar, sehingga karena itu, maka ia tidak menjawab sama sekali.

Demikianlah, maka akhirnya mereka pun telah naik ke pendapa. Mereka duduk di

atas tikar pandan yang sudah terbentang. Namun demikian masih nampak kedua belah pihak tetap bersikap sangat hati-hati.

Untuk beberapa saat mereka hanya saling berdiam diri, sehingga suasana memang menjadi tegang. Namun akhirnya Kiai Soka pun menyadari, bahwa ia adalah pemilik padepokan itu, sehingga akhirnya ia adalah orang yang pertama bertanya kepada kedua orang yang datang mencarinya itu, “Sebenarnya apakah yang kalian maksud dengan kedatangan kalian? Apakah ada hubungannya dengan Iswari atau tidak?” Orang yang lebih tua di antara kedua orang tamunya itu memandang orang-orang yang ada di pendapa itu. Kemudian para cantrik yang masih berada di halaman. “Agaknya kami memang telah salah langkah. Para cantrik itu mengira bahwa aku benar-benar akan membunuh mereka,” berkata orang itu.

“Aku tahu, bahwa kau tidak akan melakukannya,” berkata Kiai Soka. Lalu, “Kau melakukannya sekadar untuk memancing kehadirannya, karena kau yakin bahwa aku ada di sekitar padepokan ini.”

“Ya. Tetapi yang datang ternyata bukan kau,” jawab orang itu. “Tetapi Kiai Badra dan Gandar. Aku tidak dapat meyakinkan mereka bahwa kami harus berbicara untuk mendapatkan saling pengertian.”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam, sementara Gandar menjadi berdebar-debar.

Mulai terasa di hati Gandar satu hal yang lain pada kedua orang itu menilik sikap Kiai Soka dan istrinya.

Dalam pada itu, Kiai Soka pun kemudian berkata, “Sikap mu memang meragukan. Kau membuat semacam teka-teki yang sulit untuk ditebak tentang diri kalian berdua.” “Kiai,” berkata orang yang lebih tua. “Aku memang pernah mengatakan tentang dendamku kepada kalian suami istri. Hal ini bermula pada kematian orangtuaku

yang aku kira telah dibunuh oleh guru Kiai Soka. Tetapi kemudian aku menyadari, bahwa dendam yang demikian itu tidak ada gunanya, sehingga aku pun telah melepaskan dendam itu.”

Kiai Soka mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Ki Sanak. Baiklah kau uraikan secara lengkap, alasanmu datang kemari. Dan kenapa kalian berdua tahu pasti bahwa Iswari ada di sini. Apakah hubungan kalian dengan Iswari.” “Aku memang sudah mulai dengan tabakan dari teka-teki itu sendiri,” jawab orang itu. Lalu katanya, “Dengarkanlah baik-baik. Aku datang tidak untuk membalas dendam, karena sudah aku katakan bahwa aku telah melupakan peristiwa yang terjadi itu. Namun tiba-tiba pada satu hari, seorang sahabat kami telah

meninggal dunia dengan cara yang tidak wajar. Bukan hanya seorang sahabat, tetapi kami pernah menyadap ilmu yang sama, meskipun akhirnya kami harus berpisah dan berguru kepada orang yang berbeda.”

“Maksudmu Ki Gede Sembojan?” bertanya Kiai Badra.

“Ya. Ki Gede telah dibunuh dengan licik,” sambung orang itu. “Sementara itu,

tidak seorang pun yang dapat menebak, siapa yang telah melakukannya. Aku semula memang menghubungkan kematiannya dengan keluarga Kalamerta, karena Ki Gede sendiri baru saja membunuh Kalamerta itu. Bukan saja karena Kalamerta adalah seorang pemimpin dari segerombolan brandal yang ditakuti, tetapi di antara Kalamerta dan Ki Gede memang terdapat persoalan pribadi.”

Kiai Soka mengangguk-angguk. Sementara itu Kiai Badra dan Gandar menjadi sangat tertarik kepada ceritera itu.

“Kematian itu telah memanggil kami berdua untuk mencari bahan apakah

sebab-sebabnya,” berkata orang itu lebih lanjut. “Karena itu, maka kami berusaha untuk mendapat keterangan. Adalah kebetulan sekali, seorang perempuan yang pernah kami tundukkan dan kemudian tidak lagi menjadi seorang perampok tinggal

di Kademangan, dekat Tanah Perdikan Sembojan. Kepada perempuan itu kami berusaha mencari keterangan. Tetapi perempuan itu juga tidak mengetahui apa yang

sebenarnya terjadi. Tetapi ia mengetahui bahwa sebelumnya telah terjadi sesuatu dengan keluarga Ki Gede. Mungkin kematian Ki Gede ada hubungannya dengan peristiwa yang terjadi sebelumnya.”

“Peristiwa yang mana yang dimaksudnya?” desak Gandar yang tidak sabar. “Peristiwa yang tentu kau ketahui dengan jelas. Hilangnya menantu Ki Gede,” berkata orang itu. “Perempuan itu tahu pasti, bahwa menantu Ki Gede yang dianggap sudah mati itu masih hidup, karena ia tidak melakukan kewajibannya dengan baik sebagaimana seharusnya.”

“Perempuan yang kau maksud itu bernama atau mendapat sebutan Serigala Betina?” berkata Gandar.

“Ya,” jawab orang itu. “Aku mengenalnya dengan baik. Ia pun bersikap sangat baik terhadap kami, karena kami tidak membunuhnya ketika kami berhasil menangkapnya. Perempuan itulah yang berbicara tentang Iswari. Ia dapat juga mengatakan bahwa perempuan itu berasal dari sebuah padepokan kecil, sebagaimana diketahui oleh semua orang Sembojan.

“Tetapi bukankah perempuan itu tahu pasti, siapakah yang telah memerintahkan untuk membunuh Iswari,” berkata Gandar dengan nada tinggi.

“Ya. Tetapi selebihnya perempuan itu tidak dapat mengatakan apa-apa,” jawab orang itu. “Juga tentang kematian Ki Gede, karena tidak mungkin Wiradana

melakukan pembunuhan terhadap ayahnya sendiri, meskipun ia dapat membayar orang lain, sebagaimana dilakukan terhadap istrinya.”

“Lalu, apa yang kalian lakukan kemudian?” bertanya Ki Soka.

“Aku ingin berbicara dengan Iswari. Mungkin ia dapat membantu mengungkapkan kematian Ki Gede. Karena itulah maka aku telah mencari Iswari sebagaimana dikatakan oleh Serigala Betina itu,” jawab orang itu. “Tetapi kedatanganku terlambat. Iswari sudah tidak berada di padepokannya. Dengan telaten aku mencari keterangan. Ternyata usaha itu tidak semudah yang aku duga. Namun akhirnya aku tahu, bahwa Iswari ada disini. Di tempat yang sudah aku kenal sebelumnya. Karena itulah, maka aku telah menyatakan diriku untuk datang pada malam ini.”

Kiai dan Nyai Soka menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau telah mengambil cara yang salah untuk menghubungi aku. Yang terpikir oleh kami adalah justru dendammu yang ingin kau tumpahkan kepadaku, meskipun aku juga merasa heran, bahwa hal itu baru akan kau lakukan setelah sedemikian lamanya. Karena disini ada Iswari, maka aku telah berusaha menyingkirkan Iswari. Bukan karena apa-apa tetapi sekadar untuk menghindarkannya dari kemungkinan-kemungkinan buruk, karena aku belum tahu

bahwa kalian ingin bertemu dengan cucuku itu.”

“Aku hanya ingin mencari bahan saja,” berkata orang itu.

“Dan kenapa kau tidak berterus terang tanpa membuat jantung ini berdebar-debar?” bertanya Nyai Soka.

“Mungkin itu adalah kesalahanku. Aku ingin bermain-main dengan sedikit kasar,” jawab orang itu. “Tetapi akibatnya ternyata teramat buruk bagi kami.”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kami minta maaf. Tetapi yang kalian lakukan memang mendebarkan. Apalagi ketika kami mendengar keluh para cantrik, bahwa kalian ingin membunuh mereka semua.”

“Kami tidak bermaksud demikian,” berkata orang yang lebih tua. “Seperti yang dikatakan oleh Kiai Soka, aku hanya memancingnya untuk datang, karena aku yakin bahwa ia memang tidak akan jauh dari padepokan ini.”

“Syukurlah, bahwa belum terjadi sesuatu atas kita semuanya,” berkata Kiai Soka kemudian. “Agaknya kita benar-benar telah terjebak oleh kesalahpahaman.” Kedua orang itu tidak menyahut. Tetapi seperti yang dikatakannya, maka mereka pun juga merasa bersalah. Karena itu, maka orang yang lebih tua itu pun akhirnya berkata, “Kami ternyata juga harus minta maaf.

Cara kami memang agak kasar. Namun ternyata kekasaran kami hampir saja mencelakai kami berdua. Ternyata bahwa kami telah bertemu dengan kekuatan yang luar biasa yang tidak dapat kami atasi.”

“Memang luar biasa,” sahut Kiai Soka sambil tersenyum. “Kiai Badra dan Gandar yang selama ini sudah tidak pernah menyentuh senjatanya pun masih tetap

orang-orang yang tanpa tanding. Sementara itu, kalian bersaudara juga mengalami kemajuan yang sangat pesat.”

“Ternyata yang kami miliki tidak berarti apa-apa. Jika Kiai Badra dan Gandar hampir saja dapat membunuh kami, dan hal itu tidak mustahil dilakukannya jika pertempuran ini tidak dihentikan maka Kiai dan Nyai Soka pun tentu akan dapat melakukannya pula,” berkata orang itu.

“Tentu tidak,” jawab Nyai Soka. “Kami adalah orang-orang padepokan yang hanya tahu bertani. Kami tidak memiliki ilmu sebagaimana kau duga.”

“Kenapa kalian masih harus menyembunyikan kenyataan yang ada pada diri kita?

Bukankah kita pernah bersahabat dan bukankah kita tahu keadaan kita

masing-masing? Memang aku mendapatkan beberapa kemajuan yang sangat kecil dibandingkan dengan perjalanan waktu yang demikian panjang. Tetapi tidak dengan Kiai dan Nyai Soka,” berkata orang yang lebih tua itu.

“Sama sekali tidak,” jawab Nyai Soka. “Tetapi baiklah kita tidak mempersoalkan tentang kemajuan kita masing-masing. Jika malam ini kakang Badra tidak datang bersama Gandar, mungkin kita memang berkesempatan menilai kemampuan kita.

Tetapi

baiklah. Kita tidak perlu melakukannya. Mungkin kita justru akan berbicara tentang Ki Gede Sembojan yang terbunuh itu.”

“Ya,” jawab orang itu pula. “Agaknya aku pun sependapat, bahwa pembunuhan itu dilakukan oleh salah seorang keluarga Kalamerta.”

Gandar mengerutkan keningnya. Ia tahu lebih banyak tentang hal itu. Ia melihat perempuan yang menjadi istri Wiradana itu mempunyai ciri Kalamerta. Dan ia pun semakin yakin, bahwa yang membunuh Ki Gede itu pun tentu dari lingkungannya pula. Bahkan Gandar pun sudah memikirkan satu kemungkinan, bahwa istri Wiradana itu sendirilah yang telah melakukannya.

Tetapi Gandar tidak mengatakannya. Ia masih belum yakin terhadap kedua orang itu. Apakah benar mereka bukan orang-orang yang pada satu saat justru akan

menghalangi langkah-langkah yang akan diambilnya untuk menempatkan anak Iswari itu ke tempat yang seharusnya. Bukan karena kedudukan itu sendiri, tetapi anak

itu tidak boleh menjadi korban kebiadaban orang lain yang bukan saja akan dapat menghancurkan seseorang, tetapi juga seluruh Tanah Perdikan Sembojan.

Dalam pada itu, Kiai Soka pun telah menemui para cantrik dan memberikan beberapa penjelasan kepada mereka. Karena itulah maka para cantrik itu pun menarik nafas dalam-dalam. Salah seorang di antara mereka berdesis,” Satu permainan yang berbahaya. Untunglah belum terjadi sesuatu.”

“Ya,” jawab Kiai Badra, “Mereka sudah menyatakan bersalah karena permainan mereka yang kasar itu.”

Para cantrik itu pun kemudian dengan hati yang lapang meninggalkan halaman depan dan pergi ke barak masing-masing. Namun ada di antara mereka yang langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan hidangan bagi tamu-tamu mereka yang berada di pendapa.

Dalam pada itu, maka Kiai dan Nyai Soka pun memutuskan di ke esokan harinya untuk mengambil Iswari, karena ternyata kedua orang tamu-nya tidak bermaksud jahat. Mereka tidak datang membawa dendam di hati mereka.

Kiai dan Nyai Soka kemudian memperkenalkan kedua tamu itu sebagai dua orang kakak beradik dalam perguruan yang dikenal dengan Sepasang Elang dari Perguruan Guntur Geni.

“Yang tua bernama Sambi Wulung dan yang muda bernama Jati Wulung,” berkata Kiai Soka kemudian kepada Kiai Badra dan Gandar.

Kiai Badra tersenyum. Katanya, “Aku memang pernah mendengar perguruan yang disebut Guntur Geni. Tetapi agaknya baru sekarang aku dapat mengenal salah satu bagian dari perguruan itu.”

“Ah,” desis orang yang disebut bernama Sambi Wulung, “Ternyata dihadapan Kiai perguruan yang selama ini kami banggakan itu tidak berarti apa-apa. Sepeninggal guru maka kami berdua adalah orang-orang tertua di perguruan. Tetapi di hadapan Kiai Badra dan Gandar, kami tidak lebih dari anak-anak kecil ya ng terlalu berbangga diri dengan kemampuan yang tidak berarti apa-apa.”

“Bukan begitu,” berkata Kiai Badra. “Pada satu saat maka kalian akan dapat mengembangkan ilmu kalian, sehingga perguruan Guntur Geni akan menjadi perguruan yang jadi lebih besar dari padepokan kecil ini.”

Tetapi kedua orang itu tersenyum. Yang tua berkata, “Apapun yang aku lakukan, aku tidak dapat menyamai tingkat kemampuan padepokan ini. Sebenarnyalah permainan kami hampir saja menimbulkan malapetaka itu sekadar satu keinginan

untuk mengetahui tingkat kemampuan kita yang sudah lama terpisah. Namun ternyata bahwa kami harus mengakui, bahwa kami telah ketinggalan jauh dari kalian.”

“Ah,” jawab Kiai Soka, “Yang kemudian kalian jajaki bukan kemampuan kami, tetapi kemampuan Kiai Badra dan Gandar. Sedangkan kami berdua bukan pula tataran mereka.”

“Sudahlah,” berkata Kiai Badra. “Besok aku akan ikut mengambil Iswari. Aku sudah rindu kepada cicitku itu.”

Namun dalam pada itu, Gandar pun berkata, “Tetapi aku kira Iswari juga tidak

akan dapat memberikan bahan apapun juga tentang kematian Ki Gede. Ia sudah tidak lagi berada di Tanah Perdikan pada saat itu. Selebihnya, ia memang tidak tahu

apa-apa. Ia tidak melihat tanda-tanda yang akan menyangkut dirinya sendiri. Ia sama sekali tidak menduga bahwa suaminya akan sampai hati berbuat demikian. Untunglah bahwa perempuan yang disebut Serigala Betina itu tidak melakukan tugasnya dengan sungguh-sungguh.”

Kedua orang dari perguruan Guntur Geni itu mengangguk-angguk. Mereka mengerti, bahwa Iswari memang tidak tahu apa-apa tentang kematian Ki Gede Sembojan.

Meskipun demikian kedua orang itu memang ingin bertemu dengan Iswari. Meskipun keduanya tidak yakin akan mendapatkan sesuatu dari perempuan itu, namun

rasa-rasanya keinginan itu tidak dapat dielakkannya lagi.

“Kami justru merasa sangat iba kepadanya,” berkata Sambi Wulung. “Ketika itu menurut Serigala Betina itu, Iswari sedang mengandung.”

“Ya. Dan anak itu sekarang sudah lahir, sehat dan tumbuh dengan cepat,” jawab Nyai Soka.

Dalam pada itu, ketika di hari berikutnya sekelompok kecil penghuni padepokan Kiai dan Nyai Soka pergi menjemput Iswari, maka di Tanah Perdikan Sembojan, Wiradana benar-benar telah memegang kekuasaan mutlak di Tanah Perdikan itu. Ia telah memerintah sebagaimana ayahnya meskipun ia belum di wisuda. Tetapi setiap orang tidak mempersoalkannya, karena memang satu-satunya pewaris kekuasaan di Tanah Perdikan itu.

Tetapi sejak hari-hari pertama, Wiradana memegang kekuasaan, sudah terasa oleh orang-orang Tanah Perdikan Sembojan, bahwa sentuhan tangannya berbeda dengan tangan Ki Gede yang telah terbunuh dengan licik itu. Wiradana ternyata mempunyai sikap yang kadang-kadang dapat menyinggung perasaan orang-orang tua di Tanah Perdikan itu. Meskipun Wiradana tidak dengan serta merta mengadakan

perubahan-perubahan di dalam pemerintahannya atas Tanah Perdikan Sembojan, namun

ia lebih banyak berkiblat kepada dirinya, kepada akunya. Sehingga dengan

demikian terasa bahwa langkah-langkah yang diambilnya kadang-kadang tidak dapat dimengerti oleh rakyat Tanah Perdikan Sembojan sendiri.

Meskipun demikian orang-orang tua dan para bebahu Tanah Perdikan itu berusaha untuk mengerti. Wiradana masih muda dan mempunyai kemauan yang bergejolak di dalam dadanya. Dengan demikian maka langkahnya yang menghentak-hentak itu adalah pertanda dari gejolak di dalam dadanya.

“Jika kemudian ia mampu mengetrapkan di dalam tugas-tugas yang dipikulnya maka ia justru akan menjadi seorang pemimpin yang baik. Tanah Perdikan ini akan mendidih dengan kerja dan pikiran-pikiran baru yang akan mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat,” berkata orang-orang tua itu yang satu dengan yang lain.

Sementara orang-orang tua mengamati dan menilai tingkah laku Wiradana dengan cermat, maka datanglah keputusan Wiradana untuk segera mengawini seorang perempuan untuk menggantikan istrinya yang hilang dan tidak dapat diketemukan lagi.

“Kita semua sudah berusaha. Bahkan ayah telah menjadi korban pula dari usaha pencaharian itu. Namun usaha itu ternyata sia-sia saja,” berkata Wiradana kepada orang-orang tua yang dipanggilnya datang ke rumahnya.

“Sejak semula kami tidak merasa berkeberatan,” jawab salah seorang di antara mereka. “Ki Wiradana masih muda. Apalagi dengan tugas-tugas yang berat, maka Ki Wiradana memang memerlukan seorang pendamping yang pantas bagi tugas-tugasnya itu. Tetapi apakah Ki Wiradana bersedia mengatakan siapakah perempuan yang ingin kau ambil menjadi istrimu itu?”

Wiradana merenung. Tetapi kemudian kata-nya, “Aku akan menyebutnya kemudian.” Orang-orang itu tidak mendesaknya. Mereka akan menunggu sampai saatnya Ki Wiradana mengatakan atas kemauannya sendiri.

Dalam pada itu, berita tentang hilangnya Iswari, istri anak Kepala Tanah

Perdikan Sembojan dan kemudian terbunuhnya Ki Gede Sembo-jan telah terdengar sampai ke daerah-daerah disekitar Tanah Perdikan itu, bahkan sampai ke tempat yang jauh. Laporan yang resmi pun telah disampaikan pula kepada Adipati Pajang,

sehingga dengan demikian Pajang akan dapat mempertimbangkan kemungkinan untuk dengan segera menetapkan penggantinya. Sudah barang tentu satu-satunya anak

laki-laki Ki Gede Sembojan.

Selain Pajang, para Demang dan para pemimpin pemerintahan di daerah di sekitar Tanah Perdikan Sembojan, maka keluarga Warsi pun telah mendengar pula akan hal itu. Karena itu, maka mereka pun merasa bahwa tugas yang dibebankan keluarga Kalamerta kepada Warsi telah diselesaikannya dengan baik.

“Ki Gede Sembojan sudah terbunuh,” berkata ayah Warsi kepada para pengikutnya. “Dengan demikian maka dendam sudah terbalas. Persoalan Warsi kemudian adalah persoalan sendiri.”

Para pengikutnya pun sependapat dengan sikap ayah Warsi. Namun orang yang pernah menjadi pengendang di saat menjadi penari keliling dan yang disebutnya sebagai ayahnya kemudian berkata, “Tetapi bagaimana pun juga, ada keinginanku untuk menemuinya.”

“Kau akan dapat mengganggunya dan menimbulkan persoalan baru bagi anak itu,” berkata ayah Warsi.

Namun orang itu menggeleng. Katanya, “Ingat. Aku adalah ayahnya di Tanah Perdikan Sembojan.”

Ayah Warsi mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Meskipun demikian, berhati-hatilah. Banyak persoalan yang mungkin akan menyulitkannya.”

“Aku sudah mengenal Tanah Perdikan itu dengan baik,” jawab orang itu. Karena itulah, maka ayah Warsi pun kemudian tidak berkeberatan memberikan kesempatan kepada orang itu untuk pergi ke Tanah Perdikan Sembojan.

Orang itu sama sekali tidak menunggu terlalu lama. Demikian ia mendapat persetujuan, maka di keesokan harinya ia sudah meninggalkan padukuhannya untuk pergi ke sebuah padukuhan yang terletak di luar Tanah Perdikan Sembojan, tetapi tidak terlalu jauh dari perbatasan.

Kedatangan orang itu memang mengejutkan Warsi. Tetapi Warsi sama sekali tidak berkeberatan menerimanya, justru sebagai ayahnya.

Dari Warsi orang itu mendapat keterangan selengkapnya apa yang telah terjadi di Tanah Perdikan Sembojan. Bagaimana Wiradana mengupah seseorang untuk membunuh

istrinya yang bernama Iswari. Dan bagaimana Ki Gede Sembo-jan itu telah dibunuhnya.

“Kau memang luar biasa Warsi,” berkata bekas pengendangnya itu. “Sebenarnyalah bahwa aku tidak mengerti bagaimana kau dapat melakukannya.”

“Kau memang dungu,” jawab Warsi. “Kau tidak akan dapat mengerti apapun juga. Apalagi persoalan-persoalan yang rumit. Persoalan perutmu sendiri pun, kau tidak dapat menyelesaikannya.”

Orang itu tertawa. Katanya, “Tidak sia-sia aku mempuyai seorang anak perempuan seperti kau ini, dan tidak sia-sia pula aku membesarkanmu.”

“Aku tampar mulutmu,” geram Warsi. “Kau kira kau pantas menjadi ayahku.” “Bukankah menurut pengertian Wiradana kau adalah anakku?” bertanya orang itu. “Atau kau ingin aku mengatakan kepadanya, bahwa aku memang bukan ayahmu?” “Apakah kau sudah jemu hidup? Kau kira aku tidak berani membunuhmu?” bertanya Warsi.

Wajah orang itu menegang. Tetapi ia kenal Warsi, sehingga karena itu, maka ia

pun tersenyum betapapun masamnya. Katanya, “Kau harus mengakui, bahwa aku sudah membantumu.”

“AKU tidak pernah ingkar,” berkata Warsi. “Tetapi itu bukan berarti bahwa seseorang tidak akan pernah membunuh orang-orang yang berjasa kepadanya.” Orang itu mengumpat di dalam hati. Tetapi ia tidak menjawab.

Namun dalam pada itu Warsilah yang kemudian tersenyum. Sambil menepuk bahu orang

itu ia berkata, “Jangan marah ayah. Kali ini aku hanya bergurau. Sebentar lagi aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan sepenuhnya. Aku akan dibawa oleh

Wiradana ke rumahnya yang sudah kosong itu. Istrinya sudah mati dan ayahnya pun telah mati pula.”

Orang itu termangu-mangu. Namun ia pun kemudian ikut pula tertawa sebagaimana Warsi yang tertawa berkepanjangan.

Ternyata kedatangan orang itu yang diakuinya sebagai ayah Warsi itu merupakan suatu hal yang menggembirakan bagi Wiradana. Ketika ia datang ke rumah yang dihuni oleh Warsi, dan menjumpai laki-laki itu, maka tiba-tiba ia berkata, “Satu kebetulan bahwa ayah telah datang.”

Orang yang menempatkan dirinya sebagai ayah Warsi itu pun mengerutkan keningnya. Kemudian ia pun bertanya, “Kenapa? Rasa-rasanya aku memang sudah menjadi rindu kepada anakku. Bukankah sepeninggalanku kalian selalu selamat dan baik?”

“Ya ayah,” jawab Wiradana kepada orang yang dirasanya adalah ayah mertuanya, “Doa restu ayah telah membuat hari-hari depan kami menjadi semakin baik.” “Syukurlah,” jawab orang itu. “Sebagai orang tua, tidak ada harapan lain dari padanya, kecuali kebahagiaan anak-anaknya.”

“Terima kasih ayah,” sahut Wiradana.

Namun dalam pada itu, Warsi mengumpat. Dipandanginya bekas pengendangnya itu sekilas. Rasa-rasanya ia ingin menyumbat mulut laki-laki tua itu dengan terompahnya.

Sementara itu Wiradana berkata selanjutnya, “Ayah, kedatangan ayah ternyata benar-benar pada satu saat yang sangat aku perlukan.”

Wajah orang tua itu menegang sejenak. Namun ia tidak menyahut sama sekali, sementara Wiradana berkata pula. “Segala kesulitan yang menyekat hubunganku dengan Warsi sebagai suami istri telah dapat aku singkirkan. Karena itu, maka

akan segera datang saatnya, Warsi dan aku bawa kembali ke rumahku, rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan.”

“O,” orang itu mengangguk-angguk, sementara Warsi pun ikut mendengarkan dengan hati yang berdebar-debar, karena Wiradana memang belum pernah mengatakan rencana

itu kepadanya secara terperinci.

Wiradana pun kemudian menceriterakan segala sesuatu tentang rencananya untuk membawa Warsi ke rumahnya. Tetapi supaya tidak ada kesan yang dapat menuntun pendapat seseorang bahwa ada hubungan antara kematian Iswari dan apalagi Ki Gede dengan Warsi, maka ia akan mengulangi upacara perkawinannya dengan Warsi, seakan-akan sebelumnya memang belum pernah terjadi.

“Aku memang memerlukan kehadiran ayah,” berkata Wiradana.

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Segalanya terserah kepadamu ngger. Aku, orang tua menurut saja yang mana yang paling baik bagi kalian.” Wiradana berpaling ke arah Warsi yang duduk dengan wajah yang tegang. Namun dengan cepat ia menguasai perasaannya dan segera wajah itu ditundukkannya. “Warsi,” desis Wiradana. “Bagaimana pendapatmu?”

Perlahan-lahan Warsi mengangkat wajahnya. Benar-benar satu permainan yang sangat mengagumkan bagi laki-laki yang pernah menjadi pengendangnya dan yang kemudian disambutnya sebagai ayahnya itu.

Dengan suara lirih lembut Warsi berdesis, “Segala sesuatunya terserah kepadamu kakang.”

“Semuanya telah aku perhitungkan masak-masak. Mungkin kita harus berpura-pura. Tetapi segalanya kita lakukan bagi hari depan kita,” jawab Wiradana.